Anda di halaman 1dari 14

[PRAKTIKUM METROLOGI 2016] Paku dan Crankshaft

BAB II

PENGUKURAN LINIER PAKU DAN CRANKSHAFT

2.1 DASAR TEORI


Dalam praktikum Metrologi Industri dan Kontrol Kualitas 2016 pada pos
pengukuran linier paku dan crankshaft, dasar teori yang digunakan adalah sebagai
berikut.

2.1.1 Pengukuran Linier untuk Benda Kerja Paku dan Crankshaft


Pengukuran merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan
kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. Pengukuran geometris benda ukur dalam
metrologi industri menyangkut pengukuran linier atau pengukuran panjang
(jarak). [14] Berdasarkan cara mengukurnya, pengukuran dapat dibedakan
menjadi dua jenis, yaitu :
A. Pengukuran Linier Langsung
Pengukuran linier langsung adalah pengukuran yang hasil pengukurannya
dapat langsung dibaca pada skala ukur dari alat ukur yang digunakan. Alat ukur
yang banyak digunakan adalah mistar ukur, jangka sorong, dan micrometer
dengan berbagai bentuk. [15] Contoh pengukuran linier langsung adalah
pengukuran diameter dalam sebuah lubang.

Gambar 2.1 Pengukuran diameter dalam lubang. [12]


B. Pengukuran Linier Tidak Langsung
Pengukuran linier tidak langsung adalah pengukuran yang hasil
pengukurannya tidak dapat dibaca langsung pada skala ukur. Untuk menentukan
hasil pengukuran, diperlukan alat ukur lebih dari satu. [15] Pengukuran tidak

Teknik Mesin Universitas Diponegoro 24


[PRAKTIKUM METROLOGI 2016] Paku dan Crankshaft

langsung dilakukan karena adanya pengukuran yang memerlukan kecermatan


yang tinggi ataupun karena bentuk benda ukur yang tidak memungkinkan untuk
diukur dengan alat ukur langsung. Ada dua jenis alat ukur yang biasa digunakan
untuk melakukan pengukuran tak langsung, yaitu alat ukur standar, berupa blok
ukur (gauge block), batang ukur, dan kaliber induk tinggi dan alat ukur
pembanding. [16]

Gambar 2.2 Gauge block. [12]

2.1.2 Alat Ukur yang Digunakan


Alat ukur yang digunakan pada praktikum pengukuran linier paku dan
crankshaft adalah vernier caliper dengan detail produk sebagai berikut.
Tabel 2.1 Data alat ukur. [11]

Merk Mitutoyo
Kapasitas Ukur 0 – 150 mm
Kecermatan 0,02 mm

Teknik Mesin Universitas Diponegoro 25


[PRAKTIKUM METROLOGI 2016] Paku dan Crankshaft

Gambar 2.3 Vernier caliper. [11]


Keterangan gambar :
1. Inside jaws (rahang dalam) digunakan untuk mengukur diameter dalam
benda.
2. Outside jaws (rahang luar) digunakan untuk mengukur diameter luar
benda.
3. Clamp screw (pengunci) digunakan untuk mengunci bagian yang bergerak
dari vernier caliper.
4. Main scale (skala utama) digunakan untuk membaca hasil pengukuran
suatu benda.
5. Vernier scale (skala vernier) digunakan untuk membaca hasil pengukuran
suatu benda dengan skala detail yang ditunjukkan dengan nilai desimal di
belakang koma setelah pembacaan hasil pengukuran pada skala utama.
6. Depth bar digunakan untuk mengukur kedalaman suatu benda yang
berbentuk rongga. [17]

2.1.3 Prosedur Pengukuran


Langkah – langkah yang harus dilakukan untuk mengukur benda kerja
dengan menggunakan vernier caliper adalah sebagai berikut.
A. Pengukuran Linier Paku
1. Persiapkan paku dan alat ukur yang akan digunakan.
2. Beri nomor pada paku dengan nomor 1-5.
3. Tulis data awal pada lembar kerja meliputi temperatur awal dan
kelembapan ruangan.
4. Gunakan vernier caliper untuk mengukur (A) diameter batang, (B)
diameter kepala, dan (C) panjang paku sebanyak tiga kali.

Gambar 2.4 Geometri paku. [3]

Teknik Mesin Universitas Diponegoro 26


[PRAKTIKUM METROLOGI 2016] Paku dan Crankshaft

5. Tuliskan hasil pengukuran pada tabel 2.2.


6. Rapikan alat dan benda ukur yang digunakan ke tempat semula.

B. Pengukuran Linier Crankshaft


1. Persiapkan crankshaft dan alat ukur.
2. Tulis data awal pada lembar kerja meliputi temperatur awal dan
kelembapan ruangan.
3. Gunakan vernier caliper untuk mengukur geometri crankshaft.
4. Lakukan pengukuran sebanyak 3 kali sesuai gambar 2.5 dan tulis hasil
pengukuran panjang yang dilambangkan dengan angka 1 sampai 9 pada
tabel 2.3 dan pengukuran diameter yang dilambangkan dengan I-V pada
tabel 2.4.

Gambar 2.5 Crankshaft sisi kanan (A). [3]


5. Lakukan pengukuran sebanyak 3 kali sesuai gambar 2.6 dan tulis hasil
pengukuran panjang yang dilambangkan dengan angka 1 sampai 4 pada
tabel 2.5 dan pengukuran diameter yang dilambangkan dengan I-V pada
tabel 2.6.

Gambar 2.6 Crankshaft sisi kiri (B). [3]


6. Lakukan pengukuran sebanyak 3 kali sesuai gambar 2.7 ini dan tulis hasil
pengukuran panjang yang dilambangkan dengan A-J pada tabel 2.7.

Teknik Mesin Universitas Diponegoro 27


[PRAKTIKUM METROLOGI 2016] Paku dan Crankshaft

Gambar 2.7 Connecting rod tampak atas, kanan, dan kiri. [3]
7. Rapikan alat dan benda ukur yang digunakan ke tempat semula.

2.1.4 Foto Benda Kerja


Benda kerja yang digunakan dalam praktikum Metrologi Industri dan
Kontrol Kualitas 2016 pada pos pengukuran linier paku dan crankshaft adalah
sebagai berikut.
A. Paku
Paku yang digunakan dalam praktikum ini terdiri dari lima buah yang
ditunjukkan pada gambar 2.8 berikut.

Gambar 2.8 Paku. [11]


B. Crankshaft
Crankshaft yang digunakan dalam praktikum ini ditunjukkan pada gambar
2.9, 2.10, dan 2.11 berikut ini.

Teknik Mesin Universitas Diponegoro 28


[PRAKTIKUM METROLOGI 2016] Paku dan Crankshaft

Gambar 2.9 Crankshaft (tampak atas). [11]

Gambar 2.10 Crankshaft (tampak kanan). [11]

Gambar 2.11 Crankshaft (tampak kiri). [11]

2.1.5 Aplikasi Pengukuran Linier Paku dan Crankshaft


Konstruksi mesin terdiri dari beberapa bagian, yang mana bagian yang
satu dengan yang lain akan dihubungkan. Salah satu cara untuk menghubungkan
bagian-bagian tersebut adalah dengan cara memberikan sambungan. Menilik
fungsinya, elemen penyambung sudah pasti akan ikut mengalami pembebanan
saat benda yang dirangkainya dikenai beban. Ukurannya yang lebih kecil dari
elemen yang disambung mengakibatkan beban terkonsentrasi padanya. Efek

Teknik Mesin Universitas Diponegoro 29


[PRAKTIKUM METROLOGI 2016] Paku dan Crankshaft

konsentrasi beban inilah yang harus diantisipasi saat merancang sambungan


karena akan bersifat merusak. Oleh karena itu, pengukuran pada paku sebagai
penyambung perlu dilakukan agar mampu mengikat sambungan dan menahan
beban kerja yang diterima benda yang disambung saat berfungsi. Selain itu,
konstruksi kepala dan ekor yang mengerucut juga mendukung paku dalam
menahan kedudukan paku pada posisinya. [18]
Crankshaft (poros engkol) menjadi komponen utama dalam suatu mesin
pembakaran dalam dan menjadi pusat poros dari setiap gerakan piston. Fungsi
utama dari crankshaft adalah mengubah gerakan naik turun yang dihasilkan oleh
piston menjadi gerakan memutar yang nantinya akan diteruskan ke transmisi.
Tekanan yang diterima dari ledakan pembakaran sangatlah besar. Akibatnya,
crankshaft dapat mengalami kebengkokan dan keausan akibat cara kerjanya yang
bekerja pada kecepatan tinggi. Oleh karena itu, pengukuran pada crankshaft
diperlukan karena crankshaft dapat mengalami defleksi jika bekerja terus-menerus
dan mengurangi performa mesin. [19]

2.2 PENGOLAHAN DATA


Dalam praktikum pengukuran linier paku dan crankshaft menggunakan
vernier caliper, diperoleh hasil pengukuran dengan tiga kali pengukuran pada
masing-masing benda ukur. Pada subbab ini ditampilkan data hasil pengukuran
dan pengolahan datanya.
2.2.1 Data Hasil Pengukuran
Data hasil pengukuran linier paku dan crankshaft dapat dilihat pada tabel
2.2 - 2.7 dibawah ini.
Tabel 2.2 Data pengukuran paku dalam milimeter (mm)

Hasil Hasil Hasil


Obyek Rata -
DB DK Pengukuran Pengukuran Pengukuran
Ukur rata
(P1) (P2) (P3)
Paku 1 4,12 9,36 100,22 100,24 100,96 100,47
Paku 2 4,20 9,42 101,04 101,02 100,98 101,01
Paku 3 4,18 9,22 101,12 101,18 101,08 101,13
Paku 4 4,12 9,52 99,58 99,54 99,56 99,56
Paku 5 4,10 9,22 100,90 100,96 101,06 100,97
*DB = Diameter badan
*DK = Diameter kepala

Teknik Mesin Universitas Diponegoro 30


[PRAKTIKUM METROLOGI 2016] Paku dan Crankshaft

Tabel 2.3 Data pengukuran crankshaft tampak atas sisi kanan (A) dalam milimeter
(mm)

Hasil Hasil Hasil


Rata -
NO Pengukuran Pengukuran Pengukuran
rata
1 2 3
1 30,62 30,54 30,46 30,54
2 11,24 10,72 10,84 10,93
3 16,78 16,72 16,70 16,73
4 18,64 18,22 18,46 18,44
5 2,64 3,42 3,08 3,05
6 4,22 4,60 4,46 4,43
7 16,00 14,80 15,40 15,40
8 41,62 41,72 41,62 41,65
9 45,82 45,92 45,84 45,86

Tabel 2.4 Data pengukuran diameter crankshaft tampak atas sisi kanan (A) dalam
milimeter (mm)

Hasil Hasil Hasil


Rata –
NO Pengukuran Pengukuran Pengukuran
rata
1 2 3
I 15,30 15,20 15,26 15,25
II 24,90 24,92 24,88 24,90
III 25,00 25,02 25,01 25,01
IV 94,66 94,82 94,74 94,74
V 96,76 96,48 96,54 96,59

Tabel 2.5 Data pengukuran crankshaft tampak atas sisi kiri (B) dalam milimeter (mm)

Hasil Hasil Hasil


Rata –
No Pengukuran Pengukuran Pengukuran
rata
1 2 3
1 10,28 10,62 10,42 10,44
2 44,50 44,62 44,56 44,56
3 16,92 17,62 17,04 17,19
4 34,08 33,80 33,94 33,94

Teknik Mesin Universitas Diponegoro 31


[PRAKTIKUM METROLOGI 2016] Paku dan Crankshaft

Tabel 2.6 Data pengukuran diameter crankshaft tampak atas sisi kiri (B) dalam
milimeter (mm)

Hasil Hasil Hasil


NO Pengukuran Pengukuran Pengukuran Rata -
1 2 3 rata
I 16,90 16,92 16,85 16,89
II 20,04 19,88 19,92 19,95
III 61,88 62,24 61,88 62,00
IV 98,60 95,48 96,16 96,75
V 96,78 96,78 96,58 96,71

Tabel 2.7 Data pengukuran connecting rod (C) dalam milimeter (mm)

Hasil Hasil Hasil


NO Pengukuran Pengukuran Pengukuran Rata –
1 2 3 rata
A 130,60 130,24 130,48 130,44
B 45,78 46,00 45,82 45,87
C 2,87 2,95 2,84 2,89
D 19,72 19,90 19,82 19,81
E 13,98 14,00 13,84 13,94
F 15,00 14,88 14,96 14,95
G 10,24 9,68 9,74 9,89
H 14,22 14,22 14,24 14,23
I 13,42 13,36 13,40 13,39
J 16,76 16,72 16,70 16,73

2.2.2 Perhitungan Ralat


A. Paku
Sampel data dari tabel 2.2 pengukuran paku diketahui dari tabel 2.8,
sampel data pegukuran paku (L).
Tabel 2.8 Sampel data pengukuran paku 1

Teknik Mesin Universitas Diponegoro 32


[PRAKTIKUM METROLOGI 2016] Paku dan Crankshaft

Paku L ( Ln - L )2
100,22 0,0625
1 100,24 0,0529
100,96 0,2401
L =100,47  = 0,3555
 Galat (Error)
L-L
�L = L n �100%
100, 47 -100, 22
�Lp 1 =
100, 47
�100% = 0, 24883%

100, 47 -100, 24
�Lp 2 =
100, 47
�100% = 0, 22892%

100, 47 -100,96
�Lp 3 =
100, 47
�100% = 0, 48771%

�( L )
2
n -L 0,3555
dL = = = 0, 2434132
n ( n -1) 3(3 -1)

Nilai L sesungguhnya =

= mm

Ralat Nisbi =

Keseksamaan

= 99,76%

Tabel 2.9 Hasil perhitungan pengukuran linier paku

Ralat
Galat (%) Keseksamaan
Paku dL Nisbi
1 2 3 (%)
(%)
1 0,24883 0,22892 0,48771 0,24341 0,24227 99,76
2 0,02970 0,00990 0,02970 0,01780 0,01762 99,98
3 0,00989 0,04944 0,04944 0,02915 0,02883 99,97

Teknik Mesin Universitas Diponegoro 33


[PRAKTIKUM METROLOGI 2016] Paku dan Crankshaft

4 0,02009 0,02009 0,00000 0,01155 0,01160 99,99


5 0,06933 0,00990 0,08914 0,04673 0,04628 99,95

B. Crankshaft
Sampel data dari tabel 2.3 pengukuran crankshaft diketahui dari tabel
2.10, sampel data pegukuran crankshaft (L).
Tabel 2.10 Sampel data pengukuran crankshaft

Crankshaf
L
t
30,62 0,0064
1 30,54 0,0000
30,46 0,0064
30,54  = 0,0128

 Galat (Error)
L-L
�L = L n �100%
30,54 - 30, 62
�Lp 1 =
30,54
�100% = 0, 261952%

30,54 - 30,54
�Lp 2 =
30,54
�100% = 0%

30,54 - 30, 46
�Lp 3 =
30,54
�100% = 0, 261952%

�( L )
2
n -L 0,0128
dL = = = 0, 046188
n(n - 1) 3 ( 3 - 1)

Nilai L sesungguhnya

mm

Ralat Nisbi

Keseksamaan

Teknik Mesin Universitas Diponegoro 34


[PRAKTIKUM METROLOGI 2016] Paku dan Crankshaft

Tabel 2.11 Hasil perhitungan crankshaft tampak atas sisi kanan (A)

Galat (%) Ralat


Keseksamaan
NO dL Nisbi
1 2 3 (%)
(%)
1 0,26195 0 0,26195 0,04619 0,15124 99,85
2 2,83623 1,92132 0,82342 0,15722 1,43838 98,56
3 0,29886 0,05977 0,17932 0,02415 0,14437 99,86
4 1,08460 1,19306 0,10846 0,12166 0,65974 99,34
5 13,4426 12,13115 0,98361 0,22579 7,40311 92,60
6 4,74041 3,83747 0,67720 0,11098 2,50520 97,49
7 3,89610 3,89610 0 0,34641 2,24942 97,75
8 0,07203 0,16807 0,07203 0,03342 0,08023 99,92
9 0,08722 0,13083 0,04361 0,03055 0,06662 99,93

Tabel 2.12 Hasil perhitungan diameter crankshaft tampak atas sisi kanan (A)

Ralat
Galat (%) Keseksamaan
NO dL Nisbi
1 2 3 (%)
(%)
I 0,32787 0,32787 0,06557 0,02915 0,19118 99,81
II 0,00000 0,08032 0,08032 0,01155 0,04637 99,95
III 0,03998 0,03998 0,00000 0,00577 0,02308 99,98
IV 0,08444 0,08444 0,00000 0,04619 0,04875 99,95
V 0,17600 0,11388 0,05177 0,08515 0,08815 99,91

Tabel 2.13 Hasil perhitungan crankshaft tampak atas sisi kiri (B)

Ralat
Galat (%) Keseksamaan
NO dL Nisbi
(%)
1 2 3 (%)
1 1,53257 1,72414 0,19157 0,09866 0,94500 99,06
2 0,13465 0,13465 0,00000 0,03464 0,07774 99,92

Teknik Mesin Universitas Diponegoro 35


[PRAKTIKUM METROLOGI 2016] Paku dan Crankshaft

3 1,57068 2,50145 0,87260 0,21614 1,25736 98,74


4 0,41249 0,41249 0,00000 0,08083 0,23815 99,76

Tabel 2.14 Hasil perhitungan diameter crankshaft tampak atas sisi kiri (B)

Ralat
Galat (%) Keseksamaan
NO dL Nisbi
1 2 3 (%)
(%)
I 0,05921 0,17762 0,23683 0,02082 0,12325 99,88
II 0,45113 0,35088 0,15038 0,04813 0,24126 99,76
III 0,19355 0,38710 0,19355 0,12000 0,19355 99,81
IV 1,91214 1,31266 0,60982 0,94723 0,97905 99,02
V 0,07238 0,07238 0,13442 0,06671 0,06898 99,93

Tabel 2.15 Hasil perhitungan connecting rod (C)

Ralat
Galat (%) Keseksamaan
NO dL Nisbi
1 2 3 (%)
(%)
A 0,12266 0,15333 0,03067 0,10583 0,08113 99,92
B 0,19621 0,28341 0,10900 0,06770 0,14759 99,85
C 0,69204 2,07612 1,73010 0,03291 1,13889 98,86
D 0,45432 0,45432 0,05048 0,05212 0,26311 99,74
E 0,28694 0,43042 0,71736 0,05033 0,36106 99,64
F 0,33445 0,46823 0,06689 0,03536 0,23649 99,76
G 3,53893 2,12336 1,51668 0,17753 1,79504 98,20
H 0,07027 0,07027 0,07027 0,00707 0,04969 99,95
I 0,22405 0,22405 0,07468 0,01780 0,13290 99,87
J 0,17932 0,05977 0,17932 0,01780 0,10637 99,89

2.2.3 Gambar 2D dan 3D Menggunakan Dimensi Hasil Pengukuran


Untuk mempermudah dalam memahami benda yang diukur dalam
praktikum pengukuran ini, perlu dibuat suatu gambar teknik. Gambar berikut ini
merupakan gambar teknik 2D dan 3D dari paku dan crankshaft yang dibuat
dengan software desain Solidworks.
2.2.3.1 Gambar 2D
A. Paku

Teknik Mesin Universitas Diponegoro 36


[PRAKTIKUM METROLOGI 2016] Paku dan Crankshaft

Terlampir

B. Crankshaft
Terlampir

2.2.3.2 Gambar 3D
A. Paku
Terlampir

B. Crankshaft
Terlampir

Teknik Mesin Universitas Diponegoro 37