Anda di halaman 1dari 10

TUGAS 1

TEKNIK PEGELASAN

TP : 10.15
NO TUGAS : 1
Egi Alfian
41315010034

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MERCU BUANA
JAKARTA
2018
1.PERTUMBUHAN KRISTALISASI
Kristalisasi pada dasarnya ialah adalah proses pembentukan kristal padat
dari presipitasi (pembentukan endapan) larutan, pelelehan padatan ataupun hasil
dari deposit gas. Kristalisasi ini dapat terjadi secara alami maupun dengan cara
buatan. Karena dapat terjadi secara buatan dengan mengontrol sistem, maka
kimiawan mengembangkan teknik kristalisasi agar dapat digunakan
untuk pemisahan campuran zat.

JENIS-JENIS KRISTAL LOGAM

 Kubus Pusat Ruang (Dalam).


Jenis ini disebut sebagai Body Centered Cubic (BCC). Kristal
Logam atau Ferro Kubus Pusat Ruang merupakan susunan atom-atom besi
pada kondisi suhu di bawah 723oC, rusuk-rusuk yang ada di kubus ini
sama panjang. Atom-atom yang ada terletak di setiap sudut kubus tersebut
dan terdapat satu atom yang berada pada ruang sudut, sehingga jumlah
atom pada jenis ini adalah 9 atom

 Kubus Pusat Bidang (Muka).


Untuk jenis ini sering disebut sebagai Face Centered Cubic (FCC).
Kristal Logam atau Ferro Kubus Pusat Bidang merupakan peralihan dari
Kubus Pusat Ruang yang berubah pada kondisi suhu 723oC yang dimana
atom-atomnya akan bergerak akibat dari pemanasan yang akhirnya
membentuk kristal baru dimana atom-atom yang ada tersebut berada pada
setiapsudut kubus dan juga setiap pusat bidang dengan jumlah atom
sebanyak 14 buah.

 Kubus Pusat Tetragona (Hexagonal).


Kubus jenis ini disebut sebagai Body Centered Tetragonal (BCT).
Kristal Logam atau Ferro Kubus Tetragonal merupakan Kubus Pusat
Bidang yang akhirnya berubah karena diakibatkan oleh proses
pendinginan yang cepat. Rusuk-rusuk yang terbentuk tidak sama panjang.
Atom-atom terletak ada tiap sudut kubus dengan jumlah atom sebanyak 14
buah.

Pembentukan Butir Struktur Kristal pada Logam


 Pengintian
Pengintian adalah proses dimana inti-inti yang nantinya aka
menjadi kristal dan bisa juga tidak. Karena inti – inti ini terjadi pada
daerah austenite dengan suhu konstan.
 Kristalisasi
Kristalisasi terjadi setelah adanya saling tarik menrik inti – inti
yang stabil ini akan membentuk inti dominan dan akan membentuk butir –
butir kristal yang besar.

 Pembentukan Butir
Pembentukan butir terjadi ketika inti dominan yang membentuk
butir – butir kristal yang besar saling bergandengan dengan butir lain atau
inti dominan yang lain sampai logam tersebut tertutup oleh butir – butir
tersebut.
2.GARIS FUSI
Las fusi atau “fusion welding” merupakan salah satu cara penyambungan
logam, dimana potongan logam yang akan disambungkan mengalami peleburan
parsial disusul oleh pembekuan. Disini dapat pula ditambahkan bahan pengisi atau
“filler material”, dengan pass tunggal atau lebih.

JENIS-JENIS LAS FUSI

 SMAW (SMAW)
SMAW adalah suatu proses pengelasan dimana elektroda yang di
pakai bersifat consumeable (habis pakai) yang mana flux melindungi filler
dari oksigen agar tidak terjadi oksidasi.

 GMAW ( MIG )
GMAW adalah Proses pengelasan dengan elektroda terumpan
menggunakan Busur listrik sebagai sumber panas dan menggunakan gas
pelindung inert / gas mulia, campuran, atao CO2.

 FCAW
Pada dasarnya pengelasan dengan FCAW merupakan proses
pengelasan yang mirip dengan GMAW/MIG dan menggunakan kawat Las
Berinti Flux.

 GTAW (TIG)
GTAW adalah Proses pengelasan dengan elektroda tak terumpan
menggunakan Busur listrik sebagai sumber panas dan menggunakan gas
pelindung inert / gas mulia.

KARAKTERISTIK UMUM PROSES-PROSES PENGELASAN FUSI


3.BATAS BUTIR
Korosi batas butir merupakan korosi yang menyerang secara local
menyerang batas butir-butir logam sehingga butir – butir logam akan hilang atau
kekuatan mekanik dari logam akan berkurang, Korosi ini disebabkan adanya
kotoran (impurity) batas butir, adanya unsur yang berlebih pada sistem perpaduan
atau penghilangan salah satu unsur pada daerah batas butir

Intergranular corrosion (IGC) adalah bentuk penyerangan terhadap batas


butir atau daerah sekitarnya pada material dalam lingkungan korosif tetapi hanya
sebagian kecil korosi menyerang butir material itu sendiri. Intergranular corrosion
juga dikenal sebagai intergranular attack (IGA).
Pada beberapa material, proses korosi berjalan menyamping (lateral)
sepanjangbidangbidang paralel sampai permukaaan yang dikenal sebagai
exfoliation (pengelupasan), dan pada umumnya terjadi sepanjang batas butir oleh
sebab itu disebut korosi batas butir. Lapisan yang terkelupas merupakan hasil dari
proses pengelupasan (yang disebut juga sebagai lapisan korosi), merupakan
produk korosi yang sangat besar dalam membongkar lapisan material , sebagai
contoh, pada paduan Alumunium

Mekanisme Terjadinya Intergranular Corrosion

Korosi intergranular ( korosi batas butir ) merupakan serangan yang


bersifat khusus terhadap batas butir atau daerah di dekat batas butir pada material
karena lingkungan yang bersifat korosif. Akan tetapi terjadi korosi yang sedikit
pada batas butir. Korosi intergranular ini sering disebut juga serangan
intergranular (Intergranular Attack/IGA).

Pada material tertentu, korosi yang terjadi ke arah samping sepanjang


bidang yang sejajar terhadap permukaan rol dikenal sebagai eksfoliasi. Hal ini
secara umum terjadi di sepanjang batas butir, sehingga termasuk ke dalam korosi
batas butir.
PENCEGAHAN KOROSI BATAS BUTIR

 Gunakan baja tahan karat dengan karbon rendah ( misalnya 304L, 316L)
kelas dari baja tahan-karat
 Gunakan paduan dengan nilai yang stabil, titanium (misalnya tipe 321)
atau niobium (misalnya tipe 347). Tiatanium dan niobium adalah
pembentuk karbida yang kuat. Mereka bereaksi dengan karbon
membentuk karbida yang sesuai sehingga mencegah deplesi kromium
 Gunakan perlakuan panas sesudah proses pengelasan.
 Memperpanjang waktu penahanan pada proses homogenisasi, sehingga
konsentrasi Cr merata disetiap titik.

4.TRANSFORMASI FASA

Perlakuan panas adalah suatu operasi yang penting dalam proses fabrikasi
akhir suatu komponen dalam kebanyakan komponen teknik. Hanya dengan
perlakuan panas akan diperoleh sifat mekanik yang tinggi pada komponen baja
atau perkakas sehingga usia pakai komponen maupun perkakas tersebut akan
lebih lama. Perlakuan panas didefinisikan sebagai usaha mengubah sifat mekanik
suatu material (baja) sehingga akan sesuai dengan performansi design yang
diharapkan, dengan cara melakukan pemanasan pada temperatur tertentu,
menahanya selama waktu tertentu kemudian mendinginkan dengan kecepatan
tertentu.

Proses ini sangat dipengaruhi oleh kondisi awal material seperti komposisi
kimia serta struktur mikro. Suatu baja atau paduan meski memiliki komposisi
kimia yang sama, namun struktur mikronya berbeda maka sifat mekaniknya pun
akan berbeda yang semua ini dipengaruhi oleh proses perlakuan panas yang
dialami oleh material tersebut.

Proses pemanasan biasanya dilakukan sampai temperatur austenit dimana


austenit merupakan fasa yang tidak stabil sehingga akan mengalami transformasi
selama proses pendinginan, pemberian waktu tahan (holding time) bertujuan
untuk memberikan kesempatan atom-atom untuk berdifusi sehingga
menghomogenkan austenit. Pendinginan akan menyebabkan austenit
bertransformasi dan strukturmikro yang terbentuk akan sangat tergantung dari laju
pendinginan.

Jadi ada tiga hal yang penting dalam proses perlakuan panas baja, yaitu:

 Transformasi fasa selama pemanasan


 Pengaruh laju pendinginan pada perubahan struktur mikro selama
pendinginan.
 Pengaruh kadar karbon dan elemen paduan.

Setiap proses transformasi selalu mengalami penghentian penurunan


temperature yang ditandai oleh garis mendatar, yang menunjukan proses
berlangsung secara isothermal.Tiap bentuk allotropic besi mempunyai
kemampuan melarutkan karbon yang berbeda beda.

 Besi delta (d) mampu melarutkan karbon sampai maksimum + 0,10% pada
+1500 0C
 Besi gamma (g) mampu melarutkan karbon sampai maksimum + 2,0%
pada +1130 0C
 Besi alpha (a) mampu melarutkan karbon sampai maksimum + 0,025%
pada +723 0C

Untuk mempelajari laku panas pada baja maka terlebih dahulu harus
mempelajari proses transformasi baja selama pemanasan maupun pendinginan .
terhadap perubahan fasa selama pemanasan maupun pendinginan lambat. Hal ini
penting karena dapat dilakukan untuk memprediksi struktur mikro apa yang
terbentuk selama proses pemanasan dan pendinginan.
5.TEGANGAN SISA
Tegangan sisa adalah tegangan yang bekerja pada bahan setelah semua
gaya-gaya luar yang bekerja pada bahan tersebut dihilangkan.

Penyebab Terjadinya Tegangan Sisa

 Tegangan sisa sebagai akibat dari tegangan thermal seperti pada


pengelasan dan perlakukan panas
 Tegangan sisa yang disebabkan karena transformasi fasa (seperti baja
karbon)
 Tegangan sisa karena deformasi plastisyang tidak merata yang disebabkan
gaya-gaya mekanis

SIFAT-SIFAT TEGANGAN SISA

 Tegangan sisa sangat tinggi biasanya terjadi di daerah las dan daerah HAZ
 Tegangan sisa maksimum biasanya sampai tegangan luluh (yield stress)
 Pada bahan yang mengalami transformasi fasa minsalkan baja karbon
rendah, tegangan sisa mungkin berfariasi pada permukaan dan bagian
dalam dari logam induk.

PEMBENTUKAN TEGANGAN SISA

Pada saat pengelasan, terdapat daerah benda kerja yang dilas menerima
panas dengan suhu yang sangat tinggi, dan juga terdapat daerah yang menerima
panas lebih rendah karena jaraknya jauh dari titik las. Ketika proses pengelasan,
suhu daerah yang dilas akan berubah terus-menerus, sehingga distribusi suhu
menjadi tidak homogen. Tidak Homogen nya suhu ini menyebabkan logam
mengalami pemuaian dan dekomposisi fasa yang tidak sama.
Daerah benda kerja yang dilas memiliki suhu yang sangat tinggi dan
kemdian akan mengalami pemuaian atau perubahan volume yang relatif besar.
Sedangkan, daerah benda kerja yang suhunya lebih rendah mengalami pemuaian
yang kecil. Daerah benda kerja yang dingin, sama sekali tidak akan mengalami
proses pemuaian, daerah benda kerja yang dingin ini akan menjadi
penghambat proses pemuaian lebih lanjut.
Daerah benda kerja las akan mengalami perubahan fasa sesuai dengan
suhunya. Dapat terjadi dekomposisi fasa tidak merata karena karena distribusi
suhu tidak sama. Setiap perubahan fasa akan diikuti oleh perubahan volume
kristal atau fasa. Sehingga, akibat adanya perbedaan suhu, maka tidak semua
daerah fasanya berubah dan menyebabkan terjadi perbedaan volume di daerah
lasan.

Ketika proses pendinginan, daerah benda yang dengan suhu tinggi akan
menyusut lebih besar dibanding daerah yang relatif dingin. Dan juga, akan terjadi
dekomposisi fasa ke fasa suhu rendah dan menyebabkan timbulnya tegangan yang
saling berlawanan.
DAFTAR PUSTAKA

1. file:///C:/Users/User/Downloads/361562097-93454387-
Korosi-Batas-Butir.pdf
2. http://dinarproject.com/beranda/pengertian-distorsi/
3. http://kawatlas.jayamanunggal.com/pembentukan-
tegangan-sisa-pada-las-logam/
4. http://teknikmesinunsyiah2010.blogspot.co.id/2011/04/transf
ormasi-fasa.html