Anda di halaman 1dari 31

http://kumpulanaskep2011.blogspot.co.id/2013/02/pemeriksaan-darah-rutin-meliputi-6jenis.

html

kumpulan askep 2011

Minggu, 10 Februari 2013

Pemeriksaan darah rutin meliputi 6 jenis pemeriksaan; yaitu

1. Hemoglobin / Haemoglobin (Hb)

2. Hematokrit (Ht)

3. Leukosit: hitung leukosit (leukocyte count) dan hitung jenis (differential count)

4. Hitung trombosit / platelet count

5. Laju endap darah (LED) / erythrocyte sedimentation rate (ESR)

6. Hitung eritrosit (di beberapa instansi)

Hemoglobin (Hb)

Nilai normal dewasa pria 13.5-18.0 gram/dL, wanita 12-16 gram/dL, wanita hamil 10-15

gram/dL

Nilai normal anak 11-16 gram/dL, batita 9-15 gram/dL, bayi 10-17 gram/dL, neonatus 14-27

gram/dL

 Hb rendah (<10 gram/dL) biasanya dikaitkan dengan anemia defisiensi besi. Sebab

lainnya dari rendahnya Hb antara lain pendarahan berat, hemolisis, leukemia leukemik,

lupus eritematosus sistemik, dan diet vegetarian ketat (vegan). Dari obat-obatan: obat

antikanker, asam asetilsalisilat, rifampisin, primakuin, dan sulfonamid. Ambang bahaya

adalah Hb < 5 gram/dL.


 Hb tinggi (>18 gram/dL) berkaitan dengan luka bakar, gagal jantung, COPD (bronkitis

kronik dengan cor pulmonale), dehidrasi / diare, eritrositosis, polisitemia vera, dan pada

penduduk pegunungan tinggi yang normal. Dari obat-obatan: metildopa dan gentamisin.

Hematokrit

Nilai normal dewasa pria 40-54%, wanita 37-47%, wanita hamil 30-46%

Nilai normal anak 31-45%, batita 35-44%, bayi 29-54%, neonatus 40-68%

Hematokrit merupakan persentase konsentrasi eritrosit dalam plasma darah. Secara kasar,

hematokrit biasanya sama dengan tiga kali hemoglobin.

 Ht tinggi (> 55 %) dapat ditemukan pada berbagai kasus yang menyebabkan kenaikan

Hb; antara lain penyakit Addison, luka bakar, dehidrasi / diare, diabetes melitus, dan

polisitemia. Ambang bahaya adalah Ht >60%.

 Ht rendah (< 30 %) dapat ditemukan pada anemia, sirosis hati, gagal jantung,

perlemakan hati, hemolisis, pneumonia, dan overhidrasi. Ambang bahaya adalah Ht <15%.

Leukosit (Hitung total)

Nilai normal 4500-10000 sel/mm3

Neonatus 9000-30000 sel/mm3, Bayi sampai balita rata-rata 5700-18000 sel/mm3, Anak 10

tahun 4500-13500/mm3, ibu hamil rata-rata 6000-17000 sel/mm3, postpartum 9700-25700

sel/mm3

Segala macam infeksi menyebabkan leukosit naik; baik infeksi bakteri, virus, parasit, dan

sebagainya. Kondisi lain yang dapat menyebabkan leukositosis yaitu:

 Anemia hemolitik

 Sirosis hati dengan nekrosis

 Stres emosional dan fisik (termasuk trauma dan habis berolahraga)


 Keracunan berbagai macam zat

 Obat: allopurinol, atropin sulfat, barbiturat, eritromisin, streptomisin, dan sulfonamid.

Leukosit rendah (disebut juga leukopenia) dapat disebabkan oleh agranulositosis, anemia

aplastik, AIDS, infeksi atau sepsis hebat, infeksi virus (misalnya dengue), keracunan kimiawi,

dan postkemoterapi. Penyebab dari segi obat antara lain antiepilepsi, sulfonamid, kina,

kloramfenikol, diuretik, arsenik (terapi leishmaniasis), dan beberapa antibiotik lainnya.

Leukosit (hitung jenis)

Nilai normal hitung jenis

 Basofil 0-1% (absolut 20-100 sel/mm3)

 Eosinofil 1-3% (absolut 50-300 sel/mm3)

 Netrofil batang 3-5% (absolut 150-500 sel/mm3)

 Netrofil segmen 50-70% (absolut 2500-7000 sel/mm3)

 Limfosit 25-35% (absolut 1750-3500 sel/mm3)

 Monosit 4-6% (absolut 200-600 sel/mm3)

Penilaian hitung jenis tunggal jarang memberi nilai diagnostik, kecuali untuk penyakit alergi

di mana eosinofil sering ditemukan meningkat.

 Peningkatan jumlah netrofil (baik batang maupun segmen) relatif dibanding limfosit

dan monosit dikenal juga dengan sebutan shift to the left. Infeksi yang disertai shift to the

left biasanya merupakan infeksi bakteri dan malaria. Kondisi noninfeksi yang dapat

menyebabkan shift to the left antara lain asma dan penyakit-penyakit alergi lainnya, luka

bakar, anemia perniciosa, keracunan merkuri (raksa), dan polisitemia vera.

 Sedangkan peningkatan jumlah limfosit dan monosit relatif dibanding netrofil

disebut shift to the right. Infeksi yang disertai shift to the rightbiasanya merupakan infeksi
virus. Kondisi noninfeksi yang dapat menyebabkan shift to the right antara lain keracunan

timbal, fenitoin, dan aspirin.

Trombosit

Nilai normal dewasa 150.000-400.000 sel/mm3, anak 150.000-450.000 sel/mm3.

 Penurunan trombosit (trombositopenia) dapat ditemukan pada demam berdarah

dengue, anemia, luka bakar, malaria, dan sepsis. Nilai ambang bahaya pada <30.000

sel/mm3.

 Peningkatan trombosit (trombositosis) dapat ditemukan pada penyakit keganasan,

sirosis, polisitemia, ibu hamil, habis berolahraga, penyakit imunologis, pemakaian

kontrasepsi oral, dan penyakit jantung. Biasanya trombositosis tidak berbahaya, kecuali jika

>1.000.000 sel/mm3.

Laju endap darah

Nilai normal dewasa pria <15 mm/jam pertama, wanita <20 mm/jam pertama

Nilai normal lansia pria <20 mm/jam pertama, wanita <30-40 mm/jam pertama

Nilai normal wanita hamil 18-70 mm/jam pertama

Nilai normal anak <10 mm/jam pertama

 LED yang meningkat menandakan adanya infeksi atau inflamasi, penyakit imunologis,

gangguan nyeri, anemia hemolitik, dan penyakit keganasan.

 LED yang sangat rendah menandakan gagal jantung dan poikilositosis.

Hitung eritrosit

Nilai normal dewasa wanita 4.0-5.5 juta sel/mm3, pria 4.5-6.2 juta sel/mm3.

Nilai normal bayi 3.8-6.1 juta sel/mm3, anak 3.6-4.8 juta sel/mm3.
 Peningkatan jumlah eritrosit ditemukan pada dehidrasi berat, diare, luka bakar,

perdarahan berat, setelah beraktivitas berat, polisitemia, anemiasickle cell.

 Penurunan jumlah eritrosit ditemukan pada berbagai jenis anemia, kehamilan,

penurunan fungsi sumsum tulang, malaria, mieloma multipel, lupus, konsumsi obat

(kloramfenikol, parasetamol, metildopa, tetrasiklin, INH, asam mefenamat)

sumber :

Chernecky CC & Berger BJ. Laboratory Tests and Diagnostic Procedures 5th edition.

Saunders-Elsevier, 2008 dan http://hnz11.wordpress.com/

Bagian 2 :

Tes Hematologi Rutin

Hitung darah lengkap -HDL- atau darah perifer lengkap –DPL- (complete blood count/full

blood count/blood panel) adalah jenis pemeriksan yang memberikan informasi tentang sel-sel

darah pasien. HDL merupakan tes laboratorium yang paling umum dilakukan. HDL

digunakan sebagai tes skrining yang luas untuk memeriksa gangguan seperti seperti anemia,

infeksi, dan banyak penyakit lainnya.

HDL memeriksa jenis sel dalam darah, termasuk sel darah merah, sel darah putih dan

trombosit (platelet). Pemeriksaan darah lengkap yang sering dilakukan meliputi:

 Jumlah sel darah putih

 Jumlah sel darah merah

 Hemoglobin

 Hematokrit

 Indeks eritrosit
 jumlah dan volume trombosit

Tabel 1. Nilai pemeriksaan darah lengkap pada populasi normal

parameter Laki-Laki Perempuan

Hitung sel darah putih (x 103/μL) 7.8 (4.4–11.3)

Hitung sel darah merah (x 106/μL) 5.21 (4.52–5.90) 4.60 (4.10–5.10)

Hemoglobin (g/dl) 15.7 (14.0–17.5) 13.8 (12.3–15.3)

Hematokrit (%) 46 (42–50) 40 (36–45)

MCV (fL) 88.0 (80.0–96.1)

MCH (pg) 30.4 (27.5–33.2)

MCHC 34.4 (33.4–35.5)

RDW (%) 13.1 (11.5–14.5)

Hitung trombosit (x 103/μL) 311 (172–450)

Spesimen

Sebaiknya darah diambil pada waktu dan kondisi yang relatif sama untuk meminimalisasi

perubahan pada sirkulasi darah, misalnya lokasi pengambilan, waktu pengambilan, serta

kondisi pasien (puasa, makan). Cara pengambilan specimen juga perlu diperhatikan, misalnya

tidak menekan lokasi pengambilan darah kapiler, tidak mengambil darah kapiler tetesan

pertama, serta penggunaan antikoagulan (EDTA, sitrat) untuk mencegah terbentuknya clot.

Hemoglobin

Adalah molekul yang terdiri dari kandungan heme (zat besi) dan rantai polipeptida globin

(alfa,beta,gama, dan delta), berada di dalam eritrosit dan bertugas untuk mengangkut oksigen.

Kualitas darah ditentukan oleh kadar haemoglobin. Stuktur Hb dinyatakan dengan menyebut

jumlah dan jenis rantai globin yang ada. Terdapat 141 molekul asama amino pada rantai alfa,

dan 146 mol asam amino pada rantai beta, gama dan delta.
Terdapat berbagai cara untuk menetapkan kadar hemoglobin tetapi yang sering dikerjakan di

laboratorium adalah yang berdasarkan kolorimeterik visual cara Sahli dan fotoelektrik cara

sianmethemoglobin atau hemiglobinsianida. Cara Sahli kurang baik, karena tidak semua

macam hemoglobin diubah menjadi hematin asam misalnya karboksihemoglobin,

methemoglobin dan sulfhemoglobin. Selain itu alat untuk pemeriksaan hemoglobin cara Sahli

tidak dapat distandarkan, sehingga ketelitian yang dapat dicapai hanya ±10%.

 Cara sianmethemoglobin adalah cara yang dianjurkan untuk penetapan kadar

hemoglobin di laboratorium karena larutan standar sianmethemoglobin sifatnya stabil,

mudah diperoleh dan pada cara ini hampir semua hemoglobin terukur kecuali

sulfhemoglobin. Pada cara ini ketelitian yang dapat dicapai ± 2%.

 Berhubung ketelitian masing-masing cara berbeda, untuk penilaian basil sebaiknya

diketahui cara mana yang dipakai. Nilai rujukan kadar hemoglobin tergantung dari umur

dan jenis kelamin. Pada bayi baru lahir, kadar hemoglobin lebih tinggi dari pada orang

dewasa yaitu berkisar antara 13,6 – 19, 6 g/dl. Kemudian kadar hemoglobin menurun dan

pada umur 3 tahun dicapai kadar paling rendah yaitu 9,5 – 12,5 g/dl. Setelah itu secara

bertahap kadar hemoglobin naik dan pada pubertas kadarnya mendekati kadar pada

dewasa yaitu berkisar antara 11,5 – 14,8 g/dl. Pada laki-laki dewasa kadar hemoglobin

berkisar antara 13 – 16 g/dl sedangkan pada perempuan dewasa antara 12 – 14 g/dl.

 Pada perempuan hamil terjadi hemodilusi sehingga batas terendah nilai rujukan

ditentukan 10 g/dl.

 Penurunan Hb terdapat pada penderita: Anemia, kanker, penyakit ginjal, pemberian

cairan intravena berlebih, dan hodgkin. Dapat juga disebabkan oleh obat seperti:

Antibiotik, aspirin, antineoplastik(obat kanker), indometasin, sulfonamida, primaquin,

rifampin, dan trimetadion.


 Peningkatan Hb terdapat pada pasien dehidrasi, polisitemia, PPOK, gagal jantung

kongesti, dan luka bakar hebat. Obat yang dapat meningkatkan Hb adalah metildopa dan

gentamicin.

 Kadar hemoglobin dapat dipengaruhi oleh tersedianya oksigen pada tempat tinggal,

misalnya Hb meningkat pada orang yang tinggal di tempat yang tinggi dari permukaan

laut. Selain itu, Hb juga dipengaruhi oleh posisi pasien (berdiri, berbaring), variasi diurnal

(tertinggi pagi hari).

Hematokrit

Hematokrit atau volume eritrosit yang dimampatkan (packed cell volume, PCV) adalah

persentase volume eritrosit dalam darah yang dimampatkan dengan cara diputar pada

kecepatan tertentu dan dalam waktu tertentu. Tujuan dilakukannya uji ini adalah untuk

mengetahui konsentrasi eritrosit dalam darah.

Nilai hematokrit atau PCV dapat ditetapkan secara automatik menggunakan hematology

analyzer atau secara manual. Metode pengukuran hematokrit secara manual dikenal ada 2,

yaitu metode makrohematokrit dan mikrohematokrit/kapiler.

Nilai normal HMT:

Anak : 33-38%

Laki-laki Dewasa : 40-50%

Perempuan Dewasa : 36-44%

Penurunan HMT, terjadi dengan pasien yang mengalami kehilangan darah akut, anemia,

leukemia, penyakit hodgkins, limfosarcoma, mieloma multiple, gagal ginjal kronik, sirosis

hepatitis, malnutrisi, defisiensi vit B dan C, kehamilan, SLE, athritis reumatoid, dan ulkus

peptikum.
Peningkatan HMT, terjadi pada hipovolemia, dehidrasi, polisitemia vera, diare

berat,asidosis diabetikum,emfisema paru, iskemik serebral, eklamsia, efek pembedahan, dan

luka bakar.

Hitung Eritrosit

Hitung eritrosit adalah jumlah eritrosit per milimeterkubik atau mikroliter dalah. Seperti

hitung leukosit, untuk menghitung jumlah sel-sel eritrosit ada dua metode, yaitu manual dan

elektronik (automatik). Metode manual hampir sama dengan hitung leukosit, yaitu

menggunakan bilik hitung. Namun, hitung eritrosit lebih sukar daripada hitung leukosit.

Prinsip hitung eritrosit manual adalah darah diencerkan dalam larutan isotonis untuk

memudahkan menghitung eritrosit dan mencegah hemolisis. Larutan Pengencer yang

digunakan adalah:

 Larutan Hayem : Natrium sulfat 2.5 g, Natrium klorid 0.5 g, Merkuri klorid 0.25 g,

aquadest 100 ml. Pada keadaan hiperglobulinemia, larutan ini tidak dapat dipergunakan

karena dapat menyebabkan precipitasi protein, rouleaux, aglutinasi.

 Larutan Gower : Natrium sulfat 12.5 g, Asam asetat glasial 33.3 ml, aquadest 200 ml.

Larutan ini mencegah aglutinasi dan rouleaux.

 Natrium klorid 0.85 %

Nilai Rujukan

 Dewasa laki-laki : 4.50 – 6.50 (x106/μL)

 Dewasa perempuan : 3.80 – 4.80 (x106/μL)

 Bayi baru lahir : 4.30 – 6.30 (x106/μL)

 Anak usia 1-3 tahun : 3.60 – 5.20 (x106/μL)

 Anak usia 4-5 tahun : 3.70 – 5.70 (x106/μL)

 Anak usia 6-10 tahun : 3.80 – 5.80 (x106/μL)


Penurunan eritrosit : kehilangan darah (perdarahan), anemia, leukemia, infeksi kronis,

mieloma multipel, cairan per intra vena berlebih, gagal ginjal kronis, kehamilan, hidrasi

berlebihan

Peningkatan eritrosit : polisitemia vera, hemokonsentrasi/dehidrasi, dataran tinggi, penyakit

kardiovaskuler

Indeks Eritrosit

Mencakup parameter eritrosit, yaitu:

Mean cell / corpuscular volume (MCV) atau volume eritrosit rata-rata (VER)

MCV = Hematokrit (l/l) / Jumlah eritrosit (106/µL)

Normal 80-96 fl

Mean Cell Hemoglobin Content (MCH) atau hemoglobin eritrosit rata-rata (HER)

MCH (pg) = Hemoglobin (g/l) / Jumlah eritrosit (106/µL)

Normal 27-33 pg

Mean Cellular Hemoglobin Concentration (MCHC) atau konsentrasi hemoglobin eritrosit

rata-rata (KHER)

MCHC (g/dL) = konsentrasi hemoglobin (g/dL) / hematokrit (l/l)

Normal 33-36 g/dL

Red Blood Cell Distribution Width (RDW)

RDW adalah perbedaan/variasi ukuran (luas) eritrosit. Nilai RDW berguna memperkirakan

terjadinya anemia dini, sebelum nilai MCV berubah dan sebelum terjadi gejala. Peningkatan

nilai RDW dapat dijumpai pada anemia defisiensi (zat besi, asam folat, vit B12), anemia

hemolitik, anemia sel sabit. Ukuran eritrosit biasanya 6-8µm, semakin tinggi variasi ukuran

sel mengindikasikan adanya kelainan.

RDW = standar deviasi MCV / rata-rata MCV x 100

Nilai normal rujukan 11-15%


Hitung Trombosit

Adalah komponen sel darah yang dihasilkan oleh jaringan hemopoetik, dan berfungsi utama

dalam proses pembekuan darah. Penurunan sampai dibawah 100.000/ µL berpotensi untuk

terjadinya perdarahan dan hambatan pembekuan darah.

Jumlah Normal: 150.000-400.000 /µL

Hitung Leukosit

Hitung leukosit adalah menghitung jumlah leukosit per milimeterkubik atau mikroliter darah.

Leukosit merupakan bagian penting dari sistem pertahanan tubuh, terhadap benda asing,

mikroorganisme atau jaringan asing, sehingga hitung julah leukosit merupakan indikator

yang baik untuk mengetahui respon tubuh terhadap infeksi.

Jumlah leukosit dipengaruhi oleh umur, penyimpangan dari keadaan basal dan lain-lain.Pada

bayi baru lahir jumlah leukosit tinggi, sekitar 10.000-30.000/μl. Jumlah leukosit tertinggi

pada bayi umur 12 jam yaitu antara 13.000-38.000 /μl. Setelah itu jumlah leukosit turun

secara bertahap dan pada umur 21 tahun jumlah leukosit berkisar antara 4500- 11.000/μl.

Pada keadaan basal jumlah leukosit pada orang dewasa berkisar antara 5000 — 10.000/μl.

Jumlah leukosit meningkat setelah melakukan aktifitas fisik yang sedang, tetapi jarang lebih

dari 11.000/μl. Peningkatan jumlah leukosit di atas normal disebut leukositosis, sedangkan

penurunan jumlah leukosit di bawah normal disebut lekopenia.

Terdapat dua metode yang digunakan dalam pemeriksaan hitung leukosit, yaitu cara

automatik menggunakan mesin penghitung sel darah (hematology analyzer) dan cara manual

dengan menggunakan pipet leukosit, kamar hitung dan mikroskop.

Cara automatik lebih unggul dari cara pertama karena tekniknya lebih mudah, waktu yang

diperlukan lebih singkat dan kesalahannya lebih kecil yaitu ± 2%, sedang pada cara manual

kesalahannya sampai ± 10%. Keburukan cara automatik adalah harga alat mahal dan sulit
untuk memperoleh reagen karena belum banyak laboratorium di Indonesia yang memakai

alat ini.

Nilai normal leukosit:

Dewasa : 4000-10.000/ µL

Bayi / anak : 9000-12.000/ µL

Bayi baru lahir : 9000-30.000/ µL

Bila jumlah leukosit lebih dari nilai rujukan, maka keadaan tersebut disebut leukositosis.

Leukositosis dapat terjadi secara fisiologik maupun patologik. Leukositosis yang fisiologik

dijumpai pada kerja fisik yang berat, gangguan emosi, kejang, takhikardi paroksismal, partus

dan haid.

Peningkatan leukosit juga dapat menunjukan adanya proses infeksi atau radang akut,

misalnya pneumonia, meningitis, apendisitis, tuberkolosis, tonsilitis, dll. Dapat juga terjadi

miokard infark, sirosis hepatis, luka bakar, kanker, leukemia, penyakit kolagen, anemia

hemolitik, anemia sel sabit , penyakit parasit, dan stress karena pembedahan ataupun

gangguan emosi. Peningkatan leukosit juga bisa disebabkan oleh obat-obatan, misalnya:

aspirin, prokainmid, alopurinol, kalium yodida, sulfonamide, haparin, digitalis, epinefrin,

litium, dan antibiotika terutama ampicillin, eritromisin, kanamisin, metisilin, tetracycline,

vankomisin, dan streptomycin.

Leukopenia adalah keadaan dimana jumlah leukosit kurang dari 5000/µL darah. Karena pada

hitung jenis leukosit, netrofil adalah sel yang paling tinggi persentasinya hampir selalu

leukopenia disebabkan netropenia.

Penurunan jumlah leukosit dapat terjadi pada penderita infeksi tertentu, terutama virus,

malaria, alkoholik, SLE, reumaotid artritis, dan penyakit hemopoetik(anemia aplastik,

anemia perisiosa). Leokopenia dapat juga disebabkan penggunaan obat terutama

saetaminofen, sulfonamide, PTU, barbiturate, kemoterapi kanker, diazepam, diuretika,


antidiabetika oral, indometasin, metildopa, rimpamfin, fenotiazin, dan antibiotika.(penicilin,

cefalosporin, dan kloramfenikol)

Hitung Jenis Leukosit

Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai jenis leukosit. Terdapat

lima jenis leukosit, yang masing-masingnya memiliki fungsi yang khusus dalam melawan

patogen. Sel-sel itu adalah neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil. Hasil hitung

jenis leukosit memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai infeksi dan proses

penyakit. Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing jenis

sel. Untuk mendapatkan jumlah absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%)

dikalikan jumlah leukosit total (sel/μl).

Untuk melakukan hitung jenis leukosit, pertama membuat sediaan apus darah yang diwarnai

dengan pewarna Giemsa, Wright atau May Grunwald. Amati di bawah mikroskop dan hitung

jenis-jenis leukosit hingga didapatkan 100 sel. Tiap jenis sel darah putih dinyatakan dalam

persen (%). Jumlah absolut dihitung dengan mengalikan persentase jumlah dengan hitung

leukosit, hasilnya dinyatakan dalam sel/μL.

Tabel 2. Hitung Jenis Leukosit

Jenis Nilai normal Melebihi nilai normal Kurang dari nilai

normal

Basofil 0,4-1% inflamasi, leukemia, stress, reaksi

40-100/µL tahap penyembuhan hipersensitivitas,

infeksi atau inflamasi kehamilan,

hipertiroidisme
Eosinofil 1-3% Umumnya pada keadaan stress, luka bakar, syok,

100-300/µL atopi/ alergi dan infeksi hiperfungsi

parasit adrenokortikal.

Neutrofil 55-70% Inflamasi, kerusakan Infeksi virus,

(2500-7000/µL) jaringan, peyakit autoimun/idiopatik,

Bayi Baru Lahir Hodgkin, leukemia pengaruh obat-obatan

61% mielositik, hemolytic

Umur 1 tahun 2% disease of newborn,

Segmen 50-65% kolesistitis akut,

(2500-6500/µL) apendisitis, pancreatitis

Batang 0-5% (0- akut, pengaruh obat

500/µL)

Limfosit 20-40% infeksi kronis dan virus kanker, leukemia, gagal

1700-3500/µL ginjal, SLE, pemberian

BBL 34% steroid yang berlebihan

1 th 60%

6 th 42%

12 th 38%

Monosit 2-8% Infeksi virus, parasit, Leukemia limfositik,

200-600/µL anemia hemolitik, SLE< anemia aplastik

Anak 4-9% RA

Laju Endap Darah

Laju endap darah (erithrocyte sedimentation rate, ESR) adalah kecepatan sedimentasi

eritrosit dalam darah yang belum membeku, dengan satuan mm/jam. LED merupakan uji

yang tidak spesifik. LED dijumpai meningkat selama proses inflamasi akut, infeksi akut dan
kronis, kerusakan jaringan (nekrosis), penyakit kolagen, rheumatoid, malignansi, dan kondisi

stress fisiologis (misalnya kehamilan).

Metode yang digunakan untuk pemeriksaan LED ada dua, yaitu metode Wintrobe dan

Westergreen. Hasil pemeriksaan LED dengan menggunakan kedua metode tersebut

sebenarnya tidak seberapa selisihnya jika nilai LED masih dalam batas normal. Tetapi jika

nilai LED meningkat, maka hasil pemeriksaan dengan metode Wintrobe kurang

menyakinkan. Dengan metode Westergreen bisa didapat nilai yang lebih tinggi, hal itu

disebabkan panjang pipet Westergreen yang dua kali panjang pipet Wintrobe.International

Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) merekomendasikan untuk

menggunakan metode Westergreen.

Prosedur pemeriksaan LED yaitu:

1. Metode Westergreen

 o Untuk melakukan pemeriksaan LED cara Westergreen diperlukan sampel darah

citrat 4 : 1 (4 bagian darah vena + 1 bagian natrium sitrat 3,2 % ) atau darah EDTA yang

diencerkan dengan NaCl 0.85 % 4 : 1 (4 bagian darah EDTA + 1 bagian NaCl 0.85%).

Homogenisasi sampel sebelum diperiksa.

 o Sampel darah yang telah diencerkan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam

tabung Westergreen sampai tanda/skala 0.

 o Tabung diletakkan pada rak dengan posisi tegak lurus, jauhkan dari getaran maupun

sinar matahari langsung.

 o Biarkan tepat 1 jam dan catatlah berapa mm penurunan eritrosit.

1. Metode Wintrobe

 o Sampel yang digunakan berupa darah EDTA atau darah Amonium-kalium oksalat.

Homogenisasi sampel sebelum diperiksa.


 o Sampel dimasukkan ke dalam tabung Wintrobe menggunakan pipet Pasteur sampai

tanda 0.

 o Letakkan tabung dengan posisi tegak lurus.

 o Biarkan tepat 1 jam dan catatlah berapa mm menurunnya eritrosit.

Nilai Rujukan

1. Metode Westergreen:

 Laki-laki : 0 – 15 mm/jam

 Perempuan : 0 – 20 mm/jam

1. Metode Wintrobe :

 Laki-laki : 0 – 9 mm/jam

 Perempuan 0 – 15 mm/jam

Referensi

Dharma R, Immanuel S, Wirawan R. Penilaian hasil pemeriksaan hematologi rutin. Cermin

Dunia Kedokteran. 1983; 30: 28-31.

Gandasoebrata R. Penuntun laboratorium klinik. Jakarta: Dian Rakyat; 2009. hal. 11-42.

Ronald AS, Richard AMcP, alih bahasa : Brahm U. Pendit dan Dewi Wulandari, editor :

Huriawati Hartanto, Tinjauan klinis hasil pemeriksaan laboratorium, edisi 11. Jakarta: EGC;

2004.

Sutedjo AY. Mengenal penyakit melalui hasil pemeriksaan laboratorium. Yogyakarta: Amara

Books; 2008. hal. 17-35.

Theml H, Diem H, Haferlach T. Color atlas of hematology; principal microscopic and clinical

diagnosis. 2nd ed. Stuttgart: Thieme; 2004.


Vajpayee N, Graham SS, Bem S. Basic examination of blood and bone marrow. In: Henry’s

clinical diagnosis and management by laboratory methods. 21st ed. Editor: McPherson RA,

Pincus MR. China: Saunders Elsevier; 2006. hal. 9-20.

Bagian 3 :

Hasil Tes Kadar Gula, Kolesterol, Asam Urat Normal

Hasil Tes Lab Normal Unduh versi PDF

Latar Belakang

Agar dapat memantau keadaan kesehatan kita, perlu dilakukan tes laboratorium secara

berkala – untuk informasi lebih lanjut mengenai jenis tes ini, lihat Lembaran Informasi

121 Hitung Darah Lengkap, LI 122 Tes Kimia Darah, dan LI 123 Gula & Lemak Darah.

CATATAN PENTING:

Setiap laboratorium menentukan nilai ‘normal’, yang ditunjukkan pada kolom ‘Nilai

Rujukan’ atau ‘Nilai Normal’ pada laporan laboratorium. Nilai ini tergantung pada alat yang

dipakai dan cara pemakaiannya. Tidak ada standar nilai rujukan; angka ini diambil terutama

dari laboratorium RSPI-SS, Jakarta; nilai laboratorium lain dapat berbeda. Jadi angka pada

laporan kita harus dibandingkan dengan nilai rujukan pada laporan, bukan dengan nilai

rujukan pada lembaran ini. Bahaslah hasil yang tidak normal dengan dokter.

Tubuh manusia tidak seperti mesin, dengan unsur yang dapat diukur secara persis dengan

hasil yang selalu sama. Hasil laboratorium kita dapat berubah-ubah tergantung pada berbagai

faktor, termasuk: jam berapa contoh darah atau cairan lain diambil; infeksi aktif; tahap infeksi

HIV; dan makanan (untuk tes tertentu, contoh cairan harus diambil dengan perut kosong –

tidak ada yang dimakan selama beberapa jam). Kehamilan juga dapat mempengaruhi

beberapa nilai. Oleh karena faktor ini, hasil lab yang di luar normal mungkin tidak menjadi

masalah.
Pada tabel ini, bila ada perbedaan tergantung pada jenis kelamin, angka ditunjukkan sebagai

‘P’ untuk perempuan dan ‘L’ untuk laki-laki.

Darah

Ukuran Satuan Nilai Rujukan

4,0 – 5,0 (P)


Eritrosit (sel darah merah) juta/µl
4,5 – 5,5 (L)

12,0 – 14,0 (P)


Hemoglobin (Hb) g/dL
13,0 – 16,0 (L)

40 – 50 (P)
Hematokrit %
45 – 55 (L)

Hitung Jenis

Basofil % 0,0 – 1,0

Eosinofil % 1,0 – 3,0

Batang1 % 2,0 – 6,0

Segmen1 % 50,0 – 70,0

Limfosit % 20,0 – 40,0

Monosit % 2,0 – 8,0

< 15 (P)
Laju endap darah (LED) mm/jam
< 10 (L)

Leukosit (sel darah putih) 103/µl 5,0 – 10,0

MCH/HER pg 27 – 31

MCHC/KHER g/dL 32 – 36

MCV/VER fl 80 – 96
Trombosit 103/µl 150 – 400

Catatan:

1. Batang dan segmen adalah jenis neutrofil. Kadang kala dilaporkan persentase neutrofil

saja, dengan nilai rujukan 50,0–75,0 persen

Fungsi Hati (LFT)

Ukuran Satuan Nilai Rujukan

< 23 (P)
ALT (SGPT) U/L
< 30 (L)

< 21 (P)
AST (SGOT) U/L
< 25 (L)

Alkalin fosfatase U/L 15 – 69

GGT (Gamma GT) U/L 5 – 38

Bilirubin total mg/dL 0,25 – 1,0

Bilirubin langsung mg/dL 0,0 – 0,25

Protein total g/L 61 – 82

Albumin g/L 37 – 52

Fungsi

Ginjal

Ukuran Satuan Nilai Rujukan


60 – 150 (P)
Kreatinin U/L
70 – 160 (L)

Urea mg/dL 8 – 25

Natrium mmol/L 135 – 145

Klorid mmol/L 94 – 111

Kalium mmol/L 3,5 – 5,0

Profil Lipid

Ukuran Satuan Nilai Rujukan

Kolesterol total mg/dL 150 – 200

45 – 65 (P)
HDL mg/dL
35 – 55 (L)

Trigliserid mg/dL 120 – 190

Lain

Ukuran Satuan Nilai Rujukan

Glukosa (darah, puasa) mg/dL 70 – 100

Amilase U/L 30 – 130

2,4 – 5,7 (P)


Asam Urat mg/dL
3,4 – 7,0 (W)

Bagian 4 :
NILAI RUJUKAN NORMAL LABORATORIUM DAN KETERANGANNYA

Oleh : dr.Abu Hana

Latar Belakang

Agar dapat memantau keadaan kesehatan kita, perlu dilakukan tes laboratorium secara

berkala.

Setiap laboratorium dalam menentukan nilai ‘normal’tergantung pada alat yang dipakai dan

cara pemakaiannya. Tidak ada standar nilai rujukan; angka ini diambil terutama dari

laboratorium RSPI-SS, Jakarta; nilai laboratorium lain dapat berbeda. Jadi angka pada

laporan kita harus dibandingkan dengan nilai rujukan pada laporan, bukan dengan nilai

rujukan pada lembaran ini.

Bahaslah hasil yang tidak normal dengan dokter!

Tubuh manusia tidak seperti mesin, dengan unsur yang dapat diukur secara persis dengan

hasil yang selalu sama. Hasil laboratorium kita dapat berubah-ubah tergantung pada berbagai

faktor, termasuk: jam berapa contoh darah atau cairan lain diambil; infeksi aktif; tahap infeksi

HIV; dan makanan (untuk tes tertentu, contoh cairan harus diambil dengan perut kosong –

tidak ada yang dimakan selama beberapa jam). Kehamilan juga dapat mempengaruhi

beberapa nilai. Oleh karena faktor ini, hasil lab yang di luar normal mungkin tidak menjadi

masalah.

Pada tabel ini, bila ada perbedaan tergantung pada jenis kelamin, angka ditunjukkan sebagai

‘P’ untuk perempuan dan ‘L’ untuk laki-laki.

Laboratorium Darah

Ukuran Satuan Nilai Rujukan


Eritrosit (sel darah 4,0 – 5,0 (P)
juta/µl
merah) 4,5 – 5,5 (L)
12,0 – 14,0 (P)
Hemoglobin (Hb) g/dL
13,0 – 16,0 (L)
40 – 50 (P)
Hematokrit %
45 – 55 (L)
Hitung Jenis
Basofil % 0,0 – 1,0
Eosinofil % 1,0 – 3,0
Batang1 % 2,0 – 6,0
Segmen1 % 50,0 – 70,0
Limfosit % 20,0 – 40,0
Monosit % 2,0 – 8,0
Laju endap darah < 15 (P)
mm/jam
(LED) < 10 (L)
Leukosit (sel darah
103/µl 5,0 – 10,0
putih)
MCH/HER pg 27 – 31
MCHC/KHER g/dL 32 – 36
MCV/VER fl 80 – 96
Trombosit 103/µl 150 – 400
Catatan:
Batang dan segmen adalah jenis neutrofil. Kadang kala dilaporkan
persentase neutrofil saja, dengan nilai rujukan 50,0–75,0 persen

Fungsi Hati (LFT)

Ukuran Satuan Nilai Rujukan


< 23 (P)
ALT (SGPT) U/L < 30 (L)
< 41 U/I (IFCC)
< 21 (P)
AST (SGOT) U/L < 25 (L)
< 37 U/I (IFCC)
15 – 69
Alkalin fosfatase U/L
40 – 129 (IFCC)
5 – 38
GGT (Gamma GT) U/L 8 – 61
(Persyn&Szaz)
Bilirubin total mg/dL 0,25 – 1,0
Bilirubin langsung mg/dL 0,0 – 0,25
Protein total g/L 61 – 82
Albumin g/L 37 – 52
Fungsi Ginjal

Ukuran Satuan Nilai Rujukan


60 – 150 (P)
Kreatinin Darah U/L
70 – 160 (L)
Urea mg/dL 8 – 25
Natrium mmol/L 135 – 145
Klorida mmol/L 94 – 111
Kalium mmol/L 3,5 – 5,0
Profil Lipid

Ukuran Satuan Nilai Rujukan


Kolesterol total mg/dL 150 – 200
45 – 65 (P)
HDL mg/dL
35 – 55 (L)
LDL mg/dL
< 100 (Direk)
Trigliserid mg/dL 120 – 190
Lain-lain

Ukuran Satuan Nilai Rujukan


Glukosa (darah, puasa) mg/dL 70 – 100
Amilase U/L 30 – 130
2,4 – 5,7 (P)
3,4 – 7,0 (W)
10,7 – 14,3
Asam Urat 10,9 – 15,5
Waktu Protrombin NEGATIF : < 1,0
Kontrol S/CO
mg/dL atau < 1,0 COI
HBsAg
- (ECLIA)
Anti HAV Ig M
- NEGATIF : < 1,0
COI
POSITIF : >= 1,0 COI
Anti HCV (EIA)
NEGATIF : < 1,0
S/CO
atau < 1,0 COI (EIA)
Pemeriksaan URINE (AIR KENCING)
Glucose : Negatif

Billirubin : Negatif

Keton : < 5 mg/dl

Berat Jenis : 1,001-1,035

pH : 4,6 – 8,0

Protein : < 30 mg/dl


Urobilinogen : < 1,0 EU/dl

Nitrit : Negatif

Blood : Negatif

Leukosit : Negatif

Sedimen

Sel epitel : Negatif

Leukosit ; < 5 LPB

Eritrosit ; < 5 LPB

Silinder, Kristal dan Bakteri ; Negatif

HITUNG DARAH LENGKAP

Hitung Darah Lengkap Hitung Darah Lengkap (HDL)

Tes laboratorium yang paling umum adalah hitung darah lengkap (HDL) atau complete blood

count (CBC). Tes ini memeriksa jenis sel dalam darah, termasuk sel darah merah, sel darah

putih dan trombosit (platelet). Hasil tes menyebutkan jumlahnya dalam darah (misalnya

jumlah sel per milimeter kubik) atau persentasenya. Semua sel darah dibuat di sumsum

tulang. Beberapa obat dan penyakit dapat merusak sumsum tulang sehingga menyebabkan

berkurangnya jumlah sel darah merah dan putih. Setiap laboratorium mempunyai nilai

rujukan untuk semua hasil tes. Biasanya, tes laboratorium akan memperlihatkan hasil tes

yang berada di luar nilai normal.

Laporan hasil sering sulit ditafsirkan. Beberapa angka dilaporkan dengan satuan x103. Ini

berarti jumlah yang dicatat harus dikalikan 1.000. Contohnya, bila hasil adalah 8,77

dengan;x103 jumlah sebenarnya adalah 8.770.

Tes Sel Darah Merah

Sel darah merah, yang juga disebut sebagai eritrosit, bertugas mengangkut oksigen dari paru

ke seluruh tubuh.
Fungsi ini dapat diukur melalui tiga macam tes.

1. Hitung Sel Darah Merah (red blood cell count/RBC) yang menghitung jumlah total sel

darah merah; Hemoglobin (Hb) yaitu protein dalam sel darah merah yang bertugas

mengangkut oksigen dari paru ke bagian tubuh lainnya; Hematokrit (Ht atau HCT) yang

mengukur persentase sel darah merah dalam seluruh volume darah.

Orang yang tinggal di dataran tinggi umumnya mempunyai lebih banyak sel darah merah. Ini

merupakan upaya tubuh mengatasi kekurangan oksigen.

Eritrosit, Hb dan Ht yang sangat rendah menunjukkan adanya anemia, yaitu sel tidak

mendapat cukup oksigen untuk berfungsi secara normal. Jika kita anemia, kita sering merasa

lelah dan terlihat pucat.

Nilai Hemoglobin (Hb) Bayi baru lahir (14,0 – 24,0 gr/dl), Bayi (10,0 – 15,0 gr/dl), Anak-

anak (11,0 – 16,0 gr/dl).

2. Volume Eritrosit

Rata-Rata (VER) atau mean corpuscular volume (MCV) mengukur besar rata-rata sel darah

merah. MCV yang kecil berarti ukuran sel darah merahnya lebih kecil dari ukuran normal.

Biasanya hal ini disebabkan oleh kekurangan zat besi atau penyakit kronis. MCV yang besar

dapat disebabkan oleh obat HIV, terutama AZT dan d4T. Ini tidak berbahaya.

MCV yang besar menunjukkan adanya anemia megaloblastik, dengan sel darah merahnya

besar dan berwarna muda.Biasanya hal ini disebabkan oleh kekurangan asam folat.

3. Red Blood Cell Distribution Width (RDW) mengukur lebar sel darah merah. Hasil tes

ini dapat membantu mendiagnosis jenis anemia dan kekurangan beberapa vitamin.

Hemoglobin Eritrosit Rata-Rata (HER) atau mean corpuscular hemoglobin (MCH) dan

Konsentrasi Hemoglobin Eritrosit Rata-Rata (KHER) atau mean corpuscular hemoglobin

concentration (MCHC atau CHCM) masing-masing mengukur jumlah dan kepekatan


hemoglobin. MCH dihitung dengan membagi hemoglobin total dengan jumlah sel darah

merah total.

Trombosit atau platelet (PT atau PLT)

Berfungsi membantu menghentikan perdarahan dengan membentuk gumpalan dan keropeng.

Jika trombosit kita kurang, kita mudah mengalami perdarahan atau memar. Orang HIV-

positif kadang trombositnya rendah (disebut trombositopenia). Obat HIV dapat mengatasi

keadaan ini. Trombosit tinggi biasanya tidak punya pengaruh besarpada kesehatan.

Tes Sel Darah Putih

Sel darah putih (disebut juga leukosit) membantu melawan infeksi dalam tubuh kita.

Hitung Sel Darah Putih (white blood cell count/WBC) adalah jumlah total sel darah putih.

Leukosit tinggi (hitung sel darah putih yang tinggi) artinya tubuh kita sedang melawan

infeksi. Leukosit rendah artinya ada masalah dengan sumsum tulang.

Nilai Leukosit Bayi baru lahir ( 9.000-30.000/uL), Anak < 2 tahun (6.200-17.000 u/L).

Leukosit rendah disebut leukopenia atau sitopenia yang berarti tubuh kurang mampu

melawan infeksi.;

Neutrofil

berfungsi melawan infeksi bakteri, dan dilaporkan sebagai persentase leukosit atau %NEUT.

Biasa jumlahnya 55-70 persen. Jika neutrofil kita rendah (disebut neutropenia), kita lebih

mudah terkena infeksi bakteri. Penyakit HIV lanjut, obat HIV seperti gansiklovir (untuk

mengatasi virus sitomegalo, AZT (obat antiretroviral) dapat menyebabkan neutropenia.

Limfosit

Ada dua jenis utama limfosit:

Sel-B untuk membuat antibodi, protein khusus yang menyerang kuman; dan sel-T untuk

menyerang dan membunuh kuman, serta membantu mengatur sistem kekebalan tubuh. Salah
satu jenis sel-T adalah sel CD4, yang diinfeksi dan dibunuh oleh HIV. Jumlah limfosit

umumnya 20-40 persen leukosit.

Hitung darah lengkap biasanya tidak termasuk tes CD4. Tes CD4 ini harus diminta sebagai

tambahan. Hasil hitung darah lengkap tetap dibutuhkan untuk menghitung jumlah CD4,

sehingga dua tes ini umumnya dilakukan sekaligus.

Monosit atau makrofag diukur sebagai persentase leukosit (%MONO) dan biasanya 2-8

persen. Sel ini melawan infeksi dengan memakan; kuman dan memberi tahu sistem

kekebalan tubuh mengenai kuman apa yang ditemukan.

Monosit beredar dalam darah. Bila monosit ada di jaringan tubuh, mereka disebut makrofag.

Jumlah monosit yang tinggi menunjukkan adanya infeksi bakteri.

Eosinofil (%EOS) biasanya 1-3 persen leukosit. Sel ini terlibat dengan alergi dan tanggapan

terhadap parasit. Kadang kala penyakit HIV dapat menyebabkan jumlah eosinofil yang

tinggi. Jumlah meningkat terutama jika kita diare, kentut, atau perut kembung. Hal ini

menandai adanya parasit.

Fungsi basofil (%BASO) tidak begitu dipahami, namun sel ini terlibat dalam reaksi alergi

jangka panjang, misalnya asma atau alergi kulit. Sel ini jumlahnya kurang dari 1 persen

leukosit. Persentase limfosit (%LYMP) mengukur lima jenis sel darah putih: neutrofil,

limfosit, monosit, eosinofil dan basofil, dalam bentuk persentase leukosit. Untuk memperoleh

limfosit total, nilai ini dikalikan dengan leukosit. Misalnya, bila limfosit 30,2 persen dan

leukosit 8.770, limfosit totalnya adalah 0,302 x 8.770 =2.648.

TES KIMIA DARAH

Kalsium, adalah bagian utama dari tulang dan gigi. Kalsium juga dibutuhkan agar saraf dan

otot bekerja dengan baik, serta untuk reaksi kimia dalam sel. Tubuh kita mengatur jumlah
kalsium dalam darah. Namun tingkat protein dalam darah dapat mempengaruhi hasil tes

kalsium (lihat albumin di bawah).

Hasil tes kalsium yang rendah pada Odha biasanya disebabkan oleh tingkat protein yang

rendah akibat kekurangan gizi (malanutrisi) atau wasting.Tingkat kalsium yang tidak normal

bisa jadi karena masalah pencernaan.

Fosfor, seperti juga kalsium, merupakan bagian utama tulang. Tingkat fosfor yang tinggi

untuk jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan pada tulang, saraf dan otot.

Keadaan ini paling sering disebabkan oleh gagal ginjal.

Glukosa, adalah gula, yang diuraikan dalam sel untuk membuat tenaga.

Elektrolit, berkaitan dengan keseimbangan cairan dalam sel kita. Elektrolit terutama penting

jika kita mengalami dehidrasi (kekurangan cairan) atau masalah pada ginjal.

Tingkat natrium menunjukkan keseimbangan gula dan air. Natrium juga menunjukkan baik-

buruknya kerja ginjal dan kelenjar adrenal kita. Umumnya, tingkat natrium yang tidak normal

dalam darah menunjukkan volume darah yang terlalu rendah (akibat dehidrasi) atau terlalu

tinggi.

Keadaan ini juga bisa terjadi jika jantung tidak memompa darah sebagaimana mestinya.

Kalium mempengaruhi beberapa organ tubuh utama, termasuk jantung.

Tingkat kalium dapat meningkat akibat gagal ginjal, dan dapat tidak normal akibat muntah

atau diare.

Tingkat klorida sering naik turun bersama dengan tingkat natrium. Ini karena natrium

klorida, atau garam,adalah bagian utama dalam darah.

Bikarbonat memperlihatkan system dapar (buffer) dalam darah. Tingkat bikarbonat yang

normal menunjukkan keasaman darah yang benar. Tingkat yang tinggi dapat disebabkan oleh

tingkat asam laktik yang tinggi dalam darah.

TES FUNGSI GINJAL


Tes dasar untuk fungsi ginjal adalah nitrogen urea darah (blood urea nitrogen/BUN, atau

kadang disebut sebagai urea) dan kreatinin. Tingkat fosfor, natrium atau asam urat yang tidak

normal juga dapat disebabkan oleh ginjal.

BUN mengukur tingkat nitrogen darah.

Nitrogen adalah hasil buangan yang disaring oleh ginjal dan dikeluarkan dalam air seni.

Tingkat BUN yang tinggi dapat disebabkan oleh makanan berprotein tinggi, dehidrasi atau

gagal ginjal atau jantung.

Kreatinin adalah hasil buangan dari pencernaan protein. Tingkatnya dalam darah

menunjukkan fungsi ginjal. Dokter menggunakan tingkat kreatinin sebagai petanda langsung

mengenai baik-buruknya kerja ginjal dalam mengeluarkan produk buangan dari tubuh.

TES FUNGSI HATI

Tes laboratorium yang disebut tes fungsi hati (liver function test/LFT) sebenarnya mengukur

tingkat enzim yang terdapat dalam hati, jantung dan otot. Enzim adalah protein yang

membantu atau meningkatkan reaksi kimia dalam organisme hidup. Tingkat enzim yang

tinggi menunjukkan kerusakan hati yang bisa diakibatkan oleh obat, alkohol, hepatitis atau

penggunaan narkoba.

Pola dari tingkat enzim ini – beberapa di atas tingkat normal dan yang lain normal – dapat

membantu dokter menemukan masalah kesehatan tertentu. Tes laboratorium hati mencakup:

ALT, sering juga disebut sebagai SGPT

AST, sering juga disebut sebagai SGOT

Bilirubin, cairan berwarna kuning yang dibuat pada waktu sel darah merah dihancurkan.

Obat antiretroviral indinavir (semacam protease inhibitor) dapat meningkatkan tingkat

bilirubin

Alkalin Fosfatase. Tingkat alkalin fosfatase yang tinggi dapat menandai gangguan pada

aliran air empedu atau kehancuran tulang


Tes Kimia Darah Lain

Kolesterol Total, Konsensus lipid ( < 200 mg/dl =Yang diinginkan, 200-239 mg/dl= batas

tinggi, > 240 mg/dl=Tinggi)

Kolesterol Alfa (HDL), Konsensus lipid ( < 40 mg/dl =rendah, > = 60 mg/dl =Tinggi)

Kolesterol LDL (Direk), Konsensus lipid ( < 100 mg/dl =Optimal, 100-129 mg/dl=

mendekati optimal, 130-159 mg/dl= Batas tinggi, 160-189 mg/dl=Tinggi)

Trigliserida, Konsensus lipid ( < 150 mg/dl =Normal, 150-199 mg/dl= Batas tinggi, 200-499

mg/dl= Tinggi, >=500 mg/dl=Sangat Tinggi)

Rasio Kolesterol Total/C.HDL, Berdasarkan Cardio risk index ratio (CRI) (<3 = Low Risk,

3-6 = Normal, >6 = High Risk)

Asam Urat terbentuk akibat penguraian DNA, bahan genetik dalam sel.

Asam ini biasanya dikeluarkan oleh ginjal. Tingkat asam urat yang tinggi sebenarnya cukup

umum. Jumlahnyayang sangat tinggi dapat terjadi bila ginjal tidak mampu mengeluarkan

asam urat dari darah atau karena leukemia (kanker darah) atau limfoma (kanker getah bening

Albumin adalah protein penting dalam darah. Protein ini mengatur keseimbangan air dalam

sel, memberi gizi pada sel, serta mengeluarkan produk buangan.

Tingkat albumin yang rendah biasanya menunjukkan masalah gizi. Karena albumin

mengangkut begitu banyak zat dalam darah, tingkat albumin yang rendah dapat

mempengaruhi hasil tes laboratorium yang lain, terutama kalsium dan testosteron.

Globulin (juga disebut sebagai imunoglobulin) mengukur protein dalam antibodi yang dibuat

oleh sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV menyebabkan tingkat globulin yang sangat tinggi.

Tingkat umumnya dilaporkan untuk IgG, dan untuk IgA, IgD, IgE dan IgM.

Laju Endap Darah (LED) atau SedRate mengukur kecepatan sel darah merah mengendap

dalam tabung darah.


LED yang tinggi menunjukkan adanya radang. Namun LED tidak menunjukkan apakah itu

radang jangka lama, misalnya artritis, atau dsebabkan oleh tubuh yang terserang infeksi.

Tes Protein C-Reactive (CRP) adalah tes umum lain untuk peradangan. Ukuran ini naik dan

turun lebih cepat daripada LED. Tingkat CRPyang tinggi mungkin menunjukkan risiko lebih

tinggi terhadap serangan jantung