Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

GEOTHERMAL SEBAGAI ENERGI BARU DAN


TERBARUKAN
Diajukan Untuk Memenuhi Satu Di Antara Tugas Mata Kuliah Pengelolaan Energi Baru Terbarukan
Semester VI Pada Program Studi Teknik Pertambangan Fakultas Teknik
Universitas Islam Bandung Tahun Akademik 2016/2017

Disusun Oleh :
Izqi Varhan Djokdja 10070114038
Muhammad Mayadi 10070114009
Rizky Syabanudin 10070114051
Fiqi Fauzi Maulana 10070114049
Yazeed Al Bastomy 100701140126

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1438 H / 2016 M
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb
Segala puja dan puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan kepada kita beribu – ribu nikmat, diantaranya nikmat iman, sehat
wal’afiat sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Tak lupa pula sholawat serta
salam kita curahkan atas baginda kita Nabi besar Muhammad SAW yang telah
membawa kita dari zaman jahiliyyah hingga zaman islamiyyah, dari zaman
kegelapan hingga zaman yang terang – benderang penuh cahaya iman, akhlak,
dan islami seperti sekarang saat ini.
Akan tetapi takkan pula terselesaikan apabila tidak ada dukungan dari para
dosen yang telah membimbing kami sehingga terselesaikannya makalah yang
berjudul “Geothermal Sebagai Energi Baru dan Terbarukan “.
Saya sadar akan masih banyak adanya kekurangan dalam isi makalah ini
mulai itu pada format ataupun pada isi makalah yang jauh dari harapan, segala
bentuk kekurangan itu saya berharap agar dapat menjadi maklumat karena masih
dalam tahap pembelajaran. Namun saya berusaha untuk kedepannya dapat
memperbaiki kekurangan-kekurangan tersebut, sehingga makalah ini akan
menjadi baik dan lebih baik dari sebelumnya.
Wassalamualaikum Wr.Wb

Bandung, April 2017

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada zaman ini krisis energi merupakan masalah yang cukup serius dan
perlu penanganan lebih lanjut. Diperlukan energi alternatif selain energi yang
mengandalkan bahan bakar fosil. Energi alternatif tersebut setidaknya harus
memiliki sifat ramah lingkungan.
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya krisis energi, diantaranya
cadangan minyak bumi menipis, pemanasan global, harga komoditas semakin
tinggi, dan budaya konsumtif semakin meluas. Orang seperti lupa bahwa selain
minyak masih ada bahan bakar lain sebagai bahan bakar. Sudah banyak
terobosan baru sumber energi alternatif pengganti minyak tetapi pemerintah belum
bisa mengembangkan secara maksimal energi alternatif yang ada, salah satunya
energi geothermal.
Geothermal merupakan salah satu pilihan tepat untuk dijadikan sumber
energi alternatif yang cukup bisa menggantikan minyak bumi terutama di daerah
Indonesia yang mempunyai lima ratus gunung api, yang sekitar 130 diantaranya
masih aktif. Geothermal adalah energi panas bumi yang berasal dari uap air yang
terpanaskan dalam perut bumi, panasnya menyebabkan air yang mengenainya
berubah menjadi uap bertekanan tinggi yang akhirnya muncul di muka bumi. Harga
energi listrik geothermal cuma 30% dari energi listrik BBM. Lumayan murah dan
terpenting merupakan energi yang ramah lingkungan.

1.2 Maksud Dan Tujuan


1.2.1 Maksud
Maksud dibuatnya makalah ini ialah mengetahui pekembangan energy
geothermal di Indonesia sebagai energi baru dan terbarukan untuk di masa yang
akan datang
1.2.2 Tujuan
1. Mengetahui apa itu energi geothermal
2. Mengetahui keuntungan energi geothermal dengan energy alternatif lain
3. Mengetahui bagaimana pemanfaatan energy geothermal di Indonesia
4. Mengetahui kendala dalam pemanfaatan energy geothermal di Indonesia
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Geothermal


Energi geothermal adalah energi yang berasal dari panas bumi. Dahulu,
energi ini kurang diminati, tetapi saat ini energi tersebut telah menjadi sebuah
harapan bagi kebutuhan energi dunia. Hal itu dikarenakan, energi geothermal
merupakan sumber energi yang tidak akan habis dan dapat didaur ulang, serta
dapat menghasilkan energi listrik yang sangat besar.
Pada pertemuan tahunan Geothermal Resource Council di Reno, Nevada,
para pembicara mengatakan bahwa dukungan keuangan sektor swasta dan
kebijakan pemerintah akan mendukung pengembangan geothermal sebagai
alternative yang bisa menggantikan batubara, gas alam dan nuklir. Saat ini,
meskipun geotermal hanya memberi kontribusi sebesar 0,5% dari kebutuhan
suplai energi di Amerika, para pembicara merasa optimis akan perkembangan
industri tersebut di masa mendatang. Tetapi untuk mencapai tujuan tersebut
dibutuhkan usaha secara nasional yang terfokus untuk menyusun kebijakan
peranan energi geothermal dan memudahkan akses pendanaan dari pemerintah
dan sektor swasta kepada industri geotermal.

2.2 Proses dan Perkembangan Teknologi Geothermal


Sumber geothermal memiliki panas yang berbeda dari satu daerah dengan
daerah lainnya. Akibatnya, untuk mendapatkan dan memanfaatkan panas tersebut
diperlukan metode yang berbeda-beda. Secara garis besar sumber geothermal
memiliki temperatur dari 50⁰C hingga 350⁰C. Bentuk yang dihasilkan pun bisa
beragam, dari uap hingga cairan. Untuk mendapatkan panas geothermal dari bumi
tersebut, air merupakan salah satu medium yang masih digunakan hingga saat ini.
Pada umumnya, mencari sumber mata air merupakan hal yang penting untuk
dilakukan dalam melakukan eksplorasi.
Teknologi yang umumnya dipakai untuk mengalihkan sumber energi yang
bertemperatur tinggi menjadi listrik dibagi menjadi beberapa 3, yaitu :
1. Flash Steam Power Plant
Tipe ini merupakan yang paling umum digunakan dalam pembangkit listrik
yang menggunakan geothermal. Uap yang telah dipisahkan dari air
disalurkan ke pipa menuju rumah pembangkit. Kemudian uap yang sudah
terkumpul tersebut digunakan untuk menggerakkan turbin uap. Uap yang
meninggalkan turbin dikondensasikan, sehingga menciptakan kehampaan
sementara yang dapat memaksimalkan pembangkit listrik yang digerakkan
oleh turbin-generator. Umumnya uap panas tersebut dikondensasikan
dengan cara direct contact condenser, atau heat exchanger type
condenser.
Dalam direct contact condenser, air yang sudah didinginkan disemprotkan
sehingga bercampur dengan uap panas. Uap yang sudah terkondensasi
tersebut menjadi bagian dari sirkuit air yang sudah didinginkan tersebut,
sementara sebagian lagi menguap dan bergabung dengan atmosfer melalui
cooling tower. Hasil keluaran dari air yang sudah didinginkan ini dinamakan
blow down sering dibuang ke dalam sumur injeksi yang dangkal.

Sumber : geograph88.blogspot.com
Gambar 2.1
Flash Steam Power Plant
2. Binary Cycle Power Plants
Dalam reservoirs, di mana temperatur umumnya kurang dari 220 derajat
Celsius (430 Farenheit) binary cycle plants umumnya digunakan. Cairan
yang berasal dari reservoir, baik berupa air, uap, maupun campuran
keduanya, disalurkan melalui heat exchanger.
Cairan dalam binary plant kemudian didaur ulang ke dalam heat exchanger.
Cairan yang sudah dingin tersebut kemudian diinjeksikan lagi ke dalam
reservoir. Umumnya efisiensi binary cycle type plants mencapai 7 sampai
12 persen tergantung dari temperatur primer cairan yang ingin
dikondensasikan. Binary Cycle plant secara tipikal bervariasi antara 500 KW
hingga 10 MW.

Sumber : geograph88.blogspot.com
Gambar 2.2
Binary Cycle Power Plant
3. Combined Cycle (Flash and Binary) Combined Cycle Power Plants
Pembangkit semacam ini merupakan kombinasi dari teknologi turbin uap
yang konvensional dengan teknologi binary cycle. Dengan memadukan
kedua teknologi ini, efisiensi penggunaan peralatan bisa dilakukan karena
pada dasarnya turbin uap konvensional jauh lebih efisien dalam
membangkitkan listrik dari uap yang bertemperatur tinggi. Sementara itu
teknologi binary cycle berguna untuk memisahkan air dari uap yang
bertemperatur sangat rendah. Sebagai tambahan, untuk menggantikan
condenser-cooling tower, sistem pendingin yang digunakan dalam teknologi
gabungan ini bisa menghasilkan panas yang bisa digunakan lagi untuk
memproduksi listrik.
Sumber : geograph88.blogspot.com
Gambar 2.3
Combine Cycle Power Plant

2.3 Potensi Energi Geothermal Di Indonesia


Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar yakni mencapai
28,9 GW yang tersebar di 324 titik diseluruh wilayah Indonesia. Provinsi Jawa
Barat merupakan daerah dengan kontribusi panas bumi terbesar di Indonesia yang
memiliki total potensi panas bumi sebesar 5,839 MW. Dari potensi tersebut,
sebagian telah dioperasikan oleh 5 pengembang panas bumi dengan kapasitas
total 1,129 MW.
Dalam rangka mengoptimalkan potensi panas bumi, Pemerintah telah
menggulirkan program percepatan pengembangan 10.000 MW pembangkit listrik
dimana 49 persen berasal dari Panas Bumi (4.965 MW). Kebijakan Energi
Nasional telah mentargetkan sebesar 9.500 MW pada 2025 dari Pembangkit Listrik
dari Panas Bumi.
Kegiatan eksplorasi geothermal di Indonesia dilakukan secara luas sejak
tahun 1972. Direktorat Vulkanologi dan Pertamina, dengan bantuan Pemerintah
Perancis dan New Zealand melakukan survei pendahuluan di seluruh Indonesia.
Dari hasil survei dilaporkan bahwa di Indonesia terdapat 217 prospek geothermal,
yaitu di sepanjang jalur vulkanik mulai dari bagian barat Sumatera, Jawa, Bali,
Nusa Tenggara dan kemudian membelok ke Maluku dan Sulawesi. Survei yang
dilakukan selanjutnya telah berhasil menemukan beberapa daerah prospek baru
sehingga jumlahnya meningkat menjadi 266 prospek, yang meliputi 86 prospek di
Sumatera, 71 prospek di Jawa, 5 prospek di Bali, 55 prospek di Sulawesi, 22
prospek di Nusa Tenggara, 3 prospek di Papua Barat, 26 prospek di Maluku dan
8 prospek di Kalimantan.
Sistem geothermal di Indonesia umumnya merupakan sistem hidrothermal
yang memiliki temperatur tinggi (>225⁰C), hanya beberapa diantaranya yang
memiliki temperatur sedang (150-225⁰C). Pada dasarnya sistem geothermal jenis
hidrothermal terbentuk sebagai hasil perpindahan panas secara konduksi dan
konveksi. Perpindahan panas secara konduksi terjadi melalui batuan, sedangkan
perpindahan panas secara konveksi terjadi karena adanya kontak antara air
dengan suatu sumber panas. Pengalaman dari lapangan-lapangan geothermal
yang telah dikembangkan menunjukkan bahwa sistem geothermal bertemperatur
tinggi dan sedang sangat potensial bila diusahakan untuk pembangkit listrik.
Potensi sumber daya geothermal Indonesia sangat besar yaitu mencapai 27.500
MWe (megawatt elektrikal), atau sekitar 30% hingga 40% potensi geothermal
dunia.
Tabel 2.1
Potensi Energi Geothermal Di Indonesia

Sumber : Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian Energi dan Sumber
Daya Mineral, 2011
2.4 Kelebihan Dan Kekurangan Energi Panas Bumi (Geothermal)
Pemanfaatan energi geothermal atau panas bumi sebagai salah satu
sumber energi alternatif diyakini mempunyai berbagai keuntungan dan kelebihan.
Di antara kelebihan dan keuntungan pemanfaatan energi geothermal tersebut
adalah :
1. Panas bumi (geothermal energy) merupakan salah satu sumber energi
paling bersih. Jauh lebih bersih dari sumber energi fosil yang menimpulkan
polusi atau emisi gas rumah kaca.
2. Geothermal merupakan jenis energi terbarukan yang relatif tidak akan
habis. Sumber energi ini terus-menerus aktif akibat peluruhan
radioaktif mineral.
3. Energi Geothermal ramah lingkungan yang tidak menyebabkan
pencemaran (baik pencemaran udara, pencemaran suara, serta tidak
menghasilkan emisi karbon dan tidak menghasilkan gas, cairan, maupun
meterial beracun lainnya).
4. Panas bumi (geothermal energy), dibandingkan dengan energi alternatif
lainnya seperti tenaga surya dan angin, bersifat konstan sepanjang musim.
Di samping itu energi listrik yang dihasilkan dari geothermal tidak
memerlukan solusi penyimpanan energi (energy storage) karena dapat
dihasilkan sepanjang waktu.
5. Untuk memproduksi energi geothermal membutuhkan lahan dan air yang
minimal, tidak seperti misalnya pada energi surya yang membutuhkan area
yang luas dan banyak air untuk pendinginan. Pembangkit panas bumi
hanya memerlukan lahan seluas 3,5 km2 per gigawatt produksi listrik. Air
yang dibutuhkan hanya sebesar 20 liter air tawar per MW / jam.
Selain memiliki kelebihan, energi geothermal pun memiliki kekurangan. Di
antara kekurangan energi geothermal adalah :
1. Biaya modal yang tinggi. Pembangunan pembangkit listrik geothermal
memerlukan biaya yang besar terutama pada eksploitasi dan pengeboran.
2. Pembangkit listrik tenaga panas bumi hanya dapat dibangun di sekitar
lempeng tektonik di mana temperatur tinggi dari sumber panas bumi
tersedia di dekat permukaan.
3. Pembangunan pembangkit listrik geothermal diduga dapat mempengaruhi
kestabilan tanah di area sekitarnya.
2.5 Pemanfaatan Geothermal di Indonesia dan Permasalahannya
Dengan pasokan yang diperkirakan bisa menghasilkan listrik sebesar
27.000 megawatt (MW). Geothermal atau panas bumi seharusnya bisa menjadi
salah satu sumber energi terbesar di Indonesia. Kesalahpahaman dan kurangnya
investasi menjadi faktor masih terpendamnya sumber daya tersebut.
Indonesia memiliki setidaknya 500 gunung berapi dan 130 diantaranya
masih aktif. Seharusnya Indonesia dapat menjalankan ekonominya melalui energi
panas bumi dari gunung berapi tersebut, tidak hanya berbicara tentang potensinya
saja sampai sekarang. Dari hal itu, terungkap betapa panas bumi di Indonesia bisa
mengalahkan potensi minyak bumi yang menjadi teramat mahal saat ini. Namun,
membuka dan memanfaatkan potensi ini terbukti masih menjadi masalah sulit
hingga saat ini, lantaran tingginya teknologi yang harus dipakai.
Terlepas dari hal itu, saat ini pemerintah Indonesia dan beberapa pihak
swasta telah menyatakan komitmennya untuk mengimplementasikan penggunaan
energi geothermal. Bahkan beberapa perusahaan besar seperti PLN, Pertamina,
Medco Energy dan Supreme Energy sejak beberapa tahun yang lalu telah
membentuk divisi khusus yang akan menangani proyek pembangunan pembangkit
listrik menggunakan energi geothermal.
Namun, hal itu tidak berarti tidak terlepas dari permasalahan yang mungkin
terjadi. Sama seperti permasalahan yang dihadapi energi terbarukan lainnya,
proyek geothermal ini membutuhkan modal yang besar dan jangka waktu yang
lama untuk menyelesaikannya. Hal itu mengakibatkan para pengembang merasa
kesulitan untuk menjamin kebutuhan keuangan pokok tersebut. Selain itu, ilmu
pengetahuan dan teknologi yang digunakan untuk menentukan lokasi energi
geothermal masih harus dikembangkan lagi serta akibat tingginya biaya yang
dipergunakan untuk melakukan pengeboran, seringkali terjadi kompetisi antara
industry geothermal dan industry bahan bakar fosil dalam penggunaan peralatan
– peralatan yang biasanya digunakan industri bahan bakar fosil untuk menentukan
lokasi pengeboran minyak dan gas.
Dukungan pemerintah yang konsisten juga sulit didapat oleh industri
geotermal. Penjamin pinjaman, asuransi resiko, insentif kredit juga dibutuhkan
untuk tetap berjalannya suatu proyek geotermal. Permasalahan - permasalahan
itulah yang menyebabkan energy geothermal di Indonesia masih belum
terdayagunakan hingga sekarang.
2.6 Keekonomian dari Energi Geothermal (Panas Bumi)
Dalam mempertimbangkan pengembangan energi geothermal ini dilihat
dari indicator-indikator dari segi ekonomi. Indikator-indikator tersebut akan
dijelaskan sebagai berikut.
1. Ketersediaan Sumber Daya
Indonesia memiliki banyak potensi energi panas bumi, yang tersebar di 285
titik di seluruh wilayah, potensi tersebut menghasilkan lebih dari 29.000
MW. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang mempunyai potensi
energi panas bumi terbesar di dunia dengan potensi lebih dari 40 %
cadangan panas bumi dunia. Hanya saja dari total potensi tersebut,
Indonesia baru memanfaatkan kurang dari 5 % saja. Total kapasitas
terpasang energi panas bumi pada tahun 2012 adalah 1.226 MW
(Sukarna dalam Yunanetal,2013). Data potensi panas bumi yang lebih
lengkap tersaji dalam Tabel.
Tabel 2.2
Potensi Panas Bumi di Indonesia
Sumber Daya Cadangan
No Lokasi Spekulasi Hipotetik Terduga Mungkin Terbukti Total
1 Sumatra 4.059 2.543 6.254 15 380 13.521
2 Jawa 1.710 1.826 3.708 658 1.815 9.717
3 Bali-Nusa 410 359 983 - 15 1.767
4 Sulawesi 145 - - - - 145
5 Maluku 1.287 139 1.285 150 78 2.939
6 Kalimantan 545 97 409 - - 1.051
7 Papua 75 - - - - 75
Total 8.231 4.964 12.639 823 2.288 29.215
Sumber : Survey Geologi (ESDM), 2011
2. Keamanan untuk pasokan energi
Perlunya Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak
dan beralih pada sumber energi alternatif adalah untuk mengamankan
ketahanan energi nasional yang berkelanjutan di masa mendatang.
Indonesia dapat menjadi net-energi importir pada tahun 2019, apabila
energi dikelola secara business as usual artinya tidak dikelola dengan
mengedepankan prinsip-prinsip konservasi energi. Bahan Bakar Minyak
(BBM) adalah energi tak terbarukan yang suatu saat akan habis. Untuk
mengimbangi tingkat konsumsi energi di Indonesia dan memenuhi
kebutuhan energi masyarakat maka pemanfaatan energi baru terbarukan
harus dimaksimalkan (ESDM,2012).
Saat ini pemerintah sedang berusaha untuk melakukan pengembangan
energi yang berprinsip energi hijau, terutama panas bumi. Keputusan
Presiden Nomor 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN)
menargetkan bahwa pada tahun 2025 listrik yang berasal dari energi panas
bumi harus mencapai 9500 MW atau berkontribusi 5% dari total
konsumsi energi nasional.

Sumber : Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian Energi dan Sumber
Daya Mineral, 2011
Gambar 2.4
Road Map Pengembangan Panas Bumi 2006-2025

Sementara itu untuk mendukung pemanfaatan energi panas bumi,


pemerintah memalui program percepatan 10.000 MW Tahap II menargetkan
pembangunan pembangkit listrik panas bumi sebesar 4.925 MW hingga tahun
2014 dengan rincian pengembangan lapangan yang ada dan sudah berproduksi
465 MW, pengembangan lapangan yang ada tetapi belum berproduksi 1535 MW
dan wilayah kerja panas bumi baru 2925 MW (Sukarna, 2012). Kondisi
perkembangan pembangunan pembangkit listrik panas bumi dari tahun 2010
sampai dengan proyeksi tahun 2015 tersaji pada tabel.
Tabel 2.3
Pembangunan Pembangkit Listrik Panas Bumi

Sumber : Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian Energi dan Sumber
Daya Mineral, 2011
3. Efisiensi Energi
Hingga saat ini, konsumsi energi primer per kapita di Indonesia sebenarnya
masih tergolong rendah bila dibandingkan dengan negara-negara lainnya
khususnya negara maju dan Negara-Negara ASEAN seperti Singapura,
Malaysia dan Thailand. Meskipun demikian, pertumbuhannya menunjukkan
tren meningkat, dari 3,25 SBM/kapita pada tahun 2000 menjadi 4,73 pada
tahun 2010 (tanpa biomassa) seperti yang terlihat dalam gambar.

Sumber : Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian Energi
dan Sumber Daya Mineral, 2011
Gambar 2.5
Konsumsi Energi Primer Per Kapita dan Intensitas Energi Primer (Tanpa Biomasa)
Gambar diatas memperlihatkan bahwa intensitas energi Indonesia
menunjukkan adanya penurunan dari tahun 2000 hingga 2008 dan kembali naik
hingga tahun 2010. Hal tersebut mengindikasikan pemanfaatan energi di
Indonesia belum produktif. Elastisitas energi merupakan rasio antara laju
pertumbuhan konsumsi energi (final atau primer, tanpa biomasa) dan laju
pertumbuhan ekonomi (PDB). Semakin besar elastisitas energi menunjukkan
bahwa Negara tersebut boros dalam penggunaan energi, dan semakin kecil
elastisitas energy berarti Negara tersebut semakin efisien memanfaatkan
energinya. Elastisitas energi primer Indonesia berfluktuasi dari kurang dari satu
(kadang minus) hingga lebih dari satu seperti yang terlihat dalam Gambar di
bawah.
Sumber : Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian Energi
dan Sumber Daya Mineral, 2011
Gambar 2.6
Elastisitas Energi Primer (Tanpa Biomassa)
Tentu saja, nilai lebih dari satu berarti laju pertumbuhan energi lebih cepat
daripada laju pertumbuhan PDB. Pada tahun 2009 dan 2010, nilai elastisitas
energi Indonesia jauh diatas angka satu dengan tren meningkat. (B2TE,2012)
Salah satu sumber inefisiensi utama PLN beberapa tahun terakhir ini
pemakaian minyak yang terlalu banyak pada pemakaian fuel-mix untuk produksi
listrik. Dalam tahun 2008 komposisi produksi kWh berdasarkan bahan bakar
adalah BBM 36%, batubara 35%, gas alam 17%, panas bumi 3% dan tenaga
air 9%. Kemudian PLN dalam RUPTL 2011-2020 segera memperbaiki
perencanaan komposisi fuel-mix tersebut dengan target yang diperlihatkan
pada Gambar berikut ini :

Sumber : Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian Energi dan Sumber
Daya Mineral, 2011
Gambar 2.7
Sasaran Komposisi Produksi Listrik Tahun 2020 Berdasarkan
Jenis Bahan Bakar (%)
Meskipun begitu para ahli memprediksi Pembangkit yang akan dibangun
antara lain adalah proyek percepatan 10.000 MW yang akan menurunkan
konsumsi BBM secara signifikan dan karenanya akan menurunkan biaya produksi
tenaga listrik.
Indikator efisiensi tenaga listrik juga bisa dilihat dari besarnya susut
jaringan. Efisiensi susut jaringan dilakukan dengan mengurangi energi listrik yang
hilang selama proses pendistribusian dari pembangkit sampai ke konsumen. Data
Statistik Ketenagalistrikan pada tahun 2012 menjelaskan susut jaringan transmisi
PLN pada tahun 2011 adalah sebesar 16.671 GWh yang terdiri dari susut
transmisi sebesar 3.996 GWh dan susut distribusi sebesar 12.675 GWh.
Dibandingkan dengan produksi netto sebesar 177.256 GWh maka susut jaringan
transmisi adalah 2,25 % dan susut distribusi 7,34 %. Adapun data susut tenaga
listrik PLN untuk 7 tahun terakhir mulai dari tahun 2004 sampai dengan tahun
2011 bisa dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 2.3
Prosentase Susut Tenaga Listrik PLN

Sumber : Statistik Ketenagalistrikan, 2012


2.7 Sistem Pasokan Uap PLTP Kamojang
2.7.1 Sistem Geothermal
Energi geothermal adalah salah satu bentuk energi primer yang
terkandung di dalam bumi. Kalor alami di dalam bumi telah tersimpan selama
ribuan tahun dalam bentuk gunung berapi, aliran lava, sumber air panas, dan
geyser.
Bumi dikatakan terbentuk dari sejumlah massa cairan dan gas, yang 5 –
10%-nya adalah steam ( uap). Sejalan dengan mencairnya fluida, dengan
kehilangan panas pada permukaannya,sebuah lapisan luar padat terbentuk dan
steam terkondensasi membentuk lautan dan danau di atas lapisan tersebut.
Lapisan ini tebalnya sekitar 32 km. Di bawah lapisan itu, magma cair masih dalam
proses pendinginan.
Gerakkan getaran bumi pada awal periode Cenizioc menyebabkan magma
semakin mendekat ke permukaan bumi di sejumlah tempat dan lapisannya patah
serta membuka. Magma panas didekat permukaan kemudian memunculkan
gunung – gunung berapi yang aktif, sumber air panas, dan geyser yang
mengandung air. Halini juga mengakibatkan steam menerobos lewat retakan yang
disebut fumarol.
Air yang telah dipanasi kemudian akan naik dengan konveksi ke batuan
berpori dan permeable di atas lapisan atas batuan igneous. Reservoir ini ditutup
oleh lapisan batuan padat yang memerangkap air panas panas di dalam reservoir.
Batuan padat ini bagaimanapun memiliki retakkan yang berfungsi sebagai katup
pada boiler raksasa. Katup ini tampak di permukaan sebagai geyser, fumarol, atau
sumber air panas. Sebuah sumur mengalirkan steam dari retakkan untuk
kemudian digunakan di pembangkit listrik tenaga panas bumi.
Dapat dilihat bahwa uap geothermal terdiri ats dua macam yaitu yang
dibentuk dari magma (magmatic steam ) dan yang dibentuk dari air tanah yang
dipanasi oleh magma ( meteoritic steam ).
Gambar 2.8
Struktur geologi daerah panas bumi

2.7.2 Sumur Uap


Sumur uap merupakan sumber pemasok utama energi uap yang akan
disalurkan ke system PLTP. Adapun sumur uap yang dibuat didasarkan atas
adanya lapisan yang mendapatkan energi panas dari magma yang ada pada perut
bumi. Magma yang mempunyai temperatur lebih dari 1200 0C ini mengalirkan
energi panas bumi secara konduksi pada lapisan batuan yang berupa bed rock,
diatas lapisan inilah terdapat lapisan yang mngandung air. Selanjutnya, air dalam
lapisan tersebut mngambil energi panas dari bed rock secara konveksi dan
induksi. Kondisi ini mengakibatkan suhu padalapisan aquifer yang memberikan
kecendrungan untuk bergerak naik, akibat adanya perbedaan berat jenis.

Gambar 2
Struktur geologi daerah panas bumi
Ada beberapa data penting sumur uap / steam reservoir pada
system PLTP Kamojang, yaitu sebagai berikut:
DATA – DATA RESERVOIR
URAIAN KETERANGAN
Area reservoir: 300 MW
Potensi 14 – 21 Km
Luas area yang telah terbukti 2

Kapasitas total yang telah terbukti 200 MW


Kapasitas terpasang 140 MW
Data Fisik Reservoir: 23
Suhu 5 – 245 0C
Kualitas uap 96 % uap
Data Drilling: 68 buah
Jumlah sumur 500 – 2200 Meter
Kedalaman sumur 54.000 Kg/J
Produksi uap (Standar Completion)

2.7.3 Kandungan Kimia dan Kualitas Uap


Uap yang dihasilkan PLTP memiliki kandungan kimia dan kualitas uap
yang apa adanya, tergantung dengan yang dihasilkan sumur uap. Uap panas bumi
Kamojang termasuk salah satu yang memiliki kualitas uap yang terbaik di dunia.
Walaupun demikian, uap tersebut harus dianalisis kembali oleh pihak PLTP
Kamojang. Analisis ini dilakukan seriap seminggu sekali dengan tujuan memonitor
kualitas uap yang akan dijadikan fluida kerja sebelum masuk ke system PLTP
Kamojang. Hal ini dilakukanjuga oleh PT Pertamina ketika uap keluar dari sumur
pengeboran.
Adakalanya beberapa kandungan kimia, Lumpur, dan material lain yang
terterdapat pada uap panas bumi dapat mengurangi kinerja mesin pembangkitan
ataupun merusak peralatan pembangkitan. Ada beberapa cara yang bias
dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut. Salah satu cara yang digunakan
untuk mengurangi lumpur dan material padat lainnya, yakni dilakukan oleh
Pertamina Kamojang sebagai instansi pengelola sumur, uap yang keluar dari
sumur harus di blow off tegak lurus selama selang waktu tertentu, sehingga lumpur
dan material lainnya tidak terbawa karena perbedaan berat jenis.
2.7.4 Sistem Distribusi Transmisi Uap
Dari Pertamina sebagai pemasok, uap yang akan digunakan oleh PLTP
Kamojang disalurkan melalui empat pipa yang langsung dipasang pada steam
receving header. Pipa tersebut mempunyai diameter antara 600 – 1000 mm. Pipa
– pipa tersebut ditemkatkan di atas permukaan tanah, tidak di dalam tanah. Hal ini
ditujukan untuk mempermudah pengecekan apabila terjadi kebocoran pada pipa–
pipa tersebut

Gambar 2.10
Pipa – pipa saluran uap

2.8 Sistem Pembangkitan PLTP Kamojang

Gambar 2.11
Flow Diagram PLTP Kamojang

System pembangkitan PLTP kamojang merupakan system pembangkitan


yang memanfaatkan tenaga panas bumi yang berupa uap. Uap tersebut diperoleh
dari sumur – sumur produksi yang dibuat oleh Pertamina. Uap dari sumur produksi
mula – mula dialirkan ke steam receiving header, yang berfungsi menjamin
pasokan uap tidak mengalami gangguan meskipun terjadi perubahan pasokan dari
sumur produksi. Selanjutnya melalui flow meter, uap tersebut dialirkan ke Unit 1,
Unit 2, dan Unit 3 melalui pipa – pipa. Uap tersebutdialirkan ke separator untuk
memisahkan zat – zat padat, silica, dan bintik – bintik air yang terbawa di
dalamnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya vibrasi, erosi dan
pembentukkan kerak pada turbine. Uap yang telah melewati separator tersebut
kemudian dialirkan ke demister yang berfungsi sebagai pemisah akhir. Uap yang
telah bersih itu kemudian dialirkan melalui main steam valve ( MSV ) – governor
valve menuju ke turbin. Di dalam turbin, uap tersebut berfungsi untuk memutar
double flow condensing yang dikopel dengan generator, pada kecepatan 3000
rpm. Proses ini menghasilkan energi listrik dengan arus 3 fasa, frekuensi 50 Hz,
dengan tegangan 11,8 KV. Melalui transformer step – up, arus listrik dinaikkan
tegangannya hingga 150 KV, selanjutnya dihubungkan secara parallel dengan
system penyaluran Jawa – Bali (interkoneksi).
Agar turbin bekerja secara efisien, maka exhaust steam / uap bekas yang
keluar dari turbin harus dalam kondisi vakum, dengan mengkondensasikan uap
dalam kondensor kontak langsung yang dipasang di bawah turbin.
Untuk menjaga kepakuman kondenseor, gas yang tak terkondensi harus
dikeluarkan secara kontinyu olehsystem ekstraksi gas. Gas – gas inimengandung
: CO2 85 – 90% H2S 3,5% dan sisanya adalah N2 dan gas – gas lainnya. Disini
system ekstaksi gas terdiri atas first-stage dan second-stage ejector.
Gas – gas yang tidak dapat dikondensasikan, dihisap oleh steam ejector tingkat 2
untuk diteruskan ke aftercondensor,dimana gas gas tersebut kemudian kembali
disiram leh air yang dipompakan oleh primary pump. Gas gas yang dapat
dikondensasikan dikembalikan ke kondensor, sedanskan sisa gas yang tidak
dapat dikondensasikan di buang ke udara.
Exhaust steam dari turbin masuk dari sisi atas kondensor, kemudian
terkondensasi sebagai akibat penyerapan panas oleh air pendingin yang
diinjeksikan lewat spray – nozzle. Level kondensat selalu dijaga dalam kondisi
normal oleh dua buah main cooling water pump (MCWP) lalu didinginkan dalam
cooling water sebelum disirkulasikan kembali. Air yang dipompakan oleh MCWP
dijatuhkan dari bagian atas menara pendingin yang disebut kolam air panas
menara pendingin. Menara pendingin berfungsi sebagai heat exchanger ( penukar
kalor ) yang besar, sehingga mengalami pertukaran kalor dengan udara bebas.
Air dari menara pendingin yang dijatuhkan tersebut mengalami penurunan
temperature dan tekanan ketika sampai di bawah, yang disebut kolam air dingin (
cold basin ). Air dalam kolam air dingin ini dialirkan ke dalam kondensor
untukmendinginkan uap bekas memutar turbin dan kelebihannya ( over flow
) diinjeksikan kembali kedalam sumur yang tidak produktif, diharapkan sebagai air
pengisi atau penambah dalam reservoir, sedangkan sebagian lagi dipompakan
oleh primary pump, yang kemudian dialirkan
kedalan intercondensor dan aftercondensor untuk mendinginkan uap yang tidak
terkondensasi (noncondensable gas ).
System pendingin di PLTP Kamojang merupakan system pendingin dengan
sirkulasi tertutup dari air hasil kondensasi uap, dimana kelebihan kondensat yang
terjadi direinjeksi ke dalam sumur reinjeksi. Prinsip penyerapan energi panas dari
air yang disirkulasikan adalah dengan mengalirkan udara pendingin secara paksa
dengan arah aliran tegak lurus, menggunakan 5 fan cooling tower.
Sekitar 70% uap yang terkondensasi akan hilang karena penguapan dalam
cooling tower, sedangkan sisanya diinjeksikan kembali ke dalam reservoir.
Reinjeksi dilakukan untuk mengurangi pengaruh pencemaran lingkungan,
mengurangi ground subcidence, menjaga tekanan, serta recharge water bagi
reservoir. Aliran air dari cold basin ke kondensor disirkulasikan lagi oleh primary
pump sebagai media pendingin untuk inter cooler dan melallui after dan
intercondensor untuk mengkondensasikan uap yang tidak terkondensasi di
kondensor, air kondensat kemudian dimasukkan kembali ke dalam kondensor.

2.9 Sistem Kelistrikan di PLTP Kamojang


Listrik yang dihasilkan dari generator adalah sebesar 11,8 kV. Sebelum
didistribusikan melalui system interkoneksi Jawa – Bali, listrik tersebut diolah
diolah dengan memperhatikan karakteristik dan listrik itu sendiri.
2.9.1 System 150 kV
Listrik yang dihasilkan dari PLTP Kamojang Unit 1, 2, dan 3 dengan total
daya yang dihasilkan yakni mencapai 140 MW akan dialirkan ke berbagai wilayah
di pulau Jawa dan Bali melalui jaringan transmisi listrik 150 kV. Tegangan sebesar
150 kV tersebut dapat dihasilkan dengan cara menaikan tegangan 11,8 kV yang
keluar darigenerator dengan menggunakan trafo utama ( step – up transformator
) pada masing – masing unit ( T21 dan T31 ). Hal ini dilakukan untuk
mengantisipasi kehilangan daya pada saluran transmisi.
2.9.2 System 11,8 kV
System tegangan 11,8 kV merupakan hasil dari pembangkitan dari
generator unit 1, unit 2, dan unit 3. Tegangan 11,8 kV ini kemudian akan dialirkan
ke trafo utama step – up untuk dinaikkan menjadi sebesar 150 kV.
2.9.3 System 6,3 kV
Untuk mendapatkan tegangan sebesar 6,3 kV, dipasang beberapa
transformator yaitu transformator T8 ( step – down transformator ) yang
menghasilkan listrik dengan tegangan 6,3 kV dari tegangan primer 150 kV.
Kapasitas trafo ini adalah 7 MWA yang berfungsi untuk menyediakan listrik pada
saat start up, baik unit 1, unit 2, maupun unit3.
Trafo T22 dan T32 ( step – down transformator )yang menghasilkan
tegangan listrik 6,3 kV dari tegangan generator 11,8 kV. Tegangan dari kedua trafo
ini akan digunakan setelah unit beroperasi normal.

2.10 Sistem Pemeliharaan Mesin PLTP Kamojang


Mesin adalah suatu rangkaian yang dirangkai menjadi satu kesatuan dalam
suatu system untuk mengerjakan suatu program atau kerja. Penggunaan mesin ini
sangat luas cakupannya terutama dalam bidang perindustrtian. Karena
cakupannya yang luas tersebut maka mesin dikategorikan menjadi beberapa
bagian, seperti mesin perkakas, tools, mesin alat berat, otomotif, mesin produksi,
dan sebagainya. Untuk itu konstruksi mesin dibuat pula berdasarkan aplikasi,
factor – factor intern dan ekstern seperti pengaruh gaya, beban, bahan, kondisi
lingkungan, pemakaian, fluida kerja, dan lain sebagainya.
Dalam hal ini, dengan karakteristik dari panas bumi yang tersedia secara kontinyu
( tidak terpengaruh oleh pergantian musim ) maka memacu perangkat konversi (
khususnya mesin ) untuk bekerja non stop dengan performa maksimal. Maka
untuk menjaga agar pasokan uap yang dihasilkan dari energi panas bumi ini tidak
terbuang maka disiapkan perangkat – perangkat pendukung serta cadangan.
Selain itu, perangkat – perangkat bantu disediakan untuk kelancaran proses
pembangkitan listrik.
Fenomena yang timbul pada system yang telah beroperasi lama dan terus
menerus adalah terjadinya penurunan efesiensi pada seluruh perangkat system
pembangkit.
Untuk menjaga agar perangkat pada system tetap memiliki efesiensi yangtinggi
serta perangkat memilki umr operasi yang lama maka dilakukan penanganan
khusus baik melalui tekhnik pemeliharaan, pelumasan, serta tekhnik
pengoperasian yang procedural.
Tekhnik pemeliharaan yang dilakukan di PT. INDONESIA POWER UBP Kamojang
ada 4 macam,diantaranya Preventif, Periodik, Prediktif, dan Korektif.
2.11. Pemeliharaan Preventif
Pemeliharaan yang dilakukan secara rutin yang sifatnya kontinyu
No. Jenis pemeliharaan Pemeriksaan
1. RECEIVING HEADER Kebersihan lokasi, kelainan suara,
bocoran uap
2. SEPARATOR Line uap, penunjukan vibrasi,
penunjukan suhu bantalan,
kekencangan baut, kondisi support
pipa, keutuhan pndasi, kebersihan dan
tanda tanda korosi.
3. DEMISTER Line uap, suara, kekencangan baut,
kondisi support pipa, keutuhan pndasi,
kebersihan dan tanda tanda krosi.
4. MAIN STOP VALVE ( MSV ) Line air, line uap, line pelumas, unjukan
suara, vibrasi, suhu bantalan,
kekencangan baut, kondisi fleks join,
kondisi support pipa, kebershan dan
tanda tanda korosi.
5. GOVERNORE VALVE Line uap, line pelumas, unjukan suara,
vibrasi, suhu bantalan, kekencangan
baut, kondisi fleks join, kondisi support
pipa, kebershan dan tanda tanda korosi.
6. TURBIN Kebersihan turbin dan lokasi,kelainan
suara, vibrasi, bocoran oli dan uap,serta
tanda tanda korosi.
7. EJECTOR Line uap, line udara, kelainan suara,
kekencangan baut, line pelumas,
vibrasi, penunjukan level pelumas,
kopling, support pipa, keutuhan
pondasi, kebersihan.
8. AFTER CONDENSOR Line air, line uap, kelainan suara,
kekencangan baut, support pipa,
keutuhan pondasi, kebersihan dan
tanda korosi.
9. INTER CONDENSOR Line air, line uap, kelainan suara,
kekencangan baut, support pipa,
keutuhan pondasi, kebersihan dan
tanda korosi.
10. PRIMARY PUMP Kebersihan pompa, kelainan suara,
vibrasi, bocoran air dan oli,
kekencangan baut.
11. SECONDARY PUMP Kebersihan pompa, kelainan suara,
vibrasi, bocoran air dan oli,
kekencangan baut.
12. MAIN COOLING WATER Kebersihan lokasi dan pompa, kelainan
PUMP ( MCWP ) suara, vibrasi, bocoran line air.
13. CONDENSOR Line uap, line udara, kelainan suara,
kekencangan baut, line pelumas,
vibrasi, penunjukan level pelumas,
kopling, support pipa, keutuhan
pondasi, kebersihan dan tanda korosi.
14. COOLING TOWER Kebersihan hot basin, kebersihan
nozzle, kelainan suara, bocoran air,
bocoran oli, pemeriksaan level oli.
15. FAN COOLING TOWER Line uap, line pelumas, line air, kelainan
suara, kekencangan baut,penunjukan
suhu bantalan, pelumas
katup, penunjukan level pelumas,
kopling, support pipa, keutuhan
pondasi, kebersihan dan tanda korosi.
16. INTER COOLER Line udara, line pelumas, line air,
kelainan suara, kekencangan baut
,penunjukan suhu
bantalan,, penunjukan level pelumas,
kopling, support pipa, keutuhan
pondasi, kebersihan dan tanda korosi.
17. LUBE OIL COOLER Line air, line pelumas, line udara,
penunjukan suara, vibrasi,
kekencangan baut, penunjkna level
pelumas, kopling, kondisi support pipa,
keutuhan pondasi, kebersihan tanda
korosi.

2.11.1 Pemeliharaan Periodik


Pemeliharaan yang disesuaikan dengan jam operasi perangkat kerja guna
penggantian pelumas dan penggantian spare part. Dan tekhnik pemeliharaan
terumit dan beresiko adalah overhaul. Yaitu pemeliharaan perangkat utama yang
dilakukan kurang lebih 12 bulanan atau 8000 jam kerja turbin. Pada saat dilakukan
overhaul, semua perangkat baik itu perangkat Bantu maupunperangkat utama
dalam satu unit pembangkitan dilakukan pemeliharaan. Inti dari overhaul adalah
pemeriksaan dan pemeliharaan perangkat utama maupun perangkat bantu. Dan
dilakukan penggantian bila perlu.
2.11.2 Pemeliharaan Prediktif
Pemeliharaan yang dilakukan berupa pengujian perangkat untuk
menganalisis kinerja alat sehingga umur alat bias diprediksi serta dapat dilakukan
pemeliharaan dan penggantian alat sebelum alat itu rusak total dan tidak
berfungsi.
2.11.3 Pemeliharaan Korektif
Proses penggantian suatu perangkat saat perangkat itu rusak. Proses
pemeliharaan ini diminimalisir dengan mengintefsikan proses pemeliharaan
prediktif agar tidak terjadi kerusakan yang beruntun.
BAB III
KESIMPULAN

Salah satu energi alternatif yang dapat menghasilkan energi listrik dalam
jumlah yang sangat besar dan ramah lingkungan adalah energi geothermal. Energi
geothermal berasal dari panas bumi yang tidak membutuhkan media penyimpanan
seperti energi alternatif lainnya sehingga bisa digunakan untuk melengkapi energi
terbarukan lainnya, seperti matahari, angin dan air. Selain memiliki dampak negatif
yang kecil terhadap lingkungan, energi geothermal juga tidak menghasilkan emisi
gas. Selain itu, keuntungan dari energi alternatif yang berasal dari geothermal
adalah sumber energi yang tidak akan habis dan bisa didaur ulang.
Teknologi yang umumnya dipakai untuk mengubah energi geothermal
menjadi energi listrik dibagi menjadi 3, yaitu Flash Steam Power Plant, Binary
Cycle Power Plants, dan Combined Cycle (Flash and Binary) Combined Cycle
Power Plants. Selain menggunakan teknologi di atas, energi geothermal juga
dapat digunakan secara langsung (direct use) tapi dengan syarat sumber energi
geothermal tersebut memiliki temperatur rendah, yaitu kurang dari 150⁰C.
Beberapa keuntungan pemakaian energi geothermal sebagai energi
alternatif antara dapat menyediakan listrik dengan dampak negatif yang kecil
terhadap lingkungan, terbaharukan, dan tanpa emisi gas. Energi geothermal tidak
membutuhkan media penyimpanan, sehingga bisa digunakan untuk melengkapi
energi terbarukan lainnya, seperti surya, angin dan air.
Kendala yang terjadi yaitu dalam membangun pembangkit listrik tenaga
panas bumi ini membutuhkan modal yang besar, teknologi yang tinggi, jangka
waktu yang relatif lama dalam mengolahnya serta hanya terdapat di daerah-
daerah tertentu yang berpotensi sebagai penghasil panas bumi.
Dalam mempertimbangkan keekonomiannya, pembangunan pembangkit
energi tenaga geothermal ini ditinjau dari beberapa indicator ekonomi, yaitu
ketersediaan sumber daya, keamanan untuk pasokan energi, serta efisiensi energi
yang dihubungkan kesegala aspek ekonomi nasional maupun internasional.
DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim, 2010. “Potensi Energi Geothermal di Indonesia”. Ebtke.esdm.go.id.


Diakses pada tanggal 23 April 2017 Pukul 15.00 WIB.
2. Anonim, 2011. “Kekurangan dan Kelebihan Energi Geothermal”.
Junsisfmipaugm.blogspot.co.id. Diakses pada tanggal 23 April 2017 Pukul
14.00 WIB.
3. Balai Besar Teknologi Energi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
(B2TEBPPT), 2012.”Perencanaan Efisiensi dan Elastisitas
Energi”.Jakarta : Penerbit BPPT. ISBN 978–979–3733–57–9.