Anda di halaman 1dari 6

Bersuci / Thaharoh

I. Hukum dan Penjelasan Bersuci


Bersuci adalah bagian terpenting dari kehidupan seorang muslim. Bersuci berkaitan
erat dalam hal sah atau tidaknya ibadah mahdoh (wajib) yang kita lakukan. Sebagai contoh
sholat, sebelum mengerjakan sholat kita diwajibkan berwudhu terlebih dahulu. Dalam
sebuah hadits disebutkan, Rasulullah SAW bersabda, “Kesucian itu penutup iman”. (HR.
Muslim).
Secara hukum, berdasarkan Al Qur’an dan hadits bersuci adalah wajib, QS. Al Mudatsir
(74) : 4, Al baqarah (2) : 222. Dalam shalat misalnya, shalat tidak akan dianggap sah apabila
belum melakukan wudhu.
Suci (thaharah) itu terdiri dari dua macam, yaitu : suci lahir dan suci batin. Secara
definitif yang dimaksud dengan suci batin ialah suci dari dosa dan maksiat. Untuk bersuci
secara batin melalui bertobat dengan tobat nashuha (tobat yang sungguh-sungguh) dan
membersihkan diri dari penyakit hati seperti syirik, sombong, hasad, dengki dan lain-lain.
Semua itu dilakukan dengan keikhlasan dan berniat hanya mencari ridha Allah SWT.
Bersuci secara lahir maksudnya adalah bersuci dari hadats. Suci dari hadats artinya
menghilangkan najis-najis dengan menggunakan air yang suci guna membersihkan pakaian,
badan dan tempat ibadah yang dipakai untuk shalat.

II. Alat yang Digunakan untuk Bersuci


Alat yang digunakan untuk bersuci ada dua bermacam-macam, yaitu:
1. Air Mutlak
a. Air hujan
b. Air laut
“Air laut itu suci dan mensucikan, dimana bangkai hewan yang berada di
dalamnya pun halal.” (HR. Al Khamsah)
c. Air telaga
“Bahwa Rasulullah pernah meminta diambilkan satu wadah air zamzam, lalu
beliau meminum sebagian dari air tersebut dan berwudhu dengannya.” (HR.
Ahmad)
2. Air Musta’mal
“Bahwa Rasulullah membasuh kepala dengan sisa air yang terdapat pada
tangannya.” (HR. Abu Dawud)
3. Air yang bercampur dengan barang yang suci
“Rasulullah pernah masuk ke rumah kami ketika putrinya, Zainab, meninggal
dunia. Lalu beliau berkata: Mandikanlah ia tiga atu lima kali atau lebih, jika
menurutmu lebih dari itu adalah lebih baik, dengan air atau serta daun bidara.
Pada basuhan yang terakhir campurkan dengan kapur barus. Jika telah selesai,
maka beritahukan kepadaku. Setelah selesai memandikan jenazah Zainab, kami
memberitahukan kepada Rasulullah, kemudian beliau memberikan kain kepada
kami seraya berkata: “Pakaikanlah kain ini pada tubuhnya.” (HR. Mutafaq’alaih)
4. Air yang jumlahnya dua kullah
“Apabila jumlah air itu mencapai dua kullah, maka air itu tidak mengandung
kotoran (tidak najis).” (HR. Khamsah)
5. Debu yang bersih yang ada di atas tanah, pasir, batu-batu kerikil atau pasir laut. QS.
An Nisa (4) : 43
Rasulullah SAW bersabda: “Tanah itu telah diciptakan bagiku tempat sujud
dan mensucikan” (HR. Ahmad diriwayatkan di dalam shahihain)

III. Etika Buang Air


Diantara bukti perhatian Islam terhadap kebersihan dan kesucian serta penghormatan
yang diberikan Allah kepada manusia adalah dengan mengharuskan membersihkan diri
ketika buang air sehingga tidak ada najis yang menempel pada tubuh, termasuk pakaiannya.
1. Hal-hal yang Patut Dilakukan Sebelum Buang Air
a. Mencari tempat yang kosong dan jauh dari penglihatan manusia Hadits, “Apabila
Nabi SAW hendak buang air besar, beliau pergi sehingga tidak seorangpun yang
tahu.” (HR. Abu Dawud)
b. Dilarang membawa sesuatu yang terdapat asma Allah SWT. Hal ini berdasarkan
hadits, “Nabi Muhammad SAW memakai cincin yang tertulis Muhammad
Rasulullah. Beliau selalu menanggalkan cincin tersebut bila mau buang air.” (HR.
Tirmidzi)
c. Bila masuk ke kamar mandi (WC) hendaknya mendahulukan kaki kiri seraya
berdo’a, “Bismillaahi allaahumma innii a’uudzubika minal khubutsi wal
khabaaits.” (HR. Bukhari). Dilarang mengangkat pakaian penutup aurat terlalu
tinggi (di tempat-tempat yang memungkinkan orang lain untuk melihatnya.
d. Dilarang menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang air. Hal ini
berdasarkan hadits, “Janganlah kalian menghadap kiblat atau membelakanginya
ketika melakukan buang air besar atau kecil.”
e. Dilarang buang air besar dan kecil di tempat berteduh, tempat lalu lalang, sumber
air orang banyak dan di bawah pohon yang berbuah. Hadits riwayat Hakim,
“Jauhilah tiga perkara yang tercela: buang air besar di sumber-sumber air, di
tengah jalan dan di tempat berteduh.”
f. Dilarang berbicara ketika sedang buang air besar, Sabda Rasul SAW, “Jika dua
orang sedang buang air besar, maka keduanya saling membelakangi keduanya,
juga dilarang berbicara, karena sesungguhnya Allah sangat membenci hal itu”.
(HR. Abu Dawud, Ahmad dan Ibnu Majah)
2. Cara Bersuci (Istinja’)
a. Bersuci sebanyak tiga kali atau ganjil. Hal ini berdasarkan hadits, “Bahwa Nabi
SAW memerintahkan untuk menggunakan tiga batu dan melarang menggunakan
kotoran binatang dan potongan tulang.” (Abu Hurairah)
b. Dilarang menggunakan tangan kanan. Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah salah
seorang diantara kamu membersihkan kemaluannya dengan tangan kanan ketika
buang air.” (HR Mutafaq’Alaih)
c. Lebih baik menggunakan air bila ada. Aisyah berkata, “Perintahkan suami-suami
kalian untuk bersuci dengan air sesungguhnya Rasulullah SAW melakukannya.”
(HR. Tirmidzi)
3. Hal-hal yang Layak Dilakukan Setelah Buang Air
Ketika keluar mendahulukan kaki kanan seraya berdo’a. “Ghufraanaka” (aku
mengharap ampunan Engkau) atau berdo’a “Alhamdulillaahiladzii adzhaba ‘annil
‘adzaa wa ‘aafani”. (segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakit dariku
dan yang telah menyehatkanku).
IV. Etika Mandi
Seorang muslim diajarkan tata cara mengenai menjaga kebersihan badan yaitu dengan
cara mandi. Islam mengenalkan istilah mandi wajib bagi umatnya. Bagi seorang muslim yang
sudah memasuki masa aqil baligh ia harus sudah diperkenalkan apa yang dimaksud mandi
wajib karena hal ini akan menjadi bagian dari perkembangan hidupnya.
Mandi itu diwajibkan apabila memenuhi salah satu dari kelima kriteria di bawah ini:
1. Keluar sperma disertai syahwat, baik diwaktu tidur maupun kondisi terjaga baik laki-
laki maupun perempuan
2. Selesai haid dan nifas bagi perempuan
3. Junub (hubungan suami istri)
4. Meninggal, mayat wajib dimandikan
5. Orang kafir bila masuk Islam
Dibawah ini tata cara mandi
1. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mandi
a. Fardhu Mandi
- Niat. Berniat untuk menghilangkan hadats besar dan kecil.
- Membasuh seluruh badan dengan menggosok hal-hal yang mungkin digosok
- Mengguyur air ke tempat yang tidak bisa digosok sampai bisa diperkirakan air
telah merata ke seluruh tubuh
- Menyela jari-jemari dan rambut, serta tempat-tempat yang biasanya tidak
terairi oleh air seperti pusar, dll.
b. Sunnah Mandi
- Membaca Basmallah
- Sebelum mandi, membersihkan kedua telapak tangan
- Terlebih dahulu menghilangkan kotoran
- Mendahulukan anggota badan wudhu sebelum membersihkan badan
- Berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung, lalu membersihkan
daun telinga
c. Makruh Mandi
- Menghambur-hamburkan air
- Mandi di tempat yang terkena najis dikhawatirkan terkena najis
- Mandi dengan menggunakan air sisa yang digunakan oleh perempuan untuk
bersuci
- Mandi di tempat terbuka tanpa penutup baik dinding ataupun sejenisnya
- Mandi di air yang diam, tidak mengalir. Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah
salah seorang di antara kalian yang sedang junub mandi di air yang diam.” (HR.
Muslim)
2. Tata Cara Mandi Wajib
Hadits dari Aisyah r.a., “Rasulullah SAW bila hendak mandi junub (mandi
wajib), beliau memulai dengan membersihkan kedua tangannya sebelum
memasukkannya ke dalam bejana, kemudian beliau membersihkan farjinya, lalu
berwudhu seperti wudhu akan shalat, lalu membersihkan rambutnya dengan air,
kemudian mengguyurkan kepalanya tiga kali, baru mengguyurkan air ke seluruh
tubuh.” (HR. Tirmidzi)
BERSUCI

Perihal bersuci meliputi beberapa perkara berikut.


a. Alat bersuci, seperti air, tanah, dan sebagainya
b. Kaifiat (cara) bersuci
c. Macam dan jenis-jenis najis yang perlu disucikan
d. Benda yang wajib disucikan
e. Sebab-sebab atau keadaan yang menyebabkan wajib bersuci
Bersuci ada dua bagian
1. Bersuci dari hadas. Bagian ini khusus untuk badan, seperti mandi, berwudhu, dan
tayamum
2. Bersuci dari najis. Bagian ini berlaku pada badan, pakaian, dan tempat
Macam-Macam Air dan Pembagiannya
1. Air yang suci dan menyucikan
2. Air suci, tetapi tidak menyucikan
3. Air yang bernajis
4. Air yang makruh
Macam-macam Najis
Najis dibedakan menjadi 3, yaitu : 1. Najis Mukhaffafah (Najis Ringan) Najis ini dapat
dihilangkan hanya dengan memercikan air (mengusap dengan air pada benda yang terkena
najis. contoh najis mukhaffafah yaitu air kencing bayi laki-laki yang belum makan apapun kecuali
air susu ibu. 2. Najis Mutawassitah (Najis Sedang) Cara menghilangkan najis ini adalah dengan
cara mencucinya sampai hilang warna, bau, rasa, zat, dan sebagainya hilang. contoh najis
mutawassitah adalah bangkai, darah, nanah, minuman keras, dan lain-lain. 3. Najis Mugallazah
(Najis Berat) Contoh najis mugallazah adalah jilatan anjing. jika terkena ini, maka cara
menghilangkannya adalah dengan membasuh dengan air mengalir sebanyak 7 kali yang di sela-
selanya diusap dengan debu (tanah).
Kaifiat (Cara) Mencuci Benda yang Kena Najis
1. Najis mughallazah (tebal), yaitu najis anjing
2. Najis mukhaffafah (ringan), yaitu kencing anak laki-laki yang belum memakan
makanan lain selain ASI
3. Najis mutawassitah (pertengahan)
Bersuci dalam Islam
1. Mensucikan lahir
2. Mensucikan anggota-anggota lahir kita dari dosa.
3. Mensucikan diri dari sifat-sifat terkeji.
4. Mensucikan rahasia kebatinan selain dari Allah.