Anda di halaman 1dari 11

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/305295450

Upaya Peningkatan Kualitas Hasil Produksi Penyulingan Minyak Daun


Nilam dengan Menggunakan Konsep Six Sigma (Studi Kasus pada
Penyulingan Minyak Daun Nilam di Kecamatan Dongko Kabu...

Conference Paper · January 2010

CITATIONS READS

0 796

2 authors, including:

Arif Rahman
Brawijaya University
27 PUBLICATIONS   5 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Shojinka View project

Continuous Material Requirement Planning View project

All content following this page was uploaded by Arif Rahman on 14 July 2016.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


UPAYA PENINGKATAN KUALITAS HASIL PRODUKSI PENYULINGAN
MINYAK DAUN NILAM DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP SIX SIGMA
(Studi Kasus Pada Penyulingan Minyak Daun Nilam di Kecamatan Dongko
Kabupaten Trenggalek)

Nasir Widha Setyanto, Arif Rahman


Program Studi Teknik Industri
Universitas Brawijaya
Email : nazzyr_lin@yahoo.co.id

Abstrak
Minyak nilam merupakan salah satu minyak atsiri komoditi ekspor Indonesia yang potensial.
Menurut ISO 3757:2002, kualitas minyak nilam dikendalikan dengan indikator kadar
Patchouli Alcohol pada batas standar 27% - 35%. Namun permintaan pasar dunia
mensyaratkan kadar Patchouli Alcohol minimal sebesar 31%. Pada proses penyulingan
minyak nilam yang dilakukan di kecamatan Dongko kabupaten Trenggalek, kadar Patchouli
Alcohol dalam minyak nilam yang dihasilkan masih kurang baik dengan rata-rata sebesar
28,92%. Beberapa faktor menyebabkan rendahnya kadar Patchouli Alcohol dalam minyak
nilam .
Perbaikan kualitas perlu diterapkan pada penyulingan minyak nilam, salah satunya dengan
menggunakan konsep Six Sigma dengan siklus DMAIC. Pada tahap Define mendefinisikan
proyek six sigma dan mengidentifikasi kadar Patchouli Alcohol sebagai variabel kualitas .
Tahap Measure menentukan Critical To Quality (CTQ), memetakan kendali kualitas
menggunakan peta kontrol variabel X dan R, mengukur kapabilitas proses dan menilai level
sigma. Tahap Analyze mengidentifikasi faktor-faktor penyebab rendahnya kadar Patchouli
Alcohol dalam minyak nilam dengan menggunakan diagram sebab-akibat. Dan tahap Improve
merancang Action Plan guna perbaikan kualitas pada akar masalah yang didapatkan dari
metode Root Cause Analysis (RCA).
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di kecamatan Dongko kabupaten Trenggalek,
didapatkan kadar Patchouli Alcohol dalam minyak nilam mempunyai rata-rata sebesar
28,92% dengan standar deviasi sebesar 0,430069%. Kapabilitas proses penyulingan sebesar
3,1 dengan level sigma sebesar 4,46. Kualitas minyak nilam telah memenuhi standar kualitas
ISO 3757:2002, namun masih belum mencapai target 31%. Perbaikan kualitas perlu dilakukan
untuk meningkatkan rata-rata dan menurunkan standar deviasi dari kadar Patchouli Alcohol
dalam minyak nilam. Kualitas hasil produksi penyulingan minyak nilam ditingkatkan dengan
memperbaiki faktor-faktor dari Mesin (teknologi), Manusia (keterampilan dan kesalahan),
Lingkungan (temperatur dan angin), Material (bahan baku nilam), Metode (proses
penyulingan).

Kata Kunci : Penyulingan Minyak Nilam, Patchouli Alcohol, Six Sigma, peta
kontrol variabel, diagram sebab akibat, Root Cause Analysis.

1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Dalam dunia perdagangan internasional, komoditas minyak nilam sering disebut patchouli oil, dan
merupakan salah satu produk minyak atsiri (essential oil). Negara Indonesia telah mendapatkan
sebutan produsen patchouli Sumatera, karena sebagian besar tanaman nilam diusahakan oleh petani
di daerah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sejak sebelum Perang Dunia II, Indonesia
mampu menghasilkan minyak nilam sekitar 90% dari kebutuhan dunia. Minyak nilam merupakan
salah satu jenis minyak atsiri yang memiliki permintaan cukup cerah. Penggunaan terbesar minyak
nilam sebagai bahan kosmetik pengikat wangi parfum. Pasar dunia saat ini membutuhkan sebesar
1.200 - 1.400 ton minyak nilam rata-rata setahun dengan kecenderungan yang terus meningkat.
Kebutuhan tersebut 80-90% dipasok Indonesia. Pada saat itu produk minyak nilam di Indonesia
lebih dikenal dengan sebutan Java-patchouli, karena mayoritas ekspor minyak tersebut melalui
pelabuhan Tanjung Priok (Rukmana, 2004).

60
Proceeding Seminar Nasional IV Manajemen & Rekayasa Kualitas 2010

Salah satu penghasil minyak daun nilam yang ada di Jawa Timur adalah para petani yang tersebar
di kecamatan Dongko kabupaten Trenggalek. Namun demikian jumlah itu belum bisa memenuhi
kebutuhan ekspor minyak daun nilam. Permasalahan yang sering timbul disebabkan oleh
kurangnya informasi teknologi dan belum adanya standarisasi metode kerja penyulingan minyak
nilam, sehingga minyak nilam yang dihasilkan masih bermutu rendah. Pengeringan langsung di
bawah sinar matahari menyebabkan sebagian minyak atsiri turut menguap dan pengeringan yang
terlalu cepat menyebabkan daun rapuh dan sulit untuk disuling. Sebaliknya, jika pengeringan
terlalu lambat, daun akan menjadi lembab dan muncul bau yang tidak enak, sehingga mutu minyak
yang dihasilkan menurun (Kardinan, 2005).
Minyak nilam yang baik sebaiknya tidak tercampur dengan bahan lain (murni) karena bila
tercampur dengan bahan lain akan mempengaruhi aroma minyaknya dan standar mutunya akan
turun. Oleh karena itu, minyak nilam harus memenuhi syarat dalam perdagangan dan industri.
Standar mutu minyak nilam belum ada keseragaman untuk seluruh dunia. Masing-masing negara
baik eksportir maupun importir mempunyai standar mutu minyak nilam sendiri-sendiri. Standar
mutu minyak nilam menurut ISO 3757:2002 yaitu kadar kandungan patchouli alcohol (selanjutnya
dibaca: PA) antara 27% - 35%.
Dikatakan dapat menghasilkan kualitas eksport yakni kadar patchouli alcohol tidak kurang dari
30% (septa-ayatullah.blogspot.com). Pada penelitian ini dari data patchouli alcohol yang diambil
dilapangan, tercatat bahwa semua data kurang dari 30%. Meskipun masih dalam batas standar mutu
menurut ISO 3757:2002, akan tetapi hasil yang diperoleh masih kurang baik.
Dengan mengetahui data tersebut, perlu adanya perbaikan proses untuk menghasilkan minyak
dengan mutu yang tinggi serta dapat memenuhi standar mutu eksport minyak nilam. Maka peneliti
menerapkan konsep Six Sigma guna meningkatkan kualitas hasil produksi penyulingan minyak
nilam.
Penerapan Six Sigma digunakan untuk membantu peneliti dalam meningkatkan kualitas minyak
daun nilam. Metode Six Sigma melibatkan usaha dalam jangka waktu yang panjang atau terus
menerus serta digunakan untuk meningkatkan kualitas proses produksi minyak daun nilam dengan
mengurangi variansi dari minyak yang dihasilkan oleh daun nilam, sehingga secara layak dapat
memenuhi atau melebihi harapan dan persyaratan konsumen.
Oleh sebab itu, pada penelitian ini akan dilakukan kajian tentang penerapan Six Sigma untuk
mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi penyebab tidak maksimalnya proses penyulingan
minyak daun nilam dan mencari solusi untuk perbaikannya sehingga dapat meningkatkan hasil dan
mutu produksi minyak nilam.

1.2. Rumusan Masalah


Bagaimana upaya untuk memperbaiki kualitas hasil produksi penyulingan minyak daun nilam
dengan menggunakan konsep Six Sigma ?

1.3. Tujuan Penelitian


Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Menentukan Critical To Quality (CTQ) dari proses penyulingan minyak daun nilam.
2. Mencari faktor-faktor penyebab tidak maksimalnya proses penyulingan minyak daun nilam
sehingga minyak yang dihasilkan bermutu rendah.
3. Melakukan rekomendasi perbaikan proses penyulingan minyak nilam.

2. Metodologi Penelitian
Metode penelitian yaitu tahap yang harus ditetapkan dahulu sebelum melakukan penyelesaian
masalah yang sedang dibahas. Dalam penelitian ini dilakukan eksperimen nyata (true experiment
research) dengan tujuan untuk memperbaiki hasil dan mutu penyulingan minyak daun nilam.
Penelitian ini menekankan pada penyajian data, menganalisis, dan menginterpretasikan data.
Langkah-langkah yang diambil dalam penelitian ini yaitu DMAI (Define, Measure, Analyze,

61
Proceeding Seminar Nasional IV Manajemen & Rekayasa Kualitas 2010

Improve), sehingga dihasilkan kesimpulan dari penelitian yang sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan.

Prosedur Penelitian
Berikut ini adalah tahapan-tahapan kegiatan yang dilakukan selama penelitian berlangsung. Dari
survey pendahuluan, studi literatur, define (mendefinisikan), measure (mengukur), analyze
(menganalisis), improve (memperbaiki).
START`

Gambar 1. Diagram Alir Penelitian

3. Analisis dan Pembahasan


3.1. Tahap Define
Merupakan tahap pertama dari siklus DMAIC. Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap
define antara lain yaitu:
a. Mendefinisikan Tahapan Proses Produksi
Penimbangan, perebusan, penguapan, pengembunan, pemisahan minyak dan air.
b. Brainstorming

62
Proceeding Seminar Nasional IV Manajemen & Rekayasa Kualitas 2010

3.2. Tahap Measure


a. Identifikasi CTQ (Critical To Quality)
Prosentase PA yang tinggi merupakan CTQ (Critical To Quality) dari minyak nilam. Dan
standar mutu minyak nilam sesuai ISO 3757:2002 untuk kadar patchouli alcohol adalah antara
27% - 35%.
b. Data Patchouli Alcohol (PA)
Tabel 1. Data PA (dalam %)
Subgroup
No Jumlah Rata-rata R
1 2 3
1 28,5 28 28,25 84,75 28,25 0,5
29 29 29,25 87,25 29,08 0,25
2 29 28,5 28,5 86,00 28,67 0,5
28 28 28,5 84,50 28,17 0,5
3 29 29,5 29,5 88,00 29,33 0,5
28,5 29 29 86,50 28,83 0,5
4 29 29 29 87,00 29 0
29,5 29,5 29 88,00 29,33 0,5
5 29,5 29 29,5 88,00 29,33 0,5
28,5 28,5 29 86,00 28,67 0,5
6 29 29 29 87,00 29 0
28,5 28,5 29 86,00 28,67 0,5
7 29 29,25 29,25 87,50 29,17 0,25
29,25 29,25 29,5 88,00 29,33 0,25
Jumlah - - - 1.214,50 405 5,25
Sumber: Data Diolah
c. Kapabilias Proses (Cp)
• Kapabilitas Proses (Cp)
USL − LSL 35 − 27
Cp = = = 3,1
6σ 6(0,430069)
• Indeks kapabilitas proses (Cpk)
Cpk didapatkan dengan mencari nilai k terlebih dahulu.
T−X 31 − 28,92
k= = = 0,52
1 1
(USL − LSL ) (35 − 27)
2 2
Cpk = Cp * (1-k) = 3,1*(1-0,52) = 1,49
Dari perhitugan diatas dikatakan Cpk ≥ 1, maka dapat diketahui kadar patchouli alcohol
mengindikasikan bahwa proses penyulingan minyak nilam menghasilkan produk yang sesuai
dengan spesifikasi standar kualitas ISO 3757:2002.
d. Kapabilitas Sigma
Perhitungan kapabilitas sigma digunakan untuk mengetahui level sigma DPMO ( Defect Per
Million Opportunities).

63
Proceeding Seminar Nasional IV Manajemen & Rekayasa Kualitas 2010

18
16 D a ta P A
14 D is t N o r m a l
12
10

6
4
2

0
-2 27 28 29 30 31 32 33 34 35

Gambar 2. Histogram Sigma Level Data PA


USL DPMO = P (z ≥ (USL - X ) / Standar Deviasi
= P (z ≥ (35 – 28,92) / 0,430069
= P (z ≥ 14,14)
= 14,14 σ
LSL DPMO = P (z ≤ ( X - LSL) / Standar Deviasi
= P (z ≤ (27 – 28,92) / 0,430069
= P (z ≤ 4,46)
= 4,46 σ
Level sigma = min (USL ; LSL)
= min (14,14 ; 4,46)
= 4,46σ
Dari perhitungan diatas didapatkan level sigma untuk kadar patchouli alcohol minyak nilam
yaitu 4,46 σ.

3.3. Tahap Analyze


Tahap Analyze bertujuan untuk menguji data yang dikumpulkan pada fase Measure kemudian dicara
faktor penyebab untuk menentukan daftar prioritas dari sumber variasi.
Diagram Sebab Akibat

Gambar 3. Diagram Sebab Akibat Prosentase Kadar PA Rendah

64
Proceeding Seminar Nasional IV Manajemen & Rekayasa Kualitas 2010

3.4. Tahap Improve


Tahap Improve bertujuan untuk mengoptimasi solusi yang ditawarkan akan memenuhi atau
melebihi tujuan perbaikan dari proyek. Selama fase Improve, peneliti merancang dan mengoptimasi
proses kritis yang telah diketahui pada tahap analisis melalui Root Cause Analysis (RCA). Terdapat
lima faktor yang mempengaruhi rendahnya Patchouli Alcohol yaitu Peralatan, Manusia (Operator),
Metode, Lingkungan, serta Material, akan dilakukan perincian secara detail untuk mencari proses
yang dianggap menurunnya kadar PA.
a. RCA Terhadap Faktor Peralatan
b. RCA Terhadap Faktor Manusia (Operator)
c. RCA Terhadap Faktor Metode
d. RCA Terhadap Faktor Lingkungan
e. RCA pada Material
f. Solusi Dari Root Cause Analysis

65
Proceeding Seminar Nasional IV Manajemen & Rekayasa Kualitas 2010

Tabel 2. Solusi Akar Masalah Terhadap Faktor Peralatan


Solusi Akar
Masalah Gejala Penyebab Akar Permasalahan Akibat Solusi
Terhadap Faktor
• Peralatan • Kadar air dalam • Tangki destilasi • Oksidasi tinggi • Kadar PA • Bahan yang digunakan untuk menyuling (tangki destilasi)
produk minyak masih yang belum • Waktu tidak sesuai rendah sebaiknya dipisahkan dengan tangki boiler (modifikasi
tinggi efektif • Input volume tidak tangki).
• Uap produk terbuang • Kondensasi sesuai • Atur produk yang masuk, sesuaikan dengan volume
belum efektif peralatan.
• Kebocoran pipa • Waktu kondensasi diharapkan lebih lama, supaya proses
pendinginan sempurna.
• Melakukan pengontrolan pada air pendingin secara
berkala.
• Manusia • Kurang memahami • Operator yang • Kurangnya • Kadar • Memberikan pelatihan secara berkala tentang tata
(Operator) metode penyulingan belum pelatihan tentang PA cara penyulingan dari proses penanaman bibit nilam
• Kurang melakukan profesional nilam kepada rendah sampai menjadi minyak nilam yang berkualitas.
pengecekan secara • Kurang teliti karyawan • Pada setiap kali penyulingan diharapkan ada 3
mendetail. dan teledor (operator). operator untuk menghindari faktor kelalaian.
• Metode • Proses destilasi • Urutan proses • Masih • Kadar • Sebaiknya menggunakan minyak tanah atau elpiji
yang tidak salah menggunakan PA karena dapat mengontrol temperatur tungku.
sempurna • Temperatur kayu bakar rendah • Perlu adanya SOP pada tempat penyulingan.
yang sulit • Tidak adanya
untuk dikontrol SOP dalam
proses produksi
• Lingkungan • Proses pembakaran • Terdapat • Terkena • Kadar • Pada tungku pembakaran, diberi penutup agar tidak
yang tidak rongga pada hembusan angin PA terkena hembusan angin serta diberi lubang angin
sempurna tungku yang kencang rendah sehingga sirkulasi udara masih terjaga.
pembakaran

66
Proceeding Seminar Nasional IV Manajemen & Rekayasa Kualitas 2010

Tabel 2. Solusi Akar Masalah Terhadap Faktor Peralatan (lanjutan)


Solusi Akar
Masalah Gejala Penyebab Akar Permasalahan Akibat Solusi
Terhadap Faktor
• Material • Daun nilam • Pengeringan • Waktu penjemuran • Kadar PA • Pada awal penanaman, sebaiknya menggunakan
tumbuh terlalu lambat • Waktu pemanenan rendah tanaman nilam yang memiliki bibit unggul.
jamur • Pada waktu pemanenan, sebaiknya dilakukan pagi
atau sore hari agar diperoleh kandungan minyak yang
tinggi. Jika pemanenan pada siang hari, minyak akan
menguap bersama sinar matahari.
• Proses panen sebaiknya dilakukan dengan cara
memangkas batang daun nilam. Dan dilakukan
setelah 6 bulan proses tanam, 3 bulan berikutnya
dilakukan proses panen lagi dengan cara yang sama,
kemudian 3 bulan berikutnya dilakukan proses panen
dengan cara mencabut hingga akar daun nilam.
• Waktu penjemuran dibawah sinar matahari dilakukan
selama kurang lebih 4 jam.
• Sebelum disuling, daun dipisahkan dari akarnya
setelah itu daun dicacah.

67
Proceeding Seminar Nasional IV Manajemen & Rekayasa Kualitas 2010

4. Kesimpulan dan Saran


4.1. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan serta pembahasan yang telah dilakukan terhadap proses penyulingan minyak
nilam, maka upaya untuk memperbaiki kualitas hasil produksi penyulingan minyak daun nilam
dengan menggunakan konsep six sigma yakni Critical To Quality (CTQ) untuk hasil penyulingan
minyak nilam dalam penelitian ini yaitu prosentase kadar patchouli alcohol dengan kadar 28,92%,
prosentase ini jauh dari batas atas standar mutu ISO 3757:2002 yaitu 35%.
Dengan menggunakan tools diagram sebab akibat, didapatkan faktor-faktor yang menyebabkan
rendahnya kadar patchouli alcohol dalam minyak nilam. sumber-sumber rendahnya kadar
patchouli alcohol adalah sebagai berikut:
a. Peralatan (Tangki Destilasi, Kondensor, Pemisah Minyak dan Air)
b. Manusia (Operator)
c. Material (bahan baku nilam)
d. Lingkungan (temperatur suhu ruangan serta faktor alam)
e. Metode (teknologi penyulingan sederhana)
Rekomendasi perbaikan proses penyulingan minyak nilam dari proses kritis yang telah diketahui
pada tahap analisis yakni dengan melalui metode Root Cause Analysis (RCA).
a. Solusi dari RCA terhadap faktor peralatan yaitu:
• Bahan yang digunakan untuk menyuling (tangki destilasi) sebaiknya dipisahkan dengan
tangki boiler (modifikasi tangki).
• Atur produk yang masuk, sesuaikan dengan volume peralatan.
• Waktu kondensasi diharapkan lebih lama, supaya proses pendinginan sempurna.
• Melakukan pengontrolan pada air pendingin secara berkala.
b. Solusi dari RCA terhadap faktor manusia (operator) yaitu:
• Memberikan pelatihan secara berkala tentang tata cara penyulingan dari proses penanaman
bibit nilam sampai menjadi minyak nilam yang berkualitas.
• Pada setiap kali penyulingan diharapkan ada 3 operator untuk menghindari faktor
kelalaian.
c. Solusi dari RCA terhadap faktor metode yaitu:
• Sebaiknya menggunakan minyak tanah atau elpiji karena dapat mengontrol temperatur
tungku.
• Perlu adanya SOP pada tempat penyulingan.
d. Solusi dari RCA terhadap faktor lingkungan yaitu:
Pada tungku pembakaran, diberi penutup disemua sisi agar tidak terkena hembusan angin serta
diberi lubang angin sehingga sirkulasi udara masih terjaga.
e. Solusi dari RCA terhadap faktor material yaitu:
• Pada awal penanaman, sebaiknya menggunakan tanaman nilam yang memiliki bibit
unggul.
• Pada waktu pemanenan, sebaiknya dilakukan pagi atau sore hari agar diperoleh kandungan
minyak yang tinggi. Jika pemanenan pada siang hari, minyak akan menguap bersama sinar
matahari.
• Proses panen sebaiknya dilakukan dengan cara memangkas batang daun nilam. Dan
dilakukan setelah 6 bulan proses tanam, 3 bulan berikutnya dilakukan proses panen lagi
dengan cara yang sama, kemudian 3 bulan berikutnya dilakukan proses panen dengan cara
mencabut hingga akar daun nilam.
• Waktu penjemuran dibawah sinar matahari dilakukan selama kurang lebih 4 jam.
• Sebelum disuling, daun dipisahkan dari akarnya setelah itu daun dicacah.

5. Daftar Pustaka
Anang Hidayat, 2007, Strategi Six Sigma, Elex Media Komputindo, Jakarta.
Ariani, Dorothea Wahyu, 2004, Pengendalian Kualitas Statistik, ANDI, Yogyakarta.

68
Proceeding Seminar Nasional IV Manajemen & Rekayasa Kualitas 2010

Ayatullah, Septa, 2009, Resume dari Penelitian "Kualitas Minyak Nilam sebagai Tanaman Sela
pada Areal Lahan Hutan Rakyat di Desa Cibojong, http://septa-ayatullah.blogspot.com/2009/04/
resume-dari-penelitian-kualitas-minyak.html, (diakses pada 27 Januari 2010).
Budianto, A. & R, Lilis, 2002, “Ekstraksi Minyak Nilam Menggunakan Destilasi Uap”, Jurnal
IPTEK, Vol.5, No. 1: 66-71.
Dale H. Besterfield, 1994, Quality Control, Prentictice – Hall International, Inc, New Jersey.
Gaspersz, Vincent, 2002, Pedoman Implementasi Program Six Sigma Terintegrasi Dengan ISO
9001:2000, MBNQA dan HACCP, Gramedia, Jakarta.
Harsono, P. A., 2002. Metode Analisis Akar Masalah dan Solusi, FISIP UI, Jakarta.
Hendartomo, 2008, Pengambilan Minyak Atsiri dari Daun dan Ranting Nilam
(Posgostemon Cablin Benth) dengan Cara Penyulingan Uap, http://www.geocities.com/tompirus/
nilam.pdf. (diakses pada 20 Oktober 2009).
Kardinan, Agus, 2005, Tanaman Penghasil Minyak Atsiri, Komoditas Wangi Penuh Potensi, PT
Agro Media Pustaka, Tangerang.
Montgomery, Douglas C., 1990, Pengantar Pengendalian Kualitas Statistik, Gajah Mada
University Press, Yogyakarta.
Nurlelasari, 2007, Peningkatan Kadar Patchouli Alkohol Pada Minyak Nilam Melalui Teknik
Kultur Jaringan, Universitas Padjajaran, Bandung.
Nuryani,Y., 2004, Karakteristik Minyak Nilam Hasil Fusi Protoplas Antara Nilam Aceh dengan
Nilam Jawa, http://minyakatsiriindonesia.wordpress.com/atsiri-nilam/yang-nuryani. (diakses pada
27 Januari 2010).
Rath & Strong’s, 2005, Six Sigma Advanced Tools, ANDI, Yogyakarta.
Rukmana, Rahmat, 2004, NILAM, Prospek Agribisnis dan Teknik Budi Daya, KANISIUS,
Yogyakarta.
Santoso, Singgih, 2007, Total Quality Management ( TQM ) dan Six Sigma, Elex Media
Komputindo, Jakarta.
Sudaryani, T. & Sugiharti, 1990, Budidaya dan Penyuligan Nilam, Swadaya, Jakarta.
www.busyairi.wordpress.com (diakses pada 14 Februari 2010).
www.wikipedia.org/distilasi (diakses pada 27 Januari 2010).
Yusron, M. dan Wiratno, 2001, Budidaya Tanaman Nilam, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan
Obat, Bogor.

69

View publication stats