Anda di halaman 1dari 20

MODUL

I
SISTEM PERALATAN PEMBORAN DAN PRODUKSI
LAPORAN PRAKTIKUM

Nama : Nur Rahmi SR (12215092)

Tanggal Praktikum : 6 & 10 November 2017

Tanggal Penyerahan : 16 November 2017

Dosen : Dr. Ing. Bonar Tua Halomoan Marbun

Asisten Modul : 1. Deny Candra Putra Ansory (12214036)

2. Radifan Taufiqul Hafidz (12214043)

3. Immanuel Lumban Gaol (22616013)

4. Stevy Canny Louhenapessy (22217007)

5. Stevanus Sagala (22217006)

6. Rangga Adi Kusuma (22217006)

7. Agustinus Sua Azi (22216016)

8. Riviani Kusumawardani (22616008)


LABORATORIUM TEKNIK OPERASI PEMBORAN

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN

FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN DAN PERMINYAKAN

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2017

1

DAFTAR ISI

Halaman Judul ..................................................................................................................... 1

Daftar Isi .............................................................................................................................. 2

Bab I Tujuan ......................................................................................................................... 3

Bab II Keberjalanan Praktikum ........................................................................................... 4

Bab III Analisis ...................................................................................................................... 6

Bab IV Penutup .................................................................................................................... 19

Daftar Pustaka ..................................................................................................................... 20

2

BAB I

TUJUAN

1.1. TUJUAN PRAKTIKUM


Tujuan dari praktikum modul “Sistem Peralatan Pemboran” ini adalah :
1. Mengamati dan mengidentifikasi peralatan-peralatan pemboran dan
produksi di Gedung Prodi Perminyakan ITB.
2. Memahami prinsip kerja peralatan-peralatan pada hoisting system,
circulating system, rotating system, BOP system, dan power system dalam
operasi pengeboran.
3. Mampu mengidentifikasi peralatan-peralatan yang termasuk dalam
sistem peralatan pemboran.
4. Mengenali dan memahami prinsip kerja peralatan-peralatan khusus yang
digunakan dalam operasi pengeboran.
5. Mampu menjelaskan fungsi-fungsi dari peralatan-peralatan yang
termasuk dalam sistem peralatan pemboran.
6. Memahami prinsip kerja dari Sucker Rod Pump dan dapat membedakan
tipe, komponen, dan peralatan-peralatan pada Sucker Rod Pump.
7. Mengenali komponen-komponen, dan memahami prinsip kerja dari
Christmas Tree.

3

BAB II

KEBERJALANAN PRAKTIKUM

2.1. KEBERJALANAN PRAKTIKUM


Pada hari senin tanggal 6 November dan jumat 10 November 2017
dilaksanakan Praktikum modul I yang berjudul “Sistem Peralatan Pemboran”.
Praktikum dilakukan secara berkelompok dengan tiap kelompok berisi 14
orang. Praktikum diawali dengan tes awal. Di hari itu, terdapat 8 pos yang
terbagi di berbagai tempat, yakni:
a) Pos 1: depan gedung tm
b) Pos 2: lab bor
c) Pos 3: lab bor
d) Pos 4: samping tangga tu
e) Pos 5: deket lab bor
f) Pos 6: deket lab bor
g) Pos 7: ruang total
h) Pos 8: ruang total
Disetiap pos ini terdapat tes akhir yang mengetes pemahaman kami
akan praktikum pada pos tersebut. Pada hari senin, kelompok saya hanya
mengunjungi 6 pos karena keterbatasan waktu. Pos pertama yang kami
kunjungi adalah pos 7 yaitu pos tentang paper berjudul “Application of
Glycerol by-product of Biodiesel Palm Oil as Potential Base Drilling Fluid”. Pos
kedua yang kami kunjungi adalah pos 1. Di pos 1, kami mendapatkan
kesempatan untuk survei peralatan pemboran yang ada di luar gedung TM.
Peralatan pemboran yang pertama kali kami survei yakni Chrismas Tree.
Sebelum itu, kami diberi penjelasan oleh para asisten mengenai bagian-
bagian Christmast Tree beserta fungsinya. Setelah itu, kami diberi
kesempatan oleh para asisten untuk bertanya apabila dirasa ada yang kurang
dimengerti, dimana saat itu banyak dari kami yang bertanya mengenai bagian
serta fungsi Chrismas Tree secara lebih detail. Setelah itu, kami melakukan

4

survei alat pemboran lainnya yakni Sucker Rod Pump (SRP) yang diletakkan di
depan pintu masuk gedung TM.
Pos ketiga yang kami kunjungi adalah pos 3. Di Pos 3, kami mengamati
alat Fann-VG, mud balance, marsh funnel dan filter apparatus. Disini kami
membahas bagaimana cara menggunakan alat ini, dan step-step yang harus
dilakukan pada praktikum modul 2.
Pos keempat yang kami kunjungi adalah pos 2. Di pos 2, kami diberi
penjelasan tentang peralatan cementing, macam-macam zat aditif dan
fungsinya.
Pos kelima yang kami kunjungi adalah pos 5. Di pos 5, kami diberi
penjelaskan tentang peralatan drilling, hubungan WOB dan RPM dengan
pengeboran pada formasi lunak atau keras, drill bit. Terdapat 4 drill bit yang
diamati, yaitu 1 drag bit, 2 roller cone bit, dan 1 diamond bit; 2 drill pipe, 1
tubing, Hal yang diamati pada drill bit adalah jenis, geometri, jumlah nozzle,
kondisi, dan jumlah gigi. Hal yang diamati pada drill pipe, dan tubing adalah
geometrinya.
Pos keenam yang kami kunjungi adalah pos 8. Di pos ini kami
membahas tentang paper “WGC ROP Modelling for Volcanic Geothermal
Drilling”.
Pada hari jumat kami melanjutkan pos yang blom kami kunjungi pada
hari senin. Pos pertama yang kami kunjugi adalah pos 6. Di pos 6 ini, kami
dijeaskan dan diperlihatkan tentang macam2 plug, dan proses cementing.
Pos kedua yang kami kunjugi adalah pos 4. Di pos 4 ini, kami diberi
penjelasan tentang peralatan yang ada di dekat tangga TU TM, yaitu Hoisting
system yang meliputi tubing elevator, swab rubber, gage top plunger, seating
nipple, rock bit, link medium.

5

BAB III
ANALISIS
A. POS I
i. Chrismas Tree

Chrismas Tree merupakan salah satu peralatan pemboran, namun lebih


merupakan peralatan produksi, dimana fungsi dari peralatan ini diantara lain
sebagai jalur masuk maupun keluarnya peralatan pemboran ke sumur, serta
mengontrol aliran dari dalam maupun luar sumur. Beberapa bagian dari
Chrismas Tree antara lain :
a) Swab valve
Valve ini berfungsi untuk memasukkan maupun mengeluarkan peralatan
pemboran, memasukkan tubing, hingga memasukkan alat yang digunakan saat
proses logging.
b) Wing valve
Valve ini terdiri dari dua macam yang terletak di sebelah kiri dan kanan dari
Chrismas Tree. Salah satu wing valve berfungsi untuk mengatur aliran dari dalam
sumur menuju flowline, yang sering disebut dengan production wing valve.
Sedangkan valve yang lain berfungsi sebagai jalur untuk mengalirkan lumpur
berat ke dalam annulus sumur apabila ingin mematikan sumur bila terjadi kick,
yang sering disebut kill wing valve.
c) Master valve

6

Valve ini terdiri dari dua macam, yakni Upper master valve dan Lower master
valve. Kedua macam valve tersebut mempunyai fungsi yang sama, yakni
mengatur aliran dari dalam sumur. Perbedaannya Upper master valve digunakan
sebagai safety valve (backup dari Lower master valve) dan biasanya dijalankan
secara manual sedangkan Lower master valve dijalankan secara hidrolik.

Di bagian bawah dari chrismas tree, terdapat suatu bagian-bagian yang


digunakan saat proses pemboran.

Gambar Under Chrismas Tree

Bagian-bagian tersebut diantaranya : 3 valve di tiap casing spool yang berguna


sebagai jalan keluarnya lumpur dari annulus ketika proses kill line ; lalu berturut-
turut dari bawah ada Production Casing Spool, Intermediate Casing Spool,
Surface Casing Spool.



7

ii. Sucker Rod Pump (SRP)

Sucker Rod Pump,yang kemudian saya singkat sebagai SRP, merupakan salah
satu jenis Artificial Lift yang digunakan untuk meningkatkan perolehan minyak.
Prinsip kerja dari SRP adalah one-way check valve dan piston. Katup (valve)
hanya akan terbuka pada 1 aliran tertentu saja dikarenakan oleh one- way check
valve tersebut sehingga terbentuk kerja piston hanya dalam satu arah saja.
Prinsip tersebut didesain sedemikian rupa sehingga pemompaan oleh prinsip
piston bekerja ketika dilakukan upstroke, dan tidak akan bekerja ketika dilakukan
downstroke.
Komponen utama SRP terdiri atas surface equipment dan sub-surface
equipment. Surface equipment pada SRP adalah sebagai berikut


a) Prime mover
Penggerak SRP yang merupakan motor elektrik ataupun mesin
pembakaran internal
b) V-belt
Sebuah sabuk yang menghantarkan tenaga yang diberikan prime
mover ke gear reducer
c) Gear reducer

8

Serangkaian gerigi yang disusun sedemikian rupa untuk meningkatkan
torsi yang dihasilkan suatu motor
d) Crank arm
Komponen yang digerakkan oleh torsi yang dihasilkan oleh gear
reducer
e) Pitman arm
Penghubung crank arm dengan walking beam. Pitman arm
mengkonversi gerakan rotasi crank arm menjadi gerakan osilasi
f) Walking beam
Penerima gerakan osilasi hasil konversi pitman arm untuk membuat
gerakan “angguk” di atas sumur
g) Counter weight
Istilah untuk berat ekivalen yang digunakan dalam menyeimbangkan
beban yang diterima. Counter weight membuat proporsi beban yang
diterima lebih efisien untuk melakukan pengangkatan, bukan hanya di
SRP, tetapi secara umum juga digunakan pad a crane.
h) Sampson post
Pilar kuat sebagai penyangga (support) bagi sistem tersebut.
i) Horse’ s head dan Bridle
Istilah ini merupakan sebuah perumpamaan, kepala kuda dan tali-
kudanya. Komponen ini disusun sedemikian rupa untuk memastikan
penarikan sucker rod tetap lurus vertikal.
j) Polished rod, Stuffing box dan Tee Polished rod dan stuffing box
digunakan untuk menyegel cairan agar tidak mengalir ke permukaan,
tetapi mengalir melalui Tee.
k) Sucker rod
Sebuah batang yang bekerja sebagai piston untuk mengangkat fluida

Sub-surface equipment pada SRP adalah sebagai berikut

a) Working barrel
Daerah tempat bekerjanya upstroke dan downstroke dibuat
sedemikian rupa pemompaan menjadi efisien
b) Traveling valve
Katup yang dinamis, bergerak naik ketika upstroke, dan turun ketika
downstroke
c) Plunger
Penyumbat yang memungkinkan terjadinya pemompaan
d) Standing valve
Katup yang statis berada pada ujung working barrel

9

Terdapat 3 tipe unit pemompaan untuk SRP, yaitu:

a) Conventional Unit Pitman arm dan horse’s head berada pada sisi
walking beam yang berbeda
b) Lufkin Mark II Unit Pitman arm dan horse’s head berada pada sisi
walking beam yang sama
c) Air-balanced Unit Sama dengan Lufkin Mark II Unit, tetapi
menggunakan silinder udara sebagai pengganti counter weight

B. POS 2
i. Aditif-aditif yang ditambahkan pada semen:
a) Accelerator: mempercepat proses pengeringan (contoh: NaCl)
b) Retarder: memperlambat proses pengeringan (contoh: Lignisulfate)
c) Fluid loss control: mengurangi hilangnya air ke dalam formasi
d) Extender: mengurangi densitas semen atau menaikkan volume semen
(contoh: Silika Flour)
e) Weighting agent: meningkatkan densitas (contoh: barite)
f) Dispersant: menurunkan viskositas (contoh: sodium chloride)
g) Free water: mengontrol free water (contoh: aquagel)
C. POS 3
Pos 2 yang terletak di dalam laboratorium teknik pemboran, menjelaskan tentang
cara kerja dari alat-alat praktikum Fann VG Viscometer, Mud Balance dan Filter Press
Apparatus. Uraian mengenai prinsip kerja dan kegunaan alat-alat terbeut yaitu sebagai
berikut :
a. Mud Balance
Alat ini digunakan untuk mengukur densitas suatu fluida dengan cara
melakukan penggeseran rider pada balance arm hingga cairan di dalam level
glass berada tepat di garis tengah. Setelah itu kita bisa melakukan pembacaan
densitas pada balance arm dalam satuan ppg. Prinsip dari alat ini sendiri adalah
kesetimbangan massa
Sebelum alat ini digunakan diharuskan untuk mengkalibrasi terlebih
dahulu dengan cara menggunakan air dan pada saat kesetimbangan skala yang
terbca dari rider haruslah 8,33 ppg. Bila skala yang ditunjukkan tidaklah sama,
maka calibration screw harus diatur hingga benar.

10


b. Fann VG
Fann VG di sini digunakan untuk menentukan beberapa rheologi lumpur
yaitu plastic viscosity, apparent viscosity, yield point, dan gel strength. Prinsip
alat ini yaitu memberikan shear rate kemudian membaca shear sress pada
skala dial. Dial reading yang akan terbaca merepresentasikan gesekan yang
dialami bob oleh lumpur akibat shear rate yang diberikan oleh rotor. Dial
reading sendiri terdiri dari enam nilai RPM atau shear rate yaitu 600, 300, 200,
100, 6, dan 3. Dari pembacaan dial tersebut, kita dapat menentukan rheologi
dari lumpur yang diuji dengan menggunakan perhitungan. Semakin kental
suatu lumpur maka gesekan yang terjadi akan semakin besar begitupula
sebaliknya. Fluida pemboran yang kita uji dianggap mengikuti model Bingham
Plastic. Data yang akan didapatkan dari alat ini yaitu bacaan dial dan RPM yang
kemudian dapat dihitung rheology dari lumpur tersebut.


c. Filter Press Apparatus
Alat ini merupakan alat yang digunakan untuk mengukur laju filtrasi.
Prinsip dasar dari alat ini adalah aliran fluida melalui media berpori yang dapat

11

digambarkan dengan hukum darcy. Aliran fluida ini diakibatkan oleh perbedaan
tekanan antara tekanan kompresor dengan tekanan atmosfer. Fluida mengalir
melalui dua buah filter yaitu filter paper dan screen. Filter ini mencegah
padatan pada lumpur untuk keluar sehingga padatan ini terkumpul
membentuk mud cake pada filter sedangkan cairan yang lolos akan ditampung
di tabung ukur sebagai filtrat.
Tekanan yang diberikan ketika percobaan berlangsung yaitu sebesar 100
psi. Tekanan ini merepresentasikan perbedaan tekanan pada lubang bor
dengan formasi pada kejadian nyatanya. Alat ini harus dipasang sesuai dengan
urutan yaitu dari yang paling bawah yaitu drain tube kemudian bottom
chamber lalu rubber, screen, filter paper lalu kemudian rubber lagi. Setelah itu
cell body dipasang dan harus dipastikan sudah kencang lalu ditutup dengan
penutupnya. Penutupan ini kemudian nantinya akan dikencangkan dengan
filter press handle. Sebelum melakukan percobaan harus dipastikan terlebih
dahulu tidak adanya kebocoran pada selang juga pada wadah. Selain itu harus
dipastikan rubber ryang digunakan sudah pas.
Pengecekan terhadap kebocoran ini dilakukan dengan menggunakan air.
Setelah semua alat suda dipastikan tidak mengalami kebocoran maka
percobaan pun dapat dilakukan. Filtrat yang keluar dihitung sesuai dengan
waktu ukur tertentu. Data yang akan didapatkan yaitu volume filtrat dan waktu
ukur.
Penentuan pH dilakukan dengan kertas pH yang dicelupkan ke filtrat lalu
dicocokan dengan warna referensi yang tersedia. Tebal mud cake diukur
dengan ujung jangka sorong di mana sebelumnya mud cake dicuci bagian
atasnya untuk menghilangkan mud cake yang tidak stabil.

D. POS 4

Di pos 4 ini, kami mendapatkan penjelasan tentang peralatan hoisting system.

12

a) Catheads : berfungsi untuk mengangkat atau menarik beban-beban ringan rig
floor dan juga berfungsi untuk menyambung atau melepas sambungan pipa
bor.
b) Hook : berfungsi untuk mengantungkan swivel dan rangkaian pipa bor selama
operasi pemboraan borlangsung
c) Elevator merupakan klem (penjepit) yang ditempatkan (digantungkan) pada
salah satu sisi travelling block atau hook dengan elevator link berfungsi untuk
menurunkan atau menaikan pipa bor dari lubang bor.
d) Link berfungsi sebagai pengait antara hook dengan
elevator, dan berlokasi di dekat hook. Ruang kerja link
adalah hanya sebagai penggantung saja. Link dirangkai
dengan elevator seperti pada saat round trip.
e) Swabbing Cup : Tipe J, Tipe TUF, Tipe UMW.
Swabbing : Untuk mengurangi tekanan di sumur bor
dengan memindahkan pipa, alat wireline atau segel yang ditutupi karet ke lubang
sumur. Jika tekanan berkurang cukup, cairan reservoir bisa mengalir ke lubang
sumur dan menuju permukaan. Swabbing umumnya dianggap berbahaya dalam
operasi pengeboran, karena dapat menyebabkan kicks dan masalah stabilitas
sumur bor. Namun, dalam operasi produksi, istilah ini digunakan untuk
menggambarkan bagaimana aliran hidrokarbon reservoir dimulai di beberapa
sumur yang telah selesai.
f) Wrench : adalah alat yang digunakan untuk memberikan pegangan dan
keuntungan mekanik dalam menerapkan torsi untuk menghidupkan benda
g) Plunger : Alat untuk membersihkan penyumbatan di pipa
h) Tong merupakan kunci pas, untuk mengencangkan dan
melonggarkan koneksi pada drill string / untuk membuka dan
menutup pada rangkaian pipa bor. Dalam kondisi standbye
tong harus berada di dekat lantai bor atau dog house.


13

E. POS 5
Pada pos 5 dijelaskan tentang macam-macam bit yang digunakan pada operasi
pemboran serta pengukuran cost per foot. Jenis-jenis bit yang dijelaskan pada pos ini
adalah :
• Drag bit
Bit yang telah dipakai sejak dulu hingga saat ini
dalam proses rotary drilling. Bit ini terbatas pada
formasi yang tidak keras dan dan dangkal. Pisau
potongnya mirip ekor ikan dan pemboran
dilakukan dengan cara menggeruk. Pemboran
tergantung dari beban, putaran, dan kekuatan pisau
potong.

• Diamond bit
Bit yang memilki butir-butir intan sebagai penggeruk pada
matriks besi. Diamond bit tidak memiliki bagian yang
bergerak dan digunakan untuk membor formasi yang
keras dan abrasif.

• Rolling Cutter Bit


Bit yang mempunyai kerucut-kerucut yang
berputar untuk menghancurkan batuan. Terdapat jenis
mill tooth bit ataupun TCI.

Untuk perhitungan cost perfoot digunakan pula persamaan
berikut :

𝐶! + 𝐶! (𝑡! + 𝑡! + 𝑡! )
𝐶! =
Δ𝐷

Dengan keterangan :

𝐶! = Cost per Foot ($/foot)

14

𝐶! = Cost of Bit ($)

𝐶! = Cost of Rig ($/hr)

𝑡! = Trip time (hr)

𝑡! = Drilling time (hr)

𝑡! = Connecting time (hr)

Δ𝐷 = Total Depth (ft)

F. POS 6
1. Tahapan pada cementing :
a) Primary Cementing dilakukan setelah menurunkan Casing (Pipa Selubung)
kedalam lubang sumur, selanjutnya bubur semen dipompakan kedalam
annulus diantara selubung dan dinding lubang.
b) Secondary Cementing Ditujukan untuk perbaikan kualitas semen, penutupan
perforasi dan penyumbatan lubang

2. Peralatan Cementing
ii. Peralatan permukaan
a) Mixer: untuk mencampurkan air dan semen.
b) Pompa semen: mengontrol rate dan tekanan yang diperlukan saat
proses penyemenan.
c) Casing Cementing Head: penghubung antara pipa pengaman dari
pompa semen ke casing serta pipa lumpur/cairan pendorong.
iii. Peralatan di bawah permukaan
a) Casing Shoe dan Float Collar :Berfungsi sebagai penuntun casing saat
diturunkan agar tidak tersangkut.
b) Wiper Plug : Karet berbentuk silinder untuk membersihkan lumpur di
dinding dalam casing sebelum dilewati semen.
c) Scratcher : Digunakan untuk melepaskan mud cake dari formasi agar
semen dapat melekat langsung ke formasi.

15

d) Casing Centralizer : Berfungsi untuk menempatkan casing di tengah-
tengah lubang bor.

Pada pos 5 dijelaskan tentang macam-macam plug yang digunakan pada saat
operasi pemboran. Kedua alat tersebut digunakan untuk membersihkan sisa lumpur
pemboran yang masih berada di dalam pipa bagian dalam. Untuk single well maka
urutannya adalah bottom plug-cement slurry-top plug.

• Bottom plug : berfungsi untuk mencegah adanya kontaminasi antara lumpur


dengan bubur semen. Jadi untuk mendorong lumpur yang berada didalam
casing dan memisahkan casing dari semen dan juga membersihkan mud film
didalam dinding casing, pada bottom plug terdapat membran yang pada
tekanan tertentu dapat pecah, sehingga semen akan mengalir keluar dan
terdorong ke annulus sampai mencapai tujuan yang diharapkan. Bottom plug
dibuat dari bahan karet dan bahan dalamnya dibuat dari alluminium.
• Top plug : berfungsi untuk mendorong bubur semen, memisahkan semen
dari lumpur pendorong agar tidak terjadi kontaminasi, membersihkan semen
dari sisa-sisa semen didalam casing. Alat ini sebagian besar terbuat dari karet
dan pada bagian bawahnya digunakan plat alluminium dan tidak mempunyai
membran. Apabila top plug ini sudah mencapai bottom plug, maka tekanan
pompa akan naik secara tiba-tiba dan pada saat itu pemompaan dihentikan.
Dijelaskan pula mengenai centralizer.
Ø Fungsi dari centralizer:
1. Menempatkan casing di tengah-tengah lubang
2. Menyerap mud cake
3. Mencegah terjadinya differntial sticking
Centralizer dibuat dari bahan baja, sehingga mampu mendorong casing di
tengah-tengah lubang.

16


Centralizer Plug

G. POS 7

Pada pos 7 asisten menjelaskan tentang paper berjudul “Application of Glycerol by-
product of Biodiesel Palm Oil as Potential Base Drilling Fluid”. Pada paper ini membahas
tentang perkembangan OBM dari gliserol. Gliserol yang digunakan dalam penelitian ini,
yang merupakan produk sampingan industri biodiesel kelapa sawit, merupakan
alternatif baru untuk OBM. Dalam penelitian ini, gliserol mentah akan dimurnikan
dengan menggunakan larutan H3PO4 untuk meningkatkan kemurnian gliserol dari
sekitar 50% menjadi lebih dari 80% (Farobie, 2009). Karakterisasi sifat gliserol meliputi
senyawa kimia, kerapatan, titik nyala, titik tuang, dan titik awan.Hasil uji pendahuluan
menunjukkan bahwa gliserol yang dimurnikan dapat digunakan sebagai OBM sintetis
sesuai dengan standar API dan juga dapat menjadi acuan untuk pengembangan OBM
sintetis yang sangat potensial karena karakteristik ramah lingkungan dan karena dapat
berasal dari kelimpahan. dan bahan baku berbiaya rendah dari produk sampingan
produksi biodiesel.

H. POS 8
Pada Pos 8 ini, kami direview ulang tentang paper “ROP Modeling for Volcanic Geothermal
Drilling Optimization”. Berikut materi yang dibahas:
· Model penetrasi Bourgoyne dan Young yang dikembangkan untuk mengoptimalkan
pengeboran sumur minyak dan gas bumi dapat digunakan untuk mengoptimalkan
parameter pengeboran panas bumi. Hal ini karena parameter pengeboran sumur minyak

17

dan gas bumi relatif sama seperti di sumur panas bumi, seperti jenis bit, karakteristik
formasi, sifat fluida pengeboran, berat pada bit, kecepatan putar, tingkat keausan gigi bit,
dan fluida. hidrolika. Meningkatnya nilai parameter WOB dan kecepatan putar umumnya
akan meningkatkan laju penetrasi pengeboran sampai titik optimum.
Metode energi spesifik dapat digunakan untuk mengoptimalkan pemilihan besar pada
pengeboran panas bumi sebagai metode alternatif cost per foot. Bit NB # 4.1 adalah
penggunaan optimal untuk litium andesit breksi yang diubah lembut, sedangkan NB # 7 bit
secara optimal dapat digunakan pada hard litologi karena memiliki nilai SE terendah.
Abrasivitas dalam formasi lembut seperti litium andesit breccias yang terubah di lapangan X
adalah 20,6 jam.
Berat optimum pada kecepatan bit dan putaran untuk bit NB # 4.1 dengan
menggunakan Maratier adalah 6,1 (1000 lb / in) dan 339 RPM, sedangkan dengan
menggunakan metode komputasi nilainya adalah 1000 lb / in dan 200 RPM. Metode
komputasi dianggap sebagai skema yang paling tepat untuk digunakan karena didasarkan
pada data sebenarnya.

18

BAB IV

PENUTUP

4.1. SIMPULAN
1) Ada beberapa peralatan pemboran yang ada di Teknik Perminyakan,
diantaranya drillpipe, bit, chrismas tree, sucker rod pump.
2) Prinsip Kerja pada Sistem Peralatan Pemboran telah dibahas pada Bab
Analisis

3) Sistem peralatan pemboran terdiri atas hoisting system, rotary


system, circulating system, BOP system, dan power system. Selain itu,
terdapat peralatan khusus untuk kasus tertentu.
4) Fungsi dari hoisting system adalah untuk menyediakan fasilitas dalam
mengangkat, menahan dan menurunkan drillstring, casing string dan
perlengkapan bawah permukaan lainnya.
5) Prinsip kerja, tipe, komponen, dan peralatan-peralatan pada Sucker
Rod Pump telah dibahas pada bab analisis
6) Alat Fann VG, Mud Balance, dan Filter Pressure Apparatus dapat
digunakan untuk menentukan rheologi lumpur.

4.2. SARAN
1. Asisten diharapkan memberi referensi kepada praktikan untuk
mengetahui hal-hal lebih detail terkait alat pemboran dikarenakan waktu
praktikum yang sedikit sehingga praktikan tidak bisa menggali info
sedetail mungkin.
2. Waktu dimulainya praktikum harap tepat waktu.
3. Praktikum dibagi 2 sesi saja, agar setiap pos jumlah praktikan lebih dikit.
Sehingga setiap praktikan dapat mengamati alat-alat praktikum dengan
baik.

19

DAFTAR PUSTAKA


• Rubiandini, Rudi.,Teknik Operasi Pemboran, Penerbit ITB, Bandung, 2012.

• Watt, Heriot. Drilling Engineering. Heriot Watt University: Department of Petroleum


Engineering
• Bourgoyne A. T. et.al. 1986. Applied Drilling Engineering, First Printing Society of
Petroleum Engineering. Richardson TX

20