Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN MANAJEMEN NOVEMBER- 2017

PENANGGULANGAN PENYAKIT DBD DI PUSKESMAS WANI

Disusun Oleh :
Raisha Triasari
N 111 17 136

Pembimbing :
dr. Sumarni, M. Kes, Sp. GK
dr. Nur Indriyani

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Demam berdarah adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh
virus dengue, yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan
nyamuk dari genus Aedes, misalnya Aedes aegypti atau Aedes albopictus.
Aedes aegypti adalah vektor yang paling banyak ditemukan menyebabkan
penyakit ini. Kasus DBD yang tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah yakni
Kota Palu dengan jumlah 650 kasus dengan IR 168,50/100.000 penduduk,
kabupaten yang tidak ada kasusnya yakni kabupaten Banggai Laut. Angka
kesakitan Insidence Rate (IR) yang paling tinggi adalah Kota Palu yaitu
168,50 per 100.000 penduduk kemudian Kabupaten Buol dengan IR 162,01
per 100.000 penduduk dan disusul Kabupaten Toli-Toli dengan IR 101,13
per 100.000 penduduk, serta ke empat adalah Kabupaten Poso dengan IR
80,88 per 100.000 penduduk. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
kurangnya peranserta masyarakat dalam pengendalian DBD, terutama pada
kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan PHBS masih kurang
dimana masih terlihat sampah-sampah dan ban-ban bekas mobil menjadi
tempat perindukan nyamuk DBD, dan perubahan iklim yang terjadi di
Provinsi Sulawesi Tengah, khususnya di Kota Palu dimana terjadi pola
musim hujan yang tidak beraturan yaitu terlihat bahwa disela musim panas
sering terjadi hujan lokal dan hujan sesaat yang member peluang besar bagi
berkembangnya vektor penyebab DBD, dan ditambah kepadatan penduduk
yang terus meningkat, sejalan dengan pembangunan kawasan pemukiman,
urbanisasi yang tidak terkendali, lancarnya transportasi baik darat, udara
maupun laut. 1
Epidemi dengue selama tiga abad terkahir ini diketahui terjadi di
daerah beriklim tropis, subtropis, dan sedang di seluruh dunia. Epidemi
pertama dengue tercatat tahun 1635 di wilayah India Barat Perancis.

2
Penyakit yang serupa dengan dengue telah dilaporkan terjadi di Cina
semenjak awal tahun 992 SM. 2
Selama pengalaman 40 tahun dengan dengue di wilayah Pasifik Barat
dan Asia Tenggara, dua pola epidemiologik penting telah ditemukan.
Pertama demam berdarah dengue (DBD) dan dengue shock syndrome (DSS)
telah timbul paling sering di area dimana terdapat edemik serotipe multiple.
Pola umum adalah bahwa kasus sporadik atau wabah kecil di daerah
perkotaan yang ukurannya meningkat dengan tetap sampai terjadi wabah
besar membuat penyakit menjadi perhatian pejabat kesehatan masyarakat.
Penyakit ini kemudian membentuk pola aktivitas epidemik setiap 2-5 tahun.
Selain itu, DBD dan DSS secaraa khas menyerang pada anak-anak dengan
usia saat dirawat 4-6 tahun. Pola kedua terlihat di daerah endemisitas
rendah. Serotipe dengue multiple ditularkan pada laju infeksi yang secara
relatif rendah (dibawah 5% populasi pertahun). Pada area ini, orang dewasa
yang sebelumnya terinfeksi rentan terhadap infeksi dengue. Anak-anak dan
dewasa muda juga mudah terinfeksi.3
Dari 250.000 sampai 500.000 kasus DBD, terutama pada anak-anak
yang dilaporkan World Health Organization (WHO) tahun 2005 dengan
Case Fatality Rate (CFR) mencapai 1%-5% (Wills, 2005). Penyakit DBD
merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan
menjadi masalah nasional. Penyakit ini dapat berkembang sangat cepat dan
dapat menimbulkan wabah atau kejadian luar biasa (KLB) serta dapat
menyebabkan kematian bagi penderitanya.4
Di Indonesia penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968
di Surabaya dengan kasus 58 orang anak, 24 diantaranya meninggal dengan
Case Fatality Rate (CFR) 41,3%. Sejak itu penyakit DBD menunjukkan
kecenderungan peningkatan jumlah kasus dan luas daerah terjangkit.
Seluruh wilayah Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit
DBD kecuali daerah yang memiliki ketinggian lebih dari 1000 meter di atas
permukaan laut.5

3
Berdasarkan grafik data, jumlah kasus DBD berdasarkan jenis
kelamin dan puskesmas Se-Kabupaten Donggala yang berdasarkan data
yang didapatkan yaitu sebesar 68 kasus (laki-laki 38 kasus dan perempuan
30 kasus) dengan kasus tertinggi sebesar 50 kasus (laki-laki 28 kasus dan
perempuan 22 kasus) serta jumlah kematian sebesar 2 kasus yang terjadi
dipuskesmas Donggala.

Grafik 1. Jumlah kasus DBD Menurut Jenis Kelamin dan


Puskesmas Kabupaten Donggala Tahun 2016.

Ogoamas 0
0

Balukang 0
0

Tonggolobibi 0
0
0
Sabang 3

Tambu 0
0

Malei 0
0

Tompe 1
3

Batusuya 1
1 Perempuan
Toaya 0
0

Labuan 0
0
Laki-Laki
Wani 4
5
22
Donggala 28
Lembasada 0
0

Lalundu 0
0

L. Despot 0
0

Pinembani 0
0

0 5 10 15 20 25 30

Sumber: Bidang PMK-Seksi P2P, Program DBD, Dinkes Kabupaten


Donggala, 2016.

Wilayah kerja puskesmas wani jumlah kasus DBD 5 tahun terkhir


mulai dari tahun 2012 sampai pada tahun 2016 berturut-turut adalah sebagai
berikut 78 kasus, 80 kasus, 57 kasus, 44 kasus, dan 56 kasus. Dimana pada
tahun 2013 angka kejadian DBD sangat meningkat pada puskesmas bulili.6
Pada tahun 2016 di Puskesmas Bulili terjadi 56 kasus DBD. Selama 5
tahun ini kasus DBD di wilayah Puskesmas Bulili terjadi penurunan dan
peningkatan, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut

4
80

70

60

50

40 Birobuli Selatan
Petobo
30

20

10

0
2012 2013 2014 2015 2016

Sumber : Laporan Puskesmas Bulili Thn 2016


Untuk daerah-daerah endemis perlu diupayakan pemberantasan sarang
nyamuk secara rutin dan pemeriksaan jentik berkala yang mencakup seluruh
RW dan penyuluhan kebersihan lingkungan.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Pada laporan menejemen ini, permasalahan terkait program
penanggulangan pemberantasan DBD akan dibahas antara lain
1. Bagaimana pelaksanaan program pemberantasan DBD di Puskesmas
Wani ?
2. Apa saja permasalahan yang menjadi kendala dalam mencapai target
cakupan program pemberantasan DBD di Puskesmas Wani ?

5
BAB II
PERMASALAHAN

2.1 PROFIL PUSKESMAS WANI


2.1.1 Letak Geografis
Puskesmas Wani merupakan puskesmas yang berada di wilayah
kerja Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala dengan luas wilayah
302,64 Km2. Wilayah kerja puskesmas wani terdiri dari 10 desa, yaitu
desa wani I, wani II, Wani III, Wani Lumbumpetigo, Nupabomba,
Guntarano, Bale, Wombo Mpanau, Wombo Induk dan desa Wombo
Kalonggo.
Letak puskesmas Wani kurang lebih 25 Km dari ibu kota Palu,
dengan batas wilayah sebagai berikut:
1. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Labuan.
2. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Palu Utara Kota Palu.
3. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Ampibabo dan
Kecamatan Parigi Mautong, dan
4. Sebelah barat berbatasan dengan kecamatan Palu Utara Kota Palu dan
Teluk Palu.
2.1.2 Keadaan Sosial Ekonomi
Secara umum keadaan sosial ekonomi masyarakat dapat dikatakan
hampir rata-rata berpenghasilan kecil. Mata pencaharian penduduk
sebagian besar adalah pertanian yang letaknya jauh dari pemukiman.
Dengan keadaan sosial ekonomi tersebut, maka sebagian besar masyarakat
berpendapatan musiman. Hal ini mengakibatkan beberapa kelompok
masyarakat kurang memperhatikan masalah kesehatan.
2.1.3 Keadaan Geografis
Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Wani Kec.
Tanantovea, sesuai data terakhir BPS tahun 2015 adalah 15.806 jiwa.
Sedangkan jumlah Kepala Keluarga untuk seluruh Kecamatan yaitu 4.286
KK dengan rata-rata jumlah penduduk per rumah tangga adalah 4 jiwa.

6
No Nama Desa Jumlah Dusun Jumlah Penduduk

1. WANI I 5 1.638

2. WANI II 4 2.867

3. WANI III 2 892

4. LUMBU MPETIGO 3 1.165

5. WOMBO MPANAU 2 1.142

6. WOMBO INDUK 3 1.183

7. WOMBO KALONGGO 3 809

8. NUPABOMBA 6 3.135

9. GUNTARANO 3 1.621

10. BALE 5 1.354

JUMLAH 36 15.806

Tabel 1. Jumlah Penduduk di Wilayah kerja Puskesmas Wani Tahun 2016

No Jenis Kelamin Jumlah Proporsi

1. Laki-laki 8.052 50,9 %

2. Perempuan 7.754 49,1 %

Jumlah 15.806 100 %

7
Tabel 2. Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Wani Berdasarkan
Jenis Kelamin Tahun 2016.

2.2 TUJUAN PROGRAM PENANGGULANGAN DBD


Adapun tujuan program penanggulangan DBD meliputi tujuan jangka
panjang dan tujuan jangka pendek. Tujuan jangka pendek adalah mengobati
pasien DBD dengan menghilangkan gejala. Sedangkan tujuan jangka
panjang adalah menurunkan angka kesakitan dan angka kematian yang
diakibatkan penyakit DBD dengan cara memutuskan rantai penularan
sehingga penyakit DBD tidak lagi merupakan masalah kesehatan
masyarakat Indonesia serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

2.3 PROGRAM PENANGGULANGAN DBD


Pada laporan menejemen ini yang akan dibahas tentang program
dengan indikator keberhasilannya. Adapun indikator program DBD di
Puskesmas Wani ialah :
1. Menurunkan angka kejadian DBD (IR) , 51 per 100.000 penduduk.
2. Menurunkan angka kematian akibat DBD (CFR) < 1%.
3. Menurunkan Angka Bebas Jentik (ABJ) > 95%.
4. Mencegah terjadinya KLB/Wabah penyakit DBD.

Berikut adalah program yang dilaksanakan di Puskesmas Wani yaitu :


1. Promosi Kesehatan
Sebagaimana yang tertuang dalam undang-undang BAB III Pengendalian
DBD pasal 4 tentang promosi kesehatan ialah :
(1) Promosi Kesehatan adalah upaya pencegahan DBD yang dilakukan
dengan cara memberikan penyuluhan, sosialisasi atau cara lainnya
kepada seluruh lapisan masyarakat yang dilaksanakan secara
berkesinambungan.
(2) Promosi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi
tanggung jawab SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah).

8
2. Pemberantasan sarang nyamuk (PSN)
3. Tercantum dalam undang-undang BAB III Pengendalian DBD pasal 5
tentang PSN 3 M Plus
(1)Kegiatan PSN 3 M Plus dilakukan untuk memutus siklus hidup
nyamuk penular DBD yang dilaksanakan paling singkat 1 (satu)
minggu sekali.
(2)Pemutusan siklus hidup nyamuk penular DBD sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) wajib dilakukan oleh perorangan, pengelola,
penanggug jawab atau pimpinan tempat kerja.
4. Penyelidikan Epidemiologi (PE)
Terncantum dalam undang-undang BAB III Pengendalian DBD pasal 10
tentang Penyelidikan epidemiologi :
(1)Penyelidikan Epidemiologi merupakan kegiatan pelacakan suspect
atau penderita DBD.
(2)Penyelidikan Epidemiologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan oleh petugas kesehatan/petugas puskesmas.
5. Pengasapan/Fogging
Terncantum dalam undang-undang BAB III Pengendalian DBD pasal 12
tentang Pengasapan/Fogging :
(1)Pengasapan/Fogging merupakan salah satu kegiatan penanggulangan
DBD yang dilaksanakan pada saat terjadi penularan DBD, dalam
bentuk :
a. Pengasapan/fogging focus; dan
b. Pengasapan/fogging massal pada saat terjadi KLB DBD.
(2)Pengasapan/fogging sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
merupakan kegiatan pengasapan secara serentak dan menyeluruh pada
saat terjadi KLB DBD
(3)Pengasapan/fogging sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan oleh petugas kesehatan.

9
(4)Masyarakat wajib membantu kelancaran pelaksanaa
pengasapan/fogging sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dirumah
dan lingkungannya.
6. Abatesasi dan Survei Jentik
Terncantum dalam undang-undang BAB III Pengendalian DBD pasal 6
tentang PJB :
(1)PJB wajib dilakukan oleh :
a. Jumantik, yang bertugas setiap minggu dengan target pemeriksaan
disemua rumah sesuai hasil kesepakatan yang berada di wilayah
kerjanya; dan
b. Petugas kesehatan/ petugas puskesmas, yang bertugas setiap 3
(tiga) bulan sekali dengan target pemeriksaan 100 (seratus) rumah
disetiap kelurahan yang dipilih secara sampling.
(2)Pemeriksaan dan pemantauan oleh jumantik sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf a, perlu dilakukan kegiatan sebagai berikut:
a. Memeriksa setiap tempat, media, atau wadah yang dapat menjadi
tempat perkembangbiakan nyamuk dan mencatatnya dikartu jentik
b. Memberikan penyuluhan dan memotivasi masyarakat; dan
c. Melaporkan hasil pemeriksaan dan pemantauan kepada Lurah dan
Camat.
(3)Jumantik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dibentuk
disetiap Kecamatan dan Kelurahan.
Tanpa penemuan kasus program pemberantasan tidak akan berhasil,
sehingga proses penemuan DBD oleh petugas sangat menentukan
keberhasilan program. Proses ini akan berhasil apabila kompetensi yang
mencakup pengetahuan, sikap petugas dan keterampilan petugas baik.
Tetapi kurangnya sumberdaya manusia, kesadaran dan pengetahuan
masyarakat mengenai penyakit DBD masih menjadi masalah.
Dengan demikian, berdasarkan uraian permasalahan di atas dibuat
perumusan mulai dari masalah yang utama serta masalah lain yang berkaitan
dengan kendala manajemen DBD di Puskesmas Wani, yaitu:

10
1. Masih banyak ditemukan area yang bisa menjadi tempat perindukan
nyamuk Aedes Aegipty.
2. Wilayah pemukiman semakin menggerus tempat perindukan alami dari
vektor nyamuk .
3. Masih kurangnya perhatian masyarakat terhadap pemeliharaan
kesehatan lingkungan khususnya kos-kosan dan usaha pengepul barang
bekas.
4. Masih banyak ditemukan rumah dengan jentik nyamuk.

11
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 INPUT
Adapun perangkat pelaksanaan manajemen Penyakit DBD di Puskesmas
Wani mulai dari sumber daya manusia (SDM), sarana prasarana, akses,
metode, pedoman pelaksanaan, dana, serta waktu pelaksanaannya. Untuk
sumber daya manusia program penanggulangan penyakit DBD di puskesmas
Wani dikelola oleh 1 pemegang kepala program dan 12 orang staff. Tenaga
kesehatan khusunya di puskesmas Wani sendiri sudah cukup memadai untuk
melaksanakan program penanggulangan DBD tersebut.
Untuk sarana dan prasarana di puskesmas Wani di mana ruangan poli di
puskesmas terbagi menjadi dua, yaitu poli anak dan poli umum. Di puskesmas
Wani alat dan bahan untuk pemeriksaan penunjang untuk DBD seperti
pemeriksaan darah rutin belum tersedia di laboratorium. Hal ini dapat menjadi
kendala untuk melaksanakan program penanggulangan DBD.
Untuk akses dalam penanggulangan program DBD dalam penemuan
kasus DBD, masih dapat di jangkau dan tidak mengalami kendala.
Tersedianya kendaran dinas yang ada di puskesmas Wani berupa motor
menjadi faktor penting dalam mengakses penderita DBD.
Metode yang digunakan dalam program penaggulangan DBD di
puskesmas Wani adalah metode skrining. Dimana petugas kesehatan nantinya
akan bekerja sama dengan bidang promkes untuk memberi penyuluhan
kesehatan mengenai DBD di masyarakat. Penemuan penderita DBD (case
finding), pengamatan dan monitoring dengan gejala klinis seperti seperti
demam tinggi mendadak, sakit kepala berat, nyeri persendian dan otot, mual,
muntah, dan dapat timbul ruam maka dilakukan pemeriksaan laboratorium
seperti pemeriksaan darah rutin terhadap penderita di puskesmas Wani, yang
nantinya akan dilakukan intervensi apabila hasil pemeriksaan darah
didapatkan penurunan nilai trombosit maka petugas kesehatan dalam hal ini
pemegang program penanggulangan DBD di puskesmas Wani akan

12
melakukan intervensi, pendataan atapun edukasi dalam hal ini untuk
pengobataan penderita DBD.
Dana yang digunakan dalam pengelolaan puskesmas berasal dari BOK.

3.2 PROSES
Dalam proses pelaksanaan program penanggulangan penyakit DBD di
puskesmas Wani menggunakan model manajemen POAC yakni Planning
(perencanaan), Organizing (pengorganisasian), Actuating (pergerakan-
pelaksanaan) dan Controlling (pemantauan).
Perencanaan pelaksanaan program penanggulangan penyakit DBD
berangkat dari berbagai permasalahan yang terkait monitoring dan evaluasi
pelaksanaan sebelumnya yakni berawal dari kendala yang menjadi
permasalahan yang telah ditentukan pada rapat koordinasi sebelumnya.
Berangkat dari permasalahan yang telah dirumuskan dalam rapat sebelumnya
maka kemudian dilakukan perumusan masalah utama sebagai prioritas yang
wajib ditangani terlebih dahulu untuk mencapai indikator keberhasilan yang
ditetapkan program penanggulangan penyakit DBD di puskesmas Wani.
Kemudian setelah ditentukan permasalahan utama sebagai prioritas
pelaksanaan utama, selanjutnya dilakukan rencana kerja operasional (RKO)
yang meliputi penentuan:
1. Jenis kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan
2. Lokasi kegiatan
3. Metode pelaksanaan
4. Sasaran penduduk
5. Penanggung Jawab
6. Dana dan sarana
7. Waktu Pelaksanaanya
Pengorganisasian pelaksanaan program penanggulangan penyakit DBD
di puskesmas Wani diinstruksikan dari kepala puskesmas sebagai pemegang
otoritas tertinggi, kemudian dari kepala puskesmas memilih pelaksana
program penanggulangan penyakit DBD terkait program ini. Adapun

13
pelaksana dari program ini adalah pengelola program penanggulangan
penyakit DBD yang juga bekerja sama dengan lintas program terkait seperti
bekerja sama dengan program promosi kesehatan.
Pedoman pelaksanaan program penanggulangan penyakit DBD di
puskesmas Wani mengikuti pedoman pengendalian penyakit demam berdarah
yang dikeluarkan oleh pemerintah Kota Palu sebagai acuan pelaksanaan
program seperti promosi kesehatan, Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN),
Fogging, Pelacakan Penderita (PE), Abatesasi dan Survei Jentik. Pada saat
petugas puskesmas turun untuk melakukan posyandu juga biasanya
didampingi oleh pemegang program penanggulangan penyakit DBD dan
bagian promosi kesehatan dengan tujuan melakukan penyuluhan tentang
penyakit DBD. Sehingga program ini biasanya dilakukan secara bersamaan
dengan program posyandu.
Pemantauan dari pelaksaanan program penanggulangan DBD di
puskesmas Wani dengan melakukan rapat dengan tujuan mengevaluasi
kembali kendala dan pencapaian target program penanggulangan penyakit
DBD di Puskesmas Wani.

3.3 OUTPUT
Adapun program kerja yang dilakukan di Puskesmas Wani terkait
dengan penanggulangan penyakit demam berdarah antara lain Pemberantasan
Sarang Nyamuk (PSN), Fogging, Pelacakan Penderita (PE), Abatesasi dan
Survei Jentik. Program ini dilakukan sekaligus pada tiap desa wilayah kerja
puskesmas Wani yang dikunjungi. Jika ada lebih dari 3 kasus pasien yang
sudah diagnosis dengan suspect DBD maka langsung dilakukan foging ke
rumah pasien tersebut oleh petugas Dinas Kesehatan setempat diikuti dengan
petugas kesehatan puskesmas Wani. Pada pelaksanaan program foging
sekaligus juga di ikuti dengan program lainnya.

14
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 KESIMPULAN
1. Dalam pelaksanaan program penanganan demam berdarah, perlu
memperhatikan program yang telah dicanangkan oleh pemerintah
dengan mengingat puskesmas merupakan tempat pelayanan primer.
2. Masalah penyakit demam berdarah dipengaruhi oleh berbagai faktor
seperti, faktor lingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan yang
saling berinteraksi secara kompleks. Oleh karena itu penanggulangan
masalah demam berdarah harus dilaksanakan secara menyeluruh dan
terpadu dengan pendekatan spesifik wilayah.
3. Peran serta dari berbagai pihak sangat dibutuhkan agar program kerja
dapat terlaksana dengan baik.

4.2 SARAN
1. Lebih sering melakukan kegiatan penyuluhan berupa penyuluhan
perorang terlebih ke rumah keluarga yang mengalami penyakit demam
berdarah, untuk menerapkan pencegahan penyakit demam berdarah.
2. Meningkatkan kegiatan promosi kesehatan mengenai pola hidup bersih
dan sehat seperti kebersihan lingkungan, pengelolaan air, dan
pengelolaan sanitasi.
3. Kegiatan penemuan pasien harus lebih sering dilakukan secara aktif
untuk menjaring pasien-pasien yang tidak terdeteksi dengan
penjaringan pasif.

15
16
DAFTAR PUSTAKA

1. Widyastuti, P., 2004. WHO Pencegahan dan Pengendalian Dengue dan


Demam Berdarah Dengue. EGC, Jakarta.
2. Yasmin, A., 2012. WHO Demam Beradarah Dengue, Diagnosis,
Pengobatan, Pencegahan, dan Pengendalian Edisi II. EGC, Jakarta.
3. Depkes, RI,. 2008. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta.
4. Fathi., Soedjajadi, K., Chatarina, UW., 2005. Peran Faktor Lingkungan dan
Perilaku Terhadap Peularan Demam Berdarah Dengue Di Kota Mataram,
Vol. 2, No. 1. Diakses dari: www.journal.unair.ac.id/filerpdf/kesling-2-1-
01.pdf. Pada tanggal: 12 September 2017.
5. Dinkes Sulteng,. 2014. Profil Kesehatan Sulawesi tengah. Palu.
6. Puskesmas Bulili. Profil Kesehatan Puskesmas Bulili. Palu : Puskesmas
Bulili. 2016
7. Suroso. Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Beradarah Dengue (PSN
DBD). Jakarta : Departemen Kesehatan. 2010
8. Edi Warsidi. Bahaya dan Pencegahan DBD. Bekasi : Penerbit Mitra Utama.
2009
9. Wali Kota Palu. Peraturan Daerah Kota Palu Nomor 2 Tahun 2016 Tentang
Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue. Palu : Provinsi Sulawesi
Tengah. 2016

17
LAMPIRAN

Dokumentasi Foto

Gambar 1. Foto bersama bapak pemegang penanggulangan penyakit DBD saat


turun ke rumah warga memberikan penjelasan penyakit tentang DBD

18
Gambar 2. Foto bersama warga saat memberikan penjelasan penyakit tentang
DBD

Gambar 3. Beberapa persediaan bubuk abate di Puskesmas Bulili

19