Anda di halaman 1dari 4

Insiden Keselamatan pasien harus memenuhi 4 kriteria;

1. Pasien dalam asuhan


2. Korbannya hanya pasien saja
3. Ada SOP yang dilanggar(tindakan yang tidak aman/unsafe action)
4. Cedera bukan karena faktor/kondisi pasien (tetapi dari provider)
Apabila dua kriteria, no. 3 dan 4 itu terpenuhi maka bisa dikatakan sebagai suatu insiden, baik
itu insiden KP atau insiden K3 Kedua nya harus memenuhi kriteria ini .
Contoh;
Ada puskesmas di suatu daerah yang diakreditasi tahun 2016 , membuat laporan KTD nya
pasien perdarahan pervaginam, tidak ada analisisnya dan tindak lanjutnya adalah di rujuk.
Kalau kita lihat dari kriteria 3, memang tidak ada SOP yang dilanggar/tidak ditemukan tindakan
yang tidak aman dari petugas puskesmas, sehingga tidak ada yang bisa dianalisis. Pasien yang
datang dengan perdarahan pervaginam adalah karena faktor kondisi pasien itu sendiri bukan
karena provider. Jadi kasus ini tidak memenuhi kriteria 3 dan 4, sehingga seharusnya tidak
dimasukkan sebagai suatu insiden.
Sedangkan untuk membedakan Insiden Keselamatan Pasien (KP) dan Insiden K3 cukup
menggunakan kriteria 1 dan 2 saja.
Kita simak kembali definisi Keselamatan Pasien menurut PMK No. 11 tahun 2017.
Keselamatan Pasien adalah suatu sistem yang membuat asuhan pasien lebih aman, meliputi asesmen
risiko, identifikasi dan pengelolaan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari
insiden dan tindak lanjutnya, serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan
mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau
tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

Dari definisi diatas ada dua kriteria yang harus dipenuhi untuk menggolongkan insiden dalam insiden
Keselamatan Pasien (KP) dan membedakan nya dengan Insiden Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
yaitu:

1. Yang terpapar atau akan terpapar insiden/korbannya, hanya pasien saja.


2. Pasien dalam asuhan.

Contoh cara membedakan:

a. Kasus pasien jatuh karena lantai licin (bisa KTC/KTD); siapa saja dapat jatuh karena lantai
licin baik petugas /keluarga pasien ataupun pengunjung, jadi tidak hanya pasien saja yang
dapat jadi korban. Sehingga kasus jatuh karena lantai licin sudah tidak memenuhi kriteria
nomor 1 ini, jadi dimasukkan dalam insiden KTC/KTD nya K3.
Ditinjau dari SMK3 lantai licin termasuk dalam lingkungan kerja yang tidak aman

b. Kasus pasien jatuh dari tempat tidur (KTC/KTD) harus dilihat kronologis insidennya terlebih
dahulu agar bisa mengkategorikan masuk dalam Insiden KP atau K3, kalau pasien jatuh
karena tempat tidur yg tidak mempunyai/kurang panjang handrailnya/pengaman,
dimasukkan dalam insiden K3, karena tidak hanya pasien saja yang dapat jatuh dari tempat
tidur yang seperti itu, orang-orang yang sehat atau yang terbiasa tidur di tempat tidur yang
lebar dan anak-anak lebih sering jatuh dari tempat tidur yang sempit dan tidak ada
handrailnya/pengamannya.
Jadi pada kasus ini walaupun memenuhi kriteria pasien dalam asuhan tetapi tidak
memenuhi kriteria hanya pasien saja.
Lihat juga pada PERMENKES NO 66 TAHUN 2016 Tentang K3 RS, dalam pelaksanaan rencana
K3RS (halaman 7 poin g ), tempat tidur pasien diatur dalam pengelolaan peralatan medis
dari aspek keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Tetapi bila kronologis insiden tersebut karena pasien yang sudah di identifikasi dan
mempunyai score risiko jatuh tinggi ( berdasar kan Morse Fall Scale) dan telah dipasang
tanda/gelang risiko jatuh(color armband) tetapi petugas lalai mengawasi pasien selama 24
jam, misalnya pada tengah malam pasien terjaga karena ingin BAK, sudah menekan bell
tetapi tidak ada perawat yang datang sehingga ia berusaha bangun dari tempat tidur untuk
pergi ke toilet kemudian jatuh. Ini termasuk insiden KP karena memenuhi dua kriteria ini,
pasien dalam asuhan dan hanya pasien saja(karena kondisi/penyakit pasien seperti itu)

Insiden Keselamatan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan meliputi;

Yang belum terpapar pasien;

1. KPC (Kondisi Potential Cedera / reportable circumstance)


2. KNC (Kondisi Nyaris Cedera / near miss)

Yang sudah terpapar pasien;

3. KTC (Kejadian Tidak Cedera/ no harm incident)


4. KTD (Kejadian Tidak Diharapkan/ harmfull incident /adverse event)

Contoh insiden KPC, KNC, KTC dan KTD yang masuk dalam insiden KP dan K3

KPC pada KP
Contoh;
a. Dalam ruang farmasi, susunan obat berantakan, penyusunan obat lasa tidak ditangani secara
khusus sehingga berpotensi terjadinya “tertukar atau salah ambil” obat oleh petugas saat akan
menyerahkan obat kepada pasien.
Pada contoh kasus ini telah memenuhi 2 kriteria diatas,
1. Seandainya obat tersebut diserahkan ke pasien dan digunakan, yang mungkin jadi korban
hanya pasien saja (bukan petugas atau pengunjung/keluarga pasien)
2. Hanya pasien yang dalam asuhan saja yang akan jadi korban karena ia yang akan
menggunakan obat tersebut.

b. Alat defibrillator di IGD rusak/tidak berfungsi,


Pada contoh kasus ini memenuhi 2 kriteria diatas;
1. Apabila ada pasien dengan ventrikel fibrilasi, alat defibrillatornya tidak bisa dioperasikan,
maka yang akan jadi korban hanya pasien saja.
2. Defibrillator akan dipakai hanya untuk pasien dalam asuhan yang membutuhkan.

KPC pada K3
Contoh;
1. Lantai Licin, berpotensi menyebabkan jatuh pada orang-orang yang lewat, tidak hanya pada
pasien saja. (tidak memenuhi kriteria no.1)

2. Tangga puskesmas yang terlalu curam (sudut kemiringan lebih 600 ), berpotensi terjadinya
kecelakaan pada semua orang, tidak hanya pada pasien saja. (tidak memenuhi kriteria no.1)

3. Pengambilan nomor antrian pada pendaftaran yang masih menggunakan thumbnail, berpotensi
cedera / ketusuk pada tangan tidak hanya pasien saja karena mungkin keluarga/pendamping
pasien yang mengambil nomor.
KNC pada KP
Contoh;
1. Seorang ibu menyerahkan resep anaknya yang sakit berumur 8 bulan. Ternyata dalam resep
tersebut dituliskan umur anaknya 8 tahun. Pada saat mau menyerahkan obat, petugas
memeriksa identifikasi anak dan menyadari adanya kesalahan identifikasi sehingga obat
tersebut tidak jadi diberikan. Pada contoh ini juga memenuhi 2 kriteria diatas, seandainya obat
jadi diberikan, yang akan jadi korban hanya pasien saja yang dalam asuhan (pasien dapat
pengobatan)

2. Seorang perawat akan memeriksa tekanan darah pasien, pada saat mau menggunakan
tensimeter tersebut, dilihatnya sudah melewati tanggal untuk dikalibrasi, sehingga ia
membatalkan menggunakan tensimeter tersebut. Seandainya perawat tidak memeriksa
tensimeter tersebut yang ternyata sudah tidak berfungsi baik sehingga menunjukkan hasil
pengukuran yang tinggi sekali dan dokternya memberikan obat Anti hipertensi, yang akan jadi
korban hanya pasien saja yang dalam asuhan.

KNC pada K3
Contoh;
Mobil ambulance saat mau dipakai untuk merujuk pasien rawat inap ke rumah sakit, sopirnya
menyadari remnya blong sehingga tidak jadi dipakai, seandainya sopir tidak mengecek rem,
langsung saja berangkat dan terjadi kecelakaan, yang mungkin menjadi korban tidak hanya
pasien saja bisa juga sopir/petugas pendamping walaupun pasien dalam asuhan. (tidak
memenuhi kriteria no.1)

KTC pada KP
Contoh;
Di pelayanan farmasi, ada dua pasien dewasa mempunyai nama yang sama, yang satu dapat tablet
paracetamol sedangkan yang satunya lagi dapat capsul amoksisilin. Petugas tanpa mengecek
identifikasi lain menyerahkan obat paracetamol kepada pasien yang dapat resep amoksisillin dan
sebaliknya. Setelah pasien pulang, petugas menyadari bahwa adanya kekeliruan, maka segera
menyusul kerumah kedua pasien tersebut. Keduanya telah memakan obat tersebut tetapi keduanya
tidak mempunyai keluhan atau masalah. Seandainya obat tersebut menyebabkan masalah yang jadi
korbannya hanya pasien saja dan dalam asuhan.

KTC pada K3
Contoh;
1. Pasien rawat inap jatuh dikamar mandi karena lantai licin tetapi tdak cedera (dapat terjadi pada
semua orang) jadi tidak memenuhi kriteria no.1
2. Pasien yang jatuh dari tangga tetapi tidak cedera (dapat terjadi pada semua orang) jadi tidak
memenuhi kriteria no.1
KTD pada KP

Pasien yang mempunyai riwayat allergi Penicillin, sudah tercatat dalam rekam medik,kemudian
dokter tanpa melihat RM nya meresepkan Penicillin, setelah disuntikkan pada pasien, timbul
reaksi anafilaktik.(memenuhi kriteria 1 dan 2)

KTD pada K3

Pasien yang menunggu antrian resep jatuh dari kursi logam yang tiba-tiba patah kakinya dan
menyebabkan luka robek. (walaupun pasien dalam asuhan tetapi tidak memenuhi kriteria no.1)

Kejadian sentinel merupakan suatu Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) yang mengakibatkan kematian,
cedera permanen, atau cedera berat yang temporer dan membutuhkan intervensi untuk
mempetahankan kehidupan, baik fisik maupun psikis, yang tidak terkait dengan perjalanan penyakit
atau keadaan pasien.

Kejadian sentinel juga dapat disebabkan oleh hal lain selain Insiden.
Perkosaan /tindakan kekerasan terhadap pasien, staf, maupun pengunjung. Selain contoh kejadian
sentinel diatas terdapat kejadian sentinel yang berdampak luas/nasional diantaranya berupa
Kejadian yang sudah terlanjur di “ blow up” oleh media, Kejadian yang menyangkut pejabat, selebriti
dan publik figure lainnya,

Referrensi

1. PMK No. 11 tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien


2. PMK No.66 tahun 2016 tentang K3RS
3. PPT. dr Adib Abdullah tentang Patient Safety

Disarikan oleh Marwan Siddik UKP Nasional