Anda di halaman 1dari 21

Light of the Sanctuary, halaman 43-45

KUNJUNGAN KE BOROBUDUR

Tahun tiga puluhan

Dalam kesempatan ceramah keliling di Jawa pada tahun 1933, dilakukan kunjungan ke Candi
Buddhis yang besar yang dikenal sebagai Borobudur. Disadari keberadaan seorang Dewaraja yang besar
—makhluk yang sangat agung— dan dua syair telah ditulis sebagai hasil kunjungan ini, yang dimuat dalam
majalah The Theosophist 1934. (lihat halaman-halaman berikut).

Baru-baru ini (1936?) dilakukan kunjungan kembali ke candi tersebut. Saat itu kami diterima
kembali oleh-Nya dan kami coba untuk mendapatkan gambaran dari Dewa tersebut, juga untuk menerima
kearifan dari beliau.

Ketika menyatakan diri-Nya kepada penulis, dengan ramah beliau turun ke tingkat kesadaran
penulis. Dewa yang agung ini penampilannya jelas maskulin dan berciri Indo-Arya. Beliau mungkin seorang
Dewa Kearifan, karena sinar emas dari Buddhi bersinar dari seluruh diri-Nya, menyala melalui kalangan
(lingkaran cahaya) berturut-turut merah jambu yang lembut, hijau lembut, dan putih menyilaukan yang
membentuk auranya. Pancaran api putih bebercak emas mengitari bentuk pusatnya, kemudian kalangan
besar yang kuning diikuti warna-warna lain, keseluruhannya menampilkan warna dan cahaya keindahan
langit saat matahari terbenam. Sinar putih seperti berkas lampu sorot memancar dari bentuk pusat, dan
tampaknya seperti timbul dari situ.

Beberapa di antara berkas sinar itu memancar ke atas, lainnya mendatar di atas pulau Jawa dan
lautan di sekitarnya, dan yang lain lagi menembus kedalaman bumi. Sinar itu makin melebar ketika
menjauh dari pusatnya.

Semua kehidupan sejauh bermil-mil, khususnya kehidupan dewata/peri, dipercepat oleh cahaya
dan daya Dewa Borobudur. Saya kira beliau adalah kepala kehidupan dewata di pulau ini, maupun di
lautan sekitarnya, benar-benar seorang Dewaraja.

Suatu bintang perak selalu berkilat memancar di atas kepalanya, sedangkan daya-daya yang
besar, berwarna putih dan emas, seperti api dan berbentuk kelopak, bermain di sekitar kakinya, seakan
beliau berdiri dalam bunga teratai (lotus) yang besar yang terbentuk dari api.

Dalam aura pusat ada bentuk pikiran Buddha, duduk dalam sikap meditasi. Ini adalah wahana
pada tingkat mental rendah, untuk hidup Buddha yang senantiasa dimeditasikan Dewa itu.

Kontak dengan kesadaran Makhluk Agung ini menimbulkan pemikiran berikut, seakan beliau
berkhotbah bagi semua aspiran, suatu khotbah singkat tentang pencerahan batin dan Marga
Kesunyataan.

"Meski bagi manusia pencapaian kecerahan batin tampak jauh, dalam masa di luar belenggu
waktu, kecerahan batin bagi semua berada di sini dan kini, di dalam diri sebagai fakta yang hidup, suatu
daya untuk mencapainya.
"Maka di dalam dasar dirimu, sebagaimana dalam stupa-stupa yang kau lihat, bersemayam
seorang Buddha, terbentuk lengkap meski sebagian tersembunyi.

Rahasia pencerahan batin dirimu sendiri adalah keberadaan Buddha yang akan datang dalam
dirimu. Sebagaimana kau harus memandang ke dalam bentuk stupa, menembus kerawang penutup
dengan matamu, demikian pula dengan mata pikiran dan kemauan pandanglah ke dalam dan sadarilah
kearifan yang terkandung berada di dalamnya, yang adalah dirimu sendiri, Buddha yang kau akan jadi
dalam waktu yang yang tanpa hitungan dan yang akan kau wujudkan dalam batasan waktu.

Tatapkan pandangan jiwamu pada pola dasar Buddha ini. Tinggallah setiap hari, setiap jam dalam
kehadirannya, hingga pikiran dan kemauan bergabung untuk melahirkan dalam diri luarmu, Buddha yang
adalah Diri batinmu, kemudian biarkan angan-angan melayang ke dalam ke-Buddha-anmu.

Gambarkan dirimu bagaikan kini menjalani kehidupan Buddha, bergerak di antara manusia seperti
halnya Buddha. Lakukanlah hal ini dengan kemauan dan pikiran yang tak berubah-ubah, hingga dalam
kenyataan kedua ini menimbulkan dalam dirimu Buddha yang hidup.

"Maka waktu tidak lagi membelenggumu. Maka masa datang akan berpadu dengan masa kini,
dengan dirimu di pusatnya, sadar akan keduanya sebagai kini yang abadi. Masa lalu kusarankan untuk
dilupakan saja, dimusnahkan sama sekali, dihapus dari lembaran pikirmu, sebagaimana perancah
dibongkar dan disingkirkan setelah memenuhi kebutuhan si pembangun. Masa lalu mati bagimu.
Demikian pula masa kini dan yang akan datang akan menghilang ketika kau belajar menghayati hidup
dalam kepenuhan yang merupakan kini yang abadi.

"Dunia kini gelap; dan mungkin menjadi lebih gelap. Bahaya yang suram mengancam kehidupan
manusia, kemajuan manusia, kedamaian manusia. Daya kekuatan lawan berkumpul untuk suatu konflik
yang mungkin paling besar dan paling akhir dari perang (skala) planet yang dilancarkan di bumi.

Bila cahaya menang, bila persaudaraan dan kedamaian unggul, sebagaimana hampir pasti akan
terjadi, maka lawan-lawan Hukum yang terorganisir sebagai musuh manusia, akan menghadapi kekalahan
yang akan mengakhiri kebencian massal, kekejaman massal, dan permusuhan terhadap Cahaya. Sesudah
itu Hukum Agung akan unggul.

"Andai kau dapat melihat seperti kami yang berdiri di atas konflik, mewakili Hukum, bagaimana
setiap pikiran dan perbuatan yang menyatukan dari setiap orang, betapa pun sederhana asal bersungguh-
sungguh, memainkan bagian yang penting—bahkan dapat kukatakan bagian yang dahsyat—dalam
membawa kemenangan bagi fihak Cahaya dan Hukum. Kerjamu akan lebih terinspirasi, kemauanmu lebih
bergairah, keyakinanmu lebih berapi-api dan hidupmu lebih dipenuhi daya kekuatan.

Karena itu majulah tambah kekuatan, semangat lebih besar, disiplin diri yang tetap, melupakan
diri dalam pengabdian, merencanakan, memikir, bekerja demi Cahaya dan Hukum serta dalam nama
Mereka yang adalah Cahaya dan telah menjadi Hukum. Untuk semua karyamu terimalah berkah, damai,
keindahan, dan daya kekuatan Borobudur."

Pada kesempatan lain beliau berkata, "Kau akan membantu menyingkirkan kabut awidya dan
takhayul yang meliputi Jawa, dan membangkitkan kesadaran dalam kalangan atas akan kerugian praktik
korban darah terhadap jiwa nasional dan melaluinya terhadap kesehatan dan kesejahteraan rakyat; juga
dalam menunjukkan fakta-faktanya kepada mereka. Pejabat pendidikan dan anggota sanggar-sanggar
Theosofi adalah agen yang paling dapat diharapkan untuk tugas itu. Bila bersatu, kelompok-kelompok
kebatinan yang terorganisasi dengan baik dan terinformasi dengan baik akan sangat membantu dengan
kegiatan yang teratur dan tetap melalui garis-garis yang disarankan, dan dengan pemancaran Daya dan
Cahaya ke atas pulau (Jawa) setiap hari.

KINI YANG ABADI

(Meditasi di Borobudur)

"Belajarlah untuk hidup dalam penghayatan kepenuhan yang merupakan kini yang abadi."

Dalam kata-kata ini Dewa Agung dari Borobudur bicara tentang tujuan hidup manusia.

Meditasi tentang kata-kata ini mengungkapkan bahwa semuanya ada sepenuhnya sepanjang waktu,
karena itu setiap saat mencakup keseluruhan, membabarkan keseluruhan.

Pembagian waktu dan pemisahan diri diciptakan oleh pikiran.

Di atas kawasan mental hal itu menghilang.

Dalam tingkat karana (mental luhur) hal itu masih ada sebagai konsep tetapi bukan sebagai faktor yang
menguasai kesadaran, yang pada tingkat itu sudah bebas dari waktu dan keterpisahan

Di atas tingkat karana, diperoleh keseluruhan. Tumbuh kembang berubah menjadi keberadaan yang
lengkap sepenuhnya.

Karena kepenuhan ini tidak bersangkutan dengan waktu, maka selalu ada.

Maka setiap saat mengandung keseluruhan.

Setiap detik kesadaran penuh dengan seluruh Tata Surya dari tingkat Adi hingga fisik padat dan dari fajar
Manwantara hingga ke malam Manwantara.

Keinsyafan akan hal ini semata-mata adalah masalah kesadaran.

Faktanya ada dan siap untuk diketahui, bagai matahari bagi orang buta, bagai matahari yang bersinar bagi
orang yang dapat naik di atas rotasi sebuah planet.

Semua ada pada saat yang sama seperti halnya seluruh Tata Surya fisik bagi suatu kesadaran yang berada
di matahari yang sadar di dalam dan melalui semua berkas sinarnya.

Semua ada pada saat yang sama, dalam keadaan yang berkembang sepenuhnya, bagi kesadaran yang
melampaui waktu dan ruang.

Hidup dalam kepenuhan saat ini adalah Nirwana, tujuan.


DI BOROBUDUR

Selama kunjungan ke Monumen Agung di Jawa belum lama berselang, kami ajukan permohonan
kepada Dewa yang mengayomi untuk memberikan interpretasi beliau tentang perlambang candi itu.

Berikut adalah jawaban beliau sejauh penulis mampu menerima dan menerjemahkannya ke
dalam kata-kata. Tak perlu dikemukakan bahwa banyak di antara kearifan dan keindahan jawaban itu
hilang dalam proses ini.

Apa yang tinggal dipersembahkan di sini dengan harapan bahwa kilasan cahaya batinnya masih
dapat ditangkap.

PENCERAHAN

"Tak mengenal waktu dan ruang riwayat Buddha,

Benar dalam keabadian;

Bukan dari satu manusia saja, tetapi bagi semua manusia;

Bukan dari satu dunia saja, tetapi bagi semua dunia,


Bahkan yang tak tampak.

"Semua Surya suatu ketika menjadi Buddha; sungguh kini pun Buddha

Bersinar tidak sendiri seperti Gusti kita pada satu bumi.

Tetapi pada (bumi) yang banyak yang adalah badan-badan Sang Surya.

"Ke-Buddha-an adalah menyelesaikan seluruh kehidupan,

Tujuan semua makhluk;

Dan tentang pencerahan ada tingkatannya.

“Di sini diabadikan dalam keindahan, terpahat dalam batu,

Drama yang kekal,

Riwayat semua pencerahan,

Dari manusia, dari dunia-dunia, dari Surya-surya.


MARGA (JALAN)

"Semua yang diciptakan pertama-tama harus turun

Dari kawasan keabadian

Ke dalam kawasan waktu,

Melewati Maya, Ibu abadi,

Ketika mereka turun.

"Lahir ke dalam khayalan, terpenjara dalam waktu,

Penghuni keabadian, memenangkan kebebasan,

Melaju dari istana impian

Ke dalam kebebasan dari Kesejatian.

"Riwayat semua Buddha

Adalah riwayat perjalanan

Dari yang khayal ke kesunyataan,

Dari yang fana ke keabadian.

"Setiap kejadian di atas Marga

Adalah pengalaman yang datang pada semua,

Tahapan yang semua harus lalui;

Karena hanya ada satu jalan menuju ke-Buddha-an.

"Semua yang meniti jalan itu harus bertemu hambatan yang sama,

Menghadapi godaan yang sama,

Mengenal pertengkaran dan keletihan yang sama;

Seperti juga pada akhirnya, semua di bawah pohon Bodhi

Harus mencapai Pencerahan tertinggi.


PENURUNAN

"Meski direka sebagai segi empat,

Candi tampak bagai bulat

Untuk melambangkan kesunyataan identitas

Bentuk dan Hidup :

Perpaduan keabadian dengan waktu.

"Demikian candi ini alam semesta dalam miniatur,

Lambang penciptaan

Dan semua yang diciptakan;

Namun di atas semua,

Lambang Marga (Kesunyataan).

"Titik tertinggi, puncak yang agung

Yang memahkotai Borobudur,

Melambangkan ITU dari mana semua berasal.

"Bentuk stupa menunjukkan dengan sempurnanya

Bentuk pertama*) yang diambil kehidupan,

Memasuki Maya ruang.

"Setiap serambi berturut menggambarkan tingkat-tingkat penurunan,

Angka dasar dan asas-asas

Terbangunnya alam semesta

Dan diisi kehidupan.


"Setiap stupa melukiskan,

Dalam proporsi maupun rupa,

Pola dasar,

Ekspresi pertama, dalam kawasan waktu,

Dari kesunyataan yang abadi.

"Karena itu dalam setiap stupa ada Buddha,

Menarik diri dari ruang dan waktu, namun ada di dalam,

Diam dan tak tampak,

Kecuali bagi mereka yang menengok ke dalam bentuk dan melihat kehidupan.

"Demikian dilukiskan kesunyataan

Bahwa dalam setiap Buddha yang fana dan yang abadi bertemu.

"Teratai dengan dasar segi empat melambangkan materi yang dibuahi,

Ruang yang dicetak jadi bentuk,

Menerima dari atas

Kesan roh yang turun.

*) Atom ultimat pada setiap kawasan alam.

"Dan dari penyatuan suci ini

Para Buddha dilahirkan.

Meski di sini di kawasan pola dasar

Mereka masih tinggal dalam rahim,


Menunggu saat :

Tinggal di antara dua keadaan

Dari waktu dan tanpa-waktu,

Seperti dilakukan setiap Buddha,

Mewujudkan daya-daya keabadian

Semasa hidup dalam dunia-dunia waktu.

"Di bawah serambi agung ketiga

Keabadian ditinggalkan,

Meski masih dapat dijangkau, masih tampak

Bagi mereka yang mau menengok ke atas

Ketika mereka turun.

"Dunia pola dasar kini menghilang,

Dunia bentuk yang terlihat,

Yang universal menjadi individual,

Esensi yang terkhususkan.

"Sejak itu terjadi suksesi,

Drama kehidupan diawali

Karena itu, ketika manusia menuruni tangga batu ini,

Ia menapaki dalam perlambang

Jalan yang sama yang suatu ketika ia tempuh

Ketika ia tampil keluar.

Bila ia naik ia mendaki dalam ramalan

Marga setapak untuk kembali.


KEMBALI

"Banyak Buddha telah menempuh jalan mendaki itu

Dan banyak yang masih tinggal untuk menunjukkan jalan,

Karena itu banyak patung Buddha

Yang deret demi deret,

Menghiasi candi,

Lambang mereka Yang Dicerahkan,

Yang telah mencapai (tujuan).

"Setiap kejadian yang dilukiskan dalam hidup Buddha

Adalah sebenarnya rambu dan tingkatan,

Pencobaan dan titik balik

Yang umum bagi kehidupan semua.

"Jadi juga dalam monumen ini

Yang individual dipadu dengan yang universal,

Keabadian dengan waktu.

RIWAYAT

"Dia yang diilhami yang pertama membayangkan candi ini,

Melihat jelas Kesunyataan ini,

Menjadi tercerahi dengan asas

Pembentukan semua dunia.

"Ini dicerminkan di Borobudur

Bayangan yang ditempa dalam batu.


"Dengan bakti pada Buddha

Yang mengilhami bayangannya,

Sang seniman membuat monumen ini

Sebagai penghargaan atas Pencerahan Gustinya :

Memilih riwayat hidup Beliau

Untuk melambangkan Marga

Yang melaluinya Pencerahan akan datang pada semua.

"Persembahan ini diterima Gusti kami,

Diberkahinya perancang atas rancangannya,

Diilhami pemahat dan pembangun,

Ketika banguan luhur ini membentuk.

"Suatu relik dari hidup Beliau yang terakhir di bumi,

Suatu azimat yang kuat

Terpendam di bawah pusat candi.

"Demikian daya Sang Suci

ditegakkan di sini

Dalam lambang dan kenyataan.

"Demikian melalui seni sempurna,

Ketepatan angka,

Perbandingan yang tepat,

Dan perpaduan selaras dari yang banyak menjadi satu,

Kedamaian dari yang abadi

Tinggal dalam monumen sepanjang waktu.


"Melalui daya kekuatan,

Di dalam keindahan dan kedamaian,

Kehadiran Penguasa Cahaya

Bersemayam di Borobudur.

KEPADA PENGUNJUNG

"Bila kau pergi kembali

Ke dalam dunia sibuk manusia,

Ingatlah akan Borobudur;

Karena dengan mengingatnya

Dayanya, keindahannya dan kedamaiannya

Akan masuk dalam dirimu

Memantapkan dirimu pada marga

Yang menuju ke-Buddha-an bagimu.

"Damai bagi semua makhluk,

Damai, Damai, Damai!"

The Theosophist, Februari 1934

DEWA BOROBUDUR

SANG DEWA

"Di sini, di tempat yang suci ini,

Aku berjaga selama berabad-abad,

Mematuhi Penguasa Cahaya.


"Demikian aku mengabdi, diabadikan dalam Keindahan,

Menunggu Hukum terpenuhi.

"Hukum itu adalah pencerahan dunia

Di hadapannya kegelapan akan menghilang.

"Seperti Beliau, Yang Suci,

Mencapai pencerahan-Nya,

Begitu pun seluruh dunia.

"Semua manusia, bahkan sampai yang terendah,

Suatu hari harus berdiri di mana kini Beliau berdiri

Yang menjadi Penguasa Cahaya.

"Untuk ini Beliau menanti.

Di sini pun aku harus menanti

Mengabdi pada-Nya.

CANDI

"Ini adalah pusat daya kekuatan-Nya,

Dan daya kekuatan semua Tathagata

Ras terhebat yang pernah hidup di dunia.

"Di sini, diabadikan dalam batu,

Penyempurnaan Dirinya dalam sapta-ganda.


"Di sini kemuliaannya digelarkan

Bagi mereka yang punya mata untuk melihat.

"Di sini Ia membimbing manusia ke pencerahannya,

Mereka yang punya kekuatan untuk mendaki.

"Di sini Ia masih bicara dan mengajar

Bagi mereka yang punya kuping untuk mendengar.

“Karena itu tempat ini dinamakan Boro-budur,

"Kehadiran Buddha".

"Karena di sini Ia bersemayam

Sampai Kehadirannya dalam hati setiap manusia

Membawa pencerahan.

UMAT MANUSIA

"Aku, pengawal candi selama berabad-abad,

Berusaha melestarikan kesuciannya.

"Maka, aku minta pada manusia,

Agar jangan ada kata atau pikiran atau kehendak mereka

Yang akan pernah mengotori tempat suci ini.

"Lebih-lebih aku minta dari manusia,

Agar semua yang berkunjung di sini

Meninggalkan berkahnya pada candi ini


Dan padaku, Dewa Pengawalnya.

"Dan sebagai balasan berkah Sang Suci

Akan dicurahkan melalui diriku,

Untuk diteruskan ke dalam dunia.

"Bagi semua yang masuk ke sini

Sesudah itu menjadi utusan daya kekuatan candi,

Dan berkah Penguasa Cahaya.

"Damai bagi semua makhluk!

Damai, Damai, Damai!"

MEDITASI TENTANG BOROBUDUR

1. Hukum

Perlahan umat manusia bergerak, tanpa mengenal Hukum dan tak tahu jalan, di bawah banyak
derita menuju terpenuhinya tujuan.

Di atas segalanya ajarkanlah kepada manusia, Hukum yang tak memihak, tak berubah, cermat,
seperti telah dilakukan Sang Guru.

Mereka, yang mengenal Hukum dan menggunakan pengetahuannya dengan arif, baik sebagai
individu atau sebagai bangsa, menemukan di dalamnya jalan menuju kebahagiaan dan kebebasan.

Karena itu pelajarilah selalu adanya Hukum, yang akan tampil sebagai lawan atau kawan, menurut
apa dilanggar atau dipatuhinya.

Kepatuhan tak menuju perbudakan, tetapi kebebasan, tak menuju penindasan, tetapi
pembebasan.

Dalam Hukum itu termasuk kelahiran kembali, yang merupakan akibatnya; karena Hukumlah yang
membawa manusia selalu kembali ke bumi, sebagaimana juga Hukumlah yang membebaskannya dari
roda kelahiran kembali.

Manusia sempurna adalah Mereka, yang telah menjadi Hukum, yang tindakannya di setiap kawasan
merupakan pencerminan sempurna dari Hukum itu.
Inilah rahasia keempuan—identik dengan Hukum. Seorang Empu adalah Hukum.

Meskipun Hukum itu abstrak dan tak tersentuhkan, Ia merupakan landasan pijak dibangunnya
semesta yang konkret dan dapat diamati.

Hukum itu adalah asal impersonal dari semua makhluk.

Hukum itu mengakibatkan perubahan dalam dan dari Daya Pikir yang Satu, yang menjadikan
individualitas dan yang menyebabkan khayalan keakuan.

Individualitas adalah hasil suatu gangguan dalam keheningan Daya Pikir yang Satu, suatu nada
sumbang dalam harmoni Alam.

Karena kerjanya Hukum hal ini menjadikan keberadaan sementara (yang batas keberadaannya
ditentukan oleh pembatasan atau oleh luasnya kawasan irama yang terputus).

Gangguan diakibatkan oleh tindakan manusia, hingga terjadi gerakan dalam Daya Pikir Tunggal,
yang dirinya sendiri tanpa tindakan dan tanpa gerak.

Seusai tiap gerakan harus diikuti pengembalian pada ketenangan, seperti sebelumnya dan dari
mana gerakan itu timbul.

Yang disebut karma oleh manusia—akibat tindakan—sebagian besar terjadi dari pemaksaan
kembali pada ketenangan oleh Hukum.

Tugas Hukum adalah melestarikan irama yang sempurna, di mana Daya Pikir yang Tunggal
membabarkan diri.

Bilamana irama itu terganggu, Hukum itu segera tampil memulihkannya. Inilah yang
mengakibatkan derita.

Sakit dan derita diakibatkan oleh tindakan yang dilakukan dalam khayalan individualitas dalam
hewan dan manusia.

Maka jalan pembebasan dari derita sangat jelas. Yaitu dalam menaklukkan khayalan, dan
menjadikan setiap pikiran ungkapan selaras dari Daya Pikir yang Tunggal.

Dia, yang dapat menjadi sarana kerja Daya Pikir dengan sempurna dan di mana tidak dijumpai
rintangan individualitas, berada dalam keadaan berkah abadi, menikmati kedamaian dari Itu, yang tanpa
diri, tanpa tindakan, diam tenang.

Kesadaran individualitas pada manusia itu sendiri tidak buruk, itu hanya tahapan pertumbuhan,
yang dalam kehidupan tanaman sama dengan pembentukan batang yang kemudian menimbulkan dahan,
daun, dan bunga, yang merupakan pengungkapan sempurna dari hidup tanaman.

Individualitas hanya merupakan sumber duka, bila terlalu ditekankan atau diterus-teruskan
dengan tak wajar dan karena itu menimbulkan nafsu-diri, persaingan, dan pertentangan.

Pada ketinggian mana pun bertarung, di situ ia mengganggu harmoni Daya Pikir yang Tunggal.
Maka Hukum akan segera bekerja dan memulihkan harmoni dengan kekuatan yang tak dapat
dilawan. Usaha manusia untuk melawan kerjanya Hukum ini, meski tak disadari, adalah sumber segala
deritanya.

Penyerahan sepenuhnya pada Hukum, koreksi diri tanpa syarat adalah cara yang paling efektif
untuk menghapuskan derita.

Namun pengetahuan tentang Hukum itu perlu untuk menerapkannya. Karena itu ajarkanlah
Hukum itu kepada manusia.

2. Kesatuan

Pada sanggahan, bahwa manusia bila ia hidup dengan cara ini, selalu patuh selalu diam, hanya
sebagai ungkapan Diri Luhur, akan terhenti dan menjadi non-pribadi (kehilangan kepribadian), dapat
diberikan dua jawaban.

Pertama bahwa, betapa pun aneh kedengarannya, memang tujuan akhir keberadaan manusia
adalah untuk menjadi non-pribadi, berdiam diri, itulah satu-satunya jalan menuju berkah dan damai
sempurna.

Kedua, bahwa berpegang berlebihan dan abnormal pada individualitas itulah yang
mengakibatkan sesat.

Perasaan sementara sebagai pribadi yang terpisah dan semua yang diakibatkannya dalam pikiran,
perasaan, dan tindakan, termasuk nafsu-diri, dapat diduga, memang merupakan bagian dari proses
evolusi.

Selama masa ini Hukum mengajar melalui nikmat dan derita. Bila manusia menonjolkan
pribadinya dan terlalu memikir diri sendiri, berlebihan berusaha maju, dan karena itu suka berkelahi, maka
ia melewati hal-hal yang penting bagi pertumbuhannya, seperti tanaman yang ingin tetap menjadi tangkai
dan menolak untuk membentuk daun dan kuncup, agar kepribadian batang yang tergaris jelas tidak hilang
dengan timbulnya daun dan kuncup.

Manusia primitif bersatu bekerja sama dalam lingkungan sukunya, di luar itu dia suka berkelahi;
manusia setengah beradab suka berkelahi di dalam maupun di luar lingkarannya.

Manusia beradab seharusnya bersatu bekerja sama dengan setiap orang, baik yang di dalam
maupun di luar batasan, yang terbentuk oleh keluarga dan bangsa, sedangkan pada manusia yang tinggi
peradabannya rasa bersaing sudah lenyap sama sekali.

Kesesatan dasarnya adalah penerusan dan perluasan individualitas yang melebihi batas dan
abnormal; tak terhindarkan, dari persaingan dan pertentangan akan timbul duka.

Bangsa-bangsa yang memimpin dunia masa kini mendekati tahapan itu dalam pertumbuhannya—
beberapa bangsa memang sekarang sudah bisa memasukinya—di mana kerja sama menjadi nada dasar
kehidupan.

Mereka memperlambat kemajuannya sendiri karena tak mampu menyadari, bahwa bukan dalam
persaingan, tetapi dalam kerja sama letak pencapaian hidup pribadi ... dan nasional;
Mereka yang menyadari namun tetap bersiteguh dalam individualisme, adalah pelanggar-
pelanggar serius dan memberikan kerugian terbesar pada diri sendiri.

Meskipun demikian ras manusia bergerak maju, perwujudan hidup tak dapat disangkal;

Hukum selalu maju dengan cara kerja mendidik. Sebagai guru ia menjelaskan pengetahuan
tentang kebahagiaan, sebagai pemimpin ia menjiwai kesunyataan-kesunyataan yang harus ia ajarkan.

3. Penyerahan Diri

Kebahagiaan tertinggi hanya dialami oleh mereka, yang padanya tak ada lagi keterpisahan, yang
tak lagi sadar akan diri.

Karena kebahagiaan adalah pengaliran bebas dari Hidup yang Satu.

Alam itu beruntung karena mereka, berhubung tak punya daya pikir, tak punya sadar-diri dan
karena itu tak menghambat arus Hidup yang mengalir abadi.

Munculnya daya pikir dan perkembangannya, yang diawali pada hewan, membawa kesadaran
akan rasa sakit. Berat timbangan pikir terhadap rasa dan naluri memperkuat kesadaran akan keterpisahan
dan karena itu akan pengalaman sakit dan duka.

Proses ini berlangsung terus meskipun telah dibimbing dan diberi pelajaran oleh mereka yang
telah menemukan jalan berkah yang tak terucapkan.

Akibat dari dukanya sendiri dan duka orang-orang lain adalah bahwa manusia terbawa untuk
mencari jalan yang menuju pembebasan dari derita.

Pertama-tama pencarian itu bersifat pribadi, pengejaran individu atau kebahagiaan individu dan
karena itu terpidana untuk gagal.

Kegagalan itu pada gilirannya adalah alasan untuk mencari lebih dalam, dilandaskan atas
kesadaran yang mendobrak bahwa di mana ada kesatuan hidup, juga harus ada kesatuan duka dan karena
itu kesatuan berkah.

Dan kemudian mulailah pencarian yang sebenarnya, bukan demi kebahagiaan individu tetapi
kesejahteraan bagi keseluruhan.

Demi pencarian yang sebenarnya itulah Gusti kita beranjak, tidak mencari kemenangan bagi diri sendiri,
tetapi pembebasan bagi dunia yang menderita.

Mencari-cari demikian dengan duduk di bawah pohon Bodhi, Beliau menemukan dan masuk ke
dalam kedamaian yang tak dapat diganggu.
Di Mana Letak Keberhasilannya?

Bahwa Beliau kehilangan diri dan ditemukan Diri yang lebih besar. Satu dengan Diri yang lebih
besar itu, Beliau tak terpengaruh godaan, kebal terhadap nafsu.

Kedua sifat ini, tangan kanan dan kiri dari diri yang terpisah, tak lagi dapat menariknya kembali ke
dalam keterpisahan.

Apa yang Beliau lepaskan, tak lagi dapat merintangi jalannya.

Demikianlah Beliau menemukan pencerahan, anak tangga demi anak tangga, dan setiap anak
tangga ditandai dengan pembebasan baru dan rintangan-rintangan yang menghambat, hingga akhirnya
semua rintangan diatasi dan tak ada sedikit pun keterpisahan semu yang tinggal.

Karena bebas, Beliau satu dengan Hidup yang bebas dalam semua bentuk.

Karena itu Beliau memiliki Kebahagiaan yang sempurna.

Inilah Jalan, jalan satu-satunya menuju Ke-Buddha-an.

Penyerahan diri pribadi tidak mengakibatkan kehilangan, tak ada yang lenyap, tetapi tercapai
perluasan tanpa nafsu sedikit pun akan keuntungan.

Tanpa-diri adalah keadaan yang paling besar dan paling tinggi.

Bila manusia yang semula individual menjadi keseluruhan, ia bebas dari keseluruhan, dari semua,
yang menjadikan keseluruhan.

Dalam keseluruhan tercakup segala kekuasaan, seluruh ingatan, seluruh pengetahuan dari semua
individualitas.

Karena itu penyerahan individualitas ini membawa pencapaian yang tak terbatas.

Melebur dalam keseluruhan tak berarti ketiadaan titik pusat kesadaran, tetapi hanya tiadanya
selubung, seakan suatu sel yang hanya kabut tanpa dinding yang menyelubungi, (hingga) tubuh itu hanya
terbangun dari kabut-kabut.

Atom-atom alam nirwana adalah sumber kekuatan yang tak terbatas.

Hanya di dunia-dunia bawah timbul pembatasan.

Sang Surya, sumber cahaya universal, yang sinarnya dengan bebas menerangi seluruh semesta
materi, adalah nirwana materi.

4. Jalan menuju Nirwana

Sebab duka dan derita dari umat manusia dengan ini dijelaskan, sebagaimana Buddha
menemukannya dan mengajarkannya kepada dunia.

Itu adalah keterpisahan yang ditekankan oleh rasa ke-aku-an yang diterus-teruskan dengan tak
semestinya dan dengan tidak wajar.
Penyembuhannya menuntut penangkal racun, lawan dari racun keterpisahan, yaitu kesatuan.

Di sini timbul kesulitan, karena proses ini berdasarkan penyerahan, kehilangan semu dari semua
yang didapatkan dengan begitu banyak upaya.

Ketakutan adalah sebab terus adanya duka—ketakutan kehilangan individualitas, tak adanya
kemampuan untuk percaya pada ajaran-ajaran para Arif atau ilham dari Diri Luhur, ketakutan untuk
'melepaskan'.

Penyerahan diri tampaknya mencakup penghancuran, dan karena itu individu dan bangsa-bangsa
mundur ketakutan, hal yang wajar.

Ketakutan yang dasarnya tidak mengerti ini, harus disingkirkan. Kepada individu dan bangsa-
bangsa harus ditunjukkan bahwa menerima ideal kesejahteraan bagi semua yang hidup—Nirwana fisik—
bukan kehilangan tetapi membawa keuntungan yang tak terhitung:

bahwa, kebahagiaan dan kemajuan individu dan nasional tergantung dari penerimaan dan
penerapan wawasan yang lebih luas dalam hidup individu dan nasional:

Mengakui dan bahkan ikut merasakan derita orang lain, juga berarti ikut merasakan kesukaan—
Nirwana emosional—dan inilah jalan satu-satunya menuju keselarasan dan pencapaian tujuan individu
dan nasional.

Bahwa usaha bersama untuk menyelesaikan masalah semua (orang/makhluk), bahwa pengakuan
mental bahwa hal ini berlaku umum, membawa pengetahuan menyeluruh dari penyelesaian universal
semua masalah pada setiap orang —Nirwana mental— bahwa inilah jalan menuju pencerahan individu
dan nasional.

Bila tiga Nirwana ini dimasuki, terbukalah jalan menuju Nirwana roh, yang jumlahnya tak
terhingga.

Di balik Nirwana tertinggi dari penataan ini terdapat yang lain-lain, terbentang luas tak terhingga,
menjulang dan menurun tak terhingga, karena di atas segalanya Nirwana itu tak terbatas.

Biarlah hal ini diinsyafi oleh mereka, yang berapi-api mencari pembebasan duka, tetapi takut menapak
satu-satunya jalan penyelamatan—penyerahan diri.

Dia yang menyerahkan diri rendah—individualitas yang terbentuk oleh waktu—akan mendapat
warisannya, yaitu Nirwana yang abadi, tak terbatas.

5. Buddha sebagai Guru Manusia

Saya bertanya pada Sang Guru Dewa, asal dari ajaran-ajaran ini, "Wahai Guru Dewa, bagaimana
kearifan dapat dijadikan (sedemikian hingga) diterima oleh umat manusia, yang masih terikat pada diri,
tersilau oleh keinginan dan keangkuhan?
Bagaimana para diktator, pemodal/cukong, politikus masa kini dapat disadarkan, bahwa semua
keuntungannya merupakan kehilangan, semua penaklukannya sekarang ini akan menjadi sumber duka di
kemudian hari?"

Sang Dewaraja bersabda, "Dengan dua cara: pertama melalui kegagalan dan wawasan yang
didapat dari situ, dan kedua melalui bimbingan yang arif, yang diperhitungkan untuk menimbulkan
pengertian.

Orang-orang ini, yang kaya kuasa dan pemilikan telah mengarahkan seluruh hidupnya pada apa
yang fana dan jasmani.

Kehilangan dan duka yang diakibatkan, dan kesadaran akan kesia-siaan semua upayanya, pada
akhirnya setelah berulang dalam hidup demi hidup, akan membuka matanya.

Proses ini lambat dan penuh derita, baik bagi diri mereka sendiri maupun orang banyak yang
menjadi korban dari nafsunya yang tak terpuaskan.

Menahan laju mereka sama sukarnya seperti menahan laju terbangnya elang ke matahari; namun
dapat dilaksanakan oleh dia yang sangat arif.

Gusti kita telah melaksanakannya, membawa pedagang, panglima, raja yang terkemuka ke
delapan-unsur jalan yang mulia.

Di atas segalanya Beliau mewujudkan dalam setiap pikiran, kata, dan perbuatan dengan cara yang
sempurna, sifat tanpa-pamrih yang tertinggi, ideal kesederhanaan dan kebebasan dari semua milik.

Beliau adalah kesederhanaan yang menjadi daging.

Bahkan kebalikan dari sikap Buddha dan sikap mereka, akan membawa dalam pikiran mereka
keraguan akan nilai semua yang telah mereka peroleh. Mereka dapatkan dirinya penuh kecemasan,
sedangkan Beliau begitu murni dan sukacita, bebas dari kecemasan, karena tak ada yang Beliau dapat
kehilangan.

Semua yang mereka anggap berharga telah begitu lama Beliau tinggalkan.

Beliau dalam kata-katanya yang sederhana namun mendalam mudah dimengerti namun sangat
arif.

Beliau bicara pada mereka sebagai manusia kepada manusia, sebagai sahabat kepada sahabat
(Hanya kepada mereka yang telah melakukan pilihan, Beliau bicara sebagai Buddha terhadap makhluk
manusia.)

Dengan pandangan yang menembus Beliau melihat ke dalam pikiran semua manusia.

Beliau mengenal kebutuhan setiap orang, Beliau mencari dan menemukan jalan untuk
membangkitkan keinginan akan pencerahan.

Demikianlah Beliau mengajar dan jarang gagal. Hanya hati yang paling bebal dapat tetap tertutup
dalam kehadiran Kasihnya yang mencakup segalanya.

Mata Beliau penuh kuasa dan cahaya, namun juga penuh kelembutan.
Pendengarnya tahu, betapa dalam kasih Beliau bagi mereka, mereka melihat bahwa di dalam
Beliau tak ada pikiran akan keuntungan.

Sifat-sifat ini memberikan kuasa pada Beliau untuk mengubah hati manusia.

Sayang pada masa sekarang para diktator, raja, dan presiden jarang menyambut kehadiran para
filosof dan orang bijak. Karena itu ceramah dan pengaruh pribadi sang guru tak dapat digunakan sebagai
sarana.

Bagi mereka yang tidak mau mengenal, tinggallah kata-kata yang tertulis, meskipun ini pun harus
dikemukakan tak henti-hentinya. Namun ingatlah bahwa pesan Nirwana dan Hukum tidak hanya dan
terutama ditujukan kepada para pemimpin manusia pesan itu bagi manusia dalam keseluruhan.

Orang-orang datang mendengar, mereka harus diajari, karena dalam tangan merekalah letak
masa depan bangsa.

Ingatlah juga bahwa meskipun Buddha bicara pada raja-raja, Beliau lebih mengarahkan dirinya
kepada manusia biasa, bahwa Beliau selalu bersedia memberi pelajaran pada petani, meringankan
kesulitan para istri petani dan bicara pada kelompok-kelompok orang desa.

Demikianlah Beliau mengajar mereka yang paling hina, Beliau yang setiap katanya didengarkan
para Dewa yang besar, sedangkan para Dewi bernyanyi bila Beliau bersabda, memenuhi dunia batin
dengan keindahan nyanyiannya.

Rahasia kuasa Buddha adalah kejujuran, kerendahan hati, dan kesederhanaannya. Ikutilah Beliau
dalam hal ini dan dunia modern akan mendengarkan para guru Hukum di masa sekarang, sebagaimana
dunia kuno mendengarkan Beliau.

Catatan penterjemah: kata 'individualitas' di sini digunakan dalam arti umum, menyangkut
perseorangan, bukan dalam arti 'diri luhur' sebagaimana biasa dalam pustaka Theosofi.

De Pionier, 1936, halaman 166-172