Anda di halaman 1dari 10

1

Evaluasi Kinerja Detektor Adaptif pada Sistem ATCS (Area Traffic Control Sytem)
(Studi Kasus : Simpang Gamping, Yogyakarta)

Hesti Iftitachul Musyarofah1, Wahyu Widodo2, Hary Agustriono3

ABSTRAK

ATCS (Area Traffic Control System) di Yogyakarta telah digunakan sejak tahun 2012. Namun
sampai saat ini belum pernah dilakukan evaluasi terhadap kinerja detektornya. Detektor yang ada
pada daerah studi adalah jenis adaptif menggunakan frekuensi radar. Berdasarkann informasi yang
didapatkan, detektor yang ada belum dapat mendeteksi kendaraan kecil dengan baik serta waktu
siklus yang dimiliki kurang sesuai dengan kinerja simpang bersinyal sesuai dengan Manual
Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) yang ada pada daerah studi.

Evaluasi dilakukan dengan dua metode survei yaitu manual melalui rekaman CCTV dan
survei melalui software I-Traffic yang ada pada ATCS. Volume kendaraan dari survei manual dan
dari pembacaan software I-Traffic dibandingkan kemudian dihitung standar deviasinya. Setelah itu,
dihitung waktu siklus hasil survei manual. Untuk mengetahui kinerja waktu siklus yang dihasilkan
dari perhitungan manual dan melalui I-Traffic, maka dilanjutkan dengan menghitung parameter-
parameter kapasitas (C), derajat kejenuhan (DS),panjang antrian (QL), dan tundaan (D).

Hasil dari penelitian tersebut adalah terdapat perbedaan volume kendaraan hasil survei
melalui software I-Traffic dan survei manual melalui rekaman CCTV sebesar 4919 kend/12 jam
(Selatan-Timur) dan 5801 kend/12 jam (Barat-Selatan). Waktu siklus semula 85 (Pagi) dan 89 (Sore)
menjadi 68 (Pagi) dan 63 (Sore). Kapasitas pada jam 07.00 – 08.00 semula 1378 (Timur) Menjadi
1371, 933 (Selatan) menjadi 1001, 1517 (Barat) menjadi 1299. Kapasitas jam 16.00 – 17.00 semula
1711 (Timur) Menjadi 1372, 706 (Selatan) menjadi 1156, 1175 (Barat) menjadi 725. Derajat
Kejenuhan jam 07.00 – 08.00 semula 0,76 (Timur) Menjadi 0,76, 0,82(Selatan) menjadi 0,76, 0,65
(Barat) menjadi 0,76. Derajat Kejenuhan jam 16.00 – 17.00 semula 0,58 (Timur) Menjadi 0,73, 1,31
(Selatan) menjadi 0,80, 0,52 (Barat) menjadi 0,84. Panjang Antrian jam 07.00 – 08.00 semula 193
(Timur) Menjadi 153, 70 (Selatan) menjadi 56, 85 (Barat) menjadi 75. Panjang Antrian jam 16.00 –
17.00 semula 193 (Timur) Menjadi 137, 70 (Selatan) menjadi 63, 85 (Barat) menjadi 57. Tundaan
Rata-rata jam 07.00 – 08.00 semula 33,98 menjadi 29,50 dan jam 16.00 – 17.00 238,13 Menjadi
30,88. ITP jam 07.00 – 08.00 adalah tetap pada tingkat D dan pada jam 16.00 – 17.00 naik dari
tingkat F menjadi D.

Keywords : Volume Kendaraan, Waktu siklus, Kapasitas, Derajat kejenuhan, Panjang


antrian, Tundaan

1. Mahasiswa Teknik Sipil 20110110158 3. Dosen Pembimbing Dua


2. Dosen Pembimbing Satu

1
2

I. PENDAHUUAN utama untuk mendeteksi lalu lintas


1.1. Latar belakang kendaraan yang masuk dan/atau keluar
Mengkaji dan mengidentifikasi kinerja persimpangan untuk menghasilkan data
detektor adaptif pada sistem ATCS (area karakteristik lalu lintas yang dibutuhkan
traffic contro system) merupakan langkah untuk melakukan optimasi pengaturan
awal dalam melakukan evaluasi. sinyal. Detektor kendaraan mempunyai
Evaluasi kinerja detektor adaptif pada komponen utama sebagai berikut:
sistem ATCS menjadi sangat penting 1. Sensor untuk mendeteksi kendaraan
dilakukan ketika kinerjanya dirasa sudah yang melintas
tidak sesuai dengan yang diinginkan dan 2. Prosesor untuk mengolah data hasil
akan dilakukan perbaikan. Oleh karena itu deteksi
penelitian ini dilakukan untuk menjadi 3. Communication-unit untuk
salah bahan masukan dalam pengambilan berkomuniasi dengan sub sistem
kebijakan terhadap pengembangan dan lainnya
peningkatan sistem detektor yang ada 4. Sumber energi (power supply).
ATCS DISHUBKOMINFO DIY yang Felisiano Syandhuwardana dkk
telah digunakan sejak tahun 2012. (2011), mengatakan bahwa adaptif
Metode yang digunakan dalam merupakan suatu pengaturan perwaktuan
evaluasi kinerja detektor adaptif pada pengaturan nyala lampu lalu lintas secara
sistem ATCS ini adalah dengan cara otomatis dan seketika pada setiap jalur.
membandingkan hasil perhitungan volume
arus lalu lintas oleh detektor adaptif yang 1.3. ATCS
ditunjukkan oleh software I-Traffic dengan Faizahalk (2013), mengatakan
perhitungan volume arus lalu lintas hasil bahwa ATCS (Area Traffic Control
survei manual di lapangan melalui System) merupakan alat untuk mengatur
rekaman CCTV lalu lintas pada persimpangan dengan
Analisis perhitungan dilakukan dengan mempergunakan traffic light yang
cara mencari standar deviasi dari kedua dikendalikan secara otomatis dengan
jenis survei, menghitung waktu siklus, software aplikasi jarak jauh (online). Pada
derajat kejenuhan, panjang antrian dan ATCS telah menggunakan kamera yang
tundaan yang ada pada kedua waktu siklus tersedia sistem mendeteksi gambar
yang ada pada data survei dengan kendaraan di traffic light. Jika panjang
didasarkan pada Manual Kapasitas Jalan antrian kendaraan telah mencapai limit
Indonesia (MKJI) 1997. yang telah ditentukan, maka sistem
otomatis akan memperpanjang waktu hijau
1.2. Detektor adaptif di persimpangan yang antriannya paling
Detektor adalah suatu sistem yang panjang. Sistem tersebut menggunakan
merupakan komponen penting dari sebuah deteksi citra. Tetapi, apabila panjang
ATCS. antrian telah melebihi batas kamera, maka
Fungsi detektor pada sistem ATCS operatorlah yang bertugas merubah waktu
adalah untuk menjalankan dan secara manual.
memperpanjang fase. Detektor dapat
berupa inductance detector, tombol yang 1.4. I-Traffic
biasanya ditekan oleh pejalan kaki, Software yang digunakan untuk
detektor infra merah, gelombang mikro mengatur waktu sinyal pada persimpangan
dan wireless studs (Anthony Fitts dan yang menggunakan detektor adaptif, data
Peter Midgley, 2010) arus lalu lintas yang telah terdekteksi oleh
Direktorat Bina Sistem Transportasi radar akan terbaca sebagai jumlah antrian
Perkotaan (2012), detektor kendaraan (density) perfase dan total jumlah
(vehicle detector) mempunyai fungsi

1. Mahasiswa Teknik Sipil 20110110158 3. Dosen Pembimbing Dua


2. Dosen Pembimbing Satu

1
3

kendaraan yang telah melewati simpang kendaraan yang tercatat oleh detektor pada
(total Vehicle). sistem ATCS dapat dilakukan dengan
Hasil dari jumlah antrian (density) melihat pada software I-Traffic yang ada
akan digunakan untuk menentukan lama di CC Room ATCS DISHUBKOMINFO
nyala lampu hijau pada simpang, density DIY, kemudian mencatatnya pada setiap
akan menghitung jumlah kendaraan fase yang terjadi dan diakumulasi selama
mengantri selama periode lampu merah satu jam selama 12 jam. Serta melakukan
dan akan mengulang hitungan kembali survei manual dengan menghitung jumlah
setelah memasuki periode antara hijau ke kendaraan yang pada hasil rekaman CCTV
kuning. sedangkan total vehicle yang sistem ATCS.
merupakan hasil dari total jumlah
kendaraan yang melewati simpang selama 2.2. Lokasi penelitian
satu jam dan akan mengulang hitungan Penelitian ini dilakukan di Simpang
setiap 1 jam. Gamping, Sleman, Yogyakarta. Jenis
simpang tiga bersinyal (333L), dengan tipe
II. METODE PENELITIAN pendekat terlindung (P).
2.1. Alat penelitian
2.1.1. Data geometrik persimpangan
Melakukan pengukuran lebar
masing-masing lengan pada simpang
Gamping, Sleman, Yogyakarta dengan
menggunakan bantuan meteran, alat tulis,
dan kamera serta menggunakan tally
counter untuk menghitung jumlah arus
kendaraan pada masing-masing survei.

2.1.2. Proses kerja detektor ATCS


Gambar 2 Lokasi penelitian
Dalam melakukan perhitungan
terhadap jumlah arus kendaraan yang
2.3. Prosesa analisis data
melewati detektor pada persimpangan
2.3.1. Parameter-parameter yang
terdapat proses-proses sebagai berikut:
digunakan
visual kondisi simpang
Dalam analisis data kedua survei
Radar mendeteksi
kendaraan yang lewat
lewat CCTV dijadikan
pertimbangan
Siklus ditentukan digunakan parameter-parameter kinerja
simpang bersinyal pada Manual Kapasitas
operator kontroller menerima
Jalan Indonesia (MKJI) 1997, diantaranya
menyesuaikan dan mengatur nyala
data kendaran yang
lewat dikirim ke server program waktu siklus lampu hijau, merah yaitu sebagai berikut:
di CC Room dengan yang sesuai dengan dan kuning pada
radio frekuensi kebutuhan simpang setiap simpang 1. Waktu siklus dan waktu hijau
2. Kapasitas
lampu lalu lintas
server menerima data hitung jumlah menyala sesuai 3. Derajat kejenuhan
kendaraan dan antrian dengan waktu siklus
dan mengolah di
program I traffic pada simpang pengaturan yang telah 4. Panjang antrian
ditentukan
5. Tundaan
Gambar 1 Proses kerja detektor adaptif
2.3.2. Perhitungan arus lalu lintas
sistem ATCS
Dalam perhitungan arus lalu lintas
dilakukan per satuan jam dalam satu atau
2.1.3. Sumbet data
lebih periode yaitu sesuai dengan kondisi
Melakukan dua jenis survei yaitu
lalu lintas yang ada berdasarkan pada arus
survei melalui software I-Traffic dan
lalu lintas rencana pada jam puncak pagi,
survei manual melalui rekaman CCTV.
siang, dan sore.
Untuk mendapatkan data jumlah arus
4

Q  QLV  empLV   QHV  empHV   QMC  empMC  cua 


(1,5  LTI  5)
(1) (1  IFR) (2)
Dimana : Dimana :
Q = Arus kendaraan total cua :Waktu siklus sebelum penyesuaian
QLV, QHV, QMC =Arus kendaraan untuk sinyal (detik)
masing-masing tipe LTI :Waktu hilang total per siklus
empLV, empHV, empMC= Nilai emp untuk (detik)
tiap-tiap kendaraan (Dari sudut kiri bawah pada
Tabel 1 Klasifikasi kendaraan formulir SIG-IV)
No Klasifikasi Jenis Kendaraan IFR :Rasio arus simpang ∑(FRCRIT)
(Dari bagian terbawah koom 19)
Sedan, jeep, oplet,
1 Light Vehicle (LV)
mikrobus, pick up
Penentuan waktu hijau dapat dilakukan
Bus standar, bus dengan rumus (3.3) sebagai berikut:
2 Heavy Vehicle (HV) besar, truk sedang, (cua  LTI )  FRCRIT
truk berat gi 
( FRCRIT ) (3)
Sepeda motor dan
3 Motor Cycle (MC)
sejenisnya Dimana :
Bacak, sepeda, gi : Tampilan waktu hijau pada fase i
Unmotorised Vehicle
4 andong, dan
(UM) (detik)
sejenisnya
Sumber : Abubakar, 1995 FRCRIT : jumlah rasio arus
Penentuan waktu siklus yang disesuaikan:
Tabel 2 Nilai ekivalen mobil penumpang c = ∑g × LTI
(emp) (4)
emp untuk tiap-tiap tipe
Jenis Kendaraan kendaraan
Terlindung Terlawan
Dimana :
Kendaraan ringan c = Waktu siklus yang disesuaikan
(LV)
1,0 1,0 ∑g = Waktu hijau total per siklus
Kendaraan berat LTI = Waktu hilang total per siklus
1,3 1,3
(HV)
Sepeda motor 2.3.4. Perhitungan Kapasitas
0,2 0,4
(MC)
Kapasitas adalah jumlah maksimum
Sumber : Manual Kapasitas Jalan arus kendaraan yang dapat melewati
Indonesia (MKJI) 1997 persimpangan jalan (intersection).
C = S × g/c (5)
2.3.3. Perhitungan waktu siklus dan Dimana :
waktu hijau C = Kapasitas (smp/jam)
Waktu siklus sebelum S = Arus jenuh (smp/jam)
penyesuaian (cua) adalah waktu untuk g = Waktu hijau (detik)
urutan lengkap dari indikasi sinyal. c = Waktu siklus (detik).
Penentuan waktu sinyal untuk keadaan
dengan kendali waktu tetap dilakukan 2.3.5. Perhitungan Derajat kejenuhan
berdasarkan metoda Webster (1996) untuk Derajat kejenuhan (DS)
meminimumkan tundaan total pada suatu didefenisikan sebagai rasio arus lalu lintas
simpang. Pertama-tama ditentukan waktu terhadap kapasitas, yang digunakan
siklus (c), selanjutnya waktu hijau (g), sebagai faktor utama dalam penentuan
pada masing masing fase (i). tingkat kinerja simpang dan segmen jalan.
Penentuan waktu siklus dapat Nilai DS menunjukkan apakah segmen
dilakukan dengan rumus sebagai berikut: jalan tersebut mempunyai masalah
kapasitas atau tidak. Untuk menghitung
5

derajat kejenuhan pada suatu ruas jalan Panjang antrian (QL) dengan
perkotaan dengan rumus (MKJI 1997) mengalikan NQmax dengan luas rata-rata
sebagai berikut : yang dipergunakan persmp (20 m2)
DS = Q/C (6) kemudian bagilah dengan lebar masuknya
Dengan : NQmax  20
DS = Derajat kejenuhan QL 
Wmasuk
Q = Arus maksimum (smp/jam)
C = Kapasitas (smp/jam). (10)

2.3.6. Perhitungan Panjang antrian


Dalam MKJI 1997, antrian yang
terjadi pada suatu pendekat adalah jumlah
rata-rata antrian smp pada awal sinyal
hijau (NQ) yang merupakan jumlah antrian
tersisa dari fase hijau sebelumnya(NQ2).
Untuk menghitung jumlah antrian
yang tersisa dari fase hijau sebelumnya
digunakan hasil perhitungan derajat
kejenuhan yang tersisa dari fase hijau
sebelumnya. (MKJI, 1997)
Untuk DS > 0.5 : Sumber : Manual Kapasitas Jalan
 8 ( DS  0.5)  Indonesia (MKJI), 1997
NQ1  0.25  C  ( DS  1)  ( DS 1) 2  
 C 
Gambar 3 Perhitungan Jumlah Antria
(7) dalam smp

Untuk DS < 0.5 atau DS = 0.5 ; NQ1 = 0 2.3.7. Perhitungan Tundaan


Dengan : Tundaan adalah waktu tempuh
NQ1 = jumlah smp yang tersisa dari fase tambahan yang diperlukan untuk melalui
hijau sebelumnya simpang apabila dibandingkan dengan
DS = derajat kejenuhan lintasan tanpa melalui simpang.
C = kapasitas (smp/jam) Perhitungan tundaan berdasarkan MKJI
= arus jenuh dikalikan rasio hijau (1997) dilakukan dengan beberapa cara
(S×GR). sebagai berikut:
Jumlah antrian smp yang datang a. Perhitungan tundaan lalu lintas rata-
selama fase merah (NQ2). rata setiap pendekat (DT) kibat
1 GR Q pengaruh timbal balik dengan
NQ2  c   gerakan-gerakan lainnya pada
1 GR  DS 3600
simpang dengan menggunakan
(8)
persamaan sebagai berikut:
Dengan :
NQ1  3600
NQ2 = jumlah smp yang tersisa dari DT  c  A 
fase merah C
DS = derajat kejenuhan (11)
GR = rasio hijau (g/c) Dengan:
c = waktu siklus DT =Tundaan lalu lintas rata-rata
Qmasuk = arus lalulintas pada tempat masuk (smp/detik)
di luar LTOR (smp/jam). c =Waktu siklus yang disesuaikan
Jumlah kendaraan antrian: (detik)
NQ = NQ1 + NQ2
(9)
6

0,5  (1  GR) 2 membagi jumlah nilai tundaan


A = dengan arus total dalam detik dengan
(1  GR  DS ) atau dapat
mengalihkan tundaan rata-rata.
digunakan Gambar 3.4 Untuk mengetahui tingkat pelayanan
GR = Rasio hijau (g/c) suatu simpang dapat disimpulkan dari
DS = Derajat kejenuhan besarnya nilai tundaan yang terjadi. Dalam
NQ1 = Jumlah smp yang tersisa dari fase hal ini dapat dilihat sesuai dengan tabel 3
hujau sebelumnya sebagai berikut:
C = Kapasitas (smp/jam) Tabel 3 Tingkat pelayanan berdasarkan
Tundaan (D)
Tingkat Tundaan
Keterangan
Pelayanan (det/smp)
A <5 Baik Sekali
B 5,1 - 15 Baik Sekali
C 15,1 - 25 Sedang
D 25,1 - 40 Kurang
E 40,1 - 60 Buruk
F > 60 Buruk Sekali
Sumber : Manual Kapasitas Jalan
Indonesia (MKJI), 1997
Gambar 4 Nilai konstanta A III. HASIL PENELITIAN
b. Penentuan tundaan geometrik rata- 3.1 Perbandingan arus lalu lintas
rata masing-masing pendekat (DG) 3.1.1. Hasil survei dengan detektor
akibat perlambatan dan percepatan adaptif sistem ATCS
ketika menunggu pada suatu Hasil survei jumlah arus lalu lintas
persimpangan dan/atau ketika dengan detektor adaptif dapat diketahui
dihentikan oleh lampu merah. Dapat pada tabel 4 sebagai berikut:
dilihat pada persamaan (12) sebagai Tabel 4. Hasil perhitungan jumlah arus
berikut: lalu lintas dengan detektor ATCS arah
DG  (1  pSV )  pT  6  ( pSV  4) Selatan-Timur dan Barat-Selatan
(12) Arah
Dengan: Hari/Tanggal Waktu Selatan-Timur Barat-Selatan
(F2) (F3)
DG = Tundaan geometrik rata-rata
06.00 - 07.00 98 0
untuk pendekat (detik/smp) 07.00 - 08.00 354 12
pSV = Rasio kendaraan terhenti pada 08.00 - 09.00 376 2
pendekat = Min (NS,1) 09.00 - 10.00 494 0
pT = Rasio kendaraan berbelok pada 10.00 - 11.00 406 123
pendekat 11.00 - 12.00 441 38
Selasa,18-08-2015
12.00 - 13.00 393 37
Sehingga didapatkan tundaan rata-
13.00 - 14.00 416 104
rata melalui persamaan (13) sebagai 14.00 - 15.00 66 278
berikut: 15.00 - 16.00 0 204
D  DT  DG (13) 16.00 - 17.00 4 190
c. Perhitungan tundaan total dalam 17.00 - 18.00 371 129
Jumlah (kend/12 jam) 3419 1117
detik adalah dengan mengalikan
tundaan rata-rata dengan arus lalu Sumber : Hasil perhitungan survei, 2015
lintas
d. Perhitungan tundaan rata-rata untuk
seluruh simpang (D1) yaitu dengan
7

3.1.2. Hasil survei dengan rekaman Tabel 7. Perbandingan Volume Kendaraan


CCTV Survei Manual dan I-Traffic Arah Selatan-
Hasil survei jumlah arus lalu lintas Timur
dengan perhitungan manual melalui Arah dan Jenis Survei
rekaman CCTV dapat diketahui pada tabel Barat-
5 dan 6 sebagai berikut: HARI/TAN
Barat- Selatan
Tabel 5. Hasil survei jumlah arus lalu WAKTU Selatan (F3)
GGAL
lintas dengan Rekaman CCTV arah (F3) Survei Survei
Selatan-Timur Manual melalui I-
ARAH Traffic
HARI/TANG Jumlah
WAKTU Selatan-Timur (F2) 06.00 - 07.00 515 0
GAL (Kend/jam)
MC LV HV UM 07.00 - 08.00 780 12
06.00 - 07.00 150 77 26 6 259
08.00 - 09.00 761 2
07.00 - 08.00 730 260 55 8 1053
08.00 - 09.00 439 207 67 3 716 09.00 - 10.00 586 0
09.00 - 10.00 222 183 75 6 486 10.00 - 11.00 477 123
10.00 - 11.00 193 200 58 5 456 Selasa,18-08- 11.00 - 12.00 419 38
Selasa,18-08- 11.00 - 12.00 352 295 64 1 712
2015 12.00 - 13.00 346 267 67 2 682
2015 12.00 - 13.00 474 37
13.00 - 14.00 440 283 56 1 780 13.00 - 14.00 537 104
14.00 - 15.00 411 332 65 3 811 14.00 - 15.00 632 278
15.00 - 16.00 390 313 79 2 784
16.00 - 17.00 445 338 68 0 851
15.00 - 16.00 587 204
17.00 - 18.00 399 306 43 0 748 16.00 - 17.00 588 190
Jumlah 8338 17.00 - 18.00 562 129
Jumlah tanpa MC dan UM (kend/jam) 3784
Jumlah Total 6918 1117
Sumber : Hasil perhitungan survei, 2015 Selisih 5801
Jumlah Tanpa (MC dan UM) 2962 1117
Tabel 6. . Hasil survei jumlah arus lalu
Selisih 1845
lintas dengan Rekaman CCTV arah Barat-
Sumber : Hasil perhitungan survei, 2015
Selatan
ARAH
HARI/TANG Jumlah
GAL
WAKTU Barat-Selatan (F3)
(Kend/jam)
2.2. Kinerja Simpang
MC LV HV UM
06.00 - 07.00 309 163 42 1 515
3.2.1. Waktu siklus dan waktu hijau
07.00 - 08.00 521 210 49 0 780 Waktu siklus dan waktu hijau dapat
08.00 - 09.00 522 195 42 2 761 dilihat pada tabel 7 dan 8 sebagi berikut:
09.00 - 10.00 343 174 67 2 586
10.00 - 11.00 258 168 51 0 477
Selasa,18-08- 11.00 - 12.00 182 195 42 0 419 Tabel 8 Data Sinyal Simpang Gamping
2015 12.00 - 13.00 223 183 65 3 474 Sleman DIY pada siklus 1 I-Traffic
13.00 - 14.00 271 205 60 1 537
14.00 - 15.00 327 237 67 1 632 Waktu Waktu Waktu Waktu
15.00 - 16.00 323 210 53 1 587
Nama Jalan Fase Hijau Kuning Merah Siklus
16.00 - 17.00 359 181 48 0 588
(detik) (detik) (detik) (detik)
17.00 - 18.00 307 206 49 0 562
Jalan Jogja-
Jumlah 6918 1 30 3 52
wates (T)
Jumlah tanpa MC dan UM (kend/jam) 2962
Jalan Ringroad
Sumber : Hasil perhitungan survei, 2015 2 10 4 71 85
Selatan (S)
Jalan Jogja-
3 30 3 52
wates (B)
Sumber : Hasil pengamatan pada I-traffic,
2015
8

Tabel 9 Data Sinyal Simpang Gamping 3.2.3. Derajat kejenuhan


Sleman DIY pada siklus 2 I-Traffic Tabel 12 Derajat kejenuhan dari waktu
siklus I-Traffic
Waktu Waktu Waktu Waktu
Nama Jalan Fase Hijau Kuning Merah Siklus Kapasitas
(detik) (detik) (detik) (detik) Arus lalu Derajat
Kode (C)
Jalan Jogja- Hari/Tanggal Waktu lintas kejenuha
1 39 3 47 pendekat (C=S×g/c)
wates (T) (smp/jam) n (DS)
(smp/jam)
Jalan Ringroad T 1047 1379 0.76
2 8 4 76 89
Selatan (S) S 07.00 - 08.00 764 934 0.82
Jalan Jogja- Selasa, 18 B 992 1517 0.65
3 24 3 62
wates (B) agustus 2015 T 1001 1712 0.58
Sumber : Hasil pengamatan pada I-traffic, S 16.00 - 17.00 922 706 1.31
2015 B 612 1175 0.52
Sumber : Hasil perhitungan survei, 2015
3.2.2. Kapasitas
Pada perhitungan kapasitas, derajat Tabel 13 Derajat kejenuhan dari waktu siklus
baru hasil perhitungan
kejenuhan, panjang antrian, dan tundaan
dilakukan dua kali karena untuk Arus lalu
Kapasitas
Derajat
Kode (C)
mengetahui keefektifan siklus yang Hari/Tanggal
pendekat
Waktu lintas
(C=S×g/c)
kejenuha
(smp/jam) n (DS)
ditampilkan oleh software I-Traffic ATCS (smp/jam)
T 1047 1371 0.76
dengan hasil perhitungan manual namun S 07.00 - 08.00 764 1001 0.76
dengan jumlah arus kendaraan yang Selasa, 18 B 992 1299 0.76
agustus 2015 T 1001 1372 0.73
dihasilkan oleh survei manual melalui S 16.00 - 17.00 922 1156 0.8
rekaman CCTV. B 612 725 0.84
Sumber : Hasil perhitungan survei, 2015
Tabel 10 Kapasitas simpang dari waktu siklus
I-Traffic 3.2.4. Panjang Antrian
Arus
Waktu
Waktu
jenuh (S)
Kapasitas Tabel 43 Panjang antrian dari waktu siklus I-
Hari/Tanggal Arah Waktu siklus ( c ) (C=S×(g/c)) Traffic
hijau (g) (smp/jam
(detik) (smp/jam)
)
Jumlah Jumlah
Timur 30 85 3906 1379 smp yang smp yang
Selasa, 18-08- 07.00 - Panjang
Selatan 10 85 7935 934 tersisa datang NQ
2015 08.00 Hari/Tanggal arah Waktu NQ MAX antrian
dari fase selama
Barat 30 85 4299 1517 TOTAL
(QL) (m)
hijau fase nerah
Timur 39 89 3906 1712 (NQ1) (NQ2)
Selasa, 18-08- 16.00 -
Selatan 8 89 7819 706 T 1.07 21.85 22.92 33.7 193
2015 17.00
Barat 24 89 4371 1175 S 07.00 - 08.00 1.72 17.62 19.34 28.1 70
Selasa, 18 B 0.44 19.69 20.14 29.8 85
Sumber : Hasil perhitungan survei, 2015 Agustus 2015 T 0.2 18.68 18.89 27.8 159
S 16.00 - 17.00 110.82 23.51 134.33 187.3 468
Tabel 11 Kapasitas simpang dari waktu siklus B 0.04 12.85 12.9 19.8 57

baru hasil perhitungan Sumber : Hasil perhitungan survei, 2015

Arus
Tabel 15 Panjang antrian dari waktu siklus
Waktu Kapasitas baru hasil perhitungan
Waktu jenuh (S)
Hari/Tanggal Arah Waktu siklus ( c ) (C=S×(g/c))
hijau (g) (smp/jam
(detik) (smp/jam) Jumlah Jumlah
)
smp yang smp yang
Panjang
Timur 24 68 3906 1371 tersisa datang NQ
Selasa, 18-08- 07.00 - Hari/Tanggal arah Waktu NQ MAX antrian
dari fase selama
Selatan 9 68 7935 1001 TOTAL
(QL) (m)
2015 08.00 hijau fase nerah
Barat 21 68 4299 1299 (NQ1) (NQ2)
Timur 24 63 3906 1372 T 1.11 17.5 26.7 26.7 153
Selasa, 18-08- 16.00 -
Selatan 10 63 7850 1156 S 07.00 - 08.00 1.11 13.94 22.3 22.3 56
2015 17.00 Selasa, 18
Barat 11 63 4356 725 B 1.11 16.97 26.3 26.3 75
Agustus 2015 T 0.84 15.07 15.92 23.9 137
Sumber : Hasil perhitungan survei, 2015 S 16.00 - 17.00 1.45 15.58 17.03 25.1 63
B 2.13 10.38 12.51 19.8 57
Sumber : Hasil perhitungan survei, 2015
9

3.2.5. Tundaan IV. KESIMPULAN dan SARAN


Dari penelitian yang telah
Tabel 16 Tundaan dari waktu siklus I-Traffic dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
Kapasitas
1. Detektor adaptif sistem ATCS yang
Derajat D=DT+D
Hari/Tanggal arah Waktu
(C)
kejenuhan
DT DG
G
dipasang di Simpang Gamping
(C=S×g/c) (det/jam) (det/jam)
(smp/jam)
(DS) (det/jam) disetting untuk tidak terlalu dapat
T 1379 0.76 27 2.5 30 mendeteksi kendaraan kecil hanya
07.00 - 08.00
Selasa, 18
S
B
934
1517
0.82
0.65
43
24
5.5
3
49
27
deteksi jenis LV dan HV
Agustus 2015 T 1712 0.58 19 2.4 22 2. Volume arus lalu lintas yang dihitung
S 16.00 - 17.00 706 1.31 607 3 610
B 1175 0.52 28 3.3 31 dari survei manual melalui rekaman
Sumber : Hasil perhitungan survei, 2015 CCTV lebih banyak dan lebih akurat
karena dapat dibedakan setiap jenis
Tabel 17 Tundaan dari waktu siklus baru hasil kendaraanya.
perhitungan 3. Standar deviasi dari kedua data hasil
Kapasitas
survei terdapat perbedaan yang cukup
Derajat D=DT+D
Hari/Tanggal arah Waktu
(C)
kejenuhan
DT DG
G
besar
(C=S×g/c) (det/jam) (det/jam)
(smp/jam)
(DS) (det/jam) 4. Waktu siklus yang ada di I-Traffic
T 1371 0.76 22 2.5 25 lebih besar daripada hasil perhitungan
07.00 - 08.00
Selasa, 18
S
B
1001
1299
0.76
0.76
33
25
5.5
3
38
28
sehingga menghasilkan kapasitas yang
Agustus 2015 T 1372 0.73 19 2.5 22 kecil, dan memperbesar derajat
S 16.00 - 17.00 1156 0.8 30 5.4 36
B 725 0.84 36 3.3 39 kejenuhan, panjang antrian dan
Sumber : Hasil perhitungan survei, 2015 tundaan
Tabel 18. Perbandingan Kinerja Simpang DAFTAR PUSTAKA
Bersinyal Hasil Survei Manual Melalui CCTV Abu bakar, 1 (1991), “Rekayasa Lalu
dan Survei Melalui Software I-Traffic
Lintas”, Cetakan Pertama,,
Derajat Direktorat Bina Sistem Lalu Lintas
Waktu Waktu Derajat
Kode
Waktu siklus I- Siklus
Kapasitas Kapasit Kejenuha
Kejenuha
Angkutan Kota”. Jakarta: Direktorat
Pendekat I-Traffic as Baru n I- Jenderal Perhubungan Darat
Traffic Baru n Baru
Traffic
Antoni Anton, (2011), “Analisis panjang
T 1378 1371 0,76 0,76
S 07.00 - 08.00 85 68 933 1001 0,82 0,76
antrian kendaraan pada simpang
B 1517 1299 0,65 0,76 bersinyal (studi kasus pada lengan
T 1711 1372 0,58 0,73 selatan simpang empat Jetis”, Tugas
S 07.00 - 08.00 89 63 706 1156 1,31 0,80 Akhir, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas
B 1175 725 0,52 0,84 Teknik, Universitas Muhammadiyah
Sumber : Hasil perhitungan survei, 2015 Yogyakarta, Yogyakarta
Tabel 19. Perbandingan Kinerja Simpang Dirjen Bina Marga., 1997, “Manual
Bersinyal Hasil Survei Manual Melalui CCTV Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI)”,
dan Survei Melalui Software I-Traffic Depertemen Pekerjaan Umum,
Jakarta
Panjang Panjang Tundaan Tundaan Faizahalk, 2013, “ATCS (Area Traffic
Kode
Pendekat
Waktu Antrian I- Antrian rata-rata rata-rata Control System)”,
Traffic Baru I-Traffic Baru https://faizahalk.wordpress.com/2013
T 193 153 /01, Jawa Timur
S 07.00 - 08.00 70 56 33,98 29,5 Fitts, Antoni. dan Peter Midgley., 2010,
B 85 75 “Tinjauan Mobilitas Perkotaan dan
T 193 137
S 07.00 - 08.00 70 63 238,13 30,88
Penerapan Area Traffic Control
B 85 57 System di Surabaya”, Indonesia
Sumber : Hasil perhitungan survei, 2015 Infrastructure Initiative, Jakarta
10

Hay, 1997 dalam Jatmiko, Y.S., 2010, NonDegree-30660-3110030054-


“Evaluasi kinerja simpang 3110030070-Cover_id.pdf, Surabaya
bersinyal”, Tugas Akhir Program Sari., A.D., 2012, “Pemahaman ATCS”,
Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, http://dayungsar.blogspot.com/2012/
Universitas Atma Jaya, Yogyakarta 01/pemahaman-atcs.htm?m=1,
Hisyam. M.H., 2009, “Penerapan ATCS Malang
(Area Traffic Control System) Sari., A.D., 2012, “Penerapan ATCS (Area
Sebagai Alternatif Solusi Masalah Traffic Control system) Sebagai
Transportasi Perkotaan”, Alternatif Solusi Masalah
http://helmyhisyam.blogspot.com/20 Transportasi Perkotaan”,
09/05/penerapan-atcs-area-traffic- http://dayungsar.blogspot.com/2012/
control.html, Malang 01/pemahaman-atcs.htm?m=1,
Malang
I.B. Swamardika, A, 2005, “Simulasi Sari., A.D., 2012, “Cara Kerja ATCS”,
Kontrol Lampu Lalu Lintas Sistem http://dayungsar.blogspot.com/2012/
Detektor dengan menggunakan PLC 01/pemahaman-atcs.htm?m=1,
untuk Persimpangan Jalan Waribang- Malang
WR.Supratman Denpasar”, Vol.4 Syandhuwardhana, F., Setiawan, B., dan
No.2 Juli-Desember 2005, Teknik Widyanto, E, 2011, “Pengendalian
Elektro Universitas Udayana, ATCS dengan CCTV Dinamis
Denpasar Melalui Port Parallel”, Teknik
Jatmiko, Y.S., 2010, “Evaluasi Kinerja Elektro Universitas Katolik
Simpang Bersinyal”, Tugas Akhir, Soegijapranata, Semarang
Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Team Leader., 2012. “Evaluasi Penerapan
Teknik, Universitas Atma Jaya, Area Traffic Control System (ATCS)
Yogyakarta Di DKI Jakarta, Bandung, dan
Kamus Besar Bahas indonesi Online, Surabaya”, Direktorat Bina Sarana
http:/kbbi.web.id/evaluasi Transportasi Perkotaan, Jakarta
Kamus Besar Bahas indonesi Online,
http:/kbbi.web.id/kinerja
Moko interview, (2015), “Interview cara
kerja detektor”, Bengkel Qumicon
Jalan Kaliurang KM.7, Yogyakarta
Putra, M.Surya Permana, 2013, “Analisis
kinerja simpang bersinyal di
persimpangan Denggung (Studi
kasus : Jalan Magelang KM 9,5
Yogyakarta, Tugas Akhir”, Jurusan
Teknik Sipil, Fakultas Teknik,
Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta, Yogyakarta
Putranto, I.F., dan Pratama, R.P, 2010,
“Evaluasi Kinerja Simpang Jalan
Menur-Jalan Manyar Kertoarjo
Raya-Jalan Menur Raya-Jalan
Kertajaya Raya, Sebelum dan
Sesudah Pemasangan Alat ATCS-
ITS”,
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-