Anda di halaman 1dari 17

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

IBU HAMIL DENGAN ANEMIA


MAKALAH

Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Keperawatan Maternitas


Yang Dibina Oleh Ibu Sumirah Budi Pertami, S.Kep., Ns. M.Kep

Oleh:
1. Adinda Alisabella
2. M.Septiadi Indra N
3. Nuril Kumalasari

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN LAWANG
Agustus 2017
BAB I
PENDAHULUAN
BAB II
ISI

2.1 Definisi
Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah
merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal (Smeltzer,
2002).
Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam
darahnya kurang dari 12 gr% (Wiknjosastro, 2002). Sedangkan anemia dalam
kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr%
pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II (Saifuddin,
2002).
Anemia pranatal adalah komplikasi yang paling sering terjadi di
amerika serikat yang memengaruhi 20-50% ibu hamil. Anemia ditandai
dengan penurunan jumlah sel darah merah dan konsentrasi Hb di bawah
normal. Kondisi ini menyebabkan penurunan kapasitas darah untuk
mengangkut oksigen ke organ vital ibu dan janin. Selama kehamilan, anemia
meningkatkan resiko kehamilan kurang bulan. Anemia dapat meningkatkan
mortalitas ibu dengan menurunkan toleransi ibu terhadap hemoragi. Penyakit
ini juga meningkatkan komplikasi puerperal (mis., menghambat penyembuhan
episiotomi atau insisi), serta mengurangi persediaan zat besi untuk cadangan
janin. (Wilkinson, 2008).

2.2 Klasifikasi
Secara umum menurut Proverawati (2009) anemia dalam kehamilan
diklasifikasikan menjadi:
a. Anemia defisiensi besi sebanyak 62,3%
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat
besi dalam darah. Pengobatannya adalah pemberian tablet besi yaitu
keperluan zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam laktasi
yang dianjurkan. Untuk menegakkan diagnosis anemia defisiensi besi
dapat dilakukan dengan anamnese. Hasil anamnesa didapatkan keluhan
cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunan dan keluhan mual
muntah pada hamil muda. Pada pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat
dilakukan dengan menggunakan metode sahli, dilakukan minimal 2 kali
selama kehamilan yaitu trimester I dan III.
b. Anemia Megaloblastik sebanyak 29%.
Anemia ini disebabkan karena defisiensi asam folat (pteryglutamic acid)
dan defisiensi vitamin B12. (cyanocobalamin) walaupun jarang. Menurut
Hudono (2007) tablet asam folat diberikan dalam dosis 15-30 mg, apabila
disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 dengan dosis 100-1000 mikrogram
sehari, baik per os maupun parenteral.
c. Anemia Hipoplastik dan Aplastik 8,0%
Anemia disebabkan karena sumsum tulang belakang kurang mampu
membuat sel-sel darah baru.
d. Anemia Hemolitik sebanyak 0,7%
Anemia disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung
lebih cepat daripada pembuatannya. Menurut penelitian, ibu hamil dengan
anemia paling banyak disebabkan oleh kekurangan zat besi (Fe) serta asam
folat dan viamin B12. Pemberian makanan atau diet pada ibu hamil
dengan anemia pada dasarnya ialah memberikan makanan yang banyak
mengandung protein, zat besi (Fe), asam folat, dan vitamin B12.

2.3 Etiologi
Menurut Wilkinson (2008), penyebab anemia adalah:
1. Asupan zat besi yang tidak adekuat adalah penyebab anemia pranatal
paling umum. Pada kehamilan, penambahan zat besi dibutuhkan akibat
peningkatan produksi sel darah merah ibu dan janin. Saat trimester ketiga
janin menyimpan zat besi untuk digunakan selama 4-6 minggu pertama
kehidupan. Ibu dan janin tersebut membutuhkan zat besi dalam diet
hampir dua kali lipat dari kebutuhan ibu hamil. RDA (recommended daily
allowance) untuk zat besi selama kehamilan adalah 30 mg/hari; akan
tetapi, kebanyakan zat besi yang diperoleh dari diet biasa adalah 15-18
mg/hari.
2. Anemia Defisisensi Asam folat (anemia megaloblastik) terjadi pada sekitar
1% - 4% ibu hamil di amerika serikat. Kebutuhan asam folat meningkat
selama kehamilan akibat multiplikasi sel yang cepat, peningkatan ekskresi
asam folat dalam urine dan kebutuhan janin. Jika ibu di diagnosis
mengalami defisiensi asam folat, kemungkinan besar ia juga akan
mengalami defisiensi zat besi.
3. Anemia yang disebabkan genetik (mis., anemia sel sabit, talasemia) juga
dapat timbul pada ibu hamil.
4. Merokok , tinggal di tempat yang sangat tinggi, dan kehamilan remaja
semuanya meningkatkan resiko perkembangan anemia pranatal karena
kondisi tersebut meningkatkan kuantitas sel darah merah yang dibutuhkan
tubuh.
Menurut Wylie (2010) penyebab umum anemia defisiensi zat besi adalah:
1. Ketidakadekuatan kadar zat besi dalam diet.
2. Penurunan zat besi karena muntah berlebihan
3. Kebutuhan berlebih sel darah merah, contohnya karena kehamilan
multipel atau kehamilan yang sering, infeksi kronis seperti infeksi saluran
kemih, atau kehilangan darah akut atau kronik seperti periode yang berat
pada kehamilan sebelumnya atau perdarahan dalam kehamilan.
2.4 Patofisiologi

Adanya suatu anemia mencerminkan adanya suatu kegagalan sumsum atau


kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum
(misalnya berkurangnya eritropoesis) dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi,
pajanan toksik, invasi tumor atau penyebab lain yang belum diketahui. Sel darah
merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi).
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau
dalam system retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Hasil samping
proses ini adalah bilirubin yang akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan
destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan
bilirubin plasma (konsentrasi normal ≤ 1 mg/dl, kadar diatas 1,5 mg/dl
mengakibatkan ikterik pada sclera).
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, (pada
kelainan hemplitik) maka hemoglobin akan muncul dalam plasma
(hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas
haptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk mengikat
semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal dan kedalam urin
(hemoglobinuria).
Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien disebabkan oleh
penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak
mencukupi biasanya dapat diperoleh dengan dasar:1. hitung retikulosit dalam
sirkulasi darah; 2. derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sumsum tulang
dan cara pematangannya, seperti yang terlihat dalam biopsi; dan ada tidaknya
hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia.

2.5 Tanda dan Gejala


1. Lemah, letih, lesu dan lelah
2. Sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang
3. Gejala lanjut berupa kelopak mata, bibir, lidah, kulit dan telapak tangan
menjadi pucat. Pucat oleh karena kekurangan volume darah dan Hb,
vasokontriksi
4. Takikardi dan bising jantung (peningkatan kecepatan aliran darah) Angina
(sakit dada)
5. Dispnea, nafas pendek, cepat capek saat aktifitas (pengiriman O2
berkurang)
6. Sakit kepala, kelemahan, tinitus (telinga berdengung) menggambarkan
berkurangnya oksigenasi pada SSP
7. Anemia berat gangguan GI dan CHF (anoreksia, nausea, konstipasi atau
diare)
2.6 Bahaya Anemia dalam Kehamilan
Menurut Manuaba (2010), pengaruh anemia pada kehamilan. Risiko pada
masa antenatal : berat badan kurang, plasenta previa, eklamsia, ketuban pecah
dini, anemia pada masa intranatal dapat terjadi tenaga untuk mengedan
lemah, perdarahan intranatal, shock, dan masa pascanatal dapat terjadi
subinvolusi. Sedangkan komplikasi yang dapat terjadi pada neonatus:
premature, apgar score rendah, gawat janin.
Bahaya pada Trimester II dan trimester III, anemia dapat menyebabkan
terjadinya partus premature, perdarahan ante partum, gangguan pertumbuhan
janin dalam rahim, asfiksia intrapartum sampai kematian, gestosis dan mudah
terkena infeksi, dan dekompensasi kordis hingga kematian ibu (Mansjoer A.
dkk., 2008).
Pengaruh anemia terhadap kehamilan :
a) Abortus
b) Persalinan prematuritas
c) Hambatan tumbuh kembang janin
d) Mudah infeksi
e) Ancaman dekompensasi kordis (Hb < 6 gr %)
f) Heperemesis gravidarum
g) Perdarahan antepartum
h) Ketuban pecah dini
Akibat anemia terhadap kehamilan:
a) Abortus
b) Kematian intra uterine
c) Persalinan prematuritas tinggi
d) Berat badan lahir rendah
e) Kelahiran dengan anemia
f) Cacat bawaan
g) Bayi mudah infeksi sampai kematian perinatal
h) Intelegiensia rendah (Manuaba, 2010)
2.7 Pencegahan
Pencegahan anemia pada ibu hamil antara lain :
a) Mengkonsumsi pangan lebih banyak dan beragam, contoh sayuran warna
hijau, kacang–kacangan, protein hewani, terutama hati.
b) Mengkonsumsi makanan yang kaya akan vitamin C seperti jeruk, tomat,
mangga dan lain–lain yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi.
Suplemen zat besi memang diperlukan untuk kondisi tertentu, wanita
hamil dan anemia berat misalnya. Manfaat zat besi selama kehamilan bukan
untuk meningkatkan atau menjaga konsentrasi hemoglobin ibu, atau untuk
mencegah kekurangan zat besi pada ibu. Ibu yang mengalami kekurangan zat
besi pada awal kehamilan dan tidak mendapatkan suplemen memerlukan
sekitar 2 tahun untuk mengisi kembali simpanan zat besi dari sumber- sumber
makanan sehingga suplemen zat besi direkomendasikan sebagai dasar yang
rutin (Depkes, 2008).
Penderita anemia ringan sebaliknya tidak menggunakan suplemen zat
besi. Lebih cepat bila mengupayakan perbaikan menu makanan. Misalnya
dengan konsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi seperti telur,
susu, hati, ikan, daging, kacang-kacangan (tahu, oncom, kedelai, kacang hijau,
sayuran berwarna hijau, sayuran berwarna hijau tua (kangkung, bayam) dan
buah-buahan (jeruk, jambu biji dan pisang). Selain itu tambahkan substansi
yang memudahkan penyerapan zat besi seperti vitamin C, air jeruk, daging
ayam dan ikan. Sebaliknya substansi penghambat penyerapan zat besi seperti
teh dan kopi patut dihindari.
2.9 Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Biodata pasien yang penting meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku
bangsa, pekerjaan, pendidikan, alamat, tanggal MRS, diagnosa medis,
no. register.
b. Keluhan utama
Keluhan utama adalah keluhan yang dirasakan pasien pada saat dikaji.
Pada umumnya akan ditemukan pasien merasakan batuk, dan sesak
nafas.
c. Riwayat penyakit sekarang
Mengungkapkan hal-hal yang menyebabkan pasien mencari pertolongan,
dikaji dengan menggunakan pendekatan PQRST.
d. Riwayat penyakit dahulu
Perlu dikaji apakah pasien pernah menderita penyakit yang sama atau
penyakit yang lain, riwayat ketergantungan terhadap makanan/minuman,
zat dan obat-obatan, imunisasi anak tersebut.
Pengkajian pasien dengan anemia (Doenges, 1999) meliputi :
1. Aktivitas / istirahat
Gejala: keletihan, kelemahan, malaise umum. Kehilangan produktivitas;
penurunan semangat untuk bekerja. Toleransi terhadap latihan rendah.
Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak.
Tanda : takikardia/ takipnae ; dispnea pada waktu bekerja atau istirahat. Letargi,
menarik diri, apatis, lesu, dan kurang tertarik pada sekitarnya. Kelemahan otot,
dan penurunan kekuatan. Ataksia, tubuh tidak tegak. Bahu menurun, postur
lunglai, berjalan lambat, dan tanda-tanda lain yang menunujukkan keletihan.
2. Sirkulasi
Gejala : riwayat kehilangan darah kronik, misalnya perdarahan GI kronis,
menstruasi berat (DB), angina, CHF (akibat kerja jantung berlebihan). Riwayat
endokarditis infektif kronis. Palpitasi (takikardia kompensasi).
Tanda : TD : peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan nadi
melebar, hipotensi postural. Disritmia : abnormalitas EKG, depresi segmen ST
dan pendataran atau depresi gelombang T; takikardia. Bunyi jantung : murmur
sistolik (DB). Ekstremitas (warna) : pucat pada kulit dan membrane mukosa
(konjuntiva, mulut, faring, bibir) dan dasar kuku. (catatan: pada pasien kulit
hitam, pucat dapat tampak sebagai keabu-abuan). Kulit seperti berlilin, pucat
(aplastik, AP) atau kuning lemon terang (AP). Sklera : biru atau putih seperti
mutiara (DB). Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke kapiler dan
vasokontriksi kompensasi) kuku : mudah patah, berbentuk seperti sendok
(koilonikia) (DB). Rambut : kering, mudah putus, menipis, tumbuh uban secara
premature (AP).
3. Integritas ego
Gejala : keyakinanan agama/budaya mempengaruhi pilihan pengobatan, misalnya
penolakan transfusi darah.
Tanda : depresi.
4. Eleminasi
Gejala : riwayat pielonefritis, gagal ginjal. Flatulen, sindrom malabsorpsi (DB).
Hematemesis, feses dengan darah segar, melena. Diare atau konstipasi. Penurunan
haluaran urine.
Tanda : distensi abdomen.
5. Makanan/cairan
Gejala : penurunan masukan diet, masukan diet protein hewani rendah/masukan
produk sereal tinggi (DB). Nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan (ulkus pada
faring). Mual/muntah, dyspepsia, anoreksia. Adanya penurunan berat badan.
Tidak pernah puas mengunyah atau peka terhadap es, kotoran, tepung jagung, cat,
tanah liat, dan sebagainya (DB).
Tanda : lidah tampak merah daging/halus (AP; defisiensi asam folat dan vitamin
B12). Membrane mukosa kering, pucat. Turgor kulit : buruk, kering, tampak
kisut/hilang elastisitas (DB). Stomatitis dan glositis (status defisiensi). Bibir :
selitis, misalnya inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah. (DB).
6. Neurosensori
Gejala : sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidak mampuan
berkonsentrasi. Insomnia, penurunan penglihatan, dan bayangan pada mata.
Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki goyah ; parestesia tangan/kaki (AP) ;
klaudikasi. Sensasi manjadi dingin.
Tanda : peka rangsang, gelisah, depresi cenderung tidur, apatis. Mental : tak
mampu berespons, lambat dan dangkal. Oftalmik : hemoragis retina (aplastik,
AP). Epitaksis : perdarahan dari lubang-lubang (aplastik). Gangguan koordinasi,
ataksia, penurunan rasa getar, dan posisi, tanda Romberg positif, paralysis (AP).
7. Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri abdomen samara : sakit kepala (DB)
8. Pernapasan
Gejala : riwayat TB, abses paru. Napas pendek pada istirahat dan aktivitas.
Tanda : takipnea, ortopnea, dan dispnea.
9. Keamanan
Gejala : riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia,. Riwayat terpajan pada
radiasi; baik terhadap pengobatan atau kecelekaan. Riwayat kanker, terapi kanker.
Tidak toleran terhadap dingin dan panas. Transfusi darah sebelumnya. Gangguan
penglihatan, penyembuhan luka buruk, sering infeksi.
Tanda : demam rendah, menggigil, berkeringat malam, limfadenopati umum.
Ptekie dan ekimosis (aplastik).
10. Seksualitas
Gejala : perubahan aliran menstruasi, misalnya menoragia atau amenore (DB).
Hilang libido (pria dan wanita). Imppoten.
Tanda : serviks dan dinding vagina pucat.

1. Keadaan umum:

Pucat , keletihan berat ,kelemahan ,nyeri kepala , demam ,dipsnea , vertigo ,


sensitive terhadap dingin , BB turun.

2. Kulit:

Pugat jaundice ( anemia hemolitik ) , kulit kering , kuku rapuh , klubbing

3. Mata:

Penglihatan kabur , jaundice sclera dan perdarahan retina

4. Telinga:
Vertigo , tinnitus

5. Mulut:

Mukosa licin dan mengkilat , stomatitis

6. Paru- paru:

Dipsneu dan orthopnea

7. Kardiovaskuler:

Takikardia , palpitasi ,mur – mur , angina , hipotensi ,kardiomegali , gagal jantung

8. Gastrointestinal:

Anoreksia dan menoragia,menurunya fertilisasi , hematuria ( pada anemia


hemolitik )

9. Muskuloskletal;

Nyeri pinggang , sendi dan tenderness sternal

10. System persyarafan:

Nyeri kepala , binggung , neurupatu perifer , parastesia , mental depresi , cemas ,


kesulitan koping.

Pemeriksaan penunjang
1. Kadar Hb, hematokrit, indek sel darah merah, penelitian sel darah putih,
kadar Fe, pengukuran kapasitas ikatan besi, kadar folat, vitamin B12,
hitung trombosit, waktu perdarahan, waktu protrombin, dan waktu
tromboplastin parsial.
2. Aspirasi dan biopsy sumsum tulang. Unsaturated iron-binding capacity
serum
3. Pemeriksaan diagnostic untuk menentukan adanya penyakit akut dan
kronis serta sumber kehilangan darah kronis.
2. Diagnosa Keperawatan
1. Perfusi jaringan tidak efektif berhubungan dengan penurunan
konsentrasi Hb dan darah, suplai oksigen berkurang.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake yang kurang, anoreksia.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan
antara suplai dan kebutuhan oksigen.

3. Intervensi Keperawatan
N Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasionalisasi
o. Keperawatan Kriteria Hasil Keperawatan
1. Perfusi Setelah dilakukan 1. Kaji tanda- 1.
jaringan tidak asuhan tanda vital. 2.
efektif keperawatan 2. Tinggikan Meningkatkan
berhubungan diharapkan kepala tempat ekspansi paru
dengan perfusi jaringan tidur. dan
penurunan klien adekuat 3. Awasi upaya memaksimalkan
konsentrasi Hb dengan kriteria : pernapasan ; oksigenasi.
dan darah, - - Membran auskultasi 3. Dispnea,
suplai oksigen mukosa merah bunyi napas gemericik
berkurang. - - Konjungtiva perhatikan menununjukkan
tidak anemis bunyi gangguan
- Akral hangat adventisius. jantung karena
- - Tanda-tanda vital Instruksikan regangan
dalam rentang keluarga untuk jantung
normal mengobservasi lama/peningkat
kulit jika ada an kompensasi
lesi atau curah jantung.
laserasi.

2. Ketidakseimban Setelah dilakukan Kaji riwayat 1.


gan nutrisi asuhan nutrisi, Mengidentifik
kurang dari keperawatan termasuk asi defisiensi,
kebutuhan makanan menduga
diharapkan status
yang disukai. kemungkinan
tubuh nutrisi klien 2. Observasi intervensi.
berhubungan adekuat dengan dan catat 2. Mengawasi
dengan intake kriteria: masukan masukan
yang kurang,  1. Adanya makanan kalori atau
anoreksia. peningkatan berat pasien. kualitas
badan sesuai 3. Timbang kekurangan
berat badan konsumsi
dengan tujuan.
tiap hari. makanan.
2. Berat badan 4. Berikan 3. Mengawasi
ideal sesuai makan sedikit penurunan
dengan tinggi dan frekuensi berat badan
badan sering atau efektivitas
dan/atau intervensi
3.Mampu
makan nutrisi.
mengidentifikasi diantara 4. Makan sedikit
kebutuhan nutrisi waktu makan. dapat
4. Tidak ada 5. Observasi menurunkan
tanda tanda dan catat kelemahan dan
malnutrisi kejadian meningkatkan
5.Menunjukkan mual/muntah, pemasukan
flatus dan juga mencegah
peningkatan
gejala lain distensi gaster.
fungsi yang 5. Gejala GI
pengecapan dari berhubungan. dapat
menelan 6. Berikan dan menunjukkan
 Tidak terjadi bantu hygiene efek anemia
penurunan berat mulut yang (hipoksia)
badan yang baik sebelum pada organ.
dan sesudah 6. Meningkatkan
berarti
makan, nafsu makan
 Pemasukan yang gunakan sikat dan
adekuat gigi halus pemasukan
 untuk oral,
penyikatan menurunkan
yang lembut. pertumbuhan
Berikan bakteri,
pencuci meminimalkan
mulut yang kemungkinan
diencerkan infeksi. Teknik
bila mukosa perawatan
oral luka. mulut khusus
7. Kolaborasi : mungkin
1.Berikan obat diperlukan bila
sesuai jaringan
indikasi, rapuh/luka/per
mis.Vitamin darahan dan
dan suplemen nyeri berat.
mineral, 7. Kolaborasi :
seperti 1. Kebutuhan
sianokobalam penggantian
in (vitamin tergantung
B12), asam pada tipe
folat anemia
(Flovite); dan/atau
asam adanya
askorbat masukan oral
(vitamin C), yang buruk
2.Besi dextran dan defisiensi
(IM/IV.) yag
diidentifikasi.
2. Diberikan
sampai defisit
diperkirakan
teratasi dan
disimpan
untuk yang tak
dapat
diabsorpsi atau
terapi besi
oral, atau bila
kehilangan
darah terlalu
cepat untuk
penggantian
oral menjadi
efektif.

3. Intoleransi Setelah dilakukan1. Kaji 1.


aktivitas tindakan kemampuan Mempengaruh
berhubungan keperawatan pasien untuk i pilihan
melakukan intervensi/bant
dengan selama ……..
untuk uan
ketidakseimba klien dapat melakukan 2. Menunjukkan
ngan antara beraktivitas tugas/AKS perubahan
suplai dan dengan kriteria normal. neurologi
kebutuhan - Berpartisipasi 2. Kaji karena
oksigen. dalam aktivitas kehilangan/ga defesiensi
fisik dgn TD, HR, ngguan vitamin B12
keseimbanga mempengaruhi
RR yang sesuai
n gaya jalan, keamanan
-Menyatakan kelemahan pasien/resiko
gejala otot. cedera.
memburuknya 3. Awasi 3. Manifestasi
efek dari tekanan kardiopulmona
OR&menyatakan darah, nadi, l dari upaya
onsetnya segera pernapasan jantung dan
selama dan paru untuk
-Warna kulit
sesudah membawa
normal,hangat&k aktivitas. jumlah
ering 4. Berikan oksigen
Memverbalisa- lingkungan adekuat ke
sikan pentingnya tenang. jaringan.
aktivitasseca-ra 5. Ubah posisi 4. Meningkatkan
bertahap pasien istirahat untuk
dengan menurunkan
Mengekspresikan
pengertian perlahan dan kebutuhan
pentingnya pantau oksigen tubuh
keseimbangan terhadap dan
pusing. menurunkan
latihan&istira
6. Anjurkan regangan
Hat pasien untuk jantung dan
- Peningkatan menghentikan paru.
toleransi aktivitas aktivitas bila5. Hipotensi
palpitasi. postural atau
hipoksia
serebral dapat
menyebabkan
pusing,
berdenyut dan
peningkatan
resiko cedera.
6.
Regangan/stre
s
kardiopulmona
l
berlebihan/stre
s dapat
menimbulkan
kegagalan.