Anda di halaman 1dari 26

Makalah

KEBIJAKAN YANG MENDUKUNG


PATIENT SAFETY
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata kuliah : Patient Safety
Dosen : Sri yekti w. M.Kep

Disusun oleh :
1. Yana saepurohman
2. Gina sakinah
3. Desi permatasari
4. Selin resyani
5. Cindy Olivia
6. Fajri nugraha
7. Iban supriawan
8. Siti sakilatusolihah
9. Tiara citra maharani
10. Widaningrum
11. Hakik taufik a
12. Yuli marlina

2c Diploma III Keperawatan


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karsa Husada Garut
Kampus 1 : Jln. Subyadinata No.07 Tlp.Fax. 0262-235946
Kampus 2 : Jln. Nusa Indah No.24 Tlp.Fax. 0262-4704803
Garut-Jawa Barat
2016-2017
Kata pengantar
Puji syukur saya / kami panjatkan ke pada Alloh SWT yang telah memberi
rahmat , karunia ,serta taufik dan hidayah-Nya beserta hidayahnya sehingga saya
dapat menyelesaikan makalah “kebijakan yang mendukung patient safety ”tepat
pada waktunya . Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada
junjungan besar kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan
kepada kita jalan yang lurus berupa ajaran agama Islam yang sempurna dan
menjadi anugerah serta rahmat bagi seluruh alam semesta.

Meskipun masih banyak kekurangan didalamnya . Dan kami juga berterima


kasih pada bu Sri Yekti W. M.Kep selaku dosen mata kuliah patient safety yang
telah memberikan tugas ini kepada kami.

kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dan menambah wawasan .
kami juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam makalah ini terdapat kekurangan
dan jauh dari kata sempurna . Oleh sebab itu , kami berharap adanya kritik , saran
dan usulan demi perbaikan makalah yang kami buat di masa yang akan datang ,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun .

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang


membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat
kesalahan kata-kata yang kurang berkenan .

Garut, 11 oktober 2017

Penyusun

Kelompok

2
Daftar isi
Cover ..................................................................................................................
Kata pengantar ................................................................................................... 2
Daftar isi ............................................................................................................. 3
Bab I pendahuluan .............................................................................................. 4
1.1.Latar belakang ........................................................................................ 4
1.2.Rumusan masalah.................................................................................... 5
1.3.Tujuan penulisan .................................................................................... 5
1.4.Metode penulisan ................................................................................... 5
Bab II pembahasan ............................................................................................. 6
2.1.Pengertian keselamatan pasien ( Patient Safety ) ................................... 6
2.2.Kebijakan yang mendukung keselamatan pasien bertaraf nasional atau
dalam negri ............................................................................................. 6
2.3.Kebijakan yang mendukung keselamatan pasien bertaraf internasional
atau luar negri ......................................................................................... 22
Bab III penutup ................................................................................................... 25
3.1.Kesimpulan ............................................................................................ 25
3.2.Saran ....................................................................................................... 25
Daftar isi ............................................................................................................. 26

3
Bab I
Pendahuluan
1.1.Latar belakang
Kebijakan adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman dan
dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara
bertindak. Istilah ini dapat diterapkan pada pemerintahan, organisasi dan
kelompok sektor swasta, serta individu. Kebijakan berbeda dengan peraturan dan
hukum. Jika hukum dapat memaksakan atau melarang suatu perilaku (misalnya
suatu hukum yang mengharuskan pembayaran pajak penghasilan), kebijakan
hanya menjadi pedoman tindakan yang paling mungkin memperoleh hasil yang
diinginkan.
Kebijakan atau kajian kebijakan dapat pula merujuk pada proses
pembuatan keputusan-keputusan penting organisasi, termasuk identifikasi
berbagai alternatif seperti prioritas program atau pengeluaran, dan pemilihannya
berdasarkan dampaknya. Kebijakan juga dapat diartikan sebagai mekanisme
politis, manajemen, finansial, atau administratif untuk mencapai suatu tujuan
eksplisit.(Wikipedia.com).
Kebijakan ini sangat bermanfaat dalam segala aspek , salah satu nya di
bidang kesehatan . Organisasi kesehatan baik dalam negeri maupun luar negri
sudah banyak mengeluarkan kebijakan kebijakan yang mendukung dunia
kesehatan itu sendiri , salah satu contoh kebijakan yang dikeluarkan kementrian
kesehatan yaitu , peraturan menteri kesehatan republik indonesia nomor 11 tahun
2017 tentang keselamatan pasien dan undang-undang republik indonesia nomor
44 tahun 2009 tentang rumah sakit sementara kebijakan yang mendukung dunia
kesehatan di luar negeri atau yang bertaraf internasional yaitu kebijakan yang
dikeluarkan oleh JCI ( Joint Comissiion International ) tentang akreditasi rumah
sakit , tata cuci tangan 6 langkah 5 momen yang dikeluarkan oleh WHO ( World
Health Organitation ) dll.
Sebab dikeluarkanya kebijakan pasti terdapat suatu alasan yang logis dan dapat
diterima secara akal .Seperti kebijakan tentang keselamatan pasien atau patient

4
safety yaitu masih tingginya angka infeksi nosocomial yang di akibatkan oleh
petugas kesehatan atau kurang perhatianya terhadap keselamatan pasien di rumah
sakit. Ada beberapa kebijakan yang mendukung tentang keselamatan pasien
diantara nya :
1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1691/Menkes/Per/Viii/2011 Tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit
2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017
Tentang Keselamatan Pasien
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 Tentang
Rumah Sakit
4. “ hospital patient safety standards “ joint commissions on accreditation of
health organizations , Illinois, USA , tahun 2002 .

1.2.Rumusan masalah
1. Apa saja kebijakan yang mendukung patient safety ?
2. Bagaimana Isi dari kebijakan patient safety yang dikeluarkan oleh
Permenkes ?
3. Bagaimana standar keselamatan pasien yang dikeluarkan organisasi
bertaraf internasional atau JCI ?

1.3.Tujuan penulisan
1. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah patient safety
2. Untuk menjadi bahan seminar di kelas
3. Untuk menjadi bahan perkuliahan
1.4.Metode penulisan
bab I membahas latar belakang , rumusan masalah , tujuan dibuatnya
makalah ,bab II membahas materi yang berkaitan dengan system informasi, bab
III kesimpulan dan saran dari penulis dan halaman terakhir terdapat daftar
pustaka atau daftar referensi .

5
Bab II
Pembahasan
2.1.Pengertian keselamatan pasien ( Patient Safety )
Keselamatan Pasien adalah suatu sistem yang membuat asuhan pasien
lebih aman, meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan risiko pasien,
pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak
lanjutnya, serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan
mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan
suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil
.( Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017
Tentang Keselamatan Pasien)
Menurut Supari tahun 2005, patient safety adalah bebas dari cidera
aksidental atau menghindarkan cidera pada pasien akibat perawatan medis dan
kesalahan pengobatan.
Patient safety (keselamatan pasien) rumah sakit adalah suatu sistem
dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Hal ini termasuk :
assesment resiko,identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko
pasien,pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insident dan tindak
lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko.
Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang di sebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya
dilakukan (DepKes RI, 2006).
Jadi kesimpulan nya keselamatan pasien itu adalah sekumpulan prosedur
atau cara pencegahan ( preventif ) untuk menyelamatkan pasien dari segala resiko
yang terjadi saat di rumah sakit atau pun perawatan mandiri di rumah .
2.2.Kebijakan yang mendukung keselamatan pasien bertaraf nasional / dalam negri
1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1691/Menkes/Per/Viii/2011 Tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit
Ulasan singkat :
Bab II ( organisasi )

6
 pasal 3
Ayat 1 “ menteri membentuk komite nasional keselamatan pasien
pasien rumah sakit untuk meningkatkan keselamatan pasien dan mutu
pelayanan rumah sakit “
Ayat 6 “ fungsi dari komite nasional keselamatan pasien rumah sakit
menyelenggarakan fungsi

a. Penyusunan standar dan pedoman keselamatan pasien rumah


sakit;
b. kerja sama dengan berbagai institusi dalam dan luar negeri;
c. pengkajian Program Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
d. pengembangan dan pengelolaan sistem pelaporan insiden
untuk pembelajaran di rumah sakit; dan
e. monitoring dan evaluasi pelaksanaan program keselamatan
pasien rumah sakit. “
 pasal 6
ayat 1 “Setiap rumah sakit wajib membentuk Tim Keselamatan Pasien
Rumah Sakit (TKPRS) yang ditetapkan oleh kepala rumah sakit
sebagai pelaksana kegiatan keselamatan pasien.
Ayat 4 “ TKPRS melaksanakan tugas

a. Mengembangkan program keselamatan pasien di rumah sakit


sesuai dengan kekhususan rumah sakit tersebut;
b. menyusun kebijakan dan prosedur terkait dengan program
keselamatan pasien rumah sakit;
c. menjalankan peran untuk melakukan motivasi, edukasi,
konsultasi, pemantauan (monitoring) dan penilaian (evaluasi)
tentang terapan (implementasi) program keselamatan pasien
rumah sakit;
d. Bekerja sama dengan bagian pendidikan dan pelatihan rumah
sakit untuk melakukan pelatihan internal keselamatan pasien
rumah sakit;

7
e. melakukan pencatatan, pelaporan insiden, analisa insiden serta
mengembangkan solusi untuk pembelajaran;
f. memberikan masukan dan pertimbangan kepada kepala rumah
sakit dalam rangka pengambilan kebijakan Keselamatan Pasien
Rumah Sakit; dan
g. membuat laporan kegiatan kepada kepala rumah sakit.
Bab III Standar keselamatan pasien
 pasal 7
ayat 1 “ setiap rumah sakit wajib menerapkan standar keselamatan
pasien “
ayat 2 “ standar keselamatan pasien yang dimaksud meliputi

a. Hak pasien;
b. Mendidik pasien dan keluarga;
c. Keselamatan pasien dalam kesinambungan pelayanan;
d. Penggunaan metode peningkatan kinerja untuk melakukan
evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien;
e. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien;
f. Mendidik staf tentang keselamatan pasien; dan
g. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai
keselamatan pasien.”
Bab IV Sasaran keselamatan pasien rumah sakit
 Pasal 8
Ayat 1 “Setiap rumah sakit wajib mengupayakan pemenuhan Sasaran
Keselamatan Pasien”.
Ayat 2 “Sasaran Keselamatan Pasien sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) meliputi tercapainya hal-hal sebagai berikut:

a. Ketepatan identifikasi pasien;


b. Peningkatan komunikasi yang efektif;
c. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai;
d. Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi;

8
e. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan; dan
f. Pengurangan risiko pasien jatuh.”
Bab V Penyelenggaraan keselamatan pasien rumah sakit
 Pasal 9

Ayat 1 “ Dalam rangka menerapkan Standar Keselamatan Pasien, Rumah


Sakit melaksanakan Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah
Sakit.”
Ayat 2 “ Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari:
a. Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien;
b. Memimpin dan mendukung staf;
c. Mengintegrasikan aktivitas pengelolaan risiko;
d. mengembangkan sistem pelaporan
e. Mengedan berkomunikasi dengan pasien;
f. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien; dan
g. Mencegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien”.
2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017
Tentang Keselamatan Pasien
Ulasan singkat :
 Pasal 2 “ Pengaturan Keselamatan Pasien bertujuan untuk meningkatkan
mutu pelayanan fasilitas pelayanan kesehatan melalui penerapan
manajemen risiko dalam seluruh aspek pelayanan yang disediakan oleh
fasilitas pelayanan kesehatan”.
Bab III penyelenggaraan keselamatan pasien
 Pasal 5
Ayat 1 “ setiap fasilitas pelayanan kesehatan harus menyelenggarakan
keselamatan pasien “
Ayat 2 “ penyelenggaraan keselamatan pasien sebagaimana dimaksud pada
ayat 1 dilakukan meliputi pembentukan system pelayanan yang
menerapkan :
a. Standar keselamatan pasien

9
b. Sasaran keselamatan pasien
c. Tujuh langkah menuju keselamatan pasien
Ayat 3 “ system pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 harus
menjamin pelaksanaan :
a. Asuhan pasien lebih aman , melalui upaa yang meliputi asesmen risiko
, identifikasi dan pengelolaan risiko pasien
b. Pelaporan dan analisis insiden , kemampuan belajar dari insiden , dan
tindak lanjutnya , dan
c. Implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan
mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil . “

Uraian tujuh standar yang dimaksud diatas adalah sebagai berikut:

STANDAR I. HAK PASIEN

Standar: Pasien dan keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan


informasi tentang rencana dan hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya
insiden.

Kriteria:

a. Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan.


b. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan.
c. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan secara
jelas dan benar kepada pasien dan keluarganya tentang rencana dan hasil
pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan
terjadinya insiden.

STANDAR II. MENDIDIK PASIEN DAN KELUARGA

Standar: Fasilitas pelayanan kesehatan harus mendidik pasien dan


keluarganya tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.

10
Kriteria:

Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dengan


keterlibatan pasien yang merupakan partner dalam proses pelayanan. Karena itu,
di fasilitas pelayanan kesehatan harus ada sistem dan mekanisme mendidik pasien
dan keluarganya tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan
pasien. Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien dan keluarga dapat:

1. Memberikan informasi yang benar, jelas, lengkap dan jujur


2. Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab pasien dan keluarga
3. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti
4. Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan.
5. Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan fasilitas pelayanan
kesehatan.
6. Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa
7. Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati.

STANDAR III. KESELAMATAN PASIEN DALAM KESINAMBUNGAN


PELAYANAN

Standar: Fasilitas pelayanan kesehatan menjamin keselamatan pasien


dalam kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar
unit pelayanan.

Kriteria:

a. Terdapat koordinasi pelayanan secara menyeluruh mulai dari saat pasien


masuk, pemeriksaan, diagnosis, perencanaan pelayanan, tindakan
pengobatan, rujukan dan saat pasien keluar dari fasilitas pelayanan
kesehatan.
b. Terdapat koordinasi pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien
dan kelayakan sumber daya secara berkesinambungan sehingga pada
seluruh tahap pelayanan transisi antar unit pelayanan dapat berjalan baik
dan lancer

11
c. Terdapat koordinasi pelayanan yang mencakup peningkatan komunikasi
untuk memfasilitasi dukungan keluarga, pelayanan keperawatan,
pelayanan sosial, konsultasi dan rujukan, pelayanan kesehatan primer dan
tindak lanjut lainnya.
d. Terdapat komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan
sehingga dapat tercapainya proses koordinasi tanpa hambatan, aman dan
efektif.

STANDAR IV. PENGGUNAAN METODE-METODE PENINGKATAN


KINERJA UNTUK MELAKUKAN EVALUASI DAN PROGRAM
PENINGKATAN KESELAMATAN PASIEN

Standar: Fasilitas pelayanan kesehatan harus mendesain proses baru atau


memperbaiki proses yang ada, memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui
pengumpulan data, menganalisis secara intensif insiden, dan melakukan
perubahan untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien.

Kriteria:

a. Setiap fasilitas pelayanan kesehatan harus melakukan proses perancangan


(desain) yang baik, mengacu pada visi, misi, dan tujuan fasilitas pelayanan
kesehatan, kebutuhan pasien, petugas pelayanan kesehatan, kaidah klinis
terkini, praktik bisnis yang sehat, dan faktorfaktor lain yang berpotensi
risiko bagi pasien sesuai dengan “Tujuh Langkah Menuju Keselamatan
Pasien”.
b. Setiap fasilitas pelayanan kesehatan harus melakukan pengumpulan data
kinerja yang antara lain terkait dengan: pelaporan insiden, akreditasi,
manajemen risiko, utilisasi, mutu pelayanan, keuangan.
c. Setiap fasilitas pelayanan kesehatan harus melakukan evaluasi intensif
terkait dengan semua insiden, dan secara proaktif melakukan evaluasi satu
proses kasus risiko tinggi.

12
d. Setiap fasilitas pelayanan kesehatan harus menggunakan semua data dan
informasi hasil analisis untuk menentukan perubahan sistem yang
diperlukan, agar kinerja dan keselamatan pasien terjamin.

STANDAR V. PERAN KEPEMIMPINAN DALAM MENINGKATKAN


KESELAMATAN PASIEN

Standar:

1. Pimpinan mendorong dan menjamin implementasi program keselamatan


pasien secara terintegrasi dalam organisasi melalui penerapan “Tujuh
Langkah Menuju Keselamatan Pasien“.
2. Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif untuk identifikasi
risiko keselamatan pasien dan program menekan atau mengurangi insiden.
3. Pimpinan mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi antar
unit dan individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang
keselamatan pasien.
4. Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adekuat untuk mengukur,
mengkaji, dan meningkatkan kinerja fasilitas pelayanan kesehatan serta
meningkatkan keselamatan pasien.
5. Pimpinan mengukur dan mengkaji efektifitas kontribusinya dalam
meningkatkan kinerja fasilitas pelayanan kesehatan dan keselamatan
pasien.

Kriteria:

a. Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan pasien.


b. Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan dan
program meminimalkan insiden. Insiden meliputi Kondisi Potensial
Cedera (KPC), Kejadian Nyaris Cedera (KNC), Kejadian Tidak Cedera
(KTC), Kejadian Tidak Diharapkan (KTD). Selain Insiden diatas, terdapat
KTD yang mengakibatkan kematian, cedera permanen, atau cedera berat
yang temporer dan membutuhkan intervensi untuk mempetahankan
kehidupan, baik fisik maupun psikis, yang tidak terkait dengan perjalanan

13
penyakit atau keadaan pasien yang dikenal dengan kejadian sentinel
Contoh Kejadian sentinel antara lain Tindakan invasif/pembedahan pada
pasien yang salah, Tindakan invasif/ pembedahan pada bagian tubuh yang
keliru, Ketinggalan instrumen/alat/ benda-benda lain di dalam tubuh
pasien sesudah tindakan pembedahan, Bunuh diri pada pasien rawat inap,
Embolisme gas intravaskuler yang mengakibatkan kematian/kerusakan
neurologis, Reaksi Haemolitis transfusi darah akibat inkompatibilitas
ABO, Kematian ibu melahirkan, Kematian bayi “Full-Term” yang tidak di
antipasi, Penculikan bayi, Bayi tertukar, Perkosaan /tindakan kekerasan
terhadap pasien, staf, maupun pengunjung. Selain contoh kejadian sentinel
diatas terdapat kejadian sentinel yang berdampak luas/nasional diantaranya
berupa Kejadian yang sudah terlanjur di “ blow up” oleh media, Kejadian
yang menyangkut pejabat, selebriti dan publik figure lainnya, Kejadian
yang melibatkan berbagai institusi maupun fasilitas pelayanan kesehatan
lain, Kejadian yang sama yang timbul di berbagai fasilitas pelayanan
kesehatan dalam kurun waktu yang relatif bersamaan, Kejadian yang
menyangkut moral, misalnya : perkosaan atau tindakan kekerasaan.
c. Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen dari
fasilitas pelayanan kesehatan terintegrasi dan berpartisipasi dalam program
keselamatan pasien.
d. Tersedia prosedur “cepat-tanggap” terhadap insiden, termasuk asuhan
kepada pasien yang terkena musibah, membatasi risiko pada orang lain
dan penyampaian informasi yang benar dan jelas untuk keperluan analisis.
e. Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan dengan
insiden termasuk penyediaan informasi yang benar dan jelas tentang
Analisis Akar Masalah “Kejadian Nyaris Cedera” (KNC/Near miss) dan
“Kejadian Sentinel’ pada saat program keselamatan pasien mulai
dilaksanakan.
f. Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden, misalnya
menangani “Kejadian Sentinel” (Sentinel Event) atau kegiatan proaktif

14
untuk memperkecil risiko, termasuk mekanisme untuk mendukung staf
dalam kaitan dengan “Kejadian Sentinel”.
g. Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar unit dan
antar pengelola pelayanan di dalam fasilitas pelayanan kesehatan dengan
pendekatan antar disiplin.
h. Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibutuhkan dalam
kegiatan perbaikan kinerja fasilitas pelayanan kesehatan dan perbaikan
keselamatan pasien, termasuk evaluasi berkala terhadap kecukupan
sumber daya tersebut.
i. Tersedia sasaran terukur, dan pengumpulan informasi menggunakan
kriteria objektif untuk mengevaluasi efektivitas perbaikan kinerja fasilitas
pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien, termasuk rencana tindak
lanjut dan implementasinya.

STANDAR VI. MENDIDIK STAF TENTANG KESELAMATAN PASIEN

Standar:

1. Fasilitas pelayanan kesehatan terutama rumah sakit memiliki proses


pendidikan, pelatihan dan orientasi untuk setiap jabatan mencakup
keterkaitan jabatan dengan keselamatan pasien secara jelas.
2. Fasilitas pelayanan kesehatan terutama rumah sakit menyelenggarakan
pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan dan
memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan interdisipliner
dalam pelayanan pasien.

Kriteria:

a. Setiap fasilitas pelayanan kesehatan terutama rumah sakit harus memiliki


program pendidikan, pelatihan dan orientasi bagi staf baru yang memuat
topik keselamatan pasien sesuai dengan tugasnya masing-masing.
b. Setiap fasilitas pelayanan kesehatan terutama rumah sakit harus
mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan

15
inservice training dan memberi pedoman yang jelas tentang pelaporan
insiden.
c. Setiap fasilitas pelayanan kesehatan harus menyelenggarakan pelatihan
tentang kerjasama kelompok (teamwork) guna mendukung pendekatan
interdisipliner dan kolaboratif dalam rangka melayani pasien.

STANDAR VII. KOMUNIKASI SEBAGAI KUNCI BAGI STAFF UNTUK


MENCAPAI KESELAMATAN PASIEN

Standar:

1. Fasilitas pelayanan kesehatan merencanakan dan mendesain proses


manajemen informasi keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan
informasi internal dan eksternal.
2. Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat.

Kriteria:

a. Perlu disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses


manajemen untuk memperoleh data dan informasi tentang halhal terkait
dengan keselamatan pasien.
b. Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk
merevisi manajemen informasi yang ada.

SASARAN KESELAMATAN PASIEN NASIONAL (SKPN)

Tujuan SKP adalah untuk menggiatkan perbaikan-perbaikan tertentu


dalam soal keselamatan pasien. Sasaran sasaran dalam SKP menyoroti bidang-
bidang yang bermasalah dalam perawatan kesehatan, memberikan bukti dan solusi
hasil konsensus yang berdasarkan nasihat para pakar. Dengan mempertimbangkan
bahwa untuk menyediakan perawatan kesehatan yang aman dan berkualitas tinggi
diperlukan desain sistem yang baik, sasaran biasanya sedapat mungkin berfokus
pada solusi yang berlaku untuk keseluruhan sistem. SASARAN
KESELAMATAN PASIEN NASIONAL Di Indonesia secara nasional untuk

16
seluruh Fasilitas pelayanan Kesehatan,diberlakukan Sasaran Keselamatan Pasien
Nasional yang terdiri dari :

SASARAN 1: MENGIDENTIFIKASI PASIEN DENGAN BENAR

Fasilitas pelayanan Kesehatan menyusun pendekatan untuk memperbaiki


ketepatan identifikasi pasien

MAKSUD DAN TUJUAN

Kesalahan karena keliru-pasien sebenarnya terjadi di semua aspek diagnosis dan


pengobatan. Keadaan yang dapat mengarahkan terjadinya error/kesalahan dalam
mengidentifikasi pasien, adalah pasien yang dalam keadaan terbius / tersedasi,
mengalami disorientasi, atau tidak sadar sepenuhnya; mungkin bertukar tempat
tidur, kamar, lokasi di dalam fasilitas pelayanan kesehatan; mungkin mengalami
disabilitas sensori; atau akibat situasi lain.

KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN:

1. Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak boleh


menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien.
2. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk darah.
3. Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan spesimen lain untuk
pemeriksaan klinis Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan
dan tindakan / prosedur.
4. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan identifikasi yang
konsisten pada semua situasi dan lokasi.

SASARAN 2: MENINGKATKAN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF

Fasilitas pelayanan kesehatan menyusun pendekatan agar komunikasi di antara


para petugas pemberi perawatan semakin efektif.

MAKSUD DAN TUJUAN

17
Komunikasi efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan yang dipahami
oleh resipien/penerima, akan mengurangi kesalahan, dan menghasilkan
peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi dapat secara elektronik, lisan, atau
tertulis. Komunikasi yang paling mudah mengalami kesalahan adalah perintah
diberikan secara lisan dan yang diberikan melalui telpon, bila diperbolehkan
peraturan perundangan. Komunikasi lain yang mudah terjadi kesalahan adalah
pelaporan kembali hasil pemeriksaan kritis, seperti laboratorium klinis menelpon
unit pelayanan pasien untuk melaporkan hasil pemeriksaan segera /cito. Fasilitas
pelayanan kesehatan secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau
prosedur untuk perintah lisan dan melalui telepon termasuk: menuliskan (atau
memasukkan ke komputer) perintah secara lengkap atau hasil pemeriksaan oleh
penerima informasi; penerima membacakan kembali (read back) perintah atau
hasil pemeriksaan; dan mengkonfirmasi bahwa apa yang sudah dituliskan dan
dibacakan ulang dengan akurat.untuk obat-obat yang termasuk obat
NORUM/LASA dilakukan eja ulang. Kebijakan dan/atau prosedur
mengidentifikasi alternatif yang diperbolehkan bila proses pembacaan kembali
(read back) tidak memungkinkan seperti di kamar operasi dan dalam situasi gawat
darurat/emergensi di IGD atau ICU.

KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN:

1. Perintah lisan dan yang melalui telepon ataupun hasil pemeriksaan


dituliskan secara lengkap oleh penerima perintah atau hasil pemeriksaan
tersebut.
2. Perintah lisan dan melalui telpon atau hasil pemeriksaan secara lengkap
dibacakan kembali oleh penerima perintah atau hasil pemeriksaan tersebut.
3. Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh individu yang memberi
perintah atau hasil pemeriksaan tersebut
4. Kebijakan dan prosedur mendukung praktek yang konsisten dalam
melakukan verifikasi terhadap akurasi dari komunikasi lisan melalui
telepon.

18
SASARAN 3: MENINGKATKAN KEAMANAN OBAT-OBATAN YANG
HARUS DIWASPADAI

Fasilitas pelayanan Kesehatan mengembangkan pendekatan untuk memperbaiki


keamanan obat-obatan yang harus diwaspadai.

MAKSUD DAN TUJUAN Bila obat-obatan adalah bagian dari rencana


pengobatan pasien, maka penerapan manajemen yang benar penting/krusial untuk
memastikan keselamatan pasien

KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN:

1. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan agar memuat proses


identifikasi, lokasi, pemberian label, dan penyimpanan obat-obat yang
perlu diwaspadai
2. Kebijakan dan prosedur diimplementasikan
3. Elektrolit konsentrat tidak berada di unit pelayanan pasien kecuali jika
dibutuhkan secara klinis dan tindakan diambil untuk mencegah pemberian
yang tidak sengaja di area tersebut, bila diperkenankan kebijakan.
4. Elektrolit konsentrat yang disimpan di unit pelayanan pasien harus diberi
label yang jelas, dan disimpan pada area yang dibatasi ketat (restricted).

SASARAN4: MEMASTIKAN LOKASI PEMBEDAHAN YANG BENAR,


PROSEDUR YANG BENAR, PEMBEDAHAN PADA PASIEN YANG BENAR

Fasilitas pelayanan Kesehatan mengembangkan suatu pendekatan untuk


memastikan tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat pasien operasi.

MAKSUD DAN TUJUAN

Salah-lokasi, salah-prosedur, salah-pasien operasi, adalah kejadian yang


mengkhawatirkan dan biasa terjadi di fasilitas pelayanan kesehatan. Kesalahan ini
adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau tidak adekuat antara anggota
tim bedah, kurang/ tidak melibatkan pasien di dalam penandaan lokasi (site
marking), dan tidak ada prosedur untuk memverifikasi lokasi operasi.

19
KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN: Fasilitas pelayanan kesehatan
menggunakan suatu tanda yang jelas dan dapat dimengerti untuk identifikasi
lokasi operasi dan melibatkan pasien di dalam proses penandaan/pemberi tanda.

1. Fasilitas pelayanan kesehatan menggunakan suatu checklist atau proses


lain untuk memverifikasi saat preoperasi tepat lokasi, tepat prosedur, dan
tepat pasien dan semua dokumen serta peralatan yang diperlukan tersedia,
tepat, dan fungsional.
2. Tim operasi yang lengkap menerapkan dan mencatat prosedur “sebelum
insisi/time-out” tepat sebelum dimulainya suatu prosedur/tindakan
pembedahan.
3. Kebijakan dan prosedur dikembangkan untuk mendukung keseragaman
proses untuk memastikan tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat pasien,
termasuk prosedur medis dan tindakan pengobatan gigi/dental yang
dilaksanakan di luar kamar operasi.

SASARAN 5: MENGURANGI RISIKO INFEKSI AKIBAT PERAWATAN


KESEHATAN

Fasilitas pelayanan Kesehatan mengembangkan suatu pendekatan untuk


mengurangi risiko infeksi yang terkait pelayanan kesehatan.

MAKSUD DAN TUJUAN

Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan praktisi dalam


kebanyakan tatanan pelayanan kesehatan, dan peningkatan biaya untuk mengatasi
infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan merupakan keprihatinan
besar bagi pasien maupun para profesional pelayanan kesehatan. Infeksi
umumnya dijumpai dalam semua bentuk pelayanan kesehatan termasuk infeksi
saluran kemih-terkait kateter, infeksi aliran darah (blood stream infections) dan
pneumonia (sering kali dihubungkan dengan ventilasi mekanis). Pokok dari
eliminasi infeksi ini maupun infeksi lain adalah cuci tangan (hand hygiene) yang
tepat. Pedoman hand hygiene yang berlaku secara internasional bisa diperoleh dari
WHO, fasilitas pelayanan kesehatan mempunyai proses kolaboratif untuk

20
mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur yang menyesuaikan atau
mengadopsi pedoman hand hygiene yang diterima secara umum untuk
implementasi pedoman itu di Fasilitas pelayanan Kesehatan.

KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN:

1. Fasilitas pelayanan Kesehatan mengadopsi atau mengadaptasi pedoman


hand hygiene terbaru yang diterbitkan dan sudah diterima secara umum
(al.dari WHO Patient Safety).
2. Fasilitas pelayanan Kesehatan menerapkan program hand hygiene yang
efektif.
3. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkan
pengurangan secara berkelanjutan risiko infeksi yang terkait pelayanan
kesehatan

SASARAN 6 : MENGURANGI RISIKO CEDERA PASIEN AKIBAT


TERJATUH

Fasilitas pelayanan kesehatan mengembangkan suatu pendekatan untuk


mengurangi risiko pasien dari cedera karena jatuh.

MAKSUD DAN TUJUAN.

Jumlah kasus jatuh menjadi bagian yang bermakna penyebab cedera pasien rawat
inap. Dalam konteks populasi/masyarakat yang dilayani, pelayanan yang
diberikan, dan fasilitasnya, fasilitas pelayanan kesehatan perlu mengevaluasi
risiko pasien jatuh dan mengambil tindakan untuk mengurangi risiko cedera bila
sampai jatuh. Evaluasi bisa meliputi riwayat jatuh, obat dan telaah terhadap obat
dan konsumsi alkohol, penelitian terhadap gaya/cara jalan dan keseimbangan,
serta alat bantu berjalan yang digunakan oleh pasien. Program ini memonitor baik
konsekuensi yang dimaksudkan atau yang tidak sengaja terhadap langkah-langkah
yang dilakukan untuk mengurangi jatuh. Misalnya penggunaan yang tidak benar
dari alat penghalang atau pembatasan asupan cairan bisa menyebabkan cedera,

21
sirkulasi yang terganggu, atau integrasi kulit yang menurun. Program tersebut
harus diterapkan di fasilitas pelayanan kesehatan.

KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN :

1. Fasilitas pelayanan kesehatan menerapkan proses asesmen awal risiko


pasien jatuh dan melakukan asesmen ulang terhadap pasien bila
diindikasikan terjadi perubahan kondisi atau pengobatan.
2. Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi risiko jatuh bagi mereka
yang pada hasil asesmen dianggap berisiko

2.3.Kebijakan yang mendukung keselamatan pasien bertaraf internasional / luar negri


Salah satu kebijakan yang mendukung keselamatan pasien ( patient safety
) yang bertaraf internasional yaitu JCI ( Joint Comission International ) .Joint
Commission International (JCI) adalah lembaga yang mendedikasikan diri dalam
peningkatan kualitas dan keselamatan kesehatan. JCI memiliki misi meningkatkan
kualitas kesehatan secara terus-meneurs kepada masyrakat, dengan bekerja sama
dengan para stakeholder, mengevaluasi organisasi pelayanan kesehatan, serta
memberikan inspirasi dalam peningkatan penyediaan pelayanan yang aman,
efektif yang paling tinggi dan bernilai mutunya. Dari ribuan rumah sakit yang ada
di Indonesia hanya beberapa saja yang telah terakreditasi JCI.
JCI mengeluarkan 6 Goals keselamatan pasien (International Pa tient
Safety Goals/IPSG) yang menjadi pegangan (SPO) di hampir seluruh rumah sakit
di dunia.

22
1. Identifikasi Pasien Secara Tepat/Identify Patients Correctly.Menggunakan
minimal 2 identitas pasien dengan kombinasi sebagai berikut:
 Nama lengkap dan tanggal lahir, atau
 Nama lengkap dan nomor medical record, atau
 Nama lengkap dan alamat
2. Meningkatkan Komunikasi Yang Efektif/Improve Effective
Communication
 Melakukan proses feedback saat menerima instruksi per telepon
 Melakukan hand over saat serah terima pasien
 Melakukan critical result dalam waktu 30 menit
 Menggunakan singkatan yang dibakukan.
3. Meningkatkan Keamanan Penggunaan Obat yang membutuhkan
perhatian/Improve the safety of High-Alert Medications
 Tidak menyimpan elektrolit konsentrasi tinggi diruang perawatan
(termasuk potassium chloride/KCL dan Sodium chloride/NaCl
>0.9%)
4. Meningkatkan benar lokasi, benar pasien, benar prosedur
pembedahan/Ensure Correct-Site, Correct-Procedure, Correct-Patient
Surgery
 Melakukan site marking
 Menggunakan dan melengkapi surgical checklist
 Melakukan time out
5. Mengurangi Risiko Infeksi/ Reduce the risk of health care-Associated
Infections
 Melakukan cuci tangan
 Sebelum kontak dengan pasien
 Sebelum melakukan tindakan aseptic
 Setelah kontak dengan cairan tubuh
 Setelah kontak dengan pasien

23
 Setelah kontak dengan lingkungan pasien
6. Mengurangi risiko pasien cedera karena jatuh/Reduce the risk of patient
harm resulting from falls
 Melakukan pengkajian awal dan berkala mengenai risiko pasien
jatuh.
 Melakukan tindakan untuk mengurangi risiko yang teridentifikasi.

24
Bab III
Penutup
3.1.Kesimpulan
Keselamatan pasien atau patient safety sangatlah penting dalam perawatan
pasien dalam bentuk pencegahan/preventif. Ada beberapa kebijakan yang
mendukung patient safety itu sendiri baik yang nasional maupun internasional.
Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Indonesia dalam patient safety
yaitu:
1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1691/Menkes/Per/Viii/2011 Tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit
2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017
Tentang Keselamatan Pasien
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 Tentang
Rumah Sakit
Kebijakan yang dipakai oleh seluruh dunia atau bertaraf internasional yaitu
kebijakan yang dikeluarkan oleh Joint Comisiion International ( JCI ) , yang
mendedikasikan dalam keselamatan pasien .

3.2.Saran
Seorang tenaga kesehatan haruslah mengerti apa , siapa , bagaimana
patient safety itu sendiri . karena patient safety adalah salah satu unsur terpenting
dalam terapi pengobatan di rumah sakit , di klinik pengobatan dll. Patient safety
menyangkut banyak hal salah satunya dapat menjadi penilaian rumah sakit ,
apakah rumah sakit itu sudah layak atau belum di katakan sebagai rumah sakit dan
tentunya aman , nyaman bagi klien atau pasien pengguna fasilitas .

25
Daftar pustaka
 www.hukumonline_ Peraturan-Menteri-Kesehatan-Republik-Indonesia
Nomor 1691/Menkes/Per/Viii/2011-Tentang-Keselamatan-Pasien-Rumah-
Sakit.com
 www.hukumonline_Peraturan_Menteri_Kesehatan_Republik_Indonesia
Nomor_11_Tahun_2017_Tentang_Keselamatan_Pasien.com
 www.hukumonlien_Undang-
Undang_Republik_Indonesia_Nomor_44_Tahun 2009 Tentang
Rumah_Sakit.com
 “ hospital patient safety standards “ joint commissions on accreditation of
health organizations , Illinois, USA , tahun 2002 .
 www.aplikasiIPSG_JCI_ UniversitasAirlanggaSurabaya.com

26