Anda di halaman 1dari 26

BAB I

DEFINISI

1.1 Definisi
1. Hak adalah tuntutan seseorang terhadap sesuatu yang merupakan kebutuhan
pribadinya, sesuai dengan keadilan, moralitas dan legalitas.
2. Kewajiban adalah sesuatu yang harus dilakukan dan tidak boleh bila tidak
dilaksanakan.
3. General Consent atau Persetujuan Umum adalah pernyataan kesepakatan yang
diberikan oleh pasien terhadap peraturan rumah sakit yang bersifat umum.
4. Informed Consent adalah Pernyataan setuju (consent) atau ijin dari seorang (pasien)
yang diberikan secara bebas, rasional, tanpa paksaan (voluntary) terhadap tindakan
kedokteran yang akan dilakukan terhadapnya sesudah mendapatkan informasi yang
cukup tentang tindakan kedokteran yang dimaksud, dan biasanya juga mengunakan
bukti tanda tangan pasien atau keluarga pasien.
5. Pasien adalah penerima jasa pelayanan kesehatan di Rumah Sakit baik dalam keadaan
sehat maupun sakit.
6. Dokter dan Dokter Gigi adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi dan dokter gigi
spesialis lulusan pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi baik di dalam maupun di
luar negeri yang diakui Pemerintah.
7. Keluarga adalah suami atau istri, ayah atau ibu kandung, anak-anak kandung, saudara-
saudara kandung atau pengampunya.
Ayah :
- Ayah kandung.
- Termasuk ayah adalah ayah angkat yang ditetapkan berdasarkan penetapan
pengadilan atau berdasarkan hukum adat.
Ibu :
- Ibu kandung.
- Termasuk ibu adalah ibu angkat yang ditetapkan berdasarkan penetapan
pengadilan atau berdasarkan hukum adat.
Suami :
- Seorang laki-laki yang dalam ikatan perkawinan dengan seorang perempuan
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
1
istri :
- Seorang perempuan yang dalam ikatan perkawinan dengan seorang laki-laki
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
- Apabila yang bersangkutan mempunyai lebih dari 1 (satu) istri perlindungan hak
keluarga dapat diberikan kepada salah satu dari istri
8. Pelayanan kerohanian adalah Suatu usaha bimbingan untuk pasien rawat inap atau
rawat jalan agar mampu memahami arti dan makna hidup sesuai dengan keyakinan
dan agama yang dianut masing-masing.
9. Privasi adalah hak seseorang untuk mengontrol akses informasi atas rekam medis
kesehatan pribadinya. Kerahasiaan (confidentiality) adalah proteksi terhadap rekam
medis kesehatan dan informasi lain pasien dengan cara menjaga informasi pribadi
pasien dan pelayanannya.
10. Wawancara klinis / Anamnesa adalah wawancara yang dilakukan oleh petugas medis
pada pasien untuk mengetahui kondisi kesehatan pasien
11. Perlindungan barang milik pasien adalah Proses menjaga untuk melindungi harta milik
pasien yang dirawat di rumah sakit dalam kondisi yang tidak memungkinkan pasien
untuk menjaga harta miliknya.
12. Kekerasan fisik adalah ekspresi dari apa baik yang dilakukan secara fisik yang
mencerminkan tindakan agresi dan penyerangan pada kebebasan atau martabat
seseorang. Kekerasan fisik dapat dilakukan oleh perorangan atau sekelompok orang.
13. Perlindungan pasien terhadap kekerasan fisik adalah suatu upaya rumah sakit untuk
melindungi pasien dari kekerasan fisik oleh pengunjung, pasien lain atau staf rumah
sakit.
14. Bayi baru lahir (Neonatus) adalah bayi dalam kurun waktu satu jam pertama kelahiran.
15. Bayi yang lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37 minggu
sampai 42 minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram.
16. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak
yang masih dalam kandungan.
17. Lansia (Lanjut Usia) adalah seseorang yang berusia 65-90 tahun.
18. Orang dengan Gangguan Jiwa adalah orang yang mengalami suatu perubahan pada
fungsi kejiwaan. Keadaan ini ditandai dengan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang
menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan
peran sosial.
2
19. Kekerasan pada perempuan adalah segala bentuk kekerasan berbasis jender yang
berakibat menyakiti secara fisik, seksual, mental atau penderitaan terhadap perempuan.
20. Koma adalah istilah kedokteran adalan suatu kondisi tidak sadar yang sangat dalam,
sehingga tidak memberikan respons atas rangsangan rasa sakit atau rangsangan
cahaya.
21. Pasien Koma adalah pasien yang tidak dapat dibangunkan, tidak memberikan respons
normal terhadap rasa sakit atau ransangan cahaya, tidak memiliki siklus tidur-bangun,
dan tidak dapat melakukan tindakan sukarela. Koma dapat timbul dengan berbagai
kondisi, termasuk keracunan, keabnormalan metabolik, penyakit system saraf pusat,
serta luka neorologis akut seperti sroke dan hipoksia, gegar otak karena kecelakaan
berat tekena kepala dan terjadi pendarahaan di dalam tempurung kepala. Koma juga
dapat secara segaja ditimbulkan oleh agen farmasentika untuk mempertahankan fungsi
otak setelah timbulnya trauma oak lain.
22. Perlindungan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti tempat berlindung atau
merupakan perbuatan (hal) melindungi, misalnya member perlindungan pada orang
yang lemah.
23. Kerahasian adalah praktik pertukaran informasi antara sekelompok orang, bisa hanya
sebanyak satu orang, dan menyembuyikannya terhadap orang lain yang bukan anggota
kelompok tersebut. Hal yang disembuyikan tersebut di sebut dengan rahasia.
24. Informasi adalah data yang telah diolah menjadi suatu bentuk yang penting bagi
sipenerima dan mempunyai nilai yang nyata yang dapat dirasakan dalam keputusan-
keputusan yang sekarang atau keputusan – keputusan yang akan datang. (Gordon B.
Davis).
25. Tenaga non medis adalah seseorang yang mendapatkan ilmu pengetahuan yang tidak
termasuk dalam pendidikan tenaga medis, tenaga para medis perawatan, dan tenaga
paramedic non perawatan.
26. Rekam Medis adalah keterangan baik yang tertulis maupun terekam tentang identitas,
anamnesa, penentuan fisik, laboratorium, diagnose segala pelayanan dan tindakan
medic yang diberikan kepada pasien dan pengobatan baik yang dirawat inap, rawat
jalan maupun yang mendapatkan pelayanan gawat darurat.(DepKes RI.1997).

3
BAB II
RUANG LINGKUP

2.1 Hak Pasien Dan Keluarga


Hak Pasien selau dihubungkan dengan pemeliharaan kesehatan yang bertujuan agar pasien
mendapatkan upaya kesehatan, sarana kesehatan, dan bantuan dari tenaga kesehatan yang
memenuhi standar pelayanan kesehatan yang optimal sesuai dengan UU No. 44 tahun
2009 tentang Rumah Sakit.
1. Prinsip Dalam Pelayanan Kesehatan :
a. Bahwa upaya kesehatan yang semula dititk beratkan pada upaya penyembuhan
penderita, secara berangsur-angsur berkembang kearah keterpaduan upaya
kesehatan yang menyeluruh.
b. Bahwa dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi seluruh
masyarakat perlu adanya perlindungan hak pasien dan keluarga.
c. Bahwa keberhasilan pembangunan di berbagai bidang dan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi telah meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat dan
kesadaran akan hidup sehat.
d. Bahwa meningkatkan kebuuhan pelayanan dan pemerataan yang mencakup tenaga,
sarana, prasarana baik jumlah maupun mutu.
e. Bahwa pelayanan kesehatan amat penting apabila dihadapkan pada pasien yang
sangat membutuhkan pelayanan kesehatan dengan baik dan dapat memuaskan para
pasien.
f. Perlindungan merupakan hal yang esensial dalam kehidupan karena merupakan
sifat yang melekat pada setiap hak yang dimiliki.
g. Bahwa seseorang dapat menuntut haknya apabila telah memenuhi kewajibannya,
oleh karena itu kewajiban menjadi hak yang paling utama dilakukan.
h. Bahwa perlindungan bagi tenaga kesehatan maupun pasien merupakan hal yang
bersifat timbal balik artinya pihak-pihak tersebut dapat terlindungi atas hak-haknya
bila melakukan kewajibannya.
i. Bahwa dalam kondisi tertentu pasien tidak memiliki kemampuan untuk
disampaikan melalui keluarga.
j. Bahwa untuk mengatur pemenuhan perlindungan hak pasien dan keluarga harus
ada pedoman sebagai acuan bagi personil rumah sakit
4
2. Hak Pasien dan Keluarga
Hak-hak pasien dan keluarga di Rumah Sakit Raudhah yaitu :
a. Pasien berhak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang
berlaku di Rumah Sakit.
b. Pasien berhak memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien.
c. Pasien berhak memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur tanpa diskriminasi.
d. Pasien berhak memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai standar
prosedur operasional.
e. Pasien berhak memperoleh layanan yang efektif dan efesien sehingga terhindar
dari kerugian fisik dan materi.
f. Pasien berhak mengajukan pengaduan terhadap kualitas pelayanan yang
didapatkan.
g. Pasien berhak memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan diinginkannya
dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit.
h. Pasien berhak meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter
lain yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik didalam maupun diluar Rumah
Sakit.
i. Pasien berhak mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita
termasuk data-data medisnya.
j. Pasien berhak mendapatkan informasi yang meliputi diagnosis dan tatacara
tindakan medis, tujuan tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi
prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan.
k. Pasien berhak memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan
dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya.
l. Pasien berhak didampingi keluarganya dalam keadaan kritis.
m. Pasien berhak menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan yang dianutnya
selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya.
n. Pasien berhak memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam
perawatan di Rumah Sakit.
o. Pasien berhak mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakukan Rumah Sakit
terhadap dirinya.
p. Pasien berhak menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan
agama dan kepercayaan yang dianutnya
5
q. Pasien berhak menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit
diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara
perdata ataupun pidana.
r. Pasien berhak mengeluh pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai standar melalui
media cetak dan elektronik sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

3. Kewajiban Rumah Sakit Dalam Menghormati Hak Pasien dan Keluarga


a. Memberikan hak istimewa dalam menentukan informasi apa saja yang
berhubungan dengan pelayanan yang boleh disampaikan kepada keluarga atau
pihak lain.
b. Pasien diinformasikan tentang kerahasian rekam medik pasien
c. Pembukaan atas kerahasiaan mengenai pasien dalam rekam medik diperbolehkan
dalam UU No 29 tahun 2004, yaitu sebagai berikut :
1) Diminta oleh aparat penegak hukum dalam rangka penegakan hukum misalnya,
visum et repertum
2) Atas permintaan pasien sendiri
3) Untuk kepentingan kesehatan pasien itu sendiri
4) Berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, misalnya; undang-
undang wabah, undang-undang karantina, dsb.
d. Pasien diminta persetujuannya untuk membuka informasi yang tidak tercakup
dalam undang-undang dan peraturan.
e. Rumah sakit menghormati kerahasiaan informasi kesehatan pasien dengan
membatasi akses ke ruang penyimpanan rekam medik, tidak meletakan rekam
medis pasien di tempat umum, dan sebagainya.
f. Rumah sakit merespon terhadap permintaan pasien dan keluarganya untuk
pelayanan rohani atau sejenisnya berkenaan dengan agama dan kepercayaan
pasien. Respon tersebut antara lain dengan menyediakan rohaniwan serta buku doa
g. Menyediakan partisi / sekat pemisah untuk menghormati privasi pasien di ruang
perawatan
h. Menyediakan loker/lemari untuk menyimpan harta benda pasien
i. Memasang CCTV pada area yang perlu pengawasan ketat seperti IGD, Intensive
Care, Ruang Bayi, Instalasi Rawat Inap serta area rumah sakit yang jauh dari
keramaian.
6
j. Melindungi pasien dari kekerasan fisik dengan memantau ketat pengunjung yang
masuk ruang perawatan serta mewajibkan pengunjung memakai ID Card
k. Menyediakan tenaga security untuk memantau area di lingkungan rumah sakit
l. Menyediakan gelang berwarna ungu dalam menghormati hak pasien dan keluarga
terhadap pilihan keputusan DNR
m. Menyediakan kamar mandi khusus untuk manula dan orang cacat
n. Menyediakan tenaga penerjemah, baik bagi pasien yang tidak bisa memahami
bahasa indonesia maupun bagi pasien tuna rungu
o. Membentuk Tim Manajemen nyeri untuk mengatasi nyeri pada pasien
p. Memberikan informasi bila terjadi penundaan pelayanan
q. Menyediakan formulir permintaan rohaniawan
r. Menyediakan formulir permintaan menyimpan harta benda
s. Menyediakan formulir pelepasan informasi
t. Menyediakan formulir permintaan privasi

4. Kewajiban Pasien
Kewajiban pasein tertuang dalam persetujuan umum atau disebut juga general
consent adalah persetujuan yang bersifat umum yang diberikan pasien pada saat
masuk ruang rawat inap atau didaftar pertama kali sebagai pasien rawat jalan, yaitu :
a. Memberikan informasi yang akurat dan lengkap tentang keluhan sakit sekarang,
riwayat medis yang lalu, medikasi/pengobatan dan hal-hal lain yang berkaitan
dengan kesehatan pasien.
b. Mengikuti rencana pengobatan yang diadviskan oleh dokter termasuk instruksi
para perawat dan tenaga kesehatan yang lain sesuai perintah dokter.
c. Memperlakukan staf rumah sakit dan pasien lain dengan bermartabat dan hormat
serta tidak memperlakukan tindakan yang akan mengganggu operasional rumah
sakit.
d. Menghormati privasi orang lain dan barang milik orang lain dan rumah sakit
e. Tidak membawa alkohol, obat-obat terlarang atau senjata tajam ke dalam rumah
sakit.
f. Menghormati bahwa rumah sakit adalah area bebas rokok
g. Mematuhi jam kunjung dari rumah sakit

7
h. Meninggalkan barang berharga di rumah dan membawa hanya barang-barang yang
penting selama tinggal di rumah sakit
i. Memastikan bahwa kewajiban finansial atas asuhan pasien dipenuhi sebagaimana
kebijakan rumah sakit
j. Bertanggung jawab atas tindakannya sendiri apabila menolak pengobatan atau
advis yang diberikan oleh dokter.

2.2 Pelayanan Kerohanian


Salah satu hak pasien yang harus dipenuhi oleh rumah sakit dalam memberikan
pelayanan kepada pasien sebagaimana yang tercantum dalam UU NO. 44 tahun 2009
tentang hak pasien. Pelayanan ini sangat berarti sebagai upaya menigkatkan rasa percaya
diri kepada Tuhan sebagai Dzat yang mentukan kehidupan manusia, sehingga motivasi
ini dapat menjadi pendorong dalam proses penyembuhan.
Bimbingan rohani pasien merupakan bagian dari bentuk pelayanan kesehatan dalam
upaya pemenuhan kebutuhan bio-pysco-socio-spiritual (APA, 1992) yang menyeluruh
karena pada dasarnya di setiap diri manusia terhadap kebutuhan dasar spiritual.
Pentingnya bimbingan spiritual dalam kesehatan telah menjadi ketetapan Undang-
Undang yang menyatakan bahwa aspek agama merupakan salah satu unsur dari
pengertian kesehatan seutuhnya. Oleh karena itu dibutuhkan tenaga kesehatan untuk
memenuhi kebutuhan spiritual pasien.
Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Rumah Sakit Raudhah Nomor
HPKI/SK-Dir/RSR/VI/2016 Tentang kebijakan pelayanan Kerohanian di Rumah Sakit
Raudhah Bahwa setiap pasien memilik budaya dan kepercayaan masing-masing dan
semua pasien didorong untuk mengekspresikan kepercayaan mereka dengan tetap
menghargai kepercayaan pihak lain.
Ruang lingkup pelayanan kerohanian bagi pasien di RS Raudhah meliputi:
1. Pelayanan bimbingan rohani yang dilaksanakan oleh RS Raudhah adalah untuk agama
islam, kristen katolik, protestan, dan keyakinan yang secara syah diakui keberadannya
oleh Pemerintah Republik Indonesia.
2. Pelayanan bimbingan rohani selain agama islam, katolik dan protestan maka perawat
ruangan akan berkoordinasi dengan pasien/keluarga untuk mendapatkan informasi
kemana rohaniawan yang bisa dihubungi..
3. Ruang lingkup kegiatan operasional kegiatan ini adalah di RS Raudhah.
8
4. Rohaniawan di RS Raudhah sebagai bahan pembimbingan dan pendampingan mental
spiritual pasien dalam pemenuhan hak nya sebagai pasien
5. Mengingatkan pada semua pelaku upaya kesehatan khususnya di rumah sakit dokter,
paramedis, perawat, seluruh karyawan bahwa tujuan dihadirkannya tidak lain untuk
beribadah kepada-Nya, beribadah dalam spektrum yang luas , termasuk memberikan
kekuatan spiritual kepada pasien
6. Berlaku untuk seluruh pasien yang menggunakan pelayanan di RS Raudhah agar
pasien merasa lebih kuat, ikhlas dan yakin akan pertolongan dari Tuhan Yang Maha
Esa.

2.3 Pelayanan Menghormati Kebutuhan Privasi Pasien


Hak Atas Privasi
Hak privasi ini bersifat umum dan berlaku untuk setiap orang. Inti dari hak ini
adalah suatu hak atau kewenangan untuk tidak diganggu. Setiap orang berhak untuk
tidak dicampuri urusan pribadinya oleh lain orang tanpa persetujuannya. Hak atas privasi
disini berkaitan dengan hubungan terapeutik antara dokter-pasien (Fiduciary
relationship).Hubungan ini didasarkan atas kepercayaan bahwa dokter itu akan berupaya
semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan pengobatan. Begitu pula
kepercayaan bahwa penyakit yang diderita tidak akan diungkapkan lebih lanjut kepada
orang lain tanpa persetujuannya. Dalam pasal 11 peraturan menteri kesehatan nomor
269/Menkes/Per/III/2008 diatur bahwa penjelasan tentang isi rekam medis hanya boleh
dilakukan oleh dokter atau dokter gigi yang merawat pasien dengan izin tertulis pasien
atau berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Pada saat pemeriksaan seperti wawancara klinis, prosedur tindakan, pengobatan,
professional pemberi asuhan ( PPA) wajib melindungi privasi pasien seperti data pasien,
diagnosa pasien atau pengobatan. Tindakan yang dapat dilakukan adalah menutup
korden pintu pada saat dilakukan pemeriksaan, memberi selimut kepada pasien yang
akan dipindahkan ke ruang lain atau hal lain yang semua bergantung dari kebutuhan
pasien.

9
2.4 Pelayanan Perlindungan Barang Milik Pasien
2.4.1 Kewajiban dan Tanggung Jawab
1. Seluruh Staf Rumah Sakit
1) Memahami dan menerapkan prosedur perlindungan harta benda pribadi milik
pasien/pengunjung.
2) Memastikan prosedur harta benda pribadi milik pasien/ pengunjung selama berada di
rumah sakit
3) Melaporkan kejadian salah prosedur perlindungan harta benda milik
pasien/pengunjung/karyawan.

1. SDM Yang Bertugas


1. Perawat
a. Bertanggung jawab memberikan perlindungan harta benda pasien dan memastikan
perlindungan tersebut tercatat pada laporan di rawat inap.
b. Memastikan harta benda tersimpan dengan baik. Jika terdapat kesalahan
penyimpanan maka penyimpanan harus dipindah tempatnya.
2. Petugas Keamanan/Security
a. Bertanggung jawab memberikan pengamanan harta benda pasien dan memastikan
pengamanan tersebut tercatat pada laporan.
b. Memastikan harta benda tersimpan dengan baik. Jika terdapat kesalahan
penyimpanan maka penyimpanan harus dipindah tempatnya.
3. Kepala Instalasi/ Kepala Ruang
a. Memastikan seluruh staf di instalasi memahami prosedur perlindungan harta benda
pasien.
b. Menyelidiki semua insiden salah perlindungan harta benda pasien dan memastikan
terlaksananya suatu tindakan untuk mencegah terulanginya kembali kejadian
tersebut.

4. Manajer
a. Memantau dan memastikan panduan perlindungan harta benda dikelola dengan
baik oleh kepala ruangan.
b. Menjaga standarisasi dalam menerapkan panduan perlindungan harta benda
pasien/pengunjung/karyawan.
10
 Prinsip
1. Semua Pasien/pengunjung/karyawan yang berada dalam rumah sakit harus
mendapatkan perlindungan harta benda pribadi dengan benar saat masuk rumah sakit
dan selama berada di rumah sakit.
2. Setiap pasien/pengunjung/karyawan yang berada dalam rumah sakit harus berusaha
menjaga harta benda pribadi.
3. Tujuan utama perlindungan harta benda adalah untuk menjaga keamanan yang
memiliki harta benda tersebut.
4. Perlindungan harta benda digunakan pada proses pasien/pengunjung/ karyawan masuk
dalam rumah sakit atau selama berada dalam lingkungan rumah sakit.

2.5 Perlindungan Terhadap Kekerasan Fisik


Terjadinya kekerasan fisik di lingkungan rumah sakit disebabkan oleh beberapa faktor,
tetapi faktor individu menjadi peran utama, sebagai contoh pasien dengan gangguan
mental atau pengguna obat terlarang/alkohol yang memungkinkan melakukan tindakan
kekerasan terhadap pasien lain atau terhadap pasien lain atau terhadap dirinya sendiri.
Faktor lingkungan, sebagai contoh terjadinya penculikan bayi diruangan bayi.
Dilihat dari faktor diatas dapat disimpulkan bahwa terjadinya kekerasan karena adanya
suatu kondisi kurangnya pengawasan dan pemantauan terhadap tempat atau area tertentu
di lingkungan rumah sakit.
Perlindungan terhadap kekerasan fisik di rumah sakit juga merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari perlindungan keselamatan kesehatan pasien, dan merupakan bagian dari
hak yang wajib diberikan kepada pasien dan keluarganya.
Kekerasan Fisik Di Rumah Sakit Dapat Dialami Oleh :
1. Bayi Baru Lahir (Neonatus) dan anak-anak kekerasan terhadap bayi meliputi semua
bentuk tindakan/perlakuan menyakitkan secara fisik, pelayanan medis yang tidak
standar seperti incubator yang tidak layak pakai, penculikan, bayi tertukar dan
penelantaran bayi. Menurut data dari kementerian kesehatan kasus penculikan bayi
menunjukkan peningkatan dari 72 kasus di tahun 2011 menjadi 102 di tahun 2012,
diantaranya 25% terjadi di rumah sakit, rumah bersalin dan puskesmas.
2. Kekerasan Pada Anak (child abuse) dirumah sakit adalah perlakuan kasar yang dapat
menimbulkan penderitaan, kesesngsaraan, penganiayaan fisik, seksual, penelantaran
(ditinggal oleh orang tuanya dirumah sakit), maupun emosional, yang diperoleh dari
11
orang dewasa yang ada dilingkungan rumah sakit. Hal tersebut mungkin dilakukan
oleh orang tunya sendiri, pasien lain atau pengunjung atau oleh staf rumah sakit.
Terjadinya kekerasan fisik adalah dengan penggunaan kekuasaan atau otoritasnya,
terhadap anak yang tidak berdaya yang seharusnya diberikan perlindungan.
3. Lansia
Dalam kehidupan sosial, kita mengenal adanya kelompok rentan, yaitu semua orang
yang menghadapi hambatan atau keterbatasan dalam menikmati standar kehidupan
yang layak bagi kemanusian dan berlaku umum bagi suatu masyarakat yang
berperadapan. Salah satu contoh kelompok rentan tersebut adalah orang- orang lanjut
usia (lansia). Ternyata, walau sudah memiliki keterbatasan, lansia juga rentan terhadap
kekerasan. Menurut statistik, lebih dari dua juta lansia mengalami kekerasan setiap
tahunnya. Kekerasan pada lansia adalah suatu kondisi ketika seorang lansia mengalami
kekerasan oleh orang lain. Dalam banyak kasus, kekerasan fisik datang dari orang-
orang yang mereka percayai. Karenya, mencegah kekerasan pada lansia dan
meningkatkan kesadaran akan hal ini, menjadi suatu tugas yang sulit. Statistik dari
pelayanan di New Zealand menunjukkan bahwa kebanyakan, orang – orang yang
melakukan kekerasan terhadap lansia, merupakan anggota keluarga atau orang yang
berada pada posisi yang mereka percayai, seperti : pasangan hidup, anak, menantu,
saudara, cucu, atau pun perawat. Kekerasan fisik pada lansia di rumah sakit, yaitu
berupa pemerkosaan, pemukulan, dipermalukan/diancam seperti anak kecil,
diabaikan/diterlantarkan, atau mendapat perawatan yang tidak standar.
4. Kekerasan pada perempuan
Kekersan dirumah sakit dapat berupa perkosaan, yaitu hubungan seksual yang
dilakukan seseorang atau lebih tanpa persetujuan korbannya. Namun perkosaan tidak
semata-mata sebuah serangan seksual akibat pelampiasan dari rasa marah, bisa juga
disebabkan karena godaan yang timbul sesaat seperti melihat bagian tubuh pasien
wanita yang tidak ditutupi pakaian atau selimut, mengintip pasien pada saat mandi dan
sebagainya.
5. Orang dengan gangguan jiwa
Pasien dengan gangguan jiwa terkadang tidak bisa mengendalikan perilakunya,
sehingga pasien tersebut perlu dilakukan tindakan pembatasan gerak ( restraint ) atau
menempatkan pasien di kamar isolasi. Tindakan ini bertujuan agar pasien dibatasi
pergerakannya karena dapat mencederai orang lain, bila tindakan isolasi tidak
12
bermanfaat dan perilaku pasien tetap berbahaya, berpotensi melukai diri sendiri atau
orang lain adalah dengan melakukan pengekangan/pengikatan fisik (restraint).
Kekerasan fisik pada pasien jiwa yang dilakukan restrain di rumah sakit, bisa
disebabkan oleh tindakan restrain yang tidak sesuai prosedur, atau menggunakan
pengikat yang tidak standar. Selain itu pasien jiwa yang dilakukan restrain mudah
menerima kekerasan fisik, baik dari pengunjung lain, sesama pasien jiwa, maupun oleh
tenaga medis. Hal ini disebabkan oleh karena kondisi pasien yang “terikat” sehingga
mudah mendapatkan serangan.
6. Pasien Koma
Kekerasan fisik bagi pasien yang koma di rumah sakit, bisa disebabkan oleh
pemberian asuhan medis yang tidak standar, penelantaran oleh perawat, diperlakukan
secara kasar oleh tenaga kesehatan yang bertugas sampai pada menghentikan bantuan
hidup dasar pada pasien tanpa persetujuan keluarga/wali.

2.6 Pelepasan Informasi Pasien


Secara umum dapat disadari bahwa informasi yang terdapat dalam rekam medis
sifatnya rahasia dan harus dijaga kerahasiannya oleh dokter maupun tenaga profesi
kesehatan lainnya. Dari pernyataan diatas mungkin akan timbul pertanyaan apakah
rahasia kedokteran itu dapat dibuka. Pitono Soeparto (2006) dalam Etik dan Hukum di
Bidang Kesehatan mengatakan bahwa di Indonesia tidak menganut paham kewajiban
menyimpan rahasia kedokteran secara mutlak, namun terdapat pengecualian bahwa
rahasia kedokteran dapat dibuka berdasarkan beberapa alas an yaitu :
1. Karena Daya Paksa Pasal 48 KUHP yang berbunyi:
“Barang siapa melakukan sesuatu perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dapat
dipidana”. Dengan adanya pasal tersebut, maka tenaga kesehatan terpaksa
membuka rahasia pasien karena pengaruh daya paksa untuk melindungi :
1) Kepentingan umum
2) Kepentingan orang yang tidak bersalah
3) Kepentingan pasien
4) Kepentingan tenaga kesehatan itu sendiri tidak dapat dipidana.
2. Karena Menjalankan Perintah Undang-Undang(Pasal 50 KUHP).
Seorang tenaga kesehatan yang dipanggil sebagai saksi ahli atau saksi dalam sidang
pengadilan, kewajiban untuk menyimpan rahasia pasien dapat gugur atas perintah
13
hakim yang memimpin sidang (Pasal 170 ayat 2 Kitab Undang-Undang Hukum
Acara Pidana).
3. Karena Perintah Jabatan(Pasal 51 KUHP)
Seorang tenaga kesehatan yang diperintahkan untuk membuka rahasia pasien oleh
atasannya yang berhak untuk itu, tidak dapat dipidana.
4. Karena Untuk Mendapatkan Santunan Asuransi.
Seorang dokter wajib mengisi formulir yang diperlukan oleh pasien atau keluarganya
untuk mendapat santunan asuransi. Dalam hal ini kewajiban untuk menyimpan rahasia
kedokteran menjadi gugur, karena berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh
Menteri Tenaga Kerja, tanpa keterangan dari dokter yang merawat, maka santunan
asuransu tenaga kerja tidak akan dapat diberikan kepada yang bersangkutan. Hal
pembukaan rahasia kedokteran dipertegas kembali dalam Peraturan Menteri Kesehatan
RI No. 269/MENKES/PER/III/2008 BAB IV Pasal 10 Ayat(2) “Informasi tentang
identitas, diagnosa, riwayat penyakit, riwayat pemeriksaan, dan riwayat pengobatan
dapat dibuka dalam hal :
a. Untuk kepentingankesehatanpasien
b. Memenuhi permintaan peraturan penegak hukum dalam rangka penegakan
hukum atas perintah pengadilan.
c. Permintaan dan atau persetujuan pasien sendiri.
d. Permintaan istitusi/ lembaga berdasarkan ketentuan perundang-undangan dan
e. Untuk kepentingan penelitian, pendidikan dan audit medis sepanjang tidak
menyebutkan identitas pasien.

Ayat(3) “Permintaan rekam medis untuk tujuan sebagaimana dimaksud pada ayat(2)
harus dilakukan secaratertulis kepada pimpinan sarana pelayanan kesehatan”.

Persetujuan Pelepasan Informasi Medis


Walaupun informasi yang terkandung dalam rekam medis dapat dibuka, namun
pelepasan informasi tersebut harus melalui persetujuan atau ijin tertulis dari pasien
ataupun kuasa pasien itu sendiri. Ini dimaksudkan untuk melindungi hak privasi
pasien dan melindungi sarana pelayanan kesehatan dalam tindak hukum perlindungan
hak kerahasiaan informasi pasien. Ijin tertulis atau persetujuan pelepasan informasi
medis ini harus dilengkapi dengan tanda tangan pasien. Selanjutnya Huffman,1994
menyebutkan bahwa formulir pelepasan informasi setidaknya memuat unsur-unsur
14
yang meliputi :
a. Nama institusiyang akan membuka informasi.
b. Nama perorangan atau institusi yang akan menerima informasi
c. Nama lengkap pasien, alamat terakhir dan tanggal lahir.
d. Jenis informasi yang diinginkan termasuk tanggal pengobatan pasien. Hati-hati
perkataan“apapun dan semua” jenis informasi tidak dibenarkan.
e. Tanggal yang tepat, kejadian, kondisi hingga batas waktu ijin yang ditetapkan,
kecuali dicabut sebelumnya.
f. Pernyataan bahwa ijin dapat dicabut dan tidak berlakubagi masa lampau maupun
mendatang.
g. Tanggal ijin ditandatangani. Tanggal tanda tangan harus sebelum tanggal
membuka informasi.
h. Tanda tangan pasien/kuasa. Membuka informasi harus berdasarkan ijin anak.
Kemudian WHO dalam Medical Record Manual menjelaskan apabila suatu
permintaan dibuat untuk pelepasan informasi, permintaan tersebut harus mengandung
hal-hal sebagai berikut :
1. Nama lengkap pasien,alamat dan tanggal lahir
2. Nama orang atau lembaga yang akan meminta informasi
3. Tujuan dan kebutuhan informasi yang diminta
4. Tingkat dan sifat informasi yang akan dikeluarkan,termasuk tanggal keluar
informasi
5. Ditandatangani oleh pasien atau wakilnya yang sah (misalnya,orangtua atau
anak.

15
BAB III
TATA LAKSANA

3.1 Pemberian informasi Hak Pasien dan Keluarga


3.1.1 Pada Saat Pendaftaran.
Pada saat pendaftaran, baik di rawat jalan maupun rawat inap, Petugas
administrasi akan memberikan penjelaskan kepada pasien dengan bahasa yang
mudah dimengerti mengenai 18 butir hak pasien berdasarkan Undang-undang no 44
tentang rumah sakit selama pasien dirawat di Rumah Sakit Raudhah. Pasien
diberikan pemahaman bahwa pasien sesungguhnya adalah penentu keputusan
tindakan medis bagi dirinya sendiri. Seperti yang tertera pada undang-undang No. 44
tahun 2009 tentang rumah sakit, dimana undang-undang ini bertujuan untuk
“memberikan perlindungan kepada pasien”, “mempertahankan dan meningkatkan
mutu pelayanan medis”, dan “memberikan kepastian hukum bagi pasien maupun
dokter”.
Adanya hak pasien membantu meningkatkan kepercayaan pasien dengan
memastikan bahwa sistem pelayanan di Rumah Sakit Raudhah bersifat cukup adil
dan responsif terhadap kebutuhan mereka, dan memberitahukan kepada pasien
mekanisme untuk memenuhi keinginan meraka, dan mendorong pasien untuk
mengambil peran aktif serta kritis dalam meningkatkan kesehatan mereka. Selain itu,
hak dan kewajiban juga dibuat untuk menegaskan pola hubungan yang kuat antara
pasien dengan dokter.
3.1.2 Pada Saat Pengobatan.
Pada saat pasien berkunjung ke poliklinik atau sedang dirawat di ruang perawatan,
akan berlangsung tanya jawab antara pasien dan dokter (anamnesis), pasien harus
bertanya (berusaha mendapatkan hak pasien sebagai konsumen). Bila berhadapan
dengan dokter yang tidak mau membantu mendapatkan hak pasien, itu saatnya pasien
mencari dokter lain atau mencari second opinion ditempat lain. Pasien menjadikan
dirinya sebagai “partner” diskusi yang sejajar bagi dokter. Ketika pasien memperoleh
penjelasan tentang apapun, dari pihak manapun, tentunya sedikit banyak harus
mengetahui, apakah penjelasan tersebut benar atau tidak. Semua profesi memiliki
prosedur masing-masing, dan semua kebenaran tindakan dapat diukur dari kesesuaian
tindakan tersebut dengan standar prosedur yang seharusnya. Begitu juga dengan
16
dunia kedokteran. Ada yang disebut dengan guideline atau Panduan Praktek Klinis
(PPK) dalam menangani penyakit.
Lalu, dalam posisi sebagi pasien, setalah kita mengetahui peran penting kita dalam
tindakan medis, apa yang dapat dilakukan ? Karena, tindakan medis apapun,
harusnya disetujui oleh (informed consent) sebelum dilakukan setelah dokter
memberikan informasi yang cukup. Bila pasien tidak menghendaki, maka tindakan
medis seharusnya tidak dapat dilakukan. Pihak dokter atau Rumah Sakit seharusnya
memberikan kesempatan kepada pasien untuk menyatakan persetujuan atau
sebaliknya menyatakan penolakan. Persetujuan itu dapat dinyatakan secara tulisan.
Selanjutnya, UU no. 29/2004 pada pasal 46 menyatakan dokter WAJIB mengisi
rekam medis untuk mencatat tindakan medis yang dilakukan terhadap pasien secara
clear, correct dan complete. Dalam pasal 47, dinyatakan rekam medis merupakan
milik pasien. Artinya, pasien berhak mendapatkan salinan rekam medis dan pasien
berhak atas kerahasian dari isi rekam medis miliknya tersebut, sehingga rumah sakit
tidak bisa memberi informasi terkait data-data medis pasien kepada orang
pribadi/perusahaan asuransi atau ke media cetak / elektronik tanpa seizin pasiennya.
3.1.3 Pada Saat Perawatan
Selama dalam perawatan, pasien berhak mendapatkan privasi baik saat wawancara
klinis, saat dilakukan tindakan ataupun menentukan siapa yang boleh
mengunjunginya. Begitu pula untuk pelayanan rohani, pasien berhak mendapatkan
pelayanan rohani baik secara rutin maupun secara insidensial manakala dibutuhkan.

3.2 Pelayanan Kerohanian


. Tata laksana pelayanan kerohanian bagi pasien di RS Raudhah, sebagai berikut:
1. Pasien/keluarga melapor ke perawat ruangan jika ingin mendapatkan pelayanan
kerohanian dengan mengisi form permintaan pelayanan kerohanian.
2. Perawat ruangan menyerahkan form tersebut ke bagian administrasi pelayanan.
3. Bagian administrasi pelayanan menghubungi rohaniawan yang dimaksud.
4. Rohaniawan menemui pasien dengan diantar oleh perawat ruangan.
5. Pelayanan kerohanian tidak dipungut biaya. Akan tetapi jika pasien ingin memberikan
biaya secara sukarela dipersilahkan langsung kepada rohaniawan tersebut.
6. Setelah selesai melakukan pelayanan kerohanian, rohaniawan mendapatkan biaya
pengganti transpot dari management RS Raudhah.

17
Sedangkan garis-garis besar Kebijakan Pelayanan Kerohanian di RS Raudhah disusun
sebagai berikut :
1. Petugas RS Raudhah harus terbuka terhadap ekspresi kesepian dan ketidakberdayaan
pasien.
2. RS Raudhah menganjurkan penggunaan sumber-sumber spiritual yang ada
3. RS Raudhah memfasilitasi pasien dengan artikel-artikel spiritual sesuai dengan pilihan
mereka
4. Mengkonsultasikan pasien ke penasihat spiritual pilihan pasien. Jika pasien tidak
memiliki pilihan, maka RS Raudhah memfasilitasi penasehat spiritual (rohaniawan).
5. Petugas menggunakan teknik klarifikasi nilai untuk membantu mengklarifikasi nilai
dan kepercayaan
6. Petugas menyediakan waktu untuk mendengarkan ungkapan perasaan pasien
7. Petugas RS Raudhah harus bersikap empati pada perasaan pasien
8. RS Raudhah memfasilitasi pasien untuk melakukan kegiatan ritual seperti meditasi,
beribadah, dan aktivitas ritual keagamaan yang lain
9. Petugas RS Raudhah mendengarkan baik-baik komunikasi pasien dan membangun
sense of timing untuk beribadah
10. Meyakinkan kepada pasien bahwa petugas RS Raudhah akan bersedia membantu
pasien pada waktu sakit/menderita
11. Petugas RS Raudhah terbuka pada perasaan pasien tentang sakit dan mati.
12. Petugas membantu pasien untuk mengekspresikan dan mengurangi rasa marah dengan
jalan yang tepat dan benar

3.3 Pelayanan Menghormati Kebutuhan Privasi Pasien.


3.3.1 Rekam Medis
a. Pengambilan dokumen rekam medis dari tempat penyimpanan hanya dapat
dilakukan oleh petugas rekam medis
b. Peminjaman dokumen rekam medis oleh petugas medis di dalam rumah sakit
harus disertai buku peminjaman yang ditandatangani oleh peminjam atau
pengambil serta petugas rekam medis yang menyerahkan dokumen.
c. Peminjaman dokumen rekam medis oleh petugas medis di luar rumah sakit serta
mahasiswa harus mengajukan permohonan tertulis kepada Direktur Rumah Sakit
Raudhah Bangko.
18
d. Peminjaman dokumen rekam medis oleh instansi di luar rumah sakit (pengadilan
atau kepolisian) harus disertai pengajuan tertulis oleh instansi bersangkutan
kepada kepala rekam medis dan penyerahannya disertai berita acara.
e. Permintaan salinan atau foto copy isi dokumen rekam medis oleh pasien atau
keluarganya harus disertai pengajuan tertulis kepada kepala rekam medis serta
menandatangani pernyataan kerahasiaan isi rekam medis dan penyerahannya
disertai berita acara.
f. Setiap lembar hasil fotocopy dokumen rekam medis yang diberikan kepada pihak
luar harus ditandatangani oleh pejabat yang membawahi instansi Rekam Medis
atau Kepala Seksi Pelayanan Medis dan diberi stempel rumah sakit.
g. Orang tua baru anak adopsi menerima hak sebagai orang tua asli berhak untuk
memeriksa dokumen rekam medis anak angkatnya hingga usia 17 tahun, kecuali
dokumen rekam medis masa lampau yang berkaitan dengan orang tua aslinya.
h. Penyimpanan data rekam medis dilakukan secara sentralisasi di Instalasi Rekam
Medis disimpan dalam lemari terkunci.
i. Terkait keamanan dokumen rekam medis selain petugas tidak diperkenankan
masuk ke ruang penyimpanan dokumen rekam medis
j. Akses informasi rekam medis hanya diperbolehkan kepada orang yang
berhubungan langsung dengan pelayanan pasien yaitu dokter, perawat, tenaga
kesehatan lain.
3.3.2 Pelayanan Privasi Pasien
a. Tidak memasang papan nama pasien disetiap instalasi rawat inap.
b. Perawat melakukan serah terima dinas di kantor perawat dan pada saat keliling
ruangan bersifat konfirmasi kepada pasien.
c. Perawat rawat inap menyimpan data rekam medis (status pasien) di lemari atau
laci yang aman.
d. Pasa saat dokter visite dan melakukan pemeriksaan fisik tetap menjaga privasi
pasien dengan :
1. Meminta penunggu pasien atau orang yang sedang berkunjung untuk
keluar sebentar karena dokter akan memeriksa pasien.
2. Menutup korden atau penyekat kamar.
3. Meminta ijin kepada pasien untuk melakukan pemeriksaan fisik dan
memakaikan selimut.
19
e. Menyediakan tempat atau ruangan untuk konsultasi antara pasien atau keluarga
dengan dokter (di ruang konsultasi dokter, ruangan kepala ruangan).
f. Rumah Sakit menghormati hak pasien atau keluarga untuk tidak mau dikunjungi
karena alasan kesehatan pasien, dengan memberikan tulisan di pintu masuk kamar
pasien bertuliskan “Mohon maaf demi kesembuhan pasien, untuk sementara
pasien tidak dapat menerima tamu atau pengunjung”. Dilengkapi dengan
pengisian formulir permintaan pembatasan pengunjung.
g. Bila ada yang menanyakan tentang kondisi kesehatan pasien melalui telepon
selain keluarga, petugas ruangan tidak diperkenankan memberikan informasi
tanpa seizin pasien atau keluarga.
h. Dokter dan perawat di Rumah Sakit Raudhah Bangko wajib menjaga kerahasiaan
informasi kesehatan pasien, informasi hanya diberikan kepada keluarga terdekat
dan seijin pasien.
i. Pada saat pasien akan dikirim keluar ruangan atau unit, pasien dipakaikan selimut.
j. Jika pasien masih dalam kondisi sadar dan berkompeten untuk mengambil
keputusan, pasien wajib mengisi formulir pelepasan informasi (hak perwalian
mendapatkan informasi kesehatan pasien selama di rumah sakit) baik rawat jalan
maupun rawat inap.
k. Melakukan pembatasan jam berkunjung.
l. Untuk pasien dengan kondisi terminal atau gaduh gelisah bila ada kamar kosong
dipindahkan ke kamar tersebut, bila tidak ada, diberitahukan kepada keluarga
pasien yang lain untuk menjaga 1(satu) orang saja yang ada di dalam ruangan.
m. Bila ada telusur kasus seperti untuk kepentingan akreditasi atau penelitian, wajib
meminta izin kepada pasien untuk kesediaanya ditelusur. Pihak yang
berkepentingan membuat pernyataan secara tertulis untuk menjaga kerahasiaan
data rekam medis pasien.
n. Peliputan oleh media cetak maupun elektronik harus mengajukan permohonan
kepada Kepala Rumah Sakit secara tertulis dan harus mendapat ijin dari pasien.
Pasien wajib mengisi formulir pelepasan informasi kepada media tersebut, dengan
demikian Rumah Sakit tidak bertanggungjawab terhadap kerahasiaan data rekam
medis pasien.
o. Apabila dijumpai ada peliputan wartawan di area rumah sakit, termasuk pada saat
jam berkunjung di instalasi Pelayanan Intensif maka perawat atau satuan
20
pengamanan berwenang menanyakan ijin dari Kepala Rumah Sakit dan ijin dari
pasien, apabila tidak ada ijin dari keduanya, petugas rumah sakit wajib melarang
dan menghentikan peliputan serta meminta wartawan meninggalkan rumah sakit.

3.4 Pelayanan Perlindungan Barang Milik Pasien


3.4.1 Perlindungan Pasien

a. Semua pasien sebelum masuk rawat inap harus diinformasikan bahwa rumah sakit tidak
bertanggungjawab jika ada harta yang hilang sebab pada saat akan masuk rawat inap
sudah diinformasikan oleh unit Pendaftaran.
b. Pastikan bahwa pasien sudah menyetujui dan mengerti tentang informasi yang
disampaikan tentang perlindungan harta benda
c. Pastikan adanya proses serah terima penyimpanan sementara untuk harta benda milik
pasien apabila pada pasien tersebut tidak ada keluarga yang mendampingi dan akan
dilakukan tindakan pelayanan kesehatan.
d. Segera hubungi pihak keamanan untuk kasus kehilangan harta benda milik pasien jika
ada peristiwa kehilangan
e. Jika perlu hubungi pihak yang berwajib untuk menangani kasus kehilangan harta benda
milik pasien jika kasus tersebut berlanjut

3.4.2. Perlindungan Pengunjung

a. Pastikan pada pengunjung agar menjaga harta benda yang dibawanya dan jelaskan
bahwa tidak ada penitipan harta benda yang dibawanya.
b. Perlindungan harta benda harus diberikan kepada pengunjung jika terjadi kecelakaan,
bencana atau hilang kesadaran/ingatan pada diri pengunjung tersebut tidak ada
pengecualian selama berada dalam lingkungan rumah sakit.
c. Jika terjadi kecelakaan/bencana atau hilang kesadaran/ingatan pada pengunjung secara
tiba-tiba pastikan segera berikan perlindungan terhadap diri dan harta benda
pengunjung. Kemudian catat pada buku laporan dan laporkan pada pihak manajemen
rumah sakit.

21
d. Pada situasi di mana tidak dapat diberikan perlindungan terhadap harta benda maka
harta benda harus dipastikan dititipkan/ditinggal pada pihak keamanan dan kemudian
dikoordinasikan pada pihak manajemen.
e. Harta benda pengunjung tidak boleh dititipkan kepada pihak rumah sakit walaupun
bersifat sementara dan kondisi pengunjung masih memungkinkan untuk menjaga harta
benda sendiri karena rummah sakit tidak bertanggung jawab perlindungan harta benda
tersebut kecuali dalam kondisi tertentu.
f. Pada saat menitipkan harta benda untuk sementara waktu jika pengunjung dalam
kondisi terluka atau hilang kesadaran/ingatan, maka harus memberikan Surat
Pernyataan Penitipan dengan disertai tanda pengenal (SIM/KTP) yang masih berlaku
dan dibubuhi oleh tanda tangan/cap jempol pengunjung.
g. Jelaskan prosedur perlindungan harta benda sementara dan tujuannnya kepada
pengunjung
h. Pengecekan buku laporan pengunjung dilakukan tiap kali pergantian jaga petugas
keamanan.
i. Instalasi yang memberikan perlindungan pada harta benda pengunjung dan
membandingkan data yang diperoleh dan laporan verifikasi pihak keamanan.
j. Tindakan yang membutuhkan perlindungan harta benda pengunjung:

1) Pada saat terjadi bencana (kebakaran, gempa)


2) Pada saat evakuasi karena terjadinya bencana
3) Pada saat terjadi kasus pencurian
4) Pada saat pengunjung hilang kesadaran/ingatan.

3.4.3 Perlindungan Karyawan

a. Semua karyawan harus bertanggung jawab sendiri atas harta benda yang dibawanya.
b. Pastikan karyawan agar menjaga harta benda yang dibawanya dan jelaskan bahwa tidak
ada penitipan harta benda yang dibawanya.
c. Perlindungan harta benda harus diberikan pada semua karyawan jika terjadi kecelakaan,
rencana atau hilang kesadaran/ingatan pada diri karyawan tersebut dan tidak ada
pengecualian selama berada dalam lingkungan rumah sakit.

22
d. Jika terjadi kecelakaan/bencana atau hilang kesadaran/ ingatan pada karyawan secara
tiba-tiba pastikan segera berikan perlindungan terhadap diri dan harta benda karyawan,
kemudian catat pada buku laporan dan laporkan pada pihak manajemen rumah sakit
e. Pada situasi di mana tidak dapat diberikan perlindungan terhadap harta benda maka
harus dipastikan harta benda dititipkan/ditinggal pada pihak keamanan dan kemudian
dikoordinasikan pada pihak manajemen
f. Harta benda kayawan tidak boleh dititpkan kepada pihak rumah sakit walaupun bersifat
sementara dan kondisi karyawan untuk menjaga harta bendanya sendiri karena rumah
sakit tidak bertanggung jawab perlindungan harta benda tersebut kecuali dalam kondisi
tertentu.
g. Pada saat menitipkan harta benda untuk sementara waktu jika karyawan dalam kondisi
terluka atau hilang kesadaran/ingatan maka harus memberikan Surat Pernyataan
Penitipan dengan disertai tanda pengenal (KTP/SIM) yang masih berlaku dan dibubuhi
oleh tanda tangan/cap jempol karyawan.
h. Jelaskan prosedur perlindungan harta benda sementara dan tujuannya kepada karyawan
i. Periksa ulang detail data di buku laporan sebelum memberikan perlindungan data benda
pada karyawan
j. Pengecekan buku laporan dilakukan tiap kali pergantian jaga petugas keamanan

k. Unit yang memberikan perlindungan pada harta benda karyawan harus menanyakan
ulang identitas karyawan dan membandingkan data yang diperoleh dan laporan
verifikasi pihak keamanan.Tindakan yang membutuhkan perlindungan harta benda
karyawan:

1) Pada saat terjadi bencana (kebakaran, gempa)


2) Pada saat evakuasi karena terjadinya bencana
3) Pada saat terjadi kasus pencurian
4) Pada saat pengunjung hilang kesadaran/ingatan pengunjung masih
memungkinkan untuk menjaga harta bendanya sendiri karena rurnah sakit
tidak bertanggung jawab perlindungan harta benda tersebut kecuali dalam
kondisi tertentu.

3.5 Perlindungan TerhadapKekerasan Fisik

3.5.1. Seluruh staf RS Raudhah harus melindungi pasien & keluarganya dari kekerasan
23
fisik terutama pada pasien yang tidak mampu melindungi dirinya seperti bayi,
anak–anak, manula, perempuan, pasien jiwa, pasien koma, penyandang cacatdan
lain sebagainya.
1. Pengawasan terhadap lokasi pelayanan yang terpencil dan terisolasi, seperti
pada:
- Didepan ruanganVK
- Didepan Ruangan bayi dan OK
- Diruang Bayi
- Dijalur Evakuasi/Selasar

2. Pengawasan ketat terhadap ruang perawatan bayi dan anak–anak untuk


mencegah penculikan dan perdagangan pada bayi dan anak-anak, seperti
pada:
- Ruang perawatan bayi
- Ruang Perinatal Risiko Tinggi

3. Penanganan pada bayi/anak yang ditinggalkan oleh orangtuanya di RS


Raudhah dengan merawat bayi tersebut agar sehat untuk selanjutnya
diserahkan ke Dinas Sosial.
4. Meletakan CCTV diarea- area khusus seperti, diruang perinatologi, dipintu
masuk dan ruang pendaftaran serta area parkir.
5. Semua pengunjung diluar jam besuk yang masukk RS Raudhah harus
memakai identitas yang dapat dikeluarkan oleh Security. Pengunjung yang
mencurigakan diperiksa dan diinvestigasi oleh petugas, khususnya oleh
Security.
6. Semua pengunjung diluar jam kunjungan rumah sakit, baik diluar jam kantor,
diluar jam pelayanan maupun diluar jam besuk didaftarkan dan dicatat oleh
security.
7. Kekerasan pada pada lansia, dapat dicegah dengan beberapa tindakan
preventif

8. Membatasi jumlah pasien yang masuk keruang perawatan, diluar jam besuk
dengan menerapkan ketentuan hanya mereka yang menggunakan ID Card
yang boleh memasuki ruang perawatan.

24
3.5.2. Cara RS Raudhah melindungi pasien dari kesalahan asuhan medis

1. Memberikan asuhan medis sesuai panduan praktek klinis dan


clinicalpathway.
2. Mengupayakan sarana prasarana yang safety untuk asuhan medik dan
keperawatan.
3. Melakukan sosialisasi kepada semua tenaga kesehatan yang bertugas.

3.6 Pelepasan Informasi Pasien


Walaupun informasi yang terkandung dalam rekam medis dapat dibuka, namun
pelepasan informasi tersebut harus melalui persetujuan atau ijin tertulis dari pasien
ataupun kuasa pasien itu sendiri. Ini dimaksudkan untuk melindungi hak privasi pasien
dan melindungi sarana pelayanan kesehatan dalam tindak hukum perlindungan hak
kerahasiaan informasi pasien.
Ijin tertulis atau persetujuan pelepasan informasi medis ini harus dilengkapi dengan
tanda tangan pasien. RS Raudhah memberitahukan kepada pasien tentang informasi
kesehatannya selama dirawat diRumah Sakit adalah rahasia. Jika diperlukan untuk
melepaskan informasi tentang kesehatannya kepada pihak-pihak tertentu yang
berwenang, maka Rumah Sakit akan meminta persetujuan kepada pasien. RS Raudhah
menghargai hak pasien mengenai status kesehatannya selama dirawat dirumah sakit.
Petugas Medis(dokter dan perawat) sudah disumpah untuk tidak memberikan informasi
kesehatan pasien kepada oranglain kecuali yang di izinkan oleh pasien. Untuk staf
nonmedis (rekam medis, kasir bagian asuransi) diangkat sumpah oleh rumah sakit agar
tidak melepaskan informasi tentang kondisi kesehatan pasien kepada siapapun kecuali
atas izin dari pasien atau untuk kepentingan hukum, asuransi dan hal lain nya.

25
BAB IV
DOKUMENTASI

Dokumentasi Perlindungan Hak Pasien dan keluarga adalah :


1. Formulir hak pasien dan keluarga
2. Formulir general consent
3. Formulir pemberian informasi bila terjadi penundaan pelayanan
4. Formulir penundaan pelayanan
5. Formulir permintaan rohaniawan
6. Formulir permintaan menyimpan harta benda
7. Formulir pelepasan informasi
8. Formulir permintaan privasi
9. Formulir permintaan penterjemah
10. Formulir pemberian informasi tindakan kedokteran
11. Formulir persetujuan / menolak tindakan kedokteran
12. Formulir DNR

26