Anda di halaman 1dari 73

TEORI PASAR MODAL

EMITEN DAN PERUSAHAAN PUBLIK

OLEH:
KELOMPOK 5
NAMA NIM
1. AA Istri Syania Vihira Nanda 1607532006
2. Kannia Aulia Sahari 1607532018
3. Ni Kadek Candra Kusuma Dewi 1607532019
4. Dwiki Vernanda Krisnayana Putra 1607532022

JURUSAN AKUNTANSI
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2018
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

HUKUM DAN ETIKA


EMITEN DAN PERUSAHAAN PUBLIK

Didukung

0
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

DAFTAR ISI

EMITEN DAN PERUSAHAAN PUBLIK

A. Penawaran Umum / Going Public............................................................................... 1


A.1 Tujuan Perusahaan Go Public....................................................................................... 1
A.2 Manfaat Go Public...................................................................................................... 1
A.3 Keuntungan dari Perusahaan yang Go Public:................................................................. 1
A.4 Konsekuensi Go-Public................................................................................................ 2
A.5 Pengertian Penawaran Umum...................................................................................... 2
A.6 Penawaran Awal (Book Building).................................................................................. 2
A.7 Penjatahan Pasti........................................................................................................ 2
A.8 Penjatahan Terpusat................................................................................................... 3

B. Emiten....................................................................................................................... 4
B.1 Definisi..................................................................................................................... 4
B.2 Pernyataan Pendaftaran Penawaran Umum.................................................................... 4
B.3 Tata Cara Pernyataan Pendaftaran:.............................................................................. 4
B.4 Kewajiban dalam hal Pernyataan Pendaftaran, tidak berlaku dalam:.................................. 4
B.5 Prospektus dan Pengumuman...................................................................................... 5
B.6 Pendaftaran dan pencatatan saham Go Public................................................................ 6
B.7 Laporan keuangan perusahaan untuk tahun buku terakhir di audit dengan wajar tanpa
syarat....................................................................................................................... 6

C. Saham....................................................................................................................... 6
C.1 Pengertian Saham...................................................................................................... 6
C.2 Pengertian Common Stock dan Preffered Stock.............................................................. 6
C.3 Jenis-Jenis Saham Biasa............................................................................................. 6
C.4 Jenis Dividen dan Pembayarannya................................................................................ 7
C.5 Pembahasan dalam RUPS dan RUPSLB.......................................................................... 7
C.6 Keuntungan Memiliki Saham........................................................................................ 8
C.7 Penentukan Saham Naik dan Turun.............................................................................. 8
C.8 Alasan Perusahaan Menjual Saham:.............................................................................. 8
C.9 Pelaku Pasar Saham................................................................................................... 9

D. Perusahaan Publik...................................................................................................... 9

E. Lembaga dan Profesi Penunjang Pasar Modal terkait Penawaran umum................... 10

F. Jenis-jenis Aksi Korporasi........................................................................................ 12


F.1 Penambahan Modal................................................................................................... 12
F.1.1 Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD)................12
F.1.2 Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu................................ 14
F.2 Transaksi Lainnya..................................................................................................... 14
F.2.1 Transaksi Material............................................................................................ 14
F.2.2 Transaksi Afiliasi.............................................................................................. 17
F.2.3 Transaksi Benturan Kepentingan......................................................................... 20
F.2.4 Perubahan Kegiatan Usaha Utama...................................................................... 22
F.2.5 Pengambilalihan Perusahaan Terbuka (Akuisisi).................................................... 22
F.2.6 Penawaran Tender (Tender Offer)....................................................................... 26
F.2.7 Penggabungan (Merger) dan Peleburan Usaha (Akuisisi)........................................ 28
F.2.8 Kuasi Reorganisasi............................................................................................ 30

i
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

EMITEN DAN PERUSAHAAN PUBLIK

A. Penawaran Umum / Going Public

A.1 Tujuan Perusahaan Go Public

1) Sarana untuk tingkatkan permodalan (fund raising)


2) Value of the firm
3) Meningkatkan tata kelola perusahaan
4) Mendapatkan insentif PPh 5% dengan syarat tertentu
5) Meningkatkan modal pasar perusahaan
6) Memberikan likuiditas para pemegang saham
7) Pemegang Sama cenderung menjadi konsumen pada produk perusahaan
8) Memungkinkan untuk pendiri melakukan diversifikasi usaha
9) Memungkinkan masyarakat mengetahui nilai perusahaan dari kekuatan tawar menawar saham
10) Mempermudah usaha pembelian perusahaan lain (Expansi) dengan mencari dana dari
lembaga keuangan keuangan lain tanpa melepaskan saham
11) Mendapatkan dana untuk perluasan usaha (ekspansi) atau diversifikasi usaha dan
memperbaiki struktur modal perusahaan.
12) Meningkatkan nilai perusahaan (shareholder value).
13) Melepaskan sahamnya agar mendapatkan keuntungan (divestasi).

A.2 Manfaat Go Public

Suatu perusahaan yang melakukan penawaran umum saham dapat memperoleh manfaat-manfaat
sebagai berikut:
a) Memperoleh dana murah dan basis pemodal yang sangat luas untuk keperluan penambahan
modal, yang tentunya dapat dimanfaatkan perusahaan untuk keperluan pengembangan
usaha, membiayai berbagai rencana investasi termasuk proyek yang memiliki risiko tinggi.
b) Memberikan likuiditas dan nilai pasar terhadap kekayaan perusahaan yang merupakan nilai
ekonomis dari para pendiri (founder). Melalui mekanisme pasar sekedar, para pemegang
saham pendiri setiap saat bisa menjual sebagian atau seluruh sahamnya (likuiditas).
c) Mengangkat pandangan masyarakat umum terhadap perusahaan sehingga menjadi incaran
para professional sebagai tempat untuk bekerja. Daya tarik para professional maupun
manajer perusahaan publik adalah kelangsungan hidup lebih terjamin dan evaluasi jenjang
karir yang lebih objektif. Disamping itu, proses suksesi manajemen perusahaan publik akan
berjalan lebih mudah dan lancar serta transparan. Apalagi ada perusahaan yang
menawarkan program ESOP (Employee Stock Ownership Program) yaitu suatu program
dalam bentuk pemberian kesempatan kepada karyawan untuk memiliki saham perusahaan.
misalnya melalui bonus tahunan yang dilakukan oleh perusahaan publik piranti lunak
komputer (software) Microsoft Corporation di AS.
d) Pemegang saham, khususnya individu akan cenderung menjadi konsumen yang setia kepada
produk perusahaan, karena adanya rasa ikut memiliki perusahaan (sense of belonging).
e) Perusahaan publik menikmati secara Cuma-Cuma promosi melalui media masa, terutama
perusahaan yang sahamnya aktif diperdagangkan, likuid dan pemilikan sahamnya tersebar
luas serta kapitalisasi yang besar. Sesuai dengan ketentuan SK Menteri Keuangan
No.1199/KMK.013/1991, yang dapat melakukan penawaran umum adalah emiten yang telah
menyampaikan pernyataan pendaftaran kepada Bapepam untuk menjual atau menawarkan
efek kepada masyarakat dan pernyataan pendaftaran tersebut telah efektif.

A.3 Keuntungan dari Perusahaan yang Go Public:

1. Perusahaan dapat meningkatkan Likuiditas dan memungkinkan para pendiri perusahaan untuk
menikmati hasil yang mereka capai. Dan semakin banyak investor yang membeli saham
tersebut, maka semakin banyak modal yang diterima perusahaan dari investor luar.
2. Para pendiri perusahaan dapat melakukan diversifikasi untuk mengurangi resiko portofolio
mereka.
3. Memberi nilai suatu perusahaan. Suatu perusahaan dapat dinilai dari harga saham dikalikan
dengan jumlah lembar saham yang dijual dipasaran.

1
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

4. Perusahaan dapat melakukan merger ataupun negosiasi dengan perusahaan lainnya dengan
hanya menggunakan saham. Meningkatkan potensi pasar. Banyak perusahaan yang merasa
lebih mudah untuk memasarkan produk dan jasa mereka setelah menjadi perusahaan Go
Public atau Tbk.
5. Meningkatkan potensi pasar. Banyak perusahaan yang merasa lebih mudah untuk
memasarkan produk dan jasa mereka setelah menjadi perusahaan Go Public atau Tbk.

A.4 Konsekuensi Go-Public

Konsekuensi yang harus ditanggung oleh perusahaan dalam melakukan go-public tersebut, antara
lain:
1. Emiten dituntut lebih terbuka, sehingga dapat memacu perusahaan untuk meningkatkan
profesionalisme.
2. Perusahaan dituntut untuk dapat meningkatkan pertumbuhan perusahaan sehingga akan
dapat meningkatkan citra perusahan.
3. Perusahaan harus mengikuti peraturan-peraturan yang ada dalam pasar modal mengenal
kewajiban pelaporan.
4. Laporan Rutin. Setiap perusahaan yang go public secara periodik harus membuat laporan
kepada Bursa Efek Indonesia, bisa saja per kuartal atau tahunan, tentu saja untuk membuat
laporan tersebut diperlukan biaya.
5. Terbuka. Semua perusahaan go public pasti transparan dan sangat mudah untuk diketahui
oleh para kompetitornya dari segi data dan management nya.
6. Keterbatasan kekuasaan Pemilik. Para pemilik perusahaan harus memperhatikan kepentingan
bersama para pemegang saham, tidak bisa lagi melakukan praktek nepotisme, kecurangan
dalam pengambilan keputusan dan lainnya, karena perusahaan tersebut milik publik.
7. Hubungan antar Investor Perusahaan terbuka harus menjaga hubungan antara perusahaan
dengan para investornya dan diinformasikan mengenai perkembangan dari perusahaan
tersebut.

A.5 Pengertian Penawaran Umum

Penawaran Umum adalah Kegiatan penawaran Efek yang dilakukan oleh Emiten untuk
menjualEfek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur dalam Undang-undang ini
(UU No.8 Tahun 1995).
Penjelasannya: Penawaran Efek oleh Emiten yang dilakukan dalam wilayah Republik
Indonesiaatau kepada warga negara Indonesia dengan menggunakan media massa atau
ditawarkan kepada lebih dari 100 (seratus) Pihak atau telah dijual kjepada lebih dari 50 (lima
puluh) Pihak dalam batas nilai serta batas waktu tertentu.
Surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi,
tandabukti utang, Unit Penyertaan kontrak Investasi kolektif, kontrak berjangka atas Efek, dan
setiap derivatif dari Efek.

A.6 Penawaran Awal (Book Building)

Penawaran Awal (bookbuilding) adalah ajakan baik secara langsung maupun tidak langsung
dengan menggunakan Prospektus Awal yang antara lain bertujuan untuk mengetahui minat calon
pembeli atas Efek yang akan ditawarkan dan atau perkiraan harga penawaran Efek. Penyampaian
minat untuk membeli Efek yang dilakukan dalam masa Penawaran Awal (bookbuilding) tersebut
bersifat tidak mengikat dan bukan merupakan suatu pemesanan atas suatu Efek.Menggunakan
prospektus awal red herring prospektus. (Peraturan Bapepam IX.A.8)

Setiap Penawaran Umum harus mempunyai satu Manajer Penjatahan.Manajer Penjatahan adalah
Penjamin Pelaksana Emisi Efek yang bertanggung jawab atas penjatahan Efek dalam suatu
Penawaran Umum, atau Emiten dalam hal tidak menggunakan Penjamin Emisi Efek.Pemesan
terafiliasi (dengan emiten/underwriter) disisihkan terlebih dahulu.Penjatahan dilakukan dengan
metode penjatahan tertentu.

A.7 Penjatahan Pasti

Dalam hal Penjatahan terhadap suatu Penawaran Umum dilaksanakan dengan menggunakan sistem
penjatahan pasti, maka penjatahan tersebut hanya dapat dilaksanakan apabila memenuhi
persyaratan-persyaratan sebagai berikut:

2
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

a. Manajer Penjatahan dapat menentukan besarnya persentase dan Pihak-pihak yang akan
mendapatkan penjatahan pasti dalam Penawaran Umum;
b. Dalam hal terjadi kelebihan permintaan beli dalam Penawaran Umum, Penjamin Emisi Efek,
Agen Penjualan Efek atau Pihak-pihak terafiliasi dengannya dilarang membeli atau memiliki
Efek untuk rekening mereka sendiri; dan
c. Dalam hal terjadi kekurangan permintaan beli dalam Penawaran Umum, Penjamin Emisi
Efek, Agen Penjualan Efek, atau Pihak-pihak terafiliasi dengannya dilarang menjual Efek yang
telah dibeli atau akan dibelinya berdasarkan kontrak Penjaminan Emisi Efek, kecuali melalui
Bursa Efek jika telah diungkapkan dalam Prospektus bahwa Efek tersebut akan dicatatkan di
Bursa Efek.

A.8 Penjatahan Terpusat

Jika jumlah Efek yang dipesan melebihi jumlah Efek yang ditawarkan melalui suatu Penawaran
Umum, maka Manajer Penjatahan yang bersangkutan harus melaksanakan prosedur penjatahan sisa
Efek sebagai berikut:
a) Jika setelah mengecualikan pemesan Efek terafiliasi sebagaimana dimaksud dalam angka 4
huruf c peraturan ini dan terdapat sisa Efek yang jumlahnya sama atau lebih besar dari
jumlah yang dipesan, maka pemesan yang tidak dikecualikan itu akan menerima seluruh
jumlah Efek yang dipesan;
b) Jika setelah mengecualikan pemesan Efek terafiliasi sebagaimana dimaksud dalam angka 4
huruf c peraturan ini dan terdapat sisa Efek yang jumlahnya lebih kecil dari jumlah yang
dipesan, maka penjatahan bagi pemesan yang tidak dikecualikan itu, harus mengikuti
ketentuan sebagai berikut:
1) Efek tersebut dialokasikan secara proporsional tanpa pecahan, jika tidak akan
dicatatkan di Bursa; atau
2) Efek tersebut dialokasikan dengan memenuhi persyaratan-persyaratan berikut ini,
jika akan dicatatkan di Bursa:
i) Prioritas dapat diberikan kepada para pemesan yang menjadi pegawai Emiten,
sampai dengan jumlah paling banyak 10% (sepuluh perseratus) dari jumlah
Penawaran Umum;
ii) Para pemesan yang tidak dikecualikan berdasarkan ketentuan angka 4 huruf c
peraturan ini akan memperoleh satu satuan perdagangan di Bursa, jika terdapat
cukup satuan perdagangan yang tersedia. Dalam hal jumlahnya tidak
mencukupi, maka satuan perdagangan yang tersedia akan dibagikan dengan
diundi. Jumlah Efek yang termasuk dalam satuan perdagangan dimaksud adalah
satuan perdagangan penuh terbesar yang ditetapkan oleh Bursa di mana Efek
tersebut akan tercatat; dan
iii) Apabila terdapat Efek yang tersisa, maka setelah satu satuan perdagangan
dibagikan kepada pemesan, pengalokasian dilakukan secara proporsional dalam
satuan perdagangan menurut jumlah yang dipesan oleh para pemesan

Peraturan Bapepam IX.A.6


Setiap Pihak yang memperoleh saham dan atau Efek Bersifat Ekuitas lain dari Emiten dengan
harga dan atau nilai konversi dan atau harga pelaksanaan di bawah harga Penawaran Umum
perdana saham dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sebelum penyampaian Pernyataan
Pendaftaran kepada Bapepam, dilarang untuk mengalihkan sebagian atau seluruh kepemilikan
atas saham dan atau Efek Bersifat Ekuitas lain Emiten tersebut sampai dengan 8 (delapan) bulan
setelah Pernyataan Pendaftaran menjadi Efektif. Larangan dimaksud tidak berlaku bagi
kepemilikan atas saham dan atau
Efek Bersifat Ekuitas lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung oleh Pemerintah Pusat,
Pemerintah Daerah, atau Badan Penyehatan Perbankan Nasional.
“menjaga stabilitas pasar sekunder, mengindari aksi ambil untung yang tidak wajar, menghindari
insider trading”.

3
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

B. Emiten

B.1 Definisi

a) Emiten adalah Pihak yang melakukan penawaran umum efek, baik efek yang bersifat
ekuitas(saham), efek yang bersifat hutang (obligasi), efek yang bersifat syariah (sukuk).
b) Emiten saham adalah Pihak yang melakukan penawaran umum efek bersifat ekuitas/saham.
c) Pihak adalah orang perseorangan, perusahaan, usaha bersama, asosiasi, atau kelompok yang
terorganisasi.
Emiten adalah Pihak yang melakukan Penawaran Umum, yaitu penawaran Efek yang dilakukan oleh
Emiten untuk menjual Efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur dalam peraturan
Undang-undang yang berlaku. Emiten dapat berbentuk orang perseorangan, perusahaan, usaha
bersama, asosiasi, atau kelompok yang terorganisasi.

Emiten dapat menawarkan Efek yang berupa surat pengakuan utang, surat berharga komersial,
saham, obligasi, tanda bukti utang, Unit Penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka
atas Efek, dan setiap derivatif dari Efek.

Jenis Efek yang lain adalah Sukuk, yang merupakan Efek Syariah, yakni akad dan cara
penerbitannya sesuai dengan Prinsip Syariah di Pasar Modal. Pada umumnya, Emiten melakukan
penawaran Efek melalui Pasar Modal untuk saham, obligasi, dan sukuk.
Yang dapat melakukan penawaran umum hanyalah emiten yang telah menyampaikan Pernyataan
Pendaftaran kepada OJK (d/h Bepepam & LK) untuk menawarkan atau menjual Efek kepada
masyarakat dan Pernyataan Pendaftaran tersebut telah efektif).

Emiten wajib menyampaikan Pernyataan Pendaftaran untuk melakukan Penawaran Umum dan
Perusahaan Publik wajib menyampaikan Pernyataan Pendaftaran sebagai Perusahaan Publik.Atas
Pernyataan Pendaftaran tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (dahulu Bapepam-LK) memberikan
pernyataan efektif yang menunjukkan kelengkapan atau dipenuhinya seluruh prosedur dan
persyaratan atas Pernyataan Pendaftaran yang diwajibkan dalam peraturan perundangan yang
berlaku.Pernyataan efektif tersebut bukan sebagai izin untuk melakukan Penawaran Umum dan juga
bukan berarti bahwa Otoritas Jasa Keuangan menyatakan informasi yang diungkapkan Emiten atau
Perusahaan Publik tersebut adalah benar atau cukup.

B.2 Pernyataan Pendaftaran Penawaran Umum

Kewajiban Dasar Emiten dalam Penawaran Umum adalah menyampaikan Pernyataan Pendaftaran
kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dimana pernyataan tersebut telah efektif, dan telah
disclosure kepada masyarakat dalam bentuk prospektus.

B.3 Tata Cara Pernyataan Pendaftaran:

1. Pernyataan Pendaftaran (PP) menjadi efektif pada hari ke-45 sejak diterimanya PP secara
lengkap atau pada tanggal yang lebih awal jika dinyatakan efektif oleh OJK.
2. Dalam jangka waktu PP, OJK dapat meminta perubahan dan atau tambahan informasi dari
Emiten.
3. Dalam hal Emiten menyampaikan perubahan atau tambahan informasi, PP tersebut dianggap
telah disampaikan kembali pada tanggal diterimanya perubahan dan atau tambahan informasi
tersebut.
4. PP tidak dapat menjadi efektif sampai saat informasi tambahan dan atau perubahan sebagaimana
dimaksud dalam angka 2 diterima dan telah memenuhun syarat yang ditetapkan oleh OJK.

B.4 Kewajiban dalam hal Pernyataan Pendaftaran, tidak berlaku dalam:

a) Penawaran Efek yang bersifat utang dengan jatuh tempo tidak lebih dari satu tahun
b) Penerbitan sertipikat deposito
c) Penerbitan polis asuransi
d) Penawaran efek yang diterbitkan dan dijamin Pemerintah Indonesia
e) Penawaran efek lain yang ditetapkan oleh OJK (Pasal 70 dan 71 UU No 8 Tahun 1995)

Dalam hal pernyataan pendaftaran yang dapat melakukan penawaran umum hanyalah emiten yang
telah menyampaikan pernyataan pendaftaran kepada OJK untuk menawarkan atau menjual efek

4
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

kepada masyarakat dan pernyataan pendaftaran tersebut telah efektif. (Pasal 70 UUPM No.8 tahun
1995)
Di dalam pasal 80 UU PM No.8 tahun 1995 menyatakan bahwa jika pernyataan pendaftaran dalam
rangka penawaran umum memuat informasi yang tidak benar tentang fakta material atau tidak
memuat informasi tentang fakta material sesuai dengan ketentuan undang-undang ini dan atau
peraturan pelaksanaannya sehingga informasi dimaksud menyesatkan, maka:
a) Setiap pihak yang menandatangani Pernyataan Pendaftaran,
b) Direktur dan komisaris emiten pada waktu pernyataan pendaftaran menjadi efektif,
c) Penjamin pelaksana emisi efek, dan
d) Profesi penunjang pasar modal atau pihak lain yang memberikan pendapat atau keterangan
atas persetujuannya dimuat dalam Pernyataan pendaftaran.

Wajib bertanggungjawab, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama atas kerugian yang timbul
akibat perbuatan dimaksud. Tuntutan ganti rugi terkait hal ini hanya dapat diajukan dalam jangka
waktu 5 (lima) tahun sejak Pernyataan Pendaftaran efektif.
Tuntutan ganti rugi terkait hal ini hanya dapat diajukan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak
Pernyataan Pendaftaran efektif, dengan cara sebagai berikut:
a) Setiap Pihak yang menawarkan atau menjual Efek dengan menggunakan Prospektus atau dengan
cara lain, baik tertulis maupun lisan, yang memuat informasi yang tidak benar tentang Fakta
Material atau tidak memuat informasi tentang Fakta Material dan Pihak tersebut mengetahui atau
sepatutnya mengetahui mengenai hal tersebut wajib bertanggung jawab atas kerugian yang
timbul akibat perbuatan dimaksud.
b) Pembeli Efek yang telah mengetahui bahwa informasi tersebut tidak benar dan menyesatkan
sebelum melaksanakan pembelian Efek tersebut tidak dapat mengajukan tuntutan ganti rugi
terhadap kerugian yang timbul dari transaksi Efek dimaksud. (Pasal 81 UU PM No.8 tahun 1995)

B.5 Prospektus dan Pengumuman

Mekanisme penawaran umum perdagangan saham perdana disebut dengan istilah IPO (Initial
PublicOffering). Dalam IPO, ada yang disebut prospektus. Prospektusadalah setiap informasi
tertulissehubungan dengan penawaran umum dengan tujuan agar pihak lain membeli efek (Pasal 1
angka 26 UUPM).

Dimana Isi Prospektus terdiri dari :


1) Informasi yang terkait dengan go public
a) Syarat pemesanan efek
b) Masa penawaran efek
c) Bursa efek tempat listing
d) Profesi dan lembaga penunjang
e) Jumlah dan harga efek yang ditawarkan, dll.
2) Aspek Hukum
a) Status badan hukum perusahaan
b) Status hukum pemilikan kekayaan perusahaan
c) Status perjanjian dengan pihak lain
d) Status sengketa hukum yang dihadapi perusahaan, dll.
3) Aspek Usaha
a) Kegiatan produksi/operasi perusahaan
b) Risiko usaha
c) Lingkungan industri, persaingan, pertumbuhan dll.
4) Aspek Keuangan/Akuntansi
a) Analisa dan pembahasan oleh manajemen atas laporan keuangan dan informasi relevan
lainnya
b) Penyajian laporan keuangan (Neraca, Laporan Laba Rugi, Arus Kas, Perubahan Ekuitas dll.
5) OJK memastikan bahwa prinsip keterbukaan terpenuhi; tidak menyatakan kebenaran informasi atau
dokumen; hanya wajib memperhatikan kelengkapan, kecukupan, obyektivitas, kejelasan, dan
kemudahan dimengerti. (Peraturan Bapepam IX.C.2, IX.C.3, IX.C.8, IX.C.9 dan IX.C.10)
Dan setiap prospektus yang dikeluarkan dalam penawaran umum dilarang memuat keterangan
yang tidak benar tentang fakta material atau tidak memuat keterangan yang benar tentang
fakta material yang diperlukan agar prospektus tidak memberikan gambaran yang
menyesatkan. (Pasal 78 UU PM No.8 tahun 1995)

5
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

B.6 Pendaftaran dan pencatatan saham Go Public

Tahap selanjutnya, perusahaan yang sudah terdaftar atau disebut juga emiten dapat mencatatkan
sahamnya di bursa efek, sebagai kelanjutan dan kontrak pendahuluan yang telah dilakukan
sebelumnya.Setelah pencatatan saham-saham emiten di bursa efek, perdagangan saham di pasar
sekunder tersebut, dapat langsung ditransaksikan.Tetapi, selama belum dicatatkan, saham ini belum
dapat diperdagangkan di bursa. Pencatatan saham dapat dilakukan pada satu bursa yang disebut
dengan single listing maupun dua bursa yang disebut dengan dual listing.
Jika sisa saham yang dicatatkan di bursa secara sekaligus, cara ini disebut company listing. Jika sisa
saham yang dicatatkan secara sebagian-sebagian (partial), cara ini dengan partial listing.
Pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum maupun sebagai perusahaan publik
telah dinyatakan efektif oleh OJK.

B.7 Laporan keuangan perusahaan untuk tahun buku terakhir di audit dengan wajar tanpa
syarat.

(a) Saham yang dicatatkan minimal berjumlah 1.000.000 (satu juta) saham.
(b) Jumlah pemegang saham, baik perorangan maupun lembaga minimal 200, dan pemegang
saham masing-masing memiliki minimal 1 (satu) satuan perdagangan.
(c) Wajib mencatatkan seluruh saham yang telah disetor penuh, sepanjang tidak bertentangan
dengan ketentuan tentang persentase pemilikan saham oleh pemodal asing.
(d) Perusahaan telah berdiri dan beroperasi sekurang-kurangnya tiga tahun.
(e) Dalam dua tahun terakhir mendapat laba operasi, tidak terdapat saldo kerugian pada posisi
keuangan yang terakhir.

C. Saham

C.1 Pengertian Saham

1. Tanda Bukti penyertaan kepemilikan modal/ dana pada suatu perusahaan


2. Kertas yang tercantum dengan jelas nilai nominal, nama perusahaan dan diikuti dengan hak
dan kewajiban yang dijelaskan kepada setiap pemegangnya.
3. Persediaan yang siap untuk dijual

C.2 Pengertian Common Stock dan Preffered Stock

Dalam Pasar Modal ada dua jenis saham yang paling umum dikenal oleh publik yaitu saham biasa
(common stock) dan saham istimewa (preference stock).Dimana kedua jenis saham ini memiliki
arti dan aturanya masing-masing.
a. Common Stock (saham biasa)
Adalah suatu surat berharga yang dijual oleh suatu perusahaan yang menjelaskan nilai nominal
(rupiah, dolar, yen, dan sebagainya) dimana pemegangnya diberi hak untuk mengikuti RUPS (Rapat
Umum Pemegang Saham) dan RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) serta berhak
untuk menentukan membeli right issue (penjualan saham terbatas) atau tidak, yang selanjutnya di
akhir tahun akan memperoleh keuntungan dalam bentuk deviden.
b. Preferred Stock (Saham Istimewa)
Adalah suatu surat berharga yang dijual oleh suatu perushaan yang menjelaskan nilai nominal
(rupiahj, dolar, yen dan sebagainya) dimana pemegangnya akan memperoleh pendapatan
tetap dalam bentuk dividen yang akan diterima setiap kuartal (tiga bulanan).

C.3 Jenis-Jenis Saham Biasa

Common Stock (saham biasa) adalah memiliki kelebihan dibandingkan preferen stock
terutamadiberi hak untuk ikut dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) dan rapat umum
pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang otomatis memberikan wewenang kepada
pemegangnya untuk ikut serta dalam menentukan berbagai kebijakan perusahaan.
Common stock ini memiliki beberapa jenis yaitu:
a. Blue Chip Stock (Saham Unggulan)
Adalah saham dari perusahaan yang dikenal secara nasional dan memiliki sejarah laba,
pertumbuhan, dan manajemen yang berkualitas. Di Indonesia kita bisa melihat pada 5 (lima)
besar saham yang termasuk dalam kategori LQ 45. LQ 45 adalah likuiditas empat puluh lima

6
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

buah perusahaan yang dianggap memiliki tingkat likuiditas yang baik dan sesuai dengan
pengharapan pasar modal.
b. Growth Stock
Adalah saham-saham yang diharapkan memberikan pertumbuhan laba yang lebih tinggi dari
rata-rata saham –saham lain, dan karenanya mempunyai PER yang tinggi.
c. Defensive Stock (saham-saham defensif)
Adalah saham yang cenderung lebih stabil dalam masa resesi atau perekonomian yang tidak
menentu berkaitan dengan deviden, pendapatan, dan kinerja pasar.Contoh perusahaan yang
masuk kategori ini biasanya perusahaan yang masuk kategori food and beverage, yaiu produk
gula, beras, minyak makan, garam dan sejenisnya.
d. Cyclical Stock
Adalah sekuritas yang cenderung naik nilainya secara cepat saat ekonomi semarak dan jatuh
juga secara cepat saat ekonomi lesu.Contohnya saham pabrik mobil dan real
estate.Sebaliknya saham non siklis mencakup saham-saham perusahaan yang memproduksi
barang-barang kebutuhan umum yang tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi, misalnya
makanan dan obat-obatan.
e. Seasonal Stock
Adalah perusahaan yang penjualannya bervariasi karena dampak musiman, misalnya karena
cuaca dan liburan.Sebagai contoh pabrik mainan memiliki penjualan musiman yang khusus
pada saat musim natal.
f. Speculative Stock
Adalah saham yang kondisinya memiliki tingkat spekulasi yang tinggi, yang kemungkinan
tingkat pengembalian hasilnya adalah rendah atau negatif.Ini biasanya dipakai untuk membeli
saham pada perusahaan pengeboran minyak.

C.4 Jenis Dividen dan Pembayarannya

Salah satu keuntungan memiliki saham adalah memperoleh dividen. Menurut Black’s Law
Dictionary dividen adalah: ”The distribution of current of accumulated earning to shareholders
ofcorporation pro rate based on the number of shares owned.”
Pembayaran dividen dapat dilakukan dalam bentuk tunai (cash) namun ada juga pembayaran
dividen dilakukan dalam bentuk saham, bahkan juga dalam bentuk pemberian property. Ada
beberapa jenis dividen yang merupakan realisasi dari pembayaran dividen, yaitu:
1. Dividen tunai (cash dividen), yaitu “...declared and paid at reguler intervals from legally
availabe funds. Dividen yang dinyatakan dan dibayarkan pada jangka waktu tertentu dan
dividen tersebut berasal dari dana yang diperoleh secara legal. Dividen ini dapat bervariasi
dalam jumlah bergantung kepada keuntungan perusahaan.
2. Dividen properti (property dividens), yaitu “..... a distribution of earnings in the form of
property. suatu distribusi keungtungan perusahaan dalam bentuk property atau barang.
3. Dividen likuidasi (liquidating dividen) yaitu “a distribution of capital assets to shareholder is
referred to as liquidating dividens. Distribusi kekayaan perusahaan kepada pemegang saham
dalam hal perusahaan tersebut dilikuidasi.

C.5 Pembahasan dalam RUPS dan RUPSLB

Ada beberapa pembahasan yang dibicarakan dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) dan
RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) ini secara umum, untuk lebih jelasnya dapat
kita lihat pada tabel dibawah ini:

Tabel: Pembahasan Umum dalam RUPS dan RUPSLB


RUPS RUPSLB
No
1 Pembagian dividen pada akhir tahun Pergantian direksi dan manajer secara tiba-tiba

2 Kebijakan untuk melakukan ekspansi Penerbitan right issue


perusahaan
3 Kebijakan penambahan dana dengan Adanya direksi atau salah satu manajer yang
cara menjual obligasi atau meminjam memegang posisi penting terlibat dalam tindak
ke perbankan kriminal dan itu mampu mempengaruhi harga
saham, dalam artian nilai saham perusahaan
mengalami penurunan yang signifikan

7
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

4 Kebijakan perusahan untuk menambah Terjadi demonstrasi besar-besaran dari para


utang pada tahun depan karena buruh dan permasalahannya telah berlarut-larut
perusahaan berniat untuk tidak ada penyelesaian yang konkrit
mengeluarkan produk baru

C.6 Keuntungan Memiliki Saham

Bagi pihak yang memiliki saham akan memperoleh beberapa keuntungan sebagai bentuk kewajiban
yang harus diterima, yaitu:
a. Memperoleh deviden yang akan diberikan pada setiap akhir tahun
b. Memperoleh capital gain, yaitu keuntungan pada saat saham yang dimiliki tersebut dijual
kembali pada harga yang lebih mahal
c. Memiliki hak suara bagi pemegang saham jenis common stock (saham biasa)

C.7 Penentukan Saham Naik dan Turun

Ada beberapa kondisi dan situasi yang menentukan suatu saham itu akan mengalami fluktuasi, yaitu:
a. Kondiri mikro dan makro ekonomi
b. Kebijakan perusahaan dalam memutuksan untuk ekspansi ( perluasan usaha), seperti
membuka kantor cabang (brand office) , kantor cabang pembantu (sub brand office) baik
yang dibuka di domestik maupun luar negeri
c. Pergantian direksi secara tiba-tiba
d. Adanya direksi atau pihak komisaris perusahaan yang terlibat tindak pidana dan kasusnya
sudah masuk ke pengadilan
e. Kinerja perusahaan yang terus mengalami penurunan dalam setiap waktunya
f. Risiko sistematis yaitu suatu bentuk risiko yangterjadi secara menyeluruh dan telah ikut
menyebabkan perusahaan ikut terlibat
g. Efek dari psikologi pasar yang ternyata mampu menekan kondisi teknikal jual beli saham.

C.8 Alasan Perusahaan Menjual Saham:

Ada beberapa alasan yang menjelaskan mengapa suatu perusahaan memutuskan untuk
menerbitkan dan menjual saham, yaitu:
1. Kebutuhan dana dalam jumah yang besar dan pihak perbankan tidak mampu untuk
memberikan pinjaman karena berbagai alasan seperti tingginya risiko yang akan dialami jika
terjadi kemacetan
2. Keinginan perusahaan untuk mempublikasikan kinerja perusahaan secara lebih sistematis
3. Menginginkan harga saham perusahaan terus naik dan terus diminati oleh konusmen secara
luas, sehingga ini nantinya akan memberi efek kuat bagi perusahaan seperti rasa percaya diri
di kalangan manajemen perusahaan.
4. Mampu memperkecil risiko yang timbul karena permasalahan risiko diselesaikan dengan
pembagian dividen.

Tabel. Perbandingan Saham dan Obligasi sebagai Instrumen Pendanaan


Variabel Saham Obligasi
1 Terms dan Kondisi
Sifat Penyertaan Modal Utang
Jangka Waktu Tidak Terbatas Terbatas
Instrumen Terbatas Variatif
Biaya Modal Dividen Kupon
Struktur Biaya Persentase Laba Bersih Fixed/Floating
Rating Tidak diperlukan Diharuskan

2 Aspek Hukum

Hak Suara Hak Suara dalam RUPS Tidak Punya Hak Suara dalam
RUPS
Pailit Hak Klaim paling akhir atas Hak Klaim lebih dahulu atas
aset perusahaan aset perusahaan

8
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

3 Aspek Pajak Dividen yang dibayarkan tidak Kupon/bunga dibayarkan


mengurangi pajak sebagai pengurang pajak
4 Jenis Aktiva Jangka Panjang Jangka Menengah/panjan
5 Siklus Bisnis Fluktuatif Stabil

Risiko Aktiva Relatif Pasar & Tidak Pasti Relatif Kecil

C.9 Pelaku Pasar Saham

Adapun para pelaku di pasar saham disamping perusahaan yang bersangkutan juga turut
melibatkan pihak lainnya, yaitu:
1. Emiten yaitu perusahaan yang terlibat dalam menjual sahamnya di pasar modal
2. Underwriter atau penjamin, yaitu yang menjamin perusahaan tersebut dalam menjual
sahamnya di pasar modal
3. Broker atau pialang

D. Perusahaan Publik

Perusahaan Publik adalah Perseroan yang sahamnya telah dimiliki sekurang-kurangnya oleh
300(tiga ratus) pemegang saham dan memiliki modal disetor sekurang–kurangnya
Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) atau suatu jumlah pemegang saham dan modal disetor yang
ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Berdasarkan pengertian diatas Penawaran umum dalam prakteknya dilaksanakan melalui pasar
perdana (primary market) yang berlangsung dalam waktu terbatas selama beberapa hari
saja.Dengan berakhirnya pasar perdana, untuk selanjutnya pemodal dapat memperjualbelikan
kembali efeknya pada pasar sekunder (bursa). Harga penawaran efek (offering price) pada pasar
perdana ditetapkan bersama antara Emiten dengan Penjamin Pelaksana Emisi, sedangkan
pembentukan harga efek di Bursa didasarkan pada hukum permintaan dan penawaran yang berlaku
dalam Peraturan Bapepam Nomor IX A.8 tentang Prospektus Awal Dan Info Memo.

Mengenai perbedaan antara Emiten dan Perusahaan Publik Hammud M. Balfas, SH, LL.M dalam
bukunya Hukum Pasar Modal Indonesia menjabarkan bahwa istilah Emiten harus dipisahkan dari
pengertian Perusahaan Publik karena asal-usul keduanya berbeda.Kalau emiten menjadi Emiten
karena melakukan emisi atau mengeluarkan efek dalam suatu penawaran umum, perusahaan publik
menjadi Perusahaan Publik bukanlah karena secara sengaja melakukan penawaran efeknya kepada
masyarakat dalam suatu penawaran umum.Perusahaan menjadi Perusahaan Publik karena
perusahaan memenuhi kriteria tertentu seperti yang ditetapkan oleh UUPM. Dengan perbedaan ini
dapat kita lihat bahwa perusahaan dapat menjadi Perusahaan Publik karena berjalannya waktu,
misalnya, karena turun temurun dimiliki oleh satu keluarga sehingga akhirnya pemegang sahamnya
mencapai 300 (tiga ratus) orang. Atau karena berjalannya waktu pemilik perusahaan juga
membagikan sahamnya kepada pegawai yang berprestasi secara perlahan-lahan, sehingga akhirnya
mencapai 300 (tiga ratus) pemegang saham. Di lain pihak menjadi Emiten adalah status yang
didapat karena adanya penawaran umum efek seperti saham atau obligasi

Emiten diperbolehkan untuk melakukan Penawaran Awal (book building), sebelum memperoleh
pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Penawaran Awal adalah ajakan baik langsung
maupun tidak langsung dengan menggunakan prospektus awal, yang antara lain bertujuan untuk
mengetahui minat calon pembeli efek dan atau pun perkiraan harga penawaran efek.

Perusahaan Publik (public company) dapat juga diartikan sebagai suatu Perseroan yang telah Go
Publik atau telah melakukan Penawaran Umum atau telah melakukan penjualan saham kepada
masyrakat, walaupun jumlah kepemilikan saham Emiten setelah Penawaran Umum di bawah 50%,
bahkan ada Emiten yang melakukan penawaran umum saham hanya sebesar 10% dari seluruh Modal
Ditempatkan dan Disetor Penuh Perseroan, atau dengan kata lain publik atau masyarakat hanya
memiliki porsi kepemilikan sebesar 10%.

9
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

E. Lembaga dan Profesi Penunjang Pasar Modal terkait Penawaran umum

1. Akuntan
Akuntan yang melakukan kegiatan dibidang Pasar Modal wajib terlebih dahulu terdaftar OJK serta
memenuhi persyararatan sebagaimana diatur dalam VII.A.1
2. Notaris
Notaris yang melakukan kegiatan dibidang Pasar Modal wajib terlebih dahulu terdaftar di OJK dan
memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam Peraturan VIII.D.1
Tugas Pokok Notaris: membuat perjanjian-perjanjian notarial, antara lain, Perjanjian Penjaminan
Emisi Efek
3. Konsultan Hukum
Konsultan hukum yang melakukan kegiatan di bidang Pasar Modal wajib terlebih dahulu terdaftar
di OJK dan memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan yang berlaku (VIII B.1)
Konsultan hukum bertugas melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dari segi hukum (legal
audit), memberikan pendapat dari segi hukum (legal opinion) terhadap emiten dan perusahaan
publik.
4. Penilai
Penilai yang melakukan kegiatan penilaian di bidang Pasar Modal wajib terlebih dahulu terdaftar di
OJK serta memenuhi persyaratan sebagaimana diarur dalam Peraturan yang berlaku (VII.C.1)
Penilai bertugas antara lain memberikan penilaian atas nilai wajar properti atau usaha, tergantung
tujuan penggunaan dana.
5. Penjamin Emisi Efek
Penjamin Emisi Efek adalah Pihak yang membuat kontrak dengan Emiten untuk melakukan
Penawaran Umum bagi kepentingan Emiten dengan atau tanpa kewajiban untuk membeli sisa Efek
yang tidak terjual. Penjamin Emisi Efek tidak wajib ada dalam setiap Penawaran Umum
Jenis Penjaminan yang diberikan:
1) Full Commitment: Disertai dengan kewajiban untuk membeli Efek yang tersisa
2) Best Effort: Tidak disertai dengan kewajiban untuk membeli Efek yang tersisa

10
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

11
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

F. Jenis-jenis Aksi Korporasi

F.1 Penambahan Modal

F.1.1 Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD)

 Dasar Hukum

1) Pasal 82 (1) UUPM


“Bapepam dapat mewajibkan Emiten atau Perusahaan Publik (PP) untuk memberikan
hak memesan Efek terlebih dahulu kepada setiap pemegang saham secara proposional
apabila Emiten atau Perusahaan Publik tersebut menerbitkan saham atau Efek yang
dapat ditukar dengan saham Emiten atau Perusahaan Publik tersebut.
2) Peraturan OJK No. 32/POJK.04/2015 Tentang Penambahan Modal
PerusahaanTerbuka Dengan Memberikan HMETD. (POJK HMETD)
Peraturan ini menggantikan Peraturan Bapepam No.IX.D.1 tentang Hak Memesan Efek
Terlebih Dahulu dan Peraturan Bapepam No.IX.D.2 tentang Pedoman Mengenai Bentuk
dan Isi Pernyataan Pendaftaran Dalam Rangka Penerbitan Hak Memesan Terlebih
Dahulu
3) Peraturan Bapepam No. IX.D.3 tentang Pedoman Mengenai Bentuk dan
IsiProspektus Dalam Rangka Penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu.

 Definisi

1) HMETD:
Hak yang melekat pada saham yang memberikan kesempatan pemegang saham yang
bersangkutan untuk membeli saham dan/atau Efek Bersifat Ekuitas lainnya baik yang
dapat dikonversikan menjadi saham atau yang memberikan hak untuk membeli
saham, sebelum ditawarkan kepada Pihak lain
2) Waran:
Efek yang diterbitkan oleh suatu perusahaan yang memberi hak kepada pemegang
Efek untuk memesan saham dari perusahaan tersebut pada harga tertentu setelah 6
(enam) bulan sejak Efek dimaksud diterbitkan.
3) Pembeli Siaga
Pihak yang akan membeli baik sebagian maupun seluruh sisa saham dan/atau Efek
Bersifat Ekuitas lainnya yang tidak diambil oleh pemegang HMETD.

 Pernyataan Pendaftaran

Dokumen yang wajib disampaikan sekurang-kurangnya:


1. Surat pengantar pernyataan Pendaftaran (sesuai Lampiran POJK HMETD)
2. Prospektus, dalam bentuk dan informasi sesuai Peraturan No.IX.D.3 dan
3. Dokumen lain yang diperlukan sebagai bagian dari Pernyataan Pendaftaran, antara lain:
a. Rencana jadwal PU HMETD
b. Perjanjian yang menetapkan pembelian Efek yang tidak dipesan melalui penawaran
HMETD
c. Perjanjian Perwaliamanatan (jika ada)
d. Perjanjian penanggungan (jika ada)
e. Informasi pengginaan dana dari hasul PU sebelumnya
f. Laporan Keuangan
g. Comfort Letter
h. Surat Pernyataan Emiten/PP di bidang akutansi
i. Keterangan tentang perkiraan atau proyeksi (jika dicantumkan dalam prospektus)
j. Kebijakan dividen serta riwayat pembayaran deviden
k. Laporan pemeriksaan dan pendapat dari segi hukum
l. Surat pencabutan pembatasan – pembatasan (negative covenant)
m. Dokumen-dokumen IX.E.1 dan IX.E.2
n. Informasi lain sesuai permintaan OJK

 Alasan Perusahaan Menerbitkan HMETD

Beberapa alasan umum yang berlaku di setiap upaya emiten dalam melakukan penawaran
right issue adalah menyangkut tujuan yang ingin dicapai, yaitu yang terpenting adalah:

12
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

1. Tujuan dari pada penawaran saham baru dapat tercapai yang berhubungan erat dengan
pengembangan usaha emiten
2. Setiap pemegang saham lama akan bersedia untuk melakukan excersice mengingat
harga saham akan mengalami kenaikan yang dapat memberikan keuntungan kepada
investor
3. Harga saham diperdagangkan di atas harga teoritis untuk jangka waktu tertentu,
karena dengan adanya penambahan dana maka ekspansi perseroan akan dapat
memberikan keuntungan
4. Penawaran right issue bukan ditujukan untuk kepentingan rekayasa keuangan yang
tidak berdampak positif kepada pemegang saham lama, walaupun akibat dari pada
right issue akan menyebabkan dilusi atas harga saham yang diperdagangkan.
5. Emiten di dalam rangka melakukan penawaran atas right issue benar-benar melakukan
keterbukaan informasi yang sebenarnya tanpa ada yang ditutupi.

Dapat dimengerti bahwa jelaslah right issue atau penerbitan saham baru merupakan
hak yang diberikan bagi pemegang saham lama untuk membeli saham baru yang
dikeluarkan emiten, dengan harga tertentu.Dan tujuan perusahaan untuk melakukan
right issue adalah untuk menghemat biaya emisi, menambah modal perusahaan atau
memperkuat modal perusahaan dan menambah jumlah saham yang beredar.

 Alur Proses Penambahan Modal dengan HMETD

13
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

F.1.2 Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu


Penambahan Modal Tanpa HMETD diatur didalam POJK No. 38/POJK.04/2014.

 Persyaratan Penambahan Modal Tanpa HMETD

1) Perusahaan Terbuka dapat menambah modal tanpa memberikan HMETD kepada


pemegang saham, baik untuk memperbaiki posisi keuangan maupun selain untuk
memperbaiki posisi keuangan Perusahaan Terbuka.
2) Penambahan Modal Tanpa HMETD, wajib terlebih dahulu memperoleh persetujuan RUPS
sebagaimana diatur didalam POJK No. 32/POJK.04/2014.
3) Penambahan modal tanpa memberikan HMETD untuk memperbaiki posisi keuangan harus
memenuhi persyaratan:
a. Perusahaan Terbuka adalah bank yang menerima pinjaman dari Bank Indonesia atau
lembaga pemerintah lain yang jumlahnya lebih dari 100% (seratus persen) dari modal
disetor atau kondisi lain yang dapat mengakibatkan restrukturisasi bank oleh instansi
Pemerintah yang berwenang;
b. Perusahaan Terbuka selain bank yang mempunyai modal kerja bersih negatif dan
mempunyai liabilitas melebihi 80% (delapan puluh persen) dari aset Perusahaan
Terbuka tersebut pada saat RUPS yang menyetujui penambahan modal tanpa
memberikan HMETD; atau
c. Perusahaan Terbuka tidak mampu memenuhi kewajiban keuangan pada saat jatuh
tempo kepada pemberi pinjaman yang tidak terafiliasi sepanjang pemberi pinjaman
yang tidak terafiliasi tersebut menyetujui untuk menerima saham atau obligasi konversi
Perusahaan Terbuka untuk menyelesaikan pinjaman tersebut.
4) Penambahan modal Perusahaan Terbuka tanpa memberikan HMETD selain untuk memperbaiki
posisi keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) hanya dapat dilakukan paling
banyak 10% (sepuluh persen) dari modal disetor dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam
POJK Penambahan Modal tanpa HMETD Pasal 4 ayat (1)

 Rapat Umum Pemegang Saham

1) RUPS wajib dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.


2) Paling lambat 14 (empat belas) hari sebelum RUPS, Perusahaan wajib mengumumkan
informasi kepada pemegang saham yang paling kurang memuat:
3) Analisis dan pembahasan manajemen mengenai kondisi keuangan Perusahaan sebelum
dan sesudah penambahan modal tanpa HMTD serta pengaruhnya terhadap pemegang
saham setelah penambahan modal; dengan memenuhi Prinsip Keterbukaan.
4) Dalam hal penambahan modal dilaksanakan, maka selain informasi, Perusahaan juga
wajib mengungkapkan Fakta Material tentang kondisi keuangan terakhir yang antara lain
meliputi:
a) Penjelasan mengenai akun persediaan yang tidak likuid;
b) Pinjaman atau piutang ragu-ragu;
c) Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek dan Fasilitas Pembiayaan Darurat (khusus untuk
perbankan); dan/atau
d) pinjaman atau piutang macet termasuk pinjaman atau piutang kepada Pihak terafiliasi.

 Pelaksanaan Penambahan Modal Tanpa HMTD

1) Paling lambat 5 (lima) hari kerja sebelum pelaksanaan penambahan modal tanpa HMTD,
Perusahaan wajib memberitahukan kepada OJK serta mengumumkan kepada masyarakat
mengenai waktu pelaksanaan penambahan modal tersebut.
2) Paling lambat 2 (dua) hari kerja setelah pelaksanaan penambahan modal tanpa HMTD,
Perusahaan wajib memberitahukan kepada OJK serta masyarakat mengenai hasil
pelaksanaan penambahan modal tersebut, yang meliputi informasi antara lain jumlah dan
harga saham yang diterbitkan.

F.2 Transaksi Lainnya

F.2.1 Transaksi Material

Pengaturan mengenai Transaksi Material diatur dalam peraturan IX.E.2 tentang Transaksi
Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama

14
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

 Transaksi Material adalah setiap:

a) penyertaan dalam badan usaha, proyek, dan/atau kegiatan usaha tertentu;


b) pembelian, penjualan, pengalihan, tukar menukar aset atau segmen usaha;
c) sewa menyewa aset;
d) pinjam meminjam dana;
e) menjaminkan aset; dan/atau
f) memberikan jaminan perusahaan;
Dengan nilai 20% (dua puluh perseratus) atau lebih dari ekuitas Perusahaan, yang dilakukan dalam
satu kali atau dalam suatu rangkaian transaksi untuk suatu tujuan atau kegiatan tertentu.

 Nilai Transaksi Material

Terdapat dua kategori nilai Transaksi Material, yaitu:


a) Transaksi Material dengan nilai transaksi 20% - 50% dari ekuitas Perusahaan; dan
b) Transaksi Material dengan nilai transaksi lebih dari 50% dari ekuitas Perusahaan

 Perhitungan Nilai Material

Untuk menghitung apakah sebuah transaksi sudah “material” atau tidak (minimal 20% dari
ekuitas) dan masuk pada kategori nilai transaksi material yang mana maka nilai transaksi
tersebut dihitung berdasarkan laporan keuangan sebagai berikut:
1) laporan keuangan tahunan yang diaudit;
2) laporan keuangan tengah tahunan yang disertai laporan Akuntan dalam rangka penelaahan
terbatas paling sedikit untuk akun ekuitas; atau
3) laporan keuangan interim yang diaudit selain laporan keuangan interim tengah tahunan,
dalam hal Perusahaan mempunyai laporan keuangan interim, mana yang terkini.

Tanggal laporan keuangan yang digunakan untuk menghitung nilai Transaksi Material tidak
boleh melebihi 12 (dua belas) bulan sebelum:
1) Tanggal transaksi dilaksanakan dalam hal Transaksi Material bernilai 20%-50% dari ekuitas
perusahaan; atau
2) Tanggal diselenggarakannya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dalam hal Transaksi
Material bernilai lebih dari 50% ekuitas perusahaan.

 Kewajiban-Kewajiban dalam Transaksi Material

Nilai Transaksi Persetujuan Ketentuan Lain


RUPS
Mengumumkan informasi mengenai Transaksi
20% - 50% dari Tidak Wajib Material kepada masyarakat dalam paling sedikit 1
Ekuitas (satu) surat kabar harian berbahasa Indonesia yang
berperedaran nasional dan Menyampaikan dokumen
pendukungnya kepada OJK paling lambat 2 (dua) hari
kerja setelah tanggal ditandatanganinya perjanjian
Transaksi Material;
Informasi yang diumumkan adalah:
a) Uraian mengenai Transaksi Material yang
dilakukan;
b) Penjelasan, pertimbangan, dan alasan
dilakukannya Transaksi Material
c) Pengaruh transaksi tersebut pada kondisi
keuangan Perusahaan;
d) Ringkasan Laporan Penilai;
e) Informasi terkait Objek Transaksi Material;
f) Pernyataan Dewan komisaris dan Direksi bahwa
semua informasi material telah diungkapkan dan
informasi tersebut tidak menyesatkan;
g) Penjelasan tentang tempat atau alamat yang
dapat dihubungi pemegang saham untuk

15
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

memperoleh informasi mengenai Transaksi


Material; dan
h) Pernyataan Direksi bahwa Transaksi Material:
i. tidak mengandung Benturan Kepentingan
sebagaimana dimaksud dalam Peraturan
Nomor IX.E.1; dan/atau
ii. merupakan atau tidak merupakan Transaksi
Afiliasi sebagaimana dimaksud dalam
Peraturan Nomor IX.E.1.

Informasi tambahan dalam hal Transaksi Material


merupakan Transaksi Afiliasi sebagaimana dimaksud
dalam Peraturan Nomor IX.E.1 Tentang Transaksi
Afiliasi dan Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu:
a. hubungan dan sifat hubungan Afiliasi dari pihak-
pihak yang melakukan Transaksi Material dengan
Perusahaan; dan
b. penjelasan, pertimbangan, dan alasan
dilakukannya transaksi tersebut, dibandingkan
dengan apabila dilakukan transaksi lain yang
sejenis yang tidak dilakukan dengan Pihak
terafiliasi.

Dalam hal obyek Transaksi Material berupa pembelian


atau penjualan saham Perusahaan lain atau saham
perusahaan terbuka di luar negeri, maka Perusahaan
hanya diwajibkan untuk melakukan keterbukaan
informasi sebagaimana dimaksud dalam Peraturan
Nomor X.K.1 Tentang Keterbukaan Informasi Yang
Harus Segera Diumumkan Kepada Publik.

Persetujuan RUPS yang dilakukan sesuai dengan


Lebih Dari 50% Wajib Peraturan Nomor IX.J.1 dan Anggaran Dasar
dari Ekuitas Perusahaan;
Dalam agenda RUPS harus ada acara khusus
mengenai Penjelasan tentang Transaksi Material yang
akan dilakukan
Penjelasan Tentang Transaksi Material oleh
Perusahaan dalam RUPS sebagaimana dimaksud
diatas meliputi seluruh informasi sebagaimana diatur
dalam Angka 2 huruf a butir 2) dan Angka 2 huruf a
butir 3) Peraturan IX.E.2, yaitu:
a) Uraian mengenai Transaksi Material yang
dilakukan;
b) Penjelasan, pertimbangan, dan alasan
dilakukannya Transaksi Material
c) Pengaruh transaksi tersebut pada kondisi
keuangan Perusahaan;
d) Ringkasan Laporan Penilai;
e) Informasi terkait Objek Transaksi Material;
f) Pernyataan Dewan komisaris dan Direksi bahwa
semua informasi material telah diungkapkan dan
informasi tersebut tidak menyesatkan;
g) Penjelasan tentang tempat atau alamat yang
dapat dihubungi pemegang saham untuk
memperoleh informasi mengenai Transaksi
Material; dan
h) Pernyataan Direksi bahwa Transaksi Material:
i. tidak mengandung Benturan Kepentingan
sebagaimana dimaksud dalam Peraturan
Nomor IX.E.1; dan/atau

16
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

ii. ii. merupakan atau tidak merupakan Transaksi


Afiliasi sebagaimana dimaksud dalam
Peraturan Nomor IX.E.1.
i) Informasi tambahan dalam hal Transaksi Material
merupakan Transaksi Afiliasi sebagaimana
dimaksud dalam Peraturan Nomor IX.E.1 Tentang
Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan
Transaksi Tertentu:
i. Hubungan dan sifat hubungan Afiliasi dari
pihak-pihak yang melakukan Transaksi
Material dengan Perusahaan; dan
ii. Penjelasan, pertimbangan, dan alasan
dilakukannya transaksi tersebut,
dibandingkan dengan apabila dilakukan
transaksi lain yang sejenis yang tidak
dilakukan dengan Pihak terafiliasi.
Mengumumkan dalam paling sedikit satu surat kabar
harian berbahasa Indonesia yang berperedaran
nasional dalam waktu bersamaan dengan
pengumuman RUPS, informasi yang mencakup
paling sedikit seluruh informasi sebagaimana diatur
dalam huruf a butir 2) dan huruf a butir 3) Peraturan
IX.E.2, serta tanggal, waktu, dan tempat
diselenggarakannya RUPS;
Dalam hal terdapat perubahan atau penambahan
informasi sebagaimana dimaksud dalam butir 4),
maka perubahan atau penambahan informasi
tersebut wajib diumumkan paling lambat 2 (dua)
hari kerja sebelum RUPS;
Menyediakan data tentang Transaksi Material bagi
pemegang saham, yang paling sedikit meliputi:
a) informasi sebagaimana dipersyaratkan dalam
butir 4) (note: sebagaimana diatur dalam Angka
2 huruf a butir 2) dan Angka 2 huruf a butir 3)
Peraturan IX.E.2, serta tanggal, waktu, dan
tempat diselenggarakannya RUPS);
b) laporan penilaian oleh Penilai; dan
c) dokumen mengenai informasi sebagaimana
dimaksud dalam butir 4) (note: sebagaimana
diatur dalam Angka 2 huruf a butir 2) dan Angka
2 huruf a butir 3) Peraturan IX.E.2, serta tanggal,
waktu, dan tempat diselenggarakannya RUPS);
Data tentang Transaksi Material bagi pemegang
saham sebagaimana dimaksud diatas wajib tersedia
bagi pemegang saham sejak pengumuman RUPS
dan disampaikan kepada OJK dalam waktu
bersamaan dengan pengumuman RUPS dalam
rangka persetujuan Transaksi Material; dan

Jangka waktu antara tanggal penilaian dan tanggal


pelaksanaan RUPS tidak boleh melebihi 6 (enam)
bulan.

F.2.2 Transaksi Afiliasi


Pengaturan mengenai Transaksi Afiliasi diatur didalam Peraturan Nomor IX.E.1 tentang
Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu

 Definisi

1. Transaksi (Pasal 1 huruf C


IX.E.1)Transaksi adalah aktifitas dalam
rangka:
1) memberikan dan/atau mendapat pinjaman;

17
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

2) memperoleh, melepaskan, atau menggunakan aset termasuk dalam


rangka menjamin;
3) memperoleh, melepaskan, atau menggunakan jasa atau Efek suatu Perusahaan
atau Perusahaan Terkendali; atau
4) mengadakan kontrak sehubungan dengan aktivitas sebagaimana dimaksud dalam
butir 1), butir 2), dan butir 3)

2. Afiliasi (Pasal 1 angka 1


UUPM)Afiliasi adalah:
1) hubungan keluarga karena perkawinan dan keturunan sampai derajat kedua, baik
secara horizontal maupun vertikal;
2) hubungan antara Pihak dengan pegawai, direktur, atau komisaris dari Pihak tersebut;
3) hubungan antara 2 (dua) perusahaan di mana terdapat satu atau lebih anggota
direksi atau dewan komisaris yang sama;
4) hubungan antara perusahaan dengan Pihak, baik langsung maupun tidak langsung,
mengendalikan atau dikendalikan oleh perusahaan tersebut;
5) hubungan antara 2 (dua) perusahaan yang dikendalikan, baik langsung maupun
tidak langsung, oleh Pihak yang sama; atau
6) hubungan antara perusahaan dan pemegang saham utama.

3. Transaksi Afiliasi (Pasal 1 huruf D IX.E.1)

Transaksi Afiliasi sebagai Transaksi yang dilakukan oleh Perusahaan atau Perusahaan
Terkendali dengan Afiliasi dari Perusahaan atau Afiliasi dari anggota Direksi, anggota
Dewan Komisaris, atau pemegang saham utama Perusahaan.

4. Perusahaan Terkendali (Pasal 1 huruf B IX.E.1)


Perusahaan yang dikendalikan baik secara langsung maupun tidak langsung oleh
Perusahaan

 Kewajiban dalam Transaksi Afiliasi

1) Mengumumkan keterbukaan informasi atas setiap Transaksi Afiliasi


kepadamasyarakat dan menyampaikan bukti pengumuman dan dokumen
pendukungnya kepada OJK paling lambat akhir hari kerja ke-2 (kedua) setelah
terjadinya Transaksi

18
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

2) Melaporkan (penulis: tidak wajib diumumkan) Transaksi berikut ini kepada OJK
paling lambat akhir hari kerja ke-2 (kedua) setelah terjadinya Transaksi:
a) Penggunaan setiap fasilitas yang diberikan oleh Perusahaan atau Perusahaan
Terkendali kepada anggota Dewan Komisaris, anggota Direksi, dan/atau
pemegang saham utama dalam hal pemegang saham utama juga menjabat
sebagai Karyawan dan fasilitas tersebut langsung berhubungan dengan
tanggung jawab mereka terhadap Perusahaan dan sesuai dengan kebijakan
Perusahaan, serta telah disetujui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS);
Note: tiga hal yang harus diperhatikan bahwa fasilitas yang diberikan:
- Langsung berhubungan dengan tanggung jawab terhadap Perusahaan
- Sesuai dengan kebijakan Perusahaan
- Telah disetujui oleh RUPS
b) Transaksi antara Perusahaan dengan Karyawan, anggota Direksi, atau anggota
Dewan Komisaris Perusahaan tersebut maupun dengan Karyawan, anggota Direksi,
atau anggota Dewan Komisaris Perusahaan Terkendali dengan persyaratan yang
sama, sepanjang hal tersebut telah disetujui RUPS. Dalam Transaksi tersebut
termasuk pula manfaat yang diberikan oleh Perusahaan kepada semua Karyawan,
anggota Direksi, atau anggota Dewan Komisaris dengan persyaratan yang sama,
menurut kebijakan yang ditetapkan Perusahaan;
c) Transaksi dengan nilai transaksi tidak melebihi 0,5% (nol koma lima perseratus)
dari modal disetor Perusahaan dan tidak melebihi jumlah Rp5.000.000.000,00
(lima miliar rupiah);

- kata “dan” berarti bersifat kumulatif tidak melebihi 0,5% dari modal disetor
Perusahaan dan tidak melebihi jumlah 5 miliar rupiah yang berarti Transaksi
menjadi hanya wajib dilaporkan kepada OJK tanpa wajib Mengumumkan
keterbukaan informasi atas Transaksi kepada masyarakat.
- Apabila salah satu saja melebihi (terlewati) maka terkena kewajiban untuk
mengumumkan keterbukaan informasi kepada masyarakat dan
menyampaikan bukti pengumuman dan dokumen pendukungnya kepada OJK.
d) Transaksi yang dilakukan oleh Perusahaan sebagai pelaksanaan peraturan
perundang-undangan atau putusan pengadilan;
e) Transaksi antara Perusahaan dengan Perusahaan Terkendali yang saham atau
modalnya dimiliki paling kurang 99% (sembilan puluh sembilan perseratus) atau
antara sesama Perusahaan Terkendali yang saham atau modalnya dimiliki paling
kurang 99% (sembilan puluh sembilan perseratus) oleh Perusahaan dimaksud

Illustrasi

f) Transaksi antara Perusahaan dengan Perusahaan Terkendali yang saham atau


modalnya tidak dimiliki seluruhnya dan tidak satu pun saham atau modal
Perusahaan Terkendali dimiliki oleh anggota Dewan Komisaris, anggota Direksi,
pemegang saham utama Perusahaan dimaksud, atau Pihak Terafiliasinya, dan
laporan keuangan Perusahaan Terkendali tersebut dikonsolidasikan dengan
Perusahaan.
Note:
- Perusahaan Terkendali adalah suatu perusahaan yang dikendalikan baik
secara langsung maupun tidak langsung oleh Perusahaan.

19
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

- Tiga hal yang harus dipenuhi pada point ini, yaitu: (a) Transaksi terjadi
antara Perusahaan dengan Perusahaan Terkendali; (b) Saham/modal
Perusahaan Terkendali tidak dimiliki seluruhnya oleh Perusahaan; (c) Tidak
satu pun Saham/modal Perusahaan Terkendali dimiliki oleh anggota dewan
komisaris, anggota direksi, pemegang saham utama Perusahaan, atau Pihak
terafiliasi dari anggota dewan komisari, anggota direksi, pemegang saham
utama Perusahaan; (d) Laporan Keuangan Perusahaan Terkendali telah
dikonsolidasikan dengan Perusahaan.
- “tidak dimiliki seluruhnya” berarti hanya dimiliki sebagian oleh Perusahaan.
Sebagian dapat mengandung 2 (dua) pengertian: sebagian besar dan
sebagian kecil. Contoh sebagian besar adalah 50,01% hingga 99,99 %
sementara yang sisanya dimiliki pihak lain, apakah ini yang dimaksud oleh
peraturan ini? Sedangkan sebagian kecil bisa berarti 0,1 % hingga 49,99 %.
- “tidak satu pun saham/modal perusahaan terkendali dimiliki ...” berarti jika
satu pun saham/modal perusahaan terkendali dimiliki maka terkena
kewajiban untuk mengumumkan keterbukaan informasi kepada masyarakat
dan menyampaikan bukti pengumuman dan dokumen pendukungnya kepada
Bapepam dan LK.

 Transaksi Afiliasi Yang Dikecualikan dari Kewajiban Mengumumkan dan


Melaporkan

1) Imbalan, termasuk gaji, iuran dana pensiun, dan/atau manfaat khusus yang
diberikan kepada anggota Dewan Komisaris, anggota Direksi, dan pemegang
saham utama dalam hal pemegang saham utama menjabat juga sebagai
Karyawan, jika jumlah secara keseluruhan dari imbalan tersebut diungkapkan
dalam laporan keuangan berkala;
2) Transaksi berkelanjutan yang telah dilakukan sebelum Perusahaan
melaksanakan Penawaran Umum perdana atau sebelum disampaikannya
pernyataan pendaftaran sebagai Perusahaan Publik, dengan persyaratan: a)
Transaksi telah diungkapkan sepenuhnya dalam Prospektus Penawaran Umum
perdana atau dalam keterbukaan informasi pernyataan pendaftaran Perusahaan
Publik; dan b) syarat dan kondisi Transaksi tidak mengalami perubahan yang
dapat merugikan Perusahaan;
3) Transaksi berkelanjutan yang dilakukan sesudah Perusahaan melakukan
Penawaran Umum atau setelah pernyataan pendaftaran sebagai Perusahaan
Publik menjadi efektif, dengan persyaratan: a) Transaksi awal yang mendasari
Transaksi selanjutnya telah memenuhi peraturan ini; dan b) syarat dan kondisi
Transaksi tidak mengalami perubahan yang dapat merugikan Perusahaan;
4) Transaksi yang merupakan kegiatan usaha utama Perusahaan atau Perusahaan
Terkendali; dan
5) Transaksi yang merupakan penunjang kegiatan usaha Perusahaan atau
Perusahaan Terkendali.

F.2.3 Transaksi Benturan Kepentingan

Pengaturan mengenai Transaksi Benturan Kepentingan diatur didalam Peraturan Nomor


IX.E.1 tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu

 Definisi
1) Benturan Kepentingan adalah perbedaan antara kepentingan ekonomis
Perusahaandengan kepentingan ekonomis pribadi anggota Direksi, anggota Dewan
Komisaris, atau pemegang saham utama yang dapat merugikan Perusahaan
dimaksud.
2) Pemegang Saham Independen adalah pemegang saham yang tidak
mempunyaiBenturan Kepentingan sehubungan dengan suatu Transaksi tertentu
dan/atau bukan merupakan Afiliasi dari anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris
atau pemegang saham utama yang mempunyai Benturan Kepentingan atas Transaksi
tertentu.
3) “yang dapat merugikan perusahaan” berarti bahwa kerugian tersebut
masihberupa potensi belum berupa kerugian secara nyata yang telah dialami oleh
perusahaan. Sehingga dapat kita berkata bahwa peraturan tentang benturan
kepentingan dibuat untuk mencegah terjadinya kerugian bagi perusahaan sebagai
akibat dari benturan kepentingan. Mencegah kerugian bagi perusahaan secara

20
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

langsung bermaksud untuk melindungi kepentingan pemodal/investor/pemegang


saham.
Note:
Perlu dipahami bahwa bukan berarti benturan kepentingan dilarang. Regulator
dibidang pasar modal (OJK) memperbolehkan transaksi dengan benturan
kepentingan, hanya saja terdapat ketentuan-ketentuan yang harus/wajib ditaati bagi
perusahaan yang akan melakukan transaksi dengan benturan kepentingan.

 Transaksi Yang Mengandung Benturan Kepentingan

1) Transaksi yang mengandung Benturan Kepentingan adalah Transaksi


yangdilakukan oleh Perusahaan atau Perusahaan Terkendali dimana seorang direktur,
komisaris, pemegang saham utama mempunyai Benturan Kepentingan.
2) Transaksi yang mengandung Benturan Kepentingan wajib terlebih dahulu disetujui
oleh para Pemegang Saham Independen atau wakil mereka yang diberi wewenang
untuk itu dalam Rapat Umum Pemegang Saham. Persetujuan mengenai hal tersebut
harus ditegaskan dalam bentuk akta notariil.
3) Persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham wajib mulai dilaksanakan paling lambat
12 (dua belas) bulan sejak tanggal Rapat Umum Pemegang Saham yang menyetujui
transaksi.

 Transaksi Yang Mengandung Benturan Kepentingan Yang Dikecualikan

1) Penggunaan setiap fasilitas yang diberikan oleh Perusahaan atau Perusahaan


Terkendali kepada komisaris, direktur, dan pemegang saham utama yang juga
sebagai Karyawan yang langsung berhubungan dengan tanggung jawab mereka
terhadap Perusahaan tersebut dan sesuai dengan kebijakan Perusahaan, serta telah
disetujui Rapat Umum Pemegang Saham;
2) Transaksi antara Perusahaan baik dengan Karyawan, direksi atau komisaris
Perusahaan tersebut maupun dengan Karyawan, direksi atau komisaris Perusahaan
Terkendali, dan Transaksi antara Perusahaan Terkendali baik dengan Karyawan,
direksi atau komisaris Perusahaan Terkendali tersebut maupun dengan Karyawan,
direksi atau komisaris
3) Perusahaan dengan persyaratan yang sama, sepanjang hal tersebut telah disetujui
Rapat Umum Pemegang Saham. Dalam Transaksi tersebut termasuk pula manfaat
yang diberikan oleh Perusahaan atau Perusahaan Terkendali kepada semua
Karyawan, direksi atau komisaris dengan persyaratan yang sama, menurut
kebijakan yang ditetapkan Perusahaan;
4) Imbalan, termasuk gaji, iuran dana pensiun, dan/atau manfaat khusus yang
diberikan kepada komisaris, direktur dan pemegang saham utama yang juga sebagai
Karyawan, jika jumlah secara keseluruhan dari imbalan tersebut diungkapkan dalam
laporan keuangan berkala;
5) Transaksi berkelanjutan yang telah dilakukan sebelum Perusahaan melaksanakan
Penawaran Umum perdana atau sebelum disampaikannya pernyataan pendaftaran
sebagai Perusahaan Publik, dengan persyratan:
a) Transaksi telah diungkapkan sepenuhnya dalam Prospektus Penawaran Umum
perdana atau dalam keterbukaan informasi pernyataan pendaftaran Perusahaan
Publik; dan
b) Syarat dan kondisi Transaksi tidak mengalami perubahan yang dapat merugikan
Perusahaan.
6) Transaksi berkelanjutan yang dilakukan sesudah Perusahaan melakukan Penawaran
Umum atau setelah pernyataan pendaftaran sebagai Perusahaan Publik menjadi
efektif, dengan persyaratan
a) Telah memenuhi peraturan ini; dan
b) Syarat dan kondisi Transaksi tidak mengalami perubahan yang dapat merugikan
Perusahaan.
7) Transaksi penjualan yang dilakukan oleh Perusahaan melalui lelang terbuka;
8) Transaksi yang dilakukan oleh Perusahaan dengan nilai transaksi tidak melebihi
0,5% (nol koma lima per seratus) dari modal disetor sepanjang 0,5% (nol koma
lima per seratus) dari modal disetor tersebut tidak lebih dari Rp5.000.000.000,00
(lima miliar rupiah);
9) Transaksi yang dilakukan oleh Perusahaan sebagai pelaksanaan peraturan
perundang-undangan atau putusan pengadilan; dan/atau

21
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

10) Transaksi antara Perusahaan dengan Perusahaan Terkendali yang saham atau
modalnya dimiliki sekurang-kurangnya 99% (sembilan puluh sembilan per seratus)
atau antara sesama Perusahaan Terkendali yang saham atau modalnya dimiliki
sekurang-kurangnya 99% (sembilan puluh sembilan per seratus) oleh Perusahaan
dimaksud, jika laporan keuangan dari Perusahaan tersebut dikonsolidasikan.
Transaksi yang mengandung benturan kepentingan membutuhkan persetujuan Pemegang
Saham Independen (PSI), dengan ketentuan berikut:

RUPS I: RUPS II: RUPS III:


Korum kehadiran 50% Korum kehadiran 50% Korum kehadiran
jumlah saham yang dimiliki jumlah saham yang ditetapkan Bapepam dan
PSI dimiliki PSI LK
Korum keputusan 50% Korum keputusan 50% Korum keputusan 50%
jumlah saham yang dimiliki jumlah saham yang jumlah saham yang dimiliki
PSI dimiliki PSI yang hadir PSI yang hadir

F.2.4 Perubahan Kegiatan Usaha Utama

Perubahan Kegiatan Usaha Utama diatur didalam diatur dalam peraturan IX.E.2 tentang
Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama

 Perusahaan yang melakukan perubahan Kegiatan Usaha Utama wajib terlebih dahulu
memperoleh persetujuan RUPS. Dalam agenda RUPS harus ada acara khusus mengenai
pembahasan studi kelayakan tentang perubahan Kegiatan Usaha Utama perusahaan
tersebut.
 Perubahan Kegiatan Usaha Utama berupa pengurangan Kegiatan Usaha Utama tidak
diwajibkan memperoleh persetujuan RUPS sebagaimana dimaksud dalam huruf a dengan
ketentuan:
1) Kegiatan Usaha Utama yang akan dikurangi mengalami kerugian usaha selama 3
(tiga) tahun berturut-turut berdasarkan laporan keuangan tahunan Perusahaan
2) pengurangan Kegiatan Usaha Utama tidak akan mempengaruhi kelangsungan usaha
Perusahaan
3) Perusahaan wajib mengumumkan kepada masyarakat dan menyampaikan informasi
perubahan Kegiatan Usaha Utama tersebut kepada Bapepam dan LK dalam jangka
waktu paling lambat 2 (dua) hari kerja sejak keputusan perubahan Kegiatan Usaha
Utama.
 Perusahaan yang melakukan perubahan Kegiatan Usaha Utama wajib memenuhi
ketentuan sebagai berikut:
1) Mengumumkan dalam paling sedikit satu surat kabar harian berbahasa Indonesia yang
berperedaran nasional, dalam waktu bersamaan dengan pengumuman RUPS
sebagaimana diatur pada Peraturan Nomor IX.J.1
2) Menyediakan data tentang perubahan Kegiatan Usaha Utama tersebut bagi pemegang
saham sejak saat pengumuman RUPS dan menyampaikan kepada OJK paling lambat
pada saat pengumuman RUPS

F.2.5 Pengambilalihan Perusahaan Terbuka (Akuisisi)

Pengaturan mengenai Pengambilalihan Perusahaan terbuka diatur didalam peraturan IX.H.1


namun ada beberapa peraturan lain yang terkait dengan Akuisisi ini yaitu:
1. Peraturan Bapepam IX.E.1 tentang Benturan Kepentingan Transaski Tertentu
2. Peraturan Bapepam No.IX.E.2 tentang Transaksi Material
3. Peraturan Bapepam No X.K.2 tentang Informasi Yang Harus Segera diumumkan Kepada
Publik

Persyaratan dalam melakukan melakukan akuisisi perlu diperhatikan apakah transaksi


tersebut merupakan transaksi material, jika ia maka mengikuti Peraturan Bapepam NO.
IX.E.2 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama yaitu terlebih dahulu
mendapat persetujuan RUPS.

Persetujuan RUPS ini dibutuhkan karena transaksi material sangat berpengaruh pada kinerja
perseroan yang pada akhirnya dapat mempengaruhi harga efek dan keputusan investasi

22
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

pemodal. Adapun batasan transkasi material adalah transaksi yang nilainya lebih dari 105
pendapatan adatu 20% ekuitas.Apabila transaksi akuisi mengandung benturan kepentingan,
maka Perusahaan harus mengacu pada Peraturan BAPEPAM no IX.E.1 tentang Benturan
Kepentingan Transaksi Tertentu, dimana salah satu persyaratannya adalah adanya
persetujuan RUPS Independen.

Sebagaimana telah disebutkan di depan, keharusan adanya persetujuan pemegang saham


independen dibutuhkan sebab tanpa hal tersebut keputusan transaksi akan ditentukan oleh suara
terbanyak pada RUPS, yaitu pemegang saham utama yang memang berkepentingan dengan
transaksi tersebut. Dengan RUPS Independen, kepentingan pemegang saham independen
terlindungi karena mereka memiliki kekuatan untuk menolak suatu transaksi benturan kepentingan
yang tidak mereka setujui meskipun kepemilikan saham mereka tidak signifikan.Apabila
perusahaan yang diambil alih merupakan Perusahaan Terbuka, maka disamping memperhatikan
Peraturan- peraturan di atas, Perusahaan sebagai pengendali baru wajib melakukan Penawaran
Tender untuk membeli seluruh sisa saham publik Perusahaan Terbuka yang diakuisisi tersebut.
Kewajiban Penawaran Tender ini dimaksudkan agar pemegang saham publik yang tidak setuju
perusahaannya diambil alih mendapat kesempatan untuk menjual saham mereka.Namun
demikian, terdapat beberapa kondisi dimana pengendali baru tidak perlu melakukan Penawaran
Tender. Kondisi-kondisi tersebut antara lain adalah apabila pengambil alihan perusahaan terbuka
tersebut merupakan akibat dari perkawinan atau pewarsan, pengambil alihan dilakukan dengan
membeli/memperoleh saham perusahaan terbuka dalam jangka waktu setiap 12 bulan dalam
jumlah tidak sampai 5% dari jumlah saham beredar, pengambil alihan merupakan akibat
penetapan atau putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, dan
penggabungan usaha atau pelaksanaan likuidasi.

Prosedur atau tata cara Dalam pengambil alihan perusahaan terbuka, pihak pengambil alih
wajib mengikuti prosedur atau tata cara pengambil alihan sebagaimana ditetapkan dalam.
IX.H.1 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka mewajibkan calon pengendali baru
untuk menginformasikan kepada Perusahan yang akan diambil alih, BAPEPAM, Bursa dan
masyarakat semua informasi yang berkaitan dengan perkembangan negoasiasi selambat-
lambatnya pada akhir hari kerja ke-2 setelah dimulainya negosiasi dan setiap adanya
perubahan baru. Peraturan ini juga mewajibkan agar dalam 2 hari kerja setelah pengambil
alihan, prosedur Penawaran Tender harus sudah mulai dilaksanakan. Dalam penentuan harga
Penawaran Tender, perlu dicermati bahwa harga Penawaran Tender sebagai akibat dari
pengambil alihan perusahaan terbuka berbeda dengan harga penawaran tender murni
sebagaimana diatur dalam Peraturan BAPEPAM No. IX.F.1 tentang Penawaran Tender.
Dalam pengambilalihan Perusahaan Terbuka, harga pelaksanaan Penawaran Tender mengacu
pada Peraturan BAPEPAM No. IX.H.1 tentang Pengambil Alihan Perusahaan Terbuka sebagai
berikut:
1) Dalam hal perusahaan yang diambil alih tidak tercatat di bursa, maka harga Penawaran
Tender sekurang-kurangnya sama dengan harga tertinggi antara harga pengambialihan
atau harga wajar menurut penilai independen.
2) Dalam hal perusahaan yang diambil alih tercatat di bursa namun sudah tidak
diperdagangkan dalam 90 hari terakhir, maka harga Penawaran Tender sekurang-
kurangnya sama dengan harga tertinggi antara harga pengambilalihan atau harga
tertinggi selama 12 bulan sebelum hari terakhir perdagangan.
3) Dalam hal perusahaan yang diambil alih tercatat dan diperdagangkan di bursa, maka
harga Penawaran Tender sekurang-kurangnya sama dengan harga tertinggi antara harga
pengambilalihan atau harga tertinggi selama 90 hari sebelum pengumuman informasi
mengenai negosiasi pengambilalihan.

 Definisi:

1) Kelompok yang Terorganisasi adalah pihak-pihak yang membuat


rencana,kesepakatan, atau keputusan untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan
tertentu.
2) Pengendali Perusahaan Terbuka, yang selanjutnya disebut Pengendali, adalah
Pihakyang memiliki saham lebih dari 50% (lima puluh perseratus) dari seluruh saham
yang disetor penuh, atau Pihak yang mempunyai kemampuan untuk menentukan, baik
langsung maupun tidak langsung, dengan cara apapun pengelolaan dan/atau
kebijaksanaan Perusahaan Terbuka.
3) Pengambilalihan adalah tindakan, baik langsung maupun tidak langsung,
yangmengakibatkan perubahan Pengendali.

23
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

4) Penawaran Tender Wajib adalah penawaran untuk membeli sisa saham


PerusahaanTerbuka yang wajib dilakukan oleh Pengendali baru.

 Negosiasi Dalam Rangka Pengambilalihan

1) Calon Pengendali baru yang melakukan negosiasi yang dapat mengakibatkan


Pengambilalihan dapat mengumumkan negosiasi tersebut dalam paling sedikit satu
surat kabar harian berbahasa Indonesia yang berperedaran nasional, serta
menyampaikan pengumuman tersebut kepada Perusahaan Terbuka yang akan diambil
alih, Bapepam dan LK, danBursa Efek dimana saham Perusahaan Terbuka yang akan
diambil alih tercatat.
2) Dalam hal calon Pengendali baru mengumumkan dan menyampaikan informasi
negosiasi, maka setiap informasi perkembangan negosiasi, termasuk penundaan
dan/atau pembatalan rencana Pengambilalihan, wajib diumumkan dalam paling sedikit
satu surat kabar harian berbahasa Indonesia yang berperedaran nasional, serta
diinformasikan kepada pihak. Pengumuman dan penyampaian informasi tersebut
dilakukan paling lambat 2 (dua) hari kerja setelah adanya perkembangan negosiasi
tersebut.
3) Informasi yang diumumkan dan disampaikan wajib meliputi:
a) Perkiraan jumlah saham dan nama Perusahaan Terbuka yang akan diambil alih;
b) Jati diri calon Pengendali baru yang meliputi nama Pihak, alamat,telepon, faksimili,
jenis usaha, serta tujuan pengendalian;
c) Jumlah Efek yang telah dimiliki calon Pengendali baru (jika ada);
d) Rencana, kesepakatan, atau keputusan untuk bekerja sama antara
e) Pihak-pihak dalam Kelompok yang Terorganisasi dalam rangka pengendalian
Perusahaan Terbuka (jika ada);
f) Cara dan proses negosiasi Pengambilalihan; dan
g) Materi negosiasi Pengambilalihan.
4) Dalam hal calon Pengendali baru memutuskan untuk tidak mengumumkan negosiasi,
maka calon Pengendali baru termasuk pihak-pihak yang terlibat dalam negosiasi wajib
merahasiakan informasi hasil negosiasi tersebut.

 Ketentuan Pengambilalihan Perusahaan Terbuka

1) Pihak yang melakukan Pengambilalihan wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut:


a. Mengumumkan dalam paling sedikit satu surat kabar harian berbahasa Indonesia
yang berperedaran nasional, serta menyampaikan kepada Bapepam dan LK perihal
terjadinya Pengambilalihan paling lambat satu hari kerja setelah terjadinya
Pengambilalihan, informasi yang meliputi:
i. jumlah seluruh saham yang diambil alih dan total kepemilikan sahamnya;
ii. identitas diri yang meliputi nama Pihak, alamat, telepon, faksimili, jenis usaha
(jika ada), serta tujuan pengendalian; dan
iii. pernyataan bahwa Pengendali baru adalah Kelompok yang Terorganisasi, dalam
hal Pengendali baru adalah Kelompok yang Terorganisasi; dan
b. Melakukan Penawaran Tender Wajib, kecuali terhadap:
i. saham yang dimiliki pemegang saham yang telah melakukan transaksi
Pengambilalihan dengan Pengendali baru;
ii. saham yang dimiliki Pihak lain yang telah mendapatkan penawaran dengan syarat
dan kondisi yang sama dari Pengendali baru;
iii. saham yang dimiliki Pihak lain yang pada saat bersamaan juga melakukan
Penawaran Tender Wajib atau Penawaran Tender Sukarela atas saham
Perusahaan Terbuka yang sama;
2) Perusahaan Terbuka yang diambil alih tidak wajib memperoleh persetujuan dari
pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), kecuali apabila
persetujuan tersebut dipersyaratkan oleh peraturan perundang-undangan yang khusus
mengatur bidang usaha Perusahaan Terbuka yang diambil alih.
3) Dalam hal Pengambilalihan dilakukan oleh Perusahaan Terbuka, maka Perusahaan
Terbuka tersebut tidak wajib memperoleh persetujuan dari pemegang saham dalam
RUPS mengenai Pengambilalihan, kecuali apabila persetujuan tersebut dipersyaratkan
oleh peraturan perundang-undangan yang khusus mengatur bidang usaha Perusahaan
Terbuka yang melakukan Pengambilalihan.

24
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

4) Dalam setiap Pengambilalihan, apabila antara Pemegang Saham Utama atau Pengendali
dengan calon Pengendali baru membuat suatu kontrak atau aktivitas yang
mengakibatkan adanya:
a. Penggunaan sumber daya Perusahaan Terbuka yang akan diambil alih
b. Dalam jumlah yang material;
c. Perubahan perjanjian atau kesepakatan yang sudah dibuat oleh
d. Perusahaan Terbuka yang akan diambil alih; atau
e. Perubahan terhadap standar prosedur operasional Perusahaan Terbuka yang akan
diambil alih; dimana hal tersebut merupakan Transaksi Afiliasi atau transaksi yang
mengandung Benturan Kepentingan, wajib memenuhi ketentuan Peraturan Nomor
IX.E.1.

 Kewajiban Pengalihan Kembali Saham

a. Dalam hal pelaksanaan Penawaran Tender Wajib mengakibatkan kepemilikan saham


oleh Pengendali baru lebih besar dari 80% (delapan puluh perseratus) dari modal
disetor Perusahaan Terbuka, maka Pengendali baru wajib mengalihkan kembali saham
Perusahaan Terbuka tersebut kepada masyarakat sehingga saham yang dimiliki
masyarakat paling sedikit 20% (dua puluh perseratus) dari modal disetor Perusahaan
Terbuka dan dimiliki paling sedikit oleh 300 (tiga ratus) Pihak dalam jangka waktu
paling lama 2 (dua) tahun sejak Penawaran Tender Wajib selesai dilaksanakan.
b. Dalam hal Pengambilalihan mengakibatkan Pengendali baru memiliki saham
Perusahaan Terbuka lebih besar dari 80% (delapan puluh perseratus) dari modal
disetor Perusahaan Terbuka, maka Pengendali baru dimaksud wajib mengalihkan
kembali saham Perusahaan Terbuka tersebut kepada masyarakat dengan jumlah
paling sedikit sebesar persentase saham yang diperoleh pada saat pelaksanaan
Penawaran Tender Wajib dan dimiliki paling sedikit oleh 300 (tiga ratus) Pihak dalam
jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun.
c. Kewajiban mengalihkan saham oleh Pengendali baru tidak berlaku apabila setelah
terjadinya Pengambilalihan, Perusahaan Terbuka melakukan aksi korporasi yang
mengakibatkan terpenuhinya persyaratan.
d. OJK dapat memperpanjang jangka waktu pelaksanaan kewajiban pengalihan kembali
saham, jika terjadi kondisi sebagai berikut:
1) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek turun melebihi 10% (sepuluh
perseratus) selama 3 (tiga) hari bursa berturut-turut;
2) Bursa Efek dimana saham Perusahaan Terbuka dicatat dan diperdagangkan ditutup;
3) Perdagangan saham Perusahaan Terbuka di Bursa Efek dihentikan;
4) Bencana alam, perang, huru-hara, kebakaran, dan/atau pemogokan, yang
berpengaruh secara signifikan terhadap kelangsungan usaha Perusahaan Terbuka;
5) Harga saham pada masa pengalihan kembali tidak pernah sama atau lebih tinggi
dari harga Penawaran Tender Wajib; dan/atau
6) Pengendali baru telah melakukan upaya untuk mengalihkan kembali saham, namun
kewajiban sebagaimana dimaksud dalam butir 1 dan/atau butir 2 tidak terpenuhi.
e. Penundaan kewajiban pengalihan kembali saham dapat diberikan oleh Bapepam dan
LK dengan tata cara sebagai berikut:
1) Pengendali baru menyampaikan surat permohonan penundaan kewajiban
pengalihan kembali saham kepada Bapepam dan LK paling lambat satu hari kerja
setelah berakhirnya jangka waktu kewajiban pengalihan kembali saham.
2) Permohonan disertai dengan data dan informasi mengenai harga saham yang
membuktikan bahwa harga saham pada masa pengalihan kembali tidak pernah
sama atau lebih tinggi dari harga Penawaran Tender Wajib.
3) Permohonan disertai dengan penjelasan mengenai:
a) upaya yang telah dilakukan terkait dengan pelaksanaan kewajiban pengalihan
kembali saham; dan
b) kesulitan yang dialami dalam pelaksanaan kewajiban pengalihan kembali saham.
f. Penundaan kewajiban pengalihan kembali saham atas diberikan untuk jangka waktu 6
(enam) bulan setelah tanggal dikeluarkannya surat persetujuan penundaan kewajiban
pengalihan kembali saham oleh Bapepam dan LK.
g. Dalam hal setelah berakhirnya jangka waktu, kewajiban pengalihan kembali saham
tidak dapat dilaksanakan atau belum dapat diselesaikan, Pengendali baru dapat
menyampaikan kembali permohonan penundaan.
h. Permohonan penundaan dapat dilakukan jika kondisi dalam huruf d butir 5) dan/atau
butir 6) terpenuhi.

25
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

i. Bapepam dan LK dapat memberikan penundaan kembali atau memutuskan tindakan


lain sesuai dengan kewenangannya atas permohonan.
j. Pengendali baru wajib melaporkan perkembangan pemenuhan kewajiban pengalihan
kembali saham kepada Bapepam dan LK secara berkala setiap 3 (tiga) bulan (Maret,
Juni, September, dan Desember) paling lambat pada hari kerja ke-10 (ke sepuluh)
bulan berikutnya.
k. Informasi perkembangan pemenuhan kewajiban pengalihan kembali saham, paling
sedikit memuat:
1) jumlah dan persentase seluruh saham yang telah dialihkan sampai dengan periode
laporan; dan
2) jumlah pemegang saham Perusahaan Terbuka yang diambil alih sampai dengan
periode laporan.

F.2.6 Penawaran Tender (Tender Offer)

Dalam perkembangannya, peraturan tentang tender offer kini ada dua macam yakni tender
offer yang sifatnya wajib terdapat dalam Peraturan IX.H.1 tentang Pengambilalihan
Perusahaan Terbuka dan tender offer yang sifatnya sukarela diatur didalam POJK No. 54
/POJK.04/2015 tentang Penawaran Tender Sukarela.

F.2.6.1 Penawaran Tender Sukarela

 Definisi
1) Penawaran Tender Sukarela adalah penawaran yang dilakukan
secarasukarela oleh Pihak untuk memperoleh Efek Bersifat Ekuitas yang
diterbitkan oleh Perusahaan Sasaran dengan cara pembelian atau
pertukaran dengan Efek lainnya melalui Media Massa.
2) Pernyataan Penawaran Tender Sukarela adalah dokumen yang
wajibdisampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan oleh Pihak yang
melakukan Penawaran Tender Sukarela
3) Perusahaan Sasaran adalah Perusahaan Terbuka yang Efek
BersifatEkuitasnya merupakan obyek dari Penawaran Tender Sukarela.

Transaksi dalam rangka Penawaran Tender Sukarela dapat dilakukan baik di


dalam maupun di luar Bursa Efek.

 Pelaksanaan Penawaran Tender Sukarela

1) Masa Penawaran Tender Sukarela wajib dimulai paling lambat 2 (dua) hari
kerja setelah Pernyataan Penawaran Tender Sukarela menjadi efektif.
2) Masa Penawaran Tender Sukarela adalah paling singkat 30 (tiga puluh) hari
dan dapat diperpanjang paling lama menjadi 90 (sembilan puluh) hari,
kecuali disetujui lain oleh Otoritas Jasa Keuangan

F.2.6.2 Penawaran Tender Wajib

Penawaran Tender Wajib adalah penawaran untuk membeli sisa saham Perusahaan
Terbuka yang wajib dilakukan oleh Pengendali baru.

 Ketentuan Pelaksanaan

1) Dalam pelaksanaan Penawaran Tender Wajib, Pengendali baru wajib


memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a. Menyampaikan teks pengumuman keterbukaan informasi dalam rangka
Penawaran Tender Wajib beserta dokumen pendukungnya kepada
Bapepam dan LK dan Perusahaan Terbuka yang diambil alih, paling
lambat 2 (dua) hari kerja setelah pengumuman Pengambilalihan;
b. Menyampaikan perubahan dan/atau tambahan informasi atas teks
pengumuman dalam rangka Penawaran Tender Wajib beserta dokumen
pendukungnya sebagaimana dimaksud dalam butir 1) dalam waktu paling
lama 5 (lima) hari kerja setelah diterimanya permintaan Bapepam dan
LK, jika Bapepam dan LK meminta Pengendali baru untuk membuat
perubahan dan/atau tambahan informasi tersebut;

26
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

c. Mengumumkan keterbukaan informasi dalam rangka Penawaran Tender


Wajib dalam satu surat kabar harian yang berperedaran nasional paling
lambat 2 (dua) hari kerja setelah diterimanya surat dari Bapepam dan LK
yang menyatakan bahwa Pengendali baru dapat mengumumkan
keterbukaan informasi dalam rangka Penawaran Tender Wajib;
d. Melaksanakan Penawaran Tender Wajib selama jangka waktu 30 (tiga
puluh) hari yang dimulai satu hari setelah pengumuman;
e. Menyelesaikan transaksi Penawaran Tender Wajib, dengan cara
penyerahan uang, paling lambat 12 (dua belas) hari setelah jangka waktu
penawaran berakhir; dan
menyampaikan laporan hasil Penawaran Tender Wajib kepada Bapepam
dan LK paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah berakhirnya penyelesaian
transaksi sebagaimana dimaksud dalam butir 5).
2) Pengumuman keterbukaan informasi dalam rangka Penawaran Tender Wajib
sebagaimana dimaksud dalam huruf a butir 3) wajib memuat informasi
sebagai berikut:
a. Latar belakang Pengambilalihan;
b. Keterangan tentang saham, meliputi:
i. penjelasan tentang jumlah dan persentase saham yang akan dibeli; dan
ii. jumlah dan persentase saham Perusahaan Terbuka yang diambil alih,
yang dimiliki baik langsung maupun tidak langsung oleh Pengendali
baru, termasuk opsi untuk membeli atau hak untuk memperoleh
dividen atau manfaat lain serta kuasa untuk menggunakan hak suara
dalam RUPS Perusahaan Terbuka yang diambil alih;
c. Keterangan tentang Pengendali baru, meliputi:
i. Dalam hal Pengambilalihan dilakukan oleh orang perseorangan, wajib
diungkapkan informasi tentang nama, alamat, kewarganegaraan, dan
hubungan Afiliasinya dengan Perusahaan Terbuka (jika ada); dan
ii. dalam hal Pengambilalihan dilakukan oleh Pihak lain selain orang
perseorangan, wajib diungkapkan informasi tentang pendirian, kegiatan
usaha, struktur permodalan, susunan direksi dan dewan komisaris,
susunan pemegang saham, pemilik manfaat (beneficial owner), dan
hubungan Afiliasinya dengan Perusahaan Terbuka (jika ada);
d. Keterangan tentang Perusahaan Terbuka yang diambil alih, meliputi
nama, alamat, serta kegiatan usaha;
e. Ketentuan dan persyaratan Penawaran Tender Wajib, meliputi:
i. harga pembelian serta cara perhitungannya;
ii. masa pelaksanaan;
iii. ketentuan mengenai pembayaran;
iv. mekanisme pembelian; dan
v. penjelasan tentang persetujuan atau persyaratan yang ditetapkan oleh
Pemerintah yang wajib dipenuhi sehubungan dengan Penawaran
Tender Wajib (jika ada);
f. Daftar nama dan alamat lembaga dan/atau Profesi Penunjang Pasar
Modal yang terlibat dalam Penawaran Tender Wajib; dan
g. Informasi penting lainnya:
(1) uraian tentang gugatan hukum sehubungan dengan Pengambilalihan
(jika ada); dan
(2) informasi tambahan yang diperlukan agar keterbukaan informasi
dalam rangka Penawaran Tender Wajib tidak menyesatkan.
3) Harga pembelian saham Perusahaan Terbuka yang diambil alih dalam
Penawaran Tender Wajib, ditetapkan dengan ketentuan sebagai berikut:
(a) dalam hal Pengambilalihan dilakukan secara langsung atas saham
Perusahaan Terbuka yang tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek,
maka harga pembelian saham paling rendah sebesar:
a) harga rata-rata dari harga tertinggi perdagangan harian di Bursa
Efek selama 90 (sembilan puluh) hari terakhir:
i. sebelum pengumuman Pengambilalihan; atau
ii. sebelum pengumuman negosiasi, (jika mengumumkan
negosiasi); atau
b) harga Pengambilalihan yang sudah dilakukan, mana yang paling
tinggi;

27
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

(b) dalam hal Pengambilalihan dilakukan secara langsung atas saham


Perusahaan Terbuka yang tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek,
namun selama 90 (sembilan puluh) hari atau lebih sebelum
pengumuman Pengambilalihan atau sebelum pengumuman negosiasi,
tidak diperdagangkan di Bursa Efek atau dihentikan sementara
perdagangannya oleh Bursa Efek, maka harga pembelian saham paling
rendah sebesar:
a) harga rata-rata dari harga tertinggi perdagangan harian di Bursa
Efek dalam waktu 12 (dua belas) bulan terakhir yang dihitung
mundur dari hari perdagangan terakhir atau hari dihentikan
sementara perdagangannya; atau
b) harga Pengambilalihan yang sudah dilakukan, mana yang paling
tinggi;
(c) Dalam hal Pengambilalihan dilakukan secara langsung atas saham
Perusahaan Terbuka yang tidak tercatat dan tidak diperdagangkan di
Bursa Efek, maka harga pembelian saham paling rendah sebesar:
a) harga Pengambilalihan yang sudah dilakukan; atau
b) harga wajar yang ditetapkan oleh Penilai, mana yang paling tinggi;
(d) dalam hal Pengambilalihan dilakukan secara tidak langsung atas saham
Perusahaan Terbuka yang tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek,
maka harga pembelian saham paling rendah sebesar harga ratarata
dari harga tertinggi perdagangan harian di Bursa Efek selama 90
(sembilan puluh) hari terakhir:
a) sebelum pengumuman Pengambilalihan; atau
b) sebelum pengumuman negosiasi, (jika mengumumkan negosiasi);
(e) dalam hal Pengambilalihan dilakukan secara tidak langsung atas saham
Perusahaan Terbuka yang tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek,
namun selama 90 (sembilan puluh) hari atau lebih sebelum
pengumuman Pengambilalihan atau sebelum pengumuman negosiasi,
tidak diperdagangkan di Bursa Efek atau dihentikan sementara
perdagangannya oleh Bursa Efek, maka harga pembelian saham paling
rendah sebesar harga rata-rata dari harga tertinggi perdagangan harian
di Bursa Efek dalam waktu 12 (dua belas) bulan terakhir yang dihitung
mundur dari hari perdagangan terakhir atau hari dihentikan sementara
perdagangannya; atau
(f) dalam hal Pengambilalihan dilakukan secara tidak langsung atas saham
Perusahaan Terbuka yang tidak tercatat dan tidak diperdagangkan di
Bursa Efek, maka harga pembelian saham paling rendah sama dengan
harga wajar yang ditetapka n oleh Penilai.
4) Dalam hal Pihak yang melakukan Pengambilalihan mengumumkan negosiasi
dan dimulainya pelaksanaan Penawaran Tender Wajib melebihi batas waktu
180 (seratus delapan puluh) hari sejak pengumuman negosiasi tersebut,
maka jangka waktu penentuan harga Penawaran Tender Wajib bergeser
mengikuti jangka waktu pelaksanaan Penawaran Tender Wajib.
5) Dalam hal harga pelaksanaan lebih rendah dibandingkan dengan harga
pelaksanaan, maka harga pelaksanaan Penawaran Tender Wajib
menggunakan harga pelaksanaan.
6) Pihak yang melakukan Penawaran Tender Wajib dilarang menetapkan
pembatasan dan persyaratan yang berbeda berdasarkan penggolongan atau
kedudukan Pihak yang menjadi pemegang saham, kecuali apabila terdapat
pembedaan hak atau manfaat tertentu yang melekat pada saham dimaksud.

F.2.7 Penggabungan (Merger) dan Peleburan Usaha (Akuisisi)


Pengaturan terkait Merger dan Akuisisi diatur didalam IX.G.1 tentang Penggabungan Usaha
atau Peleburan Usaha Perusahaan Publik atau Emiten, namun juga harus memperhatikan
peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku seperti UU No. 40 Tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas

 Definisi
1) Penggabungan Usaha adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh 1 (satu)
Perseroan atau lebih untuk menggabungkan diri dengan Perseroan lain yang telah ada
dan selanjutnya Perseroan yang menggabungkan diri menjadi bubar.

28
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

2) Peleburan Usaha adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh 2 (dua) Perseroan atau
lebih untuk meleburkan diri dengan cara

 Persyaratan
Terdapat empat persyaratan utama yang harus dipenuihi oleh Emiten/Perushaan Publik
dalam hal akan melakukan merger dan Akuisisi, yaitu:
1) Direksi dan Komisaris perusahan-perusahaan yang akan merger wajib membuat
pernyataan bahwa kegiatan penggabungan usaha atau peleburan usaha dilakukan
dengan memperhatikan kepentingan perseroan, pemegang saham, persaingan usaha
yang sehat, pemegang saham publik dan kearyawan.
2) Pernyataan tersebut harus didukung oleh pihak independen.
3) Emiten/Perusahaan Publik wajib menyampaianpernyataan penggabungan usaha atau
peleburan usaha yang berisi rancangan usaha/peleburan usaha.
4) Memperoleh persetujuan rapat umum pemegang saham Emiten/ Perusahaan Publik.

 Tata Cara

Setelah mendapatkan persetujuan komisaris, direksi masing-masing Perseroan menjajaki


kelayakan penggabungan usaha atau peleburan usaha yang direncanakan. Penjajagan
kelayakan tersebut dilakukan dengan menelaah beberapa dokumen, seperti laporan
keungan selama 3 tahun terakhir, hasil analisa pihak independen mengenai kewajaran
nilai saham dan aktiva tetap perseroan, metode dan tata cara konversi saham.
Penyelesaian kewajiban terhadap pihak ketiga dan penyelesaian hak-hak pemegang
saham yang tidak setuju dengan penggabungan usaha atau peleburan usaha.Pasal 55 UU
No 1 Tahun 1995 menyatakan bahwa pemegang saham berhak meminta perseroan agar
sahamnya dibeli dengan harga wajar apabila yang bersangkutan tidak setuju dengan
kegiatan merger atau akusisi perseroan.

Sehubungan dengan hal ini, pembelian tersebut dapat dilakukan oleh pemegang saham
utama selaku pembeli siaga.Apabila Perseroan bermaksud membeli sendiri saham-saham
tersebut, maka wajib mengikuti Peraturan Bapepam No XI.B.2 mengenai Pembelian
Kembali Saham Yang Dikeluarkan Emiten atau Perusahaan Publik.Setelah menjajagi
kelayakan penggabungan atau peleburan usaha, Direksi masing-masing Perseroan wajib
secara bersama-sama menyusun rancangan penggabungan usaha atau peleburan usaha.
Rancangan tersebut wajib mengungkapkan antara lain hal-hal seperti :
a. Nama dan alamat perseroan peserta penggabungan/peleburan usaha
b. Alasan masing-masing perseroan melakukan penggabungan/peleburan usaha
c. Tata cara konversi saham
d. Rancangan anggaran dasar
e. Laporan keuangan 3 tahun terakhir
f. Laporan keuangan proforma perushaan hasil penggabungan
g. Hasil enilaian independen mengenai kewajaran nila saham dan kekayaan perseroan
h. Cara penyelesaian hak-hak pemegang saham minoritas yang tidak setuju dengan
rencana penggabungan/peleburan usaha.
Perusahaan Terbuka peserta pengabungan atau peleburan usaha menyampaikan
peryataan penggabungan usaha berserta dokumen pendukungnya kepada OJK selambat-
lambatnya akhir hari kerja kedua setelah persetujuan komisaris. Apabila dalam 20 hari
setelah pengajuan pernyataan pendaftaran tersebut dianggap telah dinyatakan secara
lengkap dan sesuai dengan tata cara yang ditetapkan pada tanggal pengajuan.

 Penyelenggaraan RUPS

Sehubungan dengan perlunya mendapat persetujuan RUPS. Perseroan wajib


mengumumkan Rancangan Penggabungan/Peleburan Usaha serta menyediakan Surat
Edaran mengenai transaksi Penggabungan/Peleburan Usaha selambat-lambatnya 28 hari
sebelum pelaksanaan RUPS. Apabila penggabungan Usaha dan Peleburan Usaha tidak
mengandung benturan kepentingan maka RUPS yang dilakukan adalah RUPS biasa.Namun
apabila mengandung benturan kepentingan maka harus menacu pada Peraturan Bapepam
No.IX.E.1 tentang Benturan Kepentingan, dimana harus melakukan RUPS
Independen.Perlu diperhatikan bahwa pengertian transaski dalam Peraturan BAPEPAM
mengenai Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama tidak mencakup
kegiatan penggabungan/peleburan usaha.

29
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

F.2.8 Kuasi Reorganisasi


Pengaturan mengnenai Kuasi Reorganisasi diatur didalam Peraturan IX.L.1

 Definisi dan Pengertian

Kuasi Reorganisasi adalah reorganisasi, tanpa melalui reorganisasi nyata (true reorganisation
Atau corporate restructuring) yang dilakukan dengan menilai kembali akun-akun aktiva dan
kewajibanpada nilai wajar dan mengeliminasi saldo laba negatif.

 Emiten atau Perusahaan Publik yang melaksanakan Kuasi Reorganisasi wajib


memenuhi ketentuan:

a. Memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip akuntansi


Yang berlaku umum;
b. Mengalami saldo laba negatif yang material selama 3 (tiga) tahun berturut-turut;
c. Dalam hal modal disetor yang ada tidak mampu mengeliminasi saldo laba negatif, Maka
wajib dilakukan penambahan modal disetor sebelum pelaksanaan Kuasi Reorganisasi, sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
d. Melakukan keterbukaan informasi kepada Bapepam dan pemegang saham Emiten atau
Perusahaan Publik tersebut; dan
e. Memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham.

 Keterbukaan Informasi

a. Rencana, tujuan dan alasan dilakukannya Kuasi Reorganisasi;


b. Jadwal pelaksanaan Kuasi Reorganisasi;
c. kondisi keuangan 3 (tiga) tahun terakhir Emiten atau Perusahaan Publik berupa Ikhtisar Data
Keuangan Penting;
d. Status kelangsungan usaha (going concern) Emiten atau Perusahaan Publik antara lain
meliputi:

30
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

1) hasil analisa manajemen terhadap penyebab kerugian yang signifikan


disertai dengan penanggulangannya; dan
2) rencana kegiatan usaha (business plan);
e. Neraca sebelum Kuasi Reorganisasi yang diaudit dan proforma neraca sesudah Kuasi
Reorganisasi, termasuk rincian perhitungan eliminasi saldo laba negatif, yang direview
f. Hasil penilaian nilai wajar aktiva tetap dari Penilai yang terdaftar di Bapepam dan hasil
penilaian nilai wajar kewajiban dan aktiva selain aktiva tetap dari Pihak independen. Tanggal
hasil penilaian dimaksud tidak boleh melebihi 180 (seratus delapan puluh) hari sebelum
Rapat Umum Pemegang Saham;
g. Pendapat dari Akuntan yang terdaftar di Bapepam mengenai kesesuaian penerapan prosedur
dan ketentuan dalam pelaksanaan Kuasi Reorganisasi dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum, termasuk penyesuaian-penyesuaian akuntansi yang ada.

31
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016
Modul Hukum & Etika | Emiten dan Perusahaan Publik

Daftar Peraturan

NO. KETERANGAN

Penawaran Umum

IX.A.1 Ketentuan Umum Pengajuan Pernyataan Pendaftaran

IX.A.2 Tata Cara Pendaftaran Dalam Rangka Penawaran Umum

Pedoman Mengenai Bentuk dan Isi Pernyataan Pendaftaran Dalam Rangka


IX.C.1
Penawaran Umum

Pedoman Mengenai Bentuk dan Isi Prospektus Dalam Rangka Penawaran


IX.C.2
Umum.
IX.C.3 Pedoman Mengenai Bentuk dan Isi Prospektus Ringkas Dalam Rangka
Penawaran Umum.

IX.A.3 Tata cara Untuk Memintan Perubahan dan atau Tambahan Informasi atas
Pendaftaran

IX.A.5 Penawaran Yang Bukan Penawaran Umum

IX.A.15 Penawaran Umum Berkelanjutan


IX.A.4 Prosedur Penagguhan Penawaran Umum

Lembaga dan Profesi Penunjang Pasar Modal terkait Penawaran


Umum
VII.A.1 Pendaftaran Akuntan yang Melakukan Kegiatan di Pasar Modal

VIII.D.1 Pendaftaran Notaris yang Melakukan Kegiatan di Pasar Modal


VIII.C.1 Pendaftaran Penilai yang Melakukan Kegiatan di Pasar Modal

VIII.B.1 Pendaftaran Konsultan Hukum yang Melakukan Kegiatan di Pasar Modal

Aksi Korporasi
POJK 32/POJK.04/2015 Penambahan Modal Perusahaan Terbuka Dengan Memberikan HMETD
IX.D.3 Pedoman Mengenai Bentuk dan Isi Prospektus Dalam Rangka Penerbitan Hak
Memesan Efek Terlebih Dahulu

POJK 38/POJK.04/2014 Penambahan Modal Tanpa HMETD

IX.E.2 Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama


IX.E.1 Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu

IX.H.1 Pengambilalihan Perusahaan Terbuka

POJK 54 /POJK.04/2015 Penawaran Tender Sukarela

IX.G.1 Penggabungan Usaha atau Peleburan Usaha Perusahaan Publik atau Emiten

IX.L.1 Kuasi Reorganisasi


32
Materi Pelatihan WPPE | Edisi Agustus 2016

ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.23.1. April (2018): 80-109
DOI: https://doi.org/10.24843/EJA.2018.v23.i01.p04

Analisis Pengaruh Earning Per Share, Debt To Equity Ratio, Growth, dan Risiko
Sistematis pada Return Saham
1
Luki Setiawan Djajadi
2
Gerianta Wirawan Yasa
1
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, Bali, Indonesia
email: setiawanlucki@gmail.com/ Tlp: 082342461022
2
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, Bali, Indonesia

ABSTRAK
Sistem perekonomian Indonesia dipengaruhi oleh investasi dari luar maupun dalam negeri baik
itu investasi langsung maupun tidak langsung.Menurut investor, semakin tinggi harga saham,
maka semakin tinggi kemakmuran pemegang saham.Penelitian ini bertujuan
untukmembuktikan secara empiris pengaruh Earning Per Share (EPS), Debt to Equity Ratio
(DER), growth dan risiko sistematis pada return saham.Populasi dalam penelitian ini adalah
85perusahaan yang tergabung dalam indeks LQ45.Teknik pengambilan sampel yang digunakan
adalah purposive sampling, maka didapatkan jumlah pengamatan sebanyak 17 perusahaan yang
memenuhi kriteria sampel.Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam
penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda.Hasil penelitian menunjukkan bahwa EPS,
DER, dan growth tidak berpengaruh pada return saham, sedangkan risiko sistematis
berpengaruh negatif pada return saham.
Kata kunci: EPS, DER,growth, risiko sistematis,returnsaham

ABSTRACT
Indonesia's economic system is influenced by both foreign and domestic investment, whether it
is direct or indirect investment. According to investors, the higher the stock price, the higher
the shareholder's wealth. This study aims to prove empirically the influence of Earning Per
Share (EPS), Debt to Equity Ratio (DER), and growth in stock returns and systematic risk.The
population in this research is 45 companies incorporated in LQ45 index. Sampling technique
used is purposive sampling, then got the number of observations as many as 18 companies that
meet the criteria of the sample. Data analysis techniques used to test the hypothesis in this
study is multiple linear regression analysis.The result showed that EPS had negative effect on
stock return, while DER and growth had positive effect on stock return. In the second
regression equation shows that EPS has no effect on systematic risk while DER and growth
have negative effect on systematic risk.
Keywords: EPS, DER, growth, systematic risk, stock return

PENDAHULUAN

Sistem perekonomian Indonesia dipengaruhi oleh investasi dari luar maupun dalam

negeri baik itu investasi langsung maupun tidak langsung.Pemerintah saat ini sedang

mengupayakan agar investasi masuk untuk mempercepat pembangunan infrastruktur

80
Luki Setiawan Djajadi dan Gerianta Wirawan Yasa. Analisis…

di seluruh wilayah Indonesia agar dapat mempercepat distribusi barang dan

menggerakkan perekonomian daerah.Oleh sebab itu pemerintah mendorong investasi

sebanyak-banyaknya baik dari luar maupun dalam negeri untuk menunjang

pembiayaan infrastruktur.Investasi dapat diartikan sebagai penundaaan konsumsi

sekarang untuk dimasukkan ke aktiva produktif selama periode waktu tertentu.

Dengan adanya aktiva yang produktif, penundaan konsumsi sekarang untuk

diinvestasikan ke aktiva yang produktif tersebut akan meningkatkan kepuasan (utility)

total. Investasi ke dalam aktiva produktif dapat berbentuk aktiva nyata (seperti rumah,

tanah dan emas) atau berbentuk aktiva keuangan (surat-surat berharga) yang

diperjual-belikan di antara investor (pemodal) (Jogiyanto, 2012:5).

Perekonomian modern saat ini dipengaruhi oleh pertumbuhan pasar modal

dan tujuan investasi di pasar modal.Oleh karenanya pertumbuhan ekonomi Indonesia

sangat dipengaruhi oleh pergerakan investasi di pasar modal.Oleh karenanya, pasar

modal memiliki peran penting bagi pembangunan ekonomi sebagai salah satu

pembiayaan eksternal bagi dunia usaha.Investasi dalam pasar modal merupakan salah

satu instrumen yang dapat digunakan oleh investor untuk melakukan investasi.

Namun investor tidak akan sembarangan dalam melakukan investasi ke sebuah

perusahaan, tentunya banyak hal yang dipertimbangkan seperti tujuan investasi,

kondisi ekonomi Indonesia dan aspek fundamental perusahaan itu sendiri. Investor

berdasarkan tujuannya ada yang bertujuan untuk investasi jangka pendek tetapi juga

ada yang investasi jangka panjang.Tujuan jangka pendek yang ingin dicapai adalah

capital gain yaitu selisih antara harga beli saham dan harga jual saham sedangkan

81
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.23.1. April (2018): 80-109

untuk investasi jangka panjang adalah dividen yaitu keuntungan yang diperoleh dari

perlembar saham.Investor agar dapat mencapai tujuannya itu harus melakukan

pemilihan investasi saham yang akan dibeli. Para investor dalam melakukan investasi

akan mempertimbangkan dua hal yang utama yaitu return yang diharapkan

(expectedreturn) dan risiko investasi. Menurut (Hernendiastoro, 2005) dalam

(Indraswari,2013) dikatakan return saham merupakan tingkat keuntungan yang

dirasakan oleh pihak investor atas investasi yang telah dilakukan. Return yang ingin

diperoleh investor berupa expected return, karena terdapat suatu ketidakpastian atau

risiko yang harus dihadapi dalam investasinya. Investor yang rasional akan selalu

mengumpulkan informasi dan melakukan berbagai analisis untuk mengurangi

ketidakpastian atau risiko dalam investasinya. Oleh sebab itu, peneliti melakukan

penelitian mengenai return saham untuk mengetahui seberapa besar faktor-faktor

yang ada mempengaruhi return saham.

Pasar yang selalu berubah dari waktu ke waktu membuat investor harus

mengestimasikan variabel-variabel penting yang dapat mempengaruhi return tersebut

sehingga dibutuhkan banyak informasi yang bersifat fundamental maupun teknikal

yang dapat mempengaruhi return saham. Melalui dua pendekatan informasi tersebut

diharapkan investor yang melakukan investasi mendapat keuntungan yang signifikan

dan mengurangi risiko yang ditanggung.Bagi investor, faktor fundamental

memberikan gambaran yang jelas dan bersifat analisis terhadap prestasi manajemen

perusahaan dalam mengelola perusahaan yang menjadi tanggung jawabnya.

82
Luki Setiawan Djajadi dan Gerianta Wirawan Yasa. Analisis…

(Crabb, 2003) dalam (Purwaningrat, 2014) mengatakan bahwa

“Fundamentalanalysis is an examination of corporate accounting reports to asses the

value of company, that investor can use to analyse a company’s stock

prices”.Pernyataantersebut menunjukkan bahwa informasi dari laporan keuangan

suatu perusahaan bisa menjadi media bagi investor sebagai faktor fundamental untuk

mengestimasi harga saham atau return saham suatu perusahaan. Ada banyak rasio-

rasio yang dapat digunakan oleh investor dalam menganalisis suatu saham seperti

rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio rentabilitas, rasio solvabilitas dan rasio

pasar.Investasi pada saham memiliki risiko paling tinggi dibandingkan dengan risiko

investasi lainnya.Risiko dalam saham terdiri dari dua macam risiko yaitu risiko

sistematis dan risiko tidak sistematis.Risiko yang menjadi perhatian investor adalah

risiko sistematis yaitu risiko yang dipengaruhi pasar secara keseluruhan.Ukuran dari

risiko sistematis ini disebut dengan beta.

(Susilowati, 2011) menyatakan bahwa Earning Per Share merupakan rasio

yang menggambarkan tingkat laba yang diperoleh oleh para pemegang saham,

dimana tingkat laba (per lembar saham) menunjukkan kinerja perusahaan terutama

dari kemampuan laba yang dikaitkan dengan pasar. EPS menunjukkan bahwa

semakin besar tingkat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan per

lembar saham bagi pemiliknya maka hal tersebut akan mempengaruhi return saham

perusahaan tersebut di pasar modal. Pada umumnya manajemen perusahaan,

pemegang saham biasa dan calon pemegang saham sangat tertarik pada Earning

PerShare (EPS), karena hal ini menggambarkan jumlah rupiah yang diperoleh untuk

83
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.23.1. April (2018): 80-109

setiap lembar saham biasa dan menggambarkan prospek earning perusahaan di masa

depan.

Para calon pemegang saham tertarik dengan earning per share yang besar,

karena hal ini merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu perusahaan

(Syamsuddin, 1992:66). Secara singkat dapat peneliti perkirakan bahwa semakin

tinggi nilai EPS tentu saja akan menyenangkan pemegang saham, karena semakin

besar laba yang disediakan untuk pemegang saham. Sebagai indikator keberhasilan di

masa yang lalu dan harapan di masa yang akan datang, earning per share

memberikan gambaran yang penting dari keberhasilan itu. Namun demikian

earningper share bukan satu-satunya alat penilai keberhasilan perusahaan. Alat ini

masihharus dikombinasikan dengan alat yang lain dan diinterpretasikan lebih jauh.

(Brigham dan Gapenski, 1997) menyatakan bahwa Debt to Equity Ratio

mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya yang

ditunjukkan oleh beberapa bagian dari modal sendiri yang digunakan untuk

membayar utang.DER menunjukkan tentang timbangan antara beban utang

dibandingkan dengan modal sendiri.DER juga memberikan jaminan tentang seberapa

besar utang-utang perusahaan dijamin modal sendiri. Ketika jumlah utang secara

absolute, maka akan menurunkan tingkat solvabilitas perusahaan,

bahkanmenimbulkan risiko yang besar yang selanjutnya akan berdampak pada

menurunnya return saham perusahaan (Suarjaya, 2013).

Analisis saham tidak hanya memberikan rekomendasi atas perusahaan, namun

juga menyediakan estimasi pertumbuhan earnings yang akan datang. Apabila suatu

84
Luki Setiawan Djajadi dan Gerianta Wirawan Yasa. Analisis…

saham perusahaan dimonitor secara terus menerus oleh banyak analis, dan analis

tersebut memiliki informasi yang lebih baik dari pasar, maka proyeksi tingkat

pertumbuhan tersebut akan menjadi lebih baik daripada menggunakan data historis

ataupun hanya mendasarkan pada informasi publik. Data historis dan estimasi dari

analis tentang pertumbuhan (Growth) adalah merupakan variabel bebas yang

memengaruhi suatu nilai, tetapi estimasi dengan menggunakan metode tersebut tidak

melihat pada detail operasi perusahaan (Murhadi, 2013).

Menurut (Tandelilin, 2010) risiko sistematis adalah risiko atas perubahan di

pasar secara keseluruhan.Beta saham adalah pengukur tingkat kepekaan saham

terhadap perubahan pasar. Sedangkan Beta diperoleh dengan meregresikan return

saham dengan return pasar. Sesuai dengan falsafah investasi high risk high return,

maka ketika investor ingin memperoleh return saham yang tinggi tentu juga harus

memperhitungkan risiko yang mungkin diterima. Sehingga risiko sistematis menjadi

penting untuk diteliti karena merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari return

saham itu sendiri.

Berdasarkan teori yang dijelaskan di atas peneliti bermaksud untuk menguji

kembali pengaruh EPS, DER, Growth dan Risiko sistematis terhadap return saham.

Namun rasio-rasio yang digunakan pada penelitian ini untuk mengestimasi return

saham diantaranya EPS, DER, Growth dan Risiko Sistematis. Alasan peneliti memilih

EPS dan DER karena merupakan rasio yang paling sering digunakan oleh investor

untuk melakukan analisis dan dapat dilihat di laporan keuangan yang dipublikasikan

sedangkan growth sering digunakan investor untuk melihat

85
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.23.1. April (2018): 80-109

pertumbuhan perusahaan dalam satu periode dan risiko sistematis menurut peneliti

rasio ini perlu diteliti karena dalam berbagai jenis investasi masing-masing memiliki

risiko.Alasan pemilihan saham perusahaan LQ 45 karena merupakan saham-saham

unggulan dari berbagai industri yang paling aktif diperdagangkan, serta memiliki

kapitalisasi pasar yang besar sehingga dianggap mampu mewakili kondisi pasar

secara keseluruhan. Sebenarnya Bursa Efek Indonesia memiliki beberapa indeks,

yaitu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Jakarta Islamic Index (JII), Indeks

Kompas 100, Indeks sector, Indeks Bisnis 27, Indeks PEFINDO25, Indeks SRI-

KEHATI, Indeks Papan Utama, dam Indeks pembangunan. Penelitian pada indeks

LQ45 dinilai tepat karena volume perdagangan yang lebih aktif dibandingkan dengan

perusahaan lain. Aktivitas perdagangan yang aktif akan menunjukkan semakin

diminatinya saham perusahaan tersebut dan mempengaruhi harga saham perusahaan

lain di pasar saham.

Sedangkan tahun penelitian dilakukan dari tahun 2010 karena untuk

menghitung risiko sistematis yang diproksikan dengan beta tidak disarankan periode

observasi terlalu lama, adanya anggapan beta konstan dan stabil kurang tepat,

karenanya beta berubah dari waktu ke waktu. (Bogue, 1972) dan (Gonedes, 1973)

menginvestigasi hal ini dan menyimpulkan bahwa untuk data return bulanan, 60

bulan merupakan periode yang optimal sehingga penelitian ini dilakukan pada lima

tahun terakhir 2010-2014 agar dapat digunakan investor sebagai bahan pertimbangan

dalam mengambil keputusan untuk melakukan investasi di masa yang akan datang

secara lebih aktual.

86
Luki Setiawan Djajadi dan Gerianta Wirawan Yasa. Analisis…

Menurut (Samsul, 2006), membeli saham berarti membeli prospek perusahaan,

yang tercermin pada laba per saham atau earning per share. Hal tersebut sesuai

dengan Signaling Theory, bahwa perusahaan ingin memberikan informasi kepada

investor supaya mau berinvestasi pada perusahaan tersebut. Jika laba per saham lebih

tinggi, maka prospek perusahaan lebih baik, sementara jika laba per saham lebih

rendah berarti kurang baik, dan laba per saham negatif berarti tidak baik. EPS

menunjukkan laba bersih perusahaan yang siap dibagikan kepada semua pemegang

saham perusahaan, maka semakin besar EPS akan menarik investor untuk melakukan

investasi di perusahaan tersebut. Sehingga, hal tersebut mengakibatkan permintaan

saham serta harga saham meningkat (Susilowati, 2011).Teori tersebut juga didukung

oleh penelitian yang dilakukan oleh (Azim Khan dan Iqbal Khan, 2011), (Ebrahimi

dan Chadegani, 2011), (Seyed, 2011), (Sharma, 2011), (Emamgholipur, 2012),

(Maholtra dan Tandon, 2013), (Wang, 2013), dan (Omete, 2013), menunjukkan

bahwa EPS memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. Dengan

demikian EPS berpengaruh positif terhadap return saham.Berdasarkan teori dan

penelitian sebelumnya tersebut, maka hipotesis yang diajukan pada penelitian ini

adalah:

H1: Earning Per Share berpengaruh positif pada Return saham.

DER menunjukkan dan menggambarkan komposisi atau struktur modal dari

perbandingan total utang dengan total ekuitas. Rasio ini digunakan untuk mengukur

tingkat leverage (penggunaan utang) terhadap total shareholders equity yang dimiliki

perusahaan (Ang, 1997).Menurut (Brigham dan Houston 2010:17) semakin tinggi

87
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.23.1. April (2018): 80-109

risiko dari penggunaan lebih banyak utang akan cenderung menurunkan harga saham.

Investor perlu memperhatikan kesehatan perusahaan melalui perbandingan antara

modal sendiri dan modal pinjaman. Jika modal sendiri lebih besar dari modal

pinjaman maka perusahaan tidak akan mudah bangkrut. Maka makin tinggi DER

makin berisiko sebuah perusahaan.

Hal ini sesuai dengan Signaling theory, dimana sinyal yang diberikan oleh

perusahaan berupa informasi maka investor akan mengetahui jumlah utang yang

dimiliki perusahaan. Perusahaan dengan utang yang tinggi akan sangat berisiko,

bahkan perusahaan bisa mengalami kebangkrutan. Hal tersebut tentu mempengaruhi

turunnya harga saham yang berakibat pada menurunnya return saham.Teori tersebut

juga didukung oleh penelitian yang dilakukan (Arista, 2012) yang menyatakan bahwa

DER berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return saham. Berdasarkan hal

tersebut, maka hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah:

H2: Debt to Equity Ratio berpengaruh negatif pada return saham.

Menurut penelitian yang dilakukan (Erianda dkk, 2011) estimasi pertumbuhan

sangat sensitif, karena jika salah mengestimasi pertumbuhan harga wajar saham

tersebut maka tidak akan sesuai atau jauh dari harga pasar. Hal ini sesuai dengan

Signaling Theory, dimana perusahaan ingin menunjukkan bahwa perusahaan

sedangbertumbuh dan berkembang menjadi perusahaan yang lebih besar, sehingga

investor tertarik untuk berinvestasi pada perusahaaan tersebut. Teori tersebut juga

didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh (Ariestiani 2014) yang menyatakan

bahwa
88
Luki Setiawan Djajadi dan Gerianta Wirawan Yasa. Analisis…

growthberpengaruh positif dan signifikan terhadap volatilitas return


saham.Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis yang diajukan pada penelitian ini

adalah: H3: Growth berpengaruh positifpada return saham.

Risiko sistematis atau Beta sebagai pengukur risiko yang berasal dari

hubungan antara tingkat keuntungan suatu saham dengan pasar.Risiko ini berasal dari

beberapa faktor fundamental perusahaan dan faktor karakteristik pasar tentang saham

perusahaan tersebut (Yunanto, 2009). Menurut (Anindyaguna, 2014) perusahaan yang

memiliki risiko pasar yang tinggi akan sangat berfluktuatif terhadap pergerakan pasar,

karena semakin tinggi beta suatu perusahaan maka semakin sensitif pula terhadap

perubahan pasar, karena pergerakan pasar yang tidak stabil. Sehingga perusahaan

dengan beta yang tinggi akan sangat berfluktuatif terhadap pergerakan pasar dan

memberikan return yang tidak stabil. Dalam teori Single Index Model (SIM) dan

Konsep Risk-Return Trade Off menyatakan bahwa jika risiko yang ditanggung oleh

para pemegang saham itu besar, maka saham tersebut akan memperoleh return saham

yang besar pula. Hal itu juga didukung penelitian sebelumnya.Penelitian yang

dilakukan oleh (Thomas W, 2000), (Furda dan Jalaludin, 2012), (Budialim, 2013)

menyatakan bahwa risiko sistematis berpengaruh positif terhadap return saham.

Semakin tinggi risiko sistematis perusahaan, maka semakin besar return yang

diterima oleh investor (high risk high return). Berdasarkan penelitian sebelumnya,

maka hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah:

H4 : Risiko Sistematis berpengaruh positif terhadap Return saham

89
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.23.1. April (2018): 80-109

METODE PENELITIAN

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif yang

berbentuk kausalitas.Pendekatan kuantitatif merupakan metode penelitian yang

digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu yang bertujuan untuk menguji

hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2010:13). Lokasi penelitian ini dilakukan

di Denpasar melalui alamat website (www.idx.co.id) pada perusahaan LQ45 yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang dimana data tersebut diperoleh dari laporan

keuangan perusahaan LQ45 tahun 2010-2014.Alasan peneliti memilih perusahaan

LQ45 karena merupakan saham paling liquid di BEI dan dianggap dapat mewakili

keseluruhan perusahaan yang terdaftar di BEI.

Obyek penelitian adalah suatu sifat dari obyek yang ditetapkan oleh peneliti

untuk dipelajari dan kemudian memperoleh kesimpulan (Sugiyono, 2013:38).Obyek

dalam penelitian ini adalah laporan keuangan perusahaan LQ45 di Bursa Efek

Indonesia secara berturut-turut dari tahun 2010-2014. Adapun variabel yang dapat

diteliti dari obyek penelitian ini, antara lain EPS, DER, growth dan risiko sistematis

pada return perusahaan. Variabel terikat, yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang

menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2013:59). Variabel terikat

dalam penelitian ini adalah return saham.Return saham merupakan return

keseluruhan dari suatu investasi dalam suatu periode tertentu. Return saham terdiri

dari capital gain (loss) dan yield. Jika harga investasi sekarang (Pt) lebih tinggi dari

harga investasi periode lalu (Pt-1) ini berarti terjadi keuntungan modal (capital gain),

sebaliknya terjadi kerugian modal (capital lost) (Jogiyanto, 2012:206).

90
Luki Setiawan Djajadi dan Gerianta Wirawan Yasa. Analisis…

Variabel bebas, yaitu variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab

perubahannya atau timbulnya variabel dependen atau terikat (Sugiyono,

2014:59).Variabel bebas dalam penelitian ini adalah EPS, DER, growth dan risiko

sistematis.Menurut (Fahmi 2013:288) EPS merupakan bagian dari rasio penilaian

yang digunakan untuk mengetahui laba per lembar saham yang diberikan kepada

investor.Rasio yang digunakan untuk menghitung seberapa besar keuntungan yang

diberikan oleh perusahaan per lembar sahamnya.DER merupakan rasio yang

digunakan untuk mengukur tingkat penggunaan utang terhadap modal yang dimiliki

perusahaan. Total utang yang digunakan disini adalah total utang periode tahun

tertentu.Jika perubahan pasar dinyatakan sebagai tingkat keuntungan indeks pasar,

maka beta dapat dihitung menggunakan konsep model indeks tunggal.

Berdasarkan sifatnya, jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

data kuantitatif.Data kuantitatif yaitu data yang berupa angka-angka atau data

kualitatif yang diangkakan (Sugiyono, 2010:14). Berdasarkan sumbernya, data yang

digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang diperoleh dalam

bentuk sudah jadi, sudah dikumpulkan dan diolah pihak lain (Sugiyono, 2010:193).

Data sekunder dalam penelitian ini berupa laporan keuangan auditan yang di-publish

di BEI tahun 2010-2014. Laporan keuangan tersebut diperoleh dari website

(www.idx.co.id) dan Indonesian Capital Market Directory.

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2013:115).Populasi dalam

91
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.23.1. April (2018): 80-109

penelitian ini adalah 85 perusahaan LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari

tahun 2010-2014.Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki

oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2013:116).Metode penentuan sampel yang

digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling.Purposive sampling

merupakan sampel yang ditarik sejumlah tertentu dari populasi emiten dengan

menggunakan pertimbangan atau kriteria tertentu (Sugiyono, 2010:122).Jumlah

pengamatan dalam penelitian ini adalah sebesar 18 perusahaan LQ45 yang terdaftar

di Bursa Efek Indonesia (BEI) berturut-turut dari tahun 2010-2014.

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

observasi non participant yaitu observasi yang dilakukan tanpa melibatkan diri atau

menjadi bagian dari lingkungan sosial atau perusahaan dan hanya sebagai pengumpul

data. Data dikumpulkan dengan cara mengamati, mencatat, serta mempelajari buku-

buku dan catatan-catatan yang berkaitan dengan penelitian yang

dilakukan (Sugiyono, 2010:204).

Penelitian ini digunakan teknik analisis regresi linear berganda yang diuji

dengan tingkat signifikansi 0,05. Analisis linear berganda digunakan untuk

mengetahui atau memperoleh gambaran mengenai pengaruh variabel bebas terhadap

variabel terikat. Model regresi linear berganda ini dirumuskan sebagai berikut

(Sugiyono, 2009:277) :

RS = α + β1EPS+ β2DER + β3Growth+ β4Beta+ ɛ..............................................(1)

Keterangan:
RS = Return Saham
α = Konstanta

92
Luki Setiawan Djajadi dan Gerianta Wirawan Yasa. Analisis…

EPS = Earning Per Share


DER = Debt to Equity Ratio
Growth = Tingkat pertumbuhan
Beta = Risiko Sistematis
β1 = Koefisien regresi EPS
β2 = Koefisien regresi DER
β3 = Koefisien regresi Growth
β4 = Koefisien regresi Risiko Sistematis
 = Error term (variabel pengganggu)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Statistik deskriptif merupakan statistik yang digunakan untuk menganalisa data

dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul

(Sugiyono,2013:206). Statistik deskriptif disajikan untuk memberikan informasi

mengenai karakteristik variabel-variabel penelitian, yaitu jumlah amatan, nilai

minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata, dan standar deviasi. Hasil statistik

deskriptif penelitian dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1.
Hasil Statistik Deskriptif
N Minimum Maksimum Mean Deviasi Standar
RS 85 -0,7590 0,9412 0,1530 0,3213
EPS 85 0,0303 1,6570 0,6186 0,4489
DER 85 0,1364 10,0240 2,5088 2,9254
Growth 85 -0,0826 0,5636 0,1651 0,0999
Beta 85 -1,1362 3,4119 0,9882 0,7708
Valid N 85
Sumber: data sekunder diolah, 2017

Earning Per Share (EPS) merupakan komponen penting pertama yang

harusdiperhatikan dalam melakukan analisis perusahaan. Hasil analisis statistik

deskriptif menunjukkan nilai rata-rata EPS perusahaan yang menjadi sampel sebesar

0,6186, sedangkan nilai deviasi standarnya sebesar 0,4489. Dari hasil ini terlihat nilai

deviasi
93
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.23.1. April (2018): 80-109

standar 0,4489< 0,6186 nilai mean sehingga dapat disimpulkan bahwa data EPS

memiliki sebaran data yang merata.Nilai rata-rata cenderung lebih mendekati nilai

minimum sehingga dapat disimpulkan kencenderungan data berada diantara

0,0303<x<0,6186.

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan proksi dari variabel solvabilitas

danmerupakan rasio yang digunakan untuk membandingkan jumlah utang perusahaan

dengan total modal perusahaan.Hasil analisis statistik deskriptif menunjukkan nilai

rata-rata DER sebesar 2,5088 atau 250,88 persen rata-rata perbandingan jumlah

hutang dengan modal perusahaan sendiri sehingga dapat disimpulkan bahwa dari

perusahaan yang menjadi sampel kebanyakan memiliki utang lebih besar

dibandingkan dengan modal perusahaan sendiri. Nilai deviasi standar DER sebesar

2,9254 atau 292,54 persen di mana nilai standar deviasi lebih besar 42 persen dari

nilai rata-ratanya yang menunjukkan adanya sebaran data yang tidak merata pada

perusahaan yang menjadi sampel. Nilai minimum DER sebesar 0,1364 memiliki arti

bahwa ada perusahaan sampel yang mampu menutup seluruh jumlah utang

perusahaan hanya dengan menggunakan modal perusahaan sebesar 13,64 persen.

Sedangkan nilai maksimum DER sebesar 10,024 memiliki arti bahwa ada perusahaan

sampel apabila ingin menutup seluruh jumlah utang dengan menggunakan modal

perusahaan sebesar 10 kali lipat dari modal perusahaan yang dimiliki. Hal ini

disebabkan karena dalam perusahaan sampel terdapat 5 (lima) perusahaan perbankan.

Growth adalah proksi yang digunakan untuk mengukur pertumbuhanperusahaan

yaitu dengan mengukur rasio pertumbuhan asset periode sekarang

94
Luki Setiawan Djajadi dan Gerianta Wirawan Yasa. Analisis…

dikurangi jumlah asset pada periode sebelumnya kemudian dibagi dengan jumlah

asset periode sebelumnya.Growth merefleksikan perkembangan perusahaan dengan

melihat peningkatan asset yang dimiliki perusahaan. Hasil analisis statistik deskriptif

menunjukkan nilai rata-rata sebesar 0,1651 atau 16,51 persen rata-rata pertumbuhan

aset perusahaan yang menjadi sampel. Nilai standar deviasi sebesar 0,0999 atau 9,99

persen di mana nilai standar deviasi lebih kecil dari nilai rata-ratanya yang

menunjukkan sebaran data yang merata pada perusahaan yang menjadi sampel. Nilai

minimum growth sebesar -0,0826 yang berarti bahwa terdapat perusahaan sampel

yang memiliki pertumbuhan aset yang menurun atau negatif sebesar -8,26 persen.

Sedangkan nilai maksimum growth adalah 0,5636 menunjukkan adanya perusahaan

sampel yang memiliki pertumbuhan aset yang sangat besar mencapai 56,36 persen.

Risiko sistematis yang diproksikan menggunakan beta merupakan koefisien

yang mengukur perubahan Ri akibat dari perubahan Rm dalam model indeks tunggal

memiliki nilai rata-rata sebesar 0,9882 atau 98,82 persen menunjukkan bahwa nilai

rata-rata beta hampir sama dengan 1 sehingga dapat dikatakan bahwa perusahaan-

perusahaan yang menjadi sampel memiliki tingkat perubahan atau volatilitas hampir

sama dengan pasar secara keseluruhan. Untuk nilai standar deviasi sebesar 0,7708

atau 77,08 persen lebih kecil dari nilai rata-rata menandakan sebaran data yang

merata.Risiko sistematis yang diproksikan dengan betamemiliki nilai minimum

sebesar -1,1362 ini berarti bahwa masih terdapat perusahaan yang menjadi sampel

memiliki tingkat perubahan atau volatilitas yang berbanding terbalik dan di atas

tingkat perubahan atau volatilitas pasar. Sedangkan nilai maksimumnya sebesar

95
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.23.1. April (2018): 80-109

3,4119 memiliki arti bahwa terdapat perusahaan sampel yang memiliki tingkat

perubahan atau volatilitas jauh di atas volatilitas pasar.

Uji normalitas residual bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model

regresi, residu dari persamaan regresi mempunyai distribusi normal atau tidak

normal.Model regresi yang baik adalah yang memiliki distribusi normal atau

mendekati normal.Pengujian normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan

menggunakan uji statistik Kolmogrov-Smirnov (K-S).

Berdasarkan uji normalitas menunjukkan nilai Asymp.Sig. (2-tailed) dari

model persamaan bernilai 0,177.Hal ini menunjukkan bahwa model persamaan

memenuhi uji normalitas karena nilai Asymp.Sig. (2-tailed) lebih besar dari 0,05yang

berarti data terdistribusi secara normal.

Berdasarkan uji autokorelasidapat dilihat pada persamaan pertama nilai DW

sebesar 1,9930.Nilai dU untuk k= 4 dan n= 85 pada α=0,05 adalah 1,75. Maka nilai 4-

dU adalah 2,25.Oleh karena nilai d-statistic2,2160 berada diantara dU dan 4-dU (1,75

<2,2160< 2,25) maka pengujian dengan Durbin-Watson(DW) berada pada daerah

tidak ada autokorelasi maka ini berarti pada model persamaan tidak terjadi gejala

autokorelasi.

Berdasarkan uji multikolinieritas, dapat diketahui bahwa semua variabel

memiliki tolerance> 0,1 dan VIF < 10, artinya pada model regresi tidak terdapat

gejala multikolinieritas.

96
Luki Setiawan Djajadi dan Gerianta Wirawan Yasa. Analisis…

Berdasarkan uji heteroskedastisitas, dapat diketahui bahwa semua variabel

memiliki Asym.Sig (p value)> 0,05, artinya pada model regresi tidak terdapat gejala

heteroskedastisitas.Model regresi dalam penelitian ini lulus uji asumsi klasik.

Uji kelayakan model (uji F) pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel

independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-

sama pada variabel dependen. Kriteria pengujian ini adalah jika nilai tingkat

signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka model regresi dapat digunakan untuk

memprediksi return saham. Hasil perhitungan uji F dapat dilihat pada Tabel 6 berikut

ini:

Tabel 2.
Hasil Uji F
Model Df F Sig.
Regression 4 3,089 0,020
Residual 80
Total 84
Sumber: data sekunder diolah, 2017

Berdasarkan Tabel 6 dapat diketahui bahwa nilai Uji F hitung sebesar 14,390

dengan tingkat signifikansi 0,020. Tingkat signifikansi sebesar 0,020 menunjukkan

nilai yang lebih kecil dari 0,05 ini berarti model regresi dapat digunakan untuk

memprediksi return saham atau dapat dilakukan penelitian lebih lanjut.

Tabel 3.
Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
Model Unstandardized Coefficients Standardized t Sig.
Coefficients
B Std. Error Beta
(Constant) 0,167 0,087 1,911 0,060
EPS -0,082 0,076 -0,115 -1,086 0,281
DER 0,022 0,012 0,202 1,869 0,065
Growth 0,663 0,344 0,206 1,926 0,058
Beta -0,130 0,046 -0,311 -2,848 0,006
Sumber: data sekunder diolah, 2017

97
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.23.1. April (2018): 80-109

RS = 0,167 - 0,082EPS + 0,022DER + 0,663growth – 0,130Beta + ε

Nilai konstanta sebesar 0,167dengan p value 0,06> 0,05 memiliki arti tidak ada

beda atau sama dengan nol, sehingga tidak bisa disimpulkan.Nilai koefisien regresi

EPS sebesar -0,082 memiliki arti bahwa setiap peningkatan 1 satuan EPS, maka

return saham akan mengalami penurunan sebesar 0,082 dengan asumsi

variabellainnya konstan.Nilai koefisien regresi DER sebesar 0,022 memiliki arti

bahwa setiap peningkatan 1 satuan DER, maka return saham akan mengalami

peningkatan sebesar 0,022 dengan asumsi variabel lainnya konstan.Nilai koefisien

regresi growth sebesar 0,663 memiliki arti bahwa setiap peningkatan 1 satuan growth,

maka return saham akan mengalami peningkatan sebesar 0,663 dengan asumsi

variabel lain konstan. Nilai koefisien regresi Beta sebesar -0,130 memiliki arti bahwa

setiap peningkatan 1 satuan Beta, maka return saham akan mengalami penurunan

sebesar -0,130 dengan asumsi variabel lain konstan.

Hipotesis pertama (H1) menyatakan bahwa EPS berpengaruh positif pada

return saham. Berdasarkan Tabel 6 diperoleh hasil bahwa variabel EPS memiliki nilai

tingkat signifikansi sebesar 0,281 (> α=0,05). Hal ini berarti bahwa H 1 ditolak

sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel EPS tidak berpengaruh pada return

saham.

Hipotesis kedua (H2) menyatakan bahwa DER berpengaruh negatif pada return
saham. Berdasarkan Tabel 6 diperoleh hasil bahwa variabel DER memiliki nilai

tingkat signifikansi sebesar 0,065 (> α=0,05). Hal ini berarti bahwa H2 ditolak

98
Luki Setiawan Djajadi dan Gerianta Wirawan Yasa. Analisis…

sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel DER tidak berpengaruh pada return

saham.

Hipotesis ketiga (H3) menyatakan bahwa growth berpengaruh positif pada

return saham. Berdasarkan Tabel 6 diperoleh hasil bahwa variabel growth

memilikinilai tingkat signifikansi sebesar 0,058 (> α=0,05). Hal ini berarti bahwa H 3

ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel growth tidak berpengaruh pada

return saham. Hipotesis keempat (H4) menyatakan bahwa beta risiko sistematis

berpengaruh positif pada return saham. Berdasarkan Tabel 6 diperoleh hasil bahwa

variabel risiko sistematis memiliki nilai tingkat signifikansi sebesar 0,006(< α=0,05).

Hal ini berarti bahwa H4 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel risiko

sistematis berpengaruh negatif pada return saham.


2
Koefisien determinasi (R ) yaitu pengujian yang dilakukan untuk mengetahui

persentase pengaruh variable independen pada perubahan variabel

dependen.Berdasarkan hasil ini dapat diketahui seberapa besar variable dependen

mampu dijelaskan oleh variabel independennya, sedangkan sisanya dijelaskan oleh

2
sebab-sebab lain di luar model. Hasil uji koefisien determinasi (R ) dapat dilihat pada

Tabel 8 berikut ini:


Tabel 4.
2
Hasil Uji Koefisien Determinasi (R )
Model Adjusted R Square
1 0,134
Sumber: data sekunder diolah, 2017

2
Pada Tabel 8 menunjukkan nilai koefisien determinasi(R ) sebesar 0,134 yang
memiliki arti bahwa 13,4 persen perubahan nilai perusahaan dapat dijelaskan oleh

99
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.23.1. April (2018): 80-109

variabel EPS, DER, growth, dan beta. Sedangkan sisanya sebesar 86,6 persen (100 –

13,4 = 86,6) dipengaruhi oleh variabellainyangtidak dimasukkan dalam penelitian ini.

Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan uji analisis regresi linier

berganda yang ditunjukkan pada Tabel 6 dapat diketahui nilai koefisien regresi

sebesar -0,082 dengan tingkat signifikansi 0,281>0,05 yang berarti bahwa EPS

tidakberpengaruhpadareturn saham. Artinya hipotesis pertama yang menyatakan

bahwa EPS berpengaruh positif pada return saham ditolak. Hasil penelitian ini

mendukung penelitian yang dilakukan oleh (Nathaniel, 2008) bahwa EPS

berpengaruh tidak signifikan terhadap return saham. Pada umumnya, investor

cenderung menyukai EPS yang semakin tinggi karena memperkecil risiko yang

ditanggung investor.Namun hal yang terjadi justru sebaliknya disebabkan karena

sebagian besar investor merasa EPS atau laba yang dihasilkan per lembar sahamnya

terlalu kecil sehingga tidak menjadi masalah atau tidak diperhitungkan oleh investor

khususnya investor jangka pendek (trader). Selain itu investor juga

mempertimbangkan prospek atau potensi perusahaan untuk berkembang, jadi

meskipun EPS menunjukkan jumlah yang kecil atau rendah, hal tersebut tidak

menjadi masalah apabila investor melihat ada potensi atau prospek untuk berkembang

di masa yang akan datang. Hal ini dikarenakan saham LQ45 merupakan saham yang

liquid sehingga paling sering diperjualbelikan oleh trader.Penelitian ini

bertentangandengan penelitian (Eljelly dan Alghurair, 2001), (Chen, 2006), (Hermi

dkk, 2011), dan (Omete, 2013), yang menyatakan bahwa EPS berpengaruh positif dan

signifikan terhadap return saham.

100
Luki Setiawan Djajadi dan Gerianta Wirawan Yasa. Analisis…

Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan uji analisis regresi linier

berganda yang ditunjukkan pada Tabel 6 dapat diketahui nilai koefisien regresi DER

sebesar 0,022 dengan tingkat signifikansi 0,065>0,05 yang berarti bahwa DER tidak

berpengaruh padareturn saham. Hasil ini bertentangan dengan penelitian yang

dilakukan oleh (Natarsyah, 2000), (Sugiarto, 2011) dan (Gunadi, 2015). Artinya

hipotesis kedua yang menyatakan bahwa DER berpengaruh negatif pada return

saham ditolak. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa adanya

pertimbangan yang berbeda dari beberapa investor dalam memandang DER. Oleh

sebagian besar investor DER dipandang sebagai besarnya tanggung jawab perusahaan

terhadap pihak ketiga yaitu kreditur yang memberikan pinjaman kepada perusahaan.

Sehingga semakin besar nilai DER akan memperbesar tanggung jawab perusahaan

kepada pihak luar. Namun demikian nampaknya beberapa investor justru memandang

bahwa perusahaan yang tumbuh pasti akan memerlukan utang sebagai dana tambahan

untuk memenuhi pendanaan pada perusahaan yang tumbuh. Perusahaan tersebut

memerlukan dana operasional yang banyak dan tidak mungkin dapat dipenuhi hanya

dari modal sendiri yang dimiliki perusahaan. Sumber pendanaan perusahaan yang

berasal dari utang mempunyai kelebihan diantaranya; 1) bunga mengurangi pajak

sehingga biaya utang rendah, 2) kreditur memperoleh return yang terbatas sehingga

pemegang saham tak perlu berbagi keuntungan ketika kondisi bisnis sedang maju, 3)

kreditur tidak memiliki hak suara sehingga pemegang saham dapat mengendalikan

perusahaan dengan penyertaan dana yang kecil. Penggunaan utang yang makin

banyak, yang dicerminkan oleh debt ratio (rasio antara utang dengan total aktiva)

101
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.23.1. April (2018): 80-109

yang makin besar, pada perolehan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) yang sama

akan menghasilkan laba per lembar saham yang lebih besar. Jika laba per lembar

saham meningkat, maka akan berdampak pada meningkatnya harga saham atau

return saham, sehingga secara teoritis DER akan berpengaruh positif pada return

saham. (Susilowati, 2011).Hasil penelitian ini selaras dengan hasil penelitian yang

dilakukan oleh (Liestyowati, 2002), (Ulupui, 2005) dan (Malintan, 2012) yang

menyatakan bahwa DER tidak berpengaruh pada return saham.

Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan uji analisis regresi linier

berganda dapat diketahui nilai koefisien regresi growth sebesar 0,663 dengan

koefisien regresi 0,058>0,05 yang berarti bahwa growthtidak berpengaruh padareturn

saham. Artinya hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa growth berpengaruh positif

pada return saham ditolak. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa

growth atau pertumbuhan perusahaan mengalami peningkatan tidak diikuti

dengankenaikan return saham. Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian

yang dilakukan oleh Ariestiani (2013). Hal ini disebabkan karena perusahaan yang

sedang bertumbuh akan membutuhkan biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan

perusahaan yang pertumbuhannya stabil atau tetap. Karena perusahaan lebih

memfokuskan dananya untuk keperluan pertumbuhan perusahaan dibandingkan

dengan kesejahteraan pemegang saham. Sehingga investor akan cenderung untuk

membeli saham-saham perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan aset yang

rendah dibandingkan saham dengan tingkat pertumbuhan aset tinggi karena harga

relatif lebih tinggi.Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan

102
Luki Setiawan Djajadi dan Gerianta Wirawan Yasa. Analisis…

oleh (Chen, 2008),(Wen, 2012) dan (Asri, 2014) yang menyatakan bahwa growthtidak

berpengaruh pada return saham.

Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan uji analisis regresi linier

berganda dapat diketahui nilai koefisien regresi sebesar -0,130dengan tingkat

signifikasi 0,006<0,05 yang berarti bahwa risiko sistematis yang diproksi dengan beta

memiliki pengaruh negatif padareturn saham. Artinya hipotesis keempat yang

menyatakan bahwa risiko sistematis berpengaruh positif pada return saham ditolak.

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi risiko

sistematis semakin rendahreturn saham. Risiko sistematis yang diproksikan dengan

beta menunjukkan perusahaan yang memiliki beta yang tinggi maka return sahamnya

justru semakin rendah. Namun beta berpengaruh signifikan terhadap return saham

dikarenakan pasar yang tidak stabil yang menyebabkan investor menghitung beta

yang merupakan parameter yang mengukur perubahan return saham akibat perubahan

return pasar sehingga investor selalu memperhatikan beta saham namun alasan beta

berpengaruh negatif menurut (Sukhemi, 2015) dikarenakan kebijakan manajemen

yang cenderung melakukan restrukturisasi utang, sehingga keputusan yang diambil

manajemen lebih pada meminimalisir risiko untuk meraih keuntungan yang optimal

disamping itu tidak semua investor menyukai tantangan atau justru cenderung

riskaverse (menghindari risiko) ketika risiko suatu perusahaan terlalu tinggi.

Hasilpenelitian ini bertentangan oleh (Elly, 2002), (Alfred, 2005) dan (Budialim,

2013) yang menyatakan bahwa risiko sistematis berpengaruh positif terhadap return

saham.
103
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.23.1. April (2018): 80-109

SIMPULAN

Berdasarkan hasil uji statistik dan pembahasan sebelumnya serta hasil pengujian

dalam penelitian ini menunjukkanbahwa EPS, DER, dan Growthtidak dapat

membuktikan hipotesis awal.Sedangkan risiko sistematisberpengaruh negatif pada

return saham, hasil pengujian ini tidak mendukung hipotesis penelitian

ini.Berdasarkan kesimpulan yang telah disampaikan sebelumnya, maka saran yang

dapat diberikan adalah bagi para investor yang mengambil keputusan melakukan

investasi sebaiknya investor mempertimbangkan risiko sistematis yang diproksikan

dengan beta, dimana saat ini pemikiran investor yang ingin memperkecil risiko untuk

meraih hasil yang optimal sehingga risiko menjadi salah satuh variabel penting yang

perlu diperhitungkan. Sedangkan EPS yang tidak sesuai dengan hipotesis dikarenakan

perusahaan yang menjadi sampel merupakan perusahaan LQ 45 yang mana paling

sering diperdagangkan, sehingga investor merupakan trader dan bukan investor

jangka panjang, sehingga tidak memperhatikan EPS.Untuk DER tidak sesuai

hipotesis dikarenakan perusahaan yang menjadi sampel terdiri dari berbagai industri

seperti perbankan, consumer goods dan manufaktur yang masing-masing industri

memiliki komposisi aktiva dan passiva yang jauh berbeda.

Pada industri perbankan memiliki kecenderungan utang yang lebih besar

karna bank mengelola dana masyarakat atau pihak luar, hal tersebut juga terlihat pada

sebaran data yang luas pada DER. Sehingga diharapkan penelitian selanjutnya

melakukan pengelompokan sesuai jenis industri. Sedangkan hasil growth

menunjukkan tidak sesuai hipotesis dengan batasan 5% atau 0,05 namun pada

104
Luki Setiawan Djajadi dan Gerianta Wirawan Yasa. Analisis…

dasarnya setiap investor pasti melihat pertumbuhan sebuah perusahaan serta

potensinya untuk dapat bertumbuh di masa yang akan datang, jadi sebenarnya apabila

batasan diperbesar menjadi 10% atau 0,1 maka dapat disimpulkan bahwa growth

2
sesuai hipotesis. Pada Tabel 8 menunjukkan nilai koefisien determinasi(R ) sebesar
0,134 yang memiliki arti bahwa variasi variabel dependen yaitu nilai perusahaan

sebesar 13,4 persen mampu dijelaskan oleh variabel independen yaitu EPS, DER,

growth, dan risiko sistematis. Sedangkan sisanya sebesar 58,2 persen (100–13,4 =

86,6) dipengaruhi oleh variabellainyangtidak dimasukkan dalam penelitian ini.Maka,

penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan penambahan variabel lain atau

melakukan pengelompokan industri yang sejenis.

REFERENSI

Alfred, Joan. 2005. Pengaruh Risiko Sistematis (Beta) dan Likuiditas Terhadap
Return Saham Perusahaan LQ 45 periode tahun 2001.Jurnal UniversitasKatolik
Soegijapranata.
Ang, Robert. 1997. Buku Pintar Pasar Modal Indonesia. Jakarta: Mediasoft
Indonesia.

Anindyaguna, Bhagas. 2014. Analisis Pengaruh Size, Market To Book Value, Beta
dan Mispricing Terhadap Return Saham (Studi Kasus Perusahaan Yang terdaftar
Dalam Indeks LQ45 periode 2010-2013). Skripsi Universitas Diponegoro

Ariestiani, Fifi. 2014. Analisis Pengaruh ROE, Sales growth, Dividend Yield, Firm
Size, Book To Market,Momentum Terhadap Volatilitas Return Saham (Studi
Empiris Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia Pada Tahun
2010- 2012). Skripsi Universitas Diponegoro.

Arista, Desy, dan Mr Astohar. 2012. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi


Return Saham (Kasus Pada Perusahaan Manufaktur yang Go Publik di BEI
Periode Tahun 2005-2009). Jurnal Ilmu Manajemen dan Akuntansi Terapan,
Vol 3 (1): Hal 1-15.

105
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.23.1. April (2018): 80-109

Asri, I Gusti Ayu Amanda Yulita.2014.Pengaruh Faktor fundamental dan Faktor


Ekonomi Makro pada Return Saham.Skripsi Universitas Udayana.

Azim Khan, Ather and Kanwal Iqbal Khan. 2011. Dividend Policy and Stock Prices –
A case of KSE-100 Index Companies. Journal of Commerce, pp:1-25.

Brigham, E.F. Houston, J.F. 2010.Essenstial of Financial Management.11th Edition.


Jakarta: Salemba Empat.

Brigham, E.F., Gapenski, Louis. 1997. Intermediate Financial Management. Fifth


Edition. Sea Harbor Driver: The Dryden Press.

Budialim, Giovanni. 2013. Pengaruh Kinerja Keuangan & Risiko Terhadap Retrun
Saham Perusahaan Sektor Consumer Goods Di BEI Periode 2007-2011.
JurnalIlmiah Mahasiswa Universitas Surabaya.Vol 2, No. 1.

Chen Shaw, Tong Yao, Tong Yu, dan Ting Zhang. 2008. Asset Growth and Stock
Return: Evidence from the Pacific Basin Markets. College of
BusinessAdministration, University of Rhode Island.

Chen, Zhang., Ganesh,. 2006. “Financial Distress Prediction In China”. Review


ofPasific Basic Financial Market and Policies, Vol 9(2), p: 317.

Davesta, Rivail. 2014. Pengaruh Risiko Sistematis dan Likuiditas Saham Terhadap
Return Saham pada Industri Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia Periode 2010-2013. Jurnal Universitas Katolik Soegijapranata.

Ebrahimi, Mohammad and Chadegani, Areso Aghei. 2011. The Relationship Between
Earnings, Dividend, Stock Price And Stock Return: Evidence from Iranian
Companies. International Conference On Humanities, society andCulture, Vol
20, pp: 318-323.

Eljelly, A.M., & Alghurair K.S. 2001. Performance measures and Wealth Creation in
An Emerging Market: The Case Of Saudi Arabia. International Journal
ofCommerceand Management. 11(3/4).pp: 54-71.

Elly dan Leng.2002.Pengaruh Risiko Sistematis dan Likuiditas Terhadap Tingkat


Pengembalian Saham Badan – Badan Usaha yang Go Publik Di Bursa Efek
Jakarta Pada Tahun 1999.Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan. Vol. 19: hal
15 – 25.Universitas Kristen Petra.

Emamgholipur, Milad., Abbasali Pouraghajan., Naser Ail Yadollagzadeh


Tabari.,Milad Haghparast., and Ali Akbar Alizadeh Shirsavar. 2013. The Effect
of Performance Evaluation Market Ratios On The Stock Return: Evidence
From the Tehran Stock Exchange. International Research Journal of
Appliedand Basic Sciences, 4(3), pp: 696-703.

106
Luki Setiawan Djajadi dan Gerianta Wirawan Yasa. Analisis…

Erianda Budi, Arif Siswanto, Renny Nur’ainy. 2011. Penentuan Harga wajar Saham
PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk dengan Metode Gordon growth
Model.Jurnal Fakultas Ekonomi Gunadarma Depok.
Fahmi, Irham. 2013. Analisis Laporan Keuangan. Bandung: Alfabeta.

Ghozali, Imam. 2013. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS.


Semarang: BP Universitas Diponegoro.

Gunadi, Gd Gilang. 2015. Pengaruh ROA, DER, EPS Terhadap Return Saham
Perusahaan Food and Beverages BEI.Jurnal Manajemen Unud Vol. 4 No 6:
1636-1647.

Hermi dan Kurniawan, Ari. 2011. Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Return
Saham Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
Periode 2008-2010. Jurnal Informasi, Perpajakan, Akuntansi, Dan
KeuanganPublik. 6(2), pp: 83-95.

Indraswari, A.A. Ayu Raras. 2013. Pengaruh Kondisi Ekonomi, Kondisi Pasar Modal,
dan Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Automotive
and Allied Products Di BEI.Skripsi Universitas Udayana.
Jogiyanto. 2012. Teori Portofolio Dan Analisis Investasi. Yogyakarta: BPFE-
YOGYAKARTA.

Liestyowati. 2002. Faktor yang Mempengaruhi Keuntungan Saham di Bursa Efek


Jakarta: Analisis Periode, Sebelum dan Semasa Krisis.Jurnal
ManajemenIndonesia Vol 1. No 2.

Maholtra, Nidhi and Kamini Tandon. 2013. Determinants of Stock Prices: Empirical
Evidence From NSE 100 Companies. International Journal of Research
inManagement & Technology, 3(3), pp: 86-95.

Malintan, Rio. 2012. Pengaruh Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER),
Price Earning Ratio (PER) dan Return On Asset (ROA) terhadap Return Saham
Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di BEI periode 2005-2010.
JurnalUniversitas Brawijaya.

Murhadi, Werner R. 2013. Analisis Laporan Keuangan, Proyeksi dan ValuasiSaham.


Jakarta: Salemba Empat.

Natarsyah, S. 2000. Analisis Pengaruh Beberapa Faktor Fundamental dan Risiko


Sistematis Terhadap Harga Saham.Kasus Industri Barang Konsumsi Go-publik
di Pasar Modal Indonesia.Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Vol. 15 No. 3:
hal 294-312.

107
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.23.1. April (2018): 80-109

Nathaniel SD, Nicky. 2008. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Return


Saham (Studi Pada Saham-saham Real Estate dan Property di Bursa Efek
Indonesia Periode 2004-2006).Thesis Universitas Diponegoro.

Omete, Francis I. 2013. Effects of Earnings Per Share, Dividend Per Share, Price to
Earning Ratio on Share Prices: The Case of Firm Listed at Nairobi Securities
Exchange. International Journal of Innovative Research & Studies, 2(9), pp: 1-
9.

Purwaningrat, Atim. 2014. Pengaruh Perubahan Earning Per Share, Debt to Equity
Ratio dan Ukuran Perusahaan Terhadap Return Saham Perusahaan yang
Tercatat di BEI Periode 2011-2013. Skripsi Universitas Udayana.
Quan Wen. 2012. Asset Growth and Stock Market Returns: a time series analysis.
Journal Department of Finance, Emory University.

Samsul, Mohamad. 2006. Pasar Modal dan Manajemen Portofolio. Jakarta:


Erlangga.

Seyed Heidar Mirfakhr, Al-Dini., Dehavi, Hassan Dehghan, Zarezadeh, Elham. 2011.
Fiting the Relationship Between Financial Variables and Stock Price Through
Fuzzy Regression Case Study: Iran Khodro Company. International Journal
ofBusiness and Social Science, 2(11), pp:140-145.

Sharma, Sanjeet. 2011. Determinants Of Equity Share Prices In India. Journal ofArts,
Science & Commerce, 2(4), pp: 51-60.

Suarjaya, I Wayan Adi dan Rahyuda, Henny. 2013. Pengaruh Faktor Fundamental
Terhadap Return pada perusahaan Makanan dan Minuman di BEI. Skripsi
Universitas Udayana.

Sukhemi, Inggit Nugroho. 2015. Pengaruh Risiko Sistematis dan Likuiditas Terhadap
Return Saham pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di
BEI.JurnalAkuntansi Vol. 3 No. 2.

Sugiarto, Agung . 2011. Analisa Pengaruhi Beta, Size Perusahaan, DER Dan PBV
Ratio Terhadap Return Saham.Jurnal Dinamika Akuntansi 3(1), h: 8-14
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,


Kualitatifdan R&D. Bandung: Alfabeta.

Suharli, Michell. 2005. Studi Empiris Terhadap Dua Faktor yang Mempengaruhi
Return Saham pada Industri Food & Beveragesdi Bursa Efek
Jakarta.JurnalAkuntansi & Keuangan Vol. 7 No. 2: 99-116.

108
Luki Setiawan Djajadi dan Gerianta Wirawan Yasa. Analisis…

Susilowati, Yeye. 2011. Reaksi Signal Rasio Profitabilitas dan Rasio Solvabilitas Terhadap
Return Saham Perusahaan. Jurnal Dinamika Keuangan DanPerbankan, h: 17-37.

Syamsudin, Lukman. 1992. Manajemen Keuangan Perusahaan “Konsep Aplikasidalam


Perencanaan, Pengawasan, dan Pengambilan Keputusan”. Jakarta.

Tandelilin, E. 2010.Analisis Investasi Dan Manajemen Portofolio. Edisi Keenam.Yogyakarta:


BPFE UGM.

Ulupui, I.G.K.A. 2005. Analisis Pengaruh Rasio Likuiditas, Leverage, Aktivitas, Dan
Profitabilitas Terhadap return Saham (Studi Pada Perusahaan Makanan Dan Minuman
Dengan Kategori Industri Barang Konsumsi Di BEJ). Skripsi Universitas Udayana.

Wang, Junjie, Gang Fu, and Chao Luo. 2013. Accounting Information and Stock Price Reaction
of Listed Companies – Empirical Evidence from 60 Listed Companies in Shanghai Stock
Exchange. Journal of Business & Management, 2(2), pp: 11-21.

Yunanto, Muhammad. 2009. Studi Empiris Terhadap Faktor Fundamental dan Teknikal yang
Mempengaruhi Return Saham Pada Bursa Efek Jakarta. JurnalEkonomi Bisnis No. 1 Vol .
14

109
1. Judul Penelitian
Analisis Pengaruh Earning Per Share, Debt To Equity Ratio, Growth, dan Risiko
Sistematis pada Return Saham
Karya:

Luki Setiawan Djajadi


Gerianta Wirawan Yasa
2. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untukmembuktikan secara empiris pengaruh Earning Per Share
(EPS), Debt to Equity Ratio (DER), growth dan risiko sistematis pada return
saham.Populasi dalam penelitian ini adalah 85perusahaan yang tergabung dalam indeks
LQ45.

3. Metode Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif yang
berbentuk kausalitas.Pendekatan kuantitatif merupakan metode penelitian yang
digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu yang bertujuan untuk menguji
hipotesis yang telah ditetapkan.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, maka
didapatkan jumlah pengamatan sebanyak 17 perusahaan yang memenuhi kriteria
sampel.Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini
adalah analisis regresi linear berganda.
4. Alasan Tertarik dengan Jurnal Ini
Kelompok kami tertarik untuk menggunakan jurnal ini sebagai bahan untuk critical
review karena kami ingin menambah wawasan kami mengenai pengaruh earning per
share, debt to equity ratio, growth, dan risiko sistematis pada return saham, dan melihat
apakah ada peluang untuk melakukan penelitian mengenai topik serupa kedepannya.

5. Hasil dan Pembahasan dari Jurnal

Hipotesis pertama (H1) menyatakan bahwa EPS berpengaruh positif pada return saham.
Berdasarkan Tabel 6 diperoleh hasil bahwa variabel EPS memiliki nilai tingkat signifikansi
sebesar 0,281 (> α=0,05). Hal ini berarti bahwa H1 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa
variabel EPS tidak berpengaruh pada return saham.
Hipotesis kedua (H2) menyatakan bahwa DER berpengaruh negatif pada return saham.
Berdasarkan Tabel 6 diperoleh hasil bahwa variabel DER memiliki nilai tingkat signifikansi
sebesar 0,065 (> α=0,05). Hal ini berarti bahwa H2 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa
variabel DER tidak berpengaruh pada return saham.

Hipotesis ketiga (H3) menyatakan bahwa growth berpengaruh positif pada return saham.
Berdasarkan Tabel 6 diperoleh hasil bahwa variabel growth memilikinilai tingkat signifikansi
sebesar 0,058 (> α=0,05). Hal ini berarti bahwa H3 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa
variabel growth tidak berpengaruh pada return saham.
Hipotesis keempat (H4) menyatakan bahwa beta risiko sistematis berpengaruh positif pada
return saham. Berdasarkan Tabel 6 diperoleh hasil bahwa variabel risiko sistematis memiliki
nilai tingkat signifikansi sebesar 0,006(< α=0,05). Hal ini berarti bahwa H4 ditolak sehingga
dapat disimpulkan bahwa variabel risiko sistematis berpengaruh negatif pada return saham.

6. Kesimpulan dari Penelitian Jurnal

Berdasarkan hasil uji statistik dan pembahasan sebelumnya serta hasil pengujian dalam
penelitian ini menunjukkanbahwa EPS, DER, dan Growthtidak dapat membuktikan hipotesis
awal. Sedangkan risiko sistematis berpengaruh negatif pada return saham, hasil pengujian ini
tidak mendukung hipotesis penelitian ini.Berdasarkan kesimpulan yang telah disampaikan
sebelumnya, maka saran yang dapat diberikan adalah bagi para investor yang mengambil
keputusan melakukan investasi sebaiknya investor mempertimbangkan risiko sistematis yang
diproksikan dengan beta, dimana saat ini pemikiran investor yang ingin memperkecil risiko
untuk meraih hasil yang optimal sehingga risiko menjadi salah satuh variabel penting yang perlu
diperhitungkan. Sedangkan EPS yang tidak sesuai dengan hipotesis dikarenakan perusahaan
yang menjadi sampel merupakan perusahaan LQ 45 yang mana paling sering diperdagangkan,
sehingga investor merupakan trader dan bukan investor jangka panjang, sehingga tidak
memperhatikan EPS.Untuk DER tidak sesuai hipotesis dikarenakan perusahaan yang menjadi
sampel terdiri dari berbagai industri seperti perbankan, consumer goods dan manufaktur yang
masing-masing industri memiliki komposisi aktiva dan passiva yang jauh berbeda.
7. Kelebihan dan Kekurangan
 Kelebihan

Jurnal ini menyajikan dengan lengkap tentang materi yang disampaikan di dalam jurnalnya
sehingga para pembaca dapat mengetahui dengan lengkap informasi yang disampaikan. Dalam
jurnal ini juga terdapat nama nama peneliti sebelumnya yang artinya jurnal ini telah dilakukan
berulang kali penelitian sehingga terdapat berbagai macam bukti yang jelas dan akurat yang
disampaikan oleh para peneliti.

 Kekurangan

Pada jurnal ini terdapat kekurangan yang membuat para pembaca harus dibaca berulang kali agar
dapat dimengerti sepenuhnya dan juga contoh yang diterapkan terlalu sederhana sehingga para
pembaca apabila menghadapi hal yang rumit akan membingungkan pembaca itu sendiri. Selain,
itu pada hasil dan pembahasan oleh peneliti sebelumnya tidak dibahas sehingga membingungkan
para pembaca akan hasil dari penelitian sebelumnya dengan penelitian jurnal ini tentang apa saja
perbedaan yang ada pada jurnal sebelumnya dan jurnal ini sebelumnya dihasilkan dari alat bantu
aplikasi sehingga pembaca akan susah mengerti apabila hanya membaca jurnal ini tanpa
mempraktikkannya pada aplikasi pembantu.

8. Kesimpulan dan Saran dari Hasil Review

Berdasarkan hasil pembahasan mengenai jurnal“Analisis Pengaruh Earning Per Share, Debt
To Equity Ratio, Growth, dan Risiko Sistematis pada Return Saham”. Dapat disimpulkan bahwa
EPS, DER, dan Growthtidak dapat membuktikan hipotesis awal. Sedangkan risiko sistematis
berpengaruh negatif pada return saham, hasil pengujian ini tidak mendukung hipotesis penelitian
ini.EPS yang tidak sesuai dengan hipotesis dikarenakan perusahaan yang menjadi sampel
merupakan perusahaan LQ 45 yang mana paling sering diperdagangkan, sehingga investor
merupakan trader dan bukan investor jangka panjang, sehingga tidak memperhatikan EPS.Untuk
DER tidak sesuai hipotesis dikarenakan perusahaan yang menjadi sampel terdiri dari berbagai
industri seperti perbankan, consumer goods dan manufaktur yang masing-masing industri
memiliki komposisi aktiva dan passiva yang jauh berbeda.
Dalam bagian kesimpulan, penulis menyarankan kedepannya agar penyaji jurnal dapat
menambahkan variabel dependen yang digunakan karena masih banyak faktor utama lainnya
yang dapat mempengaruhi EPS, DER, dan Growthselain itu penulis juga perlu menambahkan
hal-hal yang harus diperhatikan investor jangka panjang mengenai EPS yang mengalami
penurunanserta memperluas lingkup sample yang digunakan dalam penelitian. Selain itu
disarankan pula agar kutipan jurnal juga dapat dikembangkan agar lebih banyak menggunakan
jurnal berskala Internasional.