Anda di halaman 1dari 13

HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN

PERSETUJUAN UNTUK MENJALANI PENGOBATAN PADA


PASIEN YANG DI DIAGNOSIS MENDERITA MULTI DRUG
RESISTANT TUBERCULOSIS (MDR-TB)
DI RS PARU JEMBER

Artikel Jurnal

DiajukanSebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar


Sarjana Keperawatan

Oleh:
Samsul Anas
NIM : 1311012027

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2015
PERNYATAN PERSETUJUAN

Jurnal ini telah diperiksa oleh Pembimbing skripsi Program Studi S1 Keperawatan

Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember

Menyetujui

Jember, Januari 2015

Pembimbing I

Diyan Indriyani,SKp.,M.Kep.,Sp.Mat
NIP. 19701103 2005 01 2002

Pembimbing II

Ns. Komarudin, SKp.,M.Kep., Sp.Kep.J


NIDN. 0708126803
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN
PERSETUJUAN UNTUK MENJALANI PENGOBATAN PADA
PASIEN YANG DI DIAGNOSIS MENDERITA MULTI DRUG
RESISTANT TUBERCULOSIS (MDR-TB)
DI RS PARU JEMBER

Samsul Anas1, Diyan Indriyani,SKp.,M.Kep.,Sp.Mat2, Ns. Komarudin,


SKp.,M.Kep., Sp.Kep.J3
1
Mahasiswa S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan UNMUH Jember,
4n45.kanzun@gmail.com

²Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Jember,

³Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Jember,

Abstract

Introduce: Infectious diseases in Indonesia is still a major public health problem.


One of them is Tuberculosis (TB). TB disease can be cured by treatment regularly,
uninterrupted and in accordance with the standards of Directly Observed
Treatment Shortcourse (DOTS). Patients who do not follow the treatment
according to the standard DOTS will bring up a kind of stronger TB germs,
known as Multi-Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB).
Method: This study used correlation design with cross sectional design. The
population in this study were patients diagnosed with MDR-TB in RS Paru
Jember, amounting to 40 patients with MDR TB.
Result: The results using Spearman Rank shows most respondents experienced
anxiety are as many as 16 respondents (53.3%) and almost all respondents agreed
to undergo treatment that is 24 respondents (80.0%) the remaining 14 respondents
(46.7%) experienced mild anxiety and refused treatment are 6 respondents
(20.0%) in obtained results there is no correlation between anxiety level with
approval for undergoing treatment in patients diagnosed with MDR-TB in the Rs
paru Jember and obtained p value 0.861 where p value> 0, 05 with the value of r
correlation that is -0033.
Discuss: The conclusion in this study is there is no correlation between the level
of anxiety with approval to undergoing treatment in patients diagnosed with
MDR-TB in RS Paru Jember . It is Recommended that hospital and health centers
to provide education to the community related to MDR-TB disease and also
explains the importance of the approval for the treatment of MDR-TB.

Keywords: Anxiety Level, Approval To Undergo Treatment, MDR-TB


PENDAHULUAN diperkirakan kasus MDR-TB sebesar
Penyakit menular di Indonesia masih 650.000 kasus dengan 40% kasus
menjadi masalah kesehatan MDR-TB berasal dari China dan
masyarakat yang utama. Salah India. Indonesia berada pada ranking
satunya adalah Tuberculosis (TB). ke-9 negara dengan beban MDR-TB
Hal ini disebabkan lebih dari tertinggi di dunia dengan jumlah
beberapa dekade TB menjadi kasus 6.300. Angka MDR-TB
penyebab tertinggi untuk kasus diperkirakan sebesar 2% dari seluruh
kematian padahal penyakit infeksi kasus TB baru dan 20% dari kasus
yang bisa disembuhkan. TB adalah TB dengan pengobatan ulang
penyakit menular langsung yang (Munawwarah et al, 2013).
disebabkan oleh kuman
Mycobacterium tuberculosae. Infeksi Berdasarkan data dari Dinas
ini bersifat sistemik sehingga dapat Kesehatan Provinsi Jawa Timur
mengenai semua organ dengan paru tahun 2013, kasus TB Paru di Jawa
sebagai lokal infeksi primer (Nofizar Timur menduduki peringkat kedua
et al., 2010). secara nasional. Tingginya kasus TB
Paru tersebut disebabkan masyarakat
MDR-TB ini merupakan masalah kurang mengerti cara penyembuhan
terbesar dalam penanggulangan dan yang benar, yaitu pengobatan harus
pencegahan TB di dunia. Proses dilakukan secara rutin. Kasus TB
pengobatannya membutuhkan biaya Paru di Kabupaten Jember
lebih mahal dan waktu lebih lama. menduduki peringkat pertama jumlah
Hal tersebut dapat menjadi beban kejadian TB di daerah Eks
masyarakat dan membawa banyak Karesidenan Besuki dan sekitarnya
kematian bagi klien (Munir et al., yaitu sebanyak 70-80%. Kasus
2010) MDR-TB di Kabupaten Jember,
selama periode 2011 sampai 2013
Sebagian besar TB terjadi di wilayah tercatat 10 pasien dengan 2 orang
Asia yaitu sekitar 59%. Dari seluruh diantaranya telah meninggal dunia
insiden TB tersebut, sekitar 3,6% (Dinas Kesehatan Kabupaten Jember,
menjadi MDR-TB. Pada tahun 2010, 2013).
Kecemasan merupakan respon
Menurut Syahrini et al. (2008) individu terhadap suatu keadaan
proses perbaikan/kesembuhan dari yang tidak menyenangkan dan
hasil terapi yang dijalani pasien akan dialami oleh semua makhluk hidup
lebih lambat bila dibandingkan tanpa dalam kehidupan sehari-hari.
MDR-TB. Bahkan pasien berisiko Kecemasan merupakan pengalaman
mengalami kegagalan dan resisten subjektif dari individu dan tidak
terhadap semua OAT sehingga dapat diobservasi secara langsung
berisiko mengalami kematian. OAT serta merupakan suatu keadaan
yang digunakan dalam proses terapi emosi tanpa objek yang spesifik.
pun lebih toksik sehingga berisiko Kecemasan juga didefinisikan
terjadi komplikasi dan kakeksia sebagai kebingungan, kekhawatiran
(mekanisme hilangnya berat badan) pada sesuatu yang akan terjadi
(Syahrini et al., 2008). dengan penyebab yang tidak jelas
dan dihubungkan dengan perasaan
Sejumlah besar penelitian MDR-TB tidak menentu dan tidak berdaya
di Indonesia masih fokus pada (Suliswati, 2005). Kecemasan pada
evaluasi strategi pengobatan dan pengobatan TB MDR sering
pencegahan MDR-TB, penyebab berkaitan dengan penyakit kroonik
bakteriologisnya, serta dampaknya yang diderita pasien dan keadaan
pada kematian. Padahal, pasien sosio-ekonomi pasien yang kurang
MDR-TB juga menghadapi beberapa baik (Kemenkes, 2013).
masalah fisiologis, keuangan,
psikologis terutama kecemasan METODOLOGI PENELITIAN
akibat timbulnya stigma sosial, efek Penelitian ini menggunakan desain
samping pengobatan, dan korelasi dengan rancangan Cross
manajemen penanganannya. Hal Sectional. Populasi pada penelitian
tersebut berdampak sama besar pada ini adalah pasien yang didiagnosi
kualitas hidup pasien bahkan menderita MDR-TB di RS Paru
melebihi dampak fisik penyakit Jember yang berjumlah 40 pasien
MDR-TB. MDR TB. Pada penelitian ini peneliti
menetapkan jumlah sampel sebanyak
30 responden dari 40 populasi yang yakni prosedur administratif dan
ada,dengan estimasi sampel yang di prosedur teknis. Analisis bivariat
pakai yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan untuk mengetahui apakah
sebanyak 30 responden. Teknik ada hubungan antara hubungan
sampling dalam penelitian ini adalah tingkat kecemasan dengan
purposive sampling. Instrumen persetujuan untuk menjalani
pengumpulan data pada penelitian ini pengobatan pada pasien yang di
dilakukan dengan kuesioner, diagnosa menderita MDR-TB di RS
sedangkan alat ukur tingkat Paru Jember dengan menggunakan
kecemasan menggunakan skala uji statistik Spearman Rank.
HARS. Prosedur pengumpulan data

HASIL PENELITIAN DAN


PEMBAHASAN

Tingkat Kecemasan dalam menjalani


Pengobatan MDR-TB
Tabel 1 distribusi responden berdasarkantingkat kecemasan pada pasien
yang didiagnosis menderita MDR-TB di RS Paru Jember, Januari 2015
No. Kecemasan Frekuensi Persentase (%)

1 Kecemasan ringan 14 46.7%


2 Kecemasan sedang 16 53.3%

Total 30 100%
Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui disukai. Tekanan psikologis seperti
bahwa sebagian besar dari responden kecemasan dan depresi akan
mengalami kecemasan sedang memberikan kontribusi besar pada
sebanyak 16 responden ( 53,3%). kualitas hidup penderita MDR-TB.
Kondisi cemas disebabkan gangguan
Dalam menjalani proses pengobatan fisik akibat gejala yang muncul,
MDR-TB Stres adalah reaksi/respon vitalitas tubuh untuk beraktivitas
tubuh terhadap stressor psikososial. terus menurun, dan kesehatan yang
Stres dewasa ini digunakan untuk berhubungan dengan tingkat
menjelaskan stimulus dengan keparahan penyakit
intensitas berlebihan yang tidak
Dampak kehidupan sosial yang kualitas hidupnya. Oleh karena itu,
dialami penderita MDR-TB dapat diperlukan intervensi dalam
mempengaruhi tindakan penderita peningkatan kualitas hidup untuk
dalam pengobatan MDR-TB seperti mencapai pengobatan dan kondisi
tidak mengikuti rangkaian kesehatan yang optimal (Wilda et al.,
pengobatan secara konsisten dan 2011)
tidak memiliki kepercayaan diri
Berdasarkan uraian diatas dapat
dalam menyembuhkan penyakitnya.
digambarkan bahwa pasien yang
Sebuah studi pada populasi penyakit
menjalani pengobatan pada pasien
kronis melaporkan bahwa depresi
yang didiagnosis MDR-TB
umumnya terjadi pada penderitanya
mengalami tingkat kecemasan
sehingga dibutuhkan penanganan
sedang sehingga sebagai seorang
yang tepat. Apabila hal tersebut tidak
perawat hendaknya lebih peka
dilakukan dapat menimbulkan
terhadap kecemasan pasien MDR-
kerusakan yang berat terhadap
TB.

Persetujuan Menjalani Pengobatan


Tabel 2 distribusi responden berdasarkanpersetujuan pada pasien
yang didiagnosis menderita MDR-TB di RS Paru Jember, Januari 2015
No
Persetujuan Frekuensi Persentase (%)
.

1 Setuju 24 80.0
2 Tidak setuju 6 20.0

Total 30 100%
Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui untuk memonitor hasil dan efek
bahwa hampir seluruhnya responden samping dari pengobatan. Dari hasil
setuju menjalani pengobatan olah data penelitian menunjukkan
sebanyak 24 responden (80,0%). bahwa persetujuan dalam mejalani
pengobatan MDR-TB di RS Paru
Persetujuan dalam melaksanakan
Jember dari 30 responden Sebanyak
pengobatan MDR-TB merupakan
24 (80%) responden menyetujui
tindakan yang harus dilaksanakannya
sedangkan 6 (20%) responden
sebelum pengobatan, hal ini akan
mempermudah petugas kesehatan
menolak untuk menjalani pengobatan Hubungan tingkat kecemasan
MDR-TB. dengan persetujuan untuk
menjalani pengobatan pada
Pada umumnya, keharusan adanya
pasien yang didiagnosis menderita
Informed Consent secara tertulis
MDR-TB.
yang ditandatangani oleh pasien
Berdasarkan hasil uji statistik
sebelum dilakukannya tindakan
Spearman Rank diperoleh p value
medik tertentu itu, dilakukan di
0,861 dimana p value > 0,05. Dengan
sarana kesehatan yaitu di Rumah
demikian H1 ditolak yang berarti
Sakit atau Klinik, karena erat
tidak ada hubungan antara tingkat
kaitannya dengan pendokumen-
kecemasan dengan persetujuan untuk
tasiannya ke dalam catatan medik
menjalani pengobatan pada pasien
(Medical Record).
yang didiagnosis menderita MDR-
Untuk itu tindakan medik yang TB di RS Paru Jember. Selain itu
ditentukan oleh dokter harus dapat didapatkan nilai r correlation yaitu
dipertanggung jawabkan sesuai -0.033 yang artinya korelasi negatif
dengan standar profesinya.(Guwandi, dengan kekuatan lemah.
2004). Peneliti berpendapat,
Nilai r mengintepretasikan kekuatan
persetujuan yang baik akan
atau sifat hubungan dari suatu
menghasilkan sikap positif bagi
permasalahan atau varabel,
pasien untuk menentukan proses
intepretasi yang dihasilkan dapat
pengobatan MDR-TB. Dengan
bernilai positif (+) maupun negatif
ditandatanganinya Informed Consent
(-). Nilai negatif menunjukkan
secara tertulis tersebut, maka dapat
hubungan yang terjadi antara dua
diartikan bahwa pemberi tanda
variabel berlawanan. Dengan melihat
tangan bertanggung jawab dalam
nilai r atau derajat korelasinya maka
menyerahkan sebagian tanggung
dapat disimpulkan bahwa penelitian
jawab pasien atas dirinya sendiri
ini memiliki hubungan yang lemah.
kepada dokter yang bersangkutan,
Hasil uji statistik menunjukkan
beserta resiko yang mungkin akan
bahwa hipotesis (H1) ditolak dan
dihadapinya
diintepretasikan tidak adanya
hubungan tingkat kecemasan dengan
persetujuan untuk menjalani kapasitas untuk memperoleh,
pengobatan pada pasien yang mengolah dan memahami informasi
didiagnosis menderita MDR-TB di dan pelayanan kesehatan dasar yang
RS Paru Jember. di butuhkan untuk membuat
keputusan kesehatan yang tepat
Penelitian yang dilakukan oleh
(USDHHS,2005).
Primasari (2012) yang
mengindikasikan banyak faktor yang Yang tidak kalah pentingnya dalam
dapat mempengaruhi persetujuan menentukan persetujuan untuk
untuk menjalani pengobatan TB, Penelitian yang lain menyebutkan
antara lain kurangnya pengetahuan Rasa percaya pada petugas kesehatan
mengenai TB, kekurangan biaya, sangat penting untuk pengungkapan
kepribadian, dan merasa sudah emosional mereka,pasien harus
sembuh. Sehingga dari penelitian percaya bahwa petugas kesehatan
tersebut menunjukkan bahwa faktor dapat memahami mereka sebagai
kecemasan bukan faktor tunggal pasien dan memeberi informasi yang
dalam mempengaruhi persetujuan tepat dan jujur,hubungan saling
untuk menjalani pengobatan TB. percaya antara petugas kesehatan dan
Selain faktor di atas ada hal lain yang
pasien meningkatkan kerjasama dan
mempengaruhi persetujuan untuk
kemauan pasien terhadap
menjalani pengobatan yaitu factor
rekomendasi pengobatan (O’malley
internal meliputi tingkat
et al,2002).
pengetahuan,rasa percaya pada
Selain faktor di atas,faktor sikap juga
petugas kesehatan dan sikap
sangat penting dalam menentukan
sedangkan faktor eksternal terdiri
persetujuan untuk menjalani
dari pendidikan,komunikasi dan
pengobatan di mana sikap pasien itu
lingkungan (Martin et al,2005).
sendiri menentukan perilaku pasien
Hal ini di buktikan oleh beberapa
untuk mengikuti pengobatan atau
penelitian terkait salah satunya
tidak.Sikap pasien sendiri yang
tingkat pengetahuan pasien,di mana
membuat pasien berpikir dan percaya
tingkat pengetahuan pasien mengenai
keputusan mana yang akan mereka
kesehatan memberi dampak pada
ambil (Anatchkova et al 2005).
sejauh mana pasien memiliki
Faktor Pendidikan oleh petugas
Dari hasil yang telah didapatkan dan
kesehatan kepada pasien merupakan
menurut teori dari para ahli peneliti
factor penting dalam pengambilan
berkesimpulan bahwa terdapat
keputusan di mana Petugas
banyak faktor yang dapat
kesehatan harus menjelaskan
mempengaruhi persetujuan untuk
pengobatan secara spesifik dan
menjalani pengobatan. Jadi faktor
tertulis,serta memberikan
kecemasan bukan satu-satunya yang
kesempatan pasien untuk bertanya
dapat mempengaruhi persetujuan
seluas-luasnya terkait pengobatan
untuk menjalani pengobatan pada
(Brekke et al,2004).
pasien MDR TB
Faktor lainya yang dapat
KESIMPULAN DAN SARAN
mempengaruhi pasien dalam
Berdasarkan data dan pembahasan
menentukan persetujuan untuk
yang diperoleh dari hasil penelitian
menjalani pengobatan adalah
sebagaimana yang telah diuraikan
Komunikasi.Komunikasi yang
diatas, maka dapat disimpulkan
empatik melibatkan pemahaman
sebagai berikut:
perspektif pasien,pasien yang di 1. Pada pasien yang didiagnosis
informasikan dan termotifasi secara menderita MDR-TB di RS Paru
afektif lebih cenderung untuk Jember sebagian besar mengalami
mematuhi rekomendasi pengobatan kecemasan sedang sebanyak 16
tersebut (Marti et al,2005). responden (53,3%) dan sisanya
mengalami kecemasan ringan
Faktor eksternal lainya yang bisa
sebanyak 14 responden (46,7%).
mempengaruhi persetujuan untuk
Sehingga sebagai seorang perawat
menjalani pengobatan oleh pasien
hendaknya lebih peka terhadap
adalah factor lingkungan,di mana
pasien MDR-TB, khususnya
Lingkungan sosial dan dukungan
pasien tersebut mengalami
sosial di sekitar pasien
kecemasan atau tidak.
mempengaruhi kemauan mereka
2. Sedangkan pada pasien yang
untuk mengikuti pengobatan
didiagnosis menderita MDR-TB
terutama ketika pasien berhadapan
di RS Paru Jember hampir
dengan kondisi seperti depresi dan
seluruhnya menyetujui untuk
kecemasan (Anatchkova et al,2005).
menjalani pengobatan sebanyak berlebihan terhadap pengobatan
24 responden (80,0%). Hal ini MDR-TB.
4. Diharapkan peneliti
didukung oleh peran aktifnya
selanjutnya dapat lebih
petugas kesehatan dalam
menyempurnakan dengan
memberikan dorongan dan
memperbanyak responden untuk
motivasi terhadap pasien untuk
mendapatkan hasil yang lebih
melakukan pengobatan MDR-TB.
3. Tidak ada hubungan tingkat spesifik lagi serta menghitung
kecemasan dengan persetujuan juga seberapa besar dukungan
untuk menjalani pengobatan pada keluarga dalam mempengaruhi
pasien yang di diagnosis tingkat kecemasan pasien untuk
menderita MDR-TB di RS Paru menyetujui pengobatan MDR-
Jember. TB.
5. Menambah dan
Berdasarkan uraian diatas saran
mengembangkan khasanah ilmu
peneliti:
pengetahuan yang berkaitan
1. Pada pasien MDR-TB di
dengan tingkat kecemasan pasien
anjurkan untuk menambah
MDR-TB dan diharapkan institusi
informasi mengenai penyakit
pendidikan memperbanyak
MDR-TB baik melalui media
referensi tentang MDR-TB.
elektronik maupun aktif
mengikuti penyuluhan- DAFTAR PUSTAKA
penyuluhan tentang MDR-TB Anatchkova. 2005. Replication of
2. Bagi keluarga diharapkan subtypes for smoking cessation
menjadi motivator pada anggota within the contemplation stage
of change. Diperoleh tanggal
keluarganya yang menderita MDR 23 Januari
TB untuk menjalani pengobatan http://www.ncbi.nlm.nih.gov/p
ubmed/15893089/
sesuai anjuran petugas kesehatan.
3. Diharapkan petugas
kesehatan lebih berperan aktif Brekke, et al. 2004. Attitudes and
dalam memberikan informasi, barriers to dietary advice
aimed at reducing risk of type
dorongan dan motivasi kepada 2 diabetes in first-degree
pasien, agar pasien tidak relatives of patients with type 2
diabetes. Diperoleh tanggal 23
mengalami kecemasan yang
Januari
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/p Nofizar, D., Nawas, A., dan Burhan,
ubmed/15546428/ E. 2010. Identifikasi Faktor
Risiko Tuberkulosis Multi
Dinas Kesehatan Kabupaten Jember. Drug Resistant (TB-MDR).
2011. Alur Layanan TB-MDR. Maj Kedokt Indon. Vol.60
Jember: Dinas Kesehatan (12): 537-545.
Kabupaten Jember.
O’Malley, et al. 2002. Adherence of
Eka (2010) Hubungan Tingkat low-income women to cancer
Kecemasan Dengan Tingkat screening recommendations.
Keberhasilan Memberikan Diperoleh tanggal 23 Januari
Obat Melalui Infus Pada http://www.ncbi.nlm.nih.gov/
Mahasiswa Fakultas Ilmu pubmed/11841530/
Keperawatan Universitas
Indonesia. FIK UI Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.
2008. Pedoman Diagnosis
Kemeterian Kesehatan RI. 2013. dan Penatalaksanaan di
Data dan Informasi Kesehatan. Indonesia. [serial online].
Buletin Jendela. Jakarta: www.klikpdpi.com. [5
Kementerian Kesehatan RI. Januari 2014].

Martin, et al 2005. The Challenge of


Patient Adherence. Diperoleh Suliswati (2005). Pengertian
tanggal 23 Januari 2015 Kecemasan. Diperoleh
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/ tanggal 24 Juni 2014
pmc/articles/PMC1661624/ <http://klikpsikologi.com/pen
gertian-kecemasan-definisi-
Munawwarah, R., Leida, I., dan tingkat-teori-menurut para-
Wahiduddin. 2013. ahli/>
Gambaran Faktor Risiko
pengobatan Pasien TB-MDR Syahrini, Zubir, Keliat, dan Abidin.
RS Labuang Baji Kota 2008. Tuberkulosis Paru
Makassar Tahun 2013. Resistan Ganda. Medan:
Makassar : Universitas Universitas Sumatra Utara
Hassanudin
US Department of Health and
Munir, S.M., Nawas, A., dan Human Services. 2005.
Soetoyo, D.K. 2010. Healthy People 2010,
Pengamatan Pasien understanding and improving
Tuberkulosis Paru dengan health: objective for
Multi Drug Resistent (TB- improving health. Diperoleh
MDR) di Poliklinik Paru tanggal 23 Januari
RSUP Persahabatan. J Respir http://www.healthypeople.go
Indo. Vol. 30 (2): 92-104. v/document/pdf/Volume1/11
HealthCom.pdf