Anda di halaman 1dari 7

Analisis Modal Kerja, Rasio Lancar, dan Debt to Equity

Modal Kerja = Aset Lancar – Liabilitas Lancar

= Rp. 533.900.133.000,00 – Rp. 207.734.690.000,00

= Rp. 326.165.443.000

Rasio Lancar = Aset Lancar / Liabilitas Lancar

= Rp. 533.900.133.000,00 / Rp. 207.734.690.000,00

= 2,57

Debt to Equity Ratio = Debt / Equity

= Rp. 247.587.638.000 / Rp. 557.155.279.000

= 0,44

Pada laporan posisi keuangan atau neraca Sepatu Bata tahun 2016 disajikan jumlah
aset lancar sebesar Rp. 533.900.133.000,00 dan liabilitas lancarnya sebesar Rp.
207.734.690.000,00. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa aset lancar yang dimiliki oleh
Sepatu Bata lebih besar dibandingkan dengan jumlah liabilitas lancarnya, sehingga dapat
dapat disimpulkan bahwa kemampuan Sepatu Bata untuk memenuhi kewajiban atau
membayar hutangnya sangat bagus. Sepatu Bata memiliki aset lancar yang dapat dilikuidasi
secara cepat yang kemudian nantinya hasil dari operasi aset lancar akan digunakan untuk
membayar liabilitas lancarnya.

Perhitungan mengenai rasio lancar diperoleh hasil sebesar 2,57 kali yang juga
mendukung pernyataan kami, bahwa dengan besarnya aset lancar yang dimiliki, Sepatu Bata
memiliki kemampuan untuk membayar liabilitas lancarnya.

Dari perhitungan di atas, diketahui bahwa modal kerja yang dimiliki oleh Sepatu Bata
juga besar, bahkan lebih besar modal kerja jika dibandingkan dengan jumlah liabilitas
lancarnya yang juga mengindikasikan bahwa modal kerja yang dimiliki didominasi dari aset
lancar perusahaan. Kami menyimpulkan bahwa perusahaan tidak terlalu bergantung pada
hutang lancarnya untuk membiayai aset lancar mereka.
Debt to Equity Ratio sebesar 0,44 tidak sepenuhnya menunjukkan bahwa Sepatu Bata
lebih banyak memanfaatkan dana dari para investor daripada pinjamannya, karena jumlah
saham yang tersaji dalam laporan posisi keuangan lebih kecil jika dibandingkan dengan
pinjamannya. Oleh karena itu, kami menyimpulkan bahwa persentase penggunaan dana dari
pinjaman lebih dominan dari pada dana dari investor. Jadi, perusahaan lebih megandalkan
dana yang diperolehnya dari pinjaman atau hutangnya.

ANALISIS ASET LANCAR

1. Analisis Kas dan Setara Kas


Rasio Kas = Kas dan Setara Kas / Total Aset
= Rp. 5.738.209.000,00 / Rp. 804.742.917.000,00
= 0,71 %

Kas dan Setara Kas yang dimiliki oelh Sepatu Bata adalah sebesar Rp.
5.738.209.000,00. Setara Kas terdiri dari Kas Kecil, Giro di Bank, dan Setoran Dalam
Perjalanan di Bank. Kas dan Setara Kas yang dimiliki Sepatu Bata tidak digunakan sebagai
jaminan atas hutang dan pinjaman lainnya. Dari perhitungan rasio kas, kita bisa mengetahui
persentase kas dan setara kas sebesar 0,71% terhadap total aset sehingga kita bisa melihat
posisi kas dan setara kas dalam total aset yang persentasenya sangat kecil yaitu kurang dari
1% dan aset perusahaan didominasi oleh aset jangka panjangnya. Sehingga tingkat likuiditas
kas dan setara kas sangat kecil. Rasio ini menunjukkan bahwa kas dan setara kas yang
dimiliki perusahaan sangat kecil jika dibandingkan dengan hutang lancar yang harus segera
dilunasi.

2. Analisis Piutang
Rasio Kolektibilitas

PT. Primarindo Asia Infrastructure, Tbk


Rasio Kolektibilitas = Piutang Usaha / Penjualan
= Rp. 15.142.829.214,00 / Rp. 172.109.865.924,00
= 0,088
= 8,8%
PT. Sepatu Bata, Tbk
Rasio Kolektibilitas = Piutang Usaha / Penjualan
= Rp. 31.799.752.000,00 / Rp. 999.802.379.000,00
= 0,032
= 3,2 %

Dari perhitungan rasio kolektibilitas di atas, dapat disimpulkan bahwa piutang PT.
Sepatu Bata, Tbk jika dibandingkan......................................( ga tau mau diisi apa wkwkwk)

Analisis Cadangan Kerugian Piutang Tak Tertagih PT. Sepatu Bata, Tbk.

Pada periode sebelumnya, tahun 2015 jumlah yang dicadangkan untuk penyisihan
piutang tak tertagih adalah Rp. 5.682.672.000,00 kemudian pada tahun 2016 cadangan
kerugian piutang tak tertagih diturunkan menjadi Rp. 5.454.893.000,00 yang kemudian
berpengaruh terhadap laba/rugi perusahaan. Dengan adanya penurunan cadangan kerugian
piutang tak tertagih mengakibatkan laba yang awalnya pada tahun 2015 sebesar Rp.
129.519.446.000,00 menjadi Rp. 42.231.663.000,00 atau mengalami penurunan sebesar 67%.
Setelah dikoreksi pada laporan keuangan PT. Sepatu Bata, Tbk, penurunan yang signifikan
ini disebabkan karena adanya kerugian atas pelepasan aset yang nilainya sangat material.
Kemudian, penagihan piutang atau penerimaan kas atas pelunasan piutang mengalami
penurunan sebesar 42,42% padahal saldo piutang pada tahun 2016 mengalami kenaikan
sebesar 12% sehingga seharusnya ketika ada penurunan cadangan kerugian piutang,
penerimaan atas piutang juga ikut meningkat sehingga akan meningkatkan laba. Dengan
adanya perbedaan ini, maka kami menelusuri pada CALK bagian piutang dan menemukan
pembagian umur piutang secara rinci. Pada rincian tersebut, kami melihat bahwa piutang
dengan umur lebih dari 90 hari pada 31 Desember 2016 lebih banyak proporsinya jika
dibandingkan dengan proporsi piutang dengan jangka waktu lebih dari 90 hari pada 31
Desember 2015. Jadi, kita bisa mengetahui bahwa dengan adanya penurunan cadangan
kerugian piutang tak tertagih, menyebabkan penurunan penagihan piutang karena umur
piutang yang lebih dari 90 hari lebih banyak proporsinya sehingga munculnya piutang tak
tertagih lebih besar terjadi.
3. Analisis Beban Dibayar Di Muka
Jumlah beban dibayar di muka PT. Sepatu Bata pada tahun 2016 adalah sebesar Rp.
87.304.524.000,00 yang terbagi menjadi sewa dibayar di muka sebesar Rp.
83.647.489.000,00 dan beban lain-lain yang dibayar di muka sebesar Rp. 3.657.035.000,00.
Sewa dibayar di muka dibagi lagi yaitu lancar sebesar Rp. 56.019.104.000,00 dan tidak lancar
sebesar Rp. 31.285.420.000,00. Sewa dibayar di muka dalam kategori lancar yaitu biaya yang
dikeluarkan untuk membayar sewa yang bersifat pendek atau kurang dari 1 tahun dan yang
berada dalam kategori tidak lancar yaitu biaya yang dikeluarkan untuk membayar sewa
jangka panjang.

4. Analisis Persediaan
Perbandingan Persediaan dengan Total Aset
= Persediaan / Total Aset
= Rp. 324.917.517.000,00 / Rp. 804.742.917.000,00
= 40,37%

Biaya Persediaan
Pembelian = HPP - Persediaan 2015 + Persediaan 2016

= Rp. 568.351.159.000,00 - Rp. 282.546.591.000,00 +

Rp. 324.917.517.000,00

= Rp. 610.722.085.000,00

Jadi, selama periode 2016 PT. Sepatu Bata, Tbk melakukan transaksi pembelian
bahan baku sebesar Rp. 610.722.085.000,00 untuk melakukan proses produksi. PT. Sepatu
Bata, Tbk juga menetapkan besarnya biaya persediaan sebesar Rp. 530.208.411.000,00 dan
biaya tersebut dimasukkan dalan Beban Pokok Penjualan yang kemudia dilaporkan dan
mempengaruhi besarnya laba yang diperoleh perusahaan dalam Laporan Laba Rugi tahun
2016. Besarnya biaya persediaan pada tahun 2016 mengalami penurunan sebesar 9% yang
kemudian mempengaruhi peningkatan laba kotor perusahaan yaitu sebesar 5,7%. Jadi,
penurunan biaya persediaan dapat meningkatkan laba kotor perusahaan, karena beban pokok
penjualan sebagai variabel pengurang laba juga mengalami penurunan.
Persediaan dinilai berdasarkan nilai terendah antara biaya perolehan rata-rata atau
nilai realisasi neto. Biaya perolehan barang dalam proses produksi dan barang jadi termasuk
bagian tetap dan variabel dari beban produksi tak langsung.

ANALISIS ASET TIDAK LANCAR

5. Penyusutan
Estimasi Umur Manfaat:
Bangunan = 30 tahun
Mesin, Peralatan, dan Sarana PenunjangToko = 10 – 15 tahun

a. Bangunan
Rata-rata jangkauan waktu total = Nilai kotor aset bangunan / Beban
penyusutan periode berjalan

= Rp. 71.421.606.000,00 /

Rp. 1.659.643.750,00

= 43,03 tahun

Umur rata-rata = Akumulasi penyusutan / Beban penyusutan periode

berjalan

= Rp. 19.915.725.000,00 / Rp. 1.659.643.750,00

= 12 tahun

Umur sisa rata-rata = Nilai bersih bangunan / Beban penyusutan periode

berjalan

= Rp. 51.505.881.000,00 / Rp. 1.659.643.750,00

= 31,03 tahun
b. Mesin, Peralatan, dan Sarana Penunjang Toko

Rata-rata jangkauan waktu total = Nilai kotor aset / Beban

penyusutan periode berjalan

= Rp. 320.908.143.000,00 /

Rp. 13.903.211.917,00

= 23,08 tahun

Umur rata-rata = Akumulasi penyusutan / Beban penyusutan periode berjalan

= Rp. 166.838.543.000,00 / Rp. 13.903.211.917,00

= 12 tahun

Umur sisa rata-rata = Nilai bersih bangunan / Beban penyusutan periode berjalan

= Rp. 154.069.600.000,00 / Rp. 13.903.211.917,00

= 11,08 tahun

Bangunan diestimsikan umur manfaatnya selama 30 tahun oleh PT. Sepatu Bata, Tbk
namun ketika dihitung menggunakan rata-rata jangkauan waktu total, bangunan tersebut bisa
dimanfaatkan selama 40,03 tahun. Jadi menurut kami, PT. Sepatu Bata, Tbk kurang tepat
dalam membuat estimasi mengenai umur manfaat bangunan, sehingga yang seharusnya
bangunan dapat dimanfaatkan selama 40,03 tahun diestimasikan hanya bisa dimanfaatkan
selama 30 tahun. Kesalahan estimasi tersebut, kemudian akan berdampak pada laba
perusahaan, karena semakin singkat umur masa manfaat maka semakin besar beban
penyusutan aset tersebut dan beban yang besar tersebut dapat mengurangi laba. Jika
perusahaan mengikuti perhitungan rata-rata jangkauan waktu total maka beban penyusutan
tentunya akan menjadi lebih kecil dan ketika beban tersebut menjadi variabel pengurang laba
tidak akan sebesar jika umur manfaatnya sesuai dengan estimasi perusahaan. Tetapi, mungkin
perusahaan mengambil kebijakan untuk menentukan umur masa manfaat bangunan ini lebih
singkat dari pada rata-rata jangkauannya adalah untuk alasan pajak, karena semakin kecil
laba maka pajak yang terutang atau yang harus dibayar juga akan semakin kecil.