Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gangren diabetik adalah suatu komplikasi kronik dari penyakit diabetes

mellitus yang terjadi karena adanya penyempitan pembuluh-pembuluh darah kecil

terutama pada bagian ekstremitas bawah berwarna merah kehitaman dan berbau

busuk. Proses terjadinya kaki diabetik diawali oleh angiopati, neuropati, dan

infeksi. Angiopati perifer umumnya terjadi pada penderita diabetes mellitus yang

mengakibatkan peredaran darah kurang lancar karena darah terlalu kental dan

banyak mengandung gula. Neuropati menyebabkan gangguan sensorik yang

menghilangkan atau menurunkan sensasi nyeri kaki, sehingga ulkus dapat terjadi

tanpa terasa (Ronald, 2017). Ulkus yang semula kecil bisa bertambah besar dan

mengalami infeksi yang akan berujung pada terjadinya gangren diabetik.

Pasien penderita diabetes pada umumnya tidak menyadari terdapat luka

pada daerah tubuh, terutama pada kaki, disebabkan dari neuropati yang

menganggu respon sensorik dan motorik. Jaringan luka tersebut bisa menjadi

jaringan yang terinfeksi oleh bakteri apabila terlambat untuk ditanggulangi.

Infeksi oleh kuman yang terjadi semakin berkembang akibat penurunan aliran

darah besar. Infeksi inilah yang akan menyertai timbulnya gangren kaki diabetik

(Singh, 2005 dalam Putri et al, 2012). Infeksi gangren pada pasien diabetes

mellitus apabila tidak dapat ditangani secara serius maka akan sulit untuk

disembuhkan.

1
Estimasi terbaru dari Federasi Diabetes Internasional tahun 2014 negara

dengan kasus diabetes tertinggi adalah China, yang diperkirakan akan mencapai

142,7 juta pada 2035 dari 98,4 juta pada saat ini. Namun prevalensi tertinggi ada

di Pasifik Barat, dengan lebih dari sepertiga orang dewasa di Tokelau, Mikronesia

dan Kepulauan Marshall mengidap penyakit tersebut. Populasi penderita diabetes

mellitus (DM) di Indonesia saat ini menduduki peringkat kelima terbanyak di

dunia. Indonesia menempati peringkat pertama di Asia tenggara, dengan

Prevalensi DM sebanyak 8.426.000 jiwa di tahun 2000 dan di proyeksi meningkat

2,5 kali lipat sebanyak 21.257.000 penberita pada tahun 2031 (WHO, dalam

Prihanningtya, 2013).

World Health Organization (WHO) memperkirakan jumlah penduduk

dunia yang menderita diabetes mellitus pada tahun 2030 diperkirakan akan

meningkat paling sedikit menjadi 366 juta. Indonesia menempati urutan ke 4

terbesar dalam jumlah penderita diabetes mellitus dengan prevalensi 8,6% dari

total penduduk. Hal ini menunjukkan bahwa di Indonesia, penyakit diabetes

mellitus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat serius. Perhatian

terhadap penanganan diabetes mellitus di negara berkembang masih kurang,

terutama tentang komplikasi yang ditimbulkan akibat diabetes mellitus terutama

gangren diabetikum (Suyono, 2006).

Luka gangren diabetikum bisa teratasi secara optimal jika penanganan luka

dilakukan dengan tepat. Penanganan luka yang tidak tepat bisa berakibat proses

penyembuhan luka akan semakin lama dan sepsis akan menyebar ke bagian yang

lain bahkan bisa berujung pada tindakan amputasi. Angka kematian 1 tahun pasca

2
amputasi berkisar 14,8% dan akan meningkat pada 3 tahun pasca amputasi

sebesar 37% dengan rerata umur pasien hanya 23,8 bulan pos amputasi (Perkeni,

2009). Untuk dapat menurunkan dampak yang ditimbulkan akibat ulkus dan

gangren diabetik, maka perlu disusun strategi yang tepat dalam penanganan

gangren diabetik secara komprehensif.

Perawatan luka yang tepat merupakan salah satu faktor yang mendukung

penyembuhan luka (Morison, 2004). Teknik perawatan luka terdiri dari 2 macam

balutan yaitu balutan tradisional (konvensional) dan balutan modern (modern

dressing). Perawatan luka konvensional/tradisional adalah metode perawatan luka

yang dilakukan dengan menggunakan kasa steril sebagai bahan utama balutan dan

cairan antiseptik yang sama pada semua jenis luka. Hasil riset mengatakan tingkat

kejadian infeksi pada perawatan luka dengan cara konvensional lebih tinggi

dibandingkan dengan mengguanakn balutan modern.

Perawatan luka modern adalah perawatan luka dengan menggunakan

prinsip moisture balance, Perawatan luka dengan menggunakan prinsip moisture

balance ini dikenal sebagai metode modern dressing dan memakai alat ganti balut

yang lebih modern. Modern dressing mampu untuk mempertahankan lingkungan

lembab yang seimbang dengan permukaan luka, pemilihan dressing yang tepat

dapat menjaga kelembapan seperti films, hydrogels, hydrocolloids, foams,

alginates, and hydrofibers (Broussard dan Powers, 2013). Ovington (2002)

mengatakan bahwa penggunaan kassa baik dengan cara kering atau dilembabkan

memiiki beberapa kekurangan yaitu dapat menyebabkan rasa tidak nyaman saat

penggantian balutan, menunda proses penyembuhan terutama epitelisasi,

3
meningkatkan resiko infeksi dan kurang efektif serta efisien dalam hal

penggunaan waktu dan tenaga.

Penanganan luka gangrene pada pasien Diabetes Mellitus dapat dilakukan

dengan terapi nonfarmakologis. Madu merupakan terapi nonfarmakologis yang

biasa diberikan dalam perawatan luka Diabetes Mellitus (Suriadi, 2004). Sifat

antibakteri dari madu membantu mengatasi infeksi pada perlukaan dan aksi anti

inflamasinya dapat mengurangi nyeri serta meningkatkan sirkulasi yang

berpengaruh pada proses penyembuhan. Madu juga merangsang tumbuhnya

jaringan baru, sehingga selain mempercepat penyembuhan juga mengurangi

timbulnya parut atau bekas luka pada kulit (Intanwidya, 2005).

Perawatan luka konvensional biasanya mengunakan antiseptik cairan

fisiologis (NaCl atau RL) lakukan debridement pada luka dan gunakan kasa steril

serta peralatan luka Cloramfenikol, tetrasiklin HCL, silver sulvadiazine 1%,

basitracin, bioplacenton, mafenide acetate dan gentamisin sulfat (Moenadjat,

2006). Beberapa peneliti melakukan penelitian dengan metode pengobatan

gangren secara herbal diantaranya pengobatan gangren dengan herbal yaitu

dengan minyak zaitun (Hammad, 2012), madu (Hammad, 2013) dan aloe vera

(Yunita Sari, 2015). Dari berbagai cara tersebut diatas peneliti memilih

menganalisis cara perawatan luka menggunakan madu karena madu mengandung

zat gula fruktosa dan glukosa yang merupakan jenis gula monosakarida yang

mudah diserap oleh usus. Selain itu, madu mengandung vitamain, asam amino,

mineral, antibiotik dan bahan-bahan aroma terapi. Pada umumnya madu tersusun

atas 17,1 % air, 82,4 % karbohidrat total, 0,5% protein, asam amino, vitamin dan

4
mineral. Selain asam amino nonesensial ada jug asam ami-no esensial diantaranya

listin, hystadin, tritofan. Karbohidrat yang terkandung dalam madu termasuk tipe

karbohidrat sederhana. Karbohidrat tersebut umumnya terdiri dari 38,5% fruktosa

dn 31% glukosa. Sisanya 12,9% karbohidrat yang tersusun dari maltose, sukrosa,

dan gula lain (Intanwidya, 2006 dalam Kartini, 2009).

Hasil kegiatan praktik klinik keperawatan yang dilakukan di Rumah Sakit

Umum Daerah Koja Jakarta Utara, peneliti menemukan bahwa di ruang bedah

masih menggunakan system perawatan luka gangrene diabetic dengan

menggunakan balutan secara konvensional. Perawatan luka gangrene di ruang

Bedah RSUD Koja menggunakan madu dan kemudian dibalut dengan kassa steril

dan dicuci dengan menggunakan cairan NACL0,9 %.

Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

mengenai “Analisis Praktik Klinik Keperawatan pada Klien Gangren Diabetikum

dengan Intervensi pemberian Madu melalui Tenik Balutan secara Konvensional

yang dilakukan di Ruang Bedah Rsud Koja Jakarta Utara.”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas memberi dasar bagi peneliti

untuk merumuskan masalah penelitian “Bagaimana Gambaran Praktik Klinik

Keperawatan pada Klien Gangren Diabetikum dengan Intervensi pemberian Madu

melalui Tenik Balutan secara Konvensional yang dilakukan di Ruang Bedah Rsud

Koja Jakarta Utara.”

5
1.3 Tujuan Penelitian

a. Tujuan Umum

Mengetahui bagaimana gambaran mengenai Praktik Klinik Keperawatan pada

Klien Gangren Diabetikum dengan Intervensi pemberian Madu melalui Tenik

Balutan secara Konvensional yang dilakukan di Ruang Bedah Rsud Koja Jakarta

Utara.”

b. Tujuan Khusus

1) Mengetahui gambaran praktik klinik Asuhan Keperawataan

keperawatan pada klien Gangrene Diabetikum

2) Mengetahui gambaran intervensi nonfarmakologik menggunakan

madu dengan balutan secara konvensional

3) Mengetahui gambaran proses penyembuhan luka gangrene diabetic

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :

a. Bagi Peneliti

Menambah wawasan dan pengetahuan tentang penanganan dan balutan

luka pada klin dengan gangrene diabetikum dan menambah pengalaman

dalam melakukan riset dalam mengembangkan ilmu keperawatan luka

yang telah dipelajari selama perkuliahan.

b. Bagi Rumah Sakit

Sebagai bahan evaluasi untuk intervensi keperawatan pada klien dengan

gangrene diabetikum yang berkembang sesuai perkembangan teknologi

kesehatan

6
c. Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebagai bahan atau sumber untuk penelitian selanjutnya,dan mendorong

yang berkepentingan untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

d. Bagi Perawat

Sebagai bahan pertimbangan dan acuan untuk melakukan intervensi

keperawatan dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan

gangrene diabetikum

e. Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai data dasar peneliti selanjutnya yang terkait dengan penanganan

keperawatanluka

1.5 Waktu Dan Tempat

Praktek klinik keperawatan luka dilaksanakan di Ruang Bedah Rumah

Sakit Umum Daerah Koja Jakarta Utara pada bulan April 2018

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ulkus Kaki Diabetik

2.1.1 Pengertian

Ulkus kaki diabetik adalah luka yang dialami oleh penderita diabetes

pada area kaki dengan kondisi luka mulai dari luka superficial, nekrosis

kulit, sampai luka dengan ketebalan penuh (full thickness), yang dapat

meluas kejaringan lain seperti tendon, tulang dan persendian, jika ulkus

dibiarkan tanpa penatalaksanaan yang baik akan mengakibatkan infeksi atau

gangrene. Ulkus kaki diabetik disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya

kadar glukosa darah yang tinggi dan tidak terkontrol, neuropati perifer atau

penyakit arteri perifer. Ulkus kaki diabetik merupakan salah satu komplikasi

utama yang paling merugikan dan paling serius dari diabetes melitus, 10%

sampai 25% dari pasien diabetes berkembang menjadi ulkus kaki diabetik

dalam hidup mereka (Fernando, et al., 2014; Frykberg, et al., 2006; Rowe,

2015; Yotsu, et al., 2014).

2.1.2 Etiologi

Ulkus kaki diabetik terjadi sebagai akibat dari berbagai faktor,

seperti kadar glukosa darah yang tinggi dan tidak terkontrol, perubahan

mekanis dalam kelainan formasi tulang kaki, tekanan pada area kaki,

neuropati perifer, dan penyakit arteri perifer aterosklerotik, yang semuanya

terjadi dengan frekuensi dan intensitas yang tinggi pada penderita diabetes

(Rina, 2015). Gangguan neuropati dan vaskular merupakan faktor utama

8
yang berkonstribusi terhadap kejadian luka, luka yang terjadi pada pasien

diabetes berkaitan dengan adanya pengaruh saraf yang terdapat pada kaki

yang dikenal dengan nuropati perifer, selain itu pada pasien diabetes juga

mengalami gangguan sirkulasi, gangguan sirkulasi ini berhubungan dengan

peripheral vascular diseases. Efek dari sirkulasi inilah yang mengakibatkan

kerusakan pada saraf-saraf kaki (Hastuti, 2008).

Diabetik neuropati berdampak pada sistem saraf autonomi yang

mengontrol otot-otot halus, kelenjar dan organ viseral. Dengan adanya

gangguan pada saraf autonomi berpengaruh pada perubahan tonus otot yang

menyebabkan gangguan sirkulasi darah sehingga kebutuhan nutrisi dan

metabolisme di area tersebut tidak tercukupi dan tidak dapat mencapai

daerah tepi atau perifer. Efek ini mengakibatkan gangguan pada kulit yang

menjadi kering dan mudah rusak sehingga mudah untuk terjadi luka dan

infeksi. Dampak lain dari neuropati perifer adalah hilangnya sensasi

terhadap nyeri, tekanan dan perubahan temperatur (Chuan, et al., 2015;

Frykberg, et al., 2006; Rowe, 2015; Syabariyah, 2015).

2.1.3 Klasifikasi

Klasifikasi ulkus kaki diabetik diperlukan untuk berbagai tujuan,

diantaranya yaitu untuk mengetahui gambaran lesi agar dapat dipelajari

lebih dalam tentang bagaimana gambaran dan kondisi luka yang terjadi.

Terdapat beberapa klasifikasi luka yang sering dipakai untuk

mengklasifikasikan luka diabetes dalam penelitian-penelitian terbaru,

diantaranya termasuk klasifikasi Kings College Hospital, University of

9
Texas klasifikasi, klasifikasi PEDIS, dll. Tetapi tedapat dua sistem

klasifikasi yang paling sering digunakan, dianggap paling cocok dan mudah

digunakan yaitu klasifikasi menurut Wagner-Meggitt dan University of

Texas (James, 2008; Jain, 2012; Oyibo, et al., 2001).

Tabel 2.1 Klasifikasi Ulkus Kaki Diabetik Wagner-Meggitt

Grade Deskripsi

0 Tidak terdapat luka, gejala hanya seperti nyeri

1 Ulkus dangkal atau superficial

2 Ulkus dalam mencapai tendon

3 Ulkus dengan kedalaman mencapai tulang

4 Terdapat gangrene pada kaki bagian depan

5 Terdapat gangren pada seluruh kaki

Klasifikasi ini [Tabel 2.1] telah dikembangkan pada tahun 1970-an, dan telah

menjadi sistem penilaian yang paling banyak diterima secara universal dan

digunakan untuk ulkus kaki diabetik (James, 2008; Mark & Warren, 2007).

10
Tabel 2.2 Klasifikasi Ulkus Kaki Menurut University Of Texas

Grade 0 Grade 1 Grade 2 Grade 3

Stage A Pre/post Luka Luka Luka

ulserasi, superfisial, Menembus Menembus

dengan tidak ke tendon ke tulang

jaringan melibatkan Atau atau sendi

epitel yang tendon atau Kapsul

lengkap tulang Tulang

Stage B infeksi infeksi Infeksi Infeksi

Stage C iskemia iskemia Iskemia Iskemia

Stage D Infeksi dan Infeksi dan Infeksi dan Infeksi dan

iskemia iskemia Iskemia Iskemia

Klasifikasi University of Texas merupakan kemajuan dalam

pengkajian kaki diabetes. Sistem ini menggunakan empat nilai, masing-

masing yang dimodifikasi oleh adanya infeksi (Stage B), iskemia (Stage C),

atau keduanya (Stage D). Sistem ini telah divalidasi dan digunakan pada

umumnya untuk mengetahui tahapan luka dan memprediksi hasil dari luka

yang bisa cepat sembuh atau luka yang berkembang kearah amputasi

(James, 2008).

2.1.4 Konsep Penyembuhan Ulkus Kaki Diabetik

a.Fase Penyembuhan Ulkus Kaki Diabetik

Proses penyembuhan luka adalah proses restorasi alami luka yang

melibatkan sebuah proses yang kompleks, dinamis dan terintegrasi pada

11
sebuah jaringan karena adanya kerusakan. Dalam kondisi normal proses

tersebut dapat dibagi menjadi 4 fase yaitu : (1) Fase Hemostasis (2) Fase

Inflamasi (3) Fase Proliferasi (4) Fase Remodeling (Sinno & Prakash, 2013;

Suriadi, 2015).

Proses penyembuhan luka pada ulkus kaki diabetik pada dasarnya

sama dengan proses penyembuhan luka secara umum, tetapi proses

penyembuhan ulkus kaki diabetik memerlukan waktu yang lebih lama pada

fase-fase tertentu karena terdapat berbagai macam penyulit diantaranya:

kadar glukosa darah yang tinggi, infeksi pada luka dan luka yang sudah

mengarah dalam keadaan kronis. Hal tersebut memperpanjang fase

inflamasi penyembuhan luka karena zat inflamasi dalam luka kronis lebih

tinggi dari pada luka akut (Syabariyah, 2015).

Hemostasis adalah fase pertama dalam proses penyembuhan luka,

setiap kejadian luka akan melibatkan kerusakan pembuluh darah yang harus

dihentikan. Pembuluh darah akan mengalami vasokonstriksi akibat respon

dari cidera yang terjadi, cedera jaringan menyebabkan pelepasan

tromboksan A2 dan prostaglandin 2-alpha ke dasar luka yang diikuti adanya

pelepasan platelet atau trombosit. Tidak terkontrolnya kadar glukosa dalam

darah menyebabkan adanya gangguan pada dinding endotel kapiler, hal ini

dikarenakan oleh adanya respon vasodilatasi yang terbatas dari membrane

basal endotel kapiler yang menebal pada penderita diabetes. Kadar glukosa

darah yang tinggi juga berpengaruh pada fungsi enzim aldose reduktase

yang berperan dalam konversi jumlah glukosa yang tinggi menjadi sorbitol

12
sehingga menumpuk pada sel yang menyebabkan tekanan osmotik

mendorong air masuk ke dalam sel dan mengakibatkan sel mengalami

kerusakan. Penebalan membrane kapiler yang disebabkan oleh tingginya

kadar glukosa darah menyebabkan peningkatan viskositas darah dan

berpengaruh pada penebalan membrane kapiler tempat menempelnya

eritrosit, trombosit dan leukosit pada lumen pembuluh darah. Hal-hal

tersebut dapat menjadi penyebab gangguan dari fase inflamasi yang

memperburuk proses penyembuhan luka (Krents, 2000; King, 2001;

Syabariyah, 2015).

Fase proliferasi pada proses penyembuhan ulkus kaki diabetik juga

mengalami perubahan dan perbedaan dengan fase proliferasi penyembuhan

pada luka normal, pada luka normal fase proliferasi berakhir dengan

pembentukan jaringan granulasi dan kontraktur yang sudah terjadi,

pembuluh darah yang baru menyediakan titik masuk ke luka pada sel-sel

seperti makrofag dan fibroblast. Epitelisasi akan menjadi fase awal dan

diikuti makrofag yang terus memasok faktor pertumbuhan merangsang

angiogenesis lebih lanjut dan fibroplasia proses angiogenesis, granulasi dan

kontraksi pada luka. Pada fase proliferasi ulkus kaki diabetik mengalami

pemanjangan fase yang menyebabkan terjadinya pembentukan granulasi

terlebih dahulu pada dasar luka, granulasi akan mengisi celah yang kosong

dan epitelisasi akan menjadi bagian terakhir pada fase ini. Hal ini juga

disebabkan karena kekurangan oksigen pada jaringan, oksigen berperan

sebagai pemicu aktivitas dari makrofag. Epitelisasi pada luka ini juga

13
mengalami gangguan migrasi dari keratinosit yang nantinya akan

membentuk lapisan luar pelindung atau stratum korneum sehingga

mengakibatkan kelembaban dari luka akan berkurang yang membuat proses

penyembuhan akan sangat lambat.

Karena terjadi gangguan pada tahap penyembuhan luka maka luka

menjadi kronis yang menyebabkan fase proliferasi akan memanjang yang

berakibat pada fase remodeling berlangsung selama berbulan-bulan dan

dapat berlangsung hingga bertahun-tahun (Sinno & Prakash, 2013; Suriadi,

2015; Syabariyah, 2015).

2.1.5 Faktor Penyembuhan Ulkus

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penyembuhan ulkus, antara lain :

Tabel 2.3 Faktor-faktor penyembuhan ulkus

No Faktor Efek pada Penyembuhan Luka

1 Lingkungan luka a. Memacu pertumbuhan jaringan lebih cepat


yang lembab b. Memungkinkan sel-sel epitel untuk bermigrasi ke permukaan luka.
c. Kering pada permukaan luka akan menghilangkan Cairan
fisiologis yang Mendukung penyembuhan luka
2 Stress a. Stres menyebabkan terjadinya hambatan substansial dalam proses
penyembuhan luka.
b. Stress memicu tubuh untuk melepaskan katekolamin yang
menyebabkan vasokontriksi
3 Kurang a. Perbaikan dan laju pembelahan sel dapat ditingkatkan dengan
tidur/istirahat tidur/istirahat yang cukup dan berkualitas.
b. Tidur adalah periode dimana sel-sel melakukan perbaikan,
termasuk hormon yang aktif saat tidur.

14
4 Obat-obatan yang a. Menyebabkan kerusakan sel-sel dan jaringan dalam perbaikan
mengandung luka.
antiseptik dan zat b. Bersifat toksik pada fibroblast, sel darah merah dan sel darah
pembersih. putih.
(iodine,
peroksida,alcohol,
dll)

5 Sel debris, a. Menghambat penutupan luka.


jaringan mati dan b. Meningkatkan respon inflamasi.
benda asing
c. Menghambat proses proliferasi luka.
6 Infeksi a. Meningkatkan respon inflamasi.
b. Meningkatkan kerusakan jaringan.
c. Infeksi yang berkelanjutan pada luka akan memperburuk kondisi
luka dan dapat menyebabkan sepsis.
7 Stres mekanik a. Tekanan yang menetap pada luka mengakibatkan aliran darah
(gesekan,tekanan terganggu dan berdampak pada penyembuhan luka.
dan pergeseran) b. Gesekan akan mengikis, merusak jaringan granulasi dan epitel
yang baru terbentuk.
c. Memperpanjang fase inflamasi dari luka.

8 Radiasi a. Menghambat aktivitas fibrilastik dan pembentukan kapilaria.


b. Bisa menyebabkan nekrosis jaringan
9 Anemia Mengurangi suplai oksigen kedalam jaringan

10 Usia Penuaan dapat menyebabkan banyak perubahan yang mempengaruhi


kemampuan kulit dalam penyembuhan dan regenerasi.
11 Sistem imun a. Sistem imun yang optimal diperlukan untuk penyembuhan luka.
b. Individu yang berubah sistem kekebalan tubuhnya
akan mengalami peningkatan resiko infeksi.
12 Merokok a. Merokok dapat membatasi suplai darah melalui pembuluh darah

(Maryunani, 2013; Suriadi, 2015)

15
Selain beberapa faktor diatas terdapat beberapa faktor- faktor lain yang

mempengaruhi penyembuhan luka yaitu :

1) Vaskularisasi perifer

Gangguan sirkulasi akan menghambat aktivitas neutrophil dan makrofag

untuk melawan bakteri. Status vaskular yang buruk akan mengurangi

suplai nutrisi dan oksigen pada area luka serta dapat menghambat respon

inflamasi pada area luka. Pemeriksaan sirkulasi dan vaskularisasi dapat

dilakukan dengan diagnostik non-invasif dengan menilai ankle brachial

index (ABI). Untuk mendapatkan nilai ABI dapat dilakukan dengan

perhitungan : nilai tekanan sistolik pergelangan kaki dibagi dengan

tekanan sistolik brakialis.

2) Kadar glukosa darah

Kondisi hiperglikemi dapat menghambat sintesa kolagen, menganggu

sirkulasi dan pertumbuhan kapilaria. Hiperglikemia juga mengganggu

proses fagositosis. Pada pasien diabetes melitus terdapat hambatan

sekresi insulin yang mengakibatkan peningkatan gula darah, sehingga

nutrisi tidak dapat masuk kedalam sel.

3) Status gizi dan nutrisi

Status gizi dan nutrisi yang buruk merupakan faktor utama dalam

penundaan penyembuhan luka serta dapat mengganggu proses

epitelisasi. Penilaian status nutrisi pasien dapat dilihat dari analisa

biologis dan fisiologis pada tingkat seluler. Penilaian kadar hemoglobin

16
dan albumin dalam darah dapat merepresentasikan status nutrisi

seseorang, kekurangan protein dapat mengganggu proses perbaikan dan

regenerasi pada tingkat seluler. Selain dengan pemeriksaan laboratorium

cara sederhana untuk mengetahui status gizi seseorang adalah dengan

mengukur Indeks Massa Tubuh (IMT). Pengukuran IMT melibatkan

komposisi dari berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) seseorang.

2.1.6 Manajemen Ulkus Kaki Diabetik

Manajemen ulkus kaki diabetik adalah serangkaian tindakan yang

dilakukan secara komprehensif yang diperlukan untuk mempercepat proses

penyembuhan luka. Pilar standar dalam perawatan ulkus kaki diabetik

dijelaskan menurut American Diabetes Association (ADA) antara lain

debridement, mengurangi tekanan (off-loading), pencegahan dan

pengendalian infeksi. Sejalan dengan ADA para ahli menambahkan,

manajemen perawatan ulkus kaki diabetik harus meliputi: mengatasi

penyakit penyerta, revaskularisasi, perawatan luka dan pemilihan dressing

yang tepat. Beberapa terapi tambahan yang dapat mempercepat proses

penyembuhan luka akhir-akhir ini sedang berkembang diantaranya: Living

Skin Equivalents (LSEs), Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT), Negative

Pressure Wound Therapy (NPWT), Platelet-rich plasma, Gene therapy,

Extracorporeal shock-wavetherapy, Laser therapy, Angiotension II analog,

dan Terapi Lactoferrin (Dinh, Elder & Veves, 2011; Suriadi, 2015;

Syabariyah, 2015).

17
2.1.7 Instrument Penyembuhan Luka

Evaluasi ulkus kaki diabetik sangat diperlukan untuk mengetahui

sejauh mana kondisi aktual dari luka yang dialami dan menilai sejauh mana

perbaikan yang terjadi dari terapi yang diberikan. Penilaian luka bertujuan

untuk memberikan informasi dasar yang dapat berupa pengukuran luka,

gambaran luka secara visual, dan menilai aspek-aspek lain yang ada pada

luka seperti

jaringan dasar luka, tepi luka, atribut luka dan tanda-tanda infeksi (Romanelli, et

al., 2002; Suriadi, 2015).

Penilaian luka dapat dilakukan saat pertama kali kunjungan atau saat

pertama kali terjadi luka, yang kemudian dilakukan evaluasi setiap minggu

atau sesuai dengan keadaan luka (Baranoski & Ayello, 2008). Penilaian

ulkus kaki diabetik memerlukan suatu alat ukur yang dapat mewakili

gambaran luka secara langsung dan mendeteksi adanya perkembangan atau

kondisi yang memburuk dari luka disetiap waktu sehingga dapat menilai

efektifitas tindakan yang telah dilakukan. Salah satu instrument pengkajian

yang dapat digunakan untuk ulkus kaki diabetik adalah Bates-Jensen Wound

Assessment Tool.

Bates-Jensen Wound Assessment Tool (BJWAT) adalah sebuah

instrument pengukuran luka yang terdiri dari 13 item pertanyaan yang

meliputi ukuran, kedalaman, tepi luka, undermining, jenis jaringan nekrotik,

jumlah nekrotik, granulasi dan jaringan epitelisasi, jenis dan jumlah eksudat,

18
warna kulit sekitarnya, edema, dan indurasi luka. Instrument ini dinilai

menggunakan skala Likert yang telah dimodifikasi yaitu: skor 1

menunjukkan sehat dan 5 menunjukkan atribut yang paling tidak sehat

untuk setiap karakteristik, semakin tinggi nilai dari BJWAT maka semakin

buruk keadaan luka (Harris, et al., 2010).

2.2 Perawatan Luka Ulkus Diabetik dengan Madu

2.2.1 Kandungan madu

Madu mengandung banyak mineral seperti natrium, magnesium, kalsium,

alumunium, besi, fosfor, dan kalium. Vitamin-vitamin yang terkandung dalam

madu adalah thiamin (B1), ribovlafin (B12), asam askorbat (C), piridoksin (B6),

niasin, asam pantotenat, biotin, asam folat, dan vitamin K. sedangkan enzim

yang penting terkandung dalam madu adalah enzim diatase, invertase, glukosa

oksidase, peroksidase, dan lipase. Enzim diastase adalah enzim yang mengubah

karbohidrat komplek (polisakarida) menjadi karbohidrat yangsederhana

(monosakarida).

Enzim invertase adalah enzim yang memecah molekul sukrosa menjadi

glukosa dan fruktosa. Sedangkan enzim oksidase adalah enzim yang membantu

oksidasi glukosa menjadi asam peroksida. enzim peroksidase melakukan proses

oksidasi metabolisme. Semua zat tersebut berguna untuk proses metabolisme

tubuh. Asam utama yang terdapat dalam madu adalah glutamat. sementara itu,

asam organik yang terdapat dalam madu adalah asam asetat, asam butirat,

19
format, suksinat, glikolat, malat, proglutamat, sitrat, dan piruvat. (Suranto,

2004).

2.2.2 Efek Penggunaan Madu dalam Proses Penyembuhan Luka

Penggunaan madu pada perawatan luka terbukti efektif. Penelitian

pada 33 klien yang dirawat dengan madu, 29 menunjukkan kesuksesan ditandai

dengan proses penyembuhan yang baik, dan rata-rata rawat 5-6 minggu. 3 orang

tidak menunjukkan hasil yang baik karena klien mengalami imunodefisiensi.

Beberapa penelitian telah dilakukan antara lain Molan (1998); Mattew &

Binnington (2002);Molan (2011); Al-Waili, Salom, & Al-Ghamdi (2011);

Acton & Dunwoody (2008); Rooster, Declereq, & Bogaert (2008), madu

memiliki efektifitas yang baik pada penyembuhan luka ditandai dengan luka

menjadi lebih bersih, tanda-tanda infeksi menghilang, inflamasi, bengkak, dan

nyeri cepat berkurang, bau berkurang, slough dan jaringan nekrotik berkurang,

granulasi dan epitelisasi meningkat serta penyembuhan luka minimal

skar/jaringan parut.

a. Antibakterial

Berbagai penelitian mengatakan bahwa madu memiliki efek antibiotik

berikut akan dijelaskan kandungan madu sebagai agen antibakterial

b. Efek osmotik

Madu terdiri dari campuran 84% gula dengan kadar air 15-20 % sehingga

sangat tinggi kadar gulanya. Sedikitnya kandungan air dan interaksi air

dengan gula tersebut akan membuat bakteri tidak dapat hidup (Acton &

20
Dunwoody, 2008).. Tidak ada bakteri yang dapat hidup pada kadar air

kurang dari 17%.

c. Aktivitas Hidrogen Peroksida

Selain efek osmotik madu mengandung zat lain yang dapat membunuh bakteri

yaitu hidrogen peroksida. Kelenjar hipofaring madu mensekresi enzim

gkukosa oksidase yang akan beraksi dengan glukosa bila ada air dan

memproduksi hidrogen peroksida. Konsentrasi hidrogen peroksida pada madu

sekitar 1 mmol/1000 kali lebih kecil jumlahnya daripada larutan hidrogen

peroksida 3% yang biasa dipakai untuk antiseptik. Meski konsentrasinya lebih

kecil, efektivitasnya tetap baik sebagai pembunuh kuman. Efek samping

hidrogen peroksida seperti merusak jaringan akan diatasi madu dengan zat anti

oksidan dan enzim-enzim lainnya.

d. Sifat Asam Madu

Ciri khas madu bersifat asam dengan pH 3,2-4,5 cukup rendah untuk

menghambat pertumbuhan bakteri yang berkembang rata-rata pada pH 7,2-

7,4. sifat asam yang terkadung dalam madu (pH 3,9) membuat beberapa

bakteri tidak dapat hidup dan akan lisis (Molan, 2010)

e. Faktor Fitokimia

Beberapa jenis madu juga ditemukan zat antibiotik. Zat tersebut disebut

faktor non-peroksida. Madu yang selama ini telah diteliti memiliki faktor

tersebut adalah madu manuka (leptospermum scoparium) berasal dari

Selandia Baru.

21
f. Aktivitas Fagositosis dan Meningkatkan Limfosit

Fagositosis adalah mekanisme "membunuh" kuman oleh sel yang di sebut

fagosit, sedangkan limfosit adalah sel darah putih yang besar peranannya

dalam mengusir kuman. Penelitian terbaru memperlihatkan madu dapat

meningkatkan pembelahan sel limfosit artinya memperbanyak pasukan sel

darah putih tubuh. Selain itu madu juga meningkatkan produksi sel monosit

yang dapat mengeluarkan sitokin TNF-alfa, interlaukin 1, dan interleukin 6

yang mengaktifkan respon daya tubuh terhadap infeksi. Kandungan glukosa

dan keasaman madu juga secara sinergis ikut membantu sel fagosit dalam

menghancurkan bakteri. Madu memiliki aktfitas antibakteri yang berbeda.

Survey pada madu Selandia Baru yang berasal dari 16 sumber nektar

berbeda menentukan 36% dari total sampel punya akktivitas antibakteri

yang rendah atau tidak terdeteksi. Penelitian lain pada 340 sampel madu

Australia dari 78 sumber nektar menemukan 68,5% sampel punya aktivitas

antibakteri dibawah nilai yang dapat di prediksi.

Beberapa hal yang membuat efek antibakteri madu berbeda-beda adalah

kandungan hidrogen peroksida dan non-peroksida seperti vitamin C, ion

logam enzim katalase, dan juga ketahanan madu terhadap suhu dan

sensitifitas enzim terhadap Cahaya

1. Debridemen/autolitik

Madu memiliki karakteristik melembabkan area luka sehingga madu

disebut juga sebagai agen autolitik debridement (Robson, 2002 dalam

22
Acton & Dunwoody, 2008).Cara kerjanya dengan mengaktivasi

plasminogen menjadi plasmin. Selanjutnya plasmin akan

mengkatalisis benang-benang fibrin yang selanjutnya akan

menghancurkan slough dan memperlancar aliran darah sehingga dapat

mengurangi adanya jaringan nekrotik (Molan, 2011). Autolitik

debridemen menggunakan madu dapat mengurangi terbentuknya skar

dan keropeng (Al-Waili, Salom, & Al-Ghamdi (2011).

2. Anti-inflamasi

Sifat osmotik pada madu menyebabkan aliran getah bedah/lymph

menjadi meningkat ke area luka (Molan, 2011). Selain itu tingginya

kadar glukosa meningkatkan glukolisis yang menghasilkan sumber

energi bagi makrofag. Semakin banyak macrofag semakin banyak

pula bakteri dan benda asing yang di lisiskan, sehingga hal ini akan

menurunkan gejala inflamasi.

3. Penyembuhan luka

Madu mengandung vitamin c tiga kali lebih tinggi dibandingkan

dengan serum vitamin yang baik untuk sintesis kolagen (Molan,

2011).Sifat osmosis pada madu memperlancar peredaran darah,

sehingga area luka mendapat nutrisi yang adekuat. Tidak hanya

nutrisi yang sampai ke area luka, tetapi juga leukosit akan akan

merangsang pelepasan Sitokin dan growth factor sehingga lebih cepat

terbentuk granulasi dan epitelisasi. Selain itu karena sifatnya yang

23
osmosis, saat balutan dengan madu dilepas tidak terjadi perlengketan

sehingga tidak merusak jaringan baru yang sudah

tumbuh.Dibandingkan dengan perawatan dengan normal salin,

perawatan dengan madu lebih efekti untuk meningkatkan granulasi

dan epitelisasi.

3.1 Konsep balutan Konvensional

Konsep perawatan luka konvensional menurut Aswadi (2008) adalah

perawatan luka di mana teknik yang digunakan masih alami dan tradisional,

belum dikembangkan secara modern yang bertujuan untuk menyembuhkan luka

secara bertahap dan prosesnya lama tergantung luka yang di derita. Langkah

perawatan yang dilakuan adalah sebagai berikut : jelaskan prosedur kepada klien,

siapkan peralatan yang diperlukan di meja (jangan membuka peralatan), ambil

kantung plastik dan buat lipatan diatasnya. Selanjutnya tutup ruangan dengan tirai,

bantu klien pada posisi nyaman.

Perawat mencuci tangan secara menyeluruh, meletakkan bantalan tahan air

dibawah klien, gunakan sarung tangan bersih sekali pakai dan lepaskan plester,

lepaskan plester dengan melepaskan ujung dan menariknya dengan perlahan,

sejajar pada kulit dan mengarah pada balutan (bila masih terdapat plester pada

kulit, dapat dibersihkan dengan aseton). Angkat balutan secara perlahan dengan

menggunakan forsep atau pinset, jika balutan lengket pada luka, jangan dibasahi,

pertahan lepaskan balutan dari eksudat yang mengering.

24
Observasi karakteristikdan jumlah drainasepada balutan, buang balutan

kotor pada nierbekkenatau kantung plastik, hindari kontaminasi permukaan luar

kantung (Aswadi, 2008). Lepaskan sarung tangan dengan menarik bagian dalam

keluar, membuka nampan balutan steril. Membuka larutan antiseptik lalu tuang ke

dalam kom steril atau kasa steril, pakai sarung tangan steril, inspeksi luka.

perhatikan kondisinya, letak drain, integritas jahitan dan karakteristik drainase

(palpasi bila perlu, dengan bagian tangan non dominan yang tidak akan

menyentuh bahan steril). Bersihkan luka dengan larutan antiseptikatau lanrtan

normal satin. Bersihkan dari daerah yang kurang terkontaminasi ke area

terkontaminasi (Aswadi, 2008). Setelah luka selesai di bersihkan dilanjutkan

dengan menggunakan kasa yang basah tepat pada permukaan luka. Bila luka

dalam secara perlahan masukkan kasa ke dalam luka sehingga semua permukaan

luka kontak dengan kasa basah. Pasang kasa steril kering diatas kasa basah, tutup

dengan kasa, surgipad, dan pasang plester diatas balutan (Aswadi, 2008).

25