Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN TUGAS AKHIR PRAKERIN

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN AN. A


DENGAN VARISELLA ZOSTER DI
KLINIK MEDIS ELISA

Disusun oleh kelompok 3:


1. Agnelia Desta Fardani (139.132.076)
2. Eta Oktavia (150.143.079)
3. Erika Dwi Agustin (148.141.076)

JURUSAN KEPERAWATAN
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN SWASTA KESEHATAN
KENDEDES
MALANG 2018

1
LEMBAR PENGESAHAN

Penguji I / Pimpinan KME

(Drg. Elly Nawangsih)

Penguji II Pembimbing Lahan

(dr. Rizqi Yuni A.) (Wahyu Bagus D. Amd. Kep)

2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan laporan Pendahuluan kami
tentang “VARISELLA ZOSTER”. Kami juga berterima kasih kepada Bapak/Ibu guru
Smks Kesehatan Kendedes, Pembimbing lahan Klinik Medis Elisa, Teman-teman
serta orang tua yang telah mendukung dan membimbing kami.

Tujuan kami membuat Laporan Pendahuluan ini untuk melengkapi dan memenuhi
Tugas Akhir kami di Klinik Medis Elisa, Sawojajar Malang.

Kami berharap Laporan Pendahuluan ini dapat berguna dalam memenuhi


wawasan serta pengetahuan kami meng
enai Penyakit Varisella Zoster. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam
Laporan Pendahuluan ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh
sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan Laporan
Pendahuluan yang kami buat dimasa yang akan datang.

Semoga Laporan Pendahuluan sederhana ini dapat dipahami dan dapat berguna
bagi siapapun yang membacanya. Kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan
kata-kata yang kurang berkenan di hati.

3
DAFTAR ISI
Halaman Judul…………………………………………………………………………………………i

Lembar Pengesahan………………………………………………………………………………..ii

Kata Pengantar………………………………………………………………………………………..iii

Daftar Isi………………………………………………………………………………………………….4

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................5

A. Latar Belakang…………………………………………………………………………………5
B. Rumusan Masalah……………………………………………………………………………6
C. Tujuan……………………………………………………………………………………………..6
D. Manfaat…………………………………………………………………………………………..6

BAB II PEMBAHASAN

A. Konsep Teori Varisella Zoster……………………………………………………………7


B. Pengkajian Pasien…………………………………………………………………………….7
C. SOP Tindakan Pemasangan Infus……………………………………………………..17
D. SOP Tindakan IC Skin Test………………………………………………………………..20

BAB III

A. Simpulan………………………………………………………………………………………….22
B. Saran………………………………………………………………………………………………..22

Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………………..23

Kritik dan Saran…………………………………………………………………………………………22

4
LAPORAN PENDAHULUAN VARISELLA
BAB I

PENDAHULUAN

B. LATAR BELAKANG

Varicella zoster virus (VZV) adalah virus khusus manusia yang termasuk
keluarga α-herpesvirus. VZV hadir di seluruh dunia dan sangat menular. Infeksi
primer menyebabkan varicella akut atau "cacar air", biasanya dari paparan
baik melalui kontak langsung dengan lesi kulit atau melalui penyebaran udara
dari tetesan pernapasan. ( 1 , 2 ) Setelah infeksi awal, VZV menetapkan latensi
seumur hidup di saraf kranial dan ganglia akar dorsal , dan dapat mengaktifkan
kembali beberapa tahun hingga beberapa dekade kemudian sebagai herpes
zoster (HZ) atau "herpes zoster". ( 3 ) Lebih dari 90% orang dewasa di Amerika
Serikat menderita penyakit ini pada masa kanak-kanak, sementara mayoritas
anak-anak dan dewasa muda telah divaksinasi dengan vaksin virus hidup.
( 2 , 4 ).

Berdasarkan latar belakang diatas dalam makalah ini kami akan membahas
tentang bagaimana penyebab, tanda gejala, klasifikasi, pencegahan dan
penatalaksanaan atau pengobatan terhadap penyakit yang disebabkan oleh
virus tersebut, supaya kita dapat bertindak untuk pencegahan terhadap
penyakit varicella.

C. RUMUSAN MASALAH

5
Adapun masalah yang kami akan bahas adalah:

1. Apa definisi penyakit varisella?


2. Apa penyebab dari penyakit varisella?
3. Apa tanda dan gejala jika terserang penyakit varisella?
4. Apa klasifikasi dan jenis penyakit varisella?
5. Bagaimana pengobatan terhadap penyakit varisella?
6. Bagaimana cara pencegahan agar tidak terserang penyakit varisella?

D. TUJUAN

Tujuan penulisan makalah ini adalah:

Memenuhi tugas pratikum di Klinik Medis Elisa tentang penyakit varisella


zoster.

E. MANFAAT
 Bagi Siswa:
1. Siswa dapat memahami,mengetahui, konsep dasar penulisan
makalah.
2. Siswa dapat mengetahui, mampu mengimplementasikan teori yang
ada di makalah ini
 Bagi Klinik Elisa
Untuk menambah pengetahuan cara atau tindakan yang dapat
dilakukan pada penderita Varisella Zoster
 Bagi Masyarakat
1. Memberi pengetahuan pada masyarakat luas

6
BAB II

PEMBAHASAN
A. DEFINISI

Varicella atau yang dikenal juga secara awam sebagai cacar air adalah
penyakit infeksi virus yang disebabkan oleh virus Varicella Zoster. Di Indonesia,
penyakit ini disebut sebagai cacar air karena gelembung atau bisul yang
terbentuk pada kulit apabila pecah mengeluarkan air. Penyakit ini sangat
mudah untuk menyebar kepada orang lain, terutama anak-anak, yang belum
pernah terkena varicella sebelumnya. Penyebaran dari virus Varicella Zoster
terjadi melalui udara dan kontak langsung dengan penderita. Varicella paling
sering ditemukan pada anak-anak berusia 1-9 tahun. Angka kejadian penyakit
ini sudah banyak berkurang terutama di negara-negara maju karena
ditemukannya vaksinasi terhadap virus Varicella Zoster.

B. ETIOLOGI

Penyebabnya adalah virus varicella-zoster. Virus varisela zoster


merupakan famili human (alpha) herpes virus. Virus terdiri atas genome DNA
double-stranded, tertututp inti yang mengandung protein dan dibungkus oleh
glikoprotein. Virus ini juga dapat menyebabkan herpes zoster (shingles).

Pada tahun 1767, Heberden dapat membedakan dengan jelas antara


chickenpox dan smallpox, yang diyakini kata “chickenpox” berasal dari bahasa
inggris yaitu “gican” yang maksudnya penyakit gatal ataupun berasal dari
bahasa perancis yaitu “chicken-pois” yang menggambarkan ukuran vesikel.

7
Pada tahun 1888, Von Bokay menemukan hubungan antara varisela dan
herpes zoster. Ia menemukan bahwa varisela dicurigai berkembang dari anak-
anak yang terpapar dengan seseorang yang menderita herpes zoster akut.
Pada tahun 1943, Garland mengetahui terjadinya herpes zoster akibat
reaktivasi virus yang laten.

Pada tahun 1952, Weller dan Stoddart melakukan penelitian secara


invitro, mereka menemukan bahwa varisela dan herpes zoster disebabkan
oleh virus yang sama. Virus ini ditularkan melalui percikan ludah penderita
atau melalui benda-benda yang terkontaminasi oleh cairan dari lepuhan kulit.
Penderita bisa menularkan penyakitnya mulai dari timbulnya gejala sampai
lepuhan yang terakhir telah mengering. Karena itu, untuk mencegah
penularan, sebaiknya penderita diisolasi (diasingkan). Jika seseorang pernah
menderita cacar air, maka dia akan memiliki kekebalan dan tidak akan
menderita cacar air lagi. Tetapi virusnya bisa tetap tertidur di dalam tubuh
manusia, lalu kadang menjadi aktif kembali dan menyebabkan herpes zoster.

C. PATOGENESIS
Masa inkubasi varisela 10-21 hari pada anak imunokompeten (rata-rata
14-17 hari) dan pada anak imunokopromise biasanya lebih singkat yaitu kurang
dari 14 hari. Varisela zoster virus masuk kedalam tubuh manusia dengan cara
inhalsi dari sekresi pernafasan (droplet infeksion) ataupun kontak langsung
dengan lesi kulit. Droplet infeksion dapat terjadi 2 hari sebelum hingga 5 hari
setelah timbul lesi dikulit.
Varisela zoster virus masuk kedalam tubuh manusia melalui mukosa
saluran pernafasan bagian atas, orofaring atau konjungtiva. Siklus replikasi

8
virus pertama terjadi pada hari ke 2-4 yang berlokasi pada lymph nodus
regional kemudian diikuti penyebaran virus dengan jumlah sedikit melalui
darah dan kelenjar limfe, yang menyebabkan terjadinya viremia primer.
(biasanya terjadi pada hari ke 4-6 setelah infeksi pertama). Pada sebagian
besar penderita yang terinfeksi, replikasi virus tersebut dapat mengalahkan
mekanisme pertahanan tubuh yang belum matang sehingga akan berlanjut
dengan siklus replikasi virus kedua yang terjadi dihepar dan limpa, yang
mengakibatkan terjadinya viremia sekunder. Pada vase ini, partikel viruss akan
menyebar keseluruh tubuh dan mencapai epidermis pada hari ke 14-15, yang
mengakibatkan timbulnya lesi dikulit yang khas.
Seorang anak yang menderita varisela akan dapat menularkan kepada yang
lain yaitu 2 hari sebelum hingga 5 hari setelah timbulnya lesi dikulit.

D. MENIFESTASI KLINIS
Gejalanya mulai timbul dalam waktu 10-21 hari setelah terinfeksi.
Pada anak-anak yang berusia diatas 10 tahun, gejala awalnya berupa sakit
kepala, demam sedang dan rasa tidak enak badan. Gejala tersebut biasanya
tidak ditemukan pada anak-anak yang lebih muda, gejala pada dewasa
biasanya lebih berat. 24-36 jam setelah timbulnya gejala awal, muncul bintik-
bintik merah datar (makula).
Kemudian bintik tersebut menonjol (papula), membentuk lepuhan berisi
cairan (vesikel) yang terasa gatal, yang akhirnya akan mengering. Proses ini
memakan waktu selama 6-8 jam. Selanjutnya akan terbentuk bintik-bintik dan
lepuhan yang baru. Pada hari kelima, biasanya sudah tidak terbentuk lagi

9
lepuhan yang baru, seluruh lepuhan akan mengering pada hari keenam dan
menghilang dalam waktu kurang dari 20 hari.
Papula di wajah, lengan dan tungkai relatif lebih sedikit; biasanya banyak
ditemukan pada batang tubuh bagian atas (dada, punggung, bahu). Bintik-
bintik sering ditemukan di kulit kepala. Papula di mulut cepat pecah dan
membentuk luka terbuka (ulkus), yang seringkali menyebabkan gangguan
menelan. Ulkus juga bisa ditemukan di kelopak mata, saluran pernafasan
bagian atas, rektum dan vagina.
Papula pada pita suara dan saluran pernafasan atas kadang
menyebabkan gangguan pernafasan. Bisa terjadi pembengkaan kelenjar getah
bening di leher bagian samping.
Cacar air jarang menyebabkan pembentukan jaringan parut, kalaupun
ada, hanya berupa lekukan kecil di sekitar mata. Luka cacar air bisa terinfeksi
akibat garukan dan biasanya disebabkan oleh stafilokokus.

E. KOMPLIKASI
Pada anak yang imunokompeten, biasanya dijumpai varisela yang ringan
sehingga jarang dijumpai komplikasi. Komplikasi yang dapat dijumpai pada
varisela sebagai berikut :
1. Infeksi sekunder pada kulit yang disebabkan oleh infeksi
 Sering dijumpai infeksi pada kulit dan timbul pada anak-anak berkisar
antara 5-10 %. Lesi pada kulit tersebut menjadi tempat masuknya
organisme yang virulen dan apabila infeksi meluas dapat menimbulkan
impetigo, furunkel, selulitis dan erisepelas

10
 Organisme infeksius yang sering menjadi penyebabnya adalah
streptokokus grup A dan stafilokokus aureus.

2. Scar
Timbulnya scar yang berhubungan dengan infeksi stafilokokus atau
streptokokus yang berasal dari garukan.
3. Pneumonia
Dapat timbul pada anak-anak dan dewasa yang dapat menimbulkan keadaan
fatal. Pada orang dewasa insiden varicela pneumonia sekitar 1 : 400 kasus.
4. Neurologi
- Acute post infeksius cerebellar ataxia
 ataxi sering muncul tiba-tiba selalu terjadi 2-3 minggu setelah
timbulnya varisela. Keadaan ini dapat menetap selama 2 bulan.
 manifestasinya berupa tidak dapat mempertahankan posisi berdiri
hingga tidak mampu untuk berdiri dan tidak adanya koordinasi dan
dysarthria.
 insiden berkisar 1 : 4.000 kasus varisela
- Encephalitis
 gejala ini sering timbul selama terjadinya akut varisela yaitu
beberapa hari setelah timbulnya, letarghi, drow siness dan confusion
adalah gejala yang sering dijumpai.
 Beberapa anak mengalami seizura dan perkembangan ensephalitis
yang cepat dapat menimbulakan koma yang dalam.
 Merupakan komplikasi yang serius dimana angka kematian berkisar
5-20%. Insiden berkisar 1,7/1.00.000 penderita.

11
5. Herpes Zoster
Komplikasi yang lambat dari varisela yaitu timbulnya herpes zoster, timbul
beberapa bulan hingga tahun setelah terjadi infeksi primer. Varisela zoster
virus menetap pada gangguan sensoris.
6. Reye syndrom
Ditandai dengan fatty liver dengan ensephalopati. Keadaan ini berhubungan
dengan pengguna aspirin, tetapi setelah digunakan asetaminopen (anti piretik)
secara luas, kasus reye syndrom mulai jarang ditemukan.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium
1) Tzank smear
Preparat di ambil dari dicreaping dasar fesikel yang masih baru. Kemudian
di warnai dengan pewarnaan yaitu hematoxylin-eosin, giemsa’s, wright’s,
toluidine blue ataupun papanicolaous’s. Dengan mikroskop cahaya akan
dijumpai multinucleated giant cell.
 Pemeriksaan ini sensifitasnya sekitar 84%
 Tes ini tidak dapat membedakan antara virus varicella zoster dengan
herpes simpleks virus.
2) Direct Flourescent Assay (DFA)
 Preparat di ambil dari scraping dasar fesikel tetapi apabila sudah berbentuk
krusta pemeriksaan dengan DFA kurang sensitif.
 Hasil pemeriksaan cepat.
 Membutuhkan mikroskop fluorecence.

12
 Tes ini dapat menemukan antigen virus varisella.
 Pemeriksaan ini dapat membedakan antara varisella zoster virus dengan
herpes simpleks virus.
3) Polymerase chain rection (PCR)
 Pemeriksaan dengan metode ini sangat cepat dan sensitif.
 Dengan metode ini dapat digunakan berbagai jenis preparat seperti
scraping dasar fesikel dan apabila sudah berbentuk krusta dapat juga
digunakan sebagai preparat dan CSF.
 Sensitfitasnya 97-100%.
 Tes ini dapat menemukan nucleus acid dari virus varisella zoster.

G. PENATALAKSANAAN
Pada anak imunokompeten, biasanya tidak diperlukan pengobatan yang
spesifik dan pengobatan yang diberikan bersifat simtomatis yaitu :
 Lesi masih berbentuk vesikel, dapat diberikan bedak agar tidak mudah
pecah
 Vesikel yang sudah pecah atau sudah terbentuk krusta, dapat diberkan
salap antiboitik untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.
 Dapat diberikan antipiretik dan analgesik, tetapi tidak boleh golongan
salisilat (aspirin) untuk menghindari terjadinya sindrome reye
 Kuku jari tangan harus dipotong untuk mencegah terjadinya infeksi
sekunder akibat garukan.
- Obat antivirus
 Pemberian antivirus dapat mengurangi lama sakit, keparahan dan waktu
penyembuhan akan lebih singkat.

13
 Pemberian antivirus sebaiknya dalam jangka waktu kurang dari 48-72 jam
setelah erupsi dikulit muncul
 Golongan antivirus yang dapat diberikan yaitu asiklovir, valasiklovir dan
famasiklovir.
 Dosis antivirus (oral) untuk pengobatan varisela dan herpes zoster :
 Neonatus : Asiklovir 500 mg/m2 IV setiap 8 jam selama 10 hari.
 Anak (2-12 tahun) : asiklovir 4 x 20 mg/kg BB/hari/oral selama 5 hari
- Pubertas dan dewasa :
 Asiklovir 5 x 800 mg/hari/oral selama 7 hari
 Valasiklovir 3 x 1 gr/hari/oral selama 7 hari
 Famasiklovir 3 x 500 mg/hari/oral selama 7 hari

H. PENCEGAHAN
Pada anak imunokompeten yang telah menderita varisella tidak
diperlukan tindakan pencegahan, tetapi tindakan pencegahan ditujukan pada
kelompok yang beresiko tinggi untuk menderita varicella yang fatal seperti
neonatus, pubertas ataupun orang dewasa, dengan tujuan mencegah ataupun
mengurangi gejala varicella.
Tindakan pencegahan yang dapat diberikan yaitu:
1. Imunisasi pasif
 Menggunakan VZIG (Varicella zozter immunoglobulin).
 Pemberiannya dalam waktu 3 hari (kurang 96 jam) setelah terpajan VZV,
pada anak-anak imunokompeten terbukti mencegah varicella sedangkan
pada anak-anak imunokompromais pemberian VZIG dapat meringankan
gejala varicella.

14
 VZIG dapat diberikan pada yaitu:
- Anak-anak yang berusia <15 tahun yang belum pernah menderita
varicella zoster atau herpes zoster.
- Usia pubertas <15 tahun yang belum pernah menderita varicella zoster
atau herpes zoster dan tidak mempunyai antibodi terhadap VZV.
- Bayi yang baru lahir , dimana ibunya menderita varicella dalam kurun
waktu 5 hari sebelum atau 48 jam setelah melahirkan.
- Bayi premature dan bayi usia ≤ 14 hari yang ibunya belum pernah
menderita varicella atau herpes zoster.
 Anak – anak yang menderita leukimia tau lymphoma yang belum pernah
menderita varicella. Dosis : 125 U/10 kg BB.
- Dosis minimum : 125 U dan dosis maximal : 625 U.
 Pemberian secara IM tidak diberikan IV.
 Perlindungan yang dapat bersifat sementara.
2. Imunisasi aktif
 Vaksinasi yang menggunakan vaksin varicella virus (oka strain) dan
kekebalan yang didapat bertahan hingga 10 tahun.
 Digunakan di Amerika sejak tahun 1995.
 Daya proteksi melawan varicella berkisar antara 71-100%.
 Vaksin efektif jika diberikan pada umur ≥ 1 tahun dan direkomendasikan
diberikan pada usia 12-18 bulan.
 Anak yang berusia ≤ 13 tahun ya g tidak menderita varicella
direkimendasikan diberikan dosis tunggal dan anak lebih tua diberikandalam
2 dosis dengan jarak 4-8 minggu.
 Pemberian secara subcutan.

15
 Efek samping : kadang-kadang timbul demam ataupun reaksi local seperti
ruam makulopapular atau vesikel, terjadi pada 3-5% anak-anak dan timbul
10-21 hari setelah pemberian pada lokasi penyuntikan.
 Vaksin varicella : varivax.
 Tidak boleh diberikan pada wanita hamil oleh karena dapat
menyebabkan terjadinya konginetal varicella.

I. FAKTOR RESIKO
Siapapun yang belum menderita cacar air atau divaksinasi sebelumnya
dapat menderita cacar air. Orang yang mempunyai riwayat cacar mungkin
sekali mempunyai kekebalan terhadap virus tersebut. Bahkan orang dewasa
yang tidak mempunyai riwayat cacar air mungkin mempunyai kekebalan
(karena infeksi yang ringan sebelumnya). Dokter sering melakukan tes darah
untuk menentukan apakah orang ini memerlukan vaksinasi.

16
SOP PEMASANGAN INFUS
A. Persiapan Alat
1. Baki beserta alasnya
2. Standar Infus
3. Set infus
4. Cairan sesuai program medik
5. Jarum kateter / Abbochat
6. Pengalas
7. Torniket
8. Kapas alkohol 70%
9. Plester
10.Gunting
11.Kasa steril
12.Sarung tangan
13.Bengkok
14.Spuit 3 cc (tanpa jarum berisi larutan NaCl 0,9%
15.Baskom berisi larutan klorin 0,5%
16.Lembar catatan
17.Tempat sampah kering
18.Tempat sampah basah
19.Tempat sampah benda tajam
B. Persiapan Diri
Memakai APD (Alat Pelindung Diri)

17
C. Pelaksanaan
1. Memberitahukan klien mengenai tindakan yang akan dilakukan
2. Mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir
3. Mengatur peralatan dan membuka kemasan steril dan buang kemasan
di tempat sampah kering
4. Memasang klem rol sekitar 2-4 cm di bawah bilik drip
5. Menusukan set infuske dalam botol cairan
6. Menusukan set infus dengan menekan bilik drip dan membuka klem
rol
7. Memakai sarung tangan yang bersih
8. Memilih vena yang akan ditusuk
9. Meletakan torniquet 10-12 cm diatas (proximal) tempat yang akan
ditusuk
10.Membersihkan tempat penusukan dengan gerakan memutar
menggunakan kapas alkohol
11.Memegang jarum dengan sudut 20-30 derajat dengan tangan yang
dominan
12.Menahan vena yang ditusuk 2-3 cm dibawah tempat penusukan
dengan tangan non dominan lalu menusukan jarum perlahan-lahan
13.Pastikan masuk pembuluh darah vena, ditandai darah keluar dari
jarum
14.Menarik sedikit jarum dan memasukan sisa abbochat yang belum
masuk sampai batas.

18
15.Menekan abbochat (dari luar) sambil menarik jarum hingga keluar
seluruhnya, pastikan plester kupu-kupu pada daerah tusukan untuk
mencegah jarum abbochat keluar.
16.Melepaskan tabung suntik dan menghubungkan pangkal abbochat
dengan ujung selang infus
17.Membuka klem rol dan memastikan infus dapat menetes dengan baik
18.Menstabilisasi kateter IV dengan plester
19.Mengatur kecepatan aliran sesuai kebutuhan
20.Membilas darah yang ada pada tabung elstik dengan menggunakan
spuit yang berisi larutan NaCl 0,9%
21.Membereskan alat
22.Melepaskan sarung tangan dan mencuci tangan
23.Mencatat di lembar tindakan (tanggal, jam pemasangan, jenis cairan
dan kecepatan tetesan).
D. Hal-hal yang harus diperhatikan
Ruangan harus terang, sesuaikan abbochat yang akan digunakan dengan
pasien.

19
SOP INJEKSI SKIN TEST IC
Pesiapan alat untuk injeksi intracutan (IC)

 Buku daftar pemberian obat pasien


 handscun atau sarung tangan steril disposible
 spuit insulin 1ml dengan ukuran 2,5 - 2,7dengan panjang jarum 1/4 - 5/8
inci
 bak instrumen
 bengkok
 kom kecil
 kapas alkohol atau desinfektan yang bukan alergen
 obat dalam vial atau ampul
 pena atau alat tulis

persiapan pasien untuk injeksi intracutan (IC)

 identifkasi pasien dengan prinsip 5 B : benar obat, benar dosis, benar


pasien, cara pemberian dan waktu.
 kaji riwayat alergi
 jelaskan prosedur yang akan dilakukan
 pasang sampiran atau jaga privacy pasien
 atur posisi pasien senyaman mungkin

20
Prosedur Pelaksanaan injeksi intracutan (IC)

 cuci tangan
 identifkasi pasien dengan prinsip 5 B : benar obat, benar dosis, benar
pasien, cara pemberian dan waktu.
 pasang handscun
 hisap obat yang akan diberikan dari dalam ampul atau vial ke dalam spuit
yang telah tersedia sesuai kebutuhan

 tentukan lokasi yang akan diinjeksi, dilengan bawah : bagian depan lengan
bawah sepertiga dari lekukan siku pada kulit yang sehat, jauh dari pembuluh
darah untuk mantoux, dan lengan atas : tiga jari dibawah sendi bahu ditengah
- tengah daerah muskulus deltoideus untuk BCG.

 bersihkan area penusukan dengan kapas alkohol atau dengan desinfektan


non alergen dengan cara sirkulen dari arah dalam keluar.
 pegang kapas alkohol atau desinfektan non alergen dengan tangan non
dominan
 buka tutup jarum
 dengan ujung jarum menghadap keatas tusukkan jarum injeksi dengan
sudut 15 - 20 derajat terhadap permukaan kulit
 masukkan obat secara perlahan
 cabut jarum sesuai dengan sudut masuknya
 tidak dilakukan pengurutan
 usap daerah dengan pelan menggunakan kapas alkohol jangan ditekan.

21
 pada tahap ini selesai untuk melakukan injeksi intracutan dengan tujuan
BCG
 namun untuk mantoux buat lingkaran pada bula hasil injeksi dengan
menggunakan alat tulis dengan diamter 5cm.
 observasi kulit terhadap reaksi kemerahan dan bengkak, atau reaksi
sistemik (10 - 15 menit)
 kembalikan posisi klien
 bereskan alat
 lepaskan handskun
 cuci tangan

Terminasi

 Evaluasi pelaksanaan prosedur


 catat tindakan dan hasil tindakan dalam catatan keperawatan
 lihat reaksi obat dalam waktu 10 - 15 menit
 catat reaksi obat setelah dievaluasi

22
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Infeksi VZV dapat menyebabkan dua jenis penyakit yaitu varicella dan
herpes zoster. Varicella sering dijumpai pada anak-anak sedangkan herpes lebih
sering dijumpai pada usia yang lebih tua. Penanganan yang tepat dari ke dua
penyakit diatas dapat mencegah timbulnya komplikasi yang berat pada anak-
anak, dapat mencegah dan mengurangi gejala penyakit yang timbul.

B. Saran
Varisela merupakan salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh virus
varisela zoster, penyakit ini dapat dicegah dengan cara imunisasi yang terdiri dari
imunisasi aktif dan pasif. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa orang yang
belum pernah mengalami penyakit ini dapat terserang dan orang yang sudah
terkena penyakit ini dapat terserang untuk kedua kalinya dengan tanda dan gejala
yang lebih parah.

23
DAFTAR PUSTAKA

Etjana, Indah. Mikrobiologi dan patofisiologi untuk akademi


keperawatan.2001.Bandung: PT. Citra Aditya Bakti
Mandal, Wilkins, dan Dunbar. 2000. Lecture Notes : penyakit Infeksi edisi ke enam.
Jakarta: Erlangga
Mansjoer, Arif dkk. 2011. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta: Media
Aeskulapius
Http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3425/1/08E00895.pdf
http://medicastore.com/penyakit/38/Cacar_Air.html
http://www.infokedokteran.com/info-obat/diagnosis-dan-penatalaksanaan-pada-
penyakit-varisela.html

24
25