Anda di halaman 1dari 23

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang

dinamis dan sarat perkembangan. Oleh karena itu, perubahan atau perkembangan

pendidikan adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan

budaya kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan pada semua

tingkat perlu terus-menerus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan.

Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang

adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi siswa, sehingga yang

bersangkutan mampu memecahkan masalah kehidupan yang dihadapinya.

Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun kompetensi siswa. Konsep

pendidikan tersebut terasa semakin penting ketika seseorang harus memasuki

kehidupan di masyarakat dan dunia kerja, karena yang bersangkutan harus mampu

menerapkan apa yang dipelajari di sekolah untuk menghadapi masalah yang

dihadapi dalam kehidupan sehari-hari saat ini maupun yang akan datang.

Menurut Al-Tabany (2014:7) kenyataan di lapangan, siswa hanya

menghafal konsep dan kurang mampu menggunakan konsep itu jika menemui

masalah dalam kehidupan nyata yang berhubungan dengan konsep yang dimiliki

lebih jauh lagi, bahkan siswa kurang mampu menentukan masalah dan

merumuskannya. Berbicara mengenai proses pembelajaran dan pengajaran yang

sering membuat kita kecewa, apalagi dikaitkan dengan pemahaman siswa

terhadap materi. Walaupun demikian kita menyadari bahwa ada siswa yang

1
mampu memiliki tingkat hafalan yang baik terhadap materi yang diterimanya,

namum kenyataan mereka kurang memahami dan mengerti secara mendalam

pengetahuan yang bersifat hafalan itu (Depdiknas 2002).

Belajar secara umum diartikan sebagai perubahan pada individu yang

terjadi melalui pengalaman, dan bukan karena pertumbuhan atau perkembangan

tubuhnya atau karakteristik seseorang sejak lahir. Manusia banyak belajar sejak

lahir dan bahkan ada yang berpendapat sebelum lahir. Bahwa antara belajar dan

perkembangan sangat erat kaitannya. Pembelajaran merupakan interksi dua arah

dari seorang guru dan peserta didik, di mana antara keduanya terjadi komunikasi

(transfer) yang intens dan terarah menuju pada suatu target yang telah ditetapkan

sebelumnya (Al-Tabany, 2014:18).

Untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik maka berdasarkan

pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan

kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat

dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa. Pendidikan bertujuan untuk

mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan

bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap,

kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung

jawab.

Pada dasarnya tujuan akhir pembelajaran adalah menghasilkan siswa yang

memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam memecahkan masalah yang

dihadapi kelak di masyarakat. Untuk menghasilkan siswa yang memiliki

2
kompetensi yang andal dalam pemecahan masalah, maka diperlukan serangkaian

strategi pembelajaran pemecahan masalah. Menurut Gagne (Wena, 2014:52)

pemecahan masalah dipandang sebagai suatu proses untuk menemukan kombinasi

dari sejumlah aturan yang dapat diterapkan dalam upaya mengatasi situasi baru.

Pemecahan masalah tidak sekedar sebagai bentuk kemampuan menerapkan

aturan-aturan yang telah dikuasai melalui kegiatan-kegiatan belajar terdahulu,

melainkan lebih dari itu, merupakan proses untuk mendapakan seperangkat aturan

pada tingkat yang lebih tinggi. Apabila seseorang telah mendapatkan suatu

kombinasi perangkat aturan yang terbukti dapat dioperasikan sesuai dengan

situasi yang sedang dihadapi maka ia tidak saja dapat memecahkan suatu masalah,

melainkan juga berhasil menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang dimaksud

adalah perangkat prosedur atau strategi yang memungkinkan seseorang dapat

meningkatkan kemandirian dalam berpikir. Oleh karena itu, kemampuan

pemecahan masalah sangat penting artinya bagi siswa dan masa depannya. Para

ahli pembelajaran sependapat bahwa, kemampuan pemecahan masalah dalam

batas-batas tertentu, dapat dibentuk melalui studi dan disiplin ilmu yang diajarkan

Suharsono (Wena, 2014:53).

Namun kenyataan jauh dari harapan, kemampuan siswa dalam pemecahan

masalah matematika masih rendah. Siswa mengalami kesulitan dalam

memecahkan masalah matematika. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengamatan dan

wawancara dengan salah satu siswa dan guru di SMP IBA Palembang,

menggambarkan banyak siswa kesulitan dalam memecahkan masalah matematika

yang apabila soal diubah bentuknya dari contoh yang diberikan, siswa mulai

kesulitan untuk menyelesaikanya. Misalnya untuk pelajaran matematika pada

3
semester genap yaitu persegipanjang dan persegi, bahwa masih banyak kesalahan

yang dilakukan siswa dari tahun ke tahun dalam menjawab soal-soal yang

berhubungan dengan pemecahan masalah.

Untuk mengatasi masalah-masalah pembelajaran tersebut, maka diperlukan

model pembelajaran yang tepat supaya siswa tertarik dan semangat dalam belajar

matematika. Sehingga dapat meningkatkan keaktifan dan memotivasi siswa serta

mempertajam kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Salah satu

model pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan pemecahan

masalah matematika adalah model pembelajaran Contextual Teaching and

Learning (CTL). Pembelajaran dengan penerapan Contextual Teaching and

Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan

antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong

siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan

penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (Al-Tabany, 2014:140).

Menurut Shoimin (2014:42), pembelajaran Contextual Teaching and

Learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara

materi yang diajarkannya dari situasi dunia nyata siswa serta mendorong siswa

membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya

dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan hasil peneliti yang dilakukan Yulia dan Nencita (2014)

menjelaskan penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning

(CTL) membuat siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran. Lebih lanjut dari

hasil penelitian Winarti menjelaskan bahwa pembelajaran dengan Contextual

4
Teaching and Learning (CTL) mampu meningkatkan kemampuan berpikir kreatif

yaitu berpikir lancar, fleksibel, orisinalitas, dan evaluasi.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching and

Learning (CTL) untuk Mengetahui Kemampuan Pemecahan Masalah

Matematis Siswa di Kelas VII SMP IBA Palembang”

1. 2 Masalah Penelitian

1. 2.1 Pembatasan Lingkup Masalah

Supaya peneliti lebih fokus dan tidak meluas dari permasalahan yang

dimaksud, maka penulis membatasinya pada ruang lingkup peneliti sebagai

berikut :

a. Kemampuan pemecahan masalah yang dimaksud adalah kompetensi yang

ditujukkan siswa dalam memahami, memilih, pendekatan dan strategi

pemecahan, dan menyelesaikan model untuk penyelesaian masalah.

b. Materi peneliti ini adalah menghitung keliling dan luas persegi panjang dan

persegi.

c. Subjek dalam peneliti ini adalah siswa kelas VII 1 SMP IBA Palembang

semester genap tahun Tahun Pelajaran 2016/2017.

1.2.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, hal utama yang

menjadi pokok perhatian dalam penelitian ini adalah

5
1. Bagaimana penerapan Model Pembelajaran Contexstual Teaching And

Learning (CTL) di Kelas VII SMP IBA Palembang?

2. Bagaimana kemampuan pemecahan masalah matematis siswa setelah

diterapkan Model Pembelajaran Contexstual Teaching And Learning

(CTL) di Kelas VII SMP IBA Palembang?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang disebutkan pada bagian

rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk melihat penerapan Model Pembelajaran Contexstual Teaching And

Learning (CTL) di Kelas VII SMP IBA Palembang.

2. Untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah matematis siswa

setelah diterapkan Model Pembelajaran Contexstual Teaching And

Learning (CTL) di Kelas VII SMP IBA Palembang.

1.4 Manfaat penelitan

Adapun manfaat yang diharapkan dari peneliti ini adalah sebagai berikut :

a. Bagi guru :

Membantu guru dalam menciptakan suatu kegiatan belajar yang menarik

dan memberikan alternatif model pembelajaran yang dapat dilakukan guru

dalam proses pembelajaran.

b. Bagi siswa :

a. Dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan pemecahan

masalah matematis yang dipelajari.

6
b. Pelaksanaan Model Pembelajaran Contexstual Teaching And Learning

(CTL) diharapkan meningkatkan motivasi dan daya tarik siswa terhadap

mata pelajaran matematika.

7
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Hakikat Belajar dan Pembelajaran Matematika

Belajar secara umum diartikan sebagai perubahan pada individu yang

terjadi melalui pengalaman, dan bukan karena pertumbuhan atau perkembangan

tubuhnya atau karakteristik seseorang sejak lahir. Manusia banyak belajar sejak

lahir dan bahkan ada yang berpendapat sebelum lahir. Bahwa antara belajar dan

perkembangan sangan erat kaitannya. Pembelajaran merupakan interksi dua arah

dari seorang guru dan siswa, di mana antara keduanya terjadi komunikasi

(transfer) yang intens dan terarah menuju pada suatu target yang telah ditetapkan

sebelumnya (Al-Tabany, 2014:18). Menurut Susanto (2013:185) pembelajaran

merupakan komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai

pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh siswa. Konsep pembelajaran menurut

adalah suatu proses di mana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk

memungkinkan ia turut serta dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan

respons terhadap situasi tertentu.

Pembelajaran matematika adalah suatu proses belajar mengajar yang

dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir siswa yang dapat

meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan

mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasa yang

baik terhadap materi matematika. Pembelajaran matematika merupakan suatu

proses belajar mengajar yang mengandung dua jenis kegiatan yang tidak

terpisahkan. Kegiatan tersebut adalah belajar dan mengajar. Kedua aspek ini akan

8
berkolaborasi secara terpadu menjadi suatu kegiatan pada saat terjadi interaksi

antara siswa dengan guru, antara siswa dengan siswa, dan antara siswa dengan

lingkungan di saat pembelajaran matematika sedang berlangsung Susanto

(2013:187). Dengan demikian belajar dan pembelajaran adalah suatu rangkaian

kegiatan yang di dalamnya terdapat proses dan upaya untuk merubah tingkah laku

dan memperoleh pengetahuan melalui latihan dan pengalaman sebagai akibat dari

berinteraksi terhadap lingkungan dengan serangkaian mengamati, membaca, dan

mendengarkan.

2.2 Pembelajaran Matematika

Matematika merupakan salah satu bidang studi yang ada pada semua

jenjang pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tingggi.

Bahkan matematika diajarkan ditaman kanak-kanak secara informal. Belajar

matematika menurut Susanto (2013:183) merupakan suatu syarat cukup untuk

melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Karena dengan belajar

matematika, kita akan belajar bernalar secara kritis, kreati, dan aktif. Matematika

merupakan ide-ide abstrak yang berisi simbol-simbol, maka konsep-konsep

matematika harus dipahami terlebih dahulu sebelum manipulasi simbol-simbol

itu.

Standar kompetensi matematika di sekolah menengah pertama untuk

mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan

masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan mengggunakan

simbol, tabel, diagram, dan media lain. Pendekatan pemecahan masalah

merupakan fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup masalah

9
tertutup dengan sosial tunggal , masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan

masalah dengan berbagai cara penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan

memecahan masalah, membuat model matematika, menyelesaikan masalah, dan

menafsirkan solusinya.

2.3 Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

Menurut Al-Tabany (2014:140), Model pembelajaran Contextual Teaching

and Learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan

antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong

siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan

penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen

utama pembelajaran kontekstual, yakni : kontruktivisme (constructivism),

bertanya (questioning), inkuiri (inquiry), masyarakat belajar (learning

community), pemodelan (modelling), refleksi (reflection) dan penilaian autentik

(authentic assessment). Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang

diajarkannya dari situasi dunia nyata siswa serta mendorong siswa membuat

hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam

kehidupan sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran

efektif, yakni kontrutivisme (constructivism), bertanya (questing), menemukan

(inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modelling),

refleksi (reflection) dan penelitian sebenarnya ( authentic assessment) (Shoimin,

2014:42).

10
Menurut Nurhadi (Rusman, 2012:189) pembelajaran Contextual Teaching

and Learning (CTL) merupkan konsep belajar yang dapat membuat guru

mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan

mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya

dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan

masyarakat. Menurut Johnson (Rusman, 2012:192) sistem Contextual Teaching

and Learning (CTL) mencakup delapan komponen berikut ini :

1. Menjalin hubungan-hubungan yang bermakna

2. Mengerjakan pekerjaan yang berarti

3. Melakukan prose belajar yang diatur sendiri

4. Mengadakan kolaborasi

5. Berpikir kritis dan kreatif

6. Memberikan layanan secara individual

7. Mengupayakan pencapaian standar yang tinggi

8. Menggunakan asesmen auntentik

Prinsip saling-bergantung mengajak para pendidik mengenali keterkaitan

mereka dengan pendidik lainya, prinsip ini meminta mereka membangun

hubungan dalam semua yang mereka lakukan, artinya dengan bekerja sama, para

siswa terbantu dalam menemukan persoalan, merancang rencana, dan mencari

pemecahan masalah serta dapat membantu mereka pada keberhasilan. Prinsip

pengorganisasian diri terlihat ketika peserta didik mencari dan menemukan

kemampuan dan minat mereka sendiri yang berbeda, serta mengulas usaha-usaha

mereka yang dijadikan sebagai tuntunan dan memiliki tujuan yang jelas.

11
2.3.1 Komponen Contextual Teaching and Learning (CTL)

1. Constructivisme (Konstruktivisme)

Asas ini berasumsi bahwa membangun pemahaman dilakukan sendiri oleh

dari pengalaman baru berdasarkan pada pengetahuan awal. Oleh karena itu,

pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan

menerima pengetahuan.

2. Inquiry (Menemukan)

Asas ini berasumsi bahwa proses perpindahan dari pengamatan adalah

menjadi pemahan. Oleh karena peserta didik belajar menggunakan

keterampilan berpikir kritis.

3. Questioning (Bertanya)

Asas ini berasumsi bahwa kegiatan guru untuk mendorong, membimbing

dan menilai kemampuan berpikir peserta didik. Dengan demikian peserta

didik merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry.

4. Learning Community (Masyarakat Belajar)

Asas ini berasumsi bahwa belajar adalah terdiri dari sekelompok orang yang

terkait dalam kegiatan belajar, bekerja sama dengan orang lain lebih baik

dar ipada belajar sendiri, bertukar pengalaman, dan berbagi ide.

5. Modelling (Pemodelan)

Asas ini berasumsi bahwa proses penampilan suatu contoh adalah penting,

supaya orang lain berpikir, bekerja dan belajar, serta mengerjakan apa yang

guru inginkan supaya peserta didik mengerjakannya.

12
6. Reflection (Refleksi)

Asas ini berasumsi bahwa seseorang mempunyai cara berpikir tentang apa

yang telah dipelajari, mencatat apa yang telah dipelajari, dan membuat

jurnal, karya seni, diskusi kelompok.

7. Authentic Assessment (Penilaian Yang Sebenarnya)

Asas ini berasumsi bahwa kegiatan kontekstual dalam assessment adalah

mengukur pengetahuan dan keterampilan peserta didik, penilaian produk

(kinerja), dan tugas yang relevan dan kontekstual.

2.3.2 Karakteristik Contextual Teaching and Learning (CTL)

Karakteristik-karateristik Contextual Teaching and Learning (CTL)

meliputi :

1. Kerja sama

2. Saling menunjang

3. Menyenangkan, tidak membosankan

4. Belajar dan bergairah

5. Pembelajaran teintegrasi

6. Menggunakan berbagai sumber

7. Siswa aktif

8. Shering dengan teman

9. Siswa kritis guru kreatif

10. Dinding kelas penuh dengan hasil karya siswa (peta-peta, gambar, artikel)

11. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa,

hasil dari karangan siswa, hasil praktikum, dan lain-lain.

13
2.3.3 Tahap –Tahap Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning

(CTL)

Shoimin (2014:43) Model pembelajaran Contextual Teaching and Learning

(CTL) terdidi dari tiga tahap. Adapun tahap-tahap dalam penggunaan model

pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagai berikut :

a. Kegiatan Awal

 Guru menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti

proses pembelajaran.

 Apersepsi sebagai penggalian pengetahuan awal siwa terhadap materi yang

akan dianjurkan.

 Guru menyampaikantujuan pembelajaran dan pokok-pokok materi yang

akan dipelajari.

 Penjelasan tentang pembagian kelompok dan cara belajar.

b. Kegiatan Inti

 Siswa bekerja dalam kelompok menyelesaikan permasalahan yang diajukan

guru. Guru mengelilingi untuk memandu proses penyelesaian permasalahan.

 Siswa wakil kelompok mempresentasikan hasil penyelesaian dan alasan atas

jawaban permasalahan yang diajukan guru.

 Siswa dalam kelompok meyelesaikan lembar kerja yang diajukan guru.

Guru mengelilingi untuk mengamati, memotivasi, dan memfasilitasi kerja

sama.

 Siswa wakil kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompok dan

kelompok yang lain menanggapi hasil kerja kelompok yang mendapat tugas.

14
 Dengan mengacu jawaban siswa, melalui tanya jawab, guru dan siswa

membahas cara penyelesaian masalah yang tepat.

 Guru mengadakan refleksi dengan menanyakan kepada siswa tentang hal-

hal yang dirasakan siswa, materi yang belum dipahami dengan baik, kesan

dan pesan selama mengikuti pembelajaran.

c. Kegiatan Akhir

 Guru dan siswa membuat kesimpulan cara menyelesaikan soal cerita

perkalian bilangan.

 Siswa mengerjakan lembar tugas.

 Siswa menukarkan lembar tugas satu dengan yang lain, kemudian guru

bersama siswa membahas penyelesaian lembar tugas sekaligus memberi

nilai pada lembar tugas sekaligus kesepakatan yang telah diambil (ini dapat

dilakukan apabila waktu masih tersedia).

2.3.4 Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Contextual Teaching

and Learning (CTL)

Menurut Shoimin (2014:44), model pembelajaran Contextual Teaching and

Learning (CTL) memiliki kelebihan dan kelemahan sebagai berikut :

 Kelebihan

a. Penjelasan kontekstual dapat menekankan aktivitas berpikir siswa secara

penuh, baik fisik maupun mental.

b. Pembelajaran kontekstual dapat menjadikan siswa belajar bukan dengan

menghafal, melainkan proses pengalaman dalam kehidupan nyata.

15
c. Kelas dalam kontekstual bukan sebagai tempat untuk memperoleh

informasi, melainkan sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan

mereka di lapangan.

 Kelemahan

Penerapan pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang

kompleks dan sulit dilaksanakan dalam konteks pembelajaran, selain juga

membutuhkan waktu yang lama.

2.4 Kemampuan Pemecahan Masalah

Menurut Killen (Susanto, 2013:197) pemecahan masalah sebagai strategi

pembelajaran adalah suatu teknik di mana masalah digunakan secara langsung

sebagai alat untuk membantu siswa memahami materi pelajaran yang sedang

mereka pelajari. Dengan pendekatan masalah ini siswa dihadapkan pada berbagai

masalah yang dijadikan bahan pembelajaran secara langsung supaya siswa

menjadi peka dan tanggap terhadap semua persoalan yang dihadapi siswa dalam

kehidupansehari-harinya. Sejalan dengan hal tersebut, Susanto (2013:196)

mendefinisikan kemampuan pemecahan masalah merupakan kegiatan yang

mendorong berkembangnya pemahaman dan penghayatan siswa terhadap prinsip,

nilai dan proses matematika yang akan membuka jalan bagi tumbuhnya daya

nalar, berpikir logis, sistematis, kritis, dan kreatif.

Meskipun kemampuan pemecahan masalah merupakan kemampuan yang

tidak mudah dicapai, namun pentingnya kemampuan ini dalam pembelajaran

matematika hendaknya dapat diajarkan kepada siswa pada setiap tingkatan.

16
Berhubungan dengan hal tersebut, Russeffendi (Sari, 2014:14) memberikan

beberapa alasan soal-soal tipe pemecahan masalah diberikan kepada siswa, yaitu :

1. Dapat menimbulkan keinginan dan adanya motivasi, menumbuhkan sifat

kreatif.

2. Disamping memiliki pengetahuan dan keterampilan (berhitung dan lain-

lain), diisyaratkan adanya kemampuan untuk terampil membaca dan

membuat pernyatan yang benar.

3. Dapat menimbulkan jawaban asli, baru, khas, dan beraneka ragam serta

dapat menambah pengetahuan baru.

4. Dapat meningkatkan aplikasi dari ilmu pengetahuan yang sudah

diperolehnya.

5. Mengajak siswa memiliki prosedur pemecahan masalah, mampu membuat

analisis dan sinesis, dan dituntut untuk membuat evaluasi terhadap hasil

pemecahannya.

6. Merupakan kegiatan yang penting bagi siswa yang melibatkan bukan saja

satu bidang studi tetapi mungkin bidang atau pelajaran lain.

Menurut Mawaddah (Hamzah, 2014:170) menyebutkan ada empat langkah

dalam pembelajaran pemecahan masalah, yaitu :

1. Memahami masalah, langkah ini meliputi :

a. Menyebutkan apa yang diketahui tanpa menyebutkan apa yang

ditanyakan atau sebaliknya

b. Menyebutkan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan tapi kurang

tepat

c. Menyebutkan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan secara tepat

17
2. Merencanakan penyelesaian, langkah ini terdiri dari :

a. Merencanakan penyelesaian dengan membuat gambar berdasarkan

masalah tetapi gambar kurang tepat

b. Merencanakan penyelesaian dengan membuat gambar berdasarkan

masalah secara tepat

3. Melaksanakan rencana, langkah ini menekankan pada pelaksanaan rencana

penyelesaian yang meliputi :

a. Melaksanakan rencana dengan menuliskan jawaban tetapi jawaban salah

atau hanya sebagian kecil jawaban benar

b. Melaksanakan rencana dengan menuliskan jawaban setengan atau

sebagian besar jawaban benar

c. Melaksanakan rencana dengan menuliskan jawaban dengan lengkap dan

benar

4. Menafsirkan hasil yang diperoleh, langkah ini terdiri dari :

a. Menafsirkan hasil yang diperoleh dengan membuat kesimpulan tetapi

kurang tepat

b. Menafsirkan hasil yang diperoleh dengan membuat kesimpulan secara

tepat

Dengan demikian strategi pemecahan masalah dapat memengaruhi proses

berpikir seseorang dalam memperoleh ide-ide baru yang berguna untuk

pemecahan masalah.

18
2.5 Sajian Materi Segi Empat di SMP dengan Pemecahan Masalah

Segi empat adalah poligon bidang yang berbentuk dari empat sisi yang

saling berpotongan pada satu titik (Nuh, 2014:7). Materi bangun segi empat di

SMP meliputi persegi, persegi panjang, jajargenjang, belah ketupat, layang-

layang, dan trapesium. Adapun diagram segi empat di gambarkan sebagai berikut

Segi Empat

Sembarang Trapesium Layang-layang Jajargenjang

Belah Ketupat Persegi Panjang

Persegi

Gambar 2.1

Akan tetapi pembatasan yang dibahas oleh peneliti yaitu :

1. Persegi panjang

Persegi panjang adalah segi empat yang keempat sudutnya siku-siku, dengan

setiap pasang sisi yang berhadapan sejajar dan sama panjang. Sifat-sifat persegi

19
panjang adalah a) sisi yang berhadapan sama panjang dan sejajar, b) keempat

sudutnya siku-siku, c) diagonal saling membagi dua sama panjang. Luas persegi

panjang dengan panjang = p dan lebar = l, berlaku Luas = p × l.

2. Persegi

Persegi adalah segi empat yang keempat sisinya sama panjang dan keempat

sudutnya siku-siku, atau persegi adalah belah ketupat yang salah satu sudutnya

siku-siku atau, persegi adalah persegi panjang yang dua sisi yang berdekatan sama

panjang. Luas persegi panjang dengan sisi = s, berlaku L = sisi × sisi. Berikut

adalah contoh soal kemampuan pemecahan masalah matematis berdasarkan

indikatornya :

1. Perhatikan gambar dibawah ini :

Sumber: Taman Bunga Nusantara Cipanas, (2017)

Gambar 2.2

Sebuah taman bunga berbentuk persegi panjang dengan ukuran panjang 70 m dan

lebar 50 m. Disekelilingi taman tersebut akan dibuat tembok seperti gambar di

atas. Biaya pembentukan tembok permeter R P . 100.000,00. Tentukan besar biaya

untuk membuat tembok tersebut ?

20
2.6. Hubungan Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning

(CTL) Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa

Menurut Hosnan (2014:267), pembelajaran Contextual Teaching and

Learning (CTL) konsep belajar di mana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam

kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang

dimilikinya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh

pengetahuan dan keterampilannya dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit,

dan dari proses mengkontruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah

dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.

Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) ini menempatkan

siswa sebagai pusat pembelajaran sedangkan guru hanya mengelola kelas sebagai

sebuah tim yang bekerja bersama untuk menempatkan pengetahuan dan

keterampilan yang baru bagi siswa.

Kemampuan pemecahan masalah matematis penting untuk mengetahui dan

menyelesaikan masalah matematika. Kemampuan untuk memecahkan masalah

menjadikan siswa dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya. Dengan

demikian, siswa diharapkan agar lebih memahami materi pelajaran dan melatih

kemampuan pemecahan masalah matematis, sebab pada model pembelajaran

Contextual Teaching and Learning (CTL) berdasarkan kemampuan pemecahan

masalah matematis siswa dituntuk untuk terlibat secara aktif dan dilatih untuk

mengasah kemampuan pemecahan masalah matematis dalam proses pembelajaran

matematika.

21
2.7 Kajian Terdahulu yang Relevan

Beberapa hasil kajian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini

memberikan hasil yang baik, sebelumnya pernah dilakukan oleh Mulyani (2014),

Shalli (2015), dan Laili (2015).

1. Penelitian Mulyani (2014) dengan sampel kelas VII.2 SMP Negeri 55

Palembang dan salah satu kesimpulannya adalah hasil belajar siswa pada

pertemuan pertama dengan pokok bahasan jenis segitiga ditinjau dari

panjang sisi-sisinya nilai rata-rata siswa 69,52. Pada pertemuan kedua nilai

hasil belajar siswa terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis

siswa yaitu 66,16. Dan hasil penelitian di atas, diketahui bahwa dengan

menerapkan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

dapat membantu siswa dalam menyelesaikan lembar permasalahannya

secara lebih mudah, siswa lebih kreatif dan tidak monoton. Hal ini dapat

dilihat hasil tes yang menunjukkan bahwa didapat hasil akhir dengan rata-

rata sebesar 76,72.

2. Penelitian Ghina (2015) dengan sampel kelas VII SMP Muhammadiyah 10

Palembang dan salah satu kesimpulannya adalah ada hasil belajar siswa

pada pertemuan pertama nilai rata-rata siswa sebesar 77, pada pertemuan

kedua nilai rata-rata siswa mengalami peningkatan yaitu dengan rata-rata

79, pada pertemuan ketiga nilai rata-rata siswa kembali mengalami

peningkatan yaitu dengan rata-rata 80, dan pada hasil tes akhir dalam

pembelajaran matematika rata-ratanya adalah 83.

22
3. Penelitian Laili (2015) dengan sampel kelas VII MTs Nurul Hakim Kediri

dan salah satu kesimpulannya hasil tes akhir kemampuan pemecahan

masalah matematika siswa pada kelompok eksperimen dengan nilai rata-

ratanya sebesar putra (E1) = 80.44, kelompok putri (E2) = 87.16 lebih dari

hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada kelompok

kontrol dengan nilai rata-rata sebesar putra (K1) = 74.96, kelompok putri

(K2) = 74.44.

4. Peneliti Permata (2014) dengan sampel kelas VIII SMP Negeri 6 Lahat dan

salah satu kesimpulannya adalah ada hasil belajar siswa pada pertemuan

pertama nilai rata-rata siswa sebesar 67.36, pada pertemuan kedua nilai rata-

rata siswa mengalami peningkatan yaitu dengan rata-rata 78.99, pada

pertemuan ketiga nilai rata-rata siswa kembali mengalami peningkatan yaitu

dengan rata-rata 82.46, dan pada hasil tes akhir dalam pembelajaran

matematika rata-ratanya adalah 79.33.

23