Anda di halaman 1dari 22

MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/

KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL

PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/


KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 14 TAHUN 2018
TENTANG
IZIN LOKASI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/


KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa untuk memperoleh tanah guna kepentingan


penanaman modal diperlukan Izin Lokasi sebelum pelaku
usaha melakukan kegiatan perolehan tanah;
b. bahwa untuk percepatan dan peningkatan kualitas
pelayanan penanaman modal dan berusaha, Pemerintah
telah menetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 24
Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha
Terintegrasi Secara Elektronik;
c. bahwa untuk menindaklanjuti ketentuan Pasal 32 ayat
(2) huruf a dan Pasal 43 ayat (1) Peraturan Pemerintah
Nomor 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan
Berusaha Terintegrasi secara Elektronik serta untuk
mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan
-2-

investasi di kawasan industri, perlu dilakukan


penyesuaian pelayanan Izin Lokasi sebagaimana diatur
dalam Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala
Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 2015
tentang Izin Lokasi sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan
Pertanahan Nasional Nomor 19 Tahun 2017 tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5
Tahun 2015 tentang Izin Lokasi;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, huruf b dan huruf c, perlu
menetapkan Peraturan Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional tentang Izin
Lokasi;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan


Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 2043);
2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang
Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4724);
3. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4725);
4. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012
Nomor 227, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5360);
5. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang
Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2014 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5492);
-3-

6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang


Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana
telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua
atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang
Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai
atas Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1996 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3643);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1997 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3696);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang
Penatagunaan Tanah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 45, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4385);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2016 tentang
Pembangunan Perumahan Masyarakat Berpenghasilan
Rendah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2016 Nomor 316, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 6004);
12. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 tentang
Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara
Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2018 Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 6215);
-4-

13. Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2015 tentang


Kementerian Agraria dan Tata Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 18);
14. Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2015 tentang Badan
Pertanahan Nasional (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nomor 21);
15. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan
Pertanahan Nasional Nomor 8 Tahun 2015 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agraria dan Tata
Ruang/Badan Pertanahan Nasional (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 694);

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/
KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL TENTANG IZIN
LOKASI.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Izin Lokasi adalah izin yang diberikan kepada pelaku
usaha untuk memperoleh tanah yang diperlukan untuk
usaha dan/atau kegiatannya dan berlaku pula sebagai
izin pemindahan hak dan untuk menggunakan tanah
tersebut untuk keperluan usaha dan/atau kegiatannya.
2. Pelaku Usaha adalah perseorangan atau non
perseorangan yang melakukan usaha dan/atau kegiatan
pada bidang tertentu.
3. Penanaman Modal adalah segala bentuk kegiatan
menanam modal, baik oleh penanam modal dalam negeri
maupun penanam modal asing untuk melakukan usaha
di wilayah negara Republik Indonesia.
-5-

4. Pangan Lainnya adalah kegiatan pertanian/hortikultura,


perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan,
perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah
yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman
bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan
Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan lainnya yang
digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan,
dan/atau pembuatan makanan atau minuman.
5. Prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan
penunjang utama terselenggaranya suatu usaha
dan/atau kegiatan seperti gedung, pabrik, unit
pengolahan limbah, lahan/tanah.
6. Hak atas Tanah adalah Hak atas Tanah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 16 Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok
Agraria.
7. Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik atau
Online Single Submission yang selanjutnya disingkat OSS
adalah Perizinan Berusaha yang diterbitkan oleh
Lembaga OSS untuk dan atas nama menteri, pimpinan
lembaga, gubernur, atau bupati/wali kota kepada Pelaku
Usaha melalui sistem elektronik yang terintegrasi.
8. Lembaga Pengelola dan Penyelenggara Online Single
Submission yang selanjutnya disebut Lembaga OSS
adalah lembaga pemerintah non kementerian yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
koordinasi penanaman modal.
9. Komitmen adalah pernyataan Pelaku Usaha untuk
memenuhi persyaratan Izin Usaha dan/atau Izin
Komersial atau Operasional.
10. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur
penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin
pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi
kewenangan daerah otonom.
11. Kantor Pertanahan adalah instansi vertikal Badan
Pertanahan Nasional di Kabupaten/Kota yang berada di
bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Menteri
melalui Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan
Nasional.
-6-

12. Masyarakat Berpenghasilan Rendah yang selanjutnya


disingkat MBR adalah masyarakat yang mempunyai
keterbatasan daya beli sehingga perlu mendapat
dukungan pemerintah untuk memperoleh Rumah.
13. Dokumen Elektronik adalah setiap informasi elektronik
yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau
disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik,
optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan,
dan/atau didengar melalui komputer atau sistem
elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan,
suara, gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya,
huruf, tanda, angka, kode akses, simbol atau perforasi
yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh
orang yang mampu memahaminya.
14. Tanda Tangan Elektronik adalah tanda tangan yang
terdiri atas Informasi Elektronik yang dilekatkan,
terasosiasi atau terkait dengan Informasi Elektronik
lainnya yang digunakan sebagai alat verifikasi dan
autentikasi.
15. Hari adalah hari kerja sesuai yang ditetapkan oleh
Pemerintah Pusat.

BAB II
MAKSUD, TUJUAN DAN RUANG LINGKUP

Pasal 2
(1) Peraturan Menteri ini dimaksudkan sebagai pedoman
pemberian Izin Lokasi bagi Pelaku Usaha.
(2) Peraturan Menteri ini bertujuan agar terwujud
percepatan, keterbukaan dan kepastian bagi Pelaku
Usaha dalam memperoleh Izin Lokasi.

Pasal 3
Ruang lingkup Peraturan Menteri ini meliputi:
a. objek dan subjek Izin Lokasi;
b. tata cara pemberian dan jangka waktu;
c. hak dan kewajiban pemegang Izin Lokasi;
d. pembiayaan; dan
e. monitoring dan evaluasi.
-7-

BAB III
OBJEK DAN SUBJEK IZIN LOKASI

Pasal 4
(1) Objek Izin Lokasi merupakan tanah yang menurut
rencana tata ruang wilayah diperuntukkan bagi
penggunaan yang sesuai dengan rencana kegiatan usaha
yang akan dilaksanakan oleh Pelaku Usaha.
(2) Rencana kegiatan usaha sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) berdasarkan izin/persetujuan/pendaftaran atau
yang serupa itu untuk Penanaman Modal yang
diterbitkan oleh pejabat yang berwenang.

Pasal 5
(1) Batasan luas penguasaan tanah yang diberikan Izin
Lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 kepada
Pelaku Usaha dan Pelaku Usaha lainnya yang
merupakan 1 (satu) grup tidak lebih dari luasan:
a. Usaha pengembangan perumahan dan permukiman:
1) Kawasan perumahan permukiman:
1 (satu) Provinsi : 400 Ha (empat ratus
hektar)
Seluruh Indonesia : 4.000 Ha (empat ribu
hektar)
2) Kawasan resort perhotelan:
1 (satu) Provinsi : 200 Ha (dua ratus
hektar)
Seluruh Indonesia : 4.000 Ha (empat ribu
hektar)
b. Usaha kawasan industri/kawasan ekonomi khusus,
kawasan perdagangan bebas, kawasan pelabuhan
bebas dan/atau kawasan lainnya yang telah
ditetapkan menjadi proyek strategis nasional:
1 (satu) Provinsi : 400 Ha (empat ratus
hektar)
Seluruh Indonesia : 4.000 Ha (empat ribu
hektar)
c. Usaha perkebunan yang diusahakan dalam bentuk
perkebunan besar dengan diberikan Hak Guna
Usaha:
1) Komoditas tebu:
1 (satu) Provinsi : 60.000 Ha (enam
puluh ribu hektar)
-8-

Seluruh Indonesia : 150.000 Ha (seratus


lima puluh ribu
hektar)
2) Komoditas Pangan lainnya:
1 (satu) Provinsi : 20.000 Ha (dua
puluh ribu hektar)
Seluruh Indonesia : 100.000 Ha (seratus
ribu hektar)
d. Usaha tambak:
1) Di Pulau Jawa
1 (satu) Provinsi : 100 Ha (seratus
hektar)
Seluruh Indonesia : 1.000 Ha (seribu
hektar)
2) Di Luar Pulau Jawa
1 (satu) Provinsi : 200 Ha (dua ratus
hektar)
Seluruh Indonesia : 2.000 Ha (dua ribu
hektar)
(2) Batasan maksimum luas penguasaan tanah di Provinsi
Papua dan Papua Barat merupakan 2 (dua) kali
maksimum luas penguasaan tanah untuk 1 (satu)
provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a,
huruf b dan huruf c, dan 1 (satu) provinsi di luar pulau
jawa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d.
(3) Untuk menentukan luas areal yang ditunjuk dalam Izin
Lokasi, Pelaku Usaha wajib menyampaikan pernyataan
tertulis mengenai letak dan luas tanah yang sudah
dikuasai dan/atau Pelaku Usaha lainnya yang
merupakan 1 (satu) grup.
(4) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2)
dan ayat (3), tidak berlaku untuk:
a. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berbentuk
Perusahaan Umum (PERUM) dan Badan Usaha Milik
Daerah (BUMD);
b. Badan Usaha yang seluruh atau sebagian besar
sahamnya dimiliki oleh Negara, baik Pemerintah
Pusat maupun Pemerintah Daerah; atau
c. Badan Usaha yang sebagian besar sahamnya
dimiliki oleh masyarakat untuk “Go Public”.
-9-

(5) Dalam rangka optimalisasi usaha kawasan


industri/kawasan ekonomi khusus, kawasan
perdagangan bebas, kawasan pelabuhan bebas dan
kawasan lainnya yang telah ditetapkan menjadi proyek
strategis nasional dan memerlukan tanah dengan luasan
lebih dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf b, luas Izin Lokasi dapat diberikan sampai
dengan luasan yang tercantum dalam
izin/persetujuan/pendaftaran atau yang serupa itu dari
pejabat yang berwenang di bidang Penanaman Modal
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(6) Izin/persetujuan/pendaftaran atau yang serupa itu dari
pejabat yang berwenang di bidang Penanaman Modal
sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diberikan setelah
berkoordinasi dengan pejabat pimpinan tinggi madya di
bidang penataan agraria guna untuk dilakukan analisa
penguasaan, pemilikan, penggunaan, pemanfaatan dan
ketersediaan tanah.
(7) Hasil analisa sebagaimana dimaksud pada ayat (6)
berupa surat persetujuan atau penolakan dari pejabat
pimpinan tinggi madya di bidang penataan agraria.

Pasal 6
(1) Subjek Izin Lokasi meliputi:
a. Pelaku Usaha perseorangan; dan
b. Pelaku Usaha non perseorangan.
(2) Pelaku Usaha perseorangan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf a merupakan orang perorangan penduduk
Indonesia yang cakap untuk bertindak dan melakukan
perbuatan hukum.
(3) Pelaku Usaha non perseorangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b terdiri atas:
a. perseroan terbatas;
b. perusahaan umum;
c. perusahaan umum daerah;
d. badan hukum lainnya yang dimiliki oleh negara;
- 10 -

e. badan layanan umum;


f. lembaga penyiaran;
g. badan usaha yang didirikan oleh yayasan; atau
h. koperasi.

BAB IV
TATA CARA PEMBERIAN DAN JANGKA WAKTU

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 7
(1) Izin Lokasi diberikan oleh Lembaga OSS berdasarkan
Komitmen Pelaku Usaha yang telah memperoleh
izin/persetujuan/pendaftaran atau yang serupa itu dari
pejabat yang berwenang di bidang penanaman modal.
(2) Izin Lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
diberikan tanpa Komitmen dalam hal:
a. tanah lokasi usaha dan/atau kegiatan terletak di
lokasi yang telah sesuai dengan peruntukannya
menurut Rencana Detail Tata Ruang dan/atau
rencana umum tata ruang kawasan perkotaan;
b. tanah lokasi usaha dan/atau kegiatan terletak di
lokasi kawasan ekonomi khusus, kawasan industri,
serta kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan
bebas;
c. tanah lokasi usaha dan/atau kegiatan merupakan
tanah yang sudah dikuasai oleh Pelaku Usaha lain
yang telah mendapatkan Izin Lokasi dan akan
digunakan oleh Pelaku Usaha;
d. tanah lokasi usaha dan/atau kegiatan berasal dari
otorita atau badan penyelenggara pengembangan
suatu kawasan sesuai dengan rencana tata ruang
kawasan pengembangan tersebut;
- 11 -

e. tanah lokasi usaha dan/atau kegiatan diperlukan


untuk perluasan usaha yang sudah berjalan dan
letak tanahnya berbatasan dengan lokasi usaha
dan/atau kegiatan yang bersangkutan;
f. tanah lokasi usaha dan/atau kegiatan yang
diperlukan untuk melaksanakan rencana Izin Lokasi
tidak lebih dari:
1) 25 Ha (dua puluh lima hektar) untuk usaha
dan/atau kegiatan pertanian;
2) 5 Ha (lima hektar) untuk pembangunan rumah
bagi masyarakat berpenghasilan rendah; atau
3) 1 Ha (satu hektar) untuk usaha dan/atau
kegiatan bukan pertanian; atau
g. tanah lokasi usaha dan/atau kegiatan yang akan
dipergunakan untuk proyek strategis nasional.

Bagian Kedua
Tata Cara Permohonan dan Persyaratan

Pasal 8
(1) Pelaku Usaha mengajukan permohonan pendaftaran Izin
Lokasi secara elektronik melalui Lembaga OSS.
(2) Persyaratan permohonan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) meliputi:
a. Nomor Induk Berusaha (NIB);
b. Pernyataan pemenuhan Komitmen Izin Lokasi;
c. Pernyataan persyaratan Izin Lokasi tanpa Komitmen;
d. Permohonan pemenuhan Komitmen Izin Lokasi;
e. Peta/Sketsa yang memuat koordinat batas letak
lokasi yang dimohon;
f. rencana kegiatan usaha;
g. bukti pembayaran biaya pelayanan yang sah; dan
h. surat pernyataan luas tanah yang sudah dikuasai
oleh Pelaku Usaha dan Pelaku Usaha lainnya yang
merupakan 1 (satu) grup.
(3) Persyaratan Permohonan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf b, huruf c, huruf d dan huruf g dibuat
sesuai dengan format tercantum dalam Lampiran I yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.
- 12 -

Bagian Ketiga
Penerbitan Izin Lokasi

Pasal 9
(1) Izin Lokasi diterbitkan oleh Lembaga OSS dalam bentuk
keputusan pemberian Izin Lokasi.
(2) Keputusan pemberian Izin Lokasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dibuat sesuai dengan format tercantum
dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(3) Keputusan pemberian Izin Lokasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat dibuat dalam bentuk Dokumen
Elektronik yang disertai dengan Tanda Tangan Elektronik
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan di bidang informasi dan transaksi elektronik.
(4) Dokumen Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) berlaku sah dan mengikat, serta merupakan alat bukti
yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan di bidang informasi dan transaksi elektronik.
(5) Dokumen Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) dapat dicetak (print out).

Pasal 10
(1) Keputusan pemberian Izin Lokasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 ayat (1) disertai dengan Peta Izin Lokasi.
(2) Peta Izin Lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(3) Peta Izin Lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
digunakan oleh Kantor Pertanahan sebagai dasar dalam
memberikan pertimbangan teknis pertanahan.

Pasal 11
(1) Dalam hal Izin Lokasi berdasarkan Komitmen, Pelaku
Usaha hanya dapat melakukan kegiatan perolehan tanah
setelah Izin Lokasi efektif berlaku pada lokasi yang
ditunjuk dalam Peta Pertimbangan Teknis Pertanahan.
- 13 -

(2) Dalam hal Izin Lokasi tanpa Komitmen, Izin Lokasi yang
diterbitkan oleh Lembaga OSS efektif berlaku, dan Pelaku
Usaha dapat langsung melakukan kegiatan perolehan
tanah.
(3) Dalam hal akan menggunakan atau memanfaatkan tanah
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Pelaku Usaha
wajib mengajukan permohonan pertimbangan teknis
pertanahan kepada Kantor Pertanahan tempat lokasi
usaha dan/atau kegiatan melalui Lembaga OSS.
(4) Dalam hal Pelaku Usaha memperoleh tanah di luar lokasi
yang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan ayat (2), permohonan Hak atas Tanah dimaksud
tidak dapat diproses.

Pasal 12
(1) Terhadap tanah yang telah diterbitkan keputusan
pemberian Izin Lokasi, dilarang menerbitkan Izin Lokasi
baru untuk subjek yang berbeda.
(2) Dalam hal diterbitkan keputusan pemberian Izin Lokasi
baru sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Izin Lokasi
baru tersebut batal demi hukum.

Bagian Keempat
Pemenuhan Komitmen

Paragraf 1
Pertimbangan Teknis Pertanahan

Pasal 13
(1) Dalam hal Izin Lokasi berdasarkan komitmen, Pelaku
Usaha wajib menyampaikan permohonan pemenuhan
Komitmen Izin Lokasi paling lama 10 (sepuluh) Hari sejak
Lembaga OSS menerbitkan Izin Lokasi.
(2) Pemenuhan Komitmen sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan oleh Pelaku Usaha melalui Lembaga OSS
dengan menyampaikan persyaratan pertimbangan teknis
pertanahan kepada Kantor Pertanahan tempat lokasi
usaha dan/atau kegiatan.
- 14 -

(3) Dalam hal jangka waktu sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) berakhir dan Pelaku Usaha tidak menyampaikan
permohonan pemenuhan komitmen, Izin Lokasi
dinyatakan batal.

Pasal 14
(1) Kantor Pertanahan menindaklanjuti permohonan
pemenuhan komitmen sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 13 ayat (2) dengan melakukan pertimbangan teknis
pertanahan.
(2) Pertimbangan teknis pertanahan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diterbitkan paling lama 10 (sepuluh) Hari
sejak diterimanya permohonan pemenuhan Komitmen
Izin Lokasi yang memuat diterima atau ditolaknya
permohonan pemenuhan komitmen Izin Lokasi.
(3) Hasil pertimbangan teknis pertanahan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota tempat lokasi usaha dan/atau
kegiatan.
(4) Dalam hal pertimbangan teknis pertanahan tidak
diterbitkan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud
pada ayat (2), Kantor Pertanahan dianggap telah
menyetujui pertimbangan teknis pertanahan atas
permohonan Pelaku Usaha.
(5) Dalam hal terjadi keadaan darurat dan/atau terjadi
peristiwa di luar kendali manusia (force majeure) yang
menyebabkan pertimbangan teknis pertanahan belum
terselesaikan dalam jangka waktu sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), Kepala Kantor Pertanahan
menyampaikan keadaan force majeure kepada Lembaga
OSS sebelum jangka waktu sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) berakhir.
- 15 -

Paragraf 2
Persetujuan Pemenuhan Komitmen

Pasal 15
(1) Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menindaklanjuti
hasil pertimbangan teknis pertanahan dengan:
a. memberikan persetujuan pemenuhan Komitmen Izin
Lokasi, dalam hal:
1) hasil pertimbangan teknis pertanahan memuat
diterimanya permohonan pemenuhan
Komitmen Izin Lokasi; atau
2) lebih dari 10 (sepuluh) Hari, Kantor Pertanahan
tidak memberikan pertimbangan teknis
pertanahan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 14 ayat (4); atau
b. menolak pemenuhan Komitmen Izin Lokasi dalam
hal Kantor Pertanahan memberikan penolakan
dalam pertimbangan teknis pertanahan.
(2) Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) memberikan persetujuan atau
penolakan dalam jangka waktu 2 (dua) Hari.
(3) Dalam hal jangka waktu sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) berakhir dan Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota tidak memberikan persetujuan atau
penolakan maka dianggap telah menyetujui permohonan
pemenuhan Komitmen Izin Lokasi.
(4) Izin Lokasi yang diterbitkan oleh Lembaga OSS efektif
berlaku setelah Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota:
a. menerbitkan persetujuan permohonan pemenuhan
Komitmen Izin Lokasi; atau
b. tidak memberikan persetujuan atau penolakan
sebagaimana dimaksud pada ayat (3).
(5) Dalam hal terjadi keadaan darurat dan/atau terjadi
peristiwa di luar kendali manusia (force majeure) yang
menyebabkan Izin Lokasi belum terselesaikan, dalam
jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
maka Pemerintah Daerah menyampaikan keadaan force
majeure kepada Lembaga OSS sebelum jangka waktu
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berakhir.
- 16 -

Pasal 16
Izin Lokasi dinyatakan batal, apabila:
a. Hasil pertimbangan teknis pertanahan memuat
penolakan atas permohonan pemenuhan Komitmen Izin
Lokasi; dan/atau
b. Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota memberikan
penolakan.

Pasal 17
(1) Pemberian persetujuan Pemenuhan Komitmen Izin Lokasi
ditandatangani oleh Bupati/Wali Kota atau pejabat yang
ditunjuk, sedangkan untuk Daerah Khusus Ibu Kota
Jakarta ditandatangani oleh Gubernur atau pejabat yang
ditunjuk.
(2) Pemberian persetujuan Pemenuhan Komitmen Izin Lokasi
lintas Daerah Kabupaten/Kota dalam 1 (satu) Provinsi
maupun antar Daerah Provinsi, ditandatangani oleh
masing-masing Bupati/Wali Kota atau pejabat yang
ditunjuk.
(3) Pemberian persetujuan atau penolakan Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (2) dibuat sesuai format tercantum dalam
Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Menteri ini.

Pasal 18
(1) Izin Lokasi dan pertimbangan teknis pertanahan
merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan
dipergunakan sebagai syarat bagi Pelaku Usaha untuk
mengajukan permohonan hak atas tanah.
(2) Pertimbangan teknis pertanahan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pasal 19
Dalam hal di atas tanah Izin Lokasi telah terbit izin usaha
pertambangan dan/atau izin usaha lainnya, harus mendapat
persetujuan dari pemilik tanah atau pemegang izin usaha
pertambangan dan/atau izin usaha lainnya.
- 17 -

Bagian Kelima
Jangka Waktu Izin Lokasi

Pasal 20
(1) Izin Lokasi diberikan untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun
sejak Izin Lokasi berlaku efektif.
(2) Perolehan tanah oleh pemegang Izin Lokasi harus
diselesaikan dalam jangka waktu Izin Lokasi.
(3) Apabila dalam jangka waktu Izin Lokasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) perolehan tanah belum selesai
maka:
a. Izin Lokasi dapat diperpanjang jangka waktunya
selama 1 (satu) tahun, apabila tanah yang sudah
diperoleh mencapai 50% (lima puluh persen) atau
lebih dari luas tanah yang ditunjuk dalam Izin
Lokasi;
b. Izin Lokasi tidak dapat diperpanjang apabila jangka
waktu Izin Lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) berakhir dan perolehan tanah kurang dari 50%
(lima puluh persen) dari luas tanah yang ditunjuk
dalam Izin Lokasi.
(4) Permohonan dan Keputusan Perpanjangan Izin Lokasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a tercantum
dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(5) Apabila perolehan tanah tidak dapat diselesaikan dalam
jangka waktu Izin Lokasi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (3) huruf a, maka:
a. tanah yang telah diperoleh dipergunakan untuk
melaksanakan rencana Penanaman Modal dengan
penyesuaian mengenai luas pembangunan yang
merupakan satu kesatuan bidang;
b. perolehan tanah dapat dilakukan lagi oleh pemegang
Izin Lokasi terhadap tanah yang berada diantara
tanah yang sudah diperoleh sehingga merupakan
satu kesatuan bidang tanah dengan jangka waktu 1
(satu) tahun.
- 18 -

(6) Dalam hal perolehan tanah kurang dari 50% (lima puluh
persen) dari luas tanah yang ditunjuk dalam Izin Lokasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b, Pelaku
Usaha wajib menggunakan atau memanfaatkan tanah
sesuai tujuan kegiatan usahanya.
(7) Dalam hal Pelaku Usaha tidak melaksanakan
pemanfaatan dan penggunaan tanah sebagaimana
dimaksud pada ayat (6) maka Pelaku Usaha wajib
mengalihkan tanah yang diperoleh kepada pihak lain
yang memenuhi syarat paling lama 1 (satu) tahun.

BAB V
HAK DAN KEWAJIBAN PEMEGANG IZIN LOKASI

Pasal 21
(1) Pemegang Izin Lokasi wajib segera melakukan
Pemenuhan Komitmen Izin Lokasi.
(2) Setelah Izin Lokasi berlaku secara efektif, Pelaku Usaha
diizinkan untuk membebaskan tanah dari hak dan
kepentingan pihak lain berdasarkan kesepakatan dengan
pemegang hak atau pihak yang mempunyai kepentingan
tersebut dengan cara jual beli, pemberian ganti kerugian,
konsolidasi tanah atau cara lain sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(3) Sebelum tanah yang bersangkutan dibebaskan oleh
pemegang Izin Lokasi sesuai ketentuan pada ayat (2),
semua hak atau kepentingan pihak lain yang sudah ada
atas tanah yang bersangkutan tidak berkurang dan tetap
diakui haknya, termasuk kewenangan yang menurut
hukum dipunyai oleh pemegang Hak atas Tanah untuk
memperoleh tanda bukti hak (sertipikat), dan
kewenangan untuk menggunakan dan memanfaatkan
tanahnya bagi keperluan pribadi atau usahanya sesuai
dengan rencana tata ruang yang berlaku, serta
kewenangan untuk mengalihkannya kepada pihak lain.
- 19 -

(4) Pemegang Izin Lokasi wajib menghormati kepentingan


pihak-pihak lain atas tanah yang belum dibebaskan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), tidak menutup
atau mengurangi aksesibilitas yang dimiliki masyarakat
di sekitar lokasi dan menjaga serta melindungi
kepentingan umum.
(5) Sesudah tanah yang bersangkutan dibebaskan dari hak
dan kepentingan lain, kepada pemegang Izin Lokasi dapat
diberikan Hak atas Tanah yang memberikan kewenangan
kepadanya untuk menggunakan tanah tersebut sesuai
dengan keperluan untuk melaksanakan rencana
penanaman modalnya.

Pasal 22
Pemegang Izin Lokasi wajib melaporkan secara berkala setiap
3 (tiga) bulan kepada Kepala Kantor Pertanahan mengenai
perolehan tanah yang sudah dilaksanakan berdasarkan Izin
Lokasi dan pelaksanaan penggunaan tanah tersebut.

Pasal 23
Tanah yang sudah diperoleh wajib didaftarkan pada Kantor
Pertanahan setempat paling lama 1 (satu) tahun sejak
berakhirnya masa berlaku Izin Lokasi.

Pasal 24
(1) Tanah yang sudah diperoleh wajib dimanfaatkan/
digunakan sesuai dengan peruntukannya.
(2) Dalam hal di atas tanah sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) terdapat pengembangan pemanfaatan tanah
sepanjang sesuai dengan peruntukannya, tidak
diperlukan Izin Lokasi baru.
- 20 -

BAB VI
PEMBIAYAAN IZIN LOKASI

Pasal 25
Pelayanan Izin Lokasi dikenakan biaya sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

BAB VII
MONITORING DAN EVALUASI

Pasal 26
(1) Kegiatan Monitoring dan Evaluasi dilakukan terhadap:
a. perolehan tanah;
b. penggunaan dan pemanfaatan tanah; dan
c. pengamanan yang dilakukan oleh Pelaku Usaha
terhadap tanah yang sudah diperoleh.
(2) Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diselenggarakan secara berjenjang oleh:
a. Kepala Kantor Wilayah BPN untuk Izin Lokasi lintas
daerah kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi
maupun antar daerah provinsi; dan
b. Kepala Kantor Pertanahan untuk tingkat daerah
kabupaten/kota.
(3) Penyelenggaraan monitoring dan evaluasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) untuk Izin Lokasi dilaksanakan
dengan memperhatikan keputusan pemberian Izin
Lokasi.
(4) Hasil monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) menjadi bahan pertimbangan dalam
Pembatalan Izin Lokasi.
(5) Pembatalan Izin Lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) dilaksanakan oleh Lembaga OSS atas usulan:
a. Kepala Kantor Wilayah BPN; dan
b. Kepala Kantor Pertanahan.
- 21 -

BAB VIII
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 27
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku:
a. Izin Lokasi yang telah diterbitkan sebelum berlakunya
Peraturan Menteri ini, tetap berlaku sampai jangka
waktunya berakhir;
b. Dalam hal Izin Lokasi sebagaimana dimaksud pada huruf
a belum pernah diperpanjang, perpanjangan Izin Lokasi
diproses sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan
Menteri ini; dan
c. Tanah yang diperoleh berdasarkan Izin Lokasi sebelum
berlakunya Peraturan Menteri ini, dan belum didaftarkan
wajib didaftarkan paling lama 1 (satu) tahun sejak
berakhirnya masa berlaku izin lokasi.

Pasal 28
Pemberian Izin Lokasi yang masih dalam proses sebelum
berlakunya Peraturan Menteri ini, diselesaikan sesuai dengan
ketentuan dalam Peraturan Menteri ini.

BAB IX
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 29
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor 5 Tahun 2015 tentang Izin Lokasi (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 647)
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Agraria
dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor
19 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri
Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor 5 Tahun 2015 tentang Izin Lokasi (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1515), dicabut dan
dinyatakan tidak berlaku.
- 22 -

Pasal 30
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan


pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya
dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 13 Juli 2018

MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/


KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA,

Ttd.

SOFYAN A. DJALIL

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 2 Agustus 2018

DIREKTUR JENDERAL
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

Ttd.

WIDODO EKATJAHJANA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2018 NOMOR 1022