Anda di halaman 1dari 9

ABSTRAK

Resistor merupakan salah satu komponen yang paling sering ditemukan dalam Rangkaian Elektronika.
Resistor ini biasanya berbentuk silinder dengan pita pita warna yang melingkar di badan resistor. Pita
pita warna ini dikenal sebagai kode resistor. Dengan mengetahui kode resistor kita dapat mengetahui nilai
resistansi resistor, toleransi, koefisien temperatur dan reliabilitas resistor tersebut. Pengolahan citra
dengan metode HSV dapat membantu dalam membaca nilai pita warna resistor.
I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Resistor merupakan salah satu komponen yang paling sering ditemukan dalam Rangkaian
Elektronika. Hampir setiap peralatan Elektronika menggunakannya. Pada dasarnya Resistor
adalah komponen Elektronika Pasif yang memiliki nilai resistansi atau hambatan tertentu yang
berfungsi untuk membatasi dan mengatur arus listrik dalam suatu rangkaian Elektronika.
Resistor atau dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan Hambatan atau Tahanan dan
biasanya disingkat dengan Huruf “R”. Satuan Hambatan atau Resistansi Resistor adalah OHM
(Ω). Sebutan “OHM” ini diambil dari nama penemunya yaitu Georg Simon Ohm yang juga
merupakan seorang Fisikawan Jerman.
Resistor yang paling banyak beredar di pasaran umum adalah resistor dengan bahan
komposisi karbon, dan metal film. Resistor ini biasanya berbentuk silinder dengan pita pita
warna yang melingkar di badan resistor. Pita pita warna ini dikenal sebagai kode resistor.
Dengan mengetahui kode resistor kita dapat mengetahui nilai resistansi resistor, toleransi,
koefisien temperatur dan reliabilitas resistor tersebut.
Namun, kebanyakan orang masih belum mengerti bagaimana menghitung nilai resistansi
atau mengartikan kode pita warna yang ada resistor. Oleh karena itu kami akan memanfaatkan
teknik pengolahan citra untuk mempermudah penghitungan nilai resistansi dari resistor.
Pengolahan citra digital dapat dilakukan berbagai cara diantaranya adalah representasi dan
permodelan citra, peningkatan kualitas citra, restorasi citra, analisis citra, rekonstruksi citra
dan kompresi citra. Pada makalah ini, pengolahan citra digital difokuskan pada teknik
segmentasi warna menggunakan metode HSV.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana mengenali pola dari pita warna pada resistor?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk menjelaskan mengenai tahapan-
tahapan serta teknik-teknik pengolahan citra yang digunakan untuk mengenali pita warna
resistor dan menghitung nilai resistor tersebut.

II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Segmentasi Citra


Segmentasi citra adalah proses membagi citra ke dalam beberapa region, sehingga setiap
region bersifat homogen, tapi gabungan dari dua region yang berdekatan tidak homogen.
Metode segmentasi citra telah banyak dikembangkan, terutama segmentasi citra yang hanya
menggunakan informasi warna atau hanya menggunakan informasi tekstur. Padahal, citra
natural umumnya berisi kombinasi warna dan tekstur. Oleh karena itu, segmentasi citra yang
menggunakan kombinasi informasi warna dan tekstur akan menghasilkan kemampuan
membedakan region yang lebih baik, terutama dalam pembedaan region yang mempunyai
warna sama namun berbeda tekstur, maupun region dengan tekstur sama namun berbeda
warna (Widiasri, 2012). Segmentasi citra dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan,
menurut Castleman (1996) terdapat 3 macam pendekatan, antara lain :
1. Pendekatan batas (boundary apporach), pendekatan ini dilakukan untuk mendapatkan batas
yang ada antar daerah.
2. Pendekatan tepi (edge approach), pendekatan ini dilakukan untuk mengidentifikasi piksel
tepi dan menghubungkan piksel-oiksel tersebut menjadi suatu batas yang diinginkan.
3. Pendekatan daerah (region apporach), pendekatan daerah bertujuan untuk membagi citra
dalam dearah-daerah sehingga didapatkan suatu daerah sesuai kriteria yang diinginkan.

2.2 Pengolahan Warna


Pada pengolahan warna gambar, ada bermacam-macam model warna. Model RGB (Red
Green Blue) merupakan model yang banyak digunakan, salah satunya adalah monitor. Pada
model ini untuk merepresentasikan gambar menggunakan 3 buah komponen warna tersebut.
Selain model RGB terdapat juga model HSV dimana model ini terdapat 3 komponen yaitu,
Hue, Saturation dan Value. Hue adalah suatu ukuran panjang gelombang yang terdapat pada
warna dominan yang diterima oleh penglihatan, Saturation adalah ukuran banyaknya cahaya
/ tingkat dominasi warna dan Value mewakili tingkat kecerahannya

III
TEORI

3.1 Resistor
Resistor merupakan salah satu perangkat utama yang menyusun perangkat – perangkat
elektronik yang sering kita gunakan sehari – hari. Resistor sendiri adalah komponen elektronik
yang memiliki dua pin dan didesain untuk mengatur tegangan listrik dan arus listrik. Resistor
dapat dibuat dari bermacam-maca kompon dan film, bahkan kawat resistansi (kawat yang
dibuat dari paduan resistivitas tinggi seperti nikel-kromium). Karakteristik utama dari resistor
adalah resistansinya dan daya listrik yang dapat dihantarkan.

3.2 Pengolahan Citra dengan Metode HSV


HSV mendefinisikan warna dalam terminologi Hue, Saturation dan Value. Keuntungan
HSV adalah terdapat warna-warna yang sama dengan yang ditangkap oleh indra manusia.
Sedangkan warna yang dibentuk model lain seperti RGB merupakan hasil campuran dari
warna-warna primer.
Hue menyatakan warna sebenarnya, seperti merah, violet, dan kuning dan digunakan
menentukan kemerahan (redness), kehijauan (greeness), dsb. Saturation kadang disebut
chroma, adalah kemurnian atau kekuatan warna. Value adalah kecerahan dari warna. Nilainya
berkisar antara 0-100 %. Apabila nilainya 0 maka warnanya akan menjadi hitam, semakin
besar nilai maka semakin cerah dan muncul variasi-variasi baru dari warna tersebut.
Untuk mengubah RGB ke HSV digunakan rumus sebagai berikut

3(𝐺 − 𝐵)
𝐻 = tan ( )
(𝑅 − 𝐺) + (𝑅 − 𝐵)
min(𝑅, 𝐺, 𝐵)
𝑆 =1−
𝑉

𝑅+𝐺+𝐵
𝑉=
3

IV
PENYELESAIAN

4.1 Akuisisi Citra


Citra resistor diambil menggunakan kamera digital. Untuk posisi resistor diletakan sedemikian
rupa, sehingga citra yang diambil menampilkan resistor dengan posisi yang benar. Yaitu posisi pita
toleransi berada di sebalah kanan.

Gambar 1. Citra Resistor


4.2 Pemrosesan Citra
Segmentasi citra yang digunakan adalah segementasi warna. Segmentasi warna
menggunakan metode Region Approach (Pendekatan Daerah) dengan menganalisi nilai warna
dari tiap piksel pada citra dan membaginya sesuai dengan fitur yang diinginkan. Berikut adalah
diagram alur dari segmentasi warna dengan metode Region Approach.
Gambar 2. Diagram Alur Segmentasi Warna
Dalam makalah ini sebagai contoh akan medeteksi warna kuning. Citra kemudian diubah
menjadi 3 jenis citra sesuai dengan jenis pita warna HSV yaitu Hue, Saturation, dan Value

Gambar 3. Citra Hue, Saturation, dan Value


Kemudian ketiga jenis citra tersebut direpresentasikan dalam bentuk histogram. Selanjutnya
ditentukan suatu titik threshold untuk masing – masing jenis citra. Penentuan titik Threshold
tersebut kemudian akan menghasilkan citra biner untuk masing – masing jenis citra.

Gambar 4. Citra hasil Masking Hue, Saturation, dan Value setelah diberi threshold dan diubah menjadi citra
biner
Kemudian citra hasil masking tersebut akan diterapkan ke masing – masing komponen dari
citra aslinya yang berupa citra RGB.

Gambar 4. Penerapan Masking HSV ke dalam citra Red, Green, dan Blue
Setelah proses tersebut dilakukan maka citra hasil masking akan menampilkan citra dengan
hanya menampilkan citra berwarna kuning

Gambar 5. Hasil Proses pengenalan Warna Kuning


Kemudian koordinat dari warna yang telah dideteksi akan disimpan. Koordinat ini akan
berfungsi sebagai penanda urutan pita warna yang akan menentukan besaran dari resistansi.
Proses kemudian akan berulang kembali ke langkah awal dengan melakukan pengecualian
pada koordinat citra yang telah dideteksi
Setelah keseluruhan warna pada resistor terdeteksi, selanjutnya adalah melakukan
penghitungan nilai resistansi. Warna yang telah dideteksi kemudian akan diurutkan
berdasarkan koordinat dari masing – masing warna. Citra dengan nilai absis terkecil / terendah
akan ditetapkan sebagai pita warna digit pertama dan seterusnya sampai nilai absis terbesar
sebagai pita warna angka toleransi.
Warna – warna yang telah dideteksi kemudian akan direpresentasikan sebagai nilai angka.
Contohnya adalah warna hijau akan bernilai 1, coklat bernilai 2, dan seterusnya. Kemudian
angka – angka tersebut disusun berdasarkan urutan digit warna sehingga akan menghasilkan
nilai besaran resistansi dari resistor tersebut.
V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Dengan adanya teknik pengolahan citra dapat mempermudah dalam pengenalan pita
warna dari resistor sehingga dapat membantu dalam menghitung nilai resistansi dari suatu
resistor

5.2 Saran
1. Masih butuh penyempurnaan dalam teknik pengolahan citra gambar
2. Diperlukan kamera digital dengan sensor yang baik agar citra yang diakuisisi berkualitas
tinggi dan dapat diolah dengan baik
DAFTAR PUSTAKA

 Yoga Budi, Benedictus. Hapsari, Widi. dan Wijana, Katon. (2012). Segmentasi Warna Citra
Dengan Deteksi Warna HSV Untuk Mendeteksi Objek. Universitas Kristen Duta Wacana.
Yogyakarta