Anda di halaman 1dari 14

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ 2


BAB I ..................................................................... Error! Bookmark not defined.
PENDAHULUAN .................................................................................................. 3
BAB II .................................................................... Error! Bookmark not defined.
PEMBAHASAN ..................................................................................................... 4
BAB III ................................................................................................................. 12
KESIMPULAN ..................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 14

1
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk
bagi segenap manusia .dan semoga rahmat dan hidayah-Nya dilimpahkan kepada
jujungan kita , Nabi Muhammad SAW rasul yang terakhir yang telah membawa
kita dari alam jahiliyah menuju alam ilmiyah , dan kepada para ulama’ dan para
pemeluk islam dimanapun berada .Teriring rasa syukur ke hadirat allah SWT.
Yang telah melimpahkan rahmat dan taufiqnya kepada kami , sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah, yang membahas tentang “Menumbuhkan
kesadaran taat hukum tuhan dan fungsi profetif agama dalam hukum”. Kepada
para pembaca ,saya mengharapkan kritik dan sarannya dalam mengevaluasi
makalah saya ini untuk perbaikan dan penyempurnaan makalah saya selanjutnya.
Diharapkan dengan segala hormat kepada pembimbing untuk bisa menerima hasil
saya dan bisa lebih memberi motifasi tentang ilmu agama kepada saya.
Terimakasih saya ucapkan.

Surabaya, 16 Oktober 2018

Penyusun

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Banyaknya generasi muda yang tidak tau-menau hukum agama yang sudah
menjadi pedoman hidup umat Islam dari zaman Rosulullah sampai sekarang.Dan
banyaknya penafsiran yang salah dari ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist sehingga
melenceng dari konsep yang sudah dipegang umat Islam dari zaman dulu ,hal itu
yang mebuat kami mengangkat tema ini sebagai tema makalah kami.

1.2. Rumusan Masalalah

1. Apakah generasi muda sekarang mengetahui Hukum Islam ?


2. Apakah generasi muda sudah mengamalkan apa yang di maksud dalam
Hukum Islam?

1.3. Tujuan Penulisan

Memahami tentang Hukum Islam yang benar menurut Al-Qur’an dan Hadist agar
bisa mengamalkanya dalam kehidupan sehari-hari.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Menumbuh Kembangkan Kesadaran untuk Taat Hukum

1. Pengertian Hukum Islam,Ruang Lingkup, dan Tujuan bagi Manusia

Menurut ahli Uhsul Fikih hukum islam adalah ketentuan Allah yang berkaitan
dengan perbuatan orang mukallaf yang mengandung suatu tuntunan,pilihan atau
yang menjadikan suatu sebagai sebab,syarat,atau penghalang bagi adanya suatu
yang lain.Sedangkan menurut ahli fikih, hukum syar’i(islam) adalah akibat yang
timbul dari perbuatan orang yang mendapat beban Allah swt...dan hukum tersebut
di bagi menjadi 2 bagian yaitu:

a. Hukum taklifi, adalah ketentuan Allah yang mengandung ketentuan untuk


memilih antara yang di kerjakan dan yang tidak dikerjakan. Hukum taklifi dibagi
menjadi:

1). Ijab,adalah ketentuan Allah yang menuntut untuk dilakukan suatu perbuatan
dengan tuntunan pasti (wajib).

2).Nadb,adalah ketentuan Allah yang menuntut agar di lakukan suatu perbuatan


dengan tuntutan yang tidak harus di kerjakan. Sedangkan kerjaan yang dikerjakan
secara sukarela disebut sunah.

3). Tahrim, adalah ketentuan Allah yang menuntut untuk ditinggalkan suatu
perbuatan dengan tuntutan tegas. Perbuatan yang dituntut untuk di tinggalkan
disebut Haram.

4). Karahah, adalah ketentuan Allah yang menuntut untuk meninggalkan suatu
perbuatan dengan tuntutan yang tidak tegas untuk ditinggalkanya.Sedangkan
perbuatan yang dituntut untuk ditinggalkanya disebut makruh.

5). Ibahah,adalah ketentuan Allah yang mengandung hak pilihan bagi orang
mukallaf antara mengerjakan dan meninggalkanya.Sedangkan perbuatanya
disebut Mubah.

Dari penjelasan di atas maka dapat di simpulkan

· Perbuatan yang dituntut untuk dikerjakan (wajib dan unah)

· Perbuatan yang dituntut untuk ditinggalkan(haram dan makruh)

· Perbuatan yang diperkenakan dipilih untuk dikerjakan atau ditinggalkan


(mubah)

4
Adapun pembagian hukum syara’ dan penjelasanya sebagai berikut:

a) Wajib, perbuatan yang apabila dikerjakan akan mendapat pahala dan apabila d
itinggalkan akan mendapat dosa.

Ditinjau dari segi pemberian beban kewajiban ini pada setiap mukallaf dibagi
menjadi dua bagian diantaranya:

Ø Wajib aini, artinya semua muslim tanpa terkecuali wajib menjalankanya.

Ø Wajib kifa’i, artinya apabila sudah ada seorang dari muslim(mukallaf) telah
mengerjakan kewajiban maka mukallaf yang lain yang tidak mengerjakan tidak
berdosa.

b) Sunah, perbuatan yang jika dikerjakan orang yang mengerjakan akan mendapat
pahala dan apabila ditinggalkan tidak mendapat dosa(siksanya). Sunah di bagi
menjadi 3 bagian, yaitu:

Ø Sunah Muakad, tuntutan yang kuat untuk mengerjan suatu perbuatan.

Ø Sunah Nafilah, tuntutan serba anjuran untuk mengerjakan suatu perbuatan.

Ø Sunah Fadilah, perbuatan yang dituntut sebagai penambah kesempurnaan amal


perbuatan.

c) Haram, perbuatan yang apabila di tinggalkan akan mendapat pahala,dan apabila


dikerjakan akan mendapat dosa.Haram dibagi menjadi 2,yaitu:

Ø Haram karena sejak semula ditetapkan (Lizatih),yaitu sesuatu yang ditetapkan


Allah sejak semula, dikarenakan mengandung kemadaratan dan bahaya,misalnya
berzina.

Ø Haram karena adanya sesuatu dari luar(Liaridhih), yaitu sesuatu yang tidak
ditetapkan keharamanya , namun ada penyebab yang mengharamkanya.

d) Makruh, perbuatan yang apabila ditinggalkan akan mendapat pahala dan


apabila dikerjakan tidak mendapat siksa.Makruh di bagi menjadi 3 bagian,yaitu:

Ø Makruh tanziah, (lebih baik ditinggalkan) misalnya : merokok.

Ø Makruh tarkul aula, (meninggalkan perbuatan yang sebenarnya lebih baik


dikerjakan).misalnya: sholat tahyatul masjid.

Ø Makruh tahrim, (perbuatan yang dilarang namun melarangnya menggunakan


dalil zani) misalnya:pacaran.

e) Mubah, perbuatan yang dikerjakan dan ditinggalkan sama-sama tidak mendapat


pahala dan menerima siksa.

5
b. Hukum wad’i, adalah ketentuan Allah yang mengandung pengertian bahwa
terjadinya sesuatu itu sebagai sebab,syarat, atau penghalang sesuatu.Misalnya:

§ Sebab sesuatu, menjalankan sholat menjadi sebab kewajiban wudhu.

Firman Allah swt:

‫ﻟﻰاﻟﺼﻟﻮﺖﻓﺎﻏﺴﻠﻮاﻮﺟﻮﻫﻜﻢﻮاﻳﺪﻳﻜﻢاﻟﻰاﻟﻣﺮاﻓﻖ‬۱‫ذاﻗﻤﺗﻢ‬۱‫ﻣﻦﻮ‬۱‫ﻟﺬڍﻦ‬۱‫ڍﺎڍﻬﺎ‬

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman!Apabila kamu hendak melaksanakan sholat


maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai siku...”(Q.S. al-maidah:6)

§ Syarat tertentu, kesanggupan mengadakan perjalanan ke Baitullah menjadi


syarat wajibnya menunaikan Haji.Misalnya:

‫ﻮﻟﻟﻪﻋﻟﻰاﻟﻧﺎﺲﺣﺞاﻟﺑﻳﺖﻣﻦاﺳﻄﺎﻋﺎﻟﻳﻪﺳﺑﻳﻼ‬

Artinya:”....Dan(di antara) kewajiban manusia terhadap Allah melaksanakan


ibadah Haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan
perjalanan ke sana.”(Q.S. ali imron :97)

§ Penghalang sesuatu, berbeda agama menjadi penghalang harta pusaka


memusakai.Misalnya:

‫ﻻﻳﺮث اﻟﻣﺳﻟم اﻟﻜﺎﻓﺮﻮﻻﻳﺮث اﻟﻜﺎﻓﺮاﻟﻣﺳﻟم‬

Artinya:”Orang muslim tidak dapat memusakai orang kafir dan orang kafir tidak
dapat memusakai orang muslim.”(Q.S.Muttafaq’alaih)

Hukum Islam adalah hukum yang di tetapkan oleh Allah melalui wahyu-Nya yang
kini terapat dalam Al-Qur’an dan di pertegas oleh Nabi Muhammad melalui
sunah-Nya yang kini terhimpun dengan baik dalam kitab Hadist.

Hukum Islam dalam pengertian baik sebagai syari’at maupun fiqh dibagi menjadi
dua bagian ,antara lain:

- Bidang ibadah

- Bidang Mu’amalah

Tujuan dari hukum Islam secara umum adalah untuk mencegah kerusakan pada
manusia dan mendatangkan masalah bagi mereka ,mengarahkan kepada
kebenaran untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, dengan
perantara segala yang bermanfaat serta menolak yang modorat dan tidak berguna
bagi kehidupan manusia.Sedangkan menurut AbuIshaq al-shatibi,beliau
merumuskan lima tujuan Hukum Islam ,diantaranya:

6
Ø Memelihara aspek agama(hifzul din)

Ø Memelihara aspek jiwa manusia dan Humanisme(hifzul an nafs)

Ø Memelihara aspek akal(hifzal aql)

Ø Memelihara aspek harta(hifzal irz)

Ø Memelihara aspek keluarga(hifzlnasl)

2.Hubungan Manusia dengan Hukum Allah serta Fungsinya dalam


Kehidupan

Dalam ajaran islam,umat islam wajib mentaati hukum yang ditetapkan Allah,
karena orang yang mendapat beban itu adalah mukallaf, baik berupa tuntunan
pilihan maupun larangan.

Untuk itu ruang lingkup yang diurusi hukum islam menurut pendapat al-
Zahibi meliputi beberapa aspek diantaranya:

1. Hukum i'tiqadiyah yaitu sesuatu yang berkenaan dengan akidah dan


keyakinan seperti rukun iman yang ke enam.

2. Hukum amaliyah yaitu sesuatu yang berkenaan dengan ibadah seperti


shalat,puasa dan haji

3. Muamalah seperti jual beli, perkawinan,waris,pencurian dsbg.

Menurut Al-Qur'an setiap muslim wajib mentaati serta mengikuti kehendak Allah,
kehendak Rasul dan kehendak ulil amri.

Adapun kehendak Allah yang berupa ketetapan yang tertulis di dalam Al-Qur'an.
Sebagaimana firman Allah

‫ﯿﺎﯿﻬﺎاﻠﺬﯿﻦاﻣﻨﻮاﻁﯿﻌﻮاﻠﻠﻪ ﻭاﻁﯿﻌﻮاﻠﺮﺴﻮﻞﻭاﻭﻠﻰاﻻﻤﺮﻤﻨﮑﻢ‬

Artinya: wahai orang orang beriman taatilah Allah dan taatilah


Rasul(Muhammad) dan ulil amri diantara kami. . .(Q.S.an-Nisa(4):59

aturan hukum islam mengenai larangan khamar dan maisir. Sebagaimana firman
Allah:

‫ﯿﺴﻠﻮﻨﻚﻋﻦاﻠﺨﻤﺮﻭاﻠﻤﯿﺴﺮۗ ﻘﻞﻔﯿﻬﻤﺎاﺜﻢﮐﺒﯿﺮﻮﻤﻨﺎﻔﻊﻠﻟﻨﺎﺲۖﻮاﺜﻤﻬﻤﺎاﮐﺒﺮﻤﻦﻨﻔﻌﻬﻤﺎ‬

Artinya: mereka menanyakan kepadamu Muhammad tentang khamar dan judi.


Katakanlah pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi
manusia, tetapi dosanya lebih besar dari pada manfaatnya . . .(Q.S.al-
Baqarah(2):29).

7
Juga selain itu Allah mengharamkan perbuatan mabuk di waktu shalat. Firman
Allah

‫ﯿﺎﯿﻬﺎاﻠﺬﯿﻦاﻤﻨﻮاﻻﺘﻘﺮﺒﻮاﺼﻠﻮﺓ ﻮاﻨﺘﻢﺴﮑﺎﺮﻯﺤﺘﻰﺘﻌﻠﻤﻮاﻤﺎﺘﻘﻮﻠﻮﻥ‬

Artinya: Wahai orang beriman janganlah kamu mendekati shalat. Ketika kamu
dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan. . ..(Q.S.an-
Nisa(4):59.

Akhirnya menjadi lebih tegas tanpa syarat dan laranganya dinyatakan secara
mutlak, firman Allah

‫ﯿﺎﯿﻬﺎاﻠﺬﯿﻦاﻤﻨﻮاﻨﻤﺎاﻠﺨﻤﺮﻮاﻠﻤﯿﺴﺮﻮاﻻﻨﺼﺎﺏﻮاﻻﺯﻻﻢﺭﺠﺲﻤﻦﻋﻤﻞاﻠﺸﯿﻄﻦﻔﺎﺠﺘﻨﺒﻮﻩﻠﻌﻠﮐﻢﺘﻔﻞﺤﻮﻦ‬

Artinya: wahai orang beriman, sesungguhnya minuman keras,berjudi berkurban


untuk berhala dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan
termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah itu agar kamu beruntung Q.S. Al-
Maidah:90.

Fungsi hukum islam dalam kehidupan bermasyarakat

a. Ibadah sebagai fungsi utama bagi manusia karena manusia sebagai mahluk
ciptaan Allah.

b. Fungsi amar makruf nahi munkar

c. Fungsi zawajir

d. Fungsi tanzim wal islah al ummmah yaitu hukum islam sebagai sarana untuk
mengatur sebaik mungkin dan memperlancar proses interaksi sosial sehingga
terwujud masyarakat yang harmonis, aman, sejahtera.

3. Peran Agama dalam Perumusan Hukum

Kaidah atau aturan yang mengikat tidak akan berjalan dengan baik kecuai bila
disertai sarana kekuatan untuk memelihara dan membantunya aar tetap hidup
dihormati dan tetap berjalan sebagaimana firman Allah

‫ﻮﻤﺎاﺘﮐﻢاﻠﺮﺴﻮﻞﻔﺨﺬﻮﻩﻮﻤﺎﻨﻬﻜﻢﻋﻨﻪﻔﺎﻨﺘﻬﻮۚﻮاﺘﻘﻮاﻠﻠﻪۗاﻥاﻠﻠﻪﺸﺪﯿﺪاﻠﻌﻘﺎﺏ‬

Artinya : “apa yang diberikan rasul kepadamu maka terimalah dan apa yang
dilarangnya maka tinggalkan dan bertaqwalah kepada Allah sungguh Allah
sangat keras hukumnya”.

Dalam kehidupan beragama perlu dirumuskan nilai humanisme dan religius dalam
masyarakat berbangsa,bernegara dan beragama salah satu yang harus di
implementasikan dalam kehidupan bersama.

8
Ada tiga program inti yang perlu di cermati dan di fahami yaitu

1. Terwujudnya masyarakat yang agamis, berperadaban luhur, berbasiskan hati


nurani yang diilhami dan disinari ajaran agama. Firman Allah

2.

‫ﻤﻦﯿﻄﻊاﻠﺮﺴﻮﻞﻔﻘﺪاﻄﺎﻉاﻠﻠﻪۚﻮﻤﻦﺘﻮﻠﻰﻔﻤﺎاﺮﺴﻠﻨﻚﻋﻠﯿﻬﻢﺤﻔﯿﻈﺎ‬

Artinya :Barang siapa menaati Rasul Muhammad maka sesungguhnya dia telah
menaati Allah. Dan barang siapa berpaling dari kebenaran itu, maka kami tidak
mengutusmu Muhammad untuk menjadi pemelihara mereka. Q.S.an-Nisa:8

2. Terhindarnya perilaku radikal, ekstrim, tidak toleran dan eksklusif dalam


kehidupan beragama,sehingga terwujud masyarakat yang rukun, damai dalam
kebersamaan dan ketentraman.

3. Terbinanya masyarakat yang dapat menghayati mengamalkan ajaran2 agama


dengan sebenarnya, mengutamakan persamaan, menghargai hak asasi manusia
dan menghormati perbedaan melalui internalisasi ajaran agama.

Masa Umar bin Khatab terjadi kemarau panjang,sehingga peternakan tidak


berkembang dan paner tidak berhasil. Disinilah Umar r.a. Mengeluarkan
dua macam keputusan yaitu

a. Mengundurkan pemungutan zakat binatang ternak hingga masa kekeringan


berakhir dan binatang ternak berkembang kembali.

b. Menghentikan hukuman potong tangan bagi pencuri ketika itu, umar r.a.
Berkata Janganlah kamu potong tangan pada setangkai buah al-izq kurma dan
jangan pula pada tahun kekeringan atau kelaparan.

B. Peran Agama dalam Perumusan dan Penegakan Hukum yang Adil

1. Agama Mengajarkan Keadilan

Persamaan hak dimuka hukum merupakan salah satu prinsip utama syariat Islam,
baik yang menyangkut ibadah dalam arti khusus, maupun ibadah dalam arti luas,
sedangkan syariat Islam mengakui dan menegakkan prinsip persamaan hak
dimuka hukum.

Dalam hubungan dengan prinsip keadilan dalam penetapan hukum Al-Qur’an,


dapat dilihat antara lain:

ۗ‫ﻭا ﺬا ﺤﮑﻣﺗم ﺑﯿﻥ اﻠﻨﺎﺲ اﻥ ﺘﺤﮑﻣﻭ اﺑﺎ ﻠﻌﺪ ﻝ‬

Artinya :

9
“... dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu
menetapkannya dengan adil ...” (Q.S. an-Nisa’ [4]:58)

Persamaan hak tersebut tidak hanya berlaku bagi umat Islam, namun bagi semua
penganut agama, sebab mereka diberikan hak sepenuhnya untuk berhukum
menurut agamanya, kecuali kalau mereka sendiri dengan suku rela meminta
dihukum menurut hukum.

Allah memerintahkan orang beriman untuk selalu teguh dalam melaksanakan


kebenaran dan menjadi saksi dengan adil, artinya berani mengungkapkan hal-hal
yang benar didepan pengadilan tanpa suatu pamrih atau tujuan tertentu, baik
karena kerabat, harta ataupun wanita serta kedudukan. Sebab keadilan merupakan
ukuran dan barometer dari kebenaran sebagaimana firman Allah swt :

- Surat al-Ma’idah [5] : 8

- Surat al-Ma’idah [5] : 9

- Surat al-Ma’idah [5] : 10

Sikap adil harus ditegakkan meskipun kepada musuh dan orang yang tidak disukai
dan dibenci, karena adil merupakan pekerjaan dan sikap yang paling dekat kepada
ketaqwaan.

Bila sudah terjadi suatu kecurangan pada suatu umat, maka akan hilanglah
kepercayaan dari orang tersebut. Kehancuran akan merajalela, hubungan tali
persaudaraan terputus, dan akhirnya petaka yang akan menimpa semua umat, baik
yang adil maupun yang curang.

Di samping berbuat keadilan Allah juga memerintahkan untuk berbuat ihsan,


yakni berbuat kebaikan kepada orang yang berbuat salah. Keadilan merupakan
dasar utama bagi semua aspek kehidupan berbangsa dalam segala zaman, serta
merupakan tujuan dari terutusnya Rasul-Rasul Allah yang membawa syariat dan
hukum yang diturunkan bersama.

Setelah Allah menjelaskan keadilan, ihsan dan juga menyantuni kerabat dekat
yang membutuhkan bantuan juga menerangkan 3 perkara yang harus ditinggalkan
oleh semua orang mukmin, diantaranya:

- Pertama, melarang berbuat keji (fahisyah) adalah perbuatan keji yang


didasarkan kepada pemuasan hawa nafsu, misalnya berzina, meminum minuman
yang memebukkan dan mencuri.

- Kedua, melarang berbuat munkar adalah perbuatan buruk yang berlawanan


dengan pikiran yang normal, misalnya membunuh, merampas hak orang lain.

10
- Ketiga,melarang permusuhan, misalnya berbuat sewenang-wenang terhadap
orang lain.

Oleh karena itu, Allah swt akan membalas kepada hakim yang konsekuen dalam
mengadili suatu perkara, yaitu seorang hakim yang senantiasa berpegang teguh
kepada keadilan dan kebenaran dalam memutuskan hukum suatu perkara,
ditempatkan di mimbar cahaya yang menggambarkan betapa mulianya orang yang
bisa bertugas dengan seadil-adilnya tanpa terpengaruh oleh bujukan dan rayuan
yang menggiurkan sebagaimana hadits Nabi Muhammad saw:

﴾‫اﻦاﻠﻣﺴﻄﻳﻦ ﻋﻨﺩ اﻠﻠﻪ ﻋﻟﻰ ﻤﻧﺎ ﺑﺮ ﻤﻦ ﻨﻭ ﯿﻤﯿﻦ اﻠﺮ ﺤﻤﻦ اﻠذ ﯿﻦ ﯿﻌﺪ ﻟﻮ ﻥ ﻓﻰ ﺤﮑﻤﻬم ﻮﻤﺎ ﻮﻟﻮ﴿ﺭﻮاﮦﺴﻠمﻮاﻠﻨﺴﺎﮰ‬

Artinya:

“ Sesungguhnya di sisi Allah orang yang berlaku adil bertempat di atas mimbar-
mimbar dari cahaya, Tuhan Yang Maha Pemurah memberikan jaminan kepada
orang-orang yang berlaku adil dalam merekan memutuskan hukum
(menghukuminya) tanpa berpaling dari keputusannya itu. “ (H.R. Muslim dan an-
Nisa’i)

2. Fungsi Profektif Agama dalam Hukum

Islam menghendaki agar manusia selalu berada pada martabat yang tinggi dan
luhur, serta menjadi anggota yang berdayaguna di tengah masyarakat, serta
meningkatkan menjadi makhluk yang berakal, berperasaan, dan rasa indra yang
sempurna, maka perlu sekali penegakan hukum yang menjamin semua itu agar
menjadi harmonis.

Manusia meskipun berbeda jenis, suku bangsa dan ras di hadapan Allah dan muka
hakim semua sama tidak ada pengecualian, maka dalam hal ini agama yang
berperan dan berfungsi untuk menyelamatkan umat manusia dalam Al-Qur’an
juga tidak mengenal sistem kelas dan status sosial, maka yang taat pada hukum
dan agama serta taqwa kepada Allah itulah yang paling mulia dan baik dihadapan-
Nya.

Maka hakim yang memutuskan suatu keputusan tidak berpaling kepada


keputusannya meskipun menyangkut diri pribadi dan keluarganya, inilah orang
yang betul-betul tertempa dengan amalan ajaran agama dan mapu membimbing
dan mengarahkan sehingga agama batul berfungsi baik.

Islam mengarahkan kekuatan manusia kepada tujuan besar yaitu kepentingan


masyarakat dengan jalan memanfaatkan segala bentuk kebajikan yang
disumbangkan oleh setiap individu, maka pemahaman terhadap aspek-aspek
humanis religius dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama salah satu
yang harus diimplementasikan dalam kehidupan.

11
Adapun upaya yang harus dilakukan dalam rangka untuk menegakkan hukum
Islam dalam praktek bermasyarakat dan bernegara memang harus melalui proses
terutama di negara yang mayoritas penduduknya muslim, namun bukan negara
Islam, kebebasan mengeluarkan perndapat untuk memikirkan pengembangan
pemikiran hukum Islam harus direalisikan, sebagaimana firman Allah swt:

‫ﻭ اﻦ ﻋﺎ ﻘﺑﺗم ﻔﻌﺎ ﻗﺑﻭ اﺑﻤﺜﻝ ﻤﺎ ﻋﻭ ﻗﺑﺘﻤﺑﻪ ۗﻭﻠﻥ ﺼﺑﺭ ﺘﻤ ﻠﻬﻭ ﺧﯿﺮ ﻠﻠﺻﺑﺮﯿﻥ‬

Artinya:

“Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan
siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya
itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar.” (Q.S. an-Nahl [16] : 126 )

Berdasarkan ayat tersebut, Allah memperbolehkan untuk membalas perlakuan


mereka kepada kita namun setimpal, hal ini sebagaimana ulama Hanafiyah,
Malikiyah, dan syafi’iyah memandangnya sebagai syariat yang harus diikuti oleh
orang Islam, namun hukum tersebut jika kita memaafkan itu lebih bagus, sebab
perlakuan kita lebih utama daripada membalas membalas perlakuan mereka.

Dalam ajaran Islam ditetapkan bahwa umat Islam mempunyai kewajiban untuk
mentaati hukum yang ditetapkan Allah, namun masalahnya sekarang
bagaimanakah sesuatu yang wajib menurut hukum Islam itu menjadi wajib pula
menurut perundang-undangan yang berlaku. Dan inilah tugas kita generasi muda
untuk merealisasikan, meskipun diperlukan proses, waktu, pemikiran, dan
sumbang saran sesuai petunjuk Allah dalam Al-Qur’an.

12
BAB III
KESIMPULAN

1. Dari penjelasan di atas maka dapat di simpulkan

· Perbuatan yang dituntut untuk dikerjakan (wajib dan Sunah)

· Perbuatan yang dituntut untuk ditinggalkan(haram dan makruh)

· Perbuatan yang diperkenakan dipilih untuk dikerjakan atau ditinggalkan


(mubah)

2. Hukum takifli yaitu ketentuan allah yang harus ditinggalkan dan dikerjakan
seorang mukalaf.

Hukum wad’i yaitu ketentuan Allah yang mengandung pengertian bahwa


terjadinya sesuatu itu jarena sebagai sebab syarat atau penghalang sesuatu.

3.Fungsi hukum islam dalam kehidupan bermasyarakat

a. Ibadah sebagai fungsi utama bagi manusia karena manusia sebagai mahluk
ciptaan Allah.

b. Fungsi amar makruf nahi munkar

c. Fungsi zawajir

d. Fungsi tanzim wal islah al ummmah

4. Setelah Allah menjelaskan keadilan, ihsan dan juga menyantuni kerabat dekat
yang membutuhkan bantuan juga menerangkan 3 perkara yang harus ditinggalkan
oleh semua orang mukmin, diantaranya:

- Pertama, melarang berbuat keji (fahisyah) adalah perbuatan keji yang


didasarkan kepada pemuasan hawa nafsu, misalnya berzina, meminum minuman
yang memebukkan dan mencuri.

- Kedua, melarang berbuat munkar adalah perbuatan buruk yang berlawanan


dengan pikiran yang normal, misalnya membunuh, merampas hak orang lain.

- Ketiga,melarang permusuhan, misalnya berbuat sewenang-wenang terhadap


orang lain.

13
DAFTAR PUSTAKA

Mulim Nurdiin,KH,dkk. 1995.moral dan kognisi islam. Bandung. Alfabeta.

Ali, Muhammad Daud.1998. sistem Ekonomi Islam,Zakat dan wakaf. Jakarta.


Ui,Press.

Djazuli,Acep.2000. fikih siyasah. Bandung.Gunung Pati Press.

Djatmika, Rchmat. 1992. Sistem Etika Islam.Jakarta. Pustaka Panjimas.

Anshori, Endang Sarifudin.1982. Pokok Pokok Pikiran Tentang Islam. Bandung.


Mizan.

14