Anda di halaman 1dari 6

PROFESI, Volume 14, Nomor 2 Maret 2017

HUBUNGAN PELAYANAN KB IUD TERHADAP TINGKAT


KEPUASAN AKSEPTOR KB IUD

THE CORELATION OF THE IUD FAMILY PLANNING SERVICE


WITH THE LEVEL OF SATISFACATION AT IUD ACCEPTORS

Nevia Zulfatunnisa, Qurrota Ainy


Prodi DIII Kebidanan STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta
email: Nevia.zulfa@gmail.com

Abstrak

Pelayanan keluarga berencana bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu serta anak
melalui pengendalian kelahiran dan pengendalian pertumbuhan penduduk. Hasil studi
pendahuluan didapatkan data seluruh akseptor KB IUD tahun 2015 IUD 86 orang. Hasil yang
didapatkan 15 akseptor merasa puas dan 5 akseptor tidak puas dengan pelayanan KB IUD
meliputi : tanggapan bidan, privasi, sikap bidan, dan konseling yang diberikan. Tujuan penelitian
ini Untuk mengetahui hubungan pelayanan KB IUD terhadap tingkat kepuasan akseptor KB IUD.
Metode penelitian ini menggunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional.
Populasi penelitian masyarakat Sangkrah yang menggunakan KB IUD dengan tekhnik sample
menggunakan Non Random Sampling dengan metode quota sampling sejumlah 30 responden.
Instrumen penelitian menggunakan quesioner. Analisa yang digunakan berupa spearman rank test
pada signifikan 5%..Hasil penelitian didapatkan mayoritas pelayanan yang baik sebanyak 63,3%,
dan minoritas pelayanan yang kurang 20%, sedangkan pada mayoritas tingkat kepuasan yang
puas sebanyak 36,8 % dan minoritas tingkat kepuasan yang sangat tidak puas sebanyak 20 %.
Pada analisa bivariet ini menunjukkan nilai ρ > α ( 0.650 > 0.364).

Kata Kunci: Pelayanan, kepuasan, KB IUD.

Abstract

Family planning services aims to improve welfare mother and a son through birth control and
controlling population growth. The result of astudy introduction obtained data all acceptors IUD
2015 86 people. The result of 15 acceptors were satisfied or 5 acceptors were satisfied with the
services provided family planning at IUD includes : response midwives, privasy, midwive attitude s,
and conseling given. This research used was deskriptif analytic with cross sectional method. The
aim of this reseach is to know correlation of the IUD family planning service with the level of
satisfaction of IUD acceptors. The population of this research is the people in Sangkrah of IUD
acseptors with 30 repondents. Furthermore, this research used non random sampling type with
quota sampling method, while it used survey for its instrument. The data analysis was done by
spearman ran test on signifikan 5%. The research results obtained the majority of good service as
much as 63,3%, and a minority of service less 20%, while in the majority of level of satisfaction
satisfied as much as 36.8%, very dissatisfied as much as 20%. On bivariet analysis shows ρ > α
(0650 > 0.364).

Keywords: Service, satisfacation, KB IUD.

31
PROFESI, Volume 14, Nomor 2 Maret 2017

PENDAHULUAN kaian metode IUD/AKDR menurun dari waktu


Pelayanan KB IUD adalah bagaimana ke waktu, yaitu tahun 1991 sebesar 13,3%, tahun
akseptor dilayani oleh suatu sistem yang mem- 1994 sebesar 10,3%, tahun 1997 sebesar 9,9%,
berikan pelayanan KB IUD yang akan menjamin tahun 2003 sebesar 8,1%, tahun 2007 hanya
bahwa klien dilayani dengan tanggung jawab dan sebesar 6,2% dan tahun 2012 hanya sebesar 4,8%
perhatian, mendapat informasi yang memadai (BKKBN, 2012).
tentang berbagai pilihan kontrasepsi yang Di Jawa Tengah 2013, jenis alat kontrasepsi
tersedia untuk memenuhi kebutuhan serta diberi yang digunakan peserta KB aktif adalah suntik
bantuan dalam pemasangan, pelepasan dan (54,84%), pil (17,43%), implan (9,55%),
pemilihan jenis kontrasepsi yang akan berlanjut, IUD/AKDR (9,48%), MOP/MOW (7,28%), dan
tanpa efek samping yang berarti hingga tujuan kondom (1,42%). Dari data tersebut dapat diketa-
klien untuk menjarangkan atau membatasi hui bahwa mayoritas penduduk Jawa Tengah
kelahiran tercapai (Saifuddin, 2005). menggunakan alat kontrasepsi suntik, yaitu sebe-
Pelayanan keluarga berencana bertujuan sar 54,48%. Hanya ada 9,48% saja yang meng-
untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak gunakan IUD/AKDR (Dinkes Jateng, 2013).
serta mewujudkan keluarga kecil yang bahagia Berdasarkan Profil Kesehatan Surakarta
dan sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan tahun 2013 terdapat 57.034 peserta KB aktif,
pengendalian pertumbuhan penduduk Indonesia dengan persentase sebagai berikut 27.189
serta terciptanya penduduk yang berkualitas, (47,67%) peserta Suntik, 12.028 (21,1%) peserta
sumber daya manusia yang bermutu dan IUD, 7.899 (13, 85%) peserta Pil, 4.941 (8,66%)
meningkatkan kesejahteraan keluarga. Akses peserta Kondom, 2.406 (4,22%) peserta Implan,
terhadap pelayanan keluarga berencana yang 2.391 (4,2%) peserta MOW dan 180 (0,3%)
bermutu merupakan suatu upaya mencapai peserta MOP (Profil Kesehatan Surakarta, 2013).
pelayanan kesehatan reproduksi. Secara khusus Pada tahun 2014, jenis alat kontrasepsi yang
dalam hal ini termasuk hak setiap orang untuk digunakan adalah suntik (55.05%), pil (14,84%),
memperoleh informasi dan akses terhadap MOW/MOP (9,5%), IUD (8,04%), implan
berbagai metode kontrasepsi yang aman, efektif (6,66%), dan kondom (5,91%).
dan terjangkau. (Saifudin, 2005). Berdasarkan data tersebut, peserta IUD
Badan Koordinasi Keluarga Berencana menempati urutan keempat. Ironisnya, jumlah
Nasional (BKKBN) berupaya melakukan peme- peserta KB aktif IUD/AKDR menurun dari tahun
rataan akses dan peningkatan kualitas pemakaian ke tahun Pemakaian metode IUD/AKDR di
kontrasepsi di Indonesia dengan fokus utama Indonesia nyata-nyata mampu menurunkan angka
pada kecenderungan pola pemakaian kontrasepsi TFR secara signifikan. Akan tetapi, pemakaian
yang dinilai tidak rasional. Kecenderungan metode kontrasepsi AKDR cenderung menurun
pemakaian jenis kontrasepsi di Indonesia tidak dari waktu ke waktu. Salah satu faktor yang
sesuai dengan pola di negara lain. Contohnya mempengaruhi peningkatan atau penurunan
pemakaian Intra Uterine Device (IUD) atau Alat penggunaan metode IUD/AKDR adalah Komuni-
Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) semakin kasi, Informasi dan Edukasi (KIE) yang intensif
menurun dari tahun ke tahun (BKKBN, 2014). dan efektif baik pada kelompok masyarakat
Berdasarkan data SDKI 2012, kecen- maupun perorangan (Dinkes Jateng, 2014).
derungan pola pemakaian kontrasepsi terbesar Proses KIE dan informed choice belum di-
adalah suntik (31,6%), pil (13,2%), IUD/AKDR laksanakan secara benar dan belum luas cakupan-
(4,8%), implan (2,8%), Metode Operasi Wanita / nya. Akibatnya, pemilihan kontrasepsi secara
MOW (3,1%), senggama terputus (2,2%), rasional masih belum tersosialisasi dengan baik.
pantang berkala (1,5%), kondom (1,3%), Metode Padahal, perkembangan teknologi kontrasepsi
Operasi Pria / MOP (0,2%), dan metode lainnya sesungguhnya didasari tujuan penggunaannya.
0,4%. Pemakaian metode kontrasepsi suntik Selain itu, perlu diingat bahwa kontrasepsi
memperlihatkan kecenderungan peningkatan rasional bukan hanya mempertimbangkan aspek
pada beberapa kurun waktu terakhir ini, yaitu efektifitas teknologi kontrasepsi dan tujuan
tahun 1991 hanya 11,7%, tahun 1994 sebesar penggunaan kontrasepsi (postponing, spacing
15,2%, tahun 1997 sebesar 21,1%, tahun 2003 atau limiting), tetapi harus mempertimbangkan
sebesar 27,8% dan tahun 2007 sebesar 31,6% dan secara rasional dari kriteria penerimaan dari
tahun 2012 sebesar 33,2%. Sebaliknya, pema-

32
PROFESI, Volume 14, Nomor 2 Maret 2017

aspek medis (medical eligible criteria) dan mutu Tabel 1. Distribusi frekuensi responden
pelayanan. yang Menerima Pelayanan KB IUD
Pengertian mutu pelayanan mencakup dua berdasarkan umur di Puskesmas Sangkrah.
dimensi, yaitu klien dan petugas pelayanan. Dari
dimensi klien, pelayanan dianggap bermutu No Umur Frekuesi %
apabila pelayanan mampu memberikan kepuasan 1. 22-30 th 3 orang 10 %
kepada klien (client satisfaction). Dengan kata 2. 31-40 th 10 orang 33.3%
lain, pelayanan yang bermutu adalah pelayanan 3. >40 th 17 orang 56.7%
yang mampu memenuhi kebutuhan dan tuntutan Total 30 orang 100%
serta hak-hak klien. Dari dimensi penyedia
layanan, pelayanan yang bermutu adalah Berdasarkan table 1 menunjukkan
pelayanan yang sesuai dengan kode etik dan bahwa mayoritas responden memiliki usia
memenuhi standar profesi pelayanan yang telah > 40 tahun sebanyak 56.7%.
ditetapkan (BKKBN, 2014).
Dengan demikian, kepuasan klien ini sangat b. Variabel Dependen
penting. Dimensi mutu layanan yang berhubu-
ngan dengan kepuasan klien dapat mempengaruhi Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden
kesehatan masyarakat dan kesejahteraan masya- Berdasarkan Pelayanan yang Diberikan
rakat. Klien yang merasa puas terhadap layanan di Puskesmas Sangkrah
akan mematuhi pengobatan dan mau datang
berobat kembali (Imbalo S. 2006). No Pelayan Frek %
an
METODE PENELITIAN 1 Baik 19 orang 63,3 %
Penelitian ini dirancang menggunakan 2 Cukup 5 orang 16,7 %
rancangan penelitian deskriptif analitik. Tempat 3 Kurang 6 orang 20 %
penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Total 30 orang 100%
Sangkrah Surakarta. Populasi dalam penelitian
ini adalah akseptor KB IUD yang melakukan Berdasarkan tabel 2 diperoleh bahwa
kunjungan di Puskesmas Sangkrah Surakarta mayoritas pelayanan responden memiliki
sejumlah 86 orang. Dengan teknik Non random pelayanan KB IUD yang baik yaitu 63,3 %
sampling sejumlah 30 responden. Instrumen yang responden dan minoritas responden
digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. memiliki pelayanan yang kurang yaitu
Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan 20% responden.
pearson product moment dengan nilai r hitung
tertinggi untuk pelayanan KB IUD 0,909 dan c. Variabel Independen
untuk r hitung tertinggi untuk tingkat kepuasan
akseptor KB IUD 0,864 dan uji reliabilitas Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden
menggunakan α-Cronbach didapatkan nilai α = Berdasarkan Tingkat Kepuasan Akseptor
0,941 pada kuesioner pelayanan dan untuk KB IUD di Puskesmas Sangkrah
kuesioner tingkat kepuasan diperoleh α = 0,946.
Analisa data menggunakan uji spearman rank. Tingkat
No Frek %
Kepuasan
HASIL PENELITIAN DAN 1 Sangat Puas 7 orang 23,3 %
PEMBAHASAN Puas
Hasil Penelitian 2 Tidak Puas 11 orang 36,7 %
1. Analisis Univariat 3 Sangat Tidak 5 orang 16,7 %
a. Karakteristik Responden Penelitian 4 Puas 7 orang 23,3 %
Total 30 orang 100%

33
PROFESI, Volume 14, Nomor 2 Maret 2017

Berdasarkan tabel 3 diperoleh bahwa seperti tanggap dalam keluhan yang dialami oleh
mayoritas responden memiliki tingkat akseptor, bidan memberi saran dan nasehat untuk
kepuasan yang puas terhadap pelayanan penggunana KB IUD ini, bidan juga menjelaskan
KB IUD sebanyak 11 orang (36,7%) dan bagaimana proses pelayanan KB IUD yang akan
minoritas responden yang memiliki tingkat diberikan pada akseptor.
kepuasan tidak puas sebanyak 5 orang Selanjutnya aspek jaminan dengan kondisi
(16,7%). yang menyatakan bahwa kerahasiaan dan privasi
sangat dijaga oleh bidan,bidan menjaga privasi
2. Analisis Bivariat salah satunya menutup pintu saat dilakukan
pemasangan KB IUD, dan memberikan surat
Tabel 4. Cross Tabulation Hubungan persetujuan (inform consent) pada akseptor
Pelayanan KB IUD terhadap Tingkat ketika akseptor setuju atas pilihannya. Akseptor
Kepuasan Akseptor KB IUD di Puskesmas juga mendapat pelayanan yang baik pada aspek
Sangkrah Surakarta jaminan ini karena sesuai dengan kebutuhan,
akseptor percaya dengan pelayanan yang diberi-
Pelayanan/
Kepuasan STP TP P SP kan, dan akseptor merasa nyaman dan aman
mendapatkan pelayanan di puskesmas sangkrah.
Kurang 50% 33,3% 16,7% 0%
Demikian juga pada aspek empaty, seperti
Cukup 60% 16,7% 16,7% 0%
Baik 16,7 % 10,5% 47,4% 36,8% bidan mendengarkan keluhan pasien dan merasa-
Total 36,8% 16,7% 36.7% 36,8% kan apa yang dirasakan oleh pasien, bidan juga
memberi tanggapan terhadap pasien, akseptor
Pembahasan merasa senang dengan pelayanan bidan yang
Pelayanan KB IUD ramah dan sopan saat berkomunikasi dan mem-
Data hasil penelitian berdasarkan pelayanan berikan tanggapan yang baik saat akseptor
yang didapatkan oleh responden menunjukkan menceritakan keluhannya, bidan juga menjelas-
bahwa mayoritas memiliki pelayanan KB IUD kan indikasi, kontraindikasi, keuntungan, keru-
yang baik yaitu 63,3 % responden, sedangkan gian dan efek samping dari penggunaan KB IUD
yang mendapatkan pelayanan yang cukup 16,7 % ini. Saat memberikan penjelasan bidan meng-
reponden dan minoritas responden memiliki gunakan kata kata yang mudah dimengerti oleh
pelayanan yang kurang yaitu 20% responden. akseptor serta bidan juga memberikan penjelasan
Pelayanan yang diberikan kepada akseptor dengan menggunakan lembar balik sehingga
KB IUD meliputi kehandalan, daya tanggap, akseptor ada gambaran bagaimana KB IUD itu.
jaminan, empati dan bukti langsung. Dimana Berdasarkan aspek bukti langsung, hasil
dalam penelitian ini kehandalan dinilai dari cara penelitian menunjukkan bahwa akseptor men-
bidan memberikan pelayanan terhadap akseptor dapat pelayanan yang baik dengan kondisi yang
KB IUD hasil yang didapatkan sebagian akseptor menyatakan bahwa ruangan nyaman, semua alat
mengatakan bidan mampu memberikan pelaya- bersih, bidan mencuci tangan dan memakai
nan yang baik kepada akseptor seperti akseptor sarung tangan sebelum melakukan tindakan, obat
langsung dilayani di ruang pemeriksaan KB atau alat kontrasepsi masih dalam keadaan
dengan tanggap dan bidan memberikan pilihan bersegel, tetapi beberapa akseptor mengatakan
KB apa yang akan dipakai sehingga bidan tidak mengerti apakah obat masih bersegel atau
memberikan inform choice kepada akseptor tidak karena bidan tidak memberitahu kepada
tentang KB apa yang tepat untuk akseptor. akseptor KB tersebut. Hal ini sesuai pendapat
Sehingga akseptor merasa senang atas pelayanan Hartanto & Hanafi (2005) yang menyatakan
yang didapatkan, ada beberapa akseptor yang bahwa sarana dan fasilitas fisik yang dapat
mengatakan bidan kurang memberikan pelayanan langsung dirasakan oleh pelanggan dalam
dalam komunikasi terhadap akseptor, sehingga pelayanan seperti kecukupan tempat duduk di
akseptor bingung memilih KB apa yang tepat ruang tunggu, kenyamanan ruang tunggu dan
untuk dirinya. penampilan fisik petugas yang melayani ter-
Pada aspek daya tanggap, akseptor merasa masuk menjamin mutu pelayanan.
mendapatkan pelayanan yang baik karena bidan Selama penelitian, peneliti juga melihat
dapat memberikan pelayanan yang diharapkan bahwa bidan dipuskesmas sangkrah memberikan
pelayanan yang baik. Peneliti juga melihat

34
PROFESI, Volume 14, Nomor 2 Maret 2017

langsung bahwa sebagian bidan terampil dalam seperti harus lebih ramah dan sopan saat
memberikan pelayanan yang diberikan kepada berkomunikasi serta mendengarkan keluhan
akseptor, bidan menjawab semua pertanyaan dengan baik, penjelasan yang disampaikan
yang dikeluhkan oleh akseptor, bidan juga seharusnya sesuai dengan kebutuhan dan mudah
menjelaskan bagaimana prosedur pemasangan dimengerti, bidan harus menjelaskan berbagai
KB IUD, menjelakan indikasi kontra indikasi, metode kontrasepsi yang ingin dipakai dan
keuntungan, kerugian dan efek samping pada mengganti metode kontrasepsi, serta menjelaskan
penggunaa KB IUD di sertai dengan lembar efek samping dan cara pemakaian.
balik, bidan juga ramah dalam berkomunikasi Hal ini sesuai pendapat Husain (2007)
sehingga menimbulkan rasa aman dan nyaman Kepuasan pelanggan ditentukan oleh persepsi
pada akseptor, peneliti juga melihat ruangan yang pelanggan atas performance produk atau jasa
dipakai sangat nyaman, obat dan alat yang di dalam memenuhi harapan pelanggan. Pelanggan
gunakan dalam keadaan bersih dan masih merasa puas apabila harapannya terpenuhi atau
bersegel, dalam melakukan tindakan bidan selalu akan sangat puas jika harapan pelanggan
mencuci tangan dan selalu menggunakan sarung terlampaui.
tangan. Tetapi ada juga beberapa bidan yang Didukung dengan penelitian sebelumnya
kurang dalam pemberian pelayanan salah satunya Herlianti Pasaribu dengan judul “Kepuasan
yaitu kurang memberikan konseling sebelum Akseptor KB terhadap Pelayanan KB di Klinik
pemberian KB IUD. Bersalin N.Tambunan” di Medan Tahun 2009
Sesuai menurut Zeithaml dalam Bustami telah melakukan penelitian sebanyak 73 akseptor
(2011) pelayanan ini dikatakan baik karena KB dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa
pelayanan yang diberikan bidan sesuai dengan dari 73 orang responden terdapat 47% akseptor
lima dimensi kualitas pelayanan yang meliputi yang memiliki tingkat kepuasan tinggi, 52%
kehandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan akseptor yang memiliki tingkat kepuasan sedang
bukti langsung. dan 1% akseptor yang memiliki tingkat kepuasan
Dalam penelitian ini juga sesuai menurut rendah terhadap pelayanan KB di klinik bersalin
Bustami (2011) yaitu mutu pelayanan bagi N. Tambunan Medan.
pasien, penilaian jasa pelayanan kesehatan lebih Penelitian ini dikatakan puas jika akseptor
terkait pada ketanggapan petugas memenuhi mendapatkan apa yang ia butuhkan, jika yang
kebutuhan pasien, kelancaran komunikasi dibutuhkan terpebuhi maka akan menimbulkan
petugas dengan pasien, empati dan keramah rasa kepuasan dan sebaliknya jika akseptor tidak
tamahan petugas dalam melayani pasien dalam mendapatkan apa yang dibutuhkan maka akseptor
kesembuhan penyakit yang diderita oleh pasien. tidak akan merasa puas terhadap apa yang yang
Menurut asumsi peneliti pelayanan yang diberikan.
diberikan sesuai dengan teori yang ada, Dalam penelitian ini sesuai menurut Husain
pelayanan yang ada sudah mencangkup lima (2007), kepuasan pelanggan ditentukan oleh
dimensi pelayanan. persepsi pelanggan atas performance produk atau
jasa dalam memenuhi harapan pelanggan.
Tingkat Kepuasan KB IUD Pelanggan merasa puas apabila harapannya
Dalam penelitian ini di dapatkan responden terpenuhi atau akan sangat puas jika harapan
yang merasa puas dan sangat puas terhadap pelanggan terlampaui.
pelayanan yang baik sebanyak 53,3 % sedangkan Menurut penulis ada kesesuaian antara hasil
responden yang merasa sangat tidak puas dan teori yang ada.
terhadap pelayanan yang kurang sebanyak 20%.
Pelayanan yang baik dapat memberikan Hubungan Antara Pelayanan KB IUD Ter-
kepuasan yang baik pada akseptor KB IUD. hadap Tingkat Kepuasan akseptor KB IUD
Dalam penelitian ini rata-rata responden menga- Hasil uji statistika dengan menggunakan
takan puas terhadap pelayanan yang diberikan Spearman Rank menunjukkan bahwa ada hubu-
seperti bidan ramah dalam melakukan komuni- ngan yang signifikan antara pelayanan KB IUD
kasi, penjelasan bidan mudah dimengerti se- terhadap tingkat kepuasan akseptor KB IUD
hingga akseptor merasa nyaman dengan pelayan- dengan hasil ρ > α(0,650 > 0,362) pada tingkat
an tersebut, tetapi sebagian merasa kurang puas signifikan 5%. Hal ini membuktikan pelayanan
pada aspek konseling yang diberikan bidan, KB IUD berpengaruh signifikan terhadap tingkat

35
PROFESI, Volume 14, Nomor 2 Maret 2017

kepuasan akseptor KB IUD yang berarti semakin SIMPULAN


baik pelayanan yang diterima responden maka Setelah dilakukan analisa data dan pem-
tingkat kepuasan akseptor KB IUD semakin puas. bahasan hasil penelitian maka simpulan yang
Menurut Imbalo (2006) bahwa hubungan dapat diambil adalah sebagai berikut:
antara pelayanan KB IUD terhadap tingkat 1. Pelayanan KB IUD terhadap tingkat kepuasan
kepuasan akseptor KB IUD dapat dilihat pada pada akseptor KB IUD puskesmas Sangkrah
tabel 8. Hal ini menunjukkan semakin baik Surakarta memiliki pelayanan yang baik yaitu
pelayanan yang diberikan pada responden maka 63,3%.
semakin tinggi juga tingkat kepuasan responden 2. Tingkat kepuasan akseptor KB IUD di
dan semakin kurang pelayanan yang diberikan Puskesmas Sangkrah Surakarta memiliki
pada responden maka tingkat kepuasan respon- tingkat kepuasan yang puas sebanyak 36,8 %.
den semakin tidak puas. Adanya hubungan ini 3. Ada hubungan yang signifikan antara pela-
juga berguna untuk meningkatkan pelayanan yanan KB IUD terhadap tingkat kepuasan
kesehatan untuk dapat memahami dan melak- pada akseptor KB IUD puskesmas Sangkrah
sanakan pelayanan yang sesuai standar guna Surakarta dengan hasil hitung ρ > α ( 0,650 >
meningkatkan kepuasan pasien. 0,364 ).
Dalam penelitian yang peneliti lakukan
dengan pelayanan yang salah satu dipengaruhi REFERENSI
oleh tingkat kepuasan, baiknya pelayanan yang
diberikan kepada akseptor akan mempengaruhi BKKBN. 2014. Buku Panduan Praktis Pela-
tingkat kepuasannya. yanan Keluarga Berencana.Jakarta.
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori
Bustami. 2011. Penjaminan Mutu Pelayanan
Husain (2007), bahwa kepuasan pelanggan
Kesehatan dan Akseptibilitasnya. Jakarta:
ditentukan oleh persepsi pelanggan atas perfor-
Erlangga.
mance produk atau jasa dalam memenuhi
harapan pelanggan. Pelanggan merasa puas Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Jawa
apabila harapannya terpenuhi atau akan sangat tengah.2013.Profil kesehatan provinsi
puas jika harapan pelanggan terlampaui. jawa tengah 2013.semarang: Dinas Kese-
Menurut pendapat Kotler ( 2007 ) hasil hatan Pemerintah Provinsi Jawa tengah.
penelitian ini sesuai dengan teori bahwa Hartanto & hanafi. 2005. Keluarga Berencana
pelayanan yang bermutu dapat menghasilkan dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar
suatu kepuasan bagi klien, sehingga dapat Harapan.
dirumuskan bila unsur-unsur dimensi kualitas
pelayanan yang diterima sesuai dengan unsur- Husain, U. 2005. Manajemen Riset dan Perilaku
unsur dimensi kualitas pelayanan yang Konsumen. Jakarta : PT Gramedia Pusat.
diharapkan maka kualitas pelayanan dinilai baik Imbalo S. 2006. Jaminan Mutu Layanan Kese-
dan memuaskan. hatan: Dasar-Dasar Pengertian Dan
Didukung dengan penelitian sebelumnya Penerapan. Jakarta : EGC.
Nia Wahyuningrum dengan judul “Gambaran
Tingkat Kepuasan Pasien Terhadap Kualitas Kotler, P. & Kevin.L.K.2007. Manajemen
Pelayanan KB AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Pemasaran, Edisi Kedua Belas, Jilid 2,
Rahim)” di Di Puskesmas Wonosobo I Kecama- dialihbahasakan oleh Benjamin Molan.
tan Wonosobo Kabupaten Wonosobo, telah Jakarta: PT Indeks.
melakukan penelitian sebanyak 85 responden _________. 2009. Manajemen Pemasaran.
dengan hasil analisis menunjukkan bahwa pasien Jakarta : Erlangga.
merasa sangat puas terhadap kualitas pelayanan
KB AKDR di Puskesmas Wonosobo I dengan Saifudin & Abdul B. 2005. Buku Panduan praktis
prosentase sebesar 77,70%. Pelayanan kesehatan maternal &
Menurut penulis ada kesesuaian antara hasil neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
dan teori yang ada. Sarwaono Prawirohardjo.

36