Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Inflamasi merupakan gangguan yang sering terjadi pada manusia serta

binatang, yang ditandai dengan timbulnya kemerahan, panas, pembengkakan, rasa

nyeri yang mengganggu dan hilangnya fungsi dari jaringan. Inflamasi ini adalah

respons terhadap cedera jaringan dan infeksi (Kee et al., 1996). Respon ini adalah

usaha tubuh untuk menginaktivasi/merusak organisme yang menyerang,

menghilangkan zat iritan dan mengatur derajat perbaikan jaringan (Mycek et al.,

2001).

Antiinflamasi merupakan obat yang dapat mengatasi inflamasi, terdiri dari

beberapa golongan, yaitu steroid dan non steroid. Obat-obatan yang sekarang ini

sering digunakan sebagai analgetika dan anti-inflamasi adalah obat golongan

NSAID (Non Steroidal Anti-inflammatory Drugs). Efek terapi NSAID sebagai

anti-inflamasi analgetik, berasal dari kemampuannya untuk menghambat

biosintesis prostaglandin yang merupakan mediator nyeri. Efek samping NSAID

yang paling sering terjadi adalah tukak lambung atau tukak peptik (Goodman and

Gilman, 2008). Efek merugikan lainnya yaitu seperti iritasi pada gastrointestinal,

kerusakan ginjal, diare, sakit kepala, depresi, pankreatitis, hiperglikemi,

osteoporosis, hipertensi, dan juga pada terapi ini kadang agresif dan tidak efektif

dalam beberapa kasus (Dewi et al., 2015).

Zingiberaceae (temu-temuan) merupakan famili terbesar yang sering

digunakan untuk ramuan obat. Beberapa tanaman dari famili tersebut telah banyak

1
diketahui memiliki berbagai macam efek farmakologi. Temu putih merupakan

salah satu tanaman suku zingiberaceae yang telah lama digunakan untuk bahan

jamu (Gana et a., 2007). Bagian yang sering dimanfaatkan dari tanaman ini adalah

rimpangnya (Sudarsono et al., 1996). Dari hasil penelitian temu putih memiliki

beberapa khasiat, diantaranya antimikroba, antidiare, kontraksi uterus,

antioksidan, imunostimulan (Gana et al., 2007), antiinflamasi (Makabe et al.,

2006), hepatoprotektif (Sudarsono et al.,2002), antikanker, antitrombotik

(Dalimartha, 2003) dan antiasma (Sudarsono et al., 1996).

Dalam penelitian yang telah dilakukan, dari ekstrak metanol rimpang temu

putih (Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe) diketahui bahwa kandungan

furanodiene seskuiterpen dan furanodienone dapat menekan inflamasi pada

telinga tikus yang diinduksi TPA (12-O-tetradecanoylphorbol-13-asetat), masing-

masing sebesar 75% dan 53% pada dosis 1 μmol. Aktivitas dari kandungan

tersebut dibandingkan dengan indometasin (Makabe et al., 2006). Selain itu,

berbagai kandungan yang terdapat dalam tanaman temu putih yang diperkirakan

dapat bersifat sebagai antiinflamasi adalah flavonoid (Sudarsono et al., 2002) dan

kurkumin (Anonim, 2000).

Berdasarkan uraian diatas, maka dilakukan penelitian efek farmakologi

rimpang temu putih (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe). Metode yang

digunakan dalam penelitian ini adalah metode stabilisasi membran sel darah

kambing.

2
1.2 Perumusan Masalah

Apakah ekstrak rimpang temu putih (Curcuma zedoaria (Christm.)

Roscoe) memiliki aktivitas antiinflamasi dengan metode stabilisasi

membran sel darah merah?

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi ekstrak rimpang temu putih

(Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe) terhadap penghambatan reaksi

inflamasi dengan metode stabilisasi membran sel darah merah.

1.4 Hipotesa

H₀ : Tidak ada pengaruh pemberian ekstrak rimpang temu putih

(Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe) terhadap penghambatan

reaksi inflamasi dengan metode stabilisasi membran sel darah

merah.

Hı : Ada pengaruh pemberian ekstrak rimpang temu putih (Curcuma

zedoaria (Christm.) Roscoe) terhadap penghambatan reaksi

inflamasi dengan metode stabilisasi membran sel darah merah.

1.5 Manfaat Penelitian

1. Untuk pengembangan ilmu pengetahuan rimpang temu putih (Curcuma

zedoaria (Christm.) Roscoe) sebagai obat fitofarmaka.

2. Untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis mengenai

penelitian tentang uji aktivitas antiinflamasi dari ekstrak rimpang temu

putih (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe) dengan metode stabilisasi

membran sel darah merah.

3
3. Sebagai sumber informasi ilmiah mengenai khasiat sebagai obat

aktivitas antiinflamasi dari rimpang temu putih (Curcuma zedoaria

(Christm.) Roscoe) kepada masyarakat luas.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Botani Temu Putih (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe)

2.1.1 Klasifikasi Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe

Klasifikasi dari tumbuhan Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe

adalah sebagai berikut (Badan POM RI, 2010) :

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Ordo : Zingiberidae

Subfamili : Zingiberales

Famili : Zingiberaceae

Genus : Curcuma

Spesies : Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe

Gambar 1. Tanaman Temu Putih Gambar 2. Rimpang Temu

Putih

5
2.1.2 Nama Daerah

Kunyit putih, temu putih, atau koneng bodas (Dalimartha, 2005). Selain

dari Indonesia, temu putih juga memiliki nama lain di berbagai negara, seperti

yang tercantum pada tabel 1.

Tabel 1. Nama temu putih di berbagai negara

Negara Nama Temu Putih

Indonesia Kunyit putih, temu putih, kunir putih

Belanda Maagwortel, zedoarwortel

Inggris White turmeric, setwall, zedoary turmeric, zedoary

Prancis Zedoaire, rhizome de zedoire

Jerman Zitwer

India Kachur, amb halad, gandhmul

Hongaria Feher kurkuma, zedoaria-gyoker, citvor

Italia Zedoaria, radice di curcuma, zedoaria lunga

Laos Khi min khay

Spanyol Cedoaria, cetoal

Thailand Kha min khao, khamin khun, khamin oi

Arab Gadwar, satwal, zadwar

Cina E zhu, e shu, yu jin (medicinal name)

Malaysia Temu kuning, temu puteh

Nepal Kacur, van haledo

Portugis Zedoaria

Turki Cevdar, gulpa hamar

6
Vietnam Bong truat, ngai tim, nga truat, tam nai

Sumber : (Syukur, 2003)

2.1.3 Morfologi

Bunga majemuk susunan bulir, di ketiak rimpang primer, tangkai

berambut. Daun pelindung berjumlah banyak, hijau atau hijau dengan garis tepi

ungu, seludang bunga dan daun pelindung rata-rata 3-8 x 3,5-5 cm, bulu daun

pelindung berwarna ungu atau merah muda gelap. Daun kelopak 3, putih atau

kekuningan, bagian tengah merah atau cokelat kemerahan, panjang 3-4 cm. Daun

mahkota 3, putih kekuningan, tinggi rata-rata 4,5 cm. Bibir membulat atau bulat

telur terbalik, ujung berlekuk 3, kekuningan dengan pita kuning gelap dibagian

tengah, ukuran 14-18 x 14-20 mm. Benang sari 1, tidak sempurna, bulat telur

terbalik, kuning terang. Ukuran 12-16 x 10-115 mm; tangkai benang sari terlipat

membujur, ukuran 3-5 x 2-4 mm, putih kekuningan; kepala sari putih dengan tali

panjang, panjang 6 mm. Buah berambut, rata-rata 2 cm. Daun tunggal, pelepah

daun membentuk batang semu, berwarna hijau dengan pita ungu sepanjang tulang

daun, helaian 2-9 buah, bentuk lanset memanjang, ukuran 25-75 x 7-20 cm, ujung

runcing-meruncing, berambut tidak nyata, hijau atau hijau dengan bercak cokelat

ungu di tulang daun pangkal. Batang semu, warna cokelat muda sampai cokelat

tua, didalamnya putih atau putih kebiruan, rimpang bulat dan aromatis. Herba

setahun, tinggi dapat lebih dari 2 m. Waktu berbunga Agustus-Mei. (Badan POM

RI, 2010).

2.1.4 Kegunaan Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe

Setiap bagian dari kunyit putih ini memiliki fungsi yang berbeda dalam

penggunaan secara tradisional, seperti tercantum pada tabel 2.

7
Tabel 2. Kunyit putih beserta fungsinya

Bagian Kunyit Putih Fungsi

Minyak dari rimpang Mual, muntah, peluruh haid

Akar Mengatasi keputihan

Batang Pengobatan kecacingan pada anak

Rimpang bentuk bubuk Antialergen

Daun (jus) Pengobatan lepra

Daun Pengobatan furunculosis

Sumber : (Putri, 2014)

2.2 Tinjauan Kimia

Dalam buku Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia edisi revisi

Volume 1 yang di keluarkan oleh Badan POM RI, 2010 dikatakan bahwa

kandungan kimia yang terdapat dalam ektrak temu putih adalah seskuiterpen,

furanoiden, furanodienon, zedoaron, kurzerenon, kurzeon, germakran, 13-hidroksi

germakran, dihidrokurdion, kurkumenon, zedoarenodiol, kurkumanolida A, B,

fenil propanoid: etilparametoksisinamat, α dan β-turmeron; kurkuminoid:

kurkumin, bisdemetoksi kurkumin; tetrahidrodemetoksi kurkumin,

tetrahidrobisdemetoksi kurkumin; fitosterol: sitosterol dan stigmasterol; minyak

atsiri: epikurzerenon, kurzeren, 1,8-sineol, simen, α-felandren, β-eudesmol. Selain

itu rimpang temu putih juga mengandung flavonoid, sulfur, gum, resin, tepung

dan sedikit lemak (Dalimartha, 2003).

8
Rimpang temu putih juga dilaporkan mengandung diarilheptanoid (Park et al.,

2012) dan juga 5 seskuiterpen termasuk isoprocurcumenol, garmakron,

curzerenon, curcumenol dan curcuzedoalid (Jung et al, 2018).

2.2.1 Flavonoid

a. Monografi

Gambar 3. Struktur Flavonoid (Astuti, 2011)

Senyawa-senyawa flavonoid adalah senyawa-senyawa polifenol yang

mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon, yang

tersusun dalam konfigurasi C6C3C6. Terdiri dari 2 cincin aromatik yang

dihubungkan oleh tiga buah karbon (Markham, 1988). Adanya gula yang

terikat pada flavanoid menyebabkan flavanoid lebih mudah larut dalam air,

sedangkan aglikon yang kurang polar seperti flavon yang termetoksilasi

cenderung lebih mudah larut dalam larut dalam pelarut non polar seperti

eter dan kloroform (Harbone, 1987).

Flavonoid merupakan golongan senyawa bahan alam dari senyawa

fenolik yang merupakan pigmen tumbuhan. Saat ini lebih dari 6.000

senyawa yang berbeda masuk dalam golongan flanonoid. Flavonoid

merupakan bagian penting dari diet manusia karena banyak manfaatnya

bagi kesehatan. Fungsi kebanyakan flavonoid dalam tubuh manusia adalah

sebagai antioksidan sehingga sangat baik untuk pencegahan kanker karena

9
dapat menetralkan senyawa-senyawa radikal. Manfaat flavonoid antara

lain adalah untuk melindungi struktur sel, memiliki hubungan sinergis

dengan vitamin C (meningkatkan efektivitas vitamin C), antiinflamasi,

mencegah keropos tulang, dan sebagai antibiotic (Heinrich et al., 2010).

b. Identifikasi

Sebanyak ± 4 gram sampel dipotong halus dan didihkan dalam 25 ml

etanol, saring selagi panas. Filtrat yang didapatkan diuapkan sampai

setengahnya, kemudian ditambahkan asam klorida pekat 0,1 ml dan sedikit

serbuk logam Mg. Adanya flavonoid ditandai dengan timbulnya warna

orange sampai merah ((Harbone, 1987).).

c. Isolasi

Isolasi adalah proses pengambilan atau pemisahan suatu zat dari suatu

bahan alam dengan menggunakan suatu pelarut yang sesuai. Dalam

melakukan isolasi atau penyarian dari bahan alam dapat digunakan bahan-

bahan tumbuhan, hewan segar maupun yang telah dikeringkan, tergantung

simplisia dan zat / senyawa yang akan diisolasi (Jamal, 2010).

Isolasi dapat dilakukan dengan cara menimbang, mencuci, dan

mereduksi ukuran rimpang terlebih dahulu, kemudian diekstraksi.

Ekstraksi dapat dilalukan dengan cara maserasi, perkolasi dan sokletasi

menggunakan pelarut yang sesuai dengan kepolaran flavonoid, kemudian

pelarut dipekatkan sampai volume yang dibutuhkan dan dibebaskan dari

senyawa-senyawa non polar menggunakkan N-heksan atau kloroform, lalu

difraksinasi dengan pelarut yang cocok dan selanjutnya dilakukan oada

tahap kromatografi (Harbone, 1987).

10
d. Penetapan Kadar

Ambil ekstrak sebanyak 0,5 mL tambahkan 1,5 mL metanol,

tambahkan 0,1 mL alumunium klorid 10% tambah 0,1 mL pottasium

asetat 1M dan tambahkan air suling 2,8 mL, biarkan 10 menit dan ukur

panjang gelombang maksimum dengan spektofotometer UV-visible

(Pourmorad et al., 2006).

2.2.2 Kurkumin

a. Monografi

Gambar 4. Struktur Kurkumin (Nurrochmad, 2004)

Kurkumin merupakan salah satu produk senyawa metabolit sekunder

dari tanaman Zingiberaceae, khususnya kunyit, temu putih dan temulawak

yang telah dimanfaatkan dalam industri farmasi, makanan, parfum, dan

lain-lain. Ada banyak data dan literatur yang menunjukkan bahwa kunyit

dan temulawak berpotensi besar dalam aktifitas farmakologi yaitu anti

inflamasi, anti imunodefisiensi, anti virus (virus flu burung), anti bakteri,

anti jamur, anti oksidan, anti karsinogenik dan antiinfeksi (Joe,

Vjaykumar, & B.R.Lokesh, 2004).

Senyawa kurkumin ini, seperti halnya senyawa kimia lain seperti

antibiotik, alkaloid, steroid, minyak atsiri,resin, fenol dan lain-lain

merupakan hasil metabolit sekunder suatu tanaman. Tanaman obat dan

11
aromatik dapat menghasilkan senyawa metabolit sekunder bernilai

ekonomi tinggi, seperti inblastina/vinkristina pada tanaman tapak dara

(Vinca rosea),kinina pada tanaman kina (Cinchoa sp.), kodeina, yasmin

pada tanaman melati (Jasminum sambac), piretrin pada tanaman Piretrum

(Pyrethrum pelargonium) dan spearmint pada tanaman mentha (Mentha

sp.) (Haris, 1989).

b. Identifikasi

Ekstrak kasar yang diperoleh dari sokletasi, selanjutnya ditotolkan

pada pelat KLT silika gel F254 (Merck) lalu dielusi. Eluen yang digunakan

adalah campuran kloroform dan etanol dengan perbandingan 95 :5 (v/v).

Analisis ini dilakukan dengan menyertakan curcumin standar sebagai

pembanding. Pola pemisahan yang dihasilkan dibandingkan dengan

literature (Roviati, 2010).

c. Penetapan Kadar

Untuk mengetahui berapa jumlah senyawa penyusun suatu senyawa

kompleks ditunjukkan oleh banyaknya noda yang terbentuk Untuk

memudahkan identifikasi senyawa-senyawa yang muncul, dilakukan

pengukuran jarak noda tersebut pada fasa diam. Pengukuran ini

berdasarkan pada jarak yang ditempuh oleh pelarut dan jarak yang tempuh

oleh bercak warna masing-masing. Ketika pelarut mendekati bagian atas

lempengan, lempengan dipindahkan dari gelas kimia dan posisi pelarut

ditandai dengan sebuah garis, sebelum mengalami proses penguapan

(Roviati, 2010)..

12
2.3 Tinjauan Farmakologi

2.3.1 Inflamasi

Inflamasi adalah respon terhadap kerusakan jaringan akibat berbagai

rangsangan yang merugikan, baik rangsangan kimia maupun mekanis serta

infeksi. Ketika proses inflamasi, terjadi reaksi vaskular dimana cairan, elemen-

elemen darah, sel darah putih dan mediator kimia berkumpul pada tempat cedera

jaringan atau infeksi. Proses inflamasi merupakan suatu mekanisme perlindungan

dimana tubuh berusaha untuk menetralisir dan membasmi agen-agen yang

berbahaya pada tempat cedera dan untuk mempersiapkan keadaan untuk

perbaikan jaringan (Kee, Joyce L, 1996). Perbaikan jaringan berupa pergantian sel

parenkim yang rusak dengan sel baru melalui regenerasi atau menggantinya

dengan jaringan ikat (Pringgoutomo et al., 2000).

A. Tanda-Tanda Inflamasi

Ada lima tanda klinis terjadinya inflamasi, yaitu :

1. Warna kemerahan (rubor)

Jaringan yang mengalami radang akut tampak berwarna merah,

seperti pada kulit terkena sengatan matahari, selulitas karena infeksi

bakteri atau konjungtivitas akut. Warna kemerahan ini akibat adanya

dilatasi pembuluh darah kecil dalam daerah yang mengalami

kerusakan (Price, 2006).

2. Panas (Kalor)

Peningkatan suhu banyak tampak pada bagian perifer (tepi),

seperti pada kulit. Peningkatan suhu ini diakibatkan oleh

meningkatnya aliran darah melalui daerah tersebut mengakibatkan

13
sistem vaskuler dilatasi dan mengalirkan daerah yang hangat pada

daerah tersebut. Demam sistemik sebagai hasil dari beberapa mediator

kimiawi, proses radang juga ikut meningkatkan temperatur lokal

(Price, 2006).

3. Bengkak (Tumor)

Pembengkakan sebagai hasil adanya edema merupakan suatu

akumulasi cairan dalam rongga ekstra vaskuler yang merupakan

bagian dan cairan eksudat dan dalam jumlah sedikit kelompok sel

radang yang masuk dalam daerah tersebut (Price, 2006).

4. Rasa Sakit (Dolor)

Pada radang akut rasa sakit merupakan salah satu gambaran yang

dikenal baik oleh penderita, rasa sakit sebagian disebabkan oleh

regangan atau distorsi jaringan akibat edema dan terutama karena

adanya tekanan di dalam rongga abses. Beberapa mediator kimiawi

pada radang akut termasuk, prostaglandin, dan serotonin diketahui

juga menyebabkan rasa sakit (Price, 2006).

5. Hilangnya Fungsi

Hilangnya fungsi yang diketahui merupakan konsekwensi dari

suatu proses radang. Gerakan yang terjadi pada daerah radang, baik

dilakukan secara langsung ataupun reflek akan mengalami hambatan

rasa sakit. Pembengkakan yang hebat secara fisik mengakibatkan

kurangnya gerak jaringan (Price, 2006).

14
B. Mekanisme Inflamasi

Proses inflamasi dimulai dari stimulus yang akan mengakibatkan

kerusakan sel, sebagai reaksi terhadap kerusakan sel maka sel tersebut akan

mengaktifkan enzim fosfolipid untuk mengubah fosfolipid menjadi asam

arakidonat. Setelah asam arakidonat tersebut bebas maka akan diaktifkan oleh

beberapa enzim, diantaranya diantaranya siklooksigenase dan lipooksigenase.

Enzim tersebut merubah asam arakidonat kedalam bentuk yang tidak stabil

(hidroperoksid dan endoperoksid) yang selanjutnya dimetabolisme menjadi

prostaglandin, prostasiklin, tromboksan dan leukotrin. Bagian prostaglandin dan

leukotrin bertanggung jawab terhadap gejala peradangan dan nyeri (Katzung,

2006).

C. Jenis inflamasi

Jenis inflamasi terbagi atas 2 macam :

1. Inflamasi Akut

Pada inflamasi akut proses berlangsung singkat beberapamenit hingga

beberapa hari, dengan gambaran utama eksudasi cairan dan protein plasma

serta emigrasi sel leukosit terutama neutrofil. Tanda-tanda poko

peradangan akut mencakup kemerahan (rubor), panas (kalor), rasa nyeri

(dolor) dan pembengkakan (tumor) (Pringgoutomo et al, 2000).

2. Inflamasi kronik

Inflamasi kronik terjadi bila penyembuhan pada radang akut tidak

sempurna, bila penyebab jejas menetap atau bila penyebab ringan timbul

berulang-ulang. Dapat pula disebabkan oleh reaksi imunologik. Radang

berlangsung lama (berminggu-minggu, berbulan-bulan). Radang kronik

15
makrofag dan biasanya disertai pula dengan pembentukan jaringan

granulasi, yang menghasilkan fibrosis. Contoh inflamasi kronik adalah

inflamasi akibat tuberkulosis (Pringgoutomo et al, 2000).

D. Obat-obat Antiinflamasi

1. Antiinflamasi Steroid

Efek antiradang antiinflamasi steroid berhubungan dengan

kemampuannya untuk merangsang biosintesis protein lipomodulin yang

dapat menghambat kerja enzimatik fosfolipase sehingga mencegah

pelepasan mediator nyeri yaitu asam arakidonat dan metabolitnya, seperti

prostaglandin, leukotrin, tromboksan dan prostasiklin. Obat ini dapat

memblok jalur siklooksigenase dan lipoksigenase, sedangkan

Antiinflamasi Non Steroid (AINS) hanya memblok siklooksigenasse. Oleh

karena itu efeknya lebih baik di banding AINS, namun efek sampingnya

lebih berbahaya pada dosis tinggi dan penggunaan lama (Tjay & Rahardja,

2007).

2. Antiinflamasi Nonsteroid (AINS)

AINS merupakan obat yang secara luas telah digunakan sebagai terapi

penyakit yang berkaitan dengan proses inflamasi. Selain memiliki efek

antiinflamasi, sebagian besar AINS juga mamiliki efek antipiretik dan

analgetik.

Mekanisme kerja golongan obat ini dengan menghambat

siklooksigenase dengan kekuatan dan selektivitas yang berbeda (Wilmana

dan Sulistia, 2007).

16
E. Metode Pengujian Efek Antiinflamasi

1. Inflamasi model akut

Terdapat beberapa metode yang digunakan untuk uji inflamassi

model akut diantaranya :

a. Induksi asam asetat

Metode ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas inhibisi obat

terhadap peningkatan permeabelitas vaskular yang diinduksi oleh

asam asetat secara intraperitoneal. Kemudian sejumlah pewarna

(Evan’s Blue 10%) disuntikkan secara intravena. Aktivitas inhibisi

obat uji terhadap peningkatan permeabelitass vaskular ditunjukkan

oleh kemampuan obat uji dalam mengurangi konsentrasi pewarna

yang menempel dalam ruang abdomen dengan menggunakan

spektrofotometer pada panjang gelombang visible, lalu di

bandingkan dengan kelompok kontrol (Suralkar, 2008).

b. Induksi histamin

Metode yang digunakan hampir sama dengan metode induksi

karagenan, namun penginduksi yang digunakan adalah 0,1 ml

larutan histamin 1% (Suralkar, 2008)

c. Induksi xilena pada udem daun telinga

Hewan uji diinduksi xilena dengan mikropipet pada kedua

permukaan daun telinga kanannya. Telinga kiri digunakan sebagai

kontrol. Terdapat dua parameter yang diukur dalam metode ini, yaitu

ketebalan dan bobot dari daun telinga mencit. Ketebalan daun telinga

mencit yang telah diinduksi diukur dengan menggunakan jangka

17
sorong digital, lalu di bandingkan dengan telinga kiri. Jika

menggunakan parameter bobot daun telinga, maka daun telinga

mencit dipotong dan ditimbang. Kemudian beratntya dibandingkan

dengan telinga kirinya (Suralkar, 2008).

d. Induksi karagenan

Volume telapak kaki kiri tikus diukur dengan pletismometer.

Kemudian tikus diberikan larutan uji setelah 1 jam, tikus tersebut

diinduksi oleh 0,1 ml injeksi karagenan 1% secara subplantar.

Selanjutnya, dilakukan pengukuran volume udem pada jam ke-1, 2, 3,

dan 5 setelah induksi (Suralkar, 2008).

e. Induksi asam arakidonat pada udem daun telinga

Metode yang digunakan hampir ama dengan metode induksi

xilena, hanya saja penginduksi yang digunakan adalah asam

arakidonat yang diberikan secara topikal pada kedua permukaan daun

telinga kanan hewan uji (Suralkar, 2008).

2. Inflamasi model kronik

Model ini di desain untuk menemukan suatu obat yang dapat

memodulasi proses penyakit, termasuk di dalamnya implantasi pellet

dan sponge serta granuloma pouches yang terdeposit padajaringan

granulasi, adjuvant induced arthritis merupakan model inflamasi

kronik (Baheti et al, 2011).

18
2.4 Tinjauan Farmasetik

Salah satu bentuk sediaan yang mengandung rimpang temu putih yang

beredar dipasaran yaitu kapsul Temu Putih, manfaat kapsul temu putih ini

yaitu :

 Pelega perut.

 Mengatasi yeri haid.

 Mengatasi menstruasi tidak teratur.

 Membersihkan darah, akibat perdarahan atau luka berat.

 Mengatasi gangguan pencernaan.

 Mengatasi rasa mual dan perut kembung.

 Melindungi fungsi hatai (hepatoprotektor).

 Antimikroba.

 Antiradang.

 Antikanker.

 Antioksidan.

Gambar 5. (Sediaan Farmasetik Temu Putih )

Cara pemakaiannya : Pengobatan : 2 x 2 kapsul per hari

Pencegahan : 1 x 2 kapsul per hari

19
2.5 Darah

Darah adalah jaringan hidup yang bersirkulasi mengelilingi seluruh tubuh

dengan perantara jaringan arteri,vena dan kapilaris, yang membawa nutrisi,

oksigen, antibodi, panas,elektrolit dan vitamin ke jaringanseluruh tubuh. Darah

manusia terdiriatas plasma darah, globulus lemak, substansi kimia (karbohidrat,

proteindan hormon) dan gas (oksigen,nitrogen dan karbon dioksida). Sedangkan

plasma darah terdiri atas eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih) dan

trombosit (platelet) (Watson, 2002). Darah terdiri atas bagian cair (plasma) dan

bahan-bahan intraselular. Plasma darah dan sel-sel darah dapat terpisah dan bebas

bergerak dalam cairan intraselular. Beberapa sel darah, seperti lekosit dapat

berpindah melalui pembuluh darah untuk melawan infeksi. Total sirkulasi volume

darah diperkiran sekitar 5-8 % dari total bobot badan dan angka ini bervariasi

menurut umur, spesies, berat tubuh, aktivitas, status kesehatan,status gizi dan

kondisi fisiologis (hamil, laktasi) (Sonjaya, 2009).

2.6 Sel Darah Merah (Eritrosit)

Sel darah merah atau disebut juga eritrosit merupakan sel darah yang

jumlahnya terbanyak dalam tubuh manusia (Mahmood, 2012). Eritrosit adalah sel

yang sangat penting untuk makhluk hidup. Dalam keadaan fisiologik, darah selalu

berada dalam pembuluh darah sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai

pembawa oksigen, mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi dan mekanisme

hemostatis. Darah terdiri dari dua komponen utama, pertama plasma darah yaitu

bagian darah yang terdiri dari air, elektrolit dan protein darah, kedua sel-sel darah

merah yang terdiri sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan

keping darah (trombosit) (Indah V dan Tristyanto, 2012).

20
Pembentukan dan pematangan eritrosit didalam sumsum tulang selama 7

hari. Dalam darah perifer inti umumnya sudah hilang. Retikulosit adalah sel

eritrosit termuda yang mengandung RNA, yang jumlahnyacukup untuk

menggantikan eritrosit yang mati. Kira-kira10% dari eritrosit dalam darah perifer

adalah retikulosithal ini hanya 1% dari jumlah jangka hidup eritrosit. Sedangkan

panjang masa hidup eritrosit setelah pelepasan dari sumsum tulang kurang lebih

120 harisampai mengalamipenuaan dan destruksi (Kosasih E.N dan Kokasih A.S,

2008).

Proses penghancuran eritrosit terjadi karena proses penuaan (senescene)

dan proses patologis (hemolisis). Hemolisis yang terjadi pada eritrosit akan

mengakibatkan terurainya komponen-komponen hemoglobin menjadi dua

komponen yaitu komponen protein, komponen yang globinnya dikembangkan ke

pool protein dan dapat digunakan kembali. Kedua komponen heme, yang dipecah

menjadi dua yaitu besi dan bilirubin. Besi akan dikembalikan ke pool besi dan

digunakan ulang. Bilirubin akan dieksresikan melalui hati dan empedu

(Handayani dan Haribowo,2008).

Penurunan jumlah eritrosit dapat dijumpai pada anemia, peningkatan

hemolisis, kehilangan darah (perdarahan), trauma, leukemia, infeksi kronis,

mieloma multiple, cairan per intra vena berlebih, gagal ginjal kronis, kehamilan,

dehidrasi berlebih, defisiensi vitamin, malnutrisi, infeksi parasit, penyakit sistem

endokrin, intoksikasi.

Peningkatan jumlah eritrosit dijumpai pada polisitemia vera,

hemokonsentrasi/dehidrasi, penduduk yang tinggal didataran tinggi dan pada

wanita dewasa 3,8-4,8 jt/mm3 (Riswanto, 2013).

21
2.6.1 Membran Sel Darah Merah

Membran sel sebagai barrier semipermeabel yang memungkinkan

beberapa zat tertentu dapat menembus membran keluar masuk kedalam sel,

membran sel mengatur lalu lintas zat. Hasil pengamatan menggunakan mikroskop

elektron terhadap membran sel menunjukkan bahwa membran sel darah merah

terdiri protein dan fosfolipid bilayer, dengan penyusun utama fosfolipid yang

terdiri dari bagian kepala yang polar atau hidrofilik dan bagian ekor non-polar

atau hidrofobik. Fosfolipid ini tersusun atas bagian non-polar yang membentuk

daerah hidrofobik yang diapit oleh daerah kepala pada bagian dalam dan dalam

membran (Neil et al., 2010).

Cairan intraseluler sel darah merah terdiri dari larutan garam, glukosa,

protein, dan hemoglobin. Sel darah merah dalam berbagai kondisi larutan

memiliki karakteristik yang berbeda pada kondisi larutan yang berbeda. Kondisi

yang berbeda tergantung pada permeabilitas membran sel terhadap

lingkungannya. Pada kondisi larutan yang hipotonis seperti NaCl dengan

konsentrasi NaCl 0,4 %, sel umumnya akan mengalami lisis. Pada kondisi larutan

NaCl 0,9 %, larutan dikatakan isotonis dengan eritrosit. Sedangkan pada kondisi

hipertonik seperti NaCl 1,8 %, eritrosit akan mengalami krenasi pada selnya

(McGill, 2013).

2.7 Metode Stabilisasi Membran Sel Darah

Terdapat berbagai macam metode yang dapat digunakan dalam studi aktivi

tas antiinflamasi secara in vitro, salah satunya metode stabilisasi membran eritrosi

22
t atau sel darah merah manusia. Eritrosit telah digunakan sebagai sistem model un

tuk beberapa studi interaksi obat dengan membran. Obat seperti anestesi, tranquil

izer dan antiinflamasi steroid menstabilkan membran eritrosit terhadap induksi hip

otonik pemicu hemolisis sehingga dapat mencegah pelepasan hemoglobin. Aktivit

as menstabilkan membran sel darah merah yang diperlihatkan oleh beberapa obat,

berfungsi sebagai metode in vitro untuk menilai aktivitas antiinflamasi dari berbag

ai senyawa (Awe et al., 2009).

Sebuah penjelasan yang mungkin bisa dihubungkan dengan kaitan membr

an eritrosit dengan perubahan muatan permukaan sel yang mungkin telah menceg

ah interaksi fisik dengan agen agregasi atau mendorong penyebaran dengan adany

a gaya tolakan menolak seperti yang terlibat dalam hemolisis sel darah merah (Oy

edapo et al., 2010).

Stabilisasi membran sel eritrosit merupakan metode yang paling banyak di

gunakan dalam penelitian sebagai parameter biokimia untuk uji aktivitas antiinfla

masi secara in vitro. Membran sel darah merah analog dengan membran lisosomal

dan stabilisasinya menunjukkan bahwa senyawa dapat juga menstabilkan membra

n lisosomal. Stabilisasi membran lisosomal penting dalam membatasi respon infla

masi dengan cara menghambat pelepasan konstituen lisosomal dari neutrofil aktif

seperti enzim bakterisida dan protease, yang menyebabkan kerusakan dan peradan

gan yang lebih lanjut (Kumar et al,. 2012).

Enzim lisosomal dapat menyebabkan degradasi pada dinding sel jika

berada dalam plasma. Zat yang dapat menghambat enzim lisosomal dan

menstabilkan membrane lisosomal dapat mencegah kerusakan lebih lanjut pada

23
seluler dan struktur jaringan bersamaan dengan inflamasi akut dan kronis (Kumar

et al,. 2012).

2.8 Spektrofotometer Uv-Vis

Spektrofotometer telah digunakan pada 35 tahun terakhir dan menjadi yan

g paling instrumen analitis yang cukup penting di laboratorium kimia modern (Gr

eenlief, 2004). Spektrofotometri serap merupakan pengukuran interaksi antara rad

iasi elektromagnetik panjang gelombang tertentu yang sempit dan mendekati mon

okromatik, dengan molekul atau atom dari suatu zat kimia (Sastroamidjojo, 1985).

Metode pengukuran dengan spektrofotometri ini mudah dilakukan, murah, teranda

lkan dan memberikan presisi yang baik untuk melakukan pengukuran kuantitatif o

bat-obatan dan formulasi di bidang farmasi (Watson,2009).

Spektrum absorpsi daerah ini adalah sekitar 220 nm sampai 800 nm dan d

inyatakan sebagai spektrum elektron. Suatu spektrum ultraviolet meliputi daerah b

agian ultraviolet (190-380 nm), spektrum Visible bagian sinar tampak (380-780 n

m).

Pengukuran dengan alat spektrofotometer UV-Vis didasarkan pada hubun

gan antara berkas radiasi elektromagnetik yang ditransmisikan (diteruskan) atau y

ang diabsorpsi dengan tebalnya cuplikan dengan konsentrasi dari komponen peny

erap (Sastroamidjojo, 1985). Hubungan antara intensitas, tebal medium dan konse

ntrasi zat digambarkan dengan persamaan yang sesuai dengan Hukum Lambert-B

eers, yakni :

Keterangan :
A = a.b.c
A : Serapan
a : Daya serap
b : Tebal kuvet
c : Konsentrasi larutan

24
Instrument dari spektrofotometer UV-Vis ini dapat diuraikan sebagai berikut:

Sumber
Monokromator Kuvet Detektor Amplifier
cahaya

Rekorder

Gambar 6. Skema Spektrofotometer UV-VIS

1. Suatu sumber cahaya polikromatis di daerah panjang gelombang yang di

kehendaki.

2. Suatu monokromator merupakan sebuah alat untuk menguraikan berkas

radiasi dari sumber yang polikromatis menjadi sinar yang monokhromatis

(panjang gelombang tunggal).

3. Kuvet merupakan suatu wadah untuk menempatkan sampel

4. Detektor, berupa transduser berfungsi untuk menangkap cahaya yang diter

uskan dari sampel dan mengubahnya menjadi arus listrik.

5. Amplifier (pengganda) dan rangkaian yang berkaitan yang membuat arus l

istrik itu memadai untuk dibaca. Berguna untuk menangkap isyarat arus lis

trik yang masuk (imput) dari rangkaian detektor dan melalui beberapa pros

es elektronik tertentu kemudian menghasilkan suatu arus listrik keluar (out

put) yang beberapa kali lebih besar dari imput.

6. Rekorder merupakan sistem baca yang menagkap besarnya arus listrik yan

g telah diamplifikasi.

25
26
BAB III

PELAKSANAAN PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan selama kurang lebih 3 bulan di

Laboratorium Kimia Bahan Alam Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI)

Yayasan Perintis Padang dan Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran

Universitas Andalas.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

Corong pisah (Pyrex ®), erlenmeyer (Pyrex ®), vial, beaker glass (Pyrex ®),

tabung reaksi (Pyrex®), gelas ukur (Pyrex®), chamber (Pyrex®), lampu UV

(Merck, Germany), pH meter, pipet tetes, kolom konvensional (Pyrex®),

mikropipet, oven (Panasonic), rotary evaporator (Eyela N-1000),

Spektrofotometer UV-Vis (Hitachi U-2910), Freeze dryer (Christ, Germany),

water bath (Eyela SB-1000), Autoklaf (HV-85, Hirayama, Japan), Sentrifus

(Universal 32 R, Hettich Zentrifugen, USA).

3.2.2 Bahan

Bahan–bahan yang digunakan adalah rimpang temu putih, etanol

70%, Bahan yang digunakan adalah rimpang temu putih (Curcuma zedoaria

(Christm.) Roscoe), metanol, etil asetat, heksan, asam asetat, ammonia, silika

gel 60 F254 (Merck, Germany), kertas saring, kapas, dekstrosa, natrium sitrat,

asam sitrat, Natrium klorida (NaCl), PBS (Phosphate Buffer Saline),

Dimethyl Sulfoxide (Thermo Fisher Scientific, USA), ibuprofen, sel darah

27
merah kambing, kloroform, asam klorida pekat, norit, pereaksi Lieberman

Burchad, kloroform amoniak, pereaksi mayer.

3.3 Metode Penelitian

3.3.1 Pengambilan Sampel

Sampel yang digunakan adalah rimpang temu putih yang diambil di Desa

Tebing Tinggi Okura, Kec. Rumbai Pesisir, Prov. Riau.

3.3.2 Identifikasi Tanaman

Identifikasi sampel dilakukan di Herbarium Andalas (ANDA) Jurusan

Biologi, Fakultas MIPA, UNAND, Padang.

3.3.3 Pembuatan Ekstrak

Ekstrak dibuat dengan cara maserasi dengan menggunakan etanol 96%.

Satu bagian serbuk kering rimpang temu putih dimasukkan ke dalam botol kaca

hitam, ditambah etanol 96%, direndam selama 6 jam sambil sekali-kali diaduk,

kemudian didiamkan sampai 24 jam. Maserat dipisahkan dan proses diulangi 2

kali dengan jenis dan jumlah pelarut yang sama. Semua maserat dikumpulkan dan

dipekatkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental (Badan

POM RI, 2010).

3.4 Evaluasi Ekstrak Rimpang Temu Putih (Curcuma zedoaria (Christm.)


Roscoe)

A. Pemeriksaan Organoleptis

Pengamatan dilakukan secara visual dengan mengamati bentuk,

rasa, warna dan bau.

28
B. Penentuan Rendemen Ekstrak

Penentuan rendemen ekstrak dihitung denngan cara

membandingkan berat ekstrak etanol yang didapat dengan berat awal

sampel.

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑘𝑒𝑛𝑡𝑎𝑙


Rendemen = 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙 x 100%

C. Pemeriksaan Susut Pengeringan Ekstrak

Keringkan krus porselen dan tutupnya di dalam oven pada suhu

150ºC selama 30 menit dan biarkan dingin, lalu timbang beratnya.

Masukkan ekstrak ke dalam krus tersebut hingga beratnya 1 gram diluar

berat krus dengan penutup yang telah diketahui sebelumnya. Dengan

perlahan goyang krus agar ekstrak merata dan masukkan kembali ke dalam

oven, buka tutupnya dan biarkan tutup tetap berada di dalam oven. Krus

yang berisi ekstrak dipanaskan dalam oven dengan suhu 105ºC selama 1

jam. Setelah itu krus dikeluarkan dan didinginkan dalam desikator, lalu

ditimbang. Lakukan pengulangan seperti cara di atas hingga diperoleh

berat yang konstan.

(𝐵−𝐴)−(𝐶−𝐴)
% Susut pengeringan = 𝑋100%
(𝐵−𝐴)

Keterangan : A = berat krus kosong

B = berat krus + sampel sebelum dipanaskan

C = berat krus + sampel setelah dipanaskan

D. Penetapan Kadar Abu

Krus porselen ditara terlebih dahulu dan timbang. Ekstrak

sebanyak 1 gram masukkan dalam krus tersebut dan ditimbang. Kemudian

29
pijarkan secara perlahan-lahan dalam furnes pada suhu 600ºC selama 24

jam, dinginkan dalam desikator dan timbang.


𝐶−𝐴
% Kadar Abu =𝐵−𝐴x 100%

Keterangan : A = Berat Krus Kosong

B = Berat Krus + Ekstrak Sebelum Pemijaran

C = Berat Krus + Ekstrak Sesudah Pemijaran

E. Uji Skrining Fitokimia (Harborne, 1987)

Sebanyak 0,5 gram ekstrak kental daun sambung nyawa

dimasukkan kedalam tabung reaksi, kemudian tambahkan 5 ml aquadest

dan 5 ml kloroform, dibiarkan sampai terbentuk dua lapisan, lapisan air

dan kloroform. Beberapa uji yang dapat dilakukan terhadap ekstrak etanol

daun sambung nyawa adalah sebagai berikut:

1. Uji Flavonoid (Metoda “Sianidin Test”)

Ambil lapisan air 1-2 tetes, teteskan pada plat tetes lalu

tambahkan serbuk Mg dan HCl (p), terbentuknya warna merah

menandakan adanya flavonoid.

2. Uji Terpenoid dan Steroid (Metoda “Simes”)

Ambil sedikit lapisan kloroform tambahkan norit kemudian

disaring, tambahkan asam asetat anhidrat, tambahkan H2SO4 (p),

terbentuknya warna biru ungu menandakan adanya steroid,

sedangkan bila terbentuk warna merah menandakan adanya

terpenoid.

30
3. Uji Saponin

Diambil lapisan air, kocok kuat-kuat dalam tabung reaksi,

terbentuknya busa yang permanen (± 15 menit) menunjukkan

adanya saponin.

4. Uji Fenolik

Diambil lapisan air 1-2 tetes, teteskan pada plat tetes lalu

tambahkan pereaksi FeCl3, terbentuknya warna biru menunjukkan

adanya fenolik.

5. Uji Alkaloid (Metode “Culvenore – Fristgerald”)

Diambil sedikit lapisan kloroform tambahkan 10 ml

kloroform amoniak 0,05 N, aduk perlahan tambahkan beberapa

tetes H2SO4 2N kemudian dikocok perlahan, biarkan memisah.

Lapisan asam ditambahkan beberapa tetes pereaksi Mayer, reaksi

positif alkaloid ditandai dengan adanya kabut putih hingga

gumpalan putih.

3.5 Uji Aktivitas Antiinflamasi dengan Metode Stabilisasi Membran Sel


Darah Merah

3.5.1 Pembuatan Larutan yang Dibutuhkan

a. Pembuatan Dapar Fosfat pH 7,4 (0,15 M)

Sebanyak 2,671 gram dinatrium hidrogen fosfat (Na2HPO4. 2H2O)

dilarutkan dalam aquades sampai 100 mL (0,15 M). 2,070 gram natrium

dihidrogen fosfat (NaH2PO4. H2O) dilarutkan dalam aquades sampai 100

mL (0,15 M). Kemudian 81 mL larutan Na2HPO4. 2H2O (0,15 M)

dicampurkan dengan 19 mL larutan NaH2PO4. H2O (0,15 M) pada suhu

31
ruang. Kemudian cek pH dengan pH meter. Kemudian disterilisasi dengan

autoklaf pada suhu 121OC selama 2 jam (Oyedapo et al., 2010).

b. Pembuatan Larutan isosalin

Sebanyak 0,85 gram NaCl dilarutkan dalam dapar fosfat pH 7,4 (0,15

M) sampai volume 100 mL pada suhu ruang. Kemudian disterilisasi

dengan autoklaf pada suhu 121OC selama 2 jam (Oyedapo et al., 2010).

c. Pembuatan Larutan Hiposalin

Sebanyak 0,25 gram NaCl dilarutkan dalam dapar fosfat pH 7,4 (0,15

M) sampai volume 100 mL pada suhu ruang. Kemudian disterilisasi

dengan autoklaf pada suhu 121OC selama 2 jam (Oyedapo et al., 2010).

d. Penyiapan konsentrasi ekstrak rimpang temu putih (Curcuma zedoaria

(Christm.) Roscoe) dan Ibuprofen

Konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah 50, 75, dan 100 mg/ml

dalam aquadest. Ibuprofen sebagai pembanding dibuat dengan konsentrasi

100 μg/ml dalam Dimethyl sulfoxide (DMSO) dan 5 mg/ml dalam

aquadest.

3.5.2 Pembuatan Suspensi Sel Darah Merah

Darah untuk uji stabilisasi membran sel darah merah diperoleh dari darah

kambing, lalu dimasukkan kedalam tabung sentrifus. Kemudian disentrifugasi

pada 3000 rpm selama 10 menit pada suhu 27OC. Supernatan yang terbentuk

dipisahkan menggunakan pipet steril. Endapan sel-sel darah yang tersisa

kemudian dicuci dengan larutan isosalin dan disentrifugasi kembali. Proses

tersebut diulang kurang lebih 4 kali atau sampai isosalin jernih. Volume sel darah

diukur dan di resuspensi dengan isosalin sehingga didapatkan suspensi sel darah

32
merah dengan konsentrasi 10% v/v dengan mencampurkan 2 ml sel darah merah

dengan 18 ml larutan isosalin. Suspensi sel darah tersebut disimpan pada suhu

4OC jika belum digunakan (Oyedapo et al., 2010)

3.6 Pengujian Aktivitas Ekstrak rimpang temu putih (Curcuma zedoaria


(Christm.) Roscoe) terhadap Stabilisasi membran sel darah merah.

Larutan-larutan yang digunakan dalam uji aktivitas ekstrak rimpang temu

putih (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe) terhadap stabilisasi membran sel

darah merah adalah sebagai berikut :

a. Larutan uji : terdiri dari 1 ml dapar fosfat pH 7,4, 2 ml hiposalin, 0,5

ml suspensi 10 % sel darah merah dan 1 ml larutan sampel dengan

berbagai konsentrasi. Konsentrasi ekstrak rimpang temu putih

(Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe) adalah 12,5; 25; 50;100; 200

μg/ml dalam dimethyl sulfoxide (DMSO) dan 50, 75, 100 mg/ml

dalam aquadest.

b. Larutan kontrol positif : terdiri dari 1 ml dapat fosfat pH 7,4, 2 ml

hiposalin, 0,5 ml suspensi 10 % sel darah merah dan 1 ml larutan

ibuprofen sebagai pengganti larutan sampel. Ibuprofen sebagai

pembanding dibuat dengan konsentrasi 100 μg/ml dalam dimethyl

sulfoxide (DMSO) dan 5 mg/ml dalam aquadest.

c. Larutan kontrol negatif : terdiri dari 1 ml dapat fosfat pH 7,4, 2 ml

hiposalin, 0,5 ml suspensi 10 % sel darah merah dan 1 ml larutan

isosalin sebagai pengganti larutan sampel. Larutan kontrol negatif

mewakili lisis 100 % atau stabilitas 0%.

33
d. Larutan kontrol larutan uji : terdiri dari 1 ml dapar fosfat pH 7,4,

2 ml hiposalin, 0,5 ml isosalin dan 1 ml larutan sampel (Kumar et al,

2012).

Setiap larutan diinkubasi pada suhu 37oC selama 30 menit dan

disentrifugasi pada 5000 rpm selama 10 menit. Cairan supernatan yang

didapat diambil dan kandungan hemoglobinnya diukur menggunakan

spektrofotometer uv/vis pada panjang gelombang 560 nm. Kemudian

dihitung persentase stabilitas membran sel darah merah menggunakan

rumus berikut:

𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 − 𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙


% Stabilitas = 100 - [ ] X 100%
𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙

3.7 Analisis Data

Analisis data yang dilakukan sebagai berikut :

1. Spektrofotometri UV/Vis

Esktrak rimpang temu putih (Curcuma zedoaria (Christm.)

Roscoe). dengan Spektrofotometri UV/Vis sehingga diperoleh

spektrum UV/Vis dalam metanol dan panjang gelombang serapan

maksimumnya dibandingkan dengan literatur.

2. Persentase Stabilitas Membran Sel Darah Merah

Kandungan hemoglobin dari larutan uji pada pengujian aktivitas

ekstrak rimpang temu putih (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe)

terhadap stabilisasi membran sel darah merah diukur serapannya

menggunakan microplate reader, kemudian dihitung persentasenya

dengan rumus berikut, dimana larutan kontrol negatif mewakili lisis

34
100% atau stabilitas 0%.

𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 − 𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙


% Stabilitas = 100 - [ ] X 100%
𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙

35
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, 461, Departemen Keseha


tan Republik Indonesia, Jakarta.

Astuti, W, 2011. Flavonoid. Retrieved from http://widiastuti.staff.uns.ac.id/2011/0


6/20/flavonoid/

Badan POM RI, 2010, Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Di
rektorat Standardisasi Obat Tradisional, Kosmetik, Dan Produk Komplemen
Badan Pengawasa Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Baheti, J. R, et al, 2011, Anti- Inflammatory Herbs : A Review. Deccan J.Natural


Products 21 . International Standard Serial Number : 0976-1381.

Dalimartha, S, 2003, Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid I. Jakarta: Puspa


Swara.

Gana, A. S. et al.,, 2007, Temu Putih, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Deput
i Bidang Pengawasan Tradisional Kosmetik dan Produk Komplemen, Jakart
a.

Goodman and Gilman, 2008, The Pharmacological Basis of Therapeutics. 11th


edition. p. 666-670.

Harborne, J. B, 1987, Metode fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis


Tumbuhan. (K. Padmawinata & I. Sudiro, Eds.). Bandung: ITB.

Heinrich, M., Barnes, J., Gibbons, S., & Williamson, E. M, 2010, Farmakognosi
dan Fitoterapi (Fundamentals of Pharmacognosy and Phytotherapy). (D.
Winny R. Syarief, Ed.). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Jamal, P. D. R, 2010, Kimia Bahan Alam “Prinsip-prinsip dasar isolasi dan


identifikasi” (1st ed.). Padang: Universitas Baiturahmah.

Jung, E. B., Trinh, T. A., Lee, T. K., Yamabe, N., Kang, K. S., Song, J. H.,
Hwang, G. S. (2018). Curcuzedoalide contributes to the cytotoxicity of
Curcuma zedoaria rhizomes against human gastric cancer AGS cells
through induction of apoptosis. Journal of Ethnopharmacology, 213, 48–55.

Katzung BG, 2002, Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi II. Jakarta: Salemba
Medika.

Kumar P, Arora S, Yadav YC, 2012, Anti-Inflamatory Activity of Coumarin and


Steroidal Fractions from leaves of moringa oleifera. International journal of
Drug Discovery and Medical Research.1: 22-5

36
Makabe, H., Maru, N., Kuwabara, A., Kamo, T., and Hirota, M., 2006, Antiinflam
matory Sesquiterpenes from Curcuma zedoaria, (online), (http://www.austra
lian prescriber.com, diakses 226 Juni 2018).

Mc.Gill.Red Cell Fragility. Diakses tanggal 25 Februari 2018 dari http : //www.
Medicine.McGill.ca/physio/vlab/bloodlab/eryfragm1_n.htm

Markham, K. R, 1988, Cara Mengidentifikasi flavonoid. (K. Padmawinata, Ed.).


Bandung: ITB.

Mycek, M.J., Harvey, R.A., Champe, P.C, 2001, Farmakologi Ulasan Bergambar
(edisi 2)

Neil AC, Reece JB, Urry LA, Cain ML, Wasserman SA, 2010, Biologi Edisi
Kedelapan Jilid I. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Nurrochmad, Arief, 2004, Review: Pandangan Baru Kurkumin dan Aktivitasnya s


ebagai Antikanker. Biofarmasi 2(2): 75-80. ISSN: 1693-2242.

Oyedapo OO, BA Akinpelu, KF Akinwunmi, MO Adeyinka and FO Sipeolu, 201


0, Red blood cell membrane stabilizing potentials of extracts of Lantana ca
mara and its fractions. International Journal of Plant Physiology and Bioche
mistry. 2(4); 46-51.

Park, G., Eun, S., & Shim, S. H, 2012, Chemical constituents from Curcuma zedo
aria. Biochemical Systematics and Ecology, 40, 65–68.

Putri, M. S, 2014, White Tumeric ( Curcuma zedoaria ): Its Chemical Substance


and the Pharmacological Benefits, 3, 88–93.
Pourmorad, F., Hosseinimehr, S. J., & Shahabimajd, N, 2006, Antioxidant activity
, phenol and flavonoid contents of some selected Iranian medicinal plants,
5(June), 1142–1145.

Price S A, Lorraine M W, 2006, Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses


penyakit, Edisi 6, Jilid I. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 56-58.

Pringgoutomo, Sudarto., Himawan, Sutisna., dan Tjarta, Achmad, 2010, Ed. 2000
. Patologi I Umum Edisi ke-1. Jakarta: Sagung Seto.International Journal of
Plant Physiology Biochemistry, 46-51.

Suralkar, A.A, 2008, In Vivo Animal Models for Evaluation of Antiinflamatory


Activity. Article Review. Vol 6. Issue 2.
Sudarsono, Pudjoarinto,A., Gunawan, D., Wahyuono, S., Donatus,I.A., Drajad,M.
,Wibowo, S., Ngatidjan, 1996, Tumbuhan Obat II: Hasil Penelitian, Sifat-sif
at, dan Penggunaan, (Psidium guajava L.),156-161,Post UGM, Yogyakarta.

37
Sudarsono, Gunawan, D., Wahyuono, S., Donatus, I.A., dan Purnomo, 2002,Tum
buhan Obat II, Hasil Penelitian, Sifat-sifat dan Penggunaan, 96-100, Pusat S
tudi Obat Tradisional, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Syukur, D. C, 2003, Temu Putih: Tanaman Obat Antikanker. Penebar Swadaya.

Watson, Roger, 2002, Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat. Jakarta : EGC

Wilmana dan Sulistia Gan, 2007, Analgesik-antipiretik analgesik antiinflamasi no


nsteroid dan obat gangguan sendi lainnya dalam buku farmakologi dan terap
i Edisi 5. Departemen Farmakologi Dan Terapetik Fakultas kedokteran UI.

38
Lampiran 1.

Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe

 Dibersihkan dan
dihaluskan
 Maserasi dengan
etanol 70 % (3 x 3
hari), lalu disaring

Maserat etanol Ampas

Diuapkan dengan rotary evaporator

Ekstrak etanol kental

Uji fitokimia, susut Pemeriksaan uji aktivitas


pengeringan, kadar abu antiinflamasi ekstrak terhadap
stabilisasi membrane sel darah merah

Gambar 7. Skema kerja Ekstraksi

39
Lampiran 1 (lanjutan).

Darah

Disentrifugasi 3000 rpm selama 10 menit

Cairan Supernatan Endapan sel darah merah

Dicuci dengan isosalin


kurang lebih 3 kali
sampai jernih, sentrifugasi

Cairan supernatan Endapan sel darah


merah

Volume diukur,
resuspensi 10v/v

Suspensi sel darah merah

Gambar 8. Bagan Alir Pembuatan Suspensi Sel Darah Merah

40
Lampiran 1 (lanjutan).

Uji Aktivitas
Antiinflamasi rimpang
temu putih Curcuma
zedoaria (Christm.)
Roscoe

Larutan Larutan Kontrol Larutan


Larutan Uji Kontrol Larutan Uji Kontrol
Larutan Uji Negatif Positif

Konsentrasi Ibuprofen 5 mg/ml


Ekstrak : 50, 75,
100 mg/ml

Diinkubasi suhu 37oc selama 30 menit


\ disentrifugasi 5000 rpm selama 10
menit

Cairan Supernatan

Spektrofotometer UV/Vis

Gambar 9. Bagan alir studi in vitro aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol


rimpang temu putih Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe terhadap membran
sel darah merah kambing.

41