Anda di halaman 1dari 7

TUGAS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

PSIKIATRI SOSIAL

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat


dalam menempuh Kepaniteraan Klinik
Ilmu Kesehatan Masyarakat

Disusun Oleh:
Saphira Evani (030.12.247)
Wilson Saputra W. (030.13.206)

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS/KESEHATAN MASYARAKAT
PERIODE 27 AGUSTUS 2018 – 3 NOVEMBER 2018
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA

1
KASUS:
Ny.A, perempuan, 50 tahun, karyawan swasta, cerai hidup, punya 1 orang anak.
Pasien datang ke Puskesmas dengan benjolan di kelopak mata kiri sejak 1 hari lalu.
Sering merasa gelisah, dan mudah panik, sejak 9 tahun yang lalu. Pernah berobat
ke beberapa dokter tapi tidak ada perbaikan, sudah berobat ke dokter ahli
kesehatan jiwa. Apa yang perlu dilakukan selanjutnya?

Pasien diantar oleh keluarga ke Puskesmas Kelurahan Jatipadang, mendaftar diri


(guna pencatatan kasus baru), baru menuju Poli Umum. Dengan kondisi pasien curiga
ODGJ, perlu dipersiapkan setting pemeriksaan yang nyaman (bila perlu tata ruang), dan
tidak bergerombol untuk menjaga kerahasiaan.

Identitas Pasien
Nama : Ny. A
Usia : 50 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Kelurahan Pasar Minggu RT01/RW03
Agama : Islam
Suku Bangsa : Betawi
Pendidikan : S1
Status : Cerai hidup
Pekerjaan : Karyawan swasta
Anak :1

Dalam pemeriksaan, pasien (autoanamnesis) ditanyakan keluhan utama, dimana


menyatakan adanya benjolan pada kelopak bawah mata kiri sejak 1 hari lalu. Benjolan
tampak merah dan nyeri, namun tidak menurunkan penglihatan. Pasien juga sering
merasa gelisah, dan mudah panik, sejak 9 tahun yang lalu. Karena ada tanda fisik ganda
(keluhan fisik dan keluhan mental emosional), maka dilanjutkan pertanyaan aktif.

2
Pertanyaan Aktif
1. Apakah Keluhan >3 bulan, Muncul >1x per bulan?
Untuk keluhan benjolan pada kelopak bawah mata kiri baru dialami pertama kali,
dan baru sejak 1 hari lalu. Sementara keluhan sering gelisah, dan mudah panik
sejak 9 tahun lalu. Pasien merasa cemas hampir setiap saat, bahkan saat tidak
banyak tugas. Keluhan sulit tidur dirasakan sejak 6 bulan lalu, terutama mengingat
kondisi anaknya.
2. Ada Peristiwa Pemicu Keluhan, Banyak Pikiran?
Keluhan pasien muncul setelah ditinggal cerai oleh suaminya (pasien mengatakan
suami kabur), saat hamil anak pertama. Setelah melahirkan, pasien menjadi lebih
sering mencemaskan anaknya, dan harus bekerja sebagai single parent. Di kantor,
pasien juga sering merasa banyak beban terutama karena kondisi kantor yang
kompetitif sehingga timbul tekanan antar co-worker.
3. Menurunnya Semangat Belajar, Kerja, Seks?
Pasien tidak memiliki keluhan ini.
4. Gg.fungsi: Keluarga, Pekerjaan, Sekolah, Masyarakat?
Kondisi ini dinilai cukup mengganggu dalam kehidupan sehari-hari dan
pekerjaan. Pasien merasa lebih sulit mempercayai orang termasuk teman
kerjanya. Saat bekerja, pasien pernah pingsan di kantor 1 tahun lalu serta 1 hari
sebelum ke Puskesmas (pasien menyangkal makan tidak teratur atau mendadak
mendapat banyak tugas).
5. Ada Pemakaian Rokok, Alkohol dan NAPZA?
Tidak ada, pasien cenderung lebih berhati-hati termasuk terhadap obat dokter.
6. Gejala M.E?
Gejala yang paling dirasakan adalah cemas, dan kadang suka menangis bila lelah.

Untuk gejala lain (halusinasi, delusi dan ilusi) tidak ditemukan, riwayat penyakit
dahulu berupa masalah kejiwaan sebelumnya (-), DM (-), Hipertensi (-), stroke (-), dan
riwayat keluarga tidak ada yang menderita masalah kejiwaan. Riwayat pengobatan
berupa ke beberapa dokter dan diberikan Alprazolam 2x0,25mg. Pernah berobat ke dokter
Psikiatrik dan diberikan Amitriptilin 2x10mg + Alprazolam 2x0,25mg namun hampir

3
tidak diminum karena takut ketagihan. Untuk dukungan, keluarga pasien mendukung
dengan baik pasien, namun karena sudah tua jadi tidak bisa banyak membantu. Dari
pemeriksaan fisik ditemukan tanda vital normal, dan terdapat hordeolum pada mata kiri.
Dari hasil dapat dicurigai pasien menderita Hordeolum okuli sinistra + Gangguan Cemas
Menyeluruh, DD/Gangguan Panik.

AKSIS
Aksis I : Gangguan cemas menyeluruh
Aksis II : Tidak ada diagnosis
Aksis III : Hordeolum
Aksis IV : Masalah dengan primary support group dan terhadap pekerjaan
Aksis V : GAF current 69

Diagnosis ditegakkan, diberikan tatalaksana farmakologi awal (bila sulit tidur


dengan Diazepam 5mg sebelum tidur), dan dirujuk ke Rumah Sakit untuk pemeriksaan
dan penatalaksaan lebih lanjut. Pasien hanya dirawat bila ada indikasi membahayakan
diri atau orang lain (termasuk tidak mampu merawat diri sama sekali). Pasien diingatkan
kembali untuk sering checkup ke Faskes untuk melihat perkembangan dari gangguan
cemas pasien. Dokter melakukan followup ke rumah (home visit) dan komunitas, serta
mengedukasi pasien serta keluarga mengenai kondisinya.
Kemampuan Faskes tingkat pertama terhadap ODGJ diatur dalam Permenkes RI
No.43 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan, dimana
Puskesmas bertugas dalam skrining, serta promotif dan preventif terhadap kesehatan jiwa
masyarakat. Sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat (UU RI No.18 Tahun
2014 tentang Kesehatan Jiwa) pada keluarga, lingkungan tinggal pasien, tingkat lembaga
pendidikan (bisa dimulai di sekolah), lembaga keagamaan dan tempat ibadah, dan
lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan (kepolisian). Hal ini guna menciptakan
suasana kondusif bagi pasien seperti mendapat support dari lingkungan untuk mengurangi
kecemasan (terutama keluarga). Pada tingkat pendidikan, edukasi mengenai masalah
kejiwaan dan skrining. Lembaga keagamaan dapat membantu sebagai support terhadap
kecemasan pasien dan membantu pasien menangani masalah di kehidupan sehari-hari,

4
serta lembaga pemasyarakatan dapat mengambil tindakan tepat apabila penderita
mengalami serangan panik. Pembentukan komunitas didalam masyarakat untuk
membantu kejiwaan pasien Gangguan Cemas untuk mengatasi problema, meningkatkan
motivasi/semangat, edukasi masyarakat dan membuat lingkungan kondusif dengan
advokasi terhadap lingkungan pasien tinggal.
Penatalaksanaan nonfarmakologi dengan mengajak pasien untuk memperbaiki
fungsi yang terganggu (hendaya), serta mengisi waktu luang dengan hobi yang dapat
membantu pasien rileks. Terapi relaksasi pernapasan membantu menurunkan ansietas,
disertai pertemuan berkala guna membantu pasien menyelesaikan problema
kehidupannya serta memotivasi kondisi pasien. Terapi untuk pasien Gangguan Cemas
dapat dilakukan individu atau rehabilitasi oleh institusi khusus/rumah sakit psikiatrik
(pada kondisi berat), dimana dapat dilakukan aktivitas diberikan guna mengembalikan
keterampilan hidup, terapi kognitif-perilaku (restrukturisasi, terapi relaksasi,
interoceptive exposure), terapi suportif dan psikoterapi berorientasi tilikan.

5
Kasus Jiwa
Baru

Poli Umum
Rujuk ke Spesialis Puskesmas Kelurahan
Kedokteran Jiwa Jatipadang
untuk pengobatan
lebih lanjut dan
kontrol
Pendataan warga
dengan gangguan
Dirawat bila kejiwaan
indikasi

Pengobatan dan Lakukan Kunjungan


Rehabilitasi Rutin ke Rumah
pasien

Koordinasi dengan RT &


Rujuk Balik RW setempat, Dinas Sosial,
dan Kelurahan
A. Edukasi ke lingkungan
pasien mengenai gangguan
jiwa dan pengobatan
B. Edukasi ke keluarga untuk
support dan membantu
mengembalikan
keterampilan
Edukasi ke lembaga C. Edukasi bila gejala
pemasyarakatan, sekolah dan kecemasan memberat untuk
keagamaan segera kembali berobat

Menurunkan stigma,dan membentuk


lingkungan kondusif untuk pasien

6
Lampiran Foto Dokumentasi

Kunjungan Poli Umum tgl 10 Oktober 2018