Anda di halaman 1dari 7

K

ARSITE TUR
OTA
KELOMPOK 3
AGUS RISKY ARDIAWAN F 221 14 144
AGUS S. BURANGA F 221 12 079
MUHAMMAD HIDAYAT F 221 13 033
FITRAYANTO F 221 15 039
ULFAH OKTAVIANINGSIH F 221 12 011
MOHAMMAD AGUSTIANSYAH F 221 14 066

PRODI S1 ARSITEKTUR
JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TADULAKO
ARSITE
K TUR
OTA

DEFENISI KORIDOR IDEALNYA SEBUAH PEDESTRIAN WAY


Menurut Moughtin (1992: 41), suatu koridor biasanya pada sisi kiri
kanannya telah ditumbuhi bangunan-bangunan yang berderet
memanjang di sepanjang ruas jalan tersebut. Keberadaan bangunan-
bangunan tersebut secara langsung maupun tidak langsung akan
menampilkan kualitas fisik ruang pada lingkungan tersebut.
ARSITE
K TUR
OTA Kualitas Visual Fisik Koridor

Penggunaan:
Ÿ Saat jalan setapak berhubungan Menurut Bentley (1985: 46), tampilan fisik secara
dengan jalur lalu lintas; visual dapat merupakan suatu bangunan yang
Ÿ Saat jalur lalu lintas terhubung memperlihatkan sisi muka bangunan tersebut.
(dinaikkan) ke tingkat jalan Tampilan visual dapat juga merupakan bentuk
setapak; sebuah bangunan atau lingkungan yang mampu
Ÿ Berfungsi untuk peringatan saat menghadirkan elemen-elemen yang terkomposisi
terdapat perubahan keadaan dengan pola tertentu untuk menghasilkan ekspresi
Tujuan dari permukaan blister adalah untuk seperti persimpangan tersendiri. Tampilan visual yang dimaksud adalah
memberikan peringatan kepada orang- tampilan seluruh permukaan bangunan dan
orang dengan gangguan penglihatan. elemen-elemen lingkungan yang mampu dinikmati
dengan indera penglihatan

Tipe fasilitas difabel antara lain:

Ÿ Ram (ramp), diletakan di setiap persimpangan,


prasarana ruang pejalan kaki yang memasuki enterance
bangunan, dan pada titik- titik penyeberangan.
Ÿ Guiding block atau jalan pemandu jalur difabel,
diletakan di sepanjang prasarana jaringan pejalan
khaki.
DATA EKSISTING U
Bagian ujung trotoar tidak mengaplikasikan blister
paving dimana seharusnya blister paving ditempatkan
karena terdapat perbedaan jalur antara trotoar dengan
jalur lalu lintas serta terdapat perbedaan ketinggian.

Pemasangan rambu lalu lintas tidak memenuhi


standar, karena mengambil hak bagian dari pejalan
kaki.

LOKASI : JL. S.PARMAN


U Bagian ujung trotoar tidak mengaplikasikan blister
paving dimana seharusnya blister paving ditempatkan
karena terdapat perbedaan jalur antara trotoar dengan
jalur lalu lintas serta terdapat perbedaan ketinggian.
DATA EKSISTING

Pemasangan rambu lalu lintas yang tidak tepat.

LOKASI : JL. S.PARMAN


ARSITEKTUR
KOTA
U Te r j a d i k e s a l a h a n
pemasangan pada
koridor
DATA EKSISTING

LOKASI : JL. S.PARMAN