Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit infeksi adalah salah satu penyakit yang masih sering terjadi di dunia.
Salah satupenyakit infeksi yang mengenai tulang adalah osteomielitis. Osteomielitis
umumnya disebabkanoleh bakteri, namun jamur dan virus juga bisa menjadi
penyebabnya. Osteomielitis dapatmengenai tulang-tulang panjang, vertebra ,tulang
pelvic, tulang tengkorak dan mandibula (Helmi, Zairin Noor. 2012). Banyak mitos
yang berkembang tentang penyakit ini, seperti diyakini bahwa infeksi akanberlanjut
menyebar pada tulang dan akhirnya seluruh tubuh, padahal hal yang sebenarnya
adalahosteomielitis tidak menyebar ke bagian lain tubuh karena jaringan lain tersebut
punya alirandarah yang baik dan terproteksi oleh sistem imun tubuh. Kecuali apabila
terdapat sendi buatan dibagian tubuh yang lain. Dalam keadaan ini, benda asing tersebut
menjadi pathogen. Secaraumum, terapi infeksi tulang bukanlah kasus yang emergensi.
Tubuh memiliki mekanimepertahanan yang mempertahankan agar infeksi tetap
terlokalisasi di daerah yang terinfeksi.
Osteomielitis dapat terjadi pada semua usia tetapi sering terjadi
pada anak-anak dan orang tua, juga pada orang dewasa muda dengan
kondisi kesehatan yang serius.. Diagnosis dini osteomielitis sangat sulit
pada pasien dengan nyeri ekstremitas dan riwayat cidera, yang nyerinya
cenderung dikaitkan dengan trauma ersebut. riwayat cedera umumnya
terdapat pada pasien osteomielitis. pada salah satu penelitian 35% pasien
pernah mengalami trauma pada tulang yang terkena osteomielitis. riwayat
trauma sebelumnya dapat terjadi kebetulan dan tidak berhubungan. tetapi
sekarang sudah diketahui bahwa trauma dapat menjadi faktor penyebab
terjadinya osteomilietis
Pasien yang beriesiko tinggi mengalami osteomilities adalah
mereka yang nutrisinya buruk, lansia, kegemukan, atau penderita diabetes
millitus. Beberapa tahun belakangan ini, insiden osteomielitis telah
menurun, mungkin disebabkan oleh perbaikan kesehatan umum dan

1|Page
perbaikan fasilitas medik. sekali menderita penyakit ini, sulit untuk
memberantasnya. penyakit ini sulit diobati karena dapat terbentuk abses
lokal. abses tulang biasanya memiliki pendarahan yang sangat kurang,
dengan demikian penyampaian sel – sel imun dan antibiotik terbatas
(Helmi, Zairin Noor. 2012)
B. Tujuan Penulisan
Tujuan Umum :
Mahasiswa mampu memahami mengenai asuhan keperawatan
kepada klien dengan gangguan intergumen (osteomyelitis).

Tujuan Khusus :
a. Mahasiswa mampu memahami Definisi Osteomilities
b. Mahasiswa mampu menyebutkan Etiologi Osteomilitis
c. Mahasiswa mampu memahami Patofisiologi Osteomilitis
d. Mahasiswa mampu mengetahui Manifestasi Klinik Osteomilities
e. Mahasiswa mampu mengetahui Penatalaksanaan Osteomilities
f. Mahasiswa mampu mengetahui Pengkajian Fokus Osteomilities
g. Mahasiswa mampu mengetahui Pathways Osteomilities
h. Mahasiswa mampu mengetahui Diagnosa Osteomilities
i. Mahasiswa mampu mengetahui Intervensi dan Rasional Osteomilities

C. Metode Penulisan
Metode penulisan pada makalah ini menggunakan studi pustaka
sebagai penunjang dan acuan dalam memberikan asuhan keperawatan.
Studi pustaka meliputi:
a. Mata kuliah yang berhubungan dengan masalah keperawatan yang
akan dibahas dalam rangka mendapatkan gambaran yang bersifat
teoritis.
b. Bahan pustaka yang berhubungan dengan studi kasus.

2|Page
C. Sistematika Penulisan
Bab I: Pendahuluan yang berisikan latar belakang masalah, tujuan
penulisan metode penulisan dan sistematika penulisan.
Bab II : Konsep dasar keperawatan berisikan pengertian,
etiologi, patofisiologi, manifestasi klinik, komplikasi,
penatalaksanaan, pengkajian fokus, pathways keperawatan,
diagnosa keperawatan, fokus intervensi dan rasional.
Bab III: Penutup berisikan kesimpulan dan saran.

3|Page
BAB II

KONSEP DASAR

A. Pengertian
Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit
disembuhkan daripada infeksi jaringan lunak karena terbatasnya asupan
darah, respons jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan
pembentukan involukrum (pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan
tulang mati). Osteomielitis dapat menjadi masalah kronis yang akan
mempengaruhi kualitas hidup atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas.
(Brunner, suddarth:2002)
Osteomielitis adalah infeksi entukan involukrum (pembentukan
tulang baru di sekeliling jaringan tulang mati) (Smeltzer, Suzanne C,
2002).
Menurut Mansjoer (2000) “Osteomielitis adalah infeksi pada
tulang dan sumsum tulang yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus atau
proses spesifik.”
Jadi berdasarkan pendapat diatas osteomyelitis adalah infeksi
tulang dan jaringan lunak yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau proses
spesifik.
B. Etiologi
Menurut Mansjoer (2009) penyebab osteomyelitis antara lain:
a. Staphylococcus aureus hemolyticus (koagulasi positif) sebanyak 90%
dan jarang oleh Streptococcus hemolyticus.
b. Haemophilus influenza (5-50%) pada usia di bawah 4 tahun
c. Organisme lain seperti B. coli, B. aeruginosa capsulata, Proteus
mirabilis, Brucella, dan bakteri anaerob yaitu Bacterioides fragilis.

Faktor Predisposisi Osteomeilitis Hematogen Akut:


a. Usia (terutama menhenai bayi dan anak-anak).

4|Page
b. Jenis kelamin terutama (lebih sering pada pria daripada wanita dengan
perbandingan 4:1)
c. Trauma ( Hematoma akibat trauma pada daerah metafisis merupakan
salah satu factor predisposisi terjadinya osteomielitis hematogen akut)
d. Lokasi ( osteomielitis hematogen akut sering terjadi di daerah metafisis
karena daerah ini merupakan daerah aktif tempat terjadinya
pertumbuhan tulang)
e. Nutrisi, lingkungan, dan imunitas yang buruk serta adanya focus infeksi
sebelumnya (seperti bisul, tonsillitis).

Osteomyelitis juga bisa terjadi melalui 2 cara :


f. Aliran darah: Infeksi bisa disebabkan oleh penyebaran hematogen
(melalui darah) dari fokus infeksi di tempat lain (misalnya tonsil yang
terinfeksi, lepuh, gigi terinfeksi). Aliran darah bisa membawa suatu
infeksi dari bagian tubuh yang lain ke tulang. Osteomyelitis akibat
penyebaran hematogen biasanya terjadi ditempat di mana terdapat
trauma.
g. Penyebaran langsung Organisme bisa memasuki tulang secara langsung
melalui fraktur terbuka, cedera traumatik seperti luka tembak, selama
pembedahan tulang atau dari benda yang tercemar yang menembus
tulang.

C. Patofisiologi

Menurut (Anderson, Toby,dkk:2017) Infeksi pada sistem


muskuloskletal dapat berkembang dalam dua cara. Pertama, bakteri
dibawa melalui darah dari fokus infeksi yang telah ada (misal: infeksi
saluran pernafasan atas, infeksi genitourinarius, furunkel) bisa tersangkut
di dalam tulang, sinovium atau jaringan lunak ekstremitas yang kemudian
membentuk abses. Bakteri bisa juga mencapai sistem muskuloskletal

5|Page
langsung dari lingkungan luar (misal: luka penetrasi, insisi bedah, fraktur
terbuka).
Osteomielitis hematogen akut paling sering menyerang tulang
panjang dan yang tersering femur, diikuti oleh tibia, humerus radius, ulna,
dan fibula. Bagian tulang yang terkena adalah bagian metafisis dan
penyebab tersering adalah Staphylococcus aureus. Osteomielitis
hematogen akut menunjukkan perkembangan khas ditandai dengan
peradangan, supurasi, nekrosis tulang, pembentukan tulang baru reaktif
dan pada akhirnya, resolusi dan penyembuhan atau menjadi kronis.
Namun, gambaran patologisnya bervariasi, tergantung pada usia pasien,
tempat infeksi, virulensi organisme dan respon host.
Predisposisi untuk infeksi pada metafisis dianggap berhubungan
dengan pola aliran darah setinggi sambungan lempeng fiseal metafisis.
Aliran darah yang lamban melalui vena eferen pada tempat ini
memberikan tempat untuk penyebaran bakteri. Epifisis tulang panjang
mempunyai suplai aliran darah terpisah dan jarang terlibat osteomielitis
akut. Dengan maturasi, ada osifikasi total lempeng fiseal dan ciri aliran
darah yang lamban dihilangkan. Sehingga osteomielitis hematogen pada
orang dewasa sangat jarang terjadi.
Infeksi tulang pada dewasa biasanya mengikuti cedera terbuka,
operasi atau menyebar dari fokus infeksi terdekat (misalnya ulkus
neuropatik atau kaki diabetik yang terinfeksi). Osteomielitis hematogen
murni jarang dan ketika terjadi biasanya mengenai vertebra (misalnya
setelah infeksi panggul) atau tulang kuboid kecil. Infeksi tulang belakang
dapat menyebar melalui end-plate dan discus intervertebralis ke corpus
vertebra yang berdekatan. Jika tulang panjang terinfeksi, abses cenderung
menyebar di dalam rongga meduler, mengikis korteks dan meluas ke
jaringan lunak sekitarnya. Pembentukan tulang baru periosteal lebih jarang
daripada pada anak-anak dan korteks yang melemah mungkin akan patah.
Jika ujung tulang terlibat, ada risiko infeksi menyebar ke sendi yang
berdekatan. Hasilnya akan menjadi osteomielitis subakut dan kronik.

6|Page
D. Manifestasi
Menurut Smelter (2009) Gambaran klinis osteomielitis
berkembang secara progenesis penyakit, antaralain :
h. Osteomyelitis akut berkembang secara progresif atau cepat.Pada
keadaan ini, mungkin dapat ditemukan adanya infeksi bakteri padakulit
dan saluran nafas atas. Gejala lain dapat berupa nyeri konstan pada
daerah infeksi atau nyeri tekan dan terdapat gangguan fungsi
anggotagerak yang bersangkutan. Pada orang dewasa, lokasi infeksi
biasanya pada daerah torakolumbal yang terjadi akibat torako sintesis
atau prosedur urologis dan dapat ditemukan adanya riwayat diabetes
mellitus, malnutrisi, adiksi obat-obatan atau pengobatan dengan
imunosupresif.
i. Osteomilities hematogen subakut. Gambaran klinis yang dapat
ditemukan adalah atrofi otot, nyeri lokal, sedikit pembengkakan, dan
dapat pula lansia menjadi pincang. Suhu tubuh lansia biasanya normal.
Pada pemerikasaanlaboratorium, leukosit umumnya normal, tetapi laju
endap darahmeningkat. Pada foto rontgen, biasanya ditemukan kavitas
berdiameter 1-2 cm terutama pada aderah metafisis dari tibia dan
femur atau kadang-kadang pada daerah diafisis tulang panjang.
j. Osteomilities hematogen subakut. Gambaran klinis yang dapat
ditemukan adalah atrofi otot, nyeri lokal, sedikit pembengkakan, dan
dapat pula lansia menjadi pincang.
k. Osteomielitis kronis lansia sering mengeluhkan adanya cairan yang
keluar dari luka sinus setelah operasi, yang bersifat menahun. Kelainan
kadang-kadang disertai demam dan nyeri lokal yang hilang timbul di
daerah anggota gerak tertentu. Pada pemeriksaan fisik, ditemukan
adanya sinus, fistel, atausikatriks bekas operasi dengan nyeri tekan.

E. Penatalaksanaan
Daerah yang terkena harus diimobilisasi untuk mengurangi
ketidaknyamanan dan mencegah terjadinya fraktur. Sasaran awal terapi
adalah mengontrol dan menghentikan proses infeksi. Begitu spesimen

7|Page
kultur telah diperoleh, dimulai pemberian terapi antibiotika IV dengan
tujuan untuk mengontrol infeksi sebelum aliran darah ke daerah tersebut
menurun akibat terjadinya trombosis. Bila infeksi tampak telah terkontrol,
antibiotika dapat diberikan per oral dan dilanjutkan sampai 3 bulan. Bila
penderita tidak menunjukkan respon terhadap terapi antibiotika, tulang
yang terkena harus dilakukan pembedahan, jaringan purulen dan nekrotik
diangkat (debridement) lalu daerah itu diirigasi secara langsung dengan
larutan salin fisiologis steril. Selanjutnya terapi antibiotika dilanjutkan
(Smeltzer & Bare,2009:2344).

Penatalaksanaan medis

a. Terapi
Osteomielitis hematogen akut paling bagus di obati dengan
evaluasi tepat terhadap mikroorganisme penyebab dan kelemahan
mikroorganisme tersebut dan 4-6 minggu terapi antibiotic yang
tepat. Bagaimana jika terapi antibiotic gagal, debridement dan
pengobatan 4-6 minggu dengan antibiotic parenteral sangat
diperlukan. Setelah kultur mikroorganisme dilakukan, regimen
antibiotic parenteral (nafcillin[unipen] + cefotaxime lain [claforan]
atau ceftriaxone [rocephin]) diawali untuk menutupi gejala klinis
organism tersangka. Jika hasil kultur telah diketahui, regimen
antibiotic ditinjau kembali. Anak-anak dengan osteomielitis akut
harus menjalani 2 minggu pengobatan dengan antiniotik parenteral
sebelum anak-anak diberikan antibiotic oral.
Osteomielitis kronis pada orang dewasa lebih sulit disembuhkan
dan umumnya diobati dengan antibiotic dan tindakan debridement.
Terapi antibiotik oral tidak dianjurkan untuk digunakan.
Tergantung dari jenis osteomielitis kronis. Pasien mungkin diobati
dengan antibiotik parenteral selama 2-6 minggu.
Daerah yang terkana harus diimobilisasi untuk mengurangi ketidak
nyamanan dan mencegah terjadinya fraktur. Dapat dilakukan

8|Page
rendaman salin hangat selama 20 menit beberapa kali per hari
untuk meningkatkan aliran darah.

Bila pasien tidak menunjukkan respons terhadap terapi antibiotika,


tulang yang terkena harus dilakukan pembedahan, jaringan purulen dan
nekrotik diangkat dan daerah itu diiringi secara langsung dengan larutan
salin fisiologis steril. Tetapi antibitika dianjurkan. Luka dapat ditutup rapat
untuk menutup rongga mati (dead space) atau dipasang tampon agar dapat
diisi oleh jaringan granulasi atau dilakukan grafting dikemudian hari.
Dapat dipasang drainase berpengisap untuk mengontrol hematoma dan
mebuang debris. Dapat diberikan irigasi larutan salin normal selama 7
sampai 8 hari. Dapat terjadi infeksi samping dengan pemberian irigasi ini.

Debridemen bedah dapat melemahkan tulang, kemudian


memerlukan stabilisasi atau penyokong dengan fiksasi interna atau alat
penyokong eksterna untuk mencegah terjadinya patah tulang. Pemberian
antibiotic dapat dilakukan :

a. Melalui oral (mulut)


b. Melalui infuse : jika diberikan melalui infus, maka diberikan selama 2
minggu, kemudian diganti menjadi melalui mulut. Jika dalam 24 jam
pertama gejala tidak membaik, maka perlu dipertimbangkan untuk
dilakukan tindakan operasi untuk mengurangi tekanan yang terjadi dan
untuk mengeluarkan nanah yang ada. Etelah itu dilakukan irigasi secara
kontinyu dan dipasang drainase. Teruskan pemberian antiniotik selama
3-4 minggu hingga nilai laju endap darah (LED) normal.

F. Pengkajian

a. Anamnesis Muskuloskeletal
a) Data Subyektif :

9|Page
1) Data Demografi. Data ini meliputi nama, umur, jenis kelamin,
tempat tinggal, jenis transportasi yang digunakan, dan orang yang
terdekat dengan klien
2) Riwayat Perkembangan. Data ini untuk mengetahui tingkat
perkembangan pada neonatus, bayi prasekolah, remaja dan tua
3) Riwayat Sosial. Data ini meliputi pendidikan dan pekerjaan.
Seseorang yang terpapar terus-menerus dengan agen tertentu
pekerjaannya, status kesehatannya dapat dipengaruhi.
4) Riwayat Penyakit Keturunan. Riwayat Penyakit keluarga perlu
diketahui untuk menentukan gerak yang perlu diidentifikasikan
(misal :penyakit DM yang merupakan predisposisi penyakit sendi
degeneratif , TBC, artritis, riketsia, osteomeilitis, dll)
5) Aktivitas kegiatan sehari-hari
Identifikasi pekerjaan pasien dan aktivitasnya sehari-hari.
Kebiasaan membawa benda-benda berat yang menimbulkan
regangan otot dan trauma lainnya. Kurangnya melakukan aktivitas
mengakibatkan tonus otot menurun. Perlu dikaji saat ambulasi
apakah nyeri pada sendi, apakah menggunakan alat bantu (kursi
roda, tongkat, walker)
6) Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Data tentang adanya efek langsung atau tidak langsung
terhadap muskuloskeletal, misalnya riwayat trauma atau kerusakan
tulang rawan, riwayat artritis, dan osteomeilitis.
7) Riwayat Kesehatan Sekarang
Sejak kapan timbul keluhan, apakah ada riwayat trauma.
Timbulnya gejala mendadak atau perlahan. Timbul untuk pertama
kalinya atau berulang. Kaji klien untuk mengungkapkan alasan
klien memeriksakan diri atau mengunjungi fasilitas kesehatan.
8) Kebiasaan sehari-hari
a. Pola nutrisi : anoreksia, mual, muntah.
b. Pola eliminasi : adakah retensi urin dan konstipasi.

10 | P a g e
c. Pola aktivitas : pola kebiasaan
9) Pemeriksaan fisik
a. Kaji gejala akut seperti nyeri lokal, pembengkakan, eritema,
demam dan keluarnya pus dari sinus disertai nyeri.
b. Kaji adanya faktor resiko (misalnya lansia, diabetes, terapi
kortikosteroid jangka panjang) dan cedera, infeksi atau bedah
ortopedi sebelumnya.
c. Identifikasi adanya kelemahan umum akibat reaksi sistemik
infeksi. (pada osteomielitis akut)
d. Observasi adanya daerah inflamasi, pembengkakan nyata, dan
adanya cairan purulen.
e. Identisikasi peningkatan suhu tubuh
f. Area sekitar tulang yang terinfeksi menjadi bengkak dan terasa
lembek bila di palpasi.
10) Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan darah : Sel darah putih meningkat sampai 30.000 L
gr/dl disertai peningkatan laju endap darah
b. Pemeriksaan titer antibody – anti staphylococcus : Pemeriksaan
kultur darah untuk menentukan bakteri (50% positif) dan diikuti
dengan uji sensitivitas
c. Pemeriksaan feses: Pemeriksaan feses untuk kultur dilakukan
apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh bakteri salmonella
d. Pemeriksaan biopsy tulang: Merupakan proses pengambilan
contoh tissue tulang yang akan digunakan untuk serangkaian
tes.
e. Pemeriksaan ultra sound : Yaitu pemeriksaan yang dapat
memperlihatkan adannya efusi pada sendi.
f. Pemeriksaan radiologis : Pemeriksaan photo polos dalam 10 hari
pertama tidak ditemukan kelainan radiologik. Setelah 2 minggu
akan terlihat berupa refraksi tulang yang bersifat difus dan
kerusakan tulang dan pembentukan tulang yang baru.

11 | P a g e
g. Pemeriksaan tambahan
- Bone scan: dapat dilakukan pada minggu pertama
- MRI: jika terdapat fokus gelap pada T1 dan fokus yang
terang pada T2, maka kemungkinan besar adalah
osteomielitis.

b) Keluhan utama pasien dengan gangguan muskuloskeletal meliputi


1) Nyeri. Identifikasi lokasi nyeri. Nyeri biasanya berkaitan dengan
pembuluh darah, sendi, fasia atau periosteum. Tentukan keluhan
nyeri apakah sakit yang menusuk atau berdenyut. Identifikasi
apakah nyeri timbul setelah diberi aktivitas/gerakan. Nyeri saat
bergerak merupakan satu tanda masalah persendian. Degenerasi
panggul menimbulkan nyeri selama badan bertumpu pada sendi
tersebut. Tanyakan kapan nyeri makin meningkat, apakah pagi atau
malam hari. Tanyakan apakah nyeri hilang saat istirahat. Apakah
nyerinya dapat diatasi dengan obat tertentu.
2) Kekuatan Sendi. Tanyakan sendi mana yang mengalami kekakuan ,
lamanya kekauan tersebut, dan apakah selalu terjadi remisi.
Kekakuan beberapa kali sehari.
3) Bengkak. Tanyakan berapa lama terjadi pembengkakan, apakah
juga disertai nyeri, karena bengkak dan nyeri sering menyertai
cidera pada otot
4) Deformitas dan imobilitas
Tanyakan kapan terjadinya , apakah tiba-tiba atau bertahap, apakak
menimbulkan keterbatasan gerak. Apakah semakin memburuk
dengan aktivitas, apakah klien menggunakan alat bantu (kruk,
tongkat,dll)
5) Perubahan Sensori. Tanyakan apakah ada penurunan rasa pada
bagian tubuh tertentu. Apakah menurunnya rasa atau sensasi
tersebut berkaitan dengan nyeri. Penekanan pada syaraf dan

12 | P a g e
pembuluh darah akibat bengkak, tumor atau fraktur dapat
menyebabkan menurunnya sensasi.

13 | P a g e
G. Pathways Keperawatan

Faktor predisposisi: usia, virulensi kuman, riwayat


trauma, nutrisi, dan lokasi infeksi

Infasi mikroorganisme dari tempat lain Fraktur terbuka


yang beredar melalui sirkulasi darah

Kerusakan pembuluh darah dan


Masuk ke juksta epifisis
adanya port de entree
tulang panjang
Infasi kuman ke
tulang dan sendi

osteomielitis

fagositosis

Proses inflamasi: hiperemia, pembengkakan, gangguan fungsi,


pembentukan pus, dan kerusakan integritas jaringan

Proses inflamasi Keterbatasan pergerakan Peningkatan tekanan Pembentukan pus,


secara umum jaringan tulang dan nekrosis jaringan
Penurunan kemampuan medula
pergerakan
Komplikasi
Demam, Iskemia dan nekrosis infeksi
malaise, Anoreksia. tulang
Hambatan
mobilitas fisik
Pembentukan abses tulang Kerusakan
lempeng
Ketidakseimbangan
epifisis
nutrisi: kurang dari
Kelemahan fisik Involuctum (pertumbuhan Nyeri
kebutuhan tubuh
tulang baru) pengeluaran pus
Gangguan
dari luka
Tirah baring lama, pertumbuhan
penekanan lokal jaringan
Deformitas, bau
dari adanya luka
Kerusakan
integritas kulit Gangguan Citra Diri

14 | P a g e
Gangguan
(Arif mutaqqin, 2008) citra diri
H. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri b.d abses tulang, pertumbuhan tulang baru dan pengeluaran pus.
b.Kerusakan integritas kulit b.d proses pembentukan tulang baru,
pengeluaran pus, tirah baring lama dan penekanan lokal.
c. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan nafsu makan, demam
dan malaise.
d.Hambatan mobilitas fisik b.d penurunan kemampuan pergerakan.
e. Gangguan citra diri b.d deformitas, bau dari adanya luka.

I. Intervensi dan Rasional


a. Diagnosa Keperawatan 1: Nyeri b.d abses tulang,
pertumbuhan tulang baru dan pengeluaran pus.
Tujuan: Nyeri berkurang, hilang , atau teratasi.
Kriteria Hasil: Secara subjektif, klien melaporkan nyeri berkurang

INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji nyeri dengan skala 0-4. 1. Nyeri merupakan respons subjektif
yang dapat dikaji dengan
2. Atur posisi imobilisasi pada daerah menggunakan skala nyeri. Klien
nyeri sendi atau nyeri ditulang yang melaporkan nyeri biasanya di atas
mengalami infeksi. tingkat cidera.

3. Bantu klien dalam mengidentifikasi 2. Mobilisasi yang adekuat dapat


faktor pencetus. mengurangi nyeri pada daerah nyeri
sendi atau nyeri ditulang yang
4. Jelaskan dan Bantu klien terkait mengalami infeksi.
dengan tindakan pada nyeri
nonfarmakologi dan noninvasif. 3. Nyeri dipengaruhi oleh kecemasan,
pergerakan sendi.

15 | P a g e
5. Ajarkan relaksasi: teknik
mengurangi ketegangan otot rangka 4. Pendekatan dengan menggunakan
yang dapat mengurangi intensitas relaksasi dan tingkatan
nyeri dan meningkatkan ralaksasi nonfarmakologi lain menunjukkan
masase. keefektifan dalam mengurangi
nyeri.
6. Ajarkan metode distraksi selama
nyeri akut. 5. Teknik ini melancarkan peredaran
darah sehingga kebutuhan oksigen
7. Beri kesempatan waktu istirahat bila pada jaringan terpenuhi dan nyeri
terasa nyeri dan beri posisi yang berkurang.
nyaman (mis; ketika tidur, punggung
klien diberi bantal kecil). 6. Mengalihkan perhatian klien
terhadap nyeri ke hal-hal yang
8. Tingkatkan pengetahuan tentang menyenangkan.
penyebab nyeri dab hubungkan
dengan beberapa lama nyeri akan 7. Istirahat merelaksasikan semua
berlangsung. jaringan sehingga meningkatkan
kenyamanan.
9. Kolaborasi: pemberian analgesic. 8. Pengetahuan tersebut membantu
mengurangi dan dapat membantu
meningkatkan kepatuhan klien
terhadap rencana terapeutik
9. Analgesic memblok lintasan nyeri
sehingga nyeri akan berkurang.

b. Diagnosa Keperawatan 2: Kerusakan integritas jaringan b.d proses


pembentukan tulang baru, pengeluaran pus tirah baring lama dan
penekanan lokal.
Tujuan: Integritas jaringan membaik secara optimal.

16 | P a g e
Kriteria Hasil:Pertumbuhan jaringan meningkat, keadaan luka
membaik, pengeluaran pus pada luka tidak ada lagi, luka menutup.

INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji kerusakan jaringan lunak 1. Menjadi data dasar untuk memberi
2. Lakukan perawatan luka: Lakukan informasi tentag intervensi perawatan
perawatan luka dengan teknik steril. luka, alat, dan jenis larutan apa yang
3. Kaji keadaan luka dengan teknik akan digunakan.
membuka balutan dan mengurangi 2. Perawat luka dengan teknik steril
stimulus nyeri, bila perban melekat dapat mengurangi kontaminasi
kuat, peran diguyur dengan NaCl. kuman langsung kearel luka.
4. Lakukan pembilasan luka dari arah 3. Menejemen membuka luka dengan
dalam keluar dengan caira NaCl. mengguyur larutan NaCl keperban
5. Tutup luka dengan kasa steril atau dapat mengurangi stimulus nyeri dan
kompres dengan NaCl yang dapat menghindari terjadinya
dicampur dengan antibiotic. pendarahan pada luka osteomielitis
6. Lakukan nekrotomi pada jaringan konis akibat perban yang kering oleh
yang sudah mati. pus.
7. Rawat luka setiap hari atau setiap 4. Teknik menbuang jaringan dan
kali bila pembalut basah atau kotor. kuman diareal luka sehingga keluar
8. Hindari pemakaian peralatan dari areal luka.
perawatan luka yang sudah kontak 5. NaCl merupakan larutan fisiologis
dengan klien osteomielitis, jangan yang lebih mudah diabsorpsi oleh
digunakan lagi untuk melakukan jaringan daripada larutan antiseptic.
perawatan luka pada klien lain. NaCl yang dicampur dengan
9. Gunakan perban elastis dan gips antibiotic dapat mempercepat
pada luka yang disertai kerusakan penyembuhan luka akibat infeksi
tulang atau pembengkakan sendi osteomielitis.
10. Evaluasi perban elastis terhadap 6. Jaringan nekrotik dapat menghambat
resolusi edema menyembuhan luka.

17 | P a g e
11. Evaluasi kerusakan jaringan dan 7. Memberi rasa nyaman pada klien dan
perkembangan pertumbuhan dapat membantu meningkatkan
jaringan dan lakukan perubahan pertumbuhan jaringan luka.
intervensi bila pada waktu yang 8. Pengendalian infeksi nosokomial
ditetapkan tidak ada perkembangan dengan menghindari kontaminasi
pertumbuhan jaringan yang optimal. langsung dari perawatan luka yang
12. Kolaborasi dengan tim bedah tidak steril.
untuk bedah perbaikan pada 9. Pada klien osteomielitis dengan
kerusakan jaringan agar tingkat kerusakan tulang, stabilitas formasi
kesembuhan dapat dipercepat. tulang sangat stabil. Gips dan perban
13. Pemeriksaan kulur cairan (pus) elastis dapat membantu memfiksasi
yang keluar dari luka. dan mengimobilisasi sehingga dapat
14. Pemberian mengurangi nyeri.
antibiotik/antimikroba 10. Pemasangan perban elastis yang
terlalu kuat dapat menyebabkan
edema pada daerah distal dan juga
menambah nyeri pada klien.
11. Adanya batasan waktu selama
7X24 jam dalam melakukan
perawatan luka klien osteomielitis
menjadi tolak ukur keberhasilan
intervensi yang diberikan. Apabila
masih belum mencapai criteria
hasil, sebaikya mengkaji ulang
factor-faktor yang menghmbat
pertumbuhan jaringan luka.
12. Bedah perbaikan terutama pada
klien fraktur terbuka luas sehingga
menjadi pintu masuk kuman yang
ideal. Bedah perbaikan biasanya

18 | P a g e
dilakukan setelah masalah infeksi
osteomielitis teratasi.
13. Manajemen untuk menentukan
antimikroba yang sesuai dengan
kuman yang sensitive atau resisten
terhadap beberapa jenis antibiotic.
14. Antimikroba yang sesuai dengan
hasil kultur (reaksi sensitive) dapat
membunuh atau mematikan kuman
yang menginvasi jaringan tulang.

c. Diagnosa Keperawatan 3 : Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan penurunan nafsu makan, demam dan malaise.
Tujuan : Keseimbangan nutrisi terpenuhi
Kriteria Hasil : Klien mendemonstrasikan asupan makanan yang
adekuat untuk memenuhi kebutuhan dan metabolisme tubuh,
peningkatan asupan makanan, tidak ada penurunan BB lebih lanjut,
menyatakan perasaan sejahtera.

INTERVENSI RASIONAL
1. Pantau persentase jumlah makanan 1. Mengidentifikasi kemajuan atau
yang dikonsumsi setiap kali makan, penyimpangan dari sasaran yang
timbang BB tiap hari, catat hasil diharapkan.
pemerikasaan protein total,
albumin, osmolalitas. 2. Bau yang tidak menyenangkan dapat
mempengaruhi nafsu makan.
2. Berikan perawatan mulut setiap 6
jam. Pertahan kan kesegaran 3. Ahli diet adalah spesialisasi dalam
ruangan. hal nutrisi yang dapat membantu

19 | P a g e
klien yang dapat memenuhi
3. Rujuk kepada ahli diet untuk kebutuhan kalori dan kebutuhan
membantu makanan yang dapat nutrisi sesuai dengan keadaan
memenuhi kebutuhan nutrisi selama sakitnya, usia, tinggi, dan BB-nya.
sakit.
4. Peningkatan suhu tubuh
4. Dorong klien mengkonsumsi meningkatkan metabolisme, asupan
makanan lunak tinggi kalori tinggi protein yang adekuat, vitamin,
protein. mineral dan kalori untuk aktivitas
anabolik dan sintesis antibody.
5. Berikan makanan lunak dengan
porsi sedikit tapi sering yang mudah 5. Makanan lunak dengan porsi sedikit
dicerna jika ada sesak nafas berat. tetapi sering akan mengurangi sensasi
nyeri sehingga mempermudah proses
menelan.

d. Diagnosa Keperawatan 4 : Hambatan mobilitas fisik berhubungan


dengan penurunan kemampuan pergerakan.
Tujuan : Klien dapat menunjukan cara
melakukan mobilisasi secara optimal.
Kriteria Hasil : Klien mampu melakukan aktivitas
perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuan, mengidentifikasi
individu/masyarakat yang dapat membantu, klien terhindar dari
cedera.

INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji kemampuan dan tingkat 1. Membantu dalam mengantisipasi dan
penurunan dalam melakukan merencanakan pertemuan untuk
mobilisasi. kebutuhan individual.

20 | P a g e
2. Hindari apa yang tidak dapat 2. Klien dalam keadaan cemas dan
dilakukan klien dan bantu bila tergantung sehingga hal ini dilakukan
perlu. untuk mencegah frustasi dan menjaga
harga diri klien.
3. Atur posisi fisiologis meliputi:
a. Kaji kesejajaran dan tingkat 3. Memberikan data dasar tentang
kenyamanan selama klien kesejajaran tubuh dan kenyamanan
berbaring sesuai dengan klien untuk perencanaan selanjutnya.
daerah spondilitis.
b. Atur posisi terlentang dan a. Mengurangi kemungkinan
letakkan gulungan stimulus nyeri, kontraktur sendi
handuk/bantal di area bagian dan memungkinkan untuk
bawah punggung yang sakit pergerakan optimal pada
dengan menjaga kondisi ekstremitas atas.
curvature tulang belakan g b. Posisi optimal untuk
dalam kondisi optimal. mencegah footdrop yang sering
c. Sokong kaki bawah yang terjadi akibat kondisi kaki yang
mengalami paraplegia dengan jatuh.(posisi ekstensi) terlalu lama
bantal dengan posisi jari-jari di tempat tidur.
menghadap langit. c. Adanya bantalan kan mencegah
terjadinya rotasi luar kaki dan
4. Lakukan latihan ROM mengurangi tekanan pada jari-jari
kaki.
5. Ajak klien untuk berfikir positif
terhadap kelemahan yang 4. Latihan yang efektif dan
dimilikinya. Berikan klien berkesinambungan akan mencegah
motivasi dan izinkan klien terjadinya kontraktur sendi dan atropi
melakukan tugas, memberi umpan otot.
balik positif atas usahanya.
5. Klien memerlukan empati. Tetapi

21 | P a g e
perlu juga mengetahui bahwa dirinya
harus menjalani perawatan yang
konsisten. Hal tersebut dapat
meningkatkan harga diri,
memandirikan klien, dan
menganjurkan klien untuk terus
optimis akan kesembuhan.

e. Diagnosa Keperawatan 5 : Gangguan citra diri b.d deformitas,


baudari adanya luka.
Tujuan : Citra diri klien meningkat
Kriteria Hasil : Klien mampu menyatakan atau
mengkomunikasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan
perubahan yang terjadi, mampu menyatakan penerimaan diri,
mengakui dan menggabungkan perubahan ke dalam konsep diri
dengan cara yang akurat.

INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji perubahan persepsi dan 1. Menentukan bantuan individual
hubungannya dengan dalam menyusun rencana
ketidakmampuan. perawatan atau pemilihan
intervensi.
2. Anjurkan klien mengekspresikan
perasaan termasuk sikap 2. Menunjukan penerimaan,
bermusuhan dan marah. membantu klien untuk mengenal,
dan memulai menyesuaikan dengan
3. Ingatkan kembali realitas bahwa perasaan tersebut.
klien masih dapat menggunakan sisi
yang sakit dan belajar mengontrol 3. Membantu klien melihat bahwa
sis yang sehat. perawat menerima kedua bagian

22 | P a g e
sebagai keseluruhan tubuh.
4. Bantu dan anjurkan perawatan yang Mengizinkan klien untuk
baik dan memperbaiki kebiasaan. merasakan adanya harapan dan
mulai menerima situasi baru.
5. Anjurkan orang terdekat
mengizinkan klien melakukan 4. Membantu meningkatkan perasaan
sebanyak mungkin hal untuk harga diridan mengontrol lebih dari
dirinya. satu area kehidupan.

6. Bersama klien mencari laternatif 5. Menghidupkan kembali perasaan


koping yang positif. mandiri dan membantu
perkembangan harga diri serta
7. Dukung perilaku atau usaha, seperti mempengaruhi proses rehabilitasi.
peningkatan minat atau partisispasi
dalam aktivitas rehabilitasi. 6. Dukungan perawat kepada klien
meningkatkan rasa percaya diri.
8. Kolaborasi dengan ahli
neuropsikologi dan konseling bila 7. Klien dapat beradptasi terhadap
ada indikasi perubahan dan pengertian tentang
peran individu di masa mendatang.

8. Dapat memfasilitasi perubahan


peran yang penting untuk
perkembangan perasaan.

23 | P a g e
BAB III
PENUTUP

a. Kesimpulan

Jadi berdasarkan penjelasan di atas, Osteomielitis adalah infeksi


tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan daripada infeksi jaringan
lunak karena terbatasnya asupan darah, respons jaringan terhadap
inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan pembentukan involukrum
(pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan tulang mati).
Osteomielitis dapat menjadi masalah kronis yang akan mempengaruhi
kualitas hidup, atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas.

Pada infeksi yang berlangsung kronik terangkatnya periosteum


menyebabkan timbulnya reaksi pembentukan tulang baru yang di
dalamnya terdapat sekuestrum dan disebut involukrum. Reaksi ini
terutama terjadi pada anak-anak, sehingga disepanjang daerah diafisis
dapat terbentuk tulang baru dari lapisan terdalam periosteum. Tulang yang
baru terbentuk ini dapat menpertahankan kontinuitas tulang, meskipun
sebagian besar bagian tulang yang terinfeksi telah mati dan menjadi
sekuestrum.

b. Saran
Harapan penulis menyusun makalah ini, tenaga medis khusunya
perawat dapat memberikan asuhan keperawatan secara tepat, dan
memberikan edukasi kepada masyarakat dengan benar. Untuk masyarakat
sendiri diharapkan agar lebih memperhatikan gaya hidup dan mengetahui
kegiatan aktivitas apa saja yang dapat membahayakan bagi sistem
mukuloskeletal, sehingga muskuloskeletal disorder seperto Osteoarthritis
tidak menjangkit pada tubuh. Untuk pemerintah dapat melengkapi fasilitas
rumah sakit maupun puskesmas agar jika ada masyarakat yang mengalami
penyakit Osteoarthritis dapat teratasi dengan maksimal.

24 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

Birt MC, Anderson DW, Toby B, Wang J. 2017. Osteomyelitis: recent advances
in pathophysiology and therapeutic strategies. Journal of Orthopaedics;
14(1): 45-52.

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:EGC

Doengoes, E. Marilyn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta:EGC

Helmi, Zairin Noor. 2012. Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta: Salemba Medika

Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan


Muskoloskeletal. Jakarta:EGC

Mansjoer, A, dkk, 2009, Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius

Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G. Bare. 2009. Keperawatan Medikal Bedah 2,


Edisi 8. Jakarta : EGC

Steven K, Schmitt MD. 2017. Osteomyelitis. Infectious Disease Clinics of North


America; 31(2): 325-38

25 | P a g e