Anda di halaman 1dari 15

PEMBAHASAN

I. DASAR HUKUM
1. Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945
2. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas
3. Undang -undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
4. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
5. Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara
6. Peraturan pemerintah Nomor 45 tahun 2005 tentang Pendirian, Pengurusan,
Pengawasan, dan Pembubaran BUMN
II. PENGERTIAN BUMN

Berdasarkan PP No. 45 tahun 2005, BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau
sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang
berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. Adapun bentuk BUMN :
1. Persero
Persero adalah BUMN yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya
terbagi dalam saham yang seluruh atau paling sedikit 51 % (lima puluh satu
persen) sahamnya dimiliki oleh Negara Republik Indonesia yang tujuan utamanya
mengejar keuntungan.
Organ persero terdiri dari RUPS, Direksi, dan Komisaris
2. Perum
Perum adalah BUMN yang seluruh modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi
atas saham, yang bertujuan untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan barang
dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan
berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan. Organ Perum terdiri dari Menteri,
Direksi, dan Dewan Pengawas.
Tujuan pendirian BUMN :
1. Memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya
dan penerimaan negara pada khususnya
2. Mengejar keuntungan
3. Menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang
bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak

1
4. Menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor
swasta dan koperasi
5. Turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi
lemah, koperasi, dan masyarakat.
III. PENDIRIAN BUMN
Sesuai dengan UU No. 19 tahun 2003 , BUMN didirikan dengan tujuan :
1. Memberikan sumbangan bagi perekonomian nasional pada umumnya dan
penerimaan Negara pada khususnya
2. Mengejar keuntungan
3. Menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa
yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak
4. Menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang dapat dilaksanakan oleh sektor
swasta dan koperasi
5. Turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan
ekonomi lemah, koperasi dan masyarakat
Pendirian BUMN ditetapkan dengan peraturan pemerintah, dimana dalam
peraturan pemrintah tersebut setidaknya memuat : Penetapan pendirian BUMN,
Maksud dan tujuan didirikan BUMN dan Penetapan besarnya penyertaan besarnya
kekayaan Negara yang dipisahkan dalam rangka pendirian BUMN. Maka pendirian
BUMN meliputi :
1. Pembentukan Perum atau Persero baru
Dalam hal pendirian persero ini haruslah dilakukan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang perseroan terbatas. Khusus untuk
pendirian Perum, Peraturan Pemerintah tersebut memuat pula anggaran dasar
Perum bersangkutan dan penunjukan Menteri selaku wakil pemerintah sebagai
pemilik modal.
2. Perubahan bentuk unit instansi pemerintah menjadi BUMN
Dalam hal pendirian BUMN dilakukan dengan mengalihkan unit instansi
pemerintah menjadi BUMN, maka dalam peraturan pemerintah tentang pendirian
BUMN yang dimaksud, dimuat ketentuan bahwa seluruh atau sebagian kekayaan,
hak dan kewajiban unit instansi pemerintah tersebut beralih menjadi kekayaan,
hak dan kewajiban BUMN yang didirikan.
3. Perubahan bentuk badan hukum BUMN
4. Pembentukan BUMN sebagai akibat dari peleburan Persero dan Perum.
2
Di dalam pendiriannya BUMN haruslah memiliki anggaran dasar. BUMN
memiliki tempat kedudukan di dalam wilayah Indonesia yaitu diungkapkan didalam
anggaran dasar. Begitu juga dengan jangka waktu berdirinya BUMN yang tercantum
di dalam anggaran dasarnya. Berikut dalam anggaran dasar baik untuk Persero
maupun Perum.
Anggaran dasar Persero memuat sekurang-kurangnya :
1. Nama dan tempat kedudukan Perseroan
2. Maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Perseroan
3. Jangka waktu berdirinya Perseroan
4. Besarnya jumlah modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor
5. Jumlah saham, klasifikasi saham apabila ada berikut jumlah saham untuk tiap
klasifikasi, hak-hak yang melekat pada setiap saham, dan nilai nominal setiap
saham
6. Nama jabatan dan jumlah anggota Direksi dan Dewan Komisaris
7. Penetapan tempat dan tata cara penyelenggaraan RUPS
8. Tata cara pengangkatan, penggantian, pemberhentian anggota Direksi dan Dewan
Komisaris
9. Tata cara penggunaan laba dan pembagian dividen.

Anggaran dasar Perum memuat sekurang-kurangnya:


1. Nama dan tempat kedudukan
2. Maksud dan tujuan serta kegiatan usaha
3. Jangka waktu berdiri
4. Besarnya modal
5. Susunan dan jumlah anggota Direksi dan Dewan Pengawas serta komposisi Dewan
Pengawas
6. Tata cara pemilihan, pengangkatan, dan pemberhentian anggota Direksi dan
Dewan Pengawas
7. Tata cara penyelenggaraan rapat Direksi dan rapat Dewan Pengawas
8. Tata cara penggunaan laba
9. Ketentuan-ketentuan lain menurut Peraturan Pemerintah ini.

Dalam perubahan anggaran dasar Persero tersebut harus ditetapkan dalam


RUPS dan acara mengenai perubahan anggaran dasar tersebut harus dicantumkan
dalam panggilan RUPS secara jelas. Atas perubahan anggaran dasar tersebut haruslah
3
memperoleh persetujuan dari Menteri. Maka dalam hal terjadi perubahan anggaran
dasar Perum, inisitif pengusulan atas perubahan anggran dasar ini dapat berasal dari
Menteri Teknis maupun dari Menteri BUMN yaitu :
1. Jika usulan atas perubahan anggaran dasar Perum ini berasal dari Menteri BUMN
maka usulan ini langsung disampaikan kepada presiden disertai dengan dasar
pertimbangan yang telah dikaji bersama dengan menteri teknis atau dapat juga
dalam pengkajian ini menyertakan Menteri/Pimpinan lembala lain apabila hal ini
dianggap perlu.
2. Jika usulan atas perubahan anggaran dasar ini berasal dari Menteri Teknis maka
usulan ini harus disampaikan terlebih dahulu kepada Menteri untuk kemudian
dilakukan pengkajian atas usulan tersebut yang dikoordinaskan oleh Menteri . Jika
usulan tersebut dianggap layak maka, selanjutnya usulan tersebut akan
disampaikan kepada Presiden.

Keterlibatan Menteri Teknis dalam proses perubahan anggaran dasar Perum


diperlukan sehubungan dengan terjadinya perubahan kebijakan sektoral di tempat
BUMN melakukan kegiatan usaha, adanya kewajiban pelayanan umum (public
service obligation) serta peraturan perundang-undangan yang mengharuskan
dilakukan perubahan anggaran dasar Perum. Yang dimaksud dengan “perubahan
anggaran dasar Perum yang berkaitan dengan perubahan modal dilakukan
berdasarkan ketentuan mengenai tata cara penambahan penyertaan modal Negara
pada BUMN” adalah ketentuan yang diatur dalam peraturan pemerintah sebagai
pelaksanaan Pasal 4 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha
Milik Negara.
Penulisan / penentuan nama untuk Persero atau Perum tidaklah bisa dilakukan
secara sembarangan. Atas penulisan nama ini pun sudah diatur dalam PP No. 45 tahun
2005. Ketentuan mengenai penulisan nama Persero maupun Peru mini dimaksudkan
untuk membedakan mana yang merupakan perusahaan milik Negara dan mana yang
merupakan perusahaan milik swasta. Berikut aturan penulisan nama baik untuk
Persero maupun Perum.
1. Penulisan nama Persero dilakukan sebagai berikut:
a) Dalam hal penulisan nama Persero dilakukan secara lengkap, maka
didahului dengan perkataan “Perusahaan Perseroan (Persero)”, diikuti
dengan singkatan “PT” dan kemudian diikuti dengan nama perusahaan

4
b) Dalam hal penulisan nama Persero dilakukan secara singkat, maka kata
“(Persero)” dicantumkan setelah singkatan “PT” dan nama perusahaan.
2. Nama Perum didahului dengan perkataan “Perusahaan Umum (Perum)” atau
dapat disingkat “Perum” yang dicantumkan sebelum nama perusahaan.
IV. PENGURUSAN BUMN

BUMN adalah milik Negara, akan tetapi pembinaan dan pengelolaan BUMN
tetepa didasarkan pada prinsip – prinsip perusahaan yang sehat. Selain tunduk pada
peraturan yang berlaku terhadap BUMN, para Direksi BUMN juga berpegang teguh pada
penerapan prinsip good corporate governance, yaitu :
1. Transparansi yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan
keputusan dan keterbukaan dalam mengungkapkan informasi material dan relevan
mengenai perusahaan.
2. Kemandirian yaitu eadaan dimana perusahaan dikelola secara profesional tanpa
benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai
dengan peraturan perundang – undangan dan prinsip – prinsip korporasi yang
sehat.
3. Akuntabilitas yaitu ejelasan fungsi, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban organ
sehingga pengelolaan perusahaan dapat dilaksanakan secara efektif.
4. Pertanggungjawaban yaitu suatu keadaan dimana stiap apa keputusan atau
tindakan yang diambil atau dilakukan dapat dipertanggungjawabkan, ada
kejelasannya.
5. Kewajaran yaitu esesuaian di dalam pengelolaan perusahaan terhadap peraturan
perundang – undangan dan prinsip – prinsip korporasi yang sehat.

Perlu diketahui bahwa kepengurusan BUMN dilaksanakan oleh Direksi.


Pengangkatan dan pemberhentian Direksi dilakukan oleh RUPS untuk Persero dan
Menteri untuk Perum. Orang atau perseorangan yang dapat diangkat untuk menjadi
direksi adalah seseorang yang memiliki keahlian, integritas, kepemimpinan,
kejujuran, pengalaman, perilaku yang baik serta memiliki dedikasi yang tinggi untuk
memajukan dan mengembangkan perusahaan. Selain itu, calon direksi BUMN
haruslah orang yang mampu melakukan perbuatan hukum (cakap hukum) dan tidak
pernah dinyatakan pailit atau menjadi anggota direksi atau komisari atau dewan
pengawas yang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu perseroan atau perum

5
dinyatakan pailit atau orang yang tidak pernah dihukum karena melakukan tindak
pidana yag merugikaan Negara.
Untuk dapat diangkat sebagai direksi BUMN, maka orang tersebut haruslah
lulus uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang dilaksanakan oleh sebuah
tim atau lembaga professional yang ditunjuk oleh Menteri. Untuk BUMN yang tidak
seluruh sahamnya dimiliki oleh negara, ketentuan uji kelayakan dan kepatutan (fit and
proper test) hanya berlaku bagi calon anggota Direksi yang mewakili pemerintah.
Jika dinyatakan lulus uji maka direksi harus menandatangani kontrak
manajemen. Kontrak manajemen berisikan janji-janji atau pernyataan calon anggota
Direksi, yaitu apabila diangkat/diangkat kembali menjadi anggota Direksi antara lain
akan memenuhi segala target yang ditetapkan oleh RUPS/Menteri dan menerapkan
prinsip-prinsip good corporat governance.Dalam hal direksi terdiri lebih dari satu
orang maka salah satunya diangkat sebagai Direktur Utama.
Anggota Direksi dilarang memangku jabatan rangkap sebagai:
1. Anggota Direksi pada BUMN lain, badan usaha milik daerah, dan badan usaha
milik swasta
2. Jabatan struktural dan fungsional lainnya dalam instansi/lembaga pemerintah pusat
dan daerah
3. Jabatan lainnya sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan
4. Jabatan lain yang dapat menimbulkan benturan kepentingan.

Jabatan anggota Direksi berakhir apabila:


1. Meninggal dunia
2. Masa jabatannya berakhir
3. Diberhentikan berdasarkan keputusan RUPS/Menteri
4. Tidak lagi memenuhi persyaratan sebagai anggota Direksi berdasarkan ketentuan
Peraturan Pemerintah No. 45 tahun 2005 dan peraturan perundang-undangan
lainnya.

Berikut adalah penjelasan tentang kepengurusana BUMN :


1. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan Menteri
RUPS adalah organ persero ynag miliki kekuasaan tertinggi dalam Persero dan
memegang segala wewenang yang tidak diserahkan kepada Direksi atau
Komisaris. RUPS berwenang untuk mengangkat dan memberhentikan anggota

6
Direksi, menetapkan jumlah anggota Direksi, mengesahkan rencana kerja dan
anggaran perusahaan, dan melakukan perubahan rencana kerja dan anggaran
perusahaan. Jika pada Persero yang memiliki kekuasaan tertinggu adalah RUPS
maka dalam Perum yang memiliki kekuasaan tertinggi atas perum adalah Menteri
2. Direksi
Direksi adalah orang/perseorangan yang diberikan wewenang untuk mengurus
BUMN. Direksi wajib menyiapkan rancangan Rencana Jangka Panjang yang
merupakan rencana strategis yang memuat sasaran dan tujuan BUMN yang
hendak dicapai dalam jangka waktu 5 (lima) tahun. Selanjutnya, Rancangan
Rencana Jangka Panjang yang telah ditandatangani bersama dengan
Komisaris/Dewan Pengawas disampaikan kepada RUPS untuk Persero dan
Menteri untuk Perum untuk memperoleh pengesahan. Rencana Jangka Panjang
tersebut sekurang-kurangnya memuat:
a. Evaluasi pelaksanaan Rencana Jangka Panjang sebelumnya
b. Posisi BUMN pada saat penyusunan Rencana Jangka Panjang
c. Asumsi-asumsi yang dipakai dalam penyusunan Rencana Jangka Panjang
d. Penetapan misi, sasaran, strategi, kebijakan dan program kerja Rencana Jangka
Panjang.

Direksi juga wajib menyiapkan rancangan Rencana Kerja dan Anggaran


Perusahaan yang merupakan penjabaran tahunan dari Rencana Jangka Panjang.
Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan ini sekurang-kurangnya memuat:
a. Misi, sasaran usaha, strategi usaha, kebijakan perusahaan, dan program
kerja/kegiatan
b. Anggaran perusahaan yang dirinci atas setiap anggaran program kerja/kegiatan
c. Proyeksi keuangan perusahaan dan anak perusahaannya
d. Hal-hal lain yang memerlukan keputusan RUPS untuk Persero dan Menteri
untuk Perum.

Selain itu, Direksi wajib menyiapkan laporan berkala yang memuat


pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan.Laporan berkala tersebut
meliputi laporan triwulanan dan laporan tahunan. Selain laporan berkala Direksi
sewaktu-waktu dapat pula memberikan laporan khusus kepada Komisaris dan/atau
RUPS untuk Persero atau kepada Dewan Pengawas dan/atau Menteri untuk
Perum.
7
Laporan keuangan Persero harus memuat sekurang-kurangnya:
a. Laporan keuangan yang terdiri atas sekurang-kurangnya neraca akhir tahun
buku yang baru lampau dalam perbandingan dengan tahun buku sebelumnya,
laporan laba rugi dari tahun buk u yang bersangkutan, laporan arus kas, dan
laporan perubahan ekuitas, serta catatan atas laporan keuangan tersebut
b. Laporan mengenai kegiatan Perseroan
c. Laporan pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan
d. Rincian masalah yang timbul selama tahun buku yang mempengaruhi kegiatan
usaha Perseroan
e. Laporan mengenai tugas pengawasan yang telah dilaksanakan oleh Dewan
Komisaris selama tahun buku yang baru lampau
f. Nama anggota Direksi dan anggota Dewan Komisaris
g. Gaji dan tunjangan bagi anggota Direksi dan gaji atau honorarium dan
tunjangan bagi anggota Dewan Komisaris Perseroan untuk tahun yang baru
lampau.

Laporan keuangan Perum memuat sekurang-kurangnya :


a. Perhitungan tahunan yang terdiri dari neraca akhir tahun buku yang baru
lampau dan perhitungan laba rugi dari tahun buku yang bersangkutan serta
penjelasan atas dokumen tersebut
b. Neraca gabungan dan perhitungan laba rugi gabungan dari perusahaan yang
tergabung dalam satu grup, disamping neraca dan perhitungan laba rugi dari
masing-masing perusahaan tersebut
c. Laporan mengenai keadaan dan jalannya Perum, serta hasil yang telah dicapai
d. Kegiatan utama Perum dan perubahan selama tahun buku;

3. Komisaris/ Dewan Pengawas


Komisaris / Dewan Pengawas adalah organ Persero/Perum yang berugas
melakukan pengawasan dan memberikan nasehat kepada Direksi dalam
menjalankan kegiatan kepengurusan BUMN. Komisaris diangkat dan
diberhentikan oleh RUPS, sedangkan Dewan Pengawas diangkat dan
diberhentikan oleh Menteri.
Orang perseorangan dapat diangkat menjadi Komisaris / Dewan Pengawas
apabila memiliki integritas, dedikasi, memahami masalah – masalah manajemen

8
perusahaan yang berkaitan dengan salah satu fungsi manajemen, memiliki
pengetahuan yang memadai di bidang usaha perusahaan, da dapat menyediakan
waktu yang cukup untuk melaksanakan tugasnya. Selain itu, mereka harus mampu
melaksanakan perbuatan hukum dan tidak pernah dinyatakan pailit atau dinyataka
bersalah menyebabkan suatu Persero atau Perum pailit atau tidak pernah dihukum
karena melakukan tindakan yang mengakibatkan kerugian keuangan Negara.

V. PENGAWASAN BUMN
Pengawasan BUMN adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh Komisaris/Dewan
Pengawas untuk menilai BUMN dengan cara membandingkan antara keadaan yang
sebenarnya dengan keadaan yang seharusnya dilakukan, baik dalam bidang keuangan
dan/atau dalam bidang teknis dan operasional.
Pengawasan Pesero dilakukan oleh Komisaris sedangkan untuk Perum dilakukan
oleh Dewan Pengawas. Pengangkatan dan pemberhentian Komisaris dilakukan oleh
RUPS sedangkan untuk Dewan Pengawas dilakukan oleh Menteri. Anggota Komisaris
dan Dewan Pengawas dilarang memangku jabatan rangkap sebagai :
1. Anggota Direksi pada BUMN, badan usaha milik daerah, badan usaha milik swasta
2. Jabatan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
3. Jabatan lain yang dapat menimbulkan benturan kepentingan.

Pemberhentian anggota Komisaris dan Dewan Pengawas dapat terjadi sewaktu -


waktu berdasarkan keputusan RUPS untuk Persero dan Menteri untuk Perum dimana
pemberhentian ini dapat dilakukan apabila berdasarkan kenyataan, anggota Komisaris
dan Dewan Pengawas yang bersangkutan:
1. Tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik
2. Tidak melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan dan/atau
ketentuananggaran dasar
3. Terlibat dalam tindakan yang merugikan BUMN dan/atau Negara
4. Dinyatakan bersalah dengan putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum
yang tetap
5. Mengundurkan diri.

Jabatan anggota Komisaris dan Dewan Pengawas berakhir apabila:


1. Meninggal dunia
2. Masa jabatannya berakhir
9
3. Diberhentikan berdasarkan keputusan RUPS untuk Persero dan Menteri untuk
Perum
4. Tidak lagi memenuhi persyaratan sebagai anggota Komisaris dan Dewan Pengawas
berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah ini dan peraturan perundang-
undangan lainnya.

Komisaris dan Dewan Pengawas bertugas untuk:


1. Melaksanakan pengawasan terhadap pengurusan BUMN yang dilakukan oleh
Direksi
2. Memberi nasihat kepada Direksi dalam melaksanakan kegiatan pengurusan
BUMN.

Untuk membantu kelancaran pelaksanaan tugasnya, Komisaris dan Dewan


Pengawas dapat mengangkat seorang sekretaris Komisaris/Dewan Pengawas atas
beban BUMN. Serta jika dianggap perlu, Komisaris dan Dewan Pengawas dalam
melaksanakan tugasnya juga dapat memperoleh bantuan tenaga ahli untuk hal tertentu
dan jangka waktu tertentu atas beban BUMN. Selain Komisaris / Dewan Pengawas,
BUMN juga memiliki unit pengawas yang meliputi :
1. Satuan Pengawas Intern (SPI) yaitu dibentuk di setiap BUMN. SPI dipimpin oleh
seorang kepala yang bertanggungjawab kepada Direktur Utama. Berikut ini adalah
tugas dari SPI :
a) Membantu Direktur Utama dalam melaksanakan pemeriksaan operasional dan
keuangan BUMN, menilai pengendalian, pengelolaan dan pelaksanaannya pada
BUMN serta memberikan saransaran perbaikannya
b) Memberikan keterangan tentang hasil pemeriksaan atau hasil pelaksanaan tugas
Satuan Pengawasan Intern kepada Direktur Utama
c) memonitor tindak lanjut atas hasil pemeriksaan yang telah dilaporkan.
2. Komite Audit adalah sebuah komite yang dibentuk oleh Komisaris/Dewan
Pengawas yang bekerja secara kolektif dan membantu dalam pelaksanaan tugas
dari Komisaris/Dewan Pengawas. Komite audit dipimpin oleh seorang kepala
yang bertanggungjawab kepada Komisaris/Dewan Pengawas.
Persyaratan untuk dapat diangkat sebagai anggota komite audit adalah:
a. Memiliki integritas yang baik dan pengetahuan serta pengalaman kerja yang
cukup di bidang pengawasan/pemeriksaan

10
b.Tidak memiliki kepentingan/keterkaitan pribadi yang dapat menimbulkan
dampak negatif dan konflik kepentingan terhadap BUMN yang bersangkutan
c. Mampu berkomunikasi secara efektif.

Ketua dari komite audit adalah anggota komite audit yang merupakan anggota
Komisaris atau Dewan Pengawas dan jika ternyata ada anggota dari komite audit yang
merupakan anggota atau bagian dari institusi lain maka institusi asal dari anggota komite
audit itu tidak diperbolehkan untuk memberikan jasa untuk BUMN. Maka Komite audit
bertugas untuk:
1. Membantu Komisaris/Dewan Pengawas dalam memastikan efektivitas sistem
pengendalian intern dan efektivitas pelaksanaan tugas eksternal auditor dan internal
auditor
2. Menilai pelaksanaan kegiatan serta hasil audit yang dilaksanakan oleh Satuan
Pengawasan Intern maupun auditor eksternal
3. Memberikan rekomendasi mengenai penyempurnaan sistem pengendalian manajemen
serta pelaksanaannya
4. Memastikan telah terdapat prosedur review yang memuaskan terhadap segala
informasi yang dikeluarkan perusahaan
5. Melakukan identifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian Komisaris/Dewan
Pengawas serta tugas-tugas Komisaris/Dewan Pengawas lainnya.

VI. PEMBUBARAN BUMN


Sebagaimana pendiriannya, pembubaran BUMN juga ditetapkan dengan Peraturan
Pemerintah. Untuk pembubaran Persero, pembubarannya harus dilakukan sesuai dengan
ketentuan dan prinsip – prinsip yang diatur didalam peraturan perundang – undangan
yang mengatur tentang Perseroan Terbatas. Pembubaran Perseroan terjadi:
a. Berdasarkan keputusan RUPS
Usulan atas pembubaran Persero yang didasarkan pada keputusan RUPS dapat
diajukan baik oleh Menteri BUMN maupun Menteri teknis :
1. Dalam hal usulan atas pembubaran BUMN ini diajukan oleh Menteri BUMN, maka
usulan ini disampaikan kepada Presiden disertai dengan dasar pertimbangan yag telah
dikaji bersama dengan Menteri Keuangan. Pengkajian atas rencana pembubaran
Persero ini juga dapat mengikutkan Menteri Teknis, Menteri lain, dan/atau pimpinan

11
instansi lain yang dianggap perlu dengan ataupun tanpa menggunakan konsultan
independen.
2. Dalam hal usulan atas pembubaran BUMN ini diajukan oleh Menteri Teknis, maka
sebelum usulan ini disampaikan kepada Presiden maka usulan pembubaran Persero
tersebut disampaikan dulu kepada Menteri BUMN untuk selanjutnya dilakukan
pengkajian yang dikoordinasikan oleh Menteri BUMN.

Pembubaran Perseroan tidak mengakibatkan Perseroan kehilangan status badan


hukum sampai dengan selesainya likuidasi dan pertanggungjawaban likuidator diterima
oleh RUPS atau pengadilan. Sejak saat pembubaran maka dalam setiap surat yang
dikeluarkan oleh Perseroan dicantumkan kata “dalam likuidasi” di belakang nama
Perseroan. Pembubaran Perseroandimulai sejak saat yang ditetapkan dalam keputusan
RUPS.
a. Karena jangka waktu berdirinya yang ditetapkan dalam anggaran dasar telah berakhir
yaitu secara hukum, jika jangka waktu berdirinya sebagaimana tercantum dalam
anggaran dasar Perseroan maka dilakukan pembubaran Perseroan. Dan paling lambat
30 hari setelahnya, RUPS sudah harus menunjuk likuidator.
b. Berdasarkan penetapan pengadilan yaitu selain menetapkan Pembubaran Persero,
pengadilan juga melakukan penunjukan likuidator untuk Persero yang dibubarkan
tersebut.
Pengadilan negeri dapat membubarkan Perseroan atas:
1. Permohonan kejaksaan berdasarkan alasan Perseroan melanggar kepentingan umum
atau
2. Perseroan melakukan perbuatan yang melanggar peraturan perundang-undangan
3. Permohonan pihak yang berkepentingan berdasarkan alasan adanya cacat hukum
dalam akta pendirian
4. Permohonan pemegang saham, Direksi atau Dewan Komisaris berdasarkan alasan
5. Perseroan tidak mungkin untuk dilanjutkan

Dalam jangka waktu paling lambat 30 hari terhitung sejak tanggal pembubaran Perseroan,
likuidator wajib memberitahukan:
1. Kepada semua kreditor mengenai pembubaran Perseroan dengan cara mengumumkan
pembubaran Perseroan dalam surat kabar dan Berita Negara Republik Indonesia
2. Pembubaran Perseroan kepada Menteri untuk dicatat dalam daftar Perseroan bahwa
Perseroan dalam likuidasi.
12
Kewajiban likuidator dalam melakukan pemberesan harta kekayaan Perseroan dalam proses
likuidasi meliputi pelaksanaan:
1. Pencatatan dan pengumpulan kekayaan dan utang Perseroan
2. Pengumuman dalam surat kabar dan Berita Negara Republik Indonesia mengenai
rencana pembagian kekayaan hasil likuidasi
3. Pembayaran kepada para kreditor
4. Pembayaran sisa kekayaan hasil likuidasi kepada pemegang saham
5. Tindakan lain yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan pemberesan kekayaan.

Likuidator bertanggungjawab kepada RUPS atau pengadilan yang mengangkatnya


atas likuidasi perseroan yang dilakukan. Likuidator wajib memberitahukan kepada Menteri
dan mengumumkan hasil akhir proses likuidasi dalam surat kabar setelah RUPS memberikan
pelunasan dan pembebasan kepada likuidator atau setelah pengadilan menerima
pertanggungjawaban likuidator yang ditunjuknya.
Selanjutnya Menteri BUMN akan mencatat berakhirnya status badan hokum
perseroan dan menghapus nama Perseroan dari daftar Perseroan. Menteri BUMN
mengumumkan berakhirnya status badan hukum perseroan dalam Berita Negara Republik
Indonesia.
Pembubaran Perum dapat terjadi karena hal – hal berikut, antara lain :
1. Ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah berdasarkan usulan Menteri
2. Jangka waktu berdiri yang ditetapkan dalam anggaran dasar telah berakhir. Yaitu
paling lambat 1 tahun sebelum jangka waktu berdirinya Perum berakhir sebagaimana
tertera dalam anggaran dasar Perum maka Menteri dapat mengajukan usulan
perpanjangan jangka waktu berdirinya Perum kepada Presiden. Namun jika usulan itu
tidak ditetapka oleh Presiden hingga waktu berdirinya Perum berakhir maka pada
tanggal ituPerum bubar. Namun, jika Menteri tidak melakukan pengajuan
perpanjagan Perum maka Menteri maka Menteri mengajukan rancangan Peraturan
Pemerintah mengenai Pembubaran Perum kepada Presiden
3. Penetapan pengadilan yaitu pengadilan dapat membubarkan Perum dimana
permohonan kejaksaan dalam rangka pembubaran Perum didasarkan pada alasan kuat
bahwa Perum melanggar kepentingan umum. Dalam penetapan pengadilan ini juga
ditetapkan pula penunjukan likuidator.
a. Dicabutnya putusan pernyataan pailit oleh Pengadilan Niaga sebab harta pailit
Perum tidak cukup untuk membayar biaya kepailitan

13
b. Perum dalam keadaan tidak mampu membayar (insolven) sebagaimana diatur
dalam ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang kepailitan.

Dalam jangka waktu paling lambat 30 hari terhitung sejak tanggal pembubaran Perum,
likuidator wajib :
1. Mendaftarkan pembubaran Perum sesuai dengan peraturan perundang-undangan di
bidang wajib daftar perusahaan
2. Mengumumkan pembubaran Perum dalam 2 (dua) surat kabar harian
3. Memberitahukan kepada semua kreditornya dengan surat tercatat mengenai bubarnya
Perum.

14
DAFTAR PUSTAKA

Undang -undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas


Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara
Peraturan pemerintah Nomor 45 tahun 2005 tentang Pendirian, Pengurusan, Pengawasan,
dan Pembubaran BUMN

15