Anda di halaman 1dari 25

TUGAS

KIMIA ANALITIK

Oleh:

1. Rizka Shabrina K. (H1913007)

2. Tricia Juliani P. (H1913011)

3. Aldila Ratna O. (H1914001)

4. Imroatun Inaayah Ts. (H1914007)


5. Risto Arsowati C. (H1914013)

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015
A. Fourier Tansform Infrared Spectroscopy (FTIR)
Fourier Tansform Infrared Spectroscopy (FTIR) adalah sebuah teknik
yang digunakan untuk mendapatkan spektrum inframerah dari absorbansi,
emisi, fotokonduktivitas atau Raman Scattering dari sampel padat, cair dan
gas. FTIR digunakan untuk mengamati interaksi molekul dengan
menggunakan radiasi elektromagnetik yang berada pada panjang gelombang
0,75-1000μm atau pada bilangan gelombang 13.000-10 cm-1. FTIR dapat
digunakan untuk menganalisa senyawa organik dan anorganik. Selain itu,
FTIR juga dapat digunakan untuk analisa kualitatif meliputi analisa gugus
fungsi (adanya ‘peak’ dari gugus fungsi spesifik) beserta polanya dan analisa
kuantitatif dengan melihat kekuatan absorbsi senyawa pada panjang
Perkembangan spektrofotometer infra merah yang paling modern
adalah FTIR. Dasar pemikiran FTIR adalah deret persamaan gelombang yang
dirumuskan oleh Jean Baptise Fourier yang membuat persamaan matematika
gelombang elektronik:

0 + 1 cos t + sin 1 + 2 cos 2t +b2 sin 2 t


Dimana :
a,b = suatu bilangan
t = waktu
 = frekuensi sudut (radian per detik)
FTIR ini menggunakan suatu monokromator yang berbeda dengan
monokromator pada spektrofotometer IR tipe dispersive. Monokromator yang
digunakan adalah monokromator Michelson interferometer. Pada sistem optik
ini ada 2 cermin yang tegak lurus dan cermin diam. Skema sistem optik ini
seperti gambar dibawah ini.
Gambar 1. Michelson Interferometer
Kelebihan dari FTIR adalah:
1. Respon cepat
2. Sinar mengalami perubahan dahulu baru masuk ke sampel
3. Lebih bagus dari spektrofotometer IR dispersive
4. Lebih sensitif
5. Sinar radiasi infra merah tidak mengganggu atau tidak
terganggu
6. Menggunakan monokromator pyroelectric transducer

Pada dasarnya instrumentasi spektrofotometer infra merah mirip


dengan instrumentasi spektrofotometri UV-Vis. Perbedaan utamanya terletak
pada sumber energi dari sel. Sumber energi pada spektrofotometri bisa berupa
laser. Oleh karena sinar infra merah mempunyai energi yang lebih rendah dari
sinar UV ataupun sinar tampak maka tebal sel yang dipakai pada
spektrofotometer lebih tipis daripada untuk spektrofotometer lainnya

Secara berurutan, komponen utama dari spektrofotometer inframerah


adalah sebagai berikut:

1. Sumber radiasi infra merah


Sumber radiasi berfungsi sebagai sumber radiasi infra merah. Radiasi
infra merah akan dihasilkan dari pemanasan suhu padatan inert secara
elektrik sampai suhu 1500 – 2000 K. Ada tiga macam sumber radiasi yang
biasa digunakan, yaitu
a. Globar Source : tabung silica carbida dengan ukuran 5mm dan
diameter panjang 5cm.
b. Nersis Glower : senyawa-senyawa oksida.
c. Tungsten Filamen lamp : untuk analisis dengan nir-IR
d. Incadeseent wire : merupakan lilitan kawat nikrom
2. Tempat Sampel
Tempat sampel berfungsi untuk tempat sampel yang akan
dianalisa. Cuplikan atau sampel yang akan dianalisis dapat berupa cairan,
padatan atau pun gas. Karena energi vibrasi tidak terlalu besar sampel
dapat diletakkan langsung berhadapan dengan sumber radiasi IR, karena
gelas kuarsa atau mortar yang terbuat dari porselen dapat memberikan
kontaminasi yang menyerap radiasi IR, maka pemakaian alat tersebut
harus dihindari. Preparasi cuplikan harus menggunakan mortar yang
terbuat dari batu agate dan pengempaan dilakukan dengan menggunkan
logam monel.
3. Interferometer
Interferometer berfungsi sebagai pemecah radiasi dari sumber
radiasi dan kemudian menginterfasikannya kembali. Interferometer terdiri
dari 3 bagian yaitu beam splitter, moving mirror, dan fixed mirror.
Gambar 2. Intereferometer
4. Monokromator
Monokromator berfungsi untuk merubah sinar polikromatis
menjadi sinar monokromatis sesuai yang dibutuhkan oleh pengukuran.
Monokromator yang digunakan bisa berupa :
a. Monokromator prisma bunsen
Umumnya menggunakan kristal NaCl, dapat juga digunakan kristal
KBr, CsBr, dan LiF. Untuk daerah IR dekat digunakan prisma dari
bahan kuarsa.
b. Monokromator gratting
Dibuat dari gelas atau plastik yang dilapisi alumunium.
c. Monokromator filter
Biasanya digunakan untuk analisis kuantitatif.
5. Detektor
Detektor berfungsi untuk mengukur dan mendeteksi sinyal radiasi
inframerah berupa interferogram. Detektor spektrofotometer yang
bersifat menggandakan elektron tidak dapat dipakai pada
spektrofotometer IR sebab radiasi IR sangat lemah dan tidak dapat
melepaskan elektron dari katoda yang ada pada sistem detektor. Ada
tiga tipe detektor yang dapat digunakan pada spektrofotometer IR,
yaitu :
a. Thermal Transducer
Terdiri dari dua logam bercabang dimana suhu tergantung pada
potensialnya. Instrumen yang menggunakan detektor ini harus
disimpan pada tempat ber-AC atau bersuhu konstan karena dapat
dipengaruhi oleh suhu sehingga dapat terjadi kesalahan dalam
mendeteksi suatu senyawa. Tetapi responnya lambat, jadi jarang
digunakan.
b. Pyroelectric Transducer
Berupa kristal cair dari triglisin sulfat (TGS) dimana
temperatur dipengaruhi oleh polaritas senyawa. Memiliki respon
yang cepat dalam menganalisis suatu senyawa.
c. Photoconducting Transducer
Terbuat dari bahan semikonduktor seperti timbal sulfida, raksa
telurida, cadmium telurida, indium antimonida. Harus
menggunakan pendingin gas nitrogen sehingga responnya cepat.
6. Amplifier
Amplifier berfungsi untuk mengukur atau mendeteksi sinyal radiasi
inframerah yang lemah. Penguat atau amplifier dalam sistem optik
spektrofotmeter IR sangat diperlukam karena sinyal radiasi IR sangat kecil
atau lemah. Penguat berhubungan erat dengan derau instrumen serta celah
monokromator. Jadi keduanyaharus diselaraskan dengan tujuan
mendapatkan resolusi puncak spektrum yang baik dengan derau maksimal.

7. Recorder
Recorder berfungsi untuk mengubah interferogram menjadi
spektrum inframerah yang bisa digunakan untuk analisis selanjutnya.
8. Read Out
Read Out harus mampu mengamati spektrum IR secara
keseluruhan pada setiap frekuensi dengan seimbang. Rentang bilangan
gelombang 4000cm-1 sampai 650cm-1 dalam keadaan normal harus dapat
teramati dalam selang waktu 10-15 menit. Untuk maksud pengamatan
pendahuluan selang waktu tersebut dapat dipersingkat ataupun
diperlambat untuk mendapatkan hasil resolusi puncak spektrum IR yang
baik.
Prinsip kerja spektroskopi FTIR adalah adanya interaksi energi
dengan materi. Misalkan dalam suatu percobaan berupa molekul senyawa
kompleks yang ditembak dengan energi dari sumber sinar yang akan
menyebabkan molekul tersebut mengalami vibrasi. Sumber sinar yang
digunakan adalah keramik, yang apabila dialiri arus listrik maka keramik ini
dapat memancarkan infrared. Vibrasi dapat terjadi karena energi yang berasal
dari sinar infrared tidak cukup kuat untuk menyebabkan terjadinya atomisasi
ataupun eksitasi elektron pada molekul senyawa yang ditembak dimana
besarnya energi vibrasi tiap atom atau molekul berbeda tergantung pada atom-
atom dan kekuatan ikatan yang menghubungkannya sehingga dihasilkan
frekuaensi yang berbeda pula. FTIR interferogramnya menggunakan
mecrosem dan letak cerminnya (fixed mirror dan moving mirror) paralel.
Spektroskopi inframerah berfokus pada radiasi elektromagnetik pada rentang
frekuensi 400 – 4000 cm-1 di mana cm-1 disebut sebagai wavenumber
(1/wavelength) yakni suatu ukuran unit untuk frekuensi. Daerah panjang
gelombang yang digunakan pada percobaan ini adalah daerah inframerah
pertengahan (4.000 – 200 cm-1 ).
Sistem optik Spektrofotometer FT-IR seperti pada gambar dibawah ini
dilengkapi dengan cermin yang bergerak tegak lurus dan cermin yang diam.
Dengan demikian radiasi infra-merah akan menimbulkan perbedaan jarak
yang ditempuh menuju cermin yang bergerak (M) dan jarak cermin yang diam
(F). Perbedaan jarak tempuh radiasi tersebut adalah 2 yang selanjutnya disebut
sebagai retardasi (δ). Hubungan antara intensitas radiasi IR yang diterima
detektor terhadap retardasi disebut sebagai interferogram. Sedangkan sistim
optik dari Spektrofotometer IR yang didasarkan atas bekerjanya
interferometer disebut sebagai sistim optik Fourier Transform Infra Red.
Pada sistem optik FT-IR digunakan radiasi LASER (Light
Amplification by Stimulated Emmission of Radiation) yang berfungsi sebagai
radiasi yang diinterferensikan dengan radiasi infra merah agar sinyal radiasi
infra-merah yang diterima oleh detektor secara utuh dan lebih baik. Detektor
yang digunakan dalam Spektrofotometer FT-IR adalah TGS (Tetra Glycerine
Sulphate) atau MCT (Mercury Cadmium Telluride). Detektor MCT lebih
banyak digunakan karena memiliki beberapa kelebihan dibandingkan detektor
TGS, yaitu memberikan respon yang lebih baik pada frekwensi modulasi
tinggi, lebih sensitif, lebih cepat, tidak dipengaruhi oleh temperatur, sangat
selektif terhadap energi vibrasi yang diterima dari radiasi infra-merah.

Cara membaca spektra FTIR :

1. Tentukan sumbu X dan sumbu Y dari


spektrum. Sumbu X dari spektrum IR
diberi label sebagai bilangan
gelombang dan jumlahnya berkisar
dari 400 di paling kanan untuk 4.000 di
paling kiri. Sumbu X menyediakan
nomor penyerapan. Sumbu Y diberi
label sebagai transmitansi persen dan
jumlahnya berkisar dari 0 pada bagian
bawah dan 100 pada bagian atas.
2. Tentukan karakteristik puncak dalam
spektrum IR. Semua spektrum IR
mengandung banyak puncak.
Selanjutnya melihat data daerah gugus
fungsi yang diperlukan untuk membaca
spektrum.
3. Tentukan daerah spektrum dimana
puncak karakteristik ada. Spektrum IR dapat dipisahkan menjadi empat
wilayah. Rentang wilayah pertama dari 4.000 ke 2.500. Rentang wilayah
kedua dari 2.500 sampai 2.000. Rentang wilayah ketiga berkisar dari 2.000
sampai 1.500. Rentang wilayah keempat berkisar dari 1.500 ke 400.
4. Tentukan kelompok fungsional diserap di wilayah pertama. Jika spektrum
memiliki karakteristik puncak di kisaran 4.000 hingga 2.500, puncak sesuai
dengan penyerapan yang disebabkan oleh NH, CH dan obligasi OH tunggal.
5. Tentukan kelompok fungsional yang diserap di wilayah kedua. Jika
spektrum memiliki karakteristik puncak di kisaran 2.500 hingga 2.000,
puncak sesuai dengan penyerapan yang disebabkan oleh ikatan rangkap tiga.
6. Tentukan kelompok fungsional diserap di wilayah ketiga. Jika spektrum
memiliki karakteristik puncak di kisaran 2.000 sampai 1.500, puncak sesuai
dengan penyerapan yang disebabkan oleh ikatan rangkap seperti C = O, C =
N dan C = C.
7. Bandingkan puncak di wilayah keempat ke puncak di wilayah keempat
spektrum IR lain. Yang keempat dikenal sebagai daerah sidik jari dari
spektrum IR dan mengandung sejumlah besar puncak serapan yang account
untuk berbagai macam ikatan tunggal. Jika semua puncak dalam spektrum
IR, termasuk yang di wilayah keempat, adalah identik dengan puncak
spektrum lain, maka Anda dapat yakin bahwa dua senyawa adalah identik

Secara keseluruhan, analisis menggunakan Spektrofotometer FTIR


memiliki dua kelebihan utama dibandingkan metoda konvensional lainnya,
yaitu Dapat digunakan pada semua frekwensi dari sumber cahaya secara
simultan sehingga analisis dapat dilakukan lebih cepat daripada
menggunakan cara sekuensial atau scanning. Sensitifitas dari metoda
Spektrofotometri FTIR lebih besar daripada cara dispersi, sebab radiasi yang
masuk ke sistim detektor lebih banyak karena tanpa harus melalui celah
(slitless).

Pada spektro IR meskipun bisa digunakan untuk analisa kuantitatif,


namun biasanya lebih kepada analisa kualitatif. Umumnya spektro IR
digunakan untuk mengidentifikasi gugus fungsi pada suatu senyawa,
terutama senyawa organik. Setiap serapan pada panjang gelombang tertentu
menggambarkan adanya suatu gugus fungsi spesifik. Hasil analisa biasanya
berupa signal kromatogram hubungan intensitas IR terhadap panjang
gelombang. Untuk identifikasi, signal sample akan dibandingkan dengan
signal standard. Perlu juga diketahui bahwa sample untuk metode ini harus
dalam bentuk murni. Karena bila tidak, gangguan dari gugus fungsi
kontaminan akan mengganggu signal kurva yang diperoleh.
Terdapat juga satu jenis spektrofotometri IR lainnya yang berdasar pada
penyerapan sinar IR pendek. Spektrofotometri ini di sebut FTIR Aplikasi
FTIR banyak digunakan pada industri pakan dan pangan guna analisa bahan
baku yang bersifat rutin dan cepat.
B. Nuclear Magnetic Resonance (NMR)
Nuclear Magnetic Resonance (NMR) adalah salah satu metode analisis
yang paling mudah digunakan pada kimia modern. NMR digunakan untuk
menentukan struktur dari komponen alami dan sintetik yang baru, kemurnian
dari komponen, dan arah reaksi kimia sebagaimana hubungan komponen
dalam larutan yang dapat mengalami reaksi kimia. Meskipun banyak jenis
nuclei yang berbeda akan menghasilkan spektrum, nuclei hidrogen (H)
secara histori adalah salah satu yang paling sering diamati. Spektrokopi
NMR khususnya digunakan pada studi molekul organik karena biasanya
membentuk atom hidrogen dengan jumlah yang sangat besar. Pada spektrum
hidrogen NMR menghadirkan beberapa resonansi yang menjelaskan pertama
bahwa molekul yang dipelajari mengandung hidrogen. Kedua, jumlah pita
dalam spektrum menunjukkan bagaimana beberapa posisi yang berbeda pada
molekul dimana hidrogen melekat/menempel. Frekuensi dari beberapa
resonansi utama pada spektrum NMR menunjukkan perubahan kimia.
Block dan Purcell menemukan cara-cara untuk mengetahui sejumlah
kecil dari tenaga yang diserap atau dipancarkan, seperti kalau inti-inti loncat
dari tenaga satu ke tenaga lainnya. Dari penemuan tersebut maka sejak tahun
1950 resonansi magnetik inti (NMR) mulai digunakan untuk menentukan
rumus struktur senyawa. Ada dua macam NMR yang dikenal, diantaranya
NMR proton dan NMR karbon.
NMR (Nuclear Magnetic Resonance), spektroskopi NMR
berhubungan dengan sifat magnet dari inti atom. Teknik spektroskopi adalah
salah satu teknik analisis kimia-fisika yang mengamati tentang interaksi atom
atau molekul dengan radiasi elektromagnetik.Spektroskopi Resonansi
Magnetik Inti (NMR) adalah suatu alat yang paling canggih yang tersedia
untuk menentukan struktur senyawa organik. Teknik ini bergantung pada
kemampuan inti atom untuk berperilaku seperti sebuah magnet kecil dan
menyesuaikan diri dengan medan magnet eksternal. Ketika diradiasi dengan
frekuensi gelombang radio, inti dalam molekul dapat berubah sejajar dengan
medan magnet.
Spektrometri NMR pada dasarnya merupakan spektrometri absorbsi,
sebagaimana spektrometri infra merah maupun ultraviolet. Pada kondisi yang
sesuai, suatu sampel dapat mengabsorpsi radiasi elektromagnetik daerah
frekuensi radio, pada frekuensi yang tergantung dari sifat-sifat sampel. Suatu
plot dari frekuensi puncak-puncak absorbsi versus intensitas puncak
memberikan suatu spektrum NMR. Spektroskopi NMR (Nuclear Magnetic
Resonance) didasarkan pada medan magnet yang berasal dari spin inti atom
yang bermuatan listrik.
Gambar 3. Instrumentasi dan Teknik NMR

Cara kerja dari masing-masing komponen peralatannya:


1. Magnit
Akurasi dan kualitas suatu alat NMR yang tergantung pada kekuatan
magnitnya. Resolusi akan bertambah dengan kenaikkan kekuatan
medannnya, bila medan magnitnya homogen elektromagnit dan kumparan
superkonduktor (selenoids). Magnit permanen mempunyai kuat medan
7046-14002 G, ini sesuai dengan frekuensi oskilator antara 30-60 MHz.
Termostat yang baik diperlukan karena magnit bersifat peka terhadap
temperatur. Elektromagnit memerlukan sistem pendingin, elektromagnit
yang banyak di pasaran mempunyai frekuensi 60, 90 dan 100 MHz untuk
proton.
NMR bersolusi tinggi dan bermagnit superkonduktor dengan
frekuensi proton beresolusi tinggi dan bermagnit superkonduktor dengan
frekuensi proton 470 MHz. Pengaruh fluktuasi medan dapat diatasi dengan
sistem pengunci frekuensi, dapat berupa tipe pengunci eksternal atau
internal. Pada tipe eksternal wadah senyawa pembanding dengan senyawa
sampel berada pada tempat terpisah, sedang pada tipe internal senyawa
pembanding larut bersama-sama sampel. Senyawa pembanding biasanya
tetrametilsilan (TMS).
2. Generator Medan magnet penyapu
Suatu pasangan kumparan terletak sejajar terhadap permukaan magnet,
digunakan untuk mengubah medan magnit pada suatu range yang sempit.
Dengan memvariasikan arus searah melalui kumparan ini, medan efektif
dapat diubah-ubah dengan perbedaan sekitar 10-3 gauss. Perubahan medan
ini disinkronisasikan secara linier dengan perubahan waktu. Untuk alat 60
MHz (proton), range sapuannya adalah 235 10-3 gauss. Untuk F19, C13,
diperlukan sapuan frekuensi sebesar 10 KHz.
3. Sumber frekuensi radio
Sinyal frekuensi oskilasi radio (transmiter) disalurkan pada sepasang
kumparan yang possinya 90º terhadap jalar dan magnit. Suatu oskilator
yang tetap sebesar 60, 90 atau 100 MHz digunakan dalam NMR beresolusi
tinggi.
4. Detektor sinyal
Sinyal frekuensi radio yang dihasilkan oleh inti yang beresolusi
dideteksi dengan kumparan yang mengitari sampel dan tegak lurus
terhadap sumber. Sinyal listrik yang dihasilkan lemah dan biasanya
dikuatkan dulu sebelum dicatat.

5. Rekorder
Pencatat sinyal NMR disinkronisasikan dengan sapuan medan,
rekorder mengendalikan laju sapuan spektrum. Luas puncak dapat
digunakan untuk menentukan jumlah relatif inti yang mengabsorpsi.
6. Tempat sampel dan probe
Tempat sampel merupakan tabung gelas berdiameter 5mm dan dapat
diisi cairan sampai 0,4 ml. Probe sampel terdiri atas tempat kedudukan
sampel, sumber frekuensi penyapu dan kumparan detector dengan sel
pembanding. Detector dan kumparan penerima diorientasikan pada 90º.
Probe sampel menggelilingi tabung sampel pada ratusan rpm dengan
sumbu longitudinal.
Dalam menginterpretasi spektrum NMR, ada empat langkah yang perlu
diperhatikan, yaitu :
1. Jumlah sinyal, yang menerangkan kepada kita ada berapa macam perbedaan
dari
proton-proton yang terdapat dalam molekul.
2. Kedudukan sinyal, yang menerangkan kepada kita sesuatu tentang
lingkungan
elektronik dari setiap macam proton.
3. Intensitas sinyal, yang menerangkan kepada kita berapa banyak proton dari
setiap
macam proton yang ada.
4. Pemecahan (splitting) dari sebuah sinyal menjadi beberapa puncak, yang
menerangkan kepada kita tenang lingkungan dari sebuah proton dengan
lainnya yaitu proton-proton yang berdekatan.Sebagai contoh dari uraian
tersebut, maka perhatikan spektra NMR dari toluene; p-exilen, dan mesitelen.

Prinsip Kerja

Gambar 4. Muatan inti yang menghasilkan Medan Magnet


Gambar 4. merupakan ilustrasi dari sebuah inti yang mempunyai
nomor massa dan nomor atom yang ganjil. dimana setiap inti yang bernomor
massa dan atom ganjil pastilah memiliki Spin Inti. Inti yang mempunyai Spin
akan menghasilkan medan magnet. inti ini juga diilustrasikan sebagai 'bar
magnet'.
Gambar 5. Atom bermuatan sama dengan 'bar magnet'
Ilustrasi gambar 5. merupakan spin proton yang diberi medan magnet
luar, maka dia akan berperilaku seperti 'bar magnet'. di gambar sebelah kanan
merupakan keadaan paling tidak stabil karena kutub yang sama berdekatan
dan butuh energy yang besar untuk mempertahankan kondisi tersebut.

Gambar 6. Energi Level Spin Inti


Jika inti atom diberi medan magnet atau energi dari luar, maka energi
tersebut dapat diserap inti yang nantinya dapat merubah arah dari spin inti.
Jika setiap proton menyerap energi dari medan magnet yang diberikan, maka
tidak banyak informasi yang bisa didapat. Namun kenyataannya energi dari
luar tersebut tidak dapat terabsorpsi sempurna, karena setiap proton pastilah
dikelilingi oleh elektron. elektron yang mengelilingi proton akan melindungi
dan berlawanan dari medan magnet luar.
Gambar 7. Besar Medan Magnet terhadap spin inti
Gambar 7. menjelaskan bahwasannya untuk dapat memutar spin inti,
maka dibutuhkan medan dari luar. Pada bagian sebelah kiri menjelaskan jika
proton tidak dikelilingi oleh elektron, sehingga medan dari luar terabsorpsi
dan dapat memutar arah dari spin inti dan energi level pun akan naik.
sedangkan yang tengah adalah ketika ada elektron yang berputar menutupi
proton, sehingga medan dari luar tidak cukup mampu untuk memutar arah
spinnya. sehingga butuh energi medan yang lebih besar lagi untuk memutar
arah spin walaupun proton dikelilingi oleh elektron, seperti digambar paling
kanan.
Aplikasi NMR pada bidang pangan
NMR dapat digunakan dalam analisis kualitatif. Misalkan karakterisasi
senyawa organik. Nilai prgeseran kimia, spin splitting dan konstanta coupling
merupakan nilai-nilai yang dapat saling diperbandingkan. Nilai-nilai tersebut
member juga petunjuk mengenai perbedaan lingkungan suatu atom hidrogen di
dalam molekul. Studi struktur halus yang berupa puncak-puncak berganda,
memberikan petunjuk mengenai berbagai tipe H yang saling berdekatan satu
sama lainnya.
Umumnya untuk karakterisasi suatu senyawa, NMR digunakan bersama
sama dengan IR, UV, analisis elementer dan spektroskopi massa. Di dalam
alkohol, pertukaran proton pada gugus OH sedemikian cepat sehingga proton
ini tidak melakukan kopel secara spin-spin dengan proton terdekatnya.
Akibatnya hanya tampak satu resonansi pada δ= 2,58 ppm. Proton-proton
metilen mengadakan coupling dengan proton-proton metil, memberikan triplet
pada δ= 1,22 ppm, proton hidroksil tidak menghasilkan spliting tetapi proton
metil menghasilkan spliting pada δ= 3,70 ppm. Karena OH lebih elektronegif
daripada karbon, kerapatan elektron bergeser dari gugus CHat 2, sehingga
akibatnya terjadi efek deshielding diamagnetik (δ1,20 sampai 1,35 ppm).
Demikian juga proton pada asetil asetat yang berdekatan dengan gugusan
karbonil bersifat kurang shielding yang akan memberikan resonansi pada δ=
2,03, sedangkan proton metilen muncul sebagai kuartet pabda δ= 4,12 ppm.
Kesebandingan antara luas puncak sinyal dengan banyaknya inti dapat
dimanfaatkan dalam analisis kuantitatif. Bila tidak terdapat tumpang tindih
antara sinyal, luas puncak dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi
suatu senyawa, bila luas sinyal tiap proton diketahui. Luas puncak sinyal dapat
distandardisasi dengan standar dalam. Untuk tujuan ini, senyawa senyawa
turunan silikon organik paling tepat digunakan. Masalah utama dalam analisis
kuantitatif adalah efek saturasi. Efek ini dapat diatasi dengan pengendalian
waktu relaksasi; sumber dan laju scanning. Dalam analisis kuantitatif, NMR
biasanya digunakan untuk menentukan air dalam produk makanan, bahan baku
kertas dan materi-materi hasil pertania. NMR dapat juga digunakan untuk
analisis elemental.
Kadangkala interpretasi spektrum NMR memerlukan reagen penggeser,
shiff reagent. Reagen ini dapat menguraikan puncak absorbsi dan
memisahmkan puncak-puncak yang tumpang-tindih, sehingga memudahkan
interpretasi. Reagen penggeser ini meliputi kompleks dari Eu atau Pr, missal
kompleks dipivalometana Pr(PPM)3. Ion Pr dalam kompleks netral ini mampu
memperbesar koordinasinya melalui interaksi dengan pasangan elektron
sendiri. Pelarut yang digunakan biasanya pelarut non polar seperti CCl 4,
CDCl3, C6D6,Eu(DPM)3 memberikan pergeseran pada medan yang lebih lemah.
NMR dapat digunakan dalam analisis kualitatif dan kuantitatif. Dalam
analisis kuantitatif, NMR memiliki kelebihan, yaitu tidak diperlukannya zat
murni. Tetapi yang diperlukan adalah pembanding, yaitu standard dalam yang
murni. Standar dalam ini dapat setiap senyawa yang mempunyai spektrum
karakteristik yang tidak tumpangasuh dalam sampel. Dalam analisis kuantitatif,
NMR biasanya digunakan untuk menentukan air dalam produk makanan,
bahan baku kertas dan materi-materi hasil pertania. NMR dapat juga digunakan
untuk analisis elemental.

C. Spektrofotometeri Serapan Atom (SSA)


Spektrometri merupakan suatu metode analisis kuantitatif yang
pengukurannya berdasarkan banyaknya radiasi yang dihasilkan atau yang
diserap oleh spesi atom atau molekul analit. Salah satu bagian dari
spektrometri ialah Spektrometri Serapan Atom (SSA), merupakan metode
analisis unsure secara kuantitatif yang pengukurannya berdasarkan
penyerapan cahaya dengan panjang gelombang tertentu oleh atom logam
dalam keadaan bebas (Skoog et. al., 2000).
Sejarah SSA atau biasa juga disebut AAS berkaitan erat dengan
observasi sinar matahari. Pada tahun 1802 Wollaston menemukan garis hitam
pada spektrum cahaya matahari yang kemudian diselidiki lebih lanjut oleh
Fraunhofer pada tahun 1820. Brewster mengemukakan pandangan bahwa
garis Fraunhofer ini diakibatkan oleh proses absorpsi pada atmoser matahari.
Prinsip absorpsi ini kemudian mendasari Kirchhoff dan Bunsen untuk
melakukan penelitian yang sistematis mengenai spektrum dari logam alkali
dan alkali tanah. Kemudian Planck mengemukakan hukum kuantum dari
absorpsi dan emisi suatu cahaya. Menurutnya, suatu atom hanya akan
menyerap cahaya dengan panjang gelombang tertentu (frekuensi), atau
dengan kata lain ia hanya akan mengambil dan melepas suatu jumlah energi
tertentu, (ε = hv = hc/λ). Kelahiran SSA sendiri pada tahun 1955, ketika
publikasi yang ditulis oleh Walsh dan Alkemade & Milatz muncul. Dalam
publikasi ini SSA direkomendasikan sebagai metode analisis yang dapat
diaplikasikan secara umum (Weltz, 1976 dalam Anshori, 2005).
Apabila cahaya dengan panjang gelombang tertentu dilewatkan pada
suatu sel yang mengandung atom-atom bebas yang bersangkutan maka
sebagian cahaya tersebut akan diserap dan intensitas penyerapan akan
berbanding lurus dengan banyaknya atom bebas logam yang berada dalam
sel. Hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi diturunkan dari:
1. Hukum Lambert : Bila suatu sumber sinar monokromatik melewati
medium transparan, maka intensitas sinar yang diteruskan berkurang
dengan bertambahnya ketebalan medium yang mengabsorpsi.
2. Hukum Beer : Intensitas sinar yang diteruskan berkurang secara
eksponensial dengan bertambahnya konsentrasi spesi yang menyerap
sinar tersebut.
Dari kedua hukum tersebut diperoleh suatu persamaan:
It = Io.e-(εbc), atau
A = - Log It/Io = εbc
Dimana : Io = Intensitas sumber sinar

It = Intensitas sinar yang diteruskan


ε = Absortivitas molar
b = Panjang medium
c = Konsentrasi atom-atom yang menyerap sinar
A = Absorbans.
Dari persamaan di atas, dapat disimpulkan bahwa absorbansi cahaya
berbanding lurus dengan konsentrasi atom (Day & Underwood, 1989 dalam
Anshori, 2005). Pada alat SSA terdapat dua bagian utama yaitu suatu sel atom
yang menghasilkan atomatom gas bebas dalam keadaaan dasarnya dan suatu
sistem optik untuk pengukuran sinyal. Suatu skema umum dari alat SSA
adalah sebagai berikut (Anshori, 2005):
Dalam metode SSA, sebagaimana dalam metode spektrometri atomik yang
lain, contoh harus diubah ke dalam bentuk uap atom. Proses pengubahan ini dikenal
dengan istilah atomisasi, pada proses ini contoh diuapkan dan didekomposisi untuk
membentuk atom dalam bentuk uap. Secara umum pembentukan atom bebas dalam
keadaan gas melalui tahapan-tahapan sebagai berikut (Anshori, 2005) :
1. Pengisatan pelarut, pada tahap ini pelarut akan teruapkan dan meninggalkan
residu padat.
2. Penguapan zat padat, zat padat ini terdisosiasi menjadi atom-atom
penyusunnya yang mulamula akan berada dalam keadaan dasar.
3. Beberapa atom akan mengalami eksitasi ke tingkatan energi yang lebih tinggi
dan akan mencapai kondisi dimana atom-atom tersebut mampu memancarkan
energi.
Dalam spektroskopi atomik, faktor-faktor yang dapat menyebabkan pelebaran
garis spektra merupakan suatu problem dalam sistem analisis metode ini. Dua hal
yang paling sering menimbulkan problem ini adalah pelebaran efek Doppler
(Doppler Boardening) dan pelebaran tekanan (Pressure Boardening) (Sari, 2013).

 Pelebaran Efek Doppler (Doppler Boardening)


Selama proses atomisasi atau ionisasi, suatu spesies yang sedang
diukur dapat bergerak menjauhi atau melalui detektor. Hal ini dapat
menimbulkan loncatan doppler pada spektra garis yang dihasilkan, sehingga
garis spektra yang seharusnya berkisar antara 1-15 nm menjadi kira-kira 100
kali lebih lebar. Tidak banyak hal yang dapat dilakukan untuk menghindari
efek doppler ini kecuali hanya mengenali mengapa hal tersebut terjadi.

 Pelebaran Tekanan (Pressure Boardening)


Efek ini dapat timbul bila suatu analit bertabrakan dengan spesies lain
karena perubahan energy. Efek ini semakin besar pengaruhnya sejalan dengan
kenaikan suhu. Efek pelebaran tekanan ini dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar.8 Hubungan antara energi kinetika dengan jumlah atom yang terbentuk pada

suhu yang berbeda


Suatu alat absorpsi atom terjadi dari komponen-komponen dasar yang sama
seperti spetrofotometer biasa, jadi mengandung : sumber radiasi, monokromator,
tempat cuplikan (dalam hal ini nyala), detector dan indikator penguatan (amplifier).
Spektrofotometer absorpsi atom ada yang single-beam dan ada pula yang double-
beam (Sari, 2013).
Gambar.3 Bagan Spektrometer Serapan Atom

Gambar.4 Skema Spektro Serapan Atom (Sari, 2013)


Keterangan
1. Sumber radiasi
2. Burner
3. Monokromator
4. Detektor
5. Amplifier
6. Display (Readout)
Prinsip kerja metode AAS berprinsip pada absorbsi cahaya oleh
atom. Atom-atom menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang
tertentu, tergantung pada sifat unsurnya. Dengan absorpsi energi, berarti
memperoleh lebih banyak energi, suatu atom pada keadaan dasar dinaikan
tingkat energinya ketingkat eksitasi. Keberhasilan analisis ini tergantung
pada proses eksitasi dan memperoleh garis resonansi yang tepat.
Atomisasi dapat dilakukan dengan baik dengan nyala maupun
dengan tungku. Untuk mengubah unsur metalik menjadi uap atau hasil
disosiasi diperlukan energi panas. Temperatur harus benar-benar terkendali
dengan sangat hati-hati agar proses atomisasinya sempurna. Biasanya
temperatur dinaikkan secara bertahap, untuk menguapkan dan sekaligus
mendisosiasikan senyawa yang dianalisis. Bila ditinjau dari sumber
radiasi, haruslah bersifat sumber yang kontinyu. Di samping itu sistem
dengan penguraian optis yang sempurna diperlukan untuk memperoleh
sumber sinar dengan garis absorpsi yang semonokromator mungkin.
Seperangkat sumber yang dapat memberikan garis emisi yang
tajam dari suatu unsur yang spesifik tertentu dikenal sebagai lampu pijar
hallow cathode. Dengan pemberiaan tegangan pada arus tertentu, logam
mulai memijar, dan atom-atom logam katodenya akan teruapkan dengan
pemercikkan. Atom akan tereksitasi kemudian mengemisikan radiasi pada
panjang gelombang tertentu.

Aplikasi pada bidang pangan misalnya pada penentuan elemen mineral


kalsium dan besi (Ca dan Fe) pada rumput laut menurut Slamet dkk.,
(1990) dengan urutan kerja sebagai berikut: rumput laut kering
ditambah dengan 10 ml asam nitrat pekat dan dibiarkan selama
semalam. Dipanaskan hingga volume cairannya menjadi 3 ml.

23
Larutan ditambah dengan 2 ml larutan asam perklorat pekat, dan
dipanaskan hingga larutan menjadi putih jernih, kemudian diencerkan
dengan akuades sampai 100 ml. Larutan yang diperoleh sebagai
larutan induk. Larutan siap diukur kadar mineralnya (Ca dan Fe) dengan
AAS. Elemen mineral fosfor (P) dianalisis dengan menggunakan UV-
Vis spektrofotometer (Slamet dkk., 1990). Larutan induk sebanyak
1 ml diencerkan menjadi 25 ml. Sebanyak 5 ml larutan hasil
pengenceran ditambah dengan 2 ml reagen ammonium molibdat dan
0,5 ml aminonafthol sulfonat, kemudian digojog dengan vortex.
Larutan siap untuk dianalisis kadar fosfornya dengan
spektrofotometer pada panjang gelombang 410 nm. Membuat
standard fosfor dengan konsentrasi 0,004; 0,008; 0,016; 0,02 mg/ml
( 4; 8; 12; 16; 20 ppm).

DAFTAR PUSTAKA

Moraes, Luciene Gonçalves Palmeira. 2008. Infrared spectroscopy: a tool for


determination of the degree of conversion in dental composites. Journal of
Applied Science. Vol. 16 No. 2
Budi, Esmar. 2011. Kaidah Difraksi Sinar X dalam Analisis Struktur Kristal KBr. Vol.
XI No. 1. Jurnal Fisika dan Aplikasinya. Jurusan Fisika. Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan lam. Universitas Negeri Jakarta.
Khopkar, S.M., 2003, Konsep Dasar Kimia Analitik, 296-311, UI-Press, Jakarta.
Sastrohamidjojo, H., 1994, Spektroskopi Resonansi Magnetik Inti (Nuclear
Magnetik Resonase, NMR), Liberti, Yogyakarta.

24
Herowati rina. 2005. Spektroskopi H-NMR. Diakses dari:
http://rinaherowati.wordpress.com.

25