Anda di halaman 1dari 12

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Pengantar

Penelitian ini telah dilaksanakan di Ruang Rawat Inap

RSUD Syekh Yusuf Kab.Gowa pada tanggal 25 Mei– 16 juni

2018. Hasil penelitian ini diperoleh dengan menggunakan

lembar kuisoner mengetahui pengetahuan dengan sikap

perawat yang diisi langsung oleh responden.

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini

adalah desain penelitian analitik dengan pendekatan cross

sectional yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh

pengetahuan perawat terhadap praktek kolaborasi perawat

dengan dokter di ruang rawat inap RSUD Syekh Yusuf

Kab.Gowa dengan jumlah responden sebanyak 50 responden.

Sampel dalam penelitian ini adalah perawat yang bekerja di

ruang rawat inap RSUD Syekh Yusuf Kab.Gowa dengan kriteria

yang telah ditetapkan sebelumnya. Teknik pengambilan sampel

Assidental Sampel. Setelah melalukan penelitian, data

kemudian diolah dengan menggunakan komputer program

SPSS versi 16.00 dengan uji statistik Chi-Square dengan tingkat

kemaknaan 0.05%.

52
53

2. Gambaran Lokasi Penelitian

Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf

Sungguminasa Kabupaten Gowa terletak di Kecamatan Somba

Opu,tepatnya di kelurahan Kalongtalla. Didirikan pada tahun

1982 dan mulai beroperasi pada tahun 1983 yang berada diatas

tanah dengan luas 2,45 Ha. RSUD Syekh Yusuf terletak di

ibukota kabupaten ± 500 m ketimur raya yang menghubungi

kota-kota yang berada di Sulawesi Selatan, serta ± 10 km dari

arah timur kota Makassar. Tepatnya dijalan Dr.Wahidin

Sudirohusodo No.48.

Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Sungguminasa

Kabupaten Gowa memiliki batas wilayah meliputi :

Sebelah Barat : Jalan Kamboja

Sebelah Utara : Jalan Dr.Wahidin Sudirohusodo

Sebelah Selatan : Jalan Matahari

Sebelah Timur : SD Inpres Batangkaluku

a. Visi

Rumah sakit unggulan dan terdepan sulawesi selatan

b. Misi

1) Menjadi pusat rujukan di sulawesi selatan bagian

selatan.

2) Terpenuhnya kepuasan pelanggan dengan pelayanan

primer.
54

c. Tujuan

1) Memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu,cepat

akurat dan aman bereorientasi pada kepuasan.

2) Meningkatkan kualitas,kuantitas dan kompetensi serta

profesionalisme SDM.

3) Menyediakan prasarana ut`ama dan penunjang yang

aman dan mutakhir sesuai dengan perkembangan

IPTEK

d. Motto

“sipakalabbiri”

Sarana dan prasarana yang tersedia yaitu terdapat

poliklinik antara lain poliklinik mata, gigi, penyakit dalam,

jiwa,kulit, dan kelamin,anak THT, Kamar Bedah (OK),

radiologi, instalasi rawat darurat ,ICU,gedung obat,instalasi

gizi, instalasi kamar mayat, musholla, gardu incinerator,

gedung rehabilitas narkoba dan gedung londry. Sedangkan

gedung perawatan terdiri atas:

Perawatan I : Perawatan Interna/Melati

Perawatan II : Perawatan Anak/Asoka

Perawatan III : Kebidanan/mawar

Perawatan IV : Bedah/Bougenvil

Perawatan V : Perawatan penyakit menular

Perawatan VII : Perawatan Bedah/tulip


55

3. Karakteristik Responden

a. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kelompok

Umur

Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan
Karakteristik Kelompok Umur Di Ruang Rawat Inap
RSUD Syekh Yusuf Kab.Gowa, Mei 2018

Umur Frekuensi Presentase (%)

23-29 11 19.0
30-36 21 36.2
37-43 10 17.2
>43 16 27.6

Total 58 100.0

Sumber : Data Primer

Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan di ruang

perawatan I,II,V dan VII RSUD Syekh Yusuf Kab. Gowa

pada bulan Mei 2018 diperoleh distribusi frekuensi responde

n menurut umur terbanyak dialami pada rentang umur 30-36

yaitu 21responden (36.2 %). Masing –masing untuk rentang

umur > 43 yaitu 16 responden ( 27.6 %), untuk rentang umur

23-29 yaitu 11 responden (19.0 %) dan untuk frekuensi

responden menurut umur paling sedikit dialami pada rentang

umur 37-43 tahun yaitu 10 responden (17.2%).


56

b. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan
Karakteristik Jenis Kelamin Di Ruang Rawat Inap RSUD
Syekh Yusuf Kab.Gowa, Mei 2018

Jenis Kelamin Frekuensi Presentase(%)

Perempuan 38 65.5
Laki-laki 20 34.5

Total 58 100.0

Sumber : Data Primer

Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan di ruang

perawatan I,II,V dan VII RSUD Syekh Yusuf Kab. Gowa

pada bulan Mei 2018 diperoleh distribusi frekuensi jenis

kelamin responden paling banyak dari responden

perempuan yaitu 38 responden (65.5 %) sedangkan

responden laki-laki yaitu 20 responden (34.5 %).


57

4. Karakteristik variabel yang diteliti

a. Analisa Univariat

1). Pendidikan Terakhir

Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan
Karakteristik P.Terakhir Di Ruang Rawat Inap RSUD
Syekh Yusuf Kab.Gowa, Mei 2018

P.Terakhir Frekuensi Presentase(%)

Diploma 24 41,4
Sarjana 9 15.5
Ners 24 41.4
S2 1 1.7

Total 58 100.0

Sumber : Data Primer

Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan diruang

perawatan I,II,V dan VII RSUD Syekh Yusuf Kab. Gowa

pada bulan Mei 2018 diperoleh distribusi frekuensi

Pendidikan Terakhir responden paling banyak dari

responden Diploma 24 (41.4%) dan Ners sebanyak 24

(41.4%) responden, kemudian reponden S1 sebanyak 9

(15.5%) responden, sedangkan pendidikan terakhir

responden terkecil adalah S2 yaitu dengan jumlah 1 (1.7%)

responden.
58

3). Pengetahuan

Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan
Pengetahuan Indikator Praktek Kolaborasi Di Ruang
Rawat Inap RSUD Syekh Yusuf Kab.Gowa, Mei 2018

Pengetahuan Frekuensi Presentase(%)

Baik 24 41.4
Kurang 34 58.6

Total 58 100.0

Sumber : Data Primer

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukan bahwa

dari 58 responden yang diteliti, terdapat 24 (41.4 %)

mempunyai pengetahuan baik dan 34 (58.6%) responden

yang mempunyai pengetahuan kurang

4). Kolaborasi Perawat dengan Dokter

Tabel 5.6
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan
Kolaborasi Perawat dengan Dokter Di Ruang Rawat Inap
RSUD Syekh Yusuf Kab.Gowa, Mei 2018

Kolaborasi Frekuensi Presentase(%)

Baik 29 50.0
Kurang 29 50.0

Total 58 100.0

Sumber : Data Primer

Hasil penelitian yang diperoleh data yang menunjukan

bahwa dari 58 responden yang diteliti, terdapat 29 (50.0%)


59

Responden Melaksanakan Kolaborasi dengan baik dan

terdapat 29 (50.0 %) Kurang baik Melaksanakan Kolaborasi.

b. Analisa Bivariat

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sebanyak 23 (95.8%)

responden yang memiliki pengetahuan baik dan pelaksanaan

baik. dan sebanyak 1 (4.2%) responden yang memiliki

pengetahuan baik tetapi pelaksanaan yang kurang.. Data lain

menunjukan bahwa sebanyak 6 (17.6%) responden yang

memiliki pengetahuan kurang tetapi pelaksanaan baik.

sedangkan responden yang memiliki pengetahuan kurang dan

juga pelaksanaan kurang sebanyak 28 (82.4 %) responden. Hal

ini dapat dilihat dengan jelas pada tabel berikut :

Tabel 5.9
Analisis Responden Berdasarkan Pengetahuan dengan
Pelaksanaan Kolaborasi Perawat dengan Dokter Di
Ruang Rawat Inap RSUD Syekh Yusuf Kab.Gowa,
Mei 2018
Kolaborasi Perawat dan Dokter Hasil
Pengetahuan Baik Kurang Jumlah ρ
N % N % N %
Baik 23 39.7 1 1.7 24 41.4 0.000
Kurang 6 10.3 28 48.3 34 58.6
Total 29 50.0 29 50.0 58 100

hasil uji statistic Chi-Square dengan Continuity Correction

diperoleh nilai X2 Hitung= 31.346 > nilai X2 Tabel= 3.841, berarti Ho

ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa


60

ada pengaruh pengetahuan perawat terhadap indikator praktek

kolaborasi perawat dengan dokter di ruang rawat inap RSUD

Syekh Yusuf Kabupaten Gowa.

B. Pembahasan

Berdasarkan penelitian peneliti terhadap 58 responden, hasil

penelitian mengatakan bahwa pengetahuan baik dan kolaborasi

yang baik dengan dokter sebanyak 23 (95.8%) responden.Menurut

asumsi peneliti bahwa perawat yang memiliki pengetahuan yang

baik dalam pelaksanaan kolaborasi dipengaruhi oleh beberapa

faktor yaitu. Tingkat pendidikan dan pengalaman kerja. Tingkat

pendidikan perawat merupakan hal yang penting terhadap

pengetahuan perawat dalam melaksanakan kolaborasi dengan

dokter semakin tinggi pendidikan seseorang semakin baik pula

pengetahuan dan tindakan (skill) yang dimilikinya. Pengalaman

perawat juga menujang pengetahuan dan tindakan (skill) perawat

terhadap pelaksanaan kolaborasi dengan tim medis lainya ,

khususnya dengan dokter. Hasil tabulasi silang juga menunjukan

bahwa semakin baik pengetahuan semakin baik pula pelaksanaan

kolaborasi perawat dengan dokter.

ini sejalan dengan teori dari Notoatmodjo (2013)

Pengetahuan itu sendiri banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor,

antara lain: adalah pendidikan. Jadi pengetahuan sangat erat

hubungan dengan pendidikan, di mana diharapkan bahwa dengan


61

pendidikan yang tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas

pula pengetahuannya dan semakin mudah orang tersebut

menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan

yang dimiliki,sedangkan pendidikan yang kurang akan menghambat

perkembangan seseorang terhadap nilai-nilai baru yang

diperkenalkan.

Diperoleh dari hasil penelitian ini yakni sebanyak 1 (4.2 %)

responden yang menunjukan pengetahuan baik namum

pelaksanaan kolaborasi kurang. Menurut asumsi peneliti bahwa

pengetahuan perawat tentang kolaborasi yang baik dan

pelaksanaan kolaborasi kurang dapat dipengaruhi oleh beberapa

faktor yaitu tingkat pendidikan, status kepegawaian dan

pengalaman. Perawat yang tingkat pendidikannya tinggi

mempunyai pengetahuan yang baik tentang kolaborasi tetapi

pengaplikasiannya yang kurang, walaupun seseorang tahu tentang

kolaborasi namun untuk mengaplikasinnya bisa saja kurang, ini

juga dipengaruhi oleh pengalaman kerja yang dimana seseorang

mempunyai pengalaman yang kurang sangat berpengaruh

terhadap kolaborasi yang akan dilakukannya bersama dokter .

meski memiliki pengetahuan yang baik, namun tentunya masih ada

perawat yang mengabaikan untuk melaksanakan kolaborasi

dengan dokter .
62

Hal ini sesuai dengan dikemukakan oleh Notoatmodjo (2007)

yang mengatakan bahwa meskipun pengetahuan merupakan dasar

bagi individu untuk berprilaku atau melakukan tindakan, namun

semuanya tergantung dari bagaiman seseorang mengaplikasikan

pengetahuan yang dimilikinya.

Selain itu, data yang diperoleh dari hasil penelitian ini

terdapat 58 responden yang memiliki pengetauan yang kurang dan

pelaksanaan kolaborasi baik sebanyak 6 (17.6%) responden.

Menurut asusmsi peneliti bahwa pengetahuan perawat tentang

Kolaborasi yang kurang hal ini menunjukan bahwa meskipun

seseorang memiliki pengetahuan yang kurang tetapi pelaksanaan

kolaborasi baik dapat dipengaruhi oleh usia dan Pengalaman kerja ,

yang dimana semakin tinggi usia seseorang maka semakin banyak

pula pengalaman kerja dan pengetahuan yang lebih luas yang

dimiliki dalam kehidupannya sehari-hari dalam tindakan

keperawatan sehingga pelaksanaan kolaborasi dengan dokter

berjalan dengan baik.

Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan (Hurlock,2006)

bahwa pengetahuan dapat dipengaruhi oleh usia,semakin cukup

umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih

matang dalam berfikir dan bekerja dan dalam (KKBI 2012) Secara

umum, usia yang semakin tinggi akan mempunyai pengetahuan

yang lebih luas.Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai


63

upaya memperoleh pengetahuan dan dilakukan dengan cara

mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam

memecahkan masalah yang dihadapi.

Dari hasil penelitian ini terdapat 58 responden yang memiliki

pengetahuan yang kurang dan pelaksanaan kolaborasi kurang

sebanyak 28 (82.0%) responden. Menurut asumsi peneliti bahwa

pengetahuan perawat tentang kolaborasi kurang dan pelaksanaan

kolaborasi dengan dokter kurang hal ini cukuk jelas bahwa dalam

melakukan kolaborasi diperlukan pengetahuan yang baik agar

memperoleh hasil yang baik pula.

Hal ini sejalan dengan Pendapat Depkes RI (2000), bahwa

pengetahuan adalah kumpulan informasi yang dipahami, diperoleh

dari proses belajar selama hidup dan dapat digunakan sewaktu-

waktu sebagai alat penyesuaian diri baik terhadap diri sendiri

maupun lingkungannya, perawat sebagian besar sudah mengerti

dan memahami tentang penerapan Kolaborasi. Belajar dibutuhkan

seseorang untuk mencapai tingkat kematangan diri. Praktek

kolaborasi terbentuk saat seseorang berusaha memuaskan

kebutuhannya sendiri dan kebutuhan pihak lain secara maksimal.

Proses kolaborasi membutuhkan sikap yang tegas dan kerjasama,

bukan penyerahan seseorang untuk memuaskan pihak lain demi

mempertahankan keharmonisan Ruble dan Thomas(1976).