Anda di halaman 1dari 321

Penulis:

1. Dr. Yanto Permana, M.Pd., 08992257039, email: yantopermana@gmail.com


2. Drs. Sukarna, M.Si., 081573811945, email: rizal_karna@yahoo.com
3. Dr. Suryana Iskandar, M.Pd., 08122363561, email:
suryanaiskandar@yahoo.com
4. Dra. Ipit Susdiani, M.Pd., 081221591998, email: dianisuska@gmail.com

Penelaah:
1. Dr. H. Rippi Maya, M.Pd./STKIP Siliwangi
2. Dra. Hj. Betty Windarsiharly, M.Ak., 0811247580, email: bettywind@yahoo.com
3. Dr. Syahril Is, M.T., 0813222017300, email: syahrilis@ymail.com
4. Dra. Kusmarini, M.Pd., 08112290061, email: k_rien61@yahoo.com

Copyright @ 2016
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Bidang Mesin dan Teknik Industri Bandung,
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang


Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan
komersil tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
KATA SAMBUTAN

Peran guru profesional dalam proses pembelajaran sangat penting sebagai kunci
keberhasilan belajar siswa. Guru profesional adalah guru yang kompeten
membangun proses pembelajaran yang baik sehingga dapat menghasilkan
pendidikan yang berkualitas. Hal tersebut menjadikan guru sebagai komponen
yang menjadi fokus perhatian pemerintah pusat maupun pemerintah daerah
dalam peningkatan mutu pendidikan terutama menyangkut kompetensi guru.

Pengembangan profesionalitas guru melalui program Guru Pembelajar (GP)


merupakan upaya peningkatan kompetensi untuk semua guru. Sejalan dengan
hal tersebut, pemetaan kompetensi guru telah dilakukan melalui uji kompetensi
guru (UKG) untuk kompetensi pedagogik dan profesional pada akhir tahun 2015.
Hasil UKG menunjukkan peta kekuatan dan kelemahan kompetensi guru dalam
penguasaan pengetahuan. Peta kompetensi guru tersebut dikelompokkan
menjadi 10 (sepuluh) kelompok kompetensi. Tindak lanjut pelaksanaan UKG
diwujudkan dalam bentuk pelatihan guru paska UKG melalui program Guru
Pembelajar. Tujuannya untuk meningkatkan kompetensi guru sebagai agen
perubahan dan sumber belajar utama bagi peserta didik. Program guru
pembelajar dilaksanakan melalui pola tatap muka, daring (online), dan campuran
(blended) tatap muka dengan online.

Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan


(PPPPTK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Kelautan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LP3TK
KPTK), dan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah
(LP2KS) merupakan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Direktorat Jenderal
Guru dan Tenaga Kependidikan yang bertanggung jawab dalam
mengembangkan perangkat dan melaksanakan peningkatan kompetensi guru
sesuai bidangnya. Adapun perangkat pembelajaran yang dikembangkan tersebut
adalah modul untuk program Guru Pembelajar (GP) tatap muka dan GP online
untuk semua mata pelajaran dan kelompok kompetensi. Dengan modul ini

GEOMETRI i
MATEMATIKA – MATEMATIKA
diharapkan program GP memberikan sumbangan yang sangat besar dalam
peningkatan kualitas kompetensi guru.

Mari kita sukseskan program GP ini untuk mewujudkan Guru Mulia karena Karya.

Jakarta, Februari 2016


Direktur Jenderal
Guru dan Tenaga Kependidikan,

Sumarna Surapranata, Ph.D


NIP. 19590801 198503 2 001

GEOMETRI ii
MATEMATIKA – MATEMATIKA
KATA PENGANTAR

Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan


Dosen mengamanatkan adanya pembinaan dan pengembangan profesi guru
secara berkelanjutan sebagai aktualisasi dari profesi pendidik. Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan (PKB) dilaksanakan bagi semua guru, baik yang
sudah bersertifikat maupun belum bersertifikat. Untuk melaksanakan PKB bagi
guru, pemetaan kompetensi telah dilakukan melalui Uji Kompetensi Guru (UKG)
bagi semua guru di di Indonesia sehingga dapat diketahui kondisi objektif guru
saat ini dan kebutuhan peningkatan kompetensinya.

Modul ini disusun sebagai materi utama dalam program peningkatan kompetensi
guru mulai tahun 2016 yang diberi nama diklat PKB sesuai dengan mata
pelajaran/paket keahlian yang diampu oleh guru dan kelompok kompetensi yang
diindikasi perlu untuk ditingkatkan. Untuk setiap mata pelajaran/paket keahlian
telah dikembangkan sepuluh modul kelompok kompetensi yang mengacu pada
kebijakan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan tentang
pengelompokan kompetensi guru sesuai jabaran Standar Kompetensi Guru
(SKG) dan indikator pencapaian kompetensi (IPK) yang ada di dalamnya.
Sebelumnya, soal UKG juga telah dikembangkan dalam sepuluh kelompok
kompetensi. Sehingga diklat PKB yang ditujukan bagi guru berdasarkan hasil
UKG akan langsung dapat menjawab kebutuhan guru dalam peningkatan
kompetensinya.

Sasaran program strategi pencapaian target RPJMN tahun 2015–2019 antara


lain adalah meningkatnya kompetensi guru dilihat dari Subject Knowledge dan
Pedagogical Knowledge yang diharapkan akan berdampak pada kualitas hasil
belajar siswa. Oleh karena itu, materi yang ada di dalam modul ini meliputi
kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional. Dengan menyatukan modul
kompetensi pedagogik dalam kompetensi profesional diharapkan dapat
mendorong peserta diklat agar dapat langsung menerapkan kompetensi
pedagogiknya dalam proses pembelajaran sesuai dengan substansi materi yang
diampunya. Selain dalam bentuk hard-copy, modul ini dapat diperoleh juga

GEOMETRI iii
MATEMATIKA – MATEMATIKA
dalam bentuk digital, sehingga guru dapat lebih mudah mengaksesnya kapan
saja dan dimana saja meskipun tidak mengikuti diklat secara tatap muka.

Kepada semua pihak yang telah bekerja keras dalam penyusunan modul diklat
PKB ini, kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Jakarta, Februari 2016


Direktur Jenderal
Guru dan Tenaga Kependidikan,

Sumarna Surapranata, Ph.D


NIP. 19590801 198503 2 001

GEOMETRI iv
MATEMATIKA – MATEMATIKA
DAFTAR ISI

KATA SAMBUTAN .................................................................................................... i

KATA PENGANTAR ................................................................................................ iii

DAFTAR ISI .............................................................................................................. v

DAFTAR GAMBAR ................................................................................................ viii

DAFTAR TABEL .................................................................................................... xiv

LAMPIRAN ............................................................................................................. xv

PENDAHULUAN ....................................................................................................... 1

A. Latar Belakang................................................................................................ 1

B. Tujuan............................................................................................................. 2

C. Peta Kompetensi ............................................................................................ 2

D. Ruang Lingkup................................................................................................ 4

E. Saran Cara Penggunaan Modul ...................................................................... 4

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1 .............................................................................. 5

A. Tujuan Pembelajaran ...................................................................................... 6

B. Indikator Pencapaian Kompetensi................................................................... 6

C. Lingkup Materi. ................................................ Error! Bookmark not defined.

D. Langkah-langkah. ............................................ Error! Bookmark not defined.

E. Uraian Materi. ................................................................................................. 6

F. Sesuaikan jawaban anda dengan penjelasan ! Error! Bookmark not defined.

G. Rangkuman .................................................................................................. 50

H. Tes Formatif..................................................... Error! Bookmark not defined.

KEGIATAN PEMBELAJARAN 2 ............................................................................ 54

A. Tujuan Pembelajaran .................................................................................... 54

GEOMETRI v
MATEMATIKA – MATEMATIKA
B. Indikator Pencapaian Kompetensi................................................................. 54

C. Lingkup Materi ................................................. Error! Bookmark not defined.

D. Langkah-langkah ............................................. Error! Bookmark not defined.

E. Uraian Materi ................................................................................................ 54

F. Rangkuman .................................................................................................. 62

G. Test Formatif.................................................... Error! Bookmark not defined.

KEGIATAN PEMBELAJARAN 3 ............................................................................ 65

A. Tujuan........................................................................................................... 77

B. Indikator Pencapaian Kompetensi................................................................. 77

C. Uraian Materi ................................................................................................ 78

D. Aktivitas Pembelajaran ............................................................................... 172

E. Rangkuman ................................................................................................ 204

F. Tes Formatif................................................................................................ 216

G. Kunci Jawaban ........................................................................................... 218

KEGIATAN PEMBELAJARAN 4 .......................................................................... 220

A. Tujuan......................................................................................................... 220

B. Indikator Pencapaian Kompetensi............................................................... 220

C. Uraian Materi .............................................................................................. 220

D. Aktivitas Pembelajaran ............................................................................... 271

E. Rangkuman ................................................................................................ 287

F. Tes Formatif................................................................................................ 291

G. Kunci Jawaban ........................................................................................... 294

PENUTUP ............................................................................................................. 297

UJI KOMPETENSI ................................................................................................ 298

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 301

GLOSARIUM ........................................................................................................ 302

GEOMETRI vi
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GEOMETRI vii
MATEMATIKA – MATEMATIKA
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Peta Kompetensi Pedagogik ................................................................. 2

Gambar 1.2 Peta Kompetensi Profesional ............................................................... 3

Gambar 2.3.1 Unsur-Unsur Geometri .................................................................... 76

Gambar 2.3.2 Titik, Garis, dan Bidang ................................................................... 78

Gambar 2.3.3 Limas T.ABCD ................................................................................ 79

Gambar 2.3.4 Sinar AB ......................................................................................... 80

Gambar 2.3.5 Segitiga ABC .................................................................................. 82

Gambar 2.3.6 Sudut ABC ...................................................................................... 83

Gambar 2.3.7 Sinar Garis OA dan OB ................................................................... 83

Gambar 2.3.8 Sudut 1 ........................................................................................... 84

Gambar 2.3.9 Sudut 2 ........................................................................................... 84

Gambar 2.3.10 Perpotongan Garis AC dan BD ..................................................... 85

Gambar 2.3.11 Sudut 65o ...................................................................................... 85

Gambar 2.3.12 Busur Derajat ................................................................................ 86

Gambar 2.3.13 Sudut Lancip ................................................................................. 94

Gambar 2.3.14 Sudut Siku-Siku ............................................................................ 94

Gambar 2.3.15 Sudut Tumpul ............................................................................... 94

Gambar 2.3.16 Sudut pelurus ................................................................................ 95

Gambar 2.3.17 Sudut Refleks ............................................................................... 95

GEOMETRI viii
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Gambar 2.3.18 Jam Dinding .................................................................................. 95

Gambar 2.3.19 Gambar yang Berdekatan ............................................................. 97

Gambar 2.3.20 Sudut-Sudut Berpelurus ................................................................ 98

Gambar 2.3.21 Sudut yang Bertolak Belakang ...................................................... 98

Gambar 2.3.22 Sudut pada Transversal ................................................................ 99

Gambar 2.3.23 Postulat 1 Garis Sejajar ................................................................ 100

Gambar 2.3.24 Postulat 2 Garis Sejajar ................................................................ 101

Gambar 2.3.25 Sudut Dalam Bersebrangan .......................................................... 101

Gambar 2.3.26 Sudut Luar Bersebrangan ............................................................. 102

Gambar 2.3.27 Sudut Dalam Sepihak ................................................................... 103

Gambar 2.3.28 Langkah-Langkah Menyalin Sudut ................................................ 103

Gambar 2.3.29 Garis PQ ....................................................................................... 104

Gambar 2.3.30 Langkah-Langkah Membagi Dua Suatu Sudut .............................. 104

Gambar 2.3.31 Langkah-Langkah Membagi Dua Ruas Garis ................................ 105

Gambar 2.3.32 Membagi Dua Ruas Garis Sama Panjang ..................................... 106

Gambar 2.3.33 Melukis Sudut Siku-Siku melalui Titik di Luar Garis....................... 106

Gambar 2.3.34 Melukis Sudut Siku-Siku melalui Titik di Luar Garis Cara 2 ........... 107

Gambar 2.3.35 Melukis Sudut Siku-Siku melalui Titik di pada garis....................... 107

Gambar 2.3.36 Diagonal pada Bangun Datar ........................................................ 108

Gambar 2.3.37 Air Mancur di Singapura.............................................................. 109

Gambar 2.3.38 Bangun Datar ABCDEF .............................................................. 110

GEOMETRI ix
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Gambar 2.3.39 Gambar Macam-Macam Bangun Datar ....................................... 111

Gambar 2.3.40 Bangun Datar A dan B ................................................................ 112

Gambar 2.3.41 Gambar Ilustrasi untuk Luas Bangun Datar................................. 113

Gambar 2.3.42 Trapesium ................................................................................... 115

Gambar 2.3.43 Ilustrasi Luas dan Keliling Segitiga .............................................. 116

Gambar 2.3.44 Ilustrasi Luas dan Keliling Bangun Datar ..................................... 117

Gambar 2.3.45 Ilustrasi Luas dan Keliling Trapesium dan Lingkaran .................. 118

Gambar 2.3.46 Trapesoida .................................................................................. 119

Gambar 2.3.47 Mid Ordinat ................................................................................. 121

Gambar 2.3.48 Kurva y = f (x) ............................................................................. 122

Gambar 2.3.49 Escalator ..................................................................................... 125

Gambar 2.3.50 Segitiga ABC .............................................................................. 125

Gambar 2.3.51 Bangunan di Tepi Danau ............................................................ 129

Gambar 2.3.52 Refleksi dari Segitiga ABC (1) ..................................................... 129

Gambar 2.3.53 Refleksi dari Segitiga ABC (2) ..................................................... 130

Gambar 2.3.54 Ilustrasi Refleksi .......................................................................... 131

Gambar 2.3.55 Refleksi terhadap sumbu x .......................................................... 132

Gambar 2.3.56 Refleksi terhadap sumbu y .......................................................... 134

Gambar 2.3.57 Refleksi terhadap garis x = m ...................................................... 135

Gambar 2.3.58 Refleksi terhadap garis y = n ....................................................... 136

Gambar 2.3.59 Refleksi terhadap garis y = x ....................................................... 137

GEOMETRI x
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Gambar 2.3.60 Refleksi terhadap garis y = -x...................................................... 139

Gambar 2.3.61 Komedi Putar .............................................................................. 140

Gambar 2.3.62 Rotasi ∆ABC ............................................................................... 140

Gambar 2.3.63 Rotasi Bendera FGHI .................................................................. 141

Gambar 2.3.64 Rotasi pada Sumbu (X,Y) ........................................................... 141

Gambar 2.3.65 Alat Pembesar ............................................................................ 147

Gambar 2.3.66 Dilatasi pada Segitiga ABC ......................................................... 147

Gambar 2.3.67 Dilatasi [O,k] ............................................................................... 148

Gambar 2.4.1 Kubus ABCD.EFGH ...................................................................... 208

Gambar 2.4.2 Jaring-Jaring Kubus ...................................................................... 211

Gambar 2.4.3 Bukan Jaring-Jaring Kubus ........................................................... 211

Gambar 2.4.4 Prisma Segienam.......................................................................... 212

Gambar 2.4.5 Prisma Segietiga ........................................................................... 212

Gambar 2.4.6 Jaring-Jaring Kubus (2) ................................................................. 213

Gambar 2.4.7 Jaring-Jaring Balok ....................................................................... 214

Gambar 2.4.8 Jaring-Jaring Prisma ..................................................................... 215

Gambar 2.4.9 Selimut Tabung ............................................................................. 216

Gambar 2.4.10 Kerucut ....................................................................................... 217

Gambar 2.4.11 Selimut Kerucut........................................................................... 218

Gambar 2.4.12 Limas .......................................................................................... 220

Gambar 2.4.13 Jaring-Jaring Limas..................................................................... 220

GEOMETRI xi
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Gambar 2.4.14 Sebidang Tanah.......................................................................... 222

Gambar 2.4.15 Bangun yang Identik dengan Prisma........................................... 227

Gambar 2.4.16 Tabung ....................................................................................... 228

Gambar 2.4.17 Kubus (2) .................................................................................... 230

Gambar 2.4.18 Balok ABCD.EFGH ..................................................................... 232

Gambar 2.4.19 Kubus (3) .................................................................................... 235

Gambar 2.4.20 Jarak Titik P ke Garis g ............................................................... 240

Gambar 2.4.21 Proyeksi P pada bidang α ........................................................... 240

Gambar 2.4.22 Jarak P dan Q ............................................................................. 241

Gambar 2.4.23 Jarak antara Dua Bidang ............................................................ 248

Gambar 2.4.24 Garis yang Memotong Garis Lain (1) .......................................... 248

Gambar 2.4.25 Garis yang Memotong Garis Lain (2) .......................................... 249

Gambar 2.4.26 Garis yang Memotong Garis Tegak Lurus ................................... 250

Gambar 2.4.27 Sudut pada Bangun Ruang ......................................................... 251

Gambar 2.4.28 Sudut antara Dua Garis Berpotongan ......................................... 252

Gambar 2.4.29 Sudut antara Dua Garis Bersilangan ........................................... 252

Gambar 2.4.30 Sudut antara Garis dan Bidang ................................................... 253

Gambar 2.4.31 Sudut antara Bidang dan Bidang ................................................ 254

Gambar 2.4.32 Proyeksi Titik pada Bidang .......................................................... 256

Gambar 2.4.33 Corong Mesin Penggiling ............................................................ 262

Gambar 2.4.34 Rumah Dome .............................................................................. 264

GEOMETRI xii
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Gambar 2.4.35 Tugu Bambu Runcing ................................................................. 265

GEOMETRI xiii
MATEMATIKA – MATEMATIKA
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Ruang Lingkup Isi Modul .......................................................................... 4

Tabel 2.3.1Unsur-Unsur Geometri ......................................................................... 76

Tabel 2.3.2Matrisk Transformasi ......................................................................... 154

GEOMETRI xiv
MATEMATIKA – MATEMATIKA
LAMPIRAN

GEOMETRI xv
MATEMATIKA – MATEMATIKA
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pengembangan keprofesian berkelanjutan sebagai salah satu strategi
pembinaan guru dan tenaga kependidikan diharapkan dapat menjamin guru dan
tenaga kependidikan mampu secara terus menerus memelihara, meningkatkan,
dan mengembangkan kompetensi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Pelaksanaan kegiatan PKB akan mengurangi kesenjangan antara kompetensi
yang dimiliki guru dan tenaga kependidikan dengan tuntutan profesional yang
dipersyaratkan.
Guru dan tenaga kependidikan wajib melaksanakan PKB baik secara mandiri
maupun kelompok. Khusus untuk PKB dalam bentuk diklat dilakukan oleh
lembaga pelatihan sesuai dengan jenis kegiatan dan kebutuhan guru.
Penyelenggaraan diklat PKB dilaksanakan oleh PPPPTK dan LPPPTK KPTK
atau penyedia layanan diklat lainnya. Pelaksanaan diklat tersebut memerlukan
modul sebagai salah satu sumber belajar bagi peserta diklat. Modul merupakan
bahan ajar yang dirancang untuk dapat dipelajari secara mandiri oleh peserta
diklat berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang
disajikan secara sistematis dan menarik untuk mencapai tingkatan kompetensi
yang diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya.
Untuk mempersiapkan kegiatan PKB dalam bentuk diklat bagi guru-guru
matematika diperlukan adanya modul yang tepat sesuai dengan tuntutan dari
Permendinas no. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan
Kompetensi Guru. Dari permendiknas tersebut, standar kompetensi guru yang
dikembangkan dari kompetensi pedagogik memuat sepuluh kompetensi inti guru
yang diantaranya memuat tentang penguasaan konsep pengembangan
kurikulumdan dari kompetensi profesional memuat tentang konsep geometri.

GEOMETRI 1
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Tujuan
Tujuan penyusunan modul ini adalah agar peserta diklat PKB dapat menguasai
konsep pengembangan kurikulumdan konsep geometrimelalui kegiatan diskusi
dengan percaya diri.

Peta Kompetensi
Pada Gambar 1.1 berikut dicantumkan daftar kompetensi pedagogik sesuai
dengan Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi
Akademik dan Kompetensi Guru yang akan ditingkatkan melalui proses belajar
dengan menggunakan modul ini.

Gambar 1.1 Peta Kompetensi Pedagogik

GEOMETRI 2
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Pada Gambar 1.2berikut dicantumkan daftar kompetensi profesional sesuai
dengan Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi
Akademik dan Kompetensi Guru yang akan ditingkatkan melalui proses belajar
dengan menggunakan modul ini.

Gambar 1.2 Peta Kompetensi Profesional

GEOMETRI 3
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari modul ini berisikan kegiatan belajar untuk pengembangan
kompetensi pedagogik dan pengembangan kompetensi profesional. Secara rinci
ruang lingkup dari modul ini adalah sebagai berikut.

Tabel 1.1 Ruang Lingkup Isi Modul

No Kegiatan Belajar Uraian Materi


1 Kegiatan Belajar 1 Berisikan materi tentang Pengalaman
Pembelajaran
2 Kegiatan Belajar 2 Berisikan materi tentang Pemilihan Materi
Pembelajaran
3 Kegiatan Belajar 3 Beriskan materi tentang Geometri Dimensi
Dua
4 Kegiatan Belajar 4 Beriskan materi tentang Geometri Dimensi
Tiga

Saran Cara Penggunaan Modul


Untuk mempelajari modul ini, hal-hal yang perlu peserta diklat lakukan adalah
sebagai berikut:

1. Baca dan pelajari semua materi yang disajikan dalam modul ini,
2. Kerjakan soal-soal tes formatif dan cocokkan jawabannya dengan Kunci
Jawaban yang ada.
3. Jika ada bagian yang belum dipahami, diskusikanlah dengan rekan belajar
Anda. Jika masih menemui kesulitan, mintalah petunjuk
instruktor/widyaiswara.
4. Untuk mengukur tingkat penguasaan materi Kerjakan soal-soal Uji
Kompetensi di akhir bab dalam modul ini

GEOMETRI 4
MATEMATIKA – MATEMATIKA
BAB II
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1

Kegiatan Belajar 1 : Pengalaman Pembelajaran

Peta Konsep

PENGALAMAN
BELAJAR

KONSEP BELAJAR PRINSIP-PRINSIP PERANCANGAN


KONSTRUKSIVISME PERANCANGAN PENGALAMAN
PENGALAMAN BELAJAR PEMAHAMAN
BELAJAR DAN PENERAPAN

PERANCANGAN PEMILIHAN MODEL PEMBUATAN MODEL


PENGALAMAN PERANCANGAN PERANCANGAN
BELAJAR ANALISIS BELAJAR BELAJAR
DAN EVALUASI KONSTRUKSIVISME KONSTRUKSIVISME

GEOMETRI 5
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Tujuan Pembelajaran
Melalui penggalian informasi,diskusi dan mencoba peserta diklat dapat:
1. Menilai contoh perancangan pengalaman belajar perkembangan berfikir
tingkat evaluasi sesuai prinsip-prinsip belajar konstruksivistik secara teliti dan
tanggung jawab.
2. Membuat perancangan pengalaman belajar mata pelajaran yang diampu
tingkat berfikir mencipta sesuai prinsip-prinsip belajar konstruksivistik secara
teliti dan bertanggung jawab

Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Menjelaskan prinsip-prinsip perancangan pengalaman belajar pemahaman
2. Menentukan langkah-langkah perancangan pengalaman belajar penerapan.
3. Mengkoreksi contoh perancangan pengalaman belajar perkembangan berfikir
analisis dan evaluasi
4. Memilih model pembelajaran yang akan digunakan dalam perancangan
pengalaman belajar konstruksivisme.
5. Membuat perancangan pengalaman belajar sesuai model pembelajaran
konstruksivisme.

Uraian Materi
Belajar adalah perubahan berkaitan dengan pengaturan prilaku peserta didik
atau kemampuan dalam rentang waktu tertentu dari suatu periode. Perubahan
prilaku sebagai hasil belajar sering disebut dengan bukti belajar atau learning
exhibits yang merupakan akibat proses interaksi antara peserta didik dengan
guru, dan dengan peserta didik lainnya maupun dengan lingkungan serta objek
yang dipelajarinya.
Perubahan kemampuan atau prilaku (behavior) sebagai hasil belajar sesuai
dengan yang diharapkan, tentu tidak dapat terjadi begitu saja, tetapi diperlukan
perancangan pengalaman belajar yang disengaja dan sistematis, yang
memungkinkan perubahan prilaku dalam perkembangan berfikir peserta didik
mencapai gradasi perkembangan sesuai dengan yang ditetapkan dalam tujuan

GEOMETRI 6
MATEMATIKA – MATEMATIKA
pembelajaran. Untuk itu guru sebagai perancang pembelajaran memegang
peranan strategis dalam mengantarkan peserta didik melalui pengalaman belajar
yang dirancangnya mencapai gradasi kemampuan tertentu.

1. Pembelajaran Kostruksivisme
Untuk merancang pengalaman belajar peserta didik pada kurikulum 2013
atau juga sering diistilahkan dengan Kurnas, anda diajak terlebih dahulu
mengingat kembali salah satu pendekatan pembelajaran yang digunakan
yakni pembelajaran berpendekatan konstruksivisme.

Pembelajaran pendekatan konstruktivisme yang dimaksud adalah


pembelajaran yang menjadikanseseorang secara aktif membangun
pengetahuan dan pemahaman dengan mensintesiskan pengetahuan yang
telah dimilikinya menjadi pengetahuan baru. Pendekatan pembelajaran
konstruktivisme ini ,sesuai denganteori kerja Jean Piaget dalam Alan
Pritchard (2010 : 5 ) “ his work led to the expansion of understanding of child
development and learning as a proces of construction that has underpinned
much of the theory relating to social constructivism”.Berdasarkan teori belajar
konstruktivisme, pembelajaran berupaya membelajarkan peserta didik untuk
mengkonstruksi pemahaman mereka dari dunia sekelilingnya berdasarkan
pengalaman, dimana mereka hidup dan tumbuh. Mereka selanjutnya memilih
dan mentransformasi informasi dari pengetahuan yang lalu.Saat inijuga
pengalaman menjadi pengetahuan dan pemahaman peserta didikyang baru.
Pada tabel 1 di bawah ini dapat dilihat perbandingan antara kognitivisme dan
konstruksivisme menurut Anne Jordan; Orison Carlile dan Annetta Stack
pada Approaches to learning (2008:55).

Perbandingan antara Kognitivisme dengan


Tabel 1
Konstruksivisme

Teori AktivitasMental Proses Belajar Peran Guru


Cognitivisme  Presepsi  Mengingat  Menerapkan
 Perhatian  Pembelajaran prinsip-prinsip

GEOMETRI 7
MATEMATIKA – MATEMATIKA
 Pemerosesan permukaandan kognitif untuk
mendalam memfasilitasi
 Menyampaikan proses kognitif
informasi (encoding)
 Terjadinya secara
internal pada dirinya
Construsivisme  Membuat  Belajar menurut  Mendukung
makna skema (returning pembelajaran
Schemata) bermakna
 Mengkonstruk  Membangun
kemampuan gagasan yang
pikir/intelektual menantang
(mental constructs)
 Terjadinya secara
internal pada dirinya

2. Pertimbangan dalam Mengembangkan Pengalaman Belajar


Pengalaman belajar merupakan aktifitas peserta didik dengan lingkungannya
yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pengalaman belajar itu bukanlah isi
atau materi pelajaran melainkan interaksi peserta didik dengan lingkungan
berupa aktivitas dalam proses pembelajaran.Ini sesuai dengan pendapat
Tyler (1990:41) “ The term learning experience is not the same as the content
with which a course deal nor activities performed by the teacher The term
learning experience refer to interaction between the learner and the external
condition in the environment to which he can react. Learning takes place
through the active behavior of student; it is what he does that he learn not
what the teacher does”. Dari kutipan di atas dapat digaris bawahi pengalaman
belajar adalah apa yang akan diinteraksikan atau yang telah diinteraksikan di
dalam proses pembelajaran antara peserta didik dengan lingkungan, bukan
apa yang akan atau diperbuat pendidik.

GEOMETRI 8
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Penentuanpengalaman belajar harus berdasarkan pertimbangan-
pertimbangan sebagai berikut:
a. Sesuai dengan tujuan dari Kompetensi Dasar (KD) yang akan dicapai.
Dalam sistem perencanaan dan desain pembelajaran tujuan merupakan
komponen utama dan pertama yang harus dipikirkan oleh seorang perancang
pembelajaran. Sehingga apa yang harus dilakukan guru dan siswa diarahkan
untuk mencapai tujuan itu. Dilihat dari domainnya tujuan itu terdiri atas tujuan
kognitif, afektif, dan psikomotorik.
b. Sesuai dengan jenis bahan atau materi pelajaran
Pengalaman belajar yang direncanakan dan didisain harus memerhatikan
karakteristik materi pelajaran baik dilihat dari kompleksitas materi maupun
pengemasannya.
c. Ketersediaan sumber belajar
Selain pertimbangan tujuan dan isi bahan pelajaran, seorang desainer
pembelajaran dalam menentukan pengalaman belajar juga harus
memerhatikan ketersediaan sumber belajar yang dapat digunakan.
d. Pengalaman belajar harus sesuai dengan karakteristik siswa
Kondisi dan karakteristik siswa merupakan salah satu hal pertimbangan yang
harus diperhatikan, baik menyangkut minat dan bakat siswa, kecenderungan
gaya belajar maupun kemampuan dasar yang dimiliki siswa.
e. Model belajar
Model pembelajaranmerupakan kerangkakonseptual yang digunakansebagai
pedomandalammelakukanpembelajaran yang disusunsecara
sistematisuntukmencapaitujuanbelajar yang menyangkut sintaksis,
sistemsosial, prinsip,reaksi dansistempendukung (Joice&Wells).

3. Prinsip-Prinsip Pengembangan Pengalaman Belajar


Pada pendekatan pembelajaran konstruksivisme peserta didik adalah subjek
yang memiliki kemampuan untuk secara aktif mencari, mengolah,
mengkonstruksi, dan menggunakan pengetahuan. Untuk itu pengembangan
pengalaman pembelajaran harus berkenaan dengan kesempatan yang
diberikan kepada peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuan dalam

GEOMETRI 9
MATEMATIKA – MATEMATIKA
proses kognitifnya. Agar benar benar memahami dan dapat menerapkan
pengetahuan, peserta didik perlu didorong untuk bekerja memecahkan
masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, dan berupaya keras
mewujudkan ide-idenya.
Ada sejumlah prinsip-prinsip yang harus diperhatikan manakala kita akan
mengembangkan pengalaman belajar yaitu,
a. Berorientasi pada tujuan
Dalam system pembelajaran tujuan merupakan komponen yang utama.
Efektivitas pengembangan pengalaman belajar ditentukan dari
keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran.
b. Aktivitas
Pengalaman belajar siswa harus dapat mendorong agar siswa
beraktivitas melakukan sesuatu. Aktivitas tidak dimaksudkan terbatas
pada aktivitas fisik, akan tetapi juga meliputi aktivitas yang bersifat psikis
seperti aktivitas mental.
c. Individualitas
Mengajar adalah usaha mengembangkan setiap individu siswa.Oleh
sebab itu pengalaman belajar dirancang untuk setiap individu siswa.
d. Integritas
Merancang pengalaman belajar siswa harus dapat mengembangkan
seluruh aspek kepribadian siswa secara terintegitas, dengan tetap
memperhatikan prinsip interaktif, Inspiratif, menyenangkan, menantang,
dan motivasi. Secara rinci pada Permendikbud No. 103 Tahun 2014
prinsip pengembangan pengalaman belajar perlu memperhatikan :
1) peserta didik difasilitasi untuk mencari tahu;
2) peserta didik belajar dari berbagai sumber belajar;
3) proses pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah;
4) pembelajaran berbasis kompetensi;
5) pembelajaran terpadu;
6) pembelajaran yang menekankan pada jawaban divergen
yangmemiliki kebenaran multi dimensi;
7) pembelajaran berbasis keterampilan aplikatif;

GEOMETRI 10
MATEMATIKA – MATEMATIKA
8) peningkatan keseimbangan, kesinambungan, dan keterkaitan antara
hard-skills dan soft-skills;
9) pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;
10) pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan
memberketeladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan
mauan (ingmadyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas
pesertadidik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);
11) pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan
dimasyarakat;
12) pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas pembelajaran;
13) pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya
peserta didik;
14) dan suasana belajar menyenangkan dan menantang

4. Tahapan Pengembangan Pengalaman Belajar


Tahapan pengembangan pembelajaran yang dikembangkan seorang guru
dilakukan berdasakan pada kedudukan KD itu berada, dan berdasarkan itu
guru melakukan perancangan pengalaman belajar mengikuti standar proses
yang pada kurikulum 2013 berada pada Permendikbud No 65 Tahun 2013
dan petunjuk pembelajaran Permendikbud No 103 Tahun 2014, yang dapat di
bagi dalam tahap pra Instruksional atau sering juga di istilahkan dengan
langkah pendahuluan, tahap Instruksional atau langkah kegiatan Inti dan
tahap penilaian dan tindak lanjut. Pengalaman belajar dalam operasionalnya
dirancang guru pada kegiatan Inti yang di dalam kurikulum KTSP 2006
kegiatan ini terbagi pada tiga fase yakni Eksplorasi; Elaborasi dan Konfirmasi
(EEK). Pada Kurikulum 2013 pengembangan pengalaman belajar dilakukan
menggunakan pendekatan saintifik atau pendekatan berbasis proses
keilmuan dengan langkah meliputi mengamati, menanya, mengeksperimen,
menganalisis dan mengkomunikasikan seperti terlihat pada tabel 2.
Pendekatan saintifik dapat menggunakan beberapa strategi seperti

GEOMETRI 11
MATEMATIKA – MATEMATIKA
pembelajaran kontekstual. Model pembelajaran merupakan suatu bentuk
pembelajaran yang memiliki nama, ciri, sintak, pengaturan, dan budaya
misalnya discovery learning, project-based learning, problem-based learning,
inquiry learning.

Tabel 2 Deskripsi Langkah Pembentukan Pengalaman Belajar

Langkah Pembelajaran Deskripsi Kegiatan Bentuk Hasil Belajar

Mengamati (observing) mengamati dengan perhatian pada waktu


indra (membaca, mengamati suatu
mendengar, menyimak, objek/membaca suatu
melihat, menonton, dan tulisan/mendengar suatu
sebagainya) dengan penjelasan, catatan
atau tanpa alat yang dibuat tentang
yang diamati,
kesabaran, waktu (on
task) yang digunakan
untuk mengamati

Menanya (questioning) membuat dan jenis, kualitas, dan


mengajukan pertanyaan, jumlah pertanyaan yang
tanya jawab, berdiskusi diajukan peserta didik
tentang informasi yang (pertanyaan faktual,
belum dipahami, konseptual, prosedural,
informasi tambahan dan hipotetik)
yang ingin diketahui,
atau sebagai klarifikasi.
Mengumpulkan mengeksplorasi, jumlah dan kualitas
informasi/mencoba mencoba, berdiskusi, sumber yang
(experimenting) mendemonstrasikan, dikaji/digunakan,
meniru bentuk/gerak, kelengkapan informasi,
melakukan eksperimen, validitas informasi yang
membaca sumber lain dikumpulkan, dan
selain buku teks, instrumen/alat yang
mengumpulkan data dari digunakan untuk
nara sumber melalui mengumpulkan data.
angket, wawancara, dan
memodifikasi/
menambahi/

GEOMETRI 12
MATEMATIKA – MATEMATIKA
mengembangkan
Menalar/Mengasosiasi mengolah informasi mengembangkan
(associating) yang sudah interpretasi, argumentasi
dikumpulkan, dan kesimpulan
menganalisis data mengenai keterkaitan
dalam bentuk membuat informasi dari dua
kategori, mengasosiasi fakta/konsep,
atau menghubungkan interpretasi argumentasi
fenomena/informasi dan kesimpulan
yang terkait dalam mengenai keterkaitan
rangka menemukan lebih dari dua
suatu pola, dan fakta/konsep/teori,
menyimpulkan menyintesis dan
argumentasi serta
kesimpulan keterkaitan
antarberbagai jenis
fakta/konsep/teori/
pendapat;
mengembangkan
interpretasi, struktur
baru, argumentasi, dan
kesimpulan yang
menunjukkan hubungan
fakta/konsep/teori dari
dua sumber atau lebih
yang tidak bertentangan;
mengembangkan
interpretasi, struktur
baru, argumentasi dan
kesimpulan dari
konsep/teori/pendapat
yang berbeda dari
berbagai jenis sumber

Mengomunikasikan menyajikan laporan menyajikan hasil kajian


(communicating) dalam bentuk bagan, (dari mengamati sampai
diagram, atau grafik; menalar) dalam bentuk
menyusun laporan tulisan, grafis, media
tertulis; dan menyajikan elektronik, multi media
laporan meliputi proses, dan lain-lain
hasil, dan kesimpulan
secara lisan

GEOMETRI 13
MATEMATIKA – MATEMATIKA
5. Pengembangan Pengalaman Belajar Memahami dan Penerapan
Seperti telah disinggung di atas pengalaman belajar peserta didik pada
kurikulum 2013 dibentuk melalui langkah-langkah saintifik yang diintegrasikan
di dalam model belajar yang sesuai dengan tingkat Kompetensi Dasar yang
dipelajari baik berkaitan Kompetensi pengetahuan (KD-3) dan kompetensi
keterampilan (KD-4). Pengalaman belajar Kompetensi pengetahuan dan
Kompetensi keterampilan dilakukan dengan cara menggunakan modus
pembelajaran langsung (direct instructional). Pembelajaran langsung adalah
pembelajaran yang mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan
keterampilan menggunakan pengetahuan peserta didik melalui interaksi
langsung dengan sumber belajar yang dirancang pendidik di dalam RPP.
Dalam pembelajaran langsung peserta didik melakukan kegiatan mengamati,
menanya, mengumpulkan informasi / mencoba, menalar / mengasosiasi, dan
mengomunikasikan. Pembelajaran langsung menghasilkan pengetahuan dan
keterampilan langsung, yang disebut dengan dampak pembelajaran
(instructional effect). Adapun Pembelajaran tidak langsung adalah
pembelajaran yang terjadi selama proses pembelajaran langsung yang
dikondisikan menghasilkan dampak pengiring (nurturant effect).
Pembelajaran tidak langsung berkenaan dengan pengembangan nilai dan
sikap yang terkandung dalam KI-1 dan KI-2.
Pengalaman pembelajaran tidak saja terjadi akibat pengaruh ekternal
terhadap peserta didik seperti guru, tetapi juga terjadi akibat dari itu sendiri
melakukan aktivitas belajar atau self instructionmelalui bahan bacaan,
gambar atau film Ini sejalan dengan yang Gagne (1992 :3) yakni :
Why do we speak of instruction rather than teaching ? It is because we wish
to describe all of the events that may have direct effect on the learning of
human being, not just those set motion by individual who is a teacher.
Instruction may include events that generated by page of print, by a picture,
by a television program, or by combination of physical objects, among other
things. Of course, teacher may play an essential role in arrangement of any of

GEOMETRI 14
MATEMATIKA – MATEMATIKA
these events. Or, as already mentioned, the learners may be able to manage
instructional events themselves.
Walaupun pengalaman pembelajaran lebih banyak menekankan pada
kegiatan peserta didik, tidak berarti peran-peran guru di dalam interaksi
pembelajaran menjadi hilang. Peran guru dalam pengelolaan pembelajaran
bergeser dari guru sebagai sumber belajar menjadi fasilitator. Ini sesuai
dengan pendapat Gagne (1992 :3) yakni “ Instruction is set of event that
effect learners in such a way that learning is facilitated”. Sementara Driscoll
(1994) memaknai pengertian pembelajaran dalam prespektif yang hampir
sama “sebagai rencana atau sementara yang disengaja dari kondisi belajar
untuk meningkatkan pencapaian tujuan yang telah ditentukan.”. Peran guru
dalam pembelajaran disamping berperan sebagai fasilitator juga guru
berperan sebagai perencana dalam kegiatan pengalaman belajar. Baik yang
berkaitan dengan rencana kegiatan peserta didik maupun kegiatannya
sendiri, dalam upaya memberikan petunjuk pada peserta didik untuk
melakukan belajar, sehingga mampu mendeskripsikan apa yang
dipelajarinya.

Agar memudahkan perencanaan pengalaman belajar, pendidik sebagai


perancang pengalaman belajar akan menggunakan tujuan pembelajaran atau
indikator sebagai sebagai representatif dari kompetensi dasar yang diajarkan
dalam bentuk tingkatan gradasi taksonomi.DimanaTaksonomi merupakan
seperangkat prinsip untuk mengklasifikasikan tiga domain dalam perilaku
tujuan hasil belajar yaitu kognitif; afektif dan psikomotor. Ini sejalan dengan
apa yang diutarakan oleh Bloom (1956 : 7 ) “ Our original plans called for a
complete taxonomy in three major parts - the cognitive, the affective, and the
psychomotor domains”. Domain kognitif merupakan berpikir yang
berhubungan dengan sesuatu penomena seperti mengingat atau mengenal
pengetahuan dan manifestasi kemampuan intelektual dan kecakapan;
domain afektif berhubungan dengan minat, prilaku dan nilai; sedangkan
domain psikomotor berhubungan dengan prilaku keterampilan yang komplek
atau pengembangan keterampilan motorik di bengkel berkaitan dengan
pendidikan vokasi. Sementara Gagne (2000:83) membedakan katagori

GEOMETRI 15
MATEMATIKA – MATEMATIKA
perilaku hasil belajar (Outcome behavior) dalam lima klasifikasi yaitu “ The
domains I would distinguish are five, and I ca’l them (1) motor Skill, (2) Verbal
information, (3) intellectual skills, (4) Cognitive Strategies, and (5) attitudes “.
Klasifikasi prilaku hasil belajar dalam keterampilan intelektual (intellectual
skills) merupakan kecakapan yang berfungsi seseorang berinteraksi dengan
lingkungannya melalui penggunaan simbol-simbol atau konsep-konsep yang
merupakan salah satu cara utama seseorang mengingat dan berpikir tentang
dunia dimana mereka hidup. Belajar keterampilan intelektual berarti belajar
bagaimana melakukan sesuatu dari sisi intelektual (Gagne, 1992:43), dan
secara umum apa yang dipelajari tersebut diistilahkan dengan pengetahuan
prosedural atau knowing how, Tingkat keterampilan intelektual seseorang
berkembang sejalan dengan keperhatian dan kemampuan intelektual yang
dimilikinya, dan perbedaan keterampilan intelektual tersebut dapat
diklasifikasikan dari level terendah ke level tinggi, dimana level rendah
merupakan prasyarat untuk mencapai level di atasnya. Gagne (1992 : 55)
membagi tingkat kompleksitas keterampilan Intelektual dari mulai :
Discriminations; Concrete Concepts; Rule and Defined Concepts; Higher
Order Rules; Problem Solving. Tingkatan level tersebut digambarkan seperti
pada Gambar 2 sebagai berikut.

Gambar 1 Tingkatan Keterampilan Intelektual

GEOMETRI 16
MATEMATIKA – MATEMATIKA
x
Strategi kognitif (Cognitive strategies) merupakan keterampilan belajar yang
mengatur belajarnya, mengingat dan berpikir yang diregulasi oleh proses
internal peserta didik. Kemampuan ini dalam istilah teori belajar modern
disebut dengan proses kontrol yakni suatu proses internal yang mana peserta
didik menyeleksi dan memodifikasi cara-caranya dalam menghadirkan
informasi, belajar dan berpikir serta memecahkan masalah. Pengaturan diri
ini dilakukan sebagai metoda yang digunakan seseorang dalam mengontrol
dirinya untuk mendapatkan inti dari permasalahan. Lebih singkatnya Gagne
(1992 : 70) menyatakan strategi kognitif merupakan keterampilan kognitif
untuk memilih dan mengarahkan proses-proses internal dalam belajar dan
berpikir. Dengan demikian strategi kognitif adalah keterampilan peserta didik
mengontrol dirinya sendiri secara internal berkaitan dengan teknik berpikir,
cara menganalisis problem dan pendekatan dalam memecahkan masalah.
Konsep dan aturan-aturan yang menunjuk pada lingkungan objek-objek dan
kejadian-kejadian seperti pernyataan-pernyataan, grafik-grafik, atau rumus
matematis, merupakan objek keterampilan intelektual sedangkanobjek
strategi-strategi kognitif adalah proses-proses kognitif yang dimiliki siswa.
Strategi kognitif yang digunakan siswa dapat menentukan bagaimana ia
belajar, bagaimana ia memanggil kembali dan menggunakan apa yang
dipelajari, dan bagaimana ia berpikir. Berkaitan dengan itu Weinstein dan
Mayer dalam Gagne (1992 : 66 ) membagi strategi kognitif menjadi lima: (1)
strategi- strategi menghafal (rehearsal strategies), strategi-strategi elaborasi
(elaborationstrategies), strategi-strategi pengaturan (organizing strategies),
strategi-strategi pemantauan pemahaman (comprehension monitoring
strategies) atau juga disebut strategi-strategi metakognitif (metacognitive
strategies), dan strategi-strategi afektif (affective strategies).
Informasi verbal (Verbal Information ) atau pengetahuan deklarative, adalah
kemampuan pengetahuan pembelajar untuk menyampaikan suatu fakta atau
kumpulan kejadian melalui lisan , tulisan atau gambar . Kemampuan tersebut
harus ditunjang oleh kemampuan intelektual dalam rangka menempatkan
pernyataan dengan tepat atau peserta didik harus mengetahui bagaimana
dalam membangun kalimat sederhana sehingga peserta didik dapat

GEOMETRI 17
MATEMATIKA – MATEMATIKA
menyampaikan pernyataan yang berkaitan dengan pengetahuan yang
diketahuinya dalam bentuk penyampaian lisan atau tulisan. Kemampuan
yang dipelajari yang memungkinkan peserta didik memiliki kemampuan
menyampaikan ide atau gagasan disebut informasi verbal atau knowing that
or declarative knowledge (R. Gagne, 1985 : 48).
Kemampuan hasil belajar ke empat menurut Gagne merupakan motor skills,
berbentuk motorik dimana peserta didik melakukan keterampilan gerakan
kesatuan yang terorganisir atau tersusun. Kemampuan gerakan yang
teroganisir yang diindikasikan dalam tidakan yang halus; teratur dan waktu
yang tepat merupakan refleksi keterampilan motorik tingkat tinggi ( minimal
tingkat Presisi pada taksonomi keterampilan Dave) dari peserta didik, sebagai
hasil latihan yang terus menerus dalam rentang waktu tertentu. Sehubungan
dengan itu urutan prosedur dari keterampilan motorik harus dipelajari oleh
peserta didik dan biasanya dipelajari bersamaan dengan mempelajari
keterampilan motoriknya itu sendiri. Keadaan itu diistilahkan dengan internal
condition atau juga cara demikian oleh Fitts and Posner dalam R. Gagne
(1985:48) disebut “executive subrutine “ yakni karakter kebiasaan peserta
didik berkaitan apa yang akan dilakukan setelah melakukan. Hal ini berlainan
dengan external condition, yakni urutan prosedur gerak keterampilan motorik
dibentuk melalui periode latihan yang diulang-ulang dengan pemberian
umpan balik yang dilakukan oleh pengajar atau pelatih. Langkah ini akan
meningkatkan kehalusan dan ketepatan waktu dari keterampilan motorik.
Attitude (sikap) merupakan perilaku kemampuan hasil belajar berkaitan
dengan keadaan internal yang mempengaruhi pilihan personal peserta didik.
Keadaan internal yang mempengaruhi tindakan peserta didik sangat
dipengaruhi oleh situasi spesifik dimana tindakan tersebut dilakukan dan juga
ditunjang secara bersamaan melalui pengetahuan dan aspek-aspek
emosional yang dipelajari dalam berbagai cara. Pembentukan kemampuan
tindakan peserta didik sebagai bagian dari sikap dapat dipelajari melalui
bentuk suatu kejadian maupun peniruan dari prilaku tertentu yang diajarkan
oleh pengajar, atau melalui observasi pada model. Apabila sikap diajarkan
melalui imitasi atau model, maka hal terpenting yang perlu diperhatikan yakni

GEOMETRI 18
MATEMATIKA – MATEMATIKA
peserta didik harus respek dan kagum pada prilaku orang yang dijadikan
model tersebut. Lebih lanjut berdasarkan apa yang dipelajarinya, peserta
didik dapat mengekspresikan bentuk tingkah laku yang tepat, sesuai dengan
tujuan yang telah dirumuskan.

Pengembangan pengalaman belajar tingkat memahami


(C2)merupakankemampuanmengonstruksimaknadaripesanpembelajaranbaik
secaralisan, tulisanmaupungrafik. Sekaitan dengan itu pembentukan
pengetahuan deklaratif atau informasi verbal dapat dirancang oleh pendidik
dengan cara peserta didik belajar secara individu dan atau kelompokan untuk
mempelajari yang berkaitan dengan tata letak, bentuk, konsep dan prinsip
kerja berdasarkan gambar diagram dari suatu kompetensi dasar yang di
pelajari. Kegiatan ini dalam kontek saintifik bagaimana peserta didik menggali
informasi baik berdasarkan buku siswa maupun sumber yang lain seperti
searching di internet, observasi pada objek latih yang selanjutnya mereka
dapat saling bertanya di dalam kelompoknya maupun diri sendiri untuk
menguatkan informasi yang didapatnya sehingga mereka dapat
menyampaikan atau menyajikan secara verbal maupun tulisan berkaitan
dengan konsep dan prinsip kerja sebagai pengetahuan deklaratif yang telah
dikonstruk peserta didik.

Pengembangan pengalaman belajar tingkat C3 yaknimenerapkan(apply);


merupakan kemampuan dalam penggunaanprosedurdalamsituasi yang
diberikanatausituasibaru. Pendidik dalam merancang pengalaman belajar
membentuk kemampuan peserta didik dalam perkembangan berfikir
penerapan dapat dilakukan dengan membentuk hasil belajar strategi kognitif
(Cognitive strategies) yang merupakan keterampilan belajar yang mengatur
belajarnya, mengingat dan berpikir yang diregulasi oleh proses internal
peserta didik. Guru sebagai perancang pengajaran harus memberikan
pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik dapat menerapkan
pengetahuan yang telah dimilikinya seperti konsep dan prinsip dapat
diaplikasikan berkaitan dengan pemeriksaan fungsi kerja dari sistem yang
menggunakan konsep atau prinsip kerja tersebut. Kegiatan pengalaman

GEOMETRI 19
MATEMATIKA – MATEMATIKA
belajar pada tahapan ini merupakan kelanjutan dari pengalaman belajar
Memahami (C2) yang lebih lanjut peserta melalui langkah pengumpulan data
(ekperiment) melakukan pengukuran dengan menggunakan konsep atau
prinsip kerja yang telah dimilikinya terhadap sistem yang diperiksa. Pada
pengalaman belajar ini peserta didik dapat mengembangkan berfikir skematik
untuk menentukan dari mana pemeriksaan dilakukan.

6. Pengembangan Pengalaman Belajar Menganalisis dan Evaluasi


Pengembangan pengalaman belajar tingkat C4 yakni analisis merupakan
penguraian materi ke dalam bagian-bagian dan bagaimana bagian-bagian
tersebut saling berhubungan satu sama lainnya dalam keseluruhan struktur.
Adapun pengalaman belajar mengevaluasi(C5); merupakan kemampuan
membuat keputusan berdasarkan kriteria dan standar. Pengalaman belajar
tingkat analisis dan evaluasi dapat menggunakan model pembelajaran
berbasis masalah atau pemecahan masalah, dimana pendidik dapat
menggunakan problem sebagai pemotivasi belajar peserta didik yang lebih
lanjut membentuk peserta didik sebagai pemecah masalah. Pengalaman
belajar memecahkan masalah dapat dilakukan jika peserta didik telah
memiliki pengalaman belajar pada tingkat C2 dan C3 sebagai prerequesit
yang memungkinkan terbentuknya pengalaman belajar menganalisis dan
evaluasi.

Sebagai contoh langkah-langkah pengembangan pengalaman belajar pada


keahlian otomotif dapat dilakukan sebagai berikut:
a) Mengidentifikasi dan Merumuskan masalah
 Peserta didik memperhatikan permasalahan yang disampaikan pendidik
mengenai gangguan (fault) yang terjadi pada kendaraan (mobil) ketika
saat digunakan.
 Peserta didik melakukan observasi pada objek latih (training object)
 Peserta didik mendiskusikan dalam kelompok tentang masalah yang
terjadi pada kendaraan.
 Pendidik menstimulus dengan pertanyaan pemandu mengapa terjadi
gangguan, apa akibat jika pengemudi membiarkan gangguan tersebut

GEOMETRI 20
MATEMATIKA – MATEMATIKA
dan apa yang harur diketahui untuk dapat mengidentifikasi gangguan
pada masalah yang dibahas.
 Peserta didik melakukan penggalian informasi berkaitan dengan konsep
dan prinsip dari Kompetensi Dasar yang dipelajari dari modul yang
disiapkan pendidik
 Peserta didik melakukan pertanyaan didalam kelompok berkaitan dengan
faktor-faktor kemungkinan penyebab gangguan dan melakukan tutorial
sebaya
 Peserta didik merumuskan kemungkinan penyebab utama gangguan
pada sistem yang ada pada kendaraan

b) Mengembangkan kemungkinan penyebab, mendiagnosa, melakukan


tindakan perbaikan berdasarkan penentuan letak gangguan, dan
melakukanpengayaan berdasarkan perkembangan teknologi
 Pendidik memberikan pertanyaan pemandu bagaimana cara menentukan
kemungkinan penyebab yang sistimatis dan dari mana memulainya.
 Pendidik membimbing (tutorial kelompok) peserta didik dalam
mengembangkan alur atau schemata cara menentukan kemungkinan
penyebab gangguan berdasarkan aliran listrik.
 Berdasarkan penggalian informasi dan diskusi peserta didik dalam
kelompok mengembangkan alur cara menentukan kemungkinan
penyebab gangguan.
 Setiap siswa menyampaikan pedapatnya dalam kelompok tentang cara
menelusuri letak masalah beserta alasannya.
 Pendidik menanyakan langkah awal cara memeriksa dalam menentukan
letak gangguan serta memeriksa hubungan antara komponen baik
secara manual maupun alat ukur.
 Peserta didik mengobservasi pada sistem kemungkinan-kemungkinan
gangguan dan menyampaikan hasil observasi berdasarkan fakta.
 Peserta didik memeriksa secara manual dan dengan alat ukur hubungan
antar komponen serta menyampaikan hasil pemeriksaannya pada
kelompok luas berdasarkan fakta hasil pengukuran.

GEOMETRI 21
MATEMATIKA – MATEMATIKA
 Peserta didik melakukan diagnosa dengan menganalisis hasil-hasil
pemeriksaan, menyimpulkan letak gangguan dan menentukan
kemungkinan kerusakan serta solusi perbaikannya.
 Peserta didik menyampaikan simpulan letak gangguan pada kelompok
besar dan menanggapi pertanyaan berdasarkan konsep, prinsip dan
hasil pemeriksaan
 Pendidik menanyakan langkah-langkah perbaikan dan melakukan
bimbingan pada peserta didik berkaitan pelaksanaan perbaikan
komponen.
 Peserta didik melakukan pembongkaran, penggantian komponen dan
perakitan kembali sistem dengan panduan service manual.
 Pendidik menstimulus dengan pertanyaan pemandu pada peserta didik
berkaitan dengan pengayaan materi sesuai dengan perkembangan
teknologi yang diterapkan pada sistem dewasa ini
 Peserta didik menggali informasi dari hand out yang diberikan pendidik
berkaitan dengan konstruksi dan prinsip kerja serta mengobservasi
komponen.
 Peserta didik mendiskusikan perbedaan konstruksi dan prinsip kerja
dengan tipe konvensional, mempresentasikan prinsip kerja dan kelebihan
dari teknologi baru serta kemungkinan gangguan dan cara
mengatasinya.

c) Mengevaluasi hasil solusi masalah dan konfirmasi pemecahan


masalah
 Peserta didik melakukan evaluasi terhadap perakitan dan perbaikan
berdasarkan SOP dengan menguji performan sistem tanpa beban di luar
kendaraan serta mengetes dengan beban yang berbeda-beda pada
kendaraan dengan didampingi pendidik.
 Pendidik memberikan stimulus melalui pertanyaan pemandu, apa yang
peserta didik sarankan kepada user apabila sistem mengalami kerusakan
pada komponen utama.

GEOMETRI 22
MATEMATIKA – MATEMATIKA
 Peserta didik menyampaikan pandangannya berkaitan dengan
kerusakan pada komponen utama dan solusi perbaikannya sesuai SOP
dan harga keekonomisan.
 Peserta didik melakukan refleksi terhadap perbaikan sistem yang
mengalami gangguan pada kendaraan.

7. Memilih Model Perancangan Belajar Konstruksivisme


Pada Kurikulum 2013 dikembangkan 3 (tiga) model pembelajaran utama
yang diharapkan dapat membentuk perilaku saintifik, perilaku social dan
perilaku yang mengembangkan rasa keingintahuan. Ketiga model tersebut
adalah: model Pembelajaran Berbasis Masalah(Problem Based Learning),
model Pembelajaran Berbasis Projek (Project Based Learning) dan model
Pembelajaran Melalui Penyingkapan/Penemuan(Discovery/Inquiry Learning).
Tidak semua model pembelajaran tepat digunakan untuk semua KD/materi
pembelajaran. Model pembelajaran tertentu hanya tepat digunakan untuk
materi pembelajaran tertentu pula. Demikian sebaliknya mungkin materi
pembelajaran tertentu akan dapat berhasil maksimal menggunakan model
pembelajaran tertentu. Untuk itu guru harus menganalisis rumusan
pernyataan setiap KD, apakah cenderung pada pembelajaran penyingkapan
(Discovery/Inquiry Learning) atau pada pembelajaran hasil karya (Problem
Based Learning dan Project Based Learning). Di bawah ini diberikan rambu-
rambu cara memilih model pembelajaran dari Kompetensi Dasar yang akan
diajarkan.
Rambu-rambu penentuan model penyingkapan/penemuan:
a. Pernyataan KD-3 dan KD-4 mengarah ke pencarian atau penemuan;
b. Pernyataan KD-3 lebih menitikberatkan pada pemahaman pengetahuan
faktual, konseptual, dan procedural; dan
c. Pernyataan KD-4 pada taksonomi mengolah dan menalar.
Rambu-rambu penemuan model hasil karya(Problem Based Learning dan
Project Based Learning):
a. Pernyataan KD-3 dan KD-4 mengarah pada hasil karya berbentuk jasa
atau produk;
b. Pernyataan KD-3 pada bentuk pengetahuan metakognitif;

GEOMETRI 23
MATEMATIKA – MATEMATIKA
c. Pernyataan KD-4 pada taksonomi menyaji dan mencipta, dan
d. Pernyataan KD-3 dan KD-4 yang memerlukan persyaratan penguasaan
pengetahuan konseptual dan prosedural.

Setiap model pembelajaran memiliki urutan langkah kerja(syntax) yang dapat


diuraikan sebagai berikut.
a. Model Pembelajaran Penyingkapan (Penemuan dan pencarian /
penelitian)
Model Discovery Learning adalah memahami konsep, arti, dan
hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu
kesimpulan (Budiningsih, 2005:43). Discovery terjadi bila individu terlibat,
terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan
beberapa konsep dan prinsip.
Discovery dilakukan melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi,
penentuan dan inferi. Proses tersebut disebut cognitive process
sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilating
concepts and principles in the mind (Robert B. Sunddalam Malik,
2001:219).
1) Sintaksis model Discovery Learning
a) Pemberian rangsangan(Stimulation);
b) Pernyataan/Identifikasi masalah(Problem Statement);
c) Pengumpulan data (Data Collection);
d) Pembuktian (Verification), dan
e) Menarik simpulan/generalisasi (Generalization).

2) Sintaksis model Inquiry Learning Terbimbing


Model pembelajaran yang dirancang membawa peserta didik dalam
proses penelitian melalui penyelidikan dan penjelasan dalam setting
waktu yang singkat (Joice&Wells, 2003).
Merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal
seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu
secara sistematis kritis dan logis sehingga mereka dapat merumuskan
sendiri temuannya.

GEOMETRI 24
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Sintaksis/tahap model inkuiri terbimbing meliputi:

a) Orientasi masalah;
b) Pengumpulan data dan verifikasi;
c) Pengumpulan data melalui eksperimen;
d) Pengorganisasian dan formulasi eksplanasi, dan
e) Analisis proses inkuiri.

b. Model Pembelajaran Hasil Karya Problem Based Learning (PBL)


Model tersebut merupakan pembelajaran yang menggunakan berbagai
kemampuan berpikir dari peserta didik secara individu maupun kelompok
serta lingkungan nyata untuk mengatasi permasalahan sehingga
bermakna, relevan dan kontekstual (Tan Onn Seng, 2000).
Tujuan PBL adalah untuk meningkatkan kemampuan dalam menerapkan
konsep-konsep pada permasalahan baru/nyata, pengintegrasian konsep
High Order Thinking Skills (HOTS), keinginan dalam belajar,
mengarahkan belajar diri sendiri dan keterampilan (Norman and
Schmidt).
1) Sintaksis model Problem Based Learning dari Bransford and Stein
(dalam Jamie Kirkley, 2003:3) terdiri atas:
a) Mengidentifikasi masalah;
b) Menetapkan masalah melalui berpikir tentang masalah dan
menseleksi informasi-informasi yang relevan;
c) Mengembangkan solusi melalui pengidentifikasi alternatif-
alternatif, tukar-pikiran dan mengecek perbedaan pandang;
d) Melakukan tindakan strategis, dan
e) Melihat ulang dan mengevaluasi pengaruh-pengaruh dari solusi
yang dilakukan.
2) Sintaksis model Problem Solving Learning JenisTrouble Shooting
(David H. Jonassen, 2011:93) terdiri atas:
a) Merumuskan uraian masalah;
b) Mengembangkan kemungkinan penyebab;
c) Mengetes penyebab atau proses diagnosis, dan

GEOMETRI 25
MATEMATIKA – MATEMATIKA
d) Mengevaluasi.

c. Model pembelajaranProject Based Learning (PjBL).


Pembelajaran otentik menggunakan proyek nyata dalam kehidupan yang
didasarkan pada motivasi yang tinggi, pertanyaan yang menantang,
tugas-tugas atau permasalahan untuk membentuk penguasaan
kompetensi yang dilakukan secara kerjasama dalam upaya memecahkan
masalah (Barel, 2000 and Baron 2011).
Tujuan PjBL adalah meningkatkan motivasi belajar, team work,
keterampilan kolaborasi dalam pencapaian kemampuan akademik level
tinggi/taksonomi tingkat kreativitas yang dibutuhkan pada abad 21 (Cole
&Wasburn Moses, 2010).
Sintaksis/tahapan model pembelajaranProject Based Learning, meliputi:
1) Penentuan pertanyaan mendasar(Start with the Essential Question);
2) Mendesain perencanaan proyek;
3) Menyusunjadwal(Create a Schedule);
4) Memonitor peserta didik dan kemajuan projek (Monitor the Students
and the Progress of the Project);
5) Menguji hasil(Assess the Outcome), dan
6) Mengevaluasi pengalaman (Evaluate the Experience).

8. Pembuatan Model Perancangan Pengalaman Belajar

Untuk memudahkan langkah pemaduan/pensinkronan pendekatan dengan


model pembelajaran yang dipilih atas dasar hasil analisis, dapat
menggunakan matrik perancah sebagai pertolongan sebelum dituliskan
menjadi kegiatan inti pada RPP. Pemaduan atau pensinkronan antara
langkah-langkah pendekatan saintifik dan sintaksis (langkah kerja) model
pembelajaran dilakukan sebagai berikut.
1. Pilih pasangan KD-KD dari mata pelajaran yang diampu sesuai dengan
silabus.
2. Rumuskan IPK dari KD3 dan dari KD4 sesuai dengan dimensi proses
atau level pengetahuan dan dimensi kategori pengetahuan dan

GEOMETRI 26
MATEMATIKA – MATEMATIKA
keterampilan yang terkandung di masing-masing KD. Setiap KD minimal
memiliki 2 (dua) indikator.

3. Petakan pemilihan model pembelajaran sesuai KD dengan


mempertimbangkan rambu-rambu pemilihan model pembelajaran.

4. Pilih model pembelajaran sesuai KD dengan mempertimbangkan rambu-


rambu pemilihan model pembelajaran.

Contoh :

Matrik Perancah Pemaduan Sintaksis Model Pembelajaran Problem


Based Learning dan Pendekatan Saintifik pada Mapel Kelistrikan Alat
Berat
KI 3. Memahami, menerapkan, menganalisi, dan mengevaluasi pengetahuan
faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalam ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan
kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait
penyebab fenomena dan kejadian dalam bidang kerja yang spesifik untuk
memecahkan masalah.
KI 4. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan
ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di
sekolah secara mandiri, dan mampu melaksanakan tugas spesifik
dibawah pengawasan langsung

GEOMETRI 27
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GEOMETRI 28
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GEOMETRI 29
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GEOMETRI 30
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GEOMETRI 31
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GEOMETRI 32
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GEOMETRI 33
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GEOMETRI 34
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GEOMETRI 35
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GEOMETRI 36
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GEOMETRI 37
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GEOMETRI 38
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GEOMETRI 39
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GEOMETRI 40
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GEOMETRI 41
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GEOMETRI 42
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GEOMETRI 43
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Aktivitas Pembelajaran
Guna mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, maka aktivitas yang
harus Anda kerjakan adalah sebagai berikut.

Aktivitas 1 :Konsep Pembalajaran konstruktivisme.


Untuk merancang pengalaman belajar berdasarkan tuntutan kurikulum 13 atau
yang diistilahkan dengan kurnas, sebaiknya Anda perlu memahami terlebih
dahulu tentang pendekatan pembelajarankonstruktivisme.

Lembar Kerja (LK) 1


Masih ingatkah anda pada filisofi yang mendasari pembelajaran konstruktivisme.
Jelaskan pendapat anda.
Jawaban .............................................................................................................
...........................................................................................................................
............................................................................................................................

Aktivitas 2 : Pertimbangan dalam mengembangkan pengalaman belajar.


Aktivitas peserta didik dengan lingkungan yang dibutuhkan untuk mencapai
tujuan pembelajaran tentang apa yang akan dan telah diinteraksikan dalam
proses pembelajaran kita kenal dengan pengalaman belajar.

Lembar Kerja (LK) 2


Kemukakanlah pertimbangan-pertimbangan apa yang harus anda lakukan
sebagai pendidik, di dalam menentukan pengalaman belajar sesuai dengan
Kompetensi dasar dari mata pelajaran yang diampu berdasarkan pendekatan
konstruktivisme.
Jawaban...................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
...............................................................................................................................

GEOMETRI 44
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Aktvitas 3: Prinsip-prinsip Pengalaman Belajar.
Pada pendekatan konstruktivisme, pengembangan pengalaman belajar harus
berkenaan dengan kesempatan yang diberikan kepada peserta didik untuk
mengkonstruksikan pengetahuannya dalam proses kognitifnya.Untul itu agar
peserta didik memahami dan dapat menerapkan pengetahuannya maka pendidik
perlu mendorong peserta didik untuk belajar memecahkan masalah, menemukan
segala sesuatu untuk dirinya dan berupaya keras untuk mewujudkan ide-
idenya.

Lembar Kerja (LK) 3


Berkaitan dengan hal di atas, diskusikanlah dari kasus hasil observasi pada
supervisi akademik oleh guru yang ditugaskan oleh kepala sekolah, dari hasil
supervisi ditemukan guru memberikan pengalaman belajar untuk pembentukan
pengalaman belajar memahami dengan cara menjelaskan prinsip kerja dari
wiring diagram suatu proses,setelah itu guru melakukan tanya jawab. Dari kasus
tersebut apakah guru yang mengajar telah menggunakan prinsip pembentukan
pengalaman belajar konstruktivisme sesuai tuntutan kurikulum SMK 2013, apa
yang seharusnya anda sarankan kepada guru yang mengajar tersebut.
Jawaban...................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
...............................................................................................................................

Aktivitas Pembelajaran 4 : Tahapan Pengembangan Pengalaman Belajar.


Perancangan pengalaman belajar dibuat harus mengikuti standar proses
(Permendikbud No. 65 Tahun 2013) dan Petunjuk Pembelajaran Permendikbud
No. 103 Tahun 2014. Pada Kurikulum 13 pengembangan pengalaman belajar
dilakukan dengan menggunakan pendekatan saintifik atau pendekatan berbasis
keilmuan dengan langkah meliputi mengamati, menanya, mengekperimen,
menganalisis dan mengkomunikasikan.

GEOMETRI 45
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Lembar Kerja (LK) 4
Berikut ini anda diminta untuk mencermati deskripsi tentang langkah- langkah
pembentukan pengalaman belajar, selanjutnya berdasarkan informasi di atas,
diskusikan tahapan pengembangan pengalaman belajar dan langkah-
langkahnya menurut tuntutan kurikulum 2013.
Jawaban...................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
...............................................................................................................................

Aktivitas Pembelajaran 5 :Pengembangan Pengalaman Belajar Memahami


(C2) dan Penerapan (C3).
Pengalaman belajar untuk kompetensi pengetahuan dan keterampilan dilakukan
dengan cara menggunakan modus pembelajaran langsung.Untuk memudahkan
perencananaan pengalaman belajar, pendidik akan menggunakan tujuan
pembelajaran atau indikator pencapaian kompetensi sebagai representatif dari
kompetensi dasar yang diajarkan dalam tingkatan gradasi taksonomi. Galilah
informasi yang berkaitan dengan materi tersebut.

Lembar Kerja (LK) 5


Selanjutnya anda diminta untuk mengembangkan pengalaman belajar
pembentukan perkembangan berpikir C2 danC3 peserta didik dari mata
pelajaran yang anda ampu dengan menggunakan pendekatan saintifik.
Jawaban...................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
...............................................................................................................................

GEOMETRI 46
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Aktivitas Pembelajaran 6 : Pengembangan Pengalaman Belajar
Menganalisis (C4) dan Evaluasi (C5).
Perancangan Pengalaman belajar tingkat analisis dan evaluasi dapat
menggunakan model pembelajaran berbasis maslah. Galilah informasi yang
berkaitan dengan materi tersebut diatas.

Lembar Kerja (LK) 6


Selanjutnya anda diminta untuk mencermati contoh perancangan pengalaman
belajar melalui model pemecahan masalah, dan berikan pendapat tentang
perkembangan berpikir apayang dapat dibentuk melalui model belajar tersebut.
Jawaban...................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
...............................................................................................................................

Aktivitas Pembelajaran 7 : Memilih Model Perancangan Pengalaman Belajar


Konstruksivisme.
Terdapat 3 model pembelajaran yang diharapakan dapat membentuk perilaku
saintifik, sosial, dan perilaku yang dapat mengembangkan rasa keingintahuan.
Model pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran berbasis masalah,
model pembelajaran berbasis project, dan model pembelajaran peyingkapan /
penemuan. Penentuan setiap model harus berdasarkan rambu-rambu yang telah
ditetapkan.

Lembar Kerja (LK) 7


Selanjutnya tentukan model pembelajaran dari KD mata pelajaran yang anda
ampu dengan menggunakan tabel di bawah ini.Terapkanlahberdasarkan kriteria
pemilihan model.

GEOMETRI 47
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Penentuan Model Pembelajaran Mata Pelajaran

No. Kompetensi Dasar Model Pembelajaran Keterangan

Aktivitas Pembelajaran 8:Pembuatan Model Perancangan Pengalaman


Belajar.
Untuk memudahkan pembuatan model perancangan pengalaman belajar, anda
perlu memahami tentang langkah pensinkronan pendekatan dengan model
pembelajaran yang dipilih berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan
matrik perancah sebagai pertolongan sebelum dituliskan pada kegiatan inti pada
rencana pelaksanaan pembelajaran. Galilah informasi materi tersebut.

Lembar Kerja (LK) 8


Selanjutnya buatlah matrik pemandu model pembelajaran dengan pendekatan
saintifik dari pasangan KD 3 dan KD 4 pada mata pelajaran yang anda ampu.
Jawaban...................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
...............................................................................................................................

GEOMETRI 48
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Latihan
Petunjuk; jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat.
1. Aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan
merupakan hasil bentukan dari konstruksi kita sendiri disebut ....................
2. Pendekatan belajar konstruktivisme adalah..................................
3. Aktivitas peserta didik dengan lingkungan yang dibutuhkan untuk mencapai
tujuan pembelajaran tentang apa yang akan dan telah diinteraksikan dalam
pembelajaran disebut..................................
4. Pengembangan pengalaman belajar ditentukan berdasarkan kesesuaian
dengan jenis materi pembelajaran maksudnya ....................
5. Pengembangan pengalaman belajar disusun berdasarkan prinsip aktivitas
dan individualitas artinya ..................................................
6. Prinsip-prinsip pengembangan pengalaman belajar menurut permendiknas
no. 103 tahun 2014 adalah ...........................................
7. Menurut kurikulum nasional merancang pengalaman belajar menggunakan
pendekatan saintifik dengan langkah mengamati, menanya, mencoba,
menganalisis, dan mengkomunikasikan. Deskripsikanlah langkah
pembentukan pengalaman belajar untuk langkah menanya.
.....................................
8. Empat prinsip yang harus diperhatikan dalam mengembangkan pengalaman
belajar adalah ................
9. Pengalaman belajar menurut taksonomi Bloom menggunakan modus
pembelajaran langsung. Jelaskanlah.
10. Pengembangan pengalaman belajar untuk level memahami adalah
.........................
11. Pengembangan pengalaman belajar untuk level menerapkan adalah
.........................
12. Pengembangan pengalaman belajar untuk level menganalisis adalah
.........................
13. Pengembangan pengalaman belajar untuk level mengevaluasi adalah
.........................

GEOMETRI 49
MATEMATIKA – MATEMATIKA
14. Pengalaman belajar harus sesuai dengan karakteristik siswa dimana kondisi
dan karakteristik siswa harus memperhatikan .................
15. Upaya guru dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk
merefleksikan pengalaman belajar yang telah dialami yang paling optimal
adalah dengan cara ........

Rangkuman
1. Konstruktivisme merupakan salah satu aliran filsafat pengetahuan yang
menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil bentukan(konstruksi)
kita sendiri.
2. Pembelajaran konstruktivisme adalah pembelajaran yang menjadikan
seseorang secara aktif membangun pengetahuan dan pemahaman dengan
mensintesiskan pengetahuan yang telah dimilikinya menjadi pengetahuan
baru.
3. Pengetahuan merujuk pada pengalaman sesorang akan dunia, tetapi bukan
dunia itu sendiri. Tanpa pengalaman seseorang tidak dapat membentuk
pengetahuan. Pengalaman tidak hanya diartikan sebagai pengalaman fisik,
tetapi juga pengalaman kognitif mental.
4. Pengalaman belajar merupakan aktifitas peserta didik dengan lingkungannya
yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.
5. Pengalaman belajar ditentukan berdasarkan pertimbangan–pertimbangan
yang meliputi kesesuaian dengan tujuan dari kompetensi dasar, jenis bahan /
materi pembelajaran, ketersedian sumber belajar, karakteristik siswa dan
model pembelajaran.
6. Pengembangan pengalaman belajar berdasarkan pada prinsip- prinsip yaitu
berorintasi pada tujuan, aktivitas, individualitas dan integritas.
7. Tahapan pengembangan pengalaman belajar menurut Permendiknas No.
103 tahun 2014 dibagi menjadi tiga tahap yaitu pra instruksional
(pendahuluan), tahap instruksional (inti) dan tahap tindak lanjut, sedangkan
pengalaman belajar dirancang guru terletak pada kegiatan instruksional atau
kegiatan inti.

GEOMETRI 50
MATEMATIKA – MATEMATIKA
8. Langkah-langkah pendekatan saintifik meliputi kegiatan mengamati,
menanya, mencoba / mengeksperimen, menganalisis, dan
mengkomunikasikan.
9. Dalam mengimplementasikan pendekatan saintifik dapat menggunakan
beberapa strategi seperti pendekatan kontektual diantaranya discovery
learning, project based learning, problem based learning dan inquary
learning.
10. Pengembangan pengalaman belajar memahami ( C2 ) dan menerapan (C3 )
menggunakan modus pembelajaran langsung ( direct instructional ) dan
pembelajaran tidak langsung ( indirect instructionnal ). Pendekatan langsung
diartikan pembelajaran yang mengembangkan pengetahuan perserta didik
melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam
RPP. Sedangkan pembelajaran tak langsung artinya pembelajarn yang terjadi
selama proses pembelajaran langsung yang dikondisikan menghasilkan
dampak pengiring.
11. Pengembangan pengalaman belajar tingkat pemahaman merupakan
kemampuan mengkontruksi makna dari pesan pembelajaran baik secara
lisan, tulisan maupun grafik. Sedangkan pengembangan pengalaman belajar
penerapan merupakan kemampuan dalam penggunaan prosedur dalam
situasi yang diberikan atau situasi baru.
12. Pengembangan Pengalaman Belajar ranah ‘Menganalisis’ dan ‘Evaluasi’
a. Pengembangan pengalaman belajar ranah ‘Menganalisis’
Pengembangan pengalaman belajar tingkat C4 yakni analisis merupakan
penguraian materi ke dalam bagian-bagian dan bagaimana bagian-
bagian tersebut saling berhubungan satu sama lainnya dalam
keseluruhan struktur.
b. Pengembangan Pengalaman Belajar Ranah Evaluasi Pengalaman
belajar mengevaluasi (C5); merupakan kemampuan membuat keputusan
berdasarkan kriteria dan standar.
13. Memilih Model Perancangan Belajar Konstruksivisme

GEOMETRI 51
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Penentuan model perancangan pengalaman belajar konstruktivisme harus
mengikuti kriteria karena masing-masing model pembelajaran memiliki urutan
langkah kerja (syntax) tersendiri.
14. Pembuatan model perancangan belajar
Untuk memudahkan pembuatan model perancangan belajar dapat
menggunakan langkah pemaduan/pensinkronan pendekatan dengan model
pembelajaran yang dipilih atas dasar hasil analisis, dapat menggunakan
matrik perancah sebagai pertolongan sebelum dituliskan menjadi kegiatan inti
pada RPP.

Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Tuliskan umpan balik Anda dengan mencermati aspek- aspek yang terdapat dalam
format di bawah ini.
Nama :
Topik Pembelajaran:
Nama Diklat :
Tanggal Pelaksanaan:
No. Aspek Deskripsi
Yang telah dipahami dari
1
materi ini.

Yang belum dipahami dari


2
materi ini.
Manfaat materi ini terhadap
3
tugas di sekolah.
Apa rencana yang saudara
4 akan lakukan untuk
menerapkan materi ini
Aspek menarik apa yang
5 saudara temukan dari
materi ini

GEOMETRI 52
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Mengacu pada hasil umpan balik di atas, sebagai tindak lanjut dari pembelajaran
materi ini. Anda diharapkan melaksanankan kegiatan pada point latihan.

GEOMETRI 53
MATEMATIKA – MATEMATIKA
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2
Kegiatan Belajar 2 : Pemilihan Materi Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran
Melalui penggalian informasi, diskusi dan latihan yang dirancang pada modul ini
peserta dapat:
1. Mengklasifikasi berbagai bentuk dimensi pengetahuan sesuai informasi pada
modul secara tepat dan teliti
2. Menentukan dimensi pengetahuan dari KD-3 pada silabus mata pelajaran
yang di ampu sesuai kaidah taksonomi secara tepat dan teliti
3. Memilih materi pembelajaran. sesuai kaidah taksonomi secara tepat dan teliti

Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Menjelaskan pembagian materi menurut Schulman
2. menjelaskan berbagai bentuk dimensi pengetahuan.
3. Menentukan bentuk pengetahuan dari rumusan KD-3
4. Menganalisis hubungan KD-3 dengan bentuk pengetahuan dan kategori
tingkatan berfikir
5. Menjelaskan prinsip-prinsip dalam memilih materi pembelajaran

Uraian Materi
Pengembangan kurikulum SMK yang digunakan tahun 2006 maupun Kurikulum
2013 menggunakan pendekatan kompetensi, dimana kompetensi menurut
Whiddett dan Sarah Hollyforde (1999:5) “ An ability based on work tasks or job
outputs tends to be referred to as a competence”. Merujuk pada pengertian
tersebut kurikulum SMK berisikan rumusan-rumusan kemampuan atau
Kompetensi Dasar baik pengetahuan, keterampilan maupun sikap yang harus
dikuasai peserta didik. Perumusan Kompetensi Dasar pada kurikulum 2013
menggunakan tingkatan gradasi sesuai tuntutan Kompetensi Inti (Ki), dari
rentang memahami (C2) hingga evaluasi (C5) sebagai bentuk cognitive process
dimension. Untuk mencapai kemampuan tersebut diperlukan pengalaman

GEOMETRI 54
MATEMATIKA – MATEMATIKA
belajar-pengalaman belajar yang memungkinkan perkembangan berfikir dan
perkembangan keterampilan sesuai dengan tuntutan rumusan Kompetensi
Dasar. Hal lain pada rumusan Kompetensi Dasar juga berisi bentuk
pengetahuan, yang terbagi menjadi dua jenis seperti menurut Shulman,1987
pada A Taxonomy for Learning (Anderson,2001:13) “Content knowledge and
paedagogical content knowledge” yakni substansi mata pelajaran (content
knowledge) seperti deret ukur pada matematika, hukum archimides pada fisika
dan bentuk pengetahuan itu sendiri yang diistilahkan knowledge dimension.
Bentuk pengetahuan terdiri dari tingkatan isi materi dari bentuk pengetahuan
fakta, konsep, prosedural dan metakognitif. Untuk itu pendidik sebagai
pengembang pengalaman pembelajaran tidak saja dia mampu merancang
pengalaman belajar berdasarkan perkembangan berfikir peserta didik (Cognitive
process dimenssion), tetapi lebih jauh juga dapat menentukan bentuk
pengetahuan (knowledge dimension) yang bagaimana yang perlu peserta didik
capai sesuai tuntutan Kompetensi Dasar atau Indikator Pencapaian Kompetensi
(IPK) yang telah dirumuskan.

1. Bentuk Materi (Knowledge Dimension)


Terdapat pemilihan bentuk materi pada taksonomi Bloom yang diperbaiki
Anderson menjadi empat (4) tipe dan dapat membantu anda sebagai guru
membedakan bentuk-bentuk pengetahuan apa yang harus diajarkan. Adapun
bentuk pengetahuan tersebut terdiri dari bentuk pengetahuan faktual;
konseptual; prosedural dan metakognitif.
a. Bentuk pengetahuan Faktual
yakni pengetahuan terminologi atau pengetahuan detail yang spesifik
dan elemen.Contoh fakta bisa berupa kejadian atau peristiwa yang dapat
dilihat, didengar, dibaca, atau diraba. Seperti Engine mobil hidup, lampu
menyala, rem yang pakem/blong. Contoh lain: simbul musik, Arsip dan
dokumen.
b. Bentuk pengetahuan Konseptual
merupakan pengetahuan yang lebih kompleks yang merupakan
hubungan dari sejumlah elemen sebagai sistem yang memungkinkan

GEOMETRI 55
MATEMATIKA – MATEMATIKA
bekerja saling berhubungan berbentuk klasifikasi, kategori, prinsip dan
generalisasi serta teori. Contohnya fungsi kunci kontak pada Engine
mobil, prinsip kerja starter, prinsip kerja lampu, prinsip kerja rem. Contoh
lain: Pengertian Arsip dan dokumen, teori evolusi serta strutur DPR.
c. Bentuk pengetahuan Prosedural
merupakanpengetahuan bagaimana melakukan sesuatu, metoda
pencarian dan termasuk pengetahuan keterampilan, algoritma (urutan
langkah-langkah logis pada penyelesaian masalah yang disusun secara
sistematis), teknik, dan metoda seperti langkah-langkah membongkar
engine, langkah-langkah mengganti lampu, langkah-langkah mengganti
sepatu rem. Contoh lain: Langkah-langkah menyusun arsip sistem
alphabet dan geografik, teknik interviu.
d. Bentuk pengetahuan Metakognitif
yaitu pengetahuan tentang kognisi (pengetahuan tentang mental proses
yang berhubungan dengan mengetahui dan memahami) yang
merupakan tindakan atas dasar suatu pemahaman meliputi kesadaran
dan pengendalian berpikir, serta penetapan keputusan tentang sesuatu.
Sebagai contoh menentukan kerusakan pada engine, Merancang
instalasi kelistrikan lampu, menentukan penyebab kegagalan panen.
Contoh lain: Apa yang terjadi jika penyimpanan arsip tidak tepat, menilai
kelemahan dan kekuatan cerpen.

2. Hubungan bentuk pengetahuan dengan Dimensi Proses Kognitif


Perencanaan pembelajaran merupakan salah satu tugas yang harus
dilakukan oleh seorang guru dalam melaksanakan tugas profesinya. Untuk
melakukan itu guru terlebih dahulu harus menganalisis Kompetensi Dasar
yang akan diajarkan, yakni berkaitan dengan kedudukan pernyataan KD-3
berada pada tahapan gradasi mana, demikian pula berkaitan dengan KD-4
apakah pernyataannya dominan berbentuk keterampilan abstrak atau
dominan keterampilan konkrit. Pemahaman guru terhadap hal tersebut akan
memudahkan guru dalam mengembangkan indikator pencapaian kompetensi
dan lebih lanjut mengembangkan tujuan pembelajaran.

GEOMETRI 56
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Perumusan tujuan sangat tergantung pada tingkat gradasi yang digunakan
pada penentuan indikator (kata kerja operasional) oleh guru terhadap
tuntutan dari pernyataan Kompetensi Dasar yang akan diajarkan. Ini
selanjutnya memiliki hubungan antara bentuk pengetahuan dengan dimensi
proses kognitif (C-1 s.d C-6). Ini sejalan dengan yang diutarakan oleh
Anderson pada A Revision of Bloom’s Taxonomy of Education Objective
(2001:107) “For objective that involve remember, understanding, and apply,
there generally is a direct correspondence between process catagory and
type of knowledge”. Peserta didik yang dapat menyebutkan sesuatu maka dia
akan mengingat (C-1) bentuk pengetahuan fakta. Lebih jelasnya hubungan
tersebut diuraikan pada tabel 1.

No Perkembangan Bentuk Pengetahuan Keterangan


Berfikir taksonomi (Knowledge Dimension)
Bloom Rivised
Anderson (Cognitive
Process Dimension)
1 Mengingat (C1) Pengetahuan Faktual Lower Order
2 Menginterprestasi Pengetahuan Konseptual Thinking (LOT)
prinsip (Memahami/C2)
3 Menerapkan (C3) Pengetahuan prosedural
4 Menganalisis (C4); Pengetahuan Metakognitif Higher Order
Mengevaluasi (C5) dan Thinking (HOT’s)
Mengkreasi(C6)

3. Memilih Materi Pembelajaran (content knowledge)


Materi pembelajaran harus dipilih dengan tepat sebelum berlangsungnya
proses pembelajaran agar ruang lingkup,urutan dan kedalaman materi
pelajaran sesuai dengan kompetensi /kemampuan yang diharapkan muncul
dari peserta didik.

a. Menentukan Ruang Lingkup (scope) Materi Pembelajaran


Menentukan ruang lingkup materi pembelajaran perlu dilakukan oleh
pengajar agar materi pembelajaran yang disampaikan tidak terlalu
banyak atau terlalu sedikit,namun memadai dan tepat sesuai dengan

GEOMETRI 57
MATEMATIKA – MATEMATIKA
kompetensi dasar yang ingin dicapai. Prinsip-prinsip menentukan ruang
lingkup materi pembelajaran diawali dengan menentukan jenis materi
pembelajaran yaitu kognitif, afektif atau psikomotorik. Maksudnya agar
jenis materi pembelajaran itu sesusai dengan strategi dan media
pembelajaran yang digunakan. Prinsip berikutnya menentukan keluasan
materi pembelajaran yaitu banyaknya materi pembelajaran yang
dimasukan ke dalam suatu materi pembelajaran.Selain keluasannya juga
diperhatikan kedalaman ruang lingkup materi pembelajaran yang
menunjukan konsep-konsep secara detail yang terkandung di dalam
materi itu yang harus dipelajari atau dikuasai oleh peserta didik. Prinsip
ketiga adalah kecukupan (adequansi) materi pembelajaran yang
memadai dan akan sangat membantu mencapai penguasaan kompetensi
dasar yang telah ditentukan.
b. Menentukan Urutan Materi Pembelajaran
Penentuan urutan materi pembelajaran (squence) diperlukan untuk
menentukan urutan dalam mengajarkannya. Apalagi jika ada materi
pelajaran yang bersifat prasyarat (prequisite) yaitu materi pembelajaran
harus berurutan dan bertahap atau meningkat. Prinsip-prinsip yang perlu
diperhatikan dalam memilih materi pembelajaran yaitu :
1. Prinsip relevansi atau keterikatan maksudnya pelajran berkaitan
dengan pencapaian kompetensi peserta didik.
2. Prinsip konsistensi atau ajeg, maksudnya materi pembelajaran yang
harus dikuasai peserta didik.
3. Prinsip kecukupan atau memadai, maksudnya materi pembelajaran
yang memadai untuk membantu peserta didik menguasai kompetensi
yang diajarkan, tidak terlalu sedikit, atau tidak terlalu banyak dan tidak
terlalu luas / mendalam atau sempit /dangkal.
Pemilihan materi pelajaran juga hendaknya dilakukan secara bertahap
dan meningkat yaitu:
1. Dari materi pembelajaran yang sederhana meningkat pada yang rumit
atau sulit (komplek).

GEOMETRI 58
MATEMATIKA – MATEMATIKA
2. Dari materi pembelajaran yang menggunakan tingkat berpikir rendah
meningkat pada penggunaan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
3. Dari materi pembelajaran yang konkrit meningkat menuju ke yang
abstrak.
4. Dari materi pembelajaran yang umum meningkat ke yang khusus yang
memerlukan analisis yang mendalam.
5. Menggunakan berpikir induktif (mulai dari mencari fakta dan diambil
kesimpulannya) dan deduktif (mulai dengan rumusan konsep
kemudian diuji berdasarkan fakta yang dapat diamati).
6. Materi pembelajaran yang dipelajari berdasarkan pada kehidupan
sehari-hari sehingga akan bermakna bagi peserta didik (meaningful).
Berdasarkan prinsip di atas, maka pemilihan materi pembelajaran
dilakukan dengan langkah-langkah:
1. Mengidentifikasi Kompetensi (Tujuan)
Mengidentifikasi aspek, aspek yang terdapat dalam standar
kompetensi dan kompetensi dasar yang menjadi acuan atau rujukan
pemilihan materi pembelajaran yang harus dipelajari atau dikuasai
peserta didik. Aspek-aspek itu perlu ditentukan karena standar
kompetensi dan kompetensi dasar memerlukan jenis materi yang
berbeda-beda utuk membantu pencapiannya dalam kegiatan
pembelajaran. Standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus
dipelajari peserta didik melputi domain, kognitif, psikomotorik dan
afektif.
2. Mengidentifikasi Jenis- jenis Materi Pembelajaran
Jenis materi pembelajaran perlu diidentifikasi karena memerlukan
strategi, media, dan sistem evaluasi pembelajaran yang berbeda-
beda. Jennis materi pembelajaran dapat dibedakan menjadi kognitif,
afektif dan psikomotorik.
3. Memilih Sumber Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran dapat ditemukan dari berbagai sumber seperti
buku teks, buku paket, media cetak dan sebagainya. Pada era
teknologi digital seperti sekarang ini, materi pembelajaran terdapat

GEOMETRI 59
MATEMATIKA – MATEMATIKA
pula pada halaman-halaman web, pada portal-portal pendidikan.
Jaringan internet sangat dibutuhkan oleh semua orang, khususnya
tenaga pendidik.

Aktivitas Pembelajaran
Guna mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, maka aktivitas yang
harus Anda kerjakan adalah sebagai berikut.

Aktivitas Pembelajaran 1 : Bentuk Materi (knowledge Dimension)

Pemilihan bentuk materi menurut Anderson dibagi menjadi empat bentuk


pengetahuan yaitu faktual, konseptual, prosedural dan meta kognitif. Cermatilah
materi tersebut, selanjutnya kerjakan lembar kerja di bawah ini.

Lembar Kerja 1 : KD – 3 Menilai ulang hasil perbaikan komputer


Berdasarkan pernyataan KD tersebut, anda sebagai pengampu mata pelajaran
tersebut harus menentukan bentuk pengetahuan yang harus diajarkan. Bentuk
pengetahuan yang tepat dari pernyataan KD di atas adalah .................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................

Aktivitas Pembelajaran 2: Hubungan Bentuk Pengetahuan dengan Dimensi


Proses Kognitif
Dalam melaksanakan tugasnya, guru harus menganalisis kompetensi dasar
yang akan diajarkan yakni berkaitan dengan kedudukan persyartan KD-3
berada pada tahapan gradasi mana, begitu pula dengan KD 4, apakah
pernyataanya dominan berbentuk keterampilan abstrak atau konkrit. Cermatilah
materi tersebut dan kerjakan kegiatan pada lembar kerja di bawah ini.

Lembar kerja 2
Tentukan hubungan perkembangan berpikir dari silabus mata pelajaran yang
anda ampu dengan bentuk pengetahuannya dengan menggunakan tabel berikut

GEOMETRI 60
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Mata pelajaran:
Tingkat:
No Rumusan KD-3 pada Bentuk Pengetahuan Keterangan
Silabus (Knowledge Dimension)
1 Lower Order
2 Thinking (LOT)
3
4 Higher Order
Thinking (HOT’s)

Aktivitas Pembelajaran 3: Memilih Materi Pembelajaran (Content Knowledge)


Pemilihan materi pelajaran yang akan diajarkan hendaklah tepat baik. Hal ini agar
ruang lingkup, urutan dan kedalaman materi pelajaran sesuai dengan kompetensi/
kemampuan yang diharapkan muncul dari peserta didik.Cermatilah materi tersebut,
selanjutnya kerjakan tugas pada lembar kerja di bawah ini.

Lembar Kerja ( LK 3 )
Tentukan prinsip-prinsip dalam memilih materi tersebut.
Jawaban
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................
.......................................................................................................................................

Latihan
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat
1. Kurikulum nasional menggunakan pendekatan kompetensi. Kompetensi yang
dimaksud adalah............
2. Kompetensi/kemampuan yang terdapat dalam kurikulum berisikan rumusan
kompetensi yang meliputi ..................

GEOMETRI 61
MATEMATIKA – MATEMATIKA
3. Rumusan kompetensi pada kurikulum naional menggunakan tingkatan gradasi
sesuai tuntutan kompetensi inti yang dimulai dari rentang...............
4. Bentuk pengetahuan menurut Shulman terbagi atas................
5. Pemilihan isi materi harus berdasarkan pada bentuk pengetahuan yang
meliputi.................
6. Pengetahuan terminologi atau pengetahuan detail yang merupakan pernyataan
benda- benda atau peristiwa yang terjadi adalah.............
7. Pengetahuan yang merupakan hubungan dari sejumlah elemen sebagai sistem
yang berkaitan adalah bentuk pengetahuan..................
8. Pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu berdasarkan persyaratan-
persyaratan tertentu adalah bentuk pengetahuan..............
9. Pengetahuan tentang mental proses yang berhubungan dengan pemahaman
sebagai tindakan atas dasar suatu pemahaman adalah bentuk
pengetahuan............
10. Mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan
mengkreasi merupakan tingkatan perkembangan ...............
11. Menentukan ruang lingkup materi pembelajaran, menentukan keluasan materi
pembelajaran dan kecukupan materi pembelajaran merupakan . ................
12. Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam pemilihan materi pembelajaran
adalah...............
13. Langkah – langkah dalam pemilihan materi pembelajaran adalah..................
14. Pemilihan materi pembelajaran hendaknya dilakuakan secara bertahap dan
meningkat yaitu .......
15. Jenis meteri pembelajaran yang akan dipilih perlu diidentifikasi agar..............

Rangkuman
1. Bertitik tolak dari pengertian kompetensi adalah seperangkat pengetahuan,
keterampilan dan sikap yang harus dikuasai oleh peserta didik, maka di dalam
kurikulum berisikan rumusan-rumusan kemampuan (kompetensi dasar) baik
pengetahuan, sikap dan keterampilan.

GEOMETRI 62
MATEMATIKA – MATEMATIKA
2. Di dalam kurikulum nasional rumusan kompetensi menggunakan gradasi sesuai
dengan tuntutan kompetensi inti (KI) dari rentang memahami (C2) hingga
evaluasi (C5) sebagai bentuk cognitif process dimension (dimensi proses
pengetahuan) yang harus dicapai peserta didik.
3. Untuk mencapai kompetensi-kompetensi tersebut peserta didik perlu diberikan
pengalaman belajar yang dapat meningkatkan perkembangan berfikir dan
perkembangan keterampilan sesuai tuntutan rumusan kompetensi dasar.
4. Tingkatan isi materi berdasarkan bentuk pengetahuan terdiri dari jenis materi
fakta, konsep, prosedur, dan metakognitif.
5. Menentukan hubungan bentuk pengetahuan dengan proses kognitif harus
diawali dengan menganalisis KD 3 dan KD 4 yang akan diajarkan dengan
kedudukan KD 3 berada pada gradasi mana, (C2 sampai dengan C6),
sedangkan KD4 berbentuk keterampilan abstrak atau keterampilan konkrit.
Dengan melakukan analisis ini akan memudahkan guru untuk mengembangkan
indikator pencapaian kompetensi dan perumusan tujuan.
6. Proses pembelajaran akan tepat apabila materi pembelajaran yang dipilih guru
tepat. Ketepatan pemilihan materi ini berkaitan dengan ruang lingkup, urutan
dan kedalaman materi pelajaran sesuai dengan kompetensi / kemampuan yang
diharapkan muncul dari peserta didik.
7. Prinsip-prinsip menentukan ruang lingkup (scope) materi pembejaran dan urutan
materi (squence) materi pembelajaran diawali dengan menentukan jenis materi
pembelajaran, keluasan dan kedalaman materi pembelajaran serta kecukupan
materi pembelajaran. Sedangkan urutan materi pembelajaran dilakukan untuk
menentukan urutan dalam mengajarkanya.
8. Prinsip-prinsip dalam memilih materi pembelajaran yaitu prinsip relevansi atau
keterkaitan, prinsip konsistensi atau keajegan dan prinsip kecukupan atau
memadai.
9. Pemilihan materi pelajaran hendaknya dilakukan secara bertahap dan
meningkat. Misalnya dari materi yang sederhana meningkat pada yang rumit,
dari materi pelajaran yang menggunakan tingkat berpikir rendah meningkat pada
penggunaan berpikir tingkat tinggi, dari materi pelajaran yang konkrit meningkat
menuju materi pelajaran yang abstrak.

GEOMETRI 63
MATEMATIKA – MATEMATIKA
10. Langkah-langkah pemilihan materi pembelajaran yaitu mengidentifikasi
kompetensi / tujuan, mengidentifikasi jenis-jenis materi pembelajaran, memilih
sumber materi pembelajaran.

Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Tuliskan umpan balik Anda dengan mencermati aspek- aspek yang terdapat
dalam format di bawah ini.
Nama :
Topik Pembelajaran:
Nama Diklat :
Tanggal Pelaksanaan:
No. Aspek Deskripsi
Yang telah dipahami dari materi
1
ini.

Yang belum dipahami dari


2
materi ini.
Manfaat materi ini terhadap
3
tugas di sekolah.
Apa rencana yang saudara akan
4 lakukan untuk menerapkan
materi ini
Aspek menarik apa yang
5
saudara temukan dari materi ini

Mengacu pada hasil umpan balik di atas, sebagai tindak lanjut dari pembelajaran
materi ini. Anda diharapkan melaksanankan kegiatan pada point latihan.

GEOMETRI 64
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Kunci Jawaban Latihan
Kunci Jawaban Latihan Kegiatan Pembelajaran 1

1. Aliran filsafat konstruktivism


2. Pembelajaran yang menjadikan seseorang secara aktif membangun
pengetahuan dan pemahaman dengan mensintesiskan pengetahuan yang telah
dimilikinya menjadi pengetahuan baru.
3. Pengalaman belajar
4. Perencanaan pengalaman belajar harus beroerientasi/ memperhatikan
karakteristik materi pelajaran baik dilihat dari kompleksitas materi.
5. Pengembangan pengalaman belajar harus dirancang untuk setiap individu
karena pembelajaran diarahkan untuk mengembangkan kompentensi setiap
individu.
6. Prinsip pengembangan belajar menurur permendikbud No. 103 tahun 2014
adalah
a. Peserta didikdifasilitasi untuk mencari tahu
b. Peserta didik belajar dari berbagai sumber belajar
c. Proses pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik
7. Pada langkah menanya, pembentukan pengalaman belajar, siswa diarahkan
untuk membuat atau mengajukan pertanyaan dan berdiskusi tentang informasi
yang belum dipahami atau informasi tambahan sebagai klarifikasi.
8. Prinsip pengembangan pengalaman belajar adalah aktifitas, individualitas,
integritas dan berorientasi pada tujuan.
9. Pembelajaran langsung adalah pembelajaran yang mengembangkan
pengetahuan kemampuan berpikir dan keterampilan dengan menggunakan
pengetahuan peserta didik melalui interaksi dengan sumber belajar yang
dirancang guru dalam rencana pelaksanaan pembelajaran
10. Pengembangan pengalaman belajar tingkat memahami merupakan kemampuan
mengkonstruksikan makna dari pesan pembelajaran baik secara lisan, tulisan,
maupun grafik.

GEOMETRI 65
MATEMATIKA – MATEMATIKA
11. Pengembangan pengalaman belajar tingkat penerapan merupakan kemampuan
dalam menggunakan prosedur dalam situasi yang diberikan atau situasi yang
baru.
12. Pengembangan pengalaman belajar tingkat analisis merupakan penguraian
materi ke dalam bagian-bagian dan bagaimana bagian-bagian tersebut saling
berhubungan satu sama lainnya dalam keseluruhan struktur.
13. Pengembangan pengalaman belajar tingkat evaluasi merupakan kemampuan
membuat keputusan berdasarkan kriteria dan standar.
14. Yang harus diperhatikan dalam karakteristik siswa adalah
a. Minat dan bakat siswa
b. Kecenderungan gaya belajar
c. Kemampuan dasar yang dimiliki siswa
15. Guru menggunakan pertanyaan terarah maupun pertanyaan bersifat
penelusuran saat proses pembelajran berlangsung.

Kunci Jawaban Latihan Kegiatan Pembelajaran 2

1. Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan dan sikap yang


harus dikuasai oleh peserta didik.
2. Kurikulum berisikan rumusan kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan.
3. Rumusan kompetensi menggunakan gradasi sesuai tuntutan dari rentang
pemahaman (C2), penerapan (C3), analisis (C4) dan evaluasi (C6) sebagai
dimensi proses pengetahuan yang harus dicapai peserta didik.
4. Bentuk pengetahuan menurut Shulman terbagi atas subtansi mata dan bentuk
pengetahuan.
5. Pemilihan isi materi harus berdasarkan bentuk pengetahuan yang terdiri dari
jenis materi fakta, konsep, prosedur dan meta kognitif.
6. Bentuk pengetahuan faktual.
7. Bentuk pengetahuan konseptual.
8. Bentik pengetahuan prosedural.
9. Bentuk pengetahuan meta kognitif
10. Perkembangan proses berpikir pengetahuan
11. Agar proses pembelajaran dapat dilaksanakan dengan tepat. .

GEOMETRI 66
MATEMATIKA – MATEMATIKA
12. Prinsip relevansi, konsistensi dan prinsip kecukupan.
13. Mengidentifikasi kompetensi, mengidentifikasi jenis-jenis materi pembelajaran
dan memilih sumber materi pembelajaran.
14. a. Dari materi yang sederhana meningkat pada yang rumit atau sulit.
b. Dari materi pembelajaran yang menggunakan tingkat berpikir rendah
meningkat pada penggunaan kemampuan bertingkat tingkat tinggi.
c. Dari materi pembelajaran yang konkrit meningkat menuju ke materi
pembelajaran yang absrak.
d. Dari materi pembelajaran yang umum meningkat ke yang khusus yang
memerlukan analisis yang mendalam.
e. Menggunakan berpikir induktif (mulai dari mencari fakta dan diambil
kesimpulanya) dan deduktif (mulai dengan rumusan konsep kemudian diuji
berdasarkan fakta yang dapat diamati).
15. Untuk memudahkan pengaturan strategi, media dan sistem evaluasi

GEOMETRI 67
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GEOMETRI 68
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Evaluasi
Lingkarilah alternatif jawaban yang paling tepat pada pertanyaan di bawah ini.

1. Aliran filsafat pengetahuan yang menekakankan bahwa pengetahuan


merupakan hasil bentukan dari konstruksi kita sendiri adalah

a. Konstruksivisme
b. Kognitifisme
c. Kontekstualisme
d. Behaviorisme

2. Pendekatan pembelajran konstrukstivisme salah satunya menekankan pada


proses pembelajaran

a. Penyampaian informasi (encoding)


b. Mengkonstruksi kemampuan pikir / intelektual (metal konstruktif)
c. Mengingat pengetahuan (remember)
d. Terjadi secara eksternal pada dirinya

3. Pengalaman belajar merupakan seluruh aktifitas peserta didik dengan


lingkungannya, dan pengalaman belajar tersebut harus mempertimbangkan

a. Ketersedian sumber belajar


b. Karakteristik peserta didik
c. Pendekatan dan model belajar
d. a, b dan c adalah benar

4. Prinsip yang harus diperhatikan dalam mengembangkan pengalaman belajar,


dimana proses pembelajaran harus memfasilitasi siswa untuk mencari tahu,
peserta dapat belajar dari berbagai sumber, berbasis kompetensi, dan
berpendekatan ilmiah menurut

a. Permendiknas no. 16 tahun 2007


b. Permendikbud no. 65 tahun 2013
c. Permendikbud no. 103 tahun 2014
d. Permendikbud no. 104 tahun 2014

GEOMETRI 69
MATEMATIKA – MATEMATIKA
5. Pengalaman belajar harus sesuai dengan karakteristik siswa dimana kondisi
dan karakteristik siswa harus memperhatikan

a. Minat dan bakat siswa


b. Kecenderungan gaya belajar
c. Kemampuan dasar yang dimiliki siswa
d. a, b dan c adalah benar

6. Merancang pengalaman belajar harus dapat mengembangkan seluruh aspek


kepribadian siswa dengan tetap memperhatikan aspek interaktif dan inspiratif
termasuk aspek

a. Integritas
b. Aktifitas
c. Individualitas
d. Fleksibilitas

7. Pengembangan pengalaman belajar harus memperhatikan prinsip yang


berorientasi pada tujuan, artinya

a. Pengembangan pengalaman belajar dirancang untuk setiap individu


b. Pengembangan pengalaman belajar harus mendorong siswa untuk
beraktifitas
c. Efektivitas pengembangan pengalaman belajar ditentukan dari
keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran
d. Pengembangan pengalaman belajar harus memperhatikan motivasi
belajar siswa

8. Tahapan yang perlu dikembangkan dalam pengalaman belajar menurut


permendikbud no. 103 tahun 2013 dibagi menjadi tahapan

a. Eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi


b. Pra instruksional, instruksional (inti) dan evaluasi
c. Mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengkomunikasikan
d. Merumuskan masalah, mendiagnosis, mengevaluasi penyelesaian
masalah dan mengkonfirmasi pemecahan masalah

GEOMETRI 70
MATEMATIKA – MATEMATIKA
9. Keterampilan belajar yang mengatur belajranya, mengingat dan berpikir yang
diregulasi oleh proses internal peserta didik disebut

a. Kongnitif strategic
b. Verbal information
c. Intelektual skill
d. Motor skill

10. Kemampuan dalam penggunaan prosedural dalam situasi yang diberikan


atau situasi baru adalah kemampuan pengalaman belajar dalam tingkat

a. Pemahaman
b. Penerapan
c. Evaluasi
d. Menganalisis

11. Upaya guru dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk


merefleksikan pengalman belajran yang telah dialami dan yang paling optimal
adalah dengan cara

a. Guru memberikan tes atau pekerjaan rumah pada akhir pembelajaran


b. Guru menggunakan pertanyaan terarah maupun pertanyaan bersifat
penelusan pada saat pembelajaran berlangsung
c. Guru mewawancarai tiap siswa tentang capaian atau masalah belajar
yang dihadapi siswa dalam belajar
d. Guru menugaskan siswa untuk menuliskan kesulitan siswa dalam belajar

12. Pemilihan materi pelajaran harus berkaitan dengan pencapaian kompetensi


peserta, sesuai dengan prinsip

a. Relevansi
b. Konsistensi
c. Kecukupan
d. Adequency

13. Prinsip menentukan ruang lingkup materi pelajaran diawali dengan


menentukan jenis materi pelajaran yaitu

GEOMETRI 71
MATEMATIKA – MATEMATIKA
a. Kognitif dan psikomotorik
b. Kognitif dan afektif
c. Kognitif, afektif dan psikomotorik
d. Psikomotorik dan afektif
14. Banyaknya materi pelajaran yang dimasukkan ke dalam materi pelajaran
merupakan
a. Prinsip menetukan scope materi pelajaran
b. Prinsip menetukan keluasan materi pelajaran
c. Prinsip kedalaman ruang linkup materi pelajaran
d. Prinsip menetukan sequence materi pelajaran
15. Mengidentifikasi kompetensi tujuan, jenis materi pelajaran dan memilih
sumber materi pelajaran merupakan
a. Langkah-langkah pemilihan materi pelajaran
b. Prinsip-prinsip pemilihan materi pelajaran
c. Penyusunan materi pelajaran secara bertahap dan meningkat
d. Penentuan urutan materi pelajaran

GEOMETRI 72
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Penutup
Menentukan pengalaman belajar dan memilih materi pelajaran merupakan salah
satu kompetensi pedagogik yang harus dikuasai guru sebagai tuntutan dari
Permendiknas No. 16 tahun 2007 gentan standar kualifikasi akademik dan standar
kompetensi guru.

Kompetensi pedagoogik untuk penentuan pengalaman belajar dan pemilihan materi


pelajaran merupakan kompetensi yang sangat menarik bagi guru, jika dikaitkan
dengan bagaimana cara merancang atau mendesain sebuah” Pengalaman belajar
berikut pemilihan materi yang tepat” dan bagaimana pula melaksanakannya dalam
kegiatan proses belajar mengajar.

Menjadi sebuah tuntutan dan keharusan untuk menguasai kompetensi ini, jika ingin
menjadi guru yang profesional. Pemahaman mengenai teori pengembangan
kurikulum, perkembangan dan karakteristi peserta didik, teori belajar dan
pembelajaran merupakan pra syarat untuk dapat membuatsebuah rancangan
pengalaman belajar yang efektif bagi seorang guru.

Selain penguasaan maetei di atas, guru juga dituntut untuk mampu menerapkannya
secara praktis tentang berbagai metoda dan media pembelajaran sesuai dengan
kategorisasai pengetahuan maupun jenjang kompetensi yang telah ditetapkan dan
pada akhirnya melalukan evaluasi terhadap keseluruhan kegiatan belajar mengajar.

Tidak ada pekerjaan yang dapat dilakukan dengan sempurna pada kesempatan
pertama, ada sebuah kata bijak yang dapat mejadi pedoman “praktice made perfect”.
Disarankan agar setiap guru melatih secara terus menerus serta mencari berbagai
literatur yang relevan yang berkaitan dengan peracangan pengalaman belajar dan
pemilihan materi pelajaran

GEOMETRI 73
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GEOMETRI 74
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Daftar Pustaka

A.Beauchamp, George. (1975). Curriculum Theory: Third Edition.Illinois: The Kagg


Press

Anderson, Lorin W & David R. Krathwohl. (2001). A Taxonomy for Learning,


Teaching, and Assessing. New York: Addison Wesley Longman, Inc.

Baedowi, Ahmad. (2013). Strategi/Pendekatan Konstruktivisme pada Pendidikan


Teknologi Kejuruan. [On Line]: Tersedia di http://rumahilmuindonesia.net. Diakses
tanggal 25 Juli 2015.

Beyer, B. K. (1995). Critical Thinking. Bloomington: Phi Delta Kappa Educational


Foundation

Bloom, B. S. (1956). Taxonomy of Educational Objective: The Classification of


Educational Goal. Handbook 1: Cognitive Domain. New York: McKay

Bybee, W. Rodger. (2006). The BSCS 5E Instructional Model: Origins and


Effectiveness. Colorado : Mark Dabling Boulevard.

Dahar, R.W. (1989). Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga

Dave's, R.H. (1970). Psychomotor Domain ('Developing and Writing Behavioral


Objectives.[online].tersedia:http://www.olemis.edu/dept/educ_schoo2/doccs/stai_man
ual/manual10.htm [12 Mei 2013

Djohar, As’ari. (2003). Pengembangan Model Kurikulum Berbasis Kompetensi SMK.


Disertasi pada FPS UPI Bandung. Tidak diterbitkan..

F. Oliva, Peter. (1992). Developing The Curriculum: Third Edition.USA: Harper


Collins Publishers.

Gage, N.L. (2009). A Conception of Teaching. New York : Springer

Garafalo, J & Lester. F (1985). Metacognition, Cognitive Monitoring, And


Mathematical Performance. Journal For Research Mathematics Education. 16 (3),
163 – 7

Hanbury, L. (1996). Constructivism: So what. Melbourne: The Mathematical


Association of Victo.

Hudoyo, H. (1998). Strategi Pembelajaran Matematika. Malang: IKIP Malang

Ibrahim, Sukmadinata. (2010). Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta

GEOMETRI 75
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Idris, Zahra. (1992). Pengantar Pendidikan. Jakarta : PT Grasindo

Iskandar. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Gaung Persada Press.

I Wayan Ratnata. ( 1995). Thesis : Kemampuan Berpikir Logis Siswa STM dalam
Pemahaman Konsep-Konsep Listrik Magnet. Bandung: Program Pascasarjana IKIP
Bandung.

Kuswana, Wowo Sunaryo. (2012). Taksonomi Kognitif. Bandung : Rosda Karya

Kuswana, Wowo Sunaryo. (2013). Taksonomi Berfikir. Bandung : Rosd

Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Jo PP. No 32 Tahun 2013 Lo PP No. 13


Tahun 2015 Tentang Standar Nasional Pendidikan

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 23 Tahun 2006 Tentang Standar


Kompetensi Lulusan

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 65 Tahun 2013 Tentang Stand

Trianto. (2007). Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.


Jakarta: Prestasi Pustaka.

Tyler, Ralph W. (1975). Basic Prinsiples of Curriculumand Instruction. Chicago and


London: The University of Chicago Press.

Tyler, Ralph. (1996). Children Contruction of Explanation in Science. Victoria: Deakin


University

UUSPN No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia

Widjaja, Sri Umi, Mintarti. (2009). Pengembangan Model Pembelajaran pada Mata
PelajaranAkuntansi di SMK Dengan Pendekatan Kontekstual Dan Strategi Problem
Based Learning. Disertasi: Universitas Negeri Malang Program Studi Pendidikan
Ekonomi. Tidak diterbit

Wina Sanjaya. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik


Pengembangan KTSP. Jakarta: Prenada Media Group..

GEOMETRI 76
MATEMATIKA – MATEMATIKA
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3

Kegiatan Belajar 3 : Geometri Dimensi Dua

Tujuan
Tujuan dari penulisan modul ini adalah:
1. Melalui membacapeserta diklat dapat mengidentifikasi sifat-sifat atau
karakteristik bangun datar dengan penuh tanggungjawab.
2. Melalui diskusi kelompok peserta diklat dapat menyelesaikan masalah terkait
luas bangun datar dengan teliti.
3. Melalui simulasipeserta diklat dapat menyelesaikan masalah terkait sifat
kesejajaran dan ketegaklurusandengan cermat.
4. Melalui eksperimenpeserta diklat dapat membuktikan pernyataan geometris
melalui aksioma dan teoremadengan percaya diri.
5. Melalui tanya jawab peserta diklat dapat menentukan keliling bangun datar
dan luas daerah bangun datar dengan benar
6. Melalui penugasan peserta diklat dapat menerapkan transformasi bangun
datar dengan tekun

Indikator Pencapaian Kompetensi


Indikator pencapaian kompetensi yang harus dikuasai setelah mengikuti kegiatan
belajar ini adalah, peserta diklat dapat:

a. Mengidentifikasi sifat-sifat atau karakteristik bangun datar


b. Menyelesaikan masalah terkait luas bangun datar
c. Menyelesaikan masalah terkait sifat kesejajaran dan ketegaklurusan
d. Membuktikan pernyataan geometris melalui aksioma dan teorema.
e. Menentukan keliling bangun datar dan luas daerah bangun datar
f. Menerapkan transformasi bangun datar

GEOMETRI 77
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Uraian Materi
1. Sejarah Geometri
a. Pengertian Geometri

Geometri (Greek; geo= bumi, metria= ukuran) adalah sebagian dari


matematika yang mengambil persoalan mengenai ukuran, bentuk, dan
kedudukan serta sifat ruang. Geometri adalah salah satu dari ilmu yang
tertua. Awal mulanya sebuah badan pengetahuan praktikal yang
mengambil berat dengan jarak, luas dan volume, tetapi pada abad ke-3
geometri mengalami kemajuan yaitu tentang bentuk aksiometik oleh
Euclid, yang hasilnya berpengaruh untuk beberapa abad berikutnya.
Geometri merupakan salah satu cabang dalam ilmu matematika. Ilmu
Geometri secara harfiah berarti pengukuran tentang bumi, yakni ilmu
yang mempelajari hubungan di dalam ruang. Sejatinya, ilmu geometri
sudah dipelajari peradaban Mesir Kuno, masyarakat Lembah Sungai
Indus dan Babilonia.
Peradaban-peradaban kuno ini diketahui memiliki keahlian dalam
drainase rawa, irigasi, pengendalian banjir dan pendirian bangunan-
bagunan besar. Kebanyakan geometri Mesir kuno dan Babilonia terbatas
hanya pada perhitungan panjang segmen-segmen garis, luas, dan
volume.

b. Sejarah Singkat Geometri

Paling tidak ada enam wilayah yang dapat dipandang sebagai ’sumber’
penyumbang pengetahuan geometri, yaitu: Babilonia (4000 SM - 500
SM), Yunani (600 SM – 400 SM), Mesir (5000 SM - 500 SM), Jasirah
Arab (600 - 1500 AD), India (1500 BC - 200 BC), dan Cina (100 SM -
1400). Tentu masih ada negara-negara penyumbang pengetahuan
geometri yang lain, Namun, kurang signifikan atau belum terekam dalam
tradisi tulisan.

GEOMETRI 78
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Bangsa Babilonia menempati daerah subur yang membentang antara
sungai Eufrat dan sungai Tigris di wilayah Timur Tengah. Pada mulanya,
daerah ini ditempati oleh bangsa Sumeria. Pada saat itu, 3500 SM, atau
sekitar 5000 tahun yang lalu telah hidup sangat maju. Banyak gedung
dibangun seperti kota waktu kini. Sistem irigasi dan sawah pertanian juga
telah berkembang. Geometri dipikirkan oleh para insinyur untuk
keperluan pembangunan.
Geometri yang lahir dan berkembang di Babilonia merupakan sebuah
hasil dari keinginan dan harapan para pemimpin pemerintahan dan
agama pada masa itu. Hal ini dimaksudkan untuk bisa mendirikan
berbagai bangunan yang kokoh dan besar. Juga harapan bagi para raja
agar dapat menguasai tanah untuk kepentingan pendapatan pajak.
Teknik-teknik geometri yang berkembang saat itu pada umumnya masih
kasar dan bersifat intuitif. Akan tetapi, cukup akurat dan dapat memenuhi
kebutuhan perhitungan berbagai fakta tentang teknik-teknik geometri
saat itu termuat dalam Ahmes Papirus yang ditulis lebih kiurang tahun
1650 SM dan ditemukan pada abad ke-9. Peninggalan berupa tulisan ini
merupakan bagian dari barang-barang yang tersimpan oleh museum-
museum di London dan New York. Dalam Papirus ini terdapat formula
tentang perhitungan luas daerah suatu persegi panjang, segitiga siku-
siku, trapesium yang mempunyai kaki tegak lurus dengan alasnya, serta
formula tentang pendekatan perhitungan luas daerah lingkaran. Orang-
orang Mesir rupanya telah mengembangkan rumus-sumus ini dalam
kehidupan mereka untuk menghitung luas tanah garapannya.
Selain melanjutkan mengembangkan geometri, mereka juga
mengembangkan sistem bilangan yang kini kita kenal dengan
’sexagesimal’ berbasis 60. Kita masih menikmati (dan menggunakan)
sistem ini ketika berbicara tentang waktu.
Mereka membagi hari ke dalam 24 jam. Satu jam dibagi menjadi 60
menit. Satu menit dibagi menjadi 60 detik. Kita mengatakan, misalnya,
saat ini adalah pukul 9, 25 menit, 30 detik. Kalau dituliskan akan
berbentuk pukul 9 25' 30", dan dalam sexagesimal dapat dituliskan

GEOMETRI 79
MATEMATIKA – MATEMATIKA
sebagai 9 5 25/60 30/3600. Sistem ini telah menggunakan nilai tempat
seperti yang kita gunakan dewasa ini (dalam basis 10 bukan dalam basis
60).

Bangsa Babilonia mengembangkan cara mengitung luas dan volume. Di


antaranya menghitung panjang keliling lingkaran yang sama dengan tiga
kali panjang garis tengahnya. Kita mengenal harga tiga ini mendekati
harga π . Rumus Pythagoras juga sudah dikenal pada masa itu.
Bangsa Mesir mendiami wilayah yang sangat subur di sepanjang sungai
Nil. Pertanian berkembang pesat. Pemerintah memerlukan cara untuk
membagi petak-petak sawah dengan adil. Maka, geometri maju di sini
karena menyajikan berbagai bentuk polygon yang di sesuaikan dengan
keadaan walayah di sepanjang sungai Nil itu.
Di Yunani, geometri mengalami masa ’emas’nya. Sekitar 2000 tahun
yang lalu, ditemukan teori yang kita kenal dewasa ini dengan nama teori
aksiomatis. Teori berpikir yang mendasarkan diri pada sesuatu yang
paling dasar yang kebenarannya kita terima begitu saja. Kebenaran
semacam ini kita sebut kebenaran aksioma. Dari sebuah aksioma
diturunkan berbagai dalil baik dalil dasar maupun dalil turunan. Dari era
ini, kita juga memperoleh warisan buku geometri yang hingga kini belum
terbantahkan, yaitu geometri Euclides. Geometri yang kita ajarkan secara
formal di sekolah merupakan ’kopi-an’ dari geometri Euclides ini.
Di awal perkembangan Islam, para pemimpin Islam menganjurkan agar
menimba ilmu sebanyak mungkin. Kita kenal belajaralah hingga ke
negeri Cina. Dalam era itu, Islam menyebar di Timur Tengah, Afrika
Utara, Spanyol, Portugal, dan Persia. Para matematikawan Islam
menyumbang pada pengembangan aljabar, asronomi, dan trigonometri.
Trigonometri merupakan salah satu pendekatan untuk menyelesaian
masalah geometri secara aljabar. Kita mengenalnya menjadi geometri
analitik. Mereka juga mengembangkan polinomial.
Di wilayah timur, India dan Cina dikenal penyumbang pengetahuan
matematika yang handal. Di India, para matematikawan memiliki tugas

GEOMETRI 80
MATEMATIKA – MATEMATIKA
untuk membuat berbagai bangunan pembakaran untuk korban di altar.
Salah satu syaratnya adalah bentuk boleh ( bahkan harus) berbeda tetapi
luasnya harus sama. Misalnya, membuat pangunan pembekaran yang
terdiri atas lima tingkat dan setiap tingkat terdiri 200 bata. Di antara dua
tingkat yang urutan tidak boleh ada susunan bata yang sama persis. Saat
itulah muncul ahli geometri di India. Tentu, bangunan itu juga dilengkapi
dengan atap. Atap juga merupakan bagian tugas matematikawan India.
Di sinilah berkembang teori-teori geometri.
Seperti cabang-cabang ilmu pengetahuan yang lain, matematika
(termasuk geometri) juga dikembangkan oleh para ilmuwan Cina sejak
2000 tahun sebelum Masehi (atau sekitar 4000 tahun yang lalu). Kalau di
Eropa terdapat buku ‘Unsur-unsur’, geometri Euclides yang mampu
menembus waktu 2000 tahun tanpa tertandingi, di timur, Cina terdapat
buku ‘Sembilan bab tentang matematika’ yang dibuat sekitar tahun 179
oleh Liu Hui. Buku ini memuat banyak masalah geometri. Di antaranya
menghitung luas dan volume. Dalam buku itu juga mengupas hukum
Pythagoras. Juga banyak dibicarakan tentang polygon.
Pada Zaman Pertengahan, aAhli matematik mMuslim banyak
menyumbangkan mengenai perkembangan geometri, terutama geometri
aljabar dan aljabar geometri. Al- Mahani (1.853) mendapat idea
menguraikan masalah geometri seperti menyalin kubus kepada masalah
dalam bentuk aljabar. Thabit ibn Qurra (dikenal sebagi Thebit dalam
Latin) (836 – 901) mengendali dengan pengendalian arimetikal yang
diberikan kepada ratio kuantitas geometri, dan menyumbangkan tentang
pengembangan geomeri analitik. Omar Khayyam (1048 -1131)
menemukan penyelasaian geometri kepada persamaan kubik, dan
penyelidikan selanjutnya yang terbesar adalah kepada pengembangan
geometri bukan Euclid.
Pada awal abad ke-17, terdapat dua perkembangan penting dalam
geometri. Yang pertama, dan yang terpenting, adalah penciptaan
geometri analik, atau geometri dengan koordinat dan persamaan, oleh
Rene Descartes (1596-1650) dan Pierre de Fermat (1601-1665). Ini

GEOMETRI 81
MATEMATIKA – MATEMATIKA
adalah awal yang di perlukan untuk perkembangan kalkulus.
Perkembangan geometrik kedua adalah penyelidikan secara sistematik
dari geometri proyektif oleh Girard Desargues (1591-1661). Geometri
proyektif adalah penyelidikan geometri tanpa ukuran, Cuma dengan
menyelidik bagaimana hubungan antara satu sama lain.
Dua perkembangan dalam geometri pada abad ke-19,mengubah cara ia
telah dipelajari sebelumnya. Ini merupakan penemuan Geometri bukan
Euclid oleh Lobachevsky, Bolyai dan Gauss dan dari formulasi simetri
sebagai pertimbangan utama dalam Program Erlangen dari Felix Klein
(yang menyimpulkan geometri Euclid dan bukan Euclid). Dua dari ahli
geometri pada masa itu ialah Bernhard Riemann, bekerja secara analisis
matematika, dan Henri Poincaré, sebagai pengagas topologi algebraik
dan teori geometrik dari sistem dinamikal.
Sebagai akibat dari perubahan besar ini dalam konsepsi geometri,
konsep "ruang" menjadi sesuatu yang kaya dan berbeda, dan latar
belakang semula hanya teori yang berlainan seperti analisis kompleks
dan mekanik klasikal. Jenis tradisional geometri telah dikenal pasti
seperti dari ruang homogeneous, yaitu ruang itu mempunyai bekalan
simetri yang mencukupi, supaya dari poin ke poin mereka kelihatan
sama.

c. Tokoh-Tokoh Geometri
1) Thales (640 – 546 SM)

Pada mulanya geometri lahir semata-mata didasarkan oleh


pengalaman. Namun matematikawan yang pertama kali merasa tidak
puas terhadap metode yang didasari semata-mata pada pengalaman
adalah Thales (640-546 SM). Masyarakat matematika sekarang
menghargai Thales sebagai orang yang selalu berkarta “Buktikan itu”
dan bahkan ia selalu melakukan itu. Dari sekian banyak teorema
adalah:

a. Sudut-sudut alas dari suatu segitiga samakaki adalah kongruen,

GEOMETRI 82
MATEMATIKA – MATEMATIKA
b. Sudut-sudut siku-siku adalah kongruen,
c. Sebuah sudut yang dinyatakan dalam sebuah setengah lingkaran
adalah sudut siku-siku.

Hasil kerja dan prinsip Theles jelas telah manandai awal dari sebuah
era kemajuan matematika yang mengembangkan pembuktian
deduktif sebagai alasa logis yang dapat diterima. Pembuktian deduktif
diperlukan untuk menurunkan teorema dari postulat-postulat.
Selanjutnya untuk disusun suatu pernyataan baru yang logis.

2) Pythagoras (582-507 SM)

Sepeninggal Thales muncullah Pythagoras (582-507 SM) berikut para


pengikutnya yang dikenal dengan sebutan Pythagorean melanjutkan
langkah Thales. Para Pythagorean menggunakan metode pembuktian
tidak hanya untuk mengembangkan Teorema Pythagoras, tetapi juga
terhadap teorema-teorema jumlah sudut dalam suatu poligon, sifat-
sifat dari garis-garis yang sejajar, teorama tentang jumlah-jumlah yang
tidak dapat diperbandingkan, serta teorema tentang lima bangun
padat beraturan.

3) Euclid (300 SM)

Tidak banyak orang yang beruntung memperoleh kemasyhuran yang


abadi seperti Euclid, ahli ilmu ukur Yunani yang besar. Meskipun
semasa hidupnya tokoh-tokoh seperti Napoleon, Martin Luther,
Alexander yang Agung, jauh lebih terkenal ketimbang Euclid tetapi
dalam jangka panjang ketenarannya mungkin mengungguli semua
mereka yang disebut itu.
Selain kemasyhurannya, hampir tak ada keterangan yang terperinci
mengenai kehidupan Euclid yang bisa diketahui. Misalnya, kita tahu
dia pernah aktif sebagai guru di Iskandariah, Mesir, di sekitar tahun
300 SM, tetapi kapan dia lahir dan kapan dia wafat betul-betul gelap.
Bahkan, kita tidak tahu di benua apa dan di kota apa dia dilahirkan.
Meski dia menulis beberapa buku dan diantaranya masih ada yang

GEOMETRI 83
MATEMATIKA – MATEMATIKA
tertinggal, kedudukannya dalam sejarah terutama terletak pada
bukunya yang hebat mengenai ilmu ukur yang bernama The
Elements.

Dalam The Elements, Euclid menggabungkan pekerjaan disekolah


yang telah ia ketahui dengan semua pengetahuan matematika yang ia
ketahui dalam suatu perbandingan yang sistematis hingga menjadi
sebuah hasil yang menakjubkan. Kebanyakan dari pekerjaannya itu
bersifat original, sebagai metode deduktif ia mendemonstrasikan
sebagian besar pengetahuan yang diperlukan melalui penalaran.
Dalam Element Euclid pun menjelaskan aljabar dan teori bilangan
sebaik ia menjelaskan geometri.
Arti penting buku The Elements tidaklah terletak pada pernyataan
rumus-rumus pribadi yang dilontarkannya. Hampir semua teori yang
terdapat dalam buku itu sudah pernah ditulis orang sebelumnya, dan
juga sudah dapat dibuktikan kebenarannya. Sumbangan Euclid
terletak pada cara pengaturan dari bahan-bahan dan permasalahan
serta formulasinya secara menyeluruh dalam perencanaan
penyusunan buku. Di sini tersangkut, yang paling utama, pemilihan
dalil-dalil serta perhitungan-perhitungannya, misalnya tentang
kemungkinan menarik garis lurus diantara dua titik.
Sesudah itu dengan cermat dan hati-hati dia mengatur dalil sehingga
mudah difahami oleh orang-orang sesudahnya. Bilamana perlu, dia
menyediakan petunjuk cara pemecahan hal-hal yang belum
terpecahkan dan mengembangkan percobaan-percobaan terhadap
permasalahan yang terlewatkan. Perlu dicatat bahwa buku The
Elements selain terutama merupakan pengembangan dari bidang
geometri yang ketat, juga di samping itu mengandung bagian-bagian
soal aljabar yang luas berikut teori penjumlahan.
Buku The Elements sudah merupakan buku pegangan baku lebih dari
2000 tahun dan merupakan buku yang paling sukses yang pernah
disusun manusia. Begitu hebatnya Euclid menyusun bukunya

GEOMETRI 84
MATEMATIKA – MATEMATIKA
sehingga dari bentuknya saja sudah mampu menyingkirkan buku yang
pernah dibuat orang sebelumnya.

Sebagai alat pelatih logika pikiran manusia, buku The Elements jauh
lebih berpengaruh ketimbang semua risalah Aristoteles tentang logika.
Buku itu merupakan contoh yang komplit sekitar struktur deduktif dan
sekaligus merupakan buah pikir yang menakjubkan dari semua hasil
kreasi otak manusia.
Adil jika kita mengatakan bahwa buku Euclid merupakan faktor
penting bagi pertumbuhan ilmu pengetahuan modern. Ilmu
pengetahuan bukanlah sekedar kumpulan dari pengamatan-
pengamatan yang cermat dan bukan pula sekedar generalisasi yang
tajam serta bijak. Hasil besar yang direnggut ilmu pengetahuan
modern berasal dari kombinasi antara kerja penyelidikan empiris dan
percobaan-percobaan di satu pihak, dengan analisa hati-hati dan
kesimpulan yang punya dasar kuat di lain pihak.
Pengaruh Euclid terhadap Sir Isaac Newton sangat terasa sekali,
sejak Newton menulis buku yang terkenal dengan nama The Principia
dalam bentuk kegeometrian, mirip dengan The Elements. Berbagai
ilmuwan mencoba menyamakan diri dengan Euclid dengan jalan
memperlihatkan bagaimana semua kesimpulan mereka secara logis
berasal mula dari asumsi asli. Tak kecuali apa yang diperbuat oleh
ahli matematika seperti Russel, Whitehead dan filosof Spinoza.
Kini, para ahli matematika sudah memaklumi bahwa geometri
Euclidbukan satu-satunya sistem geometri yang memang jadi
pegangan pokok dan teguh serta yang dapat direncanakan pula,
mereka pun maklum bahwa selama 150 tahun terakhir banyak orang
yang merumuskan geometri bukan a la Euclid. Sebenarnya, sejak
teori relativitas Einstein diterima orang, para ilmuwan menyadari
bahwa geometri Euclid tidaklah selamanya benar dalam penerapan
masalah cakrawala yang sesungguhnya.

GEOMETRI 85
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Pada kedekatan sekitar "Lubang hitam" dan bintang neutron --
misalnya-- dimana gayaberat berada dalam derajat tinggi, geometri
Euclid tidak memberi gambaran yang teliti tentang dunia, ataupun
tidak menunjukkan penjabaran yang tepat mengenai ruang angkasa
secara keseluruhan. Tetapi, contoh-contoh ini langka, karena dalam
banyak hal pekerjaan Euclid menyediakan kemungkinan perkiraan
yang mendekati kenyataan. Kemajuan ilmu pengetahuan manusia
belakangan ini tidak mengurangi baik hasil upaya intelektual Euclid
maupun dari arti penting kedudukannya dalam sejarah.

4) Saintis-Saintis Muslim

Di era kekhalifahan Islam, para saintis Muslim pun turut


mengembangkan geometri. Bahkan, pada era abad pertengahan,
geometri dikuasai para matematikus Muslim. Tak heran jika
peradaban Islam turut memberi kontribusi penting bagi
pengembangan cabang ilmu matematika modern itu.
Pencapaian peradaban Islam di era keemasan dalam bidang geometri
sungguh sangat menakjubkan. Betapa tidak. Para peneliti di Amerika
Serikat (AS) menemukan fakta bahwa di abad ke-15 M, para
cendekiawan Muslim telah menggunakan pola geometris mirip kristal.
Padahal, pakar matematika modern saja baru menemukan pla desain
geometri itu pada abad ke-20 M.
Menurut studi yang diterbitkan dalam Jurnal Science itu, para
matematikus Muslim di era keemasan telah memperlihatkan satu
terobosan penting dalam bidang matematika dan desain seni pada
abad ke-12 M. "Ini amat mengagumkan," tutur Peter Lu, peneliti dari
Harvard, AS seperti dikutip BBC .Peter Lu mengungkapkan, para
matemetikus dan desainer Muslim di era kekhalifahan telah mamapu
membuat desain dinding, lantai dan langit-langit dengan
menggunakan tegel yang mencerminkan pemakaian rumus

GEOMETRI 86
MATEMATIKA – MATEMATIKA
matematika yang begitu canggih. ''Teori itu baru ditemukan 20 atau 30
tahun lalu," ungkapnya.
Desain dalam seni Islam menggunakan aturan geometri dengan
bentuk mirip kristal yang menggunakan bentuk poligon simetris untuk
menciptakan satu pola. Hingga saat ini, pandangan umum yang
beredar adalah pola rumit berbentuk bintang dan poligon dalam
desain seni Islam dicapai dengan menggunakan garis zigzag yang
digambar dengan mistar dan kompas.
"Anda bisa melihat perkembangan desain geometis yang canggih ini.
Jadi mereka mulai dengan pola desain yang sederhana, dan lama-
lama menjadi lebih kompleks," tambah Peter Lu. Penemuan Peter Lu
itu membuktikan bahwa peradaban Islam telah mampu mencapai
kemajuan yang luar biasa dalam bidang geometri.
Lantas bagaimana matematikus Islam mengembangkan geometri?
Pada abad ke-9 M, matematikus Muslim bernama Khawarizmi telah
mengembangkan geometri. Awalnya, ilmu geometri dipelajari sang
matematikus terkemuka dari buku berjudul The Elements karya Euclid.
Ia pun kemudian mengembangkan geometri dan menemukan
beragam hal yang baru dalam studi tentang hubungan di dalam ruang.
Al-Khawarizmi menciptakan istilah secans dan tangens dalam
penyelidikan trigonometri dan astronomi. Dia juga menemukan Sistem
Nomor yang sangat penting bagi sistem nomor modern. Dalam Sistem
Nomor itu, al-Khawarizmi memuat istilah Cosinus, Sinus dan Tangen
untuk menyelesaikan persamaan trigonometri, teorema segitiga sama
kaki, perhitungan luas segitiga, segi empat maupun perhitungan luas
lingkaran dalam geometri.
Penelitian al-Khawarizmi dianggap sebagai sebuah revolusi besar
dalam dunia matematika. Dia menghubungkan konsep-konsep
geometri dari matematika Yunani kuno ke dalam konsep baru.
Penelitian-penelitian al-Khawarizmi menghasilkan sebuah teori
gabungan yang memungkinkan bilangan rasional/irasional, besaran-
besaran geometri diperlakukan sebagai objek-objek aljabar.

GEOMETRI 87
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Penelitian al-Khawarizmi memungkinkan dilakukannya aplikasi
sistematis dari aljabar. Sebagai contoh, aplikasi aritmetika ke aljabar
dan sebaliknya, aljabar terhadap trigonometri dan sebaliknya, aljabar
terhadap teori bilangan, aljabar terhadap geometri dan sebaliknya.
Penelitian-penelitian ini mendasari terciptanya aljabar polinom,
analisis kombinatorik, analisis numerik, solusi numerik dari
persamaan, teori bilangan, dan konstruksi geometri dari persamaan.
Konsep geometri dalam matematika yang diperkenalkan oleh al-
Khawarizmi juga sangat penting dalam bidang astronomi. Pasalnya
Astronomi merupakan ilmu yang mengkaji tentang bintang-bintang
termasuk kedudukan, pergerakan, dan penafsiran yang berkaitan
dengan bintang. Guna menghitung kedudukan bintang terhadap bumi
membutuhkan perhitungan geometri.
Ilmuwan Muslim lainnya yang berjasa mengembangkan geometri
adalah Thabit Ibnu Qurra. Matematikus Muslim yang dikenal dengan
panggilan Thebit itu juga merupakan salah seorang ilmuwan Muslim
terkemuka di bidang Geometri. Dia melakukan penemuan penting di
bidang matematika seperti kalkulus integral, trigonometri, geometri
analitik, maupun geometri non-Eucledian.
Salah satu karya Thabit yang fenomenal di bidang geometri adalah
bukunya yang berjudul The composition of Ratios ( Komposisi rasio).
Dalam buku tersebut, Thabit mengaplikasikan antara aritmatika
dengan rasio kuantitas geometri. Pemikiran ini, jauh melampaui
penemuan ilmuwan Yunani kuno dalam bidang geometri.
Sumbangan Thabit terhadap geometri lainnya yakni, pengembangan
geometri terhadap teori Pythagoras di mana dia mengembangkannya
dari segi tiga siku-siku khusus ke seluruh segi tiga siku-siku. Thabit
juga mempelajari geometri untuk mendukung penemuannya terhadap
kurva yang dibutuhkan untuk membentuk bayangan matahari.
Selain itu, ilmuwan Muslim lainnya yang berjasa mengembangkan
geometri adalah Ibnu al-Haitham. Dalam bidang geometri, Ibnu al-
Haitham mengembangkan analitis geometri yang menghubungkan

GEOMETRI 88
MATEMATIKA – MATEMATIKA
geometri dengan aljabar. Selain itu, dia juga memperkenalkan konsep
gerakan dan transformasi dalam geometri. Teori Ibnu al-Haitham
dalam bidang persegi merupakan teori yang pertama kali dalam
geometri eliptik dan geometri hiperbolis. Teori ini dianggap sebagai
tanda munculnya geometri non- Euclidean. Karya-karya Ibn al-
Haitham itu mempengaruhi karya para ahli geometri Persia seperti
Nasir al-Din al Tusi dan Omar Khayyam. Namun pengaruh Ibn al-
Haytham tidak hanya terhenti di wilayah Asia saja. Sejumlah ahli
geometri Eropa seperti Gersonides, Witelo, Giovanni Girolamo
Saccheri, serta John Wallis pun terpengaruh pemikiran al-Haitham.
Salah satu karyanya yang terkemuka dalam ilmu geometri adalah
Kitab al-Tahlil wa al'Tarkib.
Cendekiawan Muslim lainnya yang berjasa mengembangkan geometri
adalah Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau biasa disebut Abu
Nasr Mansur. Ia merupakana salah satu ahli geometri yang
mendalami spherical geometri (geometri yang berhubungan dengan
astronomi). Spherical geometri ini sangat penting untuk
menyelesaikan masalah-masalah yang sulit di dalam astonomi Islam.
Umat Islam perlu menentukan waktu yang tepat untuk shalat,
Ramadhan, serta hari raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Dengan
bantuan spherical geometri, kini umat Muslimbisa memperkirakan
waktu-waktu tersebut dengan mudah. Itulah salah satu warisan ilmu
Abu Nasr Mansur bagi kita saat ini.

2. Geometri Dimensi Dua (Struktur Konsep)

Geometri sebagai salah satu sistem matematika, di dalamnya memiliki


banyak konsep pangkal, mulai dari unsur primitif atau unsur tak terdefinisi,
antara lain: titik, garis, kurva, ataupun bidang. Juga terdapat relasi-relasi
pangkal yang tidak didefinisikan, misalnya: ‘melalui’, ‘terletak pada’,
‘memotong’, dan ‘antara’. Dari unsur-unsur yang tidak terdefinisikan ini
kemudian membangun unsur-unsur yang didefinisikan, selanjutnya ke

GEOMETRI 89
MATEMATIKA – MATEMATIKA
aksioma atau postulat, dan akhirnya pada teorema atau dalil. Gambaran
hubungan antara unsur-unsur yang tidak terdefinisikan, unsur-unsur yang
didefinisikan, aksioma/postulat, dan teorema/dalil, dapat dilihat pada Gambar
2.3.1, diikuti selanjutnya oleh contoh beberapa hubungan antara konsep-
konsep tersebut.

Gambar 2.3.1 Unsur-Unsur Geometri

unsur-unsur unsur-unsur
teorema/
yang tidak yang aksioma/ dalil-dalil
terdefinisi terdefinisi postulat

Perhatikan Tabel 2.3.1 berikut ini. Tabel tersebut memperlihatkan mengenai


konsep-konsep dalam geometri beserta ilustrasinya, juga keterkaitan antara
unsur tak terdefinisi, relasi tak terdefinisi, dan aksioma-aksioma yang ada
dalam geometri. Selanjutnya, akan dipelajari beberapa konsep dasar dalam
geometri yang telah didefinisikan, serta beberapa permasalahan yang
mengandung pemecahan masalah matematik.

Tabel 2.3.1 Unsur-Unsur Geometri

Konsep Ilustrasi

Titik
Unsur Pangkal yang Tak

Tidak memiliki dimensi.


Terdefinisi

Garis
Pada garis terdapat banyak titik, panjang tak
berbatas.

GEOMETRI 90
MATEMATIKA – MATEMATIKA
g

Melalui
Relasi Pangkal yang

Garis g melalui titik P, atau titik P terletak pada


Tak Terdefinisi

garis g.

Antara
Titk Q antara P dan R.

Melalui dua titik yang


berbeda dapat dibuat
tepat satu garis.

g
Pada setiap garis g
Aksioma

paling sedikit trdapat


dua titik yang berbeda.

Melalui satu titik di luar


garis, dapat dibuat
tepat satu garis sejajar
dengan garis tersebut.

3. Beberapa Konsep Dasar


1. Pengertian pangkal
Titik, garis, dan bidang merupakan pengertian pangkal yang tidak
didefinisikan (undefined term).

GEOMETRI 91
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Gambar 2.3.2 Titik Garis dan Bidang

Beberapa istilah lain dalam geometri juga cukup diterima secara intuitif,
tetapi tidakdidefinisikan, seperti “terletak”, “di luar”, “kelurusan” suatu
garis, atau “datarnya” bidang.
Titik dapat dibayangkan seperti bola yang semakin mengecil sehingga
jari-jarinya nol. Karena tidak memiliki ukuran, maka titik dikatakan
berdimensi nol. Titik dapat ditentukan letaknya. Titik biasa
direpresentasikan sebagai noktah. Besar kecilnya noktak tidak
berpengaruh, tetap saja titik tidak memiliki ukuran.dan dinotasikan
dengan huruf kapital (misal: A, B ,T ). Garis dapat dibayangkan sebagai
jejak titik yang bergerak lurus. Garis memanjang ke dua arah. Dengan
demikian garis hanya memiliki panjang, tidak memiliki ketebalan
sehingga dikatakan garis berdimensi satu. Akibat dari hal ini adalah,
jarak dua titik pada suatu garis dapat ditentukan ukurannya. Garis
dinotasikan dengan huruf non kapital (misal garis l,h ,g ) atau dengan
⃡ ). Bidang dapat dibayangkan
menyebutkan dua titik yang dilalui (misal𝐴𝐵
sebagai jejak garis yang bergerak menyamping tanpa mengubah arah
garis. Bidang meluas ke segala arah tanpa batas. Dalam lukisan
geometris, bidang dapat dilukiskan sebagiannya dalam bentuk
jajargenjang. Bidangdinotasikan dengan huruf Yunani, atau tiga titik yang
dilaluinya (misal bidang α, bidang, bidang ABC).

GEOMETRI 92
MATEMATIKA – MATEMATIKA
2. Definisi, Aksioma, dan Teorema

Setelah mengenal undefined term titik, garis, dan bidang, diperlukan


pernyataan-pernyataan yang menjelaskan suatu istilah. Pernyataan ini
disebut sebagai definisi. Dalam mendefinisikan sesuatu, hanya boleh
menggunakan undefined term, atau istilah-istilah yang telah dikenal
sebelumnya. Berikut ini beberapa definisi dalam geometri.

1) Kolinear (segaris):
Tiga titik dikatakan kolinear (segaris) jika semua titik tersebut terletak
pada garis yang sama. Pada gambar limas T.ABCD di bawah, titik E
terletak di tengah AC, sehingga ketiga titik A, E, dan C segaris.
Sementara itu tiga titik A,C dan Ttak segaris (non kolinear).

Gambar 2.3.3 Limas T.ABCD

2) Koplanar (sebidang):
Dua garis dikatakan koplanar jika keduanya terletak pada bidang
yang sama. Empat titik dikatakan koplanar jika keempat titik tersebut
terletak sebidang. Pada gambar di atas,garis AB dan BC koplanar,

GEOMETRI 93
MATEMATIKA – MATEMATIKA
sedang garis AB dan TC non koplanar. Empat titik T, A, B, C tak
sebidang karena tidak terletak di bidang yang memuat ABC
3) Ruas garis (segmen):
̅̅̅̅) merupakan himpunan titik A, B
Ruas garis (dilambangkan dengan𝐴𝐵
dan semua titikdi antara A dan B yang kolinear dengan garis melalui
kedua titik tersebut. Titik A dan B dalam hal ini disebut sebagai ujung-
̅̅̅̅dapat diartikan
ujung ruas garis. Dalam penulisan berikutnya, 𝐴𝐵
sebagai ruas garis AB, dapat juga diartikan sebagai panjang ruas
garis AB tergantung pada konteksnya.
4) Sinar Garis (Ray):

Sinar AB (ditulis 𝐴𝐵) merupakan bagian dari ⃡ yang terdiri atas


𝐴𝐵
̅̅̅̅
𝐴𝐵 dan semua titik Xpada ⃡𝐴𝐵sedemikian hingga𝐵terletak di antara A
dan X .Selanjutnya titik A ini dinamakansebagai titik pangkal.
Gambar 2.3.4 Sinar AB

Harap dicatat bahwa 𝐴𝐵dan𝐵𝐴 merupakan sinar yang berbeda.


Sebagai catatan, definisi yang baik, menyajikan hal-hal berikut:

a. Nama atau istilah yang akan didefinisikan.


b. Posisi istilah tersebut dalam himpunan atau kategori.
c. Dapat membedakan istilah yang didefinisikan dengan istilah lain
tanpamemberikan fakta-fakta yang tidak diperlukan.
d. Berlaku bolak-balik.
Contoh definisi: Segitiga samakaki adalah segitiga yang memiliki dua
sisi yang kongruen.

GEOMETRI 94
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Perhatikan bahwa:
(a) Istilah yang didefinisikan adalah “segitiga samakaki”.
(b) Posisisegitiga samakakai termasuk dalam himpunan “segitiga”.
(c) Hal yang membedakan segitiga samakaki dengan segitiga yang
lain adalah “memiliki dua sisi yang kongruen”.
(d) berlaku bolak balik, dimaksudkan sebagai berikut:
(1). “Jika suatu segitiga itu samakaki, maka ia memiliki dua kaki
yang kongruen”

(2). “Jika suatu segitiga memiliki dua sisi yang kongruen, maka ia
merupakan segitiga samakaki”.

Selain undefined term dan definisi, untuk membangun geometri juga


dibutuhkan
sekumpulan aksioma atau postulat. Aksioma merupakan pernyataan
pangkal yang secara intuitif mudah dipahami, sehingga diterima
kebenarannya tanpa bukti. Beberapa aksioma dalam geometri di
antaranya:
Aksioma 1. Melalui dua titik berbeda, dapat dibuat tepat satu garis.
Aksioma 2. Jika dua titik pada suatu garis terletak pada suatu
bidang, maka titik-titik pada
garis tersebut seluruhnya terletak pada bidang.
Aksioma 3. Melalui tiga titik tidak segaris dapat dibuat tepat satu
bidang.

Dengan menggunakan kaidah-kaidah logika berdasarkan suatu


pernyataan dapat ditentukan benar dan salahnya. Dalam matematika
pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya dengan menggunakan
penalaran deduktif dinamakan sebagai teorema. Dalam membuktikan
suatu teorema hanya boleh menggunakan aksioma, definisi, dan teorema
sebelumnya yang telah terbukti kebenarannya. Pernyataan yang belum
dibuktikan kebenarannya dinamakan sebagai konjektur (conjecture) atau
dugaan.

GEOMETRI 95
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Teorema 1. Melalui satu garis dan sebuah titik di luar garis hanya
dapat dibuat satu bidang.
Bukti:

Misalkan diberikan garis , maka dap ditentukan dua titik berbeda dan
yang

terletak pada garis . Karena bidang melalui maka seluruh titik pada garis
itu terletak pada bidang (Aksioma 1). Sementara itu masih ada satu titik
lagi di luar garis, sehingga terdapat tiga titik yang tidak segaris. Menurut
aksioma 3, maka dapat dibuat tepat satu bidang. Jadi melalui satu garis
dan sebuah titik di luar garis hanya dapat dibuat satu bidang.

Teorema 2. Melalui dua garis berpotongan hanya dapat dibuat satu


bidang.
Bukti:

misal dibarikan garis dan berpotongan di titik . Tanpa mengurangi


keumuman,
pandang garis , dan ambil titik di garis . Menurut teorema 1, dapat dibuat
satubidang. Jadi melalui dua garis berpotongan hanya dapat dibuat satu
bidang.

3. Pengertian Sudut

Sebuah kantor pemasaran alat-alat elektronik berdiri di atas tanah


berbentuk segitiga seperti Gambar 2.3.5 berikut.
Gambar 2.3.5 Segitiga ABC

GEOMETRI 96
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Pada tiap sudutnya dipasangi lampu. Sandi yang bekerja sebagai
cleaning service di kantor tersebut mendapat tugas mengganti semua
lampunya. Ada berapakah lampu yang harus disediakan Sandi?
Sebelum menentukan jumlah lampu yang harus disediakan Sandi,
terlebih dahulu Sandi harus mengetahui jumlah sudut yang terbentuk
pada lahan kantornya itu, coba Anda perhatikan gambar lahan kantor
dimana Sandi bekerja. Pada lahan tersebut, terdapat tiga buah sudut
yaitu sudut A, B, dan C. Berarti jumlah lampu yang harus dibawa Sandi
ada 3 buah.
Gambar 2.3.6 Sudut ABC

Berdasarkan ilustrasi tersebut, dapatkah Anda menyimpulkan pengertian


dari sudut? Dalam kehidupan sehari-hari mungkin Anda sering
mendengar kata sudut, misalnya seperti dalam kalimat-kalimat berikut.

 Anto duduk di sudut ruangan.


 Gol tim nasional Indonesia bermula dari tendangan sudut.
 Pak Anwar disudutkan oleh koleganya dalam rapat direksi.

Setelah Anda membaca uraian tersebut, Anda menyimpulkan bahwa


sudut dapat diartikan sebagai pojok. Dari segi bahasakonsep itu adalan
benar, tetapi bagaimanakah definisi sudut dalam matematika?

Untuk menjawabnya, perhatikanlah sinar garis OA dan OB berikut.


Gambar 2.3.7 Sinar Garis OA dan OB

GEOMETRI 97
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Pada gambar tersebut terlihat dua buah sinar garis OA dan OB berhimpit
di titik O. Daerah yang terbentuk di antara sinar garis OA dan OB disebut
sudut. Ingat, walaupun sinar garis memiliki panjang yang tak hingga, jika
pangkalnya berhimpit dengan pangkal sinar garis lain, pasti akan
membentuk sudut.
Sudut yang terbentuk pada gambar tersebut, dapat diberi nama dengan
tiga cara, yaitu sudut O disimbolkan dengan <O, atau sudut BOA
disimbolkan dengan<BOA atau juga sudut AOB disimbolkan dengan
<AOB. Sinar garis OA dan sinar garis OB dinamakan kaki sudut. Titik O
(titik pangkal) dinamakan titik sudut.
Gambar 2.3.8 Sudut 1

Berdasarkan uraian tersebut, sudut didefinisikan sebagai suatu daerah


yang dibatasi oleh dua sinar garis yang mempunyai titik pangkal yang
sama atau dengan kata lain Sudut adalah gabungan dua sinar garis yang
bersekutu titik pangkalnya.

Gambar 2.3.9 Sudut 2

GEOMETRI 98
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Suatu sudut yang dibentuk oleh sinar garis OA dan OB dinotasikan AOB
atau BOA atau O. Sinar garis OA dan OB disebut kaki-kaki sudut dan
titik O disebut titik sudut.
Perhatikan sudut-sudut yang terbentuk pada perpotongan garis AC dan
BD gambar berikut.
Gambar 2.3.10 Perpotongan Garis AC dan BD

Garis AC dan garis BD yang berpotongan di titik O. Sudut yang terbentuk


dari perpotongan dua garis tersebut terdiri atas 4 buah, yaitu <AOB,
<BOC, <COD, dan <AOD.
Sudut adalah bangun yang dibentuk dari ruas garis yang bertemu pada
suatu titik. Titik pertemuannya disebut titik sudut. Kedua ruas garisnya
disebut kaki sudut / sisi sudut.
Perhatikan Gambar 2.3.11berikut :
Gambar 2.3.11 Sudut 65o

GEOMETRI 99
MATEMATIKA – MATEMATIKA
AOB =  = 65

sudut refleks AOB = 295


Dengan demikian, segitiga ABC pada Gambar 2.3.9 memiliki 3 buah
sudut, yaitu:
o <Aatau<CABatau<BAC
o <Batau<CBAatau<ABC
o <Catau<BCAatau<ACB

4. Mengukur Besar Sudut

Besar sudut diukur menggunakan busur derajat. Hasil pengukurannya


diperoleh suatu nilai yang dinyatakan dengan satuan derajat (˚). Nilai
tersebut menyatakan ukuran besar daerah sudut.
Gambar 2.3.12 Busur Derajat

Anda telah mempelajari cara menggunakan busur derajat untuk


mengukur besar suatu sudut di Sekolah Dasar. Untuk mengingatnya
kembali gunakan busur derajat untuk mengukur dan membuat sudut
pada Contoh Soal berikut.

Contoh Soal

Dengan menggunakan busur derajat, hitung besar sudut-sudut berikut

GEOMETRI 100
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Jawab:

Dengan menghimpitkan salah satu sinar garis yang membentuk sudut


pada busur derajat diperoleh

Pada busur derajat terlihat besar udut tersebut adalah 40

Oleh karena sudut tersebut merupakan sudut refleks maka besar sudut
tersebut adalah 80˚ + 30˚ = 210˚

5. Macam-macam Satuan Sudut

1). Satuan Derajat ()

Derajat adalah nama satuan yang digunakan untuk menyatakan besar


sudut. Satuan ini disebut juga satuan sudut sexagesimal, yaitu membagi
keliling lingkaran menjadi 360 bagian yang sama. Setiap bagian disebut 1
derajat. Dengan demikian, satu putaran penuh besarnya adalah 360
derajat. Derajat dilambangkan dengan (°). Jika suatu sudut besarnya 360
derajat maka ditulis 360°.

1 putaran = 1 keliling lingkaran = 360°

GEOMETRI 101
MATEMATIKA – MATEMATIKA
½ putaran = ½ keliling lingkaran = 180°

¼ putaran = ¼ keliling lingkaran = 90°

1 1
360
putaran = 360 keliling lingkaran = 1°

Oleh karena itu, diperoleh

Setiap derajat dibagi dalam 60 menit dan setiap menit dibagi menjadi 60
detik. Menit dilambangkan dengan (') dan detik dilambangkan dengan ('').

12 menit ditulis 12'

25 detik ditulis 25''

Hubungan antara derajat, menit, dan detik adalah sebagai berikut.

Contoh

1. Nyatakan sudut berikut dalam bentuk derajat-desimal.

a. 20°50'40''

b. 25°30'

2. Nyatakan sudut berikut dalam bentuk derajat-menit atau derajat-


menitdetik.

a. 120,4°

b. 54,72°

Jawab:

GEOMETRI 102
MATEMATIKA – MATEMATIKA
1. a. 20°50'40'' = 20° + 50' + 40''

= 20° + 50' + (40 × 1'')

1 ′
= 20° + 50' + [40 𝑥 (60) ]

40 ′
= 20° + 50' + (60)

2 ′
= 20° + 50' + (3)

2 ′
= 20° + (50 + 3)

152 ′
= 20° + ( 3
)

152
= 20° + ( 𝑥1′ )
3

152 1 ′
= 20° + [ 3
𝑥 (60
)]

152 ′
= 20° + [ 3
]

= 20° + 0,84° = 20,84°

GEOMETRI 103
MATEMATIKA – MATEMATIKA
2). Satuan radian (rad)

GEOMETRI 104
MATEMATIKA – MATEMATIKA
1 rad adalah besarnya sudut pusat suatu lingkaran yang panjang busur
dihadapan sudut itu sama dengan panjang jari-jarinya.

Jika panjang busur AB sama dengan panjang OB atau OA (jari-jari) maka


besar – AOB disebut 1 radian. Panjang busur suatu lingkaran = 2p × r 2p
× r disebut 2p radian. 2p radian = 360° p radian = 180° sehingga
diperoleh,

Contoh:

GEOMETRI 105
MATEMATIKA – MATEMATIKA
c. Satuan Centisimal / gone / grade (g)

1
1g = keliling lingkaran sehingga 1 keliling lingkaran = 400g.
400

f. Mengkonversikan Satuan Sudut

Contoh:

Nyatakan : (i) 30 dalam satuan radian

2
(ii)  radian dalam derajat
3

(iii) 57,215 dalam derajat, menit dan detik

(iv) 655025 dalam desimal derajat

(v) 5 ke satuan grade

GEOMETRI 106
MATEMATIKA – MATEMATIKA
1
(vi)  radian ke satuan grade
5
Jawab:

30 1
(i) 30 =  rad =  rad
180 6

2 2
(ii)  rad = .180 = 120
3 3

215
(iii) 57,215 = 57 + .60
1000

= 57 + 12,9

9
= 57 + 12 + .60
10

= 57 + 12 + 54

= 571254

 50   24 
(iv)655025 = 65 +   
 60   3600 

= 65 + 0,83 3  + 0,00 6 

= 65,84

45
(v) 45 = . 200g = 50g
180
1 1
(vi)  rad = . 200g = 40g
5 5

g. Jenis-jenis Sudut

GEOMETRI 107
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Berdasarkan besarnya, sudut dapat dikelompokan menjadi beberapa
jenis, yaitu:

1) Sudut lancip
Sudut lancip adalah sudut yang besarnya antara 0° dan 90°.

Gambar 2.3.13 Sudut lancip

2) Sudut siku-siku
Sudut siku-siku adalah sudut yang besarnya 90°.

Gambar 2.3.14 Sudut Siku-Siku

Sudut siku-siku

3) Sudut tumpul
Sudut tumpul adalah sudut yang besarnya antara 90° dan

180°.

Gambar 2.3.15 Sudut Tumpul

Sudut tumpul

4) Sudut pelurus

GEOMETRI 108
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Sudut pelurus adalah sudut yang besarnya 180°.

Gambar 2.3.16 Sudut pelurus

5) Sudut refleks
Sudut refleks adalah sudut yang besarnya antara 180° dan 360°.

Gambar 2.3.17 Sudut Refleks

Sudut refleks

h. Sudut sebagai Arah Putar

Gambar 2.3.18 Jam Dinding

Coba Anda perhatikan jarum penunjuk detik pada jam dinding. Jika Anda
lihat, jarum penunjuk detik berada pada angka 12. Kemudian, jarum

GEOMETRI 109
MATEMATIKA – MATEMATIKA
tersebut berputar kembali menuju angka 12. Berarti, jarum penunjuk detik
telah berputar sebanyak 1 putaran penuh atau berputar sebesar 360°.
Berdasarkan uraian tersebut, diperoleh bahwa satu putaran penuh
besarnya adalah 360°. Oleh karena itu, dapat di analogikan

Contoh:

Jawab:

a. Sudut AOC adalah sudut siku-siku sehingga

AOB + <BOC = 90°

<AOB + 45° = 90°

<AOB = 90° – 45°

<AOB = 45°

GEOMETRI 110
MATEMATIKA – MATEMATIKA
b. Sudut AOD adalah sudut pelurus sehingga

<AOB + <BOC + <COD = 180°

<AOD + 90° + 25° = 180°

<AOB = 180° – 90° – 25°

<AOB = 65°

1) Hubungan antara sudut-sudut


Sudut yang berdekatan/berdampinganSudut yang berdekatan adalah dua
sudut yang memiliki titik sudut yang sama, sebuah kaki sudut yang sama,
tetapi tidak memiliki titik-titik interior yang sama.
Contoh pasangan sudut berdekatan: <BAC dengan <CAD, <FEH
dengan <FEG. Bukan pasangan berdekatan: <BAC dengan
<BAD(interior bersama),<ROQ dengan <OQP(titik sudut berbeda).
Gambar 2.3.19 Sudut yang Berdekatan

2) Sudut-sudut berpenyiku
Dua sudut dikatakan berpenyiku jika jumlah besar kedua sudut 90 . Satu
sudut merupakan penyiku (komplemen) bagi sudut yang lain.

3) Sudut-sudut berpelurus
Dua sudut dikatakan berpelurus jika jumlah besar kedua sudut 180 . Satu
sudut merupakan pelurus (suplemen) bagi sudut yang lain.

GEOMETRI 111
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Gambar 2.3.20 Sudut-Sudut Berpelurus

4) Dua sudut bertolak belakang


Sudut bertolak belakang terbentuk ketika dua garis saling berpotongan
dan membentuk empat sudut. Setiap dua sudut yang tidak berdampingan
dari keempat sudut disebut sudut bertolak belakang.

Gambar 2.3.21 Sudut yang Bertolak Belakang

gambar di samping,

Pasangan sudut bertolak belakang: <1 dan <3, <2 dan <4
Pasangan sudut berdekatan: <1 dan <2, <2 dan <3, <3 dan <4, <1 dan
<4

Dengan cara yang sama dapat ditunjukkan bahwa ??. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa dua sudut yang bertolak belakang sama besar.

i. Transversal dan Kesejajaran


1). Transversal (melintang)

GEOMETRI 112
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Jika dua garis qdan rdipotong oleh garisp , seperti pada gambar, maka
dikatakantransversal pmemotong garis q dan r. Perhatikan istilah-istilah
yang digunakan.
Istilah-istilah sudut pada transversal.

Tabel 2.3.22 Sudut pada Transversal

Catatan: perhatikan bahwa istilah-istilah sudut sehadap, berseberangan,


sudut luar, dan lain-lain seperti di atas berlaku secara umum tidak hanya
berlaku untuk dua garis sejajar yang dipotong oleh garis lain.
2). Postulat Kesejajaran
Dua garis dikatakan sejajar jika kedua garis tersebut terletak pada bidang
yang sama dan tidak memiliki titik persekutuan.

Postulat 1 Garis Sejajar:

Gambar 2.3.23 Postulat 1 Garis Sejajar

GEOMETRI 113
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Sehingga, pada gambar di atas, garis r sejajarq dipotong garis p, maka
berlaku:
<1 =<5, <2 = <6. <3 =<7. Dan <4 =<8
Catatan: postulat merupakan pernyataan yang diterima kebenarannya tanpa
bukti.
Akibat-akibat yang muncul dari postulat sejajar adalah:
Jika dua garis sejajar dipotong oleh garis melintang, maka

a. sudut luar berseberangan sama besar.


b. sudut dalam berseberangan sama besar.
c. sudut-sudut dalam sepihak saling berpelurus.
d. sudut luar sepihak saling berpelurus.

Bukti:

<1 = <3 dan <2 = <4 (sudut bertolak belakang sama besar)
<3 = <7 dan <4 = <8 (sudut sehadap sama besar)
Sehingga <1 = <7 dan <2 = <8 , sudut luar berseberangan sama besar. (a
terbukti). Dengan cara serupa, pernyataan-pernyataan b, c, dan d dapat Anda
buktikan kebenarannya.

Postulat 2 garis sejajar.

Gambar 2.3.24 Postulat 2 Garis Sejajar

GEOMETRI 114
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Atau dapat juga dituliskan:
Misalkan garis j dan k dipotong oleh garis melintang, jika <2 = <6 maka j // k .
Dengan postulat 2 kesejajaran, dapat diturunkan teorema-teorema berikut.
1). Jika dua garis dipotong oleh garis melintang sehingga sudut dalam
berseberangan sama besar maka kedua garis tersebut sejajar.

Bukti:

Diketahui garisjdan kdipotong oleh garis l , dan <4 = <6.


Akan ditunjukkan bahwaj // k .

Gambar 2.3.25 Sudut Dalam Bersebrangan

<2 = <6 (diketahui)


<6 = <8 (sudut bertolak belakang sama besar)
Akibatnya sehingga menurut postulat sejajar 2 diperoleh garisj // k. (terbukti).

2). Jika dua garis dipotong oleh garis melintang sehingga sudut luar
berseberangan samabesar maka kedua garis tersebut sejajar.

GEOMETRI 115
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Bukti:

Diketahui garis j dan k dipotong oleh garis l , dan <4 = <6.

Akan ditunjukkan bahwa j // k.

Gambar 2.3.26 Sudut Luar Berseberangan

<2 = <8 (diketahui)


<8 = <6 (sudut bertolak belakang sama besar)
Akibatnya , sehingga menurut postulat sejajar 2, maka garisj // k (terbukti)

3). Jika dua garis dipotong oleh garis melintang sehingga sudut dalamsepihak
saling berpelurus maka kedua garis tersebut sejajar.

Bukti:

Diketahui garis j dan k dipotong oleh garis l, dan dan <3 + <6 = <180o

Akan ditunjukkan bahwa j // k

Gambar 2.3.27 Sudut Dalam Sepihak

GEOMETRI 116
MATEMATIKA – MATEMATIKA
<3 + <6 = <180o(diketahui)

<3 + <2 = <180o(sudut berpelurus)

Akibatnya<2 = <6 sehingga menurut postulat sejajar 2, maka garis j // k.

j. Konstruksi Geometri
Peralatan yang sering digunakan dalam geometri adalah jangka yang
digunakan untuk melukis lingkaran dan bagian dari lingkaran yang
dinamakan busur.
Dengan jangka dan penggaris, berbagai konstruksi geometri dapat
dibuat. Pada bagian ini hanya diberikan langkah-langkah teknis melukis
konstruksi geometri. Sementara itu alasan/mengapa langkah-langkah
tersebut menghasilkan konstruksi yang diinginkan dapat dipelajari
setelah mempelajari sifat-sifat bangun datar.
1). Menyalin sudut
Diberikan <BAC akan dilukis <TSU yang besarnya sama dengan <BAC

Gambar 2.3.28 Langkah-Langkah Menyalin Sudut

Langkah-langkah :

GEOMETRI 117
MATEMATIKA – MATEMATIKA
1) Lukis busur 1 berpusat di 4, memotong kaki-kaki sudut di B dan C
(Gambar kiri atas).
2) Dengan jari-jari yang sama dengan busur 1, lukis busur 2 dengan
pusat di S (Gambar kiri bawah).
3) Lukis busur 3 berpusat di B, berjari-jari BC (Gambar tengahatas).
5) Lukis busur 4 dengan jari-jari sama dengan busur 3 dan berpusat di T
hinggamemotong busur 3 di titik V (Gambar tengah bawah).
6) Tarik sinar garis SU.Diperoleh <CAB = <TSU (Gambar kanan).
Melalui proses menyalin sudut dan berbekal postulat 2 kesejajaran, maka
dimungkinkanuntuk melukis garis sejajar melalui sebuah titik di luar garis
dengan cara sebagai berikut:
1) Diberikan sebuah garis MN dan sebuah titik P di luar garis.
2) Tarik garis melalui P memotong garis MN (misalkan memotong di titik
M).
3)Buat sudut RPQ yang besarnyasama dengan sudut PMN.
4) Tarik garis melalui PQ, diperoleh garis PQ sejajar garis MN

Gambar 2.3.29 Garis PQ

2). Membagi dua suatu sudut


Diberikan sebarang sudut, akan dibuat sudut yang besarnya setengah
sudut yang diberikan.
Gambar 2.3.30 Langkah-Langkah Membagi Dua Suatu Sudut

GEOMETRI 118
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Berikut ini langkah-langkah melukis garis bagi sudut dengan mistar dan
jangka.
1) Lukis busur 1 berpusat A di dan memotong kaki-kaki sudut di B dan C
.
2) Lukis busur 2 berpusat di B, jari-jari busur menyesuaikan besar sudut.
3) Dengan jari-jari sama dengan busur 2, lukis busur berpusat di C dan
memotong busur 2 di D.
4) Tarik garis melalui A dan D. Garis AD membagi <CAB menjadi dua
bagian sama besar, <CAD = <DAB.

3). Membagi dua ruas garis (melukis titik tengah)

Gambar 2.3.31 Langkah-Langkah Membagi Dua Ruas Garis

Langkah-langkah:
1) Diberikan sebarang ruas garis AB.
2) Lukis busur berjari-jari r, berpusat di A.
3) Lukis busur berjari-jari r, berpusat di B.
4) Kedua busur beropotongan di C dan D .
5) Tarik garis CD, memotong AB di T, maka T merupakan titik tengah AB.

4). Membagi ruas garis menjadi bagian yang sama panjang


Misalkan diberikan ruas garis yang akan dibagi menjadi tiga bagian yang
samapanjang. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1) Tarik garis melalui AC

GEOMETRI 119
MATEMATIKA – MATEMATIKA
2) Dengan jari-jari busur yang sama, buat busur 1 berpusat di A dan
memotong AC di A1, busur 2 berpusat di A1 dan memotong garis AC di
A2, serta busur 3 berpusat di A2dan memotong garis AC di A3. 3) Tarik
garis melalui B dan A3.
4) Salin <CA3ke titik dan dengan garis sebagai salah satu kakinya.
5)Perpanjang kaki-kaki sudut yang lain hingga memotong AB di B1 dan
B2.
1
6) Diperoleh AB1 = B1B2 = B2B = AB
3

Gambar 2.3.32 Membagi Dua Ruas Garis Sama Panjang

5). Melukis sudut siku-siku

a. Melalui titik di luar garis

Cara 1.

Gambar 2.3.33 Melukis Sudut Siku-Siku melalui Titik di Luar Garis

1) Buat busur berpusat di A sehingga memotong garis di B dan C (Gb. b).

GEOMETRI 120
MATEMATIKA – MATEMATIKA
2) Buat duabusur dengan jari-jari sama berpusat di A dan B sehingga
berpotongan di D (Gb. c dand).
3)Tarik garis dari A ke D. Diperoleh garis AD tegaklurus BC (Gb. e).
Cara 2.
Langkah-langkah melukis sudut siku-siku melalui titik diluar garis:
1) Lukis garis melalui P memotong garis yang diberikan di A dan
tentukan titiktengahnya.
2) Buat busur berdiameter AP sehingga memotong garis di C .
3) Tarikgaris melalui P dan C (gambar d), diperoleh PC tegak lurus AC .
Gambar 2.3.34 Melukis Sudut Siku-Siku melalui Titik di Luar Garis cara 2

b. Melalui Titik pada Garis


Langkah-langkah melukis sudut siku-siku melalui titik pada garis:

1) Buat busur berpusat di A sehingga memotong garis di B dan C.


2) Buat dua busur berjari-jari sama dengan pusat di B dan di C sehingga
berpotongan di D (Gambar c dan d).
3) Tarik garis dari A ke D. Diperoleh garis AD tegaklurus BC .
Gambar 2.3.35 Melukis Sudut Siku-Siku melalui Titik pada Garis

GEOMETRI 121
MATEMATIKA – MATEMATIKA
k. Bangun Datar
Dalam ilmu ekonomi, dikenal berbagai bentuk perusahaan seperti firma,
perusahaan perorangan, Perseroan Terbatas (PT), dan lain sebagainya.
Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki ciri khusus masing -masing
yang tidak sama. Anda dapat mengatakan perusahaan tersebut termasuk
Perseroan Terbatas, perusahaan perorangan, atau firma setelah melihat
berbagai aspek seperti kepemilikan modalnya, peran, atau tanggung
jawab yang ditanggung oleh masing-masing individu.
Analogi dengan bentuk-bentuk perusahaan, dalam matematika, yaitu
geometri dikenal bentuk-bentuk bangun datar seperti persegipanjang,
trapesium, segitiga, persegi, dan sebagainya. Sama seperti bentuk-
bentuk perusahaan, setiap jenis bangun datar tersebut memiliki ciri-ciri
khas yang berbeda dari bangun lainnya. Anda dapat mengatakan apakah
bangun tersebut merupakan persegi, segitiga, atau trapesium dengan
melihat sisinya, sudutnya, simetri lipatnya, dan sifat lainnya.
Sebelum mempelajari sifat-sifat yang dimiliki bangun datar, pelajarilah
uraian berikut.
Diagonal adalah garis yang ditarik dari sudut di hadapannya.Perhatikan
Gambar 2.3.36
Gambar 2.3.36 Diagonal pada Bangun Datar

GEOMETRI 122
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Perhatikan Gambar 2.3.36 (a), (b), dan (c). Garis AC dan BD merupakan
diagonal pada bangun ABCD, garis FH dan EG merupakan diagonal
pada bangun EFGH, serta garis JL dan IK merupakan diagonal pada
bangun IJKL.
Pada bagian ini, Anda akan mempelajari beberapa bentuk bangun datar,
sifat - sifatnya, keliling, dan luasnya. Bentuk bangun datar yang akan
dipelajari pada Subbab ini adalah persegipanjang, persegi, segitiga,
jajargenjang, layang-layang, dan trapesium.
Di Singapura ada air mancur yang sangat terkenal bernama ‘Fountainof
Wealth’.
Air mancur tersebut banyak dikunjungi orang-orang dari seluruh dunia.
Kerangka air mancur tersebut dibuat dari perunggu yang berbentuk
lingkaran dengan keliling 66 m dan luas 1.683 m2.
Gambar 2.3.37 Air mancur di Singapura

Keliling suatu bangun datar yang tertutup merupakan jumlah panjang


sisi-sisinya. Anda dapat pula mengatakan bahwa keliling suatu bangun
datar adalah jarak yang yang anda tempuh, bila anda mengitari bangun
tersebut.

Contoh 1:
Perhatikan bangun datar berikut.

GEOMETRI 123
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Gambar 2.3.38 Bangun Datar ABCDEF

Panjang AB = 7 cm, panjang BC = panjang CD = panjang AF = 4 cm,


panjang DE = 5 cm, dan panjang EF = 3,5 cm.
Keliling bangun datar ABCDEF = (7 + 4 + 4 + 5 + 3, 5 + 4) cm
= 27,5 cm
Sekarang marilah kita mengingat kembali rumus keliling bangun-bangun
datar, yang telah anda kenal. Jika keliling bangun-bangun datar tersebut
dinyatakan dengan K, kita peroleh rumus untuk keliling setiap bangun
berikut ini.

Gambar di samping adalah gambar

segitiga yang sisi-sisinya berturut-turut

a satuan, b satuan, dan c satuan.

K = (a + b + c ) satuan

l Gambar di samping adalah gambar

GEOMETRI 124
MATEMATIKA – MATEMATIKA
persegi panjang dengan panjang p

satuan dan lebar i satuan.

K = 2 (l + p) satuan

s Gambar di samping adalah gambar

persegi dengan sisi s satuan.

K = 4 s satuan

Gambar di bawah adalah gambar lingkaran dengan jari-jari r.

Gambar 2.3.39 Gambar Macam-Macam Bangun Datar

𝟐𝟐
K = 2π r = 2 𝟕 rsatuan

Karena diameter (garis tengah) lingkaran, d, sama dengan 2 r maka K


dapat juga dinyatakan sebagai:
𝟐𝟐
K =π d = 𝟕 dsatuan

Contoh :
Tentukan keliling daerah yang berbayang-bayang pada gambar berikut:

GEOMETRI 125
MATEMATIKA – MATEMATIKA
a) b)

Penyelesaian:

a) Keliling = ( 2+ 5 + 6 + 5 + 3 + 8 + 3 + 6 + 2 + 8 ) cm
= 48 cm.

b) K ‘setengah lingkaran besar’ = ½ x 2πR


= ½ x 2π x 28
= 28π

K 2 ‘setengah lingkaran kecil’ = 2 ( ½ 2π x 14)

= 28π
bangun berbayang-bayang = (28π + 28π) satuan
= 56 π satuan
22
Atau keliling bangun berbayang-bayang= 7
x 56 Satuan

= 176 satuan
Setelah Anda mempelajari keliling bangun datar, berikut ini anda
mempelajari luas bangun datar. Perhatikan dua bangun A dan B berikut.
Gambar 2.3.40 Bangun Datar A dan B

GEOMETRI 126
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Bangun A dan B memuat persegi kecil sama banyak. Berapakah banyak
persegi kecil dalam setiap bangun? Anda dapat mengatakan bahwa banyak
persegi kecil yang anda gunakan untuk menutup bangun A dan B sama
banyak. Hal ini dikatakan bahwa bangun A dan B mempunyai luas sama.
Luas daerah suatu bangun datar, yang selanjutnya disebut luas
adalahukuran yang menunjukkan banyak satuan untuk menutup permukaan
bangun datar tersebut. Jika luas suatu bangun datar dinyatakan dengan
L,marilah mengingat kembali rumus-rumus luas bangun datar yang
sudahpernah anda pelajari.

Gambar 2.3.41 Gambar Ilustrasi untuk Luas Bangun Datar

Gambar di samping adalah gambarsegitiga dengan alasa satuan dan

t tinggi t satuan. Tinggi suatu segitiga

adalah panjang garis pada salah satu

sisi segitiga dan melalui titik di

depan sisi tersebut.

𝟏
𝑳= 𝒂𝒕𝑺𝒂𝒕𝒖𝒂𝒏
𝟐

GEOMETRI 127
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Gambar di samping adalah gambar
persegi panjang dengan panjang p

satuan dan lebar i satuan.

L = (l xp) satuan

Gambar di samping adalah gambar

persegi dengan sisi s satuan.

L = s2satuan

Gambar di samping adalah gambar

lingkaran dengan jari-jari r.

L =𝝅 r2satuan

Contoh 3:

Tentukan luas bangun berikut.

a) b)

GEOMETRI 128
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Penyelesaian:
a) L = (2 x 8) + (6 x 3) + (3
x 8)
= 16 + 18 + 24 = 58
Jadi luas bangun a) adalah 58 cm2 .
b) L = ½ x π x (28)2 = ½ x π x 784 =
392π
Jadi luas bangun b) adalah 392 π satuan.
Untuk menentukan luas bangun datar yang tidak beraturan, anda dapat
menggunakan bidang Cartesius, kemudian membilang banyak satuan
yang terdapat pada banguan tersebut.

Contoh 4.

Tentukan luas bangun pada bidang Cartesius berikut.

Luas bangun tersebut adalah 11,5 satuan.

Gambar 2.3.42 Trapesium

Gambar di atas adalah gambar trapesium dengan sisi sejajar a dan b


serta
tinggi t. Luas trapesium tersebut adalah L=½ x (a+b) x t

GEOMETRI 129
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Berikut adalah kesimpulan dari keliling dan luas macam-macam Bangun
datar Beraturan

1. Segitiga
 Berdasarkan sisinya segitiga dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
1) Segitiga sembarang
2) Segitiga sama kaki
3) Segitiga sama sisi
 Berdasarkan sudutnya segitiga dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
1) Segitiga lancip
2) Segitiga tumpul
3) Segitiga siku-siku
Gambar 2.3.43 Ilustrasi Luas dan Keliling Segitiga

GEOMETRI 130
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Gambar 2.3.44 Ilustrasi Luas dan Keliling Bangun Datar

GEOMETRI 131
MATEMATIKA – MATEMATIKA
7. Trapesium

 Trapesium dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :


a) Trapesium sembarang
b) Trapesium sama kaki
c) Trapesium siku-siku
Gambar 2.3.45 Ilustrasi Luas dan Keliling Trapesium dan Lingkaran

9. Segi-n Beraturan

Jika r adalah jari-jari lingkaran pada segi-n beraturan, maka :

n 2 360
Lsegi-n = r Sin
2 n

Jika sisinya s dan sudut kelilingnya ada n, maka :

GEOMETRI 132
MATEMATIKA – MATEMATIKA
 (n  2).180 
n.s 2 .Sin 2  
Lsegi-n =  2n
 (n  2).180 
2.Sin  
 n

12. Taksiran Luas daerah bidang Tak beraturan

Ada tiga aturan yang dipergunakan untuk mencari luas daerah bidang tak
beraturan .
a. Aturan Trapesoida
Bangun daerah bidang tak beraturan dibagi menjadi beberapa bagian yang
lebarnya sama. Masing-masing bagian disebut pias / partisi.
Perhatikan gambar berikut :
Gambar 2.3.46 Trapesoida

Satu bidang pias A1B1B2A2, luasnya mendekati trapezium dengan sisi sejajar
y1 dan y2 serta jaraknya d.

 y1  y 2 
Luas pias A1B1B2A2   .d
 2 

Demikian seterusnya untuk luas pias-pias berikutnya, sehingga luas total


merupakn jumlah dari msing-masing pias.

GEOMETRI 133
MATEMATIKA – MATEMATIKA
 ordinatpertama  ordinatterakhir 
L  lebar pias   ordinatlai n
 2 

Ld

 y1  y n 
   y 2  y3  y 4  ...  y n1 
 2 

Contoh:

Tentukan luas daerah pada gambar di bwah ini dengan aturan trapesoida !

Jawab:

Enam pias vertical dengan ordinat : 0, 5, 8, 10, 8, 5, 0

 y1  y 7 
Ld    y 2  y3  y 4  y5  y 6 
 2 

0  0 
1   5  8  10  8  5
 2 

 36 satuan luas.

b. Aturan Mid Ordinat

Perhatikan gambar berikut :

GEOMETRI 134
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Gambar 2.3.47 Mid Ordinat

y1, y2, y3, … menunjukkan ordinat-ordinat di tengah-tengah ordinat terdahulu.

Luas pias ABCD  y1 x d

Luas pias CDEF  y2 x d

Dan seterusnya.

AB  CD CD  EF EF  GH
Jadi y1 = , y2 = , y3 = , dan seterusnya.
2 2 2

Luas total = jumlah luas masing-masing pias.

L  y1.d + y2.d + y3.d + …

 d (y1 + y2 + y3 + …)

L  d ( jumlah ordinat tengah )

Contoh:
Tentukan luas bangun pada gambar di bawah ini dengan aturan mid ordinat !

GEOMETRI 135
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Jawab:

L  d ( jumlah ordinat tengah )

 8 ( 15 + 22 + 32 + 39 + 40 + 39 + 35 + 22 )

 8 (244)

 1952 satuan luas

c. Aturan Simpson
Perhatikan gambar berikut !

Gambar 2.3.48 Kurva y = f (x)

GEOMETRI 136
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Untuk mencari luas daerah di bawah kurva y = f(x) dengan sumbu X di antara
x = a dan x = b, sebagai berikut :

Bagilah gambar tersebut menjadi n buah trapezium yang genap, dengan lebar
(s) sama dan tingginya y1, y2, y3, … , yn+1 dari interval [a,b].

Sehingga diperoleh luas daerah menurut kaidah Simpson adalah ;:

s
L  [(y1 + yn+1) + 4(y2 + y4 + …) + 2(y3 + y5 + …)] dengan n bilangan
3
genap

s
L [(F + L) + 4E + 2R
3

Dengan F = ordinat pertama interval a


L = ordinat terakhir interval b
E = jumlah ordinat bernomor genap
R = jumlah ordinat bernomor ganjil
Contoh:
Tentukan luas daerah kurva yang dibatasi oleh kurva y = x2 , garis x = 2, gari x
= 6 dan sumbu X, dengan menggunakan aturan Simpson !

Jawab:

GEOMETRI 137
MATEMATIKA – MATEMATIKA
s = 1, F = 4, L = 36, E = 9 + 25 = 34, R = 16

Substitusi ke rumus

s
L [(F + L) + 4E + 2R
3

1
 [(4 + 36) + 4(34) + 2(16)]
3

1 1
 [40 + 136 + 32]  (208)  69,3 satuan luas
3 3

m. Transformasi bangun Datar

Transformasi pada bidang ada 4 jenis yaitu ;

- Pergeseran (Translasi)
- Pencerminan (Refleksi)
- Perputaran (Rotasi)
- Perkalian (Dilatasi)
Transformasi isometri adalah suatu transformasi yang menghasilkaan
bayangan yang kongruen dengan bangun aslinya. Misal : translasi, refleksi,
dan rotasi.
Catatan:
 Jarak dan arah suatu pergeseran dapat ditentukan dengan : ruas garis

a
berarah, misal RS atau sebuah pasangan bilangan, misal   .
 
b
 Pencerminan ditentukan dengan suatu garis yang dianggap sebagai sumbu
pencerminannya.
 Perputaran ditentukan dengan :
- pusat putaran.
- besar dan arah sudut putar, misalnya searah atau berlawanan arah jarum
jam.

GEOMETRI 138
MATEMATIKA – MATEMATIKA
1. Perkalian ditentukan dengan pusat dan factor skalanya. Misal [P,k]
merupakan dilatasi berpusat di P dan factor skala k.
1). Translasi (Pergeseran)

Gambar 2.3.49 Escalator

Pernahkah anda melihat escalator (tangga berjalan) di


shopping center (pusat pertokoan)? Tangga berjalan
tersebut berguna untuk memindahkan orang dari lantai
yang satu ke lantai yang lain. Perpindahan orang
tersebut merupakan contoh dari translasi atau geseran.
Dapatkah anda mencari keadaan di sekitar anda yang
menggambarkan suatu translasi atau geseran?

Pada gambar di bawah∆ABC dipindahkan dari kedudukan awal ke posisi


∆A’B’C’. Hal ini dikatakan bahwa ?∆ABC ditanslasikan ke ∆A’B’C’. Untuk
melakukan suatu translasi diperlukan arah dan besar translasi.

Gambar 2.3.50 Gambar 2.3.50 Segitiga ABC

Pada gambar di atas ∆ABC ditranslasikan sejauh 5 pada arah positif sumbu x
dan sejauh 2 pada arah positif sumbu y. Perhatikan bahwa pada suatu
translasi tidak ada perubahan ukuran bangun.

GEOMETRI 139
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Suatu translasi yang memindahkan setiap titik “ a satuan ke kanan dan b

a
satuan ke atas ‘ dinyatakan dengan suatu pasngan bilangan bentuk kolom  
b  
.

a
Translasi T:   memetakan setiap titik (x,y) ke titik (x,y) sehingga x = x + a
b 
dan y = y + b.

Ditulis T: (x,y)  (x,y) = (x + a , y + b)

Dalam bentuk matriks kolom, ditulis :

 x'   x  a   x   a 
          
 y'   y  b   y   b 

Contoh 1:

Tentukan bayangan segi empat OABC dengan O(0,0), A(5,0), B(0,6) dan

1
C(5,6) sebagai hasil translasi   !
3  

Jawab:

1
 
 3

O(0,0)  O(1,3)

A(5,0)  A(6,3)

B(0,6)  B(1,9)

C(5,6)  C(6,9)

Jadi bayangannya OABC dengan O(1,3), A(6,3), B(1,9), dan C(6,9).

GEOMETRI 140
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Cara lain :

O A B C O A B C

 0 5 0 5  1 1 1 1 1 6 1 6
       
 0 0 6 6   3 3 3 3  3 3 9 9 

Jadi bayangannya OABC dengan O(1,3), A(6,3), B(1,9), dan C(6,9).

Contoh2 :

1. Diketahui segitiga OAB dengan koordinat titik O(0,0), A(3,0) dan

B(3,5). Tentukan koordinat bayangan segitiga OAB tersebut bila

1 
ditranslasi oleh T =  
3  

jawab :

T  1 
titik O (0,0) 
 O’(0+1, 0+3) = O’(1,3)
  3

T  1 
titik A (3,0) 
 A’(3+1, 0+3) = A’(4,3)
 3

T  1 
titik B (3,5) 
 B’ (3+1, 5+3) = B’(4,8)
 3

  1
2. Bayangan persamaan lingkaran x2 + y2 = 25 oleh translasi T=  
3 

adalah….

  1
Jawab : Karena translasi T =   maka
 
3

x’ = x – 1 → x = x’ + 1.….(1)

GEOMETRI 141
MATEMATIKA – MATEMATIKA
y’ = y + 3 → y = y’ – 3…..(2)

(1)dan (2) di substitusi ke x2 + y2 = 25


diperoleh (x’ + 1)2 + (y’ – 3)2 = 25;

Jadi bayangannya adalah:

(x + 1)2 + (y – 3)2 = 25

Contoh 3:

Gunakan skala 1 cm untuk menyatakan satuan pada sumbu x dan sumbu y.


Gambarlah suatu segiempat dengan titik sudut A(1, 1), B(5, 2), C(4, 4),dan
D(2,4). Tentukan bayangan segiempat ABCD pada translasi sejauh 5 satuan
dalam arah positif sumbu x dan 2 satuan dalam arah negatif sumbu y.

Penyelesaian:

Gambar di atas menunjukkan segiempat ABCD dan bayangannya segiempat


A’B’C’D’ yang ditanslasikan sejauh 5 satuan pada arah positif sumbu x dan
sejauh 2 pada arah sumbu y negatif. Koordinat titik-titik sudut segiempat
A’B’C’D’ adalah A’(-1, 6), B’(10, 0), C’(9, 2), dan D’(7, 2).

GEOMETRI 142
MATEMATIKA – MATEMATIKA
2). Refleksi (Pencerminan)

Gambar 2.3.51 Bangunan di Tepi Danau

Gambar di samping merupakan contoh


refleksi yang sering anda jumpai dalam
kehidupan sehari-hari. Sebuah bangunan
direfleksikan oleh danau. Gambar bangunan
di bawah permukaan air merupakan
bayangan dari bangunan di daratan tepi
danau.
Refleksi merupakan salah satu jenis
transformasi. Perhatikan keadaan di
sekeliling anda. Apakah anda dapat
menemukan refleksi yang lain?
Untuk melakukan suatu refleksi diperlukan sumbu refleksi atau sumbu simetri
atau garis refleksi atau garis cermin.

Gambar 2.3.52 Refleksi dari Segitiga ABC (1)

Pada gambar di samping, ∆ABC dengan


titik sudut A(5, 1), B(6,5 , 2), dan C(3, 3)
direfleksikan terhadap garis x = 3.
Bayangannya adalah ∆A’B’C’dengan A’(1,
1), B’(-0,5 , 2), dan C(3, 3).

Perhatikan bahwa pada suatu refleksi ukuran bangun tidak berubah dan titik
pada bangun yang terletak pada sumbu refleksi tidak berpindah letaknya.
Titik C pada gambar di atas berimpit dengan titik C’. Jadi titik C dan
bayangannya merupakan titik yang sama. Titik C disebut titikinvariant.

GEOMETRI 143
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Jika diketahui suatu bangun dan hasil refleksinya, maka anda dapat
menentukan sumbu refleksinya.
Gambar di bawah menunjukkan segmen garis AB dan bayangannya A’B’
dengan A, B, A’, B’ berturut-turut adalah titik (1, 3), (2, 6), (3, 1), dan (6, 2).
Untuk menentukan sumbu refleksinya ditempuh

Gambar 2.3.53 Refleksi dari Segitiga ABC (2)

langkah berikut: hubungkan A dengan A’ atau B


dengan B’ untuk membentuk garis sumbu, l,
dari segmen garis AA’ atau BB’. Garis l adalah
sumbu refleksi.

Contoh :

Koordinat titik A dan B berturut-turut adalah (-2, 2) dan (1, 4). Garis yang
menghubungkan A dan B direfleksikan terhadap sumbu x untuk mendapatkan
A’ dan B’. Kemudian A’B’ direfleksikan terhadap garis x= 3 untuk memperoleh
A” dan B”. Tentukan koordinat A’, B’, A’, dan B’.

Penyelesaian:

Dari gambar di samping, anda dapat


menentukan koordinat A’, B’, A’, B’, berturut-
turut adalah (-2, -2), (1, -4), (8, - 2) dan (5, -4).

GEOMETRI 144
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Refleksi adalah pencerminan.

Gambar 2.3.54 Ilustrasi Refleksi

Dalam geometri bidang, sebagai cermin digunakan

1. Sumbu x
2. Sumbu y
3. x = m
4. y = n
5. y = x
6. y = -x
7. Titik pusat O(0,0)

1) Refleksi terhadap sumbu x

Refleksi terhadap sumbu x


Gambar 3.5.55

GEOMETRI 145
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Berdasarkan gambar tersebut, jika bayangan titik P(x,y) adalah P’(x’,y’) maka
P’(x’, y’) = P’(x, -y) sehingga dalam bentuk matriks dapat ditulis sebagai
berikut :

x’ = x

y’ = -y

 x'   1 0  x 
     
  
y ' 0  1  y 

1 0 
Jadi   adalah matriks pencerminan terhadap sumbu x.
 0 1

Contoh :

1. Diketahui segitiga ABC dengan koordinat titik A(2,0), B(0,-5) dan

C(-3,1). Tentukan koordinat bayangan segitiga ABC tersebut bila

dicerminkan terhadap sumbu x

jawab :

Pencerminan terhadap sumbu x

GEOMETRI 146
MATEMATIKA – MATEMATIKA
2. Bayangan garis 3x – 2y + 5 = 0 oleh refleksi terhadap sumbu x adalah

Jawab :

oleh pencerminan terhadap sumbu X

maka:

x = x’ dan y = -y’

disubstitusi ke kurva 3x – 2y + 5 = 0

diperoleh:3x’ – 2(-y’) + 5 = 0

3x’ + 2y’ + 5 = 0

Jadi bayangannya

adalah 3x + 2y + 5 = 0

2) Refleksi terhadap sumbu y


Gambar 3.5.56 Refleksi terhadap sumbu y

GEOMETRI 147
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Berdasarkan gambar tersebut, jika bayangan titik P(x,y) adalah P’(x’,y’) maka
P’(x’,y’) = P’(-x,y), sehingga dalam bentuk matriks dapat ditulis sebagai
berikut :

x’ = -x

y’ = y

 x'    1 0  x 
     
 y '   0 1  y 

 1 0
jadi   adalah matriks pencerminan terhadap sumbu y.
 0 1

Contoh :

1. Tentukan bayangan kurva y = x2 – x oleh pencerminan terhadap sumbu Y.

Jawab:

oleh pencerminan terhadap sumbu Y

maka: x’ = -x → x = -x’

y’ = y → y = y’

x = -x’ dan y = y’ disubstitusi ke y = x2 – x

diperoleh: y’ = (-x’)2 – (-x’)

y’ = (x’)2 + x’
Jadi bayangannya

GEOMETRI 148
MATEMATIKA – MATEMATIKA
adalah y = x2 + x

3) Refleksi terhadap garis x = m

Gambar 2.3.57 Refleksi terhadap garis x = m

Berdasarkan gambar tersebut, jika bayangan titik P(x,y) adalah P’(x’,y’) maka
P’(x’,y’) = P’(2m-x,y).

Contoh :

1. Tentukan bayangan kurva y2 = x – 5 oleh pencerminan terhadap

garis x = 3.

Jawab:

oleh pencerminan terhadap garis x = 3

maka: x’ = 2m - x → x = 2.3 - x’ = 6 –x’

y’ = y → y = y’

x = 6 – x’ dan y = y’ disubstitusi ke y2 = x - 5

diperoleh: (y’)2 = (6 – x’) – 5

(y’)2 = 1 – x’
Jadi bayangannya adalah y2 = 1 – x

GEOMETRI 149
MATEMATIKA – MATEMATIKA
4) Refleksi terhadap garis y = n

Gambar 2.3.58 Refleksi terhadap garis y = n

Berdasarkan gambar diatas, jika bayangan titik P(x,y) adalah P’(x’,y’) maka
P’(x’,y’) = P’(x,2n-y).

Contoh :

1. Tentukan bayangan kurva x2 + y2 = 4 oleh pencerminan terhadap

garis y = -3.

Jawab:

oleh pencerminan terhadap garis y = - 3 maka:

x’ = x

y’ = 2n - y

pencerminan terhadap garis y = - 3

maka: x’ = x  x = x’

y’ = 2n – y

y’ = 2(-3) – y

y’ = - 6 – y  y = -y’ – 6

GEOMETRI 150
MATEMATIKA – MATEMATIKA
disubstitusi ke x2 + y2 = 4

(x’)2 + (-y’ – 6)2 = 4

(x’)2 +((-y’)2 + 12y’ + 36) – 4 = 0

Jadi bayangannya:

X2 + y2 + 12y + 32 = 0

5) Refleksi terhadap garis y = x

Gambar 2.3.59 Refleksi terhadap garis y = x

Berdasarkan gambar diatas, jika bayangan P(x,y) adalah P’(x’,y’) maka


P’(x’,y’) = P’(y,x), sehingga dalam bentuk matriks dapat ditulis sebagai berikut
:

x’ = y

y’ = x

 x'   0 1  x 
     
  
y ' 1 0  y 

GEOMETRI 151
MATEMATIKA – MATEMATIKA
0 1
jadi 
 
1 0  adalah matriks pencerminan terhadap garis y = x.

Contoh :

1. Bayangan garis 2x – y + 5 = 0 yang dicerminkan tehadap garis

y = x adalah….

Pembahasan:

0 1
Matriks transformasi refleksi terhadap y = x adalah 
 
1 0 

Sehinggax’ = y dan y’ = x

disubstitusi ke 2x – y + 5 = 0

diperoleh: 2y’ – x ’ + 5 = 0

-x’ + 2y’ + 5 = 0

-x’ + 2y’ + 5 = 0

dikali (-1) → x’ – 2y’ – 5 = 0

Jadi bayangannya adalah

x – 2y + 5 = 0

6) Refleksi terhadap garis y = -x

Gambar 2.3.60 Refleksi terhadap garis y = -x

GEOMETRI 152
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Berdasarkan gambar diatas, jika bayangan P(x,y) adalah P’(x’,y’) maka
P’(x’,y’) = P’(-y,-x), sehingga dalam bentuk matriks dapat ditulis sebagai
berikut :

x’ = -y

y’ = -x

 x'   0  1 x 
     
 y '    1 0  y 

 0  1
Jadi   adalah matriks pencerminan terhadap garis y = -x.
 1 0 

Contoh :

1. Bayangan persamaan lingkaran x2 + y2 - 8y + 7 = 0 yang dicerminkan


terhadap garis y = -x adalah….
Jawab :

x’ = -y dan y’ = -x atau y = -x’ dan x = -y’

Kemudian disubstitusikan ke

x2 + y2 – 8y + 7 = 0
(-y’)2 + (-x)2 – 8(-x) + 7 = 0

GEOMETRI 153
MATEMATIKA – MATEMATIKA
(y’)2 + (x’)2 + 8x + 7 = 0
(x’)2 + (y’)2 + 8x + 7 = 0
Jadi bayangannya adalah
X2 + y2 + 8x + 7 = 0

7) Rotasi (Perputaran)

Gambar 2.3.61 Komedi Putar

Beberapa benda di dunia keberadaan atau


pergerakannya bergantung rotasi (putaran).
Jarum jam, komedi putar, untuk membuka dan
menutup pintu, putaran roda mobil atau sepeda
motor merupakan contoh-contoh rotasi.

Kejadian alam ada pula yang gerakannya berdasarkan rotasi, misal angin
puting beliung. Dapatkah anda mencari benda di sekeliling anda yang
gerakannya berdasarkan rotasi?Untuk melakukan rotasi diperlukan adanya
pusat rotasi dan sudut putar. Perhatikan gambar-gambar berikut.
Gambar 2.3.62 Rotasi ∆ABC

Gambar di samping menunjukkan suatu rotasi


∆ABC dengan pusat rotasi titik O dan sudut
rotasi berlawanan dengan arah jarum jam
sebesar ?. Bayangan ? ABC oleh rotasi tersebut
adalah ? A’B’C’.

Gambar berikut menunjukkan suatu rotasi bendera FGHI dengan pusat rotasi
titik O sudut rotasi searah dengan arah jarum jam sebesar ß. Bayangan FGHI
oleh rotasi tersebut adalah bendera F’G’H’I’.

GEOMETRI 154
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Gambar 2.3.63 Rotasi Bendera FGHI

Gambar 2.3.64 Rotasi pada Sumbu (X,Y)

A (r, )  x = r Cos 

y = r Sin 

A(r, +)  x = r Cos (+)

y = r Sin (+)

x = r Cos (+)

= r Cos  Cos  - r Sin  Sin 

= x Cos  - y Sin 

GEOMETRI 155
MATEMATIKA – MATEMATIKA
y = r Sin (+)

= r Sin  Cos  + r Cos  Sin 

= y Cos  + x Sin 

= x Sin  + y Cos 

Secara matriks dapat ditulis :

 x'   xCos  ySin   Cos  Sin  x 


        
 y '   xSin  yCos   Sin Cos  y 

Sudut rotasi positif jika berlawanan dengan arah perputaran jarum jam, dan
negative jika sesuai dengan arah perputaran jarum jam.

Rotasi ditentukan oleh pusat rotasi dan besar sudut rotasi.

Rotasi Pusat O(0,0)

Titik P(x,y) dirotasi sebesar berlawanan arah jarum jam dengan pusat
O(0,0) dan diperoleh bayangan P’(x’,y’)

maka: x’ = xcos - ysin

y’ = xsin + ycos

Jika sudut putar  = ½π(rotasinya dilambangkan dengan R½π)

maka x’ = - y dan y’ = x

dalam bentuk matriks:

 x'   0  1 x 
     
 y '   1 0  y 

 0  1
Jadi R½π =  
1 0 

GEOMETRI 156
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Contoh 1:

Tentukan bayangan segi empat OABC dengan O(0,0), A(5,0), B(0,6) dan
C(5,6) sebagai hasil rotasi di O sejauh 30 berlawanan dengan arah jarum
jam !

Jawab:

 Cos30  Sin 30   12 3  12 


RO,30 =     
   1 
 Sin 30 Cos 30   2
1
2 3 

O A B C O A B C

 12 3  12   0 5 0 5 0 5
3 3 5
3  3
    =  2 2 
 1  0  3 3 
 2
1
2 3   0 0 6 6 
5
2 3 3 5
2

Jadi bayangannya OABC dengan O(0,0), A( 52 3, 52 ), B(  3,3 3 ), dan C(
5
2 3  3, 52  3 3 )

Rotasi dengan Pusat P(a,b)

x = {(x-a) Cos  - (y-b) Sin } - a

y = {(x-a) Sin  + (y-b) Cos } – b

atau

 x'a   Cos  Sin  x  a 


     
 y 'b   Sin Cos  y  b 

Contoh 2:

Diketahui titik A(4,5), tentukan bayangannya akibat rotasi 90 dengan titik
pusat P(1.1) !

Jawab:

GEOMETRI 157
MATEMATIKA – MATEMATIKA
 x'1  Cos90  Sin90  4  1
     
 y '1  Sin90 Cos90  5  1

 0  1 3    4 
=    =  
 1 0  4   3 

 x'    4  1   3 
        
 y'   3  1   4 

Jadi, bayangan titik A(4,5) akibat rotasi 90 dengan titik pusat P(1.1) adalah
A(-3,4).

Contoh3 :

1. Persamaan bayangan garis x + y = 6 setelah dirotasikan pada pangkal


koordinat dengan sudut putaran +900, adalah….
Jawab :

R+900 berarti: x’ = -y → y = -x’

y’ = x → x = y’

disubstitusi ke: x+y=6

y’ + (-x’) = 6

y’ – x’ = 6 → x’ – y’ = -6

Jadi bayangannya: x – y = -6

2. Persamaan bayangan garis 2x - y + 6 = 0 setelah dirotasikanpada pangkal


koordinat dengan sudut putaran -900 , adalah ..
Jawab :

R-900 berarti:

x’ = xcos(-90) – ysin(-90)

GEOMETRI 158
MATEMATIKA – MATEMATIKA
y’ = xsin(-90) + ycos(-90)

x’ = 0 – y(-1) = y

y’ = x(-1) + 0 = -x’
 x'   0 1   x 
      
atau dengan matriks:
  
y '  1 0   y
R-900 berarti: x’ = y → y = x’

y’ = -x → x = -y’

disubstitusi ke: 2x - y + 6 = 0

2(-y’) - x’ + 6 = 0

-2y’ – x’ + 6 = 0

x’ + 2y’ – 6 = 0

Jadi bayangannya: x + 2y – 6 = 0

Jika sudut putar  = π(rotasinya dilambangkan dengan H)

maka x’ = - x dany’ = -y
 x'    1 0   x
dalam bentuk matriks:       
 y '   0  1  y
 1 0 
Jadi H =
 
 0  1 
Contoh 3 :

1. Persamaan bayangan parabola y = 3x2 – 6x + 1 setelah dirotasikan pada


pangkal koordinat dengan sudut putaran
+180o, adalah ..............
Jawab :
H berarti: x’ = -x → x = -x’

y’ = -y → y = -y’

GEOMETRI 159
MATEMATIKA – MATEMATIKA
disubstitusi ke: y = 3x2 – 6x + 1

-y’= 3(-x’)2 – 6(-x’) + 1

-y’ = 3(x’)2 + 6x + 1 (dikali -1)

Jadi bayangannya: y = -3x2 – 6x – 1

Contoh 4:

∆ABC dengan titik sudut A, B, C yang koordinatnya berturut-turut adalah (2,


2), (4, 5), dan C(4, 2). ∆ABC dirotasikan sejauh 900 dengan arah berlawanan
dengan arah jarum jam dan pusat rotasi titik O, bayangannya adalah
∆A1B1C1. ∆ABC juga dirotasikan sejauh 900 dengan arah searah dengan arah
jarum jam dan pusat rotasi titik O, bayangannya adalah ∆A2B2C2. Tentukan
koordinat A1, B1, C1, A2, B2, dan C2.

Penyelesaian:

Dari gambar di samping anda dapat menentukan koordinat A1, B1, C1, A2, B2,
danC2yaitu:

A1(-2, 2), B1(-5, 4), C1(-2, 4),

A2(2, -2), B2(-4, 5), dan

C2(-4, 2).

4) Dilatasi (Perkalian)

Adalah suatu transformasi yang mengubah ukuran (memperbesar atau


memperkecil) suatu bangun tetapi tidak mengubah bentuk bangunnya.

Gambar 2.3.65 Alat Pembesar

GEOMETRI 160
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Gambar di samping menunjukkan alat pembesar yang merupakan alat
penting di laboratorium foto. Alat ini digunakan untuk memperbesar foto dari
negatifnya (klisenya). Dengan menggerakkan film di depan lensa,
memungkinkan untuk mengubah ukuran foto yang dihasilkan.
Untuk melakukan suatu dilatasi diperlukan pusat dilatasi dan faktor
dilatasi.
Gambar 2.3.66 Dilatasi pada Segitiga ABC

Gambar di samping menunjukkan suatu dilatasi


dengan pusat dilatasi O, yang berada di luar
bangun yang didilatasikan, dan faktor dilatasi k
> 0. Pada dilatasi ini bangun yang didilatasikan
adalah ∆ABC dan hasil dilatasi ∆A’B’C’.

Berikut adalah dilatasi dengan pusat dilatasi E, yang berada dalam bangun
yang didilatasikan, dan faktor dilatasi k > 0.
Suatu dilatasi dengan pusat O dan factor skala k dinyatakan dengan [O,k].
Dilatasi [O,k] memetakan setiap titik (x,y) ke titik (x,y) sehingga x = kx dan y
= ky.
Ditulis [O,k] : (x,y)  (x,y) = (kx,ky)

GEOMETRI 161
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Gambar 2.3.67 Dilatasi [O,k]

Jika x dan y dinyatakan dengan x dan y, didapat :

x = kx = k.x + 0.y

y = ky = 0.x + k.y

yang dapat disajikan dengan matriks :

 x'   k .x  0. y   k 0  x 
        
 y '   0.x  k . y   0 k  y 

k 0
Matriks [O,k] =   disebut matriks operator dilatasi dengan pusat O dan
0 k 
factor skala k.

Catatan:

 Jika k>0 maka bangun asal dan bayangan letaknya sepihak terhadap pusat
dilatasi.
 Jika k<0 maka bangun asal dan bayangan letaknya berlainan pihak
terhadap pusat dilatasi.
 Jika 0<k<1 maka dilatasi merupakan pengecilan.
 Jika k<-1 atau k>1 dilatasi merupakan pembesaran.

GEOMETRI 162
MATEMATIKA – MATEMATIKA
 Jika k = -1 maka dilatasi itu sama dengan pencerminan terhadap O dan
sama dengan rotasi 180 dengan pusat O.

Contoh 1:

Tentukan bayangan segi empat OABC dengan O(0,0), A(5,0), B(0,6) dan
C(5,6) sebagai hasil dilatasi [O,3] !

Jawab;

 3 0
[O,3] =  
 0 3

O A B C O A B C

 3 0   0 5 0 5   0 15 0 15 
    =  
 0 3   0 0 6 6   0 0 18 18 

Jadi bayangannya OABC dengan O(0,0), A(15,0), B(0,18), dan C(15,18).

Dilatasi dengan Pusat P(a,b)

A(x,y) [  A (k(x-a) + a, k(y-b) + b)


P ( a ,b ), k ]

atau

 x'a   k 0  x  a   x  a
       k  
 y 'b   0 k  y  b   y  b

 x'   k ( x  a )  a 
    
 y '   k ( y  b)  b 

Contoh 2:

Diketahui titik A(5,9), tentukan hasil bayangannya karena dilatasi [P,3]


dengan titik pusat P(2,1) !

GEOMETRI 163
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Jawab:

Dilatasi [P,3]

 x'2   5  2   3.2  2   11 
   3.       
 y '1  9  1   3.8  1   25 

Jadi, titik bayangan hasil dilatasi adalah: A(11,25).

Contoh3:

Garis 2x – 3y = 6 memotong sumbu X di A dan memotong sumbu y di B.


Karena dilatasi [O,-2], titik A menjadi A’ dan titik B menjadi B’.
Hitunglah luas segitiga OA’B’

Jawab :
garis 2x – 3y = 6 memotong sumbu X di A(3,0) memotong sumbu Y di B(0,2)
karena dilatasi [O,-2] maka,
A’(kx,ky)→ A’(-6,0) dan,

B’(kx,ky) → B’(0,-4)

Titik A’(-6,0), B’(0,-4) dan titik O(0,0) membentuk segitiga seperti pada
gambar:

Sehingga luasnya = ½ x OA’ x OB’

=½x6x4

= 12

Dilatasi Pusat P(a,b) dan faktor skala k

GEOMETRI 164
MATEMATIKA – MATEMATIKA
bayangannya adalah

x’ = k(x – a) + a dan

y’ = k(y – b) + b

dilambangkan dengan [P(a,b) ,k]

Contoh 4:

Titik A(-5,13) didilatasikan oleh [P,⅔] menghasilkan A’.

Jika koordinat titik P(1,-2), maka koordinat titik A’ adalah….

Jawab :

x’ = k(x – a) + a

y’ = k(y – b) + b

x’ = ⅔(-5 – 1) + 1 = -3

y’= ⅔(13 – (-2)) + (-2) = 8

Jadi koordinat titik A’(-3,8)

Contoh 5:

Pada dilatasi ini bangun yang didilatasikan adalah segi-4 ABCD dengan pusat
dilatasi E, faktor dilatasi 2, dan bayangan atau hasil dilatasi segi-4 A’B’C’D’.
Hal ini dapat juga dikatakan bahwasegi-4 A’B’C’D’ didilatasikan dengan pusat
1
E, faktor dilatasi 2, menghasilkan segi-4 ABCD.

GEOMETRI 165
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Berikut disajikan suatu dilatasi dengan pusat dilatasi E, yang berada di luar
bangun yang didilatasikan, dan faktor dilatasi k < 0.

Contoh 6:

Suatu ∆ABC didilatasikan dengan pusat E dan faktor dilatasi -2 menghasilkan


∆A’B’C’. Hal ini dapat juga dikatakan ? A’B’C’ didilatasikan dengan pusat E dan
faktor dilatasi ½ menghasilkan ∆ABC .

Dari Contoh 5 dan 6 anda dapat mengetahui bahwa: suatu dilatasi dapat
memperbesar atau memperkecil bangun. Bangun yang didilatasikan
sebangun dengan bayangannya.

5). Transformasi Linear

Transformasi linear adalah transformasi yang memetakan setiap titik (x,y) ke


titik (x,y) sedemikian sehingga :

GEOMETRI 166
MATEMATIKA – MATEMATIKA
x'  ax  by   x'   a b  x 
atau     
y '  cx  dy   y '   c d  y 

Contoh:

Diketahui dua buah titik dipetakan sebagai berikut :

(2,1)  (5,1)

(0,1)  (1,3)

Tentukan matriks transformasinya !

a b
 
d 
(2,1)  (5,1)
c

(0,1) (1,3)

 a b  2   5 
       2a + b =5
 c d  1   1 

2c + d = 1

 a b  0   1 
       b = 1 ; d = 3
 c d  1   3 

Sehingga : a = 2 ; c = -1

 2 1
Jadi matriks transformasinya  
  1 3 

Tabel 2.3.2 Matriks Transformasi

NO TRANSFORMASI PEMETAAN MATRIKS

GEOMETRI 167
MATEMATIKA – MATEMATIKA
1 Identitas (x,y)  (x,y) 1 0
 
0 1

2 Translasi (x,y)  (x,y) = (x + a , y + b)  x'   x   a 


       
 y'   y   b 

3 Mx (x,y)  (x,-y) 1 0 
 
 0 1

4 My (x,y)  (-x,y)  1 0
 
 0 1 

5 My=x (x,y)  (y,x) 0 1


 
 1 0 

6 My=-x (x,y)  (-y,-x) 1 0 


 
 0  1

7 Mo (x,y)  (-x,-y)  1 0 
 
 0  1

8 R(O,) (x,y)  (xCos - ySin, xSin  Cos  Sin 


 
+ yCos)  Sin Cos 

9 D[O,k] (x,y)  (kx,ky) k 0


 
0 k 

Catatan:

GEOMETRI 168
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Untuk memperoleh matriks transformai tunggal dari beberapa matriks
transformasi, dapat dilakukan dengan mengalikan matriks-matriks
transformasi tersebut.

Contoh:

 3 1
Jika T1 =   dan T2 =   menyatakan matriks translasi, maka tentukan
0  2
bayangan titik A(-3,1) oleh T2oT1 !

Jawab:

T2oT1 = T1 + T2

 3 1  4
=   +   =  
0  2  2

  3  4   1 
Sehingga :   +   =  
 1   2  3

Jadi, bayangan A(-3,1) oleh T1 + T2 adalah A(1,3)

Contoh:

Tentukan bayangan A(2,5) oleh pencerminan terhadap sumbu Y dilanjutkan


terhadap sumbu X !

Jawab:

1 0   1 0  1 0 
Mx o My =     =  
 0 1  0 1   0  1

 1 0   2   2
      
 0  1   5   5

Jadi, bayangan A(2,5) oleh My dilanjutkan Mx adalah A(-2,-5).

6). Komposisi Transformasi dengan Matriks


Bila T1 adalah suatu transformasi dari titik A(x,y) ke titik A’(x’,y’)dilanjutkan
dengan transformasi T2 adalah transformasi dari titik A’(x’,y’)ke titik A”(x”,y”)

GEOMETRI 169
MATEMATIKA – MATEMATIKA
maka dua transformasi berturut-turut tsb disebut Komposisi Transformasi dan
ditulis T2 o T1.

a b 
Bila T1 dinyatakan dengan matriks   dan T2 dengan matriks
 c d 
 p q
  maka dua transformasi berturut-turut mula-mula T1 dilanjutkan
 r s 
 p q a b 
dengan T2 ditulis T2 o T1 =    
 r s  c d 
Contoh :

1. Matriks yang bersesuaian dengan dilatasi dengan pusat (0,0) dan faktor skala
3 dilanjutkan dengan refleksi terhadap garis y = x adalah…
Jawab :

 3 0
M1= Matrik dilatasi skala 3 adalah  
 0 3 

0 1
M2 = Matrik refleksi terhadap y = x adalah  
 1 0 
Matriks yang bersesuaian dengan M1 dilanjutkan M2

 0 1  3 0   0 3 
ditulis M2 o M1 =    =  
 1 0  0 3   3 0 

 0 3
Jadi matriknya adalah  
 3 0 

GEOMETRI 170
MATEMATIKA – MATEMATIKA
2. Bayangan segitiga ABC, dengan A (2,1), B (6,1), C (5,3) karena refleksi

terhadap sumbu Y dilanjutkan rotasi (o,  ) adalah…


Jawab :

Refleksi sb Y: (x,y) sb Y (-x, y)

Rotasi  : (x,y) o,  (-x,-y)

A(2,1) sb Y A’(-2,1) o,  A”(2,-1)

B(6,1) sb Y B’(-6,1) o,  B”(6,-1)

C(5,3) sb Y C’(-5,3) o,  C”(5,-3)

GEOMETRI 171
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Aktivitas Pembelajaran
1. Pengantar:

Dalam kegiatan ini Anda akan melakukan serangkaian kegiatan untuk


mencapai kompetensi berkaitan dengan Geometri. Kegiatan-kegiatan
tersebut akan terbagi dalam beberapa topik, di antaranya adalah:
a. Unsur dasar pembangun geometri, pada bagian ini Anda akan belajar
tentang pengertian pangkal, sistim deduktif aksiomatis dalam geometri
yang dimulai dari pengertian pangkal, aksioma, definisi, dan teorema
yang perlu dibuktikan kebenarannya berdasarkan aksioma atau teorema
sebelumnya yang telah terbukti benar.
b. Sudut dan garis sejajar, pada bagian ini Anda akan belajar tentang sudut
dan ukurannya, relasi antar sudut, transfersal, dan sifat-sifat garis
sejajar.
c. Konstruksi geometri, pada bagian ini dibahas tentang bagaimana
mengkonstruksi bangun-bangun gometri menggunakan jangka dan
penggaris.
d. Segitiga, pada bagian ini dibahas tentang pengertian, jenis, dan sifat-
sifatnya.
e. Segiempat, topik ini merupakan kelanjutan dari pembahasan tentang
segitiga. Di dalamnya dibahas tentang pengertian, jenis, dan sifat-
sifatnya.
f. Proporsi dan kesebangunan. Sebelum membangun sebuah rumah,
seorang arsitek perlu membuat desain dalam ukuran yang lebih kecil.
Agar perbandingan antara ukuran pada gambar dan ukuran sebenarnya
selalu sesuai, maka diperlukan pengetahuan yang matang tentang
kesebangunan dan proporsi. Pada bagian ini dibahas tentang syarat-
syarat dan sifat-sifat dua bangun yang sebangun.
g. Luas dan Keliling, pada bagian ini dibahas tentang bagaimana cara
menurunkan rumus-rumus luas dan keliling bangun datar. Dengan
membelajarkan prosesnya maka resiko siswa tidak dapat menyelesaikan
permasalahan karena lupa rumusnya dapat dikurangi.

GEOMETRI 172
MATEMATIKA – MATEMATIKA
h. Teorema Pythagoras. Segitiga siku-siku memiliki sifat yang unik. Sifat ini
telah dikenal oleh bangsa Mesir dan Babilonia jauh sebelum Pythagoras
lahir. Pada bagian ini Anda diajak untuk membuktikan rumus Pythagoras
dan konversnya.
i. Lingkaran. Pada bagian ini akan dipelajari tentang unsur-unsur lingkaran,
nilai , keliling dan luas lingkaran, sudut-sudut pada lingkaran, dan garis
singgung lingkaran.
j. Geometri Transformasi. Berbagai ornamen berbagai daerah sebenarnya
dibuat berdasarkan prinsip-prinsip transformasi. Pada bagian ini dibahas
tentang transformasi yang berupa isometri dan dilatasi.

2. Aktifitas

Aktifitas 0: Mengidentifikasi Isi Bahan Belajar

Mengawali proses pembelajaran, diskusikan bersama rekan guru untuk


mengidentifikasi hal-hal berikut:
1. Ada berapa aktivitas yang harus Anda ikuti dalam mempelajari bahan
belajar ini? Sebutkan topik-topik untuk masing-masing aktivitas.
2. Kompetensi apa yang diharapkan tercapai setelah mempelajari bahan
belajar ini? Sebutkan!
3. Anda saat ini mengikuti pelatihan dengan pola tatap muka. Apa saja yang
harus Anda lakukan saat tatap muka?
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan menggunakan LK 00.

LK 00

Jawaban:

GEOMETRI 173
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Aktifitas 1: Unsur Dasar Pembangun Geometri

Ketika seseorang yang masih awam dalam geometri diberitahu definisi sudut
sebagai dua sinar yang bersekutu di titik pangkalnya, maka akan muncul
pertanyaan lanjutan, apa yang dimaksud dengan sinar dan titik pangkal?
Ketika dijelaskan tentang definisi sinar sebagai bagian dari garis, akan
muncul pertanyaan lagi, apakah yang dimaksud dengan garis? Jika tuntutan
pendefinisian tersebut diteruskan, maka akan sampai kepada suatu istilah
yang tidak dapat didefinisikan lagi dengan kata-kata yang sudah dikenal.
Dalam aktifitas ini kita akan belajar tentang unsur dasar pembangun
geometri, yang meliputi unsur yang tidak didefinisikan, aksioma, definisi, sifat,
dan teorema. Jika Anda kesulitan menjawab LEMBAR KERJA 01, disarankan
untuk membaca bahan bacaan 01.

LEMBAR KERJA 01a.

1. Sebutkan tiga unsur dasar geometri yang tidak didefinisikan (undefined term).
2. Jelaskan mengapa “Suatu garis adalah seperti sisi dari suatu penggaris”
bukan merupakan definisi yang baik.

LK 01a
Jawaban:

GEOMETRI 174
MATEMATIKA – MATEMATIKA
LEMBAR KERJA 01b.

Perhatikan dan renungkan jawablah ketiga pertanyaan berikut.

Melalui dua titik berbeda, ada berapa garis dapat dibuat melaluikedua titik
tersebut?
Dua titik berbeda A dan B terletak pada sebuah bidang. Bagaimana kedudukan
titik-titik pada garis AB terhadap bidang?
Diberikan tiga titik tidak segaris. Ada berapa bidang dapat dibuat jika bidang
tersebut melalui ketiga titik yang diberikan?
Ketiga pertanyaan di atas mengantarkan kita ke sistem aksioma dalam geometri.
Tuliskan ketiga aksioma tersebut.

LK 01b

Jawaban:

GEOMETRI 175
MATEMATIKA – MATEMATIKA
LEMBAR KERJA 01c.

1. Susunlah definisi sinar garis dan ruas garis.

2. Buktikan bahwa melalui sebuah garis dan titik di luar garis dapat dibuat
sebuah bidang.

LK 01c
Jawaban:

Aktifitas 2: Sudut dan Garis-garis Sejajar

Pada LK berikut, kita akan membahas tentang pengertian sudut, berbagai


satuan pengukuran sudut, jenis-jenis sudut, relasi antar sudut, serta relasi antara
garis dan sudut. Sebagai tambahan wawasan, Anda dapat membaca bahan
bacaan 02.

LEMBAR KERJA 02a

1. Jelaskan apa yang dimaksud sudut dalam bidang datar?


2. Sebutkan macam-macam satuan pengukuran sudut, dan besar sudut satu
putaran untuk masing-masing satuan.

LK 02a

Jawaban:

LEMBAR KERJA 02b

GEOMETRI 176
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Jika ada, sebutkan pasangan sudut yang saling

a. berpenyiku
b. berpelurus?

LK 02b
Jawaban:

GEOMETRI 177
MATEMATIKA – MATEMATIKA
LEMBAR KERJA 02c Sudut Sehadap dan Sudut Bersebrangan

Pada dua gambar di bawah, jika ada, sebutkan pasangan sudut sehadap dan
pasangan sudut berseberangan.

LK 02c
Jawaban:

GEOMETRI 178
MATEMATIKA – MATEMATIKA
LEMBAR KERJA 02c

Diberikan garisdipotong garis. Masing-

masing sudut dalam di sebelah kanan garis

terbagi dua sama besar. Tentukan besar<1 .

LK 02c
Jawaban:

Aktifitas 3: Konstruksi Geometri

GEOMETRI 179
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Pada masa Yunani kuno, hanya ada dua alat yaitu jangka dan penggaris yang
digunakan untuk membuat konstruksi geometri. Jangka digunakan untuk
membuat lingkaran/busur lingkaran dan memberi tanda ruas-ruas garis dengan
panjang yang sama, sedangkan penggaris digunakan untuk menarik garis lurus
melalui dua titik (tanpa marka apapun).

LEMBAR KERJA 03

Dengan menggunakan jangka dan penggaris, kerjakan aktifitas berikut:

1. Buatlah sebarang sudut hanya dengan menggunakan penggaris, kemudian


salin sudut tersebut di tempat yang berbeda.
2. Buatlah sebarang sudut, kemudian bagi dua sama besar sudut tersebut.
3. Buatlah sebarang ruas garis, kemudian tentukan titik tengah garis tersebut.

LK 03
Jawaban:

Aktifitas 4: Segitiga

GEOMETRI 180
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Penggunaan segitiga dapat di temukan di sekitar kita seperti pada kuda-kuda
atap rumah, penentuan posisi pusat gempa, dll.. Lebih lanjut tentang segitiga,
disarankan membaca bagian materi.

LEMBAR KERJA 04.a


Pengertian, jenis, dan sifat segitiga.
1. Apakah yang dimaksud dengan segitiga?
2. Sebutkan jenis-jenis segitiga menurut besar sudutnya
3. Sebutkan jenis-jenis segitiga menurut panjang sisi

LK 04a
Jawaban:

LEMBAR KERJA 04.b

Dengan mengunakan satuan ukuran pada marka berikut ini,

GEOMETRI 181
MATEMATIKA – MATEMATIKA
a. Lukis segitiga dengan panjang sisi 3, 5, 6
b. Lukis segitiga dengan panjang sisi 4, 7, 2
c. Lukis segitiga dengan panjang sisi 7, 5, 2

LK 04b
Jawaban:

LEMBAR KERJA 04.c

1. Berdasarkan aktvitas di atas, manakah yang dapat dilukis segitiganya?


Tuliskan syaratsegitiga dapat dibuat berdasarkan panjang sisinya.

GEOMETRI 182
MATEMATIKA – MATEMATIKA
2. Buktikan bahwa jumlah sudut segitiga 180o .

LK 04c
Jawaban:

Aktifitas 5: Garis-garis Istimewa pada segitiga.

Pada setiap segitiga, dapat dilukis garis tinggi, garis berat, garis bagi sudut, garis
sumbu. Garis-garis tersebut memiliki sifat yang unik. Aktifitas berikut akan
menunjukkan keunikan sifat-sifat garis-garis tersebut.

GEOMETRI 183
MATEMATIKA – MATEMATIKA
LEMBAR KERJA 05a

Garis tinggi segitiga merupakan garis yang dilukis melalui titik sudut segitiga dan
tegak lurus terhadap sisi di depannya. Lukislah segitiga tumpul, segitiga siku-
siku, dan segitiga lancip. Pada masing-masing segitiga, lukis semua garis
tingginya. Sifat apa yang Anda temukan?

LK 05a
Jawaban:

LEMBAR KERJA 05b

Garis berat segitiga merupakan garis yang melalui titik sudut segitiga dan
membagi dua sama panjang sisi di depan sudut tersebut. Lukislah segitiga
tumpul, segitiga siku-siku, dan segitiga lancip. Pada masing-masing segitiga,
lukis semua garis beratnya. Sifat apa yang Anda temukan?

LK 05b
Jawaban:
GEOMETRI 184
MATEMATIKA – MATEMATIKA
LEMBAR KERJA 05c

Garis bagi sudut segitiga merupakan garis yang melalui titik sudut dan membagi
dua sudut tersebut. Lukislah segitiga tumpul, segitiga siku-siku dan segitiga
lancip. Pada masing-masing segitiga, lukis semua garis bagi sudut-nya. Sifat
apa yang Anda temukan?

LK 05c
Jawaban:

GEOMETRI 185
MATEMATIKA – MATEMATIKA
LEMBAR KERJA 05d

Pada suatu segitiga, misalkan titik potong garis-garis bagi sudut adalah. Lukis
garis melalui dan tegak lurus ketiga sisi segitiga. Namakan titik-titik sudut
tegak lurus ini, , dan. Lukis lingkaran berjari-jari. Apa yang dapat Anda
simpulkan?

LK 05d
Jawaban:

GEOMETRI 186
MATEMATIKA – MATEMATIKA
LEMBAR KERJA 05e

Garis sumbu (garis bagi tegak lurus/perpendicular bisector) segitiga merupakan


garis yang tegak lurus dan membagi dua sama panjang suatu sisi segitiga.
Lukislah segitiga tumpul, segitiga siku-siku, dan segitiga lancip. Pada masing-
masing segitiga, lukis semua garis sumbunya. Sifat apa yang Anda temukan?
Misalkan titik potong garis-garis sumbu adalah . Lukis lingkaran berpusat di dan
melalui salah satu titik sudut segitiga. Apa yang dapat Anda simpulkan?

LK 05e
Jawaban:

GEOMETRI 187
MATEMATIKA – MATEMATIKA
LEMBAR KERJA 6. Kekongruenan.

1. Susunlah dengan kata-kata sendiri pengertian atau definisi dua segitiga


kongruen.
Untuk menunjukkan kekongruenan dua segitiga, tidak perlu menunjukkan
keenam unsur bersesuaian pada kedua segitiga sama. Cukup beberapa unsur
bersesuaian, maka dapat disimpulkan kedua segitiga tersebut kongruen.
Dengan mistar di bawah dan busur derajat, lakukan aktifitas berikut.

2. Lukis segitiga dengan panjang sisi 6, 3, 5. Bandingkan dengan hasil yang


diperoleh teman Anda, apakah keduanya kongruen? Berdasar aktifitas di atas,
tulislah syarat dua segitiga kongruen.

GEOMETRI 188
MATEMATIKA – MATEMATIKA
3. Lukis ∆𝐴𝐵𝐶 dengan AB = 5, < 𝐴 = 40o, dan < 𝐵 = 60o. Bandingkan
hasilnya dengan pekerjaan teman Anda, apakah keduanya kongruen?
Tulislah syarat dua segitiga kongruen berdasar aktifitas di atas.
4. Lukis ∆𝐷𝐸𝐹 dengan DE = 5, < 𝐷 = 60o, dan𝐸𝐹 = 4. Bandingkan hasilnya
dengan pekerjaan teman Anda, apakah keduanya kongruen? Berdasarkan
aktifitas di atas, Tulislah syarat dua segitiga kongruen
5. Lukis sebuah ∆𝐺𝐻𝐼, dengan < 𝐺 = 30o, GH = 5, dan HI = 2,5. Ada berapa
kemungkinan segitiga yang dapat dibuat? Apa yang dapat Anda simpulkan?

LK 6
Jawaban:

Aktifitas 7: Segiempat

Terdapat berbagai jenis segiempat. Masing-masing segiempat memiliki sifat


tertentu sehingga sering diaplikasikan di kehidupan sehari-hari seperti pada
mekanisme stir kendaraan, mekanisme bangku pengangkat sepeda motor di
bengkel-bengkel besar, dongkrak mekanik, dan lain-lain. Kerjakan LK berikut.
Sebagai bahan bacaan, Anda dapat membaca Bahan Bacaan 5 tentan
segiempat.

LEMBAR KERJA 07a. Keliling dan Luas Bangun Datar

GEOMETRI 189
MATEMATIKA – MATEMATIKA
1. Cobalah mendefinisikan/menjelaskan pengertian segiempat dengan kata-
kata Anda sendiri. Diskusikan dengan teman sejawat untuk mendapatkan
pengertian segiempat yang terbaik.
a. Apakah yang dimaksud dengan jajargenjang?

b. Lakukan aktifitas berikut:

1) Lukislah pasangan garis sejajar pada kertas bergaris, lukis juga dua
garis sejajar. menggunakan dua sisi mistar dengan posisi memotong
kedua garis sejajar mula-mula..
2) Bandingkansudut-sudut yang saling berhadapan. dan saling berdekatan
dengan cara menjiplak atau mengukur.
3) Bandingkan panjang sisi-sisi yang berhadapan.
4) Lukis kedua diagonal, kemudian selidiki posisi titik potongnya.
Berdasar aktifitas di atas, tuliskan sifat-sifat jajargenjang yang Anda
temukan.

c. Carilah contoh aplikasi jajargenjang.

LK 07a
Jawab:

GEOMETRI 190
MATEMATIKA – MATEMATIKA
LEMBAR KERJA 07b. Persegi Panjang

a. Apakah yang dimaksud dengan persegi panjang? Diskusikan dengan


teman sejawat sehingga diperoleh definisi persegi panjang yang baik.

b. Apakah persegi panjang merupakan himpunan bagian dari jajar genjang?


c. Tuliskan sifat-sifat persegi panjang.

LK 07b
Jawab:

GEOMETRI 191
MATEMATIKA – MATEMATIKA
LEMBAR KERJA 07c. Belah Ketupat

a. Tuliskan pengertian belah ketupat? Diskusikan dengan teman sejawat untuk


mendapatkan definisi yang baik.

b. Apakah belah ketupat merupakan himpunan bagian dari jajar genjang?

c. Tuliskan sifat-sifat belah ketupat

LK 07c
Jawab:
GEOMETRI 192
MATEMATIKA – MATEMATIKA
LEMBAR KERJA 07d. Persegi

Diskusikan dengan teman sejawat tentang definisi persegi.

Apakah persegi merupakan himpunan bagian dari belah ketupat?

Tuliskan sifat-sifat persegi.

LK 07d
Jawab:

GEOMETRI 193
MATEMATIKA – MATEMATIKA
LEMBAR KERJA 08 .

Thales ( 625-547 SM) berhasil mengukur tinggi Piramida. Diketahui bahwa


panjang sisi alas Piramida Besar adalah 756 kaki, sehingga jarak dari pusat alas
piramida ke tepinya adalah 378 kaki. Untuk mengukur tinggi Piramida, ia
memerintahkan pembantunya yang memiliki tinggi 6 kaki untuk berdiri di ujung
bayangan Piramida. Diperoleh ukuran-ukuran jarak ujung bayangan piramida
dari sisi Piramida 342 kaki, dan panjang bayangan anak buah Thales 9 kaki.

GEOMETRI 194
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Berdasar data ini, Thales mendapatkan tinggi Piramida 480 kaki.
Jelaskan, prinsip apa dan bagaimana cara yang digunakan Thales untuk
mengukur tinggi Piramida tersebut.

LK 08
Jawab:

LEMBAR KERJA 09Luas dan Keliling.

Masing-masing cat tembok memiliki daya sebar yang berbeda. Sebagai contoh,
cat merk “D” memiliki daya sebar 12m2 per liter, yang berarti dibutuhkan 1 liter
untuk mengecat 1 lapis permukaan seluas 12m2. Sementara itu, daya sebar cat
“V” hanya 9m2 per liter dengan harga yang lebih murah. Dari kasus tersebut,
selain informasi daya sebar dan harga masing-masing merk, tentu saja luas
permukaan yang harus dicat juga harus diperhitungkan. Pada bagian ini Anda
akan belajar tentang Luas dan keliling bangun bersisi datar. Sebagai tambahan
wawasan, Anda dapat membaca Bahan Bacaan 7 tentang Luas dan Keliling.

GEOMETRI 195
MATEMATIKA – MATEMATIKA
1. Jelaskan bagaimana Anda mendapatkan rumus luas persegipanjang dan
segitiga.
2. Jelaskan bagaimana Anda mendapatkan rumus keliling persegipanjang dan
segitiga

LK 09
Jawab:

Aktifitas 10: Teorema Pythagoras

Segitiga siku-siku memiliki sifat yang unik terkait dengan panjang sisi-sisinya.
Pada Tablet Babylonia (Plimpton 322) yang dibuat sekitar 1900 – 1600 SM
memuat tripel Pythagoras. Pythagoras sendiri hidup sekitar 580 – 500 SM.
Teorema Pythagoras berbunyi:
Pada segitiga siku-siku berlaku hubungan.
Kuadrat sisi miring suatu segitiga siku-siku sama dengan
jumlah kuadrat sisi-sisi yang lain.

GEOMETRI 196
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Konvers teorema Pythagoras menyatakan pada segitigadengan sisi a, b, dan
sisi terpanjang c, jika c2 = a2 + b2 maka segitiga ABC merupakan segitigasiku-
siku.
Konvers teorema Pythagoras ini dipercaya telah digunakan oleh bangsa Mesir
kuno untuk membuat segitiga siku-siku dengan cara merentangkan tali yang
memiliki simpul dengan jarak yang sama.

LEMBAR KERJA 10:

1. Buktikan bahwa pada segitiga siku-siku dengan sisi a,b , dan sisi terpanjang c
,berlaku c2 = a2 + b2.

2. Pada tahun 1927 telah diterbitkan buku The Pythagorean Proposition karya
Elisha Scott Loomis yang memuat ratusan bukti teorema Pythagoras. Buku
tersebut memuat lebih dari 200 bukti teorema Pythagoras, termasuk bukti dari
Pythagoras sendiri, Euclid, Leonardo da Vinci, dan Presiden Amerika Serikat
James Garfield. Cobalah Anda mencari satu pembuktian teorema Pythagoras
yang berbeda dengan bukti yang telah Anda tuliskan di LK 1.

3. Tuliskan soal pemecahan masalah terkait teorema Pythagoras beserta


penyelesaiannya.

LK 10
Jawaban:

GEOMETRI 197
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Aktivitas 11: Lingkaran

Lembar Kerja 11

1. Jelaskan bagaimana nilai diperoleh.

2. Jelaskan bagaimana Anda mendapatkan rumus keliling dan luas lingkaran


berjari-jari .

3. Archimedes (287 – 212 SM) menyatakan bahwa luas suatu lingkaran sama
dengan luas segitiga yang panjang sisi siku-sikunya sama dengan jari-jari dan
keliling lingkaran. Benarkah pernyataan ini? Berikan penjelasannya.

GEOMETRI 198
MATEMATIKA – MATEMATIKA
4. Pada sebuah lingkaran besar sudut pusat adalah dua kali besar sudut keliling
yang menghadap busur yang sama. Buktikan pernyataan tersebut.

5. Diberikan titik pada lingkaran berpusat di . Jelaskan mengapa garis singgung


lingkaran di titik tegak lurus terhadap .

6. Ada berapa garis singgung lingkaran dapat dibuat melalui titik jika

a. di luar lingkaran

b. pada lingkaran

c. di dalam lingkaran

7. Lukis sebarang lingkaran dan titik di luar lingkaran. Dengan menggunakan


jangka dan penggaris, lukis garis singgung lingkaran melalui .

6. Lukis dua lingkaran sebarang yang tidak konsentris (tidak sepusat), lukislah
garis singgung persekutuan luar.

7. Berdasarkan langkah-langkah di atas, turunkan rumus untuk mendapatkan


panjang ruas garis singgung persekutuan luar.

8. Pada gambar dua lingkaran di bawah, lukislah garis singgung persekutuan


dalam.

9. Berdasarkan langkah-langkah di atas, turunkan rumus untuk mendapatkan


panjang garis singgung persekutuan dalam.

LK 11
Jawaban:

GEOMETRI 199
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Aktifitas 12: Geometri Transformasi

Gambar di bawah merupakan salah satu bentuk pengubinan karya MC. Escher
yang berjudul “Sea Horse”. Pola tersebut dibuat menggunakan transformasi
geometri. Pola-pola yang lain karya beliau dapat dilihat di
http://www.mcescher.com/ .

GEOMETRI 200
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Pada bagian ini, Anda akan belajar tentang transformasi geometri. Untuk
memperdalam pemahaman Anda dapat membaca bahan bacaan pada uraian
materi.

Lembar Kerja 12a

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan transformasi .

2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan isometri dan transformasi apa saja yang
termasuk di dalamnya?

3. Di manakah posisi titik-titik invarian pada translasi, rotasi, refleksi, dan dilatasi.

LK 12a
Jawaban:

Lembar Kerja 12b

1. Tentukan persamaan bayangan garis y = 2x + 1 yang dicerminkan terhadap


garis y = x
2. Tentukan persamaan bayangan parabola y = x2 terhadap rotasi dengan pusat
(1,3), sudut rotasi 45o.
3. Tentukan persamaan bayangan parabola y = x2 terhadap translasi dengan
3
vektor ( )
2
4. Tentukan persamaan bayangan parabola y = x2 yang didilatasi dengan pusat
(1,2), dan faktor dilatasi 2.

LK 12b
Jawaban:

GEOMETRI 201
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Lembar Kerja 12c

Salah satu sifat pantulan bola pada meja bilyar adalah, sudut datang akan sama
dengan sudut pantul (<α = <). Bola 1 akan disodok sehingga setelah memantul
akan mengenai bola 2.

GEOMETRI 202
MATEMATIKA – MATEMATIKA
a. Bola 1 hanya memantul di a.

b. Bola 1 memantul di a dan di b.

c. Bola 1 memantul di a dan c .

LK 12c
Jawaban:

Lembar Kerja 12d

1. Buka situs http://www.tessellations.org/methods-tracing-paper-0.shtml,


pelajari cara pembuatan pola ubin dengan teknik translasi kemudian buatlah
pola ubin menurut versi Anda sendiri.

2. Buatlah pola pengubinan yang dibuat dengan prinsip rotasi, dengan


mempelajari situs http://www.tessellations.org/methods-tracing-paper-2-
0.shtml. Terlebih dahulu.

LK 12d
Jawaban:

GEOMETRI 203
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Rangkuman
1. Pengertian Sudut

Sudut adalah daerah yang dibatasi oleh dua buah

ruas garis dan satu titik.

Dari gambar di samping disebut sudut B atau b atau

sudut ABC ( Ð ABC ) dibatasi oleh dua buah ruas

garis BA dan BC serta satu titik (sudut) B.

2. Macam-macam Satuan Sudut

GEOMETRI 204
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Pada umumnya ukuran satuan sudut tergantung pada kepentingannya. Barang
atau alat apa yang sedang dipergunakan, maka satuan sudut tertentu pula yang
akan dipergunakan. Ada tiga (3) satuan sudut yang biasa digunakan saat ini,
yaitu :

a. Satuan Derajat ( … .° )

Ukuran sudut satu putaran penuh adalah 360°, maka misalkan

besar a adalah 1° dan apabila panjang busur AB = 360 keliling

lingkaran, dengan kata lain satu derajat adalah 360 putaran.

Ukuran sudut yang lebih kecil adalah menit ( ¢ ) dan detik ( ² ).

Hubungan antara derajat, menit dan detik adalah :

1° = 60¢

1¢ = 60 ²

maka untuk 1° = 60¢ = 3600 ²

b. Satuan Radian ( rad ) Ukuran Radian


disingkat rad.

Apabila busur AB sama dengan jari-jari lingkaran, maka dikatakan bahwa besar
suduttersebut satu radian.

Perhatikan gambar di samping !

GEOMETRI 205
MATEMATIKA – MATEMATIKA
𝐶𝐴𝐵 𝑟
Perbandingan = = 1, menunjukkan ukuran sudut AOB.
𝑂𝐴 𝑟

Nilai bilangan itu disebut ukuran radian.

Busur ABC adalah bangun setengah lingkaran p r , sehingga :

Busur ABC = p.r = p rad, maka Ð AOC = p rad.

c. Satuan Centisimal / gon / grade


Ukuran ini dilambangkan dengan … ..g atau grad. (gradien)
Besar sudut disebut 1 gon apabila panjang busur

1
AB = keliling lingkaran, maka :
400

1 2
1 gon = 400. 200
.p rad = 1 p rad

3. Konversi Satuan Sudut


Hubungan : 1 putaran = 360° = 2.p rad = 400 g

Maka : p rad = 180 ° = 200 g

Dengan berpegang pada hubungan di atas maka akan didapatkan konversi


sebagai berikut :

GEOMETRI 206
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Mengubah radian ke derajat ( konversi 1 ) p rad = 180°
180o
, apabila p = 3,14 maka diperoleh
1 rad = p :

1 rad = 57° 17¢ 44²


3) Mengubah radian ke gon ( konversi 2 ) p rad = 200 g
rad = 200pg , apabila p = 3,14 maka diperoleh :

1 rad = 63,69 g

2. Mengubah derajat ke radian ( konversi 3 ) 180° = p rad


p

1° = rad , apabila p = 3,14 maka diperoleh :


18
0

1° = 0,017 rad

3. Konversi Satuan Sudut

Hubungan : 1 putaran = 360° =


2.p rad = 400 g Maka : p rad =
180 ° = 200 g

Dengan berpegang pada hubungan di atas maka akan didapatkan


konversi sebagai berikut :

Mengubah radian ke
derajat ( konversi 1 ) p
rad = 180°
180
1 rad = o
, apabila p = 3,14 maka diperoleh

GEOMETRI 207
MATEMATIKA – MATEMATIKA
p :

2 rad = 57° 17¢ 44²

a. Mengubah radian ke gon ( konversi 2 ) p rad = 200 g


a. rad = 200pg , apabila p = 3,14 maka diperoleh :

1 rad = 63,69 g

b. Mengubah derajat ke radian ( konversi 3 ) 180° = p rad


p

1° = rad , apabila p = 3,14 maka diperoleh :


18
0

1° = 0,017 rad

c. Mengubah gon ke radian ( konversi 4 ) 200 g = p rad


p

1g = rad , apabila p = 3,14 maka diperoleh :


20
0

1g = 0,016 rad

d. Mengubah derajat ke gon (konversi 5 ) 180° = 200 g


1° = 200g

180

= 1,11
1° g

e. Mengubah gon ke derajat ( konversi 6 ) 200 g = 180°


o
1g =180

GEOMETRI 208
MATEMATIKA – MATEMATIKA
200

= 0,9
1g °

Untuk mencari luas bangun datar yang beraturan dapat dilihat pada uraian diatas
sesuai dengan jenis bangun datarnya. Adapun untuk bangun yang tak beraturan
dapat dilakukan dengan menggunakan :

4. Teorema Phytagoras
Dalam segitiga siku-siku berlaku teorema Pytagoras, yaitu : “
Kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrat sisi-sisi sikunya “.

Teorema Phytagoras : a2+b2=c2

5. Segitiga Istimewa
Suatu segitiga siku-siku sama kaki, jika sisi sikunya adalah x satuan maka sisi
miringnya adalah xÖ2 satuan.

Asal hitungan berdasar teorema Phytagoras :

c 2 = a2 + b 2maka : c= a2 + b 2

c = √𝑥 2 + 𝑦 2

c =√2𝑥 2
c = x√2

GEOMETRI 209
MATEMATIKA – MATEMATIKA
3. Rumus Keliling dan Luas Bidang

a. Segitiga

K = a+b+c
L = ½ . alas.tinggi
= √𝑠(𝑠 − 𝑎). (𝑠 − 𝑏). (𝑠 − 𝑐)
𝑎+𝑏+𝑐
Dimana s = 2

b. Persegi panjang
K=2.(p+l)L=p.l

c. Bujur sangkar K = 4. s

L = s . s = s2

d. Jajaran genjang

K = 2. (a + b )

GEOMETRI 210
MATEMATIKA – MATEMATIKA
L = a. t

e. Belah ketupat

K=4.s

L=½.a.b

dimana : a dan b diagonal

f. f. Layang-layang

K = 2. (a + b)

L=½.p.q

dimana :

q = BD

p = AC

GEOMETRI 211
MATEMATIKA – MATEMATIKA
g. Trapesium
K=a+b+c+d
L = ½ .(a + b) . t

h. Lingkaran
K = 2.p . r
K = p . d … .. dimana 2.r = d
L = p . r 2......dimana 2.r = d
1
= .p.d2.......dimana r = ½ d
4

4. Taksiran Luas Daerah Bidang tak Beraturan


a. Aturan Trapesoida
Bangun daerah bidang tak beraturan dibagi menjadi beberapa bagian yang
sama, disebut pilah. Satu bidang pilah ABQP luasnya mendekati trapesium
dengan sisi sejajar O1 dan O2 serta jaraknya d.

GEOMETRI 212
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Demikian seterusnya sehingga luas total merupakan jumlah masing-masing
pilah, maka luas total dirumuskan :

b. Aturan Mid-Ordinat

Seperti halnya aturan trapesoida, pada aturan diambil tengah-tengah dari


masing-masing ordinat.

Luas pilah ABHG = d . m1 Luas pilah BCIH = d . m2

Demikian seterusnya sehingga luas total merupakan jumlah masing-masing


pilah, maka luas total dirumuskan :

Luas AEKG = d . ( m1 + m2 + m3 + m4)

Aturan Simpson

Aturan ini biasanya dipergunakan untuk menghitung luas daerah di bawah kurva f(x)
dengan sumbu-x pada interval tertentu [a , b].

Aturan Simpson dituliskan dalam rumus :

dimana :

GEOMETRI 213
MATEMATIKA – MATEMATIKA
A : Luas daerah

d : Lebar pilah

F : Ordinat pertama

L : Ordinat terakhir

E : Jumlah ordinat bernomor genap

R : Jumlah ordinat bernomor ganjil

Pengertian Transformasi

Transformasi dapat dipandang sebagai pemetaan dari himpunan titik ke himpunan


titik. Biasanya titik yang dipetakan adalah (x,y), titik hasil pemetaan/bayangannya
adalah ( x’,y’).

Jenis-jenis Transformasi

Beberapa jenis transformasi yang akan kita pelajari antara lain :

a. Translasi ( penggeseran )

b. Refleksi ( pencerminan )

c. Rotasi( perputaran )

d. Dilatasi ( perkalian )

7. Hasil dari Transformasi

No Transformasi Pemetaan

1 Identitas (x , y) (x , y)

2 Translasi (x , y) (x ’, y ’)

GEOMETRI 214
MATEMATIKA – MATEMATIKA
3 Pencerminan terhadap sumbu x (x , y) (x , -y)

4 Pencerminan terhadap sumbu y (x , y) (-x , y)

5 Pencerminan terhadap garis y = x (x , y) (y , x)

6 Pencerminan terhadap garis y = -x (x , y) (-y , -x)

7 Rotasi 90 terhadap O [ R , 90 ] (x , y) (-y , x)

8 Rotasi - 90 terhadap O [ R , - 90 ] (x , y) (y , -x)

9 Dilatasi pusat O dan faktor skala k (x , y) (kx , ky)

GEOMETRI 215
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Tes Formatif
Tentukan keliling daerah yang berbayang-bayang pada gambar berikut:

Tentukan luas bangun berikut.

Gunakan skala 1 cm untuk menyatakan satuan pada sumbu x dan sumbu y.


Gambarlah suatu segiempat dengan titik sudut A(1, 1), B(5, 2), C(4, 4), dan
D(2,4). Tentukan bayangan segiempat ABCD pada translasi sejauh 5 satuan
dalam arah positif sumbu x dan 2 satuan dalam arah negatif sumbu y.
Koordinat titik A dan B berturut-turut adalah (-2, 2) dan (1, 4). Garis yang
menghubungkan A dan B direfleksikan terhadap sumbu x untuk mendapatkan A’
dan B’. Kemudian A’B’ direfleksikan terhadap garis x= 3 untuk memperoleh A”
dan B”. Tentukan koordinat A’, B’, A’’, dan B’’.
∆ABC dengan titik sudut A, B, C yang koordinatnya berturut-turut adalah (2, 2),
(4, 5), dan C(4, 2). ?ABC dirotasikan sejauh 900 dengan arah berlawanan
dengan arah jarum jam dan pusat rotasi titik O, bayangannya adalah ∆ A1B1C1.
?ABC juga dirotasikan sejauh 900 dengan arah searah dengan arah jarum jam
dan pusat rotasi titik O, bayangannya adalah∆A2B2C2. Tentukan koordinat A1,
B1, C1, A 2, B2, dan C2.
Salinlah gambar berikut, kemudian dilatasikan ? LMN dengan E sebagai pusat
dilatasi dan faktor dilatasi ½

GEOMETRI 216
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GEOMETRI 217
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Kunci Jawaban
1. Keliling = ( 2+ 5 + 6 + 5 + 3 + 8 + 3 + 6 + 2 + 8 ) cm

= 48 cm.

2. L = (2 8) + (6 3) + (3 8) = 16 + 18 + 24 = 58

Jadi luas bangun a) adalah 58 cm2 .

3. Gambarnya adalah sebagai berikut

Gambar di atas menunjukkan segiempat ABCD dan bayangannya segiempat


A’B’C’D’ yang ditanslasikan sejauh 5 satuan pada arah positif sumbu x dan
sejauh 2 pada arah sumbu y negatif. Koordinat titik-titik sudut segiempat A’B’C’D’
adalah A’(-1, 6), B’(10, 0), C’(9, 2), dan D’(7, 2).

4. Dari gambar di bawah, anda dapat menentukan koordinat A’, B’, A’’, B’’,
berturut-turut adalah (-2, -2), (1, -4), (8, - 2) dan (5, -4).

GEOMETRI 218
MATEMATIKA – MATEMATIKA
5. Dari gambar di bawah anda dapat menentukan koordinat A1, B1, C1, A2, B2,
dan C2yaitu: A1(-2, 2), B1(-5, 4), C1(-2, 4), A2(2, -2), B2(-4, 5), dan C2(-4, 2).

6. Hasil dilatasi ? LMN dengan E sebagai pusat dilatasi dan faktor dilatasi ½
dapat dilihat pada gambar berikut.

GEOMETRI 219
MATEMATIKA – MATEMATIKA
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4

Kegiatan Belajar 4 : Geometri Dimensi Tiga

Tujuan
Tujuan dari penulisan modul ini adalah:
1. Melalui penugasan peserta diklat dapat menentukan hubungan antar
unsur‐unsur dalam bangun ruangdengan cermat
2. Melalui diskusi peserta diklat dapat menerapkan konsep volume bangun
ruang dalam menyelesaikan maslah kejuruandengan teliti.

Indikator Pencapaian Kompetensi


Indikator pencapaian kompetensi yang harus dikuasai setelah mengikuti
kegiatan belajar ini adalah, peserta diklat dapat:
1. Menentukan hubungan antar unsur‐unsur dalam bangun ruang
2. Menerapkan konsep volume bangun ruang dalam menyelesaikan masalah
kejuruan

Uraian Materi
i. Unsur-unsur bangun ruang

Anda telah mempelajari berbagai bentuk bangun ruang, antara lain kubus,
balok, prisma, limas, dan bola. Sekarang anda akan mempelajari unsur-unsur
yang terdapat pada kubus dan balok. Untuk itu perhatikan kubus
ABCD.EFGH berikut.

GEOMETRI 220
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Gambar 2.4.1 Kubus ABCDEFGH

Kubus mempunyai 6 sisi yang berbentuk persegi yaitu persegiABCD, ABFE,


BCGF, DCGH, ADHE, dan EFGH. ABCD disebut bidangalas, seringkali
disebut alas danEFGHdisebutbidang atas kubusABCD.EFGH. Sisi yang
lain disebutsisi tegak atau bidang tegak.
SisiABCDberhadapandengansisiEFGH. Cobalah anda mencari sisi lainyang
juga berhadapan.
Setiap 2 sisi kubus berpotongan menurut suatu garis. Garis tersebut disebut
rusuk kubus. Jadi ada 12 rusuk, yaitu AB, BC, CD, DA, AE, BF, CG, DH, EF,
FG, GH, dan HE. Rusuk-rusuk tersebut dapat dikelompokkan menjadi 3
kelompok, yaitu rusuk yang terletak pada bidang alas, rusuk yang terletak
pada bidang atas, dan rusuk yang terletak pada bidang tegak. Sebutkan
rusuk-rusuk mana yang terletak pada alas, bidang atas, dan bidang tegak.
Kubus mempunyai 8 titik sudut, yaitu titik-titik A, B, C, D, E, F, G, dan H
disebut titik sudut kubus ABCD.EFGH. Anda dapat melihat bahwa di antara
titik-titik tersebut ada yang terletak pada satu bidang. Titik-titik ini disebut titik
sebidang. Titik-titik A, B, C, dan D adalah titik-titik yang terletak pada bidang
yang sama, yaitu bidang ABCD. Karena itu, titik-titik tersebut dikatakan titik
yang sebidang. Sedangkan titik A dan titik G tidak sebidang. Titik A
berhadapan dengan titik C yang sebidang, dan titik A juga berhadapan
dengan titik G yang tidak sebidang.
Bila anda menghubungkan 2 titik berhadapan yang sebidang anda
mendapatkan sebuah garis yang disebut diagonal bidang. Contoh CH adalah

GEOMETRI 221
MATEMATIKA – MATEMATIKA
diagonal bidang yang terletak pada bidang DCGH. Ada berapa diagonal
bidang pada suatu kubus? Sebutkan semua diagonal bidang pada kubus
ABCD.EFGH.
Bila anda menghubungkan 2 titik berhadapan yang tidak sebidang anda
mendapatkan sebuah garis yang disebut diagonal ruang. Contoh CE adalah
diagonal ruang, karena titik C dan titik E adalah titik yang berhadapan, tetapi
mereka tidak sebidang. Titik C terletak pada bidang DCGH dan titik E terletak
pada bidang ABFE. Ada berapa diagonal ruang pada suatu kubus? Sebutkan
semua diagonal ruang pada kubus ABCD.EFGH.
Sekarang perhatikan titik C yang berhadapan dengan titik E dan titik B yang
berhadapan dengan titik H. Anda dapat membuat bidang yang memuat rusuk
BC dan HE, yaitu bidang BCHE. Bidang BCHE disebut bidang diagonal. Ada
berapa bidang diagonal dalam suatu kubus? Sebutkanlah bidang-bidang
diagonal pada kubus ABCD.EFGH.

Contoh:

Berikut ini adalah balok ABCD.EFGH. Dari balok tersebut, tentukan:

a) namaunsureuntukgaris

AB, BD, dan EC.

b) kedudukan titik D terhadap


titik F dan G.

c) kedudukan garis AB terhadap


garis EF dan GH.

Penyelesaian:

GEOMETRI 222
MATEMATIKA – MATEMATIKA
a) Garis AB adalah rusuk kubus
ABCD. EFGH.

Garis BD adalah diagonal


bidang kubus ABCD.EFGH.

Garis EC adalah diagonal


ruang kubus ABCD. EFGH.

b) Titik D dan titik F adalah titik yang tidak sebidang. Mereka adalah dua titik
yang berhadapan. Titik D dan titik G adalah titik yang sebidang, kedua titik
tersebut berhadapan.

c) Garis AB berhadapan dengan garis EF dan GH.

ii. Jaring-jaring

Anda dapat membedah suatu kubus dan meletakkan sisinya sedemikan


hingga sisi-sisi tersebut terletak pada satu bidang seperti terlihat pada
gambar berikut, yang disebut jaring-jaring kubus.
Ada beberapa cara untuk membuat jaring-jaring kubus.

Contoh 1:

Gambar berikut adalah jaring-jaring kubus.

GEOMETRI 223
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Gambar 2.4.2 Jaring-Jaring Kubus

Gambar 2.4.3 Bukan Jaring-Jaring Kubus

Gambar berikut bukan jaring-jaring kubus.

Anda mengenal juga bangun ruang yang berbentuk prisma. Berikut ini adalah
gambar suatu prisma segienam beserta jaring-jaringnya.

Gambar 2.4.4 Prisma Segienam

GEOMETRI 224
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Prisma segienam Jaring-jaring prisma segienam

Contoh 2:

Berikut adalah gambar prisma segitiga beserta jaring-jaringnya

Prisma segitigaJaring-jaring prisma segitiga

Gambar 2.4.5 Prisma Segitiga

3. Luas Permukaan Kubus

Pada Kegiatan Belajar sebelumnya, Anda telah mempelajari jaring-jaring


kubus. Jaring-jaring kubus tersebut dapat menolong Anda untuk menentukan
luas permukaan kubus. Berikut ini adalah satu jaring-jaring kubus. Dari jaring-
jaring ini Anda dapat mengetahui bahwa permukaan kubus terdiri dari 6

GEOMETRI 225
MATEMATIKA – MATEMATIKA
persegi. Tentunya anda masih ingat bahwa luas persegi yang sisinya s
adalah s2.

Gambar 2.4.6 Jaring-Jaring Kubus (2)

Karena permukaan kubus terdiri dari 6 persegi dan sisi persegi menjadi rusuk
kubus, maka luas permukaan kubus yang panjang rusuknya s adalah 6 s2.
Jika luas permukaan kubus dinyatakan sebagai A, maka:

A = 6 s2

Contoh:

Tentukan luas permukaan kubus yang panjang rusuknya 5 cm.

Penyelesaian:

A = 6 s2 = 6x52= 150

Jadi luas permukaan kubus yang panjang rusuknya 5 cm adalah 150 cm2.
Luas permukaan suatu bangun ruang seringkali hanya dikatakan sebagai
luas permukaan bangun ruang yang bersangkutan.

4. Luas Permukaan Balok

GEOMETRI 226
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Pada Kegiatan Belajar 1, Anda telah mempelajari jaring-jaring balok. Jaring-
jaring balok tersebut dapat menolong Anda untuk menentukan luas
permukaan balok. Berikut ini adalah satu jaring-jaring balok. Dari jaring-jaring
ini Anda dapat mengetahui bahwa permukaan balok terdiri dari 2 persegi
panjang dengan panjang L (sebagai panjang balok), dan lebar H (sebagai
tinggi balok), 2 persegi panjang dengan panjang L dan lebar W (sebagai lebar
balok), serta 2 persegi panjang dengan panjang W dan lebar H . Tentunya
anda masih ingat bahwa luas persegi panjang yang panjangnya L dan
lebarnya H adalah L H.

Gambar 2.4.7 Jaring-Jaring Balok

Jika suatu balok dengan tinggi H, panjang L, lebar W, dan luasnya A, maka

A = 2 (L x W + H x L + H x W)

Contoh 2:

Suatu kotak perhiasan berbentuk balok dengan panjang 20 cm, lebar, 10 cm,
dan tinggi 5 cm. Tentukan lebar kain minimal yang dapat digunakan untuk
melapisi seluruh permukaan kotak perhiasan tersebut.

Penyelesaian:

Lebar = 2 (20 x 10 + 5 x 20 + 5 x 10)

= 2 ( 200 + 100 + 50) = 700

Jadi kain pelapis yang diperlukan minimal 700 m

5. Luas Permukaan Prisma

GEOMETRI 227
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Pada Kegiatan Belajar 1 telah mengetahui jaring-jaring prisma segienam.
Misal A menyatakan luas permukaan prisma, H menyatakan tinggi prisma,
dan panjang sisi-sisi alasnya adalah L1, L2, L3, L4, L5, dan L6.
Jaring-jaring prisma ditunjukkan di sebelah kanan. Garis putus-putus
menyatakan lipatan.

Gambar 2.4.8 Jaring-Jaring Prisma

Luas A ditentukan oleh

A = L1H + L2H + L3H + L4H + L5H + L6H + 2 x luas alas


= ( L1+ L2+ L3+ L4+ L5+ L6) H +2xluas alas
= keliling alas x tinggi + 2 x luas alas
Secara umum,
Luas permukaan prisma=keliling alas x tinggi+2 x luas alas

Contoh 3:

Gambarlah jaring-jaring prisma berikut.


Setelah itu, tentukan luasnya.

Penyelesaian:

Jaring-jaring prisma tersebut adalah:

GEOMETRI 228
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Luas alas = ( ½ x 12x16)= 96

Keliling alas = 12 + 16 + 20 = 48
Jadi luas prisma = { 48 x 9 + 2 (96) } cm2 = 624 cm2.

6. Luas Permukaan Tabung

Gambar (a) berikut menunjukkan dua lingkaran yang berjari-jari sama, r, dan
persegi panjang dengan lebar h dan panjang 2 r, yang merupakan keliling
lingkaran. Untuk membentuk silinder atau tabung di gambar (b), anda dapat
menggulung persegi panjang sehingga sisi AB dan CD berimpit. Kedua
lingkaran yang berjari-jari sama menjadi alas dan tutup tabung. Persegi
panjang tersebut menjadi selimut tabung.

Gambar 2.4.9 Selimut Tabung

Luas selimut tabung = luas persegi panjang = 2𝜋r h

Luas alas dan tutup tabung masing-masing adalah 𝜋r2


Jika luas permukaan tabung A, maka
A = 2𝜋 r h + 2𝜋r2

GEOMETRI 229
MATEMATIKA – MATEMATIKA
A =2𝜋r ( h + r )

Contoh 4:

Diameter atau garis alas suatu silinder 14 cm. Sedangkan tinggi silinder 10
cm. Tentukan luas silinder.

Penyelesaian:
22
Pilih 𝜋 = 7

14
r = = 7 dan h = 10
7

22
A = 2𝜋 r ( h + r ) = { 2x 7
𝑥7( 10 + 7 ) } = 748

Jadi luas silinder adalah 748 cm 2.

7. Luas Permukaan Kerucut

Gambar 2.4.10 Kerucut

Kerucut mempunyai 2 permukaan, yaitu bidang


lengkung, yang disebut selimut kerucut, dan alas
yang berbentuk lingkaran. Gambar di samping
menunjukkan kerucut dengan: T sebagai titik puncak,
alas lingkaran g, M proyeksi

T pada alas, dan TM merupakan tinggi kerucut.Bila selimut kerucut tersebut


Anda buka dan kemudian Anda bentangkan pada suatu bidang datar, maka
Anda memperoleh bentuk berikut.
Bentuk ini berupa juring lingkaran yang berjari-jari a, yang disebut apotema,
dan panjang busur sama dengan keliling lingkaran alas yang jari-jarinya R.
Keliling lingkaran alas = 2𝜋R.

GEOMETRI 230
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Gambar 2.4.11 Selimut Kerucut

𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔𝐵𝑢𝑠𝑢𝑟
Luas selimut kerucut = 𝐾𝑒𝑙𝑖𝑙𝑖𝑛𝑔𝐿𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑥𝐿𝑢𝑎𝑠𝐿𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛

2𝜋𝑟
= 𝑥𝜋a2
2𝜋𝑎

=𝜋𝑟𝑎

Luas kerucut = luas selimut + luas alas

Jika luas kerucut dinyatakan dengan A, maka

A = 𝜋 R a +𝜋 R2

A=𝜋R(a+R)

Bila ß merupakan sudut pusat juring, maka


2πR
ß = 2𝜋𝑎 𝑥360o

R
=𝑎 𝑥360o

Contoh 5:

GEOMETRI 231
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Selimut sebuah kerucut yang telah dibuka berupa setengah lingkaran yang
berjari-jari 4 cm. Hitung luas kerucut.

Penyelesaian:

Keliling lingkaran alas = setengah keliling lingkaran yang berjari-jari 4 cm.

1
Keliling lingkaran alas = 2 𝑥2𝜋(4) = 4𝜋.

Keliling lingkaran alas = 2𝜋r.

Jadi jari-jari lingkaran alas = 2 cm.

Luas alas kerucut = 𝜋 22 cm 2 = 4 𝜋 cm2 .

Luas selimut kerucut = 𝜋R a cm2.

= 𝜋 2 (4) cm2 = 8 𝜋 cm2.

Jadi luas kerucut = ( 4 𝜋 + 8 𝜋 ) cm2 = 12 𝜋 cm2.

GEOMETRI 232
MATEMATIKA – MATEMATIKA
8. Luas Permukaan Limas

Gambar 2.4.12 Limas

Limas berikut adalah limas segiempat beraturan


P.ABCD dengan puncak P dan alas persegi ABCD.Sisi
tegak limas berbentuk segitiga sebangun dengan tinggi
sama, yaitu PT.

Bila limas tersebut direbahkan sedemikian hingga semua sisi sebidang


dengan alas, diperoleh jaring-jaring limas berikut ini

Gambar 2.4.13 Jaring-Jaring Limas

Dari gambar jaring-jaring limas di samping, Anda dapat menentukan luas


limas yang merupakan jumlah dari luas alas (persegi ABCD) dan luas sisi-
sisi tegaknya (∆ABP, ∆BCP, ∆CDP, dan ∆ADP).
Jadi luas limas P.ABCD = luas persegi ABCD + luas ∆ABP + luas ∆BCP +
luas ∆CDP + luas ∆ADP.
Luas limas = Luas alas + Luas seluruh sisi tegak

Contoh 6:

GEOMETRI 233
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Diketahui limas segiempat beraturan T.ABCD dengan rusuk AB = 12cm dan
tinggi limas 8 cm. Tentukan luas limas.

Penyelesaian:

AB = 12 cm

OF = EB = AB = 6 cm
TO = 8 cm.
TF = Tinggi ∆ BCT = √ { (OT)2+ (OF)2} cm
= √ ( 82 + 62 ) cm = 10 cm
Luas persegi ABCD = ( 12 × 12 ) cm2 = 144 cm2.
Luas ∆ABT = luas ∆CDT = luas ∆ADT
= luas ∆BCT = ½ BC x TF = ½ x 12 x 10
= 60 cm2
Luas limas T. ABCD = luas alas + luas seluruh sisi tegak
=( 144 + 4 x ½ x12x 10 ) cm2 = 384 cm2.

9. Luas Permukaan Bola

Jika A menyatakan luas permukaan bola yanga berjari-jari R, maka

A = 4𝜋 R2

Contoh 7:

Tentukan luas bola yang berjari-jari 7.

GEOMETRI 234
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Penyelesaian:
22
Pilih 𝜋 = 7

Luas bola = 4 𝜋R2


22
= 4x 7 x72 = 616

Contoh 8:

Tentukan luas bola yang berjari-jari 10.


Penyelesaian:

Luas bola = 4 𝜋R2

= 4 𝜋102
= 400𝜋
Perhatikan contoh 7 dan 8. Dari kedua contoh tersebut, Anda dapat
22
melihat bahwa Anda dapat memilih 𝜋 sebagai jika jari-jari bola
7

kelipatan 7. Pemilihan ini dilakukan untuk memudahkan perhitungan yang


Anda lakukan. Jika 𝜋bukan kelipatan 7, Anda dapat tetap menggunakannya
untuk menghitung luas bola.

10. Volume Bangun Ruang

Gambar 2.4.14 Sebidang Tanah

Gambar di atas menunjukkan sebidang tanah yang disiapkan untuk suatu


bangunan. Pemborong dengan sengaja meninggalkan timbunan tanah.

GEOMETRI 235
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Tahukah Anda bahwa tujuannya adalah memperkirakan volume tanah yang
diambil dari areal tersebut?

a. Volume Balok

Gambar di samping adalah gambar balok dengan


panjang 5 cm, lebar 1 cm, dan tinggi 1 cm. Balok itu
memuat 5 satuan volume, dalam hal ini 1 cm3. Dengan
demikian volume balok tersebut adalah (5×1×1) cm3 =

5 cm3.

Gambar di samping menunjukkan


balok dengan panjang 5 cm, lebar
2 cm, dan tinggi 1 cm. Balok itu
memuat 10 satuan volume. Karena
itu, volume balok tersebut (5 × 2 ×
1) cm3 = 10 cm3 .

Gambar di samping adalah gambar balok


dengan panjang 5 cm, lebar 2 cm, dan tinggi
4 cm. Balok itu memuat 40 satuan volume.
Karena itu, volume balok tersebut (5 × 4 × 2)
cm3 = 40 cm3 .

GEOMETRI 236
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Dari beberapa balok di atas, Anda dapat menemukan volume balok dengan
mengalikan panjang, lebar, dan tinggi, yang bersatuan panjang sama. Karena
itu, volume, V, dari balok yang berpanjang L, berlebar W dan bertinggi H,
ditentukan dengan rumus berikut.

V = ( L × W × H ) satuan volume

Luas alas

Contoh 1:
Suatu balok yang panjangnya 9 cm dan lebarnya 7 cm mempunyai volume
315 cm3. Tentukan
a)Tinggi balok
b)Luas permukaan balok

Penyelesaian:
a) L = 9, W = 7, V = 315
V=L× W ×H
315 = 9 × 7 × H
H =315 =5
9 7
Jadi tinggi balok 5 cm.

b)A = 2 ( L × W + H × L + H × W )

= 2 (9 × 7 + 5 × 9 + 5 × 7 ) = 286 Jadi
luas balok = 286 cm2.

GEOMETRI 237
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Contoh 2:

Tentukan volume kayu yang digunakan untuk membuat kotak terbuka, yang
berbentuk balok, dengan ketebalan 2 cm, jika diketahui ukuran bagian dalam
kotak adalah panjang 54 cm, lebar 46 cm, dan kedalaman 18 cm.

Penyelesaian:

Panjang luar = (54 + 2 + 2) cm = 58 cm.

Lebar luar = (46 + 2 + 2) cm = 50 cm.

Tinggi luar = (18 + 2) cm = 20 cm.

Volume luar = (58 × 50 × 20) cm 3 = 58.000 cm3.

Volume dalam = (54 × 46 × 18) cm3 = 44.712 cm3.

Jadi volume kayu yang digunakan = (58.000 – 44.712) cm3

= 13.288 cm3.

b. Volume Kubus

Kubus merupakan kejadian khusus dari balok, artinya kubus adalah balok
dengan panjang, lebar, dan tinggi sama. Misal panjang, lebar, dan tinggi
kubus adalah s . Dengan kata lain panjang rusuk kubus adalah s.
Jika volume kubus dinyatakan dengan V dan rusuknya s, maka V = s3

Contoh 3:

Nyatakan:

a) 1 cm3 dalam mm3.

b) 1 m3 dalam cm3.

Penyelesaian:

GEOMETRI 238
MATEMATIKA – MATEMATIKA
a)Karena 1 cm = 10 mm, berarti kubus dengan rusuk 10 mm mempunyai
volume 1cm3.
Jadi 1 cm3 = (10 × 10 × 10) mm3 = 1.000 mm3 .

b) Karena 1 m = 100 cm, dengan cara serupa didapat:


1m3 = (100 × 100 × 100) cm3.

Untuk menentukan volume suatu cairan digunakan satuan khusus. Satuan ini
adalah mililiter (ml), liter (l), dan kiloliter (Kl). Biasanya Anda membeli susu
atau bensin dengan satuan liter dan obat dengan satuan mililiter.

1 ml = 1 cm3
1 = 1.000 ml = 1.000
l cm3
1

k
l = 1.000 l = 1m3

Contoh 4:
Sebuah kontainer berbentuk balok dengan panjang 20 cm, lebar 3 cm, dan
tinggi 14 cm. Tentukan volume cairan, dalam l, yang dapat dimuat kontainer
tersebut (hal ini sering disebut sebagai kapasitas kontainer).
Penyelesaian:
Volume kontainer = (20 × 3 × 14) cm3 = 840 cm3
1.000 cm3 = 1l
Jadi volume cairan dalam kontainer = 0,84 l.

GEOMETRI 239
MATEMATIKA – MATEMATIKA
c. Volume Prisma

Tiga prisma berikut diperoleh dengan menumpuk beberapa bangun yang


identik yang dipotong dari kardus.

Gambar 2.4.15 Bangun yang Identik dengan Prisma

Volume prisma tegak persegi panjang atau balok = luas alas × tinggi
Begitu juga luas prisma tegak segitiga = luas alas × tingi
Secara umum , untuk prisma tegak yang volumenya dinyatakan dengan V,
didapat rumus
V=A×H

A adalah luas alas prisma dan H merupakan tinggi prisma.

Contoh 5:

Tentukan luas dan volume prisma tegak


segitiga seperti gambar di samping.

Penyelesaian:

Luas alas = { (6 × 5) + ( 1 × 3 × 4) cm2

= 36 cm2

Luas sisi tegak = keliling alas × tinggi

= { (6+ 5 + 6 + 4 + 3) × 4,5 } cm 2 = 108 cm2

GEOMETRI 240
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Jadi luas prisma = { 108 + 2 ( 36 ) } cm2 = 180 cm2.
Volume prisma = ( 36 × 4,5) cm3 = 162 cm3.

d. Volume Tabung

Gambar
Tabung
2.4.16

Karena suatu tabung atau silinder


merupakan sebuah prisma tegak
dengan alas lingkaran, maka volume
tabung = luas alas × tinggi.

Alas tabung berbentuk lingkaran dan luas lingkaran yang berjari-jari r adalah 𝜋r2.
Jika volume tabung V, maka

V = 𝜋r2h

Contoh 6:

Garis tengah lingkaran alas sebuah tabung 14 cm dan tingginya 10 cm.


Tentukan volume tabung.

Penyelesaian:
14 22 2
r= 2
= 7, h = 10, V = 𝜋r2h = 7
x7 x10 = 1.540 cm2

Jadi volume tabung adalah 1.540 cm2.

Bayangkan sebuah silinder berjari-jari R dan tingginya h. Misal silinder lain yang
lebih kecil dengan jari-jari r (r<R) dengan tinggi sama, yaitu h, dimasukkan ke

GEOMETRI 241
MATEMATIKA – MATEMATIKA
dalam silinder yang berjari-jari R. Kejadian ini menghasilkan sebuah pipa, seperti
gambar berikut.

Silinder seperti ini disebut silinder


berlubang.

Volume silinder berlubang

= 𝜋R2h -𝜋r2h

= 𝜋 h (R2 - r2)

Volume silinder berlubang =𝜋 h (R2- r2)

Contoh 7:

Gambar di sebelah kanan menunjukkan potongan


sebuah pipa logam. Jari-jari bagian dalam pipa
adalah 2,1 cm, jari-jari bagian luar pipa adalah 2,5
cm dan panjang pipa 12 cm. Tentukan volume
logam yang digunakan untuk membuat pipa.

Penyelesaian:

R = 2,5, r = 2,1, h =
12.Penampang pipa berupa
cincin.

Luas cincin = { 𝜋 (2,5)2 - 𝜋 (2,1)2 } cm2 = 1,84 𝜋 cm2

Volume pipa = (1,84 × 3,34 × 12) cm3 = 76,7 cm3 (dibulatkan sampai 1 tempat
desimal).

Jadi volume logam yang digunakan untuk membuat pipa adalah 73,7 cm3

GEOMETRI 242
MATEMATIKA – MATEMATIKA
e. Volume Limas

Gambar 2.4.17 Kubus (2)

Perhatikangambar kubus
ABCD.EFGH di samping ini.Titik
O merupakan perpotongan
diagonal ruang, sehingga kubus
terbagi menjadi 6 limas
segiempat, dengan alas persegi,
yang sama besar.

Keenam limas tersebut adalah O.ABFE, O.ABCD, O.DCGH, O.BFGC,O.BHEG,


dan O.HADE. Dengan demikian tinggi setiap limas adalahsetengah panjang
rusuk kubus, s. Karena keenam limas sama besar, maka

volume setiap limas = volume kubus.

6
1
= 6 s3

1 1
=3 (2s) s2

1
= Luas alas x tinggi
3

Secara umum, suatu limas yang luas alasnya A dan tingginya h, dan volumenya
V, maka

𝟏
V =𝟑A.h

Contoh 8:

GEOMETRI 243
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Sebuah limas tegak dengan alas berbentuk persegi panjang yang panjangnya
5 dan lebarnya 4. jika tinggi limas 6, tentukan volume limas.

Penyelesaian:

Alas berbentuk persegi panjang.


Panjang alas = 5, lebar alas = 4, maka A = 20.
Tinggi limas 6.
1
Jadi volume limas = × 20 × 6 = 40.
3

f. Volume Kerucut
Kerucut adalah bentukkhusus dari limas. Kekhususannya terletak pada
bentuk alas. Alas kerucut berbentuk lingkaran. Jika suatu kerucut dengan
tinggi h dan jari-jari alas r dan volume V, maka

1
V = 3r2 h

Contoh 9:

Jika jari-jari sebuah kerucut 7 cm dan tingginya 10 cm, maka hitunglah


volume kerucut tersebut.

Penyelesaian:
1
Volume kerucut = ( 3r2 h ) cm3

1
= ( 3 x 72 x 10) cm3

1
= 513 3cm3

g. Volume Bola

Jika V volume suatu bola yang berjari-jari R, maka


4
= πR3
3

Contoh 10:

GEOMETRI 244
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Tentukan volume bola yang jari-jarinya 15 cm.

Penyelesaian:
4
𝑉= πR3
3

4
V = π153
3

V = 300 π

11. Hubungan Antara Unsur-Unsur Bangun Ruang

a. Letak titik dan garis dalam ruang

Bangun ruang apakah yang sering Anda jumpai dalam kehidupan sehari-
hari? Ya, balok adalah bangun ruang yang sering Anda jumpai dalam
kehidupan sehari-hari. Cobalah Anda amati ruang kelas Anda, kemasan-
kemasan yang Anda jumpai di toko, atau benda lain yang terdapat di
sekitar Anda. Pada umumnya benda-benda tersebut berbentuk balok.
Karena itulah untuk memahami letak titik, garis, dan bidang dalam ruang,
Anda dapat memulainya dengan memahami letak titik dan garis pada
balok. Untuk itu perhatikan balok ABCD.EFGH berikut.
Gambar 2.4.18 Balok ABCD.EFGH

GEOMETRI 245
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Tentunya anda masih ingat bahwa balok adalah suatu bangun ruang
yang dibatasi oleh 6 persegi panjang yang sepasang-sepasang
berukuran sama. Sisi-sisi yang berukuran sama adalah sisi-sisi yang
saling berhadapan.
Sisi ABCD berhadapan dengan sisi EFGH. Kedua sisi ini merupakan
persegi panjang yang berukuran sama, artinya panjang persegi
panjangABCDsama dengan panjang persegi panjang EFGH begitu juga
denganlebarnya. Dalam hal ini AB = EF dan BC = FG.
Sekarang perhatikanlah titik A. Titik A terletak pada garis AB dan juga
pada garis AD, tetapi titik A tidak terletak pada garis BC. Titik A adalah
titik yang terletak pada bidang ABFE dan tidak terletak pada
bidangEFGH. Hal ini dikatakan juga sebagai: bidang ABFE memuat titik
A atautitik A termuat pada bidang ABFE dan bidang EFGH tidak memuat
titik A atau titik A tidak termuat dalam bidang EFGH. Cobalah Anda cari
bidang lain yang juga memuat titik A.
Setelah itu perhatikan garisAB. Garis AB terletak pada bidangABCD,
tetapi tidak terletak pada bidang BCGF. Hal ini juga dikatakanbahwa:
garis AB termuat pada bidang ABCD dan tidak termuat pada bidang
BCGF atau bidang ABCD memuat garis AB dan bidang BCGF tidak
memuat garis AB. Cobalah Anda cari bidang lain yang memuat garis AB.

Beberapa hal yang bisa kita dapatkan dari kegiatan di atas adalah

1. Kedudukan titik terhadap garis


Jika diketahui sebuah titik T dan sebuah garis g, maka :
1) Titik T teletak pada garis g, tau garis g melalui titik T
2) Titik T berada diluar garis g, atau garis g tidak melalui titik T
2. Kedudukan titik terhadap bidang
Jika diketahui sebuah titik T dan sebuah bidang H, maka :
a. Titik T terletak pada bidang H, atau bidang H melalui titik T
b. Titik T berada diluar bidang H, atau bidang H tidak melalui titik T
3. Kedudukan garis terhadap garis
Jika diketahui sebuah garis g dan sebuah garis h, maka :

GEOMETRI 246
MATEMATIKA – MATEMATIKA
a. Garis g dan h terletak pada sebuah bidang, sehingga dapat terjadi :
 garis g dan h berhimpit, g = h
 garis g dan h berpotongan pada sebuah titik
 garis g dan h sejajar
b. Garis g dan h tidak terletak pada sebuah bidang, atau garis g dan h
bersilangan, yaitu kedua garis tidak sejajar dan tidak berpotongan.

4. Kedudukan garis terhadap bidang


Jika diketahui sebuah garis g dan sebuah bidang H, maka :
a. Garis g terletak pada bidang H, atau bidang H melalui garis g.
b. Garis g memotong bidang H, atau garis g menembus bidang H
c. Garis g sejajar dengan bidang H

5. Kedudukan bidang terhadap bidang


Jika diketahui bidang V dan bidang H, maka :
a. Bidang V dan bidang H berhimpit
b. Bidang V dan bidang H sejajar
c. Bidang V dan bidang H berpotongan. Perpotongan kedua bidang berupa
garis lurus yang disebut garis potong atau garis persdekutuan.

Contoh :

Diketahui kubus ABCD.EFGH. Tentukan :

a. Titik yang berada pada garis DF


b. Titik yang berada diluar bidang BCHE
c. Garis yang sejajar dengan CF

GEOMETRI 247
MATEMATIKA – MATEMATIKA
d. Garis yang berpotongan dengan BE
e. Garis yang bersilangan dengan FG
f. Bidang yang sejajar dengan bidang BDG
Jawab :

a. Titik D dan F
b. Titik A, D, F, G
c. DE
d. EA, EF, ED, EH
e. AB, DC, AE, DH
f. AFH

b. Hubungan antara garis dan bidang serta garis dan garis dalam
ruang

Setelah Anda mempelajari letak titik dan garis dalam ruang, sekarang
Anda mempelajari bagaimana hubungan antara garis dan bidang dalam
ruang. Untuk itu, perhatikan kubus berikut.

Gambar 2.4.19 Kubus (3)

GEOMETRI 248
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Dari gambar di atas Anda dapat melihat bahwa garis BG dan FC terletak
pada bidang BCGF. Kedua garis ini (BG dan FC) sebidang dan
berpotongan di titik T. Tentunya Anda dengan mudah dapat memahami
bahwa sudut yang dibentuk oleh garis BG dan FC adalah sudut siku-siku
(besarnya 900).
Garis BG dan garis ED tidak sebidang, kedua garis tersebut dikatakan
bersilangan. Kedua garis ini (BG dan ED) tidak dapat berpotongan. Lebih
lanjut Anda dapat mengatakan bahwa BG dan ED adalah dua garis yang
bersilangan tegak lurus, karena ED //FC serta BG dan FC berpotongan
tegak lurus.

Contoh 1:

Perhatikan kubus ABCD.EFGH.

a) Di mana sajakah letak garis DC?

b) Tentukan pada bidang apa saja

letak titik C?

c) Sebutkan garis yang sejajar dengan


garis AC.

d) Sebutkan garis yang bersilangan


tegak lurus dengan garis DB.

e) Tentukan garis yang tegak lurus


dengan garis DH.

Penyelesaian:

Garis DC terletak pada bidang ABCD, DCGH, dan DCFE.


Titik C terletak pada bidang ABCD, DCGH, DCFE, dan ACGE.
Garis yang sejajar dengan garis AC adalah garis EG.
Garis yang bersilangan tegak lurus dengan garis DB adalah garis EG.

GEOMETRI 249
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Garis yang tegak lurus dengan garis DH adalah garis AD dan DC. Kembali
perhatikan kubus ABCD.EFGH berikut.
Garis FC dan garis ED juga dua garis yang sebidang, tetapi mereka tidak
berpotongan, karena kedua garis ini sejajar. Karena garis ED sejajar dengan
salah satu garis yang terletak pada bidang BCGF, maka dikatakan bahwa garis
ED sejajar dengan bidang BCGF.
Garis DC tegak lurus dengan garis
BC (mengapa?). Grais DC jugategak lurus garis CG (mengapa? Karena garis
DC tegak lurus pada garia BC dan CG yang berpotongan, maka garis BC tegak
lurus pada bidang yang memuat garis BC dan CG, yaitu bidang BCGF.
Perhatikanlah baik-baik bahwa untuk menentukan bahwa suatu garis tegak lurus
pada suatu bidang, Anda harus menunjukkan bahwa garis tersebut tegak lurus
pada dua garis berpotongan yang terletak pada bidang tersebut. Sedangkan
untuk menunjukkan bahwa suatu garis sejajar suatu bidang, Anda cukup
menunjukkan bahwa garis tersebut sejajar dengan satu garis yang terletak pada
bidang tersebut.

Contoh 2:

Diketahui balok ABCD.EFGH.

Tentukan:

a) bidang yang sejajar dengan garis AF, jelaskan.

b) bidang yang tegak lurus garis DH jelaskan.

Penyelesaian:

a) Garis AF sejajar dengan


bidang DCGH, karena AF
sejajar dengan garis DG
yang terletak pada bidang

GEOMETRI 250
MATEMATIKA – MATEMATIKA
DCGH.

DH tegak lurus garis DC karena DCGH persegi panjang. DH tegak lurus garis
DA karena ADHE persegi panjang.
DH tegak lurus bidang yang memuat DC dan DA, yaitu bidang ABCD.

c. Hubungan antara bidang dengan bidang

Perhatikan kubus ABCD.EFGH berikut.


Bidang ABCD dan bidang DCGH adalah dua bidang yang berpotongan
menurut garis CD. Kedua bidang ini saling tegak lurus, karena sudut
tumpuan kedua bidang adalah sudut siku-siku.Sudut tumpuan dua
bidang adalah sudut yang dibentuk oleh garis pada masing-masing
bidang yang tegak lurus pada garis potong kedua bidang.

Contoh 1:
Garis DH adalah garis pada bidang DCGH. Garis AD adalah garis pada bidang
ABCD.
DH = DC, AD = DC, DC garis potong atau garis sekutu bidang DCGH dan
ABCD. < ADH adalah sudut tumpuan bidang DCGH dan ABCD. < ADH =900
(ADHE persegi panjang). Karena sudut tumpuan bidang DCGH dan
ABCD besarnya 900, maka bidang DCGH dan ABCD merupakan bidangyang
berpotongan tegak lurus.Sekali lagi perhatikan kubus ABCD.EFGH.
Bidang ADHE dan bidang BCGF adalah dua bidang yang sejajar, karena kedua
bidang tersebut tidak bersekutu pada satu titikpun.
Carilah bidang-bidang lain pada kubusABCD.EFGH yang saling sejajar.

GEOMETRI 251
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Dua bidang sejajar, bila kedua bidang tersebut masing-masing memuat dua
garis berpotongan yang sepasang-sepasang sejajar.

Contoh 2:

Tunjukkan bahwa bidang AFH dan bidang BDG pada kubus ABCD.EFGH
adalah dua bidang yang sejajar.
Bukti:

Bidang ADHE // bidang BCGF.


Bidang ABGH memotong kedua
bidang menurut garis AH dan
BG, maka
AH//BG.......(1)Perhatikan bidang
ABCD dan
EFGH. Kedua bidang
dipotongbidang BDHF

berturut-turut pada garis BD dan HF. Karena itu BD//HF....(2) Dari (1) dan (2)
didapat bidang AFH//bidang BDG.

d. Jarak titik, garis dan bidang

Dalam kehidupan sehari-hari, Anda sering mendengar istilah jarak. Misal


jarak dari Jakarta ke Surabaya adalah 950 km. Dalam hal ini yang
dimaksud dengan jarak adalah panjang jalan yang dilalui, jika seseorang

GEOMETRI 252
MATEMATIKA – MATEMATIKA
berjalan dari Jakarta ke Surabaya. Jalan ini tentunya berbelok-belok,
mendaki, atau menurun. Dalam geometri jarak antara dua titik adalah
ruas garis penghubung kedua titik tersebut. Hal ini biasanya Anda
katakan sebagai panjang (ruas) garis.

Contoh:
Pada kubus ABCD yang rusuknya 5cm, panjang AH = 5v2 cm (cobalah Anda
hitung dengan teorema Pythagoras).
Anda dapat pula menentukan jarak dari suatu titik A ke suatu garis g. Untuk itu
buatlah garis tegak lurus dari titik A ke garis g, namakan garis ini garis d. d
memotong garis g di
titik P1.Panjang PP1 adalah jarak titik P ke garis g

Gambar 2.4.20 Jarak Titik P ke garis g

.
Sekarang Anda akan menentukan jarak dari suatu titik P ke bidang α. Untuk itu,
proyeksikanlah titik P ke bidang α , hasilnya adalah titik P1.. Titik P1 disebut
proyeksi P pada bidang α. Jika Q sembarang titik pada bidang α , maka∆PP1Q
adalah segitiga siku-siku dengan <P1 sudut siku-siku dan PQ sisi miring. PP1
adalah jarak titik P ke bidang α .
Gambar 2.4.21 Proyeksi P pada bidang α

GEOMETRI 253
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Jika ada dua garis sejajar, bagaimanakah Anda menentukan jarak keduanya?

Gambar 2.4.22 Jarak P dan Q

Pada gambar di samping, garis a dan b adalah dua garis sejajar. P sembarang
titik padapada garis a dan P1 proyeksi P pada b. Jarak antara garis a dan b
adalah panjang ruas garis PP1.
Contoh 7:
Diketahui kubus ABCD.EFGH dengan rusuk 6cm.
Tentukan: jarak antara
a) titik C dan titik H,
b) titik B dan garis CF,
c) titik E dan bidang ADGF,
d) garis AB dan garis GH.
Jawab:

a) Perhatikan ∆DCH adalah segitiga siku-siku dengan sisi siku-siku DC = 6


cm dan DH = 6 cm serta sisi miring CH.

GEOMETRI 254
MATEMATIKA – MATEMATIKA
CH2 = v (CD2+ DH2 ) cm

= v (36 + 36) cm

= v 72 cm = 6v2 cm.

b) Untuk menentukan jarak dari titik B ke garis CF terlebih dahulu dibuat


bidang melalui B dan CF, yaitu bidang BCGF. Setelah itu tentukan
proyeksi B pada CF. Karena BCGF suatu persegi, maka proyeksi B pada
CF adalah titik P.
Jadi jarak B ke CF = BP = ½ BG

= ( ½ 6v2 ) cm = 3v2 cm.

c) Jarak E ke bidang ADGF adalah ruas garis EQ dengan Q titik potong AF


dan BE dan Q merupakan proyeksi E pada ADGF.
EQ = 1 EB = (1× 6v2 ) cm = 3v2 cm.
2 2

d) AB dan GH merupakan dua garis sejajar. Jadi jaraknya dapatdiwakili oleh


jarak salah satu titik pada AB, misal A, ke garis GH. Karena GH//DH dan
GH//EH, maka GH tegak lurus pada bidangADHE. Dengan demikian GH
tegak lurus pada semua garis padabidang ADHE. Berarti GH //AH.
Dengan demikian proyeksi A pada GH adalah titik H. Jadi jarak AB dan
GH adaalah AH = 6v2 cm.

Dari beberapah hal tersebut din atas kita peroleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Menghitung jarak antara titik dan garis


Jarak antara titik dan garis merupakan panjang ruas garis yang ditarik dari suatu
titik sampai memotong garis tersebut secara tegak lurus.

GEOMETRI 255
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Jarak antara titik A dengan garis g adalah AB, karena AB tegak lurus dengan
garis g

2. Menghitung jarak antara titik dan bidang


Jarak antara titik dan bidang adalah panjang ruas garis yang ditarik dari suatu
titik diluar bidang sampai memotong tegak lurus bidang.

Jarak titik A ke bidang H adalah AB, karena garis AB Tegak lurus dengan bidang
H

3. Menghitung jarak antara 2 garis


a. Dua garis yang berpotongan tidak mempunyai jarak
b. Jarak antara dua garis yang sejajar adalah panjang ruas garis yang ditarik
dari suatu titik pada salah satu garis sejajar dan tegak lurus garis sejajar yang
lain.

Jarak antara garis g dan h


adalah AB, karena AB  g dan h

GEOMETRI 256
MATEMATIKA – MATEMATIKA
c. Jarak dua garis bersilangan adalah panjang ruas garis hubung yang letaknya
tegak lurus pada kedua garis bersilangan itu.

Jarak antara garis g dan h adalah AB karena AB tegak lurus g dan h

4. Menghitung jarak antara garis dan bidang


Jarak antara garis dan bidang yang sejajar adalah jarak antara salah satu titik
pada garis tehadap bidang.

Jarak antara garis g dan Bidang H adalah AB, karena AB tegak lurus g dan
Bidang H.

5. Jarak antara dua bidang


Jarak antara dua bidang yang sejajar sama dengan jarak antara sebuah titik
pada salah satu bidang ke bidang yang lain.

Jarak antara bidang G dan H adalah AB.

Contoh :

GEOMETRI 257
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Diketahui kubus ABCD.EFGH dengan panjang rusuk 10 cm. Hitunglah jarak
antara :

a. Titik A ke H
b. Titik A ke P (P adalah perpotongan diagonal ruang)
c. Titik A ke garis CE
d. Titik A ke bidang BCGF
e. Titik A ke bidang BDHF
f. Titik A ke bidang BDE
g. Garis AE ke garis CG
h. Garis AE ke garis CG
i. Bidang ABCD ke EFGH

Jawab :

a. Jarak titik A ke H = AH

AH = AD 2  DH 2 = 100  100

= 200

= 10 2 cm

b. Jarak titik A ke P = AP

= ½ AG

GEOMETRI 258
MATEMATIKA – MATEMATIKA
10
= 3 cm
2

c. Jarak A ke CE = AK

Pada segitiga siku-siku CAE

L ∆ CAE = ½.AC.AE = ½.CE.AK

1
.10 2 .10  2 .10 3. AK
2
1
.10 2 .10
AK  2
1
.10 3
2
10 2
AK 
3
10
AK  6
3

d. Jarak titik A ke bidang BCGF = AB = 10 cm

e. Jarak titik A ke bidang BDHF = AR (R titik tengah garis BD)

AR = ½ AC = ½ 10 2 = 5 2 cm

g. Jarak titik A ke bidang BDE

GEOMETRI 259
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Perhatikan persegi panjang ACGE di bawah :

Garis AG berpotongan tegak lurus dengan garis ER dititik T, sehingga jarak A ke


Bidang BDE adalah AT.

ER = AR 2  AE 2

= 50  100

= 150

= 5 6 cm.

L. ARE = ½. AR. AE = ½. RE. AT

½. 5 2.10 = ½ . 5 6. AT

50 2 = 5 6. AT

50 2 10
AT = = 3 cm
5 6 3

Jarak AE ke CG = AC = 10 3

GEOMETRI 260
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Jarak ABCD dan EFGH = AC = 10 cm

Anda telah mempelajari jarak antara dua titik, jarak dari suatu titik ke suatu garis,
dan jarak titik ke bidang. Sekarang marilah kita mempelajari jarak antara dua
bidang sejajar.
Jarak antara dua bidang sejajar adalah panjang ruas garis yang
menghubungkan sebuah titik di salah satu bidang dengan proyeksinya di bidang
yang lain.
Gambar di samping menunjukkan bidang ∝ yang sejajar dengan bidang ß. P titik
sembarang pada bidang ∝ . P1 proyeksi P pada ß. Jarak antara bidang ∝ dan ß
adalah panjang ruas garis PP1.
Gambar 2.4.23 Jarak antara Dua Bidang

Anda tahu bahwa ada garis yang bersilangan. Bagaimanakah caranya, jika Anda
diminta untuk menentukan jarak antara dua garis yang bersilangan? Jarak
antara dua garis bersilangan adalah ruas garis yang memotong tegak lurus
kedua garis tersebut. Untuk itu, cermatilah cara untuk menentukan suatu garis
yang memotong tegak lurus kedua garis terebut.
Ada 2 cara yang dapat Anda lakukan untuk menentukan garis yang memotong
tegak lurus dua garis yang bersilangan. Kegunaan masing-masing cara dapat
Anda sesuaikan dengan ketentuan yang ada. Masing-masing cara diuraikan
pada uraian berikut ini.
Cara 1:
a) Buat garis b1 yang memotong
garis a dan sejajar garis b.

Gambar
Garis yang Memotong Garis Lain (1)
2.4.24

GEOMETRI 261
MATEMATIKA – MATEMATIKA
b) Buat bidang α yang melalui a dan b1. Bidang α adalah bidang yang sejajar
dengan garis b karena memuat garis b1 yang sejajar b.
c) Tentukan proyeksi garis b pada bidang α , namakan b2. Garis b2 sejajar
dengan garis b dan memotong garis a di titik A.
d) Melalui titik A buat garis yang tegak lurus pada bidang α . Garis ini
memotong garis b di titik B.
e) Ruas garis AB adalah garis yang memotong tegak lurus garis a di titik A
dan memotong tegak lurus garis b di titik B. Jadi panjang ruas garis AB
merupakan jarak antara garis a dan garis b.

Cara 2:

Gambar 2.4.25 Garis yang Memotong Garis Lain (2)

a) Buatbidangαyang
memotong tegak lurus garisa di
titik P.
b) Proyeksikangarisbke
bidang α , namakan garis b1.

c) Pada bidang α buat garis melalui P dan memotong tegak lurus garis b1di
titik Q.

GEOMETRI 262
MATEMATIKA – MATEMATIKA
d) Melalui titik Q buat garis tegak lurus bidang α dan memotong garis b di titik
B.
e) Melalui titik B buat garis sejajar QP yang memotong garis a di titik A.
f) Ruas garis A B merupakan ruas garis yang memotong tegak lurus garis a di
titik A dan memotong tegak lurus garis b di titik B. Jadi ruas garis AB
merupakan jarak antara garis a dengan garis b.

Jika garis a dan b bersilangan tegak lurus, maka cara 2 dapat disederhanakan
sebagi berikut:

a) Buat bidang α yang melalui b dan memotong tegak lurus a di titik A.

b) Melalui a buat garis yang memotong tegak lurus b di titik B.


Gambar 2.4.26 Garis yang Memotong Tegak Lurus

c) Panjang ruas garis AB adalah jarak antara garis a dan garis b.

Contoh:

Diketahui kubus ABCD.EFGH dengan rusuk 12 cm.

Tentukan:

a) jarak antara bidang ABFE dan bidang CDHG.

b) Jarak antara rusuk AE dan diagonal sisi DF.

Jawab:

GEOMETRI 263
MATEMATIKA – MATEMATIKA
a) Bidang ABFEdan bidang
CDHG adalah 2 bidang yangsejajar.
Demikian jarak keduanya ditentukan
oleh jarak salah satu titik pada
bidang ABFE ke bidang CDHG.

Untuk itu, pilih titik A. Proyeksi titik A pada bidang CDHG adalah D. Dengan
demikian jarak antara bidang ABFE dan bidang CDHG adalah panjang ruas
garis AD, yang sama dengan panjang rusuk kubus. Jadi jarak antara kedua
bidang ABFE dan bidang CDHG adalah 12 cm.

b)Garis AE dan garis DF adalah dua garis yang bersilangan. Untuk menentukan
jarak antara kedua garis berarti harus ditentukan terlebih dahulu garis yang
memotong keduanya. Pilih bidang ABCD yang tegak lurus pada garis AE.
Proyeksikan DF ke bidang ABCD, hasilnya adalah garis DB. Melalui titik A pada
bidang ABCD buat garis yang memotong tegak lurus garis DB, namakan titik ini
titik P. Titik P adalah titik potong diagonal AC dengan DB Melalui titik P buat
garis sejajar AE yang memotong DF di titik N. Melalui N buat garis sejajar PA
yang memotong AE di titik M. Dengan demikian panjang garis MN adalah jarak
antara garis AE dengan garis DF.
MN = AP = ½ AC = 6v2 cm.

e. Sudut pada bangun ruang

Gambar 2.4.27 Sudut pada Bangun Ruang

Anda telah mempelajari dua garis yang


bersilangan tegak lurus. Sudut antara
kedua garis tersebut besarnya 900,,
misal sudut antara garis DE dengan
garis BG. Sekarang Anda akan

GEOMETRI 264
MATEMATIKA – MATEMATIKA
mempelajari sudut-sudut lain pada suatu
bangun ruang.

Perhatikan ∆EBG pada kubus ABCD.EFGH berikut. Segitiga apakah ∆EBG?

Ya, ∆EBG adalah segitiga samasisi, karena ketiga sisinya sama panjang (semua
sisi ? EBG adalah diagonal bidang pada kubus ABCD.EFGH). Jika penjang
rusuk kubus s, maka panjang sisi ? EBG adalah sv2

Sudut antara dua garis berpotongan

Sudut antara dua garis berpotongan diambil sudut yang lancip.

Garis g berpotongan dengan garis h di titik A, sudut yang dibentuk adalah .

Gambar 2.4.28 Sudut antara dua garis berpotongan


A

h
Sudut antara dua garis bersilangan
Sudut antara dua garis bersilangan ditentukan dengan membuat garis sejajar
salah satu garis bersilangan tadi dan memotong garis yang lain dan sudut yang
dimaksud adalah sudut antara dua garis berpotongan itu.
Gambar 2.4.29 Sudut antara dua garis bersilangan

GEOMETRI 265
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Garis g bersilangan dengan h
Garis h1 sejajar dengan h
Memotong g
Sudut antara g dan h sama dg
Sudut antara g dan h1

Sudut antara garis dan bidang

Sudut antara garis dan bidang hanya ada jika garis menembus bidang.
Sudut antara garis dan bidang adalah sudut antara garis dan proyeksinya pada
bidang itu.
Gambar 2.4.30 Sudut antara garis dan bidang

Garis g menembus bidang H dititik A.


Proyeksi garis g pada bidang H adalah g1
Sudut antara garis g dengan bidang H
Adalah sudut yang dibentuk garis g dg g1

Sudut antara bidang dengan bidang


Sudut antara dua bidang terjadi jika kedua bidang saling berpotongan.
Untuk menentukannya sbb :
a. Tentukan garis potong kedua bidang

GEOMETRI 266
MATEMATIKA – MATEMATIKA
b. Tentukan sebarang garis pada bidang pertama yang tegak lurus garis potong
kdua bidang
c. Pada bidang kedua buat pula garis yang tegak lurus garis potong kedua
bidang dan berpotongan dengan garis pada bidang pertama tadi.
d. Sudut antara kedua bidang sama dengan sudut antara kedua garis tadi
Gambar 2.4.31 Sudut antara bidang dan bidang

(G,H)

Bidang G dan H berpotong pada garis (G,H). Garis g pada G tegak lurus gais
(G,H). Garis h pada H tegak lurus garis (G,H)
Sudut antara bidang G dan H sama dengan sudut antara garis g dan h
Contoh :
Diketahui kubus ABCD.EFGH dengan panjang rusuk 5 cm. Tentukan :

a. Besar sudut antara BG dan bidang ABCD


b. Cosinus sudut antara BH dan ABCD
Jawab :

GEOMETRI 267
MATEMATIKA – MATEMATIKA
H G

E F

D C

A B
5 cm

a. Sudut antara BG dengan ABCD adalah sudut CBG = 450


BD
b. Cosinus sudut antara BH dengan ABCD adalah Cos DBH =
BH
5 2
=
5 3

6
=
3

GEOMETRI 268
MATEMATIKA – MATEMATIKA
f. Proyeksi
a. Proyeksi titik pada bidang

Jika titik A diluar bidang H, maka proyeksi A pada bidang H ditentukan


sebagai berikut :

1) Dari titik A dibuat garis g yang tegak lurus bidang H


2) Tentukan titik tembus garis g terhadap bidang H, misalnya titik B.
Proyeksi titik A pada bidang H adalah B.
Proyeksi Titik pada Bidang
Gambar 2.4.32

b.Proyeksi garis pada bidang


Menentukan proyeksi garis pada bidang sama dengan menentukan proyeksi
dua buah titik yang terletak pada garis ke bidang itu, dan proyeksi garis tadi
pada bidang merupakan garis yang ditarik dari titik-titik hasil proyeksi.

a. Jika sebuah garis tegak lurus pada bidang maka proyeksi garis ke bidang
itu berupa titik.
b. Jika garis sejajar bidang maka proyeksi garis ke bidang merupakan garis
yang sejajar dengan garis yang diproyeksikan.
Contoh :
Diketahui limas beraturan T. ABCD dengan AB = 5 cm dan TA = 8 cm.
Hitunglah panjang proyeksi :
a. TB pada bidang ABCD

GEOMETRI 269
MATEMATIKA – MATEMATIKA
b. TB pada bidang TAC

a. Proyeksi T pada bidang ABCD adalah titik O. Jadi proyeksi TB pada


bidang ABCD = BO
BO = ½ .AC

=½ AB 2  BC 2

=½ 25  25

=½ 5 2

5
= 2 cm
2

b. Proyeksi TB pada bidang TAC = TO

TO = TB 2  BO 2

25
= 64 
2

103
=
2

1
= 206 cm
2

GEOMETRI 270
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Aktivitas Pembelajaran
1. Pengantar:
Dalam kegiatan ini Anda akan melakukan serangkaian kegiatan untuk
mencapai kompetensi berkaitan dengan Geometri. Kegiatan-kegiatan
tersebut akan terbagi dalam beberapa topik, di antaranya adalah:

a. Bangun Ruang, pada bagian ini dibahas tentang bangun ruang bersisi
datar yaitu balok, prisma, dan limas yang meliputi pengertian, unsur-
unsur, volum dan luas permukaannya. Dibahas juga bangun ruang sisi
lengkung yang meliputi tabung, kerucut, dan bola.

b. Jarak dan Sudut dalam Dimensi Tiga, pada bagian ini dibahas tentang
pengertian jarak dan sudut dalam ruang berdimensi tiga, cara
menentukan jarak antara obyek-obyek, dan cara menentukan besar
sudut antara dua obyek dalam ruang berdimensi tiga.

2. Aktifitas

Aktifitas 1: Bangun Ruang bersisi Datar

LEMBAR KERJA 01a

1. Apakah kubus merupakan himpunan bagian dari balok?

2. Di antara 4 gambar di bawah, manakah yang merupakan jaring-jaring


kubus? Berikan penjelasannya.

GEOMETRI 271
MATEMATIKA – MATEMATIKA
LK 01a
Jawab:

LEMBAR KERJA 01b

GEOMETRI 272
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Dalam proses mendapatkan volume bangun-bangun ruang diperlukan
pemahaman yang baik tentang prinsip Cavalieri. Jelaskan bagaimana prinsip
Cavalieri tersebut.

LK 01b
Jawab:

LEMBAR KERJA 01c

GEOMETRI 273
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Jelaskan bagaimana cara mendapatkan rumus volum dan luas permukaan
balok, prisma, dan limas.

LK 01c

Jawab:

LEMBAR KERJA 01d

GEOMETRI 274
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Sebuah corong mesin penggiling padi terbuat dari plat stainless steel
berbentuk seperti pada gambar dengan penampang atas dan bawah
berbentuk persegi.

Gambar 2.4.33 Corong Mesin Penggiling

a. Jika berat bahan yang digunakan adalah 8 kg/m2, tentukan berat corong
tersebut.

b. Jika bagian tersebut berisi rata penuh dengan padi, tentukan volum padi
yang dapat ditampung.

LK 01d
Jawab:

GEOMETRI 275
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Aktifitas 2: Bangun Ruang Sisi Lengkung

LEMBAR KERJA 02a

Jelaskan proses penurunan rumus volume dan luas permukaan bola.

LK 02a
Jawab:

LEMBAR KERJA 02b

GEOMETRI 276
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Di desa Sengir, Kec. Prambanan, Kab. Sleman, DIY, terdapat 71 rumah
dome yang bagian atapnya berbentuk kubah setengah bola berdiameter 7m.
Jika bagian kubah ini akan dicat, dan 1kg cat dapat digunakan untuk
mengecat 9m2, berapa kilogram cat yang diperlukan?

Gambar 2.4.34 Rumah Dome

LK 02b
Jawab:

LEMBAR KERJA 02c

GEOMETRI 277
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Untuk mengenang jasa pahlawan kemerdekaan, sebuah tugu bambu
runcing akan dibangun dengan desain utama berbentuk tabung terpancung
terbuat dari beton dengan diameter luar 2m, tebal dinding 40cm, bagian
tertinggi 12m, bagian terrendah 10m. Tentukan volum beton monumen
tersebut.

Gambar 2.4.35 Tugu Bambu Runcing

LK 02c
Jawab:

LEMBAR KERJA 02d

GEOMETRI 278
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Sebuah corong mesin penggiling dengan bahan plat besi terdiri atas tabung
dan kerucut teriris, denan ukuran seperti pada gambar. Jika berat plat besi
adalah 23 kg/m2.

a. Berapa berat corong?

b. Berapa volum bahan dapat ditampung oleh corong dengan permukaan


atas rata?

LK 02d
Jawab:

Aktifitas 3: Jarak dalam Dimensi Tiga

GEOMETRI 279
MATEMATIKA – MATEMATIKA
LEMBAR KERJA 03a

Titik pusat sebuah bola berjari-jari 10 cm terletak 1 m dari dinding. Jarak bola ke
dinding tersebut adalah ... cm.

LK 03a
Jawab:

LEMBAR KERJA 03b

GEOMETRI 280
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Garis g tegak lurus terhadap sebuah garis h yang terletak pada bidang α.
Apakah hal ini menjamin bahwa garis g tegak lurus terhadap bidang α?
Jelaskan!

LK 03b
Jawab:

LEMBAR KERJA 03c

GEOMETRI 281
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Jelaskan bagaimana langkah-langkah menentukan

a. Jarak titik ke garis

b. Jarak titik ke bidang

c. Jarak antara dua garis sejajar

d. Jarak antara dua garis bersilangan

e. Jarak antara garis ke bidang

f. Jarak antara bidang ke bidang

g. Jarak antara dua bidang berpotongan.

LK 03c
Jawab:

LEMBAR KERJA 03d

GEOMETRI 282
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Pada ruang berbentuk kubus ABCD.EFGH, seekor cicak hendak merayap di
dinding dari titik A ke titik F. Berapa jarak terpendek yang dapat ditempuh
cicak?

LK 03d
Jawab:

LEMBAR KERJA 03e

GEOMETRI 283
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Pada kubus ABCD.EFGH, berapakah jarak antara bidang AFH dan bidang
BDG?

LK 03e
Jawab:

LEMBAR KERJA 03f

GEOMETRI 284
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Panjang setiap rusuk bidang empat beraturan T.ABC adalah 16 cm. Jika P
Pertengahan AT , dan Q pertengahan BC, tentukan panjang PQ adalah.

LK 03f
Jawab:

Aktifitas 4: Sudut dalam Dimensi Tiga

GEOMETRI 285
MATEMATIKA – MATEMATIKA
1. Dua garis berpotongan akan membentuk empat sudut. Dari keempat sudut
tersebut, yang digunakan untuk sudut antara dua garis adalah sudut
terkecilnya. Jelaskan bagaimana langkah-langkah menentukan sudut antara

a. Dua garis bersilangan

b. Garis dengan bidang dengan posisi garis menembus bidang

c. Garis dengan bidang dengan posisi garis sejajar bidang.

d. Dua bidang berpotongan.

3. Bidang V dan W berpotongan tegak lurus sepanjang garis g . Garis l


membentuk sudut 45o dengan V dan 30o dengan W. sinus sudut antara l dan
g adalah .....

4. Diketahui kubus ABCD.EFGH. Besar sudut yang dibentuk oleh garis BG


dengan bidang BDHF adalah …

5. Diketahui kubus ABCD.EFGH dengan panjang rusuk 6 cm. Jika sudut antara
diagonal AG dengan bidang alas adalah α, maka nilai sin α adalah …

GEOMETRI 286
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Rangkuman
1. Kedudukan Titik, Garis, Dan Bidang

a. Kedudukan titik terhadap garis


Jika diketahui sebuah titik T dan sebuah garis g, maka :
3) Titik T teletak pada garis g, tau garis g melalui titik T
4) Titik T berada diluar garis g, atau garis g tidak melalui titik T
b. Kedudukan titik terhadap bidang
Jika diketahui sebuah titik T dan sebuah bidang H, maka :

1) Titik T terletak pada bidang H, atau bidang H melalui titik T


2) Titik T berada diluar bidang H, atau bidang H tidak melalui titik T
c. Kedudukan garis terhadap garis
Jika diketahui sebuah garis g dan sebuah garis h, maka :

1) Garis g dan h terletak pada sebuah bidang, sehingga dapat terjadi :


 garis g dan h berhimpit, g = h
 garis g dan h berpotongan pada sebuah titik
 garis g dan h sejajar
2) Garis g dan h tidak terletak pada sebuah bidang, atau garis g dan h
bersilangan, yaitu kedua garis tidak sejajar dan tidak berpotongan.
d. Kedudukan garis terhadap bidang
Jika diketahui sebuah garis g dan sebuah bidang H, maka :
1) Garis g terletak pada bidang H, atau bidang H melalui garis g.
2) Garis g memotong bidang H, atau garis g menembus bidang H
3) Garis g sejajar dengan bidang H
e. Kedudukan bidang terhadap bidang
Jika diketahui bidang V dan bidang H, maka :

1) Bidang V dan bidang H berhimpit


2) Bidang V dan bidang H sejajar
3) Bidang V dan bidang H berpotongan. Perpotongan kedua bidang berupa
garis lurus yang disebut garis potong atau garis persdekutuan.

GEOMETRI 287
MATEMATIKA – MATEMATIKA
2. Unsur-Unsur Bangun Ruang

Balok ABCD.EFGH mempunyai 6 sisi,


yaitu bidang alasABCD, bidang atas

EFGH, dan sisi tegak ABFE, BCGF,

DCHG, ADHE.

Balok ABCD.EFGH mempunyai 12 rusuk, yang merupakan 2 perpotongan sisi,


antara lain: AB, BF, dan EH. Balok ABCD.EFGH mempunyai 8 titik sudut, yang
merupakan perpotongan rusuk, antara lain: B dan G.
EC adalah salah satudiagonal ruangpada balok ABCD.EFGH. ED
adalah salah satudiagonal bidangpada balok ABCD.EFGH.
ADGF EC adalah salah satubidang diagonalpada balok ABCD.EFGH.

Berikut adalah gambar balok dengan panjang L, lebar W, dan tinggi H,


beserta jaring-jaringnya.

Balok Jaring-jaring balok

3. Luas Bangun Ruang

Luas kubus dengan rusuksadalahA = 6 s2

Luas balok dengan tinggiH,panjangL, lebar W, adalah

GEOMETRI 288
MATEMATIKA – MATEMATIKA
A = 2 (L x W + H x L + H x
W)Luas prisma adalah

A = keliling alasx tinggi + 2xluas alas

Luas tabung dengan jari-jari lingkaran alas r dan tinggihadalah

A=2𝜋 r(h+r)

Luas kerucut dengan jari-jari lingkaran alasRdan apotemaa.

A = 𝜋 R ( a + R )Luas limas adalah

A = Luas alas + Luas seluruh sisi tegak

Luas bola dengan jari-jariRadalah

= 4 𝜋R2

4. Volume Bangun Ruang

Volume, V, dari balok yang berpanjang L, berlebar W dan bertinggi H, ditentukan


dengan rumus berikut.

V = ( L × W × H ) satuan volume

Luas alas

Volume kubus dinyatakan dengan V dan rusuknya s, maka

V = s3

Prisma tegak yang volumenya dinyatakan dengan V, didapat rumus

V=A×H

A adalah luas alas prisma dan H merupakan tinggi prisma.

Alas tabung berbentuk lingkaran dan luas lingkaran yang berjari-jari r adalah

GEOMETRI 289
MATEMATIKA – MATEMATIKA
π r2. Jika volume tabung V, maka

V = πr2h

Jika V volume silinder berlubang dengan jari-jari lingkaran luar R dan jari-jari
lingkaran dalam r, maka

V = π h (R2 - r2)

Jika suatu limas dengan luas alas A, tinggi h, dan volume V, maka
𝟏
V=𝟑Ah

Jika suatu kerucut dengan tinggi h, jari-jari alas r, dan volume V, maka
𝟏
V = 𝟑πr2 h

Jika V volume suatu bola yang berjari-jari R, maka


𝟒
V = 𝟑π R3

5. Hubungan Antara Unsur-Unsur Bangun Ruang

Pada kubus ABCD.EFGH:

titik A terletak pada garis,AB, AD,dan

AE,

garis AB terletak pada bidang ABCDdan ABFE,


titik A terletak pada bidang yangmemuat garis AB, AD, dan AE, yaitu bidang
ABCD, ABFE, dan ADHE.
Garis AB dan garis GH adalah dua garis yang sejajar. Garis
BG dan garis DC adalah dua garis yang bersilangan.
Garis AB dan garis DH adalah dua garis yang bersilangan tegak lurus.
Garis AB sejajar dengan bidang CDHG, karenaABsejajar dengan salahsatu
garis pada bidang CDHG yaitu garis CD.

GEOMETRI 290
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Garis AB tegak lurus dengan bidang CBFG, karenaABtegak lurus dengandua
garis berpotongan pada bidang CBFG yaitu garis CB dan BF.
Bidang ABCD berpotongan dengan bidang DECF.

Bidang ABCD berpotongan tegak lurus dengan bidang DCGH.

Bidang ABCD sejajar dengan bidang EFGH.

Jarak antara dua titik adalah ruas garis terpendek yang menghubungkandua
titik tersebut.
Jarak antara sebuah titik ke sebuah garis adalah panjang garis
yangmemproyeksikan titik ke garis. Begitu juga jarak titik ke bidang.
Jarak antara dua garis sejajar adalah jarak salah satu titik di salah satu garis
ke garis yang lain.
Jarak dua garis bersilangan adalah panjang ruas garis yang tegak luruspada
kedua garis tersebut.
Jarak antara dua bidang yang sejajar adalah jarak dari salah satu titikpada
bidang yang satu ke bidang yang lain.
Sudut antara garis dengan bidang adalah sudut antara garis tersebut dengan
proyeksinya pada bidang.
Sudut antara dua bidang adalah sudut tumpuan kedua bidang.
Sudut tumpuan dua bidang adalah sudut antara dua garis pada masing-
masing bidang di mana garis-garis tersebut masing-masing tegak lurus pada
garis potong kedua bidang.

Tes Formatif
Kerjakan soal-soal berikut dengan cermat.

1. Diketahui suatu balok ABCD.EFGH dengan panjang 8 cm, lebar 6 cm, dan
tinggi 5 cm. Tentukan panjang: diagonal bidang dan diagonal ruangnya.
2. Gambarlah jaring-jaring kubus yang panjang rusuknya 2 cm.
3. Gambarlah limas segilima. Sebutkan unsur-unsurnya.

GEOMETRI 291
MATEMATIKA – MATEMATIKA
4. Tentukan luas balok dengan panjang 24 mm, lebar 18 mm, dan tinggi 5 mm.
3. Tentukan luas kubus yang rusuknya 12.
Gambar di samping adalah gambar prisma tegak dengan alas persegi panjang
BCDE. Segitiga ABC merupakan saklah satu sisi tegaknya.

Tentukan luas prisma bila AB = 3 cm, BC = 4 cm, dan CD = 7 cm .

4. Gambar di samping adalah gambar limas


segitiga beraturan yang biasa disebut bidang
empat. Tentukan luas bidang empat tersebut.

5. Sebuah kerucut dengan jari-jari lingkaran alas 14 cm dan apotema 10 cm.


Tentukan luas kerucut tersebut.
6. Pak Sembiring ingin membuat tempat air berbentuk silinder dengan jari-jari
lingkaran alas 1 m dan tingginya juga 1 m. Tentukan luas minimal bahan yang
diperlukan Pak Sembiring.
7. Tentukan luas bola yang jari-jarinya 15 cm.
8. Sebuah tangki berukuran panjang 4 m, lebar 2 m, dan tinggi 4,8 m. Mula-
mula tangki tersebut diisi air separonya. Tentukan kedalaman air dalam tangki
setelah 4.000 l air ditambahkan lagi ke dalam tangki tersebut.

9. Tentukan volume prisma yang gambarnya


seperti gambar di samping ini.
10. Gambar di samping menunjukkan pipa yang terbuat dari logam
dengan diameter bagian luar 28 mm dan diameter bagian dalam 20 mm.
Panjang pipa 3,5 m.Tentukan volume logam yang diperlukan untuk membuat
pipa tersebut.

GEOMETRI 292
MATEMATIKA – MATEMATIKA
11. Melalui sebuah pipa dengan garis tengah atau diameter 56 mm
dialirkan air dengan kecepatan 3m/det. Berapa volume air, dalam liter, yang
dapat ditampung dalam pipa tersebut per 1 menit?
12. Tentukan volume dan luas permukaan bangun berikut, yang terdiri
dari dua balok.

13. Pada balok ABCD.EFGH


a) apakah BG//GH?

b) apakah AC proyeksi DG pada bidang ABCD?

c) tentukan sudut antara garis DF dengan bidang EFGH.

14. Apakah bentuk proyeksi suatu garis pada suatu bidang? Jelaskan
jawaban Anda.

15. Pada balok ABCD.EFGH, apakah bidang AFH sejajar dengan bidang
BDG? Jelaskan jawaban Anda.

16. Suatu kubus ABCD.EFGH dengan rusuk 10 cm. Tentukan jarak


antara bidang BDE dengan bidang CFH.

17. Tentukan jarak titik C ke garis HF pada kubus ABCD.EFGH yang


panjang rusuknya 5.

GEOMETRI 293
MATEMATIKA – MATEMATIKA
Kunci Jawaban
1. Penyelesaian: berikut adalah gambar balok ABCD.EFGH. Panjang = A B
= 8 cm

Lebar = BC = 6 cm Tinggi = AE = 5
cm Diagonal bidang = AC

= v (A B2 + BC2 ) = v ( 64 + 36 )
cm = 10 cm.

Diagonal ruang = CE

v (AC2 + AE2 )

v ( 102 + 52 ) cm

5v5 cm.

2. Jaring-jaring kubus dengan rusuk 2 cm, antara lain:

GEOMETRI 294
MATEMATIKA – MATEMATIKA
3. Berikut adalah gambar limas segilima.

Limas T.ABCDE mempunyai 6 sisi, yaitu:

ABCDE sebagaialasdansisi tegak ABT, BCT,


CDT, DET, AET .

Limas T.ABCD mempunyai 6 titik sudut, yaitu T


sebagai puncak dan titik-titik A, B, C,D, dan E.

Limas T.ABCDE mempunyai 10 rusuk, yaitu AB, BC, CD, DE, dan AE rusuk-
rusuk yang terletak pada bidang alas dan TA, TB, TC, TD, dan TE yang
merupakan rusuk tegak.

3. 1284 mm2.
4. 1728.
5. 75 cm2.
6. Tinggi setiap segitiga 3v3 cm. Luas setiap segitiga 9v3 cm2.
Jadi luas bidang empat 36v3 cm 2.

7. 1.056 cm2.
8. 4𝜋 m2.
9. 900 𝜋 cm2.
10. 2, 9 m.
11. 1.404 cm3.

12. r = 28 mm = 2,8 cm, h = 3 m = 300 cm.Volume air yang dapat dialirkan per detik
= 𝜋r2h
22
=( x2,8x2,8x300 ) cm3 = 7.392 cm3.
7

13. Volume air yang dapat ditampung per menit adalah


( 7.392 × 60 ) cm3 = 443.520 cm3

= 443,5 liter ( dibulatkan sampai 1)

GEOMETRI 295
MATEMATIKA – MATEMATIKA
14. 1.056 cm3.

Jadi 443.5 liter air per menit dapat ditampung dalam pipa (tempat decimal).

15. 108 cm2; 168 cm3.0


16. a) ya.
b) bukan.

c) < DFH

17. Proyeksi suatu garis pada suatu bidang berupa titik jika garis tersebut tegak lurus
pada bidang dan berupa garis jika garis tersebut tidak tegak lurus bidang.

18. Ya, karena masing-masing bidang memuat dua garis berpotongan yang
sepasang-sepasang saling sejajar.
10
19. 3
√3
10
20.
2
√6

GEOMETRI 296
MATEMATIKA – MATEMATIKA
BABIII
PENUTUP

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta diklat berhak untuk mengikuti tes
untuk menguji kompetensi yang telah dipelajari. Apabila peserta diklat
dinyatakan memenuhi syarat kelulusan dari hasil evaluasi dalam modul ini,
maka peserta berhak untuk melanjutkan ke topik/modul berikutnya.
Mintalah pada widyaiswara untuk uji kompetensi dengan sistem penilaian
yang dilakukan langsung oleh pihak institusi atau asosiasi yang berkompeten
apabila peserta telah menyelesaikan seluruh evaluasi dari setiap modul,
maka hasil yang berupa nilai dari widyaiswara atau berupa portofolio dapat
dijadikan bahan verifikasi oleh pihak institusi atau asosiasi profesi.
Selanjutnya hasil tersebut dapat dijadikan sebagai penentu standar
pemenuhan kompetensi dan bila memenuhi syarat peserta berhak
mendapatkan sertifikat kompetensi yang dikeluarkan oleh institusi atau
asosiasi profesi.

GEOMETRI 297
MATEMATIKA – MATEMATIKA
UJI KOMPETENSI
1. Sebuah lukisan pada dinding kaca sebuah rumah
desainnya seperti gambar di samping. Keliling
bangun yang berbayang-bayang pada gambar
tersebut adalah....
A. 174
B. 175
C. 176
D. 177

2. Disebuah wahana permainan Komedi Putar yang diberinama Kuda Pusing


Carousel tiga orang anak yaitu Andi (A), Budi (B), dan Chandra (C) berada
pada koordinat yang berturut turut adalah A(2,2), B (4,5), dan C (4,2)
dirotasikan sejauh 90o dengan arah berlawanan dengan arah jarum jam
dan pusat rotasi titik O(0,0). Maka koordinat bayangannya adalah...
A. A’(-2,2), B’(-5,4), dan C’ (-2,4)
B. A’(2,-2), B’(5,-4), dan C’ (2,-4)
C. A’(-2,-2), B’(-5-,4), dan C’ (-2,-4)
D. A’(2,2), B’(5,4), dan C’ (2,4)

3. Gambar di samping menunjukkan potongan


sebuah pipa logam. Jari-jari bagian dalam pipa
adalah 2,1 cm, jari-jari bagian luar pipa adalah 2,5
cm dan panjang pipa 12 cm. Maka volume logam
yang digunakan untuk membuat pipa adalah...cm3
A. 69,3
B. 69,4
C. 69,5
D. 69,6
4. Sebuah bangunan berbentuk Kubus ABCD.EFGH dengan panjang rusuk 12
cm. Jarak antara rusuk AE dan diagonal sisi DF adalah... cm
A. 6

GEOMETRI 298
MATEMATIKA – MATEMATIKA
B. 6√2
C. 6√3
D. 12
5. Sebuah kebun berbentuk segitiga ABC dengan koordinat titik A(2,0), B(0,-5)
dan C(-3,1). Koordinat bayangan segitiga ABC tersebut bila dicerminkan
terhadap sumbu x adalah.....
A. A’ (2,0) B’ (0,5) C’(-3,-1)
B. A’ (0,2) B’ (5,0) C’(-1,-3)
C. A’ (0,-2) B’ (-5,0) C’(-1,-3)
D. A’ (-2,0) B’ (0,5) C’(3,-1)

6. Sebuah tangki berbentuk balok dengan panjang 60 cm dan lebar 40 cm


berisi air dengan ketinggian 30 cm. Dalam tangki tersebut dimasukkan
potongan es berbentuk balok dengan ukuran 20 cm, 15 cm, dan 12 cm.
1
Kedalaman air setelah es mencair, anggap volumenya menyusut
10

adalah...cm
A. 31,35
B. 31,30
C. 31,25
D. 31.20

7. Ada 500 kaleng berbentuk silinder tanpa tutup atas. Masing-masing dengan
diameter 8 cm dan tinggi 14 cm. Kaleng-kaleng ini dibuat darilempengan
seng. Bagian luar kaleng-kaleng ini dicat. luas seluruh bidang yang di cat
adalah ...m2
A. 20,096
B. 20,095
C. 20,094
D. 20,093

GEOMETRI 299
MATEMATIKA – MATEMATIKA
8. Berapa banyak kotak korek api yang berukuran 80 mm, 75 mm, dan 18 mm
yang dapat dimasukkan ke dalam sebuah kotak yang ukuran bagian
dalamnya 72 cm, 60 cm, dan 45 cm?
A. 1500
B. 1600
C. 1700
D. 1800

9. ABCDEFGH adalah segidelapan beraturan dengan pusat O. Tentukan


bayangan ∆ AOB jika dirotasikan dengan pusat O dan sudut rotasi: 1800.
a. ∆ EOF
b. ∆ EFO
c. ∆ FEO
d. ∆ EDF

10. Suatu segiempat bertitik sudut (0, 0), (2, 1), (3, 2), dan (3, 5). Tentukan
bayangan segiempat tersebut terhadap geseran sejauh 5 pada arah positif
sumbu x dan sejauh 7 pada arah negatif sumbu y.
A. (5, -7), (7, -6), (8, -5), (8, -2).
B. (5, 7), (7, 6), (8, 5), (8, 2).
C. (-5, -7), (-7, -6), (-8, -5), (-8, -2).
D. (-5, 7), (-7, 6), (-8, 5), (-8, 2).

GEOMETRI 300
MATEMATIKA – MATEMATIKA
DAFTAR PUSTAKA

Amin, S.M. (2004). Geometri Dimensi Dua. Bagian Proyek Pengembangan


Kurikulum.

Depdiknas; Direktorat PMK Dirjen Dikdasmen

Amin, S.M. (2004). Geometri Dimensi Tiga. Bagian Proyek Pengembangan


Kurikulum.

Depdiknas; Direktorat PMK Dirjen Dikdasmen

Iswadji, Djoko. Dkk. 1999. Geometri ruang. Universitas Terbuka.

Lee Peng Yee, Fan Liang Huo, Teh Keng Seng, Looi Chin Keong. 2002. New
Syllabus

Mathematics 2. Singapore: Shinglee Publishers PTE LTD.

------ 2001. New Syllabus Mathematics 1. Singapore: Shinglee Publishers

PTE LTD.

Lee Peng Yee, Teh Keng Seng, Looi Chin Keong. 1997. New Syllabus D
Mathematics 4.

Singapore: Shinglee Publishers PTE LTD.

------ 1996. New Syllabus D Mathematics 2. Singapore: Shinglee Publishers PTE


LTD.

Suwaji, U.T. dan Suharjana, A. (2015) Geometri dan Pengukuran. Bahan Belajar
Diklat Pasca

UKG. PPPPTK Matematika: Yogyakarta

GEOMETRI 301
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GLOSARIUM

ISTILAH KETERANGAN

Dilatasi merupakan transformasi yang memerlukanpusat


Dilatasi
dilatasi dan faktor dilatasi.

Keliling suatu bangun datar yang tertutup merupakanjumlah


Keliling panjang sisi-sisinya atau jarak yang andatempuh, bila anda
mengitari bangun tersebut.

Luas suatu bangun datar adalah banyaknya satuanluas yang


Luas
digunakan untuk menutup permukaanbangun tersebut.

1 radian = besar sudut pusat suatu lingkaran


Radian yangmenghadap busur dengan panjang sama denganjari-jari
lingkaran.1 radian = 570 17’ 45”

Refleksi merupakan suatu jenis transformasi


Refleksi
yangmemerlukan sumbu refleksi.

Rotasi merupakan suatu transformasi yangmemerlukan pusat


Rotasi
rotasi dan jarak rotasi. Jarakrotasi biasa disebut sudut putar.

Translasi merupakan suatu transformasi yangmemerlukan


Translasi
besar dan arah translasi.

Diagonal
Garis penghubung dua titik sudut berhadapan yangsebidang.
bidang

Diagonal Garis penghubung dua titik sudut berhadapan yangtidak


ruang sebidang.

Jaring-jaring suatu bangun ruang terjadi bila sisi-sisinya


Jaring-jaring direbahkan sehingga terletak sebidangdengan alas bangun
ruang tersebut.

GEOMETRI 302
MATEMATIKA – MATEMATIKA
ISTILAH KETERANGAN

Luas Jumlah luas sisi-sisinya.

Sisi Bidang yang menyelimuti bangun ruang.

Rusuk Perpotongan sisi bangun ruang.

Titik sudut Perpotongan rusuk bangun ruang.

Volume Banyak satuan volume dalam bangun ruang.

GEOMETRI 303
MATEMATIKA – MATEMATIKA
GEOMETRI 304
MATEMATIKA – MATEMATIKA