Anda di halaman 1dari 9

1.

Pasien 30 tahun keluhan sudut mulut kanan jatuh, kelopak mata sulit ditutup
dan alis sulit diangkat muncul 2 hari lalu setelah bangun tidur, riwayat trauma
disangkal. tidak ditemukan kelemahan ekstremitas. pemeriksaan neurologis
didapatkan paresis nervus. VII perifer. Diagnosis yang mungkin
a. Bells palsy
b. Stroke hemoragik
c. Stroke nonhemoragik
d. Tumor intracerebral
e. Iskemik batangotak
Pembahsan:
Gejala Bell’s palsy dapat berupa kelumpuhan otototot wajah pada satu sisi
yang terjadi secara tiba-tiba beberapa jam sampai beberapa hari (maksimal 7
hari). Pasien juga mengeluhkan nyeri di sekitar telinga, rasa bengkak atau
kaku pada wajah walaupun tidak ada gangguan sensorik. Kadang- kadang
diikuti oleh hiperakusis, berkurangnya produksi air mata, hipersalivasi dan
berubahnya pengecapan. Kelum-puhan saraf fasialis dapat terjadi secara
parsial atau komplit. Kelumpuhan parsial dalam 1–7 hari dapat berubah
menjadi kelumpuhan komplit.
Dalam mendiagnosis kelum- puhan saraf fasialis, harus dibedakan
kelumpuhan sentral atau perifer. Kelumpuhan sentral terjadi hanya pada
bagian bawah wajah saja, otot dahi masih dapat berkontraksi karena otot dahi
dipersarafi oleh kortek sisi ipsi dan kontra lateral sedangkan kelumpuhan
perifer terjadi pada satu sisi wajah. Derajat kelumpuhan saraf fasialis dapat
dinilai secara subjektif dengan menggunakan sistim House-Brackmann dan
metode Freyss. Disamping itu juga dapat dilakukan tes topografi untuk
menentukan letak lesi saraf fasialis dengan tes Schirmer, reflek stapedius dan
tes gustometri.
2. Pasien 30 tahun keluhan lengan kiri tidak bisa digerakkan setelah mengalami
kll. Pada pf ditemukan falls movemen dan deformitas lengan kiri, pergelangan
tangan tidak bisa dorso fleksi dan ibu jari tidak bisa ekstensi. pemeriksaan foto
ada fraktur humerus 1/3 bagian tengah. Nervus manakah terkena?
a. N. Radialis
b. N. Ulnaris
c. N. Medianus
d. N. Axilaris
e. N. Musculocutaneus
Pembahasan:
Lesi neuropati radialis sewaktu melilit humerus atau sewaktu berjalan
seperfisial pada aspek lateral lengan atas, sering akibat kelamaan
menggantung lengan diatas sandaran kursi (Saturday nigth palsy), akibat
tertekannya lengan karena posisi yang tidak tepat selama anestesi atau tidur,
penggunaan torniket yang tidak benar atau akibat iritasi dan kompresi oleh
kallus sesudah fraktur tulang. Gejalanya:
 Tidak dapat ekstensi siku karena parese triseps
 Tidak dapat fleksi siku pada posisi lengan bawah antara pronasi dan
supinasi karena parese m.brakhioradialis
 Tidak dapat supinasi lengan bawah karena parese m.supinator
 Wrist drop dan finger drop karena parese ekstensor pergelangan tangan
dan jari
 Gangguan abduksi ibu jari tangan
 Refleks trispes negatif atau menurun
 Gangguan sensorik berupa parestesi atau baal pada bagian dorsal distal
lengan bawah, sisi leteral dan dorsal tangan, ibu jari, telunjuk dan jari
tengah.
3. Pasien 19 tahun mengeluh sakit kepala seperti diikat, berkurang setelah
istirahat. kompos mentis, nadi 90x per meni, RR 18x per menit, suhu 36.20 C,
TD 110/70 mmHg. Diagnosis yang sesuai dengan pasien?
a. Tension type headache
b. Migrain without aura
c. Migrain with aura
d. Cluster headache
e. Trigeminal neuralgia
4. laki-laki 45 tahun keluhan kelemahan anggota gerak kanan setelah bangun
pagi sulit digerakkan. Pasien juga sulit berbicara sehingga tidak bisa meminta
tolong. Dua jam kemudian, pasien mulai bisa menggerakkan anggota gerak
tersebut. Riwayat DM(+) HT(+). TD:140/90 HR:80 x/menit. RR:20 x/menit.
Pemeriksaan neurologis dbn. Apa diagnosa yg mungkin?
a. Transient Ischemic Attack
b. reversible iskemik defisit neurologis
c. Prolonged reversible iskemik defisit neurologis
d. Stroke in evolution
e. Complete stroke
Pembahsan:
Perjalanan klinis pasien dengan stroke infark akan sebanding dengan
tingkat penurunan aliran darah ke jaringan otak. Perjalanan klinis ini akan
dapat mengklasifikasikan iskemik serebral menjadi 4, yaitu:
1) Transient ischemic Attack (TIA) Adalah suatu gangguan akut dari fungsi
fokal serebral yang gejalanya berlangsung kurang dari 24 jam dan
disebabkan oleh thrombus atau emboli. TIA sebenarnya tidak termasuk ke
dalam kategori stroke karena durasinya yang kurang dari 24 jam.
2) Reversible Ischemic Neurological Deficit (RIND) Seperti juga pada TIA
gejala neurologis dari RIND juga akan menghilang, hanya saja waktu
berlangsung lebih lama, yaitu lebih dari 24 jam, bahkan sampai 21 hari.
Jika pada TIA dokter jarang melihat sendiri peristiwanya, sehingga pada
TIA diagnosis ditegakkan hanya berdasar keterangan pasien saja, maka
pada RIND ini ada kemungkinan dokter dapat mengamati atau
menyaksikan sendiri. Biasanya RIND membaik dalam waktu 24 - 48 jam.
Sedangkan PRIND (Prolonged Reversible Ischemic Neurological Deficit)
akan membaik dalam beberapa hari, maksimal 3 - 4 hari.
3) Stroke In Evolusion (Progressing stroke) Pada bentuk ini gejala/ tanda
neurologis fokal terus memburuk setelah 48 jam. Kelainan atau defisit
neurologik yang timbul berlangsung secara bertahap dari yang bersifat
ringan menjadi lebih berat. Diagnosis progressing stroke ditegakkan
mungkin karena dokter dapat mengamati sendiri secara langsung atau
berdasarkan atas keterangan pasien bila peristiwa sudah berlalu.
4) Complete Stroke Non-Haemmorhagic Completed Stroke diartikan bahwa
kelainan neurologis yang ada sifatnya sudah menetap, tidak berkembang
lagi. Kelainan neurologi yang muncul bermacam-macam, tergantung pada
daerah otak mana yang mengalami infark
5. Laki-laki 62 tahun keluhan kelemahan anggota gerak seeblah kiri sejak tadi
pagi bangun tidur. Pasien tidak mengalami gangguan kesadaran, tidak ada
nyeri kepala, tidak muntah. memiliki riwayat hipertensi dan DM sejak 10
tahun lalu. diagnosis?
a. Stroke iskemik
b. Stroke perdarahan
c. Subdural hematom
d. Tumor intra serebral
e. Perdarahan intra kranial
6. pasien trauma kepala, CT Scan kepala adanya gambaran hiperdens bentuk
biconvex disertai garis fraktur temporal kiri. Diagnosa pasien ini adalah
fraktur daerah temporal kiri disertai dengan...
a. Perdarahan subdural
b. Perdarahan subarachnoid
c. Perdarahan epidural
d. Perdarahan intracerebral
e. Perdarahan intraventrikuler
Epidural Hematoma (EDH), gambaran: lesi hiperdens berbentuk bikonvex
7. Pasien 50 tahun penurunan kesadaran. Sebelumnya pasien bertengkar, setelah
itu pasien mual, muntah, nyeri kepala hingga tak sadarkan diri. Pada pf GCS
6, TD 160/100 mmHg dan hemiparese ekstremitas dekstra. hasil CT Scan
dijumpai pergeseran midline. Diagnosa pada pasien ini adalah?
a. Perdarahan epidural
b. Perdarahan subdural
c. Perdarahan intraserebral
d. Perdarahan subarachnoid
e. Perdarahan intracereberal
Intraserebral hematoma (ISH), gambaran: CT Scan tampak sebagai lesi
hiperdens dengan edema minimal atau tanpa edema di sekeliling lesi sehingga
midline tampak bergeser.

8. perempuan 17 tahun keluhan sakit kepala cekot-cekot pada kepala kanan sejak
2 hari lalu disertai pandangan berkunang-kunang dengan kilatan muncul cepat
dan tiba-tiba, kadang disertai mual. Diagnosisnya?
a. Migrain tanpa aura
b. Migrain klasik
c. Tension type headache
d. Migrain umum
e. Nyeri kepala cluster
Pembahsan:
Jenis-jenis migrain:
1) Migrain tanpa aura
Istilah sebelumnya : Common migraine, hemicrania simplex
Deskripsi : Nyeri kepala (NK) bersifat familial, berulang dengan
manifestasi serangan selama 4 – 72 jam, karateristik NK unilateral,
berdenyut, intensitas sedang atau berat, bertambah berat dengan aktivitas
fisik yang rutin dan diikuti dengan nausea dan atau fotofobia dan
fonofobia
2) Migrain dengan aura
Istilah sebelumnya : Classic migraine
Deskripsi : Nyeri kepala (NK) berulang yang didahului gejala neurologi
fokal yang reversibel 5- 20 menit dan berlangsung kurang dari 60 menit.
Gambaran NK menyerupai MTA biasanya timbul sesudah gejala aura,
yaitu:
1. Gangguan visual yang reversibel
– Gejala positip : cahaya berkedip, bintik bintik atau garis garis
– Gejala negatip : hilangnya penglihatan
2. Gangguan sensoris yang reversibel
– Gejala positip : tertusuk jarum (pins and needles)
– Gejala negatip : rasa kebas
3. Gangguan berbicara disfasia yang reversibel
9. perempuna 30 tahun keluhan bila melihat objek selalu ganda, kedua
kelopak mata selalu berat, terutama siang hari setelah aktivitas. Pada pf
ditemukan compos mentis, ptosis mata kiri dan kanan, kedua bola mata
tidak dapat digerakkan ke arah nasal. Apa diagnosis yang paling mungkin?
a. Neuropati
b. Myastenia gravis
c. GBS
d. Paralisis hipokalemia
e. Krisis kolinergik
Pembahsan:
Miastenia gravis adalah suatu kelainan autoimun yang ditandai oleh suatu
kelemahan abnormal dan progresif pada otot rangka yang dipergunakan secara
terus-menerus dan disertai dengan kelelahan saat beraktivitas2,.Penyakit ini
timbul karena adanya gangguan dari synaptic transmission atau pada
neuromuscular junction. Dimana bila penderita beristirahat, maka tidak lama
kemudian kekuatan otot akan pulih kembali, kalsifikasi berdasarkan
gejalanya:
1) Kelompok I : Myasthenia Ocular Hanya menyerang otot-otot okular ,
disertai ptosis dan diplopia. Sangat ringan tidak ada kasus kematian.
2) Kelompok IIA : Myasthenia umum ringan Awitan lambat, biasanya pada
mata, lambat laun menyebar ke otot-otot rangka dan bulbar. Sistem
pernapasan tidak terkena. Respon terhadap terapi obat baik.Angka
kematian rendah.
3) Kelompok IIB : Myasthenia umum sedang Awitan bertahap, sering
disertai gejala-gejala okular, berlanjut emakin berat dengan terserangnya
seluruh otot-otot rangka dan bulbar. Disartria, disfagia dan sukar
mengunyah lebih nyata dibandingkan myasthenia gravis umum ringan.
Otot-otot pernapasan tidak terkena. Respon terhadap terapi obat kurang
memuaskan dan aktifitas terbatas . Angka kematian rendah.
4) Kelompok III : Myasthenia berat akut. Awitan yang cepat dengan otot-otot
rangka dan bulbar yang berat disertai mulai terserangnya otot-otot
pernafasan. Biasanya penyakit berkembang maksimal dalam 6 bulan.
Respon terhadap obat buruk. Insiden krisis miastenik, kolinergik, maupun
krisis gabungan keduanya tinggi. Tingkat kematian tinggi.
5) Kelompok IV : Myasthenia berat lanjut. Myasthenia Gravis berat lanjut
timbul minimal 2 tahun sesudah awitan gejala-gejala kelompok I atau II.
Myasthenia gravis berkembang perlahan-lahan atau secara tiba-tiba.
Respon terhadap obat dan prognosis buruk.
10. laki-laki 35 tahun sudah sering berobat diri di poliklinik sejak 1 tahun lalu
dengan keluhan kejang. pasien dibawa ke RS dengan serangan berulang setiap
5 menit, dan di antara serangan ke serangan berikutnya pasien tidak sadar
penuh, TD 100/70 mmHg, T: 37C, nadi 110x/menit. Apakah keadaan yang
dialaminya sekarang?
a. Epilepsi umum sekunder terhadap partial seizures
b. Kejang ensefalopati metabolik
c. Status epileptikus
d. Epilepsi psikomotor
e. Epilepsi umum grandmal
Pembahsan:
SE (Status Epileptikus) adalah kejang yang terus-menerus selama paling
sedikit 30 menit atau adanya dua atau lebih kejang terpisah tanpa pemulihan
kesadaran di antaranya. Definisi ini telah diterima secara luas, walaupun
beberapa ahli mempertimbangkan bahwa durasi kejang lebih singkat dapat
merupakan suatu SE. Untuk alasan praktis, pasien dianggap sebagai SE jika
kejang terus-menerus lebih dari 5 menit. Saat ini, ada beberapa versi
pengklasifi kasian SE sebagai berikut:
 Generalized Convulsive SE Merupakan tipe SE yang paling sering dan
berbahaya. Generalized mengacu pada aktivitas listrik kortikal yang
berlebihan, sedangkan convulsive mengacu kepada aktivitas motorik suatu
kejang.
 Subtle SE Subtle SE terdiri dari aktivitas kejang pada otak yang bertahan
saat tidak ada respons motorik. Terminologi ini dapat membingungkan,
karena subtle SE seperti tipe NCSE (Non-convulsive Status Epilepticus).
Walaupun secara defi nisi subtle SE merupakan nonconvulsive, namun
harus dibedakan dari NCSE lain. Subtle SE merupakan keadaan
berbahaya, sulit diobati, dan mempunyai prognosis yang buruk.
 Nonconvulsive SE NCSE dapat dibagi menjadi 2 kategori, yaitu absence
SE dan complex partial SE. Perbedaan 2 tipe ini sangat penting dalam
tatalaksana, etiologi, dan prognosis; focal motor SE mempunyai prognosis
lebih buruk.
 Simple Partial SE Secara defi nisi, simple partial SE terdiri dari kejang
yang terlokalisasi pada area korteks serebri dan tidak menyebabkan
perubahan kesadaran. Berbeda dengan convulsive SE, simple partial SE
tidak dihubungkan dengan mortalitas dan morbiditas yang tinggi.