Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH PENCEMARAN AIR PADA KANAL DI DESA PADANG BUNGO

KABUPATEN PADANG PARIAMAN AKIBAT LIMBAH USAHA HEWAN POTONG


DAN HEWAN TERNAK

OLEH:
ABDUL ROHIM HARAHAP
MEILA ISTI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan oleh semua makhluk hidup. Air
dijadikan sebagai sumber kehidupan setiap makhluk hidup. Oleh karena itu, sumber
daya alam ini harus dijaga dan dilindungi agar tetap bisa digunakan.
Seiring meningkatnya aktivitas pembangunan ekonomi, laju pertumbuhan
manusia, dan perubahan tata guna lahan mengakibatkan munculnya masalah yang
berkaitan dengan sumber air. Dimana, pada zaman dahulu masyarakat dapat
menggunakan aliran air kanal untuk memenuhi keperluan seperti sumber air bersih
untuk minum, mandi, mencuci pakaian, dan lain sebagainya. Tetapi karena adanya
perubahan-perubahan dalam aktivitas manusia menyebabkan kanal yang dahulunya
memiliki air yang bersih, sekarang sudah tercemar. Pedagang ternak ayam
menjadikan kanal tempat untuk membuang limbah ternak berupa kotoran maupun sisa
penjualan, pedagang ikan air tawar juga melakukan hal yang sama, begitupun dengan
ternak sapi atau kerbau.
Selain limbah ternak, kanal juga dicemari limbah domestik atau rumah tangga.
Limbah-limbah yang dihasilkn rumah tangga dialirkan ke kanal yang menyebabkan
kanal tercemar. Sehingga, hal ini menjadi masalah yang serius dalam peningkatan
kuliatas lingkungan hidup yang sehat.
B. Rumusan masalah
Penelitian ini dibatasi oleh beberapa masalah, yaitu:
1. Apa itu pencemaran air?
2. Apakah tipe pencemaran pada kanal di desa padang bungo?
3. Darimanakah sumber pencemaran tersebut?
4. Apakah efek yang ditimbukan dari percemaran air kanal?
5. Bagaimana pencegahan agar air kanal tidak lagi tercemar?

C. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui pencemaran air
2. Untuk mengetahui tipe pencemaran air di kanal
3. Untuk mengetahui sumber pencemaran
4. Untuk mengetahui efek yang ditimbulkan oleh pencemaran air
5. Dapat mengatasi pencemaran air
D. Metode penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan mengamati air pada
kanal di desa padang bungo gadur, kabupaten padang pariaman.
BAB II PEMBAHASAN
A. Jenis limbah usaha ternak
Selama ini banyak keluhan masyarakat akan dampak buruk dari kegiatan usaha
peternakan karena sebagian besar peternak mengabaikan penanganan limbah dari
usahanya, bahkan ada yang membuang limbah usahanya ke sungai, sehingga terjadi
pencemaran lingkungan. Limbah peternakan yang dihasilkan oleh aktivitas
peternakan seperti feces, urin, sisa pakan, serta air dari pembersihan ternak dan
kandang menimbulkan pencemaran yang memicu protes dari warga sekitar, baik
berupa bau tidak enak yang menyengat, sampai keluhan gatal-gatal ketika mencuci di
sungai yang tercemar limbah peternakan (Funk, 2007).
Seiring bertambahnya penduduk dan minimnya lahan pertanian, banyak petani
dan pengusaha ternak yang menempatkan lahan pertanian dan peternannya disekitar
rumah penduduk, lebihnya lagi dekat dengan area sekolah. Lalu bagaimana dengan
peternak sapi dan pengaruh limbahnya yang dekat dengan tempat-tempat yang telah
disebutkan sebelumnya. Oleh karena itu, seiring dengan kebijakan otonomi, maka
pemgembangan usaha peternakan yang dapat meminimalkan limbah peternakan perlu
dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota untuk menjaga kenyamanan permukiman
masyarakatnya. Salah satu upaya kearah itu adalah dengan memanfaatkan limbah
peternakan sehingga dapat memberi nilai tambah bagi usaha tersebut (Murdiati, dkk.,
1995; Palgunadi, dkk., 1999).
Dalam kasus pencemaran lingkungan oleh peternakan ayam, yang menjadi
pemicu permasalahan sebenarnya adalah akibat dari pemukiman yang terus
berkembang. Pada awal pembangunan, peternakan ayam didirikan jauh dari
pemukiman penduduk namun lama kelamaan di sekitar areal petemakan tersebut
menjadi pemukiaman. Hal tersebut dapat terjadi karena perkembangan dan rencana
tataruang yang tidak konsisten (Infovet, 1996, Setiawan, 1996). Untuk itu, perlu suatu
perbaikan sistem pemanfaatan lahan yang sesuai dengan peruntukannya. Dalam hal
ini pemerintah membuat kebijakan penggunaan suatu areal atau kawasan usaha
peternakan agar tidak saling mengganggu antara petemakan dan pemukiman. Sudah
tentu kawasan tersebut juga harus senantiasa memelihara lingkungannya, antara lain
dengan melakukan pengelolaan limbah serta pemantauan lingkungan secara terus
menerus.
Limbah ternak adalah sisa buangan dari suatu kegiatan usaha peternakan
seperti usaha pemeliharaan ternak, rumah potong hewan, pengolahan produk ternak,
dan sebagainya. Limbah tersebut meliputi limbah padat dan limbah cair seperti feses,
urine, sisa makanan, embrio, kulit telur, lemak, darah, bulu, kuku, tulang, tanduk, isi
rumen, dan lain-lain (Sihombing, 2000). Semakin berkembangnya usaha peternakan,
limbah yang dihasilkan semakin meningkat.
Total limbah yang dihasilkan peternakan tergantung dari species ternak, besar
usaha, tipe usaha dan lantai kandang. Kotoran sapi yang terdiri dari feces dan urine
merupakan limbah ternak yang terbanyak dihasilkan dan sebagian besar manure
dihasilkan oleh ternak ruminansia seperti sapi, kerbau kambing, dan domba.
Umumnya setiap kilogram susu yang dihasilkan ternak perah menghasilkan 2 kg
limbah padat (feses), dan setiap kilogram daging sapi menghasilkan 25 kg feses
(Sihombing, 2000).
Menurut Soehadji (1992), limbah peternakan meliputi semua kotoran yang
dihasilkan dari suatu kegiatan usaha peternakan baik berupa limbah padat dan cairan,
gas, maupun sisa pakan. Limbah padat merupakan semua limbah yang berbentuk
padatan atau dalam fase padat (kotoran ternak, ternak yang mati, atau isi perut dari
pemotongan ternak). Limbah cair adalah semua limbah yang berbentuk cairan atau
dalam fase cairan (air seni atau urine, air dari pencucian alat-alat). Sedangkan limbah
gas adalah semua limbah berbentuk gas atau dalam fase gas.
Pencemaran karena gas metan menyebabkan bau yang tidak enak bagi
lingkungan sekitar. Gas metan (CH4) berasal dari proses pencernaan ternak
ruminansia. Gas metan ini adalah salah satu gas yang bertanggung jawab terhadap
pemanasan global dan perusakan ozon, dengan laju 1 % per tahun dan terus
meningkat. Apalagi di Indonesia, emisi metan per unit pakan atau laju konversi metan
lebih besar karena kualitas hijauan pakan yang diberikan rendah. Semakin tinggi
jumlah pemberian pakan kualitas rendah, semakin tinggi produksi metan (Suryahadi
dkk., 2002).

B. Pencemaran air
Menurut Olivianti dalam jurnal Ali dkk., air merupakan sumber daya alam yang
diperlukan untuk hajat hidup orang banyak, bahkan oleh semua makhluk hidup. Oleh
karena itu sumber daya air harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan dengan
baik oleh manusia dan makhluk hidup lainnya. Salah satu sumber air yang banyak
dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya
adalah sungai. Sungai merupakan ekosistem yang sangat penting bagi manusia.
Sungai juga menyediakan air bagi manusia baik untuk berbagai kegiatan seperti
pertanian, industri maupun domestik. Air sungai yang keluar dari mata air biasanya
mempunyai kualitas yang sangat baik. Namun dalam proses pengalirannya air
tersebut akan menerima berbagai macam bahan pencemar. Meningkatnya aktivitas
domestik, pertanian dan industri akan mempengaruhi dan memberikan dampak
terhadap kondisi kualitas air sungai terutama aktivitas domestik yang memberikan
masukan konsentrasi BOD terbesar ke badan sungai.
Pada ilmu hidrologi dikenal beberapa jenis air, yaitu air hujan, air tanah, air
permukaan, air laut, dan air tawar. Dari beberapa jenis air tersebut air tanah
merupakan salah satu jenis air yang mudah terkena polutan dikarenakan sumber air
tanah berasal dari curah hujan dan dari air fosil, atau air yang terperangkap dalam
proses pengangkatan di perairan dangkal. Air tanah sangat sulit dibersihkan bahkan
hampir tidak mungkin untuk dibersihkan kembali apabila telah tercemar.
Proses pencemaran air tanah melalui proses infiltrasi yang terjadi akibat
adanya zat - zat yang dilalui oleh air yang terbawa ataupun terlarut, sehingga masuk
kedalam akifer. Pencemaran air adalah masuk atau dimasukannya makhluk hidup, zat,
energi, dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas
air menurun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan tidak lagi berfungsi sesuai
dengan peruntukannya (Effendi, 2003).
C. Tipe – tipe pencemaran air
Limbah cair adalah limbah yang mempunyai sifat cair di mana komposisinya
meliputi bahan organik, anorganik, dan lainnya. Bahan organik dan anorganik adalah
bahan yang dapat mengalami degradasi oleh mikroorganisme. Limbah cair yang
mengandung bahan ini pada umumnya berasal dari kegiatan manusia di permukiman
(Darmono, 2001 dalam Nasution, 2003).
Padang bungo merupakan salah satu desa yang ada di kabupaten padang
pariaman dimana di desa ini ada beberapa masyarakat yang memiliki usaha ternak
potong seperti ayam dan ikan air tawar. Hasil usaha maupun kotoran dari hewan
ternak tersebut menyebabkan air pada aliran kanal menjadi tercemar. Aliran air yang
dahulunya digunakan sebagai penunjang kehidupan masyarakat sekitar, sekarang
sudah tidak bisa digunakan lagi. Oleh karena itu, percemaran ini menjadi perhatian
khusus bagi masyarakat setempat.
Pencemaran aliran kanal tergolong kedalam tipe pencemaran organik. Bahan
organik meliputi kertas, tinja, urin, sabun, lemak, deterjen dan sisa makanan (Dix,
1981 dalam Sasangko, 2006). Menurut Mahida (1995 dalam Sasangko, 2006),
biological oxygen demand (BOD) akan semakin tinggi jika kandungan limbah
organik semakin besar.
D. Sumber pencemaran air kanal
Pencemaran aliran kanal ini bersumber dari limbah sisa usaha dan kotoran ternak
potong dan bebatuan yang dahulunya banyak yang digunakan dalam peristiwa
adsorbsi juga berkurang karena digali dan dijadikan usaha.
E. Efek pencemaran air kanal
Efek yang ditimbukan dari pencemaran air ini yaitu munculnya bau yang tidak sedap,
menyebabkan penyakit kulit jika digunakan untuk mandi dan mencuci, menurunnya
kualitas air , meracuni makhluk hidup di air.
F. Upaya mengatasi pencemaran air kanal

Limbah peternakan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, apalagi limbah


tersebut dapat diperbaharui (renewable) selama ada ternak. Limbah ternak masih
mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk dimanfaatkan. Limbah ternak
kaya akan nutrient (zat makanan) seperti protein, lemak, bahan ekstrak tanpa nitrogen
(BETN), vitamin, mineral, mikroba atau biota, dan zat-zat yang lain (unidentified
subtances). Limbah ternak dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan ternak, pupuk
organik, energi dan media pelbagai tujuan (Sihombing, 2002).
1. Pemanfaatan Untuk Pakan dan Media Cacing Tanah
Sebagai pakan ternak, limbah ternak kaya akan nutrien seperti protein, lemak
BETN, vitamin, mineral, mikroba dan zat lainnya. Ternak membutuhkan sekitar
46 zat makanan esensial agar dapat hidup sehat. Limbah feses mengandung 77 zat
atau senyawa, namun didalamnya terdapat senyawa toksik untuk ternak. Untuk itu
pemanfaatan limbah ternak sebagai makanan ternak memerlukan pengolahan lebih
lanjut. Tinja ruminansia juga telah banyak diteliti sebagai bahan pakan termasuk
penelitian limbah ternak yang difermentasi secara anaerob.
2. Pemanfaatan Sebagai Pupuk Organik
Pemanfaatan limbah usaha peternakan terutama kotoran ternak sebagai pupuk
organik dapat dilakukan melalui pemanfaatan kotoran tersebut sebagai pupuk
organik. Penggunaan pupuk kandang (manure) selain dapat meningkatkan unsur
hara pada tanah juga dapat meningkatkan aktivitas mikrobiologi tanah dan
memperbaiki struktur tanah tersebut.
Kotoran ternak dapat juga dicampur dengan bahan organik lain untuk
mempercepat proses pengomposan serta untuk meningkatkan kualitas kompos
tersebut .
3. Pemanfaatan Untuk Gasbio
Permasalahan limbah ternak, khususnya manure dapat diatasi dengan
memanfaatkan menjadi bahan yang memiliki nilai yang lebih tinggi. Salah satu
bentuk pengolahan yang dapat dilakukan adalah menggunakan limbah tersebut
sebagai bahan masukan untuk menghasilkan bahan bakar gasbio. Kotoran ternak
ruminansia sangat baik untuk digunakan sebagai bahan dasar pembuatan biogas.
Ternak ruminansia mempunyai sistem pencernaan khusus yang menggunakan
mikroorganisme dalam sistem pencernaannya yang berfungsi untuk mencerna
selulosa dan lignin dari rumput atau hijauan berserat tinggi. Oleh karena itu pada
tinja ternak ruminansia, khususnya sapi mempunyai kandungan selulosa yang
cukup tinggi. Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa tinja sapi mengandung
22.59% sellulosa, 18.32% hemi-sellulosa, 10.20% lignin, 34.72% total karbon
organik, 1.26% total nitrogen, 27.56:1 ratio C:N, 0.73% P, dan 0.68% K .
Gasbio adalah campuran beberapa gas, tergolong bahan bakar gas yang
merupakan hasil fermentasi dari bahan organik dalam kondisi anaerob, dan gas
yang dominan adalah gas metan (CH4) dan gas karbondioksida (CO2) (Simamora,
1989). Gasbio memiliki nilai kalor yang cukup tinggi, yaitu kisaran 4800-6700
kkal/m3, untuk gas metan murni (100 %) mempunyai nilai kalor 8900 kkal/m3.
Produksi gasbio sebanyak 1275-4318 I dapat digunakan untuk memasak,
penerangan, menyeterika dan mejalankan lemari es untuk keluarga yang
berjumlah lima orang per hari.
Pembentukan gasbio dilakukan oleh mikroba pada situasi anaerob, yang
meliputi tiga tahap, yaitu tahap hidrolisis, tahap pengasaman, dan tahap
metanogenik. Pada tahap hidrolisis terjadi pelarutan bahan-bahan organik mudah
larut dan pencernaan bahan organik yang komplek menjadi sederhana, perubahan
struktur bentuk primer menjadi bentuk monomer. Pada tahap pengasaman
komponen monomer (gula sederhana) yang terbentuk pada tahap hidrolisis akan
menjadi bahan makanan bagi bakteri pembentuk asam. Produk akhir dari gula-
gula sederhana pada tahap ini akan dihasilkan asam asetat, propionat, format,
laktat, alkohol, dan sedikit butirat, gas karbondioksida, hidrogen dan amoniak.
Model pemroses gas bio yang banyak digunakan adalah model yang dikenal
sebagai fixed-dome. Model ini banyak digunakan karena usia pakainya yang lama
dan daya tampungnya yang cukup besar. Meskipun biaya pembuatannya
memerlukan biaya yang cukup besar.
Untuk mengatasi mahalnya pembangunan pemroses biogas dengan model
feixed-dome, tersebut sebuah perusahaan di Jawa Tengah bekerja sama dengan
Balai Pengkajian dan Penerapan Teknolgi Ungaran mengembangkan model yang
lebih kecil untuk 4-5 ekor ternak, yang siap pakai, dan lebih murah karena
berbahan plastic yang dipendam di dalam tanah.
Di perdesaan, gasbio dapat digunakan untuk keperluan penerangan dan
memasak sehingga dapat mengurangi ketergantungan kepada minyak tanah
ataupun listrik dan kayu bakar. Bahkan jika dimodifikasi dengan peralatan yang
memadai, biogas juga dapat untuk menggerakkan mesin.
4. Pemanfaatan Lainnya
Selain dimanfaatkan untuk pupuk, bahan pakan, atau gasbio, kotoran ternak juga
dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar dengan mengubahnya menjadi briket dan
kemudian dijemur/dikeringkan. Briket ini telah dipraktekkan di India dan dapat
mengurangi kebutuhan akan kayu bakar.
Pemanfaatan lain adalah penggunaan urin dari ternak untuk campuran dalam
pembuatan pupuk cair maupun penggunaan lainnya.
BAB III PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA