Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura dapat terjadi oleh
banyak hal diantaranya adanya bendungan seperti pada dekompensasi
kordis, penyakit ginjal, tumor mediastinum, ataupun akibat proses
keradangan seperti tuberculosis dan pneumonia. Hambatan reabsorbsi
cairan tersebut mengakibatkan penumpukan cairan di rongga pleura yang
disebut efusi pleura. Efusi pleura tentu mengganggu fungsi pernapasan
sehingga perlu penatalaksanaan yang baik. Pasien dengan efusi pleura
yang telah diberikan tata laksana baik diharapkan dapat sembuh dan pulih
kembali fungsi pernapasannya, namun karena efusi pleura sebagian besar
merupakan akibat dari penyakit lainnya yang menghambat reabsorbsi
cairan dari rongga pleura, maka pemulihannya menjadi lebih sulit. Karena
hal tersebut, masih banyak penderita dengan efusi pleura yang telah di
tatalaksana namun tidak menunjukkan hasil yang memuaskan.
Efusi pleura merupakan manifestasi klinik yang dapat dijumpai
pada sekitar 50-60% penderita keganasan pleura primer. Sementana 95%
kasus mesotelioma (keganasan pleura primer) dapat disertai efusi pleura
dan sekitar 50% penderita kanker payudara akhirnya akan mengalami efusi
pleura.
Kejadian efusi pleura yang cukup tinggi apalagi pada penderita
keganasan jika tidak ditatalaksana dengan baik maka akan menurunkan
kualitas hidup penderitanya dan semakin memberatkan kondisi penderita.
Paru-paru adalah bagian dari sistem pernapasan yang sangat penting,
gangguan pada organ ini seperti adanya efusi pleura dapat menyebabkan
gangguan pernapasan dan bahkan dapat mempengaruhi kerja sistem
kardiovaskuler yang dapat berakhir pada kematian.
Perbaikan kondisi pasien dengan efusi pleura memerlukan
penatalaksanaan yang tepat oleh petugas kesehatan termasuk perawat

1
sebagai pemberi asuhan keperawatan di rumah sakit. Untuk itu maka
perawat perlu mempelajari tentang konsep efusi pleura dan
penatalaksanaannya serta asuhan keperawatan pada pasien dengan efusi
pleura. Maka dalam makalah ini akan dibahas bagaimana asuhan
keperawatan pada pasien dengan efusi pleura.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari efusi pleura.?
2. Bagaimana etiologi dari efusi pleura.?
3. Bagaimana manifestasi klinis efusi pleura.?
4. Bagaimana patofisiologi efusi pleura.?
5. Bagaimana pathway dari efusi pleura.?
6. Apa saja komplikasi pada efusi pleura.?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang untuk efusi pleura.?
8. Bagaimana penatalaksanaan pada efusi pleura.?
9. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada pasien efusi pleura.?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui definisi efusi pleura.
2. Untuk mengetahui etiologi efusi pleura.
3. Untuk mengetahui tanda dan gejala efusi pleura.
4. Untuk mengetahui patofisiologi efusi pleura.
5. Untuk mengetahui pathway efusi pleura.
6. Untuk mengetahui komplikasi pada efusi pleura.
7. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang efusi pleura.
8. Untuk mengetahui penatalaksanaan efusi pleura.
9. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan
efusi pleura.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian
Efusi pleura adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang
terletak diantara permukaan viceralis dan parietalis. Proses penyakit
primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder
terhadap penyakit lain (Amin Huda, 2015)
Efusi pleura adalah kondisi dimana udara atau cairan berkumpul
dirongga pleura yang dapat menyebabkan paru kolaps sebagian atau
seluruhnya (Muralitharan, 2015)

B. Klasifikasi
1. Terdapat beberapa jenis efusi berdasarkan penyebabnya, yakni :
a. Bila efusi berasal dari implantasi sel-sel limfoma pada permukaan
pleura, cairannya adalah eksudat, berisi sel limfosit yang banyak dan
sering hemoragik.
b. Bila efusi terjadi akibat obstruksi aliran getah bening, cairannya bisa
transudat atau eksudat dan ada limfosit.
c. Bila efusi terjadi akibat obstruksi duktus torasikus, cairannya akan
berbentuk cairan kelenjar limfa (chylothorak).
d. Bila efusi terjadi karena infeksi pleura pada pasien limfoma maligna
karena menurunnya resistensinya terhadap infeksi, efusi akan
berbentuk empiema akut atau kronik.
2. Berdasarkan jenis cairan yang terbentuk, cairan pleura dibagi menjadi :
a. Transudat
Dalam keadaan normal cairan pleura yang jumlahnya sedikit
itu adalah transudat. Transudat terjadi apabila hubungan normal
antara tekanan kapiler hidrostatik dan koloid osmotik menjadi
terganggu sehingga terbentuknya cairan pada satu sisi pleura akan

3
melebihi reabsorbsi oleh pleura lainnya. Biasanya hal ini terdapat
pada:
1) Meningkatnya tekanan kapiler sistemik
2) Meningkatnya tekanan kapiler pulmonal
3) Menurunnya tekanan koloid osmotik dalam pleura
4) Menurunnya tekanan intra pleura
Penyakit-penyakit yang menyertai transudat adalah:
1) Gagal jantung kiri (terbanyak)
2) Sindrom nefrotik
3) Obstruksi vena cava superior
4) Asites pada sirosis hati (asites menembus suatu defek
diafragma atau masuk melalui saluran getah bening
b. Eksudat
Eksudat merupakan cairan pleura yang terbentuk melalui
membran kapiler yang permeable abnormal dan berisi protein
transudat. Terjadinya perubahan permeabilitas membrane adalah
karena adanya peradangan pada pleura misalnya: infeksi, infark
paru atau neoplasma. Protein yang terdapat dalam cairan pleura
kebanyakan berasal dari saluran getah bening. Kegagalan aliran
protein getah bening ini akan menyebabkan peningkatan
konsentrasi protein cairan pleura, sehingga menimbulkan eksudat.
Penyakit yang menyertai eksudat, antara lain: infeksi (tuberkulosis,
pneumonia) tumor pada pleura, infark paru, karsinoma
bronkogenik radiasi, penyakit dan jaringan ikat/ kolagen/ SLE
(Sistemic Lupus Eritematosis).

C. Etiologi
1. Efusi pleura disebabkan oleh :
a. Peningkatan tekanan pada kapiler subpleura atau limfatik
b. Peningakatan permeabilitas kapiler
c. Penurunan tekanan osmotic koloid darah

4
d. Peningkatan tekanan negative intrapleura
e. Kerusakan drainase limfatik ruang pleura
2. Ada juga yang disebabkan oleh Infeksi (eksudat)
a. Tubercolosis
b. Pneumonitis
c. Emboli paru
d. Kanker
e. Infeksi virus,jamur,dan parasit.
3. Non infeksi (transudat)
a. Gagal jantung kongesif (90% kasus)
b. Sindroma nefrotik
c. Gagal hati
d. Gagal ginjal
e. Emboli paru

D. Manifestasi Klinik
a. Batuk
b. Dispnea bervariasi
c. Adanya keluhan nyeri dada (nyeri pleuritik)
d. Pada efusi yang berat terjadi penonjolan ruang interkosta.
e. Pergerakan dada berkurang dan terhambat pada bagian yang
mengalami efusi.
f. Perkusi meredup diatas efusi pleura.
g. Suara nafas berkurang diatas efusi pleura.
h. Fremitus fokal dan raba berkurang.

E. Pathofisiologi
Dalam keadaan normal hanya terdapat 10-20 ml cairan di dalam
rongga pleura.Jumlah cairan di rongga pleura tetap, karena adanya tekanan
hidrostatis pleura parietalis sebesar 9 cm H2O. Cairan ini dihasilkan oleh
kapiler pleura parietalis karena adanya tekanan hodrostatik, tekanan koloid

5
dan daya tarik elastis. Sebagian cairan ini diserap kembali oleh kapiler
paru dan pleura viseralis, sebagian kecil lainnya (10-20%) mengalir ke
dalam pembuluh limfe sehingga pasase cairan disini mencapai 1 liter per
hari. Terkumpulnya cairan di rongga pleura disebut efusi pleura, ini terjadi
bila keseimbangan antara produksi dan absorbsi terganggu misalnya pada
hyperemia akibat inflamasi, perubahan tekanan osmotic
(hipoalbuminemia), peningkatan tekanan vena (gagal jantung). Atas dasar
kejadiannya efusi dapat dibedakan atas transudat dan eksudat
pleura.Transudat misalnya terjadi pada gagal jantung karena bendungan
vena disertai peningkatan tekanan hidrostatik, dan sirosis hepatic karena
tekanan osmotic koloid yang menurun. Eksudat dapat disebabkan antara
lain oleh keganasan dan infeksi. Cairan keluar langsung dari kapiler
sehingga kaya akan protein dan berat jenisnya tinggi cairan ini juga
mengandung banyak sel darah putih. Sebaliknya transudate kadar
proteinnya rendah sekali atau nihil sehingga berat jenisnya rendah.

6
F. Pathway

Infeksi paru Non Infeksi mis. Ca paru, Ca pleura (primer dan


sekunder), Ca mediastinum, tumor ovarium,
TB,pneumonitis, abses bendungan jantung (gagal jantung), perikarditis
paru konstruktifa, gagal hati, gagal ginjal.

Reaksi Ag-Ab
Penumpukan sel-sel tumor Massa tumor
Merangsang mediator inflamasi

Tersumbatnya pembuluh darah vena


Bradikinin, prostaglandin, histamine, serotonin dan getah bening

Vasoaktif Rongga pleura gagal


memindahkan cairan

Gangguan keseimbangan
tekanan Hidrostatik dan Onkotik Akumulasi cairan di rongga pleura

Meningkatkan permeabilitas membran


Inefektif bersihan jalan napas

Perpindahan cairan Efusi Pleura

Peningkatan Menekan pleura Atelektasis


cairan pleura

Ekspansi paru Indikasi tindakan


Rangsangan serabut inadekuat
saraf sensoris parietalis
Nafas pendek Pemasangan
dengan usaha kuat Torakosintesis
Sesak napas WSD
Nyeri
Kelelahan
nafsu makan menurun Terputusnya
kontinuitas jaringan

Perubahan nutrisi Kesulitan tidur

kurang dari kebutuhan Perlukaan


Gangguan pola
tidur kurang dari Port de entry

Intoleransi aktivitas kebutuhan

Resiko
7
tinggi
Nyeri terhadap infeksi
G. Komplikasi
1. Fibrotoraks
Efusi pleura yang berupa eksudat yang tidak ditangani dengan
drainase yang baik akan terjadi perlekatan fibrosa antara pleura
parietalis dan pleura viseralis. Keadaan ini disebut dengan fibrotoraks.
Jika fibrotoraks meluas dapat menimbulkan hambatan mekanis yang
berat pada jaringan-jaringan yang berada dibawahnya. Pembedahan
pengupasan (dekortikasi) perlu dilakukan untuk memisahkan
membran-membran pleura tersebut
2. Atalektasis
Atalektasis adalah pengembangan paru yang tidak sempurna yang
disebabkan oleh penekanan akibat efusi pleura.
3. Fibrosis paru
Fibrosis paru merupakan keadaan patologis dimana terdapat jaringan
ikat paru dalam jumlah yang berlebihan. Fibrosis timbul akibat cara
perbaikan jaringan sebagai kelanjutan suatu proses penyakit paru yang
menimbulkan peradangan. Pada efusi pleura, atalektasis yang
berkepanjangan dapat menyebabkan penggantian jaringan paru yang
terserang dengan jaringan fibrosis.
4. Kolaps Paru
Pada efusi pleura, atalektasis tekanan yang diakibatkan oleh tekanan
ektrinsik pada sebagian / semua bagian paru akan mendorong udara
keluar dan mengakibatkan kolaps paru.
5. Empiema
Kumpulan nanah dalam rongga antara paru-paru dan membran yang
mengelilinginya (rongga pleura). Empiema disebabkan oleh infeksi
yang menyebar dari paru-paru dan menyebabkan akumulasi nanah
dalam rongga pleura. Cairan yang terinfeksi dapat mencapai satu gelas
bir atau lebih, yang menyebabkan tekanan pada paru-paru, sesak
napas dan rasa sakit.

8
H. Pemeriksaan penunjang
1. Rontgen dada
Rontgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang
dilakukan untuk mendiagnosis efusi pleura, yang hasilnya
menunjukkan adanya cairan.
2. CT-Scan dada
CT scan dengan jelas menggambarkan paru-paru dan cairan dan
bisa menunjukkan adanya pneumonia, abses paru atau tumor
3. USG dada
USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan
yang jumlahnya sedikit, sehingga bisa dilakukan pengeluaran cairan.
4. Torakosentesis
Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui
dengan melakukan pemeriksaan terhadap contoh cairan yang
diperoleh melalui torakosentesis (pengambilan cairan melalui sebuah
jarum yang dimasukkan diantara sela iga ke dalam rongga dada
dibawah pengaruh pembiusan lokal).
5. Biopsi
Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya,
maka dilakukan biopsi, dimana contoh lapisan pleura sebelah luar
diambil untuk dianalisa.
Pada sekitar 20% penderita, meskipun telah dilakukan pemeriksaan
menyeluruh, penyebab dari efusi pleura tetap tidak dapat ditentukan.
6. Bronkoskopi
Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan
sumber cairan yang terkumpul.

I. Penatalaksanaan
1. Irigasi cairan garam fisiologis atau larutan antiseptik (Betadine).
2. Pleurodesis, untuk mencegah terjadinya lagi efusi pleura setelah
aspirasi.

9
3. Drainase cairan (Water Seal Drainage) jika efusi menimbulkan gejala
subyektif seperti nyeri, dispnea, dll. Cairan efusi sebanyak 1 – 1,2 liter
perlu dikeluarkan segera untuk mencegah meningkatnya edema paru,
jika jumlah cairan efusi lebih banyak maka pengeluaran cairan
berikutya baru dapat dilakukan 1 jam kemudian.
4. Antibiotika jika terdapat empiema
5. Operatif

10
Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian
1. Identitas pasien
Pada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama, umur, jenis
kelamin, alamat rumah, agama atau kepercayaan, suku bangsa,
bahasa yang dipakai, status pendidikan dan pekerjaan pasien.
2. Keluhan utama
Keluhan utama merupakan faktor utama yang mendorong pasien
mencari pertolongan atau berobat ke rumah sakit. Biasanya pada
pasien dengan effusi pleura didapatkan keluhan berupa sesak nafas,
rasa berat pada dada, nyeri pleuritik akibat iritasi pleura yang
bersifat tajam dan terlokasilir terutama pada saat batuk dan
bernafas.
3. Riwayat penyakit sekarang
Pasien dengan effusi pleura biasanya akan diawali dengan adanya
tanda-tanda seperti batuk, sesak nafas, nyeri pleuritik, rasa berat
pada dada, berat badan menurun dan sebagainya. Perlu juga
ditanyakan mulai kapan keluhan itu muncul. Apa tindakan yang
telah dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan keluhan-
keluhannya tersebut.
4. Riwayat penyakit dahulu
Tanyakan kepada pasien apakah pasien pernah menderita penyakit
seperti TBC paru, pneumoni, gagal jantung, trauma, asites dan
sebagainya. Hal ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan
adanya faktor predisposisi.
5. Riwayat penyakit keluarga
Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita
penyakit-penyakit yang disinyalir sebagai penyebab effusi pleura
seperti Ca paru, asma, TB paru dan lain sebagainya.
6. Pengkajian Pola-Pola Fungsi Kesehatan Menurut Gordon
a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat

11
Adanya tindakan medis dan perawatan di rumah sakit
mempengaruhi perubahan persepsi tentang kesehatan, tapi
kadang juga memunculkan persepsi yang salah terhadap
pemeliharaan kesehatan. Kemungkinan adanya riwayat
kebiasaan merokok, minum alkohol dan penggunaan obat-
obatan bisa menjadi faktor predisposisi timbulnya penyakit.
b. Pola nutrisi dan metabolisme
Mengukur tinggi badan dan berat badan untuk mengetahui
status nutrisi pasien, selain juga perlu ditanyakan kebiasaan
makan dan minum sebelum dan selama MRS pasien dengan
effusi pleura akan mengalami penurunan nafsu makan akibat
dari sesak nafas.
c. Pola eliminasi
Dalam pengkajian pola eliminasi perlu ditanyakan mengenai
kebiasaan defekasi sebelum dan sesudah MRS. Karena
keadaan umum pasien yang lemah, pasien akan lebih banyak
bed rest sehingga akan menimbulkan konstipasi, selain akibat
pencernaan pada struktur abdomen menyebabkan penurunan
peristaltik otot-otot tractus degestivus.
d. Pola aktivitas dan latihan
Karena adanya sesak napas pasien akan cepat mengalami
kelelahan pada saat aktivitas. Pasien juga akan mengurangi
aktivitasnya karena merasa nyeri di dada.
e.Pola tidur dan istirahat
Pasien menjadi sulit tidur karena sesak naps dan nyeri.
Hospitalisasi juga dapat membuat pasien merasa tidak tenang
karena suasananya yang berbeda dengan lingkungan di rumah.
f. Pola hubungan dan peran
Karena sakit, pasien akan mengalami perubahan peran. Baik
peran dalam keluarga ataupun dalam masyarakat. Contohnya:

12
karena sakit pasien tidak lagi bisa mengurus anak dan
suaminya.
g. Pola persepsi dan konsep diri
Persepsi pasien terhadap dirinya akan berubah. Pasien yang
tadinya sehat, tiba-tiba mengalami sakit, sesak nafas, nyeri
dada. Sebagai seorang awam, pasien mungkin akan
beranggapan bahwa penyakitnya adalah penyakit berbahaya
dan mematikan. Dalam hal ini pasien mungkin akan
kehilangan gambaran positif terhadap dirinya.
h. Pola sensori dan kognitif
Fungsi panca indera pasien tidak mengalami perubahan,
demikian juga dengan proses berpikirnya.
i. Pola reproduksi seksual
Kebutuhan seksual pasien dalam hal ini hubungan seks akan
terganggu untuk sementara waktu karena pasien berada di
rumah sakit dan kondisi fisiknya masih lemah.
j. Pola koping
Pasien bisa mengalami stress karena belum mengetahui proses
penyakitnya. Mungkin pasien akan banyak bertanya pada
perawat dan dokter yang merawatnya atau orang yang
mungkin dianggap lebih tahu mengenai penyakitnya.
k. Pola tata nilai dan kepercayaan
Kehidupan beragama klien dapat terganggu karena proses
penyakit.

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul antara lain:
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan
penumpukan cairan di pleura paru dextra.
2. Nyeri (akut) berhubungan dengan agen injury fisik

13
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan ketidakmampuan memasukkan, mencerna dan
mengabsorpsi makanan
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai
dengan kebutuhan oksigen.
5. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasive: pemasangan
WSD (Water Seal Drainage)

C. Intervensi Keperawatan
Diagnosa
Tujuan dan kriteria hasil Intervensi
keperawatan
Ketidakefektifan Setelah dilakukan a. Posisikan pasien untuk
pola nafas tindakan keperawatan memaksimalkan ventilas
b. Identifikasi pasien perlunya
selama 3x24 jam pasien
pemasangan alat jalan nafas
menunjukkan keefektifan buatan
jalan nafas dibuktikan c. Lakukan fisioterapi dada jika
perl
dengan kriteria hasil :
d. Keluarkan sekret dengan batuk
a. Frekuensi pernafasan atau suctio
sesuai yang e. Auskultasi suara nafas, catat
diharapkan adanya suara tambahan
b. Ekspansi dada f. Monitor respirasi dan status
simetris. oksigen.
c. Bernafas mudah. g. Posisikan pasien untuk
d. Pengeluaran sputum mengurangi dispneu.
e. Tidak didapatkan
penggunaan otot
Respiratory monitoring
tambahan.
f. Tidak didapatkan a. Monitoring frekuensi, irama dan
ortopneu kedalaman nafas.
g. Tidak didapatkan b. Monitoring gerakan dada, lihat
nafas pendek. kesimetrisan.
c. Monitor pola nafas : takipneu
d. Beri terapi pengobatan respirasi.

14
Nyeri akut NOC : Pain management :
berhubungan Setelah dilakukan a. Kaji pengalaman nyeri pasien
dengan agen tindakan keperawatan sebelumnya, gali pengalaman
pasien tentang nyeri dan
injury fisik selama 3 x 24 jam, nyeri
tindakan apa yang dilakukan
hilang/terkendali dengan pasien
kriteria hasil: b. Kaji intensitas, karakteristik,
onset, durasi nyeri.
a. Mengenali faktor
c. Kaji ketidaknyamanan,
penyebab
pengaruh terhadap kualitas
b. Mengenali lamanya
istirahat, tidur, ADL.
sakit (skala,
d. Kaji penyebab dari nyeri
intensitas, frekuensi
e. Monitoring respon verbal/non
dan tanda nyeri)
verbal
c. Menggunakan metode
f. Atur posisi yang senyaman
non-analgetik untuk
mungkin, lingkungan nyaman
mengurangi nyeri
Pain control : Ajarkan teknik
d. Melaporkan nyeri
berkurang dengan relaksasi
menggunakan Management terapi : Kelola
manajemen nyeri
pemberian analgetik
e. Menyatakan rasa
nyaman setelah nyeri
berkurang
f. Tanda vital dalam
rentang normal
Ketidakseimbang NOC NIC
an nutrisi kurang Setelah dilakukan Nutritional management
dari kebutuhan tindakan keperawatan Aktifitas:
tubuh selama 2x24 jam a. Kaji adanya alergi makanan
berhubungan diharapkan klien dapat b. Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah kalori
dengan terpenuhi kebutuhan
dan nutrisi yang dibutuhkan
ketidakmampuan nutrisinya, dengan pasien
memasukkan, kriteria hasil: c. Berikan makanan yang terpilih
d. Monitor jumlah nutrisi dan
mencerna dan a. Intake zat gizi
kandungan kalori
mengabsorpsi (nutrien)
e. Berikan informasi tentang
b. Intake zat makanan
makanan kebutuhan nutrisi
dan cairan

15
c. Berat badan normal Nutritional management:
a. Timbang berat badan secara
rutin
b. Monitor turgor kulit
c. Monitor mual dan muntah
d. Monitor kalori dan intake nutrisi
Intoleransi NOC : NIC
aktivitas Setelah dilakukan Activity therapy
berhubungan tindakan keperawatan Observasi :
dengan selama 3 x 24 jam, klien a. Monitor respon fisik, emosi,
ketidakseimbanga dapat melakukan social dan spiritual
b. Sediakan penguatan positif bagi
n suplai dengan aktivitas dengan baik
yang aktif beraktivitas.
kebutuhan dengan kriteria hasil:
oksigen a. Berpartisipasi dalam Mandiri :
aktivitas fisik tanpa
a. Bantu klien untuk
disertai penignkatan
mengidentifikasi aktivitas yang
tekanan darah,nadi
mampu dilakukan
dan RR
b. Bantu untuk memilih aktivitas
b. Mampu melakukan
konsisten yang sesuai dengan
aktivitas sehari-hari
kemampuan fisik, psikologis
secara mandiri
dan sosial.
c. Tanda-tanda vital
c. Bantu untuk mengidentifikasi
normal
aktivitas yang disukai
d. Level kelemahan
d. Bantu pasien untuk
e. Status
mengembangkan motivasi diri
kardiopulmonary
dan penguatan.
adekuat
f. Status respirasi :
pertukaran gas dan Health education :
ventilasi adekuat a. Ajarkan untuk penggunaan
teknik relaksasi
b. Ajarkan Tindakan untuk
mengehemat energi.
Kolaborasi :
a. Kolaborasikan dengan tenaga
rehabilitasi medik dalam
merencanakan program terapi

16
yang tepat
b. Rujuk pasien ke pusat
rehabilitasi jantung jika
keletihan berhubungan dengan
penyakit jantung.
Resiko infeksi NOC : NIC
berhubungan Setelah dilakukan Observasi
dengan tindakan tindakan keperawatan a. Pantau tanda dan gejala infeksi
invasive: selama 3 x 24 jam, (misalnya, suhu tubuh, denyut
jantung, drainase, penampilan
pemasangan infeksi tidak terjadi
luka, sekresi, penampilan urin,
WSD (Water Seal dengan kriteria hasil: suhu kulit, lesi kulit, keletihan,
Drainage) a. Tanda – tanda vital dan malise)
klien terutama suhu b. Kaji faktor yang dapat
dalam batas normal meningkatkan kerentanan
b. Tidak terdapat tanda – terhadap infeksi (misalnya, usia
tanda infeksi pada lanjut, usia kurang dari 1 tahun,
daerah pemasangan luluh imun, dan malnutrisi )
WSD c. Pantau hasil laboratorium
c. Nilai laboratorium (hitung darah lengkap, hitung
terutama leukosit granulosit, absolut, hitung jenis,
dalam batas normal ( protein serum, dan algumin)
leukosit normal : d. Amati penampilan praktik
5000 – 10.000 rb/ul ). higiene Personal untuk
perlindungan terhadap infeksi

Mandiri
a. Lindungi pasien terhadap
kontaminasi silang dengan tidak
menugaskan perawat yang sama
untuk pasien lain yang
mengalami infeksi dan
memisahkan ruang perawatan
pasien dengan pasien yang
terinfeksi
b. Bersihkan lingkungan dengan
benar setelah dipergunakan
masing-masing pasien

17
Kolaborasi
a. Ikuti protokol institusi untuk
melaporkan suspek infeksi atau
kultur positif
b. Berikan terapi antibiotik, bila di
perlukan

Health education
a. Jelaskan kepada pasien dan
keluarga mengapa sakit atau
terapi meningkatkan resiko
terhadap infeksi
b. Instruksikan untuk menjaga
higiene personal untuk
melindungi tubuh terhadap
infeksi (misalnya, mencuci
tangan)

D. Implementasi
Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi yang telah
dibuat sebelumnya berdasarkan masalah keperawatan yang ditemukan
dalam kasus, dengan menuliskan waktu pelaksanaan dan respon pasien.

E. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari proses
keperawatan dengan cara menilai sejauh mana tujuan dari rencana
keperawatan tercapai atau tidak.
Dalam mengevaluasi, perawat harus memiliki pengetahuan dan
kemampuan untuk memahami respon terhadap intervensi keperawatan,
kemampuan menggambarkan kesimpulan tentang tujuan yang dicapai,
serta kemampuan dalam menghubungkan tindakan keperawatan pada
kriteria hasil. Evaluasi keperawatan pada asuhan keperawatan Efusi
Pleura yaitu :
1. Bersihan jalan nafas kembali efektif

18
2. Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi
3. Nyeri akut teratasi
4. Tidak terjadi resiko tinggi infeksi
5. Aktivitas sehari-hari kembali baik

19
DAFTAR PUSTAKA

Judith M. Wilkinson, P. A. (2009). Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta:


EGC.

Kusumo, A. H. (2015). NANDA NIC-NOC edisi revisi jilid 1 2015. Jogjakatra:


MediAction Publishing.

Morton, G. (2012). Kapita Selekta Kedokteran jilid 1 dan 2. Jakarta: Media


Aesculapius.

Peate, M. N. (2015). Dasar-dasar Patofisiologi Terapan edisi 2. Jakarta: Bumi


Medika.

20