Anda di halaman 1dari 10

Arya SriSaddharma Pundarika Nama Dharmaparyaya

Mahayana Suttram

Yang Suci Sutra Bunga Teratai Putih Dari Pintu Gerbang Dharma Mahayana
tentang pembabaran dua belas nidana dari hukum kesunyataan mulia

Sadaparibhuta Parivartah Dharmaparyaya Suttram


BAB XIX
SADAPARIBHUTA PARIVARTAH

1
Pada saat itu, Sang Buddha menyapa Sang Bodhisattva Mahasattva
Mahastamaprapta:"Sebaiknya Engkau ketahui sekarang bahwa jika Para Bhiksu,
Bhiksuni, Upasaka dan Upasika memelihara Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini,
dan seandainya ada seseorang yang mencercanya, menghinanya, dan menfitnahnya,
maka orang itu akan menerima hukuman seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
Tetapi Mereka yang telah memperoleh Karunia semacam yang dijelaskan dimuka,
maka mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran Mereka akan tajam serta
sempurna.

"Wahai Mahastamaprapta! Dahulu kala, Pada Ribuan Asamkhyeya Kalpa yang tak
terhingga, tak terhitung dan tak terbatas, yang telah berlalu, Adalah Seorang
Tathagata yang bernama Bhiṣmagarjitasvararaja, Yang Telah Datang, Yang Maha
Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Agung, Yang Telah Mencapai Kebebasan
Yang Sempurna, Sempurna Pikiran dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Maha Tahu
Dunia, Sang Pemimpin Tiada Tandingan, Guru Dewa dan Manusia, Yang Telah
Sadar, Yang Dihormati Dunia, Yang Kalpa-Nya disebut Vinirbhoga serta kawasan-
Nya disebut pula Mahasambhawa. Didalam dunia tadi, Sang Buddha
Bhiṣmagarjitasvararaja Tathagato Arhan SamyaksamBuddha selalu berkhotbah
kepada para dewa, manusia, dan asura."

Kepada mereka yang ingin menjadi Sravaka, Beliau mengkhotbahkan Empat


Kesunyataan Mulia untuk membebaskan diri dari kelahiran, ketuaan, penyakit dan
kematian yang akhirnya menjurus kearah Nirwana.
Kepada mereka yang ingin menjadi PratyekaBuddha, Beliau mengkhotbahkan
Hukum 12 Nidana dan Kepada Para Bodhisattva, dengan sarana Penerangan Agung,

2
Beliau mengkhotbahkan Sadparamita untuk Penyempurnaan Kebijaksanaan
Buddha.
Wahai Mahastamaprapta! Masa Hidup dari Sang Buddha Bhiṣmagarjitasvararaja
ialah 40 ribu koti nayuta kalpa yang banyaknya seperti pasir-pasir Sungai Gangga.
Jumlah Kalpa dimana selama itu Hukum Kesunyataan yang benar bergema adalah
sama dengan jumlah atom-atom dari sebuah Jambudvipa. Dan jumlah kalpa dimana
selama itu tiruan Hukum Kesunyataan bergelora adalah sama dengan atom-atom
didalam empat benua.

Setelah Buddha itu menyelamatkan begitu banyak mahluk, kemudian mokshalah


Beliau. Sesudah Hukum Kesunyataan Yang Benar dan Hukum Kesunyataan tiruan
seluruhnya sirna, maka didalam Kawasan itu muncul lagi Seorang Buddha. Ia juga
bernama Bhiṣmagarjitasvararaja, Yang Telah Datang, Yang Maha Suci, Yang Telah
Mencapai Penerangan Agung, Yang Telah Mencapai Kebebasan Yang Sempurna,
Sempurna Pikiran dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Maha Tahu Dunia, Sang
Pemimpin Tiada Tandingan, Guru Dewa dan Manusia, Yang Telah Sadar, Yang
Dihormati Dunia. Demikianlah berturut-turut terdapat 20 ribu koti Buddha yang
semua-Nya mempunyai gelar yang sama. Sesudah kemokshaan Sang Tathagata
Arhan SamyaksamBuddha Bhiṣmagarjitasvararaja yang pertama, dan setelah
Hukum Kesunyataan Yang Benar berakhir, maka selama masa Hukum Kesunyataan
tiruan, para bhikshu yang sombong memperoleh kekuasaan yang utama.

Pada saat itulah terdapat Seorang Bodhisattva Mahasattva yang bernama


Sadaparibhuta.Wahai Mahastamaprapta! Karena apakah sehingga Ia dijuluki
Sadaparibhuta? Karena Bhiksu itu selalu menghormati dan menyanjung setiap orang
yang Ia lihat baik bhiksu, bhiksuni, upasaka dan upasika seraya berkata

3
demikian:"Aku sungguh-sungguh menghormatimu. Aku tidak berani meremehkan
dan merendahkanmu, karena kalian semua berjalan dijalan KeBodhisattvaan dan
akan menjadi Para Buddha." Dan Bhiksu itu sendiri tidak mencurahkan diri didalam
membaca dan menghafalkan Sutta-Sutta, tetapi hanya menyanjung-nyanjung saja,
sehingga kalau Ia melihat anggota empat kelompok, maka Ia akan terburu-buru
menyongsongnya dan menghormatinya serta memujinya dengan berkata:"Aku tidak
berani meremehkanmu karena kalian semua akan menjadi Para Buddha."
Diantara keempat kelompok itu terdapat mereka yang merasa tersinggung dan marah
serta dengan pikiran yang keruh, mereka mencaci-maki dan menghina-Nya dengan
berkata:"Dari mana Bhiksu tolol ini datang dan siapa pula yang telah mengajar-Nya
berkata, 'Aku tidak merendahkanmu', dan siapa pula yang menetapkan kami untuk
menjadi Para Buddha? Kami tidak menginginkan penetapan palsu semacam itu."
Demikianlah Ia melewati banyak waktu dengan dicaci dan dimaki terus menerus,
tetapi meskipun begitu, tidak pernah Ia merasa tersinggung ataupun marah dan selalu
Ia berkata :"Kalian semua akan menjadi Para Buddha." Selama Ia berkata demikian
itu, orang-orang memukuli-Nya dengan pentungan, tongkat, kreweng ataupun batu.
Namun sambil berlari menjauh, Ia tetap saja meneriakkan dengan keras:" Aku tidak
berani merendahkan kalian karena kalian semua akan menjadi Para Buddha." Dan
oleh karena Ia selalu berkata begitu, maka para bhiksu, bhiksuni, upasaka dan
upasika yang jahil memarapi-Nya Sadaparibhuta.

"Ketika Bhiksu ini sedang mendekati ajal-Nya, Ia mendengar dari atas langit dan
mampu menerima serta memahami 20 ribu koti Bait-Bait dari Hukum Kesunyataan
Bunga Teratai Yang Sang Bhiṣmagarjitasvararaja telah mengkhotbahkan-Nya
dahulu. Sesudah itu, Ia memperoleh Ketajaman dan Kesempurnaan indera-indera
mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran seperti yang telah disebutkan diatas

4
tadi serta lebih lanjut lagi, Ia diperpanjang masa hidup-Nya menjadi 200 ribu koti
tahun dan secara luas Ia mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini
kepada para manusia. Kemudian keempat kelompok, yaitu; bhiksu, bhiksuni,
upasaka dan upasika yang jahil, yang telah memaki-maki dan memandang rendah
Orang ini serta yang telah memberi-Nya julukan Sadaparibhuta, ketika mereka telah
mengetahui bahwa Ia telah memiliki Kekuatan Ghaib Yang Agung
, Daya Kefasihan Ceramah dan Daya Meditasi Yang Sempurna dan setelah mereka
mendengar Khotbah-Nya pula, maka mereka semua percaya dan mengikuti-Nya.
Bodhisattva ini telah mentakbiskan lagi ribuan koti umat agar mencapai Penerangan
Agung."

"Setelah akhir Hayat-Nya, Ia bertemu dengan 2000 koti Para Buddha Yang Semua-
Nya Bergelar Candrasvararaja dan dibawah naungan Hukum Mereka`Ia
mengkhotbahkan Dharmaparyaya ini. Karena alasan ini, kemudian Ia bertemu lagi
dengan 2000 koti Para Buddha Yang Semua-Nya Bergelar sama, yaitu:
Dundubhisvararaja. Karena termasuk Hukum dari Para Buddha itu, Ia menerima,
memelihara, membaca, menghafalkan dan mengkhotbahkan Sutta ini kepada
Keempat Kelompok karena Ia telah memperoleh Ketajaman dan Kesempurnaan
Mata biasa, dan indera-indera lain-Nya yaitu Telinga, Hidung, Lidah, Tubuh dan
Pikiran sehingga ditengah-tengah Keempat Kelompok Ia mengkhotbahkan Hukum
Kesunyataan tanpa adanya rasa gentar sedikitpun jua."

Wahai Mahastamaprapta! Sang Bodhisattva Mahasattva Sadaparibhuta ini telah


memuliakan sejumlah Para Buddha Yang Tak Terhitung seperti ini, memuja,
memuliakan serta menyanjung-Nya. Setelah membina akar-akar Kebajikan, Ia
bertemu lagi dengan ribuan koti Para Buddha dan dibawah naungan Hukum

5
Kesunyataan dari Para Buddha itu pula, Ia mengkhotbahkan Sutta ini. Dan begitu
jasa-jasa-Nya sempurna, kemudian Ia menjadi Seorang Buddha. Wahai
Mahastamaprapta! Bagaimanakah Pendapat-Mu? Orang lainkah Sang Bodhisattva
Sadaparibhuta pada waktu itu? Dia benar-benar Aku sendirilah ada-Nya. Seandainya
didalam Hidup-Ku yang terdahulu itu Aku tidak menerima dan memelihara,
membaca dan menghafalkan Sutta ini serta mengkhotbahkannya kepada orang lain,
maka Aku tidak dapat mencapai Penerangan Agung dengan segera.

Wahai Mahastamaprapta! Pada saat itu, Keempat Kelompok yaitu para bhiksu,
bhiksuni, upasaka dan upasika yang telah mencerca dan menghina-Ku dengan hati
yang penuh kemarahan, maka selama 200 koti kalpa mereka tidak akan berjumpa
dengan Seorang Buddha dan tidak akan pula mendengar Hukum Kesunyataan serta
tidak akan melihat Sangha dan selama 1000 kalpa, mereka menjalani penderitaan
yang hebat didalam neraka avici. Setelah dosa-dosa mereka lebur, mereka berjumpa
lagi dengan Sang Bodhisattva Sadaparibhuta yang mengajar dan mentakbiskan
mereka untuk mencapai Penerangan Agung. Wahai Mahastamaprapta!
Bagaimanakah Pendapat-Mu terhadap Keempat Kelompok yang pada saat itu
mencaci-maki Sang Bodhisattva tadi dengan tiada henti-hentinya itu? Benar-benar
orang lainkah mereka itu? Pada saat ini, mereka semua sedang berada dalam
Persidangan ini, yaitu ke-500 Bodhisattva Bhadarapala dan yang lain-lain-Nya, ke-
500 Bhiksuni Simha Candra dan lain-lain-Nya, ke-500 upasaka Sugata Cetana dan
lain-lain-Nya yang Mereka itu tidak pernah surut dari Penerangan Agung.

"Ketahuilah Wahai Mahastamaprapta! Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini


sangat berjasa kepada seluruh Bodhisattva Mahasattva dan mempermudah Mereka
untuk meraih Penerangan Agung. Oleh karena-Nya, setelah Kemokshaan Sang

6
Tathagata nanti, semua Bodhisattva dan Mahasattva harus senantiasa menerima dan
memelihara, mengajarkan dan menurunkan Sutta ini."

"Kemudian Sang Buddha yang ingin memaklumkan Ajaran ini kembali, maka
bersabdalah Beliau dalam Syair:

"Dahulu kala, terdapatlah Seorang Buddha


Yang Bergelar Bhiṣmagarjitasvararaja, Yang Maha Bijaksana,
Pemimpin semua mahluk,
Para dewa, manusia, naga dan mahluk-mahluk halus
seluruhnya memuliakan-Nya,
Sesudah Kemokshaan Sang Buddha ini,
Ketika Hukum Kesunyataan akan berakhir,
Adalah Seorang Bodhisattva
Yang Bernama Sadaparibhuta,
Pada saat itu Keempat Kelompok
Mencurahkan diri pada kebendaan duniawi.
Sang Bodhisattva Sadaparibhuta
Ketika menyongsong-Nya
Akan menyapa mereka begini:
"Aku tidak boleh meremehkan Kalian
Kalian adalah Pengikut-Pengikut Jalan Agung
Dan Semua-Nya akan menjadi Para Buddha."
Setelah mereka mendengar-Nya,
mereka menghina atau mencerca-Nya.
Sang Bodhisattva Sadaparibhuta

7
Menahannya dengan penuh Kesabaran.
Ketika dosa-dosa-Nya (telah tertebus)
Dan ajal-Nya sudah tiba,
Ia mendengar Sutta ini
Dan semua indera-Nya menjadi tajam.
Dengan Kekuatan Ghaib-Nya
Ia memperpanjang masa Hidup-Nya
Dan lagi, kepada semua orang,
secara luas mengkhotbahkan Sutta ini.
Kelompok-Kelompok yang mencurahkan diri
sebelumnya pada kebendaan
semuanya menerima dari Bodhisattva ini
Petunjuk dan Penyempurnaan,
Dibimbing agar tinggal didalam Jalan KeBuddhaan.
Sang Sadaparibhuta, ketika masa hidup-Nya berakhir,
berjumpa dengan Para Buddha yang tak terhitung jumlah-Nya,
Dan melalui Khotbah-Nya dari Sutta ini,
Memperoleh kebahagiaan yang tiada taranya.
Lambat-laun sempurnalah Jasa-Nya,
Dengan segera Ia mencapai Jalan Kebuddhaan.
Sang Sadaparibhuta pada saat itu
Benar-benar Aku sendirilah ada-Nya.
Keempat Kelompok pada saat itu,
yang terikat pada keduniawian,
yang mendengar Sang Sadaparibhuta berkata,
"Kalian Semua akan menjadi Para Buddha."
Dan yang karena ini,
8
Berjumpa dengan Para Buddha yang tanpa hitungan.
Dan Para Bodhisattva yang berada didalam persidangan ini,
Kelompok dari 500 orang,
Dan juga Keempat Kelompok
Dari para penganut, laki-laki dan perempuan,
Yang sekarang ini sedang berada dihadapan-Ku
Sedang mendengarkan Hukum Kesunyataan.
Aku, didalam Hidup-Ku yang lampau,
Menasehati orang-orang ini
Agar mendengar dan menerima Sutta ini,
Hukum Yang Tiada Tara,
Serta mengungkapkan dan mengajarkan-Nya pada para umat,
Sehingga mereka dapat tinggal dalam Nirwana.
Masa demi masa, telah Aku terima dan Aku pelihara Sutta yang amat ajaib ini.
Selama ribuan koti dan koti Kalpa
Yang tak mungkin terjangkau,
Jarang sekali orang mendengar pada masa itu
Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini.
Selama ribuan koti dan koti kalpa
Yang tak mungkin terjangkau,
Para Buddha, yang dihormati dunia
Jarang sekali mengkhotbahkan Sutta ini.
Oleh karenanya, baiklah Para Pengikut-Nya,
Sesudah Kemokshaan Sang Buddha,
Ketika mendengar Sutta semacam ini,
Tidak menaruh kebimbangan ataupun keragu-raguan
Tetapi biarlah mereka dengan sepenuh hati
9
Menyiarkan Sutta ini ke segala Penjuru.
Dan masa demi masa berjumpa dengan Para Buddha,
Mereka akan mencapai Penerangan Agung dengan segera."

Demikianlah Sutta Bunga Teratai Dari Kegaiban Hukum Kesunyataan Yang


Menakjubkan, Tentang Sang Bodhisattva Sadaparibhuta, Bab 19.

10