Anda di halaman 1dari 15

Edisi Juni 2017 Volume X No.

2 ISSN 1979-8911

ESTIMASI LUASAN DAN PERKEMBANGAN DAERAH JELAJAH


ELANG BRONTOK (Nisaetus cirrhatus) PASCA REHABILITASI
DI PUSAT KONSERVASI ELANG KAMOJANG GARUT JAWA BARAT

Ana Widiana*, Rifki M. Iqbal, dan Astri Yuliawati

Abstrak
Elang atau raptor merupakan burung pemangsa yang berperan sebagai predator
dalam suatu ekosistem. Namun ancaman perburuan, perdagangan dan
pemeliharaan terhadap jenis-jenis raptor juga sangat tinggi. Salah satu upaya untuk
menjaga kelestarian populasinya di alam adalah dengan cara konservasi secara in-
situ dan rehabilitasi untuk dikembalikan ke alam (return to the wild). Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui estimasi luasan dan perkembangan daerah
jelajah elang brontokyang dilepasliarkan setelah melewati masa rehabilitasi.
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 6 Juni – 3 Juli 2015 di sekitar kawasan
CA/TWA Kamojang Desa Sukakarya Kec. Samarang Garut Jawa Barat, dengan
keadaan cuaca di lapangan pada saat penelitian adalah kemarau. Pengamatan
daerah jelajah dilakukan dengan menggunakan metode Spot-mapping (territory
mapping). Pengolahan data titik-titik perjumpaan dan garis jelajah pada peta
dilakukan dengan menggunakan software QGIS version 2.8.3-Wien dan analisis
data untuk menghitung luasan daerah jelajah dengan minimum polygon dan metode
sel berpetak (grid cells method), dengan ukuran tiap kotak (cell) 100 m x 100 m.
Estimasi luasan daerah jelajah Elang Brontok pasca rehabilitasi adalah sebesar +
740.000 m2 (0,74 km2) dengan 146 titik lokasi perjumpaan (contact point) selama 11
hari perjumpaan (contact time) dan perkembangan daerah jelajah yang teramati
semakin hari semakin meluas, hal ini ditunjukkan dengan jarak titik perjumpaan
terjauh sekitar + 1500 m (1,5 km) dari kandang habituasi.
Kata kunci : Elang Brontok, pasca rehabilitasi, pelepasliaran, perkembangan
daerah jelajah.

sebagai predator dalam suatu


Pendahuluan
ekosistem. Salah satu upaya untuk
Indonesia merupakan negara yang
menjaga kelestarian populasinya di
kaya akan flora dan fauna. Kekayaan
alam adalah dengan cara konservasi
ini merupakan aset bangsa yang
secara in-situ dan rehabilitasi untuk
harus dijaga kelestariannya demi
dikembalikan ke alam (return to the
kepentingan masa depan Indonesia.
wild). Elang Brontok yang telah
Salah satu dari keanekaragaman
melewati masa rehabilitasi dan
fauna tersebut adalah burung elang
dilepasliarkan pun kemungkinan
atau biasa disebut raptor merupakan
perilaku alamiahnya akan berubah,
burung pemangsa yang berperan

123
Edisi Juni 2017 Volume X No. 2 ISSN 1979-8911

mulai dari perilaku makan, berburu, Elang Brontok (Nisaetus


terbang dan daerah jelajahnya. cirrhatus) atau sering disebut sebagai
Daerah jelajah merupakan wilayah Changeable Hawk-Eagle merupakan
yang dijelajahi dalam jalur salah satu burung pemangsa (raptor)
pergerakan aktifitas hariannya. yang berada di puncak rantai
Wilayah jelajah di dalamnya terdapat makanan. Status Elang Brontok
teritori (sebagai areal bersarang dan adalah ‘tidak umum’ yang berarti
berkembangbiak), dan areal berburu. kurang dari 50% dari habitat yang
Teritori bertujuan untuk memonopoli ada (Strange, 2001) [3]. Elang
sumberdaya, termasuk sumber daya Brontok (Nisaetus cirrhatus) tersebar
makanan dan kemudahan dalam luas mulai dari India, Asia Tenggara,
berkembangbiak serta dapat Filipina, Sunda Besar dan Nusa
memainkan peranan sebagai Tenggara (MacKinnon, 1998) [4].
mekanisme perlindungan dari
pemangsa (Ehrlich, 1988) [1]. Oleh Klasifikasi
karena itu, penelitian mengenai Elang Brontok memiliki
daerah jelajah (home range) Elang taksonomi sebagai berikut :
Brontok rehabilitan pasca lepas liar Kingdom : Animalia
ini perlu dilakukan untuk mengetahui Filum : Chordata
perkembangan daerah jelajahnya
Sub-filum : Vertebrata
setelah melewati masa rehabilitasi.
Kelas : Aves
Teori
Ordo : Falconiformes/
Elang Brontok
Indonesia memiliki lima jenis Accipitriformes

burung pemangsa dari Genus Famili : Accipitridae


Spizaetus yaitu Elang Brontok
Genus : Nisaetus
(Nisaetus cirrhatus), Elang Jawa (N.
Spesies : Nisaetus cirrhatus
bartelsi), Elang Blyth’s (N.
(IUCN, 2013) [5].
alboniger), Elang Walacea (N.
nanus) dan Elang Sulawesi (N. Haring dkk. (2007) [6]
lanceolatus) (Andrew, 1992 dalam membagi spesies dari Genus
Nurwatha dkk, 2000) [2]. Spizaetus menjadi 3 genus yang

124
Edisi Juni 2017 Volume X No. 2 ISSN 1979-8911

berbeda, yaitu : (1) Spizaetus Status


(termasuk Oroaetus isidori) di Dasar perlindungan dalam
Amerika Tengah dan Selatan dan (2) hukum Negara Republik Indonesia
Nisaetus untuk Asia Tenggara ke terhadap burung Elang Brontok ini
Grup Asia Timur. (3) yaitu pada Undang-Undang No.
Taksonomi Afrika (Spizaetus 5/1990 tentang Konservasi Sumber
africanus) didiskusikan untuk Daya Alam Hayati dan
dimasukkan ke Genus Aquila. Hal Ekosistemnya dan SK Menteri
ini didasarkan pada analisis Pertanian No 421/Kpts/Um/8/1970
filogenetik (study mitochondrial tentang Penetapan Tambahan Jenis–
DNA sequences (cytochrome b, Jenis Binatang Liar Yang Dilindungi.
control region)) pada masing-masing (Ditjen PHKA, 2009). IUCN
spesimen dari Genus Spizaetus. Oleh memasukan jenis ini dalam katagori
karena itu Elang Brontok (Nisaetus Least Concern (IUCN, 2013) [5],
cirrhatus) yang awalnya termasuk dan tercantum pada List Appendix II
Genus Spizaetus dimasukkan ke CITES (Convention International of
GenusNisaetus. Trade on Endangered Species)
dengan semua Ordo Falconiformes
kecuali Caracara lutosa dan dari
famili Cathartidae (CITES, 2015) [7].

Morfologi
Elang Brontok merupakan
elang dari Genus Nisaetus dengan
ukuran yang cukup besar dan tidak
terpaut jauh dengan ukuran Elang
Jawa. Panjang tubuhnya sekitar 70
cm (Ditjen PHKA, 2009) [8].
Memiliki ukuran panjang tubuh

us. antara 57 - 79 cm dengan rentang


sayap mencapai 127 -138 cm, berat
Gambar Skema Pembagian Genus
Spizaetus. tubuh antara 1,3 kg - 1,9 kg, dan
(Sumber : Haring dkk., 2007) keragaman umur dibagi menjadi 4

125
Edisi Juni 2017 Volume X No. 2 ISSN 1979-8911

yaitu Eaglet / Chick (Umur 0-3 c. Bentuk/Tipe Peralihan


bulan), Juvenile/ Remaja (Umur 3 (Intermediate morph)
bulan – 1,5 Tahun), Sub Down/ Pada bentuk peralihan ini
Menuju Dewasa (Umur 1,5 Tahun – terlihat pada pola warna corak atau
3 Tahun) dan Adult/ Dewasa (Umur coretan dan garis yang condong
diatas 3 Tahun) (MacKinnon, 1998). hampir sama dengan fase terang,
Elang ini memiliki keunikan pada hanya bagian bawahnya abu-abu
corak warna tubuhnya (fase) serta kecoklatan.
terdapat jambul yang tidak terlalu Menurut Ditjen PHKA (2009)
panjang. Menurut Prawiradilaga dkk. [8] pada bentuk gelap (dark morph),
(2003) [9] Elang Brontok dari sub hampir seluruh tubuhnya berwarna
spesies Nisaetus cirrhatus yang coklat sangat gelap hampir hitam,
tersebar di Sumatera, Jawa dan kecuali jari kaki yang berwarna
Kalimantan, memiliki tiga kuning gelap. Sedangkan pada
bentuk/tipe (morph), yaitu : bentuk terang (light morph) dewasa
a. Bentuk/Tipe Terang (Light mempunyai tubuh bagian atas
morph) berwarna coklat, campur coklat tua
Pada bentuk ini tubuh elang ada sedikit warna putih kotor, paruh
bagian atas berwarna putih bercorak hitam, iris coklat, kaki putih dan
kehitaman memanjang, demikian kuku hitam. Elang Brontok remaja
pula strip pada mata dan kumis yang memiliki warna putih mulai dari
memiliki warna kehitaman. kepala sampai perut, sayap dan
mentel coklat gelap bercoret-coret.
b. Bentuk/Tipe Gelap (Dark Seperti pada Gambar 1.1 (a) dan (b).
morph)
Seluruh tubuh elang berwarna
coklat gelap dengan garis hitam pada
ujung ekornya, terlihat kontras
dengan bagian ekornya yang coklat
dan lebih terang. Burung muda pun
berwarna gelap.

126
Edisi Juni 2017 Volume X No. 2 ISSN 1979-8911

Beberapa perilaku elang yaitu :


a. Soaring
Soaring yaitu terbang
melayang dan berputar-putar, dengan
tidak mengepakkan sayap dan hanya
memanfaatkan naiknya udara panas.
Beberapa asumsi mengatakan elang
melakukan soaring adalah untuk
(a) (b) mengajarkan anaknya terbang, untuk
menarik perhatian pasangannya
Gambar (a) Brontok –light morph,
(khususnya pada musim berbiak) dan
(b) Brontok –dark morph.
untuk menentukan areal jelajahnya
atau menunjukan teritorinya (Afianto,
Perilaku
1999) [11].
Satwa liar mempunyai
berbagai perilaku dan proses
b. Gliding
fisiologi untuk menyesuaikan diri
Gliding merupakan bentuk
(adaptasi) dengan lingkungan
terbang meluncur tanpa adanya
sekitarnya. Umumnya elang
aktivitas mengepakkan sayap.
bertengger pada dahan pohon yang
Perilaku ini biasa terjadi saat elang
tinggi atau mempertahankan teritori
ingin terbang dengan menempuh
dari burung-burung pemangsa
jarak yang cukup jauh.
lainnya di udara (MacKinnon, 1998)
[4] . Untuk mempertahankan
c. Display/Undulating
kehidupannya, mereka melakukan
Terbang undulating adalah
kegiatan-kegiatan yang agresif,
terbang naik turun secara periodik
melakukan persaingan (kompetisi)
dengan arah horizontal. Aktivitas ini
dan kerjasama (simbiosis) untuk
berfungsi untuk menarik perhatian
mendapatkan pakan, pelindung,
pasangannya, menunjukkan teritori
pasangan untuk kawin, reproduksi
dan mengusir individu lainnya
dan sebagainya (Alikodra, 2002) [10].
(Afianto, 1999) [11].

127
Edisi Juni 2017 Volume X No. 2 ISSN 1979-8911

d. Hunting / Berburu hampir mendatar dengan sayap


Elang melakukan aktivitas terbuka dan sambil mengepakkannya.
berburu dengan dua macam teknik. Kemudian individu jantan akan
Teknik pertama adalah dengan cara menaiki betina dari belakang dengan
bertengger pada dahan di daerah sayap terbuka juga. Setelah kawin
perburuan sambil mengamati elang jantan akan bertengger
gerakan-gerakan disekitarnya yang sebentar lalu terbang (Prawiradilaga,
mencurigakan sebagai gerakan 1999) [12].
mangsanya. Apabila posisi mangsa
sudah diketahui maka akan diincar, f. Interaksi sosial
lalu segera disambar dengan kedua Perilaku sosial pada
cakarnya. Teknik yang kedua yaitu umumnya dijumpai pada satwa liar,
dengan cara terbang rendah diatas terutama dalam upaya untuk
tajuk pohon kemudian berputar-putar memanfaatkan potensi sumberdaya
sambil mencari dan mengawasi di habitatnya, mengenali tanda-tanda
mangsa di daerah sekitarnya. Apabila bahaya dan melepaskan diri dari
mangsa sudah terlihat maka segera serangan pemangsa. Perilaku sosial
meluncur dan menyambar mangsa ini berkembang sesuai dengan
yang berada di dahan atau di atas adanya perkembangan dari proses
tanah lantai hutan (Prawiradilaga, belajar mereka (Alikodra, 2002) [10].
1999) [12]. Salah satu perilaku sosial
yang dilakukan dengan individu lain
e. Breeding / Perilaku kawin adalah berupa pertahanan terhadap
Perilaku kawin mulai terlihat teritorinya. Perilaku ini biasanya
pada awal pembuatan sarang. dilakukan pada musim kawin,
Pasangan elang biasanya memulai dimana saat itu elang biasanya lebih
dengan terbang bersama selama agresif. Mereka mempunyai perilaku
beberapa menit kemudian mereka mempertahankan teritori di sekitar
hinggap pada suatu dahan pohon sarangnya. Setiap individu lain baik
sarang atau pohon lainnya yang elang yang sejenis maupun berbeda
dekat dengan pohon sarang. jenis yang diduga akan
Selanjutnya betina akan membahayakan sarangnya akan
merundukkan tubuhnya hingga posisi

128
Edisi Juni 2017 Volume X No. 2 ISSN 1979-8911

diusir oleh pasangan pemilik sarang Habitat


(Widodo, 2004) [13]. Menurut Ferguson dan David
Menurut Reny dan Mariana (2001 dalam Prawiradilaga dkk.,
(2010) [14] perilaku Elang Brontok 2003) [9], penyebaran Elang Brontok
secara umum terbagi kedalam di dunia umumnya ditemukan pada
perilaku diam, bergerak dan ingestif ketinggian di bawah 1500 mdpl,
(makan). Perilaku diam meliputi namun sebagian bisa juga ditemukan
aktivitas istirahat, diam dan pada ketinggian 2200 mdpl. Habitat
mengawasi (stasioner), menggeliat, yang disukai dan digunakan oleh
menengok, dan mengangkat kaki. Elang Brontok untuk beraktivitas
Perilaku bergerak meliputi aktivitas yaitu berupa padang rumput, daerah
berjalan, mendatangi mangsa, berhutan yang berpohon, sumber-
terbang, membersihkan diri atau sumber air yang ditumbuhi pohon,
menyelisik, bersuara, meregangkan perkebunan teh, hutan di
badan atau bulu, meloncat, dan perkampungan, bahkan di pinggiran
membawa makanan. Dan perilaku perkotaan. Menurut penelitian
makan (ingestif) meliputi aktivitas Nijman (2004) [15] Elang Brontok
makan, minum dan buang air sering dijumpai di daerah terbuka
(defekasi). seperti perkebunan, hutan tanaman,
hutan pesisir, hutan jati, dan hutan
Sumber Pakan gugur.
Menurut Prawiradilaga dkk.
(2003) [9] sumber pakan Elang Daerah Jelajah
Brontok pada umumya hewan-hewan Daerah jelajah adalah daerah
di darat seperti mamalia, burung, tempat tinggal satwa yang tidak
tupai pohon, bajing, bunglon, reptilia dipertahankan oleh satwa tersebut
lainnya dan katak. Biasanya elang ini terhadap masuknya satwa lain (jenis
berburu di sekitar pinggir hutan, yang sama) ke dalam daerah itu.
lahan terbuka (savana) dan kadang Apabila daerah tempat tinggal
ke perkampungan jika mangsa di tersebut sudah mulai dipertahankan
hutan tidak ditemukan. terhadap masuknya jenis yang sama,
maka daerah tersebut merupakan
teritorinya. Satwa yang dimaksud

129
Edisi Juni 2017 Volume X No. 2 ISSN 1979-8911

adalah baik individu pasangan daerah jelajah individu Elang Jawa


maupun kelompok (Alikodra, 2002) Pengkeh adalah sebesar + 3,06 km2,
[10]. wilayah individu betina pasangan
Daerah jelajah merupakan Pengkeh adalah sebesar + 1,69 km2,
wilayah yang dijelajahi dalam jalur sehingga rata-rata luasan wilayah
pergerakan aktifitas hariannya. jelajah Elang Jawa yaitu sebesar +
Wilayah jelajah di dalamnya terdapat 2,06 km2.
teritori (sebagai areal bersarang dan
berkembang biak), dan areal berburu. Keadaan Umum Lokasi
Teritori bertujuan untuk memonopoli Berdasarkan Surat Keputusan
sumber daya, termasuk sumberdaya Menteri Pertanian Nomor :
makanan dan kemudahan dalam 170/Kpts/Um/3/1979, tanggal 13-3-
berkembang biak serta dapat 1979 hutan pegunungan seluas 8.000
memainkan peranan sebagai Ha ditunjuk sebagai Cagar
mekanisme perlindungan dari Alam seluas 7.500 Ha dan Taman
pemangsa (Ehrlich, 1988). Wisata Alam seluas 500 Ha.
Menurut hasil penelitian Kemudian dengan Surat Keputusan
Sözer dan Nijman (1995) daerah Menteri Kehutanan Nomor :
jelajah elang liar yang dapat terlihat 110/Kpts-11/90 tanggal 14 Maret
yaitu 12 km2, tetapi pada estimasi 1990, CA dan TWA Kamojang
nyatanya ukuran daerah jelajah elang ditetapkan seluas 8.286 Ha (CA
liar ini antara 33 km2 (Gn. Slamet) 7.805 Ha). Menurut administrasi
dan 155 km2 (T. N. Alas Purwo) pemerintahan kawasan konservasi
tergantung pada kesesuaian habitat. Kamojang teletak dalam dua wilayah,
Sedangkan menurut hasil penelitian yaitu : termasuk wilayah Desa Cibeet,
Afianto, dkk. (1999) [11] daerah Kecamatan Paseh, Kabupaten
jelajah Elang Jawa liar yang diamati Bandung dan termasuk wilayah Desa
daerah jelajahnya selama 46 hari Randukurung, Kecamatan Samarang,
didapatkan luas daerah jelajah seluas Kabupaten Garut (BKSDA Wil. 2
3,047 km2. Jabar, 2014) [16].
Begitu pula menurut hasil Keadaan lapangan secara
penelitian Widodo (2004) [13] yang umum topografinya bergelombang
dilakukan selama enam (6) bulan dengan ketinggian tempat antara 500

130
Edisi Juni 2017 Volume X No. 2 ISSN 1979-8911

- 1.000 meter di atas permukaan laut. javanicus), surili (Presbytis comata),


Menurut klasifikasi Schmidt dan Lutung Jawa (Trachypithecus
Ferguson, iklimnya termasuk tipe auratus), ayam hutan (Gallus gallus)
iklim B dengan rata-rata curah hujan dan lain-lain. Juga terdapat beberapa
per tahun 2.500 - 3.000 mm jenis ikan hidup di sungai-sungai
(BKSDA Wil. 2 Jabar, 2014). (BKSDA Wil.2 Jabar, 2014).
Vegetasi Cagar Alam dan Selain daerah Kamojang,
Taman Wisata Alam Kamojang lokasi penelitian juga meliputi
termasuk tipe hutan hujan tropik daerah Desa Sukakarya yang
pegunungan dengan floranya terdiri merupakan Desa paling ujung di
dari jenis-jenis pohon dan liana serta Kecamatan Samarang maupun
epifit. Jenis-jenis pohon yang banyak Kabupaten Garut dengan luas
terdapat adalah Jamuju (Podocarpus wilayah 455,082 Ha yang terdiri dari
imbricatus), Puspa (Schima walichii), pemukiman 41,147 Ha, perkebunan
Saninten (Castanopsis argentea), 298,092 Ha, pesawahan 45,176 Ha,
Pasang (Quercus sundaica) dan lain kehutanan 52,000 Ha dan sisanya
lain. Sedangkan jenis tumbuhan wilayah fasilitas umum dan
bawah didominasi oleh jenis Cantigi pemakaman. Dengan batas wilayah
(Vaccinium varingiaefolium) dan sebelah Barat Desa Ibun Kec. Ibun
jenis liana dan epifit adalah Rotan Kab. Bandung, sebelah Timur Desa
(Daemonorops rubra), Seuseureuhan Sukarasa, sebelah Utara Desa
(Piper aduncum), Pungpurutan Tanjungkarya dan sebelah Selatan
(Urena lobata), Hangosa (Amoemun Desa Sukalaksana (KKNM UNPAD,
dealatum), Benalu (Diplazium 2013).
esculenteum) dan Meranti
Merah (Shorea pinanga) dan lain
Metode Penelitian
lain (BKSDA Wil. 2 Jabar, 2014).
Satwa liar yang ada di Penelitian ini dilakukan di

kawasan ini antara lain babi hutan sekitar kawasan CA/TWA Kamojang

(Sus vitatus), kijang (Muntiacus Desa Sukakarya Kec. Samarang

muntjak), macan tutul (Panthera Garut Jawa Barat. Penelitian ini

pardus), musang (Paradoxurus dilakukan selama 28 hari dari tanggal

hertnaproditus), trenggiling (Manis 6 Juni – 3 Juli 2015 dengan keadaan

131
Edisi Juni 2017 Volume X No. 2 ISSN 1979-8911

musim dilapangan pada saat titik pergerakan elang pada peta area
penelitian adalah musim kemarau pengamatan untuk mengetahui
dan turun hujan hanya satu kali gambaran area yang digunakan untuk
selama pengamatan. daerah jelajah atau teritori elang.
Alat yang digunakan pada Pengolahan data titik-titik
penelitian ini yaitu HT Voxter, perjumpaan dan garis jelajah pada
binocular Nikon Monarch 10x42, peta dilakukan dengan menggunakan
GPS Garmin eTrek 10 dan peta software QGIS version 2.8.3-Wien
kawasan CA/TWA Kamojang. Objek dan analisis data pendugaan luas
penelitian ini yaitu Elang Brontok - daerah jelajah menggunakan
light morph (Nisaetus cirrhatus) minimum polygon. Minimum polygon
yang telah direhabilitasi dan terbentuk dengan menghubungkan
memiliki nilai perilaku yang baik di titik/ lokasi terluar untuk membentuk
Pusat Konservasi Elang Kamojang poligon, dan kemudian menghitung
Garut Jawa Barat. luasan arealnya dengan
Pelaksanaan penelitian menggunakan metode sel berpetak
dimulai dengan melakukan survey (grid cells method). Metode sel
lapangan sekitar kandang habituasi berpetak adalah metode yang sangat
elang yang akan dilepas liarkan dan sederhana untuk menganalisis
mempelajari peta wilayah tersebut. wilayah jelajah. (Prawiradilaga dkk.,
Dari hasil survey didapatkan habitat 2003) [9].
pada umumnya merupakan Pada metode sel berpetak
perkebunan di bagian Barat dan (grid cells method) untuk
Selatan dan hutan Cagar Alam mengetahui luasan daerah jelajah
Kamojang di bagian Timur dan Utara. adalah dengan cara menghitung
Kemudian ditentukan titik-titik banyaknya kotak yang terlewati oleh
pengamatan dan dilakukan garis pergerakan poligon dan
pengamatan langsung (direct kemudian dikalikan dengan luas
research) daerah jelajah pada elang kotak tersebut, sehingga didapatkan
yang telah dilepasliarkan dengan hasil luasan daerah jelajah yang
menggunakan metode Spot-mapping dicari. Ukuran kotak yang digunakan
(territory mapping) (Fuller, 1987) pada analisis daerah jelajah ini, yaitu
[17] yaitu dengan menentukan titik- 100 x 100 m.

132
Edisi Juni 2017 Volume X No. 2 ISSN 1979-8911

Data daerah jelajah pada sel sedikitnya perilaku terbang dan daya
berpetak di hitung dengan jelajahnya lebih kecil atau lebih
menggunakan rumus: rendah bila dibandingkan dengan
elang liar. Namun perlu diketahui,
menurut Afianto (1999) [11] pada
burung-burung pemangsa seperti
Hasil dan diskusi
elang, wilayah jelajah akan selalu
Hasil pengamatan selama 28 berubah luasnya pada periode musim
hari, didapat 11 hari perjumpaan yang berbeda, sehingga tidak dapat
(contact time). Dari data pengamatan disimpulkan bahwa luasan tersebut
langsung didapatkan estimasi luasan merupakan areal jelajah sepanjang
2 2
74 kotak x 10.000 m = 740.000 m hidupnya.
2
(0,74 km ) dengan 146 titik lokasi
perjumpaan (contact point) (Gambar
1).
Estimasi daerah jelajah objek
yang memiliki luas 740.000 m2 (0,74
km2) ini lebih sempit bila
dibandingkan dengan hasil penelitian
penelitian Afianto (1999) [11] yang Gambar 1. Peta Estimasi Luasan
menyebutkan daerah jelajah Elang Daerah Jelajah Seluruh Hari
Jawa (Nisaetus bartelsi) liar Pengamatan.
didapatkan luas
daerah jelajah seluas 3,047 km2 dan Teritori dari objek belum
menurut dapat diketahui, karena menurut
penelitian Widodo (2004) [13] Widodo (2004) [13] dalam
luasan daerah jelajah sebesar 3,06 menentukan lokasi dan luasan areal
2
km , hal ini menunjukan bahwa rata- teritori diperlukan data yang
rata daerah jelajah elang liar adalah 3 memadai mengenai batas-batas areal
2
km . Sedangkan pada hasil penelitian yang dipertahankan dengan lebih
2
ini kurang dari 3 km dikarenakan intensif, yang dapat diketahui dari
elang objek merupakan elang adanya aktifitas pengusiran terhadap
rehabilitan yang kemungkinan individu elang lain (baik yang sejenis

133
Edisi Juni 2017 Volume X No. 2 ISSN 1979-8911

ataupun berbeda). Sedangkan, pada


penelitian ini aktifitas pengusiran
masih belum terlihat dan lokasi
sarang pun belum diketahui, karena
elang kemungkinan masih dalam
masa pencarian wilayah yang kosong
untuk dijadikan sarang dan wilayah
teritori. Gambar 2. Perkembangan Luasan

Perkembangan luasan daerah Daerah Jelajah

jelajah objek dari hari pertama


hingga hari ke-17 mengalami
kenaikan (Gambar 2). Secara garis
besar daerah jelajah objek dapat
dikatakan baik karena pergerakan
objek semakin meluas dan titik
terjauh pergerakan objek setiap
harinya semakin menjauh dari
kandang habituasi (Gambar 3). Tipe Gambar 3. Jarak Titik Terjauh dari
komunitas yang paling sering Kandang Habituasi
digunakan oleh objek selama
pengamatan adalah komunitas Kesimpulan
perkebunan yang berpohon, hutan Daerah jelajah Elang Brontok
dan semak di pinggiran perkebunan pasca rehabilitasi yang teramati yaitu
dan pemukiman warga dengan 11 hari perjumpaan (contact time)
ketinggian antara 1300-1441 mdpl, dari 28 hari pengamatan, dengan
hal ini sejalan dengan penelitian estimasi luasan + 740.000 m2
Nijman (2004) [15] yang (0,74 km2) dengan 146 titik lokasi
menyatakan elang brontok sering perjumpaan (contact point).
terlihat di tipe habitat terbuka seperti Perkembangan daerah jelajah
perkebunan, hutan tanaman, hutan Elang Brontok pasca rehabilitasi
pesisir, hutan jati, dan hutan gugur yang teramati semakin hari semakin
dengan ketinggian 0-1500 mdpl. meluas, ditunjukan dengan jarak titik

134
Edisi Juni 2017 Volume X No. 2 ISSN 1979-8911

perjumpaan terjauh sekitar + 1500 m [5] IUCN. 2013. IUCN Redlist


(1,5 km) dari kandang habituasi. Changeable Hawk-Eagle
(Nisaetus cirrhatus). [Online].
Daftar Pustaka Diakses pada 4 April 2015.
[1] Ehrlich, P. R, David S. Dobkin, Tersedia dari:
dan Darryl Wheye. 1988. http://www.iucnredlist.org/deta
Territoriality. [Online]. ils/22732090/0.
Diakses pada 05 September [6] Haring, K. Kvaløy, J.-O.
2015. Gjershaug, N. Røv2 dan A.
https://web.stanford.edu/group/ Gamauf. 2007. Convergent
stanfordbirds/text/essays/Territ evolution and paraphyly of the
oriality.html. hawk-eagles of the genus
[2] Nurwatha, P.F dan Z. Rahman. Spizaetus (Aves, Accipitridae)
2000. Distribusi dan Populasi – phylogenetic analyses based
Elang Sulawesi di on mitochondrial markers.
Sulawesi Selatan dan Sulawesi Journal compilation © 2007
Tengah. YPAL. Bandung. Blackwell Verlag, Berlin. ©
[3] Strange, M. 2001. Birds of 2007 The Authors J Zool Syst
Indonesia. Periplus Editions Evol Res (2007) 45(4), 353–
(HK) Ltd. 365.

[4] MacKinnon, J., K. Phillips., B. [7] CITES. 2015. CITES Appendices


Van Balen. 1998. Burung- I, II and III. [Online]. Diakses
burung di Sumatera, Jawa, pada 5 April 2015 Tersedia
Bali dan Kalimantan. dari :
Penerjemah : W. http://www.cites.org/eng/app/a
Raharjaningtrah., A. ppendices.php.
Adikerana., P. Martodiharjo., [8] Direktorat Jendral Perlindungan
E.K. Supardiyono., B. Van Hutan dan Konservasi Alam
Balen. Puslitbang Biologi- (Ditjen PHKA). 2009. Burung-
LIPI/BirdLife Internacional burung Taman Nasional
Indonesia Programme. Bogor. Baluran. Balai Taman
Nasional Baluran. hlm 9.

135
Edisi Juni 2017 Volume X No. 2 ISSN 1979-8911

[9] Prawiradilaga D. M., Muratte T, Biodiversity Conservation


Muzakkir A, Inoue T, Project. Bogor.
Kuswandono, Adam A.S, [13] Widodo, Tri. 2004. Populasi
Ekawati D, Afianto M. Y, dan Wilayah Jelajah Elang
Hapsoro, Ozawa T, dan Jawa (Spizaetus bartelsi
Noriaki S. 2003. Panduan Stresemann, 1924) di Gunung
Survei Lapangan dan Kendeng Resort Cikaniki
Pemantauan Burung-burung Taman Nasional Gunung
Pemangsa. Biodiversity Halimun. [Skripsi].
Conservation Project-JICA. Departemen Konservasi
Japan Internacional Sumberdaya Hutan Fakultas
Cooperation Agency. Kehutanan. Institut Pertanian
[10] Alikodra, H.S. 2002. Bogor (IPB). Bogor. (12-36).
Pengelolaan Satwaliar. [14] Widodo, Tri. 2004. Populasi
Yayasan Penerbit Fakultas dan Wilayah Jelajah Elang
Kehutanan Institut Pertanian Jawa (Spizaetus bartelsi
Bogor. Bogor. Stresemann, 1924) di Gunung
[11] Afianto, Y. M., Herwono, J. B, Kendeng Resort Cikaniki
Prawiradilaga, D. M. 1999. Taman Nasional Gunung
Aplikasi Penggunaan Radio Halimun. [Skripsi].
Telemetry Pada Pendugaan Departemen Konservasi
Karakteristik Wilayah Jelajah Sumberdaya Hutan Fakultas
Elang Jawa (Spizaetus Kehutanan. Institut Pertanian
bartelsi) di Gunung Salak, Bogor (IPB). Bogor. (12-36).
Jawa Barat. Jurnal Seminar [15] Nijman, Vincent. 2004. Habitat
Penerapan Sistem Informasi Segregation in Two
Geografi dan RadioTracking Congeneric Hawk-eagles
Untuk Pengelolaan (Spizaetus bartelsi and
Keanekaragaman Hayati. IPB- Spizaetus cirrhatus) in Java,
Darmaga. hlm 7. Indonesia. Institute for
Biodiversity and Ecosystem
[12] Prawiradilaga D. M. 1999.
Dynamics, Zoological Museum,
Elang Jawa Satwa Langka.
University of Amsterdam,

136
Edisi Juni 2017 Volume X No. 2 ISSN 1979-8911

Amsterdam, The Netherlands.


Journal of Tropical Ecology
(2004) 20:105–111. Cambridge
University Press.
[16] Balai Konservasi Sumber Daya
Alam (BKSDA) Wilayah 2
Jawa Barat. 2014. Kawasan
Konservasi dan
Keanekaragaman Hayati.
[Online].
http://www.garutkab.go.id/pub/
static_menu/detail/sda_lingkun
gan_hidup.Pemerintah
Kabupaten Garut. Diakses pada
6 April 2015.

[17] Fuller, M. R., and J. A. Mosher.


1987. Raptor Survey
Techniques. Page 37-66
dalam B. A. Giron Pendleton,
B. A. Millsap, K. W. Cline,
and D. M. Bird, eds. Raptor
Management Techniques
Manual. Natl. Wildl. Fed.,
Washington, D.C.

137