Anda di halaman 1dari 30

STUDENT PROJECT FORENSIC MEDICINE AND MEDICOLEGAL

PENGAMBILAN SAMPEL GIGI

DISUSUN OLEH SGD B5:

Anak Agung Ngurah Satya Pranata (1602511194)


Haikal Hamas Putra Iqra (1602511099)
Anthony Wijaya (1602511120)
Ni Luh Gede Ayu Candranita Dharmadi (1602511105)
Grace Abigail (16012511049)
Michelle Putri Hindrato (1602511030)
Jonathan Adrian (1601511210)D
Pande Putu Sucahaya Pradhana (1602511188)
Made Pradipa Yogyarta Pinatih (1602511170)
Evit Fitri Yana Binti Ependi (1602511238)
Amirah Syahirah (1602511243)
Latha Ghanesan (1602511247)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2019

i
PENGAMBILAN SAMPEL GIGI

DISUSUN OLEH SGD B5:

Anak Agung Ngurah Satya Pranata (1602511194)


Haikal Hamas Putra Iqra (1602511099)
Anthony Wijaya (1602511120)
Ni Luh Gede Ayu Candranita Dharmadi (1602511105)
Grace Abigail (16012511049)
Michelle Putri Hindrato (1602511030)
Jonathan Adrian (1601511210)
Pande Putu Sucahaya Pradhana (1602511188)
Made Pradipa Yogyarta Pinatih (1602511170)
Evit Fitri Yana Binti Ependi (1602511238)
Amirah Syahirah (1602511243)
Latha Ghanesan (1602511247)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2019

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya
penulis dapat menyelesaikan student project yang berjudul “Pengambilan Sampel
Gigi”.

Student project ini dibuat dengan kajian pustaka dan bantuan dari berbagai pihak
sehingga penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
membantu dalam menyelesaikan student project ini yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada fasilitator
kami Dr. dr. I made Muliarta, M.Kes serta evaluator kami drg. Sari Kusumadewi,
M.Biomd yang telah memberikan bimbingan serta masukannya selama pembuatan
student project ini.

Penulis menyadari masih terdapat kekurangan dalam student project ini. Oleh
karena itu, penulis berharap kepada pembaca agar dapat memberikan saran, kritik
dan rekomendasi yang dapat membuat student project ini lebih baik selanjutnya.
Akhir kata, penulis berharap student project ini dapat memberikan manfaat bagi
semua orang.

Denpasar, 17 Januari 2019

Penulis

iii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... iii

DAFTAR ISI .......................................................................................................... iv

BAB I ...................................................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang ......................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 3

1.3 Tujuan ....................................................................................................... 3

1.4. Manfaat ..................................................................................................... 3

BAB II ..................................................................................................................... 4

2.1. Distribusi DNA pada gigi ......................................................................... 4

2.2. Faktor-faktor yang mempengrahui DNA pada gigi ................................. 4

2.3. Degradasi Sampel Gigi Setelah Kematian ............................................... 6

2.4. Metode Pengambilan Sampel Gigi dan Ekstraksi DNA .......................... 7

2.5. Penentuan Spesies berdasarkan Sampel Gigi ........................................... 9

2.6. Penentuan Usia berdasarkan Sampel Gigi .............................................. 10

2.7. Menentukan Jenis Kelamin berdasarkan Sampel Gigi ........................... 16

2.8. Menentukan Ras berdasarkan Sampel Gigi ............................................ 17

BAB III ................................................................................................................. 21

KESIMPULAN ..................................................................................................... 21

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 22

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Tahap kalsifikasi gigi menurut metode Demirjian28 ........................... 11

Gambar 2. Gambaran perubahan jaringan gigi menurut metode Gustafson28 ..... 16

v
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Skoring menurut metode Demirjian29 ..................................................... 12

Tabel 2. Konversi untuk laki-laki29 ....................................................................... 13

Tabel 3. Konversi untuk perempuan29 .................................................................. 14

Tabel 4. Skoring menurut metode Gustafson30 ..................................................... 15

vi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ilmu kedokteran forensik atau Legal Medicine merupakan salah satu cabang
spelialistik dari ilmu kedokteran yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran
untuk kepentingan penegakan hukum serta keadilan. Ilmu ini membantu dalam
mengusut, meyidik serta menyelesaikan dan memutuskan suatu perkara di
pengadilan dengan menjelaskan jalannya peristiwa serta keterkaitan antara tindakan
yang satu dan lainnya dalam rangkaian peristiwa tersebut. Selain itu, ilmu
kedokteran forensik juga bermanfaat dalam membantu penyelesaiian klaim
asuransi yang adil, membantu pemecahan masalah paternitas, membantu upaya
keselamatan kerja, pengumpulan data korban kecelakaan, dan lainnya. Untuk
mempermudah mengklaim data asuransi maka identitas korban perlu diketahui.1
Jika terdapat perkara pidana yang menimbulkan korban meninggal , dokter
diharapkan dapat menjelaskan sebab kematian korban, identitas korban, perkiraan
waktu kematian, cara kematian serta mekanisme terjadinya kematian tersebut. Guna
mengetahui identitas korban meninggal yang belum diketahui maka diperlukan
identifikasi forensik. Identifikasi forensik merupakan suatu upaya yang dilakukan
dengan tujuan untuk membantu penyidik dalam mennetukan identitas seseorang.
Penentuan identitas personal seseorang harus dilakukan dengan tepat karena jika
terdapat kekeliruan maka dapat berakibat fatal dalam proses penyidikan. Identitas
personal seseorang dalam diidentifikasi melalui sidik jari, visual, dokumen, pakaian
dan perhiasan, medik, gigi, serolohik dan secara ekslusi. Salah satu hal yang
digunakan dalam menentukan identitas personal seseorang yaitu gigi geligi.1
Odontologi forensik adalah cabang kedokteran gigi yang menangani
penanganan dan pemeriksaan bukti gigi yang tepat dan evaluasi serta presentasi
temuan gigi yang tepat demi kepentingan keadilan. Cabang disiplin ini berperan
penting dalam identifikasi jenazah manusia dalam beberapa insiden seperti bencana
alam, ledakan bom, serangan teroris, kecelakaan pesawat, kecelakaan lalu lintas dan
lainnya dimana kondisi jenazah ditemukan dalam kondisi yang tidak sempurna.

1
Gigi merupakan bagian tubuh terkuat pada manusia yang tidak akan rusak dan dapat
menahan daya ledak yang tinggi. Oleh karena itu, gigi merupakan salah satu
instrumen dalam identifikasi jenazah jika wajah atau sidik jari korban sudah
hancur.2
Identifikasi gigi geligi memiliki beberapa aplikasi dalam proses identifikasi
korban diantaranya : (a) Identifikasi komparatif, dalam identifikasi ini catatan gigi
post mortem akan dibandingkan dengan catatan gigi antemortem seseorang guna
menentukan kecocokan kedua data tersebut dan memastikan bahwa orang yang
diidentifikasi merupakan orang yang sama, (b) Pengambilan data gigi korban guna
mempersempit pencarian individu ketika data antemortem tidak tersedia dan tidak
ada data yang mungkin mengacu pada identitas subjek, (c) Identifikasi korban
setelah bencana massal atau malapetaka.3
Gigi dan tulang merupakan satu-satunya sumber DNA yang tersedia untuk
identifikasi korban jika bagian tubuh korban sudah tidak utuh atau terfragmentasi.
Lokasi gigi yang terletak pada rahang dan komposisinya yang unik menimbulkan
proteksi tambahan DNA dibandingkan dengan tulangyang menyebabkan gigi
menjadi sumber DNA yang sering diteliti pada sebagian besar kasus. 4 Guna
mengetahui cara dan fungsi identifikasi gigi postmortem untuk mengidentifikasi
korban maka diperlukan studi pustaka lebih lanjut.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut


1. Bagaimana distribusi DNA pada gigi manusia ?
2. Apa saj afaktor yang mempengaruhi isi dari DNA pada gigi ?
3. Bagaimana degradasi gigi post mortem ?
4. Bagaimana metode ekstraksi pengambilan sampel gigi ?
5. Bagaimana cara menentukan spesies dari sampel gigi ?
6. Bagaimana cara menentukan usia dari data sampel gigi yang telah
diperoleh?
7. Bagaimana cara menentukan jenis kelamin dari data sampel gigi yang
diperoleh?
8. B

2
9. agaimana cara menentukan ras dari data sampel gigi yang diperoleh ?

1.3 Tujuan

Tujuan utama disusunnya student project yang berjudul multiple sclerosis ini,
diantaranya.
1. Untuk mengetahui distibusi DNA, faktor yang mempengaruhi isi DNA pada
sampel gigi, metode pengambilan sampel gigi, dan menentukan spesies,
usia, jenis kelamin dan ras berdasarkan data sampel gigi.
2. Memenuhi tugas yang diberikan dalam blok forensic medicine and
medicolegal pada semester V.

1.4. Manfaat

Student project ini disusun dengan harapan dapat memperkaya pengetahuan


mahasiswa di dunia kedokteran mengenai pengambilan sampel gigi, dimulai dari
distibusi DNA, faktor yang mempengaruhi isi DNA pada sampel gigi, metode
pengambilan sampel gigi, hingga menentukan spesies, usia, jenis kelamin dan ras
berdasarkan data sampel gigi.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Distribusi DNA pada gigi

Gigi manusia berbeda pada ukuran dan bentuknya, namun semua memiliki
struktur histologi yang sama. Dentin, jaringan ikat di gigi yang tidak terekspos
dengan lingkungan di mulut namun dentin lah yang membentuk struktur axis major
pada gigi. Bagian dentin yang ada di mahkota gigi diselubungi oleh jaringan yang
sangat kaya dengan mineral yang disebut enamel. Enamel berasal dari jaringan
ectoderm dan merupakan jaringan acellular, avascular, dan tidak memiliki jaringan
saraf di dalamnya. Sedangkan bagian akar dentin diselubungi oleh jaringan ikat lain
yang kaya dengan kalsium yang disebut semen. Jaringan lain yang ada pada gigi
yaitu jaringan lunak yang berada di bilik pulpa koronal dan radikular yang terdiri
dari odontoblasts, fibroblasts, sel endothelial, saraf peripheral, sel mesenkim yang
belum terdeferensiasi, serta komponen darah yang mengandung inti sel. Bagian
inilah yang sangat kaya dengan DNA. Bagian gigi lain seperti tonjolan
odontoblastic yang masuk ke tubulus dentinal, jaringan lunak di dalam accessory
canals, sementum seluler, adherent bone, ligament periodontal juga mengandung
DNA, namun lokasi anatomi ini lebih jarang digunakan untuk mengesktraksi
DNA.5
Jumlah DNA yang dapat diesktraksi dari gigi molar yang memiliki volume
pulpa sekitar 0.023-0.031 cc adalah sekitar 15-20 mg DNA, dengan total produksi
DNA genomic sekitar 6-50 microgram DNA. Jika dibandingkan dengan hasil DNA
yang di dapat dari sampel darah ataupun dari jaringan paru, maka hasilnya tidak
akan ada perbedaan.5

2.2.Faktor-faktor yang mempengrahui DNA pada gigi

Jumlah total DNA di gigi seseorang berbeda antar individu, bahkan bisa
juga berbeda antar gigi di satu individu.6 Beberapa faktor yang mempengaruhi
konten DNA adalah tipe gigi, umur kronologis, dan status kesehatan dari masing-

4
masing gigi. Masing-masing faktor tersebut dapat mempengaruhi konten DNA
yang terdapat di crown, root, pulp, dentine, dan cementum.
1. Tipe gigi
Pada umumnya, terdapat 4 tipe gigi di manusia: molar, premolar, taring, dan
incisor. Masing-masing tipe berbeda dalam bentuk, ukuran, namun memiliki
struktur histologis yang sama.7 Studi menunjukan bahwa gigi dengan volume pulp
yang terbesar merupakan sumber DNA terbaik karena mengandung DNA yang
paling banyak.8 Studi lain menemukan bahwa jumlah DNA yang diambil dari gigi
berakar banyak lebih banyak daripada DNA yang diambil dari gigi berakar
tunggal.9 Hal ini dikarenakan luas permukaan yang lebih besar untuk gigi berakar
banyak dibanding gigi berakar tunggal, sehingga mendangung cementum yang
lebih banyak. Cementum terdiri dari sel, yang mengandung DNA. Untuk
mendapatkan jumlah DNA yang ideal, gigi molar merupakan preferensi utama
untuk sampling DNA.10 Pilihan kedua adalah gigi premolar, karena mengandung
jumlah cementum kedua terbanyak, setelah gigi molar.
2. Umur kronologis
Semakin bertambahnya umur, jumlah konten DNA berkurang dan deposisi
dentin di gigi meningkat. Volume dan selularitas pulp juga berkurang dengan
bertambahnya umur.11 Menurut suatu studi, di dentin terdapat sisa-sisa mtDNA
yang terperangkap, sehingga bisa dijadikan sebagai bukti DNA.12 Di individual
yang sudah matur, gigi molar tetap menjadi preferensi utama untuk sample DNA,
namun faktor-faktor lain seperti kerusakan gigi dan penyakit gigi harus
dipertimbangkan.
3. Status kesehatan gigi
Penyakit gigi memiliki dampak yang negatif untuk konten DNA di gigi
seseorang. Caries gigi melibatkan adanya kerusakan gigi yang diakibatkan oleh
bakteri, sehingga banyak sel-sel di gigi yang mati.13 Pada akhirnya, caries dapat
menyebabkan hilangnya pulp atau gigi tersebut seutuhnya. Penyakit periodontal
dalam fase lanjutan dapat mengurangi availabilitas DNA akibat kerusakan fisik
daripada cementum, yang mengakibatkan kematian sel-sel di cementum. Penyakit
gigi tidak hanya mengurangi konten DNA, namun juga bisa mengkontaminasi

5
sampel. Oleh karena itu, gigi yang diseleksi untuk analisa DNA sebaiknya bebas
dari penyakit.

2.3. Degradasi Sampel Gigi Setelah Kematian

Degradasi pada sampel gigi telah ditunjukkan sangat bergantung pada


waktu, dan hubungan antara waktu dan degradasi sangat kompleks dan juga
dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Secara histologis, pada gigi yang membusuk
akan menunjukkan hilangnya integritas struktural pada jaringan pulpa serta detil
atau karakteristik seluler pada satu bulan setelah kematian, dengan jumlah nukleus
yang sangat berkurang dibanding dengan gigi yang normal. Semakin lama waktu
interval post mortem, jumlah nukleus akan semakin berkurang dan begitu juga
dengan jaringan pulpa. Pada dentin ditemukan perubahan struktural pada lapisan
predentin, dan pada bulan ke-16 setelah kematian umumnya lapisan predentin
sudah menghilang sepenuhnya. Tetapi dalam jangka waktu yang sama perubahan
struktural diamati sangat minimal pada lapisan sementum, dengan ditemukannya
jumlah sementoblas pada permukaan akar berkurang.14
Degradasi DNA gigi pada interval post mortem dimulai dengan sekresi dari
enzim intraseluler endogen yaitu lipase, nuklease, dan protease; serta enzim
eksogen yang diproduksi oleh mikroorganisme di sekitar gigi setelah kematian.
Struktur gigi yang padat dan lokasinya yang melindungi dengan baik secara fisik
menghambat kerja enzim eksogen oleh organisme lain, namun kerja dari enzim
endogen dan hidrolisis spontan serta oksidasi tetap berlangsung meskipun lambat.
Sebuah studi oleh Rubio et. al. (2012) menemukan bahwa sampel gigi yang
disimpan pada suhu ruangan akan mengalami penurunan kualitas DNA sebesar
50% pada bulan pertama penyimpanan, kemudian stabil hingga terjadi penurunan
lagi pada bulan ke-18, dimana terjadi penurunan kualitas lebih lanjut dan hanya
10% DNA dapat diekstraksi dibandingkan dengan gigi yang normal. Periode stabil
tersebut diduga karena adanya perlindungan pada sedikit DNA pada gigi yang
sangat terlindngi, hingga terjadinya perubahan struktural lebih lanjut yang akan
mengakibatkan masuknya mikroorganisme serta proses kimiawi lainnya. Salah satu
perlindungan tersebut adalah komponen mineral penyusun gigi.15,16

6
Faktor lingkungan dan efeknya pada degradasi gigi post mortem masih
belum dimengerti sepenuhnya, Beberapa studi menyatakan bahwa suhu merupakan
salah satu faktor yang sangat penting dalam jangka panjang, dimana suhu rendah
dan tidak adanya mikroorganisme mendukung preservasi dari gigi dan DNA di
dalamnya. Gigi yang disimpan di permukaan tanah juga memberi hasil yang lebih
baik dibandingkan dengan gigi yang dikubur atau terendam dalam air, sehingga
suasana yang kering bisa dikatakan juga mendukung pengawetan gigi beserta
DNA.16

2.4. Metode Pengambilan Sampel Gigi dan Ekstraksi DNA


2.4.1. Metode Pengambilan Sampel Gigi
Gigi sangat berguna sebagai barang bukti karena materi genetik yang ada di
dalamnya di lindungi oleh jaringan-jaringan yang terkalsifikasi. Gigi biasanya di
dapatkan dari anthropological surveys dan/ atau dari tempat kejadian perkara/
bencana.17 Gigi yang didapat disimpan dalam cairan normal saline dan bisa
disimpan di dalam kulkas ataupun tidak bergantung pada fasilitas yang ada. Pada
gigi, sumber DNA merupakan bagian pulp, dentin, cementum, periodontal fibers,
serpihan tulang yang menempel.18
Jaringan pada bagian pulp yang biasa digunakan karena memiliki banyak
sampel DNA dan kemungkinan kecil terdapat kontaminasi dari nonhuman DNA.
Pengambilan jaringan pada bagian pulp dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu
crushing, vertikal atau horizontal splitting, dan dengan endodontic access.19
Crushing atau grinding tidak dianjurkan karena sampel tidak dapat digunakan
untuk mengevaluasi morfologi dan histologi dari gigi tersebut. Selain itu, sampel
gigi yang dihancurkan harus melalui beberapa proses dari dekasifikasi dan
purifikasi, sehingga sangat sedikit sampel DNA yang dapat diambil. Cara ini
dilakukan sebagai langkah terakhir, dimana dokumentasi lengkap dari morfologi
gigi termasuk foto dari bebagai sudut dan radiografi harus dilakukan sebelum
melakukan grinding.20
Vertikal splitting pada gigi sangat sering dilakukan. Metode ini digunakan
karena membantu dalam mengambil seluruh jaringan pulpal dengan kemungkinan
kecil terjadinya kontaminasi. Morfologi crown pada gigi dapat hilang dalam metode

7
ini. Splitting dilakukan menggunakan carborundum dics, dengan mengenakan
heavy-duty gloves, dan dilakukan dibawah protective cover karena serpihan-
serpihan kecil dapat mengenai mata, kulit, atau terhirup. Gigi harus dipegang secara
kuat atau dapat ditaruh pada dental stone, kemudian carborundum dics digunakan
untuk membelah gigi dari sudut incisal dengan pencucian secara berkala
menggunakan air bersih. Ketika pembelahan sudah mencapai kavitas pulpa,
pembelahan dilakukan dengan chisel untuk menghindari kerusakan panas dan
mekanis. Kemudian jaringan pada pulpa diambil dan dimasukkan ke dalam vial
Eppendorf, dan gigi yang telah dibelah dapat dilakukan pemeriksaan histologis.21
Horizontal splitting dilakukan dengam prosedur yang sama dan digunakan
untuk menjaga struktur dari mahkota pada gigi. Metode lainnya yaitu dengan
membuat lubang pada gigi untuk mengambil pulpa dengan menggunakan instrumen
yang sesuai.22

2.4.2. Metode Ekstraksi DNA


Setelah jaringan pada pulpa diambil dan dimasukkan ke dalam vial
Eppendorf, kemudian ditambahkan 1 ml air steril yang terdeionisasi, dan
disentrifuse sebanyak tiga kali pada interval 5 menit. Selanjutnya ditambahkan
buffer ekstraksi yang mengandung Tris HCl dan EDTA dan diinkubasi degan
proteinase K selama 18 jam. Kemudian dilakukan beberapa tahap sentrifuse dan
purifikasi untuk mendapatkan sedimen terakhir. Sedimen ini ditambahkan pada 1%
agarose gel dalam TBE (Tris HCl, Boric acid, dan EDTA) buffer dan disiapkan
untuk gel elektroforesis.23
Jaringan pulpa merupakan yang paling mudah untuk dianalisis, tapi pada
beberapa kasus, gigi dapat ditemukan tanpa memiliki pulpa atau endodontically
filled. Selain itu ada pulpa yang terkontaminasi oleh mikro-organisme yang
menyebabkan adanya nonhuman DNA pada sampel. Pada kasus-kasus tersebut
dentin dan cementum dapat digunakan sebagai sumber ekstraksi DNA.
Kemungkinan untuk menemukan nonhuman DNA pada jaringan yang terkalsifikasi
sangat kecil, kecuali pada kasus karies gigi.24 Sampel dentin dan cementum
didapatkan dengan menghancurkan bagian akar gigi baik sebagai bubuk dentin
murni atau bubuk dentin-cementum. Bubuk tersebut kemudian dilarutkan dan

8
disimpan dalam vial. Prosedur yang sama dilakukan seperti ekstraksi DNA pada
jaringan pulpa.25
Bubuk dentin merupakan sumber yang baik untuk menemukan mtDNA,
dimana mtDNA lebih berguna dibandingkan dengan nuclear DNA. mtDNA hanya
memiliki 37 gen dibandingkan dengan nuclear DNA yang memiliki hampir 20.000-
25.000 gen.26 Sel yang memiliki mtDNA yang banyak dapat bertahan dalam jangka
waktu yang lama dibandingkan dengan nuclear DNA. mtDNA merupakan DNA
maternal sehingga sangat baik untuk menentukan hubungan dan silsilah keluarga
sampai ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu.27

2.5. Penentuan Spesies berdasarkan Sampel Gigi


Langkah pertama dalam menentukan spesies adalah untuk menentukan apakah
bahan temuan tersebut adalah zat ogranik seperti tulang dan gigi atau bahan
anorganik seperti potongan plastic kecil yang telah terbakar dan menyerupai tulang.
Setelah dipastikan bahwa bahan bahan tersebut adalah gigi maka langkah
selanjutnya adalah menentukan spesiesnya. Ada beberapa langkah yang dapat
dilakukan untuk menentukan spesies dari gigi, salah satunya adalah melihat dari
morfologi gigi tersebut. Pada gigi yang utuh mudah dilakukan pengamatan
morfologi dan menentukan apakah gigi tersebut gigi manuasi atau bukan. Tetapi
pada kasus-kasus yang giginya terpecah menjadi fragmen, sulit untuk menentukan
spesies dari gigi tersebut. Misalnya pada fragmen mahkot atau akar saja yang sangat
mirip dengan sapi ataupun kambing. Oleh karena ituhampir mustahil untuk
melakukan pengamatan secara morfologis saja, perlu dilakukan pemeriksaan lebih
lanjut. Pemeriksaan lanjut yang dapat dilaksanakan adalah pemeriksaan
mikroskopis gigi dengan menggunakan mikroskop light transmission. Penampang
histologis dari gigi manusia diantaranya adalah osteon pada manusia akan
tersebebar secara meraa pada matrix dan tersusun secara rapi, circular dan beraturan
satu sama lain. Sedangkan pada hewan osteon tersebar secara irregular. Selain itu
juga pemeriksan lain yang dilaksanakan adalah biomolekuler dengaan
menggunakan DNA yang ditemukan pada sampel gigi. Namun pemeriksaan
biomolekuler sangat sensitif, sehingga mudah terdistraksi oleh degradasi dan
kalsifikasi tulang.31

9
2.6. Penentuan Usia berdasarkan Sampel Gigi
Usia merupakan salah satu hal yang perlu dicari tau untuk menentukan
identitas korban. Penentuan usia dapat juga dilakukan dengan menggunakan gigi.
Metode yang sering digunakan adalah sebagai berikut.
1. Metode Demirjian
Metode ini sering digunakan sejak tahun 1973 karena kemudahannya yang
hanya melibatkan tujuh gigi permanen bawah yaitu gigi insisivius satu, insisivus
dua, kaninus, premolar satu, premolar dua, molar satu dan molar dua. Dengan
menggunakan metode ini, dapat ditentukan usia korban dengan rentang 3-16 tahun.
Kelemahan metode ini ada pada subjektivitas interpretasi gambar rontgen dan
penggunaannya di populasi yang berbeda.
Metode ini berdasar kepada perkembangan dari tujuh gigi permanen bawah
melalui foto rontgen dengan batas delapan tahapan sehingga skor mulai dari A
hingga H. Delapan tahapan tersebut akan mewakili kalsifikasi masing masing gigi.
Penilaian giginya diubah ke dalam bentuk skor dengan tabel sesuai jenis kelamin.
Skor yang didapat dari masing masing gigi kemudian dijumlah dan dihitung pula
skor maturasinya. Lalu, skor maturasi bisa dikonversi ke dalam usia gigi dengan
menggunakan tabel konversi.28,29

10
Gambar 1. Tahap kalsifikasi gigi menurut metode Demirjian28

11
Tabel 1. Skoring menurut metode Demirjian29

12
Tabel 2. Konversi untuk laki-laki29

13
Tabel 3. Konversi untuk perempuan29

14
2. Metode Gustafson
Metode Gustafson merupakan metode yang menentukan usia berdasarkan
perubahan yang terjadi pada gigi. Skor yang diberikan adalah 0, 1, 2 dan 3. Tahapan
metode Gustafson ada enam yaitu derajat atrisi, jumlah dentin sekunder, posisi
perlekatan ginggiva, derajat resorpsi akar, transparansi dentin akar, dan ketebalan
sementum. Perubahan tersebut masing masing dijumlah dan dihitung engan
formula Y=3.52X+8.88 dimana X adalah hasil dari penjumlahan skor. Pada metode
ini, dapat terjadi error kurang lebih 4,5 tahun. Metode ini juga sering digunakan
untuk penentuan usia individu dewasa karena metode Gustafson menggunakan
pemeriksaan histologi. Walaupun metode ini memiliki standar error, metode
Gustafson digunakan sebagai standar keakuratan metode penentuan usia.28

Tabel 4. Skoring menurut metode Gustafson30

A0 = tidak ada atrisi A1 = atrisi email A2 = atrisi mencapai A3 = atrisi mencapai


(skor=0) (skor=1) dentin (skor=2) pulpa (skor=3)

S0 = tidak ada dentin S1 = dentin sekunder S2 = dentin sekunder S3 = dentin sekunder


sekunder (skor=0) mulai terbentuk atap mengisi setengah ruang mengisi seluruh ruang
kamar pulpa (skor=1) pulpa (skor=2) pulpa (skor=3)

P0 = tidak ada P1 = periodontosis mulai P2 = periodontosis terjadi P3 = periodontosis terjadi


periodontosis (skor=0) terlihat (skor=1) pada 1-3 gigi (skor=2) pada lebih dari 3 gigi
(skor=3)

C0 = lapisan sementum C1 = mulai terlihat C2 = lapisan sementum C3 = lapisan sementum


normal (skor=0) aposisi sementum terlihat menebal (skor=2) sangat tebal (skor=3)
(skor=1)

R0 = tidak ada resorpsi R1 = resorpsi akar mulai R2 = terjadi resorpsi akar R3 = terjadi resorpsi akar
akar (skor=0) terlihat (skor=1) yang cukup besar hingga mempengaruhi
(skor=2) dentin dan sementum
(skor=3)

15
Gambar 2. Gambaran perubahan jaringan gigi menurut metode
Gustafson28

2.7. Menentukan Jenis Kelamin berdasarkan Sampel Gigi


Penentuan jenis kelamin biasanya ditentukan berdasarkan penampilan
kranial, karena tidak ada perbedaan jenis kelamin yang terlihat dalam morfologi
gigi. Pemeriksaan mikroskopis gigi dapat mengidentifikasi jenis kelamin dengan
ada atau tidaknya Y-chromatin. Analisis DNA juga dapat mengungkapkan jenis
kelamin. Karena pola morfologis dapat berubah berdasarkan faktor waktu dan
eksternal, metode yang paling cocok dalam identifikasi jenis kelamin adalah dengan
analisis molekuler DNA. DNA yang diekstraksi dari gigi orang yang tidak
teridentifikasi dapat dibandingkan dengan sampel DNA antemortem.32
Kromosom Y mengandung F-bodies dan F-bodies ini dapat digunakan
untuk mengidentifikasi jenis kelamin. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk
mengidentifikasi F-bodies dari jaringan pulpa. Jaringan pulpa diwarnai dengan
quinacrine mustard yang spesifik untuk kromosom Y. Kromosom Y biasanya
berwarna lebih terang daripada kromosom lain ketika diwarnai dengan quinacrine

16
jika dilihat di bawah sinar ultraviolet. Ini disebabkan oleh zat alkilasi seperti
quinacrine yang bekerja pada bagian DNA yang kaya akan guanin dan ia
berakumulasi di situ.33
SRY yaitu Sex Determining Region “Y” Gene juga bisa dipakai untuk
menentukan jenis kelamin. Gen ini mengkode bagian protein Y yang bertanggung
jawab untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang laki-laki. Perempuan
memiliki 2X kromosom (46XX) dan laki-laki memiliki 1X dan 1Y kromosom
(46XY). Namun begitu, false positive dapat diperoleh dalam kasus tertentu seperti
mikrochimerisme ibu - janin dan jenis kelamin yang berbeda antara donor dan
penerima selama transplantasi. Jenis kelamin juga dapat diidentifikasi dengan
amplifikasi gen SRY menggunakan real-time PCR dari sel epitel terisolasi gigi
tiruan dan juga sel epitel yang melekat pada sikat gigi.33

2.8.Menentukan Ras berdasarkan Sampel Gigi


a. Mongoloid
Perbedaan ras lebih terlihat pada gigi permanen dibandingkan gigi sulung.
Ciri pembeda yang paling jelas gigi geligi Mongoloid terletak pada permukaan
lingual gigi insisif pada fusi dari lateral atau marginal ridge, sehingga membentuk
a raised cingulumdan membentuk deep lingual fossa. Ridge semakin menghilang
ke arah insisal sehingga memberi bentuk sekop (shovel/scoop). Kondisi ini
ditemukan pada sekitar 90% Mongoloids termasuk Eskimos dan American Indians.
Terkadang juga ditemukan groove pada permukaan lingual di margin
servikal sampai ke permukaan akar ,dan proyeksi cingulum “screw like / finger
like” terhadap ke margin insisal. Sering juga ditemukan, bagian
menonjol/prominent pada lingual marginal ridges yang memberi bentuk shovel-
shaped incisors meluas ke permukaan labial. Hal ini menyebabkan mesiodistal
concavity dari permukaan labial dan ini disebut sebagai double-shovel-shaped
incisor.
Bailit pada tahun 1975 menunjukan bahwa populasi keturunan Asia
memilki large upper lateral incisors bila dibandingkan dengan central incisors. Hal
ini dapat dilihat dari penelitian menunjukkan 19% pria Jepang memiliki gigi insisif
sentral lebih besar dari insisif lateral, sedangkan ras American Whites dan
Norwegian Lapps sebesar 33% dan 24% secara berurutan. Sebuah studi oleh

17
Yaccub dan Talib (1993) menemukan pada remaja&dewasa muda Malay, hanya
17% pria yang mesiodistal gigi insisif sentralnya lebih besar dari lateral, dan 13%
untuk wanita.
Dengan demikian, gigi insisif ras Mongoloid shows greater curvature
dibangingkan Caucasoid. Gigi kaninus merupakan gigi yang paling affected.
Premolar Mongoloids mungkin menunjukkan tubercle, biasanya pada buccal cusp,
scientifically disebut sebagai Dens evaginatus. Singaporean Chinese memiliki
bilateral five cusps pada gigi molar tiga atas dan 43% pada molar kedua. Sedangkan
pada gigi molar bawah, distal cusp biasanya terletak lebih lingual dibanding
caucasoid.
Ukuran dan panjang akar berkurang ke arah posterior dan terkadang dengan
akar distolingual tambahan pada gigi molar satu bawah dan molar tiga. Ini juga
ditemukan pada gigi molar dua sulung. Pada sebuah studi menggunakan gigi molar
mandibular Singapore Chinese yang telah diekstraksi, 7.9% gigi molar satu yang
diekstraksi memiliki akar distolingual, dan 3,7% terdapat pada gigi molar tiga.
Tidak ada ditemukan pada gigi molar dua. Pada studi yang lebih dahulu dilakukan
tahun 1971 pada Keewatin Eskimo, angka persentasi akar distolingual pada gigi
molar satu lebih tinggi lagi yaitu 19%.
Kebanyakan Mongoloid menunjukan anatomi akar lebih pendek, but the
root trunks are better developed. Taurodontism yang disebabkan oleh increased
growth of rooth trunk juga biasa ditemukan pada kaum Mongoloid. Sering juga
ditemukan perluasan enamel sampai ke bifurkasi akar. Lebih sering ditemukan pada
gigi molar mandibula dibandingkan dengan molar maksila dan lebih sering juga
pada permukaan bukal. Pada kasus kaum HongKong Chinese, 79% gigi molar
pertama yang terektraksi menunjukkan perluasan enamel ke bifurkasi akar.
Keberadaan enamel pearls, yang merupakan tonjolan di bagian akar gigi, tergolong
rendah.
Cusp of carabelli tidak biasa ditemukan pada kaum mongoloid. Jikapun ada,
it is usually a reduced form. Secara umum, ras Mongoloid memiliki lengkung
rahang eliptical, terutama pada rahang bawah dengan gigi inisif dan kaninus yang
besar, small premolars, dan molar yang besar dibelakang mereka.

18
b. Caucasoid
Kaum caucasoid biasanya mempunyai rahang berbentuk “v” yang sempit
sehingga seringkali menyebabkan crowding. Gigi anteriornya digambarkan sebagai
chisel-shaped memiliki permukaan lingual yang smaller dan smoother. Pada 37 %
kaum Caucasoid, ditemukan cusp of carrabeli dan merupakan salah satu ciri yang
dianggap menonjol dan paling jelas terlihat. Cusp ini ditemukan pada mesiopalatal
cusp gigi molar satu maksila permanen dan molar dua maksila sulung. Terkadang,
cusp of carrabeli dapat bervariasi bisa berbentuk pit, furrows, ataupun slight
protuberance.
gigi molar dua umumnya memiliki 4 cusp dan bukan 5, pada beberapa tipe ras. Ciri
ini ditemukan pada 94% Anglo-saxons yang diteliti oleh Lavelle.
Beberapa orang-orang central europeans memiliki wide-based prominent
cingulum pada permukaan lingual gigi insisifnya dibandingkan rolled smooth
continuum yang biasa ditemukan pada Europeans. Gigi yang demikian biasanya
adalah gigi insisif lateral maksila, dan bentuk reduced lateral incisors biasanya peg-
shaped. Shovel-shapedincisor terlihat diantara 30-36% populasi Danish dan
Swedish, 46% Palestine Arabs, dan 51% Indians. Menurut Lunt, gigi insisif lateral
maksila Europeans lebih cenderung berbentuk shovel-shaped.

c. Australoid
Ukuran rahang Australoids biasanya besar, dan juga diikuti dengan gigi
yang ukurannya besar. Gigi molarnya memiliki ukuran paling besar dari ras-ras
lainnya (biasa disebut megadont). Diameter mesiodistal gigi molar satu ras
Australoid 10% lebih panjang dari Norwegian Lapps dan White Americans.
Keberadaan premolar yang besar juga ditemukan, tapi gigi anteriornya relatif kecil
jika dibandingkan dengan gigi lainnya. Severe attrition merupakan hal yang umum
ditemukan pada ras ini merujuk pada edge-to-edge bite dan typical spatulate
anterior teeth. Ciri lain yang sering ditemukan adalah mesial drift. Shovel-shaped
incisors dan cusp of carabelli jarang ditemukan. Menurut Campbell, mungkin
ditemukan adanya enamel pearls pada akar dan gigi molar tiga mungkin missing.

19
d. Negroid
Gigi ras Negroid kecil dengan spacing, terutama pada midline diastema.
Terdapat kecenderungan yang tinggi adanya gigi supernumerari. Gigi premolar
mandibular memiliki dua cusp berbeda, bahkan kadang tiga. Biasanya tidak
ditemukan shovel-shaped incisor ataupun cusp of carabelli. Molar tiga selalu ada
dan jarang sekali impaksi. Maloklusi kelas 3 dan open-bite lebih umum pada
Negroid. Bimaxillary protusion dan kedua tulang alveolar maksila dan mandibula
protusi dengan incisor slanted labial. Mongoloid dan non-Anglo Caucasoids
mungkin menunjukkan ciri tersebut, namun lebih sering pada populasi kulit hitam.
20% kaum kulit hitam tidak memiliki ciri ini karena racial breeding (ras tidak
murni).

20
BAB III
KESIMPULAN

Odontologi forensik adalah cabang kedokteran gigi yang menangani


penanganan dan pemeriksaan bukti gigi yang tepat dan evaluasi serta presentasi
temuan gigi yang tepat demi kepentingan keadilan. Cabang disiplin ini berperan
penting dalam identifikasi jenazah manusia dalam beberapa insiden seperti bencana
alam, ledakan bom, serangan teroris, kecelakaan pesawat, kecelakaan lalu lintas dan
lainnya dimana kondisi jenazah ditemukan dalam kondisi yang tidak sempurna.
Gigi merupakan bagian tubuh terkuat pada manusia yang tidak akan rusak dan dapat
menahan daya ledak yang tinggi. Oleh karena itu, gigi merupakan salah satu
instrumen dalam identifikasi jenazah jika wajah atau sidik jari korban sudah hancur.
Dengan diketahui data gigi dapat dicocokkan dengan data ante mortem gigi pasien
dan diketahui siapa pemilik gigi tersebut. Pada gigi yang diketahui pemiliknya dan
data ante mortemnya juga dapat membantu menentukan usia dan jenis kelamin dari
pemilik gigi. Ditambah pada zaman modern ini, tes DNA dapat dilaksanakan untuk
menentukan siapa pemiliki gigi tersebut

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Budiyanto A, Widiatmika W, Sudiono S, Winardi T, Mun'im A, Hertian S et al.


Ilmu Kedokteran Forensik. 1st ed. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 1997.
2. Krishan K, Kanchan T, Garg A. Dental Evidence in Forensic Identification – An
Overview, Methodology and Present Status. The Open Dentistry Journal.
2015;9(1):250-256.
3. Ata-Ali J, Ata-Ali F. Forensic dentistry in human identification: A review of the
literature. Journal of Clinical and Experimental Dentistry. 2014;6(2):e162-7.
4. Higgins D, Austin J. Teeth as a source of DNA for forensic identification of human
remains: A Review. Science & Justice. 2013;53(4):433-441.
5. Girish, K., Rahman, F. and Tippu, S. Dental DNA fingerprinting in identification
of human remains. Journal of Forensic Dental Sciences, 2010;2(2):63.
6. R.C. Dobberstein, J. Huppertz, N. von Wurmb-Schwark, S. Ritz-Timme,
Degradation of biomolecules in artificially and naturally aged teeth: implications
for age estimation based on aspartic acid racemization and DNA analysis, Forensic
Science International 179 (2008) 181–191.
7. P.C. Malaver, J.J. Yunis, Different dental tissues as a source of DNA for human
identification in forensic cases, Croatian Medical Journal 44 (2003) 306–309.
8. L. Rubio, L.J. Martinez, E. Martinez, S. Martin de las Heras, Study of short- and
long-term storage of teeth and its influence on DNA, Journal of Forensic Sciences
54 (2009) 1411–1413.
9. D. De Leo, S. Turrina, M. Marigo, Effects of individual dental factors on genomic
DNA analysis, The American Journal of Forensic Medicine and Pathology 21
(2000) 411–415.
10. INTERPOL, Disaster Victim Identification Guide, 2009.
11. R. Trivedi, P. Chattopadhyay, V.K. Kashyap, A new improved method for
extraction of DNA from teeth for the analysis of hypervariable loci, The American
Journal of Forensic Medicine and Pathology 23 (2002) 191–196.
12. H. Mornstad, H. Pfeiffer, C. Yoon, A. Teivens, Demonstration and
semiquantification of mtDNA from human dentine and its relation to age,
International Journal of Legal Medicine 112 (1999) 98–100.

22
13. C. Yu, P.V. Abbott, An overview of the dental pulp: its functions and responses to
injury, Australian Dental Journal. Supplement 52 (1Suppl.) (2007) S4–S16.
14. Higgins D, Rohrlach AB, Kaidonis J, Townsend G, Austin JJ. Differential nuclear
and mitochondrial DNA preservation in post-mortem teeth with implications for
forensic and ancient DNA studies. PloS one. 2015 May 19;10(5):e0126935.
15. Rubio L, Santos I, Gaitan MJ, Martin de-las Heras S. Time-dependent changes in
DNA stability in decomposing teeth over 18 months. Acta Odontologica
Scandinavica. 2013 Jan 1;71(3-4):638-43.
16. Higgins D, Austin JJ. Teeth as a source of DNA for forensic identification of human
remains: a review. Science & Justice. 2013 Dec 1;53(4):433-41.
17. Loreille O, Diegoli T, Irwin J, Coble M, Parsons T. High efficiency DNA extraction
from bone by total demineralization. Forensic Science International: Genetics.
2007;1(2):191-195.
18. Higgins D, Kaidonis J, Austin J, Townsend G, James H, Hughes T. Dentine and
cementum as sources of nuclear DNA for use in human identification. Australian
Journal of Forensic Sciences. 2011;43(4):287-295.
19. Ata-Ali J, Ata-Ali F. Forensic dentistry in human identification: A review of the
literature. Journal of Clinical and Experimental Dentistry. 2014;:e162-7.
20. Sweet D, Hildebrand D. Recovery of DNA from human teeth by cryogenic
grinding. Journal of Clinical Forensic Medicine. 1999;6(2):117.
21. Manjunath B, Chandrashekar B, Mahesh M, Vatchala Rani R. DNA Profiling and
forensic dentistry – A review of the recent concepts and trends. Journal of Forensic
and Legal Medicine. 2011;18(5):191-197.
22. Pinchi V, Torricelli F, Nutini A, Conti M, Iozzi S, Norelli G. Techniques of dental
DNA extraction: Some operative experiences. Forensic Science International.
2011;204(1-3):111-114.
23. Bolnick D, Bonine H, Mata-Míguez J, Kemp B, Snow M, LeBlanc S.
Nondestructive sampling of human skeletal remains yields ancient nuclear and
mitochondrial DNA. American Journal of Physical Anthropology.
2011;147(2):293-300.
24. Lee Y, Liu J, Clarkson B, Lin C, Godovikova V, Ritchie H. Dentin-Pulp Complex
Responses to Carious Lesions. Caries Research. 2006;40(3):256-264.

23
25. Azlina A, Zurairah B, Ros SM, Idah MK, Rani SA. Extraction of mitochondrial
DNA from tooth dentin: application of two techniques. Archives of Orofacial
Sciences. 2011;6(1):09-14.
26. Garagnani P, Pirazzini C, Giuliani C, Candela M, Brigidi P, Sevini F et al. The
Three Genetics (Nuclear DNA, Mitochondrial DNA, and Gut Microbiome) of
Longevity in Humans Considered as Metaorganisms. BioMed Research
International. 2014;2014:1-14.
27. Foran D. Relative Degradation of Nuclear and Mitochondrial DNA: An
Experimental Approach*. Journal of Forensic Sciences. 2006;51(4):766-770.
28. Apriyono D. Metode Penentuan Usia Melalui Gigi dalam Proses Identifikasi
Korban. CDK-236. 2016;43(1).
29. Mundarang E. Perbedaan usia kronologis dan usia gigi pada anak usia 5 – 10 tahun
menggunakan metode demirjian [Sarjana]. Universitas Udayana; 2017.
30. Nehemia B. Prakiraan usia berdasarkan metode tci dan studi analisis histologis
ruang pulpa pada usia 9-21 tahun [Pascasarjana]. Universitas Indonesia; 2012.
31. Hillier, M.L. & Bell, L.S. Differentiating human bone from animal bone: a review
of histological methods, Journal of Forensic Science 2007;52(2):249–263.
32. Pretty I, Sweet D. A look at forensic dentistry – Part 1: The role of teeth in the
determination of human identity. British Dental Journal [Internet]. 2001 [cited 13
January 2019];190(7):361. Available from:
https://www.nature.com/articles/4800972
33. Sreeja C, Pratima D, Aesha I, Vijayabanu B, Ramakrishnan K, Sharma S. Sex
determination in forensic odontology: A review. Journal of Pharmacy and Bioallied
Sciences [Internet]. 2015 [cited 13 January 2019];7(6):398. Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4606628/

24