Anda di halaman 1dari 2

Papp

Kecepatan absorbs obat sangat dipengaruhi oleh keofisien partisi. Hal ini disebabkan
oleh komponen dinding usus yang sebagian besar terdiri dari lipida. Dengan demikian obat-
obat yang mudah larut dalam lipida akan dengan mudah melaluinya. Sebaliknya obat-obat yang
sukar larut dalam lipida akan sukar diabsorpsi. Obat-obat yang larut dalam lipida tersebut
dengan sendirinya memiliki koefisien partisi lipida-air yang besar, sebaliknya obat-obat yang
sukar larut dalam lipid akan memiliki koefisien partisi yang sangat kecil. Pada umumnya obat-
obat bersifat asam lemah atau basah lemah. Jika obat tersebut dilarutkan dalam air, sebagian
akan terionisasi. Besarnya fraksi obat yang terionkan tergantung pH larutannya. Obat-obat
yang tidak terionkan (unionized) lebih mudah larut dalam lipida, sebaliknya yang dalam bentuk
ion kelarutannya kecil atau bahkan praktis tidak larut, dengan demikian pengaruh pH terhadap
kecepatan absorpsi obat yang bersifat asam lemah atau basa lemah sangat besar.
Koefisien partisi minyak – air adalah suatu petunjuk sifat lipofilik atau hidrofobik dari
molekul obat. Lewatnya obat melalui membran lemak dan interaksi dengan makromolekul
pada reseptor kadang-kadang berhubungan baik dengan koefisien partisi oktanol / air dari obat
(Martin, dkk, 1990).
Lipofilitas molekul diukur dari nolai log P dengan P dinyatakan sebagai koefisien
partisi kelarutan dalam lemak/ air yang mempunyai rentang nilai -0,4 sampai 5 dan optimal
pada nilai log P – 3 (Husniati, dkk, 2008).
Beberapa obat mengandung gugus – gugus yang mudah mengalami ionisasi. Oleh
karena itu, koefisien partisi obat-obat ini pada pH tertentu sulit diprediksi terlebih jika
melibatkan lebih dari satu gugus yang mengalami ionisasi daripada gugus yang lain pada pH
tertentu.
Papp (app = apparent) merupakan tetapan permeabilitas yang nilainya bervariasi
terhadap pH. Jika suatu senyawa, asam atau basa mengalami ionisasi sebesar 50% (pH=pKa)
maka koefisisen partisinya setengah dari koefisien partisi obat yang tidak mengalami ionisasi
(Gandjar, dkk, 2007).
Persamaan tetapan permeabilitas :
𝑐 (1) 2.𝑟𝑙
ln =− x Papp
𝑐 (0) 𝑄

dimana :
C(0) = Kadar larutan obat mula-mula
C(1) = Kadar larutan obat setelah dialirkan melalui intestine sepanjang l cm
r = jari-jari usus
l = panjang usus dalam cm
Q = Kecepatan alir larutan obat dalam mL menit-1

Dari persamaan tersebut terlihat bahwa semakin besar nilai jari-jari dan panjang usus
maka nilai Papp yang diperoleh kecil (berbanding terbalik). Semakin rendah nilai Papp maka
permeabilitasnya rendah maka obat akan cepat keluar dan efek yang diinginkan tidak dicapai
sebaliknya jika nilai Papp semakin tinggi maka waktu obat didalam membran untuk diabsorbsi
semakin lama sehingga efek yang diinginkan dicapai.

Berdasarkan hasil percobaan didapat nilai Papp untuk CUB sebesar 0,0549 cm/menit
sedangkan untuk CLB sebesar 0,0109 cm/menit. Dari hasil tersebut ketika usus tikus dialiri
dengan CUB memiliki permeabilitas lebih tinggi dibanding dengan CLB, hal tersebut
menunjukkan bahwa absorbsi terbesar tejadi pada usus yang dialiri oleh CUB. Usus yang
memiliki pH basa lemah yang di aliri dengan CUB yang bersifat basa pula menyebabkan obat
masih dalam bentuk molekul sehingga mudah untuk diabsorbsi, sedangan ketika usus yang
memiliki pH basa yang dialiri CLB yang cenderung asam obat kan mengalami ionisasi
sehingga tidak dapat di absorbsi oleh usus.

Martin, Alfred, dkk, 1990, Farmasi Fisik. Dasar-dasar Farmasi Fisik Dalam Ilmu
Farmasetik, Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Gandjar, Ibnu Gholib, Abdul Rohman, 2007, Kimia Farmasi Anaisis, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta.

Husniati, dkk, 2008, Studi Bioaktivitas Dari Pengaruh Lipofilitas Senyawa Anti Kanker
Analog UK-3A Secara In-Vitro dan In-Silico, Teknologi Indonesia, Vol (I), No 31,
Hal. 57.