Anda di halaman 1dari 138

RANCANG BANGUN SISTEM KONTROL SUHU DAN

KELEMBABAN TANAH RUMAH KACA PADA BUDIDAYA

TANAMAN CABE MENGGUNAKAN METODA FUZZY

TUGAS AKHIR

DARMA PUTRA
BP. 1311012014

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

PROGRAM STUDI DIV TEKNIK ELEKTRONIKA

POLITEKNIK NEGERI PADANG


2017
RANCANG BANGUN SISTEM KONTROL SUHU, DAN
KELEMBABAN TANAH RUMAH KACA PADA BUDIDAYA
TANAMAN CABE MENGGUNAKAN METODA FUZZY

TUGAS AKHIR

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan

Dari Politeknik Negeri Padang

DARMA PUTRA

1311012014

PROGRAM STUDI TEKNIK DIV ELEKTRONIKA

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

POLITEKNIK NEGERI PADANG

2017
HALAMAN PERSETUJUAN

RANCANG BANGUN SISTEM KONTROL SUHU, DAN KELEMBAPAN


TANAH RUMAH KACA PADA BUDIDAYA TANAMAN CABE
MENGGUNAKAN METODA FUZZY

Oleh:

Darma Putra
BP: 1311012014

Program Studi DIV Teknik Elektronika Industri


Jurusan Teknik Elektro
Politeknik Negeri Padang

Pembimbing I Pembimbing II

Milda Yuliza, ST., MT Anton Hidayat, ST., MT


NIP: 196907071993032001 NIP:197610252004121002
HALAMAN PENGESAHAN

Tugas akhir yang berjudul “Rancang Bangun Sistem Kontrol Suhu dan

Kelembaban Tanah Rumah Kaca Pada Budidaya Tanaman Cabe Menggunakan

Metoda Fuzzy” ini telah disidangkan atau dipertanggungjawabkan di depan tim

penguji sebagai berikut, pada hari Kamis, 3 Oktober 2017 di Program Studi DIV

Elektronika Industri, Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Padang.

No Nama Jabatan Tanda Tangan

1 Ir. Suryadi, MT Ketua

NIP : 19600827 198883 1 002

2 Ir. Amril, MT Sekretaris

NIP : 19580715 198903 1 001

3 Yultrisna ST.,MT Anggota

NIP : 19700715 199512 2 001

4 Milda Yuliza ST.,MT Anggota

NIP : 19690707 199303 2 001

Mengetahui:

Ketua Jurusan Ketua Program Studi


Teknik Elektro DIV Elektronika Industri

Afrizal Yuhanef, ST.,M.Kom Ir. Suryadi, MT


NIP. 19640429 199003 1 001 NIP. 19600827 198883 1 002

NIP.19681005 199303 1001


Alhamdullilah, alhamdlillah hirabbil' alamin,,, puji syukur kehadirat ALLAH SWT yang
telah memberikan rahmat dan karunia Nya sehingga saya bisa menyelesaikan tugas akhir ini.
Secercah harapan yang tak terhitung bahagianya... Skripsi ini ku persembahkan kepada Kedua
orangtuaku.. Ayahanda( Husen Hawer) dan Ibunda (Darmayeti) yang telah memeberikan kasih
sayang, pengorbananya dan semangat untukku sehingga bisa menyelesaikan Tugas Akhir ini..
Terimakasih buat nenek dan kakek ku yg ada maupun yg telah berada di Surga Mu.. Terimakasih
kepada Kakakku (Asra Hayti)

Terima kasihku kepada pembimbing dan penguji. Ibuk Milda Yuliza ,ST,.MT , Bapak
Anton Hidayat ST.,MT , Bapak Ir. Suryadi, MT, Bapak Ir Amril, MT , dan Ibuk Yultrisna
,ST,.MT yang telah memeberikan bimbingan dan masukan kepada saya Semoga jasa beliau dibalas
si surga Mu ya Robb… Terima kasih kepada teman-teman D4 EC 13 (Nilam, Arsman, Chan,
Hanif, Amry, Vicky, Robert, Trisno, Deden, Ferdi, Nanda, Caca, Ilham, Fadly, Fauzan, Rita,
Raka, Akbar, Yori, Rindi, Fariz, Arif, Bg Syahrul, Bg Riyan) sukses selalu buat kalian … Terima
kasih kepada abang-abang, kakak-kakak dan adik-adik keluarga besar D4 EC yang telah
membantu dan Mendoakan kelancaran penulis mulai dari awal pembuatan sampai selesainya tugas
akhir ini. Terimakasih kepada Rahmi Feryma yang telah banyak memberikan semangat sampai
sekarang ini.

Terima Kasih Atas Dukungan Dan Semangatnya ……

Semoga Kita Menjadi Orang-Orang yang Sukses…… Amiiin

Thankyou for all


ABSTRAK
Masalah utama yang didapatkan para petani dalam membibitkan suatu
tanaman adalah pengaruh dari kondisi lingkungan luar yang tidak stabil, kondisi
lingkungan yang tidak stabil dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu
dan mudah terserang penyakit. Suhu yang ideal untuk pembibitan cabe merah
adalah 25oC sampai 27oC, untuk kelembaban tanah drainase dan aerasi harus terjaga
selama pertumbuhan, tanaman cabe merah dapat tumbuh dengan baik pada
kelembaban 50% sampai 70%.
Pembudidayaan tanaman pada rumah kaca dapat menjaga proses
pembibitan, karena tanaman dapat di budidayakan sesuai dengan Stadart
Operasional Prosedure (SOP). Para petani pada umumnya dalam melakukan
pembibitan tanaman cabe merah dikerjakan secara tradisional. Pada proses kontrol
suhu dan kelembaban tanah ini sistem dapat dikerjakan secara otomatis, dimana
dapat mempermudah pekerjaan petani dalam membibitkan tanaman dari kondisi
lingkungan luar yang tidak menentu.
Dari pengukuran yang telah dilakukan dapat di ambil kesimpulan persentase
error rata rata suhu dari setpoint yang telah ditetapkan pada waktu pagi hari sebesar
2,48%, pada siang hari sebesar 9,79% dan pada malam hari sebesar 1,93%.
Kemudian setiap penambahan 1 detik penyiraman, kelembaban tanah naik 0,067%.

Kata Kunci (Key Word) : Rumah Kaca, Suhu, dan Kelembaban Tanah

i
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat ALLAH SWT yang telah

melimpahkan Rahmat dan Karunia-NYA kepada penulis sehingga penulis dapat

menyelesaikan laporan tugas akhir dengan judul “Rancang Bangun Sistem

Kontrol Suhu, dan Kelembapan Tanah Rumah Kaca Pada Budidaya

Tanaman Cabe Menggunakan Metoda Fuzzy”. Shalawat dan salam teruntuk

Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya yang telah memberikan

teladan kepada umatnya juga kepada kita generasi penerusnya yang istiqomah

berada dijalan-Nya.

Penyusunan laporan ini bertujuan untuk diajukan sebagai salah satu syarat

dalam menyelesaikan Jenjang Pendidikan Diploma IV di Politeknik Negeri Padang.

Selama penyelesaian tugas akhir dan penyusunan laporan ini, penulis sangat

banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, untuk itu penulis

ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Orang Tua dan seluruh keluarga yang telah memberikan dukungan, do’a

dan pengorbanannya kepada Penulis, baik berupa materil maupun spiritual.

2. Bapak Aidil Zamri, ST.,MT, selaku Direktur Politeknik Negeri Padang.

3. Bapak Afrizal Yuhanef, ST.,M.Kom selaku Ketua Jurusan Elektro

Politeknik Negeri Padang.

4. Bapak Suryadi,ST.,MT selaku Kepala Program Studi D IV Elektronika

Industri Politeknik Negeri Padang.

ii
5. Ibu Milda Yuliza, ST.,MT selaku dosen pembimbing I Tugas Akhir yang

telah banyak memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam

pembuatan dan penyelesaian laporan ini.

6. Bapak Anton Hidayat, ST.,MT selaku dosen pembimbing II Tugas Akhir

yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis

dalam pembuatan dan penyelesaian laporan ini.

7. Bapak dan Ibu dosen yang mengajar beserta Teknisi, dan staf Administrasi

di Politeknik Negeri Padang khususnya Jurusan Elektronika, yang sudah

membantu penulis dalam pembuatan Tugas Akhir.

8. Serta Rekan-rekan mahasiswa khususnya kelas DIV EC dan mahasiswa lain

terima kasih atas bantuan, masukan, dan semangat serta kebersamaannya.

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan laporan ini masih banyak

terdapat kekurangan-kekurangan yang penulis miliki, untuk itu penulis

mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kemajuan ilmu pengetahuan.

Semoga laporan ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya.

Padang, 28 September 2017

Darma Putra

ii
DAFTAR ISI

ABSTRAK ................................................................................................................ i

KATA PENGANTAR .............................................................................................. ii

DAFTAR ISI ........................................................................................................... viii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. ix

DAFTAR TABEL ...................................................................................................... xi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ................................................................................ 1

1.2 Perumusan Masalah ........................................................................ 3

1.3 Batasan Masalah.............................................................................. 3

1.4 Tujuan ............................................................................................. 4

1.5 Manfaat ........................................................................................... 4

1.6 Metode Tugas Akhir ....................................................................... 5

1.7 Sistematika Penulisan .................................................................... 6

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Rumah Kaca (Green House) .......................................................... 7

2.2 Faktor External Pertumbuhan Tanaman.......................................... 11

iii
2.2.1 Nutrisi................................................................................... 11

2.2.2 Air ....................................................................................... 12

2.2.3 Cahaya ................................................................................. 12

2.2.4 Suhu .................................................................................... 13

2.2.5 Kelembaban ......................................................................... 13

2.3 Mikrokontroller Arduino ................................................................. 14

2.3.1 Board Arduino ..................................................................... 15

2.3.2 Penyemat ............................................................................. 16

2.4 Sensor dan Tranduser ..................................................................... 18

2.4.1 Sensor Suhu LM35 .............................................................. 19

2.4.2 Sensor Soil Moisture ........................................................... 21

2.5 LCD 20 x 4 ..................................................................................... 23

2.6 Relay ............................................................................................. 24

2.7 Pompa Air Celup ............................................................................ 26

2.8 Motor DC ....................................................................................... 28

2.9 Catu Daya ....................................................................................... 30

2.9.1 Dioda Penyearah Geombang Penuh ................................... 31

iv
2.9.2 Transistor Penguat Arus ...................................................... 32

2.9.2 Rangkaian Regulator ........................................................... 33

2.10 Sistem Kendali Digital ................................................................... 34

2.10.1 Sistem Kendali Close Loop ............................................... 35

2.10.1 Karakteristik Sistem Orde 1 .............................................. 37

2.11 Fuzzy Logic .................................................................................... 38

2.11.1 Fuzzifikasi .......................................................................... 40

2.11.2 Inferensi .............................................................................. 41

2.11.3 Defuzzifikasi ...................................................................... 42

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT

3.1 Blok Diagram ................................................................................. 44

3.1.2 Fungsi Blok Diagram .......................................................... 45

3.2.2 Prinsip Kerja ....................................................................... 46

3.2 Perancangan dan Pembuatan Perangkat Keras ................................ 47

3.2.1 Perancangan dan Pembuatan Rangkaian Sensor Suhu ....... 47

3.2.2 Perancangan dan Pembuatan Rangkaian Kelembaban T ... 48

3.2.3 Perancangan dan Pembuatan Rangkaian LCD 20 x 4 ........ 49

v
3.2.4 Perancangan dan Pembuatan Rangkaian Relay Pompa ...... 50

3.2.5 Perancangan dan Pembuatan Rangkaian Driver Motor ...... 52

3.2.6 Perancangan dan Pembuatan Rangkaian Power Supply .... 53

3.2.7 Perancangan dan Pembuatan Rangkaian Keseluruhan ....... 55

3.3 Perancangan dan Pembuatan Perangkat Lunak............................... 57

3.3.1 Flowchart Sistem ................................................................ 57

3.3.2 Algoritma Logika Fuzzy .................................................... 58

3.3.3 Rancangan Fuzzy Logic ..................................................... 59

3.4 Perancangan Mekanik .................................................................... 65

3.4.1 Perancangan Mekanik Keseluruhan .................................. 65

3.4.2 Spesifikasi Alat ................................................................. 67

3.4.3 Cara Mengoperasikan Alat ................................................ 67

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA DATA

4.1 Pengujian dan Analisa Rangkaian ................................................... 65

4.1.1. Pengujian Rangkaian Power Supply ................................... 65

4.1.2. Pengujian Mikrokontroller .................................................. 71

4.1.3. Pengujian Rangkaian Relay ................................................ 72

vi
4.1.4. Pengujian Rangkaian Driver ............................................... 74

4.2 Pengujian dan Analisa Sensor ........................................................ 75

4.2.1. Linierisasi Regresi Sensor LM35 ......................................... 76

4.2.2. Linierisasi Regresi Sensor Soil Moisture YL-39 .................. 78

4.3 Pengujian dan Analisa Sensor Pada Alat ....................................... 79

4.3.1. Perbandingan Suhu Rumah Kaca Dengan Termometer ....... 80

4.3.2. Perbandingan Sensor Kelembaban Tanah Dengan Soil T .... 82

4.4 Pengujian dan Analisa Alat ............................................................ 84

4.4.1. Pengukuran Suhu Maksimal dan Minimal Pada Alat........... 84

4.4.2. Pengaruh Kelembaban Tanah Terhadap Lama Penyiraman 90

4.5 Pengujian dan Analisa Algoritma Fuzzy ........................................ 91

4.5.1. Kendali Suhu Menggunakan Algoritma Fuzzy ..................... 94

4.5.2. Perbandingan Suhu Rumah Kaca Dengan Kelembaban T . 100

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan ................................................................................... 104

4.5 Saran ............................................................................................. 105

DAFTAR PUSTAKA

vii
LAMPIRAN A

LAMPIRAN B

LAMPIRAN C

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Rumah Kaca (Green House) .................................................................................... 7


Gambar 2 Penyemat IC Arduino ............................................................................................. 17
Gambar 3 Arduino Mega 2560 ............................................................................................... 18
Gambar 4 Fisik Sensor Suhu LM35......................................................................................... 19
Gambar 5 Skematik Sensor Suhu LM35 ................................................................................. 20
Gambar 6 Sensor Soil Moisture .............................................................................................. 22
Gambar 7 LCD 20 x 4 ............................................................................................................. 24
Gambar 8 Relay ....................................................................................................................... 25
Gambar 9 Skema Relay Elektromagnetik ............................................................................... 26
Gambar 10 Pompa Air Listrik ................................................................................................. 27
Gambar 11 Bagian Motor DC ................................................................................................. 30
Gambar 12 Blok Diagram Power Supply ............................................................................... 30
Gambar 13 Rangkaian Dioda Penyearah Gelombang AC ....................................................... 31
Gambar 14 Rangkaian Penguat Arus ...................................................................................... 33
Gambar 15 Rangkaian Regulator ............................................................................................ 34
Gambar 16 Grafik Sinyal Analog Dan Digital ........................................................................ 35
Gambar 17 Blok Kendali Close Loop ...................................................................................... 36
Gambar 18 Respon Orde Satu ................................................................................................. 38
Gambar 19 Tahap Pemodelan Dalam Logika Fuzzy ............................................................... 39
Gambar 20 Blok Diagram Sistem ............................................................................................ 42
Gambar 21 Perancangan Rangkaian Power Supply ................................................................ 44
Gambar 22 Rangkaian Keseluruhan ........................................................................................ 47
Gambar 23 Blok Diagram Pengukuran Suhu........................................................................... 48
Gambar 24 Perancangan Rangkaian Sensor Suhu .................................................................. 49
Gambar 25 Blok Diagram Pengukuran Kelembaban Tanah ................................................... 49
Gambar 26 Perancangan Rangkaian Sensor Soil Moisture ..................................................... 50
Gambar 27 Blok Diagram LCD Display ................................................................................. 51
Gambar 28 Perancangan Rangkaian LCD ............................................................................... 51
Gambar 29 Blok Diagram Pompa Air Listrik ......................................................................... 52
Gambar 30 Perancangan Rangkaian Relay Pompa Air Listrik ............................................... 52
Gambar 31 Blok Diagram Relay.............................................................................................. 53
Gambar 32 Perancangan Rangkaian Driver ............................................................................. 53

ix
Gambar 33 IC L298D .............................................................................................................. 54
Gambar 34 Rancangan Rangkaian Keseluruhan ..................................................................... 55
Gambar 35 Flowchart Sitem .................................................................................................... 56
Gambar 36 Tahapan Algoritma Fuzzy .................................................................................... 57
Gambar 37 Fungsi Keanggotaan Error .................................................................................... 58
Gambar 38 Fungsi Keangotaan Delta Error ............................................................................ 59
Gambar 39 Fungsi Keangotaan Output PWM ........................................................................ 59
Gambar 40 Box Supply............................................................................................................ 63
Gambar 41 Badan Rumah Kaca .............................................................................................. 68
Gambar 42 Bak Penampung Air ............................................................................................. 69
Gambar 43 Desain Rumah Kaca Keseluruhan ........................................................................ 67
Gambar 44 Titik Pengukuran Catu Daya ................................................................................ 70
Gambar 45 Titik Pengukuran Relay ....................................................................................... 73
Gambar 46 Titik Pengukuran Rangkaian Driver .................................................................... 74
Gambar 47 Grafik perbandingan Suhu Pada Termometer Dengan Sensor LM35 ................. 81
Gambar 48 Grafik Perbandingan Soil Tester Dengan Sensor Soil Moisture YL-39 .............. 83
Gambar 49 Grafik Perbandingan Termometer Dengan Sensor LM35 di Pagi Hari ............... 85
Gambar 50 Grafik Perbandingan Termometer Dengan Sensor LM35 di Siang Hari ............ 87
Gambar 51 Grafik Perbandingan Termometer Dengan Sensor LM35 di Malam Hari .......... 89
Gambar 52 Gambar Fungsi Keanggotaan Error ..................................................................... 91
Gambar 53 Gambar Fungsi Keanggotaan Delta Error ........................................................... 92
Gambar 54 Gambar Fungsi Output Kecepatan Fan ............................................................... 92
Gambar 55 Grafik Suhu Dalam Rumah Kaca di Pagi Hari ................................................... 95
Gambar 56 Grafik Suhu Dalam Rumah Kaca di Siang Hari ................................................. 96
Gambar 57 Grafik Suhu Dalam Rumah Kaca di Malam Hari ............................................... 98

x
Daftar Tabel

Tabel 1. Koneksi Pin Sensor LM35 Ke Mikrokontroller ....................................................... 49


Tabel 2. Koneksi Pin Sensor Soil Moisture Ke Mikrokontroller ............................................ 50
Tabel 3. Konfigurasi Hubungan Pin LCD Ke Mikrokontroller .............................................. 51
Tabel 4. Konfigurasi Hubungan Pin Relay Ke Mikrokontroller.............................................. 53
Tabel 5. Konfigurasi Hubungan Pin Driver Ke Mikrokontroller ............................................ 54
Tabel 6. Pengukuran Catu Daya .............................................................................................. 70
Tabel 7. Pengujian Mikrokontroller ......................................................................................... 72
Tabel 8. Pengukuran Rangkaian Relay .................................................................................... 73
Tabel 9. Tegangan Pada Pin Output Driver ............................................................................. 75
Tabel 10. Pengukuran Data ADC Pada Sensor LM35 ............................................................ 76
Tabel 11. Pengukuran Data ADC Pada Sensoe Soil Moisture YL-39 .................................... 78
Tabel 12. Perbandingan Suhu Termometer Dengan Sensor LM35 ......................................... 80
Tabel 13. Perbandingan Soil Tester Dengan Sensor Soil Mositure YL-39 ............................. 82
Tabel 14. Suhu Maksimal dan Minimal Rumah Kaca di Pagi Hari......................................... 84
Tabel 15. Suhu Maksimal dan Minimal Rumah Kaca di Siang Hari....................................... 86
Tabel 16. Suhu Maksimal dan Minimal Rumah Kaca di Malam Hari .................................... 88
Tabel 17. Perubahan Kelembaban Tanah Berdasarkan Lama Penyiraman ............................. 90
Tabel 18. Basis Aturan Logika Fuzzy ..................................................................................... 93
Tabel 19. Keterangan Fungsi Keanggotaan ............................................................................. 93
Tabel 20. Suhu Dalam Rumah Kaca di Pagi Hari ................................................................... 94
Tabel 21. Suhu Dalam Rumah Kaca di Siang Hari ................................................................. 95
Tabel 22. Suhu Dalam Rumah Kaca di Malam Hari ............................................................... 97
Tabel 23. Pengujian Kelembaban Tanah di Pagi Hari ........................................................... 100
Tabel 24. Pengujian Kelembaban Tanah di Siang Hari ......................................................... 101
Tabel 25. Pengujian Kelembaban Tanah di Malam Hari ....................................................... 102

xi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Rumah kaca atau sering disebut dengan istilah (greenhouse) adalah

sebuah bangunan yang terbuat dari kaca atau plastik yang memudahkan sinar

matahari masuk ke dalam rumah kaca tersebut, sehingga kondisi lingkungan di

rumah kaca dapat dimanipulasi agar tanaman di dalamnya dapat berkembang

optimal serta melindungi tanaman dari kondisi iklim yang merugikan bagi

pertumbuhan tanaman. Menurut Muhammad Taufik, (2013) Pengendalian

terhadap temperatur dan kelembaban tanah untuk budidaya tanaman cabe

sangat penting agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Para petani pada umum

nya dalam melakukan pembibitan cabe merah dikerjakan secara tradisional,

yang mana suhu, dan kelembaban tanah tidak dapat dikontrol.

Untuk jenis tumbuhan cabe merah kestabilan temperatur dan kelembaban

tanah mutlak diperlukan agar tidak mengalami masalah pada perkembangan

tanaman ketika proses pertumbuhan, mulai dari penyemaian benih sampai bisa

di pindah kan ke lapangan. Budidaya tamanan cabe pada rumah kaca sangat

bagus, karena lingkungan pada rumah kaca (suhu dan kelembaban) dapat di

manipulasi sesuai dengan kebutuhan tanaman cabe merah. Suhu yang ideal

untuk pertumbuhan cabe merah adalah 250C – 270C dengan batas suhu

minimum 18 0C dan batas suhu maksimum 30 0C, untuk kelembaban tanah

drainase dan aerasi harus terjaga selama pertumbuhan (Balai Perlindungan

Tanaman Pangan dan Hortikultura Padang, 2014). Tanaman cabe merah dapat

tumbuh dengan baik dengan kelembaban tanah pada range 50% - 70%,

1
2

kelembaban tanah yang berlebihan dapat menyebabkan perakaran terserang

penyakit dan terjadi pembusukan akar (Andi Chairunnas, S.Kom, M.Pd, 2012).

Otomatis budidaya tanaman cabe merah pada rumah kaca akan mengghasilkan

bibit tanaman cabe merah yang lebih bagus karena tanaman dapat di

budidayakan sesuai dengan SOP (Standart Operasional Prosedure).

Dalam proses pembuatan iklim buatan melibatkan peralatan elektronik

yang dapat bekerja bersama-sama untuk mendapatkan kondisi lingkungan

dalam rumah kaca sesuai kebutuhan. Suhu, dan kelembapan tanah harus

dikontrol dengan baik, begitu juga dengan hama dan penyakit yang bisa

mengganggu kelangsungan hidup tumbuhan. Dengan adanya perangkat

pengendalian suhu, dan kelembapan tanah pada rumah kaca ini diharapkan akan

mengoptimalkan pemanfaatan rumah kaca sebagai media untuk

membudidayakan tanaman cabe merah, sehingga tanaman dapat mengalami

perkembangan yang baik serta menghasilkan produksi yang baik pula.

Beberapa penelitian yang telah dilakukan untuk mengontrol suhu dan

kelembaban tanah:

1. Pada tahun 2015, Jimmi Martin melakukan penelitian mengenai kendali

ph dan kelembaban tanah berbasis logika fuzzy menggunakan

mikrokontroller. Pada penelitian ini pompa menyala sesuai dengan

keputusan yang dibuat yaitu banyak, sedikit, sedikit, dan sedang.

Kelembaban tanah yang didapatkan dalam pengujian antara 30 % - 60

%.

2. Pada tahun 2016, Rancang Bangun Alat Pengendali Suhu Dan

Kelembaban Relatif Pada Rumah Kaca Dengan Informasi Berbasis


3

Web. Pada Penelitian ini dalam penurunan suhu menggunakan pompa

fog cooling, suhu tidak dapat diturunkan sesuai target yang diharapkan

yaitu 30 oC.

Berdasarkan uraian di atas, maka judul penelitian ini berjudul “Rancang

Bangun Sistem Kontrol Suhu, dan Kelembapan Tanah Rumah Kaca Pada

Budidaya Tanaman Cabe Menggunakan Metoda Fuzzy”.

1.2 Perumusan Masalah

1. Bagaimana cara merancang sistem dan monitoring suhu, dan

kelembaban tanah pada rumah kaca ?

2. Bagaimana membuat sebuah sistem yang dapat bekerja secara optimal

sehingga dapat di aplikasi kan pada pembibitan tanaman cabe merah?

3. Bagaiamana sistem mengontrol suhu, dan kelembaban tanah pada

rumah kaca sesuai dengan set point yang telah ditentukan?

4. Bagaimana sistem dapat menjaga kondisi rumah ramah kaca agar tetap

stabil terhadap kondisi lingkungan luar ?

1.3 Batasan Masalah

1. Alat dibuat dalam bentuk prototype rumah kaca dengan ukuran 80 cm x 40

cm x 75 cm dengan jarak antar polybag di dalam rumah kaca yaitu 5cm,

sebanyak 10 buah.

2. Sistem yang di kontrol pada rancang bangun ini yaitu suhu, dan kelembaban

tanah.

3. Suhu yang dikontrol untuk dijadikan setpoint adalah 270C dengan nilai suhu

minimal adalah 180C dan nilai suhu maksimal 300C dan kelembaban tanah

yang dikontrol yaitu 50% - 70%.


4

4. Penstabil suhu didalam prototype rumah kaca menggunakan motor fan

sebanyak 3 buah.

1.4 Tujuan

1. Membuat sistem kontrol suhu, dan kelembaban tanah pada rumah kaca.

2. Membuat sebuah alat yang bisa mengontrol lahan pembibitan cabai

sehingga pertumbuhan bibit cabe tetap baik walau kondisi lingkungan luar

tidak menentu.

3. Mengaplikasikan mikrokontroler sebagai pembaca serta pemroses data dari

sensor sehingga didapat kondisi lingkungan yang bagus untuk pembibitan

cabe.

1.5 Manfaat

1. Dengan adanya alat ini mempermudah kerja masyarakat di bidang pertanian

khusus nya dibidang pembibitan tanaman, dimana suhu, dan kelembaban

tanah pada tanaman dapat dikontrol sesuai dengan kebutuhan tanaman.

2. Dari Tugas Akhir ini diharapkan sistem dapat melakukan manipulasi

lingkungan untuk melindungi tanaman dari hal-hal yang tidak

diinginkan dari lingkungan luar sehingga pembibitan tanaman menjadi lebih

efektif.

3. Supaya pembibitan tanaman pada rumah kaca mendapatkan kan hasil bibit

tanaman yang tetap baik walau kondisi lingkungan luar yang tidak menentu,

dan hasil dari tanaman menjadi lebih baik pula.


5

1.6 Metode Tugas Akhir

1. Studi literatur

Studi literatur yang dilakukan yaitu dengan mencari jurnal – jurnal dan

bahan – bahan yang berhubungan dengan Tugas Akhir.

2. Pembuatan proposal

Pembuatan proposal untuk menjelaskan maksud, tujuan, dan rancangan dari

Tugas Akhir yang akan dibuat.

3. Seminar proposal

Seminar proposal dilakukan untuk menjelaskan maksud, tujuan dan

rancangan Tugas Akhir kepada penguji sehingga nanti terdapat koreksi dan

tambahkan terhadap kekurangan.

4. Diskusi Dengan Pembimbing

Melakukan diskusi dengan dosen pembimbing dan orang-orang yang

mengerti dalam bidang tersebut.

5. Perancangan dan pembuatan

Merancang dan membuat alat.

6. Pengukuran, pengujian dan analisis

Setelah perancangan dan pembuatan alat selesai maka dilakukan

pengukuran, pengujian terhadap alat dan selanjutnya dilakukan analisis.

7. Membuat kesimpulan

Pengambilan kesimpulan dilakukan dengan melihat hasil dari pengujian alat

yang telah dilakukan


6

1.7 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan yang dalam Tugas Akhit ini adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi Latar Belakang, Perumusan Masalah, Batasan Masalah,

Tujuan, Metode Tugas Akhir dan Sistematika Penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI

Bab ini membahas tentang teori-teori dasar yang mendukung dalam

pembuatan tugas akhir.

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT

Menjelaskan tentang prosedur perancangan hardware yang dibutuhkan,

pembuatan mekanik, pembuatan dan perancangan software yaitu pembuatan

pemograman pengendaliannya.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengumpulan data dan analisa memuat hasil – hasil percobaan dan analisa

dalam melakukan pengujian yang dilakukan serta analisa secara teoritisnya.

BAB V: PENUTUP

Merupakan bab penutup yang meliputi kesimpulan dan saran.

DAFTAR PUSTAKA
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Rumah Kaca (Greenhouse)

Rumah kaca memiliki bentuk yang menyerupai dengan rumah-rumahan

yang tertutup dan transparan yang bisa ditembus oleh cahaya matahari. Lalu cahaya

matahari dimanfaatkan untuk menanam tanaman agar tanaman tersebut tumbuh

secara optimal tanpa dipengaruhi adanya iklim luar. Untuk tujuan tersebut, rumah

kaca sebaiknya mempunyai transmisi cahaya yang tinggi, konsumsi panas yang

rendah, ventilasi yang cukup dan efisien, struktur yang kuat, kontruksi, dan biaya

operasional yang murah serta berkualitas tinggi

Kaca yang digunakan untuk rumah kaca bekerja sebagai medium transmisi

yang dapat memilih frekuensi spektral yang berbeda-beda. Tujuannya adalah untuk

menangkap energi di dalam rumah kaca yang akan memanaskan tumbuhan dan

tanah di dalamnya, serta memanaskan udara yang ada di dekat tanah. Udara ini

kemudian dicegah agar tidak naik ke atas dan mengalir keluar. Oleh karena itu,

rumah kaca bekerja dengan menangkap radiasi elektromagnetik dan mencegah

konveksi (Agrobisnis Pertanian Modern, 2010).

Gambar 1. Rumah Kaca (Green House)

7
8

Rumah kaca merupakan media yang digunakan untuk mengendalikan dan

menjaga keadaan iklim, serta lingkungan di dalam suatu ruangan atau bisa disebut

dengan iklim buatan untuk menjaga kelembapan udara, tanah, suhu, dan intensitas

cahaya. Sehingga besarnya suhu, tingkat kelembapan, dan kadar asam dalam tanah

di dalam rumah kaca tersebut akan berbeda dengan kondisi suhu, kelembapan, dan

tanah diluarnya. Beberapa parameter yang diperhatikan didalam rumah kaca,

diantaranya adalah suhu ruangan, suhu tanah, kelembapan udara, pengairan,

pemupukan, dan pergerakan sirkulasi udara (ventilasi). Rumah kaca untuk daerah

beriklim tropis sangat memungkinkan dan mempunyai banyak keuntungan dalam

produksi dan budidaya tanaman. Produksi dapat dilakukan sepanjang tahun tanpa

dipengaruhi perubahan cuaca, dimana produksi dalam lahan yang terbuka tidak

memungkinkan karena adanya berbagai faktor yang tidak menunjang dalam

budidaya tanaman seperti curah hujan yang terlalu tinggi, suhu yang ekstrim, angin

yang kencang, dan berbagai factor lainnya.

Manfaat apa saja yang didapat jika menggunakan green house , hal ini dapat

dijelaskan sebagai berikut :

1. Pengaturan jadwal produksi.

Dunia pertanian kita masih demikian tergantungnya pada keadaan

cuaca, bila terjadi perubahan musim, apalagi bila tidak terprediksi akan

menyebabkan sulitnya menentukan jenis tanaman yang akan diproduksi.

Jika musim hujan terlalu panjang akan menyebabkan banyaknya penyakit

termasuk pembusukan akar. Jika musim terlalu kering akan menyebabkan

tanaman kekurangan air, hama juga akan menyerang yang dapat

menimbulkan kerugian. Demikian pula pada saat tertentu suatu komoditas


9

sulit ditemui mengakibatkan harganya demikian tinggi, sementara pada

waktu lain kebanjiran produk menyebabkan harga anjlok, sehingga

kerugian segera tiba.

Untuk itu perlu sekali mengurangi ketergantungan pada lingkungan

luar menggantikan dengan mikroklimat yang diatur. Dengan demikian

dapat dijadwalkan produksi secara mandiri dan berkesinambungan.

Sehingga konsumen tidak perlu kehilangan komoditas yang dibutuhkan,

juga kita tidak perlu membanjiri pasar dengan jenis komoditas yang sama

yang menyebabkan harga anjlok.

2. Meningkatkan hasil produksi

Pada luasan areal yang sama tingkat produksi budidaya di dalam

green house lebih tinggi dibandingkan di luar green house. Karena budidaya

di dalam green house kondisi lingkungan dan pemberian hara dikendalikan

sesuai kebutuhan tanaman. Gejala hilangnya hara yang biasa terjadi pada

areal terbuka seperti pencucian dan fiksasi, di dalam green house

diminimalisir. Budidaya tanaman seperti ini dikenal sebagai hidroponik.

Kondisi areal yang beratap dan lebih tertata menyebabkan

pengawasan dapat lebih intensif dilakukan. Bila terjadi gangguan terhadap

tanaman baik karena hama, penyakit ataupun gangguan fisiologis, dapat

dengan segera diketahui untuk diatasi .

3. Meningkatkan kualitas bibit

Ekses radiasi matahari seperti sinar UV, kelebihan temperatur, air

hujan, debu, polutan dan residu pestisida akan mempengaruhi penampilan

visual, ukuran dan kebersihan hasil produksi.


10

Dengan kondisi lingkungan yang terlindungi dan pemberian nutrisi

akurat dan tepat waktu, maka hasil bibit tanaman akan berkwalitas.

Pemasakan berlangsung lebih serentak, sehingga pada saat panen diperoleh

hasil yang lebih seragam, baik ukuran maupun bentuk visual produk.

4. Meminimalisasi pestisida

Green house yang baik selain dirancang untuk memberikan kondisi

mikroklimat ideal bagi tanaman, juga memberikan perlindungan tanaman

terhadap hama dan penyakit. Perlindungan yang umum dilakukan adalah

dengan memasang insect screen pada dinding dan bukaan ventilasi di bagian

atap. Insect screen yang baik tidak dapat dilewati oleh hama seperti kutu

daun.

Pada beberapa green house bagian pintu masuknya tidak

berhubungan langsung dengan lingkungan luar. Ada ruang kecil, semacam

teras transisi yang dibuat untuk menahan hama atau patogen yang terbawa

oleh manusia. Pada lantai ruang ini juga terdapat bak berisi cairan pencuci

hama dan patogen. Untuk pintu dapat ditambahkan lembaran PVC sheet.

5. Aset dan performance

Saat ini sangat biasa orang membangun green house dengan sistem

knock down. Dengan cara ini gren house bukanlah aset mati, manakala

karena suatu hal ada perubahan kebijakan, maka struktur green house

tersebut dapat dipindahkan atau mungkin dijual ke pihak lain yang

memerlukan dengan harga yang proporsional.


11

Dengan adanya green house maka kesan usaha akan terlihat lebih

modern dan padat teknologi. Hal ini tentunya akan meningkatkan

performance petani atau perusahaan yang menggunakannya.

6. Sarana agrowisata

Green house banyak juga digunakan sebagai ruang koleksi berbagai

jenis tanaman bernilai tinggi. Di dalam green house pengunjung dapat

melihat berbagai jenis tanaman yang menarik, bahkan langka, sehingga

dapat menjadi daya tarik. Ada yang khusus mengkoleksi kaktus, anggrek

atau berbagai jenis tanaman dengan suasana dibuat seperti di alam bebas.

Di Indonesia green house seperti ini banyak ditemukan di berbagai kebun

raya dan tempat agrowisata.

2.2. Faktor Eksternal Pertumbuhan Tanaman

Faktor external yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah faktor

penting untuk diketahui jika ingin membudidayakan suatu jenis tanaman tertentu.

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan adalah

faktor lingkungan, misalnya nutrisi, air, cahaya, suhu, dan kelembapan (Ferry

Firmansyah, 2009).

2.2.1. Nutrisi

Nutrisi terdiri atas unsur-unsur atau senyawa-senyawa kimia sebagai

sumber energi dan sumber materi untuk sintesis berbagai komponen sel yang

diperlukan selama pertumbuhan. Nutrisi umumnya diambil dari dalam tanah dalam

bentuk ion dan kation, sebagian lagi diambil dari udara. Unsur-unsur yang

dibutuhkan dalam jumlah yang banyak disebut makro (C, H, O, P, K, S, Ca, Fe,

Mg). Adapun unsur-unsur yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit disebut unsur
12

mikro (B, Mn, Mo, Zn, Cu, Cl). Jika salah satu kebutuhan unsur-unsur tersebut

tidak terpenuhi, akan mengakibatkan pertumbuhan dari tanaman akan terhambat.

2.2.2. Air

Kekurangan air pada tanah menyebabkan terhambatnya proses osmosis.

Proses osmosis akan terhenti atau berbalik arah yang berakibat keluarnya

materimateri dari protoplasma sel-sel tumbuhan, sehingga tanaman kering dan

mati. Adapun fungsi air bagi tumbuhan adalah :

1. Mempercepat perkecambahan biji

2. Melarut kan zat

3. Mmemabantu mengangkut unsur hara dari hasil fotosisntesis

4. Membantu mempercepat laju fotosintesis

5. Sebagai tempat berbagai macam reaksi enzimatis

2.2.3. Cahaya

Cahaya mutlak diperlukan dalam proses fotosintesis. Cahaya secara

langsung berpengaruh terhadap pertumbuhan setiap tanaman. Pengaruh cahaya

secara langsung dapat diamati dengan membandingkan tanaman yang tumbuh

dalam keadaan gelap dan terang. Pada keadaan gelap, pertumbuhan tanaman

mengalami etiolasi yang ditandai dengan pertumbuhan yang abnormal (lebih

panjang), pucat, daun tidak berkembang, dan batang tidak kukuh. Sebaliknya dalam

keadaan terang tumbuhan lebih pendek, batang kukuh, daun berkembang sempurna

dan berwarna hijau. Dalam fotosintesis, cahaya berpengaruh langsung terhadap

ketersediaan makanan. Tumbuhan yang tidak terkena cahaya tidak dapat

membentuk klorofil, sehingga daun menjadi pucat. Panjang penyinaran mempunyai

pengaruh yang spesifik terhadap pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.


13

2.2.4. Suhu

Suhu berpengaruh terhadap fisiologi tumbuhan, antara lain memengaruhi

kerja enzim. Suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan menghambat proses

pertumbuhan. Fotosintesis pada tumbuhan biasanya terjadi di daun, batang, atau

bagian lain tanaman. Tumbuhan dapat hidup dan tumbuh dengan baik dalam

rentang suhu tertentu, yaitu di antara suhu minimum (suhu terendah ±10 derjat C)

dan suhu maksmimum (suhu tertinggi 30 derjat C hingga 38 derjatC), sedangkan

suhu yangpaling baik untuk pertumbuhan tumbuhan tersebut disebut suhu optimum

(15 derjat C hingga 30 derjat C)

2.2.5. Kelembapan

Kelembaban merupakan kandungan total uap air yang ada di udara, agar

tenaman dapat tumbuh dengan baik maka di perlukan kelembaban yang tinggi dan

tidak banyak terjadi penguapan sehingga ketersediaan air disekitar tanaman tetap

terjaga. Kelembapan ada kaitannya dengan laju transpirasi melalui daun karena

transpirasi akan terkait dengan laju pengangkutan air dan unsur hara terlarut. Bila

kondisi lembap dapat dipertahankan, maka banyak air yang diserap tumbuhan dan

lebih sedikit yang diuapkan. Kondisi ini mendukung aktivitas pemanjangan sel

sehingga sel-sel lebih cepat mencapai ukuran maksimum dan tumbuh bertambah

besar. Pada kondisi ini, faktor kehilanganair sangat kecil karena transpirasi yang

kurang. Adapun untuk mengatasi kelebihan air, tumbuhan beradaptasi dengan

memiliki permukaan helaian daun yang lebar.


14

2.3 Mikrokontroller Arduino

Arduino didefinisikan sebagai sebuah platform elektronik yang open

source, berbasis pada software dan hardware yang fleksibel dan mudah digunakan,

yang ditujukan untuk seniman, desainer, hobbies dan setiap orang yang tertarik

dalam membuat objek atau lingkungan yang interaktif (Artanto, 2012:1).

Arduino sebagai sebuah platform komputasi fisik (Physical Computing)

yang open source pada board input ouput sederhana, yang dimaksud dengan

platform komputasi fisik disini adalah sebuah sistem fisik hyang interaktif dengan

penggunaan software dan hardware yang dapat mendeteksi dan merespons situasi

dan kondisi.

Menurut Artanto (2012:2), kelebihan arduino dari platform hardware

mikrokontroler lain adalah:

1. IDE Arduino merupakan multiplatform, yang dapat dijalankan di berbagai

sistem operasi, seperti Windows, Macintosh dan Linux.

2. IDE Arduino dibuat berdasarkan pada IDE Processing, yang sederhana

sehingga mudah digunakan.

3. Pemrograman arduino menggunakan kabel yang terhubung dengan port USB,

bukan port serial. Fitur ini berguna karena banyak komputer yang sekarang

ini tidak memiliki port serial.

4. Arduino adalah hardware dan software open source pembaca bisa

mendownload software dan gambar rangkaian arduino tanpa harus membayar

ke pembuat arduino.

5. Biaya hardware cukup murah, sehingga tidak terlalu menakutkan untuk

membuat kesalahan.
15

6. Proyek arduino ini dikembangkan dalam lingkungan pendidikan sehingga

bagi pemula akan lebih cepat dan mudah mempelajarinya.

7. Memiliki begitu banyak pengguna dan komunitas di internet dapat membantu

setiap kesulitan yang dihadapi.

2.3.1 Board Arduino

Board arduino sebenarnya berisi komponen utama mikrokontroler AVR,

mulai dari ATmega8 sampai seri terbaru diantaranya adalah 2650. Selain itu board

arduino dilengkapi dengan chip USB to serial, sehingga penggunanya mudah

menggunakannya hanya dengan mencolokkan ke port USB komputer/laptop.

Bisa membuat board tersebut, karena board yang sudah jadi. hanyalah

mikrokontroler yang diisi dengan program bootloader yang juga tersedia pada

IDE arduino. Membangun board arduino sendiri akan dibahas dalam posting yang

terpisah.

Bahasa pemrograman yang digunakan oleh IDE arduino didalam

mengembangkan aplikasi mikrokontroler adalah C/C++. Tentunya terdapat style

khusus yang membedakannya yaitu:

1. void main(void) sebagai fungsi program utama diganti dengan void

loop(). Perbedaannya pada C biasa tidak terjadi loop, jadi harus ada looping yang

ditambahkan misalnya while(1){……}. Dalam arduino secara otomatis fungsi

loop() akan kembali lagi dari awal jika sudah dieksekusi intruksi paling

bawahnya.

2. Ditambahkan fungsi void setup(void), fungsi ini dugunakan untuk inisialisasi

mikrokontroler sebelum fungsi utama loop() dieksekusi.


16

3. Tidak direpotkan dengan setting register-register, karena arduino sudah

memasukkannya kedalam librarynya dan secara otomatis disesuaikan

dengan jenis board arduino berkenaan jenis mikrokontrollernya. Jadi setup

perangkat kerasnya menjadi mudah.

2.3.2 Penyemat

Pada arduino memberikan penamaan penyemat secara spesifik agar

mudah dikenali oleh pengguna awam. Arduino menamakan penyemat secara

spesifik yaitu dua jenis saluran yaitu analog dan digital. Setiap saluran analog dan

digital diberi urutan angka, misalnya D5 adalah saluran digital kanal 5, A0 adalah

saluran analog kanal 0. Pada gambar dibawah ini ditunjukkan penyemat IC arduino

Gambar 2. Penyemat IC Arduino


Dari gambar 1 di atas, yang penamaan penyemat yang berwarna merah

adalah nama saluran arduino. Sedangkan nama penyemat yang berwarna hitam

adalah nama penyemat mikrokontroler ATmega8, 168 dan 328. Dengan demikian,

pengembang aplikasi mikrokontroler dengan menggunakan arduino tidak harus


17

mengetahui nama dan nomor penyemat mikrokontroler yang sedang

dikembangkan aplikasinya

Arduino adalah pengendali mikro single-board yang bersifat open-source,

diturunkan dari Wiring platform, dirancang untuk memudahkan penggunaan

elektronik dalam berbagai bidang. Perangkat kerasnya memiliki prosesor Atmel

AVR dan perangkat lunaknya memiliki bahasa pemrograman yang dinamakan

processing.

Arduino adalah kit elektronik atau papan rangkaian elektronik open source

yang di dalamnya terdapat komponen utama yaitu sebuah chip mikrokontroler

dengan jenis AVR dari perusahaan Atmel.

Gambar 3. Arduino Mega 2560

Arduino yang kita gunakan pada perancangan ini adalah arduino mega yang

menggunakan chip AVR ATmega 2560 yang memiliki fasilitas PWM, komunikasi

serial, ADC, timer, interupt, SPI dan I2C. Sehingga Arduino bisa digabungkan

bersama modul atau alat lain dengan protokol yang berbeda-beda. Bahasa

pemograman yang digunakan adalah bahasa C. Tetapi bahasa ini sudah dipermudah
18

menggunakan fungsi-fungsi yang sederhana sehingga lebih mudah dalam

memprogramnya.

2.4 Sensor dan Tranduser

Sensor merupakan bagian sistem instrumentasi yang dapat memberikan

parameter fisik dari suatu besaran yang diukur. Sensor akan menerima input

berupa rangsangan fisik, yang kemudian informasi tersebut ditransfer untuk

mengaktifkan seluruh sistem. Untuk mengubah informasi yang telah terukur,

diperlukan suatu alat (komponen) yang disebut transduser. Tranduser adalah

suatu alat yang dapat digerakkan oleh energi yang dapat menyalurkan energi

dalam bentuk yang sama atau berlawanan dari satu sistem.

Salah satu contoh penggunaan sensor dan tranduser dalam satu alat yaitu

Ampermeter. Dimana sensornya adalah probe yang berfungsi untuk merasakan

sinyal-sinyal yang berasal dari perubahan suatu energi yaitu energi listrik dan

trandusernya adalah kumparan putar. Kumparan putar tersebut berfungsi sebagai

perubah dari energi listrik menjadi energi mekanik, karena bila kumparan putar

dilalui arus akan timbul gaya elektromagnetik.

Sensor adalah elemen sistem yang secara efektif berhubungan dengan

proses dimana suatu variabel sedang diukur dan menghasilkan suatu keluaran

dalam bentuk tertentu tergantung pada variabel masukannya, dan dapat

digunakan oleh bagian sistem pengukuran yang lain untuk mengenali nilai

variabel tersebut. sebagai contoh adalah sensor termokopel yang memiliki

masukan berupa temperatur serta keluaran berupa gaya gerak listrik (GGL) yang

kecil. GGL yang kecil ini oleh bagian sistem pengukuran yang lain dapat diperkuat

sehingga diperoleh pembacaan pada alat ukur.


19

2.4.1 Sensor Suhu LM35

(Desmon Kendek allo, 2013) Sensor suhu adalah alat untuk

mendeteksi/mengukur suhu pada suatu ruang atau sistem tertentu yang kemudian

diubah keluaranya menjadi besaran listrik. Ada beberapa jenis sensor yang

dapat digunakan dalam pengukuran suhu seperti: termokopel, RTD (Resistance

Temperatur Detector), termistor dan IC semikonduktor. Sedangkan sensor suhu

yang sering digunakan adalah sensor suhu LM35 karena keakuratannya

dibandingkan dengan sensor lain.

Gambar 4. Fisik Sensor Suhu LM35

Sensor suhu LM35 adalah komponen elektronika yang memiliki fungsi

untuk mengubah besaran suhu menjadi besaran listrik dalam bentuk tegangan.

Sensor suhu LM35 yang dipakai dalam penelitian ini berupa komponen

elektronika- elektronika yang diproduksi oleh national semiconductor. LM35

memiliki keakuratan tinggi dan kemudahan perancangan jika dibandingkan

dengan sensor suhu yang lain, LM35 juga mempunyai keluaran impedansi yang

rendah dan linieritas yang tinggi sehingga dapat dengan mudah dihubungkan

dengan rangkaian kendali khusus serta tidak memerlukan penyetelan lanjutan.

Tegangan operasi LM35 yang dapat digunakan antara 4 Volt sampai 30 Volt.

Keluaran sensor ini akan naik sebesar 10 mV setiap derajat celcius sehingga

diperoleh persamaan sebagai berikut:


20

(1)

Secara prinsip sensor akan melakukan penginderaan pada saat perubahan

suhu, setiap suhu 1℃ akan menunjukan tegangan sebesar 10 mV dengan batas

maksimal keluaran sensor adalah 1,5 V pada suhu 150℃. Pada penempatannya

LM35 dapat ditempelkan dengan perekat atau dapat pula disemen pada permukaan

akan tetapi suhunya akan sedikit berkurang sekitar 0,01℃ karena terserap pada suhu

pemukaan tersebut. Dengan cara seperti ini diharapkan selisih antara suhu

udara dan suhu permukaan dapat dideteksi oleh sensor LM35 sama dengan suhu

disekitarnya, jika suhu udara disekitarnya jauh lebih tinggi atau jauh lebih rendah

dari suhu permukaan, maka LM35 berada pada suhu permukaan dan suhu udara

disekitarnya.

a. Dikalibrasi langsung dalam celcius.

b. Memiliki faktor skala linear +10.0 mV/ ℃.

c. Memiliki ketetapan 0,5 ℃ pada suhu 25 ℃.

d. Jangkauan maksimal suhu antara -55 ℃ sampai 150 ℃.

e. Cocok untuk aplikasi jarak jauh.

f. Harganya cukup murah.

g. Bekerja pada tegangan catu daya 4 sampai 30 Volt.

h. Memiliki arus drain kurang dari 60 µA.

i. Pemanasan sendiri yang lambat (low self- heating)

j. Ketidak linearanya hanya sekitar ± 1/4 ℃.


21

2.4.2 Sensor Soil Moisture

Modul pendeteksi kelembapan / kadar air dalam tanah (soil moisture

sensor), atau sering disebut "soil hygrometer sensor" atau "soil humidity

sensor/detector" (sebenarnya secara linguistik kedua sebutan terakhir kurang tepat)

ini menggunakan moisture probe tipe YL-69 yang diproses IC pembanding offset

rendah LM393 (low offset voltage comparator dengan offset masukan lebih rendah

dari 5mV) yang sangat stabil dan presisi (Arief, 2011).

Kita bisa menggunakan sensor ini untuk mendeteksi kadar air dalam tanah,

yang kemudian bisa menjadi acuan dalam sistem pengairan / penyiraman tanaman

secara otomatis. Cukup tancapkan lempeng pendeteksi kelembapan (moisture

sensing probe) ke dalam tanah (isolasikan koneksi pin header dengan kabel dengan

lilitan selotip kedap air, akan lebih bagus bila menggunakan heat-shrink

tube). Sensitivitas pendeteksian dapat diatur dengan memutar potensiometer yang

terpasang di modul pemroses. kita juga dapat menggunakan modul sensor ini tanpa

mikrokontroler karena pin keluaran digital (digital pin output) dapat disambungkan

langsung rangkaian switch (misalnya kombinasi transistor dan relay untuk

menyalakan pompa air, dsb.)

Untuk pendeteksian secara presisi menggunakan mikrokontroler / Arduino,

Anda dapat menggunakan pin keluaran analog (sambungkan dengan pin ADC

/ Analog-Input pada mikrokontroler) yang akan memberikan nilai kelembapan

pada skala 0V (relatif terhadap GND) hingga Vcc (tegangan catu daya). Modul

pemroses dapat menggunakan catu daya antara 3,3 Volt hingga 5 Volt sehingga

fleksibel untuk digunakan pada berbagai macam microcontroller / development

board.
22

Gambar 6. Sensor Soil Moisture

Spesifikasi Soil Moisture Sensor YL69/LM393:

1. Sensitivitas dapat diatur lewat potensiometer

2. Catu daya yang fleksibel antara 3,3V hingga 5V DC

3. Keluaran tipe analog dapat dibaca sebagai representasi linear akurat dari

tingkat kelembapan yang terdeteksi

4. Keluaran tipe digital akan bernilai logika HIGH saat kelembapan rendah

(tanah kering), atau sebaliknya bernilai LOW saat kelembapan terdeteksi

melewati ambang batas / moisture threshold.

5. Module dual output mode, digital output, analog output more accurate.

6. Tersedia lubang sekrup untuk memudahkan pemasangan papan pemroses

7. Ukuran PCB modul yang kecil sebesar 30 x 16 mm

8. Tersedia indikator LED untuk kondisi nyala (power indicator, LED

berwarna merah) dan status keluaran (digital switching output indicator,

LED berwana hijai)


23

9. Pemroses menggunakan IC komparator LM393 yang stabil, akurat, dan

cepat dalam memroses data

2.5 LCD 20 x 4

Banyak sekali kegunaan LCD dalam perancangan suatu sistem yang

menggunakan mikrokontroler. LCD berfungsi menampilkan suatu nilai hasil

sensor, menampilkan teks, atau menampilkan menu pada aplikasi

mikrokontroler. LCD yang digunakan adalah jenis LCD 20x4. LCD 20x4

merupakan modul LCD dengan tampilan 20x4 baris dengan konsumsi daya

rendah. Modul tersebut dilengkapi dengan mikrokontroler yang didesain

khusus untuk mengendalikan LCD. LCD ini dapat menampilkan total 80

karakter termasuk spasi, terlihat lebih kompleks jika dibandingkan dengan

LCD yang 16x2 karakter saja. Adapun konfigurasi pin nya sama dengan 16x2

yakni terdapat 16 pin yang harus dicocokkan agar mendapatkan keluaran yang

sesuai.

Fungsi pin-pin pada LCD 20x4 adalah:

1. Pin 1 dihubungkan ke Ground.

2. Pin 2 dihubungkan ke Vcc +5V.

3. Pin 3 dihubungkan ke bagian tengah daerah potensiometer 10 kOhm

sebagai pengatur kontras.

4. Pin 4 memberitahu LCD bahwa sinyal yang dikirim adalah data, jika

pin 4 ini diset ke logika 1 (high, +5) atau memberitahu bahwa sinyal

yang dikirim adalah perintah jika pin ini diset dengan logika 0 (low,

0V).
24

5. Pin 5 berfungsi mengatur fungsi LCD. Jika diset ke logika 1, (high, +5)

maka LCD berfungsi untuk menerima data (membaca data) dan

berfungsi untuk mengeluarkan data. Jika pin ini diset ke logika 0 (low,

0V). Namun kebanyakan aplikasi hanya digunakan untuk menerima

data sehingga pin 5 ini selalu dihubungkan ke Gnd.

6. Pin 6 dihubungkan ke enable. Berlogika 1 setiap kali penerimaan /

pembacaan data.

7. Pin 7-14 dihubungkan ke data 8 bit data bus (aplikasi ini menggunakan

4 bit MSB saja, sehingga pin data yang digunakan hanya pin 11 sampai

pin 14).

8. Pin 15-16 adalah tegangan untuk menyalakan lampu LCD.

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat Gambar dibawah.

Gambar 7. LCD 20x4

2.6 Relay

Dalam dunia elektronika, relay dikenal sebagai komponen yang dapat

mengimplementasikan logika switching. Sebelum tahun 70an, relay merupakan

“otak” dari rangkaian pengendali. Baru setelah itu muncul PLC yang mulai

menggantikan posisi relay. Relay yang paling sederhana ialah relay elektromekanis
25

yang memberikan pergerakan mekanis saat mendapatkan energi listrik. Secara

sederhana relay elektromekanis ini didefinisikan sebagai berikut :

a. Alat yang menggunakan gaya elektromagnetik untuk menutup (atau

membuka) kontak saklar.

b. Saklar yang digerakkan (secara mekanis) oleh daya/energi listrik.

Gambar 8. Relay

Secara umum, relaydigunakan untuk memenuhi fungsi – fungsi berikut :

a. Remote control : dapat menyalakan atau mematikan alat dari jarak jauh

b. Penguatan daya : menguatkan arus atau tegangan

Contoh : starting relay pada mesin mobil

c. Pengatur logika kontrol suatu sistem

Prinsip Kerja dan Simbol

Relay terdiri dari coil dan contact. Perhatikan gambar dibawah, coil adalah

gulungan kawat yang mendapat arus listrik, sedang contact adalah sejenis saklar

yang pergerakannya tergantung dari ada tidaknya arus listrik di coil. Contact ada 2

jenis : Normally Open (kondisi awal sebelum diaktifkan open), dan Normally

Closed (kondisi awal sebelum diaktifkan close). Secara sederhana berikut ini

prinsip kerja dari relay : ketika Coil mendapat energi listrik (energized), akan timbul
26

gaya elektromagnet yang akan menarik armature yang berpegas, dan contact tidak

akan menutup.

Gambar 9. Skema Relay Elektromagnetik

Selain berfungsi sebagai komponen elektronik, relay juga mempunyai fungsi

sebagai pengendali sistem. Sehingga relaymempunyai 2 macam simbol yang

digunakan pada :

a. Rangkaian listrik (hardware)

b. Program (software)

2.7 Pompa Air Celup

(Ahmad Fajri, 2016) Pompa air listrik ini penggunaannya dicelupkan ke

dalam air. Penggunaan yang umum adalah pompa air yang dipakai dalam aquarium

untuk mengalirkan air. Pompa air ini dapat juga diaplikasikan untuk mengalirkan

air kedalam pot pot yang terdapat didalam rumah kaca nantinya.
27

Gambar 10. Pompa Air Listrik

Sekarang cukup banyak merk pompa air yang beredar dengan teknologi

yang berbeda-beda. Namun teknologi yang umum dikenal dengan Centrifugal

Pumps. Yaitu pompa air yang bekerja berdasarkan daya centrifugal yang dihasilkan

oleh impeller (kipas) yang diputar oleh motor listrik. Karena daya centrifugal ini

air tersedot (dari sumur) dan terdorong keluar secara kontinyu melalui sirip-sirip

impeller.

a. Prinsip Kerja Pompa Air Listrik

Cara kerja pompa air pada dasarnya sangat sederhana, yaitu menghisap air

dari tempat yang lebih rendah dan mendorong air tersebut ke tempat yang tinggi

atau penampung air. Setiap pompa air dilengkapi dengan peralatan otomatis

yang berguna untuk memudahkan kita pada saat pengoperasian dan tidak

memerlukan aktifitas menghidupkan ataupun mematikan pompa, sebab sudah

ada sensor otomatis yang bekerja berdasarkan tekanan yang terdapat pada pipa

atau saluran air pada keluaran pompa.


28

Pada mesin pompa air ada saluran hisap dan ada saluran buang, alat

otomatis atau sensornya menggunakan sensor tekanan atau disebut juga

Pressure Switch dan dipasang pada tabung pada saluran keluaran pompa.

Ketika pompa dihidupkan atau dihubungkan dengan listrik, maka pompa akan

berputar sehingga di bagian dalam pompa terjadi vaccum karena adanya

perbedaan tekanan, sehingga air yang ada didalam tanah akan terhisap naik.

Ketika mesin aktif, rotor pun berputar bersama dengan baling-baling.

Gerakan baling-baling dibatasi oleh cincin kam dan mengalirkan air dari lubang

hisap atau yang besar ke lubang tekan atau yang kecil dan semua kran air yang

ada di rumah tertutup maka pada saluran keluaran pompa akan timbul tekanan

yang cukup besar. Ketika tekanan yang dihasilkan melebihi tekan set yang ada

pada sensor, maka sensor akan bekerja dan pompa air akan mati seketika, pompa

air akan hidup lagi apabila ada salah satu kran air terbuka disebabkan tekanan

air sudah turun.

2.8 Motor DC

Motor DC merupakan sebuah elektrik motor yang menggunakan tegangan

DC yang mengkonversi besaran mekanik. Motor DC berfungsi mengubah tenaga

listrik menjadi tenaga mekanis dimana gerak tersebut berupa putaran dari motor.

Semua motor DC beroperasi atas dasar arus yang melewati conduktor yang berada

dalam medan magnet. Motor DC ini mempunyai dua terminal elektrik. Dengan

memberikan beda tegangan pada kedua terminal tersebut maka motor akan dapat

berputar pada satu arah dan apabila polaritas dari tegangan tersebut dibalik, maka

arah putaran motor akan terbalik pula.


29

Hal ini berlaku pada motor DC dan tidak berlaku pada motor AC, polaritas

dari tegangan yang diberikan pada dua terminal menentukan arah putaran motor

sedangkan beda tegangan yang diberikan menentukan kecepatan motor tersebut.

Motor DC mempunyai dua bagian dasar yaitu :

1. Bagian diam / tidak berputar (Stator)

Stator ini menghasilkan medan magnet, baik yang dibangkitkan dari

sebuah koil (elektromagnetik) atau magnet permanen. Bagian stator terdiri

dari body motor yang memiliki magnet yang melekat padanya. Untuk motor

kecil, magnet tersebut adalah magnet permanen sedangkan untuk motor

besar menggunakan elektromagnetik. Kumparan yang dililitkan pada

lempeng-lempeng magnet disebut kumparan medan.

2. Bagian berputar (Rotor)

Rotor ini berupa sebuah koil dimana arus listrik mengalir. Suatu

kumparan motor akan berfungsi apabila mempunyai kumparan medan.

Kumparan medan berfungsi sebagai penghasil medan magnet. Kumparan

jangkar, berfungsi sebagai pembangkit GGL pada conduktor yang terletak

pada alur-alur jangkar. Celah udara yang memungkinkan berputarnya

jangkar dalam medan magnet. Bentuk bagan dari motor DC ditunjukkan

pada gambar 16.


30

Gambar 11. Bagian Motor DC

Salah satu penggunaan motor dc dapat difungsikan sebagai Exhaust Fan

yaitu motor yang difungsikan sebagai menghembuskan udara dari luar box

pengering untuk mengontrol suhu ruang pada tabung. Beberapa cara untuk dapat

mengendalikan kecepatan motor dc, antara lain dengan mengatur lebar pulsa

tegangan setiap detiknya yang diberikan pada motor dc atau secara manual yaitu

mengatur jumlah arus dan tegangan yang diberikan pada motor dc.

2.9 Catu Daya

Power supply adalah sebuah perangkat yang memasok energi listrik untuk

satu atau lebih beban listrik atau sistem yang berfungsi untuk menyalurkan energi

listrik. Ada beberapa bagian utama dalam penyearah gelombang pada suatu power

supply yaitu, penurun tegangan (transformer), penyearah gelombang / rectifier

(dioda), filter (kapasitor) dan regulator yang digambarkan dalam blok diagram

berikut:

Gambar 12. Blok Diagram Power Supply


31

Pada catu daya digunakan transformer, dimana transformator

memungkinkan kita untuk menaikan atau menurunkan tegangan. Keuntungan lain

dari transformer yaitu terisolasi dari jala-jala listrik; hal ini mengurangi resiko

adanya kejutan listrik.

2.9.1 Dioda Penyearah Gelombang Penuh

Dioda Bridge (Bridge Diode) atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan

Dioda Jembatan adalah jenis dioda yang berfungsi sebagai penyearah arus bolak-

balik (Alternating Current/AC) menjadi arus searah (Direct Current/DC). Dioda

Bridge pada dasarnya merupakan susunan dari empat buah Dioda yang dirangkai

dalam konfigurasi rangkaian jembatan (bridge) yang dikemas menjadi satu

perangkat komponen yang berkaki empat. Dua kaki Terminal dipergunakan sebagai

Input untuk tegangan/arus listrik AC (bolak balik) sedangkan dua kaki terminalnya

lagi adalah terminal Output yaitu Terminal Output Positif (+) dan Terminal Output

Negatif (-).

Gambar 13. Rangkaian Dioda Penyearah Gelombang AC (Rectifier)


32

Selama setengah putaran dalam medan positive pada input D1 dan D2

adalah bias maju dan mengalirkan arus. D3 dan D4 adalah bias mundur. Saat siklus

masukan positif dioda D1 dan D3 dibias maju dan mengkonduksi arus di arah yang

telah ditunjukkan. Tegangan dikembangkan melewati RL yang ditampilkan seperti

pada paruh siklus positif. selama waktu tersebut dioda D3 dan D4 dibias mundur

(Malvino Hanavi Gunawan, 1981)

2 𝑉𝑝
𝑉𝑑𝑐 = (2)
𝜋

𝑉𝑝 = 𝑉𝑚 − 2∅ (3)

𝑓𝑜𝑢𝑡 = 2 𝑓𝑖𝑛 (4)

𝑃𝐼𝑉 = 𝑉𝑚 (5)

Keterangan : Vdc = Tegangan Beban Rata Rata


Vp = Tegangan Puncak

fout = Frekuensi Output

PIV = Tegangan Inverse Puncak

2.9.2 Transistor Penguat Arus

Penguat arus atau Current booster sering dipakai dalam sebuah rangkaian

adaptor atau power supply dengan daya rendah. Fungsi dari rangkaian ini adalah

untuk meningkatkan kemampuan power supply dalam memberikan arus yang lebih

besar. Rangkaian ini dibuat dengan komponen utamanya adalah transistor yang di

pasang sebagai penguat arus dari tegangan positif regulator.


33

Gambar 14. Rangkaian Penguat Arus

Rangkaian penguat arus ini merupakan penguatan yang dirangkaian secara

umum dengan regulator positif LM78XX atau LM137 yang umumnya hanya

mampu mengalirkan arus 1 Ampere, tetapi dengan memasang transistor pada rang

regulator maka akan menambah kekuatan arus dari regulator itu. Dan arus yang

mampu mengalir adalah sesuai kemampuan transistor yang d gunakan, semakin

besar kemampuan dari transistor tersebut maka akan semakin besar pula arus yang

akan dihasilkan.

2.9.4 Rangkaian Regulator

Untuk menghasilkan tegangan dan arus DC (arus searah) yang tetap dan

stabil, diperlukan Voltage Regulator yang berfungsi untuk mengatur tegangan

sehingga tegangan output tidak dipengaruhi oleh suhu, arus beban dan juga

tegangan input yang berasal output filter. Voltage Regulator yang digunakan yaitu

berupa IC LM7805 untuk keluaran 5 volt, dan IC LM7812 untuk keluaran 12 volt.
34

Gambar 15. Rangkaian Regulator

2.10 Sistem Kendali Dgital

Sistem kendali digital dikenal beberapa jenis sinyal yang digunakan pada

sistem tersebut. Terdapat 4 jenis sinyal dalam sistem kendali digital yaitu: sinyal

analog, sinyal terkuantisasi, sinyal diskrit/data tercuplik dan sinyal digital. Jenis-

jenis sinyal dalam sistem kendali digital tersebut memiliki pengertian atau

didefinisikan sebagai berikut :

1. Sinyal analog, merupakan sinyal yang didefinisikan dalam suatu

jangkauan batas waktu kontinyu yang amplitudonya mempunyai nilai

yang kontinyu.

2. Sinyal diskrit, merupakan sinyal yang hanya didefinisikan dalam suatu

saat waktu diskrit,amplitudonya mempunyai nilai hanya pada saat

tertentu saja. Yang termasuk sinyal diskrit yaitu sinyal digital dan sinyal

data tercuplik (sampled data signal).

3. Sinyal data tercuplik, merupakan sinyal diskrit yang mempunyai

amplitudo yang kontinyu pada waktu cuplik (sampling time) tertentu.

4. Sinyal digital, merupakan suatu sinyal diskrit dengan amplitudo

terkuantisasi, sinyal tersebut kemudian direpresentasi dengan sederet

bilangan, umumnya bilangan biner.


35

Berikut ini adalah bentuk beberapa jenis sinyal yang ditemui di dalam suatu sistem

kontrol digital. (a) Sinyal Analog; (b) Sinyal Terkuantisasi (c) Sinyal Diskrit/Data

Tercuplik; (d) Sinyal Digital

Gambar 16. Grafik Sinyal Analog,Terkuantisasi,Diskrit Dan

Digital.

Suatu sinyal kontinyu yang mempnyai suatu set nilai amplitudo tertentu dalam

suatu jangkauan waktu tertentu disebut sinyal terkuantisasi (quantized signal).

Gambar berikut memperlihatkan jenis-jenis sinyal di dalam suatu sistem kontrol

digital.

2.10.1 Sistem Kendali Close Loop (Loop Tertutup)

Suatu sistem kontrol yang sinyal keluarannya memiliki pengaruh langsung

terhadap aksi pengendalian yang dilakukan. Sinyal error yang merupakan selisih

dari sinyal masukan dan sinyal umpan balik (feedback), lalu diumpankan pada

komponen pengendalian (controller) untuk memperkecil kesalahan sehingga nilai

keluaran sistem semakin mendekati harga yang diinginkan.


36

Gambar 17. Blok Kendali Close Loop

1. Input ( Masukkan )

Rangsangan atau perangsangan yang diterapkan ke suatu sistem pengendalian

dari sumber energi, biasanya agar menghasilkan tanggapan tertentu dari system

yang dikendalik

2. Output (keluaran)

Tanggapan sebenarnya yang diperoleh dari sebuah sIstem pengendalian.

3. Plant ( Proses )

Seperangkat peralatan yang terdiri dari atau sebagian mesin yang bekerja secara

bersama-sama dan digunakan untuk suatu “ Proses”.

4. Proses

Merupakan suatu bagian operasi atau perkembangan alamiah, yang berlangsung

secara kontinyu ( Continue ), yang ditandai oleh suatu deretan perubahan kecil

yang berurutan, dengan cara yang relative tetap, untuk mendapatkan suatu

ahkiran yang dikehendaki.

5. Gangguan

gangguan bila ada, memungkinkan suatu sinyal yang cendearung mempunyai

pengaruh yang merugiakan pada harga keluaran system


37

2.10.2 Karakteristik Sistem Orde 1

Fungsi alih sistem orde satu dinyatakan sebagai berikut:

Dimana : K = Gain Overall

τ = Konstanta Waktu

Untuk masukan sinyal unit step, , transformasi Laplace dari sinyal masukan.

Maka, respon keluaran sistem orde satu dengan masukkan sinyal step dalam

kawasan s adalah

Dengan menggunakan inversi tranformasi Laplace diperoleh respon dalam kawasan

waktu yang dinyatakan dalam persamaan berikut:

Kurva respon orde satu untuk masukan sinyal unit step ditunjukkan oleh

Gambar berikut.
38

Gambar 18. Respon Orde Satu Terhadap Masukan Unit Step

Ketika diberi masukan unit step, keluaran sistem c(t) mula-mula adalah nol dan

terus naik hingga mencapai nilai K. salah satu karakteristik sistem orde dua adalah

ketika nilai t = τ, yaitu ketika nilai keluaran mencapai 63,2% dari nilai akhirnya

2.11 Fuzzy Logic

Logika fuzzy adalah metoda sistem kontrol pemecahan masalah yang cocok

untuk diimplementasikan pada sistem ,mulai dari sistem yang sederhana , sistem

kecil ,embeded system , jaringan PC ,multi chane atau workstation berbasis akusisi

data dan sistem kontrol. Metodologi ini dapat diterapkan pada perangkat keras,

perangkat lunak, ataupun kombinasi keduanya. Dalam logika klasik dinyatakan

bahwa segala sesuatu bersifat biner yang artinya adalah hanya mempunyai dua

kemungkinan, ”Ya atau Tidak”, ”Benar atau Salah”, ”Baik atau Buruk”, dan lain-

lain. Oleh karena itu semua ini dapat mempunyai nilai keanggotaan 0 atau 1. Akan

tetapi, dalam logika fuzzy memungkinkan nilai keanggotaan berada diantara 0 atau

1. Artinya, bisa saja suatu keadaan mempunyai dua nilai ”Ya atau Tidak”, ”Benar

atau Salah”, ”Baik atau Buruk” secara bersamaan, namun besar nilainya tergantung

pada bobot keanggotaan yang dimilikinya.


39

Dibandingkan dengan Logika konvensional, kelebihan logika fuzzy adalah

kemampuannya dalam proses penalaran secara bahasa sehingga dalam

perancangannya tidak memerlukan persamaan matematik yang rumit.

Beberapa alasan yang dapat diutarakan mengapa kita menggunakan logika

fuzzy:

1. Konsep logika fuzzy mudah dimengerti. Konsep matematis yang mendasarin

penalaran fuzzy sangat sederhana dan mudah dimengerti.

2. Logika fuzzy sangat fleksibel.

3. Logika fuzzy memiliki toleransi terhadap data-data yang tidak tepat.

4. Logika fuzzy mampu memodelkan fungsi-fungsi nonlinear yang sangat

kompleks.

5. Logika fuzzy dapat membangun dan mengaplikasikan pengalaman-pengalaman

para pakar secara langsung tampa harus melalui proses pelatihan.

Tahap pemodelan dalam fuzzy logic

Gambar 19. Tahap Pemodelan Dalam Logika Fuzzy

Dari uraian blok diatas didalam logika fuzzy terdapat tiga hal terpenting :

1. Fuzzifikasi adalah proses untuk mengubah variable non fuzzy (variabel

numerik) menjadi variabel fuzzy (variabel linguistik).


40

2. Inferencing (Ruled Based) , pada umumnya aturan-aturan fuzzy dinyatakan

dalam bentuk “IF……THEN” yang merupakan inti dari relasi fuzzy.

3. Defuzifikasi adalah proses pengubahan data-data fuzzy tersebut menjadi

data-data numerik yang dapat dikirimkan ke peralatan pengendalian.

2.11.1 Fuzzifikasi

Prosedur fuzzifikasi merupakan proses untuk mengubah variable non fuzzy

(variable numerik) menjadi variable fuzzy (variable linguistik). Nilai error dan

delta error yang dikuantisasi sebelumnya diolah oleh kontroler fuzzy logic,

kemudian diubah terlebih dahulu ke dalam variable fuzzy. Melalui membership

function (fungsi keanggotaan) yang telah disusun, maka dari nilai error dan delta

error kuantisasi akan didapatkan derajat keanggotaan bagi masing-masing nilai

error dan delta error. Pada unit fuzzifikasi ini terjadi proses transformasi, yang

dilakukan dengan cara pemetaan ruang masukan, dari variabel masukan domain

non-fuzzy (crisp) ke dalam domain fuzzy, dengan bantuan faktor penskala (scaling

factor). Faktor penskala menggunakan metode heuristik, diatur sedemikian rupa

sehingga seluruh variabel masukan terpetakan dalam semesta pembicaraan yang

dirancang.

Struktur dasar dari sistem inferensi fuzzy berisi tiga komponen konseptual:

1. Dasar aturan yang mana berisi sebuah pemilihan aturan fuzzy

2. Database yang mendefenisikan fungsi keanggotaan yang digunakan dalam

aturan fuzzy.
41

3. Mekanisme pemikiran yang mengerjakan prosedur inferensi terhadap aturan

dan kenyataan yang diketahui untuk menurunkan output atau kesimpulan yang

masuk akal.

Dalam model fuzzy Tsukamoto, consequent dari masing-masing aturan

fuzzy If-Then direpresentasikan oleh satu set fuzzy dengan MF monoton. Sebagai

hasilnya output yang terinferensi dari masing-masing aturan didefinisikan sebagai

nilai crisp diinduksikan oleh aturan firing strength. Output keseluruhan diambilkan

sebagai rata-rata terbobot dari tiap aturan output.

2.11.2 Inferensi

Sistem inferensi fuzzy adalah sebuah kerangka kerja perhitungan yang

berdasar pada konsep teori himpunan fuzzy, aturan fuzzy if-then dan pemikiran

fuzzy. Sistem inferensi fuzy ini telah berhasil di aplikasikan pada berbagai bidang,

seperti control otomatis, clasifikasi data, analisis keputan, sistem pakar,prediksi

time series, robotika dan pengenalan pola. Sistem inferensi fuzzy juga dikenal

dengan berbagai nama seperti fuzzy rule base sistem (sistem basis aturan fuzzy),

fuzzy logic controller (kontrol logika fuzzy), sistem fuzzy sederhana. Sistem

inferensi fuzzy dapat mengambil output fuzzy ataupun crips, tetapi outputnya

hampir selalu menghasilkan himpunan fuzzy. Oleh karena itu selalu diperlukan

suatu metode defuzzyfikasi untuk mendapatkan nilai crips. inferensi fuzzy terdiri

dari :

1. Pengetahuan (knowledge) : penalaran yang dinyatakan dalam aturan

berbentuk IF (jika) x is A, THEN (maka) y is B x dan y adalah variable

fuzzy, A dan B adalah nilai variable fuzzy. Bagian premis/sebab


42

(antecedent) atau konsekuensi (akibat) dapat lebih dari satu, dan biasanya

dihubungkan dengan penghubung logika AND atau OR.

2. Fakta : merupakan masukan fuzzy (nilai nyata yang ada) yang akan dicari

inferensi (konklusi)nya dengan menggunakan aturan fuzzy.

3. Fakta tidak harus sama dengan basis pengetahuan

4. Konklusi adalah keputusan berdasarkan pengetahuan dan fakta

2.11.3 Defuzzifikasi

Defuzzifikasi merupakan kebalikan dari proses transformasi sebuah himpu

nan fuzzy kedalam himpunan tegas. Pada metode Tsukamoto, implikasi setiap atur

an berbentuk implikasi “Sebab-Akibat”/Implikasi “Input-Output” dimana antara a

nteseden dan konsekuen harus ada hubungannya. Setiap aturan direpresentasikan

menggunakan himpunan-himpunan fuzzy, dengan fungsi keanggotaan yang monot

on. Kemudian untuk menentukan hasil tegas (Crisp Solution) digunakan rumus pe

negasan (defuzifikasi) yang disebut “Metode rata-rata terpusat” atau “Metode defu

zifikasi rata-rata terpusat (Center Average Deffuzzyfier).

Perhitungan crips output dinyatakan dengan rumus :

Zt=R/A;

Zt= Output Fuzzy

A= α prediket (br1........br9)

R= hasil rule output(z1........z9)


43

Deffuzifikasi :

Zt=((br1*z1)+(br2*z2)+(br3*z3)+(br4*z4)+(br51*z51)+(br52*z52)+(br6*

z6)+(br7*z7)+(br8*z8)+(br9*z9)) /(br1+ br2 + br3 + br4 + br5 +br5 + br6

+ br7 + br8 + br9)


BAB III

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT

3.1. Blok Diagram dan Prinsip Kerja

3.1.1. Blok Diagram

Blok diagram perancangan alat, terdiri dari sensor LM35, sensor Soil

Moisture, RTC (Real Time Clock), dan button yang berfungsi sebagai input,

menggunakan Arduino Mega2560 sebagai mikrokontroler, kabel serial untuk

komunikasi serial Arduino. Untuk output dari dari sensor terdiri dari fan, pompa

air dan LCD 20 x 4 untuk menampilkan kondisi dari sistem. Adapun blok diagram

perancangan alat dapat dilihat pada blok diagram berikut :

Gambar 21. Blok Diagram Sistem

44
45

3.1.2 Fungsi Blok Diagram

1. Push Button, pada perancangan ini berfungsi sebagai tombol untuk

menghidupkan dan mematikan sistem.

2. Sensor LM35, pada perancangan ini berfungsi untuk mendeteksi suhu yang

terdapat didalam prototype rumah kaca, dimana data dari sensor LM35 akan

dijadikan patokan dalam pengaturan lamanya motor fan aktiv supaya bisa

menstabilkan kembali suhu yang terdapat didalam prototype rumah kaca,

dalam pengontrollan suhu menggunakan algoritma fuzzy yang diprogram

kedalam mikrokontroller arduino. Data yang terbaca oleh sensor LM35 akan

dikirim ke mikrokontroller arduino, data yang telah diterima mikrokontroller

arduino akan di proses menggunakan algoritma fuzzy, hasil pemprosesan data

tersebut akan mengaktivkan ouptut dari sensor yaitu motor fan, suhu yang

ideal yang dikontrol pada prototype rumah kaca yaitu 270C dengan nilai range

suhu maksimal 30 oC dan Minimal 18 oC.

3. Sensor Soil Moisture, berfungsi untuk mengukur kelembaban tanah yang

terdapat pada tanaman di dalam prototype rumah kaca, hasil pembacaan dari

sensor ini akan di jadiakan acuan untuk menentukan berapa lama pompa aktiv

untuk menyiram tanaman. Kelembaban tanah yang baik untuk pembibitan

tanaman adalah 50% sampai 70% , dari nilai ini lah set point untuk menyiram

tanaman ditentukan. Data yang terbaca pada sensor soil moisture akan di

kirim ke mikrokontroller kemudian hasil dari pemprosesan data tersebut yang

yang akan mengativkan pompa selama 30 detik untuk menyiram tanaman.

4. RTC, pada perancangan ini berfungsi untuk menampilkan waktu. Tanaman

akan diberikan penyiraman yang dilakukan secara rutin diwaktu pagi hari dan
46

sore hari berdasarkan waktu yang akan ditampilkan oleh RTC. Kemudian jika

kondisi dari waktu yang ditentukan telah sesuai, maka pompa akan aktiv 30

detik untuk menyiram tanaman.

5. Mikrokontroller Arduino Mega 2560, pada perancangan ini berfungsi untuk

mengolah dan memproses data hasil pembacaan dari sensor.

6. Motor fan, pada perancangan ini berfungsi sebagai penstabil suhu didalam

rumah kaca

7. Pompa 12 dc, pada perancancangan ini berfungsi untuk memompa air untuk

proses penyiraman tanaman nantinya.

8. LCD, pada perancangan ini berfungsi sebagai tampilan dari pembacaan data

yang terbaca oleh sensor

3.1.3. Prinsip Kerja

Sensor LM35 merupakan sensor yang digunakan untuk membaca suhu

didalam prototipe rumah kaca. Dimana data yang terbaca oleh sensor LM35 akan

dijadikan patokan untuk besar kecepatan motor fan, dalam pengontrolan kecepatan

motor fan untuk menstabilkan suhu pada prototipe rumah kaca menggunakan

algoritma fuzzy yang diprogramkan kedalam mikrokontroller arduino. Sensor Soil

Moisture merupakan sensor yang digunakan untuk membaca kelembaban tanah

didalam prototipe rumah kaca. Dimana data yang terbaca oleh sensor Soil Moisture

akan dijadikan patokan untuk mengaktivkan pompa untuk menyiram tanaman. RTC

(Real Time Clock) merupakan input waktu yang akan ditampilkan pada LCD,

kemudian waktu tersebut akan jadikan patokan untuk melakukan penyiram rutin

diwaktu pagi dan diwaktu sore hari.


47

Saat tombol start ditekan maka sistem akan aktiv, kemudian sensor LM35

dan soil mositure akan membaca kondisi dari lingkungan yang terdapat pada rumah

kaca. Data yang terbaca pada masing masing sensor akan dikirim ke

mikrokontroller untuk di proses sesuai dengan setting point yang telah di rancang.

Setelah kondisi dari lingkungan rumah kaca terbaca, maka output dari sistem akan

akan aktiv untuk mendapatkan kondisi yang sesuai dengan setting point untuk

rumah kaca. Pompa akan rutin aktiv 2 kali dalam sehari untuk menyiram tanaman

diwaktu pagi hari dan diwaktu sore hari berdasarkan waktu yang telah disetting

menggunakan RTC

3.2. Perancangan dan Pembuatan Perangkat Keras

3.2.1. Perancangan dan Pembuatan Rangkaian Power Supply

Gambar 22. Perancangan Rangkaian Power Supply


48

Input power supply adalah tegangan arus bolak balik (AC) sehingga

power supply harus mengubah tegangan AC menjadi DC (arus searah).

Rangkaian power supply pada umum nya berfungsi sebagai catu daya untuk

rangkaian, power supply juga berfungsi untuk mengubah tegangan AC

menjadi DC, dan salah satu manfaat penting yang dapat diambil dari ower

supply adalah menjaga atau mengatur tegangan atau daya yang masuk

keperangkat atau beban yang dialiri daya oleh power supply, hal ini cukup

penting karena ada beberapa komponen dalam rangkaian elektronika

misalnya yang bisa rusak atau terbakar jika tidak mendapat pasokan daya

yang stabil

3.2.2. Perancangan dan Pembuatan Rangkaian Sensor Suhu

Gambar 23. Blok Diagram Pengkuran Suhu

Rangkaian sensor suhu didalam prototipe rumah kaca berfungsi untuk

mengukur suhu lingkungan yang terdapat pada prototipe rumah kaca, saat

sensor aktiv maka sensor akan mengukur suhu didalam prototipe rumah kaca,

kemudian data akan dikirim ke mikrokontroller dan di proses yang akan

menghasilkan output motor fan.


49

Gambar 24. Perancangan Rangkaian Sensor Suhu


Tabel 1. Koneksi Pin Sensor LM35 Ke Mikrokontroller

Pin Sensor LM35 Keterangan Hubungan ke Mikrokontroler

1 Vcc +5V +5 V

2 Data A0

3 Gnd Gnd

3.2.3. Perancangan dan Pembuatan Rangkaian Sensor Kelembaban Tanah

Gambar 25. Blok Diagram Pengkuran Kelembaban Tanah

Rangkaian sensor soil moisture didalam prototipe rumah kaca

berfungsi untuk mengukur kelembaban tanah yang terdapat pada rumah kaca,

saat sensor aktiv maka sensor akan mengukur kelembaban tanah didalam
50

prototipe rumah kaca, kemudian data akan dikirim ke mikrokontroller dan di

proses yang akan menghasilkan output berupa pompa.

Gambar 26. Perancangan Rangkaian Sensor Soil Moisture

Tabel 2. Koneksi Pin Sensor Soil Moisture Ke Mikrokontroller

Pin Sensor Soil Moisture Keterangan Hubungan ke Mikrokontroler

1 Vcc +5V +5 V

2 Data A1

3 Gnd Gnd

3.2.4. Perancangan dan Pembuatan Rangkaian LCD 20 x 4

Gambar 27. Blok Diagram LCD Display


51

LCD 20 x 4 digunakan sebagai penampil dari ouput masing masing

sensor yang telah di proses di mikrokontroller arduino. LCD dihubungkan

ke pin 2, 3, 4, 5, 6, 7, Vcc dan ground pada mikrokontroler

Gambar 28. Perancangan Rangkaian LCD

Tabel 3. Konfigurasi Hubungan Pin LCD Ke Mikrokontroler

Pin LCD Keterangan Hubungan ke Pin Mikrokontroler

1 Gnd Gnd

2 Vcc +5 V

3 Contr Potensio

4 RS 2(PB0)

5 RW Gnd

6 E 3(PD1)

11 D4 4(PD2)

12 D5 5(PD3)

13 D6 6(PD4)

14 D7 7(PD5)
52

3.2.5. Perancangan dan Pembuatan Rangkaian Relay Pompa Air Listrik

Gambar 29. Blok Diagram Pompa Air Listrik

Rangkaian Relay Pompa Air Listrik berfungsi pengaktifan dan penon-

aktifan pompa untuk menyiram tanaman secara otomatis. Saat kelembaban

tanah pada tanaman kurang dari set point maka pompa akan aktiv dan

sebaliknya saat kelembaban tanaman melebihi set point maka pompa akan

mati

Gambar 30. Perancangan Rangkaian Relay Pompa Air Listrik


53

Tabel 4. Konfigurasi Hubungan Pin Relay Ke Mikrokontroler

Pin Relay Pompa Keterangan Hubungan ke Mikrokontroler

1 Vcc +5V +5 V

2 Data PD 30

3 Gnd Gnd

3.2.6. Perancangan dan Pembuatan Rangkaian Driver Motor

Gambar 31. Blok Diagram Relay

Fungsi utama dari rangkaian driver motor adalah untuk mengendalikan

kecepatan motor dan driver motor juga bisa mejaga rangkaian dari

kerusakan jika terjadi trouble pada motor saat bekerja.

Gambar 32. Perancangan Rangkaian Driver


54

Tabel 5. Konfigurasi Hubungan Pin Driver Ke Mikrokontroler

Pin Sensor DHT11 Keterangan Hubungan ke Mikrokontroler

1 Vcc +5V +5 V

2 Data PD 9

3 Data PD10

4 Data PD11

5 Data PD12

6 Gnd Gnd

Gambar 33. IC L298D

Fungsi pin driver motor DC IC L298D

1. Pin EN (Enable, EN1.2,EN3,4) berfungsi untuk mengijinkan driver

menerima perintah untuk menggerak kan motor DC.

2. Pin In (Input, 1A, 2A, 3A, 4A) adalah pin input kendali sinyal motorDC
55

3. Pin Out (Ouput, 1Y, 2Y, 3Y, 4Y) adalah jalur output masing masing driver

yang dihubungkan ke motor DC

4. Pin VCC (VCC1, VCC2) adalah jalur input tegangan sumber driver motor

DC, dimana VCC1 adalah jalur unput sumber tegangan rangkaian kontrol

driver,dan VCC2 adalah jalur unput sumber tegangan untuk motor DC

yang dikendalikan.

5. Pin GND (Ground) adalah jalur yang harus di hubungkan ke gorund.

3.2.7. Perancangan dan Pembuatan Rangkaian Keseluruhan Sistem

Gambar 34. Rancangan Rangkaian Keseluruhan Sistem


56

3.3. Perangcangan dan Pembuatan Perangkat Lunak

3.3.1 Algoritma Flowchart

1. Start

2. Input yang digunakan sensor LM35 dan sensor Soil Moisture

3. Sensor LM35 membaca suhu didalam rumah kaca, hasil pembacaan

suhu LM35 akan menjadi patokan untuk nilai error dan delta error.

4. Hasil error dan delta error akan diselesaikan menggunakan algoritma

fuzzy

5. Didapatkan output dufuzzyfikasi dan kemudian pwm motor fan akan

bertambah atau berkurang sesuai keputusan defuzzyfikasi.

6. Sensor Soil Moisture mendeteksi kelembaban tanah didalam rumah

kaca, jika kelembaban kecil dari 50% maka pompa aktiv, jika

kelembaban besar dari 50% maka pompa mati

7. RTC membaca waktu , hasil pembacaan waktu akan menyalakan

pompa di pukul 07:00 dan pukul 17:00.

8. Hasil Pembacaan input akan tampil pada LCD

9. Stop
57

3.3.2. Flowchart Sistem

Gambar 35. Flowchart Sistem

Dari flowchart diatas dapat dijelaskan proses kerja alat secara keseluruhan

mulai dari mendeteksi suhu, kelembaban tanah sampai dengan masing masing

output dari inputan dan tampilan kondisi dari prototype rumah kaca pada LCD .

Pada awal pengaktifan alat di mulai dari start, selanjutnya dilakukan proses

penentuan error dan delta error oleh inputan dari sensor yang menggunakan metoda
58

fuzzy pada sensor LM35. Kemudian dilakukan proses fuzzifikasi untuk

menentukan kecepatan motor fan. Apabila suhu yang terdeteksi didalam prototipe

rumah kaca belum sesuai dengan set point, maka penyelesaian logika fuzzy yang

terdiri atas fuzzifikasi, inferensi dan defuzzifikasi untuk mengambil tindakan

terhadap besar kecepatan pada motor fan. Sistem akan berjalan sampai kondisi dari

rumah kaca kembali pada keadaan normal selanjutnya kondisi yang terdapat pada

rumah kaca akan ditampilkan pada LCD. Untuk kelembaban tanah yang terdapat

pot pot tanaman didalam rumah kaca, saat sensor mendeteksi nilai kelembaban

tanah pada tanaman kurang dari 50 % maka pompa untuk menyiram tanaman akan

akan aktiv selama 30 detik. Waktu yang ditampilkan RTC akan dijadikan patokan

untuk menyiram tanaman pada waktu pagi dan waktu sore. Kemudian LCD akan

menampilkan hasil pembacaan dari sensor sampai keadaan dari kelembaban tanah

kembali normal. Program akan terus berlanjut bila sistem masih tetap menyala

sampai ditekan tombol stop.

3.3.2 Algoritma Logika Fuzzy

Berikut tahapan pembuatan algoritma logika fuzzy

Gambar 36. Tahapan Algoritma Fuzzy

Input crisp merupakan pembacaan data oleh sensor LM35 dan Soil

Moisture yang kemudian memasukin tahapan algoritma fuzzy. Pada

fuzzifikasi ini dimuat himpunan ke anggotaan dari sistem pengendali dari alat
59

yang akan dikontrol yaitu error, delta error dan output dari sensor LM35 dan

Soil Moisture, selanjut nya dibuat inferensi logika fuzzy yang merupakan

basis aturan penyelesaian masalah dengan logika fuzzy dan terakhir proses

defuzzifikasi atau proses untuk mengendalikan output crips atau penegasan

output yag diguakan untuk mengatur keadaan output dari sensor LM35 dan

Soil Moisture.

3.3.3 Rancangan Fuzzy Logic

a. Fuzzyfikasi pembuatan membership function ( MF )

Yaitu menentukan crips input dan output. Crips input yang digunakan

adalah error dan Delta error sedangkan crips output digunakan adalah Z (

Kecepatan motor fan ).

Gambar 37. Fungsi Keanggotaan Error

Ket : NE = Negatif Error

ZE = Nol Error

PE = Positif Error
60

Gambar 38. Fungsi Keangotaan Delta Error

Ket : ND = Negatif Delta Error

ZD = Nol Delta Error

PD = Positif Delta Error

Gambar 39. Fungsi Keanggotaan Output PWM

Ket : PL = PWM Lambat

PS = PWM Nol

PC = PWM Cepat
61

b. Pembuatan Rules

Secara umum respon fungsi step suatu sistem kendali memberikan output.

Pada sistem diaktifkan ,ouput akan bekerja dengan cepat menuju setting point (SP)

yang diatur pada suhu. Output ini oleh kontroler akan diturunkan atau dinaikan

menuju SP hingga output-ya mencapai SP. Yang dilakukan oleh kontroler untuk

menaikan dan menurunkan output harus sesuai dengan error dan d-error yang

terjadi. Sehingga kontroler dapat mengambil tindakan yang tepat untuk

menyesuaikan output-nya. Dibawah ini merupakan rule yang akan kita buat.

Rule

Error
ND ZD PD
Delta Error

NE PC PC PS

ZE PC PS PS

PE PS PS PL

1. Fungsi Keanggotaan Error


62

if (Error <= A) Maka

NE = 1;

ZE = 0;

PE = 0;

if (Error >= A)&&(Error <= B) Maka

NE = (B-Error)/(B-A);

ZE = (Error-A)/(B-A);

PE = 0;

if (Error >= B)&&(Error <=C) Maka

NE = 0;

ZE = (C-Error)/(C-B);

PE = (Error-B)/(C-B);

if (Error >= C)

NE = 0;

ZE = 0;

PE = 1;

2. Fungsi Keaanggotaan Delta Error


63

if (Deerror <= D) Maka


ND= 1;
ZD= 0;
PD= 0;
if (Deerror >= D)&&(Deerror <= E) Maka
ND= (E-Deerror)/(E-D);
ZD= (Deerror-D)/(E-D);
PD= 0;

if (Deerror >= E)&&(Deerror <= F) Maka


ND= 0;
ZD= (F-Deerror)/(F-E);
PD= (Deerror-E)/(F-E);

if (Deerror >= F) Maka


ND= 0;
ZD= 0;
PD= 1;

3. Pengambilan Keputusan
a. Jika (NE<ND) Maka u1=NE, Jika Tidak u1=ND
b. Jika (ZE<ND) Maka u2=ZE, Jika Tidak u2=ND
c. Jika (PE<ND) Maka u3=PE, Jika Tidak u3=ND
d. Jika (NE<ZD) Maka u4=NE, Jika Tidak u4=ZD
e. Jika (ZE<ZD) Maka u5=ZE, Jika Tidak u5=ZD
f. Jika (PE<ZD) Maka u6=PE, Jika Tidak u6=ZD
g. Jika (NE<PD) Maka u7=NE, Jika Tidak u7=PD
h. Jika (ZE<PD) Maka u8=ZE, Jika Tidak u8=PD
i. Jika (PE<PD) Maka u9=PE, Jika Tidak u9=PD
64

4. Penyelesaian Defuzzyfikasi
a. z1 = (H + (u1 * (I - H))
b. z2 = (H + (u2 * (I - H))
c. z31 = (G + (u3 * (H - G))
d. z32 = (I - (u3 * (I - H))
e. z4 = (H + (u4 * (I - H))
f. z51 = (G + (u5 * (H - G))
g. z52 = (I - (u5 * (I - H))
h. z61 = (G + (u6 * (H - G))
i. z62 = (I - (u6 * (I - H))
j. z71 = (G + (u7 * (H - G))
k. z72 = (I - (u7 * (I - H))
l. z81 = (G + (u8 * (H - G))
m. z82 = (I - (u8 * (I - H))
n. z9 = (H - (u9 * (H - G))

ZT1 = (z1*u1)+(z2*u2)+(z31*u3)+(z32*u3)+(z4*u4)+(z51*u5)+

(z52*u5)+(z61*u6)+(z62*u6)+(z71*u7)+(z72*u7)+(z81*u8)+

(z82*u8)+(z9*u9)

UT1= u1+u2+u3+u3+u4+u5+u5+u6+u6+u7+u7+u8+u8+u9;

Ztotal= ZT1 / UT1;


65

3.4 Perangcangan Mekanik

3.4.1 Perancangan Mekanik Keseluruhan

Dalam Perancangan mekanik terdapat 3 bagian utama dalam perancangan

diantaranya box rangkaian, badan rumah rumah kaca, dan box penampung air. Dari

3 bagian tersebut memiliki fungsi masing masing diantaranya :

1. Box rangkaian memiliki panjang 30 cm, lebar 23 cm dan tinggi 23 cm. Box

rangkaian digunakan untuk tempat rangkaian elektronik yang terdapat pada

alat diantara nya yaitu, trafo, rangkaian power supply, arduino mega 2560,

rangkaian driver, rangkaian relay, dan rangkaian LCD

Gambar 40. Gambar Box Supply

2. Badan rumah kaca memiliki panjang 80 cm lebar 40 cm dan tinggi 65 cm.

Badan rumah kaca digunakan untuk meletakan 5 buah sensor LM35, 4 buah

sensor Soil Moisture dan 10 pot tanaman cabe di dalamnya. Didalam badan

rumah kaca juga terdapat 3 buah motor fan untuk penstabil suhu dan pipa

pipa yang digunakan untuk menyiram tanaman didalam badan rumah kaca.
66

Gambar 41. Badan Rumah Kaca

3. Box penampung air digunakan untuk menampung air yang mana nantinya

air tersebut akan dialirkan untuk menyiram tanaman tanaman didalam

rumah kaca.

Gambar 42. Bak Penampung Air


67

Gambar 43. Desain Rumah Kaca Keseluruhan

3.4.2 Spesifikasi Alat

1. Tegangan Input : 220VAC/12VDC/5VDC

2. Frekuensi : 50 Hz – 60 Hz

3. Input : LM35, Soil Moisture YL-39, RTC

4. Mikrokontroller : Atmega 2560

5. Output : Fan DC 12 Volt , Pompa DC 12 Volt

3.4.3 Cara Mengoperasikan Alat

1. Hubungkan kabel power ke sumber listrik.

2. Tekan tombol power yang ada pada box supply.


68

3. Pada bagian depan box supply terdapat 3 buah tombol, yaitu tombol

star (hijau), stop (merah),dan reset (kuning).

4. Untuk menjalankan sistem pada alat, tekan tombol star bewarna

hijau.

5. Kemudian sistem akan aktiv

6. Hasil pembacaan dari sistem akan tampil pada LCD.


BAB IV

PENGUJIAN DAN ANALISA DATA

Pengujian merupakan merupakan salah satu langkah penting yang

dilakukan untuk mengetahui apakah sistem yang dibuat berjalan sesuai dengan

yang tujuan yang telah di rencanakan pada bab III, hal itu dapat dilihat dari hasil

data yang didapatkan selama pegujian. Apabila disesuaikan dengan tujuan

sebelumnya untuk melakukan pengendalian suhu, dan kelembaban tanah pada

rumah kaca, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah pengujian

rangkaian yang terdapat pada alat, dimulai dari rangkaian power supply, rangkaian

relay, rangkaian driver, mikrokontroller, pengujian masing masing sensor yang

digunakan dan pengujian sistem didalam rumah kaca.

4.1 Pengujian dan Analisa Rangkaian

Setiap rangkaian di uji berdasarkan nilai keluaran dari tegangan yang

dibutuhkan. Apakah tegangan sesuai dengan yang telah direncanakan ketika

perancangan atau tidak.

4.1.1 Pengujian Rangkaian Power Supply

Pengujian rangkaian catu daya dilakukan dengan cara mengukur nilai

tegangan keluaran dari power supply. Rangkaian power supply adalah suatu

rangkaian penyearah yaitu rangkaian yang mengubah sinyal bolak balik (AC)

menjadi sinyal searah (DC). Sesuai dengan rancangan yang dibuat, rangkaian

power supply yang di uji kali ini memiliki nilai keluaran tegangan 5 volt dc dan

tegangan 12 volt dc. Gambar rancangan power supply dapat dilihat pada gambar

dibawah ini

69
70

Gambar 44. Titik Pengukuran Tegangan Catu Daya

Tabel 6. Pengukuran Catu Daya


Tegangan Input Titik Pengukuran Hasil Pengukuran

TP1 (Output Lilitan 12 VACrms

Skunder)

TP2 (Output Dioda 15,5 V DC

Jembatan)
220 V AC
TP3 (Output IC 4,9 V DC

Regulator 7805)

TP4 (Output IC 11,3 V DC

Regulator 7812)

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat tegangan keluaran pada power supply

yang di rancang telah sesuai dengan yang diharapkan. Rangkaian power supply

yang dibuat memiliki tegangan keluaran 12 volt dc dan 5 volt dc. Rangkaian ini
71

terdiri dari sebuah trafo stepdown, rangkaian jembatan dioda, elektronik kapasitor

dan 2 buah IC Regulator (7812 dan 7805). Proses perubahan nilai tegangan di mulai

dari trafo stepdown yang yang menurunkan tegangan 220 VAC menjadi 12 VAC

kemudian tegangan yang telah diturunkan tadi masuk ke jembatan dioda. Pada

rangkaian jembatan dioda terjadi perubahan tegangan AC menjadi tegangan DC.

Tegangan yang keluar dari penyearah akan disaring oleh kapasitor 2200 uf/ 50 V.

Penggunaan kapasitor pada rangkaian penyearah ini akan mengurangi riak riak

tegangan ac yang masih tersisa, sehingga semakin besar kapasitor yang digunakan

maka akan memperkecil nilai tegangan riak yang dihasilkan sehingga tegangan DC

yang dihasilkan menjadi lebih baik. Hasil keluaran tegangan DC pada dioda akan

dibatasi oleh IC regulator 7812 untuk mendapat nilai tegangan 12 volt dc dan juga

dibatasi dengan IC regulator 7805 untuk mendapatkan tegangan 5 volt dc.

Tegangan 12 volt nantinya digunakan untuk menjalankan motor fan dan pompa 12

volt. Kemudian tegangan 5 volt fungsi nya yaitu untuk menjalankan

mikrokontroller nantinya.

4.1.2 Pengujian Mikrokontroller

Pengujian mikrokontroller arduino bertujuan untuk melihat kondisi dari

mikrokontroller, apakah mikrokontroller dapat berfungsi dengan baik atau tidak

dan supaya nantinya mikrokontroller dapat mengolah dan memproses data dari

pembacaan masing masing sensor nantinya. Untuk melalukan pengujian dari

mikrokontroller arduino dapat dilakukan dengan cara mengupload program yang

terdapat pada example kedalam arduino, program example yang di ambil untuk

melakukan pengujian mikrokontroller arduino pada kali adalah program blink, pada
72

program tersebut led yang terdapat pada pin 13 akan hidup dan mati sesuai delay

yang terdapat pada program.

Tabel 7. Pengujian Mikrokontroller


Tegangan
No Kondisi Led
(Pin 13)

1 4,9 V Menyala

2 0 Mati

Berdasarkan tabel diatas maka dapat dikatakan bahwa mikrokontroller

arduino berada dalam kondisi yang baik. Isi program yang digunakan untuk

pengujian keluaran arduino yaitu program digitalWrite(led, HIGH); delay(1000);

digitalWrite(led, LOW); delay(1000); ini berarti program akan mengeluarkan

tegangan pada pin output yaitu di pin 13 dalam 1 detik, kemudian tegangan pada

pin 13 tesebut juga akan dimatikan dalam waktu 1 detik, program akan terus

berulang sehingga tegangan yang dihasilkan pun akan terus bergantian sebesar 4,9

V dan 0 V. Masing masing sensor yang digunakan membutuhkan tegangan input

dari mikrokontroller minimal 3,5 volt untuk membaca data.

4.1.3 Pengujian Rangkaian Relay

Pengujian rangkaian relay dilakukan dengan cara memberikan nilai

masukan tegangan 5 volt dc dari arduino pada rangkaian relay dan kemudian

memutus tegangan tersebut , hasil dari tegangan input yang diberikan pada relay

akan terlihat pada led yang terdapat pada relay, saat kondisi relay dalam keadaan

aktiv maka akan terlihat yang menyala dan sebalik nya saat relay dalam keadaan

tidak aktiv maka led akan mati.


73

Gambar 45. Titik Pengukuran Rangkaian Relay

Tabel 8. Pengukuran Rangkaian Relay


Tegangan TP1 (Tegangan TP2 (Tegangan

Input (5 Vdc) Basis Emitor) Colector Emitor)

4,9 Vdc 0,8 Vdc 0,05

0 Vdc 0 4,9

Rangkaian relay berfungsi sebagai saklar untuk menghidupkan dan

mematikan relay. Pada tabel diatas dilakukan pengujian dengan memberikan

tegangan input melalui arduino sebesar 4,5 V dc. Proses tegangan yang diberikan

tersebut bekerja untuk memicu tegangan yang masuk pada basis transistor agar

relay dapat berfungsi. Fungsi transistor disini untuk sebagai pemicu tegangan untuk

mengaktivkan relay. Tegangan yang masuk pada basis transistor akan menyalakan

relay, merubah kontak relay dari NO (Normally Open) menjadi NC (Normally

Close) dan begitu juga sebalik nya.


74

Pada dasarnya relay dapat bekerja karena adanya medan magnet yang

digunakan untuk menggerakkan saklar. Saat kumparan diberikan tegangan sebesar

tegangan kerja relay, maka akan timbul medan magnet pada kumparan karena

adanya arus yang mengalir pada lilitan kawat. Kumparan yang bersifat sebagai

elektromagnet ini kemudian akan menarik saklar dari kontak NO ke kontak NC.

Jika kumparan dimatikan maka medan magnet pada kuparan akan hilang sehingga

nantinya akan menarik saklar ke kontak NO. Cara kerja tersebut nantinya

digunakan utuk mengaktivkan dan mematikan pompa air untuk menjaga

kelembaban dari tanah pada tanaman.

4.1.4 Pengujian Rangkaian Driver

Pengujian rangkaian driver bertujuan untuk mengetahui apakah rangkaian

dapat bekerja dengan baik atau tidak, rangkaian driver berfungsi sebagai saklar

terhadap motor exhaust fan serta untuk mengatur besaran nlai untuk kecepatan

motor fan. Pada pengujian driver ini dapat dilihat perubahan tegangan berdasarkan

inputan nilai byte yang diberikan. Hasil dari pengukuran dapat dilihat pada tabel

dibawah ini

Gambar 46. Titik Pengukuran Rangkaian Driver


75

Tabel 9. Tegangan Pada Pin Output Driver


Data PWM Tegangan Output
No
(Byte) (Volt DC)

1 25 1,2

2 50 2,4

3 100 4,7

4 150 7,0

5 175 8,2

6 200 9,4

7 225 10,5

8 255 11,9

Tabel diatas memperlihatkan pengukuran tegangan pada pin output driver.

Nilai logika 1 yang diberikan pada pin output driver motor berguna untuk

mengaktifkan putaran motor fan dimana nilai kecepatan motor fan berdasarkan data

dari pengolahan data fuzzifikasi pada mikrokontroller nantinya. Kecepatan motor

fan nantinya akan berubah sesuai dengan data pengolahan mikrokontroller semakin

tinggi error yang didapatkan pada pengujian maka kecepatan dari motor fan juga

akan terus meningkat.

4.2 Pengujian dan Analisa Sensor


Pengujian sensor LM35 digunakan untuk melihat kondisi dari sensor

LM35 yang digunakan. Berikut data pengukuran dari sensor LM35.


76

4.2.1 Liniearisai Regresi Sensor LM35

Pengukuran ini bertujuan untuk mendapatkan hasil perbandingan antara

tegangan dari sensor dengan alat ukur yang sudah terkalibrasi. Secara prinsip

sensor LM35 mempunyai koefesien sebesar 10 mV/oC yang berarti setiap kenaikan

1 oC berarti terjadi kenaikan tegangan sebesar 10 mV.

1. Sensor LM35
Tabel 10. Pengukuran Data ADC Pada Sensor LM35

Termometer Sensor LM35


No ADC ADC ADC ADC ADC ADC
Suhu (oC)
1 2 3 4 5 T
1 26,1 49 49 49 49 49 49
2 26,2 50 50 50 50 50 50
3 26,6 51 51 51 51 51 51
4 26,9 51 51 51 51 51 51
5 27,2 52 52 52 52 52 52
6 27,3 53 53 53 53 53 53
7 27,7 54 54 54 54 54 54
8 28,1 55 55 55 55 55 55
9 28,7 56 56 56 56 56 56
10 29,1 57 57 57 57 57 57
11 29,6 58 58 58 58 58 58
12 30,3 59 60 60 59 59 59,4
13 30,6 59 60 60 60 60 59,8
14 31,0 59 61 60 60 60 60
15 31,4 60 62 61 61 61 61
16 31,9 61 63 62 62 62 62
17 32,3 62 63 63 62 63 62,6
18 32,5 63 65 65 64 64 64,2
19 33,0 64 65 65 65 65 64,8
20 33,4 64 66 66 66 66 65,6
21 33,6 65 67 67 67 67 66,6
22 34,2 65 67 66 67 67 66,4
77

. Linierisasi regresi dilakukan untuk mendapatkan rumus perubahan

tegangan keluaran dari sensor berdasarkan suhu yang didapatkan. Dengan adanya

rumus ini, berapapun nilai tegangan, nilai suhu output sensor akan langsung

didapatkan tanpa melakukan pengujian alat langsung (Ir. Heriyanto.,MT, 2016).

Dari tabel tersebut didapatkan persamaan linearisasi sebagai berikut

𝑛∑(𝑥𝑦) − ∑𝑥∑𝑦
𝑚 = = 0,51378 = 0,46
𝑛∑(𝑥 2 ) − (∑𝑥)2
∑𝑦 ∑𝑥
𝑏 = − 𝑚 = 2,92
𝑛 𝑛

𝑦 = 𝑚𝑥 + 𝑏 = 0,45𝑥 + 3,92

Dimana, m = slope / Kemiringan linierisasi

b = Konstanta

y = Output Processing (Suhu Pada Termometer)

x = Input Pengukuran (Suhu LM35)

n = Banyaknya Pengukuran

Tabel diatas merupakan pembacaan data ADC dari sensor LM35 kemudian

data tersebut dibandingkan dengan alat ukur yang telah terkalibrasi yaitu

termometer digital. Dari perbandingan data ADC tersebut bisa didapatkan

persamaan linierisasi. Linierisasi adalah menyamakan pembacaan sensor

berdasarkan perubahan suhu pada termometer dengan sensor terhadap tegangan.

Rumus y tersebut digunakan untuk program pembacaan suhu sensor LM35 pada

sensor.
78

4.2.2 Linierisasi Regresi Sensor Soil Moisture YL-39

Berikut ini merupakan pembacaan data Analog Digital Conventer dari sensor

kelembaban tanah Soil Mositure YL-39 terhadap perubahan kelembaban tanah

yang terjadi. Pada mikrokontroller arduino sudah bisa diketahui pembacaan data

ADC dari sensor Soil Moisture YL-39 dengan mengetikan program “Analog

Read()” dan kemudian mengetikan “Serial.print()” pada program untuk

menampilkan hasil pembacaan dari sensor Soil Moisture YL-39 dari arduino.

Kemudian data ADC yang telah didapatkan, dilakukan perubahan nilai ADC

tersebut menjadi nilai persentase kelembaban tanah agar dapat diketahui kondisi

dari pengukuran kelembaban tanah yang sedang dilakukan.

1. Sensor Soil Moisture

Tabel 11. Pengukuran Data ADC Pada Sensor1 Soil Moisture YL-39

Soil Tester Sensor Soil Moisture


No Kelembaban ADC ADC ADC ADC ADC
Tanah (%) 1 2 3 4 T
1 65 239 250 236 236 240,25
2 60 298 302 294 294 297
3 55 348 353 343 343 346,75
4 50 387 398 294 294 343,25
5 45 445 459 461 461 456,5
6 40 494 504 496 504 499,5
7 35 553 550 558 558 554,75
8 30 604 603 608 608 605,75
9 25 642 665 655 655 654,25
10 20 695 701 694 694 696
79

Dari tabel tersebut didapatkan persamaan linearisasi sebagai berikut

𝑛∑(𝑥𝑦)− ∑𝑥∑𝑦
𝑚 = = −0,09776 = - 0,095
𝑛∑(𝑥 2 )− (∑𝑥)2

∑𝑦 ∑𝑥
𝑏 = − 𝑚 = 87,093
𝑛 𝑛

𝑦 = 𝑚𝑥 + 𝑏 = −0,097𝑥 + 87,093

Dimana, m = slope / Kemiringan linierisasi

b = Konstanta

y = Output Processing (Suhu Pada Soil Tester)

x = Input Pengukuran (Kelembaban Tanah)

n = Banyaknya Pengukuran

Tabel diatas merupakan pembacaan data ADC dari sensor Soil Moisture

kemudian data tersebut dibandingkan dengan alat ukur yang telah

terkalibrasi yaitu Soil Tester. Dari perbandingan data ADC tersebut bisa

didapatkan persamaan linierisasi. Linierisasi adalah menyamakan

pembacaan sensor berdasarkan perubahan kelembaban pada Soil Tester

dengan sensor terhadap tegangan. Rumus y tersebut digunakan untuk

program pembacaan kelembaban tanah pada sensor Soil Tester.

4.3 Pengujian dan Analisa Sensor Pada Alat

Berikut ini merupakan pengujian sensor suhu LM35 dan sensor kelembaban

tanah YL-39 yang terdapat didalam alat saat sudah dilinierisasi. Pengujian ini

dilakukan untuk melihat selisih pembacaan antara alat ukur dengan sensor – sensor

yang terdapat pada alat.


80

4.3.1 Perbandingan Suhu Rumah Kaca dengan Termometer

Berikut ini merupakan pengujian Sensor Suhu LM35 yang terdapat didalam

alat saat sensor sudah dilinierisasi.

Tabel 12. Perbandingan Suhu Termometer Dengan Sensor LM35


Termometer LM35 oC Error
No Sensor Sensor Sensor Sensor Sensor Suhu
Suhu oC (%)
0 1 2 3 4 T
1 26,6 26,12 26,12 26,13 26,12 26,13 26,12 1,81 %
2 27,2 26,73 26,73 26,73 26,73 26,82 26,74 1,69 %
3 27,7 27,01 27,01 27,01 27,01 27,14 27,03 2,41 %
4 28,7 27,82 27,82 27,82 27,82 27,82 27,82 3,06 %
5 29,6 28,92 28,92 28,92 28,92 28,92 28,92 2,29 %
6 30,3 29,49 29,49 29,49 29,49 29,59 29,59 2,34 %
7 31 30,26 30,26 30,26 30,26 30,32 30,32 2,19 %
8 31,9 30,92 30,92 30,92 30,92 30,92 30,92 3,07 %
9 32,3 31,54 31,54 31,54 31,54 31,62 31,62 2,11 %
10 33,4 32,12 32,12 32,12 32,12 32,12 32,12 3,83 %
11 33,7 32,54 32,54 32,54 32,54 32,54 32,54 3,44 %
12 33,9 32,76 32,76 32,76 32,76 32,76 32,76 3,36 %
Persentase Errror Rata - Rata Didalam Rumah Kaca 2,66 %

Berikut grafik perbandingan antara suhu pada termometer dengan suhu

pada sensor LM35 didalam rumah kaca


81

35
34
33
32

Suhu (oC)
31
30
29
28
27
26
25
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Termometer Suhu Rata Rata Pengukuruan

Gambar 47. Grafik Perbadingan Suhu Pada Termometer Dengan Sensor

LM35

Tabel dan grafik diatas memperlihatkan perbandingan suhu rata rata yang

terbaca oleh sensor LM35 dengan suhu yang terbaca oleh termometer. Dimana pada

tabel diatas didapatkan persentase kesalahan rata rata oleh sensor LM35 dengan

nilai error terkecil 1,78 % dan nilai error terbesar 3,36%. Kemudian persentase error

rata – rata yang didapatkan sebesar 2,66%. Berikut rumus yang dipergunakan untuk

menentukan persentase error didalam rumah kaca :

Suhu Termometer - Suhu Rata- rata Sensor x 100%


Error =
Suhu Termometer

Sebagai contoh untuk mencari persentase nilai error rata - rata, misalkan

suhu rata – rata yang diapatkan 32,12oC dan suhu yang terbaca pada termometer

33,4oC maka berikut hasil perhitungan nya.

33,4 – 32,12 x 100% = 3,83%


Error =
33,4
82

4.3.2 Perbandingan Sensor Kelembaban Tanah Dengan Soil Tester

Berikut ini merupakan pengujian sensor kelembaban tanah YL-39 yang

terdapat didalam alat saat sensor sudah dilinierisasi.

Tabel 13. Perbandingan Soil Tester Dengan Sensor Soil Moisture YL-39
Kelembaban Tanah (%)
Persentase
No
Soil Sensor Sensor Sensor Sensor Kelembaban Error
Tester 1 2 3 4 Rata Rata
1 20 20,42 20,16 20,16 20,16 20,23 1,12 %

2 25 26,34 25,18 25,18 25,18 25,47 1,84 %

3 30 31,86 30,47 30,47 30,47 30,81 2,65 %

4 35 37,9 35,6 35,6 35,6 36,17 3,24 %

5 40 42,02 41,72 41,72 41,72 41,79 4,29 %

6 45 47,28 46,87 46,87 46,87 46,97 4,19 %

7 50 52,65 51,64 51,64 51,64 51,89 3,64 %

8 55 56,78 57,82 56,95 56,68 57,05 3,61 %

9 60 62,52 61,68 61,68 61,68 61,89 3,05 %

10 65 67,81 66,78 66,78 66,78 67,04 3,04 %

Persentase Error Rata-Rata 3,07 %

Berikut grafik perbandingan antara kelembaban tanah pada Soil Tester

dengan sensor kelmbaban tanah YL-39 didalam rumah kaca.


83

75
70
65
60
55

Suhu (oC)
50
45
40
35
30
25
20
15
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Soil Tester Kelembaban Rata Rata Pengukuruan

Gambar 48. Grafik Perbandingan Kelembaban Pada Soil Tester

Dengan Sensor Soil Moisture YL-39

Tabel dan grafik diatas memperlihatkan perbandingan kelembaban rata –

rata yang terbaca oleh sensor soil moisture YL-39 terhadap kelembaban pada

soiltester. Dimana dari pengukuran yang telah dilakukan didapatkan persentase

kesalahan rata rata pembacaan oleh sensor soil moisture YL-39 dengan nilai error

terkecil sebesar 1,06 % dan nilai error terbesar 5,30 %.

Berikut rumus yang dipergunakan untuk menentukan persentase error

didalam rumah kaca :

Soil Tester – Sensor Kelembaban × 100%


Error =
Soil Tester

Sebagai contoh untuk mencari persentase nilai error , misalkan kelembaban

yang terbaca pada sensor soil moisture YL-39 yaitu 51,89 % dan kelembaban yang

terbaca pada pada soil tester 50 % maka berikut hasil perhitungan nya.

51,89 – 50 x 100% = 3,64%


Error =
51,89
84

4.4 Pengujian dan Analisa Alat

4.4.1 Pengukuran Suhu Maksimal dan Minimal Pada Alat

Berikut ini merupakan pengujian sensor suhu LM35 yang terdapat didalam

alat saat sensor sudah dilinierisasi. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui

kondisi suhu maksimal dan suhu minimal yang terdapat pada rumah kaca.

1. Pengukuran Pada Pagi Hari


Tabel 14. Suhu Maksimal dan Minimal Rumah Kaca di Pagi hari

Suhu Rumah Kaca


Persentase
No Waktu (0C) Keterangan
Error
Termomter LCD
1 06:00 26,1 25,82 1,07 %
2 06:30 26,2 25,91 1,10 %
3 07:00 26,6 26,16 1,65 %
4 07:30 26,9 26,48 1,56 %
5 08:00 27,2 26,84 1,32 % Tanpa
6 08:30 28,3 27,81 1,73 % Kendali
7 09:00 28,4 28,02 1,33 % (Motor Fan
8 09:30 28,8 28,35 1,56 % Off)
9 10:00 29,2 28,62 1,98 %
10 10:30 29,6 29,04 1,89 %
11 11:00 29,8 29,12 2,28 %
Persentase Error Rata-Rata 1,60 %

Berikut grafik perbandingan antara suhu pada termometer dengan suhu

pada sensor LM35 didalam rumah kaca pada waktu pagi hari.
85

35
34
33
32

Suhu (oC)
31
30
29
28
27
26
25
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Termometer Sensor LM35 Pengukuruan

Gambar 49. Grafik Perbandingan Termometer Dengan Sensor LM35 Pada

Rumah Kaca di Pagi hari

Berdasarkan tabel dan grafik diatas dapat dilihat perbandingan suhu antara

termometer digital dengan sensor LM35 didalam rumah kaca pada kondisi waktu

di pagi hari jam 06:00 sampai jam 11:00. Berdasarkan pengukuran tersebut

didapatkan pengukuran suhu terendah 25,82 oC dan suhu tertinggi 29,12 oC dengan

nilai error terendah 1,07 % dan nilai error tertinggi 2,28 %, kemudian persentase

error rata - rata dari pengukuran suhu di pagi hari yaitu sebesar 1,60 %.

Berikut rumus yang dipergunakan untuk menentukan persentase error

didalam rumah kaca :

Suhu Termometer - Suhu Sensor × 100%


Error =
Suhu Termometer
86

Sebagai contoh untuk mencari persentase nilai error , misalkan suhu yang

terbaca pada sensor LM35 26,48 oC dan suhu yang terbaca pada termometer 26,9
o
C maka berikut hasil perhitungan nya.

26,9 – 26,48 x 100% = 1,56%


Error =
26,9
2. Pengukuran Pada Siang Hari
Tabel 15. Suhu Maksimal dan Minimal Rumah Kaca di Siang hari

Suhu Rumah Kaca


No Waktu (0C) Error Keterangan

Termomter LCD
1 12:00 30,4 29,75 2,13 %
2 12:30 31,5 30,68 2,60 %
3 13:00 32,3 31,52 2,41 %
4 13:30 32,5 31,65 2,61 %
5 14:00 33,0 32,24 2,30 % Tanpa
6 14:30 33,4 32,64 2,27 % Kendali
7 15:00 33,6 32,92 2,02 % (Motor Fan
8 15:30 34,2 33,47 2,13 % Off)
9 16:00 32,5 31,64 2,64 %
10 16:30 31,7 31,08 1,95 %
11 17:00 31,2 30,31 2,85 %
Persentase Error Rata-Rata 2,36 %

Berikut grafik perbandingan antara suhu pada termometer dengan suhu

pada sensor LM35 didalam rumah kaca pada waktu siang hari.
87

39

37

35
Suhu (oC) 33

31

29

27

25
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Termometer Sensor LM35 Pengukuruan

Gambar 50. Grafik Perbandingan Termometer Dengan Sensor LM35 Pada

Rumah Kaca di Siang hari

Berdasarkan tabel dan grafik diatas dapat dilihat perbandingan suhu antara

termometer digital dengan sensor LM35 didalam rumah kaca pada kondisi waktu

di pagi hari jam 12:00 sampai jam 17:00. Berdasarkan pengukuran tersebut

didapatkan pengukuran suhu terendah pada siang hari sebesar 29,75 oC dan suhu

tertinggi 33,47 oC dengan nilai error terendah 2,13 % dan nilai error tertinggi 2,64

%, kemudian persentase error rata - rata dari pengukuran suhu di pagi hari yaitu

sebesar 2,36 %.

Berikut rumus yang dipergunakan untuk menentukan persentase error

didalam rumah kaca :

Suhu Termometer - Suhu Sensor × 100%


Error =
Suhu Termometer
88

Sebagai contoh untuk mencari persentase nilai error , misalkan suhu yang

terbaca pada sensor LM35 32,64 oC dan suhu yang terbaca pada termometer 33,4
o
C maka berikut hasil perhitungan nya.

33,4 – 32,64 x 100% = 2,27%


Error =
33,4

3. Pengukuran Pada Malam Hari


Tabel 16. Suhu Maksimal dan Minimal Rumah Kaca di Malam hari

Suhu Rumah Kaca


No Waktu (0C) Error Keterangan
Termomter LCD
1 18:00 30,6 29,89 2,32 %
2 18:30 30,7 29,92 2,54 %
3 19:00 29,8 29,18 2,08 %
4 19:30 29,5 29,02 1,62 %
5 20:00 29,4 28,75 2,21 %
6 20:30 29,1 28,42 2,33 % Tanpa
7 21:00 28,6 28,06 1,88 % Kendali
8 21:30 28,5 27,87 2,21 % (Motor Fan
9 22:00 28,4 27,74 2,32 % Off)
10 22:30 28,2 27,45 2,65 %
11 23:00 27,9 27,12 2,79 %
12 23:30 27,6 27,04 2,02 %
13 24:00 27,4 26,82 1,86 %
Persentase Error Rata-Rata 2,22 %

Berikut grafik perbandingan antara suhu pada termometer dengan suhu

pada sensor LM35 didalam rumah kaca pada waktu malam hari.
89

39

37

35

Suhu (oC) 33

31

29

27

25
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
Termometer Sensor LM35 Pengukuruan

Gambar 51. Grafik Perbandingan Termometer Dengan Sensor LM35 Pada

Rumah Kaca di Malam hari

Berdasarkan tabel dan grafik diatas dapat dilihat perbandingan suhu antara

termometer digital dengan sensor LM35 didalam rumah kaca pada kondisi waktu

di pagi hari jam 18:00 sampai jam 24:00. Berdasarkan pengukuran tersebut

didapatkan pengukuran suhu terendah pada malam hari sebesar 26,82 oC dan suhu

tertinggi 29,89 oC dengan nilai error terendah 1,62 % dan nilai error tertinggi 2,79

%, kemudian persentase error rata - rata dari pengukuran suhu di pagi hari yaitu

sebesar 2,22 %.

Berikut rumus yang dipergunakan untuk menentukan persentase error

didalam rumah kaca :

Suhu Termometer - Suhu Sensor × 100%


Error =
Suhu Termometer
90

Sebagai contoh untuk mencari persentase nilai error , misalkan suhu yang

terbaca pada sensor LM35 27,87 oC dan suhu yang terbaca pada termometer 28,5
o
C maka berikut hasil perhitungan nya.

28,5 – 27,87 x 100% = 2,21%


Error =
28,5

4.4.2 Pengaruh Kelembaban Tanah Terhadap Lama Penyiraman


Perubahan kelembaban tanah sangat dipengaruhi terhadapat lama nya

penyiraman yang dilakukan. Tanah yang terlalu basah atau terlalu kering dapat

menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu. Berikut data perubahan

kelembaban tanah berdasarkan lamanya waktu penyiraman yang diberikan.

Tabel 17. Perubahan Kelembaban Tanah Berdasarkan Lama Penyiraman


Perubahan Kelembaban Besar Keterangan
Pot
No Tanaman
Waktu Data Vout Kelembaban Perubahan Aktiv
ADC (V) (%) (%) Pompa
0 393 1,73 51,04 Sebelum 10 s
1 Pot 1 0,39
10 s 389 1,71 51,43 Setelah 10 s
0 399 1,75 50,32 Sebelum 15 s
2 Pot 2 0,53
15 s 394 1,73 50,85 Setelah 15 s
0 427 1,88 47,74 Sebelum 20 s
3 Pot 3 1,07
20 s 416 1,83 48,81 Setelah 20 s
0 424 1,86 48,03 Sebelum 25 s
4 Pot 4 1,36
25 s 410 1,8 49,39 Setelah 25 s
0 411 1,81 49,29 Sebelum 30 s
5 Pot 5 1,75
30 s 393 1,73 51,04 Setelah 30 s
0 425 1,86 47,04 Sebelum 35 s
6 Pot 6 1,92
35 s 416 1,83 48,96 Setelah 35 s
0 428 1,88 47,64 Sebelum 40 s
7 Pot 7 3,3
40 s 394 1,73 50,94 Setelah 40 s
0 417 1,83 48,71 Sebelum 45 s
8 Pot 8 3,78
45 s 378 1,66 52,49 Setelah 45 s
0 427 1,88 47,74 Sebelum 50 s
9 Pot 9 5,05
50 s 375 1,65 52,79 Setelah 50 s
0 414 1,82 49,2 Sebelum 55 s
10 Pot 10 5,14
55 s 359 1,58 54,34 Setelah 55 s
0 397 1,74 50,65 Sebelum 60 s
11 Pot 11 6,11
60 s 334 1,47 56,76 Setelah 60 s
91

Berdasarkan tabel pengukuran diatas dapat dilihat perubahan kelembaban

tanah berdasarkan lama penyiraman yang diberikan, tabel tersebut memperlihatkan

bahwa lama waktu penyiraman sangat mempengaruhi besar perubahan yang terjadi

pada kelembaban tanah. Setelah dilakukan pengujian sebanyak 12 kali, dengan

lama waktu penyiraman yang berbeda-beda didapatkan perubahan kelembaban

yang terus meningkat setiap penambahan 5 detik waktu penyiraman. Saat diberikan

penyiraman selama 5 detik pertama kelembaban bertambah sebesar 0,58% dan

untuk lama penyiraman selama 60 detik didapatkan perubahan kelembaban tanah

sebesar 6,11%. Semakin lama waktu penyiraman yang diberikan maka kelembaban

tanah juga akan semakin besar

4.5 Pengujian dan Analisa Algoritma Fuzzy


Fungsi Keanggotaan Error

Gambar 52. Fungsi Keanggotaan Error


Gambar diatas memperlihatkan himpunan keanggotaan NE ≤ 0, -2 ≤ ZE ≤

2, dan PE ≥ 0
92

Fungsi Keanggotaan Delta Error

Gambar 53. Fungsi Keanggotaan Delta Error


Gambar diatas memperlihatkan himpunan keanggotaan ND ≤ 0, -1 ≤ ZD ≤

1, dan PD ≥ 0

Output Kecepatan Motor Fan

Gambar 54. Output Kecepatan Fan


Gambar diatas memperlihatkan himpunan keanggotaan PL ≤ 0, -10 ≤ PS

≤ 1, dan PC ≥ 0
93

Tabel 18. Basis Aturan Logika Fuzzy

Error
ND ZD PD
Delta Error

NE PC PC PL

ZE PC PS PL

PE PC PL PL

Keterangan data parameter adalah sebagai berikut

Tabel 19. Keterangan Fungsi Keanggotaan

No Parameter Variabel

1 NE Negatif Error

2 ZE Error Nol

3 PE Posistif Error

4 ND Negatif Delta error

5 ZD Delta error Nol

6 PD Positif Delta error

7 PL PWM Lambat

8 PS PWM nol

9 PC PWM Cepat
94

4.5.1 Kendali Suhu Menggunakan Algoritma Fuzzy

Berikut ini merupakan pengujian sistem kontrol suhu menggunakan

algoritma fuzzy didalam rumah kaca. Pengujian dilakukan ketika semua sistem

dalam keadaan aktiv.

1. Pengukuran Pada Pagi Hari

Tabel 20. Suhu Dalam Rumah Kaca di Pagi hari

Suhu Rumah Kaca Kecepatan


Persentase
No Waktu (0C) Motor
Error
Termomter LCD Fan

1 06:00 25,4 25,08 1,25 % 0


2 06:30 26,6 26,28 1,20 % 0
3 07:00 26,8 26,32 1,79 % 23
4 07:30 26,9 26,42 1,78 % 146
5 08:00 27,1 26,82 1,03 % 185
6 08:30 27,3 27,02 1,02 % 207
7 09:00 27,5 27,09 1,49 % 231
8 09:30 27,6 27,14 1,66 % 255
9 10:00 27,8 27,45 1,25 % 255
10 10:30 28,5 27,9 2,10 % 255
11 11:00 29,6 28,85 2,53 % 255
Persentase Error Rata-Rata 1,56%

Berikut grafik perbandingan termometer dengan sensor suhu didalam

rumah kaca pada waktu pagi hari.


95

34

32

30
Suhu (oC)
28

26

24

22

20
06.00 06.30 07.00 07.30 08.00 08.30 09.00 09.30 10.00 10.30 11.00
Suhu Luar Rumah Kaca
Pengukuruan
Suhu di dalam rumah kaca

Gambar 55. Grafik Suhu Dalam Rumah Kaca di Pagi hari

Berdasarkan tabel dan grafik diatas dapat dilihat suhu didalam rumah kaca

pada kondisi waktu di pagi hari nulai dari jam 06:00 sampai jam 11:00.

2. Pengukuran Pada Siang Hari

Tabel 21. Suhu Dalam Rumah Kaca di Siang hari

Suhu Rumah Kaca Keceoatan


Persentase
No Waktu (0C) Motor
Error
Fan
Termomter LCD
1 12:00 30,2 29,58 2,05 % 255
2 12:30 30,4 29,72 2,23 % 255
3 13:00 30,5 29,85 2,13 % 255
4 13:30 30,7 29,96 2,41 % 255
5 14:00 31,2 30,54 2,11 % 255
6 14:30 31,4 30,67 2,32 % 255
7 15:00 31,7 30,75 2,99 % 255
8 15:30 30,6 29,73 2,84 % 255
9 16:00 30,5 29,62 2,88 % 255
10 16:30 30,2 29,41 2,61 % 255
11 17:00 29,9 29,24 2,20 % 255
Persentase Error Rata-Rata 2,43 %
96

Berikut grafik perbandingan termometer dan sensor suhu didalam rumah

kaca pada waktu siang hari.

35
34
33
32
Suhu (oC)

31
30
29
28
27
26
25
12.00 12.30 13.00 13.30 14.00 14.30 15.00 15.30 16.00 16.30 17.00
Suhu Luar Rumah Kaca
Pengukuruan
Suhu di dalam rumah kaca

Gambar 56. Grafik Suhu Dalam Rumah Kaca di Siang hari

Berdasarkan tabel dan grafik diatas dapat dilihat suhu didalam rumah kaca

pada kondisi waktu di pagi hari nulai dari jam 12:00 sampai jam 17:00. Dari tabel

tersebut dapat dilihat bahwa kondisi dari suhu didalam rumah kaca tidak sanggup

mencapai setpont yang diakibatkan penstabil suhu didalam rumah kaca hanya

menggunakan motor fan DC 12 V. Kecepatan motor fan sudah berada dalam

kondisi maskimal yaitu dengan nilai PWM sebesar 255. Namun kondisi lingkungan

luar yang cukup panas juga berefek pada kondisi suhu didalam rumah kaca.

Semakin tinggu suhu di luar rumah kaca maka suhu didalam dalam rumah kaca juga

akan ikut terpengaruhi


97

3. Pengukuran Pada Malam Hari

Tabel 22. Suhu dalam Rumah Kaca di Malam hari

Suhu Rumah Kaca Kecepatan


Persentase
No Waktu (0C) Motor
Error
Termomter LCD Fan

1 18:00 29,8 29,17 2,11 % 255


2 18:30 29,7 29,02 2,28 % 255
3 19:00 28,4 27,68 2,53 % 255
4 19:30 28,3 27,56 2,61 % 255
5 20:00 28,1 27,43 2,38 % 255
6 20:30 27,9 27,25 2,32 % 253
7 21:00 27,9 27,22 2,43 % 254
8 21:30 27,9 27,21 2,47 % 232
9 22:00 27,8 27,2 2,15 % 215
10 22:30 27,8 27,18 2,23 % 197
11 23:00 27,4 27,02 1,38 % 170
12 23:30 27,4 27 1,45 % 158
13 24:00 27,3 26,82 1,75 % 136
Persentase Error Rata-Rata 2,16 %

Berikut grafik perbandingan termometer dan sensor suhu didalam rumah

kaca pada waktu malam


98

40
38
36
34
Suhu (oC)
32
30
28
26
24
22
20
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
Suhu Luar Rumah Kaca
Pengukuruan
Suhu di dalam rumah kaca

Gambar 57. Grafik Suhu dalam Rumah Kaca di Malam hari

Tabel dan grafik diatas memperlihat kan pengukuran kondisi pada rumah

kaca di pagi hari, siang hari dan di malam hari. Pada pengukuran tersebut terlihat

bahwa sistem pada alat sudah dapat bekerja dengan baik terlihat dari perubahan

kecepatan motor fan saat kondisi dari suhu mulai meningkat dan suhu menurun.

Kondisi kecepatan dari motor fan akan disesuaikan secara otomatis menggunakan

algoritma fuzzy sampai suhu didalam rumah kaca kembali stabil. Pada kondisi pagi

hari sistem dapat mencapai suhu ideal untuk tanaman cabe dan terlihat dari suhu

nilai suhu yang didapat yaitu 27 oC. Sistem dapat mencapai set point yang

diinginkan diakibatkan kondisi dari lingkungan luar yang cukup stabil sehingga

motor fan dapat menstabilkan suhu sesuai dengan yang diinginkan. Persentase nilai

error rata rata yang didapatkan jika dibandingkan hasil pengkuran dengan setpoint

adalah sebesar 2,48%.

Pada kondisi siang hari sistem tidak dapat mencapai suhu ideal untuk

tanaman cabe. Suhu yang didapat pada kondisi siang hari berikisar antara 28 oC
99

sampai 30 oC , hal tersebut diakibat kan dari kondisi lingkugan luar yang sangat

berpengaruh terhadapat rumah kaca, pada kondisi siang hari kecepatan putaran

motor fan berada dalam kondisi maksimal karena setpoint pada sistem adalah 27oC.

Faktor lain yang menyebabkan suhu didalam rumah kaca tidak dapat mencapai

setpoint adalah tidak sanggupnya motor fan untuk menurunkan suhu didalam rumah

kaca, karena pada prototipe rumah kaca hanya menggunakan motor fan dc 12 volt

untuk menurunkan suhu. Persentase error rata rata yang didapatkan jika hasil

pengukuran dibandingkan dengan setpoint adalah sebesar 9,79%.

Pada kondisi malam hari sistem dapat berjalan dengan baik dengan

mampunya sistem mencapai suhu ideal untuk tanaman, pada malam hari suhu 27oC

sudah didapatkan kembali, hal tersebut juga dipengaruhi dari kondisi lingkungan

luar yang sudah kembali dalam keadaan normal. Untuk perubahan kecepatan motor

faan juga dapat dilihat saat suhu kembali stabil, dimana kecepatan motor fan

berkurang saat suhu sudah mencapai setpoit. Persentase error rata – rata yang

didapatkan jika hasil pengukuran dibandingkan dengan setpoint adalah sebesar

1,93%.

Suhu ideal untuk pertumbuhan tanaman cabe adalah 25 oC – 27 oC namun

suhu maksimal dan suhu minimal dari pertumbuhan tanaman cabe adalah 18 oC –

30 oC (Balai Perlindungan Tanaman Pangan Dan Hortikultura Padang, 2014). Pada

pengukuran diatas terlihat sistem sudah dapat mencapai suhu ideal dari

pertumbuhan tanaman, namun pada kondisi siang hari yang di akibat kan tidak

sanggup nya motor fan menurunkan suhu mencapai 27 dikarenakn suhu lingkungan

luar yang sangat berpengaruh besar terhadap kondisi didalam rumah kaca. Pada

kondisi suhu maksimal, kelembaban tanah dari tanaman cabe harus tetap terjaga
100

dengan nilai antara 50 % - 70 %, karena kelembaban tanah juga merupakan hal

yang sangat berperan penting dalam pertubumbuhan suatu tanaman

4.5.2 Perbandingan Suhu Rumah Kaca dengan Kelembaban Tanah

Berikut ini merupakan pengujian suhu dan kelembaban tanah pada rumah

kaca. Kelembaban tanah sangat berpengaruh terhadapat pertumbuhan suatu

tanaman semakin tinggi suhu yang didapat oleh suatu tanaman maka kelembaban

tanah harus tetap terjaga agar kondisi pertumbuhan dari tanaman tetap tumbuh

dengan baik

1. Pengukuran Kelembaban Tanah Pada Pagi Hari

Tabel 23. Pengujian Kelembaban Tanah di Pagi Hari

Suhu Rumah Kelembaban


No Waktu Pompa air
Kaca (oC) Tanah(%)
1 06:00 25,4 50,43 Mati
2 06:30 26,6 50,23 Mati
3 07:00 26,8 49,21 Hidup
4 07:30 26,9 51,32 Mati
5 08:00 27,1 51,15 Mati
6 08:30 27,3 50,80 Mati
7 09:00 27,5 50,42 Mati
8 09:30 27,6 50,10 Mati
9 10:00 27,8 49,21 Hidup
10 10:30 28,5 51,32 Mati
11 11:00 29,6 51,22 Mati
Kelembaban Rata-Rata 50,61
101

Pengujian pertama dilakukan pada waktu pagi hari, pada

pengukuran tersebut pompa menyala sebanyak 2 kali saat kelembaban

kurang dari 50%, kemudian setelah dilakukan pengukuran sebanyak 11 kali

di pagi hari didapatkan kelembaban rata – rata sebesar 50,61%.

2. Pengujian Kelembaban Tanah Pada Siang Hari

Tabel 24. Pengujian Kelembaban Tanah di Siang Hari

Suhu Rumah Kelembaban


No Waktu Pompa air
Kaca (oC) Tanah(%)
1 12:00 29,58 50,31 Mati
2 12:30 29,72 49,40 Hidup
3 13:00 29,85 51,40 Mati
4 13:30 29,96 51,23 Mati
5 14:00 30,54 50,10 Mati
6 14:30 30,67 49,54 Hidup
7 15:00 30,75 51,17 Mati
8 15:30 29,73 50,24 Mati
9 16:00 29,62 49,43 Hidup
10 16:30 29,41 51,26 Mati
11 17:00 29,24 50,64 Hidup
Kelembaban Rata Rata 50,62

Pengujian kedua dilakukan pada waktu siang hari, pada pengukuran

tersebut pompa menyala sebanyak 4 kali saat kelembaban kurang dari 50%,

kemudian setelah dilakukan pengukuran sebanyak 11 kali di siang hari

didapatkan kelembaban rata – rata sebesar 50,62%.


102

3. Pengukuran Kelembaban Tanah Pada Malam Hari

Tabel 25. Pengujian Kelembaban Tanah di Malam Hari

Suhu Rumah Kelembaban


No Waktu Pompa air
Kaca (oC) Tanah(%)
1 18:00 29,17 50,78 Mati
2 18:30 29,02 50,29 Mati
3 19:00 27,68 49,88 Hidup
4 19:30 27,56 51,65 Mati
5 20:00 27,43 51,87 Mati
6 20:30 27,25 51,68 Mati
7 21:00 27,22 51,65 Mati
8 21:30 27,21 50,24 Mati
9 22:00 27,2 50,07 Mati
10 22:30 27,18 49,55 Hidup
11 23:00 27,02 51,31 Mati
12 23:30 27 51,68 Mati
13 24:00 26,82 51,28 Mati
Kelembaban Rata Rata 50,91

Pengujian ketiga dilakukan pada waktu malam hari, pada

pengukuran tersebut pompa menyala sebanyak 3 kali saat kelembaban

kurang dari 50%, kemudian setelah dilakukan pengukuran sebanyak 13 kali

di malam hari didapatkan kelembaban rata – rata sebesar 50,91%.

Berdasarkan tabel pengujian kelembaban tanah di atas maka

didapatkan bahwa sistem sudah dapat mengontrol kelembaban tanah dengan

kelembaban yang ideal. RTC digunakan untuk melakukan penyiramanan

rutin terhadap tanaman. Penyiraman yang diberikan pada tanaman diwaktu


103

pagi puku 07:00 dan diwaktu sore hari pukul 17:00. Didalam pengaturan

kelembaban tanah, kelembaban tanah yang ideal untuk pembibitan tanaman

cabe adalah 50 % – 70 % . Faktor suhu dari lingkungan juga mempengaruhi

perubahan dari kelembaban tanah, karena suhu yang panas menyebabkan

kelembaban tanah cepat mengalami perubahan dari tanah yang lembab

menjadi kering. Kelembaban tanah sangat berperan penting dalam

pertumbuhan suatu tanaman, tanaman yang memiliki tanah yang kering atau

terlalu basah dapat menyebabkan pertumbuhan dari suatu tanaman

tergaggu. Pada dasarnya pertumbuhan tanaman cabe merah sangat

dipengaruhi oleh suhu, dan kelembaban tanah.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan data dan pengukuran terhadap prototipe kontrol suhu dan

kelembaban tanah pada rumah kaca, maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut.

1. Sensor suhu pada sistem ini memiliki error rata-rata keseluruhan

terhadap termometer yang digunakan sebagai pembanding sebesar

2,66%.

2. Sensor kelembaban tanah pada sistem ini memiliki error rata-rata

keseluruhan terhadap soil tester yang digunakan sebagai pembanding

sebesar 3,07%

3. Pesentase error yang didapatkan untuk mencapai nilai set point diwaktu

pagi hari adalah sebesar 2,48 %, padang siang hari sebesar 9,79%, dan

pada malam hari sebesar 1,93%.

4. Ketidak sanggupan nya alat untuk mendapatkan nilai set point suhu pada

siang hari diakibatkan oleh pendingan yang hanya menggunakan motor

fan 12 volt dc.

5. Kelembaban tanah terus meningkat setiap penambahan 5 detik

penyiraman. Dari rata rata yang didapatkan, setiap penambahan 1 detik

penyiraman tanaman, kelembaban tanah naik sebesar 0,067%.

6. Dalam pembibitan, tanaman dapat tumbuh dengan baik asal kelembaban

tanah tetap terjaga.

104
105

5.2 Saran

1. Pedingin pada alat ini hanya menggunakan hanya motor fan 12 volt

dc, maka apabila alat ini bisa dikembangkan bisa ditambah kan

pendingin yang dapat menstabilkan suhu walau kondisi suhu luar

yang tinggi.

2. Sumber arus pada alat ini menggunakan listrik PLN dan apabila

PLN melakukan pemadaman listrik tentunya alat ini juga tidak dapat

berfungsi maka sebaiknya alat ini bisa dikembangkan menggunakan

energi solar cel yang digunakan sebagai sumber arus cadangan

dalam keadaan darurat.


DAFTAR PUSTAKA

1. Arif.2011. Sensor Soil Moisture. (0nline : diakses tanggal 7 Juni 2017).

Vcc2GND.com Solusi – Rekayasa – Elektronika – Soil – Moisture –

Hygrometer – Sensor - YL69_LM393.html

2. Arsip,2012. (0nline : diakses tanggal 4 April 2017) Gudang Fisika Rumah

kaca html.

3. Ahmad Fajri Eriyanto, 2016, Rancang Bangun Sistem Monitoring Tingkat

Kekeruhan dan Level Ketinggian Air Bak Penampungan

4. Andriani, Johan, Yovan Witanto, Hendra, 2014. Pengontrollan Temperatur

Air Laut Skala Kecil, Jurnal Rekayasa Mesin Vol 5, No 2 Tahun 2014.

Jurusan Teknik Elektro Universitas Bengkulu.

5. Caesar Pats Yahwe, Isnawaty, L.M Fid Aksaa, 2016. Rancang Bangun

Prototipe System Monitoring Kelembaban Tanah Melalui SMS

Berdasarkan Hasil Penyiraman Tanaman.

6. Desmon Kendek allo, Dringhuzen J. Mamahit. ST., M.Eng, Drs Bahrun,

M.Kes, Novi M. Tulung ST.,MT, Tahun 2013. Rancang Bangun Alat Ukur

Temperatur Untuk mengukur Selisih Dua Keadaan Jurusan Teknik Elektro

FT, UNSRAT, Manado

7. Dimas Gusti Pradista,2016 Data IC L298 Motor Driver. (0nline : diakses

tanggal 28 Juni 2017). Data IC L298 Motor Driver My Project.html

8. Ferry Firmansyah, jurnal agrikultura 2009. Pengaruh Umur Pindah

Tanaman Bibit dan Populasi Tanaman Terhadap Hasil dan Kualitas Sayuran

Packoy (Brassisca campestris L, Chinensis group) Yang Ditanaman Dalam

Naungan Kasa di Dataran Mendium.


9. Ir. Heriyanto MT, 2013. Bahan Ajar Instrumentasi dan Pengukuran

Politeknik Negeri Bandung, Jurusan Teknik Kimia.

10. Kiki Amelia, 2015. Perancangan monitoring suhu, kelembaban dan titik

embun udara segar secara real time menggunakan mikrokontroller arduino

dengan logika fuzzy yang dapat diakses melalui internet Jurusan sistem

informasi fakultas andalas.

11. Reno Fajar Sidiq,2016. Rancang Bangun Pengering Cengkeh dengan

menggunakan Fuzzy logic

12. Rois’Am, Kemalasari, Bambang Sumantri, 2010. Ardik Wijayanto

Pengaturan Posisi Motor Servo DC Dengan Metoda Fuzzy Logic Jurnal

Elktronika PENS-ITS, Politeknik Negeri Surbaya,2010

13. Siti Fauziah, 2017. Pengendali Suhu Ruangan Berbasis Arduino Dengan

MOSFET dan Sensor LM35 Program Studi Teknik Elektronika, Politeknik

Negeri Bandung.

14. Yudhi Gunardi, Firmansyah,2001. Perancangan Kontrol Otomatis

Temperatur Rumah Kaca Berbasis Mikrokontroller AT89S51 Jurusan

Elektro Universitas Mercu Buana


LAMPIRAN 1

I II III

Nama Bagian No.Bag Bahan Ukuran Keterangan

SKEMATIK RANGKAIAN Skala Dgbr Darma Putra

POWER SUPPLY Dprs Tim Penguji

POLITEKNIK NEGERI No.BP 1311012014

PADANG
LAMPIRAN 2

I II III

Nama Bagian No.Bag Bahan Ukuran Keterangan

SKEMATIK RANGKAIAN Skala Dgbr Darma Putra

RELAY Dprs Tim Penguji

POLITEKNIK NEGERI No.BP 1311012014

PADANG
LAMPIRAN 3

I II III

Nama Bagian No.Bag Bahan Ukuran Keterangan

SKEMATIK RANGKAIAN Skala Dgbr Darma Putra

DRIVER Dprs Tim Penguji

POLITEKNIK NEGERI No.BP 1311012014

PADANG
LAMPIRAN 4

I II III

Nama Bagian No.Bag Bahan Ukuran Keterangan

SKEMATIK RANGKAIAN Skala Dgbr Darma Putra

LCD Dprs Tim Penguji

POLITEKNIK NEGERI No.BP 1311012014

PADANG
LISTING PROGRAM

#include <LiquidCrystal.h> float


Kelembaban1,Kelembaban2,Kelembaban3,Kelemb
LiquidCrystal lcd(7, 6, 5, 4, 3, 2); aban4;
float Sp = 27; float Kelembaban;
float Error=0; float KelembabanTotal;
float ErrorTadi=0; //===================================
float Deerror=0; ==========================

//====================== Button 1 Button 2 //==========================LM35=====


Button 3================== ==========================

const int buttonPin1 = 32; int sensorReading1 = A8;

const int buttonPin2 = 34; int sensor1;

int buttonState1 = 0; float Data1;

int buttonState2 = 0; float celsius1;

const int ledPin = 36; float millivolts1;

int ciput=0;

//=======================KELEMBABAN int sensorReading2 = A9;


TANAH===================== int sensor2;
int led=30; float Data2;
int Moisture = A2; float celsius2;
int NilaiMoisture6 = 0; float millivolts2;
float Data6=0;

int sensorReading3 = A10;


int Moisture7 = A3; int sensor3;
int NilaiMoisture7 = 0; float Data3;
float Data7=0; float celsius3;

float millivolts3;
int Moisture8 = A4;

int NilaiMoisture8 = 0; int sensorReading4 = A11;


float Data8=0; int sensor4;

float Data4;
int Moisture10 = A5; float celsius4;
int NilaiMoisture10 = 0; float millivolts4;
float Data10=0;

int sensorReading5 = A12;


int sensor5; float NE,ZE,PE;

float Data5; float ND,ZD,PD;

float celsius5; float PL,PS,PC;

float millivolts5; float u1,u2,u3,u4,u5,u6,u7,u8,u9;

=========================Suhu float z1,z2,z3,z4,z51,z52,z6,z7,z8,z9;


Luar=======================
float UT1;
int sensorReading9 = A13;
float ZT1;
int sensor9;
float Ztotal;
float Data9;
//======================PWM=========
float celsius9; ===================

float millivolts9; int en1=13;

==================================== int en2=8;


========================
int in1=12;
float SuhuTotal;
int in2=11;
float celsiusTotal;
int in3=10;
//===================================
========================= int in4=9;

//======================FUNGSI ====================================
KEANGOTAAN====================== ====================

float A= -2; void setup()

float B= 0; {

float C= 2; Serial.begin(9600);

lcd.begin(20, 4);

float D= -1;

float E= 0; lcd.setCursor(0,0);

float F= 1; lcd.print(" ");

lcd.setCursor(0,1);

float G= -10; lcd.print(" Hello Mom & Dad ");

float H= 0; lcd.setCursor(0,2);

float I= 10; lcd.print(" Start Stop Reset ");

lcd.setCursor(0,3);

float pwm = 135; lcd.print(" Green House ");

delay(100);

//float Error = 2; // lcd.clear();

//float Deerror = 1;
pinMode(en1,OUTPUT);
pinMode(in1,OUTPUT); def52();

pinMode(in2,OUTPUT); def6();

pinMode(en2,OUTPUT); def7();

pinMode(in3,OUTPUT); def8();

pinMode(in4,OUTPUT); def9();

pinMode(led,OUTPUT); zt();

} fan();

ErrorTadi=Error;

void loop() nilai();

{ kondisi();

buttonState1 = digitalRead(buttonPin1); Tampilan();

Serial.println( buttonState1); }

if (buttonState1 == HIGH) }

{ }

while(1) //=======================KONDISI NILAI


SUHU===================
{
void awal()
if (buttonState1 == HIGH)
{
digitalWrite(ledPin, HIGH);
sensor1 = analogRead (sensorReading1);
delay(100);
millivolts1 = (((sensor1 / 1024.0) * 5000));
digitalWrite(ledPin, LOW);
celsius1 = ((0.51*sensor1)+0.57);
delay(1000);

sensor2 = analogRead (sensorReading2);


buttonState2 = digitalRead(buttonPin2);
millivolts2 = (((sensor2 / 1024.0) * 5000));
if (buttonState2==HIGH)
celsius2 = ((0.45*sensor2)+3.9);
{break;}

awal();
sensor3 = analogRead (sensorReading3);
error();
millivolts3 = (((sensor3 / 1024.0) * 5000));
deerror();
celsius3 = ((0.45*sensor3)+3.4);
Ut();

def1();
sensor4 = analogRead (sensorReading4);
def2();
millivolts4 = (((sensor4 / 1024.0) * 5000));
def3();
celsius4 = ((0.45*sensor4)+3.3);
def4();

def51();
sensor5 = analogRead (sensorReading5);
millivolts5 = (((sensor5 / 1024.0) * 5000)); Kelembaban= Kelembaban1+
Kelembaban2+Kelembaban3+Kelembaban4;
celsius5 = ((0.45*sensor5)+3.4);
KelembabanTotal= Kelembaban/4;

}
SuhuTotal=(celsius1+
celsius2+celsius3+celsius4+celsius5); void kondisi()

celsiusTotal= (SuhuTotal/5); {

if (KelembabanTotal<=50)

Error = (Sp-celsiusTotal); {

Deerror = Error - ErrorTadi; digitalWrite(led, HIGH);

} delay(25000);

//=================================== }
=================================
else
//===================NILAI
KELEMBABAN DAN {
KONDISI===================== digitalWrite(led,LOW);
void nilai() }
{ }
NilaiMoisture6 = analogRead(A2); //===================================
Kelembaban1 = (-0.102*NilaiMoisture6)+82.162; ==========================

if (Kelembaban1 <= 0){Kelembaban1 = 0;} //==================Void


Error=================================

void error()
NilaiMoisture7 = analogRead(A3);
{
Kelembaban2 = (-0.09*NilaiMoisture7)+84.26;
if (Error <= A)
if (Kelembaban2 <= 0){Kelembaban2 = 0;}
{

NE = 1;
NilaiMoisture8 = analogRead(A4);
ZE = 0;
Kelembaban3 = (-0.097*NilaiMoisture8)+89.71;
PE = 0;
if (Kelembaban3 <= 0){Kelembaban3 = 0;}
}

if ((Error >= A)&&(Error <= B))


NilaiMoisture10 = analogRead(A5);
{
Kelembaban4 = (-
0.097*NilaiMoisture10)+89.162; NE = (B-Error)/(B-A);

if (Kelembaban4 <= 0){Kelembaban4 = 0;} ZE = (Error-A)/(B-A);

PE = 0;

if ((Error >= B)&&(Error <=C))


{ {

NE = 0; ND= 0;

ZE = (C-Error)/(C-B); ZD= 0;

PE = (Error-B)/(C-B); PD= 1;

} }

if (Error >= C) }

{ //================Void
Pembanding=========================
NE = 0;
void Ut()
ZE = 0;
{
PE = 1;
if (NE<ND){u1=NE;}else {u1=ND;}
}
if (ZE<ND){u2=ZE;}else {u2=ND;}
}
if (PE<ND){u3=PE;}else {u3=ND;}
//=================Void Delta
Error==================

void deerror() if (NE<ZD){u4=NE;}else {u4=ZD;}

{ if (ZE<ZD){u5=ZE;}else {u5=ZD;}

if (Deerror <= D) if (PE<ZD){u6=PE;}else {u6=ZD;}

ND= 1; if (NE<PD){u7=NE;}else {u7=PD;}

ZD= 0; if (ZE<PD){u8=ZE;}else {u8=PD;}

PD= 0; if (PE<PD){u9=PE;}else {u9=PD;}

} }

if ((Deerror >= D)&&(Deerror <= E)) //=================Void Z1 Sampai


Z9===============
{
void def1()
ND= (E-Deerror)/(E-D);
{
ZD= (Deerror-D)/(E-D);
if(u1==0){z1=0;}
PD= 0;
else if (u1>0 && u1<1){z1 = (H+(u1*(I-H)));}
}
else if (u1==1){z1=I;}
if ((Deerror >= E)&&(Deerror <= F))
}
{
void def2()
ND= 0;
{
ZD= (F-Deerror)/(F-E);
if(u2==0){z2=0;}
PD= (Deerror-E)/(F-E);
else if (u2>0 && u2<1){z2 = (H+(u2*(I-H)));}
}
else if (u2==1){z2=I;}
if (Deerror >= F)
} else if (u7>0 && u7<1){z7 = (H+(u7*(I-H)));}

void def3() else if (u7==1){z7=I;}

{ }

if(u3==0){z3=0;} void def8()

else if (u3>0 && u3<1){z3 = (H-(u3*(H-G)));} {

else if (u3==1){z3=G;} if(u8==0){z8=0;}

} else if (u8>0 && u8<1){z8 = (H-(u8*(H-G)));}

void def4() else if (u8==1){z8=G;}

{ }

if(u4==0){z4=0;} void def9()

else if (u4>0 && u4<1){z4 = (H+(u4*(I-H)));} {

else if (u4==1){z4=I;} if(u9==0){z9=0;}

} else if (u9>0 && u9<1){z9 = (H-(u9*(H-G)));}

void def51() else if (u9==1){z9=G;}

{ }

if(u5==0){z51=0;} //===================Nilai
Z=====================
else if (u5>0 && u5<1){z51 = (G+(u5*(H-G)));}
void zt()
else if (u5==1){z51=H;}
{
}
ZT1=
void def52() (z1*u1)+(z2*u2)+(z3*u3)+(z4*u4)+(z51*u5)+(z52
{ *u5)+(z6*u6)+(z7*u7)+(z8*u8)+(z9*u9);

if(u5==0){z52=0;} UT1=
u1+u2+u3+u3+u4+u5+u5+u6+u6+u7+u7+u8+u8+
else if (u5>0 && u5<1){z52 = (I-(u5*(I-H)));} u9;
else if (u5==1){z52=H;} Ztotal= ZT1/UT1;
} }
void def6() void fan()
{ {
if(u6==0){z6=0;} pwm = Ztotal + pwm;
else if (u6>0 && u6<1){z6 = (H-(u6*(H-G)));} if (pwm <= 0){pwm = 0;}
else if (u6==1){z6=G;} else if(pwm >= 255){pwm = 255;}
} analogWrite(en1,pwm);
void def7() digitalWrite(in1, HIGH);
{ digitalWrite(in2, LOW);
if(u7==0){z7=0;} digitalWrite(led,HIGH);
Serial.print("Pwm=");

analogWrite(en2,pwm); Serial.print(pwm);

digitalWrite(in3, HIGH); Serial.print(" ");

digitalWrite(in4, LOW);

} Serial.print("Zt1=");

Serial.print(ZT1);

//============Tampilan================= Serial.print(" ");


==

void Tampilan()
Serial.print("Ut1=");
{
Serial.print(UT1);
lcd.setCursor(0, 0);
Serial.print(" ");
lcd.print("Er=");

lcd.print(Error);
Serial.print("ERROR=");

Serial.print(Error);
lcd.setCursor(10, 0);
Serial.print(" ");
lcd.print("DEer=");

lcd.print(Deerror);
Serial.print("DEERROR=");

Serial.print(Deerror);
lcd.setCursor(0, 1);
Serial.print(" ");
lcd.print("Suhu = ");

lcd.print(celsiusTotal);
Serial.print("Tadi=");

Serial.print(ErrorTadi);
lcd.setCursor(0, 2);
Serial.print(" ");
lcd.print("Pwm Fan = ");

lcd.print(pwm);
Serial.print("Suhu=");

Serial.print(celsius1);
lcd.setCursor(0, 3);
Serial.print(" ");
lcd.print("Kel.Tanah = ");

lcd.print(KelembabanTotal);
Serial.print("Suhu2=");

Serial.print(celsius2);
delay(3000);
Serial.print(" ");
Serial.print("Ztot=");

Serial.print(Ztotal);
Serial.print("Suhu3=");
Serial.print(" ");
Serial.print(celsius3);
Serial.print(" "); Serial.print("KelembabanT= ");

Serial.println(KelembabanTotal);

Serial.print("Suhu4=");

Serial.print(celsius4); }

Serial.print(" ");

Serial.print("Suhu5=");

Serial.print(celsius5);

Serial.print(" ");

Serial.print("SuhuLuar=");

Serial.print(celsius9);

Serial.print(" ");

Serial.print("SuhuT=");

Serial.print(celsiusTotal);

Serial.print(" ");

// Serial.print("NilaiADC");

// Serial.print(NilaiMoisture6);

// Serial.print(" ");

// Serial.print("Kelembaban= ");

// Serial.print(Data6);

//

// Serial.print(" ");

// Serial.print("Kelembaban2= ");

// Serial.print(Data7);

//

// Serial.print(" ");

// Serial.print("Kelembaban3= ");

// Serial.print(Data8);

//

Serial.print(" ");