Anda di halaman 1dari 19

Definisi Ruptur uteri

Lazimnya kitamembedakan rupture uteri yang lengkap dan tidak lengkap,


tergantung apakah laserasi tersebut berhubungan langsung dengan kavum peritonei atau
dipisahkan dari kavum tersebut oleh peritoneumviseralis uterus atau oleh ligamentum
kardinale. Tentu saja rupture yang tidak lengkap bisa berubah kapan saja menjadi
lengkap.

Kita juga harus membedakan antara rupture jaringan parut bekas seksio sesarea.
Rupture paling tidak berarti pelepasan luka insisi lama disepanjang uterus dengan
robeknya selaput ketuban sehingga kavum uteri berhubungan langsung dengan kavum
peritonei. Pada keadaan ini, seluruh bagian janin biasanya mengalami ekstruksi kedalam
kavum peritonei. Disamping itu biasanya, terjadi perdarahan yang kerap kali masif, dari
tepi jaringan parut atau dari perluasan dari robekan yang bisa mencapai bagian uterus
yang sebelumnya tidak apa-apa. Sebaliknya, pada dehisensi jaringan parut bekas seksio
sesarea, selaput ketuban tidak pecah dan janin tidak mengalami ekstruksi ke dalam
kavum peritonei. Peristiwa dehisensi ini mempunyai ciri khas, yaitu pemisahan tersebut
tidak mengenai seluruh jaringan parut yang sudah ada sebelumnya pada uterus,
kemudian peritoneum yang melapisi defek tersebut tetap utuh, dan perdarahan tidak
terdapat atau hanya sedikit. Dehisensi terjadi berangsur-angsur sementara rupture
kemungkinan besar merupakan kejadian yang simptomatik dan kadang-kadang
berakibat fatal. Pada persalinan atau tindakan manipulasi intrauteri, suatu dehisensi
dapat berubah menjadi rupture.

(Cunningham, MacDonald, Gant, 1995 : 470)

Rupture uteri merupakan peristiwa yang paling gawat dalam bidang kebidanan
karena angka kematiannya yang tinggi. Janin pada rupture uteri yang terjadi diluar
rumah sakit sudah dapat meninggal dalam kavum abdomen. Perlu diperhatikan bahwa
rupture uteri yang dapat mencapai bidan, puskesmas, atau rumah sakit harus dapat
ditolong apalagi dengan berbagai kemampuan untuk memberikan antibiotika dan
transfuse sehingga kematian karena infeksi dapat diatasi.

(Manuaba, 1998 : 380)

1
Ruptur uteri adalah robekan atau diskontuinitas dinding rahim akibat
dilampauinya daya regang myometrium.

(Prawirohardjo, Sarwono, 2000 : 169)

Kejadian ini merupakan salah satu malapetaka yang terbesar dalam ilmu
kebidanan. Kematian anak mendekati 100% dan kematian ibu sekitar 30%.

(Fakultas kedokteran Universitas Padjajaran Bandung, 1984 : 221)

Etiologi

Rupture uteri bisa disebabkan oleh anomaly atau kerusakan yang telah ada
sebelumnya, karena trauma, atau sebagai komplikasi persalinan pada rahim yang masih
utuh. Paling sering terjadi pada rahim yang telah diseksio sesarea pada persalinan
sebelumnya. Lebih lagi jika pada uterus yang demikian dilakukan partus percobaan atau
persalinan yang dirangsang dengan oksitosin atau sejenis.

Pasien yang berisiko tinggi antara lain persalinan yang menglami distosia,
grandemultipara, penggunaan oksitosin atau prostaglandin untuk mempercepat
persalinan, pasien hamil yang pernah melahirkan sebelumnya melalui bedah sesar atau
operasi lain pada rahimnya, pernah histerorafia, pelaksanaan trial of labour terutama
pada pasien bekas seksio sesarea, dan sebagainya. Oleh sebab itu, untuk pasien dengan
panggul sempit atau bekas seksio sesarea klasik berlaku adagium Once Caesarean
Section Always Caesarean Section. Pada keadaan tertentu seperti ini dapat dipilih
elective caesarean section (ulangan) untuk mencegah rupture uteri dengan syarat janin
sudah matang. Eksplorasi pascapartus pada persalinan yang sukar dengan perdarahan
yang banyak atau pascapartus dengan kemingkinan dehisens perlu dilakukan untuk
memastikan tidak adanya rupture uteri.

(Prawirohardjo, Sarwono, 2014 : 515 - 516)

Rupture uteri dapat terjadi sebagai akibat cedera atau anomali yang sudah ada
sebelumnya sebelumnya, atau dapat menjadi komplikasi dalam persalinan dengan uterus
yang sebelumnya tanpa parut.

2
Akhir-akhir ini, penyebab rupture uteri yang paling sering adalah terpisahnya
jaringan parut akibat seksio sesarea sebelumnya, dan peristiwa ini kemungkinan sering
terjadi bersamaan dengan timbulnya kecenderungan untuk memperbolehkan partus
percobaan pada persalinan dengan riwayat seksio sesarea. Shiono dkk (1987) dari
National Institute of Child Health And Human Development melaporkan bahwa tahun
1970 partus percobaan diperbolehkan pada 2,1 persen wanita dengan riwayat persalinan
lewat seksio sesarea, dan pada tahun 1984, angka tersebut meningkat mencapai 8
persen. Flamm (1988) dan Phelan (1987) dkk. masing-masing melaporkan lebih dari
1500 kasus wanita semacam itu dan insiden rupture uteri yang tampak jelas adalah 0,2
hingga 0,5 persen.

Factor predisposisi lainnya yang sering ditemukan pada rupture uteri adalah
riwayat operasi atau manipulasi yang mengakibatkan trauma seperti kuretase atau
perforasi (Fedorkow dkk., 1987). Stimulasi uterus secara berlebihan atau kurang tepat
dengan oksitosin, yaitu suatu penyebab yang sebelumnya lazim ditemukan, tampak
semakin berkurang. Umumnya, uterus yang sebelumnya tidak pernah mengalami
trauma dan persalinan berlangsung spontan, tidak akan terus berkontraksi dengan kuat
sehingga merusak dirinya sendiri.

Sejak tahun 1963 hingga 1983 terdapat 24 kasus rupture uteri pada Duke
University (Eden dkk., 1986). Hanya 21 persen diantara kasus-kasus tersebut yang
memperlihatkan rupture pada jaringan parut bekas seksio sesarea, dan sisanya
terdistribusi kurang-lebih sama banyaknya diantara sebab-sebab berikut ini : persalinan
forsep-tengah, versi dan ekstraksi bokong, persalinan presipitatus, pemberian oksitosin
yang tidak tepat dan partus lama.

(Cunningham, MacDonald, Gant, 1995 : 469 - 470)

Patofisiologi

Pada waktu his korpus uteri berkontraksi dan mengalami retraksi. Dengan demikian,
dinding korpus uteri atau segmen atas rahim menjadi lebih tebal dan volume korpus
uteri menjadi lebih kecil. Akibatnya, tubuh janin yang menempati korpus uteri
terdorong ke bawah ke dalam segmen bawah rahim. Segmen bawah rahim menjadi

3
lebih lebar dan karenanya dindingnya menjadi lebih tipis karena tertarik ke atas oleh
kontraksi segmen atas rahim yang kuat, berulang, dan sering sehingga lingkaran retraksi
yang membatasi kedua segmen semakin bertambah tinggi. Apabila bagian terbawah
janin dapat terdorong turun tanpa halangan dan jika kapasitas segmen bawah rahim
telah penuh terpakai untuk ditempati oleh tubuh janin, maka pada gilirannya bagian
terbawah janin terdorong masuk kedalam jalan lahir melalui pintu atas panggul kedalam
vagina melalui pembukaan jika serviks bisa mengalah. Sebaliknya, apabila bagian
terbawah janin tidak dapat turun oleh karena sesuatu sebab yang menahannya (misalnya
panggul sempit atau kepala janin besar) maka volume korpus yang tambah mengecil
pada waktu ada his harus diimbangi oleh perluasan segmen bawah rahim keatas.
Dengan demikian, lingkaran retraksi fisiologik (physiologic retraction ring). Lingkaran
patologik ini disebut lingkaran Bandl (ring van bandl). Ini terjadi karena segmen bawah
rahim terus-menerus tertarik ke proksimal, tetapi tertahan di bagian distalnya oleh
serviks yang terpegang pada tempatnya oleh ligamentum sakrouterin dibagian belakang,
ligamentum cardinal pada kedua belah sisi kanan dan kiri, dan ligamentum
vesikouterina pada dasar kandung kemih. Jika his berlangsung kuat terus-menerus,
tetapi bagian terbawah tubuh janin tidak kunjung turunlebih kebawah melalui jalan
lahir, lingkaran retraksi makin lama semakin meninggi (ring van bandl berpindah
mendekati pusat) dan segmen bawah rahim semakin tertarik keatas sembari dindingnya
menjadi sangat tipis hanya beberapa millimeter saja lagi. Ini menandakan telah terjadi
tanda-tanda rupture uteri iminens dan rahim terancam robek. Pada saatnya dinding
bawah rahim itu akan robek spontan pada tempat yang tertipis ketika his berikut datang,
dan terjadilah perdarahan yang banyak bergantung pada luas robekan yang terjadi dan
pembuluh darah yang terputus. Umumnya robekan terjadi pada dinding depan segmen
bawah rahim, luka robekan bisa meluas secara melintang atau miring. Bila mengenai
daerah yang ditutupi ligamentum latum terjadi luka robekan yang meluas ke samping.
Robekas bisa juga meluas ke korpus atau ke serviks atau terus ke vagina (kolpaporeksis)
dan bahkan kadang kala bisa mencederai kandung kemih. Pertumpahan darah sebagian
besar mengalir kedalam rongga peritoneum, sebagian yang lain mengalir melalui
pembukaan serviks ke vagina. Peristiwa robekan pada segmen bawah rahim yang sudah
menipis itu (dalam satu rupture uteri iminens) dipercepat jika ada manipulasi dari luar,

4
misalnya dorongan pada perut sekalipun tidak terlalu kuat sudah cukup untuk
menyebabkan robekan. Demikian juga apabila fundus uteri didorong-dorong seperti
yang banyak dilakukan pada upaya mempercepat persalinan atau oleh dorongan dari
bawah seperti pada pemasangan cunan yang sulit, dan sebagainya. Oleh karena itu, jika
terlihat lingkaran bandl penolong haruslah sangat berhati-hati. Ketika terjadi robekan
pasien merasa amat nyeri seperti teriris sembilu dalam perutnya, dan his terakhir yang
masih kuat itu sekaligus mendorong sebagian atau seluruh tubuh janin keluar rongga
rahim kedalam rongga peritoneum. Melalui robekan tersebut usus dan omentum
mendapat jalan masuk sehingga bisa mencapai vagina dan bisa diraba pada waktu
periksa dalam.

Rupture uteri yang tidak merobek perimetrium sering terjadi pada bagian bawah
rahim yang longgar hubungannya dengan peritoneum yaitu pada bagian samping dan
dekat kandung kemih. Disini dinding serviks yang meregang karena ikut tertarik bisa
ikut robek. Robekn pada bagian samping bisa sampai melukai pembuluh-pembuluh
darah besar yang terdapat didalam ligamentum latum. Jika robekan terjadi pada bagian
dasar ligamentum latum, arteria uterina atau cabang-cabangnya bisa terluka disertai
perdarahan yang banyak, dan didalam parametrium di pihak yang robek akan terbentuk
hematoma yang besar dan menimbulkan syok yang sering barakibat fatal.

Dari sudut pandang patofisiologi rupture uteri dapat ditinjau apakah terjadi
dalam masa hamil atau dlaam persalinan, apakah terjadi pada rahim yang utuh atau pada
rahim yang bercacat, dan sebagainya. Tinjauan ini mungkin berlebihan karena tidak
penting dari sudut klinik tetapi mungkin ada gunanya dari aspek lain. Tinjauan tersebut
bisa mempengaruhi pilihan operasi, apakah akan dilakukan histerektomi atau
histerorafia. Dibawah diutarakan tinjauan tersebut menurut beberapa aspek.

Aspek Anatomik

Berdasarkan lapisan dinding rahim yang terkena rupture uteri dibagi kedalam rupture
uteri komplit dan rupture uteri inkomplit. Pada rupture uteri komplit ketiga lapisan
dinding rahim ikut robek, sedangkan pada yang inkomplit lapisan serosanya atau
perimetrium masih utuh.

5
Aspek Sebab

Berdasarkan pada sebab mengapa terjadi robekan pada rahim, rupture uteri dibagi ke
dalam rupture uteri spontan, rupture uteri violenta, dan rupture uteri traumatika. Rupture
uteri spontan terjadi pada rahim yang utuh oleh karena kekuatan his semata, sedangkan
rupture uteri violenta disebabkan ada manipulasi tenaga tambahan lain seperti induksi
atau stimulasi partus dengan oksitosin atau yang sejenis, atau dorongan yang kuat pada
fundus dalam persalinan. Rupture uteri traumatika disebabkan oleh trauma pada
abdomen seperti kekerasan dalam rumah tangga dan kecelakaan lalu lintas.

Aspek Keutuhan Rahim

Rupture uteri dapat terjadi pada uterus yang masih utuh, tetapi bisa terjadi pada uterus
yang bercacat misalnya pada parut bekas bedah sesar atau parut jahitan rupture uteri
yang pernah terjadi sebelumnya (histerorafia), miomektomi yang dalam sampai ke
rongga rahim, akibat robekan yang terlalu dalam, reseksi kornu atau bagian interstisial
dari rahim, metroplasti, rahim yang rapuh akibat telah banyak meregang misalnya pada
grandemultipara atau pernah hidramnion, atau hamil ganda, uterus yang kurang
berkembang kemudian menjadi hamil, dan sebgainya.

Aspek Waktu

Yang dimaksudkan dengan waktu disini ialah dlam masa hamil atau pada waktu
bersalin. Rupture uteri dapat terjadi dalam masa kehamilan misalnya karena trauma atau
pada rahim yang bercacat, sering pada bekas bedah sesar klasik. Kebanyakan rupture
uteri terjadi dalam persalinan kala I atau kala II dan pada partus percobaan bekas seksio
sesarea, terlebih pada kasus yang hisnya diperkuat dengan oksitosin atau prostaglanding
dan yang sejenis.

Aspek Sifat

Rahim robek bisa tanpa menimbulkan gejala yang jelas (silent) seperti pada rupture
yang terjadi pada parut bedah sesar klasik dalam masa hamil tua. Parut itu merekah
sedikit demi sedikit (dehiscene) dan pada akhirnya robek tanpa menimbulkan
perdarahan dan rasa nyeri yang tegas. Sebaliknya, kebanyakan rupture uteri terjadi

6
dalam waktu yang cepat dengan tanda-tanda serta gejala-gejala yang jelas (ovent) dan
akut, misalnya rupture uteri yang terjadi dalam kala I atau kala II akibat dorongan atau
picuan oksitosin. Kantog kehamilan ikut robek dan janin terdorong masuk ke dalam
rongga peritoneum. Terjai perdarahan internal yang banyak dan perempuan bersalin
tersebut merasa sangat nyeri sampai syok.

Aspek Paritas

Rupture uteri dapat terjadi pada perempuan yang baru pertama kali hamil (nulipara)
sehingga sedapat mungkin diusahakan histerorafia apabila lukanya rata dan tidak
infeksi. Terhadap rupture uteri pada multipara umumnya lebih baik dilakukan
histerektomi atau jika keadaan umumnya jelek dan luka robekan pada uterus tidak luas
dan tidak compang-camping, robekan pada uterus dijahit kembali (histerorafia)
dilanjutkan dengan tubektomi.

Aspek Gradasi

Kecuali akibat kecelakaan, rupture uteri tidak terjadi mendadak. Peristiwa robekan yang
umumnya terjadi pada segmen bawah rahim didahului oleh his yang kuat tanpa
kemajuan dalam persalinan sehingga batas antara korpus dan segmen bawah rahim yaitu
lingkaran retraksi yang fisiologik naik bertambah tinggi menjadi lingkaran bandl yang
patologik, sementara ibu yang melahirkan itu merasa sangat cemas dan ketakutan oleh
karena menahan nyeri his yang kuat. Pada saat ini penderita berada dalam stadium
rupture uteri iminens (membakat). Apabila keadaan yang demikian berlanjut dan tidak
terjadi atonia uteri sekunder, maka pada gilirannya dinding segmen bawah rahim yang
sudah sangat tipis itu robek. Peristiwa ini disebut rupture uteri spontan.

(Prawihardjo, Sarwono, 2014 : 516 - 519)

7
Gejala rupture uteri

Gejala rupture uteri spontan yang terjadi dalam persalinan. Sebelum terjadinya
rupture biasanya ada tanda-tanda pendahuluan yang terkenal dengan istilah gejala-gejala
ancaman robekan jalan rahim.

 Lingkaran Bandl tinggi, mendekati pusat dan naik terus


 Kontraksi rahim kuat dan terus-menerus
 Penderita gelisah, nyeri di perut bagian bawah, juga diluar his
 Pada palpasi SBR nyeri (di atas symphyse)
 Lig. Rotunda tegang, diluar his
 BJ anak biasanya tidak ada atau tidak baik karena anak mengalami
asphyxsia disebabkan kontraksi dan retraksi rahim yang berlebihan
 Air encing mengandung darah (karena kandung kemih teregang atau
tertekan)

Kalau keadaan ini berlarut terjadilah rupture uteri ; karena itu gejala-gejala
ancaman robekan rahim merupakan indikasi untuk segera menyelesaikan persalinan,
dengan perforasi atau dekapitasi pada anak mati, di SC pada anak hidup.

Sambal menunggu persiapan pertolongan dapat diberi 20 mg morphin untuk


mengurangi kekuatan his. Gejala-gejala rupture uteri sebagai berikut :

 Sewaktu kontraksi yang kuat, pasien tiba-tiba merasa nyeri yang mengiris di
perut bagian bawah
 SBR nyeri sekali kalau di palpasi
 His berhenti
 Ada perdarahan pervaginam walaupun biasanya tidak banyak
 Bagian-bagian anak mudah diraba, kalau anak masuk kedalam rongga perut
(dapat berjabatan tangan dengan anak)
 Kadang-kadang disamping anak teraba tumor ialah rahim yang telah mengecil
 Pada taucher ternyata bagian depan mudah ditolak keatas malahan kadang-
kadang tidak teraba lagi karena masuk ke dalam rongga perut
 BJ anak tidak ada
 Biasanya pasien jatuh dalam shock
 Kalau rupture sudah lama terjadi maka seluruh perut nyeri dan gembung
 Adanya kencing berdarah dapat membantu kita menentukan diagnose, kalau
gejala-gejala kurang jelas

8
(Fakultas kedokteran Universitas Padjajaran Bandung, 1984 : 223 - 224)

Rupture uteri mengancam merupakan kesempatan terakhir untuk dapat


menyelamatkan penderita dari bahaya yang lebih besar. Dengan demikian observasi saat
menolong persalinan sangat penting sehingga dapat menegakkan kemungkinan rupture
uteri mengancam dengan gejala sebagai berikut :

 Gelisah, pernapasan, nadi meningkat


 Perut dirasakan sakit dibagian bawah
 Segmen bawah Rahim, tegang nyeri saat diraba
 Ligamentum rotundum tegang
 Terdapat lingkaran Bandle mendekati pusat
 Pemeriksaan dalam bagian janin terendah sulit didorong ke atas
 Pada pemeriksaan denyut jantung janin dapat terjadi gawat bayi

Bila terdapat rupture uteri menimbulkan gejala sebagai berikut :

1. Penderita meraskan nyeri yang hebat


2. Dapat menyampaikan seperti terjadi robekan dalam perutnya
3. Akibat rupture uteri dapat menimbulkan :
a. Janin terlempar ke dalam ruangan abdomen bersama plasenta dan terjadi
distress janin dan janin meninggal dalam waktu singkat
b. Terjadi perdarahan kedalam ruangan abdomen yang menimbulkan gejala :
 Penderita kolaps sampai syok dengan nadi cepat, kecil sampai tak
teraba
 Pernapasan cepat dan pendek
 Tekanan darah turun
 Tampak anemis, bagian ujung terasa dingin

4. Pada palpasi abdomen dapat dirasakan :


 Janin langsung dibawah dinding abdomen
 Tanda cairan bebas dalam ruangan abdomen
 Perut terasa sangat nyeri
 Disamping janin teraba uterus yang berkontraksi
5. Setelah terjadi infeksi dapat menjadi :
 Perut kembung, sehingga bagian janin sulit diraba
 Terasa nyeri
 Suhu badan meningkat
6. Pada pemeriksaan dalam dijumpai :
 Bagian terendah mudah didorong keatas atau tidak teraba di pintu atas
panggul

9
 Terdapat perdarahan melalui vagina
 Dapat diraba tempat robekan pada dinding uterus atau pada ujung vagina
yang disebut kolpoporeksis

(Manuaba, 1998 : 380-381)

Cara terjadinya rupture uteri dan pembagian rupture uteri

Cara terjadinya rupture uteri adalah sebagai berikut :

1. Rupture uteri spontan


 Terjadi spontan dan sebagian besar pada persalinan
 Terjadi gangguan mekanisme persalinan sehingga menimbulkan
ketegangan segmen bawah rahim yang berlebihan
2. Rupture uteri traumatic
 Terjadi pada persalinan
 Timbulnya rupture uteri karena tindakan seperti ekstraksi forsep,
ekstraksi vakum, versi ekstraksi
3. Rupture uteri pada luka bekas uterus
 Terjadinya spontan
 Bekas seksio sesarea
 Bekas operasi pada uterus

Pembagian rupture uteri menurut robekannya dibagi menjadi :

1. Rupture uteri kompleta


 Jaringan peritoneum ikut robek
 Janin terlempar ke ruangan abdomen
 Terjadi perdarahan ke dalam ruangan abdomen
 Mudah terjadi infeksi
2. Rupture uteri inkompleta
 Jaringan peritoneum tidak ikut robek
 Janin tidak terlempar ke dalam ruangan abdomen
 Perdarahan ke dalam ruangan abdomen tidak terjadi
 Perdarahan dapat menuju ke liang senggama (vagina)
 Perdarahan dapat dalam bentuk hematoma

Yang paling penting untuk mendapat perhatian adlah bagaimana menegakkan


kemungkinan rupture uteri yang mengancam, sehingga dapat menyelamatkan jiwa
penderita.

10
(Manuaba, 1998 : 380)

Klasifikasi rupture uteri menurut sebabnya adlah sebagai berikut :

 Kerusakan atau anomaly uterus yang telah ada sebelum hamil :


 Pembedahan pada miometrium : seksio sesarea atau histerotomi,
histerorafia, miomektomi yang sampai menembus seluruh ketebalan otot
uterus, reseksi pada koruna uterus atau bagian interstisial, metroplasti.
 Trauma uterus koinsidental : instrumentasi sendok kuret atau sonde pada
penanganan abortus, trauma tumpul atau tajam seperti pisau atau peluru,
rupture tanpa gejala pada kehamilan sebelumnya (silent rupture in
previous pregnancy)
 Kelainan bawaan : kehamilan dalam bagian rahim (born) yang tidak
berkembang
 Kerusakan atau anomaly uterus yang terjadi dalam kehamilan
 Sebelum kelahiran anak : his spontan yang kuat dan terus-menerus,
pemakaian oksitosin atau prostaglandin untuk merangsang persalinan,
instilasi cairan kedalam kantong gestasi atau ruang amnion seperti
larutan garam fisiologik atau prostaglandin, perforasi dengan kateter
pengukur tekanan intrauterin, trauma luar tumpulatau tajam, versi luar,
pembesaran rahim yang berlebihan misalnya hidramnion dan kehamilan
ganda
 Dalam periode intrapartum : versi-ekstraksi, ekstraksi cunam yang sukar,
ekstraksi bokong, anomaly janin yang menyebabkan distensi berlebihan
pada segmen bawah rahim, tekanan kuat pada uterus dalam persalinan,
kesulitan dalam melakukan manual plasenta

 Cacat rahim yang didapat : plasenta inkreta atau perkreta, neoplasia trofoblas
gestasional, adenomiasis, retroversion uterus gravidus inkarserata.
(Prawirohardjo, Sarwono, 2014 : 515)

Rupture uteri ada dua macam :

a. Rupture uteri complete kalau semua lapisan dinding rahim robek


b. Rupture uteri incomplete kalau perimetrium masih utuh
(Fakultas kedokteran Universitas Padjajaran Bandung, 1984 : 223)

11
Secara teori robekan rahim dapat dibagi sebagai berikut :

1. Spontan
a. Karena dinding rahim lemah sehingga pada luka SC, luka
myomenukleasi, hypoplasia uteri
Mungkin juga karena curettage, pelepasan plasenta manual dan
sepsis postpartum atau abortum
b. Dinding rahim baik, tapi rupture terjadi karena bagian depan tidak
maju misalnya pada panggul sempit, kelainan letak
c. Campuran
2. Violent
a. Karena trauma, kecelakaan
b. Karena pertolongan versi ekstraksi, ekspressi

Secara praktis pembagian sebagai berikut memenuhi :

1. Robekan spontan pada rahim yang utuh


2. Robekan violent
3. Robekan bekas luka section
(Fakultas kedokteran Universitas Padjajaran Bandung, 1984 : 221)

Indikasi

 Rupture uteri yang dengan pertimbangan medik tertentu, mengharuskan


dilakukan konservasi fungsi reproduksi

(Prawirohardjo, Sarwono, 2000 : 550)

Penilaian Klinik

1. Perhatikan :
 Rupture uteri pada uterus yang normal :
 Partus macet merupakan penyebab utama
 Didahului oleh lingkaran kontriksi (Bandl’s ring) hingga
umbilicus atau diatasnya kemudian diikuti dengan nyeri hebat
pada perut bawah, hilangnya kontraksi dan bentuk normal uterus
gravidus, perdarahan pervaginam dan syok
 Rupture pada uterus bekas seksio sesarea
 Pada cara klasik, rupture terjadi sebelum atau pada fase laten
persalinan

12
 Pada insisi tranfersal SBR, umumya terjadi saat fase aktif atau
kala II
 Gejala nyeri yang khas, sering kali sulit dikenali terutama apabila
terjadi rupture uteri inkomplit. Perdarahan hanya sedikit
bertambah dari normal dan janin menunjukkan bradikardia

(Prawirohardjo, Sarwono, 2000 : 170)

Bila telah terjadi rupture uteri komplit sudah pasti ada perdarahan yang bisa
dipantau pada Hb dan tekanan darah yang menurun, nadi yang cepat, dan kelihatan
anemis dan tanda-tanda lain dari hypovolemia serta pernapasan yang sulit berhubung
nyeri abdomen akibat robekan rahim yang mengikutsertakan peritoneum viserale dan
merangsang ujung saraf sensoris. Pada palpasi ibu merasa sangat nyeri dan bagian tubuh
janin mudah teraba dibawah dinding abdomen ibu dan kekuatan his yang sudah sangat
menurun seolah dirasakan his telah hilang. Hemoperitoneum yang terbentuk bisa
merangsang diafragma dan menimbulkan nyeri memancar ke dada menyerupai nyeri
dada pada emboli paru atau emboli air ketuban. Nyeri abdomen bisa menyerupai gejala
solusio plasenta. Pada auskultasi sering tidak terdengar denyut jantung janin, tetapi jika
janin belum meninggal bisa terdeteksi deselerasi patologik (deselerasi variable yang
berat) pada pemantauan dengan KTG. Terdapat juga pasien yang tidak merasakan nyeri
abdomen yang kuat terlebih jika ada pemberian obat penenang atau obat untuk
mengurangi rasa nyeri dalam persalinan (painless labor).pada dehisens bekas seksio
sesarea atau dehisens yang berlanjut menjadi rupture rasa nyeri dan perdarahan tidak
seberapa. Dalam keadaan yang demikian diperlukan konsultasi dengan sejawat yang
lebih berpengalaman. Pemeriksaan ultrasonografi di tempat (on site) mungkin bisa
kembali keluar pintu atas panggul, dan jari-jari pemeriksa bisa menemui robekan yang
berhubungan dengan rongga peritoneum dan melalui mana terkadang dapat meraba
usus.

Namun, harus hati-hati karena bila jari-jari tidak bisa menemui robekan sebelum
berarti bahwa rupture uteri tidak ada.

(Prawirohardjo, Sarwono, 2014 : 519)

13
Penanganan Rupture Uteri

 Berikan segera cairan isotonic (Ringer Laktat atau garam fisiologis) 500
ml dalam 15-20 menit dan siapkan laparotomy
 Lakukan laparotomy untuk melahirkan anak dan plasenta. Fasilitas
pelayanan kesehatan dasar harus merujuk pasien ke rumah sakit rujukan
 Bila konservasi uterus masih diperlukan dan kondisi jaringan
memungkinkan, lakukan reparasi uterus.
 Bila luka mengalami nekrosis yang luas dan kondisi pasien
mengkhawatirkan, lakukan histerektomi
 Lakukan bilasan peritoneal dan pasang drain dari kavum abdomen
 Antibiotika dan serum anti tetanus

Bila terdapat tanda-tanda infeksi (demam, menggigil, darah bercampur cairan


ketuban berbau, hasil asupan atau biakan darah) segera berikan antibiotika spectrum
luas. Bila terdapat tanda-tanda trauma alat genitalia atau luka yang kotor, tanyakan saat
terakhir mendapat tetanus toksoid. Bila hasil anamnesis tidak dapat memastikan
perlindungan terhadap tetanus, berikan serum anti tetanus 1500 IU/IM dan TT 0,5 ml
IM.

(Prawirohardjo, Sarwono, 2000 : 170)

Penanganan rupture uteri memerlukn tindakan spesialistis dan hanya mungkin


dilakukan di rumah sakit dangan fasilitas transfusi darah.

Bagaimana sikap bidan kalau menerima kiriman penderita dengan rupture uteri
di pedesaan? Yang perlu diperhatikan adalah melakukan observasi saat menolong
persalinan sehingga dapat melakukan rujukan bila terjadi rupture uteri mengancam atau
membakat. Oleh karena itu, kerja sama dengan dokter puskesmas atau dokter keluarga
sangat penting. Menghadapi rupture uteri yang dapat mencapai polindes atau puskesmas
segera harus dilakukan :

 Pemasangan infus untuk mengganti cairan dan perdarahan untuk


mengatasi keadaan syok
 Memberikan profilaksis antibiotika dan antipiretik, sehingga infeksi
dapat dikurangi

14
 Segera merujuk penderita dengan didampingi petugas agar dapat
memberikan pertolongan
 Jangan melakukan manipulasi dengan pemeriksaan dalam untuk
menghindari terjadinya perdarahan baru

Demikianlah dalam menghadapi rupture uteri di darah pedesaan, bidan harus


segera melakukan melakukan rujukan untuk menyelamatkan jiwa penderita. Rupture
uteri yang dapat mencapai polindes atau puskesmas adalah rupture uteri yang tidak
disertai robekan pembuluh darah besar sehingga dapat diselamatkan dari bahaya
kematian karena infeksi dan perdarahan.

(Manuaba, 1998 : 382)

Dalam menghadapi masalah rupture uteri semboyan prevention is better than


cure sangat perlu diperhatikan dan dilaksanakan oleh setiap pengelola persalinan
dimanapun persalinan itu berlangsung. Pasien risiko tinggi haruslah dirujuk agar
persalinannya berlangsung dalam rumah sakit yang mempunyai fasilitas yang cukup dan
diawasi dengan penuh dedikasi oleh petugas berpengalaman. Bila terjadi rupture uteri
tindakan terpilih hanyalah histerektomi dan resusitasi serta antibiotika yang sesuai.
Diperlukan infus cairan kristaloid dan transfuse darah yang banyak, tindakan anti syok,
serta pemberian antibiotika spectrum luas, dan sebagainya. Jarang sekali bisa dilakukan
histerorafia kecuali bila luka robekan masih bersih dan rapid an pasiennya belum punya
anak hidup.

(Prawirohardjo, Sarwono, 2014 : 520 - 521)

Perjalanan Klinis

Sebelum terjadi kegagalan akibat perdarahan, keluhan dan gejala fisik dapat
tampak meragukan, kecuali jika kita tidak melupakan kemungkinan adanya rupture
uteri. Sebagai contoh, seorang pasien wanita dipindahkan ke rumah sakit parkland
dalam keadaan aterm dengan diagnosis emboli pulmoner. Wanita tersebut mengatakan
bahwa ia sudah pernah diterapi untuk kelainan yang sama untuk kehamilan sebelumnya.

15
Dia mengeluhkan rasa nyeri pada waktu inspirasi dan sesak napas, selain nyeri abdomen
yang diperkirakan berasal dari proses persalinannya. Kendati demikian, keluhan yang
ditujukan pada dada itu ternyata bukan disebabkan oleh suatu emboli melainkan oleh
hemoperitoneum dari uterus yang rupture, dengan darah yang mengiritasi diafragma
yang menimbulkan nyeri alih ke dada.

Jika peristiwa tersebut terjadi selama persalinan dan biasanya setelah tanda-
tanda peringatan sebelumnya, wanita itu dengan puncak kontraksi uterus, mendadak
akan mengeluhkan nyeri yang tajam serta menusuk pada abdomen dan mungkin
berteriak karena merasakan “adanya sesuatu yang terobek atau tercabik” di dalam
tubuhnya. Segera setelah keluhan dan gejala ini timbul, kontraksi uterus akan berhenti,
dan wanita yang sampai saat tersebut sedang berada dalam puncak penderitannya, tiba-
tiba merasakan bahwa nyerinya jauh berkurang. Pada saat yang bersamaan mungkin
terjadi perdarahan yang mengalir keluar, meskipun perdarahan yang terlihat seringkali
hanya sedikit.

Gejala rupture uteri klasik ini tidak dialami oleh semua wanita. Pada sebagian
wanita, gambarannya serupa dengan yang terlihat pada solusio plasenta. Pada sebagian
lainnya, rupture tersebut tidak disertai nyeri dan nyeri tekan yang jelas. Demikian pula,
karena sebagian besar wanita yang berada didalam persalinan akan mendapatkan terapi
untuk mengurangi rasa nyerinya, baik pemberian obat-obat narkotik maupun tindakan
anestesi epidural lumbal, maka gejala nyeri dan nyeri tekan mungkin tidak terlihat jelas
dan keadaan tersebut baru diketahui setelah tampak tanda-tanda fetal distress atau
hypovolemia maternal akibat perdarahan yang tersembunyi, ataupun keduanya.

Pada sebagian kasus dengan bagian presentasi yang sudah masuk ke dalam
panggul dalam persalinan akan terdapat loss of station yang terdeteksi lewat
pemeriksaan panggul. Jika janin itu sebagian atau seluruhnya sudah berada diluar
uterus, palpasi abdomen atau pemeriksaan pervaginam akan membantu dalam
menentukan bagian presentasi yang sudah bergerak menjauhi pintu atas panggul. Suatu
benda yang keras dan bundar, yaitu uterus yang berkontraksi, kadangkala dapat diraba
disepanjang tubuh janin. Acapkali bagian-bagian tubuh janin lebih mudah daripada

16
biasanya. Pada pemeriksaan pervaginam, kadang-kadang kita bisa meraba robekan pada
dinding uterus, dan melalui robekan itu bisa dimasukkan jari tangan ke dalam kavum
peritonei hingga teraba alat-alat visceral. Ketidakberhasilan untuk mendeteksi robekan
bukan merupakan bukti bahwa robekan tersebut tidak terdapat. Pada kasus-kasus yang
dicurigai, pemeriksaan yang teliti harus dilakukan oleh dokter kebidanan yang
berpengalaman sebelum kecurigaan tersebut boelh disingkirkan. Kadangkala diperlukan
tindakan parasentesis abdomen didaerah pinggang atau kuldosentesis untuk mengetahui
adanya hemoperitoneum. Setelah persalinan, kuldosentesis dapat dikerjakan lewat
forniks posterior kedalam cul-de-sac. Bibir posterior serviks uteri dipegang dan
ditusukkan jarum berukuran 15 lewat forniks dibawah serviks, sementara serviks
tersebut diangkat kea rah anterior.

(Cunningham, MacDonald, Gant, 1995 : 470)

Diagnosis

Rupture uteri iminens mudah dikenal pada ring van bandl yang semakin tinggi
dan segmen bawah rahim yang tipis dan keadaan ibu yang gelisah takut karena nyeri
abdomen atau his kuat yang berkelanjutan disertai tanda-tanda gawat janin. Gambaran
klinik rupture uteri adalah khas sekali. Oleh sebab itu pada umumnya tidak sukar
menetapkan diagnosisnya atas dasar tanda-tanda klinik yang telah diuraikan. Untuk
menetapkan apakah rupture itu komplit perlu dilanjutkan dengan periksa dalam. Pada
rupture uteri komplit jari-jari tangan pemeriksa dapat melakukan beberapa hal sebagai
berikut : (1) jari-jari tangan dalam bisa meraba permukaan rahim dan dinding perut
yang licin, (2) dapat meraba pinggir robekan, (3) dapat memegang usus halus atau
omentum melalui robekan, (4) dinding perut ibu dapat ditekan menonjol keatas oleh
ujung jari-jari tangan dalam sehingga ujung jari-jari tangan luar saling mudah meraba
ujung jari-jari tangan dalam.

(Prawirohardjo, Sarwono, 2014 : 519 - 520)

17
DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT. Bina Pustaka

Prawirohardjo, Sarwono. 2000. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal


Dan Neonatal. Jakarta : JNPKKR – POGI bekerja sama dengan Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo

18
Cunningham, MacDonald, Gant. 1995. Obstetri Williams. Jakarta : EGC

Manuaba, Ida Bagus Gde. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, Dan Keluarga
Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC

Fakultas kedokteran Universitas Padjajaran Bandung. 1984. Obstetric Patologi.


Bandung : Elstar Offset

19