Anda di halaman 1dari 8

Resume Viktimologi

 Pengertian dan definisi viktimoogi


Viktimologi, berasal dari bahasa latin victim yang berarti korban dan logos yang berarti
ilmu. Secara terminologis, viktimologi berarti suatu studi yang mempelajari tentang
korban penyebab timbulnya korban dan akibat-akibat penimbulan korban yang
merupakan masalah manusia sebagai suatu kenyataan social. Viktimologi merupakan
istilah bahasa Inggris Victimology yang berasal dari bahasa latin yaitu “Victima” yang
berarti korban dan “logos” yang berarti studi/ilmu pengetahuan. Maka dari itu, dapat
dikatakan Viktimologi merupakan suatu pengetahuan ilmiah/studi yang mempelajari
suatu viktimalisasi (criminal) sebagai suatu permasalahan manusia yang merupakan suatu
kenyataan sosial. Viktimologi juga membahas peranan dan kedudukan korban dalam
suatu tindakan kejahatan di masyarakat, serta bagaimana reaksi masyarakat terhadap
korban kejahatan. Proses dimana seseorang menjadi korban kejahatan disebut dengan
"viktimisasi".
 Ruang lingkup viktimologi
Objek studi atau ruang lingkup viktimologi adalah sebagai berikut :
a. Berbagai macam viktimisasi;
Dalam hal ini dapat kita lihat macam-macam paradigma viktimisasi yang meliputi
a. Viktimisasi politik, dapat dimasukkan aspek penyalahgunaan kekuasaan, perkosaan
hak-hakasasi manusia, campur tangan angkatan bersenjata diluar fungsinya,
terorisme, intervensi, dan peperangan lokal atau dalam skala internasional
b. Viktimisasi ekonomi, terutama yang terjadi karena ada kolusi antara pemerintah dan
konglomerat, produksi barang-barang tidak bermutu atau yang merusak kesehatan,
termasuk aspek lingkungan hidup.
c. Viktimisasi keluarga, seperti perkosaan, penyiksaan, terhadap anak dan istri dan
menelantarkan kaum manusia lanjut atau orang tuanya sendiri
d. Viktimisasi media, dalam hal ini dapat disebut penyalahgunaan obat bius,
alkoholisme, malpraktekdi bidang kedokteran dan lain-lain
e. Viktimisasi yuridis, dimensi ini cukup luas, baik yang menyangkut aspek peradilan
dan lembaga pemasyarakatan maupun yang menyangkut dimensi diskriminasi

1
perundangundangan, termasuk menerapkan kekuasaan dan stigmastisasi kendati
pun sudah diselesaikan aspek peradilannya.
b. Teori-teori etiologi viktimisasi kriminal;
Di antaranya:
- Situated Transaction Model (Luckenbill, 1977): dalam hubungan interpersonal,
kejahatan dan viktimisasi pada dasarnya adalah kontes karakter yang tereskalasi;
mulanya adalah konflik mulut yang meningkat menjadi konflik fisik yang vatal
- Threefold Model (Benjamin & Master): kondisi yang mendukung kejahatan terbagi
tiga kategori: precipitating factors, attracting factors, predisposing (atau socio-
demographic) factors
- Routine Activities Theory (Cohen & Felson, 1979): Kejahatan dapat terjadi ketika
terdapat tiga kondisi sekaligus yakni : target yang tepat, pelaku yang termovitasi
dan ketiadaan pengamanan.
c. Para peserta terlibat dalam terjadinya atau eksistensi suatu viktimisasi kriminal
atau kriminalistik, seperti para korban, pelaku, pengamat, pembuat undang-
undang, polisi, jaksa, hakim, pengacara dan sebagainya;
- Korban
Korban di sini diartikan sebagai seseorang yang telah menderita kerugian sebagai
akibat tindak pidana dan rasa keadilannya secara langsung terganggu sebagai
akibat pengalamannya sebagai target / sasaran tindak pidana. Penderitaan Fisik,
sesuai dengan UU No. 23 tahun 2004 (Pasal 6), kekerasan fisik sebagaimana
dimaksud pasal 5 huruf a adalah perrbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, atau
luka berat. Adapun penderitaan Psikis, sesuai dengan UU No. 23 tahun 2004
(Pasal 7), kekerasan psikis sebagaimana dimaksut pasal 5 huruf b adalah
perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya
kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan atau penderitaan psikis
berat seseorang. Implikasi Kerugian yang diderita atas Penderitaan Fisik dan
Psikis tersebut meliputi Kerugian Materil dan Kerugian Immateril.
- pembuat undang-undang atau aturan mengenai viktimologi
Aspek viktimologi dalam hukum nasional dapat dilihat terutama dalam Kitab
Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), selain itu dengan telah

2
dibentuknya Pengadilan tentang Hak Asasi Manusia (HAM), yang telah
melaksanakan secara efektif pada tahun 2002, yang didasarkan atas Undang-
undang No. 26 Tahun 2000. Selanjutnya implementasi undang- undang tentang
HAM tersebut di tuangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2000
tentang Kompensasi, Restitusi, dan Rehabilitasi terhadap Korban Pelanggaran
HAM yang Berat. Sebagaimana dimuat dalam Pasal 1 butir 3 yang berbunyi
sebagai berikut : ”Korban adalah orang perorangan atau kelompok orang yang
mengalami penderitaan, baik fisik, mental maupun emosional, kerugian
ekonomi, atau mengalami pengabaian, pengurangan atau perampasan hak-hak
dasarnya sebagai akibat pelanggaran hak asasi manusia yang berat, termasuk
korban adalah ahli warisnya.” Apabila di catat maka pengaturan KUHAP dalam
kaitannya dengan viktimologi dapat dilihat dalam Pasal 1 ayat (10), ayat (22),
Pasal 81, Pasal 82 ayat (3) dan ayat (4), Pasal 95 ayat (1) hingga ayat (5), Pasal
96 ayat (1), Pasal 98 ayat (1), Pasal 99 ayat (1), Pasal 100 ayat (1), Pasal 101,
Pasal 274, Pasal 275 yang nuansanya lebih banyak menyangkut ganti rugi.
- Penegak hukum (polisi, jaksa atau pihak pengadilan, hakim, pengacara atau
advokat) dan lembaga swadaya masyarakat
d. Reaksi terhadap suatu viktimisasi kriminal;
e. Respons terhadap suatu viktimisasi kriminal seperti argumentasi kegiatan-
kegiatan penyelesaian suatu viktimisasi atau viktimologi, usaha-usaha
prefensi, represi, tindak lanjut (ganti kerugian dan pembuatan peraturan
hukumnya).
- Usaha prefensi, dalam hal ini ialah cara untuk menanggulangi kejahatan dapat
dilakukan dengan:
1) Menyadari bahwa akan adanya kebutuhan-kebutuhan untuk
mengembangkan dorongan-dorongan sosial atau tekanan-tekanan sosial dan
tekanan ekonomi yang dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang ke arah
perbuatan jahat
2) Memusatkan perhatian kepada individu-individu yang menunjukkan
potensialitas kriminal atau sosial, sekalipun potensialitas tersebut
disebabkan gangguan-gangguan biologis dan psikologis atau kurang

3
mendapat kesempatan sosial ekonomis yang cukup baik sehingga dapat
merupakan suatu kesatuan yang harmonis
- Usaha represif, sistem represif, yang mana tentunya tidak terlepas dari sistem
peradilan pidana kita, paling sedikit terdapat 5 (lima) sub-sistem yaitu sub-
sistem kehakiman, kejaksaan, kepolisian, pemasyarakatan, dan kepengacaraan,
yang merupakan suatu keseluruhan yang terangkai dan berhubungan secara
fungsional.
f. Faktor-faktor viktimogen atau faktor-faktor yang berpotensi menimbulkan
korban
1. Adanya kesempatan
2. Niat (peran pelaku)
3. Pergaulan
4. Peran korban
Dalam tinjauan Viktimilogi, korban juga turut serta dalam sebuah terjadinya
tindak pidana. Walaupun perannya tidak seaktif pelaku, tetapi korban tetap
memiliki andil dalam terjadinya tindak pidana pencurian. Pada kenyataanya
dapat dikatakan bahwa tidak mungkin timbul suatu kejahatan kalau tidak ada
si korban kejahatan, yang merupakan peserta utama dan si penjahat atau
pelaku dalam hal terjadinya suatu kejahatan dan hal pemenuhan kepentingan
si pelaku yang berakibat pada penderitaan si korban. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa korban mempunyai tanggung jawab fungsional dalam
terjadinya kejahatan.
 Kajian singkat viktimologi
Kriminologis adalah Ilmu pengetahuan yang bertujuan menyelidiki gejala kejahatan
seluas-luasnya berdasarkan pada pengalaman seperti ilmu pengetahuan lainnya yang
sejenis, memperhatikan gejala-gejala dan mencoba menyelidiki sebab-sebab arti gejala
tersebut dengan cara-cara yang apa adanya.
Dalam meberikan batasan kriminologi, kriminologi terbagi ke dalam dua aspek:
1.Kriminologi praktis, yaitu kriminologi yang berdasarkan hasil penelitiannya
disimpulkan manfaat praktisnya.

4
2. Kriminologi teoritis, yaitu ilmu pengetahuan yang berdasarkan pengelamannya seperti
ilmu pengetahuan lainnya yang sejenis, memeprhatikan gejala-gejala kejahatan dan
mencoba menyelidiki sebab dari gejala tersebut (etiologi) dengan metode yang berlaku
pada kriminologi.
Dalam kriminologi teoritis, Bonger memperluas pengertian dengan mengatakan bahwa
kriminologi merupakan kumpulan dari banyak ilmu pengetahuan (Bonger, 1970:27), di
antaranya:
1) Antropologi kriminologi, yaitu ilmu pengetahuan tentang manusia yang jahat dilihat
dari segi biologisnya yang merupakan bagian dari ilmu alam.
2) Sosiologi kriminal, yaitu ilmu pengetahuan tentang kejahatan sebagai gejala sosial.
Pokok perhatiannya adalah seberapa jauh pengaruh sosial bagi timbulnya kejahatan
(etiologi sosial)
3) Psikologi kriminal, yaitu ilmu pengetahuan tentang kejahatn dipandang dari aspek
psikologis. Penelitian tentang aspek kejiwaan dari pelaku kejahatan antara lain
ditujukan pada aspek kepribadiannya.
4) Psi-patologi-kriminal dan neuro-patologi-kriminal, yaitu ilmu pengetahuan tentang
kejahatan yang sakit jiwa atau sakit sarafnya, atau lebih dikenal dengan istilah
psikiatri.
5) Penologi, yaitu ilmu pengetahuan tentang tumbuh berkembangnya penghukuman, arti
penghukuman, dan manfaat penghukuman.
6) Kriminologi praktis, yaitu berbagai kebijakan yang dilaksanakan oleh birokrasi dalam
menanggulangi kejahatan.
7) Kriminalistik, yaitu ilmu pengetahuan yang dipergunakan untuk menyelidiki
terjadinya suatu peristiwa kejahatan
Sutehrland dan Cressey (1974) memberi batasan kriminologi sebagai bagian dari
sosiologis dengan menyebutkan sebagai:
“Kumpulan pengetahuan yang meliputi delinkuensi dan kejatahan sebagai gejala
sosial. Tercakup dalam ruang lingkup ini adalah proses pembuatan hukum,
pelanggaran hukum, dan reaksi terhadap pelanggaran hukum. Proses tersebut terdiri
dari tiga aspek yang merupakan suatu kesatuan interaksi yang berkesinambungan.
Tindakan-tindakan tertentu yang dipandang tidak disukai oleh para politisi (political

5
society) didefinisikan sebagai kejahatn. Kendatipun ada batasan tindakan tersebut,
terdapat orang-orang yang terus-menerus melanggarnya dan dengan demikian
melakukan kejahatan; politisi memberikan reaksi berupa penghukuman, pembinaan,
atau pencegahan. Urutan interaksi inilah yang merupakan pokok masalah dalam
kriminologi” (Sutherland, Cressey, 1974:1)
Berlandaskan pada definisi di atas, Sutherland dan Cressey menjelaskan bahwa
kriminologi terdiri dari tiga bagian pokok, yiatu: (a) sosiologi hukum, (b) etiologi
kriminal, (c) penologi (termasuk metode pengendalian sosial.
 Hubungan korban dengan kejahatan
Tingkatan kesalahan korban dibedakan menjadi lima macam yaitu;
b. Yang sama sekali tidak bersalah
c. Yang jadi korban karena kelalaiannya
d. Yang sama salahnya dengan pelaku
e. Yang lebih bersalah dari pelaku
f. Yang korban adalah satu-satunya yang bersalah (dalam hal ini pelaku dibebaskan)
Melihat tingkatan di atas, maka dapat kita lihat pada prinsipnya terdapat 4 (empat) tipe /
ciri-ciri korban:
1. Orang yang tidak mempunyai kesalahan apa-apa, tetapi tetap menjadi korban. Untuk
tipe ini, kesalahan ada pada pelaku
2. Korban secara sadar atau tidak sadar telah melakukan sesuatu yang merangsang orang
lain untuk melakukan kejahatan. Untuk tipe ini, korban dinyatakan turut mempunyai
andil dalam terjadinya kejahatan sehingga kesalahan terletak pada pelaku dan korban.
3. Mereka yang secara biologis dan sosial potensial menjadi korban. Anak-anak, orang
tua, orang yang cacat fisik atau mental, orang miskin, golongan minotitas dan
sebagainya merupakan orang-orang yang mudah menjadi korban. korban dalam hal ini
tidak dapat disalahkan tetapi masyarakatlah yang harus bertanggung jawab.
4. Korban karena ia sendiri merupakan pelaku. inilah yang dikatakan sebagai kejahatan
tanpa korban. Pelacuran, perjudian, zina, merupakan beberapa kejahatan yang
tergolong kejahatan tanpa korban. pihak yang bersalah adalah korban karena ia juga
sebagai pelaku.

6
Adapun hubungan berdasarkan hubungan dengan sasaran tindakan pelaku yaitu sebagai
berikut:
a. Korban langsung yaitu mereka yang secara langsung menjadi sasaran atau objek
perbuatan pelaku.
b. Korban tidak langsung yaitu mereka yang meskipun tidak secara langsung menjadi
sasaran perbuatan pelaku, tetapi juga mengalami penderitaan.
 Hubungan korban dengan sistem peradilan pidana
Hak-hak yang wajib diperoleh korban maupun saksi:
a. Memperoleh perlindungan atas keamanan pribadi, Keluarga, dan harta bendanya, serta
bebas dari ancaman yang berkenaan dengan kesaksian yang akan, sedang, atau telah
diberikannya.
b. Ikut serta dalam proses memilih dan menentukan bentuk perlindungan dan dukungan
keamanan, memberikan keterangan tanpa tekanan, mendapat penerjemah, bebas dari
pertanyaan yang menjerat.
c. Mendapat informasi mengenai perkembangan kasus, mendapat informasi mengenai
putusan pengadilan, mendapat informasi dalam hal terpidana dibebaskan, dirahasiakan
identitasnya.
d. Mendapat identitas baru, mendapat tempat kediaman sementara, mendapat tempat
kediaman baru, memperoleh penggantian biaya transportasi sesuai dengan kebutuhan.
e. Mendapat nasihat hukum, memperoleh bantuan biaya hidup sementara serta mendapat
pendampingan.
Lebih rinci, KUHAP mengatur tiga hak hukum yang memungkinkan korban korban
kejahatan dapat menggunakannya dalam proses peradilan pidana. Berikut ini dibahas
ketiga macam hak hukum dimaksud.
(a) Hak untuk mengajukan keberatan tindakan penghentian penyidikan atau penuntutan
Berdasarkan kewenangannya, penyidik (polisi) dapat melakukan penghentian
penyidikan46 dengan pertimbangan; tidak cukup bukti, peristiwa tersebut bukan
sebagai peristiwa pidana, atau melakukan penghentian penyidikan dengan alasan
demi hukum (Pasal 7 ayat 1 huruf I Jo. Pasal 109 KUHAP). Demikian juga jaksa
penuntut umum, berdasarkan atas kewenangannya dapat melakukan penghentian
penuntutan (Pasal 13 huruf h Jo. Pasal 140 ayat 2 huruf a KUHAP)47 apabila

7
menghadapi tiga keadaan yaitu karena tidak terdapat cukup bukti, peristiwa tersebut
ternyata bukan merupakan perbuatan pidana, atau perkara ditutup demi hukum
(b) Hak korban untuk melapor dan kewajibannya untuk menjadi Saksi
Orang yang menjadi korban dari suatu pelanggaran hukum pidana berhak untuk
melaporkan kepada penyelidik atau penyidik (Pasal 108 ayat 1 KUHAP), sedangkan
orang yang mengetahui permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana terhadap
ketentraman dan keamanan umum atau terhadap jiwa atau terhadap hak milik
berkewajiban untuk melaporkan kepada penyelidik atau penyidik (Pasal 108 ayat 2
KUHAP). Menjadi saksi dalam perkara pidana adalah suatu kewajiban hukum (Pasal
224, 522 atau 524 KUHP), sebagai pengecualian apabila ada hubungan biologis yang
dekat dengan terdakwa (Pasal 168 KUHAP) dapat dijadikan alasan untuk
mengundurkan diri sebagai saksi. Menjadi saksi adalah keharusan hukum.
(c) Hak untuk menuntut ganti kerugian
Orang yang menderita kerugian yang disebabkan oleh perbuatan orang lain yang
melawan hukum,49 menurut hukum perdata, memiliki hak untuk menuntut ganti
kerugian (Pasal 1365 KUH Perdata). Korban kejahatan sebagai salah satu orang yang
dirugikan dalam pelanggaran hukum pidana memiliki hak untuk mengajukan gugatan
ganti kerugian digabungkan melalui prosedur pidana (Pasal 98 ayat (1) KUHAP).
(d) Pengaturan Hak Korban dalam Undang-undang di luar KUHAP
Terbitnya undang-undang yang mengatur tindak pidana khusus dalam undangundang
di luar KUHP dan KUHAP telah mengatur beberapa hak korban kejahatan yang
kemudian hak-hak tersebut diatur lebih lanjut dalam Undang-undang Nomor 13
Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Adapun undang-undang yang
mengatur tentang hak-hak korban kejahatan tersebut yaitu: (1) Undang-undang
Nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia; (2) Undang-undang
Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme; (3) Undang-
undang Nomor 15 Tahun 2002 diubah dengan 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana
Pencucian Uang; (4) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan
Kekerasan Dalam Rumah Tangga; (5) Undangundang Nomor 21 Tahun 2007 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang; (6) Undang-undang Nomor 13
Tahun 2006 tentang Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban.