Anda di halaman 1dari 3

TUGAS INDIVIDUAL

KEWARGANEGARAAN

Nama : Fathia Rianty


NIM : G1A1110011

Dosen Pembimbing : Drs. Edy Purwoto, M.Hum

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


UNIVERSITAS JAMBI
2011/2012
Kasus :

Tindak kekerasan yang ditampilkan pada tayangan televisi semakin lama semakin sering terlihat.
Apalagi acara yang menampilkan tindak kekerasan tersebut banyak ditampilkan pada jam-jam dimana
anak-anak juga dapat menyaksikannya dengan bebas, seperti pada pagi hingga sore hari. Hal tersebut
tentunya berpengaruh buruk pada kondisi psikologis anak-anak, terlebih jika mereka menontonnya
tanpa dibimbing orang tua. Anak- anak yang tidak sepenuhnya mengerti tentang apa yang ditontonnya
akan dengan mudah meniru tindak kekerasan tersebut dan menganggap tindakan tersebut hal yang
lumrah dilakukan. Begitu juga dengan perilaku tercela lainnya yang dapat sering disaksikan di acara
televisi, tentunya akan membentuk pribadi yang kurang baik saat anak-anak besar nantinya.

Analisis berdasarkan pendekatan kesisteman:

Acara televisi yang mengandung kekerasan dapat dianggap sebagai input. Jika acara televisi
tersebut ditampilkan pada waktu dimana anak-anak dapat menontonnya dengan bebas, maka input
tersebut dapat mengubah perlikau anak sehari-hari. Anak akan meniru apa yang ditontonnya tanpa
mengetahui bahaya dari tindakan yang mereka lakukan. Pada saat itulah proses pengubahan terjadi.
Anak yang sebelumnya tidak pernah melakukan kekerasan, karena menonton acara tersebut kemudian
mempraktekannya dalam aktivitas sehari-hari. Hal ini juga tidak terlepas dari lingkungan si anak
tersebut. Orang tua mempengaruhi seberapa jauh acara televisi memberikan dampak pada
perkebangan anaknya. Bagi orang tua yang sibuk, mereka akan kurang menaruh perhatian pada apa
yang ditonton oleh anak-anaknya. Dalam kasus seperti itu, dampak negatiflah yang akan didapat. Sang
anak tidak mendapatkan bimbingan orang tua saat menonton televisi. Sebaliknya, jika orang tua sangat
memperhatikan anaknya, mereka akan membimbing anaknya saat menonton televisi dean memilih
mana yang pantas ditonton dan mana yang tidak. Output yang dihasilkan akan berbeda juga. Pada kasus
pertama, si anak yang kurang mendapat perhatian akan menelan mentah-mentah apa yang
disaksikannya sehingga dapat menjadi anak yang menyukai kekerasan, sedangkan pada kasus kedua atas
bimbingan dan penjelasan dari orang tua anak akan lebih mengerti mana yang boleh ia lakukan dan
mana yang tidak. Kemudian, output tersebut nantinya akan memberikan feedbak dan menghasilkan
input yang baru.

Dalam menyusun program televisi, seharusnya produsen memperhatikan berbagai aspek,


termasuk aspek mengenai kasus ini. Mereka harus memperhatikan subjek, objek, dan metoda dari hal-
hal yang berkaitan dengan pekerjaan mereka ini. Ketiga unsur tersebut harus disesuaikan. Jika objek
yang mereka hasilkan adalah program televisi berupa film yang mengandung kekerasan, berarti objek
tersebut ditujukan untuk subjek orang dewasa. Jika seperti itu, mereka harus menggunakan metoda
atau cara yang sesuai, misalnya menaruh program tersebut pada jam-jam khusus untuk orang dewasa
dimana anak-anak tidak bisa menontonnya, seperti pada malam hari. Jika subjek tujuan emreka adalah
anak-anak, objek yang ditampilkan harus disesuaikan, yaitu program yang mengandung unsur
pendidikan yang mendatangkan banyak manfaat bagi anak-anak. Metoda yang dapat digunakan adalah
dengan mengemas acara tersebut semenarik mungkin dan menampilkannya pada jam-jam dimana anak
biasa menonton televisi, misalnya siang hari sepulang sekolah.

Berdasarkan analisis SWOT, program televisi memiliki banyak kelebihan. Dengan bentuk
audiovisual, hal-hal yang ditampilkan di televisi akan mudah dicerna oleh penontonnya. Jika acara yang
ditampilkan mengandung unsur pendidikan, baik itu ilmu pengetahuan maupun pendidikan moral,
pelajaran yang diambil akan lebih mudah diingat oleh masyarakat yang menonton acara tersebut.
Televisi juga baik dalam memperkenalkan hal-hal baru pada masyarakat luas, seperti iklan produk
berupa barang dan jasa, juga publikasi kebijakan pemerintah. Televisi juga sangat menarik bagi anak-
anak. Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang efektif.

Akan tetapi, program televisi saat ini kurang terorganisir dengan baik. Misalnya dengan adanya
tayangan dewasa diluar jam-jam penayangan khusus dewasa. Selain itu juga, masih ada iklan rokok yang
ditampilkan pada pagi hingga sore hari, padahal seharusnya iklan tersebut ditampilkan pada jam khusus
dewasa yaitu pukul 9 malam atau lebih. Kekurangan lain adalah banyaknya tayangan yang tidak
mendidik dan lebih banyak menghasilkan efek negatif daripada manfaatnya. Para pelaku dalam media
ini juga masih banyak melanggar etika dalam media massa. Masih banyak program bertia yang
menyajikan gambar-gambar korban pembunuhan atau kecelakaan tanpa sensor. Program televisi saat
ini juga tidak disaring dan dipilih amna yang layak ditampilkan dan mana yang tidak.

Tayangan televisi yang mendidik berpeluang dalam menghasilkan generasi-generasi yang


terdidik dalam segi pengetahuan maupun moral. Generasi tersebut yang nantinya akan membawa
bangsa menuju masa depan yang lebih cerah. Generasi itu;ah yang akan membawa generasi selanjutnya
menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Ancaman datang dari orang-orang yang tidak memperdulikan dampak dari apa yang mereka
perbuat dan hanya mementingkan keuntungan pribadi saja. Misalnya, mereka yang membuat program
yang menampilkan tindak kekerasan atau pengrusakan moral hanya untuk menarik perhatian pemirsa
dan merauk untung dari program tersebut. Mereka tidak sadar bahwa mereka telah menciptakan
generasi yang tidak bermoral dan dapat merusak generasi selanjutnya.