Anda di halaman 1dari 33

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Teori Belajar dan Pembelajaran

Baharuddin dan Wahyuni (2015) menyatakan belajar merupakan proses

manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan dan sikap.

Belajar dimulai sejak manusia lahir sampai akhir hayat. Sedangkan Trianto (2014)

menyatakan belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan

pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat diindikasikan

dalam berbagai bentuk seperti berubahnya pengetahuan, pemahaman, sikap,

tingkah laku, kecakapan, keterampilan dan kemampuan, serta perubahan aspek-

aspek yang lain yang ada pada individu yang belajar.

Pengertian belajar yang cukup komprehensif diberikan oleh Winataputra, dkk

(2007) yang menyatakan belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk

mendapatkan aneka ragam competencies, skills, and attitudes. Kemampuan

(competencies), keterampilan (skills), dan sikap (attitudes) tersebut diperoleh secara

bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui

rangkaian proses belajar sepanjang hayat. Rangkaian proses belajar itu dilakukan

dalam bentuk keterlibatannya dalam pendidikan informal, keikutsertaannya dalam

pendidikan formal dan/atau pendidikan nonformal. Kemampuan belajar inilah yang

membedakan manusia dari makhluk lainnya.

Sehingga kesimpulannya belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh

seseorang untuk mengalami perubahan secara bertahap dalam berbagai bentuk

seperti berubahnya pengetahuan, pemahaman, sikap, tingkah laku, kecakapan,

9
10

keterampilan dan kemampuan, serta perubahan aspek-aspek yang lain yang ada

pada individu yang belajar.

Menurut Fathurrohman (2015) pembelajaran adalah proses interaksi siswa

dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran

merupakan bantuan yang diberikan guru agar dapat terjadi proses perolehan ilmu

dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan

kepercayaan pada siswa. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk

membantu siswa agar dapat belajar dengan baik.

1. Teori kognitivisme

Menurut teori kognitivisme, pembelajaran terjadi dengan mengaktifkan indra

siswa agar memperoleh pemahaman. Pengaktifan indra dapat dilaksanakan dengan

menggunakan media/ alat bantu melalui berbagai metode. Teori belajar yang

berkembang berdasarkan teori ini ialah teori perkembangan kognitif Piaget, teori

kognitif Bruner, dan teori bermakna Ausubel.

a. teori perkembangan kognitif

Teori Piaget merupakan teori konflik sosiokognitif atau perkembangan kognitif

yang berkembang menjadi aliran konstrukstivistik. Teori ini termasuk psikogenesis,

yakni pendapat bahwa pengetahuan berasal dari individu dan terpisah dengan

interaksi sosial, serta penciptaan makna/ pengetahuan merupakan akibat

kematangan biologis.

b. teori Bruner

Jerome Bruner mengembangkan teori perkembangan mental, yang

mendeskripsikan bahwa terjadinya proses belajar lebih ditentukan oleh cara

mengatur materi pelajaran. Proses belajar terjadi melalui tahap-tahap, yaitu: a)


11

manipulasi objek langsung (enactive); b) representasi gambar (iconic); c)

manipulasi simbol (symbolic).

Teori belajar Bruner ialah belajar penemuan atau Discovery Learning. Belajar

penemuan dari Jerome Bruner adalah model pengajaran yang dikembangkan

berdasarkan prinsip-prinsip konstruktivis. Di dalam Discovery Learning siswa

didorong untuk belajar sendiri secara mandiri. Siswa terlibat aktif dalam penemuan

konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalaui pemecahan masalah atau hasil

abstraksi sebagai objek budaya. Guru mendorong dan memotivasi siswa untuk

mendapatkan pengalaman dengan melakukan kegiatian yang memungkinkan

mereka untuk menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika untuk

mereka sendiri. Pembelajaran ini dapat membangkitkan rasa keingintahuan siswa.

Di dalam proses belajar Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap siswa

dam mengenal dengan baik adalanya perbedaan kemampuan (Slameto, 2010).

Untuk meningkatkan proses belajar perlu lingkungan yang dinamakan eksplorasi,

penemuan-penemuan baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip dengan

yang sudah diketahui.

c. teori Ausubel

David Ausubel mengembangkan teori belajar bermakna dengan menjelaskan

bahwa bahan pelajaran akan lebih mudah dipahami jika bahan ajar dirasakan

bermakna bagi siswa. Proses belajar terjadi melalui tahap-tahap antara lain: a)

memperhatikan stimulus yang diberikan; b) memahami makna stimulus; c)

menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami.


12

2. Teori konstruktivisme

Teori pembelajaran konstruktivisme menyatakan bahwa siswa harus

menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek

informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya, apabila aturan-aturan

itu tidak sesuai lagi. Menurut teori ini, satu prinsip paling penting dalam psikologi

pendidikan bahwa guru tidak dapat hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada

siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuannya. Hal ini sejalan dengan

model pembelajaran Discovery Learning yang menekankan pada pembentukan

pengetahuan atau konsep dari pengalaman. Pada dasarnya aliran konstruktivisme

mengkehendaki bahwa pengetahuan dibentuk sendiri oleh individu dan pengalaman

merupakan kunci utama dari belajar bermakna. Belajar bermakna tidak akan

terwujud hanya dengan mendengarkan ceramah atau membaca buku tentang

pengalaman orang lain (Trianto, 2014).

Discovery Learning merupakan pembelajaran berdasarkan penemuan (inquiry-

based), konstruktivis dan teori bagaimana belajar. Model pembelajaran yang

diberikan kepada siswa memiliki skenario pembelajaran untuk memecahkan

masalah yang nyata dan mendorong mereka untuk memecahkan masalah mereka

sendiri. Dalam memecahkan masalah mereka, para siswa menggunakan

pengalaman mereka terdahulu dalam memecahkan masalah. Kegiatan mereka

lakukan dengan berinteraksi untuk menggali, mempertanyakan selama

bereksperimen dengan teknik trial and error.

2.2 Model Pembelajaran Discovery Learning

Belajar menemukan (Discovery Learning) ini ditokohi oleh Jerome Bruner,

termasuk dalam pendefinisiannya. Belajar menemukan adalah suatu pendekatan


13

pembelajaran, dimana dengan cara itu siswa berinteraksi dengan lingkungannya

untuk menggali dan memanipulasi obyek, bergulat dengan pertanyaan dan

kontroversi atau melakukan percobaan. Ide dasarnya bahwa siswa cenderung kuat

mengingat konsep yang mereka temukan sendiri. Belajar untuk menemukan paling

berhasil bila siswa memiliki pengetahuan prasyarat dan mengalami beberapa

pengalaman terstruktur. Langkah-langkah yang ditempuh untuk ini dapat berupa :

 Menentukan pokok permasalahan atau fokus belajar

 Melakukan eksplorasi,mengumpulkan data,atau mengamati

 Menganalisis data atau merekonstruksi temuan pengamatan, dan

 Merumuskan kesimpulan atau mengkonstruksi konsep 

(Danim dan Khairil, 2011).

Model Discovery Learning adalah proses pembelajaran yang didefinisikan

sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajaran tidak disajikan dengan

pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan siswa mengorganisasikan

sendiri (Kurniasih, 2014).

Menurut Hosnan (2014) pembelajaran Discovery Learning adalah suatu model

untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri,

menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam

ingatan, tidak akan mudah dilupakan siswa. Dengan belajar penemuan anak juga

belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri problem yang dihadapi.

Kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan masyarakat.

Menurut Roestiyah (2008) Discovery adalah proses mental dimana siswa

mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Yang dimaksud dengan

proses mental tersebut antara lain ialah: mengamati, mencerna, mengerti


14

menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat

kesimpulan dan sebagainya.

Discovery dapat dipandang sebagai metode ataupun model pembelajaran.

Namun demikian, Discovery lebih sering disebut sebagai metode ketimbang

sebagai model pembelajaran. Oleh karenanya, istilah yang sering muncul adalah

metode Discovery. Metode Discovery dalam bahasa Indonesia sering disebut

metode penyingkapan didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila

siswa disajikan materi pembelajaran yang masih bersifat belum tuntas atau belum

lengkap sehingga menuntut siswa menyingkap beberapa informasi yang diperlukan

untuk melengkapi materi ajar tersebut (Kurniasih, 2014).

Sebagai strategi belajar, Discovery Learning mempunyai prinsip yang sama

dengan inkuiri (inqury) dan Problem Solving. Tidak ada perbedaan yang prinsipil

pada ketiga istilah ini, pada Discovery Learning lebih menekankan pada

ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Perbedaannya

dengan Discovery ialah bahwa pada Discovery masalah yang diperhadapkan kepada

siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru. Sedangkan pada inkuiri

masalahnya bukan hasil rekayasa, sehingga siswa harus mengerahkan seluruh

pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan didalam masalah

itu melalui proses penelitian, sedangkan Problem Solving lebih memberikan

tekanan pada kemampuan menyelesaikan masalah.

Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai

pembimbing dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif,

sebagaimana guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar

siswa sesuai dengan tujuan. Kondisi seperti ini ingin mengubah kegiatan belajar
15

mengajar yang teacher oriented (berorientasi pada guru ) menjadi student oriented

(berorientasi pada siswa).

Dalam Discovery Learning hendaknya guru harus memberikan kesempatan

muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientis, historin, atau

ahli matematika. Bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, tetapi siswa

dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi,

membandingkan, mengkatagorikan, menganalisis, mengintegrasikan,

mengorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan-kesimpulan (Kurniasih,

2014).

Kesimpulannya model Discovery Learning adalah suatu model untuk

mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri dilakukan

melalui proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau

prinsip, pelajaran tidak disajikan dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan siswa

mengorganisasikan sendiri agar siswa cenderung kuat mengingat konsep yang

mereka temukan sendiri.

2.2.1 Tujuan pembelajaran dengan penemuan

Menurut Hosnan (2014) mengemukakan beberapa tujuan spesifik dari

pembelajaran dengan penemuan, yakni sebagai berikut:

a. Dalam penemuan siswa memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam

pembelajaran. Kenyataan menunjukan bahwa partisipasi banyak siswa dalam

pembelajaran meningkat ketika penemuan digunakan.

b. Melalui pembelajaran dengan penemuan, siswa belajar menemukan pola dalam

situasi konkrit maupun abstrak, juga siswa banyak meramalkan (extrapolate)

informasi tambahan yang diberikan.


16

c. Siswa juga belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu dan

menggunakan tanya jawab untuk memperoleh informasi yang bermanfaat

dalam menemukan.

d. Pembelajaran dengan penemuan membantu siswa membentuk cara kerja

bersama yang efektif, saling membagi informasi, serta mendengar dan

menggunakan ide-ide orang lain.

e. Terdapat beberapa fakta yang menunjukan bahwa keterampilan-keterampilan,

konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajari melalui penemuan lebih

bermakna.

f. Keterampilan yang dipelajari dalam situasi belajar penemuan dalam beberapa

kasus, lebih mudah ditransfer untuk aktifitas baru dan diaplikasikan dalam

situasi belajar yang baru.

2.2.2 Karakteristik model Discovery Learning

Menurut Hosnan (2014) Ciri utama belajar menemukan, yaitu (1)

mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, mengabungkan, dan

menggeneralisasi pengetahuan; (2) berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk

menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.

Ada sejumlah ciri-ciri proses pembelajaran yang sangat ditekankan oleh teori

kontruktivisme, yaitu sebagai berikut.

a. Menekankan pada proses belajar, bukan proses mengajar.

b. Mendorong siswa sebagai pencipta kemauan dan tujuan yang ingin dicapai.

c. Berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses, bukan menekankan pada

hasil.

d. Mendorong siswa untuk mampu melakukan penyelidikan.


17

e. Menghargai peranan pengalaman kritis dalam belajar.

f. Mendorong berkembangnya rasa ingin tahu secara alami pada siswa.

g. Penilaian belajar lebih menekankan pada kinerja dan pemahaman siswa.

h. Mendasarkan proses belajarnya pada prinsip-prinsip kognitif.

i. Banyak menggunakan terminologi kognitif untuk menjelaskan proses

pembelajaran seperti prediksi, inferensi, kreasi dan analisis

j. Menekankan pentingnya “bagaimana” siswa belajar.

k. Mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam dialog atau diskusi dengan

siswa lain dan guru.

l. Memperhatikan keyakinan dan sikap siswa dalam belajar

m. Memberikan kesempatan pada siswa untuk membangun pengetahuan dan

pemahaman baru yang didasari pada pengalaman nyata.

Berdasarkan ciri-ciri pembelajaran kontruktivisme tersebut, penerapannya di

dalam kelas sebagai berikut:

a. Mendorong kemandirian dan inisiatif siswa dalam belajar

b. Mendorong siswa berpikir tingkat tinggi

c. Siswa terlihat aktif secara dialog atau diskusi dengan guru atau siswa lainnya.

d. Siswa terlibat dalam pengetahuan yang mendorong dan menantang terjadinya

diskusi.

e. Guru menggunakan data mentah, sumber-sumber utama, dan materi-materi

interaktif.

2.2.3 Strategi-strategi model Discovery Learning

Menurut Hosnan (2014) dalam pembelajaran dengan penemuan dapat

digunakan beberapa strategi sebagai berikut:


18

a. strategi induktif

Strategi ini terdiri atas dua bagian, yakni bagian data atau contoh khusus dan

bagian generalisasi (kesimpulan). Data atau contoh khusus tidak dapat digunakan

sebagai bukti merupakan jalan menuju kesimpulan. Mengambil kesimpulan dengan

menggunakan strategi induktif ini selalu mengandung resiko apakah kesimpulan itu

selalu benar atau salah. Karenanya kesimpulan yang digunakan dengan strategi

induktif sebaiknya selalu menggunakan perkataan “ barangkali” atau “ mungkin”.

b. strategi deduktif

Dalam strategi deduktif memegang peranan penting dalam hal pembuktian,

karena siswa diarahkan menemukan konsep-konsep yang belum dia ketahui

sebelumnya.

2.2.4 Peranan guru dalam model Discovery Learning

Menurut Hosnan (2014) mengemukakan beberapa peranan guru dalam

pembelajaran dengan penemuan, yakni sebagai berikut:

a. Merencanakan pelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat pada

masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki para siswa.

b. Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para siswa

untuk memecahkan masalah. Sudah seharusnya materi pelajaran itu dapat

mengarah pada pemecahan masalah yang aktif dan belajar penemuan, misalnya

dengan menggunakan fakta-fakta yang berlawanan.

c. Guru juga harus memperhatikan cara penyajian yang enaktif, ikonik, dan

simbolik.

d. Bila siswa memecahkan masalah di laboratorium atau secara teoritis, guru

hendaknya berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor. Guru hendaknya


19

jangan mengungkapkan terlebuh dahulu prinsip atau aturan yang akan

dipelajari, tetapi ia hendaknya memberikan saran-saran bilamana diperlukan.

Sebagai tutor, guru sebaiknya memberikan umpan balik pada waktu yang tepat.

e. Menilai hasil belajar merupakan suatu masalah dalam belajar penemuan. Secara

garis besar tujuan belajar penemuan ialah mempelajari generalisasi-generalisasi

dengan menemukan generalisai-generalisasi itu.

2.2.5 Langkah-langkah operasional

Pelaksanaan strategi Discovery Learning dikelas, menurut Hosnan (2014) ada

beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara

umum yaitu melaksanakan langkah persiapan dan prosedur aplikasi strategi

Discovery Learning yaitu stimulation (stimulasi/ pemberian rangsangan), problem

statement (pernyataan/identifikasi masalah), data collection (pengumpulan data),

data processing (pengolahan data), verification (pembuktian), dan generalization

(menarik kesimpulan/generalisasi). Hal tersebut sependapat dengan Kurniasih

(2014) bahwa langkah-langkah operasional implementasi dalam proses

pembelajaran Discovery Learning sebagai berikut:

1. langkah persiapan strategi Discovery Learning

a) Menentukan tujuan pembelajaran

b) Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal,minat gaya

belajar, dan sebagainya)

c) Memilih materi pelajaran

d) Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari

contoh-contoh generalisasi)
20

e) Mengembangkan bahan-bahan ajar berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan

sebagainya untuk dipelajari siswa

f) Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang

konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik

g) Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa

Tahapan pembelajaran menggunakan metode Discovery Learning secara umum

digambarkan sebagai berikut :

Guru memaparkan topik yang akan dikaji, tujuan belajar, motivasi, dan memberikan
penjelasan ringkas

Guru mengajukan permasalahan atau pertanyaan yang terkait dengan topik yang dikaji

Kelompok merumuskan hipotesis dan merancang percobaan atau mempelajari tahapan


percobaan yang dipaparkan oleh guru, LKS, atau buku. Guru membimbing dalam perumusan
hipotesis dan merencanakan percobaan

Guru memfasilitasi kelompok dalam melaksanakan percobaan/investigasi

Kelompok melakukan percobaan atau pengamatan untuk mengumpulkan mengumpulkan data


yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis

Kelompok mengorganisasikan dan menganalisis data serta membuat laporan hasil percobaan
atau pengamatan

Kelompok memaparkan hasil investigasi (percobaan atau pengamatan) dan mengemukakan


konsep yang ditemukan. Guru membimbing siswa dalam mengkonstruksi konsep berdasarkan
hasil investigasi

Gambar 2.1 Tahapan Pembelajaran Discovery Learning Secara Umum


21

2. prosedur aplikasi strategi Discovery Learning

Menurut Suyono dan Hariyanto (2015) dalam mengaplikasikan strategi

Discovery Learning di kelas, ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam

kegiatan belajar mengajar secara umum sebagai berikut:

a. stimulation (stimulasi/ pemberian rangsangan)

Pertama-tama siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan

kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar

timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Disamping itu guru dapat memulai

kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan

aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.

Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar

yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan.

b. problem statement (pernyataan / identifikasi masalah)

Setelah dilakukan stimulation langkah selanjutnya adalah guru memberi

kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-

agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya

dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan

masalah). Memberikan kesempatan siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisa

permasalahan yang mereka hadapi, merupakan teknik yang berguna dalam

membangun siswa agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah.

c. data collection (pengumpulan data)

Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberikan kesempatan kepada siswa

untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk

membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. Pada tahap ini berfungsi untuk
22

menjawab pertanyaan atau membuktikan benar atau tidaknya hipotesis, dengan

demikian siswa diberikan kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai

informasi yang relevan, membaca literature, mengamati objek, wawancara dengan

narasumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. Konsekuensinya dari

tahap ini adalah siswa belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang

berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi, dengan demikian secara tidak

sengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.

d. data processing (pengolahan data)

Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah

diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, diklasifikasikan,

ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada

tingkat kepercayaan tertentu. Data processing disebut juga dengan pengkodean

koding/kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi.

Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan pengetahuan baru tentang

alternative jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.

e. verification (pembuktian)

Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan

benar atau tidaknya hipotesis yang telah ditetapkan tadi dengan temuan alternative,

dihubungkan dengan hasil data processing. Berdasarkan hasil pengolahan dan

tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan

terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau

tidak.
23

f. generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)

Tahap generalisasi/menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah

kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian

atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi. Berdasarkan hasil

verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah

menarik kesimpulan peserta di siswa memperhatikan proses generalisasi yang

menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-

prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses

pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.

2.2.6 Kelebihan model Discovery Learning

Menurut Kurniasih (2014) kelebihan model Discovery Learning sebagai

berikut:

a. Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-

keterampilan dan proses-proses kognitif. Usaha penemuan merupakan kunci

dalam proses ini seseorang tergantung bagaimana caranya belajar.

b. Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan ampuh

karena menguatkan pengertian, ingatan dan transfer.

c. Menimbulkan rasa senang pada siswa karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan

berhasil.

d. Metode ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan

kecepatannya sendiri.

e. Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan

melibatkan akalnya dan motivasi sendiri.


24

f. Metode ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya Karena

memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya.

g. Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan

gagasan-gagasan. Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa, dan peneliti

didalam situasi diskusi.

h. Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah

kepada kebenaran yang final dan tertentu atau pasti.

i. Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik

j. Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar

yang baru.

k. Mendorong siswa berfikir dan bekerja atas inisiatif sendiri.

l. Mendorong siswa berfikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri.

m. Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik, situasi proses belajar menjadi

lebih teransang.

n. Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pembentukan manusia

seutuhnya.

o. Mengingkatkan tingkat penghargaan pada siswa.

p. Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber

belajar.

q. Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu (Kurniasih, 2014).

2.2.7 Kelemahan model Discovery Learning

Menurut Kurniasih (2014) kelemahan model Discovery Learning sebagai

berikut:
25

a. Model ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. Bagi

siswa yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan abstrak atau berfikir atau

mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep, yang tertulis atau lisan,

sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi.

b. Model ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak, karena

membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori

atau pemecahan masalah lainnya.

c. Harapan-harapan yang terkandung dalam metode ini dapat buyar berhadapan

dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara belajar yang lama.

d. Pengajaran Discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman,

sedangkan mengembangkan aspek konsep, keterampilan dan emosi secara

keseluruhan kurang mendapat perhatian.

e. Pada beberapa disiplin ilmu, misalnya IPA kurang fasilitas untuk mengukur

gagasan yang dikemukakan oleh para siswa.

f. Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berfikir yang

akanditemukan oleh siswa karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru

(Kurniasih, 2014).

Untuk meminimalisisr kelemahan dari model Discovery Learning ini, sebelum

dilakukan pembelajaran guru harus mempunyai persiapan yang matang, menguasai

materi ajar, menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, dan memiliki motivasi

yang tinggi sehingga dapat memotivasi siswa dalam pembelajaran.

2.3 Materi Asam Basa

Menurut Purba (2006), bahwa Asam dan basa sudah dikenal sejak zaman dulu.

Istilah asam (acid) berasal dari bahasa Latin acetum yang berarti cuka. Istilah basa
26

(alkali) berasal dari bahasa Arab yang berarti abu. Basa digunakan dalam

pembuatan sabun. Dan juga sudah lama diketahui bahwa asam dan basa saling

menetralkan. Di alam, asam ditemukan dalam buah-buahan, misalnya asam sitrat

dalam buah jeruk berfungsi untuk memberi rasa limun yang tajam. Cuka

mengandung asam asetat, dan asam tanak dari kulit pohon digunakan untuk

menyamak kulit. Asam mineral yang lebih kuat telah dibuat sejak abad

pertengahan, salah satunya adalah aqua forti (asam nitrat) yang digunakan oleh para

peneliti untuk memisahkan emas dan perak.

Asam (acid) menurut Arhenius asam adalah zat yang ada dalam air akan

melepas ion H+ jadi pembawa sifat asam adalah ion H+ (ion hidrogen). Basa adalah

senyawa yang dalam air dapat menghasilkan ion hidroksida (OH-), jadi pembawa

sifat basa ialah ion OH-. Menurut Bronsted-Lowry, asam adalah zat yang mudah

melepas proton. Sehingga semakin kuat asam makin kuat dia melepas proton (H+)

dari senyawa tersebut.

2.3.1 Sifat asam basa

Cara yang paling mudah untuk menentukan sifat asam dan basa adalah dengan

menggunakan indikator asam basa, misalnya kertas lakmus. Kertas lakmus merah

akan berubah menjadi biru jika dicelupkan pada larutan basa. Sementara itu, kertas

lakmus biru akan berubah menjadi merah jika dicelupkan kedalam larutan asam.

Jika dilarutkan kedalam larutan netral, kertas lakmus tidak berubah warna. Selain

menggunakan indikator kimia, dalam menentukan sifat asam suatu larutan dapat

digunakan indikator alami yang berasal dari tumbuhan, misalnya daun kubis.
27

2.3.2 Teori asam basa

Sifat asam basa dari suatu larutan dapat dijelaskan menggunakan beberapa

teori, yaitu teori asam basa Arrhenius, teori asam basa Bronsted-Lowry, dan teori

asam basa G.N Lewis. Ketiga teori ini mempunyai dasar pemikiran yang berbeda,

tetapi saling melengkapi dan memperkaya. Hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh

teori Arrhenius dapat dijelaskan dan dilengkapi oleh teori Bronsted-Lowry dan

tidak bertentangan dengan teori Arrhenius. Demikia juga G.N Lewis dapat

melengkapi hal-hal terkait asam basa yang tidak dapat dijelaskan oleh teori

Bronsted-Lowry.

1. teori asam basa Arrhenius

Svante Arrhenius mengemukakan bahwa asam adalah suatu zat yang jika

dilarutkan dalam air akan menghasilkan ion hidronium (H+), sedangkan basa adalah

suatu senyawa yang didalam air dapat menghasilkan ion OH–.

Berdasarkan jumlah ion H+ atau OH– yang dihasilkan dalam reaksi ionisasi,

senyawa asam dapat dikelompokkan menjadi asam–basa monoprotik

(menghasilkan 1 ion H+ atau OH–) dan asam–basa poliprotik (menghasilkan > 1 ion

H+ atau OH–). Beberapa contoh asam dan basa serta reaksi ionisasinya dapat dilihat

pada tabel berikut.

Tabel 2.1 Senyawa Asam dan Basa beserta Reaksi Ionisasinya

Beberapa contoh asam, nama asam, dan reaksi ionisasinya


Rumus Asam Nama Asam Reaksi Ionisasi
HF Asam flourida HF(aq)  H (aq) + F–(aq)
+

H2SO4 Asam sulfat H2SO4(aq)  2H+(aq) + SO42–(aq)


H3PO4 Asam fosfat H3PO4(aq)  3H+(aq) + PO43–(aq)
NaOH Natrium hidroksida NaOH(s)  Na+(aq) + OH–(aq)
Ca(OH)2 Kalsium hidroksida Ca(OH)2(s)  Ca2+(aq) + 2OH–(aq)
Al(OH)3 Aluminium hidroksida Al(OH)3(s)  Al3+(aq) + 3OH–(aq)
28

2. teori asam basa Bronsted Lowry

Menurut teori Bronsted–Lowry, asam adalah spesi (ion atau molekul) yang

berperan sebagai proton donor (pemberi proton atau H+) kepada suatu spesi yang

lain. Basa adalah spesi (ion atau molekul) yang bertindak menjadi proton akseptor (

penerima proton atau H+). Contoh :

Gambar 2.2 Contoh Asam Basa Menurut Bronsted–Lowry

3. teori asam basa Lewis

Gilbert Newton Lewis mengusulkan pengertian asam–basa berdasarkan reaksi

serah terima elektron. Menurutnya, asam lewis merupakan suatu senyawa yang

mampu menerima pasangan elektron dari senyawa lain, atau akseptor pasangan

elektron, sedangkan basa lewis adalah senyawa yang dapat memberikan pasangan

elektron kepada senyawa lain atau donor pasangan elektron. Contoh :

Gambar 2.3 Contoh Asam Basa Menurut Lewis

2.3.3 Indikator asam basa dan nilai pH

Asam dan basa merupakan dua senyawa kimia yang sangat penting dalam

kehidupan sehari–hari. Secara umum, zat–zat yang berasa masam mengandung

asam, misalnya asam sitrat pada jeruk, dan asam cuka pada cuka makan. Basa

merupakan senyawa yang mempunyai sifat licin, rasanya pahit, dan beberapa
29

bersifat caustik, seperti natrium hidroksida. Meskipun asam dan basa dapat

dibedakan dari rasanya, tetapi tidak disarankan (dilarang) untuk mencicipi asam

dan basa yang ada dilaboratorium. Asam dan basa dapat diidentifikasi

menggunakan indikator. Indikator merupakan zat warna yag warnanya berbeda jika

berada dalam kondisi asam dan basa. Indikator yang biasa digunakan adalah kertas

lakmus, larutan indikator asam–basa, indikator universal, indikator alami, dan pH

meter.

Senyawa asam–basa dapat diidentifikasi menggunakan kertas lakmus dengan

cara mengamati perubahan warna kertas lakmus ketika bereaksi dengan larutan.

Ada dua jenis kertas lakmus, yaitu lakmus merah dan lakmus biru. Kertas lakmus

merah yang dicelupkan ke larutan asam tidak akan berubah warna, tetapi jika

dicelupkan kedalam larutan basa, akan berubah warna menjadi biru. Sebaliknya,

jika kertas lakmus biru dicelupkan ke larutan asam, lakmus akan berubah menjadi

merah, dan jika dicelupkan ke larutan basa, warnanya tetap biru.

Gambar 2.4 Kertas Lakmus Biru Gambar 2.5 (a) Larutan asam dapat
dan Merah
memerahkan lakmus biru, (b) Larutan
basa dapat membirukan lakmus merah
Indikator asam–basa merupakan suatu zat yang mempunyai warna tertentu.

Larutan indikator asam–basa selain dapat digunakan untuk membedakan sifat asam

dan basa suatu zat, juga dapat digunakan untuk mengukur pH, namun larutan

indikator asam–basa tidak memastikan secara tepat nilai pH, namun hanya

memperkirakan rentang pH. Perubahan warna yang dihasilkan indikator asam–basa


30

bergantung pada pH. Indikator asam– basa sangat berguna dalam penentuan titik

akhir titrasi asam–basa. Daerah pH dan perubahan warna untuk beberapa indikator

pH dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.2 Beberapa Larutan Indikator Asam Basa


Indikator Perubahan Warna Trayek pH
Metil jingga (MO) Merah ke kuning 3,1 – 4,4
Metil merah (MM) Merah ke kuning 4,4 – 6,2
Lakmus Merah ke biru 4,5 – 8,3
Bromtimol biru (BTB) Kuning ke biru 6,0 – 7,6
Fenolftalein (pp) Tak berwarna ke merah ungu 8,3 – 10,0

Gambar 2.6 Indikator Asam

Jika megharapkan pengukuran nilai pH secara pasti dapat digunakan indikator

universal. Indikator universal merupakan campuran beberapa indikator yang dapat

berubah pada setiap satuan nilai pH. Indikator universal ada yang berbentuk larutan

atau kertas (stik) yang dilengkapi dengan peta warna dan pH nya.

Kertas lakmus dan indikator asam–basa merupakan indikator buatan (dibuat

dari zat–zat kimia). Selain indikator buatan, identifikasi asam basa juga dapat

dilakukan menggunakan indikator alami. Indikator tersebut dapat dibuat dari

bumbu dapur, bunga, dan buah–buahan.


31

a b c
Gambar 2.7 Beberapa Indikator Alami, (a) Hydrangea, (b) Kunyit, (c) Kol Merah

Untuk dapat mengetahui nilai pH suatu larutan dapat juga dilakukan dengan

menggunakan pH meter. pH meter merupakan suatu rangkaian alat elektronik yang

dilengkapi dengan elektrode kaca. Jika elektrode kaca ini dimasukkan kedalam

larutan, akan timbul beda potensial yang diakibatkan oleh adanya ion H + dalam

larutan. Besarnya beda potensial ini ditunjukkan dengan adanya angka yang

menyatakan pH larutan tersebut. Alat ini mengukur berdasarkan perbedaan relatif

konsentrasi ion H+. Oleh karena itu, setiap kali melakukan pengukuran pH meter

harus dikalibrasi dengan menggunakan larutan yang sudah diketahui pH nya secara

pasti. Untuk menggunakan alat ini cukup dengan mencelupkan elektrodenya

kedalam yang diukur dan secara otomatis jarum penunjuk akan menunjuk pada

nilai pH larutan yang diukur.

Gambar 2.8 pH Meter


32

2.4 Hasil Belajar


Menurut Purwanto (2014) hasil belajar adalah hasil yang dicapai dari proses

belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Menurut Sudjana (2006) hasil

belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima

pengalaman belajar. Hasil belajar yang dicapai oleh siswa erat kaitannya dengan

tujuan pembelajaran yang direncanakan oleh guru sebelumnya, jadi dapat dikatakan

bahwa standar keberhasilan dalam belajar dapat dilihat dari sejauh mana guru dan

siswa berhasil dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ada. Hasil tersebut dapat

dilihat dalam perilaku siswa atau hasil dalam bentuk angka yaitu tes hasil belajar.

Hasil belajar yang akan dilihat dalam penelitian ini adalah daya ingat yang

dicapai oleh siswa dalam belajar materi ikatan kimia. Agar dapat mencapai hasil

belajar yang optimal dalam pengetahuan, maka metode pembelajaran serta faktor-

faktor yang mempengaruhinya harus ditentukan dan diorganisasikan dengan

sebaik-baiknya. Belajar dikatakan berhasil apabila kompetensi yang harus dicapai

oleh siswa tercapai.

Berdasarkan konsepsi diatas, disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan suatu

perubahan perilaku secara positif serta kemampuan yang dimiliki siswa dari suatu

interaksi proses belajar dan mengajar yang berupa hasil belajar intelektual, strategi

kognitif, sikap dan nilai. Perubahan tersebut dapat diartikan terjadinya peningkatan

yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya.

2.4.1 Jenis-jenis hasil belajar

Menurut Slameto (2010) membagi hasil belajar dalam tiga ranah, yaitu ranah

kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor.


33

a. ranah kognitif

Hasil belajar kognitif adalah perubahan perilaku yang terjadi dalam kawasan

kognisi. Bloom membagi dan menyusun secara hirarkhis tingkat hasil belajar

kognitif mulai dari yang paling rendah dan sederhana yaitu hafalan sampai yang

paling tinggi dan kompleks yaitu evaluasi. Makin tinggi tingkat maka makin

kompleks dan penguasaan suatu tingkat mempersyaratkan penguasaan tingkat

sebelumnya. Enam tingkat itu adalah hafalan (C1), pemahaman (C2), penerapan

(C3), analisis (C4), sintesis (C5), dan evaluasi (C6) (Purwanto, 2014).

Kemampuan menghafal (knowledge) merupakan kemampuan kognitif yang

paling rendah. Kemampuan ini merupakan kemampuan memanggil kembali fakta

yang disimpan dalam otak digunakan untuk merespon suatu masalah. Kemampuan

pemahaman (comprehension) adalah kemampuan untuk melihat hubungan fakta

dengan fakta. Menghafal fakta tidak lagi cukup karena pemahaman menuntut

pengetahuan akan fakta dan hubungannya. Kemampuan penerapan (application)

adalah kemampuan kognitif untuk memahami aturan, hokum, rumus dan

sebagainya dan menggunakan untuk memecahkan masalah. Kemampuan analisis

(analysis) adalah kemampuan memahami sesuatu dengan menguraikannya ke

dalam unsur-unsur. Kemampuan sintesis (synthesis) adalah kemampuan memahami

dengan mengorganisasikan bagian-bagian ke dalam kesatuan. Kemampuan evaluasi

(evaluation) adalah kemampuan membuat penilaian dan mengambil keputusan dari

hasil penilainnya (Purwanto, 2014).

b. ranah afektif

Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Tipe hasil belajar afektif

tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap
34

pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru, kebiasaan belajar, dan

hubungan sosial.

c. ranah psikomotor

Hasil belajar psikomotor tampak dalam bentuk keterampilan (skiil) dan

kemampuan bertindak individu.

2.4.2 Faktor yang mempengaruhi hasil belajar

Menurut Rusman (2015), faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar

meliputi faktor internal dan faktor eksternal, yaitu :

a. faktor internal

Berdasarkan faktor internalnya hasil belajar dapat dibagi menjadi dua yaitu

sebagai berikut:

1) faktor fisiologis

Secara Umum kondisi fisiologis, seperti kondisi kesehatan yang prima, tidak

dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat jasmani dan sebagainya.

Hal-hal tersebut dapat mempengaruhi siswa dalam menerima materi pelajaran.

2) faktor psikologis

Setiap individu dalam hal ini siswa pada dasarnya memiliki kondisi psikologis

yang berbeda-beda, tentunya hal ini turut mempengaruhi hasil belajarnya. Beberapa

faktor psikologis meliputi intelegensi (IQ), perhatian, minat, bakat, motif, motivasi,

kognitif, dan daya nalar siswa.

b. faktor eksternal

Berdasarkan faktor eksternalnya hasil belajar dapat dibagi menjadi dua yaitu

sebagai berikut:
35

1) faktor lingkungan

Faktor lingkungan dapat mempengaruhi hasil belajar, yaitu meliputi lingkungan

fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan alam misalnya suhu, kelembaban dan lain-

lain. Belajar ditengah hari diruang yang memiliki ventilasi udara yang kurang

tentunya akan berbeda suasana belajarnya dengan yang belajar dipagi hari yang

udaranya masih segar dan diruang yang cukup mendukung untuk bernapas lega.

2) faktor instrumental

Meliputi yaitu faktor yang keberadaan dan penggunaanya dirancang sesuai

dengan hasil belajar yang diharapkan. Faktor-faktor ini diharapkan dapat berfungsi

sebagai sarana untuk tercapainya tujuan-tujuan belajar yang telah direncanakan.

Faktor instrumental ini berupa kurikulum, sarana dan guru.

2.5 Multimedia Pembelajaran

Untuk memahami konsep multimedia pembelajaran, ada baiknya kita pahami

terlebih dahulu pengertian multimedia dan pembelajaran.

2.5.1 Pengertian multimedia pembelajaran

Menurut Sutirman (2013), Multimedia adalah media yang menggabungkan dua

unsur atau lebih media yang terdiri dari teks, grafis, gambar, foto, audio, video dan

animasi secara terintegrasi. Multimedia terbagi menjadi dua kategori, yaitu:

multimedia linier dan multimedia interaktif.

1) Multimedia linier adalah suatu multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat

pengontrol apapun yang dapat dioperasikan oleh pengguna. Multimedia ini

berjalan sekuensial (berurutan), contohnya: TV dan film.


36

2) Multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat

pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat

memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya

Contoh multimedia interaktif adalah: multimedia pembelajaran interaktif,

aplikasi game, dan lain sebagainya. Ciri khas multimedia jenis ini terletak pada

grafik user interface seperti icon atau button, pop-up menu, scroll bar dan lain-lain

yang dapat di operasikan oleh pengguna.

Sedangkan pembelajaran diartikan sebagai proses penciptaan lingkungan yang

memungkinkan terjadinya proses belajar. Jadi dalam pembelajaran yang utama

adalah bagaimana siswa belajar. Belajar dalam pengertian aktifitas mental siswa

dalam berinteraksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan perilaku yang

bersifat relatif konstan. Dengan demikian aspek yang menjadi penting dalam

aktifitas belajar adalah lingkungan. Bagaimana lingkungan ini diciptakan dengan

menata unsur-unsurnya sehingga dapat mengubah perilaku siswa.

Dari uraian di atas, apabila kedua konsep tersebut kita gabungkan maka

multimedia pembelajaran dapat diartikan sebagai aplikasi multimedia yang

digunakan dalam proses pembelajaran, dengan kata lain untuk menyalurkan pesan

(pengetahuan, keterampilan dan sikap) serta dapat merangsang pikiran, perasaan,

perhatian dan kemauan belajar sehingga secara sengaja proses belajar terjadi,

bertujuan dan terkendali.

2.5.2 Manfaat multimedia pembelajaran

Apabila multimedia pembelajaran dipilih dikembangkan dan digunakan secara

tepat dan baik, akan memberi manfaat yang sangat besar bagi para guru dan siswa.

Secara umum manfaat yang dapat diperoleh adalah proses pembelajaran lebih
37

menarik, lebih interaktif, lama waktu belajar dapat dipersingkat karena multimedia

hanya memerlukan waktu singkat untuk mengantarkan pesan dan isi pelajaran dan

kemungkinannya dapat diserap oleh siswa, kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan

dan proses belajar mengajar dapat dilakukan di mana dan kapan saja, serta sikap

belajar siswa dapat ditingkatkan.

Menurut Widodo dan Jasmadi (2008) kelemahan-kelemahan media ajar berupa

buku ajar dapat dieleminir dengan adanya multimedia. Kelemahan-kelemahan yang

dapat dieleminir, antara lain dalam buku ajar tidak mampu untuk menampilkan

Gambar bergerak (video, film dan lainnya), tidak dapat berinteraksi langsung

dengan sumber informasi lain. Selain bagi peserta didik, buku ajar berbasiskan

multimedia juga dapat meningkatkan peran pendidik/pengajar sebagai fasilitator

dimana dalam media berbasiskan multimedia tersebut, materi pembelajaran

semakin banyak yang dapat diberikan kepada siswa (hal ini dapat menjadikan

proses belajar-mengajar menjadi lebih efektif). Multimedia juga mampu

memberikan Gambaran dan visualisasi materi-materi yang membutuhkan

pemahaman visual yang lebih banyak, atau dapat menggantikan pemahaman yang

berhubungan dengan materi pembelajaran, misalnya dengan memberikan simulasi-

simulasi.

2.5.3 Karakteristik multimedia pembelajaran

Menurut Fuadiah (2017), Sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran,

pemilihan dan penggunaan multimedia pembelajaran harus memperhatikan

karakteristik komponen lain, seperti: tujuan, materi, strategi dan juga evaluasi

pembelajaran.
38

Karakteristik multimedia pembelajaran adalah:

a. Memiliki lebih dari satu media yang konvergen, misalnya menggabungkan

unsur audio dan visual.

b. Bersifat interaktif, dalam pengertian memiliki kemampuan untuk

mengakomodasi respon pengguna.

c. Bersifat mandiri, dalam pengertian memberi kemudahan dan kelengkapan isi

sedemikian rupa sehingga pengguna bisa menggunakan tanpa bimbingan orang

lain.

Selain memenuhi ketiga karakteristik tersebut, multimedia pembelajaran

sebaiknya memenuhi fungsi sebagai berikut:

1) Mampu memperkuat respon pengguna secepatnya dan sesering mungkin.

2) Mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengontrol laju

kecepatan belajarnya sendiri.

3) Memperhatikan bahwa siswa mengikuti suatu urutan yang koheren dan

terkendalikan.

4) Mampu memberikan kesempatan adanya partisipasi dari pengguna dalam

bentuk respon, baik berupa jawaban, pemilihan, keputusan, percobaan dan lain-

lain.

2.5.4 Multimedia pembelajaran berbasis scientific approach

Kriteria yang paling utama dalam pemilihan media bahwa media harus

disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai.

Contoh: bila tujuan atau kompetensi siswa bersifat menghafalkan kata-kata

tentunya media audio yang tepat untuk digunakan.


39

Jika tujuan atau kompetensi yang dicapai bersifat memahami isi bacaan maka

media cetak yang lebih tepat digunakan. Kalau tujuan pembelajaran bersifat

motorik (gerak dan aktivitas), maka media film dan video bisa digunakan (Fuadiah,

2017).

2.5.5 Karakteristik pembelajaran dengan pendekatan saintifik

Menurut Hosnan (2014) mengemukakan bahwa pembelajaran dengan

pendekatan saintifik memiliki karakteristik sebagai berikut:

a. Berpusat pada siswa.

b. Melibatkan keterampilan proses sains dalam mengonstruksi konsep, hukum

atau prinsip.

c. Melibatkan proses – proses kognitif yang potensial dalam merangsang

perkembangan intelek, khususnya keterampilan berfikir tingkat tinggi siswa.

d. Dapat mengembangkan karakter siswa.

Sani (2014) dalam bukunya mengatakan bahwa pendekatan saintifik berkaitan

erat dengan metode saintifik. Metode saintifik (ilmiah) pada umumnya melibatkan

kegiatan pengamatan atau observasi yang dibutuhkan untuk perumusan hipotesis

atau mengumpulkan data. Metode ilmiah pada umumnya dilandasi dengan

pemaparan data yang diperoleh melalui pengamatan atau percobaan. Oleh sebab itu,

kegiatan percobaan dapat diganti dengan kegiatan memperoleh informasi dari

berbagai sumber.

2.6 Kerangka Berpikir

Pembelajaran kimia merupakan mata pelajaran bagi kalangan siswa SMA IPA

dimana konsep mata pelajaran kimia ini bersifat abstrak dan kompleks, sehingga

siswa dituntut untuk memahami konsep-konsep tersebut dengan benar dan


40

mendalam. Addiin,dkk (2014) Mengatakan bahwa Materi asam basa melibatkan

pemahaman banyak materi lain yaitu stoikiometri, sifat materi, kesetimbangan, dan

reaksi kimia, sehingga membutuhkan pemahaman siswa. Pemahaman siswa tidak

hanya diperoleh sekedar dari teori saja tetapi bisa diberikan melalui pengalaman

langsung dengan praktikum. Materi asam basa yang dipelajari mencakup teori asam

basa dan indikator asam basa, sehingga materi pokok asam basa ini bersifat hafalan,

hitungan, dan membutuhkan pemahaman konsep yang kuat. Berdasarkan data

empiris yang diperoleh melalui wawancara dengan salah satu guru kimia di SMAN

2 Kota Jambi materi ini diajarkan dengan menerapkan model pembelajaran Direct

Instruction dengan metode ceramah dan diskusi dimana dalam proses

pembelajarannya berpusat pada guru, siswa cenderung untuk menerima saja apa

yang disampaikan guru tanpa memahami dan menginterpretasikannya sehingga

menyebabkan hasil belajar siswa rendah.

Sehingga oleh karna itu, dalam proses pembelajaran tersebut guru dituntut harus

memberikan inovasi pada pembelajaran kimia agar dapat meningkatkan hasil

belajar siswa dan memecahkan masalah dengan pembelajaran yang lebih bermakna

serta mengaitkan materi kimia dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu model

pembelajaran yang dapat diterapkan adalah Model Discovery Learning yang

menuntut proses pembelajaran berpindah dari situasi teacher dominated learning ke

situasi student dominated learning, sedangkan guru berperan sebagai mediator dan

fasilitator (Yerimadesi,dkk, 2017).

Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian Hadi,dkk (2016) yang menyimpulkan

bahwa pembelajaran model Discovery Learning berpengaruh terhadap prestasi

belajar siswa pada aspek pengetahuan dan ketrampilan pada materi hidrolisis garam
41

dan model Discovery Learning disertai LKS berpengaruh terhadap prestasi siswa

pada aspek pengetahuan dan ketrampilan pada materi hidrolisis garam. Discovery

Learning lebih efektif karna Discovery Learning menekankan pada pembentukan

pengetahuan atau konsep dari pengalaman. Selain itu penelitian dari

Yerimadesi,dkk (2017) menemukan bahwa penggunaan modul larutan penyangga

berbasis Discovery Learning efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa

dibandingkan dengan menggunakan pembelajaran konvensional yang menekankan

aktivitas guru dengan keterlibatan siswa yang sangat minim.

Kemudian untuk lebih menarik perhatian siswa dalam belajar maka digunakan

multimedia pembelajaran asam basa. Teks dan gambar membuat multimedia ini

menjadi lebih mudah diikuti dan diingat, sehingga pesan yang disampaikan melalui

multimedia ini tersimpan dalam memori jangka panjang yang tidak mudah

dilupakan. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Rya,dkk (2013) dalam

jurnalnya yang mengatakan bahwa pemanfaatan multimedia dalam pembelajaran

dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa, aktivitas belajar yang

dimaksud adalah aktivitas siswa selama proses belajar yang meliputi aktivitas oral,

visual, emosional, dan menulis sedangkan prestasi belajar meliputi aspek kognitif,

afektif, dan psikomotor. Dengan demikian, penggunaan model pembelajaran

Discovery Learning berbantuan multimedia pembelajaran asam basa diyakini dapat

berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

2.7 Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian ini adalah ”Terdapat pengaruh keterlaksanaan model

pembelajaran Discovery Learning berbantuan multimedia pembelajaran asam basa

terhadap hasil belajar siswa kelas XI IPA SMAN 2 Kota Jambi”.