Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Virus herpes pada manusia meliputi virus herpes hominis ( herpes
simpleks ), virus sitomegalo ( cytomegalovirus ), virus varicella – zoster dan
virus Epstein – Barr. Virus ini selain menyebabkan infeksi yang aktif , dapat
juga menetap hidup dalam sel pejamu, menghasilkan infeksi laten yang pada
suatu saat dapat mengalami reaktifasi. Telah diketahui bahwa sebagian besar
manusia pernah mengalami infeksi virus herpes selama hidupnya. Virus herpes
yang menyebabkan infeksi umum pada mulut dan genital disebut virus herpes
simpleks. Virus herpes simpleks merupakan virus yang paling banyak
dipelajari dibandingkan virus herpes lainnya.1
Dua tipe virus herpes simpeks yang diketahui menyebabkan infeksi pada
kulit dan lapisan mukosa adalah virus herpes simpleks tipe – 1 yang masuk
melalui oral dan virus herpes simpleks tipe – 2 yang masuk melalui genital.
Virus varicella – zoster menyebabkan chicken pox ( varisela ) dan herpes
zoster. Virus sitomegalo menyebabkan hepatitis, pneumonia dan infeksi
kongenital yang serius. Virus Epstein – Barr dikenal merupakan penyebab
mononucleosis infeksiosa, tetapi virus ini juga dikatakan terlihat pada kanker
tertentu pada manusia. Suatu virus herpes ke-6 yang disebut human
herpesvirus tipe – 6, ditemukan pada tahun 1986 tetapi masih sedikit
pengetahuan tentang penyakit yang ditimbulkan. Beberapa laporan menyatakan
bahwa virus herpes tipe – 6 menyatakan eksantema subitum. Human herpes
virus tipe – 7 diidentifikasi pada tahun 1990 tetapi masih belum diketahui
penyakit apa yang ditimbulkan virus ini.1
Insiden antibodi virus herpes simpleks yang tinggi ditemukan pada
masyarakat dengan sosio ekonomi yang rendah. Yang hidup dalam lingkungan
yang berdesakan. Epidemiologi kedua virus herpes simpleks bebbeda.
Pengkajian serologi telah dilakukan hanya hanya pada masyarakat
berpenghasilan rendah. Pada kelompok ini, kebanyakan bayi memperlihatkan
adanya antibody melalui plasenta selama kurang lebih 6 bulan pertama
kehidupan. Mulai usia 1 – 4 tahun terdapat kenaikan tajam terhadap tipe – 1,

1
kecepatan yang lambat tampak pada usia 5 – 14 tahun. Setelah 14 tahun
terdapat lagi kenaikan yang tajam antibodi terhadap virus herpes simpleks
terutama tipe – 2, hingga 60 % dari kalangan orang dewasa. Insidens antibodi
tipe – 2 pada kelompok masyarakat sosial ekonomi yang lebih baik kurang
lebih sebesar 10 %. Sekali terinfeksi maka sebagian besar orang akan terus
membawa virus tersebut dalam keadaan laten dan mempertahankan kadar
antibody yang beredar secara konstan. Karier penyakit ini dapat menyebarkan
virus tanpa manifestasi apapun. Virus herpes simpleks dapat diisolasi didaerah
faring pada sekitar 5 % orang dewasa yang asimtomatik.1

1.2 Tujuan
1. Untuk memenuhi tugas case bagian ilmu kesehatan anak
2. Mengetahui lebih rinci tentang herpes genitalia dan penanganan dari
herpes genitalia.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Herpes genitalia adalah infeksi akut pada genital yang disebabkan


oleh Herpes Simplex Virus (HSV) tipe I atau tipe II dengan gejala khas
berupa vesikel yang berkelompok dengan dasar eritema dan bersifat
rekurens.2

Gambar 1. Herpes genitalia3

2.2 Etiologi

Herpes genitalis disebabkan oleh Herpes Simplex Virus (HSV) atau


Herpes Virus Hominis (HVH), UNNA (1883) yang pertama kali
mengetahui bahwa penyakit ini dapat ditularkan melalui hubungan
seksual, sedangkan SHARLITT pada tahun 1940 membedakan antara
HSV tipe 1 (HSV-1) dan HSV tipe 2 (HSV-2).Sebagian besar
penyebabnya adalah HSV-2 , tetapi walaupun demikian dapat juga
disebabkan oleh HSV-1 (± 16,1%) akibat hubungan kelamin secara
orogenital atau penularan melalui tangan.2

Secara serologik, biologik dan sifat fisiokimia HSV-1 dan HSV-2


sukar dibedakan. Dari penilitian seroepidemiologik didapat bahwa
antibodi HSV-1 sudah terdapat pada anak-anak sekitar umur 5 tahun,
meningkat 70% pada usia remaja dan 97% pada orangtua. Penelitian
seroepidemiologik terhadap antibodi HSV-2 sulit untuk dinilai berhubung
adanya reaksi silang antara respons imun humoral HSV-1 dan HSV-2.2

3
Gambar 2. HSV-14

Dari data yang dikumpulkan WHO dapat diambil kesimpulan


bahwa antibodi terhadap HSV-2 rata-rata baru terbentuk setelah
melakukan aktivitas seksual. Pada kelompok remaja didapatkan kurang
dari 30%, pada kelompok wanita diatas umur 40 tahun naik sampai 60%
dan pada pekerja seks wanita (PSW) ternyata antibodi HSV-2 sepuluh kali
lebih tinggi dari pada orang normal.2

2.3 Transmisi

Infeksi oleh satu atau lebih virus herpes mungkin terjadi dengan
segera atau dikemudian hari pada kehidupan manusia. Virus herpes tipe -1
sering menyebar melalui ciuman atau pemindahan saliva. Sebagian besar
anak tertular virus tersebut, tetapi bila mereka terhindar mereka akan
terinfeksi setelah terdapat aktivitas seksual baik melalui kontak oral – oral
atau oral – genital. Dua – pertiga sampai tiga – perempat orang dewasa
memiliki antibody terhadap virus herpes simpleks tipe – 1, hal ini
menunjukan adanya adanya infeksi sebelumnya. Virus herpes simpleks
tipe – 2 juga tersebar melalui kontak oral – oral dan oral – genital, tetapi
terutama menyebar melalui kontak genital – genital. Infeksi virus ini
jarang terjadi sebelum adolesens, tetapi prevalensi infeksi muncul dengan
cepat dengan adanya aktivitas sosial. Kira – kira seperenam sampai
seperempat dari semua orang dewasa telah mengalami infeksi dengan
virus ini, tergantung dari frekuensi aktivitas seksual mereka. Sebagian
besar infeksi virus herpes simpleks bersifat asimtomatik. Mungkin hanya
sepertiga dari individu yang terinfeksi virus tersebut dikenali gejalanya.

4
Secara klinis bukti infeksi dengan virus herpes tipe – 2 meningkat,
perkiraan kasar menunjukan peningkatan kira – kira 10 kali lipat dari
tahun 1965 sampai 1985.1

Virus herpes sangat rapuh dan peka terhadap kekeringan dan dapat
inaktif akibat panas, detergen dan pelarut ringan. Virus herpes dapat
menimbulkan infeksi pada manusia melalui berbagai jalur yang berbeda.
Membran mukosa mulut , mata, genital, saluran nafas dan anus adalah
tempat yang paling siap untuk diinfeksi virus herpes simpleks. Pertahanan
pertama yang kita miliki terhadap infeksi virus ini adalah kulit.
Tampaknya ketebalan kulit, lapisan kilut tanduk kulit mencegah masuknya
virus. Membran mukosa tidak memiliki barier yang seperti itu sehingga
mudah terinfeksi.1

2.4 Epidemiologi
Insiden antibodi virus herpes simpleks yang tinggi ditemukan pada
masyarakat dengan sosio ekonomi yang rendah. Yang hidup dalam
lingkungan yang berdesakan. Epidemiologi kedua virus herpes simpleks
bebbeda. Pengkajian serologi telah dilakukan hanya hanya pada
masyarakat berpenghasilan rendah. Pada kelompok ini, kebanyakan bayi
memperlihatkan adanya antibody melalui plasenta selama kurang lebih 6
bulan pertama kehidupan. Mulai usia 1 – 4 tahun terdapat kenaikan tajam
terhadap tipe – 1, kecepatan yang lambat tampak pada usia 5 – 14 tahun.
Setelah 14 tahun terdapat lagi kenaikan yang tajam antibodi terhadap virus
herpes simpleks terutama tipe – 2, hingga 60 % dari kalangan orang
dewasa. Insidens antibodi tipe – 2 pada kelompok masyarakat sosial
ekonomi yang lebih baik kurang lebih sebesar 10 %. Sekali terinfeksi
maka sebagian besar orang akan terus membawa virus tersebut dalam
keadaan laten dan mempertahankan kadar antibody yang beredar secara
konstan. Karier penyakit ini dapat menyebarkan virus tanpa manifestasi
apapun. Virus herpes simpleks dapat diisolasi didaerah faring pada sekitar
5 % orang dewasa yang asimtomatik.1

5
2.5 Patogenesis
Bila seorang terpajan HSV, maka infeksi dapat terbentuk episode I
infeksi primer (inisial), episode I non infeksi primer, infeksi rekurens,
asimptomatik atau tidak terjadi infeksi sama sekali. Pada episode I infeksi
primer, virus yang berasal dari luar masuk kedalam tubuh hospes.
Kemudian terjadi penggabungan dengan DNA hospes didalam tubuh
hospes tersebut dan mengadakan multiplikasi atau replikasi serta
menimbulkan kelainan pada kulit. Pada waktu itu hospes sendiri belum
ada antibodi spesifik, ini bisa mengakibatkan timbulnya lesi pada daerah
yang luas dengan gejala konstitusi berat. Selanjutnya virus menjalar
melalui serabut saraf sensorik ke ganglion saraf regional ( ganglion
sakralis) dan berdiam disana serta bersifat laten.2
Pada episode I non infeksi primer, infeksi sudah lama berlangsung
tetapi belum menimbulkan gejala klinis, tubuh sudah membentuk zat anti
sehingga pada waktu terjadinya episode I ini kelainan yang timbul tidak
seberat episode I dengan infeksi primer.2
Bila pada suatu waktu ada faktor pencetus (trigger factor), virus
akan mengalami reaktivasi dan multiplikasi kemballi sehingga terjadilan
infeksi rekurens. Pada saat ini didalam tubuh hospes sudah ada antibodi
spesifik sehingga kelainan yang timbul dan gejala konstitusinya tidak
seberat pada waktu infeksi primer. Trigger factor tersebut antara lain
adalah trauma, koitus yang berlebihan, demam, gangguan pencernaan,
stres emosi, kelelahan, makanan yang merangsang, alkohol, obat-obatan
(imunosupresif, kortikosteroid) dan pada beberapa kasus sukar diketahui
dengan jelas penyebabnya. Ada beberapa pendapat mengenai terjadinya
infeksi rekurens:2
1. Faktor pencetus akan mengakibatkan reaktivasi virus dalam ganglion
dan virus akan turun melalui akson saraf perifer ke sel epitel kulit yang
dipersarafinya dan disana akan mengalami replikasi dan multiplikasi
serta menimbulkan lesi.

6
2. Virus secara terus menerus dilepaskan ke sel-sel epitel dan adanya
faktor pencetus ini menyebabkan kelemahan setempat dan
menimbulkan lesi rekurens.

2.6 Manifestasi Klinis

Manifestasi klinik dapat dipengaruhi oleh faktor hospes, pajanan


HSV sebelumnya, episode terdahulu dan tipe virus. Masa inkubasi
umumnya berkisar antara 3-7 hari, tetapi dapat lebih lama. Gejala yang
timbul dapat bersifat berat, tetapi bisa juga asimptomatik terutama bila lesi
ditemukan pada daerah serviks. Pada penelitian retrospektif 50-70%
infeksi HSV-2 adalah asimptomatis.2

Biasanya didahului rasa terbakar dan gatal didaerah lesi yang


terjadi beberapa jam sebelum timbulnya lesi. Setelah lesi timbul dapat
disertai gejala konstitusi seperti malaise, demam dan nyeri otot. Lesi pada
kulit berbentuk vesikel yng berkelompok dengan dasar eritema. Vesikel ini
mudah pecah dan menimbulkan erosi multipel. Tanpa infeksi sekunder,
penyembuhan terjadi dalam waktu 5-7 hari dan tidak terjadi jaringan parut,
tetapi bila ada, penyembuhan memerlukan waktu lebih lama dan
meninggalkan jaringan parut.2
Pada infeksi inisial gejalanya lebih berat dan berlangsung lebih
lama. Kelenjer limfe regional dapat membesar dan nyeri pada perabaan.
Infeksi di daerah serviks, dapat menimbulkan beberapa perubahan
termasuk peradangan difus, ulkus multipel sampai terjadinya ulkus yang
besar dan nekrotik. Tetapi dapat juga tanpa gejala klinis. Pada saat
pertama kali timbul, penyembuhan memerlukan waktu yang cukup lama,
dapat 2-4 minggu, sedangkan pada serangan berikutnya penyembuhan
akan lebih cepat. Disamping itu pada infeksi pertama dapat terjadi disuria
bila lesi terletak didaerah uretra dan periuretra, sehingga dapat
menimbulkan retensi urin. Hal lain yang menyebabkan retensin urin
adalah lesi pada daerah sakral yang militis dan radikulitis.2

7
Infeksi rekuren dapat terjadi dengan cepat atau lambat, sehingga
gejala yang timbul biasanya lebih ringan, karena telah ada antibodi
spesifik dan penyembuhan juga akan lebih cepat. Sebagaimana telah
disebutkan diatas, infeksi inisial dan rekurens selain disertai gejala klinis
dapat juga tanpa gejala. Hal ini dapat dibuktikan ditemukannya antibodi
terhadap HSV-2 pada orang yang tidak ada penyakit herpes genitalis
sebelumnya. Adanya antibodi terhadap HSV-1 menyebabkan infeksi
HSV lebih ringan. Hal ini memungkinkan infeksi inisisal HSV-2 berjalan
asimptomatik pada penderita yang pernah mendapat HSV-1.2
Tempat predileksi pada pria biasanya di preputium, glans penis,
batang penis, dapat juga diuretra dan daerah anal (pada homoseks),
sedangkan daerah skrotum jarang terkena. Lesi pada wanita dapat
ditemukan didaerah labia mayor atau minor, klitoris, introitus vaginae,
serviks, sedangkan pada daerah perianal, bokong dan mons pubis jarang
ditemukan. Infeksi pada wanita sering dihubungkan dengan servisitis,
karena itu perlu pemeriksaan sitologi secara teratur.2

2.7 Komplikasi
Komplikasi yang paling ditakutkan adalah akibat penyakit ini pada
bayi yang baru lahir. Herpes genitalis pada permulaan kehamilan bisa
menimbulkan abortus atau malformasi kongenital berupa mikroensefali.
Pada bayi yang lahir dari ibu yang menderita herpes genitalis pada
waktu kehamilan dapat ditemukan kelainan berupa hepatitis, infeksi
berat, ensefalitis, keratokonjungtivitis, erupsi kulit berupa vesikel
herpetifomis dan bahkan bisa lahir mati.2
Pada orang tua hepatitis karena HSV jarang ditemukan sedangkan
meningitis dan ensefalitis pernah dilaporkan. Pada orangtua meningitis
herpetika biasanya disebabkan HSV-2 sedangkan ensefalitis oleh HSV-1.
Disamping itu juga ditemukan hipersensitivitas terhadap virus, sehingga
timbul reaksi pada kulit berupa eritema eksudativum multiforme. Dapat
juga timbul ketakutan dan depresi terutama bila terjadi salah penanganan
pada penderita.2

8
Gambar 3. Herpes neonatus5

2.8 Pemeriksaan Laboratorium


Dalam menangani kasus herpes genitalis, langkah pertama adalah
menegakkan diagnosis yang bila memungkinkan ditunjang dengan
pemeriksaan laboratorium. Diagnosis secara klinis ditegakkan dengan
adanya gejala khas berupa vesikel berkelompok dengan dasar eritema dan
bersifat rekurens.2
Pemeriksaan laboratorium yang paling sederhana adalah
pemeriksaan tes Tzank yang diwarnai dengan pengecatan Giemsa atau
Wright, akan terlihat sel raksasa berinti banyak. Sensitivitas dan
spesifisitas pemeriksaan ini umumnya rendah.2
Pemeriksaan langsung dengan mikroskop elektron, hasilnya sudah
dapat dilihat dalam waktu 2 jam, tetapi tidak spesifik karena dengan teknik
ini kelompok virus herpes tidak dapat dibedakan.2
Cara yang paling baik adalah dengan melakukan kultur jaringan,
karena paling sensitif dan spesifik dibandingkan dengan cara-cara lain.
Bila titer virus dalam spesimen cukup tinggi, maka hasil positif dapat
dilihat dalam jangka waktu 24-48 jam. Pertumbuhan virus dalam sel
ditunjukkan dengan terjadinya granulasi sitoplasmik, degenerasi balon dan
sel raksasa berinti banyak. Namuncara ini memiliki kekurangan karena
waktu pemeriksaan yang lama dan biaya yang mahal.2
Masih ada sejumlah tes untuk mendeteksi antigen HSV dengan
harapan diagnosis lebih cepat ditegakkan dibandingkan dengan kultur. Tes
ini dilakukan secara imunologik memakai antibodi poliklonal atau

9
monoklonal misalnya teknik pemeriksaan dengan imunofluoresensi,
imunoperoksidase dan ELISA( enzyme linked immunosorbent assays).
Deteksi antigen secara langsung dari spesimen sangat potensial, cepat dan
dapat merupaka deteksi paling awal pada infeksi HSV .2
Pemeriksaan imunoperoksidase tak langsung dan imunofluoresensi
langsung memakai antibodi poliklonal memberikan kemungkinan hasil
positif palsu dan negatif palsu. Dengan memakai antibodi monoklonal
pada pemeriksaan imunofluoresensi, dapat ditentukan tipe virus.
Pemeriksaan imunofluoresensi memerlukan tenaga yang terlatih dan
mikroskop khusus. Pemeriksaan antibodi monoklonal dengan cara
mikroskopik imunofluoresensi tak langsung dari kerokan lesi,
sensitifitasnya 78% sampai 88%.2
Pemeriksaan dengan cara ELISA ( enzyme linked immunosorbent
assays)adalah pemeriksaan untuk menentukan antigen HSV. Pemeriksaan
ini sensitifitasnya 95% dan sangat spesifik, tapi dapat berkurang jika
spesimen tidak segera diperiksa. Tes ini memerlukan waktu 4,5 jam. Tes
ini juga dapat dipakai untuk mendeteksi antibodi terhadap HSV dalam
serum penderita. Tes ELISA ini merupakan tes alternatif yang terbaaik
disamping kultur karena mempunyai beberapa keuntungan seperti hasilnya
cepat dibaca dan tidak memerluka tenaga terlatih.2

Gambar 4. Sel raksasa berinti banyak pada tes Tzank6

2.9 Penatalaksaan
Setelah diagnosis ditegakkan, baik secara klinis, dengan maupun
tanpa pemeriksaan penunjang, maka langkah selanjutnya adalah

10
memberikan pengobatan. Pengobatan dapat dibagi menjadi 3 kategori,
yaitu profilaksis, pengobatan non spesifik dan pengobatan spesifik.2
1. Tindakan profilaksis 2
a. Penderita diberi penerangan tentang sifat penyakit yang dapat
menular terutama bila sedang terkena serangan, karena itu
sebaiknya melaksanakan abstinensia.
b. Proteksi individual. Digunakan dua macam alat perintang, yaitu
busa spermisidal dan kondom. Kombinasi tersebut, bila diikuti
dengan pencucian alat kelamin memakai air dan sabun pasca
koitus, dapat mencegah transmisi herpes genitalis hampir 100%.
c. Factor-faktor pencetus sedapat mungkin dihindari.
d. Konsultasi psikiatrik dapat membantu karena factor psikis
mempunyai peranan untuk timbulnya serangan.

2. Pengobatan non spesifik 2


a. Rasa nyeri dan gejala lain bervariasi, sehingga pemberian
analgetika, antipiretik dan antipruritus disesuaikan dengan
kebutuhan individual.
b. Zat-zat pengering yang bersifat antiseptic, seperti jodium povidon
secara topical mengeringkan lesi, mencegah infeksi sekunder dan
mempercepat waktu penyembuhan.
c. Antibiotika dan kotrimoksasol dapat diberikan untuk mencegah
infeksi sekunder.

3. Pengobatan spesifik

Berbagai macam obat antivirus telah pernah dipakai untuk


mengatasi penyakit herpes genitalis, misalnya idoksuridin topical,
sitarabin (Ara-C) dan vidarabin (Ara-A) secara intravena, inosipleks
(isoprinosin), dan interferon.Obat anti virus yang kini telah banyak
dipakai adalah asiklovir, dan saat ini ada lagi dua macam obat
antivirus baru yaitu valasiklovir dan famsiklovir.2

11
a. Asiklovir
Asiklovir merupakan obat anti virus yang spesifik terhadap
virus herpes, dapat diberikan pada penderita dengan infeksi
mukotan disertai defisiensi imunitas. Obat ini hanya bekerja
terhadap sel-sel yang terkena infeksi. Tidak mempunyai efek
teratogenik. Toleransi obat baik, tidak ada toksisitas akut dan tidak
menimbulkan penekanan sumsum tulang, hati dan ginjal. Tetapi
walaupun demikian pernah dilaporkan efek samping seperti kolik
ginjal, kenaikan kadar ureum / kreatinin dalam serum, reaksi
setempat pada suntikan nausea dan vomitus.2
Asiklovir dapat diberikan secara intravena, oral dan topical.
Cara pemberian intravena harus perlahan-lahan dan perlu
pengawasan. Oleh karena itu sebaiknya diberikan di rumah sakit.
Dosis setiap kali pemberian adalah 5 mg/kgBB, dengan interval
setiap 8 jam. Pengobatan asiklovir secara intravena pada herpes
genital episode pertama, yang memerlukan waktu selama 5-10 hari,
ternyata tidak dapat mengurangi rekurensi (Corey dkk, 1985). Bila
secara oral obat diberikan dengan dosis 200 mg 5 kali sehari
selama 5-10 hari.Seperti secara intravena, pengobatan per oral
mengurangi viral shedding secara dramatis.2
Asiklovir yang diberikan IV (5-10 mg/kg/dosis yang diberikan
selama 1 jam setiap 8 jam selama 14-21 hari) merupakan
pengobatan pilihan untuk infeksi HSV pada hospes yang terganggu
sistem imun nya. Dosis yang lebih besar digunakan untuk infeksi
berat dan sistemik. Dosis yang lebih rendah dapat digunakan untuk
penyakit mukokutan lokal. Pada neonatus, semua bentuk HSV
diobati dengan dosis tinggi (10-20 mg/kg/dosis setiap 8 jam)
asiklovir selama 14-21 hari.7
Banyak yang berpendapat bahwa pada infeksi primer sebaiknya
diberi asiklovir secara intravena dan pada infeksi rekurens
diberikan secara oral. Pemberian obat oral juga tidak menjamin
tidak timbul rekurensi. Kinghorn dkk (1986) telah membuktikan

12
bahwa asiklovir 200 mg lima kali sehari peroral ditambah
kotrimoksazol (160 mg trimetropin dan 800 mg sulfametoksazol)
dua kali sehari selama 7 hari memperpendek waktu penyembuhan
lesi secara bermakna dibandingkan dengan pengobatan asiklovir
saja.2
Penanganan infeksi rekurens menurut Moreland dkk (1990)
dapat ditempuh dengan 4 cara :2
1) Tidak diberi terapi spesifik (terutama pada infeksi yang
ringan).
2) Asiklovir per oral secara episodic dengan dosis 5 x 200 mg
/ hari selama 5 hari. Cara ini diberikan pada penderita
dengan riwayat lesi multiple atau serangan yang lama (7
hari).
3) Supresi kronis asiklovir, dapat dipertimbangkan bila
seseorang mengalami keadaan sebagai berikut :
a) Rekurensi lebih dari 8 kali pertahun.
b) Rekurensi lebih dari 1 kali dalam sebulan.
c) Bila terapi dirasakan lebih bermanfaat dibandingkan
biaya untuk penderita tersebut.

Dosis asiklovir yang diberikan minimal 2 x 200 mg/hari


dan dapat ditinggikan sampai 3-4 x 200 mg sehari
tergantung pada keadaan.Cara ini efektif dan aman untuk
jangka waktu minimal satu tahun, dengan penilaian ulang
setiap 6 bulan.

4) Supresi episodic dengan asiklovir, diberikan pada individu


dengan rekurensi terutama bila ada stress.

Asiklovir topical diberikan dalam bentuk krim 5%. Obat ini


bekerja langsung pada sel yang terinfeksi serta memperpendek
viral shedding. Efek toksiknya sangat minimal, absorbsinya
minimal dan tidak mengadakan interaksi dengan obat lain yang
digunakan secara bersamaan. Selain itu juga dapat mengurangi rasa

13
nyeri dan gatal. Karena hasilnya kurang efektif dibandingkan
dengan pemberian secara oral, maka pemakaiannya hanya untuk
mengurangi keparahan dan lamanya episode rekurens.2

b. Valasiklovir
Obat ini merupakan derivate ester L-valil dari asiklovir. Bahan
aktif antivirusnya ialah asiklovir, sehingga kemanjuran dan
spesifitasnya berhubungan dengan cara kerja asiklovir. Setelah
diabsorbsi, valasiklovir dengan cepat dan hampir seluruhnya,
diubah menjadi asiklovir dan L-valin.Bioavailabilitasnya 3-5 kali
lebih tinggi daripada yang dapat dicapai oleh asiklovir oral dosis
tinggi. Kadar dalam plasma setelah valasiklovir oral 1000 mg
mendekati kadar yang dapat dicapai oleh asiklovir yang diberikan
secara intravena.2
Pada uji klinik yang membandingkan valasiklovir 2 x 500 –
1000 mg per hari, dengan asiklovir oral 5 x 200 mg/hari, dan
placebo dalam waktu 24 jam setelah timbulnya keluhan dan gejala
klinis pertama episode herpes genitalis rekurens menunjukkan
bahwa terapi valasiklovir secara bermakna mengurangi rasa nyeri
dan mempercepat masa viral shedding. Efek samping yang paling
sering dilaporkan ialah nyeri kepala dan mual.2
c. Famsiklovir
Obat antivirus baru lain ialah famsiklovir (famciclovir), yang
merupakan derivate diasetil-6-deoksi pensiklovir. Sedangkan
famsiklovir sendiri merupakan golongan antivirus dengan
komponen guanine, yang dapat diberikan secara topical dan
intravena. Famsiklovir, dikembangkan untuk pengobatan infeksi
virus herpes, dengan cara pemberian per oral. Cara kerja
famsiklovir sama seperti asiklovir, yaitu menghambat sintesis
DNA.2
Pada penderita herpes genitalis episode pertama, pemberian
famsiklovir 3 kali 500 mg per hari selama 5 hari, ternyata
mempersingkat viral shedding dan waktu penyembuhan,

14
dibandingkan placebo. Bila dibandingkan dengan pengobatan
asiklovir 5 kali 200 mg/hari selama 5 hari, pemberian famsiklovir 3
kali 750 mg per hari dalam waktu yang sama, secara statistik tidak
menujukkan perbedaan dalam lamanya viral shedding, waktu
menghilangnya vesikel dan ulkus, serta terjadinya krustasi dan
hilangnya rasa sakit.2
Pada pengobatan herpes genitalis rekurens, pemberian
famsiklovir 3 kali 500 mg selama 5 hari dibandingkan asiklovir 5
kali 200 mg per hari selama 5 hari, tidak berbeda dalam hal
mempersingkat waktu viral shedding. Dari hasil-hasil tersebut di
atas, pengobatan dengan famsiklovir ternyata sama efektivitasnya
dengan asiklovir pada kasus herpes genitalis, namun frekuensi
pemberiannya lebih jarang.2

2.9.1 Penatalaksanaan bayi lahir dari ibu dengan herpes genitalis

Banyak rumah sakit yang menganjurkan isolasi untuk bayi


yang lahir dari ibu dengan herpes genitalis. Kultur virus,
pemeriksaan fungsi hati dan cairan serebrospinalis harus dilakukan,
serta bayi harus diawasi ketat dalam satu bulan pertama
kehidupannya. Spesimen untuk pemeriksaan kultur virus diambil
dari konjungtiva, umbilikus, nasofaring, dan setiap lesi kulit yang
dicurigai, pada 24-48 jam pertama. Bila ibu mengidap herpes
genitalis primer pada saat persalinan per vaginam, harus diberikan
profilaksis asiklovir intravena kepada bayi selama 5-7 hari dengan
dosis 3 x 10 mg/kgBB/hari.2

Infeksi herpes simpleks pada neonatus prognosisnya buruk


bila tidak diobati. Penelitian pengobatan dengan asiklovir 10
mg/kgBB tiap 8 jam selama 10-21 hari, atau Ara-A 30
mg/kgBB/hari menurunkan angka kematian dibandingkan dengan
penderita yang tidak mendapat pengobatan. Cara pengobatan ini
juga dapat mencegah progresivitas penyakit ( infeksi herpes pada
susunan saraf pusat atau infeksi diseminata) oleh karena itu

15
identifikasi lesi kulit sangat penting untuk menentukan
ada/tidaknya infeksi HSV pada neonatus.2

2.9.2 Penatalaksanaan herpes genitalis pada immunocompromised

Pada penderita immunocompromised, pengobatan infeksi


herpes simpleks memerlukan waktu yang lebih lama. Asiklovir
oral dapat diberikan dengan dosis 5 x 200 mg – 400 mg/hari
selama 5-10 hari. Pada yang beresiko tinggi untuk menjadi
diseminata, atau yang tidak dapat menerima pengobatan oral, maka
asiklovir diberikan secara intravena 3 x 5 mg/kgBB/hari selama 7-
14 hari. Bila terdapat bukti terjadinya infeksi sistemik, dianjurkan
terapi asiklovir intravena 3 x 10 mg/kgBB/hari selama paling
sedikit 10 hari.2

Oleh karena pada keadaan tersebut lebih sering terjadi


rekurensi, pengobatan supresif lebih sering dianjurkan, dengan
dosis asiklovir paling sedikit harus 2 x 400 mg/hari hingga keadaan
imunokompromisnya hilang (jika mungkin). Untuk penderita
infeksi HIV simtomatik atau AIDS, digunakan asiklovir oral 4-5 x
400 mg/ hari hingga lesi sembuh, setelah itu dapat diberikan terapi
suportif.2

2.10 Prognosis

Infeksi primer herpes virus merupakan penyakit yang dapat


sembuh spontan, biasanya berlangsung selama 1 – 2 minggu. Kematian
dapat terjadi pada masa neonatus, anak dengan malnutrisi berat, kasus
meningo – ensefalitis, dan eksema herpatikum yang berat, diluar keadaan
ini biasanya prognosisnya baik. Mungkin sering ditemukan serangan
berulang, tetapi serangan ulang tersebut jarang berat, kecuali serangan
ulang pada mata yang dapat menyebabkan timbulnya jaringan parut pada
kornea dan menimbulkan kebutaan. Penelitian pada awal 1970
menunjukan bahwa infeksi serviks uteri dengan HSV -2 berhubunhan
dengan munculnya karsinoma servik.1

16
Meskipun kematian yang disebabkan oleh infeksi virus HSV-2
jarang terjadi, akan tetapi selama belum ada pengobatan yang efektif,
perkembangan penyakit sulit diramalkan. Infeksi primer dini yang segera
diobati mempunyai prognosis lebih baik, sedangkan infeksi rekuren hanya
dapat dibatasi frekuensi kambuhnya.2

17
BAB III

LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN

Nama : ZA

Umur/tanggal lahir : 13 Tahun 2 Bulan / 29 Agustus 2005

Jenis Kelamin : Perempuan

Status : Belum menikah

Suku : Minang

No. RM : 510610

Alamat : Simpang Tonang, Duo Koto, Pasaman

Tgl masuk : 16 November 2018

Autoanamnesis dan Alloanamnesis

Seorang anak perempuan umur 13 tahun 2 bulan dirawat di Bangsal Anak


RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi sejak 16 November 2018. Pasien
dikirim dari IGD RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi rujukan dari RS Lubuk
Sikaping dengan :

Keluhan Utama :

Nyeri pada kemaluan yang meningkat sejak 4 hari SMRS.

Riwayat Penyakit Sekarang :

- Nyeri pada kemaluan yang meninkat sejak 4 hari SMRS. Awalnya nyeri
sudah dirasakan lebih kurang 15 hari, dan makin meningkat dalam 4 hari
SMRS. Nyeri disertai dengan adanya gelembung berair dengan kulit
kemerahan. Awalnya berupa bintik merah dikemaluan kemudian
membesar menjadi gelembung berair, terasa panas dan gatal. Pasien

18
menggaruk kemaluan sehingga menimbulkan luka pada kemaluan. Luka
tersebut makin lama makin banyak, melebar dan terasa nyeri.
- Pasien juga mengeluhkan keputihan sejak ± 2 minggu SMRS. Keputihan
berjumlah banyak , warna putih kekuningan, tidak berbau, disertai gatal.
- Pasien sudah dikonsulkan ke bagian kulit dan kelamin tanggal 17
November 2018 dan diberi obat acyclovir tablet 5 x 200 mg p.o ( 7 hari )
dan asam mefenamat 3 x 500 mg p.o.
- Pasien juga di konsul ke bagian kebidanan tanggal 21 November 2018
karena robekan pada kemaluan dan di tatalaksana dengan rawat luka
dengan ganti verban 2 x sehari.
- Demam 5 hari sebelum masuk Rumah Sakit, demam mendadak tinggi
dirasakan terus menerus, disertai menggigil dan berkeringat di pagi
harinya.
- Nyeri kepala 5 hari sebelum masuk rumah sakit, nyeri di seluruh kepala,
muncul tanpa pencetus.
- Nyeri otot dan sendi 5 hari sebelum masuk rumah sakit.
- BAK terasa nyeri, warna biasa, jumlah biasa, riwayat BAK seperti berbusa
dan berpasir tidak ada.
- Riwayat pelecehan seksual ± 1 bulan yang lalu
- Mimisan dan pendarahan pada gusi tidak ada.
- BAB warna biasa, konsistensi biasa.
- Ruam di kulit tidak ada
- Nyeri perut tidak ada.
- Batuk tidak ada
- Kejang tidak ada
- Sesak nafas tidak ada
- Mual dan muntah tidak ada
- Riwayat haid pertama umur 12 tahun, haid teratur tiap bulan, 5-7 hari,
nyeri saat haid tidak ada.
- Pasien mengganti pakaian dalam 2 kali sehari.

19
Riwayat Penyakit Dahulu :

Pasien tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya. 5 hari sebelum masuk
RS, pasien sudah berobat ke puskesmas dengan keluhan demam sejak 1 hari dan
dirawat selama 1 hari. Pasien mendapat terapi infus dan 2 jenis obat, parasetamol
dan antibiotik namun pasien lupa namanya. Kemudian pasien dirujuk ke RS
Lubuk Sikaping dengan keluhan demam dan nyeri pada kemaluan, dirawat selama
3 hari kemudian dirujuk ke RSUD Achmad Mochtar Bukittinggi.

Riwayat Penyakit Keluarga :

Tidak ada anggota keluarga dan tetangga pasien yang menderita penyakit
seperti ini sebelumnya.

Riwayat Psikososial

Pasien mengalami pelecehan seksual dari bapaknya ± 1 bulan yang lalu


sebanyak 2 kali tanpa memakai kondom.

Riwayat Persalinan

● Pasien anak keempat, lahir pervaginam dengan bidan, lahir cukup bulan,
BBL 3400 gr, langsung menangis kuat.

Riwayat Makanan dan Minuman :

ASI : 0 bulan

Susu Formula : 6 bulan

Bubur susu : 15 hari - 8 bulan

Nasi Tim : 8 bulan – 12 bulan

Nasi Biasa : 12 bulan – skrg

Makan utama : 3 kali/hari, menghabiskan 1 porsi

20
Daging : 1 kali/minggu

Ikan : 2 kali/minggu

Telur : 1 kali/minggu

Sayur : 7 kali/minggu

Buah : - kali/minggu

Kesan makanan dan minuman : kuantitas dan kualitas cukup

Riwayat Imunisasi :

Imunisasi Dasar/Umur Booster/Umur

BCG 1 bulan (scar ada) -

DPT : 1. 2 bulan 18 bulan


2. 3 bulan 5 tahun
3. 4 bulan

Polio : 0. 0 bulan 18 bulan


1. 2 bulan
2. 3 bulan
3. 4 bulan

Hepatitis B : 1. Baru lahir


2. 1 bulan
3. 3 bulan
4. 4 bulan

21
Haemofilus influenza B :
1. 2 bulan 18 bulan
2. 3 bulan
3. 4 bulan

Campak 9 bulan 18 bulan


6 tahun

Kesan : Riwayat imunisasi dasar lengkap

Riwayat Tumbuh Kembang :

Tertawa : 3 bulan

Miring : 3 bulan

Tengkurap kepala tegak : 3 bulan

Duduk sendiri : 6 bulan

Merangkak : 7 bulan

Berdiri sendiri : 9 bulan

Lari : 15 bulan

Gigi pertama : 5 bulan

Kesan : pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia

Riwayat Lingkungan dan Perumahan :

Tinggal di rumah permanen, pekarangan kurang luas, sumber air minum


Galon, buang air besar di WC dalam rumah, sampah dibuang ke TPS.

Kesan : higiene dan sanitasi baik.

22
Pemeriksaan fisik :

Keadaan Umum

Keadaan umum : Sakit sedang

Derajat kesadaran : Sadar

Status gizi : Gizi baik

Tanda vital

Nadi : 68x/menit

Pernafasan : 22x/menit

Suhu : 36,9º C

Kulit : Hangat, turgor kembali cepat

Kepala : normochepal, tidak ada kelainan

Kelenjar getah bening : tidak ada kelainan

Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Hidung : Tidak ada kelainan

Mulut : Mukosa bibir hiperemis, dan mulut basah

Telinga : Tidak ditemukan kelainan

Tenggorok :Tonsil T1-T1 tidak hiperemis, faring tidak


hiperemis

Leher : tidak ada kelainan

Thorax : Normochest

23
Cor

Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat

Palpasi : Iktus kordis teraba 1 jari medial LMCS RIC V

Perkusi : Batas jantung atas : RIC II

Batas jantung kiri : 1 jari medial LMCS RIC V

Batas jantung kanan : LSD

Auskultasi : Irama teratur, bising tidak ada, gallop tidak ada

Pulmo

Inspeksi : Normochest, Simetris kiri dan kanan

Palpasi : Fremitus kanan sama dengan kiri

Perkusi : Sonor

Auskultasi : Suara napas vesikuler, ronki -/-, wheezing -/-

Abdomen

Inspeksi : Distensi tidak ada

Palpasi : Nyeri tekan tidak ada, Hepar tidak teraba, lien tidak teraba

Perkusi : Timpani

Auskultasi : Bunyi usus normal

Status Dermatologikus

Tidak ditemukan adanya kelainan

24
Status Venerologikus

Labia mayora : Edema, eritema, erosi, ekskoriasi

Labia minor : Edema (-), eritema(+), erosi (-)

Klitoris : Tidak ada kelainan

Urethra : Eritema (-), sekret (-)

Kelenjar scene : Tidak ada pembesaran

Kelenjar bartolini : Tidak ada pembesaran, nyeri tekan ( - )

Introitus vagina : Tampak sekret warna putih, tidak berbau,


seropurulen, edema (-), eritema (-), ulkus
(-).

Kelainan di daerah perineum : Laserasi perineum (+)

Kelainan di daerah perianal : Tidak ada

Kelainan di daerah anal : Tidak ada

Kelainan mukosa : Tidak ada

Ekstremitas : Akral hangat, CRT <2 detik, ptekie tidak ada

25
Perhitungan Status Gizi (secara antropometris)

BB : 38 kg

TB : 150 cm

Status gizi :

BB/U : 82,6 %

TB/U : 94,9 %

BB/TB : 95 %

Kesan : Gizi baik secara antropometri

Pemeriksaan Laboratorium :

Tanggal 16 november 2018 ; 15.14 WIB

Laboratorium :

Hemoglobin : 8,8 gr%

Leukosit : 13.110/ mm3

Hematokrit : 27,2 %

Trombosit : 40.000/mm3

Plano test : negatif

Tanggal 16 november 2018 ; 21.02 WIB

Laboratorium :

Hemoglobin : 9.1 gr%

Leukosit : 16.510/ mm3

Hematokrit : 29,1 %

Trombosit : 18.000/mm3

26
Tanggal 17 November 2018

Laboratorium :

Hemoglobin : 8,3 gr%

Leukosit : 12. 890/ mm3

Hematokrit : 26,9 %

Trombosit : 22.000/mm3

DIFF Count : 0/0/13/17/63/4

IgM dengue : Non Reaktif

IgG dengue : Non Reaktif

Tanggal 18 November 2018

Laboratorium :

Hemoglobin : 8,9 gr%

Leukosit : 13.250/ mm3

Hematokrit : 28 %

Trombosit : 22.000/mm3

Tanggal 21 November 2018

Laboratorium :

Hemoglobin : 10 gr%

Leukosit : 10.040/ mm3

Hematokrit : 31,8 %

Trombosit : 38.000/mm3

HbSAg : positif

27
Anti HbSAg : Non Reaktif

Plano test : negatif

Diagnosis Kerja:

- Herpes Vaginalis

Pemeriksaan Anjuran :

- Tzank test

- Kultur jaringan

Terapi :

- IVFD RL 36 tetes / jam

- Inj ceftriaxone 2 x 1 gr (IV)

- Paracetamol 3 x 500 mg (p.o)

- Asam mefenamat 3 x 500 mg ( p.o )

- Acyclovir 5 x 200 mg (p.o )

Follow Up :

Tanggal 26 November 2018 pukul 07.00 WIB

S/ Nyeri pada kemaluan masih ada, Demam tidak ada, muntah dan kejang tidak
ada, pasien sadar penuh, BAB (-), BAK (+)

O/ KU : Sakit Sedang

Frekuensi denyut nadi : 68 x/menit

Frekuensi nafas : 22 x/menit

Suhu : 36,5 0C

Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

28
Thoraks : Cor dan pulmo dalam batas normal, retraksi tidak
ada

Abdomen : Distensi tidak ada, bising usus normal

Genitalia : Edem pada labia mayora, eritem dengan erosi,


ekskoriasi

Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2”

A/ - Herpes Genitalis

P/ : - Diet ML

- IVFD RL 4 tetes / menit ( makro)

- Inj ceftriaxone 2 x 1 gr (IV)

- Metronidazole 4 x 500 g (IV )

- Acyclovir 5 x 200 mg ( p.o )

Tanggal 27 November 2018 pukul 07.00 WIB

S/ Nyeri pada kemaluan masih ada, Demam tidak ada, muntah dan kejang tidak
ada, pasien sadar penuh. BAB (-), BAK (-)

O/ KU : Sakit Sedang

Tekanan darah : 100/60

Frekuensi denyut nadi : 68 x/menit

Frekuensi nafas : 20 x/menit

Suhu : 36,9 0C

Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

29
Thoraks : Cor dan pulmo dalam batas normal, retraksi tidak
ada

Abdomen : Distensi tidak ada, bising usus normal

Genitalia : Edem pada labia mayora, edem eritem dengan


erosi, ekskoriasi pada labia minora

Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2”

A/ - Herpes Genitalis

P/ : - IVFD RL 4 tetes / menit (makro)

- Inj ceftriaxone 2 x 1 gr (IV)

- Metronidazole 4 x 500 g (IV)

- Acyclovir 5 x 200 mg (p.o)

30
BAB IV

DISKUSI

Telah dilaporkan kasus Herpes Genitalis pada Nn. ZA umur 13 tahun 2


bulan. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan
pemeriksaan penunjang.
Menurut literatur, pasien dengan herpes genitalis datang dengan keluhan
nyeri, disuria, uretra dan vaginal discharge, adanya gejala sistemik berupa
malaise, demam, mialgia, sakit kepala. Bisa disertai dengan adanya limfadenopati
yang nyeri pada daerah inguinal, nyeri pada rektum dan tenesmus. Hal ini sesuai
dengan gejala klinis yang muncul pada pasien. Dari hasil anamnesa pasien
mengeluhkan nyeri pada kemaluan yang meningkat sejak 4 hari sebelum masuk
rumah sakit. Nyeri dirasakan terutama saat buang air kecil. Gejala sistemik berupa
adanya demam, nyeri kepala, nyeri otot dan sendi 5 hari sebelum masuk rumah
sakit.
Dari hasil pemeriksaan klinis pada kasus ini didapatkan vesikel
berkelompok diatas kulit yang edem dan eritematous, pada labia major. Dimana
adanya vesikel berkelompok ini merupakan tanda khas dari herpes. Terdapat
laserasi perineum diakibatkan trauma akibat pelecehan seksual yang dialami
pasien.
Pada pasien herpes genitalia akan mendapatkan penatalaksanaan berupa
terapi spesifik, terapi non spesifik dan terapi profilaksis. Menurut literature, terapi
spesifik yang diberikan adalah acyclovir tablet 5 x 200 mg p.o/hari selama 7 hari
dan ini sesuai dengan terapi spesifik yang diberikan kepada pasien. Pengobatan
non spesifik ditujukan untuk memperingan gejala yang timbul berupa nyeri dan
rasa gatal. Rasa nyeri dan gatal lain bervariasi, sehingga pemberian analgetik,
antipiretik dan antipruritus disesuaikan dengan kebutuhan individu. Selain itu
pemberian antibiotic dapat pula diberikan untuk mencegah infeksi sekunder. Pada
pasien karena mengeluhkan nyeri diberikan asam mefenamat 3 x 500 mg p.o. dan
diberikan antibiotic berupa ceftriaxon 2 x 1 gram IV dan metronidazol 4 x 500 mg
IV.

31
Terapi profilaksis pada pasien berupa edukasi tentang penyakit pasien
dimana penyakit ini merupakan suatu penyakit menular dan memiliki
kecendrungan untuk berulang. Pasien juga disarankan untuk istirahat yang cukup
dan makan makanan yang bergizi. Dalam tatalaksan herpes genitalis diperlukan
pemahaman dan strategi yang holistic untuk menegakan diagnosis, terapi sesuai
tanda dan gejala yang muncul, serta dampak psikologis yang dapat dan sering
muncul pada pasien herpes vaginalis.

32
DAFTAR PUSTAKA

1. Soedarmo SSP, Garna H, Hadinegoro SRS, Satari HI, penyunting. Buku


Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis. Edisi kedua. Jakarta : Ikatan Dokter Anak
Indonesia ; 2012.
2. Daili SF, Nilasari H, Makes WIB, Zubier F, Rowawi R, Pudjiati, SR,
editor. Infeksi Menular Seksual. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia ; 2017.
3. RM. Penyebab herpes. https://www.google.co.id/search?q= gambar +
herpes+genitalis&safe=stict&client=ucweb-b&channel=sb&biw=360&
bih=51&tbm=isch&ei=StsMX0DflZeA9QOKgJjIDw&start=80&sa=N#m
hpiv=9&spf=1544346451871.[ diakses 2 Desember 2017 ].
4. DZ. Cold Sore ( Oral Herpes) Explained from Standpoint Of Immunology
& Prevention. http://www.besthomeremedies.com/disease/cold-sore.html [
diakses 7 September 2016 ].
5. Sheila F. Herpes Simplex. http://pedsinreview .aappublications .org /
content/30/4/119. [ diakses April 2009 ].
6. Hidayat A Herpes Genital. https://www.slideshare. net/mobile /
ameeraffanya/herpes-genital-27850549.
7. Behrman, Kliegman, Arvin. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Edisi 15.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2000.

33