Anda di halaman 1dari 11

Analisis Kelembagaan dan Peran Masyarakat

Sistem Kelembagaan yang berperan dalam mengkoordinasi dan mengelola


penyelenggaraan penataan ruang yang telah disusun dan ditetapkan harus dapat berjalan
dengan optimal. Sistem kelembagaan penataan ruang di tingkat Nasional dikoordinasikan
oleh BKPRN (Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional), sedangkan pada tingkat provinsi,
dikoordinasikan oleh BKPRD (Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah) Provinsi dan pada
tingkat Kabupaten dikoordinasikan oleh BKPRD Kabupaten. Pada tingkat masyarakat dapat
diwakili oleh LSM atau Forum/Kelompok Masyarakat. Menteri terkait yang berada dalam
wadah BKPRN dan Kepala Daerah yang dibantu oleh Bappeda dan BKPRD dengan melibatkan
seluruh stakeholder dalam proses penataan ruang berperan dalam level dan tanggung jawab
masing-masing untuk:
1) Mengkoordinasikan proses sosialiasi dan adaptasi produk rencana tata ruang,
kepada warga masyarakat pada setiap daerah;
2) Menerima dan memperhatikan saran, pertimbangan, pendapat, tanggapan, keberatan
atau masukan yang disampaikan oleh masyarakat dalam penyelenggaraan penataan
ruang;
3) Menindaklanjuti saran, pertimbangan, pendapat, tanggapan, keberatan, atau
masukan pada setiap proses penyelenggaraan penataan ruang; dan
4) Meningkatkan komunikasi yang efektif dengan masyarakat dalam penyelenggaraan
penataan ruang.

Di dalam kegiatan pemanfaatan ruang, masyarakat yang tinggal pada wilayah


Perbukitan Menoreh merupakan aktor utama sekaligus unsur yang paling terkena akibat dari
aktivitas tersebut. Oleh karena itu masyarakat harus dilindungi dari berbagai tekanan dan
paksaan pembangunan yang dilegitimasi oleh birokrasi yang sering tidak difahaminya,
sehingga perlu disusun suatu upaya untuk menempatkan masyarakat pada porsi yang
seharusnya.
Pelibatan masyarakat dalam penataan ruang untuk mendukung pembangunan wilayah
di KSP Perbukitan Menoreh, maka beberapa prinsip dasar yang perlu diperankan oleh
pelaksana pembangunan adalah sebagai berikut:
1) Menempatkan masyarakat KSP Perbukitan Menoreh sebagai pelaku yang sangat
menentukan dalam proses penataan ruang;
2) Memposisikan pemerintah sebagai fasilitator dalam proses penataan ruang;

3) Menghormati hak yang dimiliki masyarakat serta menghargai kearifan lokal dan
keberagaman sosial budayanya;
4) Menjunjung tinggi keterbukaan dengan semangat tetap menegakkan etika dan moral;
dan
5) Memperhatikan perkembangan teknologi dan professional.

Prinsip-prinsip dasar tersebut dimaksudkan agar masyarakat di wilayah Perbukitan


Menoreh sebagai pihak yang paling terkena akibat dari penataan ruang, harus dilindungi
dari berbagai tekanan dan paksaan pembangunan yang dilegitimasi oleh birokrasi yang
sering tidak dipahaminya. Masyarakat juga bagian dari kegiatan pembangunan yang sudah
sepatutnya mendapat perlindungan HAM yang dapat dirumuskan dalam perencanaan tata
ruang, seperti hak memiliki rasa aman terhadap keberlanjutan ekonomi, hak untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan, pendidikan, hak untuk mendapatkan rasa aman terhadap
bencana dan lainnya.
Peran masyarakat adalah partisipasi aktif masyarakat dalam perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Bentuk peran masyarakat adalah
kegiatan/aktivitas yang dilakukan masyarakat dalam perencanaan tata ruang, pemanfaatan
ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.

Definisi Kelembagaan dalam Tata Ruang

Pengertian umum kelembagaan adalah suatu bentuk organisasi yang memiliki peran
dan fungsi tertentu dan berada dalam suatu struktur organisasi yang lebih luas. Dalam hal
penataan ruang, maka pengertian kelembagaan secara umum dapat dikelompokkan menjadi
3 kelompok besar, yang masing-masing memiliki fokus kepentingan tersendiri terhadap
keberadaan produk tata ruang. Adapun 3 kelompok tersebut yaitu:
1) Lembaga Pemerintah (eksekutif-legislatif-yudikatif);

2) Lembaga publik (sektor publik); dan

3) Lembaga swasta (sektor swasta).

Lembaga pemerintah yang terkait denga perihal penataan ruang kabupaten adalah:

1) Badan-badan, dinas-dinas, dan kantor-kantor (instansi horizontal Kabupaten);


2) Badan-badan dan kantor wilayah departemen;

3) Lembaga legislatif (DPRD Kabupaten);

4) Lembaga yudikatif; dan

5) Lembaga pertahanan dan keamanan.

Sedangkan lembaga lembaga publik yang terkait dengan penataan ruang seperti
perguruan tinggi yang berada di kabupaten setempat serta LSM dan organisasi masa lainnya.
Lembaga swasta yang berkepentingan dan dapat terlibat dalam penataan ruang diantaranya

adalah:

1) Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Daerah;

2) Asosiasi perusahaan/pengusaha bidang tertentu (PHRI, pariwisata, pengelolaan


hutan, perikanan, pertanian, dll); dan
3) Lembaga usaha strategis: PLN, TELKOM, dan PDAM.

Untuk menjamin fungsi dan efektifitas rencana tata ruang, maka diperlukan suatu
sistem atau mekanisme tertentu yang dapat memperkuat aspek kelembagaan. Mekanisme
atau sistem tersebut, diantaranya adalah suatu bentuk perkuatan kegiatan lintas lembaga
atau penguatan peran dan fungsi masing-masing lembaga. Suatu lembaga baru yang
dinamakan BKPRD (Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah) diharapkan berperan dalam
proses-proses penataan ruang, dalam kenyataannya sering kurang berfungsi dengan baik.
Namun, aturan yang ada menghendaki kehadiran dan penguatan lembaga tersebut.
Yang diutamakan, sebenarnya bukan sekedar keberadaan atau terbentuknya BKPRD, akan
tetapi, lebih jauh lagi mengenai kesiapan atau kemampuan lembaga-lembaga tertentu dalam
keterlibatannya secara fungsional di BKPRD. Bentuk kesiapan dan kemampuan kelembagaan
akan tercermin diantaranya dari bentuk struktur organisasi lembaga tersebut disertai dengan
kualifikasi personil dalam struktur yang terkait dengan aspek tata ruang dan tingkat frekuensi
kegiatan pembahasan koordinasi mengenai tata ruang.
Lembaga BKPRD ini dibentuk dengan mendasarkan pada Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 50 tahun 2009 tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah. BKPRD
beranggotakan Satuan Unit Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan diketuai oleh Sekretaris
Daerah. Adapun di dalam operasional kegiatannya, BKPRD terdiri dari:
1. Kelompok Kerja (Pokja) perencanaan tata ruang, yang dikoordinir oleh Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda);
2. Kelompok Kerja (Pokja) pengendalian pemanfaatan ruang, yang dikoordinir oleh Dinas
Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP);
3. Sekretariat BKPRD, yang dilaksanakan oleh Bappeda.

Kelembagaan Penataan Ruang di Kabupaten Kulon Progo

Pelaksanaan kegiatan penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang KSP SRS Perbukitan
Menoreh dalam mekanisme pengelolaan tata ruang, perlu didukung oleh aspek kelembagaan
di daerah yang berfungsi sebagai badan koordinasi. Koordinasi pengelolaan tata ruang
dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kulon Progo
dengan bantuan dinas-dinas terkait lainnya. Selain itu, dalam kegiatan perencanaan terdapat
tiga elemen dasar yang mencakup perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian yang
masing-masing membutuhkan lembaga-lembaga yang mengkoordinasikan/bertanggung
jawab.
Kelembagaan penataan ruang diharapkan mampu berfungsi sebagai wadah media
komunikasi antar stakeholder terkait untuk mengatasi masalah keruangan yang ada di wilayah
perencanaan. Adapun kebutuhan pengembangan kelembagaan penataan ruang dapat dilihat
dalam diagram berikut:
 RTRW
 RDTRK
 RTRK/RTBL
Konteks Masalah
Keruangan
Perencanaan Pemanfaatan Pengendalian

Lembaga Stakeholder Terkait


Tidak BKPRD

Diskusi
Mediasi
Sosialisasi

Program
Keruangan
Pemanfaatan
Ruang Sesuai
Rencana? Pelaksanaan
Indikator Kinerja
Program
(Output dan Outcome)
Ya

End

Gambar Kebutuhan Lembaga Penataan Ruang

a. Lembaga Perencanaan

Kegiatan perencanaan ruang secara umum meliputi tahapan persiapan penyusunan


materi tata ruang, tahapan penyusunan materi tata ruang, tahapan penetapan dan
pengesahan materi tata ruang yang telah tersusun sebagai peraturan daerah dalam
kegiatan pemanfaatan ruang serta sosialisasi rencana tata ruang kepada pihak-pihak
lain yang terkait dengan proses penataan ruang. Instansi di Kabupaten Kulon Progo
yang memiliki tanggung jawab dalam tahapan perencanaan tata ruang terutama yaitu
Bappeda.
b. Lembaga Pemanfaatan Ruang

Kegiatan pemanfaatan ruang pada dasarnya meliputi kegiatan pengoperasionalisasian


rencana tata ruang oleh dinas/instansi terkait serta pelaksanaan teknis lainnya.
Kegiatan pemanfaatan ruang dilakukan oleh seluruh pengguna ruang, baik
dinas/instansi pemerintah maupun pihak swasta/masyarakat luas, sehingga dalam hal
ini seluruh lapisan masyarakat memiliki tanggung jawab atas kegiatan pemanfaatan
ruang.
c. Lembaga Pengendalian Pelaksanaan Rencana Tata Ruang

Kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang meliputi kegiatan koordinasi, pengawasan,


dan penertiban. Badan yang bertugas sebagai pengendali adalah Badan Koordinasi
Penataan Ruang Daerah (BKPRD), yaitu lembaga yang secara hukum memiliki
kewenangan dalam mengarahkan penggunaan ruang di daerah. Alat yang digunakan
oleh lembaga ini adalah rencana tata ruang yang telah diperdakan dengan berbagai
tingkat kedalaman rencana. Penjelasan untuk masing-masing kegiatan dalam ranah
pengendalian adalah sebagai berikut:
1) Koordinasi

Kegiatan koordinasi ditujukan untuk menghindari terjadinya konflik yang


mungkin timbul di antara para pengguna ruang dalam proses pemanfaatan ruang.
Lembaga yang berperan sebagai lembaga koordinasi kegiatan penataan ruang
adalah BKPRD yang dibentuk dari beberapa instansi di tingkat Kabupaten Kulon
Progo.
2) Pengawasan

Kegiatan pengawasan merupakan bentuk kegiatan yang dilakukan untuk


menemukenali dan memperbaiki permasalahan yang ditemui dalam kegiatan
pemanfaatan ruang, menyediakan informasi tentang perkembangan situasi yang
terjadi dalam proses pemanfaatan ruang serta melakukan kegiatan evaluasi yang
dimaksudkan untuk menghasilkan umpan balik dalam rangka penyempurnaan
kegiatan penataan ruang yang sedang berjalan maupun sebagai masukan bagi
penyempurnaan rencana tata ruang. Lembaga yang berperan dalam kegiatan
pengawasan terutama juga dilaksanakan oleh BKPRD. Selain itu, masyarakat
dalam hal ini juga sangat diharapkan dapat berperan aktif dalam mengawasi
pelaksanaan tata ruang wilayah.
3) Penertiban

Kegiatan penertiban dimaksudkan untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya


penyimpangan terhadap rencana tata ruang dalam proses pemanfaatan ruang.

Identifikasi Kelembagaan Terkait

Identifikasi kelembagaan dalam hal ini adalah terhadap keberadaan lembaga-lembaga


yang harus ada di Kabupaten Kulon Progo, dikaitkan dengan lingkup proses kegiatan
penataan ruang, serta hasil analisis menyangkut sektor strategis dalam penyusunan rencana
tata ruang ini.
Unsur kelembagaan yang perlu diidentifikasi adalah meliputi:

a. Lembaga eksekutif dari instansi vertikal (perwakilan dari lembaga pemerintah pusat di
daerah)

Tabel Fungsi Kelembagaan Eksekutif dalam Penataan Ruang

Lembaga Eksekutif Fungsi


Badan Perencanaan Koordinasi terhadap perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian tata
Pembangunan Daerah ruang
Menyelenggarakan kegiatan di bidang pertanahan, pengaturan dan
Dinas Pertanahan dan Tata
pembinaan tata ruang, pelaksanaan dan pengawasan pertanahan dan
Ruang
tata ruang, serta kesekretariatan
Pengendalian dan pengawasan terhadap unsur-unsur yang menyangkut
Dinas Lingkungan Hidup
lingkungan hidup dan kelestariannya.
Dinas Penanaman Modal
Pemanfaatan ruang untuk kegiatan investasi dan pelayanan perijinan
dan Pelayanan Terpadu
Dinas Pertanian dan Pemanfaatan ruang untuk kegiatan budidaya pertanian mencakup
Kehutanan pemanfaatan dan pengendalian ruang fungsional.

Dinas Pekerjaan Umum,


Perumahan dan Kawasan Pemanfaatan ruang budidaya permukiman, prasarana dan infrastruktur.
Permukiman

Dinas Pariwisata Pemanfaatan ruang strategis kegiatan pariwisata.

Dinas Kebudayaan Pemanfaatan ruang strategis kegiatan budaya.


Dinas Perhubungan Pengendalian infrastruktur perhubungan
Dinas Perdagangan Pemanfaatan ruang kegiatan strategis investasi industri
Sumber: Analisis, 2019

Tabel Fungsi Lembaga Eksekutif Vertikal dalam Penataan Ruang

Lembaga Eksekutif
Fungsi
Instansi vertikal
BPN Pengendalian penggunaan ruang
BPS Pendataan pemanfaatan ruang
Sumber: Analisis, 2019

b. Lembaga-lembaga dalam struktur pemerintah Kabupaten Kulon Progo yang terkait


secara langsung dengan proses penataan ruang, dalam hal ini adalah Badan dan
Dinas.
c. Lembaga Legislatif

Lembaga legislatif yang dimaksud adalah Lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Kabupaten Kulon Progo dimana dalam struktur kelembagaannya terdapat komisi yang
terkait dengan tata ruang yakni Komisi yang membidangi pembangunan.
d. Lembaga Publik

Kelembagaan masyarakat sebagai stakeholders seharusnya berperan cukup penting


dalam proses kegiatan pemanfaatan dan pengendalian ruang. Berbagai lembaga terkait
yang harus terlibat adalah lembaga–lembaga profesi masyarakat yang menempati
ruang secara signifikan (Himpunan Tani dan Nelayan), para kelompok pemerhati
lingkungan hidup, dan kelompok pemberdayaan masyarakat.

Tabel Identifikasi Lembaga Masyarakat

Lembaga Eksekutif Instansi Vertikal Identifikasi Lingkup Fungsi Utama

HNSI Pemanfaatan ruang budidaya perikanan


HKTI Pemanfaatan ruang budidaya pertanian
Pemberdayaan masyarakat untuk pemanfaatan
LPM
dan pengendalian ruang
LSM Lingkungan Hidup Pengendalian ruang ekologis
Sumber: Analisis, 2019

e. Lembaga dari Sektor Swasta


Sektor swasta berperan strategis dalam hal pemanfaatan ruang ekonomi, karena
keterlibatannya membawa dampak peningkatan perekonomian kawasan-kawasan
tertentu. Sektor Swasta berperan dalam hal peningkatan investasi untuk pemanfaatan
ruang.
Tabel Identifikasi Lembaga Swasta

Lembaga Sektor Swasta Identifikasi Lingkup Fungsi Utama


KADIN Daerah Pemanfaatan ruang kegiatan investasi (jasa, perdagangan,
PHRI (Perhimpunan Hotel) Pemanfaatan
industri ruang kegiatan pariwisata
PLN Penyediaan Energi Listrik
TELKOM Penyediaan Layanan Telekomunikasi
Sumber: Analisis, 2019

Sebagaimana di bagian sebelumnya dinyatakan bahwa terdapat tiga kelompok


kelembagaan yakni lembaga pemerintah, lembaga masyarakat dan lembaga swasta. Ketiga
kelompok lembaga tersebut secara terpadu harus terlibat dalam proses kegiatan penataan
ruang yang terdiri dari proses kegiatan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian ruang.
Masing-masing kelompok kelembagaan melaksanakan peran dan fungsinya masing-masing
yang pada akhirnya turut mewarnai proses penataan ruang. Sehingga apabila proses
keterlibatan lembaga-lembaga tersebut dapat berlangsung dengan efektif maka tujuan
penataan ruang akan tercapai.

Perumusan Peran Serta Masyarakat

Dalam rangka penyelenggaraan penataan ruang wilayah pada prinsipnya tidak hanya
monopoli kewenangan pemerintah Kabupaten Kulon Progo, melainkan melibatkan semua
stakeholders yang terkait dengan penataan ruang di KSP Perbukitan Menoreh. Stakeholders
dimaksud salah satunya adalah peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan penataan
ruang KSP Perbukitan Menoreh.
Pandangan sederhana terhadap peran serta merupakan bentuk keterlibatan masyarakat
dalam penataan ruang wilayah, namun jika dilihat dari pengertian peran serta masyarakat
menurut pakar adalah proses komunikasi dua arah yang terus menerus untuk meningkatkan
pemahaman masyarakat secara penuh atas proses penataan ruang. Peran serta ini
didefinisikan sebagai komunikasi dari pemerintah kepada masyarakat tentang suatu kebijakan
dan komunikasi dari masyarakat kepada pemerintah atas kebijakan tersebut.
Perumusan peran serta masyarakat dalam proses pengambilan keputusan pada
prinsipnya dapat dibedakan atas dua hal, yaitu:
1) Peran serta masyarakat yang bersifat konsultatif, dimana anggota masyarakat
mempunyai hak untuk didengar pendapatnya dan untuk diberitahu akan tetapi
keputusan akhir tetap berada ditangan pejabat pembuat keputusan;
2) Peran serta masyarakat yang bersifat kemitraan, dimana masyarakat dan pejabat
pembuat keputusan secara bersama-sama membahas masalah, mencari alternatif
pemecahan dan secara bersama pula membuat keputusan.

Jika kedua sifat peran serta masyarakat di atas dapat dilaksanakan secara konsisten,
maka harapan yang diinginkan yaitu meningkatkan kualitas keputusan kebijakan pemerintah
serta dapat mereduksi kemungkinan munculnya konflik dapat terlaksana, sehingga
menghasilkan tingkat penerimaan keputusan yang lebih besar pada masyarakat.
Sejalan dengan sifat peran serta masyarakat di atas, pada intinya terdapat 4 (empat)
manfaat lain terhadap adanya peran serta masyarakat, yaitu:
1) Sebagai proses pembuatan suatu kebijakan, karena masyarakat sebagai kelompok
yang berpotensi menanggung konsekuensi dari suatu kebijakan memiliki hak untuk
konsultasi (rights to consult);
2) Sebagai suatu strategi, dimana melalui peran serta masyarakat suatu kebijakan
pemerintah akan mendapatkan dukungan dari masyarakat sehingga keputusan
tersebut memiliki kredibilitas (credible);
3) Peran serta masyarakat juga ditujukan sebagai alat komunikasi bagi pemerintah
yang dirancang untuk melayani masyarakat untuk mendapatkan masukan dan
informasi dalam pengambilan keputusan, sehingga melahirkan keputusan yang
responsif;
4) Peran serta masyarakat dalam penyelesaian sengketa atau konflik, dimana perlu
didayagunakan sebagai suatu cara untuk mengurangi atau meredakan konflik melalui
usaha pencapaian konsensus dari pendapat-pendapat yang ada. Asumsi yang
melandasi persepsi tersebut adalah dengan bertukar pikiran maupun pandangan
dapat meningkatkan pengertian dan toleransi serta mengurangi rasa ketidakpercayaan
(mistrust) dan kerancuan (blases)

Dari uraian mengenai bentuk dan sifat peran serta masyarakat di atas, akan memberikan
gambaran lebih jelas bagaimana kebijakan peran serta masyarakat di dalam penataan ruang
di wilayah Perbukitan Menoreh.
Oleh karena itu, proses dan tata cara peran serta masyarakat di dalam masing-masing
proses penyusunan rencana tata ruang, pemanfaatan ruang, peninjauan kembali rencana tata
ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang, diatur didalam standar dan pedoman masing-
masing proses, misalnya:
1) Peran serta masyarakat dalam penyusunan rencana, penataan dan pengesahan Rencana
Rinci Tata Ruang Kawasan Strategis Provinsi Satuan Ruang Strategis Perbukitan Menoreh,
terdapat dalam proses dan tata cara baku penyusunan KSP yang tertuang di dalam
standar dan pedoman yang berlaku;
2) Peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang wilayah Perbukitan Menoreh
meliputi peran serta masyarakat dalam penyusunan program pemanfaatan ruang,
penyusunan program pembangunan dan pembiayaan pemanfaatan ruang wilayah
Perbukitan Menoreh, yang keseluruhannya tercakup didalam proses dan tata cara baku
pemanfaatan ruang. Hal ini tertuang di dalam Pedoman Pemanfaatan Kawasan Strategis
Provinsi ke dalam program pembangunan sektoral dan daerah di wilayah Menoreh; dan
3) Peran serta masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Perbukitan
Menoreh meliputi peran serta masyarakat dalam pengawasan dan pemberian izin-izin
prinsip pemanfaatan ruang, pelaporan, pemantauan dan evaluasi pemanfaatan ruang
wilayah Kecamatan yang keseluruhannya tercakup dalam proses dan tata cara baku
pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Perbukitan Menoreh. Hal ini tertuang di dalam
Pedoman Pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Perbukitan Menoreh.