Anda di halaman 1dari 6

Bab III

ASKEP TEORI
3.1 Pengkajian
1. Identitas
Nama, tempat tanggal lahir, alamat, pendidikan. Umumnya 90%
dijumpai pada kasus anak umur kurang dari 14 tahun. Rasio laki-
lakidan perempuan 2:1.
2. Riwayat kesehatan sekarang
a. Keluhan utama : badan bengkak muka
sembab dan napsu makan menurun
b. Riwayat penyakit dahulu : edema masa neonates,
malaria, riwayat GNA dan GNK, terpapar bahan kimia.
c. Riwayat penyakit sekarang : badan bengkak, muka
sembab, muntah, napsu makan menurun, konstipasi, diare, urine
menurun.
3. Riwayat kesehatan keluarga
karena kelainan gen autosom resesif. Kelainan ini tidak dapat
ditangani dengan terapi biasa dan bayi biasanya mati pada tahun
pertama atau dua tahun setelah kelahiran.
4. Riwayat kehamilan dan persalinan
Tidak ada hubungan.
5. Immunisasi
Tidak ada hubungan
6. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan.
BB = umur (tahun) x 2 + 8
Tinggi badan = 2 x tinggi badan lahir
Perkembangan psikoseksual : anak berada pada fase oedipal/falik
dengan cirri meraba- raba dan merasakan kenikmatan dari beberapa
daerah erogennya, senang bermain dengan anak berjenis kelamin
beda, oedipus kompleks untuk anak laki-laki lebih dekat dengan ibu,
Elektra komplek untuk anak perempuan lebih dekat dengan ayah.

12
Perkembangan psikososial : anak berada pada fase pre school
(inisiative vs rasa bersalah) yaitu memiliki inisiatif untuk belajar
mencari pengalaman baru. Jika usahanya diomeli atau dicela anak
akan merasa bersalah dan menjadi anak peragu.
Perkembangan kognitif : masuk tahap pre operasional yaitu mulai
mempresentasekan dunia dengan bahasa, bermain, dan meniru,
menggunakan alat – alat sederhana.
Perkembangan fisik dan mental : melompat, menari, menggambar
orang dengan kepala, lengan dan badan, segiempat, segitiga,
menghitung jari-jarinya, menyebut hari dalam seminggu, protes bila
dilarang, mengenal empat warna, membedakan besar dan kecil,
meniru aktivitas orang dewasa.

Respon hospitalisasi : sedih, perasaan berduka, gangguan tidur,


kecemasan, keterbatasan dalam bermain, rewel, gelisah, regresi,
perasaan berpisah dari orang tua, teman.
7. Riwayat nutrisi.

Usia pre school nutrisi seperti makanan yang dihidangkan dalam


keluarga. Status gizinya adalah dihitung dengan rumus (BB terukur
dibagi BB standar) X 100 %, dengan interpretasi : < 60 % (gizi
buruk), < 30 % (gizi sedang) dan > 80 % (gizi baik).
8. Pengkajian persistem.
a. Sistem pernapasan.
Frekuensi pernapasan 15 – 32 X/menit, rata-rata 18 X/menit, efusi
pleura karena distensi abdomen
b. Sistem kardiovaskuler.
Nadi 70 – 110 X/mnt, tekanan darah 95/65 – 100/60 mmHg,
hipertensi ringan bisa dijumpai.
c. Sistem persarafan.
Dalam batas normal.
d. Sistem perkemihan.

13
Urine/24 jam 600-700 ml, hematuri, proteinuria, oliguri.
e. Sistem pencernaan.
Diare, napsu makan menurun, anoreksia, hepatomegali, nyeri daerah
perut, malnutrisi berat, hernia umbilikalis, prolaps anii.
f. Sistem muskuloskeletal.
Dalam batas normal.
g. Sistem integumen.
Edema periorbital, ascites.
h. Sistem endokrin
Dalam batas normal
i. Sistem reproduksi
Dalam batas normal.
j. Persepsi orang tua
Kecemasan orang tua terhadap kondisi anaknya.

3.2 Diagnosa dan Rencana Keperawatan Sindrom Nefrotik


1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kehilangan protein sekunder
terhadap peningkatan permiabilitas glomerulus.
2. Perubahan nutrisi ruang dari kebutuhan berhubungan dengan malnutrisi
sekunder terhadap kehilangan protein dan penurunan napsu makan.
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunitas tubuh yang menurun.
4. Kecemasan anak berhubungan dengan lingkungan perawatan yang asing
(dampak hospitalisasi).

3.3 Itervensi
no Dignosa Tujuan Intervensi
1. Kelebihan volume volume cairan tubuh 1. Catat intake dan output
cairan berhubungan akan seimbang dengan secara akurat. Rasional :
dengan kehilangan kriteria hasil penurunan Evaluasi harian
protein sekunder edema, ascites, kadar keberhasilan terapi dan
terhadap peningkatan protein darah dasar penentuan tindakan
permiabilitas meningkat, output urine 2. Kaji dan catat tekanan
glomerulus. adekuat 600 – 700 darah, pembesaran

14
ml/hari, tekanan darah abdomen, BJ urine.
dan nadi dalam batas Rasional : Tekanan darah
normal. dan BJ urine dapat menjadi
indikator regimen terapi
3. Timbang berat badan tiap
hari dalam skala yang sama.
Rasional : Estimasi
penurunan edema tubuh
4. Berikan cairan secara hati-
hati dan diet rendah garam.
Rasional : Mencegah edema
bertambah berat
5. Diet protein 1-2 gr/kg
BB/hari. Rasional :
Pembatasan protein
bertujuan untuk
meringankan beban kerja
hepar dan mencegah
bertamabah rusaknya
hemdinamik ginjal.
2 Perubahan nutrisi kebutuhan nutrisi akan 1. Catat intake dan output
ruang dari kebutuhan terpenuhi dengan makanan secara akurat.
berhubungan dengan kriteria hasil napsu Rasional : Monitoring
malnutrisi sekunder makan baik, tidak asupan nutrisi bagi tubuh
terhadap kehilangan terjadi hipoprtoeinemia, 2. Kaji adanya anoreksia,
protein dan porsi makan yang hipoproteinemia, diare.
penurunan napsu dihidangkan dihabiskan, Rasional : Gangguan nuirisi
makan. edema dan ascites tidak dapat terjadi secara
ada. perlahan. Diare sebagai
reaksi edema intestinal
3. Pastikan anak mendapat
makanan dengan diet yang
cukup. Rasional : Mencegah
status nutrisi menjadi lebih
buruk.

15
3 Resiko tinggi infeksi tidak terjadi infeksi 1. Lindungi anak dari orang-
berhubungan dengan dengan kriteria hasil orang yang terkena infeksi
imunitas tubuh yang tanda-tanda infeksi melalui pembatasan
menurun. tidak ada, tanda vital pengunjung. Rasional :
dalam batas normal, ada Meminimalkan masuknya
perubahan perilaku organisme.
keluarga dalam 2. Tempatkan anak di ruangan
melakukan perawatan. non infeksi. Rasional :
Mencegah terjadinya infeksi
nosokomial.
3. Cuci tangan sebelum dan
sesudah tindakan. Rasional :
Mencegah terjadinya infeksi
nosokomial.
4. Lakukan tindakan invasif
secara aseptik. Rasional :
Membatasi masuknya
bakteri ke dalam tubuh.
Deteksi dini adanya infeksi
dapat mencegah sepsis.
4. Kecemasan anak kecemasan anak 1. Validasi perasaan takut atau
berhubungan dengan menurun atau hilang cemas. Rasional : Perasaan
lingkungan dengan kriteria hasil adalah nyata dan membantu
perawatan yang kooperatif pada pasien untuk tebuka
asing (dampak tindakan keperawatan, sehingga dapat
hospitalisasi). komunikatif pada menghadapinya.
perawat, secara verbal 2. Pertahankan kontak dengan
mengatakan tidak takur. klien. Rasional :
Memantapkan hubungan,
meningkatan ekspresi
perasaan.
3. Upayakan ada keluarga
yang menunggu. Rasional :
Dukungan yang terus
menerus mengurangi

16
ketakutan atau kecemasan
yang dihadapi.
4. Anjurkan orang tua untuk
membawakan mainan atau
foto keluarga. Rasional :
Meminimalkan dampak
hospitalisasi terpisah dari
anggota keluarga.

17