Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH TEORI AKUNTANSI

OLEH :

YONDRICHS C 302 18 003

PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2019
BAB I
SEJARAH PERKEMBANGAN TEORI AKUNTANSI

Praktik pelaksanaan akuntansi sudah terjadi sejak awal peradaban manusia


zaman dahulu, namun saat itu belum dikenal dengan istilah akuntansi. Praktik
akuntansi pada zaman dahulu dilakukan melalui aktifitas perdagangan dan pencatatan
pajak. Pada awalnya, pencatatan transaksi perdagangan dilakukan dengan cara
sederhana, yaitu dicatat pada batu, kulit kayu, dan sebagainya. Menurut penyelidikan
para ahli, semenjak manusia mengenal uang sebagai alat pembayaran, orang sudah
menemukan berbagai cara unuk keluar masuknya uang, timbulnya utang-piutang dan
sebagainya. Pencatatan itu mula-mula dilakukan di atas lempengan tanah liat, yang
kemudian berkembang dengan menggunakan daun lontar. Catatan tertua yang berhasil
ditemukan sampai saat ini masih tersimpan, yaitu berasal dari Babilonia pada 3000 SM.
Penemuan yang sama juga diperoleh di Mesir dan Yonani kuno. Pencatatan itu belum
dilakukan secara sistematis dan sering tidak lengkap. Pencatatan yang lebih lengkap
dikembangkan di Italia setelah dikenal angka-angka desimal arab dan semakin
berkembangnya dunia usaha pada waktu itu.
Dalam sejarah akuntansi, dikenal bahwa orang pertama yang melakukan
pencatatan justru bukan dari seorang ahli akuntansi pada saat itu, Melainkan dari
seorang ahli matematika yang bernama Luca Pacioli pada tahun 1494 di Florence,
Italia. Awal pencatatan dimulai dari adanya dua kegiatan penting yang dilakukan oleh
para bangsawan saat itu. Kegiatan tersebut adalah: Kegiatan pencatatan penarikan
pajak/pendapatan sewa dan Kegiatan pencatatan perjalanan perdagangan per 1 kali
jalan. Kegiatan diatas dilakukan dengan suatu pencatatan yang teratur dan
berkelanjutan. Hasil dari aktifitas inilah yang menjadikan Luca Pacioli menghasilkan
sebuah karangan yang berjudul: “Summa de aritmatica geometria proportiono et
proportionalita”
Dalam buku tersebut ia merefleksikan praktek yang terjadi di Venesia dan
terkenal dengan nama metode venesia/Italia. Dia menyatakan bahwa tujuan

TEORI AKUNTANSI (UNIVERSITAS TADULAKO) 1


pembukuan adalah untuk member informasi yang tepat waktu bagi para pedagang
mengenai asset dan kewajibannya. Dia mengatakan bahwa “semua pencatatan harus
dilakukan secara berpasangan yang artinya bahwa jika anda menjadikan debitor
seseorang, maka anda harus menjadikan kreditor orang lainnya. Inilah yang
dimaksudkan dengan berpasangan tersebut.
Menurut pendapat Mattessich (dalam Harahap, 1997) bahwa double entry sudah
ada sejak 5000 tahun yang lalu bahkan sebelum ajam Luca Pacioli. Kiyoshi Inoue
(dalam Harahap, 1997) menyebutkan “Orang yang pertama-tama “menulis” (bukan
menerbitkan seperti Pacioli) tentang double entry bookkeeping system adalah
Bonedetto Cotrugli pada 1458, 36 tahun sebelum terbitnya buku Pacioli. Namun buku
Benedetto Cotrugli ini baru terbit pada tahun 1573 atau 89 tahun setelah buku Pacioli
terbit. Demikian juga jika dikaji dalam sejarah Islam, sebenarnya pada awal
pertumbuhannya sudah ada sistem akuntansi. Akan tetapi, sayangnya literatur belum
banyak menganalisis bagaimana rupa eksistensi akuntansi pada zaman itu (± 570
Masehi). Seperti yang dikemukakan oleh Russel (dalam Rosjidi, 1999) “Sebenarnya
orang-orang Italia dalam abad ke-14 baru menerapkan sistem pembukuan berpasangan
lengkap setelah terlebih dahulu digunakan oleh saudagar-saudagar Moslem (Moslem
Merchants).”
Perkembangan akuntansi selanjutnya terjadi pada revolusi indusrti di Inggris
pada tahun 1776 juga menimbulkan efek positif terhadap perkembangan akuntansi.
Pada tahun 1845 undang-undang perusahaan yang pertama di Inggris dikeluarkan
untuk mengatur tentang organisasi dan status perusahaan. Dalam undang-undang
tersebut, diatur tentang kemungkinan perusahaan meminjam uang, mengeluarkan
saham, membayar hutang, dan dapat bertindak sebagaimana halnya perorangan.
Keadaaan-keadaaan inilah yang menimbulkan perlunya laporan baik sebagai informasi
maupun sebagai pertanggungjawaban.
Sering berkembangnya dunia bisnis kemajuan ilmu akuntansi dari Eropa
merambat ke-Asia hingga ke Indonesia. Di Indonesia, akuntansi mulai diterapkan sejak

TEORI AKUNTANSI (UNIVERSITAS TADULAKO) 2


1642, tetapi jejak yang jelas baru ditemui pada pembukuan Amphion Society yang
berdiri di Jakarta sejak tahun 1747. Perkembangan akuntansi yang mencolok baru
muncul setelah undang-undang mangenai tanam paksa dihapuskan tahun 1870. Dengan
dihapuskannya tanam paksa, kaum pengusaha Belanda banyak bermunculan di
Indonesia untuk menanamkan modalnya. Sistem yang dianut oleh pengusaha Belanda
ini adalah seperti yang diajarkan oleh Luca Pacioli.
Pada tahun 1874, hanya ada seorang akuntan berbangsa Indonesia, yaitu Prof.
Dr. Abutari. Di Indonesia, pendidikan akuntansi mulai dirintis dengan dibukanya
jurusan akuntansi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun 1952. Pembukaan
ini kemudian diikuti Institut Ilmu Keuangan (sekarang Sekolah Tinggi Akuntansi
Negara) tahun 1960 dan Fakultas-fakultas Ekonomi di Universitas Padjadjaran (1961),
Universitas Sumatera Utara (1964) dan universitas Gadjah Mada (1964).
Organisasi profesi yang menghimpun para akuntan Indonesia bediri 23
Desember 1957. Organisasi ini diberi nama Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dengan
pendiri lima orang akuntan Indonesia.profesi akuntan mulai berkembang dengan pesat
sejak tahun 1967. Pada tahun itu juga dikeluarjannya undang-undang modal asing yang
kemudian disusul dengan undang-undang penanaman modal dalam negeri tahun 1968
yang merupakan pendorong berkembangnya profesi akuntansi. Setelah krisis ekonomi
Indonesia tahun 1997, peran profesi akuntan diakui semakin signifikan mengingat
profesi ini memiliki peranan strategis di dalam menciptakan iklim transparansi di
Indonesia.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa praktik akuntansi memang telah
dilaksanakan sejak zaman dahulu karena manusia telah melakukan pencatatan atas
transaksi dagang. Namun saat itu belum dikenal dengan istilah akuntansi sampai
dengan munculnya Luca Pacioli dalam menghadirkan pencatatan ganda. Berdasarkan
perkembangan sejarah teori akuntansi tersebut maka dapat dikatakan bahwa ilmu
akuntansi bukanlah ilmu murni melainkan adopsi dari berbagai ilmu seperti ilmu
matematika, ilmu ekonomi dan lain sebagainya yang membentuk konsep akuntansi.

TEORI AKUNTANSI (UNIVERSITAS TADULAKO) 3


BAB II
KERANGKA KONSEPTUAL TEORI AKUNTANSI

Pada dasarnya kerangka konseptual akuntansi merupakan konsep dasar


penyusunan dan pengembangan Standar Akuntansi, baik itu akuntansi komersial
maupun akuntansi sektor publik .Rerangka konseptual dipandang sebagai teori akuntansi
yang terstruktur (Belkaouli, 1993). Struktur kerangka konseptual sama dengan struktur teori
akuntansi yang didasarkan pada proses penalaran logis. Atas dasar penalaran logis, teori
merupakan proses pemikiran menurut kerangka konseptual tertentu untuk menyikapi apa yang
harus dilakukan apabila ada fakta atau fenomena baru.
Menurut Belkaouli (1993), Kerangka konseptual akuntansi dapat digambarkan dalam
bentuk hierarki yang memiliki beberapa tingkatan yaitu : pada tingkatan teori tinggi :
kerangka konseptual menyatakan ruang lingkup dan tujuan pelaporan keuangan. pada
tingkatan selanjutnya : kerangka konseptual meng-identifikasi dan mendefinisikan
karakteristik kualitatif dari informasi keuangan dan elemen laporan keuangan. pada
tingkatan operasional yang lebih rendah: kerangka konseptual berkaitan dengan
prinsip-prinsip dan aturan-aturan (rules) tentang pengukuran dan pengakuan elemen
laporan keuangan dan tipe informasi yang perlu disajikan.
Selanjutnya FASB (1978) mengembangkan kerangka konseptual akuntansi dengan
mendefinisikan kerangka konseptual sebagai suatu format yang saling berkait sebagai berikut
: “ suatu format yang koheren tentang tujuan (objectives) dan konsep dasar fundamental yang
saling berkaitan, yang di harapkan dapat menghasilkan standar-standar yang konsisten dan
memberi pedoman tentang jenis, fungsi, serta keterbatasan akuntansi keuangan dan pelaporan
keuangan”. Tujuan yang dimaksud adalah tujuan pelaporan keuangan. sedangkan
fundamentals (kaidah-kaidah pokok) adalah konsep-konsep yang mendasari akuntansi
keuangan, yakni yang menuntun kepada pemilihan transaksi, kejadian, dan keadaan-
keadaan yang harus dipertanggungjawabkan, pengakuan dan pengukurannya, cara
meringkas serta mengkomunikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

TEORI AKUNTANSI (UNIVERSITAS TADULAKO) 4


Tanpa kerangka konseptual akan sulitlah bagi penyusun standar untuk
mengevaluasi argument bahwa perlakuan akuntansi tertentu lebih baik dalam
menggambarkan realitas ekonomi atau untuk menilai bahwa perlakuan akuntansi
tertentu lebih efektif daripada perlakuan yang lain dalam rangka mencapai tujuan sosial
atau ekonomik. Tidak adanya kerangka konseptual dapat mengakibatkan penyusunan
standar akuntansi diperalat oleh pihak tertentu (vested-interest group) untuk
menghasilkan standar yang menguntukan pihak tersebut. Sehingga kerangka
konseptual akuntansi menjadi sangat penting sebagai dasar dan acuan dalam
pelaksanaan praktik akuntansi. Terutama untuk menghadapi beberapa persoalan seperti
argumen yang menyatakan bahwa munculnya berbagai masalah dalam praktik
akuntansi sering disebabkan oleh tidak adanya teori umum. Kenyataan ini dapat dilihat
dari laporan khusus yang dibuat oleh salah satu Komite dari New York Stock Exchange
tahun 1934 sebagai berikut (AICPA, 1934): “semakin banyak alternatif praktik
akuntansi,akan menyebabkan perusahaan memiliki kebebasan untuk memilih metode
akuntansi mereka sendiri dalam batas-batas yang sangat luas sesuai dengan referensi
yang dibuat”. Hal tersebut menyebabkan doktrin yang mengijinkan setiap perusahaan
untuk memilih metode akuntansi yang disukai, akibatnya timbul berbagai ketidak
konsistenan dalam praktik akuntansi.
Dari uraian diatas dapat dirumuskan bahwa meskipun kerangka konseptual
belum dapat memecahkan semua masalah, sebenarnya ada beberapa manfaat yang
dapat diambil dari pendekatan kerangka konseptual dalam menentukan standar
akuntansi. Sebagaimana yang dikemukakan FASB (1978) mengenai manfaat kerangka
konseptual yaitu : (1) Sebagai pedoman dalam menentukan standar akuntansi. (2)
Sebagai kerangka referensi untuk memecahkan masalah akuntansi apabila standar yang
sekarang tidak mengatur isu baru yang timbul. (3) Sebagai dasar membuat
pertimbangan dalam menyajikan laporan keuangan. (4) Meningkatkan daya banding
dengan cara mengurangi berbagai alternative metode akuntansi yang ada.
Selanjutnya Kam (1990) mengemukakan hal serupa mengenai manfaat-
manfaat kerangka konseptual akuntansi yang meliputi : (1) Memberi pengarahan atau

TEORI AKUNTANSI (UNIVERSITAS TADULAKO) 5


pedoman kepada badan yang bertanggungjawab dalam penyususnan/penetap standar
akuntansi. (2) Menjadi acuan dalam memecahkan masalah-maslah akuntansi yang
dijumpai dalam praktik yang perlakuannya belum diatur dalam standar atau pedoman
spesifik. (3) Menentukan batas-batas pertimbangan (bounds for judgment) dalam
penyusunan statemen keuangan. (4) Meningkatkan pemahaman pemakai statemen
keuangan dan meningkatkan keyakinan terhadap statemen keuangan. (4)
Meningkatkan keterbandingan statemen keuangan antarperusahaan
Mengingat manfaat kerangka konseptual menjadi penting dalam perumusan
standar dan menyamakan tujuan, maka ketika terjadi masalah dalam penerapan standar
akuntansi, kita perlu kembali untuk merujuk pada kerangka konseptual. Sebagaimana
dengan yang dikemukakan oleh Belkaoui (1993), bahwa apapun metodologi dan
pendekatan yang digunakan, apakah itu deduksi atau induksi, apakah deskriptif atau
normatif, struktur akhir atau kerangka acuannya harus didasarkan pada unsur-unsur
atau perangkat elemen-elemen dan hubungan yang mendasari pembangunan
pengembangan teknik-teknik akuntansi. Suatu struktur teori akuntansi mencakup
elemen-elemen atau unsur-unsur sebagai berikut: (1) A Statement of objectives.
Merupakan tujuan dari financial statement atau laporan keuangan yang dihasilkan
akuntansi. (2) A Statement of the postulate and theoretical concept of accounting.
Postulat-postulat dan konsep teori akuntansi berkaitan langsung dengan asumsi-asumsi
lingkungan serta sifat daripada unit akuntansi yang dapat diturunkan dan tujuan yang
telah dinyatakan. (3) A Statement of basic accounting principle. Prinsip-prinsip dasar
akuntansi yang diturunkan baik dari postulate maupun theoretical concepts. (3) A Body
of accounting techniques. Sekumpulan teknik-teknik atau prosedur akuntansi yang
diturunkan dari accounting principles.
Dari pernyataan tersebut maka secara garis besar dapat dikatakan bahwa
kerangka konseptual akuntansi berperan untuk membangun dan menghubungkan
badan pembuat konsep/standar, serta menyediakan acuan untuk memecahkan masalah-
masalah praktis baru yang muncul (masalah yang belum ada standarnya). Sehingga
kerangka konseptual menjadi dasar dalam upaya menyamakan perspektif akuntansi.

TEORI AKUNTANSI (UNIVERSITAS TADULAKO) 6


BAB III
KONSEP ASET

Ketika berbicara mengenai aset (secara umum) apa hal pertama yang terlintas
dalam pikiran kita ? tentu pada umumnya kita akan memaknai aset sebagai sesuatu
yang berwujud berupa uang, emas, tanah, gedung atau kendaraan. Namun kita juga
sering mendengar bahwa seorang aktor mengangap bakatnya sebagai aset atau seorang
mengatakan bahwa keluarga merupakan asetnya yang paling berharga. Dalam dunia
bisnis juga kita sering mendengar bahwa merk dagang merupakan aset perusahan, atau
pangsa pasar yang luas juga merupakan aset. Dari contoh tersebut dapat dikatakan
bahwa aset tidak hanya berupa barang tetapi meliputi semua yang kita miliki baik yang
berwujud maupun tidak berwujud.
Meskipun aset berupa sesuatu yang berwujud dan tidak berwujud, apakah
segala sesuatu yang kita miliki dapat dianggap sebagai aset ? bagaimana ketika
seseorang memiliki pakaian yang sudah usang, tidak dapat dipakai, bahkan untuk
menjualnya pun tidak akan ada yang mau membelinya. Atau perusahaan yang memiliki
komputer bekas dan semua perangkatnya sudah tidak layak diperbaiki. Jika demikian
apakah yang dimaksud aset itu ?
Pengertian aset secara etimologi berasal dari bahasa inggris "Asset" yang
memiliki makna "sifat bernilai". Sedangkan pengertian aset menurut terminologi
adalah suatu hak yang bernilai dan memberikan manfaat di kemudian hari. Dalam
ekonomi aset selalu di kaitkan dengan aktiva yang menunjukan kepemilikan yang
bernilai atas suatu sumberdaya yang memiliki manfaat dan umumnya di nilai dengan
satuan uang.
Beberapa ahli mendefiniskan aset sebagai sesuatu atau sesuatu yang memiliki
nilai (nilai ekonomis), nilai komersial (nilai komersial), atau nilai tukar (excange value)
yang dimiliki oleh agensi, organisasi, badan usaha atau perorangan (Hidayat , 2011: 4).
Selanjutnya, Weygant, et all (2007:11-12) mengungkapkan bahwa aset adalah sumber
daya yang dimiliki perusahaan; dimana karakteristik umum yang dimilikinya yaitu

TEORI AKUNTANSI (UNIVERSITAS TADULAKO) 7


memberikan jasa atau manfaat di masa yang akan datang”. Demikian juga dengan yang
diungkapkan oleh Baridwan (2004:271) bahwa aset atau harta adalah benda baik yang
memiliki wujud maupun yang semua dan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan
yang diharapkan diperoleh manfaat ekonomisnya. Hal senada juga dikatakn oleh FASB
bahwa aset dalam rerangka konseptualnya sebagai berikut (SFAC No 6, prg 25): Assets
are probable future economic benefits obtained or controlled by a perticular entity as
a result of past transactions or events ( aset adalah kemungkinan manfaat ekonomi di
masa depan yang diperoleh atau dikendalikan oleh entitas terkait sebagai hasil dari
transaksi atau peristiwa di masa lalu).
Dari berbagai pernyataan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa aset
merupakan milik perorangan, kelompok atau perusahaan baik itu bewujud (tangible)
maupun tidak berwujud (intangible) yang memiliki nilai dan dapat memberikan
manfaat ekonomi. Dengan demikian maka tidak semua yang kita miliki baik itu
berwujud maupun tidak berwujud dapat dikatakan sebagai aset apabila tidak memiliki
nilai dan manfaat ekonomi. Secara garis besar aset memiliki karakteritik yang meliputi:
(1) Memiliki nilai dan manfaat ekonomi dimasa mendatang, (2) dikuasai atau
dikendalikan oleh entitas/perorangan, (3) timbul akibat transaksi masa lalu.
Uraian diatas menjadi kerangka konsep untuk mendefinisikan, mengkalisifkasi
dan mengukur aset dalam konteks ekonomi secara khusus akuntansi. Dari sudut
pandang akuntansi untuk dapat di sebut aset, suatu objek harus memenuhi kriteria
berikut : (a) suatu objek harus mengandung manfaat ekonomik di masa datang yang
cukup pasti. Ini mengisyaratkan bahwa manfaat tersebut terukur dan dapat dikaitkan
dengan kemampuan untuk mendatangkan pendapatan atau aliran kas di masa datang.
(b) Sesuatu dapat dikatakan sebagai aset bila unit usaha tertentu dapat menggunakan
manfaat aset tersebut dan menguasainya sehingga dapat mengendalikan akses pihak
lain terhadap aset tersebut. Penguasaan dan pengendalian terhadap suatu aset dapat
diperoleh suatu unit usaha melalui pembelian, pemberian, penemuan, perjanjian,
produksi, penjualan, dan pertukaran. (c) Suatu unit usaha atau entitas dapat mengakui
suatu aset apabila telah menjadi transaksi atau peristiwa lain yang menyebabkan suatu

TEORI AKUNTANSI (UNIVERSITAS TADULAKO) 8


entitas memiliki hak atau pengendalian terhadap manfaat dari aset tersebut. Misalnya
suatu mesin dapat diklasifikasikan sebagai aset apabila mesin tersebut benar-benar
telah dibeli dari transaksi yang benar-benar sah. Apabila mesin tersebut baru akan
diperoleh sesuai dengan anggaran yang ditetapkan (masih dianggarkan), maka mesin
tersebut tidak dapat dipandang sebagai aset, karena belum dilakukan transaksi.
Dari uraian tersebut tentang syarat untuk dapat diakui sebagai aset, kemudian
dikembangkan lagi dalam ilmu akuntansi tentang klasifikasi aset. Aset itu sendiri
diklasifikasikan berdasarkan tingkat likuiditasnya. Menurut Weygandt, Kimmel and
Kieso (2007) aset diklasifikasikan ke dalam empat bagian : (1) Aset Lancar (Current
Assets). Aset lancar adalah kas dan sumber daya lain yang diharapkan dapat diubah
menjadi kas atau dijual atau dipakai untuk kegiatan bisnis dalam jangka waktu satu
tahun dari tanggal neraca atau paling lama selama siklus operasi perusahaan. (2)
Investasi jangka panjang (Long Term Investment). Seperti halnya aset lancar, investasi
jangka panjang merupakan sumber daya yang dapat diubah menjadi kas. Akan tetapi,
pengubahan menjadi bentuk kas tidak dapat diharapkan dalam waktu satu tahun atau
terlebih lagi selama siklus operasi. Kelompok ini sering disebut sebagai “investasi”
yang umumnya meliputi saham dan obligasi dari perusahaan lain. (3) Aset Tetap
(Property, Plant and Equipment). Aset tetap merupakan sumber daya berwujud yang
digunakan oleh perusahaan untuk kegiatan bisnis dan tidak ditujukan untuk dijual.
Kelompok ini meliputi tanah, bangunan dan mesin (4) Aset tidak berwujud (Intangible
Assets). Merupakan sumber daya yang tidak memiliki wujud fisik. Aset tidak berwujud
meliputi hak paten, hak cipta, dan merk dagang atau merk nama yang memberikan hak
eksklusif untuk menggunakan hak tersebut dalam periode waktu tertentu.
Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya aset
merupakan sesuatu (baik yang berwujud maupun tidak berwujud) yang bernilai dan
dapat memberikan manfaat ekonomi dimasa yang akan datang. Dari konsep aset
tersebut kemudian dikembangkan dalam ilmu akuntansi untuk pengakuan, pengukuran,
penilaian hingga penyajiannya dalam laporan keuangan.

TEORI AKUNTANSI (UNIVERSITAS TADULAKO) 9


BAB IV
KONSEP KEWAJIBAN

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah kewajiban. Pada


dasarnya kita memaknai kewajiban sebagai sesuatu yang harus dipenuhi atau ditepati
atas peristiwa masa lalu (umumnya berkaitan dengan hutang). Sama halnya dalam
dunia bisnis dan ilmu akuntansi, kewajiban selalu identik dengan hutang yang terjadi
akibat peristiwa masa lalu.
FASB mendefinisikan kewajiban dalam rerangka konseptualnya sebagai
berikut :Kewajiban adalah pengorbanan manfaat ekonomik masa datang yang cukup
pasti yang timbul dari keharusan sekarang suatu kesatuan usaha untuk mentransfer
asset atau menyediakan/menyerahkan jasa kepada kesatuan lain di masa datang
sebagai akibat transaksi atau kejadian masa lalu. Selanjutnya Kieso (2011:66)
menyatakan definis hutang adalah : “as a present obligation of a economic arising from
past events, the settlement of which is expected to result in outflow from the company
of resources, embodying economic benefit.” ( sebagai kewajiban ekonomi saat ini yang
timbul dari peristiwa masa lalu, penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar dari
sumber daya perusahaan, untuk memberikan manfaat ekonomi). Kemudian dikatakan
bahwa “Suatu kewajiban adalah hasil transaksi atau kejadian dimasa lalu. Suatu
kewajiban tidak diakui sampai terjadinya kewajiban tersebut” (Stice, 2004: 768,
terjemahan). Artinya kewajiban diakui pada saat kewajiban itu timbul karena suatu
perjanjian (kontrak) yang telah disetujui oleh kedua belah pihak.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa hutang adalah
kewajiban sekarang yang timbul dari kejadian (peristiwa) ekonomis masa lalu dengan
mengorbankan sumber daya (kas, barang atau jasa) dalam pelunasannya. Seperti aset,
kewajiban merupakan elemen neraca yang akan membentuk informasi sematik berupa
posisi keuangan bila dihubungkan dengan elemen yang lain yaitu aset dan ekuitas atau
pos-pos rinciannya.

TEORI AKUNTANSI (UNIVERSITAS TADULAKO) 10


Kewajiban merepresentasikan sebagian sumber dana dari aset badan usaha
berupa potensi jasa (manfaat) fisik dan non-fisik yang memampukannya untuk
menyediakan barang dan jasa. Kewajiban dapat dipaksakan menurut hukum sebagai
konsekuensi dari kontrak mengingat ada peraturan perundangan. Pengorbanan
ekonomis dapat berbentuk penyerahan utang, aktifa lain jasa-jasa, atau melakukan
pekerjaan tertentu.tindakan atau transaksi sebelumnya itu dapat berupa uang, barang
atau jasa, diakuinya suatu beban atau kerugian. Secara garis besar kewajiban diakui
bila memenuhi kriteri berikut : (1) Memenuhi definisi suatu kewajiban (2) dapat diukur
(3) Relevan dan (4) dapat diandalkan.
Pada umumnya dalam praktik akuntansi, untuk dapat disebut sebagai
kewajiban, maka harus memenuhi beberapa kireteria antara lain : (a) adanya
pengorbanan ekonomik masa mendatang. Untuk dapat disebut sebagai kewajiban,
suatu objek harus memuat suatu tugas atau tanggung jawab kepada pihak lain yang
mengharuskan kesatuan usaha untuk melunasi, menunaikan atau melaksanakan dengan
cara mengorbankan manfaat ekonomik yang cukup pasti dimasa datang. (b) adanya
keharusan sekarang. Untuk dapat disebut sebagai kewajiban, suatu pengorbanan
ekonomik masa datang harus timbul akibat keharusan sekarang. Artinya : pada tanggal
neraca kalau perlu atau kalau dipaksakan secara yuridis, etis, atau rasional pengorbanan
sumber ekonomik harus dipenuhi karena keharusan itu telah ada. (c) terjadi akibat
transaksi atau kejadian masa lalu. Untuk mengakui sebagai kewajiban, selain definisi,
kriteria yang lain seperti keterukuran, keberpautan, dan keterandalan juga harus
dipenuhi. Transaksi atau kejadian masa lalu adalah kriteria untuk memenuhi definisi
tetapi bukan kriteria untuk pengakuan. Jadi, adanya pengorbanan manfaat ekonomik
masa datang tidak cukup untuk mengakui suatu objek ke dalam kewajiban kesatuan
usaha untuk dilaporkan dalam statemen keuangan.
Setelah ditentukan sebagai kewajiban, maka kewajiban tersebut perlu diukur
untuk dilaporkan dalam laporan keuangan. Menurut Belkaoui (1993:401) pengukuran
hutang adalah : “the general prinsiple for measurement of liabilities is the use of
amount established in the exchange”. Bila diartikan bahwa hutang diukur berdasarkan

TEORI AKUNTANSI (UNIVERSITAS TADULAKO) 11


nilai yang dikeluarkan pada saat kewajiban tersebut dibayar (perusahaan menukar
kewajibannya dengan sejumlah pembayaran). Sedangkan Kieso (2011: 666),
menyatakan bahwa: “liabilities as a present obligation of a company arising from fast
events, the settlement of which is expected to result in outflow from the company
resources, embodying economic benefits.” Selanjutnya menurut PSAK (2002 : 23),
dalam unsur laporan keuangan kewajiban diukur berdasarkan biaya historis, biaya kini
(cureent cost), nilai realisasi dan nilai sekarang. Maka dapat disimpulkan bahwa hutang
diukur berdasarkan nilai wajar yang akan dikeluarkan untuk menyelesaikan kewajiban.
Kemudian dilanjutkan dengan pengakuannya untuk diakui dalam laporan
keuangan. Kewajiban diakui pada saat keharusan telah mengikat akibat transaksi yang
sebelumnya telah terjadi. Mengikatnya suatu keharusan harus dievaluasi atas dasar
kaidah pengakuan (recognition rules). kriteria pengakuan lebih berkaitan dengan
pedoman umum dalam rangka memenuhi karakteristik kualitatif informasi sehingga
elemen statemen keuangan hanya dapat diakui bila kriteria definisi, keberpautan,
keterandalan, dan keterukuran dipenuhi. Dalam hal kewajiban, kaidah pengakuan
berkaitan dengan saat atau apa yang menandai bahwa kewajiban dapat diakui
(dibukukan). Untuk menyajikannya dalam laporan keuangan, hutang
dilaporkan sebagai kewajiban dalam neraca. Penyajian utang dalam laporan keuangan
menurut Kieso (2011: 666) menyatakan : “ They are therefore in a slightly difference
category. This feature gives rise to the basic division of liabilities into (1) current
liabilities and (2) non current liabilities“. Hal serupa juga dikemukakan
Belkaoui (1993: 401) menyatakan bahwa hutang dikelompokan menjadi dua kelompok
yaitu hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang.
Dari uraian tentang konsep kewajiban diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
utang merupakan suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh perusahaan/perorangan
yang terjadi akibat peristiwa masa lalu. Dalam upaya penyelesaian atas kewajiban
tersebut, maka utang diukur berdasarkan nilai wajar dan disajikan dalam laporan
keuangan.

TEORI AKUNTANSI (UNIVERSITAS TADULAKO) 12


REFERENSI

American Institute of Certified Public Accountants (AICPA). (2002). “Due Profesional


Care in The Performance Of Work”. Statement Auditing Standart No. 230. New
York, NY:AICPA
Belkaoui, (1993). Accounting Theory, Terjemahan Herman Wibowo. Jilid Dua. Edisi
Kedua. Jakarta : Erlangga
Bridwan (2004), Intermediate Accounting “Pengantar Akuntansi”, Buku 2, Edisi 21,
Salemba Empat. Jakarta.
Financial Accounting Standards Board (FASB). 1978. “Statement of Financial
Accounting Concepts No.5: Recognition and Measurement in Financial
Statement of Business Enterprises”. Stamford. Connecticut
FASB. 1987. Statement of Financial Accounting Concepts (SFAC) No. 1.
Harahap, Sofyan Syafri. 1997. Teori Akuntansi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta
Hidayat. (2011). Metode penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Jakarta:
Salemba Medika.
Kam, Vernon. 1990. Accounting Theory. Second edition. New York: John Wiley &
Sons.
Kieso, D. E., Weygandt, J. J., & Warfield, T. D (2011). Intermediate Accounting
Volume 1 IFRS Edition. United States of America : Wiley.
Kieso, Donald E., Jerry J. Weygandt, dan Terry D. Warfield, 2007. Akuntansi
Intermediete, Terjemahan Emil Salim, Jilid 1, Edisi Kesepuluh, Penerbit
Erlangga, Jakarta
Rosjidi., 1999, Teori Akuntansi : Tujuan, Konsep dan Struktur, Edisi Pertama,
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Jakarta
https://leonardogustav.wordpress.com/2015/11/17/kerangka-konseptual-akuntansi/
(diakses pada tanggal 17 maret 2019, Pukul 21.00 WITA)

https://accounting.binus.ac.id/2017/06/02/memahami-akuntansi-aset-dari-perspektif-
filsafat/ (diakses pada tanggal 17 maret 2019, Pukul 23.00 WITA)

TEORI AKUNTANSI (UNIVERSITAS TADULAKO) 13