Anda di halaman 1dari 36

MAKALAH PANCASILA

“PANCASILA DALAM KONTEKS SEJARAH PERJUANGAN


BANGSA INDONESIA”

OLEH KELOMPOK 1:
Riki Yunanda (1303203)
Muhammad Ulfi (1303444)
Ahmad Shalahuddin Al Aiyubi (1304551)
Fauza Hamda (1304552)
Dina Septiani (1304585)
Devira Frissilla Milton (1305883)
Rahmat Oktaviasri (1305890)

MATA KULIAH UMUM (MKU)


UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2017
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT. atas


karunia yang dilimpahkan sebagai sumber dari segala solusi dan rahmat yang
dicurahkan sebagai peneguh hati dan penguat niat sampai akhirnya penulis dapat
menyelesaikan makalah Pancasila dengan pokok bahasannya “Pancasila Dalam
Konteks Sejarah Perkembangan Bangsa Indonesia”. Salawat beriring salam
kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai pelopor kemajuan seluruh umat di muka
bumi.

Makalah kelompok ini merupakan salah satu tugas untuk menyelesaikan


mata kuliah Pancasila. Penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada
dosen pembimbing dan teman-teman anggota kelompok, sehingga dengan
bantuan dan kerja sama penulis dapat menyelesaikan makalah ini.

Penulis juga menyadari bahwa makalah ini tidak terlepas dari kesalahan,
selayaknya penulis hanya manusia yang tak terlepas dari kesempurnaan. Untuk
itu penulis mengharapkan kritikan dan saran dari pembaca agar dapat lebih
sempurna dalam pembuatan makalah dimasa yang akan datang.

Padang, Februari 2017

Kelompok 1

i
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................1
B. Rumusan Masalah .......................................................................................2
C. Tujuan .........................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Kerajaan-kerajaan di Indonesia ....................................................3


B. Perlawanan Bangsa Indonesia Melawan Penjajahan ...............................14

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ..............................................................................................31
B. Saran ........................................................................................................32
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Nilai–nilai Pancasila telah ada pada bangsa Indonesia sejak zaman dulu kala
sebelumbangsa Indonesia mendirikan negara. Proses terbentuknya negara
Indonesia melalui proses sejarah yang cukup panjang yaitu sejak zaman batu
hingga munculnya kerajaan-kerajaan pada abad ke-IV sampai pada zaman
merebut kemerdekaan Republik Indonesia.

Tanggal 1 Juni 1945 disebut sebagai tanggal lahirnya Pancasila dari pidato
Ir.Soekarno di hadapan para anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan
kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Lima dasar/sila yang beliau ajukan beliau
namakan sebagai filosofische grondslag. Pancasila yang disahkan oleh PPKI pada
tanggal 18 Agustus 1945 merupakan dasar flsafat Negara Republik Indnesia.

Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila yaitu: Ketuhanan, Kemanusiaan,


Persatuan, Kerakyatan serta Keadilan, Dalam kenyataannya secara objektif
Pancasila telah dimilki oleh Bangsa Indonesia melalui suatu proses sejarah yang
cukup panjang yaitu sejak zaman kerajan-kerajaan pada abad ke IV, ke V
kemudian dasar-dasar kebangsaan Indonesia telah mulai Nampak pada abad ke
VII, yaitu ketika munculnya kerajan Kutai di Kalimantan, Sriwijaya di
Palembang, kerajaan Majapahit d Jawa Timur serta kerajaan-kerajaan lainnya.

1
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia?
2. Bagaimana perlawanan bangsa Indonesia melawan penjajahan?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia.
2. Untuk mengetahui bagaimana perlawanan bangsa Indonesia melawan
penjajahan.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Kerajan-kerajaan di Indonesia

Kerajaan di Indonesia yang pertama berkembang di Indonesia yaitu kerajaan


Hindu dan Buddha sedangkan sistem perekonomian yang di gunakan pada waktu
itu adalah perdagangan, sehingga hubungan dengan negara-negara tetangga
maupun yang lebih jauh seperti India, China dan wilayah Timur Tengah pun bisa
terjalin.
Pada zaman kerajaan berkembang Agama Hindu lah yang pertama masuk ke
Indonesia dengn diperkirakan pada awal Tarikh Masehi dan terus berkembang
sampai kerajaan-kerajaan Islam bermunculan. Berikut daftar kerajaan di
Indonesia.
1. Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesi, kerajaan ini
didirikan pada tahun 400 M, di tepi sungai Mahakam, Kalimantan Timur.
Raja-raja yang memerintah ialah :
a. Kudungga (raja pertartama).
b. Aswamarman.
c. Mulawarman.

2. Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan Hindu, didirikan pada tahun
450 M, di Jawa Barat. Raja yang memerintah ialah Pernawarman.

3. Kerajaan Kaling
Kerajaan Kaling didirikan pada tahun 674 di Jepara, Jawa Tengah. Raja
yang memerintah ialah Ratu Sima. Pendeta yang terkenal ialah
lhanabhadra.

3
4. Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya didirikan pada abad ke-7 di Sunmatra (kerajaan
Buddha). Raja-raja yang memerintah ialah:
a. Sri Jayanaga.
b. Balaputradewa.
c. Sri Sangrawijayatunggawarman.
d. Guru agama Buddha yang terkenal ialah Sakyakirti
Sebab-sebab keruntuhan Kerajaan Sriwijaya antara lain :
a. Serangan raja Colamandaladari India.
b. Serangan Raja Kertanegara dari Singasari.

5. Kerajaan Melayu
Kerajaan Melayu berdiri hampir bersamaan dengan Kerajaan Sriwijaya,
tetapi pada tahun 692 kerajaan ini telah dikuasai Sriwijaya.

6. Kerajaan Mataram Hindu


Kerajaan Mataram Hindu berdiri di Jawa Tengah dengan ibukota Medang
Kamulan.
Raja-raja yang memerintah ialah :
a. Sarna
b. Sanaya yang bergelar Raka Mataram Ratu Sanjaya.
c. Rakai Panangkara, yang bergelar Syailendra Sri Mahraja Dyah
Pancapana Rakai Panangkarana.
Setelah memerintah Rakai Panagkaran, Mataram pecah menjadi
dua. Sebagai pemeluk agama Buddha, sebagai pemeluk agama Hindu.
Syailendra Buddha berkuasa di Jawa Tengah Selatan, Syailendara Hindu
berkuasa di sekitar pegunungan Dieng. Pada masa pemerintahan Rakai
Pikatan, Mataram disatukan kembali
Raja-raja yang selanjutnya ialah :
a. Belitung yang bergelar Rakai Watukara.
b. Daksa.

4
c. Tulodong
d. Wawa
e. Mpu Sendok.

7. Kerajaan Wangsa Isyana


Mpu Sendok memindahkan pusat pemerintahan Syailendra Ke Jawa Timur
pada tahun 929, kemudian membentuk wangsa baru, yaitu Wangsa Isyana.
Raja-raja yang memerintah :
a. Mpu Sendok, bergelar Maharaj Rake Hino Sri Isyana
Wikramadharmotunggadewa.
b. Sri Isyanatunggawijaya
c. Makutawangsawardhana.
d. Darmawangsa, bergelar Sri Darmawangsa Teguh
Anantawikramatunggadewa.
e. Airlangga, bergelar Sri Maharaja Rake Halu Sri Lokeswara
Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa.
Tahun 1401 kerajaan kahuripan di bagi menjadi dua 2 (tugas pembagian di
serahkan kepada Mpu Bharada), yaitu :
a. Janggala atau Singasari, dengan ibukota Kahuripan.
b. Panjalu atau Kediri, dengan ibukota di Daha.

8. Kerajaan Kediri
Kerajaan Janggala di perintah oleh Raja Mapanji Garakasan. Kerajaan
Kediri di perintah oleh raja Sri Samarawijaya. Perebut kekuasaan antara
jenggala dan kediri berlangsung sampai tahun1520. Selanjutnya selama
kurang lebih setengah abad ke dua kerajaan tersebut tidak disebut-sebut lagi
dalam sejarah.
Tahun 117 kerajaan ini tampil lagi dengan rajanya :
a. Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Kameswara.
b. Jaya baya, bergelar Sri Maharaja Sang Mapanji jaya Jayabaya

5
Pada masa itu, kitab Baharata Yudha di gubah oleh Mpu sedihdan di
lanjutkan Mpu Panuluh (Mpu Sedah meninggalkan sebelum kitabnya selesai)
a. Mpu Penuluh juga menulis buku Hariwangsa dan Gatutkacasraya.
b. Sri Aryeswara.
c. Kameswara, bergelar Sri Maharaja Sri Kameswara Triwikramawarata.
Pujangga yang terkenal pada masa itu adalah :
a. Mpu Tanakung, karyanya Werasancaya dan Lubdaka.
b. Mpu Darmaja, karyanya Smaradhahana.
Kerajaan Kediri runtuh pada tahun 1222, karena ditaklukkan oleh Ken
Arok.

9. Kerajaan Bali
a. Raja-raja Wangsa Warmadewa Salah satu wangsa terkenal yang
memerintah di bali ialah wangsa Warmadewa. Raja yang terkenal
ialah:
1) Tri Candrabhaysingka Warmadewa.
2) Udayana, bergelar Dhamodayana Warmadewa.
Udayana, berputar tiga orang yaitu :
1) Airlangga, yang menjadi menantu Raja Dharmawangsa, dan
kemudian menjadi raja Kahuripan (kerajaan wangsa Isyana).
2) Marataka, yang menggantikan Udayana (tetapi tidak terkenal).
3) Anak Wungsu, yang menggantikan tahta Marataka tahun 1049.
Dari pemerintahan Anak Wungsu di tinggalkan 28 buah prasasti
Singkat, yang antara lain di temukan di goa Gajah, Gunung Kawi (Tampak
Siring), Gunung Panulisan, dan Sangit.
b. Raja-Raja Lain di Bali
Sesudah pemerintahan wangsa Warmadewa, Pulau Bali di perintah
oleh raja-raja lain yang berganti-ganti, dan yang terkenal di antaranya :
1) Jayasakti, mempunyai kitab undang-undang yaitu uttara Widhi
Balawan dan Rajawacana (1133 – 1150).

6
2) Jayapangus, menggunakan kitab undang-undang Manawasasa
nadharma (117 – 1181).
3) Tahu 1284 Kerajaan Bali di taklukan oleh Kertanegara dari Singa-
sari.

10. Kerajaan Singasari


Riwayat dan pemerintahan Ken Arok serta raja-raja Singasari terdapat
dalam buku Pararaton dan negara kertagama. Raja-raja yang memerintah
ialah:
a. Ken Arok.
Ken Arok menjadi raja Singasari setelah membunuh Tumapel Tunggul
Ametung dan menaklukkan Kerajaan Kediri tahun 1222 di Ganter.
Ken Arok sebagai pendiri dan raja pertama di Singasari yang bergelar
Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi, kemudian keturunannya
terkenal dengan sebutan wangsa Rajasa.
b. Anusapati (anak Tunggul Ametung - Ken Dedes).
Anusapati menjadi raja Setelah membunuh Ken Arok (ayah tirinya),
dengan menyuruh seorang pengalasan (budak).
c. Tohjaya (anak Ken Arok - Ken Umang).
Tohjaya menjadi raja setelah membunuh Anusapati. Tahun 1248
timbul pemberontakan yang dilancarkan oleh :
1) Ranggawuni (anak Anusapati).
2) Mahisa Campaka (anak Mahisa Wongaleleng atau cucu Ken Arok
dan Ken dedes)
d. Ranggawuni.
Bergelar Sri Jaya Wisnuwardhana 1248 - 1268. Wisnuwardhana
memerintah Singasari bersama-sama Mahisa Cempaka sebagai Ratu
Anggabaya, yaitu pejabat tinggi yang bertugas menanggulangi bahaya
yang mengancam kerajaan, gelarnya Narasinghamurti.
e. Kertanegara.
Bergelar Srimaharajadhiraja Sri Kartanegara (1269 – I292), merupakan

7
raja Singasari yang terbesar. Tahun 1275 dikirimnya ekspedisi
Pamalayu.
Daerah-daerah yang ditaklukkannya antara lain Bali, Pahang,
Sunda, Bakulapura (Kalimantan Barat Daya) dan Gurun (Maluku)
serta mengadakan hubungan persahabatan dengan Jaya Singawarman -
Raja Campa. Tahun 1292 di taklukan oleh Jayakatwang dari Kediri.

11. Kerajaan Majapahit


a. Kertarajasa, Jayawardhana (1292-1309).
Didirikan oleh Raden Wijaya (anak Lembu Tal atau cucu Mahisa
Campaka) pada tahun 1292 setelah memperdayai bala tentara Kubilai
Khan dan Cina yang bermaksud menghukum Raja Jawa yang tela
menghina utusannya yaitu Meng Ki pada masa pemerintahan
Kertanegara di Singasari.
Karena Kertanegara telah dihancurkan oleh Jayakatwag dari
Kediri, maka bala tentara Kubilai Khan menghancurkan Kediri, Yang
selanjutnya atas siasat Raden Wijaya di bantu oleh Arya Wiraraja, bala
tentara Cina dapat dihancurkan oleh Raden Wijaya. Akhirnya Raden
wijaya menjadi Raja Majapahit pertama dengan gelar Kertarejasa
Jayawardhana. Raden Wijaya memperistri 4 orang putri Kertanegara,
yaitu :
1) Tribuana, sebagai permaisuri.
2) Gayatri. yang kemudian menurunkan raja-raja Majapahit.
3) Narendraduhita.
4) Prajnaparamita.
Tahun 1309 Raja Kertarajasa wafat, meninggalkan tiga orang
putra:
1) Jayanegara (dari permaisuri).
2) Sri Gitarya (dari Gayatri) kemudian menjadi Bhre Kahuripan
3) Dyah Wiyat (dari Gayatri) kemudian menjadi Bhre Daha.
b. Sri Jayanegara (1309 - 1329).

8
Jayanegara menggantikan ayahandanya dengan gelar Sri
Jayanegara. Pada masa pemerintahannya timbul pemberontakan, yaitu
1) Pemberontakan Ranggalawe dari Tuban.
2) Pemberontakan Sora, pada tahun 1311.
3) Pemberontakan Nambi, pada tahun 1316.
4) Pemberontakan Kuti, pada tahun 1319. lbukota Majapahit berhasil
diduduki dan raja
Jayanegara mengungsi ke desa Bedander dikawal oleh 15 orang
pengawal setia (pasukan Bhayangkari) di bawah pimpinan Gajah
Mada. Atas usaha Gajah Mada ibukota dapat direbut lagi, dan kembali
Jayanegara bertahta, Atas jasanya Gajah Mada diangkat menjadi patih
Kahuripan dan kemudian Kediri.
Dalam pemerintahannya Raja Jayanegara menggunakan lambang
Minadwaya (dua ekor ikan)
c. TribhuwanaTunggadewi (1328 -1350)
Jayanegara wafat tidak meninggalkan putra, maka Gayatri atau
Rajapatni berhak menjadi raja. Karena Gayatri telah menjadi bhiksuni
(pendeta agama Buddha), maka diwakilkan kepada Sri Gitarya, Bhre
Kahuripan yang bergelar Tribuwanatunggadewi Jayawisnuwardhana.
Timbul pemberontakan Sadeng, yang dapat dipadamkan oleh
Gajah Mada, karena jasanya pada tahun 1331 Gajah Mada diangkat
menjadi perdana menteri, yang pada saat pelantikannya mengucapkan
Sumpah Palapa. Tahun 1350 Gayatri atau Rajapatni wafat, Tribuwana
yang mewakilinya menyerahkan kekuasaan itu pada anaknya bernama,
Hayam Wuruk.
d. Rajasanegara (1350 -13891)
Hayam Wuruk naik tahta pada usia 16 tahun, bergelar
Rajasanegara, merupakan raja terbesar dalam sejarah Majapahit
dengan Gajah Mada sebagai Mahapatih. Kekuasaannya meliputi
seluruh Kepulauan Nusantara, bahkan masih ditambah dengan
Tumasik (Singapura) dan Semenanjung Melayu.

9
Karya sastra yang terkenal diantaranya :
1) Negarakertagama karya Mpu Prapanca.
2) Sutasoma atau Parusadashanta dan Arjunawijaya karya Mpu
Tantular.
Tahun 1364 Gajah Mada wafat, kedudukannya diganti oleh 4 orang
menteri. Tahun 1389 Hayam Wuruk Wafat.
e. Wikramawardhana (1389 - 1429)
Hayam Wuruk dengan permaisurinya hanya mempuyai seorang
putri yaitu Kusumawardhani yang selanjutnya memerintah bersama
suaminya Wikramawudhana yang masih saudara sepupunya. Bhre
Wirabumi, anak dari selir diberi kekuasaan memerintah daerah
Blambangan, merasa tidak puas, dan merasa lebih berhak atas tahta
Majapahit.
Tahun 1401 - 1406 timbul perang saudara antara Bhre Wirabumi
dan Wikramawardhana. Bhre Wirabumi gugur (Perang Paregreg).
Tahun 1429 Wikramawurdhana wafat, Majapahit telah menjadi
kerajaan kecil akibat dari satu persatu daerahnya melepaskau diri.
Tahun 1478 Bhatara Prabu Girindrawardhana raja Daha merebut
Majapahit dari Raja Kertabumi (Raja Majapahit yang terakhir).

12. Kerajaan Samudra Pasai


Samudra Pasai adalah kerajaan Islam Nusantara yang pertama. Letaknya
di Aceh Utara (sekarang masuk Kabupaten Lhoksumawe) berdiri abad 13.
Raja-rajanya ialah :
a. Sultan Malik al Saleh.tahun 635 Hijriah atau l297 Masehi
b. Sultan Muhammad bergelar Sulatan Malik al Tathir.

13. Kerajaan Demak


a. Raden Patah(±1500 -1518).

10
Pada awal 1500 seorang Bupati Demak yang memeluk agama Islam
yaitu Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit. Dibantu para ulama
Raden Patah mendirikan Kerajaan Demak.
Selanjutnya Demak berkembang menjadi pusat pengembangan agama
Islam. Tahun 1511 hubungan Demak dengan Malaka terputus karena
Malaka dikuasai Portugis. Tahun 1513 armada Demak dibawah pimpinan
Pati Unus menyerang malaka tetapi gagal.
b. Pati Unus (1518 - l 521)
Pati Unus terkenal dengan sebutan pangeran sabrang Lor, hanya tiga
tahun menjadi raja.
c. Sultan Trenggana (1521 - 1546)
Sultan Trenggana adalah menantu Pati Unus. Tahun 1522
mempercayai seorang ulama dari Pasai (Faletehan) untuk memimpin
armada Demak merebut Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon dari
Pajajaran.
Tahun 1546 Sultan Trenggana gugur dalam usahanya menaklukan
Pasuruan. Setelah itu timbul perebutan kekuasaan antara Sunan Prawata
(putra sulung Sultan Trenggana) dengan Pangeran Sekar (adik Sultan
Trenggana). Sunan Prawata naik tahta setelah membunuh Pangeran Sekar,
tak lama kemudian Sunan Prawata dibunuh oleh Arya Penangsang (anak
Pangeran Sekar).

14. Kerajaan Pajang


Jaka Tingkir (menantu Sultan Trenggana), berhasil membinasakan Arya
Penangsang atas bantuan Kyai Ageng Pemanahan. Jaka tingkir naik tahta
bergelar Adiwijaya dan memindahkan pusat Kerajaan Demak ke Pajang.
Kerajaan Pajang tidak lama berdiri. Setelah Sultan Adiwijaya wafat terjadi
perebutan kekuasaan. Arya Pangiri (anak Sunan Prawata) mencoba merebut di
gagalkan Pangeran Benawa (anak Sultan Adiwijaya) dibantu Sutawijaya (anak
Kyai Ageng Pemanahan).

11
Pangeran Benawaa merasa tidak sanggup menggantikan ayah handanya,
maka menyerahkan kekuasaan kepada Sutawijaya, yang kemudian
memindahkan pusat pemerintahan ke Mataram.

15. Kerajaan Mataram Islam.


Sutawijaya lebih dikenal dengan Panambahan Senapati. Panembahan
Senapati wafat tahun 1601.

16. Kerajaan Banten


Setelah Faletehan merebut Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon, maka
dialah yang menguasainya. Karena di demak timbul perebutan kekuasaan
maka pada tahun 1522 Faletehan menyerahkan Banten kepada putranya
Hasanuddin sebagai raja Banten yang pertama dan Faletehan memusatkan
perhatiannya pada agama Islam di Gunung Jati, Cirebon.
Raja-raja yang lain ialah :
a. Pangeran Yusuf (1570)
b. Maulana Muhammad (baru berusia 9 tahun), tahun 1596 gugur dalam
usahanya menyerang Palembang.
c. Abdulmufakir (baru berusia 5 tahun), pemerintahan dikendalikan oleh
Mangkubumi Jayanegara.

17. Kerajaan Malaka


Kerajaan Malaka tidak terletak di kawasan Nusantara. Raja-rajanya ialah :
a. Paramisora, pelarian dari Majapahit, yang telah masuk lslam, yang
telah diganti nama Sultan Iskandar Syah.
b. Sultan Mansyur Syah.
c. Sultan Mahmud Syah.
d. Tahun 1511. Malaka jatuh ke tangan Portugis.

12
18. Kerajaan Aceh
Pada awal abad 16 masih merupakan kerajaan kecil, di bawah kekuasaan
Pedir.
Raja-rajanya ialah :
a. Sultan Ibrahim. Aceh melepaskan diri dari Kerajaan Pedir. Aceh
semakin maju karena Malaka di kuasai oleh Portugis, sehingga
pedagang Islam dari Arab dan Gujarat mengalihkan perdagangannya
ke Aceh.
b. Sultan Iskandar Muda (1607-1639).Pada pemerintahannya Aceh
mencapai puncak ketayaannya.

19. Kerajaan Ternate


Berdiri kira-kira Abad ke 13. Abad 14 Ternate Menjadi Kerajaan Islam.
Masa Pemerintahan Sultan Baabullah Ternate Mencapai puncak kejayaannya.
Tahun 1575 Sultan Baabullah Mengusir Portugis Dari Maluku. Baabullah
bergelar yang di pertuan di 72 pulau, meluaskan wilayahnya sampai Filipina.

20. Kerajaan Tidore


Merupakan kerajaan Islam di Maluku. Sempat diadu domba oleh Portugis
dan Spanyol, untuk berselisih dengan Kerajaan Ternate, tetapi berbalik
kembali bahkan bersama-sama mengusir bangsa Portugis dari Maluku.
Rajanya yang terkenal adalah Sultan Nurku, yang gigih berjuang mengusir
Belanda. Wilayahnya meliputi Halmahera. Seram, Kai, dan, sampai Papua.

21. Kerajaan Makasar


Pada abad ke 16 di Sulawesi Selatan terdapat dua kerajaan, yaitu Goa dan
Tailo. Kedua kerajaan itu bersatu dengan nama Goa-Tailo, atau Makasar
dengan ibu kota sombaopu, sebagai kerajaan Islam pertama di Sulawesi.
Raja-rajanya ialah :

13
a. Raja Goa Daeng Manribia dengan gelar Sultan Alaudin.
Mangkubuninya adalah raja Tailo Karaeng Matoaya bergelar Sultan
Abdullah.
b. Sultan Hasanuddin, masa pemerintahannya mencapai puncak kejayaan

22. Kerajaan Banjar


Dengan bantuan Kerajaan Demak, abad ke-76 Kerajaan Banjar di
Kalimantan Selatan menaklukan Daha (sebuah kerajaan di pedalaman
Kalimantan) Banjar adalah kerajaan Islam, dengan rajanya Raden Samudra
yang Telah masuk Islam Berganti Nama Sultan Suryanullah.

B. Perlawanan Bangsa Indonesia Melawan Penjajahan

1. Perjuangan sebelum abad 20

Pada era kejayaan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia seperti kerajaan


Demak, Samudra pasai, Mataram Islam dan lain-lain. Bangsa-bangsa Eropa
seperti Portugis dan Spanyol datang ke negara Indonesia dengan tujuan untuk
mencari rempah-rempah demi keuntungan dan kejayaan. Portugis datang Ke
Indonesia pada tahun 1511 dan segara menancapkan kekuasaannya di Malaka.
Walaupun Malaka melakukan perlawanan sengit namun portugis berhasil
meredam perlawanan malaka. Kekalahan masyarakat Malaka disebabkan karena
perlawanannya masih bersifat kedaerahan dan masih menggunakan senjata
tradisioanal.

Kemudian pada tahun 1521 banngsa spanyol datang ke Maluku dengan tujuan
yang sama sehingga terjadilah gejolak dan peperangan antara bangsa Spanyol dan
portugis. Namun konflik antara portugis dan Spanyol diselesaikan dengan
perjanjian Saragoza pada tanggal 22 April tahun 1529 yang menyatakan bahwa
daerah kekuasaan Portugis membentang dari wilayah Brazil sampai ke Maluku
sedangkan wilayah kekuasaan Spanyol, membnetang antara Meksiko sampai
Philipina.

14
Setelah diresmikannya perjanjiann Saragosa Portugis pun berambisi untuk
mengusai Sunda Kelapa (Jawa Barat) , namun upaya tersebut dapat digagalkan
oleh Fatahillah. Keuntungan Portugis yang luar biasa atas monopoli rempah-
rempah mendorong negra-negara Eropa lainnya ikut berdagang di Indonesia.

Pada akhir `abad 15 (XV) datang Ke Indonesia dengan menempuh jalan yang
penuh kesulitan. Belanda membangun sistem politik dan dagang yang membuat
mereka meneui keberhasilan dalam mengusai sebagian dari wiliyah Indonesia
dan untuk menghindari persaingan antara mereka sendiri, kemudian didirikanlah
VOC (Vereenig de Oost Indische Compagnie) pada tahun 1602, dan orang-orang
pribumi biasa memanggilnya dengan sebutan kompeni.

Belanda akhirnya dapat menyingkirkan Portugis bisa menyingkirkan Portugis


serta memainkan besar dalam percaturan politik dan dagang di Indonesia. Pada
tahun 1605 Ambon berhasil dijatuhkan dan berada didaerah kekuasaan Belanda.
Dan Maluku pun berhasil dikuasai. Kemudian pada tahun 1619 Selat Sunda yang
merupakan wilayah perdagangan yang sangat strategis bagi Indonesia berhasil
dikuasi dan begitu pula Jayakarta telah jatuh di tangan Kompeni. Untuk
menghilangkan pengaruh persatuan bangsa Indonesia kemudian Kompeni
mengganti nama menjadi Batavia yang dimaksudkan sebagai lambang kekuasaan
kolonial di Indonesia.

Pada tahun 1613-1645 Mataram dibawah pimpinan sultan Agung melakukan


perlawanan yang sengit. Pada tahun 1628 Markas VOC (Batavia) diserang habis-
habisan dan menewaskan Gubernur Jendral J.P Coen. Namun dengan strategi
licik Belanda serangan Mataram berhasil diredam.

Namun setelah Sultan Agung tidak lagi berkuasa pada tahun 1646, Mataram
berhasil diajak bekerja sama dengan taktik serigala berbulu domba kompeni yang
menerapkan bahwa Mataram dijadikan daerah vasal oleh kompeni.

Makasaar yang merupakan tempat tinggal Sultan Hasanudin pun diambil alih
kompeni pada tahun 1667, menyusul kemudian Banten pada tahun 1624.

15
Demikianlah , kompeni pada abad ke 17 telah menanamkan kekuasaannya
didaerah-daerah yang strategis bagi dunia perniagaan dan politik indonesia.

Pada abad ke awal abad ke 19 VOC dibubarkan dan sejak saat itu digantikan
dengan pemerintahan Hindia Belanda. Dan pada saat itu terjadilah pertentangan
dengan Inggris yang mengakibatkan Indonesia diambil alih oleh Inggris pada
tahun 1811, Namun diserahkan kembali oleh Inggris pada tahun 1816.

Ketika dIndonesia diserahkan kembali kepada Belanda terjadilah gejolak


besar yang menimbulkan perang besar yang dipimpin oleh beberapa tokoh
seperti; Pattimura di Maluku, Badrudin di Palembang,Tuanku Imam Bonjol di
Minangkabau, Pangeran Diponogoro di Jawa Tengah, Jelantik di Bali, Pangeran
Antasari di Banjarmasin, Teuku Umar di Ace, namun semuanya masih belum
membuahkan hasil yang signifikan.

Tahun 1870 ditetapkan Undang-undang agraria, sehingga terbuka modal


swasta asing dan membuat rakyat Indonesia semakin menderita. Penderitaan
rakyat menjadi perhatian beberapa humanis yang ada di Belanda. Mereka
menganjurkan untuk diadakan politik etika di Indonesia atau politik hutang budi
bangsa Belanda kepada Indonesia atas keuntungan yang diperolehnya dari
Indonesia, yang terkenal dengan sebutan “TRIAS POLITIKA” (Irigasi , emigrasi,
dan edukasi) . Dan Mr. Van De Venter merupakan pelopor etika politik Belanda
kepada Indonesia.

Ternyata politik ini mendapat sokongan penuh dari para penanam modal
sebab irigasi menguntungkan perkebunan tebu; emigrasi akan menguntungkan
perkebunan tembakau di Sumatra Timur karena kekurangan tenaga kasar yang
biasanya didatangkan dari pulau Jawa; dan edukasi akan menguntungkan
perusahaan asing karena mendapatkan tenaga kerja rendahan namun terdidik.

Terlepas dari keuntungan bangsa asing, Indonesia juga mempunyai


keuntungan tersendiri dari adanya TRIAS POLITIKA ini , yaitu melahirkan
golongan yang memiliki tingkat Intelektual yang tinggi.

16
2. Pergerakan Nasional (1908-1945)

Penerapan sistem politik kolonial Belanda sejak VOC dan memuncak dengan
diterapkannya Culturstelsel dan dilanjutkan sistem liberal dengan masuknya
modal swasta asing secara bebas ke Indonesia telah berakibat negatif kepada
rakyat, alhasil rakyat menjadi miskin dan menderita.

Perlawanan-perlawanan telah banyak muncul didaerah-daerah namun


semuanya kandas karena serangannya belum terorganisir dengan baik ditambah
lagi belum adanya kerja sama antar daerah untuk mengusir penjajah.

Pada tanggal 20 Mei tahun 1908 Indonesia memasuki babak baru dalam
memerangi para penjajah yang ditandai dengan lahirnya organisasi Budi Utomo
sebagai angin segar yang dijiwai oleh cita-cita Wahidin Sudironhusoda, yang
digerakkan oleh para pemuda terpelajar sekolah Kedokteran Jawa Batavia
(Jakarta). Organisasi ini bertujuan dalam memajukan bidang Pendidikan dan
Budaya, namun dalam prakteknya Organisasi Budi Utomo juga merambah ke
ranah politik demi tercapainya Kemerdekaan Indonesia.

Dengan berdirinya Organisasi Budi Utomo tercatat dalam sejarah sebagai


Organisasi modern pertama yang mengandalkan diskusi daripada perlawanan
fisik yang bersifat kedaerahan dan Organisasi ini pula di cap sebagai pelopor
Kebangkitan Nasional.

3. Organisasi-Organisasi Pergerakan Nasional

Pada tahun 1911 didirikanlah Organisasi sarikat dagang Islam oleh HOS
Cokroaminoto yang kemudian berkembang menjadi Serikat Islam. Diikuti oleh
Indische Partij yang terbentuk pada tanggal (1913) yang di pimpin oleh tiga
serangkai yakni ; Douwes Dekker, Dr. Cipto Mangunkusumo, Suwardi
Suryaningrat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ki Hajardewantoro).

Dengan munculnya Organisasi yang merambah ke bidang politik Indonesia


semakin menusuk kekuasaan kolonial Belanda ditambah lagi dengan meledaknya

17
perang dunia pertama pada tahun1914-1918. Membuat pemerintah Belanda harus
berhati-hati dengan gerakan bangsa Indonesia yang mencium bau Kemerdekaan.

Banyaknya gejolak konflik Internasional, membuat pemerintah Hindia


Belanda mencoba untuk menjinakan Oraganisasi atau partai politik Indonesia. Di
lain pihak perkembangan beberapa Oraganisasi mengalami tantangan dari dalam.
Serikat Islam yang pada mulanya gerakan masa yang sangat ditakuti oleh
pemerintah Hindia Belanda lambat laun mengalami kemerosotan yang tragis.
Sarekat Islam pecah dari dalam karena paham komunis yang mulai mewabah dan
kemudian terbentuklah suatu partai dari pecahab Sarekat Islam yang dikenal
dengan sebutan PKI (Partai Komunis Indonesia) pada tahun1920.

Dan dalam situasi yang serba carut marut karena perpecahan internal
muncullah Partai Nasional Indonesia pada tahun 1927 yang dipelopori oleh Ir
Soekarno. Mulailah kini perjuangan bangsa Indonesia dititikberatkan pada
kesatuan Nasional dengan tujuan yang jelas.

4. Sumpah Pemuda

Sudah adanya tujuan yang jelas yang harus dicapai bangsa Indonesia maka
para pemuda bertindak cepat dengan Moh. Yamin sebagai tokoh utamnya
merumuskan persatuan Indonesia; Satu Bahasa, Satu Bangsa dan Satu Tanah Air
Indonesia. Tepat pada tanggal 28 Oktober Sumpah Pemuda resmi dideklarasikan
oleh seluruh pemuda Indonesia yang diwakilkan oleh utusan-utusan seperti ; Jong
Java, Jong Islamiten Bond, Jong Sumatranen Bond, Jong Batak dll.

5. Perjuangan Masa Pendudukan Jepang

Dengan penyerangan jepang ke Pearl Harbor (Markas angkatan laut Amerika)


pada tanggal 7 Desember 1941 Menandakan era baru kemenangan negara Asia
yang diwakilkan oleh Jepang. Sejak saat itu gerakan invasi militer Jepang
bergerak cepat untuk menguasai Asia Tenggara. Dimulai dari Philipina (Januari
1942), Singapura (Februari 1942), dan Indonesia pada bulan Maret 1942.

18
Seperti halnya Belanda Jepang bermaksud untuk menjajah Indonesia. Untuk
itu, suatu kampanye propaganda yang intensif dimulai untuk meyakinkan rakyat
Indonesia bahwa mereka dan Jepang adalah saudara seperjuangan dalam perang
yang luhur melawan Negara Barat. Namun upaya ini tidak selaras dengan apa
yang terjadi dilapangan seperti; Kerja Romusha, kekacauan ekonomi terror polisi
militer, penjarahan beras dan lain-lain.

Keadaan bangsa Indonesia saat itu sangat menderita mungkin lebih menderita
daripada waktu dijajah Belanda. Namun dengan adanya perlawanan-perlawanan
dari para cendekiawan Indonesia yang bersifat kooperatif membuat Jepang sedikit
demi sedkit luluh.

Pada bulan April 1942 usaha pertama untuk gerakan rakyat yaitu: gerakan
tiga A yang dimulai dijawa dan dipimpin oleh MR. Syamsudin. Sejak saat itu
pihak Jepang menyadari bahwa apabila mereka ingin memobilisasikan rakyat
maka mereka harus memanfaatkan tokoh-tokoh terkemuka gerakan nasionalis.

Muhammad Hatta dan Sjahrir yang telah bersahabat lama, memutuskan


untukmemakai strategi yang saling melengkapi dalam situasi baru kekuasaan
Jepang. Hatta akan bekerja sama dengan Jepang sedangkan Sjahrir tetap
menjauhkan diri dari Jepang dan membuat suatu jaringan bawah tanah. Soekarno
yang telah dibebaskan oleh Jepang untuk membentuk suatu organisasi politik.

Pada awal 1943 usaha mobilisasi mulai memberi prioritas tinggi gerakan-
gerakan Pemuda. Pada bulan April 1943 dibentuk korps pemuda yang bersifat
semi Militer (Seinendan). Pada bulan Maret 1943 gerakan tiga A dihapuskan dan
digantidengan PUTERE (Pusat Tenaga Rakyat). Badan ini dibawah pengawasan
Jepang namun diketuai oleh orang Indonesia yaitu Kihajar Dewantara , Soekarno
dan Mas Mansur.

Pada bulan Oktober 1943 dibentuklah organisasi pemuda oleh Jepang yang
diberi nama PETA(Pembela Tanah Air). Tidak seperti HEIHO, Peta tidak secara
khusus membantu Jepang berperang melawan sekutu melainkan membantu
Jepang jika ada serbuan sekutu menyerang Indonesia.

19
Tanggal 7 September 1944 perdana mentri Koiso menjanjikan kemerdekaan
untuk Indonesia. Akan tetapi tanggal kemerdekaan masih menjadi tanda tanya.
Bangsa Indonesia membalas janji tersebut dengan cara mendukung Jepang
nsebagai ungkapan terima kasih. Alhasil bendera Indonesia boleh dikibarkan lagi
dikantor-kantor java hokokai. Sejak saat itu pula makin banyak pula orang
Indonesia yang diangkat menjadi pejabat pemerintah.

Pada bulan Maret 1945 pihak jepang mengumumkan pembentukan Badan


Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Badan ini mengakhiri
tugasnya setelah berhasil menyusun rancangan Undang-Undang Dasar untuk
Indonesia Merdeka.

Namun pada tanggal 6 Agustus 1945 bom atom pertama dijathkan di


Hiroshima dan posisi Jepangpun di ujung tanduk. Dan pada tanggal 9 Agustus
giliran Nagasaki merasakan dahsyatnya Bom Atom yang dilancarkan oleh sekutu.
Akhirnya di hari yang sama tiga tokoh Indonesia yakni Ir Soekarno, Drs Moh
Hatta, dan Dr. Radjiman di undang ke Dalat-Saigon untuk menemui Jenderal
Terauchi dan dijanjikan Kemerdekaan.

6. Perlawanan Terhadap Kekuasaan Portugis


a. Perlawanan Kesultanan Ternate

Perlawanan rakyat Ternate didorong oleh tindakan bangsa Portugis yang


sewenang-wenang dan merugikan rakyat. Perlawanan Ternate dipimpin oleh
Sultan Hairun dari Ternate. Seluruh rakyat dari Irian sampai ke Jawa
diserukan untuk melakukan perlawanan. Sayang sekali Sultan Hairun ditipu
oleh Portugis dan dihukum mati pada tahun 1570. Tetapi kecongkakan
Portugis akhirnya menuai balasan dengan keberhasilan Sultan Baabullah
dalam mengusir Portugis dari bumi Maluku tahun 1575. Selanjutnya Portugis
menyingkir ke daerah Timor Timur (Timor Loro Sae).

20
b. Perlawanan Kesultanan Demak

Dominasi Portugis di Malaka telah mendesak dan merugikan kegiatan


perdagangan orang-orang Islam. Oleh karena itu , Sultan Demak R. Patah
mengirim pasukannya di bawah Pati Unus untuk menyerang Portugis di
Malaka. Pati Unus melancarkan serangannya pada tahun 1527, tentara Demak
kembali melancarkan serangan terhadap Portugis yang mulai menanam
pengaruhnya di Sunda Kelapa. Di bawah pimpinan Fatahillah, tentara Demak
berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa. Nama Sunda Kelapa kemudian
diubah menjadi Jayakarta.

c. Perlawanan Kesultanan Aceh

Setelah menguasai Malaka, Portugis kemudian mengirimkan pasukannya


untuk menundukkan Aceh. Usaha inipun mengalami kegagalan. Serangan
Portugis ke Aceh menunjukkan bahwa kekuasaan Portugis di Malaka telah
mengancam dan merugikan Aceh. Apalagi kegiatan monopoli
perdagangannya yang sangat menyulitkan rakyat Aceh. Untuk mengusir
Portugis dari Malaka, Aceh menyerang kedudukan Portugis di Malaka.

Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1639), armada


kekuatan Aceh telah disiapkan untuk menyerang kedudukan Portugis di
Malaka. Saat itu Aceh telah memiliki armada laut yang mampu mengangkut
800 prajurit. Pada tahun 1629, Aceh mencoba menaklukkan Portugis.
Penyerangan yang dilakukan Aceh ini belum berhasil mendapat kemenangan.
Namun , Aceh masih tetap meneruskan perjuangan melawan Portugis.

7. Perlawanan Terhadap VOC


a. Perlawanan Kesultanan Mataram

Pada awalnya Mataram dengan Belanda menjalin hubungan baik. Belanda


diizinkan mendirikan benteng (loji) untuk kantor dagang di Jepara. Belanda
juga memberikan dua meriam terbaik untuk Kerajaan Mataram. Dalam
perkembangannya, terjadi perselisihan antara Mataram-Belanda. Pada tanggal

21
8 November 1618, Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterzoon Coen
memerintahkan Van der Marct menyerang Jepara. Peristiwa tersebut
memperuncing perselisihan antara Mataram dengan Belanda. Raja Mataram
Sultan Agung segera mempersiapkan serangan terhadap VOC di Batavia.
Serangan pertama dilakukan pada tahun 1628.

Pasukan Mataram yang dipimpin Tumenanggung Baurekso tiba di Batavia


tanggal 22 Agustus 1628. Pasukan ini kemudian disusul pasukan
Tumenanggung Sura Agul-Agul, yang dibantu dua bersaudara, yakni Kiai
Dipati Mandurojo dan kiai Upa Santa. Tidak kurang dari 1000 prajurit
Mataram gugur dalam perlawanan tersebut. Mataram segera mempersiapkan
serangan kedua dipimpin Kyai Adipati Juminah, Kiai A. Puger, dan K. A
Purbaya.

Serangan dimulai tanggal 1 Agustus 1629 dan berakhir 1 Oktober 1629.


Serangan kedua inipun juga gagal, selain karena faktor kelemahan serangan
pertama, lumbung padi persediaan makanan, banyak dihancurkan Belanda.
Disamping Sultan Agung, perlawanan juga dilakukan oleh Pangeran
Mangkubumi, dan Mas Said.

b. Perlawanan Kesultanan Gowa

Dalam lalu lintas perdagangan, Gowa menjadi Bandar antara jalur


perdagangan Malaka dan Maluku. Sebelum rempah-rempah dari Maluku
dibawa sampai ke Malaka, maka singgah dahulu di Gowa, begitu juga
sebaliknya.

Melihat kedudukan Gowa yang begitu penting , maka VOC ingin sekali
menguasai Bandar di Gowa. Usaha yang dilakukan adalah melakukan blokade
terhadap Pelabuhan Sombaopu. Disamping itu, kapal-kapal VOC juga
diperintahkan untuk merusak dan menangkap kapal-kapal pribumi maupun
kapal-kapal asing. Menghadapi perkembangan yang semakin genting itu ,
maka raja Gowa , Sultan Hasanuddin mempersiapkan pasukan dengan segala

22
perlengkapan untuk menghadapi VOC. Beberapa kerajaan sekutu juga
disiapkan.

Benteng-benteng dibangun di sepanjang pantai kerajaan. Sementara itu,


VOC dalam rangka menerapkan politik adu domba, telah menjalin hubungan
dengan seorang pangeran Bugis dari Bone bernama Arung Palaka. Meletuslah
perang antara VOC dengan Gowa pada 7 juli 1667. Tentara VOC dipimpin
Spelman yang diperkuat pengikut Arung Palaka menggempur Gowa. Karena
kalah persenjataan , benteng pertahanan tentara Gowa di Barombang dapat
diduduki oleh pasukan Arung Palaka. Perselisihan ini diakhiri dengan
ditandatanganinya perjanjian Bongaya , yang isinya sebagai berikut

1) Gowa harus mengikuti hak monopoli.


2) Semua orang Barat, kecuali Belanda harus meninggalkan wilayah
kekuasaan Gowa.
3) Gowa harus membayar biaya perang.
4) Di Makassar dibangun benteng-benteng VOC.
5) Perlawanan Terhadap Penjajahan Belanda.
6) Perlawanan Rakyat Maluku (1817).

Perlawanan rakyat Maluku terhadap Belanda, hal itu disebabkan karena


Belanda datang ke Nusantara untuk mendapatkan rempa-rempah dengan
harga yang semurah-murahnya untuk keuntungan yang berlipat ganda.
Sehingga semua itu sangatlah memberatkan rakyat. Hingga datanglah Inggris
untuk mendapat simpati dari rakyat Maluku, dengan motif selalu membantu
rakyat dari Belanda. Namun Belanda kembali berkuasa dari tangan inggris
setelah diterapkannya Konvensi London tahun 1814. Dan pada tanggal 17
Mei 1817 pemuda Sapurua yang dipimpin Pattimura, memulai perlawanan
terhadap Belanda untuk merebut benteng Duurstede.

Bentengpun akhirnya dapat dikuasai dan Rasiden Van Der Berg


ditembak mati. Serangan lain juga terjadi di daerah Maluku lain, sehingga hal
itu mengacaukan Belanda.

23
Belandapun semakin meningkatkan ofensifnya menumpas gerakan
perlawanan rakyat Maluku. Hingga terjadilah pertempuran sengit secara
Sporadis antara rakyat Maluku dengan Belanda. Belandapun mendatangkan
bantuan dari Batavia hingga pasukan Pattimura terdesak oleh Belanda. Pada
bulan Agustus Pattimura menyingkir ke hutan dan melakukan perang Gerilya.
Benteng Deverdijk dapat dikuasai lagi oleh Belanda. Pattimura sangatlah
terdesak hingga dapat ditangkap Belanda dan dihukum gantung di alun-alun
Kota Ambon pada 16 Desember 1817.

c. Perlawanan Kaum Padri (1819-1832).

Awalnya kedatangan islam di daerah Minangkabau tidak mempengaruhi


pola hidup kaum Adat. Tetapi setelah datangnya tiga orang haji dari Mekah
yaitu H. Miskin, H. Sumanik, dan H. Piabang yang ingin meluruskannya
ajaran islam, hal itu membuat adanya tantangan dari kaum Adat. Sehingga
terjadilah perang antara kaum Adat dengan kaum Padri. Dan setelah Belanda
menerima penyerahan daerah Sumatra Barat dari Inggris, Belanda membantu
kaum Adat melawan kaum Padri. Namun setelah adanya perlawanan
Diponegoro Di Jawa, menyebabkan kesulitan bagi pemerintah Hindia
Belanda, hingga pemerintah Belanda berhasil membujuk kaum Padri untuk
berunding. Kolonel Stuers pada tanggal 29 Oktober 1825 yang ditandatangani
tanggal 15 November 1825 berhasil mengadakan perdamaian dengan kaum
Padri yang diwakili Tuanku Keramat yang berisi :

1) Belanda akan mengakui kekuasaan Tuanku-Tuanku di Lintau,


imapuluh Kota, Telawas, dan Agam.
2) Kedua belah pihak akan melindungi orang-orang yang sedang dalam
perjalanan dan para pedagang.
3) Kedua belah pihak akan melindungi orang-orang yang kembali dari
pengungsian.

24
Peperangan masih berlanjut dengan yang serangan Belanda dipusatkan ke
Bonjol. Belanda menggunakan siasat Devide at Empera dengan cara
mendatangkan pasukan Sentot Prawirodirjo dari Jawa.

Pertempuran antara kaum Padri dan kaum Adat terjadi di kota Lawas.
Perang saudara ini di manfaatkan Belanda untuk menguasai Sumatra dengan
membantu kaum Adat, namun kaum Adat sadar bahwa mereka hanya
dimanfaatkan Belanda. Akhirnya kaum kaum Padri dan kaum Adat bersatu
melawan Belanda. Perang padri akhirnya dimenangkan Belanda setelah
benteng Bonjol berhasil direbut belanda. Imam Bonjol tertangkap pada tahun
1837 dan di buang ke Cianjur, dan tahun 1864 dipindahkan ke Manado
hingga wafat. Namun setelah wafatnya imam Bonjol, peperangan masih
tetaplah berlanjut di dhaerah Sumatra Barat.

d. Perlawanan Diponogoro (1825-1830).

Pangeran diponogoro adalah bangsawan mataram yang berusaha


membebaskan tanah mataram dari dominasi Belanda. Perlawanan terjadi
antara tahun 1825-1830. perang yang terjadi, dilatar belakangi karena berbagai
masalah yang muncul.

Masalah Umum :

1) Kerajaan mataram semakin sempit kekuasaannya, akibat Belanda.


2) Campur tangan belanda dalam urusan istana mataram.
3) Penderitaan dan kesengsaraan mataram kerena banyak pajak yang
dipungut Belanda.
4) Kaum ulama kecewa karena berkembangnya budaya barat.
5) Kaum bangsawan tidak diperkenankan menyewakan tanah.

Masalah yang khusus yaitu Belanda membuat jalan di Tegalrejo yang


melalui makam leluhur Dipenogoro tanpa izin terlebih dahulu.

Perlawanan Diponegoro mendapat dukungan dari Kyai Maja, Sentot


Prawiro Direjo, dan pangeran Mangku Bumi. Dalam perang, Dipenogoro

25
melakukan siasat Perang Gerilya, sehingga Belanda kewalahan dalam
menghadapinya. Belanda mengangkat Jendral De Koock untuk menghadapi
Diponogoro dengan siasat Benteng Stelsel, artinya setiap daerah yang
dikuasainya segera dibangun benteng, kemudian antara benteng yang satu
dengan yang lainnya dihubungkan jalan untuk gerak cepat pasukan.
Diponegoro ditangkap dalam perundingan dan di asingkan ke Batavia,
kemudian ke Manado dan akhirnya ke Makassar sampai meninggal dunia pada
8 Januari 1855.

e. Perang Jagaraga.

Pada tahun 1844, kapal Belanda terdampar di Pantai Buleleng. Sesuai


dengan hukum Tawan Karang, kapal itu disita oleh kerajaan Buleleng. Tetapi
Belanda menuntut agar kapal itu dikembalikan dan seluruh kerajaan di Bali
tunduk kepada Belanda. Tetapi Raja Beleleng menolaknya, sehingga pada
tahun 1846, Belanda mendaratkan 1700 pasukan dan terjadilah pertempuran di
Buleleng. Kerajaan Buleleng dipimpin oleh Patihnya, Gusti Ktut Jelantik.
Namun pertempuran itu gagal yang kekalahan itu dianggap sebagai tunduknya
semua kerajaan di Bali terhadap Belanda.

Akhirnya Raja dan Patih Buleleng bersatu dengan kerajaan lain seperti
Karangasem, Klungkung, Mengwi, dan Bandung sepakat untuk menyerang
pos-pos Belanda yang dipimpin Gusti Ktut Jelantik. Sehingga pada tahun
1848 belanda mengirim pasukan 2300 orang. Belanda mengancam dan
menuntut raja-raja di Bali. Namun, tuntutan itu tidak dihiraukan oleh raja dan
rakyat Bali. Sehingga pada tahun 1849, pihak Belanda kembali mengirim
pasukan yang lebih banyak, sekitar 5000 serdadu ke Bali. Selanjutnya,
berkobarlah pertempuran sengit yang dikenal sebagai Perang Jagaraga (Perang
Puputan) atau perang hingga seluruh pasukan Bali gugur. Benteng Jagaraga
akhirnya dapat diduduki Belanda. Maka pada tahun 1849 semua kerajaan di
Bali sudah berada di bawah kekuasaan Belanda.

26
f. Perang Banjar (1859-1863)

Pada tahun 1859 terjadi Perang Banjar. Perang itu timbul, karena :

1) Dhaerah kekuasaan Belanda di Kalimantan Selatan semakin


diperluas, dan dhaerah kerajaan makin dipersempit oleh Belanda.
2) Rakyat hidup menderita karena beban pajak dan kewajiban kerja
paksa.
3) Pemerintah Belanda melakukan intervensi dalam urusan Kerajaan
banjar.

Pada tahun 1857 terjadi konflik internal dalam pergantian raja.


Belanda menunjuk Pangeran Tamjidillah sebagai sultan, yang tidak
dikehendaki rakyat. Penangkapan Pangeran Prabu Anom dan
pengambilalihan Kesultanan banjar oleh Belanda pada tahun 1859, yang
menimbulkan kekecewaan mendalam bagi kaum bangsawan dan rakyat,
sehingga muncullah Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayat memimpin
perlawanan.

Pada bulan April tahun 1859, pasukan Banjar menyerang pos-pos


Belanda, seperti di Martapura, sekitar sungai Barito, dan di Tabanio.
Bahkan pasukan Pangeran Hidayat yang dipimpin Tumenggung Surapati
berhasil membakar dan menenggelamkan kapal Onrust milik Belanda.
Sehingga pada tanggal 11 Juni 1860, Belanda secara resmi menghapus
kesultanan Banjar dan Banjar diperintah oleh seorang penguasa Hindia
Belanda.

Pangeran Antasari terus berjuang memimpin perlawanan, walaupun


Kyai Damang Leman menyerah dan Pangeran Hidayatullah tertangkap dan
dibuang ke Cianjur. Bahkan ia diangkat oleh rakyat menjadi pemimpin
tertinggi agama dengan gelar Panembahan Amirudin Khalifatul Mukminin
pada tanggal 14 maret 1862. Ia dibantu para pemimpin yang lalin, seperti
Pangeran Miradipa, Tumenggung Surapati dan Gusti Umah untuk
memutuskan pertahanan di Hulu Taweh. Perlawanan Antasari berakhir

27
sampai ia meninggal pada 11 oktober 1862, yang kemudian
perlawanannya dilanjutkan putranya, yaitu pangeran Muhamad Seman.

g. Perlawanan Rakyat Aceh (1873-1912)


Pertempuran ini dilatar belakangi karena :
1) Aceh merupakan pusat perdagangan, sehingga Aceh banyak
menghasilkan lada dan tambang serta hasil hutan. Oeh karena itu
Belanda berambisi untuk mendudukinya.
2) Aceh semakin terancam dengan adanya Traktat Sumatera, yang berisi
pemberian kebebasan bagi Belanda untuk memperluas daerah
kekuasaan di Sumatera, termasuk Aceh.
3) Aceh berusaha untuk memperkuat diri dengan mengadakan hubungan
dengan Turki, Konsul Italia, dan Konsul Amerika Serikat di Singapura.
4) Belanda khawatir, pada 26 Maret 1873 memaklumkan perang kepada
Aceh.
5) Strategi Belanda untuk mengalahkan Aceh:
a) Menghancurkan seluruh ulama dan pemimpin dari pusat kegiatan.
b) Membentuk pasukan gerak cepat.
c) Semua pemimpin dan ulama yang tertangkap harus
menandatangani perjanjian.
d) Setelah melakuan operasi militer, Belanda mengikuti kegiatan
perdamaian rehabilitasi (pasifkasi).
e) Bersikap lunak terhadap para bangsawan.

Pada 8 April 1873, Belanda menguasai masjid Raya Aceh, banyak


mengundang para tokoh dan rakyat untuk bergabung berjuang melawan
Belanda, diantaranya Imam lueng Bata, Cut Banta, Tengku Cik Ditiro,
Teuku Umar, dan istrinya Cut Nyak Dien. Pada tahun 1874, Belanda
berhasil menduduki istana kesultanan. Karena wilayah Aceh sangat kuat
dalam militernya, maka Belanda malakukan politik Devide Et Impera
(memecah belah dan menguasai). Pada bulan Agustus 1893, Teuku Umar
menyatakan tunduk kepada Belanda tanpa sebab, tetapi ia keluar dari

28
Belanda pada 30 Maret 1896, dikarenakan keluarganya. Militer Aceh
berencana melakukan penyerbuan Terhadap Belanda, namun kekuatan
militer Aceh masih belum cukup kuat untuk melawan, sehingga Teuku
Umar, dan Panglima Polim terpaksa mundur dari peperangan.

Pada 11 Februari 1899, Teuku Umar gugur karena terkena peluru


ketika ia bersama pasukannya bersiap untuk pengepungan di Meulaboh,
sehingga perjuangannya dilanjutkan oleh Cut Nyak Dien, dan mereka terus
melakukan gerilya. Akhirnya Cut Nyak Dien berhasil ditangkap dan
dibuang ke Sumedang, serta meninggal pada 6 November 1905.

Panglima Polim dan Sultan Daudsah dipaksa menyerah ketika Belanda


bertingkah licik dengan menculik anggota-anggota keluarganya. Pada
1904, Sultan Aceh dipaksa untuk menandatangani plakat pendek yang
isinya:

1) Aceh mengakui kedaulatan Belanda atas daerahnya.


2) Aceh tidak diperbolehkan berhubungan dengan bangsa lain selain
Belanda.
3) Aceh menaati perintah dan peraturan Belanda.

Dengan adanya plakat tersebut, maka Belanda semakin mudah


menguasai seluruh wilayah Aceh.

h. Perlawanan Si Singamangaraja XII.

Pada tahun 1870, Patuan Bosar Ompu Pulo Batu raja kerajaan Bakkara
(Daerah Tapanuli) atau Si Singamangaraja XII sangat berpengaruh dan
dihormati rakyatnya di tanah Batak yang sangat anti penjajahan. Sehingga
Belanda ingin menguasai tanah Batak tersebut. Tetapi Si Singamangaraja XII
bergerak memimpin perlawanan. Yang dilatar belakangi :

1) Si Singamangaraja XII menentang tindakan Belanda yang


menyebarkan agama Kristen di Tapanuli dengan cara paksa.

29
2) Pada tahun 1878 Belanda menduduki dhaerah Silindung dengan alasan
melindungi para zending (lembaga penyebar agama Kristen) di tanah
Tapanuli.

Sejak tahun 1861 para zending telah menyebarkan agama Kristen di tanah
Tapanuli. Yang awalnya tidak menimbulakan masalah. Tetapi, ketika Si
Singamangaraja XII tampil sebagai raja, para zending nampak diperalat oleh
Belanda. Hal itu membuat Si Singamangaraja XII tidak senang dengan
berkembangnya pengaruh Belanda di Tapanuli. sehingga terjadilah
pertempuran rakyat Batak melawan Belanda yang dipimpin Si
Singamangaraja XII. Dan Belanda melakukan pengepungan di daerah
Pakpak.

Pada tahun 1904 pasukan Belanda pimpinan Van Daalen dari Aceh
Tengah berhasil mendesak pertahanan Si Singamangaraja XII. Pada tahun
1907, pasukan Marsose dipimpin oleh kapten Hans Christoffel berhasil
menangkap Boru Sagala, istri Si Singamangaraja XII dan para pengikutnya
menyelamatkan diri ke hutan Simsim. Akhirnya, dalam pertempuran tanggal
17 Juni 1907, Si Singamangaraja XII gugur beserta seorang putri dan dua
orang putranya.

30
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Indonesia mulai berkembang pada zaman kerajaan Hindu-Buddha berkat


hubungan dagang dengan negara-negara tetangga maupun yang lebih jauh seperti
India, Tiongkok, dan wilayah Timur Tengah. Agama Hindu masuk ke Indonesia
diperkirakan pada awal tarikh Masehi, dibawa oleh para musafir dari India antara
lain: Maha Resi Agastya, yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau
Dwipayana dan juga para musafir dari Tiongkok yakni musafir Budha Pahyien.
Pada abad ke-4 di Jawa Barat terdapat kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha,
yaitu kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda sampai
abad ke-16.

Pada masa ini pula muncul dua kerajaan besar, yakni Sriwijaya dan
Majapahit. Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya
berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I-Tsing mengunjungi
ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya
menguasai daerah sejauh Jawa Tengah dan Kamboja. Abad ke-14 juga menjadi
saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih
Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada, berhasil memperoleh
kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta
hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk
kodifikasi hukum dan pembentukan kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam
wiracarita Ramayana.

Masuknya ajaran Islam pada sekitar abad ke-12, melahirkan kerajaan-


kerajaan bercorak Islam yang ekspansionis, seperti Samudera Pasai di Sumatera
dan Demak di Jawa. Munculnya kerajaan-kerajaan tersebut, secara perlahan-lahan
mengakhiri kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, sekaligus menandai akhir dari era
ini

31
B. Saran

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat


kekurangan yang tidak lain adalah dari keterbatasan penulis. Untuk itu,penulis
berharap kepada pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang membangun
sehingga dapat menjadi masukan yang berharga bagi penulis.

Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca untuk
menambah pengetahuan pembaca agar menjadi seseorang yang sangat
mengahargai ilmu apapun.

32
DAFTAR PUSTAKA

Riskiawan, S. (2013, januari 8). Perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah.


Dipetik februari 15, 2017, dari Blogspot:
http://salahudinriskiawan.blogspot.co.id/2014/01/perjuangan-rakyat-
indonesia-melawan.html

Tijar, A. (2010, Desember 9). Sejarah Kerajaan Kerajaan Islam. Dipetik Februari
15, 2017, dari Blogspot: http://ainuttijar.blogspot.co.id/2010/12/sejarah-
kerajaan-kerajaan-di-indonesia.html

Adn18. (2016, April 16). Perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah


Sebelum Merdeka. Dipetik Februari 15, 2017, dari Blogspot:
https://adn18.wordpress.com/2016/04/16/perjuangan-bangsa-indonesia-
melawan-penjajah-sebelum-merdeka/

http://hasanacs.blogspot.co.id/2014/09/v-behaviorurldefaultvmlo.html

33