Anda di halaman 1dari 24

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan dunia dimana
WHO melaporkan bahwa 0,5% dari penduduk dunia terserang penyakit ini,
sebagian besar berada di negara berkembang sekitar 75%, diantaranya di
Indonesia setiap tahun ditemukan 539.000 kasus baru Tuberkulosis (TB)
positif dengan kematian 101.000. (Depkes,2010).
Indonesia sendiri menempati peringkat ke-3 setelah india dan Cina yang
menjadi negara dengan kasus TB tinggi. Hasil survey prevalensi TB di
Indonesia pada tahun 2009, 1,7 juta orang meninggal karena TB (600 ribu
diantaranya perempuan) sementara 9,4 juta kasus baru TB (3,3 juta
diantaranya perempuan). (Depkes,2011).
Tuberkulosis ditularkan melalui udara (melalui percikan dahak sang
penderita). Ketika penderita TB Paru batuk, bersin, berbicara atau meludah,
mereka memercikkan kuman TB Paru atau bacillike udara. (Amin dan Asril,
2007)

1.2 Rumusan masalah


1. Apa yang definisi Tuberkulosis ?
2. Apa etiologi penyakit tuberkulosis ?
3. Apa patofisiologi tuberkulosis ?
4. Apa menifestasi klinis dari tuberkulosis ?
5. Bagaimana penatalaksanaan medis tuberkulosis?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari tuberkulosis.
2. Untuk mengetahui etiologi tuberkulosis.
3. Untuk mengetahui patofisiologi tuberkulosis.
4. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari tuberkulosis.
5. Untuk mengetahui penatalaksanaan medis dari tuberkulosis.
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi

Tubercolusis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman


Mycobacterium Tubercolusis. Kuman ini biasanya menyerang paru-paru, tetapi
dapat juga menyerang bagian lain dari tubuh seperti ginjal, tulang, dan otak. Jika
tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan kematian.

Tuberkulosis (TB atau TBC) pada anak memang berbeda dengan TB pada
orang dewasa. TB pada anak menginfeksi primer di parenkim paru yang tidak
menyebabkan refleks batuk, sehingga jarang ditemukan gejala khas TB seperti
batuk berdahak.Pada parenkim paru ini juga kuman cenderung lebih sedikit, maka
TB tidak menular antara sesama anak. TB sangat mudah menular dari orangtua ke
anak, tapi TB tidak menular dari anak ke anak.

TBC adalah penyakit serius yang gampang menular secara langsung melalui
udara. Anak-anak dengan kekebalan tubuh buruk paling rentan tertular TB dari
orang dewasa yang positif TB. Tapi TB tidak menular antara sesama anak.

Tuberkulosis adalah penyakit akibat infeksi kuman Mikobakterium


tuberkulosis yang bersifat sistemik sehingga dapat mengenai hampir semua organ
tubuh dengan lokasi terbanyak di paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi
primer. Pada tahun 1992 WHO telah mencanangkan tuberkulosis sebagai Global
Emergency. Laporan WHO tahun 2004 menyatakan bahwa terdapat 8,8 juta kasus
baru tuberkulosis pada tahun 2002, sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi
kuman tuberkulosis dan menurut regional WHO jumlah terbesar kasus ini terjadi
di Asia Tenggara yaitu 33% dari seluruh kasus di dunia.

2.2 Etiologi

Kuman penyebab TBC yakni Mycobacterium tuberkulosis ditularkan melalui


percikan dahak. Jika terkena kuman terus-menerus dari orang-orang dewasa di
dekatnya, terutama orangtua, maka anak tetap terkena. Di antara sesama anak
kecil sendiri sangat kecil kemungkinan menularkan. Penyebab tuberkulosis
adalah Mycobacterium tuberculosis. Basil ini tidak berspora sehingga mudah
dibasmi dengan pemanasan,sinar matahari,dan sinar ultraviolet. Ada dua
macam mikobacteria tuberkulosis yaitu tipe human dan tipe bovin.Basil tipe
bovin berada dalam usus sapi yang menderita mastitis tuberkulosis usus .Basil
tipe human bisa berada dibercak ludah ( droplet) di udara yang berasal dari
penderita TBC terbuka dan orang yang rentan terinfeksi TBC ini bila
menghirup bercak ini.Perjalanan TBC setelah infeksi melalui udara.
(Nanda.2013).

2.3 Patofisiologi

Penyebab penyakit ini adalah bakteri kompleks Mycobacterium tuberculosis.


Mycobacteria termasuk dalam famili Mycobacteriaceae dan termasuk dalam ordo
Actinomycetales. kompleks Mycobacterium tuberculosis meliputi M.
tuberculosis, M. bovis, M. africanum, M. microti, dan M. canettii. Dari beberapa
kompleks tersebut, M. tuberculosis merupakan jenis yang terpenting dan paling
sering dijumpai.

M.tuberculosis berbentuk batang, berukuran panjang 5µ dan lebar 3µ, tidak


membentuk spora, dan termasuk bakteri aerob. Mycobacteria dapat diberi
pewarnaan seperti bakteri lainnya, misalnya dengan Pewarnaan Gram. Namun,
sekali mycobacteria diberi warna oleh pewarnaan gram, maka warna tersebut
tidak dapat dihilangkan dengan asam. Oleh karena itu, maka mycobacteria disebut
sebagai Basil Tahan Asam atau BTA. Beberapa mikroorganisme lain yang juga
memiliki sifat tahan asam, yaitu spesies Nocardia, Rhodococcus, Legionella
micdadei, dan protozoa Isospora dan Cryptosporidium. Pada dinding sel
mycobacteria, lemak berhubungan dengan arabinogalaktan dan peptidoglikan di
bawahnya. Struktur ini menurunkan permeabilitas dinding sel, sehingga
mengurangi efektivitas dari antibiotik. Lipoarabinomannan, suatu molekul lain
dalam dinding sel mycobacteria, berperan dalam interaksi antara inang dan
patogen, menjadikan M. tuberculosis dapat bertahan hidup di dalam makrofaga.

Penularan TBC terjadi karena menghirup udara yang mengandung


Mikobakterium tuberkulosis (M.Tb), di alveolus M.Tb akan difagositosis oleh
makrofag alveolus dan dibunuh. Tetapi bila M.Tb yang dihirup virulen dan
makrofag alveolus lemah maka M.Tb akan berkembang biak dan menghancurkan
makrofag. Monosit dan makrofag dari darah akan ditarik secara kemotaksis ke
arah M.Tb berada, kemudian memfagositosis M.Tb tetapi tidak dapat
membunuhnya. Makrofag dan M.Tb membentuk tuberkel yang mengandung sel-
sel epiteloid, makrofag yang menyatu (sel raksasa Langhans) dan limfosit.
Tuberkel akan menjadi tuberkuloma dengan nekrosis dan fibrosis di dalamnya dan
mungkin juga terjadi kalsifikasi. Lesi pertama di alveolus (fokus primer) menjalar
ke kelenjar limfe hilus dan terjadi infeksi kelenjar limfe, yang bersama-sama
dengan limfangitis akan membentuk kompleks primer. Dari kelenjar limfe M.Tb
dapat langsung menyebabkan penyakit di organ-organ tersebut atau hidup dorman
dalam makrofag jaringan dan dapat aktif kembali bertahun-tahun kemudian.
Tuberkel dapat hilang dengan resolusi atau terjadi kalsifikasi atau terjadi nekrosis
dengan masa keju yang dibentuk oleh makrofag. Masa keju dapat mencair dan
M.Tb dapat berkembang biak ekstra selular sehingga dapat meluas di jaringan
paru dan terjadi pneumonia, lesi endobronkial, pleuritis atau Tb milier. Juga dapat
menyebar secara bertahap menyebabkan lesi di organ-organ lainnya.

2.4 Manifestasi Klinis

Gejala klinis TB tergantung faktor pejamu (usia, status imun, kerentanan)


dan faktor agen (jumlah, virulensi). Gejala TB pada anak yang umum terjadi
adalah demam yang tidak tinggi (subfebris), berkisar 38°C, biasanya timbul sore
hari, 2-3 kali seminggu dan belangsung 1-2 minggu dengan atau tanpa batuk dan
pilek. Gejala lain adalah penurunan nafsu makan, dan gangguan tumbuh
kembang. Batuk kronik yang merupakan gejala tersering pada TB paru dewasa,
tidak terlalu mencolok pada anak. Mengapa? Sebab lesi primer TB paru pada anak
umumnya terdapat di daerah parenkim yang tidak mempunyai reseptor batuk.
Kalaupun terjadi, berarti limfadenitis regional sudah menekan bronkus dimana
terdapat reseptor batuk. Batuk kronik pada anak lebih sering dikarenakan oleh
asma. Gejala-gejala yang tersebut di atas dikategorikan sebagai gejala nonspesifik.
Perlu dicatat bahwa gejala nonspesifik dapat juga ditemukan pada kasus infeksi
lain. Selanjutnya, gejala spesifik tergantung dari organ yang terkena seperti kulit
(skrofuloderma), tulang, otak, mata, usus, dan organ lain atau secara singkat tanda
dan gejala umum/nonspesifik tuberkulosis pada anak dapat disebutkan sebagai
berikut :

 Berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau tidak naik dalam 1 bulan
dengan penanganan gizi
 Anoreksia dengan gagal tumbuh dan berat badan tidak naik secara
adekuat (failure to thrive)
 Demam lama dan berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus, malaria,
atau infeksi saluran napas akut), dapat disertai keringat malam
 Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit dan biasanya
multiple
 Batuk lama lebih dari 30 hari
 Diare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan diare

Gejala spesifik sesuai organ terkena : TB kulit/skrofuloderma; TB tulang dan


sendi (gibbus, pincang); TB otak dan saraf/meningitis dengan gejala iritabel,
kuduk kaku, muntah, dan kesadaran menurun; TB mata (konjungtivitis
fliktenularis, tuberkel koroid), dll.

2.5 Pemeriksaan Diagnostik

a. Pemeriksaan sputum (S-P-S)


Pemeriksaan sputum penting untuk dilakukan karena dengan
pemeriksaan tersebut akan ditemukan kuman BTA. Di samping itu
pemeriksaan sputum juga dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan
yang sudah diberikan. Pemeriksaan ini mudah dan murah sehingga dapat
dikerjakan di lapangan (puskesmas). Tetapi kadang-kadang tidak mudah
untuk mendapat sputum, terutama pasien yang tidak batuk atau batuk yang
non produktif Dalam hal ini dianjurkan satu hari sebelum pemeriksaan
sputum, pasien dianjurkan minum air sebanyak + 2 liter dan diajarkan
melakukan refleks batuk. Dapat juga dengan memberikan tambahan obat-
obat mukolitik eks-pektoran atau dengan inhalasi larutan garam hipertonik
selama 20-30 menit. Bila masih sulit, sputum dapat diperoieh dengan cara
bronkos kopi diambil dengan brushing atau bronchial washing atau BAL
(bronchn alveolar lavage). BTA dari sputum bisa juga didapat dengan cara
bilasan lambung. Hal ini sering dikerjakan pada anak-anak karena mereka
sulit mengeluarkan dahaknya. Sputum yang akan diperiksa hendaknya
sesegar mungkin. Bila sputum sudah didapat. kuman BTA pun kadang-
kadang sulit ditemukan. Kuman bant dapat dkcmukan bila bronkus yang
terlibat proses penyakit ini terbuka ke luar, sehingga sputum yang
mengandung kuman BTA mudah ke luar.

b. Kriteria sputum BTA positif


adalah bila sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang kuman BTA pada
satu sediaan. Dengan kata lain diperlukan 5.000 kuman dalam 1 mil
sputum Hasil pemeriksaan BTA (basil tahan asam) (+) di bawah
mikroskop memerlukan kurang lebih 5000 kuman/ml sputum, sedangkan
untuk mendapatkan kuman (+) pada biakan yang merupakan diagnosis
pasti, dibutuhkan sekitar 50 - 100 kuman/ml sputum. Hasil kultur
memerlukan waktu tidak kurang dan 6 - 8 minggu dengan angka sensitiviti
18-30%.
c. Rekomendasi WHO skala IUATLD :

1. Tidak ditemuukan BTA dalam 100 lapang pandangan :negative

2. Ditemukan 1-9 BTA : tulis jumlah kuman


3. Ditemukan 10-99 BTA : 1+

4. Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandangan : 2+

5. Ditemukan > 10 BTA dalam 1 lapang pandangan : 3+

d. Pemeriksaan tuberculin
Pada anak, uji tuberkulin merupakan pemeriksaan paling bermanfaat untuk
menunjukkan sedang/pernah terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa dan
sering digunakan dalam "Screening TBC". Efektifitas dalam menemukan
infeksi TBC dengan uji tuberkulin adalah lebih dari 90%.. Penderita anak
umur kurang dari 1 tahun yang menderita TBC aktif uji tuberkulin positif
100%, umur 1–2 tahun 92%, 2–4 tahun 78%, 4–6 tahun 75%, dan umur 6–
12 tahun 51%. Dari persentase tersebut dapat dilihat bahwa semakin besar
usia anak maka hasil uji tuberkulin semakin kurang spesifik. Ada beberapa
cara melakukan uji tuberkulin, namun sampai sekarang cara mantoux lebih
sering digunakan. Lokasi penyuntikan uji mantoux umumnya pada ½
bagian atas lengan bawah kiri bagian depan, disuntikkan intrakutan (ke
dalam kulit). Penilaian uji tuberkulin dilakukan 48–72 jam setelah
penyuntikan dan diukur diameter dari pembengkakan (indurasi) yang
terjadi.

e. Pemeriksaan Rontgen Thoraks


Pada hasil pemeriksaan rontgen thoraks, sering didapatkan adanya
suatu lesi sebelum ditemukan adanya gejala subjektif awal dan sebelum
pemeriksaan fisik menemukan kelainan pada paru. Bila pemeriksaan
rontgen menemukan suatu kelainan, tidak ada gambaran khusus mengenai
TB paru awal kecuali di lobus bawah dan biasanya berada di sekitar hilus.
Karakteristik kelainan ini terlihat sebagai daerah bergaris-garis opaque
yang ukurannya bervariasi dengan batas lesi yang tidak jelas. Kriteria yang
kabur dan gambar yang kurang jelas ini sering diduga sebagai pneumonia
atau suatu proses edukatif, yang akan tampak lebih jelas dengan
pemberian kontras. Pemeriksaan rontgen thoraks sangat berguna untuk
mengevaluasi hasil pengobatan dan ini bergantung pada tipe keterlibatan
dan kerentanan bakteri tuberkel terhadap obat antituberkulosis, apakah
sama baiknya dengan respons dari klien. Penyembuhan yang lengkap
serinng kali terjadi di beberapa area dan ini adalah observasi yang dapat
terjadi pada penyembuhan yang lengkap. Hal ini tampak paling menyolok
pada klien dengan penyakit akut yang relatif di mana prosesnya dianggap
berasal dari tingkat eksudatif yang besar.

f. Pemeriksaan CT Scan
Pemeriksaan CT Scan dilakukan untuk menemukan hubungan kasus TB
inaktif/stabil yang ditunjukkan dengan adanya gambaran garis-garis
fibrotik ireguler, pita parenkimal, kalsifikasi nodul dan adenopati,
perubahan kelengkungan beras bronkhovaskuler, bronkhiektasis, dan
emifesema perisikatriksial. Sebagaimana pemeriksaan Rontgen thoraks,
penentuan bahwa kelainan inaktif tidak dapat hanya berdasarkan pada
temuan CT scan pada pemeriksaan tunggal, namun selalu dihubungkan
dengan kultur sputum yang negatif dan pemeriksaan secara serial setiap
saat. Pemeriksaan CT scan sangat bermanfaat untuk mendeteksi adanya
pembentukan kavasitas dan lebih dapat diandalkan daripada pemeriksaan
Rontgen thoraks biasa.

g. Radiologis TB Paru Milier


TB paru milier terbagi menjadi dua tipe, yaitu TB paru milier akut
dan TB paru milier subakut (kronis). Penyebaran milier terjadi setelah
infeksi primer. TB milier akut diikuti oleh invasi pembuluh darah secara
masif/menyeluruh serta mengakibatkan penyakit akut yang berat dan
sering disertai akibat yang fatal sebelum penggunaan OAT. Hasil
pemeriksaan rontgen thoraks bergantung pada ukuran dan jumlah tuberkel
milier. Nodul-nodul dapat terlihat pada rontgen akibat tumpang tindih
dengan lesi parenkim sehingga cukup terlihat sebagai nodul-nodul kecil.
Pada beberapa klien, didapat bentuk berupa granul-granul halus atau
nodul-nodul yang sangat kecil yang menyebar secara difus di kedua
lapangan paru. Pada saat lesi mulai bersih, terlihat gambaran nodul-nodul
halus yang tak terhitung banyaknya dan masing-masing berupa garis-garis
tajam.

h. Pemeriksaan Laboratorium
Diagnosis terbaik dari penyakit diperoleh dengan pemeriksaan
mikrobiologi melalui isolasi bakteri. Untuk membedakan spesies
Mycobacterium antara yang satu dengan yang lainnya harus dilihat sifat
koloni, waktu pertumbuhan, sifat biokimia pada berbagai media,
perbedaan kepekaan terhadap OAT dan kemoterapeutik, perbedaan
kepekaan tehadap binatang percobaan, dan percobaan kepekaan kulit
terhadap berbagai jenis antigen Mycobacterium. Pemeriksaan darah yang
dapat menunjang diagnosis TB paru walaupun kurang sensitif adalah
pemeriksaan laju endap darah (LED). Adanya peningkatan LED biasanya
disebabkan peningkatan imunoglobulin terutama IgG dan IgA.

Permulaan tuberkulosis sukar diketahui karena gejalanya tidak jelas dan tidak
khas,tetapi kalau terdapat panas yang naik turun dan lama dengan atau tanpa batuk
dan pilek, anoreksia, penurunan berat badan dan anak lesu, harus dipikirkan
kemungkinan tuberkulosis. Petunjuk lain umtuk diagnosis tuberkulosis ialah
adanya kontak dengan penderita tuberkulosis orang dewasa. Diagnosis
tuberkulosis paru berdasarkan gambaran klinis, uji tuberkulin positif dan kelainan
radiologis paru. Basil tuberkulosis tidak selalu dapat ditemukan pada anak.
2.6 Penatalaksanaan medis

Kemoterapi : Pemberian terapi pada tuberculosis didasarkan pada 3


karakteristik basil, yaitu basil yang berkembang cepat ditempat yang kaya akan
oksigen, basil yang hidup di tempat yang kurang oksigen berkembang lambat dan
dorman hingga beberapa tahun, dan basil yang mengalami mutasi sehingga
resisten terhadap obat. Isonized (INH) bekerja sebagai bakterisidal terhadap basil
yang tumbuh aktif, diberikan selama 12-18 bulan, dosis 10-20 mg/kgBB/hari
melalui oral. Selanjutnya kombinasi antara INH dan pyrazinamid (PZA) diberikan
selama 6 bulan. Selama 2 bulan pertama obat diberikan setiap hari, selanjutnya
obat diberikan dua kali dalam 1 minggu. Pada TB berat dan ekstrapulmonal
biasanya pengobatan dimulai dengan kombinasi 4-5 obat selama 2 bulan
(ditambah EMB dan streptomisin), dilanjutkan dengan INH dan RIF selama 4-10
bulan sesuai perkembangan klinis. Pada meningitis TB, perikarditis, TB milier,
dan efusi pleura diberikan kortikosteroid yaitu prednison 1-2 mg/kgBB/hari
selama 2 minggu, diturunkan perlahan (tapering off) sampai 2-6 minggu
bersamaan dengan pemberian obat anti tuberkulosis. Obat tambahan antara lain
streptomycin (diberikan intramuscular) dan ethambutol.

Selain itu juga, kita jangan melupakan terapi pemberian nutrisi yang
adekuat, untuk menjaga daya tahan tubuh klien agar tidak terjadi penyebaran
infeksi ke organ tubuh yang lainnya. Ada juga terapi pembedahan. Terapi ini
dilakukan jika kemoterapi tidak berhasil. Dilakukan dengan mengangkat jaringan
paru yang rusak, tindakan ortopedi untuk memperbaiki kelainan tulang,
bronkoskopi untuk mengangkat polip granulornatosa tuberkulosis untuk jaringan
paru yang rusak. Pencegahan adalah dengan menghindari kontak dengan orang
yang terinfeksi basil tuberculosis, mempertahankan status kesehatan dengan
intake nutrisi yang adekuat, meminum susu yang sudah dilakukan pasteurisasi,
isolasi jika pada analisa sputum terdapat bakteri hingga dilakukan kemoterapi,
pemberian imunisasi BCG untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi
oleh basil tuberculosis virulen.
Non Medikamenosa. Pendekatan DOTS Hal yang paling penting pada
tatalaksana TBC adalah keteraturan minum obat. Pasien TBC biasanya telah
menunjukkan perbaikan beberapa minggu setelah pengobatan sehingga merasa
sembuh dan tidak melanjutkan pengobatan. Lingkungan sosial dan pengertian
yang kurang mengenai TBC dari pasien serta keluarganya tidak menunjang
keteraturan pasien untuk minum obat. Kepatuhan pasien dikatakan baik jika
pasien meminum obat sesuai dengan dosis yang ditentukan dalam panduan
pengobatan. Kepatuhan pasien ini menjamin keberhasilan pengobatan dan
mencegah resistensi. Salah satu upaya untuk meningkatkan kepatuhan pasien
adalah dengan melakukan pengawasan langsung terhadap pengobatan.

DOTS ( Directly Observed Treatment Shortcourse) adalah strategi yang


telah direkomendasi oleh WHO dalam pelaksanaan program penanggulangan
TBC. Strategi ini dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 1995. Penanggulangan
dengan strategi DOTS dapat memberikan angka kesembuhan yang tinggi.

Sesuai dengan rekomendasi WHO, strategi DOTS terdiri atas 5 komponen,


yaitu : Komitmen politis dari para pengambil keputusan, termasuk dukungan
dana. Diagnosis TBC dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis, Pengobatan
dengan panduan Obat Anti TBC (OAT) jangka pendek dengan pengawasan
langsung oleh pengawas menelan obat, Kesinambungan penyedian OAT jangka
pendek dengan matu terjamin, Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk
memudahkan pemantauan dan evaluasi program penanggulangan TBC.

Orang yang dapat menjadi pengawas minum obat adalah : Petugas


kesehatan, Keluarga pasien, Kader, Pasien yang sudah sembuh, Tokoh
masyarakat, Guru. Tugas pengawas minum obat adalah : Mengawasi pasien agar
minum obat secara teratur sampai selesai pengobatan, Memberi dorongan kepada
pasien agar mau berobat teratur, Mengingatkan kepada pasien untuk periksa dahak
ulang (pasien dewasa) dan Memberi penyuluhan kepada anggota keluarga pasien
TBC yang mempunyai gejala-gejala tersangka TBC untuk segera memeriksakan
diri ke unit pelayanan kesehatan. Pada anak kuman M. TBC sulit ditemukan, baik
pada biakan, lebih-lebih pada pemeriksaan mikroskopis langsung. Oleh karena itu
pada anak diagnosis tidak dapat dibuat berdasarkan pemeriksaan mikroskopis
yang dianjurkan dalam strategi DOTS. Maka diperlukan strategi diagnostik lain
yaitu dengan menggunakan sistem skoring.

Kemoprofilaksis. Kemoprofilaksis primer diberikan pada anak yang belum


terinfeksi (uji Tuberculin negatif), tetapi kontak dengan penderita TB aktif, obat
yang digunakan adalah INH 5-10 mg/kgBB/hari selama 2-3 bulan.
Kemoprofilaksis sekunder diberikan pada anak dengan uji tuberculin positif, tanpa
gejala klinis, dan foto paru normal, tetapi memiliki faktor menjadi TB aktif.
Golongan ini adalah balita, anak yang mendapat pengobatan kortikosteroid atau
imunosupresan lain, penderita penyakit keganassan, terinfeksi virus (HIV,
morbili), gizi buruk, masa akil balik, atau infeksi baru TB, konfersi uji tuberculin
kurang dari 12 bulan. Obat yang digunakan adalah INH 5-10 mg/kgBB/hari
selama 6-12 bulan.
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian Keperawatan

a. Identitas Data Umum (selain identitas klien, juga identitas orang tua; asal
kota dan daerah, jumlah keluarga)
b. Keluhan Utama (penyebab klien sampai dibawa ke rumah sakit)
c. Riwayat kehamilan dan kelahiran
 Prenatal : (kurang asupan nutrisi , terserang penyakit infeksi
selama hamil).
 Intranatal : Bayi terlalu lama di jalan lahir , terjepit jalan lahir, bayi
menderita caput sesadonium, bayi menderita cepal hematom
 Post Natal : kurang asupan nutrisi , bayi menderita penyakit infeksi
, asfiksia ikterus
d. Riwayat Masa Lalu
Penyakit yang pernah diderita (tanyakan, apakah klien pernah sakit batuk
yang lama dan benjolan bisul pada leher serta tempat kelenjar yang
lainnya dan sudah diberi pengobatan antibiotik tidak sembuh-sembuh?
Tanyakan, apakah pernah berobat tapi tidak sembuh? Apakah pernah
berobat tapi tidak teratur? Pernah dirawat dirumah sakit ? Obat-obat yang
digunakan/riwayat Pengobatan, Riwayat kontak dengan penderita TBC,
Alergi, Daya tahan yang menurun., Imunisasi/Vaksinasi : BCG.
e. Riwayat Penyakit Sekarang
Tanda dan gejala klinis TB serta terdapat benjolan/bisul pada tempat-
tempat kelenjar seperti: leher, inguinal, axilla dan sub mandibula)
f. Riwayat Keluarga
Adakah yang menderita TB atau Penyakit Infeksi lainnya, Biasanya
keluarga ada yang mempunyai penyakit yang sama.
g. Riwayat Kesehatan Lingkungan dan sosial ekonomi
Lingkungan tempat tinggal (Lingkungan kurang sehat (polusi, limbah),
pemukiman yang padat, ventilasi rumah yang kurang, jumlah anggota
keluarga yang banyak), pola sosialisasi anak, Kondisi rumah , Merasa
dikucilkan, Aspek psikososial (Tidak dapat berkomunikasi dengan bebas,
menarik diri, Biasanya pada keluarga yang kurang mampu, Masalah
berhubungan dengan kondisi ekonomi, untuk sembuh perlu waktu yang
lama dan biaya yang banyak, Tidak bersemangat dan putus harapan.
h. Riwayat psikososial spiritual
Yang mengasuh, Hubungan dengan anggota keluarga, Hubungan dengan
teman sebayanya, Pembawaan secara umum, Pelaksanaan spiritual.
i. Pola fungsi kesehatan.
Pola persepsi sehat dan penatalaksanaan kesehatan. Keadaan umum:
alergi, kebiasaan, imunisasi. Pola nutrisi – metabolik. Anoreksia, mual,
tidak enak diperut, BB turun, turgor kulit jelek, kulit kering dan
kehilangan lemak sub kutan, sulit dan sakit menelan, turgor kulit jelek.
Pola eliminasi. Perubahan karakteristik feses dan urine, nyeri tekan pada
kuadran kanan atas dan hepatomegali, nyeri tekan pada kuadran kiri atas
dan splenomegali. Pola aktifitas-latihan Sesak nafas, fatique, tachicardia,
aktifitas berat timbul sesak nafas (nafas pendek). Pola tidur dan istirahat
Iritable, sulit tidur, berkeringat pada malam hari. Pola kognitif perseptual.
Kadang terdapat nyeri tekan pada nodul limfa, nyeri tulang umum, takut,
masalah finansial, umumnya dari keluarga tidak mampu. Pola persepsi
diri. Anak tidak percaya diri, pasif, kadang pemarah. Pola peran hubungan
Anak menjadi ketergantungan terhadap orang lain (ibu/ayah)/tidak
mandiri. Pola seksualitas/reproduktif. Anak biasanya dekat dengan ibu
daripada ayah. Pola koping toleransi stres, Menarik diri, pasif.
j. Pemeriksaan Fisik
a. Demam: sub fibril, fibril (40-41°C) hilang timbul. Batuk: terjadi
karena adanya iritasi pada bronkus; batuk ini membuang/
mengeluarkan produksi radang, dimulai dari batuk kering sampai
batuk purulen (menghasilkan sputum).
b. Sesak nafas: terjadi bila sudah lanjut, dimana infiltrasi radang sampai
setengah paru.
c. Nyeri dada: ini jarang ditemukan, nyeri timbul bila infiltrasi radang
sampai ke pleura. Malaise: ditemukan berupa anoreksia, berat badan
menurun, sakit kepala, nyeri otot dan kering diwaktu malam hari. Pada
tahap dini sulit diketahui. Ronchi basah, kasar dan nyaring.
Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada
auskultasi memberi suara limforik. Atropi dan retraksi interkostal pada
keadaan lanjut dan fibrosis. Bila mengenai pleura terjadi efusi pleura
(perkusi memberikan suara pekak).
d. Pembesaran kelenjar biasanya multipel. Benjolan/pembesaran kelenjar
pada leher (servikal), axilla, inguinal dan sub mandibula. Kadang
terjadi abses.
k. Pemeriksaan Diagnostik Dan Pengobatan
a. Uji tuberkulin
 uji tuberkulin (+).
 hipersensitifitas tipe lambat
 imunitas seluler.
 Infeksi TB.
b. Foto rontgent Rutin : foto pada rongga paru. Atas indikasi: tulang,
sendi, abdomen. Rontgent paru tidak selalu khas.
c. Pemeriksaan mikrobiologis (Bakteriologis Memastikan TB. Hasil
normal: tidak menyingkirkan diagnosa TB. Hasil (+) : 10-62% dengan
cara lama. Cara : cara lama radio metrik (Bactec); PCK.
d. Pemeriksaan darah tepi (Tidak khas. LED dapat meninggi).
e. Pemeriksaan patologik anatomik. Kelenjar, hepar, pleura; atas indikasi.
Sumber infeksiAdanya kontak dengan penderita TB menambah
kriteria diagnosa.
f. Lain-lain (Uji faal paru, Bronkoskopi, Bronkografi, Serologim dll)
l. Pengkajian TUMBANG menggunakan KMS, KKA, dan DDST
a. Pertumbuhan
 Kaji BBL,BB saat kunjungan
 BB normal
 BB normal, mis : ( 6-12 tahun ) umur.
 kaji berat badan lahir dan berat badan saat kunjungan TB = 64
x 77R = usia dalam tahun.
 LL dan luka saat lahir dan saat kunjungan
b. Perkembangan
 lahir kurang 3 bulan = belajar mengangkat kepala, mengikuti
objek dengan mata, mengoceh,
 usia 3-6 bulan mengangkat kepala 90 derajat, belajar meraih
benda, tertawa, dan mengais meringis
 usia 6-9 bulan = duduk tanpa di Bantu, tengkuarap, berbalik
sendiri, merangkak, meraih benda, memindahkan benda dari
tangan satu ke tangan yang lain dan mengeluarkan kata-kata
tanpa arti.
 usia 9-12 bulan = dapat berdiri sendiri menurunkan sesuatu
mengeluarkan kat-kata, mengerti ajakan sederhana, dan
larangan berpartisipasi dalam permainan.
 usia 12-18 bulan = mengeksplorasi rumah dan sekelilingnya
menyusun 2-3 kata dapat mengatakan 3-10 kata , rasa cemburu,
bersaing
 usia 18-24 bulan = naik–turun tangga, menyusun 6 kata
menunjuk kata dan hidung, belajar makan sendiri, menggambar
garis, memperlihatkan minat pada anak lain dan bermain
dengan mereka.
 usia 2-3 tahun = belajar melompat, memanjat buat jembatan
dengan 3 kotak, menyusun kalimat dan lain-lain.
 usia 3-4 tahun = belajar sendiri berpakaian, menggambar
berbicara dengan baik, menyebut warna, dan menyayangi
saudara.
 usia 4-5 tahun = melompat, menari, menggambar orang, dan
menghitung.
3.2 Diagnosa Keperawatan
a. Diagnosa yang dapat muncul yaitu :
1. Gangguan Pertukaran gas berhubungan dengan proses infeksi
2. Defisit pengetahuan tentang proses infeksi
3. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan : Daya tahan tubuh
menurun, malnutrisi, proses inflamasi, Kurang pengetahuan
tentang infeksi kuman.
4. Ketidakpatuhan berhubungan dengan pengobatan dalam jangka
waktu yang lama.
5. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan : Batuk
yang sering, adanya produksi sputum, Anoreksia.
6. Risiko gangguan dalam menjalankan peran sebagai orang tua
berhubungan dengan isolasi pasien

3.3 Rencana Tindakan Keperawatan


a. Diagnosa 1
KH : Anak akan mengalami pengurangan batuk dan dipsnue
Rencana tindakan :
1. Berikan oksigen humidifier bagi anak dengan dispnue
R : dispnea masih dapat terjadi, hingga pemberian obat kemoterapi
dimulai untuk mendapatkan efeknya, O2 humidifier mengurangi
dipsnue dan meningkatkan oksigenasi.
2. Tinggikan bagian kepala tempat tidur
R : Peninggian kepala menyebabkan otot diafragma mengembang
3. Berikan obat batuk ekspektoran sesuai kebutuhan
R : ekspektoran membantu mengeluarkan mukus

b. Diagnosa 2
KH : Keluarga akan mengekspresikan pemahamannya tentang proses
penyakit dan pengobatan.
Rencana tindakan :
1. Ajarkan Orang Tua dan anak (jika tepat) tentang penularan dan
pengobatan TB
R : pemahaman bagaimana penularan TB dan penangannya
membantu mengurangi kecemasan dan peningkatan kepatuhan
terhadap pengobatan, prosedur isolasi, dan pengobatan yang
diberikan.
2. Ajarkan Orang Tua dan anak (jika tepat) tentang bagaimana
memberikan pengobatan, berapa lama terapi pengobatan harus
dijalani, dan apa yang terjadi bila anak tidak menjalani tuntas
pengobatannya.
R : pemahaman bagaimana memberikan pengobatan dan risiko bila
pengobatan diberhentikan di awal akan menigkatkan kepatuhan.

c. Diagnosa 3
KH : Tidak terjadi penyebaran infeksi
Rencana tindakan :
1. Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif, menyebarnya
infeksi melalui bronkhus pada jaringan sekitarnya atau melalui
aliran darah atau sistem limfe dan potensial infeksi melalui batuk,
bersin, tertawa, ciuman atau menyanyi.
R : Membantu klien agar klien mau mengerti dan menerima
terhadap terapi yang diberikan untuk mencegah komplikasi.
2. Mengidentifikasi orang-orang yang beresiko untuk terjadinya
infeksi seperti anggota keluarga, teman, orang dalam satu
perkumpulan.
Memberitahukan kepada mereka untuk mempersiapkan diri untuk
mendapatkan terapi pencegahan.
R : Pengetahuan dan terapi dapat meminimalkan kerentanan
terjadinya penyebaran
3. Anjurkan klien menampung dahaknya jika batuk
R : Kebiasaan ini untuk mencegah terjadinya penularan infeksi.
4. Gunakan masker setiap melakukan tindakan
R : Masker dapat mengurangi resiko penyebaran infeksi
5. Monitor temperatur
R : untuk mengetahui adanya indikasi terjadinya infeksi. Febris
merupakan indikasi terjadinya infeksi.
6. Kolaborasi Pemberian terapi untuk anak
R : Kerja sama akan mempercepat proses penyembuhan
7. Monitor sputum BTA. Klien dengan 3 kali pemeriksaan BTA
negatif, terapi diteruskan sampai batas waktu yang ditentukan.
R : Pemantauan untuk terapi yang akan dilaksanakan selanjutnya

d. Diagnosa 4
KH : Orang tua dan anak akan mengikuti pedoman terapi
Rencana tindakan :
1. Kaji seberapa banyak pengetahuan dan yang dimiliki orang tua dan
anak tentang TB dan hal ketidakpahaman yang dimiliki
R : pengkajian membantu menentukan apa yang orang tua dan
anak butuhkan untuk belajar agar dapat membantu mereka
memenuhi pengobatan jangka panjang.
2. Ajarkan orang tua dan anak (jika tepat) tentang program
pengobatan dan alasan menjalani pengobatan dengan tuntas, dan
yakinkan tentang pendidikan yang diperlukan.
R : Pendidikan dan penguatan diberikan pada orang tua dan anak
dengan informasi perlunya mengikuti program pengobatan dengan
tuntas dan menurunkan risiko kegagalan akibat defisit
pengetahuan.
3. Identifikasi alternatif pemberi layanan yang dapat memberikan
pengobatan anak jika diperlukan
R : hak ini akan menurunkan risiko pengabaiyan dosis yang
dilakukan anak selama pengobatan

e. Diagnosa 5
Tujuan : Klien akan menunjukkan peningkatan status gizi dan BB
meningkat.
KH : Keluarga klien dapat menjelaskan penyebab gangguan nutrisi
yang dialami klien, pemulihan kebutuhan nutrisi, susunan menu dan
pengolahan makanan sehat seimbang. Dengan bantuan perawat,
keluarga klien dapat mendemonstrasikan pemberian diet (per
sonde/per oral) sesuai program dietetik.
Rencana Tindakan:
1. Mengukur dan mencatat BB pasein
R : BB menggambarkan status gizi pasien
2. Menyajikan makanan dalam porsi kecil tapi sering
R : Sebagai masukan makanan sedikit-sedikit dan mencegah
muntah
3. Menyajikan makanan yang dapat menimbulkan selera makan
R : Sebagai alternatif meningkatkan nafsu makan pasien
4. Memberikan makanan tinggi TKTP
R : Protein mempengaruhi tekanan osmotik pembuluh darah
5. Memberi motivasi kepada pasien agar mau makan.
R : Alternatif lain meningkatkan motivasi pasein untuk makan
6. Lakukan perawatan oral sebelum dan sesudah terapi respirasi
R : Mengurangi rasa yang tidak enak dari sputum atau obat-obat
yang digunakan untuk pengobatan yang dapat merangsang
vomiting.
7. Jelaskan kepada keluarga tentang penyebab malnutrisi, kebutuhan
nutrisi pemulihan, susunan menu dan pengolahan makanan sehat
seimbang, tunjukkan contoh jenis sumber makanan ekonomis
sesuai status sosial ekonomi klien.
R : Meningkatkan pemahaman keluarga tentang penyebab dan
kebutuhan nutrisi untuk pemulihan klien sehingga dapat
meneruskan upaya terapi dietetik yang telah diberikan selama
hospitalisasi.
8. Tunjukkan cara pemberian makanan per sonde, beri kesempatan
keluarga untuk melakukannya sendiri.
R : Meningkatkan partisipasi keluarga dalam pemenuhan
kebutuhan nutrisi klien, mempertegas peran keluarga dalam upaya
pemulihan status nutrisi klien.
9. Memberi makan lewat parenteral ( D 5% )
R : Mengganti zat-zat makanan secara cepat melalui parenteral

f. Diagnosa 6
KH : Orang tua tetap dapat menjalankan perannya.
Rencana tindakan :
1. Ajarkan orang tua tentang tekhnik isolasi yang benar
R : pemahaman dan mengikuti teknis isolasi dengan benar
membantu mencegah penularan TB yang memungkinkan orang tua
bersama selama mungkin dengan anaknya, akan mengurangi
perpisahan
2. Motivasi orang tua dan anggota keluarga lainnya untuk
mengunjungi anak secara teratur.
R : seringnya keluarga kontak akan mengurangi kecemasan
terhadap perpisahan.
3.4 Implementasi
Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai
dengan rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat
mandiri dan kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan
dimonitor kemajuan kesehatan klien.

3.5 Evaluasi
Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data
subyektif dan obyektif yang akan menunjukkan apakah tujuan pelayanan
keperawatan sudah dicapai atau belum. Bila perlu langkah evaluasi ini merupakan
langkah awal dari identifikasi dan analisa masalah selanjutnya.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
Penyakit Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit infeksi kronis menular yang
masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk
Indonesia..
Gambaran klinis TBC pada anak: badan turun, Nafsu makan turun, demam
tidak tinggi dapat disertai keringat malam, pembesaran kelenjar limfe superfisialis
yang tidak sakit, batuk lama lebih dari 30 hari. Uji tuberkulin positif bila indurasi
> 10 mm (pada gizi baik), atau > 5 mm pada gizi buruk. Uji tuberkulin positif
menunjukkan TBC.
Tatalaksana TBC pada anak merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan antara pemberian medikamentosa, penataaan gizi dan lingkungan
sekitarnya.Usaha preventif dilakukan dengan vaksin BCG dan kemoprofilaksis.

B. Saran-Saran
1. Bagi perawat diharapkan dapat melaksanakan asuhan keperawatan sesuai
dengan prosedur yang ada.
2. Bagi para orang tua diharapkan memantau pertumbuhan dan perkembangan
anak sejak dini untuk dapat mengetahui adakah gejala-gejala penyakit pada anak
teruma pengetahuan tentang penyakit TBC